Anda di halaman 1dari 4

I.

KLARIFIKASI ISTILAH
Menarche : haid pertama yang terjadi akibat proses sistem hrmonal
yang komlpeks (Kevin, 2014).
Suntik Kb : cara kerjanya sama dengan pil KB. Efek sampingnya
terjadi gangguan haid, depresi, keputihan, jerawat, perubahan berat
badan, cara kerja menekan ovulassi untuk mencegah lepasnya sel telur
wanita dari indung telur, mengentalkan lendir mulut rahim sehingga
sperma sukar untuk masuk kedalam rahim dan menipiskan
endometrium.

II.

ANALISIS MASALAH
1. Mengapa haid kluar banyak dan lama ?
Macam gangguan haid :
a. Gangguan siklus haid :
1) Polimenorea
Siklus haid pendek kurang dari 21 hari.
Etiologi : adanya gangguan hormonal menyebabkan
gangguan ovulasi sehingga pendeknya masa luteal kongesti
ovarium, peradangan endometriosis dan lain-lain.
2) Oligomenorea
Siklus haid menjadi lebih panjang dari 35 hari.
Etiologi : gangguan hormonal, ansietas, stres, penyakit
kronis, obat-obatan.
3) Amenorea
Keadaan dimana tidak ada haid minimal 3 bulan berturutturut. Amenore diklasifikasikan sebagai amenore primer
yaitu belum pernah mens, sedangkan amenore sekunder
yaitu sudah pernah mens tapi berhenti (Sawrono, 2011).
b. Perubahan jumlah darah haid :
1) Hipomenorea
Perdarahan lebih banyak dari normal lebih dari 8 hari.
2) Perdarahan haid yang lebih pendek dari biasa dan
penyebabnya dari hormonal.
3) Metrorargia
Perdarahan terjadi dengan interval yang tidak teratur,
dengan jumlah darah menstruasi bervariasi (Sarwono, 2011)
c. Mekanisme perdarahan abnormal pada mioma uteri :
1) Peningkatan ukuran permukaan endometrium
2) Peningkatan vaskularisasi aliran vaskuler ke uterus
3) Gangguan kontraktilitas uterus
4) Ulser endometrium akibat mioma submukosa

5) Kompresi pada pleksus venosus dalam miometrium


(Sarwono, 2011).
2. Hubungan usia, paritas ?
Kulit putih umur 40 sampai 44 tahun lebih beresiko 6,3 kali
dibanding kurang dari 30 tahun. Kulit hitam umur 40 sampai 44
tahun lebih beresiko 27,5 kali dibanding kurang dari 30 tahun
(Kevin, 2014).
3. Mengapa haid 15-20 disertai nyeri ?
Rasa nyeri timbul karena gangguan sirkulasi darah pada sarang
mioma, disertai nekrosis setempat dan peradangan (Sarwono,
2011).
4. Mengapa perut tidak nyaman ?
Pada mioma intramural jika terletak pada dinding depan uteri
pertumbuhannya akan menekan dan mendorong vesica urinari
keatas sehingga menimbulkan keluhan miksi (Kevin, 2014).

III.

BERBAGI INFORMASI
1. Adenomyosis
a. Definisi
invasi jinak jaringan endometrium ke dalam lapisan
miometrium yang menyebabkan pembesaran uterus difus
dengan

gambaran

mikroskopis

kelenjar

dan

stroma

endometrium ektopik non neoplastik dikelilingi oleh jaringan


miometrium hipertrofik dan hiperplastik. Penyakit ini sebagian
besar muncul pada akhir masa reproduksi dan perimenoupuse
(Garcia, 2013).
b. Epidemiologi
Frekuensi adenomiosis bervariasi dari 5% hingga 70%,
pada literatur lain dilaporkan 8% hingga 61%, bergantung pada
seleksi sampel dan kriteria diagnostik yang dipakai.2,8,9,10
Diagnosis preoperatif sendiri masih kurang dari 10% .8 Studi di
Nepal oleh Shrestha et al. (2012) melaporkan insidens 23,4%

pada 256 spesimen histerektomi (Garcia, 2013). Angka


kejadian menurut histopatologi ditemukan 20-40%. Lebih dari
80% penderita adenomiosis memiliki uterus abnormal, 50%
seiring dengan miom uterus, 11% dengan endometriosis, 7%
dengan polip endometrium. 40,3% terjadi kekambuhan
pascabedah dan pascapengobatan medisinal (Rajuddin, 2008).
c. Etiologi
Etiologi yang pasti masih belum diketahui. Perumbuhannya
dipicu oleh kelemahan otot polos uterus atau adanya
peningkatan tekanan intrauterin atau gabungan keduanya.
Kadar estrogen yang tinggi dan perubahan imunitas selular juga
dihubungkan dengan kejadian adenomiosis (Rajuddin, 2008).
Terdapat 3 teori diduga sebagai penyebab :
1. Teori yang pertama dan yang paling populer adalah bahwa
adenomiosis dapat berkembang dari invaginasi jaringan
endometrium di miometrium.
2. Teori kedua menyebutkan bahwa adenomiosis dapat
berkembang secara de novo akibat sisa sisa dari jaringan
mullerian pluripotent.
3. Teori ketiga menyebutkan bahwa adenomyosis terjadi
karena invaginasi dari lapisan basalis pada sistem limfatik
intreamiometrium (Garcia, 2013).
d. Faktor resiko
faktor resiko adenomiosis antara lain :
a) usia antara 40-50 tahun,
b) multipara,
c) riwayat hiperplasia endometrium,
d) riwayat abortus spontan,
e) polimenore (Rajuddin, 2008).
e. Patofisiologi
Mekanisme yang memicu invasi jaringan endometrium
ke dalam miometrium masih belum jelas. Lapisan fungsional
endometrium secara fisiologis berproliferasi secara lebih aktif
dibandingkan lapisan basalis. Hal ini memungkinkan lapisan
fungsional menjadi tempat implantasi blastokista sedangkan
lapisan basalis berperan dalam proses regenerasi setelah
degenerasi lapisan fungsional selama menstruasi. Selama

periode regenerasi kelenjar pada lapisan basalis mengadakan


hubungan langsung dengan sel-sel berbentuk gelondong pada
stroma endometrium (Garcia, 2013).
Adenomiosis berkembang dari pertumbuhan ke bawah
dan invaginasi dari stratum basalis endometrium ke dalam
miometrium sehingga bisa dilihat adanya hubungan langsung
antara stratum basalis endometrium dengan adenomiosis di
dalam miometrium. Di daerah ekstra-uteri misalnya pada plika
rektovagina,adenomiosis dapat berkembang secara embriologis
dari sisa duktus Muller (Garcia, 2013).
f. Gejala klinis
Gejala klinisnya sangat beragam, tersering dismenorea (80%),
selain itu juga ditemukan nyeri pelvik (50%), infertilitas (40%),
dan gangguan haid (20%). Gejala penyerta lain adalah
menoragia, dispareunia, nyeri suprapubik, pembesaran uterus,
gangguan miksi dan ada juga yang tanpa keluhan. Menoragia
terjadi karena vaskularisasi jaringan bertambah dan otot uterus
tidak dapat berkontraksi sempurna (Rajuddin, 2008).
DAFTAR PUSTAKA
Rajuddin, T. Z. Jacoeb. 2008. Penanganan Adenomiosis
dengan

Reaksi

Laparotomik

pada

Perempuan

Infertil

(Pengalamam pada 32 kasus). Divisi Fertilitas Endokrinologi


Reproduksi

Bagian

Obstetri

dan

Ginekolorgi

Fakultas

Kedokteran Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh.


Vol. 32, (22-25).
Garcia L, Isaacson K. 2013. Review Article Adenomyosis.
Obstetrics and Gynecology International.
Kevin. 2014. Ilustrasi Obstetri Edisi 7. Indonesia : ELSEVIER.
Sarwono P. 2011. Ilmu Kandungan Edisi 3. Jakarta : Bina
Pustaka