Anda di halaman 1dari 5

Sinkronisasi Estrus pada Sapi.

Kesuksesan program sinkronisasi membutuhkan pengetahuan mengenai


siklus berahi. Hari ke-0 dari merupakan hari pertama estrus, pada saat ini biasanya
perkawinan secara alami terjadi. Hormon estrogen mencapai puncaknya pada hari
ke-1 dan kemudian menurun, level progesteron rendah karena Corpus Luteum
(CL) belum terbentuk. Ovulasi terjadi 12-16 jam setelah akhir standing estrus. CL
yang menghasilkan hormon progesteron terbentuk pada tempat ovulasi dan secara
cepat mengalami pertumbuhan mulai dari hari ke-4 sampai ke-7, pertumbuhan ini
diikuti dengan peningkatan level progesteron. Mulai hari ke-7 sampai ke-16, CL
menghasilkan progesteron dalam level tinggi.
Selama periode ini, 1 atau 2 folikel mungkin menjadi besar, tetapi dalam
waktu yang singkat akan mengalami regresi, kira-kira hari ke-16, prostaglandin
dilepaskan dari uterus dan menyebabkan level progesteron menjadi turun. Ketika
level progesteron menurun, level estrogen meningkat dan folikel baru mulai
tumbuh, estrogen mencapai puncaknya pada hari ke-20, diikuti tingkah laku estrus
pada hari ke-21. Pada saat ini siklus estrus kembali dimulai.
Proses sinkronisasi dengan menggunakan preparat prostaglandin (PGF2a)
akan menyebabkan regresi CL akibat luteolitik, secara alami prostaglandin
(PGF2a) dilepaskan oleh uterus hewan yang tidak bunting pada hari ke-16 sampai
ke-18 siklus yang berfungsi untuk menghancurkan CL. Timbulnya berahi akibat
pemberian PGF2a disebabkan lisisnya CL oleh kerja vasokontriksi PGF2a
sehingga aliran darah menuju CL menurun secara drastis, akibatnya kadar
progesteron yang dihasilkan CL dalam darah menurun, penurunan kadar
progesteron ini akan merangsang hipofisa anterior melepaskan FSH dan LH,
kedua hormon ini bertanggung jawab dalam proses folikulogenesis dan ovulasi,

sehingga terjadi pertumbuhan dan pematangan folikel. Folikel-folikel tersebut


akhirnya menghasilkan hormon estrogen yang mampu memanifestasikan gejala
berahi. Kerja hormon estrogen adalah untuk meningkatkan sensitivitas organ
kelamin betina yang ditandai dengan perubahan pada vulva dan keluarnya lendir
transparan.
Prosedur Sinkronisasi Berahi Sinkronisasi berahi pada sapi, paling umum
menggunakan prostaglandin atau senyawa analognya. Dengan tersedianya
prostaglandin di pasaran memungkinkan pelaksanaan sinkronisasi berahi di
lapangan beberapa senyawa prostaglandin yang tersedia antara lain 1) Reprodin
(Luprostiol, Bayer, dosis 15 mg), 2) Prosolvin (Luprostiol, Intervet, dosis 15 mg),
3) Estrumate (Cloprostenol, ICI, dosis 500 g) dan Lutalyse (Dinoprost, Up John,
dosis 25 mg). Cara standar sinkronisasi berahi meliputi 2 kali penyuntikan
prostaglandin dengan selang 10-12 hari. Berahi akan terjadi dalam waktu 72-96
jam setelah penyuntikan kedua.
Pelaksanaan inseminasi dilakukan 12 jam setelah kelihatan berahi, atau
sekali pada 80 jam setelah penyuntikan kedua. Prosedur yang digunakan adalah:
Ternak yang diketahui mempunyai corpus luteum (CL), dilakukan penyuntikan
PGF2a satu kali. Berahi biasanya timbul 48 sampai 96 jam setelah penyuntikan.
Apabila tanpa memperhatikan ada tidaknya CL, penyuntikan PGF2a dilakukan
dua kali selang waktu 11-12 hari. Setelah itu dilakukan pengamatan timbul
tidaknya berahi 36-72 jam setelah peyuntikan kedua. Pemberian PGF2 analog
dapat menyebabkan luteolisis melalui penyempitan vena ovarica yang
menyebabkan berkurangnya aliran darah dalam ovarium. Berkurangnya aliran
darah ini menyebabkan regresi sel-sel luteal. Regresi sel-sel luteal menyebabkan
produksi progesteron menurun menuju kadar basal mendekati nol nmol/lt, dimana

saat-saat terjadinya gejala berahi. Regresi korpus luteum menyebabkan penurunan


produksi progesteron (Husnurrizal. 2008).
Menurut

Ismaya, 1998 Sikronisasi estrus pada sapi dapat dilakukan

dengan beberapa cara yaitu :


1. Menghilangkan corpus luteum atau enukleasi luteal
a. Perusakan fisik pada CL dngan menggunakan jari melalui rektum, pada
saat CL dalam keadaan berfungsi (masak).
b. Perlu tenaga yang profesional.
c. 50 60 % dari sekelompok sapi yang peka, empat hari kemudian akan
birahi.
d. Resiko hemorhagia dan perlekatan fimbria.
2. Penyuntikan Progesteron
a. Penyuntikan selama 18 -20 hari (50 mg/hari).
b. Menghambat fase luteal melalui umpan balik negatif.
Kelemahannya yaitu injeksi memerlukan waktu dan tenaga, timbulnya birahi
bervariasi kurang lebih 5 hari, fertilisasi menurun/rendah Pemberian
progestagen aktif per oral (mulut)
a. Mengatasi kesulitan kedua diatas dan lebih tepat untuk kelompok ternak
yang besar dikandang dan terprogram pemberian pakannya
b.

Progestagen

sintetik

yaitu

melengestrol

Asetat

(MGA)

dan

Medroxiprogesteron (MPA), namun lebih bagus MGA daripada MPA.


c. Pemberian lewat pakan selama 15-18 hari dan birahi terjadi 3-5 hari
kemudian setelah penghentian perlakuan.

d. Fertilisasi rendah (42%) dan menjadi 82 % pada estrus berikutnya.


e. Pemberian esterogen dan gonadotropin menghambat MGA, fertilisasi
tetap rendah
3. Implan silastik
a. Implan silastik yang mengandung MGA ditanam dibawah kulit leher atau
dibawah kulit luar telinga selama 22-64 hari
4. Spons intravagina
a. Progesteron juga dapat dimasukan ke vagina dengan memakai spons,
diharapkan dapat menghasilkan estrus yang baik.
b. Pemasangan spons selama 18-21 hari dan birahi akan tampak 24-72 jam
setelah pengambilan spons dari vagina.
c. Kelemahan: spons sering berubah tempat, kerusakan mukosa vagina dan
serviks.
d. Progesteron releasing intra vagina device (PRID) adalah alat intravagina
pelepas progesteron dengan speculum pada bagian vagina anterior
5. Dengan penyuntikan PMSG (750-2000 IU) sebelum dan sesudah pengeluaran
spons dapat meningkatkan birahi dan fertilisasi
6. Progestagen dalam waktu singkat
a. Untuk meningkatkan fertilisasi prostagen diberikan 9-12 hari saja.
b. Sebelumnya disuntikan 5-7,5 mg EB dan 50-250 mg progesteron dan
setelah penghentian perlakuan, maka 56 jam kemudian birahi dan
dapat di IB
7. Injeksi prostaglandin PGF 2alfa

a. Publikasi pertama mengenai terapi prostalglandin baru muncul tahun


1970 dan terus berkembang sejalan ditemukannya analog prostaglandin.
b. Lebih sederhana dan mencegah menurunya fertilisasi.
c. Penyuntikan intra muskular tunggal untuk fase luteal dan ganda (10-12
hari) untuk yang heterogen fasenya, IB dilakukan 58-72 jam atau 72 dan
96 jam (IB Ganda)
Husnurrizal. 2008. Sinkronisasi birahi dengan preparat hormon prostaglandin
(pgf2a). Lab. Reproduksi. Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah
Kuala. (http://www.foxitsoftware.com).
Ismaya. 1998. Inseminasi Buatan pada Ternak. Bagian Program Studi Produksi
Ternak. Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta