Anda di halaman 1dari 8

Zaid Bin Haristsah : Panglima Kesayangan Rasulullah (bagian kedua)

BY GUNAWAN FEBRUARY 29, 2012


POSTED IN: SAHABAT NABI
Cerita islami, Kisah sahabat nabi, Zaid Bin Haristsah ini merupakan lanjutan dari
kisah sebelumnya

Setelah siuman, Haritsah masih terus menangis sedih. Dia merasa sangat bersalah
karena tidak mengantar istri dan anaknya ke kampung Bani Maan. Seandainya dia
ikut ke sana, mungkin dia bisa melindungi anaknya dari para perampok itu. Hari itu
Haritsah merasa telah menjadi laki-laki yang tidak berguna. Bagaimana mungkin
seorang ayah membiarkan anaknya diculik perampok? Pertanyaan inilah yang terus
menghantui pikirannya dan terus menyiksanya dengan perasaan bersalah.

Dalam hati, Haritsah bertekad, apa pun yang terjadi dia harus menemukan Zaid dan
membawanya pulang. Entah bagaimana caranya, entah kapan dan di mana
menemukannya. Sejak saat itu, Haritsah terus berjalan menelusuri desa-desa,
bahkan melintasi gurun pasir untuk mencari putranya. Setiap ada rombongan
kafilah yang ditemuinya, Haritsah bertanya kepada mereka, apakah di antara
mereka ada yang tahu atau pernah melihat Zaid. Namun tak seorang pun yang
dapat memberi keterangan kepada Haritsah mengenai putranya. Akhirnya, setelah
bertahun-tahun mencari tanpa hasil, Haritsah menyerah. Dia dan istrinya sudah
pasrah dan hanya bisa menyerahkan nasib anaknya kepada kemurahan Tuhan.

Sementara itu para perampok yang membawa Zaid bermaksud menjual bocah kecil
itu di pasar budak. Maka pergilah mereka ke pasar Ukaz dikota Mekah, sebab di
situlah kegiatan jual beli segala macam barang dagangan dilakukan, mulai dari
kain, pakaian, bahan makanan, barang-barang kerajinan, hingga manusia! ya, pada
masa itu manusia bisa diperjualbelikan bak binatang piaraan, karena masyarakat
Arab jahiliah masih mengenal perbudakan. Harga budak-budak yang
diperjualbelikan di situ beragam, dari yang paling murah sampai yang paling mahal.
Tinggi rendahnya harga mereka tergantung pada banyak hal, misalnya umur,
perawakan tubuh, dan kondisi fisiknya. Ke pasar itulah Zaid kecil dibawa, persis
seperti seekor anak kambing yang dibawa ke pasar hewan tanpa induknya. Zaid
kecil terus menangis ketakutan. Tangisannya itu menarik perhatian seorang laki-laki
yang kebetulan lewat di ekat situ. Laki-laki bernama Hakim bin Hizam itu mendekati
kawanan perampok tersebut, lalu bertanya,

Apakah anak ini akan kalian jual?


Ya, kami akan menjualnya. Kata salah satu perampok.
Berapa harganya?
Empat ratus dirham.
Baiklah, kubeli anak ini empat ratus dirham, kata Hakim tanpa menawar-nawar
lagi.

Rupanya dia merasa kasihan melihat Zaid yang terus menangis. Setelah membayar
harga budak kecil itu, Hakim Uin Hirur membawa Zaid bin Haritsah pulang. Di
sepanjang jalan, Hakim berusaha menghibur Zaid agar tidak terus bersedih. Dia
berjanji akan memperlakukan Zaid dengan baik. Bahkan Hakim berencana akan
memberikan Zaid kepada bibinya, yaitu Khadijah binti Khuwailid, istri Muhammad
al-Amin. Seorang wanita bangsawan kaya raya dan baik hati, yang bersuamikan
seorang laki-laki terhormat yang terkenal dengan kluhurana hlaknya. Dengan
memberikan Zaid kepada keluarga mulia itu, Hakim yakin Zaid akan diperlakukan
lebih baik.

cerita sahabat nabi Zaid Bin Haristsah Panglima Kesayangan Rasulullah (bagian
kedua)

Maka, setelah beberapa lama Zaid diajak tinggal bersamanya, pada suatu pagi
Hakim mengajaknya ke rumah Khadijah. Mereka disambut oleh Khadijah dengan
sangat ramah. Setelah Hakim menyampaikan maksud kedatangannya, Khadijah
mengucapkan terima kasih dan berjanji akan memperlakukan Zaid dengan baik.
Saudaraku, engkau berikan kepadaku budak kecil ini. Terima kasih banyak. Aku
berjanji akan memperlakukannya dengan baik. Kata Khadijah. Dalam hati, dia
berniat memberikan Zaid kepada suaminya sebagai hadiah.

Waktu itu Muhammad belum diangkat menjadi seorang rasul, tetapi dia adalah
seorang lelaki terhormat dari suku Quraisy yang sangat terkenal dengan keluhuran
akhlaknya. Kepadanyalah Zaid kemudian diberikan. Tak ayal, meski menjadi
seorang budak, Zaid merasa bersyukur memiliki majikan orang-orang yang baik dan

mulia. Majikannya yang pertama, Hakim bin Hizam, memperlakukannya dengan


baik. Dia tidak pernah dipukul atau disiksa layaknya budak pada masa itu.

Majikannya yang kedua, Khadijah binti Khuwailid, juga memperlakukannya dengan


baik, bahkan lebih baik dari perlakuan Hakim. Sementara majikannya yang ketiga,
Muhammad al-Amin, memperlakukannya dengan penuh kasih sayang seolah-olah
Zaid adalah anaknya sendiri. Maka pantaslah jika Zaid merasa bersyukur atas nasib
yang menimpanya. Rasa syukur itu kian hari kian bertambah, hingga kemudian Zaid
merasa sangat kerasan tinggal bersama keluarga Muhammad. Apalagi ketika suatu
hari terjadi suatu peristiwa yang tak mungkin terlupakan seumur hidupnya. Saat itu
Muhammad memanggilnya.

Tahukah kamu, untuk apa aku memanggilmu, Zaid? tanya Muhammad dengan
suara lembut dan senyum tersungging.
Tidak, Tuan. Jawab Zaid sambil menduga-duga.
Ada sebuah berita gambira untukmu
Jantung Zaid berdebar-debar mendengar bahwa dirinya akan memperoleh sesuatu
yang menggembirakan. Kabar apa gerangan yang hendak disampaikan oleh
majikannya yang mulia itu?
Sejak detik ini engkau menjadi orang merdeka, Zaid.

Ucapan Muhammad itu dirasakan Zaid bagaikan petir di siang bolong. Dia hampirhampir tidak percaya mendengarnya. Andai bukan Muhammad al-Amin yang
mengatakannya, mungkin Zaid akan menganggapnya sebagai bualan belaka.
Betapa tidak, budak adalah harta yang berharga ketika itu. Seseorang dapat
memiliki budak dengan cara membeli, padahal harga budak kadang bisa sangat
tinggi. Maka, untuk memerdekakan seorang budak juga dibutuhkan uang yang tidak
sedikit. ltulah mengapa kata merdeka bagi seorang budak seperti mimpi, sebab
sebuah kemerdekaan mesti ditebus dengan harga yang sangat mahal. Seorang
budak seperti Zaid hampir tidak ada harapan untuk mampu menebus dirinya. Maka,
begitu mendengar ucapan majikannya itu Zaid tak dapat berkata-kata.
Dia tertegun sesaat, sampai didengarnya kembali Muhammad berkata, Kini engkau
bebas pergi ke mana pun engkau suka. Namun, jika mau, engkau dapat tinggal di
sini bersamaku. Begitu kata-kata yang keluar dari mulut mulia Muhammad.
Mendengar kata-kata yang sangat indah itu, Zaid menangis haru.

Sungguh, tidak ada kebahagiaan yang lebih besar baginya dari pada kebahagiaan
yang dia rasakan saat itu. Sejak saat itu Zaid tinggal bersama keluarga Muhammad
bukan sebagai budak, melainkan sebagai salah satu anggota keluarga. Muhammad
mendidiknya dengan penuh kasih sayang, sehingga Zaid tumbuh menjadi pemuda
yang berakhlak mulia.

Pada suatu musim haji, ada serombongan jamaah haji yang datang dari kampung
asal Zaid. Tanpa sengaja mereka bertemu dengan Zaid yang saat itu sudah
beranjak remaja. Setelah meyakinkan diri bahwa pemuda yang mereka temui itu
benar Zaid bin Haritsah, mereka mengajak Zaid pulang sambil mengabarkan
keadaan orang tuanya yang menyedihkan sejak berpisah dengannya. Namun Zaid
menolak dan mengatakan ingin tetap tinggal di Mekah.
Bukan aku tidak sayang dan rindu kepada mereka, tetapi di sini aku sudah memiliki
orang tua baru yang sangat menyayangiku, kata Zaid kepada rombongan dari
kampung asalnya itu. Aku hidup bahagia di sini. Tolong sampaikan keadaanku ini
kepada ayah dan ibuku.
Penjelasan dari Zaid itu membuat orang-orang sekampungnya penasaran. Siapa
gerangan orang tua baru Zaid, sehingga Zaid tidak menginginkan kembali kepada
ayah dan ibunya?
Zaid, beri tahu kami, siapa orang tuamu di Mekah ini? tanya mereka. Muhammad
al-Amin, jawab Zaid.
Demi mendengar nama itu, mereka maklum. Siapa yang tidak kenal pemimpin
Quraisy yang sangat terhormat itu?
Sepulang dari Mekah, rombongan itu menyampaikan kabar Zaid kepada Haritsah
dan Suda. Mendengar kabar itu, Haritsah segera bersiap-siap pergi ke Mekah. Dia
berangkat bersama saudaranya. Mereka langsung menuju rumah Muhammad dan
menyatakan maksudnya hendak meminta Zaid dan membawanya pulang.
Wahai pemimpin Quraisy yang mulia, izinkahlah kami mengambil Zaid dari sisimu
dan membawanya pulang. Kata Haritsah.
Kami mengerti perasaan Tuan, jawab Muhammad, namun alangkah baiknya
kalau urusan ini kita kembalikan kepada yang bersangkutan. Biarkanlah Zaid yang
memilih. Jika dia memilih tinggal bersamaku, maka aku tidak akan memberikan
tebusan kepadamu. Sebaliknya jika dia memilih ikut bersamamu, aku juga tidak
akan meminta tebusan darimu.

Lalu beliau memanggil Zaid.

Zaid, tahukah kamu, siapa kedua orang ini? tanya beliau.


Ya, saya tahu. Mereka adalah ayah dan paman saya. Jawab Zaid.
Mereka bermaksud mengajakmu pulang, tapi kami sepakat menyerahkan
keputusannya kepadamu. Nah, sekarang berikanlah keputusanmu.

Tentu saja saya memilih Anda, wahai Muhammad. Anda adalah ayah sekaligus
paman saya, jawab Zaid secara mengejutkan.
Seketika itu juga, Muhammad menggandeng tangan Zaid menuju halaman Kakbah
yang luas. Di depan orang-orang Quraisy yang sedang berkumpul, Muhammad
berseru, Wahai penduduk Mekah, saksikanlah bahwa mulai saat ini Zaid adalah
anakku. Dia akan menjadi ahli warisku dan aku akan menjadi ahli warisnya!

Sejak saat itu, Zaid dikenal dengan sebutan Zaid bin Muhammad. Kebahagiaan
terpancar dari wajahnya. Adapun Haritsah, dia sama sekali tidak sedih. Meskipun
gagal membawa Zaid pulang, dia bahagia melihat putranya diasuh oleh orang
paling mulia di negeri Arab.

Setelah Muhammad menjadi rasul, Zaid menjadi orang kedua yang memeluk lslam
setelah Khadijah ra. Saat itu usia Zaid mencapai dua puluh tahun. Sejak itu, Zaid
menjadi pendamping Rasul yang sangat setia dan penuh pengabdian. Saat
Rasulullah saw. mencari suaka ke Thaif karena tekanan yang amat kuat dari kaum
kafir Quraisy, Zaid adalah pendampingnya. Dia ikut dilempari batu dan kotoran unta
bersama Rasulullah, sehingga tubuhnya penuh luka dan kotoran. Semua itu
dilakukannya dengan penuh keikhlasan dan cinta, sehingga Rasulullah saw. semakin
menyayanginya.

Ketika Zaid sudah dewasa, Rasulullah berniat menikahkannya dengan seorang


perempuan. Rasulullah lalu memilih Zainab binti Jahsyi, seorang bangsawan dan
masih kerabat beliau sendiri. Kehendak beliau itu ditolak oleh Zainab dan
keluarganya. Mereka merasa khawatir martabat mereka turun jika Zainab menikah
dengan bekas budak. Namun kemudian, Zainab sendiri memutuskan untuk menikah
dengan Zaid meskipun dengan agak terpaksa.

Setelah mereka menikah, ternyata sifat Zainab tidak berubah. Dia tetap sombong
dengan kebangsawanannya, dan tidak mau bersikap baik layaknya seorang istri

kepada suaminya. Zaid yang merasa tidak nyaman dengan keadaan itu beberapa
kali mengadu kepada Rasulullah. Zaid meminta nasihat dan pertimbangan tentang
kondisi rumah tangganya yang kurang harmonis itu. Bahkan dia meminta izin untuk
menceraikan Zainab. Tetapi Nabi selalu menasihali Zaid agar bersabar.

Hendaklah engkau takut kepada Allah, wahai Zaid. Pertahankan istrimu, jangan
ceraikan dia. Begitu selalu nasihat beliau setiap kali Zaid datang mengadu dan
mengeluh tentang keadaan keluarganya. Mendengar nasihat itu, Zaid mencoba
bertahan. Namun semakin lama dia semakin tidak tahan hidup bersama Zainab,
karena istrinya itu selalu bersikap angkuh kepadanya. Maka setelah tekadnya bulat,
Zainab pun diceraikannya. Tindakannya itu membuat Rasulullah merasa kasihan
kepadanya. Maka, Rasulullah kemudian mencarikan seorang perempuan lagi
untuknya. Zaid lalu dinikahkan dengan Ummu Kulsum binti Uqbah.

Ternyata pilihan Rasulullah tidak salah. Dengan Ummu Kulsum, kehidupan rumah
tangga Zaid berjalan harmonis. Ummu Kulsum menerima Zaid apa adanya,
sehingga mereka pun hidup bahagia. Dari mereka lahirlah seorang putra yang diberi
nama Usamah bin Zaid, yang kelak menjadi panglima perang hebat seperti
ayahnya.

Sementara itu Zainab, setelah menjanda beberapa saat lamanya, dinikahi oleh
Rasulullah sendiri. Hal ini menimbulkan berbagai kecaman dan gunjingan dari
penduduk Mekah. Mengapa Nabi menikah dengan bekas istri anak angkatnya?
Padahal, dalam tradisi masyarakat Arab, kedudukan anak angkat sama dengan
anak kandung. Anak angkat boleh mewarisi ayah angkatnya, demikian juga
sebaliknya, ayah angkat boleh mewarisi anak angkatnya. Oleh karena itu, istri yang
telah dicerai anak angkat tidak boleh dinikahi oleh ayah angkatnya. Tapi mengapa
Rasulullah melanggar tradisi itu?
Allah yang Maha bijaksana rupanya berkehendak menghapus tradisi jahiliah
tersebut melalui sunah Rasul saw Diturunkan-Nya sebuah ayat sebagai hujjah bagi
tindakan Rasulullah itu:

Dan tiada puIa ia menjadikan anak-anak angkat kamu sebagai anak kandungmu.
Itu hanyalah kata-katamu dengan mulut kamu saja. Dan Allah mengatakan yang
sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan yang benar. (Q.S. al-A!-rzab l33l: a)

Wahyu tersebut menegaskan bahwa kedudukan anak angkat tidaklah sama dengan
anak kandung. lni berarti, anak angkat boleh menikah dengan bekas istri ayah
angkatnya, dan ayah angkat boleh menikah dengan bekas isteri anak angkatnya.
Selain menurunkan ayat di atas, Allah juga menurunkan perintah langsung kepada
Rasulullah agar menikahi Zainab, sebagai pelajaran bagi umat manusia tentang
hukum menikahi bekas istri anak angkat. Perintah itu tercantum dalam Al-Quran:

Maka, ketika Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya),


Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin
untuk (mengawini) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu
telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan AIlah
itu pasti terjadi. (Q.S. al-Ahzab [33 ]:37) Ayat di atas secara tegas memerintahkan
Rasulullah untuk menikahi Zainab yang telah diceraikan oleh Zaid. Ayat ini sekaligus
menegaskan salah satu keistimewaan Zaid dibanding sahabat-sahabat Nabi yang
lain, yaitu penyebutan nama Zaid secara eksplisit oleh Allah dalam Al-Quran.

Sejak turunnya dua ayat yang menegaskan kedudukan anak angkat tersebut, Zaid
kembali dikenal dengan namanya semula, yaitu Zaid bin Haritsah. Masyarakat
Mekah tidak lagi menyebutnya Zaid bin Muhammad. Meskipun demikian, hubungan
ayah-anak angkat di antara mereka tetap terjalin. Nabi saw. tetap menyayan gi Zaid
seperti semula, demikian juga Zaid tetap mencintai beliau seperti sedia kala.
Hubungan tersebut kemudian melahirkan kepercayaan Nabi terhadap Zaid,
terutama dalam urusan kemiliteran.

Kepercayaan Rasulullah itu tentu saja didukung oleh kepiawaian Zaid baik dalam
olah senjata dan ketangkasan berkuda maupun dalam strategi perang. Sejarah
mencatat nama Zaid sebagai salah seorang panglima perang yang hebat, sehingga
dia menjadi salah satu penglima kepercayaan Rasulullah. Tentang hal ini Aisyah ra.
berkata, Setiap Rasulullah saw. mengirimkan suatu pasukan yang disertai oleh
Zaid, pastilah dia yang diangkat menjadi pemimpinnya. Seandainya dia masih hidup
sesudah Rasul, tentulah dia akan diangkatnya sebagai khalifah.

Kepercayaan Rasulullah kepada Zaid ini sangat beralasan mengingat integritas


keimanannya yang tidak mungkin diragukan serta karakternya yang pemberani.
Semua itu adalah hasil didikan beliau sendiri selama Zaid tinggal bersamanya. Di
bawah bimbingan beliaulah, Zaid tumbuh menjadi seorang mukmin yang mencintai
Allah dan Rasul-Nya di atas segalanya serta menjadikan surga sebagai pembuluh

rindu, sehingga baginya mati dalam berjihad dijalan Allah sebagai syahid adalah
sebuah impian.

Saat Romawi mengancam kaum muslimin dengan dua ratus ribu tentaranya,
Zaidlah yang diutus oleh Rasulullah untuk menghadapi mereka. Bersama kurang
lebih tiga ribu pasukannya, Zaid berangkat dari Madinah dengan penuh keikhlasan
dan tawakal.

Kalian harus tunduk kepada Zaid bin Haritsah sebagai panglima. Seandainya Zaid
gugur, maka posisi panglima akan dipegang oleh Jafar bin Abi Thalib. Seandainya
Jafar gugur, maka posisi panglima akan dipegang oleh Abdullah bin Rawahah.
Demikian pesan Rasulullah sebelum pasukan muslimin berangkat menuju medan
perang. Rasulullah telah memperkirakan bahwa peperangan kali ini sangat
berbahaya, sehingga beliau merasa perlu menentukan tiga panglima sekaligus
untuk memimpin pasukan muslimin secara bergantian jika salah seorang dari
mereka gugur.

Pasukan muslimin dan tentara Romawi bertemu di sebuah tempat bernama Mutah.
Jumlah tentara Romawi yang sangat besar tidak menciutkan nyali Zaid dan pasukan
muslimin. Dengan gagah berani, Zaid menerjang di barisan paling depan sambil
memberikan komando dan meneriakkan takbir. Dengan tangkas dia mengendarai
kuda dan bertempur sambil memegang erat bendera perang pasukan muslimin.
Zaid tidak menghiraukan desingan anak panah serta tajamnya ujung tombak dan
pedang musuh. Peperangan yang tidak seimbang itu terkenal dengan sebutan
perang Mutah. Pada peperangan yang dahsyat itulah Zaid gugur sebagai syahid,
menyongsong surga yang selalu dirindukannya.