Anda di halaman 1dari 23

Etika Kedokteran Terkait Kelalaian Dokter

E7
Dwi Kartika 102012035
Jefri Sokko 102012073
Kelly 102012078
Resti Aulia Wulandari 102012171
Kelvin Rinaldo Khomalia 102012255
Elizabeth Angelina 102012354
Orlando 102012430
Masitah binti Omar 102012478

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Jl. Terusan Arjuna No.6 Jakarta Barat 11510 Telp. 021-56942061
Fax. 021-5631731
Skenario 6

Seorang pasien bayi dibawa orang tuanya datang ke tempat praktek dokter A, seorang
dokter anak. Ibu pasien bercerita bahwa ia adalah pasien seorang dokter obsgin B sewaktu
melahirkan, dan anaknya dirawat oleh dokter anak C. Baik dokter B maupun dokter C tidak
pernah mengatakan bahwa anaknya menderita penyakit atau cedera sewaktu lahir dan dirawat
disana. Sepuluh hari pasca lahir orang tua bayi menemukan benjolan di pundak kanan bayi.
Setelah diperiksa oelh dokter anak A dan pemeriksaan radiologi sebagai penunjangnya,
pasien dinyatakan menderita fraktur klavikula kanan yang sudah terbentuk kalus. Kepada
dokter A, mereka meminta kepastian apakah benar terjadi patah tulang klavikula dan kapan
kira-kira terjadinya. Bila benar bahwa patah tulang tersebut terjadi sewaktu kelahiran, mereka
akan menuntut dokter B karena telah mengakibatkan patah tulang dan C karena telah lalai
tidak dapat mendiagnosisnya. Mereka juga menduga bahwa dokter C kurang kompeten
sehingga sebaiknya ia merawat anaknya ke dokter A saja. Dokter A berpikir apa yang
sebaiknya ia katakana.
Pendahuluan
Dalam menyelesaikan kasus sehari-hari dokter senantiasa selalu dituntut untuk
memiliki sikap profesional. Dokter juga dalam melakukan perkerjaannya

harus

memperhatikan etika, disiplin dan hukum kedokteran.


Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (Purwadarminta, 1953), etika adalah ilmu
pengetahuan tentang azas akhlak. Etik profesi kedokteran merupakan seperangkat perilaku
para dokter dan dokter gigi dalam hubungannya dengan pasien, keluarga, masyarakat, teman
sejawat dan mitra kerja. Rumusan perilaku para anggota profesi disusun oleh organisasi
profesi bersama-sama pemerintah menjadi suatu kode etik profesi yang bersangkutan. Tiaptiap jenis tenaga kesehatan telah memiliki Kode Etiknya, namun Kode Etik tenaga kesehatan
tersebut mengacu pada Kode Etika kedokteran Indonesia (KODEKI).
Dalam makalah ini akan dibahas mengenai seorang dokter yang diminta pendapatnya
oleh pasien atas kasus kecurigaan kelalaian medik yang dilakukan oleh sesama dokter.
Etika Profesi Kedokteran
Kedokteran Internasional.
IDI (Ikatan Dokter Indonesia) memiliki sistem pengawasan dan penilaian pelaksanaan
etik profesi, yaitu melalui lembaga kepengurusan pusat, wilayah dan cabang, serta lembaga
MKEK (Majelis Kehormatan Etik Kedokteran) di tingkat pusat, wilayah dan cabang. Selain
itum, di tingkat sarana kesehatan (rumahsakit) didirikan Komite Medis dengan Panitia Etik di
2

dalamnya, yang akan mengawasi pelaksanaan etik dan standar profesi di rumah sakit. Bahkan
di tingkat perhimpunan rumah sakit didirikan pula Majelis Kehormatan Etik Rumah Sakit
(Makersi).1
Pada dasarnya suatu profesi memiliki 3 syarat utama, yaitu diperoleh melalui
pelatihan yang ekstensif, memiliki kompomen intyelektual yang bermakna dalam melakukan
tugasnya, dan memberikan pelayanan yang penting kepada masyarakat. Selain itu juga
memiliki 3 syarat umum, yaitu: sertifikasi, organisasi profesi, otonomi

dalam

bekerja.Pemberian sertifikasi dilakukan tidak sekali untuk selamanya, melainkan harus selalu
memperoleh validasi melalui proficiency check.Otnomi mengakibatkan kelompok profesi
menjadi eksklusif dan memerlukan self regulation dalam rangka menjaga tanggung jawab
moral dan tanggung jawab porofesinya kepada masyarakat. Mereka umumnya memiliki
etrika profesi dan standar profesi serta berbagai tatanan yang menunjang adanya upaya self
regulation tersebut.2
Didalam sehari-hari kita mengenal 2 jenis profesi, yaitu profesi konsultan dan profesi
scholar pada jenis profesi konsultan terdapat hubungan individual antara professional dengan
klien dan biasanya melakukan transaksi free-for-service, Etika profesi kedokteran mulai
dikenal sejak 1800 tahun sebelum Masehi dalam bentuk Code of Hammurabi dan Code of
Hittites, yang penegakannya dilaksanakan oleh penguasa pada waktu itu. Selanjutnya etik
kedokteran muncul dalam bentuk lain, yaitu dalam bentuk sumpah dokter yang bunyinya
bermacam macam, tetapi yang paling banyak dikenal ialah sumpah Hippocrates. Sumpah
tersebut berisikan kewajiban kewajiban dokter dalam berperilaku dan bersikap, atau semacam
code of conduct bagi dokter.1
World medical association dalam Deklarasi Geneva pada tahun 1968 menelorkan
sumpah dokter (dunia) dan Kode Etik Kedokteran Internasional. Kode Etik Kedokteran
Internasional berisikan tentang kewajiban umum, kewajiban terhadap pasien, kewajiban
terhadap sesama dan kewajiban terhadap diri sendiri. Selanjutnya, kode etik kedokteran
Indonesia dibuat dengan mengacu kepada Kode Etik misalnya dokter,psikolog dan
pengacara; sedangkan jenis profesi scholar biasanya memiliki klien banyak pada satu waktu
dan bekerja berdasarkan gaji dan honor seperti guru, perawat dan tenaga kesehatan lain
dirumah sakit dll. Kedua jenis profdesi tersebut sama-sama memiliki tanggung jawab yang
khas, yaitu tanggung jawab profesi.2

Prinsip Etika Kedokteran


Etika adalah disiplin ilmu yang mempelajari baik buruk atau benar-salahnya suatu
sikap dan atau perbuatan seseorang individu atau institusi dilihat dari moralitas. Penilaian
baik-buruk dan benar-salah dari sisi moral tersebut menggunakan pendekatan teori etik yang
cukup banyak jumlahnya. Terdapat dua teori etika yang paling banyak dianut orang adalah
teori deontologi dan teleologi. Deontology lebih mendasarkan kepada ajaran agama, tradisi,
dan budaya, sedangkan teleology lebih kea rah penalaran (reasoning) dan pembenaran
(justifikasi) kepada azas manfaat (aliran utilitarian).3
Di dalam menentukan tindakan di bidang kesehatan atau kedokteran, selain
mempertimbangkan keempat kebutuhan dasar di atas, keputusan hendaknya juga
mempertimbangkan hak-hak asasi pasien. Pelanggaran atas hak pasien akan mengakibatkan
juga pelanggaran atas kebutuhan dasar di atas terutama kebutuhan kreatif. Etika adalah
displin ilmu yang mempelajari baik buruk atau benar salah suatu sikap dan atau perbuatan
seseorang individu atau institusi dilihat dari moralitas. Penilaian baik buruk dan benar salah
dari sisi moral tersebut menggunakan pendekatan teori etika yang cukup banyak jumlahnya.
Terdapat dua teori etika yang paling banyak dianut orang adalah teori deontology dan
teleology. Secara irngkas dapat dikatakan bahwa, deontology mengajarkan bahwa baik
buruknya suatu perbuatan harus dilihat dari perbuatannya itu sendiri, sedangkan teleology
mengajarkan untuk menilai baik buruk tindakan dengan melihat hasil atau akibatnya.
Deontology lebih mendasarkan kepada ajaran agama, tradisi, dan budaya, sedangkan
teleology lebih kea rah penalaran dan pembenaran kepada azas manfaat.3
Beauchamp dan Childress, 1994, menguraikan bahwa untuk mencapai ke suatu
keputusan etik diperlukan 4 kaidah dasar moral dan beberapa rules di bawahnya. Ke-4 kaidah
dasar moral tersebut adalah :
1. Prinsip otonomi yaitu prinsip moral yang menghormati hak-hak pasien, terutama
hak otonomi pasien. Prinsip moral inilah yang kemudian melahirkan doktrin
informed consent.
2. Prinsip beneficene yaitu prinsip moral yang mengutamakan tindakan ditujukan ke
kebaikan pasien. Dalam beneficence tidak hanya dikenal perbuatan untuk kebaikan
saja, melainkan juga perbuatan yang sisi baiknya lebih besar daripada sisi
buruknya.

3. Prinsip non maleficence yaitu prinsip moral yang melarang tindakan yang
memperburuk keadaan pasien. Prinsip ini dikenal sebagai primum non nocere atau
above all do no harm.
4. Prinsip justice yaitu prinsip moral yang mementingkan fairness dan keadilan dalam
bersikap maupun dalam mendistribusikan sumber daya.
Sedangkan rules derivatnya adalah veracity, privacy, confidentiality, dan fidelity.
Selain prinsip atau kaidah dasar moral di atas yang harus dijadikan pedoman dalam
mengambil keputusan klinis, profesional kedokteran juga mengenal etika profesi sebagai
panduan dalam bersikap dan berprilaku. Perbuatan keputusan etik, terutama dalam situasi
klinik, dapat juga dilakukan dengan pendekatan yang berbeda dengan pendekatan kaidah
dasar moral di atas. Jonsen, Siegler, dan Winslade mengembangkan teori etik yang
menggunakan 4 topik yang esensial dalam pelayanan klinik, yaitu : 3
1

Medical indication

Patient preferences

Quality of life

Contextual features

Ke dalam topik medical indication dimasukkan semua prosedur diagnostik dan terapi
yang sesuai untuk mengevaluasi keadaan pasien dan mengobatinya. Penilaian aspek indikasi
medis ditinjau dari sisi etiknya, terutama menggunakan kaidah beneficence dan non
maleficence. Pertanyaan etika pada topic ini adalah serupa dengan seluruh informasi yang
selayaknya disampaikan kepada pasien pada doktrin informed consent.
Pada topik patient preference kita memperhatikan nilai dan penilaian pasien tentang
manfaat dan beban yang akan diterimanya, yang berarti cerminan kaidah otonomi.
Pertanyaan etiknya meliputi pertanyaan tentang kompetensi pasien, sifat volunteer, sikap dan
keputusannya, pemahaman atas informasi, siapa pembuat keputusan bila pasien tidak
kompeten, nilai dan keyakinan yang dianut pasien.
Topik quality of life merupakan aktualisasi salah satu tujuan kedokteran, yaitu
memperbaiki, menjaga atau meningkatkan kualitas hidup insane. Apa, siapa dan bagaimana
melakukan penilaian kualitas hidup merupakan pertanyaan etik sekitar prognosis, yang
berkaitan dengan beneficence, non maleficence dan otonomi. Dalam contextual features
dibahas pertanyaan etik seputar aspek non medis yang mempengaruhi keputusan, seperti
faktor keluarga, ekonomi, agama, budaya, kerahasiaan, alokasi sumber daya dan faktor
hukum.3

Dalam peran negative gatekeeper, yaitu pada system kesehatan pra bayar atau
kapitasi, dokter diharapkan untuk membatasi akses pasien ke layanan medis. Pada peran ini
jelas terjadi konflik moral pada dokter dengan tanggungjawab tradisionalnya dalam membela
kepentingan pasien dengan tanggung jawab barunya sebagai pengawal sumber daya
masyarakat / komunitas. Meskipun demikian, peran negative gatekeeper ini secara moral
mungkin masih dapat dijustifikasi. Tidak seperti peran negative yang banyak dideskripsikan
secara terbuka, peran positive gatekeeper dokter sangat tertutup dan tidak dapat
dipertanggungjawabkan secara moral. Dalam peran ini dokter diberdayakan untuk
menggunakan fasilitas medis dan jenis layanan hi-tech demi kepentingan profit. Bagi mereka
yang mampu membayar disediakan fasilitas diagnostik dan terapi yang paling mahal dan
muktahir, layanan didasarkan pada keinginan pasar dan bukan kepada kebutuhan medis.
Upaya meningkatkan demand atas layanan yang sophisticated dijadikan tujuan yang implicit
dan dokter jadi salesmannya. Mereka berbagi profit secara langsung apabila mereka pemilik
atau investor layanan tersebut, atau mereka memperoleh penghargaan berupa kenaikan
honorarium atau tunjangan apabila mereka hanya berstatus pegawai atau pelaksana.3
Sifat hubungan antara dokter dengan pasien berkembang dari sifat paternalistic hingga
ke sifat kontraktual dan fiduciary. Pada masa sebelum tahun 1950-an paternalistik dianggap
sebagai sifat hubungan yang paling tepat, dimana dokter menentukan apa yang akan
dilakukan terhadap pasien berdasarkan prinsip beneficence (semua yang terbaik untuk
kepentingan pasien, dipandang dari kedokteran). Prinsip ini telah mengabaikan hak pasien
untuk turut menentukan keputusan. Sampai kemudian tahun 1970-an dikembangkan sifat
hubungan kontraktual antara dokter dengan pasien yang menitikberatkan kepada hak otonomi
pasien dalam menentukan apa-apa yang boleh dilakukan terhadapnya. Kemudian hubungan
dokter-pasien tersebut dikoreksi oleh para ahli etika kedokteran menjadi hubungan ficuiary
(atas niat baik dan kepercayaan), yaitu hubungan yang menitikberatkan nilai-nilai keutamaan
(virtue ethics). Sifat hubungan kontraktual dianggap meminimalkan mutu hubungan karena
hanya melihatnya dari sisi hukum dan peraturan saja, dan disebut sebagai bottom line ethics.
Otonomi pasien dianggap sebagai cerminan konsep self governance, liberty rights,
dan individual choices. Immanuel Kant mengatakan bahwa setiap orang memiliki kapasitas
untuk memutuskan nasibnya sendiri, sedangkan Johns S. Mills berkata bahwa kontrol sosial
atas seorang individu hanya sah apabila dilakukan karena terpaksa untuk melindungi hak
orang lain.
Salah satu hak pasien yang disahkan dalam Declaration of Lisbon dari World Medical
Association (WMA) adalah the rights to accept or to refuse treatment after receiving
6

aduquate information. Secara implicit amandemen UUD 45 pasal 28G ayat (1) juga
menyebutkan demikian Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi,....dst.
Selanjutnya UU No 23 / 1992 tentang Kesehatan juga memberikan persetujuan atas tindakan
medis yang akan dilakukan terhadapnya. Hak ini kemudian diuraikan di dalam Permenkes
tentang Persetujuan Tindakan Medis. Suatu tindakan medis terhadap seseorang pasien tanpa
memperoleh persetujuan terlebih dahulu dari pasien tersebut dapat dianggap sebagai
penyerangan atas hak orang lain atau perbuatan melanggar hukum (tort).4
Prinsip otonomi pasien ini dianggap sebagai dasar dari doktrin informed consent.
Tindakan medis terhadap pasien harus mendapat persetujuan (otorisasi) dari pasien tersebut,
setelah ia menerima dan memahami informasi yang diperlukan. Informed consent dapat
dianggap sebagai a patient with substantial understanding and ini substantial absence control
by others, intentionally authorizes a professional to do something.3,4
Kaidah Dasar Bioetik
a

Autonomy

The principle of autonomy recognizes the rights of individuals to self


determination.Prinsip autonomi mengakui hak-hak individu untuk menentukan nasib sendiri.
This is rooted in society's respect for individuals' ability to make informed decisions about
personal matters.Hal ini berakar pada masyarakat hormat untuk kemampuan individu untuk
membuat keputusan tentang hal-hal pribadi. Autonomy has become more important as social
values have shifted to define medical quality in terms of outcomes that are important to the
patient rather than medical professionals.Autonomi telah menjadi lebih penting sebagai nilainilai sosial telah bergeser untuk mendefinisikan kualitas medis dalam hal hasil yang penting
bagi pasien daripada medis profesional. The increasing importance of autonomy can be seen
as a social reaction to a tradition within healthcare. [ ] Some have questioned whether the
backlash against historically excessive paternalism in favor of patient autonomy has inhibited
the proper use of to the detriment of outcomes for some patients . Menghormati otonomi
adalah dasar informed consent dan petunjuk terlebih dahulu.3
Autonomy is a general indicator of health.By considering Autonomy as a gauge
parameter for (self) health care, the medical and ethical perspective both benefit from the
implied reference to Health.Dengan mempertimbangkan autonomi sebagai parameter gauge
untuk (diri) perawatan kesehatan, perspektif medis dan etika baik manfaat dari referensi
tersirat untuk Kesehatan. Psychiatrists are often asked to evaluate a patient's competency for
making life-and-death decisions at the end of life. Psikiater sering diminta untuk
7

mengevaluasi kemampuan pasien untuk membuat keputusan hidup dan mati pada akhir
kehidupan. Persons with a psychiatric condition such as delirium or clinical depression may
not have the capacity to make end-of-life decisions. Orang dengan kondisi jiwa seperti
depresi klinis delirium atau mungkin tidak memiliki kapasitas untuk membuat keputusan
akhir-kehidupan. Therefore, for these persons, a request to refuse treatment may be ignored.
Oleh karena itu, untuk orang-orang ini, permintaan untuk menolak pengobatan mungkin
diabaikan. Unless there is a clear advance directive to the contrary, persons who lack mental
capacity are generally treated according to their best interests. Kecuali ada advance directive
jelas sebaliknya, orang-orang yang tidak memiliki kapasitas mental umumnya diperlakukan
sesuai dengan kepentingan terbaik mereka. On the other hand, persons who have the mental
capacity to make end-of-life decisions have the right to refuse treatment and choose an early
death if that is what they truly want. Di sisi lain, orang yang memiliki kapasitas mental untuk
membuat akhir-keputusan hidup memiliki hak untuk menolak perawatan dan memilih
kematian dini jika itu yang mereka inginkan. In such cases, psychiatrists should be a part of
protecting that right. Dalam kasus tersebut, psikiater harus menjadi bagian dari melindungi
hak itu. 3
b

BeneficenceBeneficence

merupakan

tindakan

dokter

yang

mengutamakanThe term beneficence refers to actions that promote the


wellbeing

of

others.Beneficence

merupakan

tindakan

dokter

yang

mengutamakanThe term beneficence refers to actions that promote the


wellbeing of others.
Beneficence merupakan tindakan dokter yang mengutamakan Beneficence merupakan
tindakan dokter yang mengutamakanThe term beneficence refers to actions that promote the
wellbeing of others.Beneficence merupakan tindakan dokter yang mengutamakanThe term
beneficence refers to actions that promote the wellbeing of others.Beneficence merupakan
tindakan dokter yang mengutamakanThe term beneficence refers to actions that promote the
wellbeing of others.kebaikan kepada pasien dibandingkan kepentingan sendiri. Beneficence
merujuk pada tindakan yang mempromosikan kesejahteraan orang lain. In the medical
context, this means taking actions that serve the best interests of patients. Dalam konteks
medis, ini berarti mengambil tindakan yang melayani kepentingan terbaik pasien. However,
uncertainty surrounds the precise definition of which practices do in fact help patients.
Namun, ketidakpastian mengelilingi definisi yang tepat yang praktek lakukan dalam
membantu pasien sebenarnya.

and

in Principle of Biomedical Ethics (1978) identify

beneficence as one of the core values of health care ethics.James Childress dan Tom
8

Beauchamp dalam Prinsip Etika Biomedis mengidentifikasi kebaikan sebagai salah satu nilai
inti dari etika pelayanan kesehatan. Some scholars, such as , argue that beneficence is the
only fundamental principle of medical ethics. Beberapa sarjana, seperti Edmund Pellegrino,
berpendapat bahwa kebaikan adalah satu-satunya prinsip fundamental etika medis. They
argue that healing should be the sole purpose of medicine, and that endeavors like , and fall
beyond its purview.Mereka berpendapat penyembuhan yang harus menjadi tujuan tunggal
obat, dan bahwa usaha-usaha seperti operasi kosmetik , kontrasepsi dan euthanasia jatuh di
luar bidang tersebut.3
c

Non-MaleficenceThe concept of non-maleficence is embodied by the phrase,


"first, do no harm," or the Latin,
.Non maleficence adalah suatu tindakan dokter yang tidak mencelakakan atau

memperburuk keadaan pasien. Banyak menganggap bahwa harus menjadi pertimbangan


utama atau primer bahwa lebih penting untuk tidak membahayakan pasien, daripada berbuat
baik kepada mereka. This is partly because enthusiastic practitioners are prone to using
treatments that they believe will do good, without first having evaluated them adequately to
ensure they do no (or only acceptable levels of) harm.Hal ini sebagian karena praktisi
antusias rentan terhadap perawatan menggunakan bahwa mereka percaya akan berbuat baik,
tanpa terlebih dahulu harus dievaluasi secara memadai untuk memastikan mereka tidak
melakukan (atau hanya tingkat yang dapat diterima dari) membahayakan. Much harm has
been done to patients as a result.Banyak yang telah dilakukan kepada pasien sebagai hasilnya.
It is not only more important to do no harm than to do good; it is also important to know how
likely it is that your treatment will harm a patient. Hal ini tidak hanya lebih penting untuk
tidak membahayakan daripada berbuat baik, namun juga penting untuk mengetahui seberapa
besar kemungkinan bahwa perawatan Anda akan membahayakan pasien. 3So a physician
should go further than not prescribing medications they know to be harmful - he or she
should not prescribe medications (or otherwise treat the patient) unless s/he knows that the
treatment is unlikely to be harmful; or at the very least, that patient understands the risks and
benefits, and that the likely benefits outweigh the likely risks.
In practice, however, many treatments carry some risk of harm.Dalam prakteknya,
bagaimanapun, banyak perawatan membawa beberapa risiko bahaya. In some circumstances,
eg in desperate situations where the outcome without treatment will be grave, risky
treatments that stand a high chance of harming the patient will be justified, as the risk of not
treating is also very likely to do harm. Dalam beberapa keadaan, misalnya dalam situasi putus
9

asa mana hasil tanpa pengobatan akan kubur, pengobatan berisiko yang memiliki kesempatan
tinggi merugikan pasien akan dibenarkan, sebagai risiko tidak memperlakukan juga sangat
mungkin untuk melakukan kejahatan. So the principle of non-maleficence is not absolute, and
balances against the principle of (doing good), as the effects of the two principles together
often give rise to a double effect (further described in next section). Jadi prinsip non-sifat
mencelakakan tidak mutlak, dan saldo terhadap prinsip kebaikan (berbuat baik), sebagai
dampak dari dua prinsip bersama sering menimbulkan efek ganda (lebih lanjut dijelaskan
dalam bagian berikutnya).3
"Non-maleficence" is defined by its cultural context."Non-maleficence" ditentukan
oleh konteks budayanya. Every culture has its own cultural collective definitions of 'good'
and 'evil'. Setiap budaya memiliki definisi sendiri kolektif budaya 'baik' dan 'jahat'. Their
definitions depend on the degree to which the culture sets its cultural values apart from
nature. Definisi mereka tergantung pada sejauh mana budaya set nilai-nilai budaya, terpisah
dari alam. In some cultures the terms "good" and "evil" are absent: for them these words lack
meaning as their experience of nature does not set them apart from nature. Dalam beberapa
kebudayaan istilah "baik" dan "jahat" tidak hadir: bagi mereka kata-kata ini kurangnya
pengalaman mereka arti sebagai alam tidak membedakan mereka dari alam. Other cultures
place the humans in interaction with nature, some even place humans in a position of
dominance over nature. budaya lain menempatkan manusia dalam interaksi dengan alam,
beberapa manusia tempat bahkan di posisi dominasi atas alam. The religions are the main
means of expression of these considerations. Agama-agama adalah sarana utama ekspresi
pertimbangan.Depending on the cultural consensus conditioning (expressed by its religious,
political and legal social system) the legal definition of Non-maleficence differs. Tergantung
pada pengkondisian konsensus budaya (dinyatakan oleh agama, politik dan hukum sistem
sosial perusahaan) definisi hukum Non-maleficence berbeda. 3
d Justice
Justice yaitu prinsip moral yang memetingkan fairness dan keadilan dalam
mendistribusikan sumber daya (disrtributive justce). Empat prinsip bioethical yang sering
digunakan dalam analisis etika medis otonomi, kebaikan, non-sifat mencelakakan dan
keadilan. Dimana prinsip-prinsip ini dipanggil mereka harus benar digunakan dan
didefinisikan.3 Metode lain analisis dapat menghasilkan pendekatan yang lebih holistik dan
tiga-dimensi terhadap masalah. Sedangkan rules derivatnya adalah veracity (berbicara benar,
jujur dan terbuka), privacy (menghormati hak privasi pasien), confidentiality (menjaga
kerahasiaan pasien) dan fidelity (loyalitas dan promise keeping).3,4
10

Hubungan dokter-pasien
Hubungan dokter-pasien merupakan tunjang praktek kedokteran dan asas kepada etika
kedokteran, sebagai konsekuensi dari kewajiban-kewajiban profesi yang memberikan batasan
atau rambu-rambu hubungan tersebut. Kewajiban-kewajiban tersebut tertuang di dalam
prinsip-prinsip moral profesi yaitu otonomi, beneficience, non maleficence, daan justice yang
disebut prinsip utama manakala veracity (memberikan keterangan yang benar), fidelity
(kesetiaan), privacy, dan confidentiality (menjaga kerahasiaan) merupakan prinsip turunan.
Hubungan dokter-pasien pada awalnya merupakan hubungan paternalistic dengan memegang
prinsip beneficence sebagai prinsip utama. Namun cara ini dikatakan mengabaikan hak
autonomy pasien sehingga sekarang lebih merujuk kepada teori social contract dengan dokter
dan pasien sebagai pihak bebas yang saling menghargai dalam membuat keputusan. Dokter
bertanggungjawab atas segala keputusan teknis sedangkan pasien memegang kendali
keputusan penting terutama yang terkait dengan nilai moral dan gaya hidup pasien.3
Hubungan hukum dokter - pasien adalah hubungan antara subjek hukum dengan
subjek hukum. Dokter sebagai subjek hukum dan pasien sebagai subjek hukum secara
sukarela dan tanpa paksaan saling mengikatkan diri dalam sebuah perjanjian atau kontrak
yang disebut kontrak terapeutik. Dalam hubungan hukum ini maka segala sesuatu yang
dilaukan oleh dokter terhadap pasiennya dalam upaya penyembuhan penyakit pasien adalah
merupakan perbuatan hukum yang kepadanya dapat dimintai pertanggungjawaban hukum.
Mungkin masih banyak teman sejawat dokter yang melaksanakan tugas profesionalnya,
memberikan pelayanan medik kepada pasien tidak menyadari bahwa perbuatannya adalah
sebuah perbuatan hukum. Dalam benak para teman sejawat tiada lain hanyalah melakukan
tindakan profesional kedokteran sesuai dengan kode etik profesional dan sumpah jabatan
dokter, yaitu melakukan tindakan medis, pengobatatan penyakit dan perawatan kesehatan
untuk meningkatkan derajat kesehan masyarakat yang setinggi-tingginya.
Hubungan hukum dokter-pasien akan menempatkan dokter dan pasien berada pada
kesejajaran, sehingga setiap apa yang dilakukan oleh dokter terhadap pasien tersebut harus
melibatkan pasien dalam menentukan apakah sesuatu tersebut dapat atau tidak dapat
dilakukan atas dirinya. Salah satu bentuk kesejajaran dalam hubugan hukum dokter-pasien
adalah melalui informed consent atau persetujuan tindakan medik. Pasien berhak
memutuskan apakah menerima atau menolak sebagian atau seluruhnya rencana tindakan da
pengobatan yang akan dilakukan oleh dokter terhadap dirinya.

11

Hubungan hukum dokter-pasien menempatkan keduanya sebagai subjek hukum


yang masng-masing pihak mempunyai hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang harus di
hormati. Dokter sebagai subjek hukum mempunyai kewajiban untuk memenuhi segala
sesuatu yang menjadi hak-hak pasien dan sebaliknya pasien mempunyai kewajiban yang
sama untuk memenuhi hak-hak dokter. Pengingkaran atas pelaksanaan kewajiban masingmasing pihak akan menimbulkan disharmonisasi dalam hubungan hukum tersebut yang dapat
berbuntut pada gugatan atau tuntutan hukum oleh pihak-pihak yang merasa dirugikan hakhaknya atau kepentigan-kepentingannya.
Dokter tidak boleh bertindak arogan dan semena-mena atas superioritas yang
dimilikinya atas pasien karena memiliki keahlan dan kecakapan di bidang IPTEK kedokteran
dan kesehatan. sehingga pasien merasa sangat tergantung pada dokter. . Perbuatan seperti itu
adalah sebuah perbuatan melanggar hukum karena tidak menghargai hak-hak pasien dalam
perjanjian terapeutik tersebut.
Hubungan hukum dokter pasien mengacu pada Pasal 1320 KUHPerdata yang
mengatur syarat-syarat sahnya sebuah perjajiajan atau perikatan hukum Syarat-syarat tersebut
yaitu antara lain :
1). Pelaku perjanjian harus dapat bertindak sebagai subjek hukum
2). Perjanjian antara subjek hukum tersebut harus atas dasar sukarela dan tanpa paksaan
3), Perjanjian tersebut memperjanjikan sesuatu di bidang pelayanan kesehatan
4). Perjanjian tersebut harus atas sebab yang halal dan tidak bertentangan dengan hukum.
Dalam penelitian Gibb diungkapkan bahwa semakin sering orang menggunakan perilaku di
sebelah kiri, maka semakin besar kemungkinan komunikasi menjadi defensive. Sebaliknya,
komunikasi defensif berkurang dalam iklim suportif
1.

a. Evaluasi
Evaluasi artinya penilaian terhadap orang lain yaitu dengan cara memuji atau mengecam.
Dalam mengevaluasi, kita seringkali mempersoalkan nilai dan motif orang lain. Bila kita
menyebutkan kelemahan dan kekurangan orang lain, maka kita akan melahirkan sikap
defensif. Pada evaluasi, kita sering menggunakan kata sifat (salah, ngawur, bodoh). Kita
sering mengevaluasi pada gagasan dan kinerja orang lain, bukan pada diri sendiri.
b. Deskripsi
Deskripsi artinya penyampaian perasaan dan persepsi anda tanpa menilai. Pada deskripsi,
biasanya kita menggunakan kata kerja. Deskripsi dapat terjadi ketika kita sedang
mengevaluasi orang lain, tetapi orang merasa bahwa kita menghargai diri mereka.

12

2.

a. Kontrol
Kontrol artinya berusaha untuk mengendalikan bahkan cenderung ingin mengubah orang
lain dari sikap, pendapat dan tindakannya. Melakukan kontrol juga berarti ingin menentukan
sikap, pendapat dan tindakan orang lain sesuai dengan yang kita inginkan. Itu berarti kita
tidak menerima sikap, pendapat dan tindakan orang lain. Sehingga kalau terjadi kontrol orang
lain terhadap kita, maka kita ada perasaan menolaknya.
b. Orientasi Masalah
Orientasi masalah berarti mengkomunikasikan keinginan untuk bekerja sama mencari
pemecahan masalah. Kita mengajak orang lain bersama-sama untuk menetapkan tujuan dan
memutuskan bagaimana mencapainya.

3.

a. Strategi
Strategi adalah penggunaan cara untuk mempengaruhi orang lain. Kita menggunakan strategi
apabila orang menduga kita mempunyai motif tersembunyi. Kita berkomunikasi dengan
udang di balik batu. Apabila orang lain tahu kita melakukan strategi, maka ia akan
menjadi defensif.
b. Spontanitas
Spontanitas artinya sikap jujur, apa adanya dan dianggap tidak memiliki motif yang
terpendam. Apabila kita melakukan spontanitas, maka kita mempunyai iklim suportif.

4.

a. Netralitas
Netralitas berarti sikap impersonal dan memperlakukan orang lain tidak sebagai persona,
melainkan sebagai obyek. Bersikap netral bukanlah bersifat obyektif, melainkan
menunjukkan sikap acuh tak acuh dan tidak menghiraukan kelebihan orang lain.
b. Empati
Empati artinya memahami orang lain yang tidak mempunyai arti emosional bagi kita, sebagai
keadaan ketika pengamat bereaksi secara emosional karena ia menanggapi orang lain yang
mengalami emosi. Tanpa empati, orang seakan-akan menjadi mesin yang hampa perasaan dan
tanpa perhatian. Dengan empati, kita akan menumbuhkan iklim yang suportif.

5.

a. Superioritas

13

Superioritas artinya kita menunjukkan sikap lebih tinggi atau lebih baik dibanding orang lain
karena status atau kekuasaan atau kekayaan atau kemampuan intelektual (dalam istilah Islam
disebut Takabur). Superioritas akan melahirkan iklim defensif.
b. Persamaan
Persamaan adalah sikap memperlakukan orang lain secara horizontal dan demokratis. Dalam
sikap persamaan, kita tidak mempertegas perbedaan. Maksudnya status boleh jadi berbeda
tetapi komunikasi kita tidak vertikal, kita tidak menggurui tetapi berkomunikasi pada tingkat
yang sama. Dengan persamaan, kita mengkomunikasikan penghargaan dan rasa hormat pada
perbedaan pandangan (Dalam istilah Islam disebut Tawadlu). Kalau kita senantiasa dapat
menciptakan persamaan maka akan timbul iklim yang suportif.
6.

a. Kepastian
Orang yang memiliki kepastian bersifat dogmatis, ingin menang sendiri, dan melihat
pendapatnya sebagai kebenaran mutlak yang tidak dapat diganggu gugat. Bersikap kepastian
cenderung mengarah ke iklim defensif.
b. Provisionalisme
Provisionalisme adalah kesediaan untuk meninjau kembali pendapat kita, untuk mengakui
bahwa pendapat manusia adalah tempat kesalahan yaitu siap untuk mengakui dan mengoreksi
kesalahan yang kita perbuat, karena itu wajar juga kalau suatu saat pendapat dan keyakinan
kita bisa berubah. Provisonal dalam bahasa Inggris, artinya bersifat sementara atau
menunggu sampai ada bukti yang lengkap.

Hubungan Dokter dengan Dokter (Sejawat)


Hubungan antara dokter dan teman sejawat dinyatakan dalam Declaration of Geneva
yang menyatakan hubungan antara petugas kesehatan adalah seperti saudara. Menurut Kode
Etik Medik Internasional pula, terdapat dua larangan dalam hubungan sesama dokter yaitu:
1 Membayar atau menerima bayaran dari dokter lain dalam menangani pasien
2 Mengambil alih tugas perawatan pasien dari dokter lain tanpa rujukan dokter tersebut.
Menurut Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI) terdapat 4 kewajiban seorang
dokter dalam menjalani profesinya dan salah satunya itu adalah mengenai kewajiban terhadap
teman sejawat. Pasal-pasal dalam KODEKI yang mengatur mengenai kewajiban terhadap
teman sejawat adalah sebagai berikut:

Seorang dokter harus bersikap jujur dalam berhubungan dengan pasien dan
sejawatnya, dan berupaya untuk mengingatkan sejawatnya yang dia ketahui memiliki
14

kekurangan dalam karakter atau kompetensi atau yang melakukan penipuan atau
penggelapan dalam menangani pasien.

Seorang dokter harus menghargai hak-hak pasien, hak-hak sejawatnya dan hak tenaga
kesehatan lainnya dan harus menjaga kepercayaan pasien.

Setiap dokter memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia ingin diperlakukan.

Setiap dokter tidak boleh mengambil alih pasien dari teman sejawat, kecuali dengan
persetujuan atau berdasarkan prosedur yang etis.

Etika tentang hubungan dokter terhadap teman sejawat ini diatur dalam peraturan KODEKI
pasal 14 dan 15.5
Pasal 14
Setiap dokter memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan.
Penjelasan dan Pedoman Pelaksanaan
Kawan-kawan seperjuangan merupakan suatu kesatuan aksi dibawah panjil
perikemanusiaan untuk memerangi penyakit yang merupakan salah satu pengganggu
keselamatan dan kebahagiaan umat manusia. Sejarah ilmu kedokteran penuh dengan
peristiwa kejujuran, ketekunan dan pengabdian yang mengharukan. Penemuan dan
pengalaman yang baru dijadikan milik bersama. Panggilan suci yang menjiwai hidup dan
perbuatan telah mempersatukan mereka dan menempatkan dokter pada satu kedudukanl
terhormat dalam masyarakat.
Berhubungan dengan itu, maka Etik Kedokteran mengharuskan setiap dokter
memelihara hubungan baik dengan teman sejawatnya sesuai makna atau butir dari lafal
sumpah dokter yang mengisyaratkan perlakuan terhadap sejawatnya sebagai berikut:
Saya akan perlakukan teman sejawat saya sebagai mana saya sendiri ingin diperlakukan.
Hubungan antara teman sejawat dapat menjadi buruk bukan karena perbedaan pendapat
tentang cara penanganan pasien, perselisihan mengenai cara mewakili teman sejawat yang
cuti, sakit dan sebagainya. Kejadian tesebut hendaknya diselesaikan secara musyawarah antar
sejawat.
Kalau dengan cara demikian juga tidak terselesaikan, maka dapat diminta pertolongan
pengurus Ikatan Dokter Indonesia atau Majelis Kehormatan Etik Kedokteran untuk
menjelaskannya. Harus dihindarkan campur tangan dari pihak luar. Perbuatan sangat tidak
kolegial ialah mengejek teman sejawat dan mempergunjingkannya dengan pasien atau orang
lain tentang perbuatannya yang dianggap kurang benar.

15

Pada umumnya masyarakat kita belum begitu memahami tentang hubungan yang
begitu erat antara dokter dengan dokter, sehingga mereka kadang-kadang melakukan sesuatu
yang cenderung mengadu domba. Tidak jarang terjadi seorang pasien mengunjungi dua atau
tiga dokter untuk penyakitnya, dan pada akhirnya memilih dokter yang dalam ucapan dan
perbuatannya sesuai dengan selera dan harapannya.
Dengan sendirinya seorang dokter yang mengetahui kejadian tersebut harus
menasehatinya untuk tidak berbuat demikian, karena dapat merugikan kepentingan sendiri
dan dapat membahayakan kesehatannya. Janganlah sekali-kali diberi kesempatan kepadanya
untuk menjelekkan nama teman sejawat yang lebih dulu menolongnya. Seorang dokter harus
ikut mendidik masyarakat dalam cara menggunakan jasa pelayanan kedokteran.
Seandainya seorang teman sejawat membuat kekeliruan dalam pekerjaannya, maka
teman sejawat yang mengetahui hal itu seyogyanya menasehatinya. Dokter yang keliru harus
menerima nasehat ataupun teguran dengan lapang dada asal disampaikan dalam suasana
persaudaraan. Jangan sekali-kali menjatuhkan seorang sejawat dari kedudukannya apalagi
menggunakan pihak lain. Sewaktu berhadapan dengan si sakit, seorang dokter tidak boleh
memperlihatkan bahwa ia tidak sepaham dengan teman sejawatnya dengan menyindir, atau
dengan sikap yang menjurus kearah demikian.
Untuk menjalin dan mempererat hubungan baik antara para teman sejawat, maka wajib
memperlihatkan hal-hal berikut :
1. Dokter yang baru menetap di suatu tempat mengunjungi teman sejawat yang telah
berada di situ. Hal ini tidak perlu dilakukan di kota-kota besar dimana banyak dokter
yang berpraktek, tetapi cukup dengan pemberitahuan tentang pembukaan praktek baru
itu kepada teman sejawat yang tinggal berdekatan.
2. Setiap dokter menjadi anggota Ikatan Dokter Indonesia yang setia dan aktif. Dengan
menghadiri pertemuan sosial dan klinik yang diselenggarakan, akan terjadi kontak
pribadi sehingga timbul rasa persaudaraan dapat berkembang dan penambahan ilmu
pengetahuan.
Terjalinnya hubungan baik antara teman sejawat membawa manfaat tidak saja kepada
dokter yang bersangkutan, tetapi juga kepada para pasiennya. Rasa persaudaraan harus dibina
sejak masa mahasiswa agar menjadi bekal yang berharga.
Pasal 15
Setiap dokter tidak boleh mengambil alih pasien dari teman sejawat, kecuali dengan
persetujuan atau berdasarkan prosedur yang etis.

16

Penjelasan dan Pedoman Pelaksanaan


Biasanya kalau seseorang sudah percaya pada seorang dokter maka dokter tersebut
akan dicari terus walaupun jauh dari rumahnya. Di kota besar perkembangan pengetahuan
umum masyarakat maju dengan pesat. Penyakit dengan pengobatan bukan rahasia bagi umum
yang benar-benar mempelarinya. Juga karena diburu oleh keinginan untuk lebih efisien,
orang ingin segera sembuh. Oleh karena itu, banyak pasien yang walaupun baru berobat 1
hari tapi belum sembuh, pada hari ke 2 telah ke dokter yang lain. Dalam hal seperti ini dokter
ke 2 yang menerima tidak dapat dikatakan merebut pasien dari dokter pertama.
Seseorang yang telah kehilangan kepercayaan pada seorang dokter, tidak dapat dipaksa
untuk kembali mempercayainya. Oleh karena itu, dokter lain yang kemudian menerima
pasien yang bersangkutan harus menasehatinya agar kembali ke dokter yang diperoleh dari
dokter pertama untuk tiga hari dan mengamati hasilnya. Sangatlah etis bila dokter yang kedua
bila menerima pasien sebagai pasiennya (sesuai hak asasinya) memberitahu dokter pertama.
Sangat tercela kalau kita mengganti obat dari dokter pertama dan mencela pengobatan
dokter pertama di hadapan pasien, padahal belum sempat diamati efeknya dan karena semata
mendengar keluhan pasien yang tidak sabar dan terburu waktu. Penggantian atau penghentian
obat dapat dilakukan bila kita yakini bahwa pengobatan dari dokter pertama memang nyatanyata keliru, menimbulkan efek sampingan atau tidak diperlukan lagi dan bijaksana jika
dasarnya dikemukakan.5
Malpraktek
Definisi dari malpraktek:
1. Penyimpangan dari Standar Profesi Medis
2. Kesalahan yang dilakukan dokter, baik berupa kesengajaan ataupun kelalaian
3. Akibat yang terjadi disebabkan oleh tindakan medis yang menimbulkan kerugian
materiil atau non materiil maupun fisik atau mental6
Sanksi Hukum Pidanan Terkait Malpraktek
Pasal 267 KUHP (surat keterangan palsu)
1. Seorang dokter yang dengan sengaja memberikan surat keterangan palsu tentang
ada atau tidaknya penyakit , kelemahan atau cacat, diancam dengan dengan pidana
penjara paling lama empat tahun.
2. Jika keterangan diberikan dengan maksud untuk memasukkan seorang kedalam
rumah sakit gila atau menahannya disitu , dijatuhkan pidana paling lama delapan
tahun enam bulan.
17

3. Di ancam dengan pidana yang sama ,barangsiapa dengan sengaja memakai surat
keterangan palsu itu seolah-olah isinya sesuai dengan kebenaran

Pasal 268 KUHP


1. Barang siapa membuat secara palsu atau memalsu surat keterangan dokter tentang
ada atau tidaknya penyakit, kelemahan atau cacat, dengan maksud untuk menyesatkan
penguasa umum atau penanggung (verzekeraar), diancam dengan pidana penjara
paling lama empat tahun.
2. Diancam dengan pidana yang sama ,barangsiapa dengan maksud yang sama
memakai surat keterangan yang tidak benar atau yang dipalsu, seolah-olah surat itu
benar dan tidak dipalsu

Pasal 359 KUHP


Barangsiapa karena kelalainnya menyebabkan matinya orang lain , diancam dengan
pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan paling lama satu tahun

Pasal 360 KUHP


1. Barangsiapa karena kelalaiannya menyebabkan orang lain menderita luka berat,
diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan paling
lama satu tahun
2. Barangsiapa karena kelalaiannya menyebabkan orang lain luka sedemikian rupa
sehingga menderita sakit untuk sementara waktu atau tidak dapat menjalankan jabatan
atau pekerjaannya selama waktu tertenu diancam dengan pidana penjara paling lama
sembilan bulan atau pidana kurungan enam bulan atau denda paling tinggi empat ribu
lima ratus rupiah2,7

Dampak Hukum
A Perlidungan hukum terhadap dokter yang diduga melakukan tindakan malpraktek
medik
Perlindungan hukum terhadap dokter yang diduga melakukan tindakan malpraktek
medik menggunakan Pasal 48, Pasal 50, Pasal 51 Ayat 1 Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana (KUHP), Pasal 50 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktek
Kedokteran, Pasal 53 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan
dan Pasal 24 Ayat 1 Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga
Kesehatan. Seorang dokter dapat memperoleh perlindungan hukum sepanjang ia
18

melaksanakan tugas sesuai dengan standar profesi dan Standar Operating Procedure
(SOP), serta dikarenakan adanya dua dasar peniadaan kesalahan dokter, yaitu alasan
pembenar dan alasan pemaaf yang ditetapkan di dalam KUHP.
Hubungan dokter dengan pasien haruslah berupa mitra. Dokter tidak dapat
disalahkan bila pasien tidak bersikap jujur. Sehingga rekam medik (medical record) dan
informed consent (persetujuan) yang baik dan benar harus terpenuhi. Cara dan tahapan
mekanisme perlindungan hukum terhadap dokter yang diduga melakukan tindakan
malpraktek medis adalah dengan dibentuknya Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran
Indonesia (MKDKI) yang bekerja sama dengan pihak Kepolisian Republik Indonesia
(POLRI) atas dasar hubungan lintas sektoral dan saling menghargai komunitas profesi.
Dalam tahapan mekanisme penanganan pelanggaran disiplin kedokteran, MKDKI
menentukan tiga jenis pelanggarannya yaitu pelanggaran etik, disiplin dan pidana. Untuk
pelanggaran etik dilimpahkan kepada Majelis Kode Etik Kedokteran (MKEK),
pelanggaran disiplin dilimpahkan kepada Konsil Kedokteran Indonesia (KKI), dan
pelanggaran pidana dilimpahkan kepada pihak pasien untuk dapat kemudian dilimpahkan
kepada pihak kepolisian atau ke pengadilan negeri. Apabila kasus dilimpahkan kepada
pihak kepolisian maka pada tingkat penyelidikannya dokter yang diduga telah melakukan
tindakan malpraktek medik tetap mendapatkan haknya dalam hukum yang ditetapkan
dalam Pasal 52, Pasal 54, Pasal 55, Pasal 57 Ayat 1, Pasal 65, Pasal 68, dan Pasal 70 Ayat
1 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Dan apabila kasus dilimpahkan
kepada tingkat pengadilan maka pembuktian dugaan malpraktek dapat menggunakan
rekam medik (medical record) sebagai alat bukti berupa surat yang sah (Pasal 184 Ayat 1
KUHAP).

B Hukum kedokteran akibat kelalaian


Akhir-akhir ini tuntutan hukum yang diajukan oleh pasien atau keluarganya
kepada pihak rumah sakit dan atau dokternya semakin meningkat kekerapannya. Tuntutan
hukum tersebut dapat berupa tuntutan pidana maupun perdata, dengan hampir selalu
mendasarkan kepada teori hukum kelalaian. Dalam bahasa sehari-hari, perilaku yang
dituntut adalah malpraktik medis, yang merupakan sebutan genus (kumpulan) dari
kelompok perilaku profesional medis yang menyimpang dan mengakibatkan cedera,
kematian atau kerugian bagi pasiennya.

19

Gugatan perdata dalam bentuk permintaan ganti rugi dapat diajukan dengan
mendasarkan kepada salah satu dari 3 teori di bawah ini, yaitu :

Kelalaian sebagaimana pengertian di atas dan akan diuraikan kemudian

Perbuatan melanggar hukum, yaitu misalnya melakukan tindakan medis tanpa


memperoleh persetujuan, membuka rahasia kedokteran tentang orang tertentu,
penyerangan privacy seseorang, dan lain-lain.

Wanprestasi, yaitu pelanggaran atas janji atau jaminan. Gugatan ini sukar
dilakukan karena umumnya dokter tidak menjanjikan hasil dan perjanjian tersebut,
seandainya ada, umumnya sukar dibuktikan karena tidak tertulis.8

Dalam hal seorang dokter diduga melakukan pelanggaran etika kedokteran (tanpa
melanggar norma hukum), maka ia akan dipanggil dan disidang oleh Majelis Kehormatan
Etik Kedokteran (MKEK) IDI untuk dimintai pertanggung-jawaban (etik dan disiplin
profesi)nya.

Persidangan

MKEK

bertujuan

untuk

mempertahankan

akuntabilitas,

profesionalisme dan keluhuran profesi. Saat ini MKEK menjadi satu-satunya majelis profesi
yang menyidangkan kasus dugaan pelanggaran etik dan/atau disiplin profesi di kalangan
kedokteran. Di kemudian hari Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI),
lembaga yang dimandatkan untuk didirikan oleh UU No 29 / 2004, akan menjadi majelis
yang menyidangkan dugaan pelanggaran disiplin profesi kedokteran.
Majelis Kehormatan Etik Kedokteran
MKDKI bertujuan menegakkan disiplin dokter / dokter gigi dalam penyelenggaraan
praktik kedokteran. Domain atau yurisdiksi MKDKI adalah disiplin profesi, yaitu
permasalahan yang timbul sebagai akibat dari pelanggaran seorang profesional atas peraturan
internal profesinya, yang menyimpangi apa yang diharapkan akan dilakukan oleh orang
(profesional) dengan pengetahuan dan ketrampilan yang rata-rata. Dalam hal MKDKI dalam
sidangnya menemukan adanya pelanggaran etika, maka MKDKI akan meneruskan kasus
tersebut kepada MKEK.
Proses persidangan etik dan disiplin profesi dilakukan terpisah dari proses
persidangan gugatan perdata atau tuntutan pidana oleh karena domain dan jurisdiksinya
berbeda. Persidangan etik dan disiplin profesi dilakukan oleh MKEK IDI, sedangkan gugatan
perdata dan tuntutan pidana dilaksanakan di lembaga pengadilan di lingkungan peradilan
umum. Dokter tersangka pelaku pelanggaran standar profesi (kasus kelalaian medik) dapat
20

diperiksa oleh MKEK, dapat pula diperiksa di pengadilan tanpa adanya keharusan saling
berhubungan di antara keduanya. Seseorang yang telah diputus melanggar etik oleh MKEK
belum tentu dinyatakan bersalah oleh pengadilan, demikian pula sebaliknya.
Persidangan MKEK bersifat inkuisitorial khas profesi, yaitu Majelis (ketua dan
anggota) bersikap aktif melakukan pemeriksaan, tanpa adanya badan atau perorangan sebagai
penuntut. Persidangan MKEK secara formiel tidak menggunakan sistem pembuktian
sebagaimana lazimnya di dalam hukum acara pidana ataupun perdata, namun demikian tetap
berupaya melakukan pembuktian mendekati ketentuan-ketentuan pembuktian yang lazim.
Dalam melakukan pemeriksaannya, Majelis berwenang memperoleh :
1.

Keterangan, baik lisan maupun tertulis (affidavit), langsung dari pihak-pihak terkait
(pengadu, teradu, pihak lain yang terkait) dan peer-group / para ahli di bidangnya
yang dibutuhkan

2.

Dokumen yang terkait, seperti bukti kompetensi dalam bentuk berbagai ijasah/
brevet dan pengalaman, bukti keanggotaan profesi, bukti kewenangan berupa Surat
Ijin Praktek Tenaga Medis, Perijinan rumah sakit tempat kejadian, bukti hubungan
dokter dengan rumah sakit, hospital bylaws, SOP dan SPM setempat, rekam medis,
dan surat-surat lain yang berkaitan dengan kasusnya.
Majelis etik ataupun disiplin umumnya tidak memiliki syarat-syarat bukti seketat

pada hukum pidana ataupun perdata. Bars Disciplinary Tribunal Regulation, misalnya,
membolehkan adanya bukti yang bersifat hearsay dan bukti tentang perilaku teradu di masa
lampau. Cara pemberian keterangan juga ada yang mengharuskan didahului dengan
pengangkatan sumpah, tetapi ada pula yang tidak mengharuskannya. Di Australia, saksi tidak
perlu disumpah pada informal hearing, tetapi harus disumpah pada formal hearing (jenis
persidangan yang lebih tinggi daripada yang informal). Sedangkan bukti berupa dokumen
umumnya disahkan dengan tandatangan dan/atau stempel institusi terkait, dan pada bukti
keterangan diakhiri dengan pernyataan kebenaran keterangan dan tandatangan (affidavit).
Dalam persidangan majelis etik dan disiplin, putusan diambil berdasarkan bukti-bukti
yang dianggap cukup kuat. Memang bukti-bukti tersebut tidak harus memiliki standard of
proof seperti pada hukum acara pidana, yaitu setinggi beyond reasonable doubt, namun juga
tidak serendah pada hukum acara perdata, yaitu preponderance of evidence. Pada beyond
reasonable doubt tingkat kepastiannya dianggap melebihi 90%, sedangkan pada
preponderance of evidence dianggap cukup bila telah 51% ke atas. Banyak ahli menyatakan
bahwa tingkat kepastian pada perkara etik dan disiplin bergantung kepada sifat masalah yang

21

diajukan. Semakin serius dugaan pelanggaran yang dilakukan semakin tinggi tingkat
kepastian yang dibutuhkan.5
Perkara yang dapat diputuskan di majelis ini sangat bervariasi jenisnya. Di MKEK
IDI Wilayah DKI Jakarta diputus perkara-perkara pelanggaran etik dan pelanggaran disiplin
profesi, yang disusun dalam beberapa tingkat berdasarkan derajat pelanggarannya. Di
Australia digunakan berbagai istilah seperti unacceptable conduct, unsatisfactory professional
conduct, unprofessional conduct, professional misconduct dan infamous conduct in
professional respect. Namun demikian tidak ada penjelasan yang mantap tentang istilahistilah tersebut, meskipun umumnya memasukkan dua istilah terakhir sebagai pelanggaran
yang serius hingga dapat dikenai sanksi skorsing ataupun pencabutan ijin praktik.
Putusan MKEK tidak ditujukan untuk kepentingan peradilan, oleh karenanya tidak
dapat dipergunakan sebagai bukti di pengadilan, kecuali atas perintah pengadilan dalam
bentuk permintaan keterangan ahli. Salah seorang anggota MKEK dapat memberikan
kesaksian ahli di pemeriksaan penyidik, kejaksaan ataupun di persidangan, menjelaskan
tentang jalannya persidangan dan putusan MKEK. Sekali lagi, hakim pengadilan tidak terikat
untuk sepaham dengan putusan MKEK.
Eksekusi Putusan MKEK Wilayah dilaksanakan oleh Pengurus IDI Wilayah dan/atau
Pengurus Cabang Perhimpunan Profesi yang bersangkutan. Khusus untuk SIP, eksekusinya
diserahkan kepada Dinas Kesehatan setempat. Apabila eksekusi telah dijalankan maka dokter
teradu menerima keterangan telah menjalankan putusan.5
Kesimpulan

Daftar Pustaka
1. Etika Kedokteran Indonesia dan Penanganan Pelanggaran Etika di Indonesia Budi
Sampurna. 2005. Diunduh dari: URL: Hyperlink
http://www.freewebs.com/etikakedokteranindonesia.
2. Sampurna B, Syamsu Z, Siswaja TD. Bioetik dan hukum kedokteran. Cetakan ke-2.
Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia;
2007. h.8-10; h.30-2; h. 36-7; h. 77-85.
22

3. Sampurna B, Syamsu Z, Siswadja TD. Bioetik dan Hukum Kedokteran. Pustaka


Dwipar. 2007; h: 1-3; 53-55; 77-83.
4. Staf pengajar bagian kedokteran forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Kompilasi Peraturan Perundang-undangan terkait praktik kedokteran. Bagian
Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2014; h: 17-42.
5. Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Indonesia. Kode etik kedokteran Indonesia dan
pedoman pelaksanaan kode etik kedokteran Indonesia. Jakarta; 2004.
6. Pinzon R. Strategi 4s untuk pelayanan medik berbasis bukti. Cermin dunia kedokteran
163:Vol 36; 2009.
7. Bagian kedokteran forensik. Peraturan perundang-undangan bidang kedokteran.
Hukum perdata yang berkaitan dengan profesi dokter. Jakarta: FKUI; 1994.51
8. Idries AM, Tjiptomartono AL. Penerapan ilmu kedokteran forensik dalam proses

penyidikan. Jakarta: Sagung Seto; 2008.h.244-51.

23