Anda di halaman 1dari 6

Perilaku Organisasi

NEGOSIASI DALAM KASUS SENGKETA KUIL PREAH


VIHEAH (KAMBOJA-THAILAND)
Sengketa antara Kamboja Thailand ini berupa tuduhan Kamboja tentara Thailand
merusak kuil Preah Vihear selama konflik perbatasan. Tuduhan itu telah dilayangkan ke
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan semakin memanaskan konflik antara Bangkok dan
Phnom Penh. Sebuah tangga dan sebuah patung mistis Naga telah rusak akibat serangan
roket. Rusaknya kuil peninggalan abad ke-11 itu telah diajukan ke Badan PBB urusan
Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan (UNESCO) beberapa hari setelah pertempuran pada 15
Oktober lalu. Otoritas Preah Vihear mengirim laporan-laporan dan gambar-gambar tentang
kerusakan itu kepada UNESCO.
Ketegangan antara Kamboja dan Thailand mulai memanas pada Juli 2008, ketika kuil
Preah Vihear ditetapkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO. Padahal, kuil itu tengah
menjadi rebutan Phnom Penh dan Bangkok. Mahkamah Internasional PBB pada 1962 telah
memutuskan bahwa kuil Preah Vihear itu milik Kamboja. Kuil Hindu kuno itu, yang
dibangun di tempat ketinggian 525meter di jajaran Gunung Dangrek yang merupakan
perbatasan Thailand-Kamboja , telah menjadi sumber sengketa kedaulatan selama puluhan
tahun.
Percekcokan mengenai kepemilikan antara Kamboja dan Thailand mengakibatkan
penangguhan hubungan diplomatik tahun 1958 dan akhirnya kasus itu diajukan ke mahkamah
internasional di Den Haag, Belanda bagi satu penyelesaian tahun 1962. Kamboja menang.
Kuil itu kembali menimbulkan satu sumber ketegangan bilateral antara kedua negara itu
tahun 2006 ketika Kamboja mengusulkan monumen itu agar masuk daftar sebagai Situs
Warisan Dunia UNESCO.

Perilaku Organisasi

PROSES PENYELESAIAN
Negosiasi merupakan kata kunci dalam setiap penyelesaian konflik, yang dalam
konteks ASEAN dapat dilakukan secara bilateral ataupun melalui jasa baik High Council.
Namun dalam praktiknya, setiap konflik yang terjadi di ASEAN belum pernah diselesaikan
secara internal, melainkan dibawa ke Mahkamah Internasional. Dalam kasus Thailand
Kamboja, status Kuil Preah Vihear yang disengketakan diselesaikan melalui penetapan
Mahkamah Internasional yang memutuskan kuil tersebut sebagai milik Kamboja. Sayangnya
wilayah di sekitarnya seluas 4,6 km2 belum diputuskan status kepemilikannya dan tetap
menjadi sumber konflik.
Kedua kepala negara sebenarnya telah melakukan upaya-upaya penyelesaian damai.
Hal ini nampak dari surat Perdana Menteri Hun Sen tanggal 17 Juli 2008 yang meminta
kepada Perdana Menteri Samak Sundaravej untuk segera menarik mundur tentaranya dari
daerah sekitar Preah Vihear Pagoda agar mengurangi ketegangan di perbatasan. Dalam
balasannya Perdana Menteri Samak menyambut baik penyelesaian damai dan menjadwalkan
pertemuan khusus dari Thailand-Kamboja General Border Committee (GBC) pada tanggal 21
Juli 2008.
Dari korespondensi diatas nampak bahwa diantara kedua negara masih terdapat
ketidak sepahaman atas keputusan Mahkamah Internasional tanggal 15 Juni 1962 tentang
Case Concerning the Temple of Preah Vihear. Dalam keputusannya, mayoritas hakim (9 dari
12) Mahkamah Internasional menyatakan bahwa Kuil Preah Vihear berada dalam wilayah
kedaulatan Kamboja dan Thailand harus menarik personil kepolisian dan militer dari kuil
tersebut atau dari daerah sekitarnya dalam wilayah kedaulatan Kamboja. Dalam kasus ini,
Kamboja mendasarkan argumennya pada peta (Annex I Map) yang dibuat oleh pejabat
Prancis pada tahun 1907 yang beberapa diantaranya adalah anggota Mixed Commission yang
dibentuk berdasarkan boundary treaty antara France dan Siam tanggal 13 Pebruari 1904. Pada
peta ini, daerah Dangrek yaitu lokasi dimana Kuil Preah Vihear terletak berada dalam
wilayah Kamboja. Thailand di lain pihak berargumen bahwa peta tersebut tidaklah mengikat
karena tidak dibuat oleh anggota Mixed Commission yang sah. Lebih lanjut, garis perbatasan
yang digunakan dalam peta tersebut adalah berdasarkan watershed line yang salah dan bila
menggunakan watershed line yang benar maka Kuil Preah Vihear akan terletak di dalam
wilayah Thailand.
Dalam salah satu kesimpulannya, mayoritas hakim berpendapat bahwa walaupun peta
sebagaimana dalam Annex I Map mempunyai kekuatan teknis topografi namun pada saat

Perilaku Organisasi
dibuatnya peta ini tidak memiliki karakter mengikat secara hukum. Lalu apa alasan hakim
sehingga menggunakan peta ini sebagai dasar keputusannya? Alasannya adalah karena saat
peta ini diserahkan dan dikomunikasikan kepada pemerintah Siam oleh pejabat Perancis,
pemerintah Siam telah sama sekali tidak memberikan reaksi, menyatakan keberatan ataupun
mempertanyakannya. Ketiadaan rekasi tersebut menjadikan pemerintah Siam menerima
keadaan dan kondisi dalam peta ini. Demikian juga pada banyak kesempatan lainnya,
pemerintah Thailand telah tidak mengajukan keberatan apapun terhadap letak Kuil Preah
Vihear.
Pendapat mayoritas hakim Mahkamah Internasional ini nampaknya didasarkan pada
prinsip estoppel, dimana kegagalan Thailand menyatakan keberataannya saat kesempataan
tersebut ada membuat Thailand kehilangan hak untuk menyatakan bahwa pihaknya tidak
terikat pada peta dalam Annex I Map. Lebih menarik lagi, mayoritas hakim berkesimpulan
bahwa adalah tidak penting lagi untuk memutuskan apakah watershed line yang
dipergunakan dalam peta peta sebagaimana Annex I Map telah sesuai dengan keadaan yang
sebenarnya. Nampaknya kesimpulan terakhir inilah yang masih belum dapat diterima oleh
Thailand yang tetap berpendapat bahwa telah terjadi kesalahan watershed line dalam
pembuatan peta namun tidak diperiksa oleh mayoritas hakim Mahkamah Internasional karena
dianggap tidak penting lagi.
Peristiwa tersebut di atas tentunya menjadi tantangan bagi ASEAN untuk
menyelesaikan pertikaian secara damai. Salah satu mekanisme penyelesaian sengketa yang
menarik adalah lembaga Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN. Pasal 27 menyebutkan:
Apabila suatu sengketa tetap tidak terselesaikan, setelah penerapan ketentuan-ketentuan
terdahulu dari Bab ini, maka sengketa ini wajib dirujuk ke KTT ASEAN, untuk
keputusannya. Penetapan lembaga KTT ASEAN untuk menyelesaikan sengketa menjadi
menarik karena menuntut komitmen setiap negara anggota untuk dapat menaati setiap
keputusan yang dihasilkan. Sesuatu yang tidak mudah karena melibatkan kedaulatan suatu
negara, apalagi ASEAN sendiri masih memegang teguh prinsip non-interference dalam
urusan dalam negeri suatu negara anggota.
Selama ini, ASEAN sebenarnya memiliki cara atau mekanisme penyelesaian
sengketa. ASEAN memiliki berbagai instrumen hukum utama untuk menyelesaikan sengketa
di antara negara anggotanya. Instrumen terpenting adalah Treaty of Amity and Cooperation
(Bali Concord I) tahun 1976. Bali Concord meletakkan cara penyelesaian damai di antara
anggota ASEAN, termasuk penyelesaian melalui mekanisme kelembagaan ASEAN. Sayang,

Perilaku Organisasi
selama ini cara atau mekanisme kelembagaan untuk menyelesaikan sengketa di ASEAN
jarang dimanfaatkan negara anggota. Negara anggota lebih banyak menyelesaikan sengketa
di antara mereka secara negosiasi atau musyawarah.
Dalam sengketa Thailand dan Kamboja, penyelesaian masalah peta yang menetapkan
batas atau lokasi keberadaan kuil Preah Vihear harus lebih dulu dilakukan negosiasi. Jika cara
ini gagal, terbuka berbagai cara penyelesaian lainnya, termasuk cara penyelesaian sengketa di
ASEAN. Upaya Kamboja yang berupaya menarik Dewan Keamanan PBB masuk
penyelesaian sengketa harus dihormati. Yang dapat ditangkap dari upaya ini adalah usaha
Kamboja untuk meredakan ketegangan militer.
Jika nanti keputusan Dewan Keamanan mengabulkan permohonan Kamboja,
tampaknya tindakan Dewan Keamanan amat terbatas. Pertama, situasi yang terjadi sekarang
belum dapat dikategorikan sebagai ancaman terhadap perdamaian dan keamanan
internasional. Kedua, Dewan Keamanan seyogianya dapat melihat, sengketa kedua negara
dapat diselesaikan secara bilateral atau negosiasi. Terakhir, ketiga, sesuai prinsip hukum
internasional, kedua negara masih memiliki upaya lain yang dapat dimanfaatkan, yaitu upaya
penyelesaian sengketa melalui lembaga regional, ASEAN.
Dalam penyelesaian masalah perbatasan sesungguhnya telah cukup banyak rujukan
yang bisa dipakai. Di antaranya ada United Nations Convention on the Law of the Sea
(Konvensi PBB tentang Hukum Kelautan). Selain UNCLOS, terdapat sejumlah keputusan
ICJ yang bisa dijadikan acuan dalam perundingan masalah perbatasan. Penyelesaian
perbatasan laut untuk segmen barat antara RI-Singapura, dengan membuat rujukan bersama
sebagai pedoman penyelesaian masalah perbatasan, juga menjadi contoh baik. Akan tetapi,
dalam banyak penyelesaian masalah perbatasan, keberadaan itikad baik dari pihak-pihak
yang bersengketa juga menjadi modal utama yang sangat menentukan. Sayangnya, banyak
pihak lebih senang menggantung masalah perbatasan ini karena berbagai pertimbangan
yang lebih banyak berbobot politis.
Maka dari itu, selayaknyalah bila ASEAN sebagai sebuah organisasi kawasan
mendorong secara politis agar sengketa-sengketa perbatasan di antara negara-negara
anggotanya segera diselesaikan. Tuntasnya masalah perbatasan pada akhirnya juga akan
memperkuat upaya-upaya untuk memperkuat saling percaya (confidence building measures).
Hal ini masuk dalam kerangka kerja menuju komunitas politik dan keamanan ASEAN.

Perilaku Organisasi

Perilaku Organisasi
REFERENSI
http://beritasore.com/2008/10/27/tempat-pertemuan-asean-dipindahkan-dari-bangkok-ke
chiang-mai/ (07 September 2009)
http://www.bluefame.com/lofiversion/index.php/t141870.html (07 September 2009)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/08/05/00412063/sengketa.kuil.thailand-kamboja (07
September 2009)
http://www.kalbar.us/showthread.php?t=826 (07 September 2009)
http://imanprihandono.wordpress.com/ (07 September 2009)
http://www.detikriau.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1556&Itemid=2
(07 September 2009)
http://beritasore.com/2008/07/22/perundingan-gagal-ahiri-sengketa-candi-thai-kamboja/ (07
September 2009)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/29/01142588/perundingan.buntu (07 September
2009)
http://www.republika.co.id/berita/42399/Kamboja_Thailand_Buka_Perundingan_Baru

(07

September 2009)
http://www.dw-world.de/dw/article/0,,3579049,00.html (07 September 2009)
http://berita-dunia.infogue.com/kematangan_asean_kembali_diuji (07 September 2009)
http://imanprihandono.wordpress.com/2008/10/24/sengketa-preah-vihear-ujian-bagi-aseancharter/ (07 September 2009)