Anda di halaman 1dari 12

Tugas Kelompok V

F A R MA K O T E R A P I
Gangguan Koagulasi

Oleh:

MUHAMMAD RAMADHAN
MULIANI DIADI
NAFSIA BASIR
NASYRAH MUSABAR

PROFESI APOTEKER
UNIVERSITAS SETIA BUDI
SURAKARTA
2016

1620313336
1620313337
1620313338
1620313339

A. Pendahuluan
Gangguan pembekuan darah (yang juga disebut trombofilia atau
hiperkoagulasi) adalah penyakit yang melibatkan pembekuan darah secara
berlebihan bahkan pada daerah di mana seharusnya pembekuan tidak boleh
terjadi; seperti pada pembuluh darah sehingga mengakibatkan kondisi yang
membahayakan jiwa.
Setiap orang mengetahui bahwa pendarahan pada akhirnya akan berhenti
ketika terjadi luka atau terdapat luka lama yang mengeluarkan darah kembali.
Saat pendarahan berlangsung, gumpalan darah beku akan segera terbentuk
dan mengeras, dan luka pun pulih seketika. Sebuah kejadian yang mungkin
tampak sederhana dan biasa saja di mata Anda, tapi tidak bagi para ahli
biokimia. Penelitian mereka menunjukkan, peristiwa ini terjadi akibat
bekerjanya sebuah sistem yang sangat rumit. Hilangnya satu bagian saja yang
membentuk sistem ini, atau kerusakan sekecil apa pun padanya, akan
menjadikan keseluruhan proses tidak berfungsi.
Darah harus membeku pada waktu dan tempat yang tepat, dan ketika
keadaannya telah pulih seperti sediakala, darah beku tersebut harus lenyap.
Sistem ini bekerja tanpa kesalahan sedikit pun hingga bagian-bagiannya yang
terkecil. Jika terjadi pendarahan, pembekuan darah harus segera terjadi demi
mencegah kematian. Di samping itu, darah beku tersebut harus menutupi
keseluruhan luka, dan yang lebih penting lagi, harus terbentuk tepat hanya
pada lapisan paling atas yang menutupi luka. Jika pembekuan darah tidak
terjadi pada saat dan tempat yang tepat, maka keseluruhan darah pada
makhluk tersebut akan membeku dan berakibat pada kematian.
Proses pembekuan darah yang normal mempunyai 3 tahap yaitu:
1. Fase koagulasi
Koagulasi diawali dalam keadaan homeostasis dengan adanya cedera
vascular. Vasokonstriksi merupakan respon segera terhadap cedera, yang
diikuti dengan adhesi trombosit pada kolagen pada dinding pembuluh

yang terpajan dengan cedera. Trombosit yang terjerat di tempat terjadinya


luka mengeluarkan suatu zat yang dapat mengumpulkan trombosittrombosit lain di tempat tersebut. Kemudian ADP dilepas oleh trombosit,
menyebabkan

agregasi

trombosit.

Sejumlah

kecil

trombin

juga

merangsang agregasi trombosit, bekerja memperkuat reaksi. Trombin


adalah protein lain yang membantu pembekuan darah. Zat ini dihasilkan
hanya di tempat yang terluka, dan dalam jumlah yang tidak boleh lebih
atau kurang dari keperluan. Selain itu, produksi trombin harus dimulai dan
berakhir tepat pada saat yang diperlukan. Dalam tubuh terdapat lebih dari
dua puluh zat kimia yang disebut enzim yang berperan dalam
pembentukan trombin. Enzim ini dapat merangsang ataupun bekerja
sebaliknya, yakni menghambat pembentukan trombin. Proses ini terjadi
melalui pengawasan yang cukup ketat sehingga trombin hanya terbentuk
saat benar-benar terjadi luka pada jaringan tubuh. Factor III trombosit,
dari membrane trombosit juga mempercepat pembekuan plasma. Dengan
cara ini, terbentuklah sumbatan trombosit, kemudian segera diperkuat oleh
protein filamentosa (fibrin) (Sylvia dan Lloraine,2003).
Produksi fibrin dimulai dengan perubahan factor X menjadi Xa,
seiring dengan terbentuknya bentuk aktif suatu factor. Factor X dapat
diaktivasi melalui dua rangkaian reaksi. Rangkaian pertama memerlukan
factor jaringan, atau tromboplastin jaringan, yang dilepaskan oleh endotel
pembuluh darah pada saat cedera karena faktor jaringan tidak terdapat di
dalam darah, maka factor ini merupakan factor ekstrinsik koagulasi,
dengan demikian disebut juga jalur ekstrinsik untuk rangkaian ini(Sylvia
dan Lloraine,2003).
Rangkaian lainnya yang menyebabkan aktivasi factor X adalah jalur
intrinsic, disebut demikian karena rangkaian ini menggunakan factorfaktor yang terdapat dalam system vascular plasma. Dalam rangkaian ini,
terjadi reaksi kaskade, aktivasi satu prokoagulan menyebabkan aktivasi

bentuk pengganti. Jalur intrinsic ini diawali dengan plasma yang keluar
terpajan dengan kulit atau kolagen di dalam pembuluh darah yang rusak.
Factor jaringan tidak diperlukan, tetapi trombosit yang melekat pada
kolagen berperan. Faktor XII, XI, dan IX harus diaktivasi secara
berurutan, dan faktor VIII harus dilibatkan sebelum faktor X dapat
diaktivasi. Zat-zat prakalikrein dan HMWK juga turut berpartisipasi, dan
diperlukan ion kalsium(Sylvia dan Lloraine,2003).
Dari hal ini, koagulasi terjadi di sepanjang apa yang dinamakan jalur
bersama. Aktivasi aktor X dapat terjadi sebagai akibat reaksi jalur
ekstrinsik atau intrinsik. Pengalaman klinis menunjukkan bahwa kedua
jalur tersebut berperan dalam hemostasis. Langkah selanjutnya pada
pembentukan fibrin berlangsung jika faktor Xa, dibantu fosfolipid dari
trombosit yang diaktivasi, memecah protrombin, membentuk trombin.
Selanjutnya trombin memecahkan fibrinogen membentuk fibrin. Fibrin ini
pada awalnya merupakan jeli yang dapat larut, distabilkan oleh faktor
XIIIa dan mengalami polimerasi menjadi jalinan fibrin yang kuat,
trombosit, dan memerangkap sel-sel darah. Untaian fibrin kemudian
memendek (retraksi bekuan), mendekatkan tepi-tepi dinding pembuluh
darah yang cederadan menutup daerah tersebut(Sylvia dan Lloraine,2003).
2. Penghentian pembentukan bekuan
Setelah pembentukan bekuan, sangat penting untuk melakukan
pengakhiran pembekuan darah lebih lanjut untuk menghindari kejadian
trombotik yang tidak diinginkan yang disebabkan oleh pembentukan
bekuan sistemik yang berlebihan. Antikoagulan yang terjadi secara alami
meliputi antitrombin III (ko-faktor heparin), protein C dan protein S.
Antitrombin III bersirkulasi secara bebas di dalam plasma dan
menghambat sistem prokoagulan, dengan mengikat trombin serta
mengaktivasi faktor Xa, IXa, dan XIa, menetralisasi aktivitasnya dan

menghambat pembekuan. Protein C, suatu polipeptida, juga merupakan


suatu antikoagulan fisiologi yang dihasilkan oleh hati, dan beredar secara
bebas dalam bentuk inaktif dan diaktivasi menjadi protein Ca. Protein C
yang diaktivasi menginaktivasi protrombin dan jalur intrinsik dengan
membelah dan menginaktivasi faktor Va dan VIIIa. Protein S
mempercepat inaktivasi faktor-faktor itu oleh protein protein C.
Trombomodulin, suatu zat yang dihasilkan oleh dinding pembuluh darah,
diperlukan untuk menimbulkan pengaruh netralisasi yang tercatat
sebelumnya. Defisiensi protein C dan S menyebabkan spisode trombotik.
Individu dengan faktor V Leiden resisten terhadap degradasi oleh protein
C yang diaktivasi(Sylvia dan Lloraine,2003).
3. Resolusi bekuan
Sistem fibrinolitik merupakan rangkaian yang fibrinnya dipecahkan
oleh plasmin (fibrinolisin) menjadi produk-produk degradasi fibrin,
menyebabkan hancurnya bekuan. Diperlukan beberapa interaksi untuk
mengubah protein plasma spesifik inaktif di dalam sirkulasi menjadi
enzim fibrinolitik plasmin aktif. Protein dalam bersirkulasi, yang dikenal
sebagai proaktivator plasminogen, dengan adanya enzim-enzim kinase
seperti streptokinase, stafilokinase, kinase jaringan, serta faktor XIIa,
dikatalisasi menjadi aktivator plasminogen. Dengan adanya enzim-enzim
tambahan

seperti

urokinase,

maka

aktivator-aktivator

mengubah

plasminogen, suatu protein plasma yang sudah bergabung dalam bekuan


fibrin, menjadi plasmin. Kemudian plasmin memecahkan fibrin dan
fibrinogen menjadi fragmen-fragmen (produk degradasi fibrin-fibrinogen),
yang mengganggu aktivitas trombin, fungsi trombosit dan polimerisasi
fibrin, menyebabkan hancurnya bekuan. Makrofag dan neutrofil juga
berperan dalam fibrinolisis melalui aktivitas fagositiknya (Sylvia dan
Lloraine,2003).

Dalam kenyataannya tidak semua orang mempunyai mekanisme


pembekuan darah yang normal, ada juga orang yang mengalami gangguan
pembekuan darah. Gangguan pembekuan darah diartikan sebagai keadaan
dimana terjadi gangguan pada proses sumbat terhadap perdarahan yang
terjadi. Gangguan pembekuan darah dapat disebabkan oleh faktor genetik,
supresi komponen genetik, atau konsumsi komponen pembekuan. Dalam
paper ini akan dibahas beberapa contoh penyakit akibat gangguan pembekuan
darah, antara lain:
1. Hemofilia
2. Von Willebran
3. Trombositosis
4. Tronbositopenia
5. D.I.C (disseminated

intravascular

coagulation)

atau

pembekuan

6.

intravaskuler tersebar
Kelainan vaskuler.

B. Penyakit Akibat Gangguan Pembekuan Darah


1. Hemofilia
a. Definisi
Hemofilia merupakan penyakit kelainan koagulasi yang sering kita
jumpai.Hemofilia adalah gangguan koagulasi herediter akibat terjadinya
mutasi atau cacat genetik pada kromosom X. Kerusakan kromosom ini
menyebabkan penderita kekurangan faktor pembeku darah sehingga
mengalami gangguan pembekuan darah. Dengan kata lain, darah pada
penderita hemofilia tidak dapat membeku dengan sendirinya secara normal
(Umar, 2008).
Hemofilia tak mengenal ras, perbedaan warna kulit ataupun suku
bangsa. Namun mayoritas penderita hemofilia adalah pria karena mereka
hanya memiliki satu kromosom X. Sementara kaum hawa umumnya hanya
menjadi pembawa sifat (carrier). Seorang wanita akan benar-benar
mengalami hemofilia jika ayahnya seorang hemofilia dan ibunya pun

pembawa sifat. Akan tetapi kasus ini sangat jarang terjadi. Meskipun
penyakit ini diturunkan, namun ternyata sebanyak 30 persen tak diketahui
penyebabnya (Umar, 2008).
Ada dua jenis utama hemofilia, yaitu:
Hemofilia A
Disebut Hemofilia Klasik. Pada hemofilia ini, ditemui adanya defisiensi
atau tidak adanya aktivitas faktor antihemofilia VIII, protein pada darah
yang menyebabkan masalah pada proses pembekuan darah (Gugun,2007).
Hemofilia B
Disebut Christmas Disease. Ditemukan untuk pertama kalinya pada
seorang bernama Steven Christmas yang berasal dari Kanada.pada
Christmas Disease ini, dijumpai defisiensi atau tidak adanya aktivitas faktor
IX (Gugun, 2007).
Penyakit hemofilia diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu:
a. Hemofilia berat, jika kadar aktivitas faktor kurang dari 1 %.
b. Hemofilia sedang, jika kadar aktivitas faktor antara 1-5 %.
c. Hemofilia ringan, jika kadar aktivitas faktor antara 6-30 %.
Gangguan pembekuan darah terjadi karena kadar aktivitas faktor
pembeku darah jenis tertentu kurang dari jumlah normal, bahkan hampir
tidak ada. Sementara tingkat normal faktor VIII dan IX adalah 50-200 %.
Pada orang normal, nilai rata-rata kedua faktor pembeku darah adalah 100%
(Gugun,2007).

b. Faktor Penyebab
1) Faktor Genetik
Hemofilia atau pennyakit gangguan pembekuan darah memang
menurun dari generasi ke generasi lewat wanita pembawa sifat (carier)
dalam keluarganya, yang bisa secara langsung, bisa tidak. Seperti kita

ketahui, di dalam setiap sel tubuh manusia terdapat 23 pasang kromosom


dengan bebagai macam fungsi dan tugasnya. Kromosom ini menentukan
sifat atau ciri organisme, misalnya tinggi, penampilan, warna rambut, mata
dan sebagainya. Sementara, sel kelamin adalah sepasang kromosom di
dalam initi sel yang menentukan jenis kelamin makhluk tersebut. Seorang
pria mempunyai satu kromosom X dan satu kromosom Y, sedangkan
wanita mempunyai dua kromosom X. Pada kasus hemofilia, kecacatan
terdapat pada kromosom X akibat tidak adanya protein faktor VIII dan IX
(dari keseluruhan 13 faktor), yang diperlukan bagi komponen dasar
pembeku darah (fibrin) (Sylvia dan Lloraine,2003).
Kebanyakan dari seorang carrier hemofilia memiliki tingkatan
pembeku darah antara 30 % dan 70 % dari angka normal dan tidak selalu
mengalami perdarahan yang berlebihan. Namun beberapa carrier hemofilia
memiliki kadar faktor VIII atau IX 30% lebih rendah dari keadaan
normalnya. Dan para wanita ini dapat di kategorikan setengah
hemofilia.Dalam hal ini, semua carrier hemofilia harus lebih menaruh
perhatian pada perdarahan yang tidak wajar. Tanda -tandanya antara lain:
menstruasi yang berkepanjangan dan berlebihan (menorrhagia), mudah
terluka,

sering

mengalami

perdarahan

pada

hidung

(mimisan)

(Gugun,2007).
2) Faktor komunikasi antar sel
Sel-sel di dalam tubuh manusia juga mempunyai hubungan antara sel
satu dengan sel lain yang dapat saling mempengaruhi. Penelitian
menunjukkan, peristiwa pembekuan darah terjadi akibat bekerjanya sebuah
sistem yang sangat rumit. Terjadi interaksi atau komunikasi antar sel,
sehingga hilangnya satu bagian saja yang membentuk sistem ini, atau
kerusakan sekecil apa pun padanya, akan menjadikan keseluruhan proses
tidak berfungsi. Jalur intrinsik menggunakan faktor-faktor yang terdapat

dalam sistem vaskular atau plasma. Dalam rangkaian ini, terdapat reaksi air
terjun,

pengaktifan

salah

satu

prokoagulan

akan

mengakibatkan

pengaktifan bentuk seterusnya. Faktor XII, XI, dan IX harus diaktivasi


secara berurutan, dan faktor VIII harus dilibatkan sebelum faktor X dapat
diaktivasi.
Zat prekalikein dan kiininogen berat molekul tinggi juga ikut serta dan
juga diperlukan ion kalsium. Koagulasi terjadi di sepanjang apa yang
dinamakan jalur bersama. Aktivasi faktor X dapat terjadi sebagai akibat
reaksi jalur ekstrinsik atau intrinsik. Pengalaman klinis menunjukkan
bahwa kedua jalur tersebut berperan dalam hemostasis. Pada penderita
hemofilia, dalam plasma darahnya kekurangan bahkan tidak ada faktor
pembekuan darah, yaitu faktor VIII dan IX. Semakin kecil kadar aktivitas
dari faktor tersebut maka, pembentukan faktor Xa dan seterusnya akan
semakin lama. Sehingga pembekuan akan memakan waktu yang lama juga
(terjadi perdarahan yang berlebihan)(Sylvia dan Lloraine,2003).
3) Faktor epigenik
Hemofilia A disebabkan kekurangan faktor VIII dan hemofilia B
disebabkan kekurangan faktor IX. Kerusakan dari faktor VIII dimana
tingkat sirkulasi yang fungsional dari faktor VIII ini tereduksi. Aktifasi
reduksi dapat menurunkan jumlah protein faktor VIII, yang menimbulkan
abnormalitas dari protein. Faktor VIII menjadi kofaktor yang efektif untuk
faktor IX yang aktif, faktor VIII aktif, faktor IX aktif, fosfolipid dan juga
kalsium bekerja sama untuk membentuk fungsional aktifasi faktor X yang
kompleks (Xase), sehigga hilangnya atau kekurangan kedua faktor ini
dapat mengakibatkan kehilangan atau berkurangnya aktifitas faktor X yang
aktif dimana berfungsi mengaktifkan protrombin menjadi trombin,
sehingga jiaka trombin mengalami penurunan pembekuanyang dibentuk

mudah pecah dan tidak bertahan mengakibatkan pendarahan yang


berlebihan dan sulit dalam penyembuhan luka(Sylvia dan Lloraine,2003).
c. Patogenesis
Proses kejadian dimulai dari terjadinya cedera pada permukaan
jaringan, kemudian dilanjutkan pada permukaan fosfolipid trombosit yang
mengalami agregasi. Ada proses utama homeostatis pada pembekuan
darah:
1.

Fase konstriksi sementara (respon langsung terjadi cedera)

2.

Reaksi trombosit yang terdiri dari adhesi, seperti faktor III dari
membran trombosit juga mempercepat pembekuan darah

3.

Pengaktifan faktor-faktor pembekuan, seperti faktor III dari membran


trombosit, juga mempercepat pembekuan darah dengan cara ini,
terbentuklah sumbatan sumbat trombosit yang kemudian diperkuat
oleh protein filamentosa yang dikenal dengan fibrin (Sylvia dan
Lloraine,2003).
Produksi fibrin dimulai dengan perubahan faktor X menjadi Xa

(belum aktif). Rangkaian reaksi pertama memerlukan faktor jaringan


(tromboplastin) yang dilepas endotel pembuluh saat cedera. Faktor jaringan
ini tidak terdapat dalam darah, sehingga disebut faktor ekstrinsik.
Sedangkan faktor VIII dan IX terdapat dalam darah, sehingga disebut jalur
intrinsic (Sylvia dan Lloraine,2003).
Dalam proses ini, pengaktifan salah satu prokoagulan akan
mengakibatkan pengaktifan bentuk penerusnya. Jalur intrinsik diawali
dengan keluarnya plasma atau kolagen melalui pembuluh yang rusak dan
mengenai kulit. Faktor-faktor koagulasi XII, XI, dan IX harus diaktifkan
berurutan. Faktor VIII harus dilibatkan sebelum faktor X diaktifkan.
Namun pada penderita hemofilia faktor VIII mengalami defisiensi,
akibatnya proses pembekuan darah membutuhkan waktu yang lama untuk

melanjutkan ke tahap berikutnya.Kondisi seperti inilah yang menghambat


pengaktifan jalur intrinsik. Secara tidak langsung juga menghambat jalur
bersama, karena faktor X tidak bisa diaktifkan.Pembentukan fibrin,
walaupun dibantu oleh fosfolipid, trombosit tidak berarti tanpa faktor Xa.
Untaian fibrin tidak terbentuk maka dinding pembuluh yang cedera
menutup. Dan perdarahanpun sulit dihentikan, hal ini dapat diuji dengan
tingginya (lamanya) PTT (partial tromboplastin time)(Sylvia dan
Lloraine,2003).
d. Manisfestasi klinik
Hemofilia dapat diklasifikasi menjadi tiga, yaitu : ringan, sedang, dan
berat. Berikut ini akan menjelaskan manifestasi klinis berdasarkan
klasifikasi hemofilia:
Hemofilia berat
Tingkat faktor VIII: 1% dari normal ( 0,01 U/ml)
Manifestasi klinis:
1. perdarahan spontan sejak awal masa pertumbuhan (masa infant).
2. lamanya perdarahan spontan dan perdarahan lainnya membutuhkan
faktor pembekuan pengganti.
3. frekuensi perdarahan sering dan terjadi secara tiba-tiba.
Hemofilia sedang
Tingkat faktor VIII: 1-5 % dari normal (0,01-0,05 U/ml)
Manifestasi klinis:
1. perdarahan karena trauma atau pembedahan.
2. frekuensi perdarahan terjadi kadang-kadang hemofilia.
Hemofilia ringan
Tingkat faktor VIII: 6-30 % dari normal (0,06-0,30 U/ml)
Manifestasi klinis:
1. perdarahan karena trauma atau pembedahan.
2. frekuensi perdarahan jarang.

e. Dampak Psikologis Penderita


Timbulnya suatu penyakit yang kronis seperti pada hemofilia dalam
suatu keluarga memberikan tekanan pada system keluarga tersebut dan
menuntut adanya penyesuaian antara si penderita sakit dan anggota
keluarga yang lain. Penderita sakit ini sering kali harus mengalami
hilangnya otonomi diri, peningkatan kerentanan terhadap sakit, beban
karena harus berobat dalam jangka waktu lama. Sedangkan anggota
keluarga yang lain juga harus mengalami hilangnya orang yang mereka
kenal sebelum menderita sakit (berbeda dengan kondisi sekarang setelah
orang

tersebut

sakit),

dan

kini

(biasanya)

mereka

mempunyai

tanggungjawab pengasuhan terhadap anggota keluarga yang mengalami


penyakit hemofilia (Ika, 2007).
Kondisi penyakit yang kronis ini menimbulkan depresi pada anggota
keluarga yang lain dan mungkin menyebabkan penarikan diri atau konflik
antar mereka. Kondisi ini juga menuntut adaptasi yang luar biasa dari
keluarga.Hemofilia tidak hanya merupakan masalah medis atau biologis
semata,

namun

juga

dalam.Pengaruh

orang

memperhatikan

masalah

mempunyai
dengan

dampak

hemofilia

fisiologi-nya

saja

psikososial

sebaiknya

misal

tidak

yang
hanya

mengontrol

perdarahannya dan mencegah timbulnya disabilitas fisik tetapi juga


diharapkan mempunyai perhatian pada berbagai gangguan alam
perasaannya, rasa tidak amannya, rasa terisolasi dan masalah keluarga
terdekatnya (orangtua, istri, anak dan saudara kandung) (Ika, 2007).
f. Tatalaksana
2. Von Willebran