Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH PIO

Cara Penggunaan Tetes Mata, Salep Mata


dan Inhaler

Kelompok 3
Modustriarti Putri Mardanny
Muhammad Faisal
Muhammad Ramadhan
Muliani Diadi

1620313334
1620313335
1620313336
1620313337

PROGRAM STUDI APOTEKER XXXI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SETIA BUDI
SURAKARTA
2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. Pengertian Obat
Obat

adalah

suatu

bahan

atau

paduan

bahan-bahan

yang

dimaksudkan untuk digunakan dalam menetapkan diagnosis, mencegah,


mengurangkan, menghilangkan, menyembuhkan penyakit atau gejala
penyakit, luka atau kelaian badaniah dan rohaniah pada manusia atau hewan
dan untuk memperelok atau memperindah badan atau bagian badan manusia
(termasuk obat tradisional).
B. Penggolongan Obat
1. Menurut perundang-undangan, obat digolongkan sebagai berikut :
a. Obat Bebas
Merupakan obat yang ditandai dengan lingkaran berwarna hijau dengan
tepi lingkaran berwarna hitam. Obat bebas umumnya berupa suplemen
vitamin dan mineral, obat gosok, beberapa analgetik-antipiretik, dan
beberapa antasida. Obat golongan ini dapat dibeli bebas di Apotek, toko
obat dan warung.
b. Obat Bebas Terbatas
Merupakan obat yang ditandai dengan lingkaran berwarna biru dengan
tepi lingkaran berwarna hitam. Obat ini juga dapat diperoleh tanpa resep
dokter diapotek dan toko obat. Obat-obat yang umumnya masuk dalam
golongan ini antara lain obat batuk, obat influenza, obat-obat antiseptik
dan tetes mata untuk iritasi ringan.
c. Obat Keras
Disebut obat keras karena jika pemakai tidak memperhatikan dosis,
aturan pakai, dan peringatan yang diberikan dapat menimbulkan efek
berbahaya. Obat keras merupakan obat yang hanya bisa didapatkan
dengan resep dokter dan hanya bisa diperoleh di Apotek. Dalam
kemasannya ditandai dengan lingkaran merah dengan huruf K
ditengahnya. Contoh obat ini adalah amoksilin, asam mefenamat dan
semua obat dalam bentuk injeksi.
d. Obat Psikotropika
Bertanda sama seperti obat keras. Merupakan zat atau obat baik ilmiah
atau sintesis, bukan narkotika yang berkhasiat psikoaktif melalui

pengaruh selekti pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan


khas pada aktivitas mental dan prilaku. Contohnya: alprazolam,
diazepam. Mengenai obat-obat psikotropika ini diatur dalam UU RI
Nomor 5 tahun 1997. Psikotropika dibagi menjadi :
a. Golongan I : Sampai sekarang kegunaannya hanya ditujukan untuk
ilmu pengetahuan, dilarang diproduksi, dan digunakan untuk pengobatan.
contohnya metilen dioksi metamfetamin, Lisergid acid diathylamine
(LSD) dan metamfetamin.
b. Golongan II,III dan IV dapat digunakan untuk pengobatan asalkan
sudah didaftarkan. contohnya diazepam, fenobarbital, lorazepam dan
klordiazepoksid.
e. Obat Narkotika
Merupakan zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman
baik sintesis maupun semi sintesis yang dapat menyebabkan penurunan
atau

perubahan

kesadaran,

hilangnya

rasa,

mengurangi

sampai

menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan (UU


RI no. 22 th 1997 tentang Narkotika). Obat ini pada kemasannya dengan
lingkaran yang didalamnya terdapat palang (+) berwarna merah. Obat
narkotika penggunaannya diawasi dengan ketat sehingga obat golongan
narkotika hanya dapat diperoleh di apotek dengan resep dokter asli (tidak
dapat menggunakan copy resep). Dalam bidang kesehatan, obat-obat
narkotika biasa digunakan sebagai anestesi/obat bius dan analgetik/obat
penghilang rasa sakit. Contoh obat narkotika adalah : codipront (obat
batuk), MST (analgetik) dan fentanil (obat bius).
2. Menurut kegunaannya, obat digolongkan sebagai berikut :
a. Untuk menyembuhkan (terapeutik)
b. Untuk mencegah (profilaktik)
c. Untuk diagnosis (diagnostic)
3. Menurut cara penggunaannya, obat digolongkan sebagai berikut :
a. Medicamentum ad usum internum (untuk pemakaian dalam), yaitu
melalui oral, diberi etiket putih.
b. Medicamentum ad usum externum (untuk pemakaian luar), yaitu selain
pemakaian melalui saluran pencernaan, diberi etiket biru.
4. Menurut cara kerjanya, obat digolongkan sebagai berikut :

a. Lokal: bekerja pada jaringan setempat. Contoh: pemakaian topical/ pada


kulit.
b. Sistemik: obat didistribusikan ke seluruh tubuh melalui oral.
5.
a.
b.
c.
d.
e.

Menurut sumbernya, obat digolongkan sebagai berikut :


Dari tumbuhan, misal : digitalis, kina
Dari hewan, misal : minyak ikan, cera, adeps lanae
Dari mineral, misal : iodikalii, paraffin, vaselin
Dari sintetis, misal : kamfer sintetis, vitamin C
Dari mikroba, misal : antibiotic penisilin

6. Menurut bentuk dan sediaannya, obat digolongkan sebagai berikut :

a. Bentuk padat : serbuk, tablet, pil, kapsul, suppositoria. - Bentuk setengah


padat : salep, krim, pasta, gel, serata, ossulenta.
b. Bentuk cair/ larutan : potio, sirup, eliksir, tetes mata, obat kumur, injeksi,
infuse, lotio, dll - - Bentuk gas : inhalasi, spray, aerosol.
7. Menurut proses fisiologi dan biokimianya, obat digolongkan sebagai
berikut :
a. Obat farmakodinamis,

yang

bekerja dengan

mempercepat

atau

memperlambat proses fisiologos atau fungsi biokimia tubuh, contoh


Lhormone, diuretic, hipnotik, dan obat-obat otonom.
b. Obat kemoterapetik, dapat membunuh parasit dan kuman di dalam tubuh,
missal : antikanker, antibiotic, antiparasit.
c. Obat diagnostic. Yaitu membantu melakukan diagnosis atau pengenalan
penyakit, misalnya sulfat untuk diagnosis pengakit saluran lambung-usus.
BAB II
ISI

A. TETES MATA (GUTTAE OPTHALICAE)


Obat tetes mata adalah sediaan steril berupa larutan atau suspensi yang
digunakan untuk mata dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata
disekitar kelopak mata dan bola mata. Sediaan ini diteteskan kedalam mata
sebagai antibakterial, anastetik, midriatik, miotik, dan antiinflamasi.
Untuk membuat sediaan yang tersatukan, maka kita perlu memperhatikan
beberapa faktor persyaratan berikut :
1. Harus steril atau bebas dari mikroorganisme

Pemakaian tetes mata yang terkontaminasi mikroorganisme dapat


terjadi rangsangan berat yang dapat menyebabkan hilangnya daya
penglihatan atau terlukanya mata sehingga sebaiknya dilakukan sterilisasi
atau menyaring larutan dengan filter pembebas bakteri.
2. Sedapat mungkin harus jernih
Persyaratan ini dimaksudkan untuk menghindari rangsangan akibat bahan
padat. Filtrasi dengan kertas saring atau kain wol tidak dapat menghasilkan
larutan bebas partikel melayang. Oleh karena itu, sebagai material
penyaring kita menggunakan leburan gelas, misalnya Jenaer Fritten
dengan ukuran pori G3-G5.
3. Harus mempunyai aktivitas terapi yang optimal
Harga pH mata sama dengan darah, yaitu 7,4. Pada pemakaian tetesan
biasa, larutan yang nyaris tanpa rasa nyeri adalah larutan dengan pH 7,39,7. Namun, daerah pH 5,5-11,4 masih dapat diterima. Pengaturan pH
sangat berguna untuk mencapai rasa bebas nyeri, meskipun kita sangat
sulit merealisasikannya.
4. Harus tidak mengiritasi dan tidak menimbulkan rasa sakit pada mata, maka
dikehendaki sedapat mungkin harus isotonis.
Kandungan elektrolit dan koloid di dalamnya, cairan air mata memiliki
tekanan osmotik, yang nilainya sama dengan darah dan cairan jaringan.
Besarnya adalah 0,65-0,8 M Pa (6,5-8 atmosfir), penurunan titik bekunya
terhadap air 0,520K atau konsentrasinya sesuai dengan larutan natrium
klorida 0,9% dalam air. Cairan mata isotonis dengan darah dan mempunyai
nilai isotonis sesuai dengan larutan NaCl P 0,9%. Sediaan tetes mata
sebaiknya dibuat mendekati isotonis agar dapat diterima tanpa rasa nyeri
dan tidak dapat menyebabkan keluarnya air mata, yang dapat mencuci
keluar bahan obatnya. Larutan hipertonis relatif lebih dapat diterima dari
pada hipotonis.
5. Zat pengawet dalam larutan tetes mata
Syarat zat pengawet bagi larutan obat tetes mata:

Harus bersifat bakteriostatik dan fungistatik. Terutama sifat bakteriostatik


terhadap pseudomonas aeruginosa karena sangat berbahaya pada mata
yang terinfeksi.
Harus tidak mengiritasi jaringan mata, kornea, dan konjungtiva
Harus kompatibel dengan bahan obat
Tidak menimbulkan alergi
Dapat mempertahankan aktivitasnya dalam kondisi normal
Tipe zat pengawet yang dianjurkan untuk larutan obat tetes mata ada 4
macam:
Ester dari p-hidroksi asam benzoat, terutama nipagin dan nipasol
Senyawa merkuri organic, seperti fenil merkuri nitrat dan timerosol
Zat pembasah kationik seperti, benzalkonium khlorid dan setil peridinium
klorid
Derivat alkohol seperti, klorbutanol, fenil etil alcohol
Viskositas dalam larutan mata
6. Surfaktan dalam pengobatan mata
Surfaktan sering digunakan dalam larutan mata karena mempunyai fungsi
sebagai zat pembasah atau zat penambah penetrasi.
Penggolongan obat mata berdasarkan farmakologi
1. Obat mata sebagai anti-infektif dan antiseptik
Contohnya :Albucetine eye drop 5 ml, 10 ml, 15 ml, dan oint 3,5 g
2. Obat mata mengandung kortikosteroid
Contohnya :Celestone eye drop 5 ml
3.Obat mata sebagai antiseptik dengam kortikosteroid

Contohnya :Cendo Xitrol 5 ml dan 10 ml


4.Obat mata mempunyai efek midriatik
Contohnya :Cendo Tropine 5 ml, 10 ml dan 15 ml
5.Obat mata mempunyai efek miotik
Contohnya :Cendo Carpine 5 ml, 10 ml dan 15 ml
6.Obat mata mempunyai efek glaukoma
Contohnya :Isotic Adretor 5 ml
7.Obat mata mempunyai efek lain
Contohnya :Catarlent eye drop 15 ml
Keuntungan obat tetes mata :
1. Larutan mata memiliki kelebihan dalam hal homogentas, bioavailabilitas,
dan kemudahan penanganan.
2. Suspensi mata memiliki kelebihan dimana adanya partikel zat aktif dapat
memperpanjang waktu tinggal pada mata sehingga meningkatkan waktu
terdisolusinya oleh air mata, sehingga terjadi peningkatan bioavailabilitas
dan efek terapinya.
3. Tidak menganggu penglihatan ketika digunakan
Kerugian obat tetes mata
Kerugian yang prinsipil dari larutan mata adalah waktu kontak yang relatif
singkat antara obat dan permukaan yang terabsorsi.
Cara penggunaan Tetes Mata :
1. Bacalah petunjuk obat tetes mata pada kemasan. Ada beberapa jenis obat
tetes mata yang harus dikocok terlebih dahulu sebelum digunakan.
2. Cuci tangan.

3. Sebaiknya duduk di depan cermin sehingga Anda bisa melihat apa yang Anda
lakukan.
4. Bersihkan mata dari seluruh sisa-sisa air mata atau kotoran mata dengan tisu
bersih.
5. Buka tutup botol obat tetes mata.
6. Condongkan kepala Anda ke belakang.
7. Tarik dengan lembut kelopak mata bawah, sehingga membentuk kantung dan
melihatlah ke atas (ke arah kelopak mata atas).
8. Pegang botol atau pipet obat tetes mata, lalu remas dengan lembut sehingga

satu tetesan jatuh ke mata. Remas lagi botol obat jika dosis yang disarankan
lebih dari satu tetes. Perlu diperhatikan, lokasi meneteskannya adalah pada
kelopak mata bawah (pada kantung), bukan pada mata hitam. Dan jangan
sampai ujung botol mengenai mata Anda.
9. Kedip-kedipkan mata sehingga cairan menyebar ke seluruh permukaan bola
mata.
10. Bersihkan sisa cairan obat tetes mata yang keluar dari mata dengan tisu

bersih.
11. Ulangi langkah ini pada mata yang satu lagi (jika pengobatan untuk dua
mata).
12. Tutup kembali botol.

13. Berhati-hatilah agar jangan sampai ujung botol atau pipet obat tetes mata
tersentuh dengan apapun, termasuk jari Anda.
14. Jika Anda menggunakan lebih dari satu jenis obat tetes mata. Tunggulah

sekitar 5 menit setelah menggunakan tetes mata yang pertama.


15. Cuci tangan untuk menghilangkan sisa obat

B. SALEP MATA
Salep mata adalah salep yang digunakan pada mata. Pada pembuatan salep
mata harus diberikan perhatian khusus. Sediaan dibuat dari bahan yang sudah
disterilkan dengan perlakuan aseptik yang ketat serta memenuhi syarat uji
sterilitas (Anonim, 1995). Salep adalah sediaan setengah padat yang mudah
dioleskan dan digunakan sebagai obat luar. Bahan obatnya harus larut atau
terdispersi homogen dalam dasar salep yang cocok (Anief 2000). Berbeda
dengan salep dermatologi, salep mata harus steril. Salep mata harus memenuhi
uji sterilitas sebagaimana tertera pada kompendia resmi. Jadi, salep mata dapat
diartikan sebagai sediaan setengah padat yang mudah dioleskan ditujukan
untuk pemakaian topikal pada kulit ataupun selaput lendir pada bagian mata
atau sekitarnya, dimana bahan obat harus larut atau terdispersi homogen dalam
dasar salep yang sesuai.

Syarat-syarat salep mata :


1) Salep mata dibuat dari bahan yang disterilkan dibawah kondisi yang benarbenar aseptik dan memenuhi persyaratan dari tes sterilisasi resmi.
2) Sterilisasi terminal dari salep akhir dalam tube disempurnakan dengan
menggunakan dosis yang sesuai dengan radiasi gamma.
3) Salep mata harus mengandung bahan yang sesuai atau campuran bahan untuk
mencegah pertumbuhan atau menghancurkan mikroorganisme yang
berbahaya ketika wadah terbuka selama penggunaan. Bahan antimikroba
yang biasa digunakan adalah klorbutanol, paraben atau merkuri organik.
4) Salep akhir harus bebas dari partikel besar.
5) Basis yang digunakan tidak mengiritasi mata, membiarkan difusi obat
melalui pencucian sekresi mata dan mempertahankan aktivitas obat pada
jangka waktu tertentu pada kondisi penyimpanan yang sesuai. Vaselin
merupakan dasar salep mata yang banyak digunakan. Beberapa bahan dasar
salep yang dapat menyerap, bahan dasar yang mudah dicuci dengan air dan
bahan dasar larut dalam air dapat digunakan untuk obat yang larut dalam air.
Bahan dasar salep seperti ini memungkinkan dispersi obat larut air yang
lebih baik tetapi tidak boleh menyebabkan iritasi pada mata.
6) Sterilitas merupakan syarat yang paling penting, tidak layak membuat
sediaan larutan mata yang mengandung banyak mikroorganisme yang paling
berbahaya adalah Pseudomonas aeruginosa. Infeksi mata dari organisme ini
dapat menyebabkan kebutaan, bahaya yang paling utama adalah
memasukkan produk nonsteril kemata saat kornea digososk. Bahan
partikulat yang dapat mengiritasi mata menghasilkan ketidaknyamanan pada
pasien. Jika suatu anggapan batasan mekanisme pertahanan mata
menjelaskan dengan sendirinya bahwa sediaan mata harus steril. Air mata
tidak seperti darah tidak mengandung antibodi atau mekanisme untuk
memproduksinya. Mekanisme utama untuk pertahanan melawan infeksi
mata adalah aksi sederhana pencucian dengan air mata dan suatu enzim
yang ditemukan dalam air mata (lizosim) yang mempunyai kemampuan

menghidrolisa selubung polisakarida dari beberapa mikroorganisme, satu


dari mikroorganisme yang tidak dipengaruhi oleh lizosim yakni yang paling
mampu menyebabkan kerusakan mata yaitu Pseudomonas aeruginosa
(Bacilllus pyocyamis). Infeksi serius yang disebabkan mikroorganisme ini
ditunjukkan dengan suatu pengujian literatur klinis yang penuh dengan
istilah-istilah seperti enukleasi mata dan transplantasi kornea. Penting untuk
dicatat bahwa ini bukan mikroorganisme yang jarang, namun juga
ditemukan disaluran intestinal, dikulit normal manusia dan dapat menjadi
kontaminan yang ada diudara.
Basis salep mata
Dasar salep pilihan untuk salep mata harus tidak mengiritasi mata dan
harus memungkinkan difusi bahan obat ke seluruh mata yang dibasahi karena
sekresi cairan mata. Dasar salep mata yang digunakan juga harus bertitik lebur
yang mendekati suhu tubuh. Dalam beberapa hal campuran dari petroletum dan
cairan petrolatum (minyak mineral) dimanfaatkan sebagai dasar salep mata.
Kadang-kadang zat yang bercampur dengan air seprti lanolin ditambahkan
kedalamnya. Hal ini memungkinkan air dan obat yang tidak larut dalam air
bertahan selama sistem penyampaian (Ansel, 1989).
Oculenta sebagai bahan dasar salep mata sering mengandung vaselin,
dasar absorpsi atau dasar salep larut air. Semua bahan yang dipakai untuk salep
mata harus halus, tidak enak dalam mata. Salep mata terutama untuk mata yang
luka. Harus steril dan diperlukan syarat-syarat yang lebih teliti maka harus
dibuat seksama. Syarat oculenta adalah:
1.Tidak boleh mengandung bagian-bagian kasar.
2.Dasar salep tidak boleh merangsang mata dan harus memberi kemungkinan
obat tersebar dengan perantaraan air mata.
3.Obat harus tetap berkhasiat selama penyimpanan.
4.Salep mata harus steril dan disimpan dalam tube yang steril (Anief, 2000).
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyediakan sediaan
salep mata :

1. Sediaan dibuat dari bahan yang sudah disterilkan dengan perlakuan aseptik
yang ketat serta memenuhi syarat uji sterilitas. Bila bahan tertentu yang
digunakan dalam formulasi tidak dapat disterilkan dengan cara biasa, maka
dapat digunakan bahan yang memenuhi syarat uji sterilitas dengan
pembuatan secara aseptik. Salep mata harus memenuhi persyaratan uji
sterilitas. Sterilitas akhir salep mata dalam tube biasanya dilakukan dengan
radiasi sinar . Kemungkinan kontaminasi mikroba dapat dikurangi dengan
melakukan pembuatan uji dibawah LAF.
2. Salep mata harus mengandung bahan atau campuran bahan yang sesuai
untuk mencegah pertumbuhan atau memusnahkan mikroba yang mungkin
masuk secara tidak sengaja bila wadah dibuka pada waktu penggunaan.
Kecuali dinyatakan lain dalam monografi atau formulanya sendiri sudah
bersifat bakteriostatik.
3. Wadah salep mata harus dalam keadaan steril pada waktu pengisian dan
penutupan. Wadah salep mata harus tertutup rapat dan disegel untuk
menjamin sterilitas pada pemakaian pertama.
Keuntungan dan kerugian
Keuntungan utama suatu salep mata terhadap larutan untuk mata
adalah penambah waktu hubungan anatara obat dengan obat dengan mata, dua
sampai empatkali lebih besar apabila dipakai salep dibandingkan jika dipakai
larutan garam. Satu kekurangan bagi pengggunaan salep mata adalah kaburnya
pandangan yang terjadi begitu dasar salep meleleh dan menyebar melalui lensa
kontak

(Ansel,

1989).

Sediaan

mata

umumnya

dapat

memberikan

bioavailabilitas lebih besar daripada sediaan larutan dalam air yang ekuivalen.
Hal ini disebabkan karena waktu kontak yang lebih lama sehingga jumlah obat
yang diabsorbsi lebih tinggi. Salep matadapat mengganggu penglihatan,
kecuali jika digunakan saat akan tidur.
Cara penggunaan salep mata :
1. Mencuci tangan

2. Atur posisi pasien dengan kepala menengadah


3. Bersihkan daerah kelopak dan bulu mata dengan kapas lembab dari sudut
mata ke arah hidung, apabila sangat kotor basuh dengan air hangat.
4. Buka mata dengan menekan perlahan-lahan bagian bawah dengan ibu jari,
jari telunjuk di atas tulang orbita.

5. Pegang aplikator salep di atas pinggir kelopak mata kemudian pencet tube
sehingga obat keluar dan berikan obatpada kelopak mata bawah. (kira - kira
inci kecuali ada petunjuk lainnya) pada sakus konjungtiva.
6. Tutup mata dengan kasa bila perlu.
7. Penglihatannya akan kabur sebentar.
8. Berikan pada waktu tidur jika memungkinkan
9. Cuci tangan

Harus diperhatikan :

Hindari penggunaan obat tetes mata atau salep mata setelah dibuka lebih
dari 30 hari, karena obat tidak bebas kuman lagi. Hindari penggunaan obat
tetes mata atau salep mata oleh lebih dari satu orang, agar tidak

terjadi

penulaan infeksi.
C. INHALER
Inhaler adalah suatu alat untuk penggunaan obat secara inhalasi. Inhalasi
menurut Farmakope Indonesia Edisi IV (FI IV) adalah sediaan obat atau
larutan atau suspensi terdiri atas satu atau lebih bahan obat yang diberikan
melalui saluran napas hidung atau mulut untuk memperoleh efek lokal atau
sistemik. Umumnya inhaler ditujukan untuk penggunaan obat asma
atau Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD), karena dengan cara ini
obat dapat langsung masuk ke paru-paru sehingga dapat bekerja lebih cepat
untuk mengatasi serangan asma dan efek sampingnya lebih minimal.
Berdasarkan bentuk obat yang dibawanya, inhaler dibedakan menjadi 3
macam, yaitu aerosol inhaler, dry powder inhaler, dan nebuliser.
1

Aerosol Inhaler
Zat aktifnya dalam bentuk aerosol yang tersuspensi dalam propelan, yaitu

suatu gas inert bertekanan yang berfungsi sebagai pendorong. Pada saat alat
ditekan, maka propelan akan mendorong beberapa dosis obat dalam satu
hembusan, bersamaan dengan itu pengguna harus menarik napas dalam agar
obat terbawa masuk ke dalam saluran pernapasan. Jenis alat untuk aerosol
inhaler ada beberapa macam, yaitu:
a) Inhaler Dosis Terukur (Metered Dose Inhaler)
Obat yg tersuspensi dalam cairan pendorong/propelan. Ketika Canister
ditekan sejumlah dosis terukur terdorong ke dalam saluran pernafasan
Cara Penggunaan :
1. Terlebih dahulu IDT dikocok agar obat tetap homogen,
2. Tutup kanister dibuka.
3. Inhaler dipegang

tegak,

kemudian

penderita

melakukan

ekspirasi

(mengeluarkan nafas) maksimal secara perlahan


4. Mulut inhaler diletakkan di antara gigi, lalu bibir dirapatkan dan dilakukan
inspirasi (menarik nafas) perlahan sampai maksimal.

5. Pada pertengahan inspirasi kanister ditekan agar obat keluar.


6. Penderita menahan napas 10 detik atau 10 hitungan pada inspirasi maksimal.
7. Setelah 30 detik atau 1 menit prosedur yang sama diulang kembali.
b) Inhaler Dosis Terukur dengan spacer
Spacer digunakan jika terjadi kesulitan menggunakan MDI, spacer
membantu penghantaran obat ke saluran pernafasan. Penggunaan spacer
direkomendasikan untuk anak-anak.
Cara Penggunaan :
1. Kocok inhaler
2. Lepaskan penutup inhaler
3. Masukkan inhaler ke dalam spacer
4. Keluarkan / buang nafas
5. Masukkan spacer ke dalam mulut, letakkan diantara gigi lalu bibir
dirapatkan
6. Tekan bagian atas dari inhaler
7. Lakukan inspirasi perlahan sampai maksimal
8. Jika terdengar bunyi seperti pluit, yang berarti menarik nafas terlalu cepat,
tarik nafas lebih perlahan
Cara Membersihkan :
1. Pisahkan inhaler dari spacer.
2. Bilas spacer dengan air hangat (seminggu sekali).
3. Biarkan mengering dengan sendirinya
4. Pastikan saluran tidak terhambat dengan meniup spacer.
2. Dry Powder Inhaler
Zat aktifnya dalam bentuk serbuk kering yang akan tertarik masuk ke
paru-paru saat menarik napas. Pada inhaler jenis ini tidak terdapat propelan
untuk mendorong obat masuk ke dalam saluran napas. Biasanya dosisnya lebih
kecil, dan ada indikator untuk menunjukkan berapa dosis yang tersisa.
Harus diperhatikan :

1. Selalu periksa jumlah dosis yang terlihat pada Dose counter


2. Jika

telah

menggeser/mendorong

tuas

pada

Diskus,

mengarahkan mouthpiece ke arah bawah karena obat akan terbuang

jangan

Cara Penggunaan :
1. Letakkan Diskus pada telapak tangan (posisi : ibu jari pada Thumb Grip),
dorong ke arah kanan s/d terdengar Klik
2. Setelah terbuka, maka terlihat Mouthpiece/tempat hisap
3. Geser Dose lever, dgn cara mendorong tuas s/d terdengar Klik. Maka
akan mengurangi angka pada Dose Counter
4. Keluarkan/buang nafas
5. Letakkan alat di mulut yaitu diantara bibir
6. Hisap obat dengan menarik nafas dalam
7. Keluarkan alat dari mulut
8. Tahan napas 10 detik, kemudian bernafaslah secara perlahan
9. Tutup Diskus dgn mendorong kembali thumb grip ke arah berlawanan

3. TURBUHALER
Cara penggunaan :
1. Lepaskan tutup turbuhaler, tarik inhaler ke atas
2. Putar turbuhaler ke kanan, selanjutnya ke kiri dengan cepat. Kemudian akan
terdengar Klik
3. Keluarkan/buang nafas
4. Letakkan alat di mulut yaitu pada diantara bibir
5. Hisap obat dengan menarik nafas kuat & dalam
6. Keluarkan alat dari mulut
7. Tahan napas 10 detik, kemudian bernafaslah secara perlahan.
8. Tutup kembali turbuhaler
Harus diperhatikan :
Selalu perhatikan jumlah dosis yang tersisa pada window
4. HANDIHALER
Cara Penggunaan :
1. Buka tutup handihaler
2. Tarik mouth piece hingga tempat kapsul obat terlihat
3. Buka bungkus kapsul
4. Tempatkan di bagian tengah handihaler
5. Tutup kembali bagian mouth piece hingga terdengar bunyi klik
6. Tekan bagian yang untuk melubangi kapsul
7. Buang napas untuk mengosongkan udara paru, kemudian lakukan inspirasi
maksimal
8. Tahan napas selama beberapa detik, kemudian buang napas seperti biasa
9. Ulangi langkah No. 7 dan No.8 untuk kedua kalinya dengan kapsul obat
yang sama (untuk memperoleh dosis penuh).

5. NEBULIZER
Zat aktifnya dalam bentuk uap, pada penggunaannya perlu menggunakan
masker atau mouthpiece untuk menghirup uap obat. Tidak dibutuhkan
koordinasi pada penggunaan inhaler jenis ini, hanya perlu bernapas seperti
biasa dan uap akan terhirup bersama tarikan napas. Nebuliser biasanya
digunakan di rumah sakit untuk penanganan serangan asma yang
membutuhkan inhalasi dosis besar, tetapi sekarang sudah jarang digunakan
karena inhalasi dosis besar dapat dilakukan dengan spacer.

Cara Penggunaan :
1. Buka tutup tabung obat nebulizer dan masukkan cairan obat ke dalamnya.
2. Letakkan mouth piece di antara gigi & bibir (atau dapat juga digunakan
masker uap untuk anak-anak).
3. Tekan tombol On
4. Bernapas dgn normal dan hirup uap obat yang keluar sampai obat habis
5. Matikan nebulizer
6. Bersihkan wadah obat pada nebulizer menggunakan air hangat, biarkan
mengering.
Harus diperhatikan :
Setelah menggunakan alat inhalasi yang mengandung kortikosteroid,
seperti: Seretide Inhaler, Seretide Discus, Symbicort Turbuhaler kumurkumur dengan air bersih untuk menghindari infeksi jamur.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa beberapa obat memiliki cara
penggunaan yang berbeda-beda tergantung dari efek yang diharapkan
(lokal/sistemik).
Disamping indikasi dan dosis yang tepat, prosedur/cara penggunaan
sediaan obat yang benar tentu sangat mempengaruhi keberhasilan suatu terapi,
untuk itu Apoteker juga dituntut untuk dapat memberikan pelayanan informasi
obat (PIO) yang benar, salah satunya yaitu cara bagaimana menggunakan obat
tertentu.

DAFTAR PUSTAKA
Anief, Moh, 2000, Ilmu Meracik Obat, Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta
Anief, Moh. 2006, Ilmu Meracik Obat. Gajah Mada University press,
Yogyakarta
Anonim.1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Dirjen POM.
Ansel, Howard C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta:
Universitas Indonesia (UI-Press).
Syamsuni, 2005, Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta.