Anda di halaman 1dari 187

LAW ENFORCEMENT INTELLIGENCE

Disusun oleh
Laksda TNI (Purn) Aa Kustia, SE

Program Studi Kajian Ketahanan Nasional


Kekhususan Kajian Stratejik Intelijen
Program Pascasarjana Universitas Indonesia.

Daftar Isi
BAB I

: Intelijen Kontemporer untuk Organisasi Intelijen Penegakan


Hukum

BAB 11

: Latar belakang pengmbangan Law Enforcement Intelligence

21

BAB III

: Konsep Intelligence Led-Policing

34

BAB IV

: Pengembangan dan Implementsi ILP

66

BAB V

: Pemolisian Model IACP dalam Intelijen Kriminal

88

BAB VI

: Proses Intelijen

93

BAB VII

: Intelijen berdasarkan sifat analisis

.
116

BAB VIII : Tehnik Penanganan Kriminalitas

131

BAB IX

: Panataan Intelijen Penegakan Hukum

144

BAB X

: Pengawasan Intelijen

158

Lampiran : Pendekatan Penilaian dan Manajemen Resiko .

173

(A Risk Assessment and Management Approach)

Daftar Pustaka

182

BAB I
INTELIJEN KONTEMPORER UNTUK ORGANISASI INTELIJEN
PENEGAKAN HUKUM.
Definisi tentang Intelijen menjadi problematik karena konteks, tradisi, dan penggunaan
bahasa yang berbeda oleh spesialis dan generalis.
Oleh sebab itu perlu ditetapkan rumusan yang baku dan dapat diterima secara umum oleh
komunitas intelijen penegakan hukum.
Banyak pemahaman yang keliru tentang intelijen baik arti maupun aplikasinya, tidak
hanya dikalangan awam tetapi juga dikalangan penegak hukum.
Hal ini sebagai akibat dari selama bertahun-tahun komunitas intelijen dan komunitas
penegak hukum berada pada posisi yang berbeda dan kadang-kadang berada pada posisi
hubungan yang antagonistik.
Ini disebabkan oleh perbedaan peran, tanggung jawab, tujuan serta sasarannya, juga
tentang manajemen, perlakuan serta penggunaan dari bahan keterangan atau informasi
yang diperoleh oleh kedua komunitas tersebut. .
Salah satu contoh yang mendasar adalah pemahaman yang berkembang dikalangan
penegak hukum di Amerika Serikat tentang istilah informasi dan intelijen sering diartikan
sama.
Meskipun terdapat perbedaan antara kedua komunitas ini baik dalam peraturan, prosedur,
sasaran, penggunaan sumber daya manusia serta standar yang berhubungan dengan
kualitas dan kuantitas informasi yang dikumpulkan, upaya-upaya untuk menumbuhkan
pemahaman yang benar dilingkungan komunitas intelijen dan komunitas penegak hukum
terus dikembangkan.
Sebagai bahan rujukan, intelijen secara garis besar dikelompokan kedalam 2 katagori.
Pertama, dalam arti disiplin , intelijen yang berhubungan dengan aturan-aturan,
proses, dan leksikon atau rujukan dari fungsi-fungsi intelijen.
Dalam lingkup katagori ini ada 3 tipe intelijen yaitu, Intelijen penegakan hukum (Law
enforcement atau Criminal Intelligence), Intelijen Keamanan Dalam Negeri (Homeland
Security Intelligence) atau dikenal juga sebagai Intelijen untuk semua yang berbahaya
( All Hazards Intelligence) dan Intelijen untuk Keamanan Nasional (National Security
Intelligence). Meskipun ada persamaan dari ketiga tipe intelijen ini ada juga perbedaan.
Kedua, katagori yang lebih luas adalah menyangkut aplikasi intelijen yang
berhubungan dengan pengetahuan tentang tipe kejahatan yang spesifik.
Analisis intelijen yang menghasilkan pengetahuan tentang metode baru dan indikatorindikatornya, misalnya penggunaan alat dan bahan peledak dengan teknologi baru yang
digunakan oleh teroris.
Pengetahuan ini yang disebut aplikasi dari intelijen (application of intelligence)
Contoh lain adalah indikator-indikator yang dihasilkan dari analisis transaksi
internasional dalam bidang keuangan yang merupakan karakteristik usaha pencucian
uang.
Yang paling penting untuk aplikasi intelijen adalah pemahaman dari sifat dan unsur-unsur
dari fenomena sebuah kejahatan yang sedang menjadi perhatian.

Sebagai contoh, bila masyarakat terancam oleh kegiatan sebuah gang yang melakukan
tindak kejahatan, pemahaman tentang sifat dan karakter gang tersebut, tanda dan simbolsimbol, hirarchi, serta sifat-sifat khusus lainnya merupakan bahan yang penting untuk
seorang analis, dan para para petugas penegak hukum dalam mengatasi kejahatan tersebut
secara efektif.
Untuk tujuan pelatihan dan aplikasinya kedua katagori tersebut tidak dapat dipisahkan,
meskipun demikian penting untuk memahami aspek kekhususan dari masing-masing
katagori tersebut

Intelijen Penegakan Hukum.


Sebelum melihat pengertian intelijen, sangat penting untuk memahami arti informasi
dalam konteks proses intelijen.
Informasi dapat diartikan sebagai bahan mentah, data yang belum dianalisis
menyangkut orang, bukti-bukti, dan peristiwa-peristiwa atau mengilustrasikan sebuah
proses yang mengindikasikan sebuah peristiwa kriminal, saksi-saksi, atau bukti dari
sebuah peristiwa.
Potongan potongan informasi yang didapat dari berbagai sumber seperti hasil
penyadapan telepon, berita yang disampaikan oleh informan, bank data, atau hasil
pengamatan hanyalah bahan mentah yang kadang kadang tidak memiliki arti bila dilihat
secara sendiri-sendiri.
Terminologi law enforcement intelligence sering digunakan sebagai padanan dari
intelijen kriminal atau criminal intelligence yang sering ditemui dalam diskusi-diskusi
tentang penegakan hukum.
Di Amerika Serikat sering ditemui dalam diskusi tentang peran polisi dalam keamanan
dalam negeri dalam konteks homeland security.
Padahal ada perbedaan yang mendasar. Criminal Intelligence adalah intelijen yang
berhubungan dengan perbuatan tindak kejahatan atau kriminalitas.
Polisi atau penegak hukum hanya mengumpulkan informasi yang tidak berhubungan
dengan masalah politik.
International Association of Chief of Police mendefinisikan, Criminal Intelligence :
Information compiled, analyzed and / or disseminated in effort to anticipate, prevent, or
monitor criminal activity.
(Intelijen Kriminal adalah informasi yang dikumpulkan, dianalisis dan / atau disebarkan
dalam upaya untuk mengantisipasi, mencegah dan memonitor aktifitas kriminal).
Sedangkan Law Enforcement Intelligence adalah intelijen yang berhubungan dengan
keamanan nasional seperti terorisme yang selalu berlatar belakang politik, tetapi
menggunakan cara-cara cara kriminal dalam melakukan serangan.1
Ada perbedaan antara kriminalitas biasa dengan terorisme seperti digambarkan dibawah
ini.

.Jonathan R.White Defence the Homeland: Domestic Intelligence, Law Enforcement, and Security.
Hal 13.

PERBEDAAN ANTARA TERORIS DAN KRIMINAL BIASA


Teroris adalah
Kriminal biasa adalah
Berlatar belakang politik.
Berlatar belakang keuntungan materil
Memiliki rencana dan tujuan
atau psikologis.
Ada dampak yang diharapkan dari Opportunistik.
tindakannya.
Tidak mengharapkan dampak dari
Berorientasi pada kelompok.
perbuatannya
Disiplin.
Berdiri sendiri.
Terlatih.
Tidak disiplin.
Melakukan penyerangan atas target. Tidak terlatih.
Cenderung melarikan diri.

Philip Heyman menyimpulkan: "Sebagai tindakan kriminal, terorisme berbeda.


Kebanyakan tindakan kriminal biasa disebabkan oleh kerakusan, kemarahan, cemburu,
atau keinginan menguasai, dihargai, atau memperoleh kedudukan dalam satu kelompok
dan bukan suatu keinginan untuk merubah dunia atau bangsa dan negara tertentu.
Kebanyakan tindakan kriminal biasa tidak mempunyai tujuan untuk merubah suatu
pemerintahan atau struktur dasar dan ideologi suatu bangsa. Sebagian akan membantah
bahwa kekerasan yang dilakukan dengan tujuan politik adalah tindakan yang hanya
mementingkan diri sendiri, yang lain mungkin menyetujuinya. Tetapi semua akan setuju
bahwa kekerasan politik adalah alat pelaku yang berbeda dengan tindakan kriminal
biasa, yaitu untuk memaksakan perubahan suatu pemerintahan, rakyatnya, struktur
bahkan ideologi, apapun tujuan dan motivasinya".
Dalam banyak hal sering istilah intelijen dan informasi digunakan secara tidak tepat.
Sering sekali intelijen dipandang secara salah, dan dilihat sebagai keterangan tentang
orang, tempat, atau peristiwa yang dapat digunakan untuk melihat lebih dalam tentang
kriminalitas, atau ancaman kriminal.
Lebih dari itu kadang-kadang tidak dapat membedakan antara law enforcement
intelligence dengan intelijen nasional.
Intelijen adalah sekumpulan informasi yang telah dinilai tingkat kebenaran dan
kepercayaannya, dipilah sesuai dengan isu yang ingin dicari jawabannya, dan diolah
sesuai metode analisis melalui proses pemaknaan yang logis baik secara induktif maupun
deduktif.
Dengan demikian Law enforcement intelligence adalah hasil dari sebuah proses analisis
yang memberikan gambaran yang utuh terintegrasi dari berbagai informasi yang berbeda
tentang kejahatan, kecenderungan tentang suatu kejahatan, ancaman terhadap keamanan,
dan kondisi yang berkaitan dengan sebuah kejahatan.
Sering kali terjadi pertukaran informasi dan pertukaran intelijen digunakan secara
keliru oleh orang yang tidak mengetahui secara benar pengertian intelijen dan informasi.
Pemahaman secara benar tentang perbedaan itu sangat diperlukan karena mempunyai
perbedaan perlakuan dan aturan serta implikasi hukum yang berbeda, seperti tertera
dalam tabel dibawah ini.

Informasi
. Riwayat sebuah tindak kejahatan

Intelijen
. Laporan oleh seorang analis yang
menyimpulkan tentang tanggung jawab
. Data- data registrasi kendaraan bermotor,
seseorang yang terlibat kejahatan
perahu bermotor, pesawat terbang.
berdasarkan hasil analisis atas berbagai
informasi yang diperoleh dari hasil
. Catatan tindakan penyerangan
investigasi maupun riset,
.

.
Pernyataan oleh seorang informan, saksi
atau tersangka.

. Hasil observasi tentang sifat dan insiden,


dari tim pengamat atau dari masyarakat.

Hasil analisis tentang kecenderungan


tindakan kejahatan atau terror dengan
sebuah
kesimpulan
yang
menggambarkan tentang karakteristik
pelaku kejahatan atau terror, dan
kemungkinan tindakan kejahatan atau
aksi terror pada masa yang akan datang
serta
pola
penanganan
serta
pencegahannya.

. Keterangan tentang Bank, investasi,


Laporan kredit, atau Laporan keuangan
lainnya.
. Perkiraan tentang potensi kerusakan ,
kerugian dan jatuhnya korban dari
sebuah tindakan kejahatan / terror
sebagai hasil analisis dari informasi yang
terbatas dan didasarkan pengalaman
masa lalu
- Perkiraan penghasilan seseorang yang
diperoleh
dari
kejahatan
bisnis
berdasarkan analisis pasar dan lalu lintas
komoditi illegal.
Pengertian dasar intelijen untuk penegakan hukum adalah produk dari sebuah proses
analisis yang mengevaluasi berbagai bahan keterangan yang dikumpulkan dari berbagai
sumber, setelah melalui tahapan pemilahan dan pengintegrasian bahan keterangan yang
relevan.
Hasil proses analisis ini berbentuk sebuah kesimpulan atau perkiraan tentang fenomena
kriminal, dengan menggunakan pendekatan ilmiah dalam pemecahan masalah. Intelijen
adalah sebuah produk sinergi yang digunakan oleh pembuat keputusan dalam
menentukan cara bertindak menghadapi problem berbagai bentuk kriminalitas,
ekstrimisme, dan terorisme.
Seperti telah dijelaskan dalam awal tulisan ini Intelijen untuk penegakan hukum
merupakan kebutuhan yang sangat penting dalam proses pengambilan keputusan
(decisionmaking), perencanaan (planning), penentuan sasaran strategik (strategic
targeting), dan tindakan pencegahan (crime prevention).

Pertama, proses pengambilan keputusan (decision making).


Kegiatan pengumpulan informasi dan menentukan apa yang harus dilakukan dengan
informasi tersebut adalah kegiatan yang biasa terjadi dalam operasi penegakan hukum.
Meskipun petugas penegak hukum serta para pimpinannya dikelilingi setumpuk besar
informasi, sering terjadi keputusan yang dihasikan tidak didasari oleh informasi yang
cukup dan lengkap, akurat, dan menyesatkan.
Perkiraan yang baik sangat tergantung kepada proses dan analisis intelijen, mulai
pengumpulan bahan keterangan/informasi hingga proses pengambilan atau pembuatan
keputusan.
Kedua, perencanaan dan alokasi sumber daya.
Intelijen merupakan unsur penting untuk penyusunan perencanaan yang efektif dan cara
bertindak yang tepat. Sering terjadi institusi penegak hukum dalam menyusun
perencanaan tanpa memahami persoalan kejahatan yang dihadapi dan tanpa masukan
yang cukup.
Menyediakan intelijen bagi pembuat keputusan tentang perubahan sifat ancaman,
karakteristik serta pola ancaman serta bentuk ancaman baru sebagai dasar penyusunan
strategi penangkalan (response strategies) dan penyusunan alokasi sumber daya yang
tepat agar dapat dilakukan tindakan pencegahan yang efektif.
Fungsi intelijen ini disebut intelijen strategis (strategic intelligence)
Investigasi atau penyelidikan jelas merupakan bagian dari kegiatan pengumpulan bahan
keterangan, fungsi intelijen dengan derajat penulusuran dan fokus yang lebih luas, dari
investigasi kriminal.
Sebagai contoh, institusi penegak hukum mempunyai alasan yang cukup untuk
mencurigai seseorang atau sekelompok orang bahwa mereka memiliki niat, kemampuan,
dan komitmen yang kuat untuk melakukan perbuatan kriminal atau kegiatan terror.
Namun tidak cukup bukti untuk melakukan penahanan dengan alasan percobaan
perbuatan kriminal atau persekongkolan. Tetapi ada keadaan yang memaksa demi
keselamatan masyarakat luas sehingga tetap terbuka untuk melakukan identifikasi
terhadap pelaku kriminal terutama pemimpin atau senjata yang akan dipergunakan.
Disebabkan oleh peran yang luas ini maka perlu panduan untuk pengamanan terhadap
bahan keterangan atau informasi dan keperluan untuk menyimpan catatan orang perorang
dimana bukti-bukti keterlibatannya dalam tindak kriminal belum jelas.
Panduan itu diperlukan agar tidak melanggar hak konstitusional warga, sementara itu
institusi penegak hukum diijinkan untuk melakukan penyelidikan demi keamanan
masyarakat.
Ketiga, penentuan sasaran strategis (Strategic Targeting).
Peran intelijen penting lainnya adalah dalam penentuan sasaran strategik dan penentuan
prioritas.
Institusi penegak hukum yang mendapatkan alokasi anggaran yang ketat serta
keterbatasan personal harus dapat menggunakan sumber daya yang tersedia secara hatihati, penentuan sasaran perorangan, lokasi, serta operasi, agar dapat dicapai hasil yang
optimal serta dapat membuka peluang keberhasilan yang tinggi.

Beban tugas yang tidak terukur dapat mengurangi tingkat efisiensi penyelidikan, kecuali
para penyelidik dapat mengidentifikasi sasaran dengan tingkat keberhasilan yang tinggi.
Intelijen yang memungkinkan para penyelidik dapat bekerja dengan efisien.
Sebagai salah satu contoh dapat dikemukakan hal sebagai berikut:
Untuk menanggulangi tindakan terror dan ektrimis Pasukan Anti Teror Detasemen 88
Polri melakukan kajian tentang karakteristik kelompok, sifat kejahatan, analisis sasaran,
dan dampak dari tindakan intervensi yang mungkin dilakukan, untuk menentukan
kelompok mana yang dapat menampilkan ancaman yang paling besar terhadap keamanan
negara.
Dengan melakukan kajian serta membandingkan informasi-informasi diatas Den 88 dapat
menentukan sasaran terpilih tentang kelompok mana yang perlu segera diatasi.
Selain itu tindakan strategik dapat dipilih yang didasarkan kepada pengetahuan dan
pemahaman tentang aktifitas kelompok dan sumber daya yang tersedia.
Keempat, pencegahan tindak kejahatan (Crime Prevention).
Intelijen untuk penegakan hukum merupakan hal penting untuk keberhasilan dalam upaya
pencegahan terhadap tindakan kejahatan.
Menggunakan intelijen dari tindakan kejahatan yang sudah pernah terjadi dapat
membantu dalam menetapkan indikator-indikator tindak kejahatan, dan mengantisipasi
kecenderungan terjadinya tindak kejahatan sehingga badan yang berwenang dapat
melakukan tindakan-tindakan pencegahan dan mengurangi dampak yang mungkin
timbul.
Menyediakan intelijen yang terpercaya yang berhubungan dengan ancaman teroris atau
perbuatan kejahatan lainnya, yang digunakan untuk menangkal dan menangkap pelaku,
perkuatan dan perlindungan sasaran, serta digunakan sebagai dasar penyusunan strategi
dalam upaya menggagalkan atau mengurangi ancaman.
Fungsi intelijen ini disebut sebagai intelijen taktik (tactical intelligence).
Tindakan pencegahan bisa gagal dilakukan apabila terjadi hal-hal sebagai berikut:
a. Intelijen merupakan subordinasi kebijakan.
Sumber kesalahan atau bias intelijen yang banyak didiskusikan dalam analisis
intelijen adalah adanya kemungkinan intelijen memberikan pertimbangan intelijen
kepada pengguna yang merupakan atasan intelijen, didasarkan kepada apa yang
ingin didengar oleh atasan, bukan kepada apa yang diindikasikan oleh fakta atau
bukti yang diperoleh. Yang menjadi pertanyaan adalah apa peranan intelijen
dalam proses pengambilan keputusan. Apakah harus ditarik garis yang tegas yang
memisahkan fungsi dan tanggung jawab pembuat keputusan di satu sisi dan
intelijen disisi yang lain. Yang jelas kebijakan dan keputusan harus dituntun dan
didasarkan kepada intelijen yang baik dan benar. Akan berbahaya bila penentu
kebijakan dan pembuat keputusan mengabaikan fakta-fakta yang telah diuji dan
mengambil tindakan hanya didasarkan kepada pandangan dan intuisi pribadi
tanpa dukungan pengetahuan yang benar dan teruji. Meskipun tidak dipungkiri
bahwa dalam beberapa kasus, pendapat dan analisis pribadi pembuat keputusan
terbukti menghasilkan suatu keputusan yang benar dan tepat, tetapi kasus ini
bukan merupakan alasan pembenar untuk mengabaikan intelijen yang baik.

Namun satu yang pasti, para pengambil keputusan yang berwenang tetap harus
memikul tanggung jawab penuh terhadap langkah dan tindakan yang diambil,
apakah didasarkan kepada intelijen yang disiapkan oleh badan intelijen atau
bukan. Dari persepektif intelijen, kesulitan muncul dari pembuat keputusan yang
cenderung mengabaikan laporan intelijen yang dianggap tidak mendukung
kebijakan yang akan mereka tetapkan atau telah ditetapkan. Sebaliknya dari sudut
pandang perumus kebijakan dan pembuat keputusan, melihat bahwa intelijen
sering membuat pertimbangan yang miskin dan tidak membantu mereka dalam
merumuskan kebijakan dan membuat keputusan, namun orang intelijen
memberlakukan laporan intelijen mereka seolah-olah sabda para nabi atau
titah raja (imperial intelligence) yang tidak bisa salah, sehingga dianggap
salah bila perumus kebijakan dan pembuat keputusan tidak menggunakannya.
b..Intelijen tidak dapat diperoleh tepat waktu dan tepat tempat ketika
diperlukan.
Organisasi intelijen yang luas dengan kompartementasi yang ketat, yang
melibatkan sistem pengumpulan bahan keterangan, sistem pengolahan dan
analisis, serta sistem penyebarannya merupakan salah satu persoalan yang
memungkinkan terhambatnya intelijen sampai kepada pengguna dengan tepat
waktu dan tepat tempat. Terhambatnya intelijen sampai kepada pengguna dapat
disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya dapat disebabkan oleh aturan
pengamanan yang menetapkan pembatasan yang ketat terhadap penyebaran
intelijen yang berklasifikasi tinggi dan sensitif, kecemburuan dan persaingan
birokrasi sehingga memperlakukan informasi sebagai senjata untuk
memenangkan persaingan, atau kekurang sadaran (lack of awareness) dari
birokrasi yang memiliki data-data dan bahan keterangan terhadap birokrasi lain
yang membutuhkan informasi sehingga kebutuhan tersebut terabaikan.
Persoalan yang sama bisa muncul bila organisasi yang bertanggung jawab untuk
pengelolaan dan analisis tidak memiliki akses terhadap informasi atau bahan
keterangan yang relevan dengan isu yang sedang dianalisis. Oleh sebab itu harus
ada organisasi yang mengendalikan kedua kegiatan ini.
c. Pengaruh opini yang terbentuk.
Intelijen yang baik adalah hasil proses kegiatan yang dilakukan sesuai dengan
prosedur dan kaidah intelijen mulai tahap pengumpulan bahan keterangan,
penilaian tingkat kepercayaan terhadap sumber dan kebenaran bahan keterangan
maupun proses pengolahan dan analisis. Meskipun proses ini telah ditempuh,
tidak akan menghasilkan intelijen yang bermutu bila dalam proses intelektual ini
dipengaruhi oleh opini yang telah terbentuk (received opinion).
d. Bercermin dari bayangan ( Miror Imaging).
Miror imaging adalah sikap mental yang menyederhanakan dalam menarik suatu
kesimpulan atau membuat perkiraan dari suatu keadaan yang belum dikenalnya
dengan menganalogikan dirinya dalam posisi yang dikenalnya.
Dalam konteks intelijen diartikan, dalam menganalisis atau membuat perkiraan
tentang kemungkinan tindakan yang dilakukan, misalnya oleh sebuah kelompok

teroris dengan cara mendudukkan dirinya dalam posisi yang sama dengan
pengambil keputusan dari kelompok teroris tersebut yang akan melakukan sebuah
serangan.
Dalam beberapa kasus kegagalan intelijen tidak selalu berhubungan dengan pendadakan
oleh pihak pelaku kejahatan seperti serangan teroris, namun dapat juga berupa hilangnya
kesempatan untuk memperoleh keuntungan bagi pihak sendiri.
Richard Betts mengemukakan argumen tentang kegagalan intelijen sebagai berikut: 2
In the best-known cases of intelligence failure, the most crucial mistakes been made by
collectors of raw information, occasionally by professionals who produce finished
analyses, but more often by the decision makers who consumes the products of
intelligence services. Policy premises constrict perception, and administrative workloads
constrain reflection. Intelligence failure is political and psychological more often than
organizational.
(Dari kegagalan intelijen yang diketahui secara luas, kesalahan yang paling krusial
sering sekali dilakukan oleh pengumpul bahan keterangan, kadang-kadang dilakukan
oleh para profesional yang melakukan analisis, tetapi yang paling sering disebabkan
oleh para pembuat keputusan yang menggunakan intelijen yang dihasilkan oleh badan
intelijen. Kebijakan cenderung membatasi persepsi, dan beban administratif juga
membatasi pertimbangan. Kegagalan intelijen lebih disebabkan oleh masalah politik dan
psikologi daripada masalah organisasi).
Richard Betts melukiskannya dalam sebuah diagram seperti dibawah ini.:

Decision makers
Source of failure
Analysis
Collectors

Gambar ini menunjukan kegagalan intelijen paling banyak dilakukan oleh para pembuat
keputusan sebagai pengguna intelijen.
Hal ini disebabkan adanya dilema hubungan pemimpin sebagai pembuat keputusan
dengan intelijen.
Beberapa hal yang menjadi dilema hubungan pemimpin sebagai pembuat keputusan
dengan intelijen adalah; 3
2
3

. Peter Gill and Mark Phythian- Intelligence in an Insecure World. Hal 144.
. Michael I. Handel - Leaders and Intelligence. Hal 5.

10

1. Apabila pemimpin adalah tipe dogmatis, dia tidak mudah menerima informasi baru
atau informasi yang tidak sejalan dengan apa yang dia pikirkan atau dengan keputusan
atau kebijakan yang telah dia tetapkan. Namun sebaliknya apabila pemimpin itu terlalu
"open minded " dia akan terlalu sering berubah pikiran, sehingga dia tidak mampu
menunjukan kepemimpinan yang jelas.
2. Hubungan antara pemimpin dan intelijen harus berada dalam posisi yang baik namun
seimbang, dalam arti dekat tetapi tidak terlalu rapat, jauh namun tidak terlalu
terlepas.. .
Hubungan yang terlalu dekat akan berbahaya karena ada kemungkinan intelijen
terpengaruh oleh kebijakan dan keputusan yang telah dikeluarkan pimpinan, sehingga
intelijen akan kehilangan objektifitasnya.
Sebaliknya hubungan yang terlalu jauh akan membuat pimpinan terlalu bebas, dengan
akibat putusnya hubungan pimpinan dengan komunitas intelijen.
3. Apabila pimpinan memiliki penasehat intelijen yang terlalu dominan atau hanya
tergantung kepada satu sumber intelijen, pimpinan akan menerima informasi yang
terbatas atau bias, namun sebaliknya apabila pimpinan menerima masukan dari sumber
yang banyak dia akan menjadi korban dan akan mengeluarkan keputusan atau
kebijaan yang bias dan kehilangan ketepatan.
Memiliki penasehat yang banyak ada kemungkinan pimpinan hanya akan memilih
alternatif yang memperkuat pemikiran yang telah dia tetapkan. Lebih jauh lagi ada
kemungkinan pimpinan akan tergoda (secara tidak sadar) menerapkan taktik "divide
and - rule" dengan memanipulasi agar penasehat intelijennya menyampaikan
informasi yang akan mendukung kebijakannya atau konsep yang telah dia pikirkan.
Apabila dia belum menetapkan atau memikirkan satu kebijakan ada kemungkinan dia
akan mengkompromikan semua informasi sehingga akan menghasilkan kebijakan yang
kurang efektif. Demikian juga sumber intelijen yang banyak akan menyulitkan
kordinasi sehingga akan menghambat proses pengambilan keputusan dan hanya akan
membuang-buang waktu dan sumber daya.
4.Sementara itu pimpinan memerlukan akses langsung kepada - raw intelligence-, namun
apabila dia terjerat terlalu sering dalam urusan detail dilapisan bawah, ada resiko dia
menjadikan dirinya sebagai petugas intelijen sehingga akan disibukan oleh urusan yang
bukan urusannya dan akan mengabaikan urusan utamanya, yang pada ujungnya akan
kehilangan ketajaman dalam membuat keputusan atau kebijakan.
Namun diakui bahwa pimpinan sampai derajat tertentu memerlukan pemahaman
terhadap raw intelligence yang penting dalam mengembangkan kesadaran tentang
tugas intelijen.
5. Apabila pimpinan dibanjiri terlalu banyak oleh informasi, pimpinan tidak akan
mempunyai waktu untuk mendalami informasi yang diterimanya dengan serius.
Pimpinan juga akan menggantungkan terlalu jauh kepada intelijen untuk membantu
membuat keputusan yang berakibat kepada terlambatnya membuat keputusankeputusan penting. Sebaliknya apabila menerima informasi yang terlalu sedikit akan
mengurangi ketepatan dan ketajaman sebuah kebijakan atau keputusan

11

6. Untuk pimpinan komunitas intelijen atau penasehat intelijen menghadapi dilema


sebagai berikut. Apabila dia terlalu jujur dan terlalu objektif kemungkinan besar dia
akan kehilangan akses kepada pimpinan.. Namun sebaliknya bila dia membuat intelijen
yang tidak menyenangkan dengan cara memilih dan menyusunkan dengan baik
sehingga menjadi menyenangkan dia akan meningkatkan pengaruhnya kepada
pimpinan namun dibalik itu akan mengakibatkan berkurangnya nilai intelijen.
Kunci untuk mengatasi dilema ini adalah Kualitas Pimpinan yang paripurna.

Intelijen Keamanan Dalam Negeri (Homeland Security Intelligence).


Istilah Homeland Security Intelligence merupakan istilah yang relatif baru di Amerika
Serikat, yang mengintegrasikan tanggung jawab institusi penegak hukum, terutama
menyangkut fungsi pemeliharaan ketertiban.
Tanggung jawab intelijen baru ini muncul dalam kerangka keamanan dalam negeri yang
menuntut kegiatan intelijen pada tingkat provinsi atau negara bagian dan dibawahnya
melakukan antisipasi dan menganalisis kemungkinan ancaman dari semua bentuk bahaya
atau disebut all hazard.
Meskipun ada daerah abu-abu dalam kerangka keamanan dalam negeri ini, faktor
utama untuk institusi penegak hukum adalah fokus kepada ancaman bahaya yang
berimplikasi terhadap tanggung jawab atas keselamatan masyarakat dan pemeliharaan
ketertiban.
Dalam konteks ini David L.Carter mendefinisikan, intelijen keamanan dalam negeri
(homeland security intelligence) adalah the collection and analysis of information
concern with noncriminal domestic threat to critical infrastructure, community health
and public safety for the purpose of preventing the threat or mitigating the effects of the
threat.4
(pengumpulan dan analisis bahan keterangan yang berhubungan dengan ancaman
kejahatan bukan domestik, terhadap infrastruktur kritis, kesehatan masyarakat, dan
keselamatan masyarakat dengan tujuan untuk pencegahan dan mengurangi dampak dari
ancaman tersebut).
Dalam menghadapi keadaan darurat baik yang mengancam kesehatan masyarakat
maupun bencana alam, ada keperluan untuk melibatkan institusi penegak hukum untuk
memelihara ketertiban dan melakukan kegiatan untuk memelihara ketertiban masyarakat
sampai keadaan dapat diatasi.
Intelijen keamanan dalam negeri harus melakukan identifikasi kerawanan terhadap
keselamatan masyarakat yang ditimbulkan oleh keadaan darurat atau bencana dan
meneruskannya kepada institusi penegak hukum sehingga dapat diambil langkah-langkah
yang tepat.
Dalam kasus tertentu dapat saja informasi yang disampaikan dapat berupa intelijen
keamanan dalam negeri dan kemudian menjadi intelijen penegakan hukum, seperti
ancaman terhadap infrastruktur yang tadinya bersifat umum berubah menjadi intelijen
penegakan hukum ketika ada seseorang yang diidentifikasikan.
4

.
David L.Carter- Law Enforcement Intelligence: A Guide for State, Local and Tribal Law
Enforcement Agencies. Hal 14.

12

Bila seseorang diidentifikasi terlibat atau ada hubungannya dengan ancaman terhadap
infrastruktur kritis, berarti hubungan kejahatan sudah muncul dan intelijen penegakan
hukum dapat menetapkan kebutuhan intelijen dan dapat bekerjasama dengan intelijen
keamanan dalam negeri.
Bentuk intelijen ini memunculkan persoalan karena disatu sisi ini bukan merupakan
kejahatan atau kriminal murni tetapi menjadi tanggung jawab institusi penegak hukum
yang berurusan dengan masyarakat.
Disisi lain intelijen keamanan dalam negeri tidak jelas merumuskan baik dalam hubungan
hukum maupun kebijakan, tetapi memiliki kekuasaan lebih sebagai akibat tanggung
jawab Departemen Keamanan Dalam Negeri (Department of Homeland Security)
terutama dalam ranah infrastruktur kritis.
Dari sini nampak bahwa dalam kasus-kasus tertentu bisa terjadi tumpang tindih.
Meskipun Intelijen Keamanan Dalam Negeri (Homeland Security Intelligence atau AllHazards Intelligence) mempunyai lingkup yang luas, telah muncul pula inisiatif-inisiatf
baru dalam bentuk-bentuk intelijen baru yaitu :
a. Intelijen Dinas Pemadam Kebakaran (Fire Service Intelligence Enterprise).
Gagasan ini muncul dan menguat setelah terjadi peristiwa 11 September 2001, dan
berdasarkan kenyataan bahwa dalam mengatasi setiap peristiwa seperti serangan
teroris, bencana alam, kecelakaan industri, dan setiap keadaan darurat Dinas
Pemadam Kebakaran selalu menjadi yang pertama yang dilibatkan untuk mengatasi
dampaknya
Namun demikian kalangan penegak hukum masih belum dapat merumuskan dengan
jelas informasi apa yang dapat dipertukarkan dengan dinas pemadam kebakaran.
b. Intelijen Medik (Medical Intelligence).
Intelijen Medik merupakan satu unsur yang sedang tumbuh dalam konteks intelijen
keamanan dalam negeri yang mempunyai tanggung jawab mengatasi semua ancaman
bahaya (all hazards responsibilities).
Intelijen medik mempunyai tanggung jawab yang berhubungan dengan ancaman
terhadap kesehatan masyarakat.
Intelijen Medik menganalisis perkembangan dan kecenderungan kesehatan
masyarakat, organisasi, dan kejadian-kejadian yang dapat mempengaruhi kesehatan
masyarakat
Hal-hal penting yang dapat dicatat dari perkembangan ini adalah:
1). Nampak kecenderungan penting Intelijen Medik sebagai alat untuk membantu untuk
perlindungan masyarakat.
2). Intelijen Medik akan berkembang menjadi intelijen yang penting sebagai unsur yang
bertanggung jawab terhadap semua ancaman bahaya.
3). Amerika Serikat memiliki sumber-sumber yang dapat membantu mengidentifikasi
ancaman terhadap kesehatan masyarakat, seperti Pusat Intelijen Medik Angkatan
Perang ( The Armed Forces Medical Intelligence Center), The WWW Virtual
Library collection on Epidemilogy, The Biodefense and Public Health Database,
serta The Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Wonder Database of
Health and Risks.

13

c. Intelijen Geng (Gang Intelligence)


Bila mendengar kata geng yang terbayangkan kepada kita adalah sekumpulan
anak muda, yang sering membuat keributan seperti balapan sepeda motor (turf
battles) ditengah keramaian kota, mencorat-coret dan menggambari dinding dengan
semprotan cat yang menggambarkan simbol-simbol kelompoknya, membuat
keributan dan melakukan tindakan kekerasan yang sering menimbulkan kematian,
atau perkelahian dengan kelompok pemuda lainnya.
Seperti di Indonesia salah satunya ada yang disebut geng motor yang sering
membuat keributan dan menimbulkan korban. Geng motor ini yang sudah ada sejak
tahun 1970-an.
Seperti geng motor Pacinko atau Pasukan Cina Kota dilahirkan pada tahun 1970-an
oleh John Indo. Geng ini anggotanya kebanyakan anak keturunan Tionghoa. Geng
ini sekarang sudah tidak ada, tetapi penggantinya bermunculan seperti Gamshi
(Gabungan Anak Muda berprestasi yang jago ngetrek), MGZT (Mangga Besar Anak
Ibliz), Hanoman, Aligator dan Green Eagle. Hanya Wild Boys yang anggotanya
kebanyakan bukan keturunan Tionghoa., dan banyak lagi seperti Y-GEN atau Young
Generation, XTC (Exalt to Coitus), BRIGEZZ, GBR, M2R (Moonraker), NERO
atau yang sering diartikan "neko-neko dikeroyok".
Selain geng motor ada kelompok lain yang di Indonesia lebih dikenal dengan
kelompok preman.
Mereka umumnya bersembunyi dibalik perkumpulan etnis seperti kelompok Ambon,
Kelompok Kei, Flores, Papua, Betawi, Banten.
Kelompok-kelompok ini umumnya bergerak dibidang jasa pengamanan atau penagih
utang.
Namun kejahatan geng ini skalanya masih kecil bila dibandingkan dengan misalkan
Amerika Serikat
Amerika Serikat selama bertahun - tahun mengalami kegagalan dalam upaya
mengatasi kejahatan yang dilakukan geng-geng jalanan. Berbagai program telah dicoba
untuk memerangi kejahatan geng.
Pada tahun 1977 Los Angeles Police Department (LAPD) mengenalkan program yang
dianggap akan dapat mengatasi problem kejahatan geng dengan tuntas yaitu yang
disebut CRASH ( Community Resources Against Street Hoodlums). Dan pada waktu
yang bersamaan Los Angeles Sheriff 's Department (LASD) mengenalkan program
yang disebut OSS (Operation Safe Streets)
Kedua program yang dianggap baik ini dan telah menghabiskan anggaran jutaan dolar,
diawaki oleh perwira-perwira dan anggota pilihan yang terlatih baik dengan latihan
khusus, semua problem kejahatan geng telah terpetakan dengan baik. Namun program
tersebut ternyata tidak berhasil mengatasi geng jalanan.
Pada permulaan tahun 1987 CRASH melancarkan operasi yang disebut "Operation
Hammer" untuk memberantas kekerasan yang dilakukan geng di South Central Los
Angeles yang telah menimbulkan 7 orang terbunuh.
Pada puncak operasi bulan April 1988, CRASH telah mengerahkan sebanyak seribu
orang dalam satu minggu dan berhasil menangkap dan menahan 1453 orang.

14

Disamping keberhasilan operasi ini mendapat kritik dan tuduhan rasialis karena
Operation Hammer sasarannya hanya anak-anak muda Afrika Amerika dan Hispanic
yang dijuluki sebagai "Urban Terrorist" dan "Ruthless Killers". CRASH dibubarkan
pada tahun 2000.
The National Gang Threat Assessment membagi geng ini dalam beberapa katagori
yaitu:
1). National and Regional Street Gangs.
2). Gangs and Organized Crime, yang dikelompokkan kedalam Asian Organized
Crime dan Russian Organized Crime.
3). Gangs and Terrorist Organizations, yang dikelompokkan kedalam Domestic
Terrorist Groups dan International Terrorist Groups.
4). Prison Gangs.
5). Hispanic Gangs.
6). Outlaw Motorcycle Gangs.
National Gang Intelligence Center - Amerika Serikat mendefinisikan gang sebagai
berikut: 5

Gang
Street
(Jalanan)
Prison
(Penjara )

Outlaw
Motorcycle
(OMGs) atau
Gang Motor

Definisi
Street Gangs are criminal organizations formed on the street
operating throughout the United States.
(Geng Jalanan adalah organisasi kriminal yang terbentuk di
jalanan dan beroperasi diseluruh wilayah Amerika Serikat)
Prisons Gangs are criminal organizations that originated within penal
system and operate within correctional facilities throughout the
United States, although released members may operating on the
street. Prison gangs are also self-perpetuating criminal entities that
can continue their criminal operations outside the confines of the
penal system.
(Geng Penjara adalah organisasi kriminal yang semula muncul
dalam sistem pemayarakatan (penal system) dan beroperasi
dilingkungan lembaga pemasyarakatan di Amerika Serikat,
meskipun anggota yang sudah bebas dari lembaga pemasyarakatan
mungkin beroperasi di jalanan. Geng Penjara juga merupakan
kelompok kriminal yang mandiri keabadiannya yang dapat
melanjutkan kegiatan kriminalnya diluar sistem pemasyarakatan).
OMGs are organizations whose members use their motorcycle clubs
as conduits for criminal enterprises. Although some law enforcement
agencies regard only One Percenters as OMGs, the NGIC, for the
purpose of this assessment, covers all OMG criminal organizations,
including OMG support and puppet clubs.
( OMG s adalah organisasi yang anggotanya menggunakan klubklub motor sebagai kelompok kejahatan. Meskipun sebagian
institusi penegak hukum menyatakan hanya 1% (One Percenters)
sebagai OMGs, NGIC untuk keperluan pengkajian memasukan
semua OMG sebagai organisasi kriminal, termasuk pendukung

. National Gang Intelligence Center : National Gang Threat Assessment - Emerging Trends. Hal 5.

15

One Percenter
OMGs

Neighborhood
/ Local

OMG dan semua klub-klub bonekanya.)


ATF defines One Percenters as any group of motorcyclists who have
voluntarily made a commitment to band together to abide by their
organization"s rules enforced by violence and who engage in
activities that bring them and their club into repeated and serious
conflict with society and the law. The group must be an ongoing
organization, association of three (3) or more persons which have a
common interest and / or activity characterized by commission of or
involvement in a pattern of criminal or deliquent conduct. ATF
estimates there are approximately 300 One Percenter OMGs in the
United States.
(ATF mendefinisikan One Percenters sebagai kelompok bermotor
yang secara sukarela berkomitmen mengikatkan diri dalam satu
wadah yang diikat oleh satu aturan organisasi dan melakukan
tindakan kekerasan serta kegiatan yang sering mengakibatkan
konflik dengan masyarakat dan hukum. Kelompok ini
beranggotakan yang terdiri dari tiga (3) orang atau lebih yang
memiliki kepentingan yang sama dan / atau kegiatan yang ditandai
oleh imbalan atas keterlibatannya dalam perbuatan kriminal atau
perbuatan yang melanggar hukum. ATF memperkirakan kurang
lebih ada sekitar 300 One Percenters Geng Motor diseluruh Amerka
Serikat
Neighborhood or Local street gangs are confined to specific
neighborhoods and jurisdictions and often imitate larger, more
powerful national gangs. The primary purpose for many
neighborhood gangs is drug distribution and sales.
(Geng Jalanan yang beroperasi dalam wilayah tertentu atau lokal
yang dibatasi oleh wilayah dan jurisdiksi yang spesifik dan sering
lebih luas, dan merupakan geng yang bersifat nasional dan
berkuasa. Tujuan utama dari geng yang bersifat kewilayahan
adalah peredaran dan penjualan narkoba).

Kini telah terjadi kecenderungan baru seperti terlihat dari katagori diatas perbedaan
antara geng dan kejahatan terorganisasi nampak samar.
Seperti yang terjadi di Meksiko sering terjadi perang antar geng narkoba. Tamaulipas
adalah kawasan perang antar geng narkoba paling berdarah di Meksiko. Lebih dari
55.000 orang tewas dalam konflik berdarah sejak Presiden Meksiko Felipe Calderon
menurunkan tentara untuk memerangi kartel narkoba.
Desember 2006, pemerintah Meksiko menyalahkan perang brutal antara kartel Zetas,
yang didirikan oleh sejumlah desertir militer, dan kartel Sinaloa yang dipimpin penjahat
paling dicari di Meksiko, Joacquin "Shorty"Guzman, atas meningkatnya pembunuhan
warga sipil.
Demikian juga batas antara geng dan terroris sulit ditentukan karena sama-sama
menggunakan taktik intimidasi dan menimbulkan rasa takut untuk mencapai tujuannya.

16

Beberapa kecenderungan dapat digambarkan sebagai berikut:


- Geng dan penyelundupan orang asing, perdagangan manusia, prostitusi.
Keterlibatan geng dalam penyelundupan orang asing, perdagangan manusia serta
prostitusi terutama didorong oleh perhitungan keuntungan yang besar dengan resiko
yang lebih kecil dibandingkan dengan perdagangan narkotik dan senjata.
Geng juga ditengarai telah terlibat dalam memfasilitasi pergerakan imigran gelap..
Prostitusi dimanfaatkan oleh geng sebagai sumber keuangan. FBI melaporkan bahwa
prostitusi merupakan sumber keuangan terbesar kedua bagi geng-geng di San Diego,
California. 6
Mereka bertindak misalnya sebagai mucikari. Cara lain dengan membujuk atau
memaksa wanita-wanita muda untuk menjadi pelacur. Geng-geng ini mengendalikan
korban-korbannya dengan kekerasan maupun tekanan psikologis.
Banyak korban prostitusi ini adalah yang masih tergolong anak-anak. Untuk
melindunginya institusi penegak hukum dengan FBI sebagai penjuru melaksanakan
operasi dengan nama Cross Country Operation.
Dalam Cross Country Operation pada bulan Juni 2012 selama tiga hari telah dijaring
sebanyak79 anak dan menahan lebih dari 100 orang mucikari
Sejak dilancarkannya operasi ini diseluruh Amerika Serikat, FBI dengan dibantu lebih
dari 414 institusi penegak hukum dari berbagai tingkatan dan melibatkan lebih dari
8500 personal, telah berhasil menyelamatkan lebih dari 2200 anak-anak.
- Geng dan organisasi kriminal.
Banyak geng-geng yang berbasis di Amerika Serikat menjalin hubungan yang kuat
dengan kartel-kartel narkoba di Amerika Tengah dan Meksiko. Mereka melakukan
penyelundupan narkoba melalui perbatasan Amerika Serikat dengan Meksiko maupun
perbatasan Amerika Serikat dengan Kanada.
Mexican Drug Trafficking Organizations (MDTOs) mengendalikan penyelundupan
kokain, heroin, methamphetamine, dan marijuana dari Meksiko.
- Geng dan kelompok organisasi kriminal.
Pada Januari 2010 FBI mengeluarkan laporan yang mengindikasikan adanya kerjasama
yang erat antara organisasi kriminal Afrika, Asia, Eurasia, dan Itali dengan kelompok kelompok geng di Amerika Serikat dalam kegiatan pencucian uang, jasa penagih utang
(debt collector), pemerasan maupun melakukan tindakan kekerasan.
Siapa saja yang dapat dikatagorikan sebagai anggota geng?.
Ada semacam petunjuk yang dikeluarkan oleh VGTOF (Violent Gang and Terrorist
Organization File) yang merupakan bagian dari NCIC (National Crime Information
Center).
Anggota geng harus ditandai paling tidak oleh 2 dari kriteria sebagai berikut.
- Telah teridentifikasi sebagai anggota geng oleh seseorang yang tingkat
kepercayaannya telah terbukti.
6

. Ibid - Hal 25.

17

Telah teridentifikasi sebagai anggota geng oleh seseorang yang belum diketahui
tingkat kepercayaannya namun informasinya telah dikuatkan oleh sumber-sumber
yang dapat dipercaya.
Telah diamati oleh petugas penegak hukum didaerah yang dikenal sebagai daerah
geng, ada hubungannya dengan anggota geng lainnya yang telah teridentifikasi,
bertingkah laku seperti gaya geng yang dapat dilihat dari cara berpakaian, tato,
semboyan, dan simbol-simbol.
Telah mengalami penahanan lebih dari satu kali bersama anggota geng lainnya
yang telah dikenal karena melakukan kegiatan geng.
Telah diakui sebagai anggota geng pada waktu tertentu, selain ketika ditahan atau
dihukum.

Intelijen geng memberi tantangan tersendiri terhadap intelijen penegakan hukum dalam
hal pemahaman dan aplikasi dari hukum yang berlaku, peraturan-peraturan, kebijakan,
dan praktek-praktek intelijen penegakan hukum.
Seperti telah disinggung terdahulu intelijen adalah keluaran dari sebuah proses analitik,
namun bagi mereka yang spesialis menangani investigasi terhadap geng, terminologi
intelijen umumnya digunakan lebih luas.
Biasanya spesialis geng menambahkan indikator-indikator dibawah rubrik intelijen,
seperti sifat dan peri laku geng, tanda-tanda dan simbol-simbol dari geng yang berbeda
(warna dan tag), modus operandi dari masing-masing geng, kecenderungan dari aktifitas
masing-masing geng.
Kebanyakan laporan ini dianalisis namun tidak serumit proses analisis intelijen pada
umumnya.
Banyak geng kriminal yang mempunyai lingkup transjurisdictional, sehingga proses
analisis ancaman dan pertukaran informasi menjadi penting.
Sarana dan sumber-sumber intelijen merupakan faktor-faktor yang penting untuk
menghadapi persoalan geng secara efektif.

Intelijen Keamanan Nasional (National Security Intelligence).


Untuk lebih memahami pengertian intelijen secara luas dan membedakannya dari
intelijen penegakan hukum (law enforcement intelligence) dicontohkan pengertian
intelijen yang digunakan oleh National Security Intelligence Amerika Serikat seperti
berikut: the collection and analysis of information concerned with relationship and
homeostasis of the United States with foreign power, organizations, and person with
regard to political and economic factor as well as the maintenance of the United States
sovereign principles.7
(Pengumpulan dan analisis bahan keterangan yang berhubungan dengan stabilitas dan
hubungan Amerika Serikat dengan kekuatan luar, organisasi, orang perorang dengan
memperhatikan faktor politik dan ekonomi serta mempertahankan prinsip-prnisip
kedaulatan Amerika Serikat).
National Security Intelligence (NSI) bekerja dalam kerangka memelihara dan menjaga
Amerika Serikat sebagai sebuah republik kapitalis yang bebas dengan segala aturan
7

. David L.Carter - Law Enforcement Intelligence : A Guide for State, Local,, and Tribal Law
Enforcement Agencies. Hal 15.

18

hukum dan kelembagaannya yang utuh, serta mengidentifikasi dan menetralisir setiap
bentuk ancaman atau kegiatan yang dapat mengancam way of life bangsa Amerika.
NSI meliputi intelijen keamanan (policy intelligence) dan intelijen pertahanan atau militer
(military intelligence).
Intelijen keamanan berhubungan dengan langkah, tindakan, kegiatan, dan ancaman
kelompok atau negara yang memusuhi Amerika Serikat., sedangkan intelijen militer
terpusat pada kelompok atau negara yang memusuhi Amerika Serikat, menyangkut
sistem persenjataan, kemampuan perang, dan Order Of Battle (OOB) atau Susunan
Bertempur musuh..
Sejak runtuhnya Uni Sovyet dan munculnya ancaman dari kelompok teroris, baik
intelijen keamanan maupun intelijen militer telah sama-sama terlibat dalam
mengantisipasi dan menghadapi perubahan karakter ancaman bentuk baru.
Organisasi yang bertanggung jawab untuk NSI secara kolektif dikenal dengan
Intelligence Community (IC).
Anggota Intelligence Community adalah badan dalam pemerintahan federal, militer, dan
organisasi lain dalam pemerintah yang berperan dalam Intelijen Nasional seperti:
- Central Intelligence Agency (CIA).
- Defence Intelligence Agency (DIA).
- National Security Agency (NSA).
- Army Intelligence.
- Navy Intelligence.
- Air Forces Intelligence.
- Marines Corps Intelligence.
- Cost Guard Intelligence.
- Federal Bureau of Investigation.
- National Reconnaissance Office.
- Departement of Homeland Security.
- Department of States.
- Department of Treasury.
- Departement of Energy.
- National Geospatial - Intelligence Agency.
Institusi Penegak Hukum di Amerika Serikat tidak memiliki hubungan langsung dengan
NSI, namun ini tidak berarti tidak ada hubungan dengan NSI atau menerima tugas
pengumpulan untuk mendukung NSI. Melihat bahwa FBI adalah anggota IC, tidak
menutup kemungkinan petugas yang bertugas di Joint Terrorism Task Force akan terlibat
dalam NSI. Seperti juga petugas yang terlibat dalam Organized Crime Drug Enforcement
Task Force (OCDETF).
Dalam kedua contoh diatas para petugas secara khusus akan memiliki identitas dengan
klasifikasi Sangat Rahasia (Top Secret) atau Rahasia (Secret) untuk memperoleh intelijen.
Meskipun demikian hal ini akan menempatkan anggota institusi penegak hukum dalam
kondisi sulit karena intelijen yang didapat untuk penyelidikan kriminal tidak akan dapat
digunakan dalam proses pengadilan karena metode pengumpulan informasi oleh NSI
yang tidak sesuai dengan undang-undang tentang pengadilan kriminal.
Bahkan apabila dapat memenuhi standar perundang-undanganpun, masih mungkin
menemui persoalan dalam menggunakan informasi untuk tujuan penyelidikan kriminal.

19

Karena dalam proses hukum tertuduh memiliki hak untuk dikonfrontir oleh penuduh.
Praktek ini sulit dilaksanakan karena pengumpul informasi memegang klasifikasi tertentu
yaitu Sangat Rahasia atau Rahasia.
Isu yang lain berhubungan dengan perundang-undangan. Kalau informasi diperoleh dan
dikumpulkan melalui sumber-sumber NSI yang tidak sesuai dengan perundang-undangan
dan hukum, maka semua informasi tersebut harus ditolak.
Ini seperti didasarkan kepada Fruits of the Poisonous Tree Doctrine, yaitu sebuah
kiasan hukum di Amerika Serikat untuk menjelaskan tentang bukti-bukti hukum yang
diperoleh secara tidak sah karena tidak sesuai dengan undang-undang dan ketentuan
hukum. Logika terminologi ini adalah apabila sumber bukti (pohon atau tree) ternoda
maka semua yang dihasilkan dari pohon tersebut juga ternoda (buah atau fruit).8
Doktrin ini dikecualikan bila:
a. Bukti yang didapat merupakan bagian dari bukti yang didapat dari sumber lain
yang didapat secara sah menurut hukum.
b.. Bukti yang cukup telah ditemukan meskipun berasal dari sumber yang cacat
hukum.
c. Rantai sebab akibat antara tindakan yang melanggar hukum dengan bukti yang
tercederai sangat tipis atau kabur.
d. Perintah pencaharian yang tidak didasarkan kepada alasan yang kurang tepat,
dilaksanakan oleh agen-agen pemerintah yang dapat dipercaya.

Ibid hal 17..

20

BAB II.
LATAR BELAKANG PENGEMBANGAN LAW ENFORCEMENT
INTELLIGENCE.
Rumusan dibanyak negara tentang kewenangan intelijen menyatakan bahwa masalah
kebijakan luar negeri atau kebijakan pertahanan negara adalah wilayah intelijen negara
dan militer, sedangkan intelijen penegakan hukum berada dalam urutan berikutnya.
Sebaliknya bila menyangkut masalah keamanan dalam negeri adalah wilayah institusi
penegak hukum.
Di Amerika Serikat berdasarkan kewenangan yang ditetapkan dalam National Security
Act tahun 1947, Executive Order 12333, berbagai keputusan yang dikeluarkan oleh
Direktur Pusat Intelijen (Director of Central Intelligence), serta panduan yang
dikeluarkan oleh Kejaksaan Agung, menetapkan bahwa Federal Bureau of Investigation
(FBI) adalah institusi yang paling depan dalam pengumpulan intelijen dalam negeri.
Ini penting agar semua institusi penegak hukum mulai tingkat pusat dan daerah
memahami perbedaan kewenangan antara FBI dalam kegiatan pengumpulan dan
produksi intelijen dalam negeri, dengan kewenangan Central Intelligence Agency (CIA),
Badan Keamanan Nasional atau National Security Agency (NSA), dan anggota
Komunitas Intelijen lainnya yang melakukan kegiatan intelijen di luar negeri.
Departemen Keamanan Dalam Negeri (the Department of Homeland Security) dapat
menyebarkan intelijen yang dihasilkannya kepada institusi penegak hukum baik pada
tingkat pusat dan daerah maupun yang lebih rendah. Namun sebaliknya institusi intelijen
yang bergerak di luar negeri dilarang bekerjasama dengan institusi penegak hukum dari
negara mitra dalam kegiatan yang dapat dikatagorikan sebagai pengumpulan informasi.
Sebagai akibatnya institusi penegak hukum dalam pengumpulan informasi harus
mengandalkan pada kerjasama dengan FBI. 9
Dalam era Homeland Security terutama setelah peristiwa 11 September, telah muncul
kebutuhan baru dalam upaya penegakan hukum yaitu membangun kemitraan global dan
bekerjasama secara erat dengan institusi penegakan hukum dalam mengatasi kriminalitas
dan terorisme.
Homeland Security sebenarnya bukan sama sekali baru. Kementerian seperti ini sudah
ada di beberapa negara Amerika Latin dan disebut dengan Ministry of Home Affair and
Public Security atau dalam bahasa setempat disebut Ministerio del Interior y Segundad
Publica.
Indonesia pernah memiliki Badan semacam ini yang disebut Badan Koordinasi Stabilitas
Keamanan Nasional atau disingkat Bakorstanas.
Kementerian atau Badan ini yang merumuskan kebijakan nasional menghadapi ancaman
yang dapat mengganggu stabilitas keamanan dalam negeri, yang meliputi mulai dari
ancaman terorisme hingga keadaan yang mengancam stabilitas keamanan dalam negeri
sebagai akibat bencana alam dan akibat perbuatan manusia.
Sebagai contoh adalah keberhasilan pengungkapan pemboman stasion kereta api di
Madrid (11 Maret 2004) dan London (7 Juli 2005) adalah buah kerjasama kemitraan
sehingga para tersangka dapat ditangkap baik yang berada di Kanada, Inggris, dan di
9

. David L.Carter, PhD - Law Enforcement Intelligence - A Guide for State, Local, and Tribal Law
Agencies. Hal 16

21

Amerika Serikat. Kunci keberhasilan ini adalah kerjasama antar institusi penegak hukum
dari berbagai negara, yang telah memungkinkan pengumpulan informasi dari berbagai
sumber.
Di beberapa negara pemisahan ini tidak kaku termasuk di Indonesia yang menganut
sistem yang berbeda karena perbedaan hakekat ancaman, namun setelah berpisahnya
POLRI dari atap ABRI pemisahan fungsi intelijen nampak terasa meskipun tidak kaku.
Militer kini hanya mengurusi ranah militer dalam arti urusan pertahanan sedangkan
POLRI menangani urusan keamanan. Untuk Intelijen negara masih ada keterlibatan
dalam urusan keamanan dalam negeri maupun luar negeri meskipun tidak mengambil
alih fungsi fungsi yang lain..
Undang-Undang Republik Indonesia - Nomor 17 Tahun 2011 tentang Intelijen Negara
membagi ruang lingkup Intelijen Negara sebagai berikut:
a. Intelijen dalam negeri dan luar negeri, diselenggarakan oleh penyelenggara Intelijen
Negara dalam negeri dan luar negeri yaitu Badan Intelijen Negara.
b. Intelijen pertahanan dan / atau militer, diselenggarakan oleh penyelenggara Intelijen
Negara pertahanan dan / atau militer yaitu Intelijen Tentara Nasional Indonesia.
c. Intelijen Kepolisian, diselenggarakan oleh penyelenggara Intelijen Negara dalam
rangka pelaksanaan tugas kepolisian yaitu Intelijen Kepolisian Negara Republik
Indonesia.
d. Intelijen Penegakan Hukum, diselenggarakan oleh penyelenggara Intelijen Negara
dalam rangka penegakan hukum yaitu Intelijen Kejaksaan Republik Indonesia.
e. Intelijen Kementerian / lembaga pemerintah non kementerian, diselenggarakan oleh
penyelenggara Intelijen Negara dalam rangka pelaksanaan tugas kementerian/lembaga
pemerintah non kementerian.
Jenis dan bentuk kejahatan selalu berkembang dari waktu ke waktu seiring dengan
dinamika sosial yang berkembang dalam masyarakat. Pola dan modus kejahatan juga
kian berkembang sebagai dampak kemajuan teknologi. Kompleksitas gangguan
keamanan saat ini tidak lagi bersifat konvensional, namun telah berkembang dalam
bentuk-bentuk kejahatan lintas negara (transnational crimes), seperti pembajakan
(piracy), kejahatan pencucian uang (money laundering), perdagangan gelap narkotika dan
senjata (illicit drugs and arm), perdagangan manusia (trafficking-in persons),
penyelundupan barang (smuggling), kejahatan mayantara (cybercrime), illegal logging,
illegal mining, illegal fishing hingga berkembangnya jaringan terorisme internasional.
Dampak dinamika perkembangan lingkungan strategik dewasa ini, ragam pola dan
bentuk kejahatan terus mengalami perkembangan yang luar biasa. Dalam konteks
Indonesia kondisi ini tentu berimplikasi terhadap meningkatnya beban tugas dan
tanggung jawab POLRI sebagai penyelenggara negara di bidang keamanan dalam negeri
(Kamdagri). Untuk itu, Polri membagi kejahatan ke dalam 4 (empat) golongan / jenis
yaitu:
a. Kejahatan konvensional, seperti kejahatan jalanan, premanisme, banditisme, perjudian
dan lain-lain.
b. Kejahatan transnasional, yaitu terorisme, perdagangan gelap narkotika (illicit drugs
trafficking), perdagangan manusia (trafficking in persons) , pencucian uang (money
laundering), pembajakan dan perompakan bersenjata dilaut (sea piracy and armed

22

robbery at sea), penyelundupan senjata (arms smuggling), kejahatan mayantara (cyber


crime) dan kejahatan ekonomi internasional (international economic crime).
c. Kejahatan terhadap kekayaan negara seperti korupsi, illegal logging, illegal fishing,
illegal mining, penyelundupan barang, penggelapan pajak, penyelundupan BBM
d. Kejahatan yang berimplikasi kontijensi adalah : SARA, separatisme, konflik horizontal
dan vertikal, unjuk rasa anarkis, dan lain-lain
Mengamati dinamika dalam konteks strategis, baik global, maupun regional, atau
domestik, hakekat ancaman yang akan dihadapi Indonesia kedepan dapat berupa
ancaman keamanan tradisional dan ancaman keamanan non-tradisional.
a. Ancaman keamanan tradisional berupa invasi atau agresi militer dari negara lain
terhadap Indonesia, yang diperkirakan kecil kemungkinannya.
b. Ancaman Non Tradisional yang dapat berupa kejahatan terorganisasi lintas negara
yang dilakukan oleh aktor-aktor non negara, dengan memanfaatkan kondisi dalam
negeri. Ancaman ini dapat dalam bentuk terorisme, gerakan separatis, kejahatan
mayantara (cyber crime), kejahatan lintas negara seperti penyelundupan dan pencurian
ikan, pencemaran dan perusakan ekosistem, imigran gelap, pembajakan / perampokan,
aksi radikalisme, konflik komunal, serta dampak becana alam.
Munculnya law enforcement intelligence sebenarnya bukan baru namun makin
mengemuka ketika muncul ancaman baru yang didefinisikan dengan istilah Non
Traditional Security seperti terorisme yang makin canggih baik dalam peralatan, metode,
daya hancur serta makin luas dan beragamnya sasaran.
Bila pada masa lalu kegiatan teroris lebih banyak ditujukan kepada upaya untuk menarik
perhatian dan menunjukan eksistensinya dengan menyebarkan rasa takut, sehingga
korban manusia bukan menjadi tujuan utama. Namun sekarang kegiatan dan sasarannya
sudah semakin luas.
Robert Bunker mengkatagorikan sasaran teroris meliputi :
- Masyarakat umum (general public).
- Instalasi militer dan polisi termasuk institusi lain yang menangani terorisme.
- Infrastruktur termasuk kendaraan.
- Pejabat-pejabat penting (VIP).
- Serta serangan terhadap tempat atau objek yang merupakan simbol (symbolic venue)
Inipun terjadi di Indonesia seperti peristiwa pemboman pada masa yang lalu maupun
rencana sasaran kelompok teroris baru yang menamakan dirinya HASMI ( Harakah
Sunni Untuk Masyarakat Indonesia ) - Solo, pimpinan Abu Hanifah yaitu Kedutaan Besar
Amerika Serikat di Jakarta, Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya, Plaza 89
didepan Kedutaan Besar Australia di Jakarta, Kantor Freeport Indonesia, Markas
Komando Brimob - Sondol, Semarang.
Perubahan ini disebabkan atau didorong oleh beberapa alasan.10
Pertama, teroris meyakini bahwa metode dengan cara menarik perhatian bukan
lagi cara yang efektif. Dalam pikiran teroris masyarakat dan media sudah terbiasa dan
sudah tidak sensitif lagi dengan cara ini, sehingga efek spiral dari tindak kekerasan yang
dahulu efektif sudah tidak akan memiliki dampak yang signifikan lagi.
10

. Ian O.Lesser -Countering The New Terrorism, RAND's Project AIR FORCE. Hal 13.

23

Karena itu kelompok teroris merasa bahwa dampak yang diharapkan akan dapat dicapai
hanya dengan melakukan tindakan kekerasan yang lebih dramatik dengan tingkat
kehancuran yang tinggi.
Kedua, teroris telah belajar dari pengalaman masa lalu dan telah mahir dalam
melakukan pembunuhan. Bukan hanya karena senjata mereka yang makin kecil, lebih
canggih, dan lebih mematikan, tetapi juga akses kelompok teroris untuk memperoleh
senjata telah semakin luas.
Ketiga, kemampuan dan daya rusak kelompok teroris yang makin tinggi
disebabkan oleh adanya dukungan dari negara-negara tertentu terhadap kelompok dan
kegiatan teroris.
Dengan dukungan ini kelompok teroris memiliki sumber daya yang besar sehingga
meningkatkan kemampuan perencanaan, intelijen, logistik, pelatihan, keuangan, serta
kecanggihan.
Keempat, bila sebelumnya kegiatan kelompok teroris lebih dilatar belakangi dan
didorong oleh masalah agama, kini telah muncul pola dan ancaman baru dengan latar
belakang, motivasi, dan taktik yang berbeda.
Hubungan latar belakang agama dengan teroris bukan masalah baru, tetapi dalam dekade
terakhir telah terjadi pertemuan dengan berbagai kegiatan teroris yang dilatar belakangi
oleh masalah etnik, nasionalisme, separatisme, serta ideologi.
Kelima, meningkatnya para amatir yang terlibat dalam aksi terror telah
meningkatkan kemampuan teroris dalam melakukan aksinya baik luas sasaran maupun
daya hancur. Pada masa lalu teroris tidak cukup hanya mempunyai keinginan dan
motivasi, tetapi juga kesiapan dan kemampuan melakukan aksinya, untuk itu diperlukan
persiapan dan latihan yang serius yang biasanya dilakukan di camp - camp, akses untuk
memperoleh senjata, dan pengetahuan operasi..
Sekarang pengetahuan itu baik mengenai metode maupun peralatan dengan mudah dapat
diperoleh baik di toko buku, melalui pesanan kepada penerbit buku, atau melalui CDROM, atau lewat Internet. Belajar dari buku manual untuk membuat bom, teroris amatir
dapat lebih berbahaya dan destruktif dan sulit untuk dilacak dan diantisipasi.
Sebagai contoh dapat dicatat kegiatan kelompok teroris baru di Indonesia yang
menamakan dirinya sebagai HASMI ( Harakah Sunni Untuk Masyarakat Indonesia) Solo, pimpinan Abu Hanifah, telah mampu membuat bom dengan daya ledak tinggi
hanya berdasarkan buku panduan.
Pada bulan Oktober 2012 POLRI telah berhasil menangkap sebanyak 11 orang yang
dicurigai sebagai anggota kelompok HASMI - Solo.
Demikian juga dengan kejahatan lintas negara dan terorganisasi seperti kejahatan
perdagangan, kriminalitas dunia maya (cyber criminal), narkoba (narkotik, psikotropika,
dan obat atau bahan/zat adiktif lainnya), perdagangan manusia (human trafficking).
Untuk konflik dengan intensitas rendah ini peneliti RAND- John Arquilla dan David
Ronfeldt mengusulkan istilah Netwar. Istilah Netwar dikembangkan oleh peneliti RAND
tersebut untuk menjelaskan munculnya konflik dengan intensitas rendah (low intensity
conflict), kriminalitas, dan gerakan yang didorong oleh aktor jaringan sosial.
Tipe aktor Netwar termasuk teroris lintas negara, organisasi kriminal, kelompok penggiat,
dan gerakan sosial yang menggunakan struktur jaringan yang didesentralisasi dan lentur.
Terminologi ini diusulkan untuk memfokuskan khusus pada tebaran struktur organisasi
yang berbasiskan jaringan pada seluruh konflik sosial dengan spektrum intensitas rendah.

24

Alasan lain bahwa istilah yang digunakan pada konflik era teknologi informasi seperti
perang informasi tidak cukup dan fokusnya terlalu sempit hanya pada isu teknologi
sehingga menghilangkan transformasi sosial yang lebih luas yang dihasilkan oleh
kemajuan teknologi.
Ada 3 tipe dasar yang digunakan oleh aktor Netwar:
1.
Chain network (Jaringan rantai)
khususnya
untuk
jaringan
penyelundupan,
dimana
pertukaran ujung ke ujung seperti
informasi,
kontraban
atau
perdagangan gelap, harus berjalan melalui simpul-simpul perantara.
2.
Hub or Star network (Jaringan
Poros atau Bintang) aktoraktor yang berbeda terikat ke
simpul poros meskipun tidak harus bertingkat (hirarhi), dan semua komunikasi harus
melalui simpul pusat
3.
All Channel Network (Jaringan
seluruh alur) setiap aktor bebas
berhubungan
dengan
semua
simpul dalam jaringan.
Law enforcement intelligence dibangun untuk menghasilkan intelijen bagi institusi
penegak hukum yang dapat dijadikan acuan terpercaya bagi pengambil keputusan dan
penentu kebijakan untuk melakukan tindakan operasional, dan mampu memberi ruang
dan waktu untuk tindakan antisipasi sebelum serangan terjadi.
Law Enforcement Intelligence pada dasarnya mempunyai 2 fungsi utama yaitu:
a. Pencegahan(Prevention) dengan meningkatkan dan mengembangkan informasi yang
berhubungan dengan ancaman teroris atau kejahatan lainnya dan menggunakan
informasi tersebut untuk mengambil langkah-langkah pencegahannya.
Secara garis besar ada 2 jenis intelijen yang secara khusus ditujukan untuk tindakan
pencegahan.
1). Intelijen Taktis (Tactical Intelligence)
Adalah intelijen tentang ancaman yang mungkin terjadi dengan segera atau dalam
waktu dekat, yang didiseminasikan kepada jajaran institusi penegak hukum

25

dengan tujuan untuk ditindak lanjuti dan dijadikan dasar dalam mengambil
langkah-langkah pencegahannya dan / atau mengurangi derajat ancaman, rencana
tindakan dan kegiatan.
2). Intelijen Operasi (Operational Intelligence).
Adalah intelijen tentang ancaman yang mungkin terjadi dalam jangka waktu yang
lebih lama yang digunakan untuk mengembangkan dan menyusun upaya
penanggulangannya.
Biasanya, intelijen operasi digunakan untuk persiapan jangka lama dalam
menghadapi kelompok kejahatan (criminal enterprises) yang dicurigai serta
kejahatan multijurisdiksi yang rumit.
b. Untuk penyusunan rencana dan alokasi sumber daya serta menyajikan intelijen tentang
perubahan sifat ancaman, karakteristik serta metodologi ancaman, dan munculnya
keanehan-keanehan dari ancaman, untuk kemudian dijadikan dasar untuk menetapkan
tindakan penanggulangan strategik dan merealokasikan sumber daya sesuai keperluan
agar dapat dilakukan tindakan pencegahan secara efektif.
Ini dikenal dengan istilah intelijen strategik. Intelijen ini disajikan kepada manajemen
institusi penegak hukum dan berisi penilaian dari perubahan ancaman, sebagai dasar
penyusunan rencana dan alokasi sumber daya yang disesuaikan dengan besarnya
tingkat ancaman.
POLRI merumuskan tugas pokok Intelkam - Kepolisian R.I dalam empat kegiatan
sebagai berikut:11
a. Melakukan deteksi terhadap segala perubahan kehidupan sosial dalam masyarakat
serta perkembangannya di bidang ideologi, politik, sosial budaya, pertahanan dan
keamanan untuk dapat menandai kemungkinan adanya aspek-aspek kriminogen,
selanjutnya mangadakan identifikasi hakikat ancaman terhadap Kamtibmas.
b. Menyelenggarakan fungsi intelijen yang diarahkan ke dalam tubuh POLRI sendiri
dengan sasaran pengamanan material, personil dan bahan keterangan serta kegiatan
badan/kesatuan, terhadap kemungkinan adanya tantangan yang bersumber dari luar
maupun dari dalam tubuh POLRI agar POLRI tidak terhalang atau terganggu dalam
melaksanakan tugas pokoknya.
c. Melakukan penggalangan dalam rangka menciptakan kondisi tertentu dalam
masyarakat yang menguntungkan bagi pelaksanaan tugas pokok POLRI.
d. Melakukan pengamanan terhadap sasaran-sasaran tertentu dalam rangka mencegah
kemungkinan adanya pihak-pihak tertentu memperoleh peluang dan dapat
memanfaatkan kelemahan-kelemahan dalam bidang Ipleksosbud Hankam, sebagai
sarana ekploitasi untuk menciptakan suasana pertentangan pasif menjadi aktif,
sehingga menimbulkan ancaman atau gangguan di bidang Kamtibmas
Sesuai dengan tugas pokok tersebut di atas, dirumuskann empat peran yang diemban oleh
Intelkam POLRI yaitu:
a. Melakukan deteksi dini agar mengetahui segala perubahan kehidupan sosial yang
terjadi dalam masyarakat serta perkembangan selanjutnya, mengidetifikasikan
hakekat ancaman yang tengah dan akan dihadapi, kemudian memberikan peringatan
11

. Saronto dan Karwita :Intelijen: Teori, Aplikasi dan Modernisasi (2001). Hal 126-127.

26

b.

c.

dini sebagai bahan dasar serta penentuan arah bagi kabijaksanaan dan pengambilan
keputusan/tindakan oleh pimpinan POLRI.
Melakukan penggalangan terhadap individu sebagai informal leader atau kelompok
masyarakat tertentu yang diketahui sebagai sumber ancaman/gangguan agar minimal
tidak berbuat sesuatu yang merugikan, maksimal berbuat sesuatu yang
menguntungkan bagi pelaksanaan tugas pokok POLRI.
Mengamankan semua kebijaksanaan yang telah dan atau akan digariskan pimpinan
POLRI di pusat maupun di daerah. Untuk kepentingan tugas tersebut, intelijen
bergerak dengan orientasi ke depan, bertujuan agar dapat mengungkapkan motivasi
pelaku serta latar belakang timbulnya gejala dan kecenderungan yg mengarah pada
timbulnya ancaman/gangguan.

Hal yang penting lainnya adalah bagaimana membangun akses informasi yang luas
dengan membangun kerjasama antara institusi penegak hukum, intelijen dan masyarakat.
Menghadapi terorisme, tantangan bagi penegak hukum adalah bagaimana mendapatkan
informasi tentang teroris baik menyangkut lokasi, komposisi, kemampuan, rencana serta
niatnya. Perbedaan besaran, pola, bentuk, sifat ancaman, keamanan konvensional dengan
keamanan non tradisional membawa akibat pada perubahan pendekatan, agar aparat
penegak hukum mampu memperoleh informasi secara lengkap dan menyajikan Law
Enforcement Intelligence tentang terorisme secara utuh, terpercaya dan tepat waktu.
Pada masa lalu kegiatan intelijen lebih dipusatkan pada ancaman militer dari negara lain,
dan masalah terorisme menjadi bagian institusi penegak hukum. Dari pengalaman
menghadapi terorisme ternyata tidak mungkin hanya meletakkan kepada institusi
penegak hukum yang obyek hukumnya orang. Masalah lain tidak tersedianya database
orang perorang yang terpusat sehingga sulit untuk dilakukan pemantauan dan
pengecekan.
Masalah ini memunculkan gagasan bahwa institusi penegak hukum perlu memiliki akses
pada informasi yang diperoleh oleh badan intelijen tentang aktifitas teroris yang potensial
baik di dalam maupun diluar negeri.
Hubungan kegiatan intelijen dan penegakan hukum dalam menghadapi terorisme
memang tidak sederhana, yang disebabkan oleh beberapa hal.
Pertama, jenis informasi yang digunakan dalam pengadilan berbeda dengan
informasi yang dikumpulkan oleh badan intelijen. Informasi yang digunakan dalam
pengadilan umumnya berupa bukti-bukti yang terjadi sebagai akibat perbuatan kriminal.
Sedangkan intelijen umumnya menggunakan informasi awal yang berupa indikasi dan
kecenderungan, yang digunakan untuk tindakan pencegahan sebelum dilakukan tindakan
lanjutan berdasarkan situasi yang berkembang.
Dalam melihat kasus kekerasan bersenjata di Poso pada waktu yang lalu, Badan Intelijen
Negara (BIN) secara tegas mengatakan keterlibatan Jamaah Islamiah (JI) dalam
kerusuhan Poso. Hal ini didasarkan pada hasil temuan bahwa banyak yang terlibat dalam
kerusuhan Poso ditengarai anggota JI. Tetapi institusi penegak hukum, dalam hal ini
POLRI tidak pernah menyatakan keterlibatan JI, karena belum memiliki bukti hukum
yang menguatkan eksistensi dan keterlibatan JI dalam kasus kekerasan bersenjata di
Poso, meskipun diyakini POLRI memiliki informasi tentang aktifitas JI.
Kedua, pola dan metode pengumpulan bahan keterangan berbeda, demikian juga
penanganannya. Informasi untuk kepentingan hukum harus mengalami pengujian

27

sehingga dalam pembuktiannya harus selalu ada pihak yang menentangnya. Jaksa
Penuntut Umum selalu berhadapan dengan Pembela.
Pola badan intelijen dalam melakukan pengumpulan informasi dilakukan dengan agresif
dan aktif, dengan tujuan pencegahan sehingga sesuatu yang tidak diharapkan terjadi bisa
dihindarkan dan dicegah. Sedangkan institusi penegak hukum hanya bereaksi terhadap
informasi yang diberikan secara sukarela. Pencarian informasi dengan paksaan adalah
cacat secara hukum, sehingga aparat hukum selalu bertindak dalam koridor hukum.
Sebaliknya aparat intelijen sering bekerja dalam celah-celah hukum.
Ketiga, untuk saling memberikan informasi antara institusi penegak hukum dan
badan intelijen terbentur pada masalah administrasi dan perundang-undangan, karena
obyek dan subyeknya yang berbeda. Bagi penegak hukum, obyek dan subyek hukumnya
orang, sehingga akan berbahaya bila pola intelijen digunakan untuk pola penegakan
hukum dan sama berbahayanya bila institusi penegak hukum digunakan sebagai
instrumen intelijen terutama sebagai instrumen politik luar negeri.
Keempat, dalam organisasi intelijen terdapat kompartementasi yang ketat
sehingga infomasi yang berhasil dikumpulkan oleh badan pengumpul, kemudian diolah
oleh bagian analisa dan produksi untuk menjadi intelijen, cenderung dirahasiakan untuk
kepentingan keamanan. Penyebaran dilakukan dengan pembatasan yang sangat ketat.
Demikian juga pada badan atau institusi penegak hukum, informasi harus dijaga ketat
untuk kepentingan penuntutan.
Kontroversi sempat muncul di Indonesia ketika dalam penyusunan Rencana UndangUndang Intelijen. Badan Intelijen Negara meminta untuk memasukkan klausul yang
memberi kewenangan kepada BIN untuk menahan dan menginterogasi seseorang yang
dicurigai sebagai teroris selama 4X24 jam. Para pendukung hukum pada umumnya
menolak kewenangan tersebut karena khawatir akan menimbulkan ekses negatif dan
bertendensi menimbulkan abuse of power atau penyalah gunaan kekuasaan, tetapi ada
pula yang memahami kewenangan tersebut yang diperlukan dalam upaya pencegahan.
Itu baru dari sisi terorisme.
Bentuk lain dari non traditional security adalah bentuk kriminalitas yang makin kompleks
seperti bentuk kejahatan perdagangan internasional , kelompok ekstremis, perdagangan
narkoba, serta kejahatan terorganisasi (Criminal Enterprises atau Organized Crime)
FBI mendefinisikan Criminal Enterprises adalah -" As a group of individuals with an
identified hierarchy, or comparable structure, engaged in significant criminal activity.
These organizations often engage in multiple criminal activities and have extensive
supporting networks".
(Adalah sekelompok orang yang memiliki dan ditandai dengan adanya hirarhi yang
jelas, atau struktur yang dapat dibandingkan, yang terlibat dalam kegiatan kriminal
yang signifikan. Organisasi ini sering terlibat dalam berbagai kegiatan krimina dan
memiliki jaringan pendukung yang luas).
Sedangkan Organized Crime adalah - "As any group having some manner of formalized
structure and whose primary objective is to obtain money through illegal activities. Such
groups maintain their position through the use of actual or threatened violence, corrupt
public officials, graft, or extortion, and generally have significant impact on the people
in their locales, region, or country as a whole".
(Kelompok yang ditandai dengan sifat struktur yang diformalkan dengan tujuan
utamanya adalah memperoleh uang melalui kegiatan yang illegal. Kelompok-kelompok

28

seperti ini mempertahankan keberadannya melalui ancaman dan tindakan kekerasan,


pejabat publik yang korup, penyogokan, atau pemerasan, dan umumnya menimbulkan
dampak yang signifikan terhadap orang-orang dilokasi kejadian, diwilayah, atau
diseluruh negara).
Namun dalam penggunaannya kedua terminologi tersebut sering diartikan sama.
Kebijakan narkoba merupakan wilayah yang tidak mudah ditangani. Tujuan utama adalah
mencegah penggunaan narkoba oleh orang perorang yang dianggap menimbulkan
kecanduan dan membahayakan. Hampir setiap orang yang pernah bekerja dan
berhubungan dengan masalah kebijakan tentang narkoba selalu dihadapkan kepada
anggapan bahwa masalah narkoba merupakan masalah domestik, bukan isu yang
menyangkut kebijakan yang bersifat internasional. Juga dihadapkan kepada fakta-fakta
bahwa seseorang menggunakan narkoba karena berbagai alasan, sehingga upaya
pencegahan merupakan persoalan yang tidak mudah.
Namun untuk alasan politis dan alasan praktis, narkoba telah diangkat menjadi isu yang
menyangkut kebijakan internasional.
Seperti Indonesia saat ini bukan lagi menjadi lintasan perdagangan narkoba namun telah
menjadi negara tujuan, sehingga perlu ada upaya-upaya internasional untuk mencegah
narkoba masuk ke Indonesia dan upaya-upaya untuk menurunkan produksi di wilayah
wilayah tertentu di dunia yang ditengarai sebagai produsen narkoba.
Komunitas intelijen harus dapat diberdayakan untuk kegiatan pengumpulan dan analisis
intelijen yang berhubungan dengan perdagangan gelap narkoba.
Daerah-daerah produsen bahan narkoba dalam jumlah besar yang telah dikenal adalah
Wilayah Andean di Amerika Selatan sebagai penghasil coca. Popies sebagai bahan dasar
heroin ditanam di Afganistan dan Myanmar.
Kerjasama intelijen dapat dilakukan dalam upaya pengumpulan bahan keterangan,
menganalisis dan memproduksinya menjadi intelijen. Persoalan yang dihadapi adalah
bagaimana intelijen dapat diubah menjadi kebijakan yang berhasil.
Upaya untuk memberantas tanaman bahan narkoba dan diganti oleh tanaman ekonomis
pengganti akan berhadapan dengan kepentingan petani candu. Tanaman candu dapat
menghasilkan uang yang lebih banyak dibandingkan dengan tanaman pangan yang lain.
Dalam jumlah yang sedikit dapat menghasilkan uang yang banyak, mudah dibawa dan
dikapalkan sehingga secara ekonomis bisnis narkoba sangat menggiurkan. Keuntungan
ekonomis yang besar ini yang menyulitkan untuk memberantas narkoba di tempat
asalnya. Upaya yang dilakukan banyak negara adalah domestic answer yaitu melalui
upaya yang intensif didalam negeri untuk menekan penggunaannya.
Pada tahun 1997 Indonesia telah meratifikasi United Nation Convention Against Illicit
Traffic in Narcotic Drugs And Psychotropic Substances, dengan Undang Undang Nomor
- 7 Tahun 1997 tentang Pemberantasan Peredaran Gelap Narkotika dan Psikotropika.
Pasal 3 Ayat 6 dari Undang Undang tersebut mengisyaratkan pengenaan hukuman
maksimum terhadap pelanggaran narkotika.
Indonesia secara konsisten telah menerapkan hukuman maksimum yaitu hukuman mati
terhadap sejumlah gembong pengedar narkotika meskipun diprotes oleh beberapa negara
terutama negara yang warga negaranya dijatuhi hukuman mati.

29

Dalam bidang ekonomi dapat dibagi kedalam beberapa isu seperti persaingan ekonomi
yang melahirhan upaya upaya untuk meningkatkan daya saing ekonomi melalui
kegiatan-kegiatan intelijen, hubungan perdagangan luar negeri, kegiatan mata-mata asing
dalam bidang ekonomi industri, serta langkah-langkah pencegahannya, serta kegiatan
intelijen untuk meramalkan pergeseran dalam hubungan ekonomi yang dapat
mempengaruhi kepentingan ekonomi nasional negara-negara yang berkepentingan.
Sebagai contoh adalah program National Security Agency (NSA) Amerika Serikat yang
diberi code ECHELON yang melakukan pengumpulan informasi tentang ekonomi dan
perdagangan negara lain dengan memanfaatkan teknologi signal yang disebut SIGINT
(Signal Intelligence). Beberapa negara Eropa menuduh Amerika Serikat telah
memanfaatkan program ECHELON untuk mencuri rahasia teknologi canggih dari
beberapa negara Eropa, dan kemudian diberikan kepada beberapa perusahaan Amerika
Serikat untuk meningkatkan daya saing produksinya.
Kegiatan NSA yang menyangkut Indonesia adalah ketika NSA melakukan penyadapan
pembicaraan telepon antara pejabat Indonesia dengan pejabat perusahaan Jepang NEC
Corporation pada tahun 1990. Dari hasil penyadapan tersebut terindikasi bahwa
Indonesia akan memberikan proyek tersebut kepada NEC, padahal perusahaan Amerika
Serikat AT&T Corporation juga mengikuti tender untuk proyek yang sama. Dari hasil
penyadapan tersebut Amerika Serikat mengintervensi untuk memenangkan proyek
terebut. Pemerintah Indonesia akhirnya membagi proyek senilai 200 juta dollar AS antara
NEC Corporation dengan AT&T Corporation.
Kegiatan intelijen Australia di Indonesia dikenal dengan program STATEROOM, yang
dioperasikan oleh Australian Defence Signal Bureau, yang sekarang menjadi Defence
Signals Directorate.
STATEROOM adalah nama sandi program penyadapan sinyal radio, telekomunikasi, dan
lalu lintas internet yang digelar oleh Amerika Serikat dan para mitranya yang tergabung
dalam jaringan "Lima Mata" atau "Five Eyes" yakni Inggris, Australia, Kanada, dan
Selandia Baru.
Demikian juga kegiatan intelijen ekonomi negara lain di Amerika Serikat seperti yang
dituduhkan oleh penegak hukum Amerika Serikat terhadap Republik Rakyat China.
Pada bulan Februari 2012 lima orang dan lima perusahaan dituduh telah melakukan
kegiatan intelijen ekonomi untuk kepentingan Republik Rakyat China.dalam pencurian
informasi tentang produksi Titanium dioksida (titanium dioxide). Titanium dioksida
dikembangkan oleh perusahaan Du Pont yang berbasis di Wilmington, Daleware.
Cyber Criminal atau kriminalitas dalam dunia maya juga sudah berkembang demikian
canggih sehingga diperlukan upaya - upaya pencegahan, perlindungan informasi serta
upaya pemberantasannya. Upaya ini bukan merupakan upaya yang sederhana karena
selain menyangkut penggunaan teknologi canggih diperlukan pula kerjasama intelijen
secara internasional.
Sebagai contoh kejahatan siber / dunia maya di Indonesia adalah Sindikat Nigeria yang
berhasil diringkus POLRI pada bulan Oktober 2013, yang membajak surat elektronik atau
e - mail terkait transaksi bisnis perusahaan di Indonesia yaitu PT Citra Logam Alpha
Sejahtera (CLAS) dan perusahaan di Belgia yaitu Metallo Chimique.
Sindikat ini berhasil meraup 4 milyar rupiah dengan cara meng- intercept e-mail
perusahaan Metallo Chimique dan memberitahukan bahwa pembayaran kepada PT CLAS

30

agar dilakukan melalui Bank Mandiri.. Pihak Metallo Chimique meyakini bahwa
pengirim e-mail tersebut adalah pihak CLAS.
Demikian juga Sindikat Kejahatan Siber dari Kelompok warga negara China dan Taiwan
yang beroperasi dari Jakarta berhasil digulung oleh Polda Metro Jaya pada bulan Mei
2015. Sasaran kelompok ini adalah warga negara China dan Taiwan
Sasaran kejahatan dunia maya bukan hanya bidang ekonomi tetapi juga berkembang
kepada bisnis informasi yang menyangkut keamanan nasional seperti informasi senjata
dan kesenjataan termasuk senjata pemusnah massal.
Salah satu contoh kejahatan dunia maya dalam bidang ekonomi adalah jual beli informasi
kartu kredit. Pada bulan Juni 2012 Amerika Serikat melalui FBI melancarkan operasi
dengan kerjasama internasional yang disebut "Operation Card Shop".
Operasi ini untuk memburu pelaku kriminal terorganisasi yang biasa menjual informasiinformasi curian dari berbagai kartu kredit, menguras kartu kredit, memalsukan
dokumen, dengan menggunakan peralatan canggih guna membajak informasi-informasi
tersebut.
Operasi ini melibatkan agen penegak hukum di Inggris, Australia, Bosnia, Bulgaria,
Denmark, Kanada, Perancis, Jerman, Italia,Jepang, Macedonia, dan Norwegia. Operasi
ini berhasil menangkap 24 orang. Operasi ini ditaksir telah berhasil menyelamatkan lebih
dari 2 trlliun rupiah atau 205 juta dollar AS lebih.
Kini telah berkembang pula peretasan rekening nasabah melalui transaksi online. Bila
versi virus sebelumnya baru pada tahap mencuri data untuk masuk (log on) ke situs
transaksi perbankan, varian virus perangkat lunak terbaru dengan nama Zeus dan SpyEye
dapat secara otomatis memerintahkan transfer berkala dana dari rekening nasabah ke
rekening yang dikuasai oleh kelompok peretas tadi. Kasus ini telah merugikan nasabah di
Eropa, Amerika Latin, dan Amerika Serikat.
Alasan lain perlunya pengembangan law enforcement intelligence adalah evolusi sosial
yang terjadi pada masyarakat terutama di Amerika Serikat akibat gerakan hak-hak sipil.
Polisi tidak lagi dapat mengandalkan informasi yang dimilikinya hanya berdasarkan
kecurigaan.
Pada masa lalu Polisi Amerika Serikat menyimpan file perorangan yang disebut dossier
system hanya berdasarkan dugaan dan kecurigaan tanpa bukti keterlibatan dalam
perbuatan kriminal atau hanya karena diduga anti Amerika.
Sebagai akibatnya banyak kasus masyarakat yang mengadukan polisi ke pengadilan, dan
hak ini dilindungi oleh Undang-Undang.
Adanya jaminan dan perlindungan hak azasi manusia yang merupakan hak kodrati setiap
individu, dan dalam sistem hukum Amerika Serikat tidak memungkinkan adanya
ketentuan-ketentuan dan tindakan-tindakan yang menyebabkan dehumanisasi.
Dibanyak negara, misalnya di Kroasia dan Belanda warga negara diberi akses untuk
meminta data diri mereka yang disimpan badan intelijen melalui lembaga terkait,
terutama dengan lembaga yang mengawasi badan intelijen.
Mereka dapat mengoreksi ketidak akuratan data diri mereka yang dimiliki oleh badan
intelijen.12
Pada tahun 1960-an dan 1970-an di Amerika Serikat pernah dihebohkan dengan adanya
tuduhan kepada FBI dan Badan Investigasi Kriminal lainnya yang telah melakukan
pelanggaran hukum terhadap kelompok politik yang tidak melakukan tindakan kriminal.
12

. Mudzakir Intelijen dan HAM, Harian Kompas 28 Maret 2011

31

Buntut dari tuduhan ini berujung kepada penyelidikan oleh Komite Senat yang dipimpin
oleh Frank Church yang kemudian dikenal dengan sebutan Komite Church.
Komite Church berhasil menemukan bukti pelanggaran oleh FBI yaitu:
Pertama, FBI di Markas Besarnya telah menyimpan file dalam jumlah yang sangat
banyak tentang detail kegiatan politik perorangan.
Kedua, FBI telah melakukan penyelidikan terhadap kelompok-kelompok politik didalam
negeri.
Ketiga, melakukan infiltrasi terhadap kelompok tersebut dan melakukan pengamatan
terhadap afiliasi politik perorangan maupun kelompok, yang tidak ada hubungannya
dengan perbuatan kriminal.
Hasil penyelidikan Senat ini berujung kepada reformasi yang sangat signifikan hampir
selama 7 tahun sejak dengar pendapat dengan Komite Church, diantaranya peraturan
yang dikeluarkan oleh Kejaksaan Agung yang dinamakan :The Attorney General's
Guidelines on General Crimes, Racketeering Enterprise and Domestic Security /
Terrorism Investigations.
Inti dari Guidelines ini adalah menyeimbangkan antara kebutuhan penyelidikan dalam
rangka penegakan hukum dalam menghadapi kejahatan yang makin canggih dengan
perlindungan terhadap hak-hak individu.
Gejala inipun sudah muncul di Indonesia. Menurut Ketua Komisi Nasional Hak Asasi
Manusia, sepanjang tahun 2014 periode Januari hingga November Kepolisian Negara
Republik Indonesia menjadi Lembaga yang paling sering diadukan masyarakat ke
KOMNAS HAM dengan 2200 berkas, meningkat dibanding tahun 2013 dengan 1845
berkas..
Sifat kegiatan, operasi dan isu-isu intelijen, serta alasan yang mendasarinya telah
menimbulkan perdebatan luas menyangkut masalah etika dan moral intelijen, yaitu
apakah tujuan menghalalkan segala cara sebagai alat untuk mencapai tujuan.
Kalau demikian kegiatan intelijen tidak boleh dilakukan diluar bingkai hukum dan
tuntutan ini mengharuskan intelijen melakukan adaptasi nilai moral dan etika intelijen.
Isu-isu yang sering bertabrakan dengan masalah etika dan moral adalah kegiatan yang
berhubungan dengan pengumpulan data dan bahan keterangan dan kegiatan atau operasi
rahasia.
Kegiatan dan operasi rahasia sering dianggap menimbulkan konflik dengan cita-cita
kemanusiaan dan keyakinan pribadi perorangan, sehingga selain memunculkan
pertanyaan tentang etika dan moral intelijen, juga tuntutan perlunya pengawasan terhadap
intelijen.
Organisasi intelijen Inggris seperti MI5 diberi wewenang melakukan pengintaian
langsung, intrusif, dan melakukan penyadapan komunikasi terhadap orang-orang yang
dicurigai dan diduga melakukan kegiatan yang melanggar hukum.
Demikian juga badan intelijen yang mengurusi masalah intelijen dalam negeri seperti
Australian Security Intelligence Organisation (ASIO) diberi wewenang melakukan
penyadapan komunikasi, menggunakan pelacak dan pendengar, mengakses komputer,
memeriksa surat-surat, dan melakukan interogasi terhadap seseorang yang dianggap atau
terkait terorisme.

32

BAB II1.
KONSEP INTELLIGENCE LED POLICING.

33

Intelijen merupakan hal yang sangat penting untuk menetapkan sebuah keputusan,
perencanaan, penentuan sasaran strategik, serta pencegahan kejahatan.
Institusi penegak hukum dalam semua tingkat tidak akan dapat melaksanakan tugas dan
fungsinya dengan efektif tanpa didukung oleh operasi intelijen melalui pengumpulan
bahan keterangan, pengolahan serta penggunaan intelijen secara tepat.
Sebagai jawaban terhadap perkembangan yang terjadi insttitusi penegak hukum di
Inggris, Amerika Serikat, Australia serta beberapa negara lainnya telah mengembangkan
strategi baru yang disebut Intelligence Led - Policing (ILP) dalam upaya menggabungkan
pemolisian masyarakat (community policing) dengan upaya pencegahan dan
pemberantasan kejahatan baru.
Intelligence-Led Policing atau dikenal juga dengan istilah Intelligence-Driven Policing
muncul sebagai strategi pemolisian baru sejak tahun 1990-an.
Strategi pemolisian ini muncul ditengah meningkatnya tindak kejahatan di Inggris pada
akhir tahun 1980-an dan awal tahun 1990-an serta tuntutan agar polisi dapat bertindak
lebih efektif dan efisien dalam penggunaan anggaran.
Selain tuntutan tersebut munculnya strategi pemolisian baru ini didorong pula baik oleh
faktor eksternal maupun faktor internal.13
Faktor eksternal adalah ketidak mampuan pemolisian tradisional sebagai
pemolisian model reaktif (reactive model) mengatasi perubahan yang cepat akibat
globalisasi yang telah meningkatkan peluang kejahatan lintas negara yang terorganisasi
melewati batas-batas domain kepolisian baik fisik maupun teknologi.
Faktor internal polisi mengakui bahwa telah terjadi hubungan yang dinamik
antara industri yang bergerak dibidang keamanan dengan polisi.
Hubungan dinamik ini seolah-olah polisi telah kehilangan palagan tradisionalnya seperti
pengamanan ruang-ruang tertentu serta polisi seolah-olah telah kehilangan kepercayaan
publik.
.
Intelligence Led Policing (ILP) dipandang sebagai alat untuk pertukaran intelijen yang
akan memperkuat kemampuan institusi penegak hukum dalam mengindentifikasi
ancaman dan mempersiapkan langkah yang diperlukan untuk mencegah terjadinya
ancaman tersebut.
Jadi tujuan utama Intelligence Led Policing adalah memberi informasi yang diperlukan
oleh pengambil keputusan yang bertanggung jawab terhadap keamanan dan keselamatan
jiwa dan properti masyarakat
Intelligence Led Policing (ILP) adalah sebuah model dan pendekatan baru penegak
hukum yang menekankan kepada risk assessment dan risk management.
Risk Assessment dan Risk Management adalah antisipasi, pemahaman dan penilaian
terhadap sebuah resiko dan tindakan awal untuk menghilangkan resiko atau mengurangi
kemungkinan munculnya kerugian hingga pada tingkat yang bisa diterima.14
Dengan kata lain Risk Assessment dan Risk Management adalah proses pengelolaan
resiko yang meliputi identifikasi, evaluasi dan pengendalian resiko yang mungkin
dihadapi.

13

. Jerry Ratcliffe - Intelligence-Led Policing , Australian Institute of Criminology, April 2003. Hal2.
. LCKI - Memahami Pencegahan Kejahatan, 2010. Hal 76.

14

34

Dilihat dari sisi keuntungan dan kerugian dikenal dua jenis resiko yaitu:
- Resiko spekulatif atau speculative risk adalah resiko yang berkaitan dengan dua
kemungkinan, yaitu peluang mengalami kerugian finansial atau memperoleh
keuntungan. Contohnya adalah investasi.
- Resiko murni atau pure risk adalah ketidakpastian terjadinya suatu kerugian atau
dengan kata lain hanya ada satu peluang yaitu merugi dan bukan peluang keuntungan.
Resiko murni adalah suatu resiko yang apabila terjadi akan menimbulkan kerugian dan
apabila tidak terjadi tidak menimbulkan kerugian namun juga tidak menimbulkan
keuntungan. Contoh adalah tindak kejahatan, bencana alam atau kebakaran.
Dalam hal ini semua yang dapat dilakukan adalah tindakan untuk menghilangkan
atau meminimalisir kemungkinan bagi munculnya kerugian.
Namun demikian dalam pendekatan sistem manajemen resiko, langkah-langkah yang
dilakukan untuk menangani resiko kejahatan murni dapat mengurangi kemungkinan
munculnya kerugian dan dapat juga menciptakan kemungkinan munculnya keuntungan.
Sebagai ilustrasi digambarkan dalam contoh sebagai berikut:
Sebuah toko sepatu di New Yersey telah memasang CCTV sebagai langkah
pencegahan terhadap pengutilan. Hasilnya sungguh mengejutkan pemilik toko,
karena setelah pemasangan CCTV tersebut banyak pembeli yang datang dan
banyak pula transaksi pembelian yang terjadi. Dari hasil wawancara dengan
pembeli dan hasilnya meyakinkan pemilik toko bahwa kamera CCTV tersebut selain
membuat para pengutil takut tetapi juga telah membuat para pembeli merasa lebih
aman dari tindakan para pencopet atau tindak kriminal lainnya.
Dari ilustrasi ini dapat disimpulkan bahwa keuntungan yang dperoleh dari langkah
pengamanan tersebut lebih berupa faktor kebetulan. 15
Intelligence Led-Policing baik istilah maupun model pemolisian baru ini pertama kali
berkembang di Inggris.
Kepolisian Wilayah Kent Inggris mengembangkan konsep pemolisian baru untuk
menjawab meningkatnya kejahatan terhadap harta milik masyarakat, disaat polisi
dihadapkan kepada pemangkasan anggaran serta rasio jumlah penegak hukum yang kecil
dibandingkan besarnya tindak kejahatan.
Kondisi ini telah mendorong para pejabat kepolisian khususnya di Kent berpikir bahwa
polisi harus mampu memberi efek yang terbaik bagi ketertiban masyarakat dengan
memusatkan perhatian kepada tindak kejahatan yang paling besar di wilayah kerjanya
serta penggunaan anggaran yang lebih efisien...
Model pemolisian ini semula disebut dengan istilah The Kent Policing Model, yang
menekankan kepada pemilihan prioritas tindakan kepolisian. Polisi akan menangani
kejahatan yang benar-benar serius, sedangkan yang dianggap ringan akan diserahkan
kepada institusi penegak hukum yang lain.
Dengan demikian polisi memiliki waktu yang cukup bagi unit intelijen untuk
memusatkan perhatiannya kepada kejahatan terhadap harta milik masyarakat. Inggris
mempunyai pengalaman yang lebih lama dalam mengembangkan intelijen penegakan
hukum, sehingga Inggris memiliki sistem yang lebih canggih dibandingkan Amerika
Serikat.
15

. Ibid. Hal 77.

35

Semua institusi kepolisian pada tingkat provinsi di Inggris memiliki unit-unit intelijen
penegakan hukum yang berurusan dengan kejahatan terorganisir, narkotika, dan bentukbentuk kejahatan yang unik yang terjadi di wilayah jurisdiksinya.
Sebagai contoh, banyak institusi kepolisian di Inggris mempunyai unit intelijen sepak
bola (Football Intelligence Unit) yang berurusan dengan kerusuhan kerusuhan sepak
bola atau hooliganisme.
Pada tahun 1980-an untuk tingkat nasional telah dibentuk Unit Intelijen Nasional Urusan
Narkotik (National Drugs Intelligence Unit) karena makin meningkatnya perdagangan
narkotik lintas negara demikian juga dengan kejahatan pencucian uang lintas negara.
Pada tahun 1992 unit intelijen ini diperluas dan namanya menjadi National Criminal
Intelligence Service (NCIS) yang berurusan dengan semua bentuk kejahatan terorganisasi
(organized crime).
Pembentukan badan intelijen ini juga didorong oleh perubahan kondisi politik yang
berhubungan dengan Uni Eropa, diantaranya karena penghapusan pos pos pemeriksaan
imigrasi dan bea cukai untuk lalu lintas orang diantara negara-negara anggota Uni Eropa.
Intelligence Led-Policing memusatkan perhatiannya kepada kegiatan kunci tindak
kejahatan.
Ketika persoalan tindak kejahatan telah teridentifikasi dan dimatangkan melalui kajian
dan analisis intelijen, kunci tindak kejahatan dapat ditetapkan untuk ditindak lanjuti
dengan kegiatan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan.
Meskipun belum ada pemahaman yang universal tentang apa intelligence led policing,
bahkan sebagian pemikir mengatakan istilah ILP itu sendiri sudah menjelaskan artinya
(the term speaks for itself).
Namun demikian dapat diartikan ILP mengandung pemahaman pengendalian tindak
kejahatan yang bersifat strategis, berorientasi kedepan, memfokuskan kepada
pengidentifikasian, analisis dan manajemen problem dan resiko yang dihadapi maupun
yang sedang berkembang.
United Kingdom National Intelligence Model untuk keperluan pengkajian tentang proses
pengurangan tindak kejahatan (crime reduction) melalui ILP, mendefinisikan ILP sebagai
berikut: " Intelligence-led policing is application of criminal intelligence analysis as an
objective decision making tool in order to facilitate and prevention through effective
policing strategies and external partnership drawn from an evidential base".
(Intelligence-led policing adalah aplikasi dari analisis intelijen kriminal sebagai dasar
untuk menetapkan kebijakan yang objektif dalam memperlancar upaya pengurangan
tindak kejahatan:serta upaya pencegahannya melalui strategi pemolisian yang efektif
dan kemitraan dengan institusi diluar kepolisian yang didasarkan kepada bukti-bukti).
Untuk definisi ini Pawson dan Tilley (1997) menegaskan bahwa penting untuk
menjelaskan bagaimana "mekanisme" untuk setiap upaya pengurangan tindak kejahatn
serta upaya pencegahan dapat berjalan.
Gambar dibawah ini menunjukkan sebuah model untuk proses upaya pengurangan
tindakan kejahatan dan upaya pencegahan menurut Pawson dan Tilley.
Gambar : Intelligence-led policing dan proses pengurangan kejahatan.

36

Lingkungan kejahatan (Criminal environment)


Model ini mengasumsikan bahwa lingkungan kejahatan ( criminal environment) adalah
gambaran yang permanen atau tetap dari lingkungan operasional kepolisian. Meskipun
lingkungan kejahatan adalah sesuatu yang dinamis dan cair, selalu berubah dalam bentuk,
komposisi dan besaran, tetapi tetap sebuah keniscayaan bahwa lingkungan kejahatan
adalah sesuatu yang harus dipahami oleh polisi agar tindakan dan operasi kepolisian
dapat dilakukan secara efektif.
Untuk tingkatan pemolisian yang berbeda, lingkungan kejahatan yang harus dipelajari
juga berbeda.
Sebagai contoh, lingkungan kejahatan pada tingkat POLSEK akan berbeda bila
dibandingkan misalkan dengan Unit strategis pemberantasan narkoba pada tingkat
nasional. Namun demikian tetap memiliki prinsip-prinsip yang sama, meskipun terdapat
perbedaan yang penting dalam memahami tipe lingkungan kejahatan. Setiap tingkatan
akan dihadapkan kepada lingkungan kejahatan yang dinamis, memiliki keanggotaan dan
struktur yang berbeda, yang diharapkan dapat dipengaruhi dan dirubah oleh strategi yang
dijalankan oleh polisi.
Intelijen.
Intelijen dapat didefinisikan sebagai - "a value-added product, derived from the
collection and processing of all relevant information relating to clint needs, which is
immediately or potentially significant to clint decision-making".
(produk nilai tambah yang dihasilkan dari pengumpulan dan pengolahan bahan
keterangan yang sesuai dengan kebutuhan pengguna, dan penting bagi pengguna untuk
menentukan sebuah kebijakan atau keputusan)..
Dalam pandangan yang lebih luas pengertian intelijen sejalan dengan pandangan yang
menyatakan intelijen dapat dilihat sebagai organisasi, proses, dan sebuah produk.
Dalam jajaran kepolisian unit intelijen dalam pandangan internal dilihat sebagai sebuah
organisasi yang diawaki oleh manusia, yang memiliki kecakapan, metoda serta struktur
organisasi.

37

Intelijen juga merupakan sebuah proses dari siklus yang berlanjut mulai penerimaan
tugas, pengumpulan data dan bahan keterangan, pemilahan dan pembandingan
(collation), analisis, penyebaran dan umpan balik. Proses atau siklus yang berlanjut ini
dimaksudkan untuk menjaga kemutakhiran produk, yang fungsinya dirancang untuk
"membentuk" jalan pikiran pembuat keputusan.
Karena itu intelijen seperti terlihat dari gambar model diatas memerlukan sebuah struktur
organisasi yang dapat bekerja secara efektif baik dalam menginterpretasikan lingkungan
kejahatan dan menyebarkan produk yang dapat membentuk pikiran pembuat keputusan.
Dan sudah pasti intelijen sebagai pengarah (intelligence-led)) yang merupakan tahap
pertama dari model ini harus dapat menafsirkan (interpret) lingkungan kejahatan.
Ini dilakukan oleh satuan atau unit-unit intelijen, yang mengandalkan kepada berbagai
sumber informasi baik dari dalam kepolisian sendiri maupun diluar institusi kepolisian.
Informasi atau bahan keterangan yang diperoleh oleh unit-unit intelijen tentang
lingkungan kejahatan setelah diolah diteruskan dalam bentuk intelijen lingkungan
kejahatan kepada pihak-pihak yang dapat memberi dampak positif (impact) kepada
lingkungan kejahatan (tangga kedua dari model)
Jadi tahap ini seperti telah dijelaskan memerlukan struktur intelijen yang mampu
mengidentifikasi dan mempengaruhi (influence) pembuat keputusan (decision makers).
Perlu dicatat bahwa keperluan ini menyangkut kemampuan mengidentifikasi pembuat
keputusan, juga mempengaruhi pikiran mereka tentang tipe strategi pengurangan
kejahatan yang akan dilaksanakannya.
Terakhir model ini membutuhkan seorang pengambil keputusan yang mempunyai
semangat serta kecakapan untuk mencari dan menemukan cara untuk mengurangi
kejahatan dan mempunyai dampak yang positif (positive impact) terhadap lingkungan
kejahatan. Tidak jarang seorang Pemimpin sebagai pembuat keputusan dihadapkan
kepada berbagai tekanan. Sebagai contoh seorang Komandan menerima intelijen tentang
sebuah kelompok yang diduga akan melakukan tindakan kejahatan. Tetapi polisi
dihadapkan pula kepada kemungkinan reaksi balik dari kelompok tersebut, tekanan dari
media atau dihadapkan kepada keterbatasan anggaran.
Menginterpretasikan lingkungan kejahatan ( Criminal environment)
Seberapa jauh sistem, manusia, perangkat analisis serta pemahaman bersama dapat
melakukan interpretasi sebuah lingkungan kejahatan.
Sebuah sistem yang effektif membutuhkan investasi dalam bentuk manusia, perangkat
serta sistemnya. Selain itu diperlukan juga pemahaman dari fungsi serta keterbatasan
yang dimiliki oleh sistem intelijen.
Ini terjadi terutama pada kasus dengan cara polisi yang lebih menekankan kepda pelaku
kejahatan ( criminal) dan bukan kepada perbuatan melakukan kejahatan (crime)
Harapan yang tidak realistik juga dapat menurunkan semangat dalam melakukan operasi
yang dilakukan berdasarkan intelijen (intelligence-led operation).
Sebagai contoh bila hasil analisis intelijen tidak mampu meramalkan sebuah kejahatan
kapan akan terjadi baik hari dan jamnya serta dimana kejahatan tersebut akan dilakukan.
Ini terjadi karena awak intelijen tidak memahami tentang intelligence-led policing.
Dalam tingkat yang lebih strategik juga diperlukan kemampuan staf untuk melakukan
pertukaran intelijen dengan badan diluar organisasinya.

38

Pembuat keputusan (The decisions-makers)


Semua pemimpin organisasi kepolisian pada semua tingkat baik tingkat pusat dan daerah
serta pemimpin lapangan memiliki kemampuan untuk mempengaruhi lingkungan
kejahatan.
Komandan sebagai pemimpin mengendalikan semua sumber daya, namun bagi pemimpin
yang baru biasanya lebih banyak menghabiskan waktunya dilapangan. Penetapan sasaran
yang tepat dari kegiatan polisi ke daerah -"hot spots" - dan "hot times" kejahatan,
memiliki andil yang sangat penting terhadap tehnik pengurangan kejahatan (Sherman et
al.1998), namun ini memerlukan intelijen yang tepat (dalam contoh ini adalah "hot-spots"
dan "hot times") yang dapat sampai kepada pemimpin dan dapat meyakinkan pemimpin
sehingga pemimpin sebagai pembuat keputusan memahami secara benar intelijen yang
disampaikan dan menanggapi interlijen tersebut dengan tepat.
Mempengaruhi pembuat keputusan (Influencing the decision-makers)
Diseminasi atau penyebaran adalah sebuah metoda untuk menyampaikan intelijen kepada
pengguna intelijen, namun menyampaikan intelijen yang menarik perhatian pengguna
intelijen adalah sebuah seni.
Berangkali merupakan hal yang tidak mungkin untuk menghitung berapa banyak
kegagalan organisasi intelijen yang gagal karena ketidak mampuannya "menjual"
produknya, atau kegagalan pengguna sebagai pengambil keputusan untuk memahami
nilai intelijen yang diterimanya.
Intelijen juga harus "bersaing" dengan tekanan yang dialami oleh seorang pembuat
keputusan.
Sebagai contoh seorang Kepala Resor Kepolisian menerima intelijen dari Satuan Intelijen
Keamanan yang merekomendasikan target operasi sebuah kelompok kejahatan tertentu,
mungkin terkendala oleh sifat ketertutupan organisasi tersebut atau oleh tuntutan yang
lain, misal reaksi balik dari kelompok tersebut, tekanan media, atau keterbatasan
anggaran. Bahkan intelijen yang baikpun harus bersaing dalam mempengaruhi pembuat
keputusan.
Dampak terhadap lingkungan kejahatan ( Impacting on criminal environment)
Seluruh proses akan mempunyai nilai yang tidak berarti apabila pada tahap terakhir,
pembuat keputusan, misalkan Kepala Polisi pada tingkat apapun tidak mampu
mempengaruhi lingkungan kejahatan yang berdampak pada pengurangan kejahatan.
Ada keterbatasan kemampuan polisi yang signifikan untuk merubah angka kejahatan,
namun ini tidak berarti polisi tidak dapat mencapai penurunan angka kejahatan, dan polisi
tidak dapat mencapai efesiensi secara maksimum.
Telah terbukti bahwa beberapa jenis pemolisian yang difokuskan kepada segi taktik telah
memberi manfaat untuk mencegah kejahatan, termasuk peningkatan patroli yang
diarahkan terhadap kejahatan jalanan serta penangkapan yang proaktif terhadap penjahat
kambuhan (residivis).
Namun ada kecenderungan bahwa apa yang oleh polisi dianggap berhasil, dibayangi oleh
skema dan tuntutan masyarakat yang meragukan bukti keberhasialan polisi dalam
menurunkan angka kejahatan.
BJA (Bureau of Justice Assistance) dalam dokumennya secara umum mendefinisikan ILP
adalah a collaborative law enforcement approach combining problem solving

39

policing, information sharing and police accountability, with enhanced intelligence


operation.
(pendekatan kolaboratif penegakan hukum yang menggabungkan pemecahan masalah
pemolisian, pertukaran informasi dan tanggung jawab polisi, dengan meningkatkan
operasi intelijen).
Dalam definisi yang lebih khusus BJA mendefinisikan ILP adalah executive
implementation of intelligence cycle to support proactive decision making for resource
allocation and crime prevention. In order to successfully implement this business process,
police executives must have cleary defined priorities as part of their policing strategies.
(wujud pelaksanaan dari perputaran intelijen untuk mendukung proses pengambilan
keputusan yang proaktif dalam menentukan alokasi sumber daya dan tindakan
pencegahan kejahatan. Untuk berhasilnya pelaksanaan kegiatan ini, pejabat kepolisian
harus secara jelas mendefinisikan prioritas sebagai bagian dari strategi pemolisian).
Berlandaskan kepada definisi-definisi ini David L.Carter mengusulkan definisi
operasional ILP sebagai berikut:
The collection and analysis of information related to crime and conditions that
contribute to crime, resulting in an actionable intelligence product intended to aid law
enforcement in developing tactical responses to threats and / or strategic planning
related to emerging or changing threats.
(Pengumpulan dan analisis informasi yang ada kaitan dengan kejahatan dan kondisi
yang mendukungnya, berbentuk produk intelijen yang dapat digunakan untuk membantu
penegakan hukum dalam mengembangkan respon taktis terhadap ancaman dan/atau
perencanaan strategik yang berhubungan dengan muncul atau berubahnya ancaman).
Untuk memberi gambaran yang lebih jelas, David L.Carter menguraikan komponenkomponen kritis dari definisi operasional tersebut, sebagai berikut.16
a. Pengumpulan (Collection).
Bagian yang sangat penting dari proses intelijen adalah pengumpulan bahan keterangan
atau informasi sebagai bahan mentah untuk digunakan dalam analisis. Pengumpulan
harus fokus untuk mengidentifikasi dan memahami ancaman yang muncul dalam suatu
wilayah yurisdiksi. Fokus ini sering ditentukan oleh analis yang akan merumuskan
kebutuhan intelijen (intelligence requirement), yang didasarkan kepada informasi yang
diterima dari petugas lapangan, sumber-sumber yang konfidensial, dari penduduk
dalam bentuk pemberian keterangan, atau Laporan Kegiatan Yang Mencurigakan
(Suspicious Activity Reports) Kuncinya adalah pengumpulan bahan keterangan sebagai
bahan mentah dalam batasan yang telah ditetapkan merupakan hal yang sangat penting
untuk kegiatan analisis yang efektif.
b. Analisis (Analysis)
Analisis adalah pendekatan ilmiah untuk pemecahan masalah. Analisis dilakukan
dengan pendekatan deduktif dan induktif dalam merumuskan kebutuhan dan membuat
perkiraan ancaman. Analisis dapat dalam bentuk kuantitatif, terutama untuk analisis

16

. David L.Carter PhD Law Enforcement Intelligence , A Guide fo State, Local, and Tribal Law
Enforcement Agencies. Hal 80

40

strategik tetapi lebih sering dalam bentuk kualitatif, baik untuk analisis taktik maupun
strategik..
The Office of the Director of National Intelligence (ODNI) Amerika Serikat,
mendefinisikan analisis adalah a process in the production of intelligence in which
intelligence information is subjected to systematic examination in order to identify
significant facts and derive conclusions.
(Sebuah proses dalam produksi intelijen dimana informasi intelijen dikaji secara
sistematik untuk mengidentifikasi fakta-fakta yang signifikan serta dapat ditarik suatu
kesimpulan).
ODNI juga membedakan antara raw information (bahan keterangan) dengan informasi
yang telah dianalisis (intelijen).
Bahan keterangan
-Memberi masukan.
-Membangun kewaspadaan.

Intelijen
- Memberi pemahaman.
- Mengurangi ketidak pastian.
- Memungkinkan untuk membuat keputusan
yang lebih baik.

Proses analitik merupakan proses yang sinergistik, memberi arti yang utuh, dan
membentuk satu pengetahuan yang dibangun dari berbagai fakta yang masih harus
diuji. Lebih dari itu analisis digunakan untuk merumuskan kesenjangan intelijen atau
intelligence gap dan mengartikulasikan kebutuhan atau requirement.
c..Kejahatan dan kondisi yang mendukungnya.
ILP menitik beratkan kepada ancaman-ancaman dan ini menjadi sangat penting untuk
mengidentifikasi berbagai variabel dalam masyarakat serta wilayah sekelilingnya yang
dapat mendukung berkembang dan makin matangnya tindakan kejahatan.
Variabel ini bisa mencakup rentang yang luas, seperti;
Munculnya unsur-unsur kejahatan terorganisasi dalam satu wilayah yang
memperdagangkan narkotika atau senjata.
Munculnya kelompok ekstrimis yang menganjurkan kebencian dan tindakan
kekerasan.
Munculnya konflik dalam satu wilayah yang dapat dimanfaatkan untuk
menimbulkan konflik antar ras, suku, atau kelompok agama.
Berbagai karakter unik dan dianggap aneh seperti pada kelompok tertentu yang
dekat dengan perbatasan internasional.
Ini penting karena informasi yang dikumpulkan dapat memberi masukan untuk lebih
memahami tentang kondisi yang ada, dan faktor-faktor yang mungkin memperburuk
kondisi atau orang yang berniat melakukan terror atau perbuatan kriminal.
d..Intelijen yang dapat digunakan (Actionable Intelligence).
Mantan pejabat FBI Maureen Baginski menyatakan bahwa intelijen membantu pejabat
yang berwenang dalam membuat keputusan.

41

Oleh sebab itu agar intelijen dapat digunakan, hal yang sangat esensial adalah intelijen
harus dapat memberi arah untuk mengembangkan dan melaksanakan sebuah rencana.
Institusi penegak hukum harus dapat menggunakan laporan intelijen, dan melakukan
langkah-langkah untuk mencegah atau mengurangi terjadinya tindakan kejahatan.
Ini berarti bahwa intelijen yang dihasilkan oleh analis akan mendorong langkahlangkah operasional sebagai jawaban terhadap kejahatan, dan juga untuk pembuatan
perencanaan strategik dalam menghadapi kejahatan.
Dengan intelijen yang dapat digunakan, institusi penegak hukum telah mendapat
informasi yang cukup dan matang untuk mengambil langkah-langkah dan tindakan
pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya tindakan kejahatan.
Laporan intelijen harus berisi dan menjelaskan baik ancaman terhadap masyarakat atau
wilayah yang harus segera diatasi, orang dalam pencaharian penegak hukum yang
dapat menimbulkan ancaman, atau pola-pola ancaman yang harus diwaspadai oleh
petugas penegak hukum.
Premise dasarnya adalah institusi penegak hukum harus dapat menggunakan intelijen
dengan berbagai cara.
Lebih dari itu intelijen yang dapat digunakan harus dapat dijamin bahwa informasi
yang tepat jatuh ketangan orang yang dapat berbuat sesuatu dalam menghadapi
ancaman.
e. Respon taktik terhadap ancaman.
Baik intelijen taktik maupun intelijen strategik merupakan penjabaran dari intelijen
yang dapat digunakan (actionable intelligence).
Tergantung dari sifat ancaman, respon taktik yang luas dianggap tepat, mulai dari
peningkatan prosedur pengamanan pada kerumunan masa hingga kewaspadaan
terhadap kegiatan yang mencurigakan pada sasaran intelijen potensial.
Intelijen taktik merupakan kebutuhan untuk pencegahan yaitu penggunaan informasi
yang berhubungan dengan ancaman terror dan kejahatan lainnya dalam menetapkan
strategi untuk mengurangi atau mencegah ancaman jangka pendek (short term) atau
yang harus segera diatasi (immediate).
Intelijen taktik merupakan inti dari pertanyaan: Jenis operasi taktik apa yang dapat
dikembangkan dengan menggunakan intelijen ini?.
f. Perencanaan strategik yang berhubungan dengan munculnya atau berubahnya ancaman.
Ancaman dalam masyarakat mempunyai ciri yaitu selalu berubah seiring waktu.
Analisis strategik terutama digunakan sebagai dasar perencanaan dan alokasi sumber
daya, untuk memahami gambaran dari perubahan sifat ancaman. Informasi yang
disampaikan kepada pengambil keputusan menyangkut perubahan sifat, karakteristik,
dan metodologi ancaman dan munculnya ancaman yang aneh atau belum dikenal
sebelumnya, dengan demikian dapat dikembangkan rencana tindakan strategik dan
merealokasi sumber daya.
Sebagai contoh, selama ini suatu kelompok masyarakat tidak mempunyai persoalan
menyangkut hak hidup sebuah kelompok Islam garis keras. Bila kemudian komunitas
tersebut merencanakan mendidirikan sebuah klinik bersalin yang memberi pelayanan
pengguguran kandungan.

42

Analisis strategik akan dapat memberi pemahaman yang mendalam apakah klinik
tersebut berikut semua personal pendukungnya akan menjadi sasaran kekerasan dari
kelompok tersebut.
Dengan menggunakan analisis strategik, dapat dikembangkan rencana tindakan untuk
pencegahannya. Ini merupakan inti jawaban terhadap pertanyaan: Apa rencana dan
alokasi sumberdaya yang harus disiapkan pada masa yang akan datang, untuk
menghadapi ancaman yang dirumuskan dalam analisis strategik?.
Dalam banyak hal ILP sebenarnya merupakan bentuk dan dimensi baru dari pemolisian
atau perpolisian masyarakat (community policing) yang sudah menjadi acuan penegak
hukum selama ini terutama dinegara maju, yang dikembangkan dari taktik dan
metodologis selama penerapan pemolisian masyarakat.
Community policing adalah model pemolisian protagonis yang berpihak kepada
masyarakat dengan kedekatan polisi dan masyarakat sebagai pilar utamanya, melalui
upaya-upaya yang lebih pro aktif menuju terwujudnya kerjasama yang efektif antara
polisi dalam pembinaan keamanan dan ketertiban masyarakat 17
Pemolisian masyarakat adalah esensi dari bersatunya kesadaran masyarakat dan polisi
tentang pentingnya tanggung jawab dalam menekan angka kriminilitas dan pengamanan
wilayah.18
Paradigma yang menyerahkan tanggung jawab hanya kepada negara tidak lagi relevan
dengan masyarakat modern.
Model Pemolisian atau Perpolisian Masyarakat merupakan bentuk pemolisian yang
dikembangkan dibanyak negara demokrasi.
Di Afrika Selatan Community Policing disebut dengan istilah Democratic Policing
sebagai bentuk transformasi dari Pemolisian Tradisional,
Demikian juga dengan Indonesia yang telah mengadopsi Community Policing yang
dalam istilah Indonesia disebut Pemolisian Masyarakat sebagai upaya meningkatkan
kinerja Polri dan menciptakan polisi sipil. Untuk itu Polri telah membangun Program
Pemolisian Masyarakat.
Program ini ditegaskan dalam berbagai Peraturan dan terhitung ada lima produk hukum
seperti:
a..Skep Kapolri No. Skep /737/X/2005 tentang Kebijakan dan Strategi Penerapan Model
Perpolisian Masyarakat Dalam Pennyelenggaraan Tugas Polisi..
b. Skep Kapolri No Pol: Skep / 431 /VII/ 2006, tentang Pedoman Pembinaan Personel
Pengemban Fungsi Polmas,
c. Skep Kapolri No. Pol. Skep /432 / VII / 2006, tentang Panduan Pelaksanaan Fungsi
Operasional Polri dengan Pendekatan Polmas.
d..Skep Kapolri No. Pol. Skep / 433 / VII / 2006, tentang Pembentukan dan
Operasionalisasi Polmas; Kebijakan dan Strategi Percepatan dan Pemantapan
Implementasi Polmas.
e. Peraturan Kapolri No. 7 Tahun 2008 tentang Pedoman Dasar Strategi dan
Implementasi Pemolisian Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Tugas Polri.

17
18

.http://mediator-skripsi.blogspot.com/2009/08.
.Muradi - Polmas dan profesionalisme POLRI. Hal25.

43

Community policing adalah sebuah filosofi dari kebijakan pelayanan total, dimana
petugas polisi yang sama melakukan patroli dan bekerja dalam area yang sama secara
permanen, dari tempat yang didesentralisasikan, bekerja sama dengan para warga
masyarakat di area / daerah tersebut untuk mengidentifikasikan dan memecahkan
masalah yang dihadapi. 19
Meskipun demikian Pemolisian Masyarakat
dalam implementasinya memiliki
perbedaan, yang sangat tergantung kepada kekhasan dan kultur organisasi di negara
masing-masing.
Sebagai contoh adalah implementasi Pemolisian Masyarakat di Inggris dan Amerika
Serikat berbeda meskipun baik Inggris maupun Amerika Serikat sama-sama berbasis
kepada Anglo - Policing.
Jika di Inggris lebih menekankan kepada upaya menekan gerakan separatisme Irlandia
Utara dan kejahatan ras, maka di Amerika Serikat sangat erat dengan kejahatan berbasis
ras, khususnya antara orang kulit putih, Afro Amerika, dan Hispanik.
Dalam konteks Polri, hakekat Polmas adalah kemitraan dengan masyarakat, sekaligus
menjadi pemecahan masalah yang terjadi di masyarakat.
Sasaran utama yang ingin dicapai adalah :20
Pertama, mengutamakan pencegahan.
Kedua, bersama masyarakat mengidentifikasi masalah serta mencari solusinya.
Ketiga, mengurangi rasa ketakutan masyarakat akan adanya gangguan keamanan dan
ketertiban masyarakat.
Ada persamaan karakteristik yang penting antara Pemolisian Masyarakat dengan ILP
yaitu penekanan pada proses pengambilan keputusan yang beretika.
Dalam pemolisian masyarakat proses pengambilan keputusan yang beretika salah satunya
didasarkan kepada kebutuhan untuk mengembangkan sikap saling mempercayai antara
polisi dengan masyarakat.
Bila rasa dan sikap saling percaya tidak terbangun diantara polisi dan masyarakat maka
masyarakat tidak akan mau membeikan informasi-informasi yang penting dan kritis
dalam upaya pengendalian kejahatan.
Proses pengambilan keputusan yang beretika dalam ILP juga sebuah kebutuhan namun
lebih dari itu.
Ada perbedaan antara pemolisian tradisional dengan pemolisian masyarakat. Pemolisian
tradisional memfokuskan pada aspek investigasi dan penahanan yang merupakan bagian
dari pengendalian kejahatan, dimana pencegahan kejahatan bukan merupakan prioritas
pertama.
Pemolisian masyarakat sebagai pemolisian modern sangat sesuai dengan aliran pemikiran
kontemporer yang menempatkan pencegahan kejahatan sebagai upaya yang paling utama.
Aliran pemikiran "kontemporer" berpendapat bahwa sebuah model pemolisian baru harus
dikembangkan, yaitu dengan mendahulukan upaya pencegahan sebelum sebuah tindak
kejahatan terjadi.
Dalam tubuh POLRI paradigma pemolisian modern yang disebut Pemolisian Masyarakat
dijelashan dalam tugas pokok dan peran Intekam POLRI yang dirumuskan dalam 4
19

.www.jalur berita co cc/2009/08 mengutip Eko Erpangi,2003.

20

.Dr Susaningtyas , MSi - Komunikasi dalam Kinerja Intelijen Keamanan. Hal 75.

44

(empat) kegiatan, khususnya dalam kegiatan yang pertama yang masing-masing berbunyi
sebagai berikut:
Rumusan tugas pokok yang pertama berbunyi:- "Melakukan deteksi terhadap segala
perubahan kehidupan sosial dalam msyarakat serta perkembangannya dibidang
ideologi, politik, sosial budaya, petahanan dan keamanan untuk dapat menandai
kemungkinan adanya aspek-aspek kriminogen, selanjutnya mengadakan identifikasi
hakekat ancaman terhadapKamtibmas".
Sedangkan peran pertama Intelkam POLRI berbunyi - "Melakukan deteksi dini agar
mengetahui segala perubahan kehidupan sosial yang terjadi dalam masyarakat serta
perkembangan selanjutnya, mengidentifikasi hakekat ancaman yang tengah dan akan
dihadapi, kemudian memberikan peringatan dini sebagaibahan dasar serta penentuan
arah kebijaksanaan dan pengambilan keputusan / tindakan oleh pimpinan POLRI".
Dalam matriks perbedaan antara Pemolisian Masyarakat dengan Pemolisian Tradisional
dapat digambarkan seperti dibawah ini.21
Pemolisian Masyarakat

Pemolisian Tradisional

Proaktif untuk menyelesaikan masalah


masyarakat
Diperluas sehingga meliputi identifikasi
dan penyelesaian masalah masyarakat
Kekuatan pada sumber daya yang ada di
masyarakat
Informasi dari masyarakat datang dari
berbagai sumber
Desentralisasi kewenangan dan otonomi
ke petugas lini depan
Penghargaan evaluasi kinerja yang juga
didasarkan pada kegiatan memberikan
pelayanan.
Gaya pelayanan berorientasi pada
masyarakat
Patroli yang terlihat dan berinteraksi
dengan masyarakat

Bersifat reaktif terhadap kejadian


Terbatas atas respon terhadap kejadian
yang diterima saja.
Terfokus pada sumber daya internal
Informasi dari masyarakat terbatas
Orientsi melakukan supervisi adalah untuk
pengawasan
Penghargaan
berdasarkan
pemecahan
kasus.
Strategi memberantas kejahatan secara
hukum
Patroli acak bermobil untuk merespon
kejahatan

Dalam pengertian yang lebih sederhana ILP adalah sebuah paradigma baru dimana
intelijen harus menjadi dasar, penuntun dan petunjuk bagi institusi penegak hukum dalam
setiap kegiatan atau operasi, serta lebih mendasarkan kepada hasil kegiatan analisis.
Dapat dikatakan bahwa ILP adalah model pemolisian yang menempatkan intelijen dan
analisis sebagai kunci dalam operasi kepolisian, sehingga akan terjadi efisiensi dalam
penggunaan sumber daya, menghasilkan rumusan strategi yang dapat diaplikasikan serta
melandasi keberhasilan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan.
21

. Irwan Fauzi - irwanmarine87.blogspot.com

45

Inteligence Led Policing merupakan upaya bersama untuk meningkatkan intelijen


operasi, penegak hukum yang berorientasi kepada masyarakat serta pemecahan masalah.
Untuk mengimplementasikan ILP, organisasi penegak hukum harus mengevaluasi
kembali berbagai kebijakan dan peraturan-peraturan.
Intelijen harus menjadi bagian dari setiap proses perencanaan yang mencerminkan
persoalan dan isu-isu masyarakat.
Pertukaran informasi harus menjadi kebijakan baku, tidak lagi menjadi sekedar kegiatan
yang informal.
Yang paling penting, intelijen harus menjadi bagian dari proses analisis yang bermutu.
Pengembangan kemampuan pengumpulan bahan keterangan, tehnik analisis, pelatihan,
dan bantuan tehnik harus ditingkatkan.
Memasyarakatkan ILP kedalam institusi penegak hukum bukan tanpa persoalan, bahkan
Amerika Serikat sebagai negara majupun menghadapi hal yang sama.
Persoalan tersebut antara lain disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:
Pertama, banyak institusi penegak hukum tidak memahami apa intelijen itu dan
bagaimana me manaje nya.
Kedua, institusi penegak hukum disibukkan dengan kegiatan harian dalam upaya
pencegahan dan penindakan tindak kejahatan tradisional, dan pada waktu yang
bersamaan harus melakukan kegiatan pencegahan munculnya tindak kejahatan terorisme.
Ketiga, adalah kenyataan dalam menerapkan ILP sering dihadapkan kepada masalah
anggaran dan sumber daya manusia.
Meskipun saat ini operasi intelijen penegakan hukum masih terkendala dari
keterlibatanya secara aktif, namun persoalan ini bukan hal yang tidak bisa diatasi.
Matriks dibawah ini menggambarkan ILP maupun Community Policing. 22
No Perihal
1
Manajemen
Informasi

22

Community policing
Informasi yang diperoleh dari
masyarakat akan membantu
menggambarkan
parameter
persoalan
yang
dihadapi
masyarakat.

Intelligence Led Policing


Informasi masyarakat adalah
masukan yang sangat penting
dari analisis intelijen

.David L.Carter PhD Law Enforcement Intelligence, A Guide for State, Local,and Tribal Law
Enforcement Agencies. Hal 87

46

Komunikasi
timbal balik
dengan
masyarakat

Pemecahan
masalah

Informasi dari masyarakat


tentang pelanggaran hukum.
Mengkomunikasikan hal yang
kritik kepada masyarakat akan
dapat meningkatkan tindakan
pencegahan kejahatan dan
mengurangi ketakutan dan
kecemasan masyarakat.

Komunikasi dari masyarakat


akan memberikan informasi
yang bernilai dalam proses
intelijen.
Ketika
ancaman
digambarkan dengan informasi
yang
spesifik,
mengkomunikasikan informasi
yang kritik kepada masyarakat
akan membantu terhadap upaya
pencegahan serangan teroris,
seperti juga community policing
akan mengurangi ketakutan dan
kecemasan masyarakat
Proses yang sama digunakan
oleh
intelijen
untuk
menggabungkan
faktor-faktor
yang
berkaitan
dengan
kerawanan
sasaran
dan
peredaran komoditi illegal

Dalam pemecahan masalah


biasanya
menggabungkan
faktor-faktor
kondisi
masyarakat
yang
dapat
dijadikan petunjuk adanya
kejahatan
atau
gangguan
dalam masyarakat.
Analisis data Analisis kejahatan (crime Analisis intelijen merupakan
berdasarkan
analysis) merupakan unsur unsur yang sangat penting dalam
ilmu
yang sangat penting dalam manajemen ancaman.
pengetahuan proses Statistik Komputer.

Ada kesamaan antara community policing dengan ILP agar dapat efektif yaitu keduanya
memerlukan umpan balik baik berupa analisis kejahatan (criminal analysis) atau analisis
intelijen (intelligence analysis)
Dalam hubungan ini informasi apa yang dibutuhkan oleh petugas lapangan dari unit
intelijen?.
- Ancaman datang dari siapa?. Ini mengidentifikasi dan menjelaskan orang-orang
dalam satu gerakan atau ideologi yang dapat menampilkan ancaman terhadap
keselamatan masyarakat.
- Siapa melakukan apa dengan siapa?. Ini termasuk identitas, penjelasan, dan
karakteristik dari konspirator atau orang yang memberi dukungan logistik terhadap
terorisme atau kejahatan terorganisasi.
- Apa modus operandi dari ancaman?. Bagaimana kejahatan terorganisasi ini
beroperasi?. Apa tipe sasaran utama dari kelompok teroris atau kelompok ekstrem
dan apa metode yang umum digunakan dalam melakukan serangan?. Bagaimana
cara anggota kelompok ekstremis berbaur dengan masyarakat dalam upaya
menyembunyikan diri?.
- Apa yang diperlukan untuk menangkap pelaku dan mencegah terjadinya tindakan
kejahatan atau kecenderungannya?.
Jenis informasi spesifik seperti apa yang harus dicari oleh unit intelijen untuk
membantu membuat analisis ancaman secara luas?.

47

Kesamaan antara Community policing dengan ILP dapat dilihat dari tool Community
policing yaitu CompStat (COMPuterized STATistic). 23 Proses CompStat yang semula
dikembangkan di Departemen Kepolisian New York, telah menjadi alat yang efektif bagi
institusi penegak hukum dalam mengatasi persoalan kejahatan dan dalam waktu yang
tepat. CompStat adalah sebuah model dari proses manajemen kinerja yang menganalisis
data-data kejahatan, pelanggaran terhadap keamanan dan ketertiban, pemecahan masalah
strategik, serta struktur pertanggung jawaban yang jelas.
Secara ideal CompStat mempermudah analisis kejahatan dan pelanggaran terhadap
keamanan dan ketertiban dengan akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk
mengidentifikasi persoalan dan pola kejahatan.
Berdasarkan hasil analisis ini dapat dilakukan tindakan yang cepat dan tepat baik dalam
pengerahan personal maupun pengalokasian sumber daya lainnya.
Proses CompStat dituntun oleh 4 prinsip yaitu:
Pertama, adanya intelijen yang akurat dan tepat waktu - Know what is happening.
Kedua, Taktik yang efektif - Have a plan.
Ketiga, pengerahan personal dan sumber daya lainnya yang cepat - Do it quickly.
Keempat, lakukan sampai persoalan terselesaikan dan lakukan kaji ulang - Relentless
follow up and assessment.
Model ini telah diterapkan dengan sukses diseluruh wilayah Amerika Serikat dan juga
dibeberapa negara lainnya, baik bagi institusi penegak hukum skala menengah maupun
besar.
Landasan yang kuat dalam riset telah memperkuat CompStat sebagai alat dari Crime
Management dan telah membuktikan nilai dari pendekatan inovatif dalam mengatasi
persoalan yang dihadapi institusi penegak hukum.
Untuk menghasilkan kinerja yang optimal Compstat harus memiliki 2 unsur utama yaitu:
a. Tim manajerial yang berfungsi dan bertugas dalam pengerahan sumber daya manusia.
b. Tim Teknologi Informasi yang berfungsi dan bertugas dengan yang ada hubungannya
dengan sistem komputerisasi informasi seperti proses maping, analisis, dan membuat
laporan tepat waktu dan akurat.24
Di Indonesia model ini belum berkembang dengan baik, karena statistik kriminal yang
dikeluarkan kepolisian, umumnya memuat data yang berkualitas rendah. Deviasinya
besar, karena penyusunannya hingga menghasilkan berbagai profil kejahatan dilakukan
secara tidak serius.25
Dengan munculnya ILP banyak yang menganggap bahwa ILP sama dengan CompStat.
Tidak dapat disangkal ada persamaan yang penting yang akan membantu dalam
menerapkan ILP, meskipun ada juga perbedaan yang fundamental secara substantif yang
harus dipahami.
Metodologi dan fokus dari ILP berbeda dan lebih sulit dari CompStat karena perbedaan
dari data dan bahan keterangan (raw data).
Namun intinya secara faktual CompStat dan ILP berbeda karena berbagai variable
fungsional, seperti digambarkan dalam matrik dibawah ini.
Perbandingan CompStat dengan Intelligence Led Policing
23

. Ibid hal 90.


. Habib Ozdemir - Compstat : Strategic Police Management for Effective Crime Deterrence in New
York City. Working Paper no 18. International Police Executive Symposium. March 2011
25
. Adrianus Meliala Harian Kompas tanggal 30 Oktober 2011.
24

48

CompStat
Kesamaan
Intelligence- Led Policing
. Wilayah hukum tunggal . Sama-sama bertujuan .
Bermacam
wilayah
(single jurisdiction)
untuk pencegahan.
hukum (multijurisdiction).
, Penggeraknya adalah .Masing-masing
.
Penggeraknya adalah
peristiwa .
memerlukan:
ancaman.
. Kejahatan jalanan dan
- Organisasi
yang . Kejahatan terorganisir
pencurian.
lentur.
dan terorisme.
.
Pemetaan tentang
- Masukan informasi .
Commodity flow;
kejahatan.
yang berlanjut.
trafficking and transiting
. Waktu merupakan faktor
- Merupakan
logistics.
yang sensitif (umpan balik
komponen
analisis . Strategik.
dan langkah tindak dalam
yang penting.
. Memberantas kejahatan
24 jam).
.Bottomup
driven terorganisasi.
. Memberantas jaringan dengan
tetap . Gelar operasi:
kejahatan seperti jaringan memperhatikan kebutuhan
- JTTF/ BNPT
perampok.
operasi.
- Penyelidikan
. Gelar operasi:
kejahatan
- Patroli.
terorganisasi.
- Satuan taktis.
- Satuan Tugas.
- Penyelidik
. Analisis Modus Operandi
. Analisis Modus Operandi
dari pelaku kejahatan.
dari kejahatan terorganisir.
Tujuan dan metodologi yang berkaitan kedua konsep ini dapat saling mengisi.
Dari matriks diatas dapat dilihat bahwa ILP berkepentingan dengan all crimes and all
threat, tidak hanya masalah terorisme, meskipun demikian sifat dari kejahatan yang
menjadi fokus ILP meliputi multijurisdiction dan sering berupa kejahatan yang rumit
dan kompleks seperti kejahatan terorganisasi (criminal enterprises).
Sedangkan kegunaan dari CompStat adalah pengidentifikasian terhadap munculnya
serangkaian kejahatan yang serius dan signifikan dalam satu wilayah hukum, yang
didasarkan kepada laporan kejadian dan analisis yang tepat waktu. Analisis dari data-data
yang didapat dari laporan kejahatan dapat memberikan informasi penting seperti
parameter geografi, dan modus operandi, yang dapat digunakan untuk meramalkan
kejahatan lanjutan dalam waktu dekat, membantu dalam pemecahan masalah, memberi
informasi yang lebih lengkap, seperti perilaku, sasaran, instrumen kejahatan, sehingga
unit-unit operasional dapat mengatasinya dengan tepat.
Jadi ILP lebih memusatkan perhatian kepada ancaman, daripada kejahatan yang sudah
terjadi (meskipun ancaman dapat pula berarti ancaman yang timbul dari kejahatan
berantai, seperti pembunuhan berantai).
Pendidikan masyarakat.
Telah disinggung bahwa pendidikan masyarakat merupakan hal yang sangat penting
untuk efektifnya ILP. Pelajaran dari pemolisian masyarakat dapat dijadikan acuan dalam
pengembangan ILP. Masyarakat terdiri dari bermacam-macam kelompok, demikian juga
dengan latar belakang pendidikannya, sehingga diperlukan pendekatan yang sesuai
dengan latar belakangnya.

49

Sebagai contoh, apa yang ingin dicapai oleh institusi penegak hukum dengan program
pendidikan masyarakat?.
- Apakah untuk mengurangi rasa kecemasan dan ketakutan masyarakat, atau
menghilangkan ketegangan dalam masyarakat?.
- Apakah untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam membantu tugas
kepolisian?.
- Apakah tujuannya hanya untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang
tanda-tanda terorisme dan kejahatan lainnya untuk membantu upaya pencegahan?
Yang penting adalah adanya keterkaitan antara inisiatif pendidikan dengan sasaran
spesifik yang ingin dicapai.
Dalam menyusun program pendidikan masyarakat harus disusun pengelompokan
masyarakat agar dapat disampaikan jenis informasi yang tepat sesuai dengan
pengelompokannya.
Siapa saja kelompok masyarakat yang menjadi sasaran pendidikan masyarakat ?.
Apakah kelompok masyarakat pengusaha, kelompok keagamaan, pegawai negeri diluar
pegawai institusi penegak hukum, mahasiswa, guru, masyarakat umum, atau berdasarkan
kelompok kependudukan?.
Atau lulusan program Akademi Polisi Masyarakat (Citizen Police Academy) seperti yang
dilakukan di Amerika Serikat, yaitu program yang ditujukan untuk membangun
komunikasi antara masyarakat dengan polisi. Sasaran dari Akademi Polisi Masyarakat
bukan untuk menjadikan masyarakat menjadi polisi, namun untuk membangun
masyarakat yang berinformasi.
Lulusan Akademi Polisi Masyarakat dapat menjadi sukarelawan ketika ada krisis atau
untuk meningkatkan kesiagaan.
Setiap kelompok masyarakat mempunyai kebutuhan informasi yang berbeda. Kelompok
masyarakat ini dapat dikelompokan lagi secara lebih spesifik kedalam kelompokkelompok khusus seperti pengusaha atau industriawan bidang telekomunikasi,
pembangkit listrik tenaga nuklir, pabrik pengolahan daging, pusat riset, dan lain-lain.
Institusi penegak hukum harus melakukan analisis ancaman untuk dapat memahami
secara tepat karakteristik ancaman dalam kelompok masyarakat, juga untuk dapat
memahami intelijen yang diperlukan oleh institusi intelijen.
Pendidikan masyarakat juga harus dapat menghasilkan keluaran yang spesifik sesuai
dengan sasaran yang telah ditetapkan.
Pendidikan masyarakat juga harus dapat menyatukan 5 faktor yang berhubungan dengan
fungsi intelijen, yaitu:
a. Mengetahui bagaimana cara mengamati.
b. Mengerti dan memahami apa yang dianggap mencurigakan.
c. Mengerti cara membuat laporan.
d. Mengerti apa yang harus dilaporkan.
e. Mengerti apa yang akan terjadi kemudian.
Untuk memaksimalkan kualitas dan kuantitas laporan yang disampaikan oleh masyarakat,
penegak hukum harus memberikan kerangka pengetahuan yang tepat. Makin luas
jangkauan pendidikan masyarakat, makin meningkat pula umpan balik dari masyarakat.
Matrik dibawah ini adalah contoh muatan dan tindakan yang dapat dilakukan masyarakat
dalam pendidikan masyarakat.

50

Muatan dalam Program Pendidikan Masyarakat


. Memahami tentang terorisme.
. Apa yang sudah dilakukan pada tingkat
. Apa terorisme itu? (Dijelaskan dan
nasional.
diterangkan)
- Tingkat nasional.
. Mengapa orang melakukan terror.
Strategi nasional yang sudah
. Perspektif terorisme.
dikembangkan.
. Perang assimetrik.
- Analisis Ancaman Nasional yang
. Tindakan terror didefinisikan dari sisi
sudah disiapkan oleh Badan yang
korban.
berwenang.
. Bagaimana terorisme dapat menyentuh
- Institusi Penegak Hukum tingkat
sebuah komuniti atau kelompok
Nasional menetapkan prioritas dan
masyarakat.
mereorganisasi bantuan kepada
- Sebagai sasaran.
daerah dan institusi yang lebih
- Logistik dan dukungan yang
rendah.
diberikan kepada kelompok teroris. . Apa yang sudah dilakukan pada tingkat
- Kegiatan
yang
membiayai
daerah dan institusi yang lebih rendah.
kelompok teroris.
- Keterlibatan dalam Satuan Tugas
- Persiapan sumber daya baru untuk
Anti Teror.
pelayanan keadaan darurat setempat
- Anggota yang menerima pelatihan
anti terror
Sistem komunikasi dan pertukaran
informasi, yang memberi akses yang lebih
luas kepada penegak hukum pada institusi
yang lebih rendah
Tindakan yang dapat dilakukan masyarakat.
. Masyarakat harus diberi tahu tentang apa . Informasi tentang bagaimana melindungi
yang harus diawasi dan dilaporkan
keluarga (Harus ada jaringan internet
kepada polisi.
yang dapat diakses masyarakat).
. Penegak hukum harus disiapkan untuk . Petunjuk penyelamatan.
saling memberi informasi dengan . Komunikasi informasi
masyarakat.
. Apa maknanya Kesiagaan dan
. Harus waspada, namun harus tetap jujur. kesadaran.
. Harus mengenal tentang ancaman, . Jelaskan tentang Sistem Kesiagaan
namun harus menghindarkan sikap . Bagaimana menenangkan anak-anak dari
stereotyping dan melebih-lebihkan.
ketakutan.
. Informasi bagaimana berkomunikasi . Isu-isu tentang keselamatan.
dengan anak-anak tentang terorisme.
. Daftar perlengkapan dan sumberdaya.
(Polisi harus menyiapkan jaringan
internet yang dapat diakses masyarakat)
Sering kali timbul pertanyaan dari anggota masyarakat apa yang dapat mereka lakukan
untuk membantu penegak hukum dalam mengatasi terorisme.
Salah satu unsur yang penting adalah membantu sebagai sukarelawan untuk institusi
penegak hukum. Pengalaman dibeberapa negara membuktikan bahwa kehadiran

51

sukarelawan dapat meringankan beban anggaran institusi penegak hukum selain


membantu memberikan keakhlian yang unik.
Meskipun demikian institusi penegak hukum perlu mengembangkan sistem penyaringan,
semacam perjanjian kesanggupan, serta sistem pengendalian administratif ketika mereka
melakukan tugas.
Sukarelawan dengan pengalaman kerja dan jabatan tertentu akan sangat bermanfaat bagi
bekerjanya fungsi intelijen.
Jaksa, akuntan, para peneliti, dan cendikiawan adalah gambaran sukarelawan yang
professional yang dapat memberikan bantuan sangat penting terhadap fungsi-fungsi
intelijen.
Hak hak sipil dan kebebasan individu (privacy).
Intelijen Penegakan hukum merupakan unsur yang sangat penting dalam penyusunan
rencana memerangi tindak kejahatan atau kriminalitas.
Teroris, perdagangan narkotik lintas negara dan kegiatan kelompok kejahatan
terorganisasi telah mampu mengembangkan cara-cara baru dalam melakukan aktifitasnya
demikian juga untuk menyembunyikan kegiatannya.
Hanya dengan menangkap dan menghukum anggota kelompok kejahatan yang
melakukan tindak kejahatan tidak akan dapat mengurangi ancaman kejahatan kalau
organisasinya yang lebih besar masih eksis dan masih mampu untik melakukan
kejahatan.
Namun demikian operasi intelijen dalam masyarakat demokrasi yang menjunjung tinggi
kebebasan, menghadapi resiko yang tidak kecil.
Hal ini disebabkan oleh beberapa alasan yaitu:
Pertama, intelijen bekerja dalam senyap dan rahasia sehingga sulit untuk
dimonitor.
Kedua, kegiatan intelijen dihadapkan kepada resiko melanggar hak-hak orang
atau kelompok yang tidak bersalah karena seringnya kelompok yang sah menjadi sasaran
intelijen. Hal ini terjadi karena kelompok kejahatan terorganisasi sering menyamarkan
kegiatannya dengan menggunakan kelompok bisnis atau organisasi lainnya yang sah
Ketiga, kegiatan intelijen terutama bila dipusatkan kepada kelompok yang diduga
mencari keuntungan politik dengan melakukan kekacauan, berresiko dalam menetapkan
sasaran kepada kelompok tersebut seolah-olah melakukan perbuatan melanggar hukum
padahal kegiatan tersebut dilakukan dengan sah .
Sebagai contoh, tehnik intelijen yang sebenarnya sesuai dengan kaidah intelijen namun
beresiko melanggar hak berdemokrasi yaitu:
a. Operasi penyusupan kedalam kelompok politik.
b. Mengawasi dan memonitor demonstrasi yang berlatar belakang politik. .
Dalam proses menciptakan keamanan masyarakat, tanggung jawab yang melekat pada
semua institusi penegak hukum adalah perlindungan terhadap hak sipil dari semua warga
negara, dan tidak terkecuali kegiatan intelijen.
Undang-Undang Republik Indonesia -Nomor 17 Tahun 2011 tentang Intelijen Negara
dengan jelas mengisyaratkan hal ini yang berbunyi :
" bahwa untuk melakukan deteksi dini dan peringatan dini guna mencegah terjadinya
pendadakan dari berbagai ancaman, diperlukan Intelijen Negara yang tangguh dan

52

profesional, serta penguatan kerjasama dan koordinasi Intelijen Negara dengan


menghormati hukum, nilai-nilai demokrasi, dan hak asasi manusia sebagaimana yang
diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945".
Selain itu Undang-Undang ini dalam pasal 15 menetapkan tentang rehabilitasi,
kompensasi, dan restitusi.
Secara lengkap pasal 15 berbunyi :
(1). Setiap orang yang dirugikan akibat pelaksanaan fungsi Intelijen dapat mengajukan
permohonan rehabilitasi, kompensasi, dan restitusi.
(2)Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Hak sipil diartikan bahwa negara memiliki kewajiban untuk menjamin semua warga
negara mendapatkan perlindungan hukum yang sama tanpa membedakan ras,agama,jenis
kelamin,dan karakteristik lain yang berhubungan dengan posisi seseorang, untuk
melakukan kebebasannya.sebagai warga negara.26
Hak sipil adalah kebebasan fundamental yang diperoleh sebagai hakikat dari keberadaan
seorang manusia.
Yang termasuk hak-hak sipil meliputi:
(1). Hak hidup
(2). Hak bebas dari siksaan, perlakuan atau penghukuman yang kejam, tidak manusiawi,
atau merendahkan martabat.
(3). Hak bebas dari perbudakan.
(4). Hak bebas dari penangkapan atau penahanan secara sewenang-wenang.
(5). Hak memilih tempat tinggalnya, untuk meninggalkan negara manapun termasuk
negara sendiri.
(6). Hak persamaan di depan peradilan dan badan peradilan.
(7). Hak atas praduga tidak bersalah.
(8). Hak kebebasan berpikir.
(9). Hak berkeyakinan ( consciense) dan beragama.
(10). Hak untuk mempunyai pendapat tanpa campur tangan pihak lain.
(11) Hak atas kebebasan untuk menyatakan pendapat.
(12) Hak atas perkawinan/membentuk keluarga.
(13) Hak anak atas perlindungan yang dibutuhkan oleh statusnya sebagai anak dibawah
umur, keharusan segera didaftarkannya setiap anak setelah lahir dan keharusan
mempunyai nama, dan hak anak atas kewarganegaraan.
(14). Hak persamaan kedudukan semua orang didepan hukum.
(15) Hak atas perlindungan hukum yang sama tanpa diskriminas.
Meskipun ada perbedaan persepsi pada dasarnya setiap insan penegak hukum menerima
tanggung jawab ini. Mereka memahami bahwa perlindungan terhadap hak dan kebebasan
sipil sama pentingnya dengan perlindungan masyarakat dari tindakan kejahatan dan
terorisme.
Meskipun demikian muncul perdebatan bagaimana menarik garis yang jelas antara
kewenangan pemerintah dalam derajat tertentu untuk melakukan "gangguan" atau
26

. David L.Carter, Ph.D- Law Enforcement Intelligence: A Guide for State, Local, and Tribal Law
Enforcement Agencies . Hal 133

53

mengurangi kebebasan individu dan hak sipil warga negara dalam upaya pemerintah
untuk melindungi kedaulatan negara dan keselamatan masyarakat luas terhadap ancaman
luar seperti terorisme.
Istilah kebebasan individu (privacy) mengacu kepada kepentingan individu untuk
melindungi dirinya dari perbuatan yang tidak sah terhadap pengumpulan identitas diri,
penggunaan dan penyebaran oleh pihak lain. Termasuk pula tata laku individu,
komunikasi pribadi.
Konsep kebebasan individu sangat luas mencakup perbedaan nilai pribadi (personal
values) dan kepentingannya. 27
Seperti di Amerika Serikat yang mengagungkan kebebasan dan hak pribadi dihadapkan
kepada perlindungan ribuan manusia terhadap serangan teroris.
Meskipun muncul perdebatan seperti itu namun petugas penegak hukum tidak perlu
terlibat dalam perdebatan filosofis tersebut, namun harus lebih memusatkan perhatian
kepada perundang-undangan yang ada untuk menjamin perlindungan hukum bagi setiap
warga negara.
Penegakan hukum merupakan unsur demokrasi yang mendasar dan sangat penting.
Badan Intelijen dapat disebut absah (legitimate) hanya jika dibangun oleh hukum dan
bekerja sesuai hukum serta memperoleh kekuasaan dari pemerintah yang sah.
Oleh sebab itu Badan Intelijen untuk penegakan hukum harus memperhatikan hal-hal
sebagai berikut:
- Penegakan hukum tidak diperkenankan dengan mengumpulkan informasi dan/atau
data-data pribadi untuk kegiatan intelijen, kecuali bila ada bukti yang cukup disertai
kesimpulan yang rasional dari fakta dan bukti tersebut yang mengarah kepada
kemungkinan yang masuk akal bahwa sasaran intelijen tersebut terlibat dalam kegiatan
kejahatan atau terorisme.
- Semua bahan keterangan yang dikumpulkan tentang perorangan untuk tujuan intelijen
harus dilakukan sesuai prosedur hukum yang berlaku.
- Informasi tentang orang perorang yang dikumpulkan tidak boleh disimpan selamanya,
kecuali bila ada informasi yang dapat dipercaya yang memperkuat bukti keterlibatan
atau kemungkinan keterlibatannya dalam tindak kejahatan atau terorisme.
- Institusi penegak hukum memiliki tanggung jawab untuk melindungi kerahasiaan
informasi yang dikumpulkan tentang seseorang dalam hubungannya dengan operasi
intelijen.
Perlindungan disini termasuk penyebaran informasi hanya diberikan kepada mereka
yang berhak mengetahui atau perlu mengetahui untuk penyelidikan tindak kejahatan.
- Apabila tidak ada bukti tentang keterlibatan atau kemungkinan keterlibatan seseorang
dalam kegiatan kejahatan atau teror, semua catatan informasi dan data intelijen
seseorang harus dihancurkan.
Dengan makin mengemukanya perlindungan hak sipil dan kebebasan individu, maka
harus ada peningkatan yang signifikan dalam kegiatan intelijen penegakan hukum, untuk
menjamin bahwa informasi yang dikumpulkan, digunakan, disimpan, maupun yang
disebarkan telah dilakukan dengan benar.
27

. Ibid - hal 133.

54

Meskipun demikian masih banyak kritik terhadap intelijen bukan hanya kepada
pelanggaran yang terjadi tetapi terhadap hal-hal yang berpotensi terjadinya pelanggaran
hak-hak sipil dan kebebasan individu.
Potensi terhadap terjadinya pelanggaran (potential for abuse) bukan berarti pelanggaran
akan terjadi, tetapi lebih kepada adanya kesempatan untuk melakukan pelanggaran
apabila tidak ada faktor pengendali untuk menghindarkan terjadinya pelanggaran.
Tiga faktor yang paling menonjol adalah:
a. Kebijakan (policy).
Kebijakan membangun batas-batas falsafah organisasi, standar, harapan, dan
pengambilan keputusan dari tugas dan tanggung jawab organisasi.
b. Pelatihan (training).
Pelatihan memberi pengetahuan, kecakapan dan keterampilan, serta kemampuan untuk
melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawab seseorang atau kelompok.
Ini menyangkut metoda pelaksanaan tugas, apa yang harus dilakukan, bagaimana tugas
tersebut harus dilaksanakan, dan apa yang tidak boleh dilakukan. Ini menggambarkan
pelaksanaan dari kebijakan dan secara khusus memberitahukan kepada setiap personal
tentang akibat dan hukuman yang akan diterima apabila tugas tidak dapat dilaksanakan
secara benar.
c. Pengawasan dan tanggung jawab (supervision and accountability).
Pengawasan dan tanggung jawab adalah mekanisme organisasi untuk menjamin bahwa
kebijakan organisasi telah diikuti dengan benar dan dilaksanakan sesuai dengan apa
yang telah disampaikan dalam pelatihan.
Kegiatan dan tingkah laku setiap anggota diawasi oleh atasannya agar setiap anggota
melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sesuai dengan prosedur dan petunjuk yang
ditetapkan.
Dengan merumuskan kebijakan yang jelas, pelatihan yang efektif, dan pengawasan yang
bertanggung jawab, potensi pelanggaran dapat dikurangi secara signifikan.
Ada faktor lain yang juga dapat menimbulkan potensi pelanggaran, yaitu:
a. Tipe orang yang mengawaki organisasi.
Apa kebutuhan dan persyaratannya yang ditentukan organisasi?. Karakter atau sifat apa
yang terlihat dari pegawai baru?. Faktor-faktor apa dalam proses seleksi yang akan
membentuk orang-orang yang akan dipekerjakan oleh organisasi?.
Manusia terpilih yang dibentuk menjadi petugas penegak hukum akan dapat
mempengaruhi secara signifikan efektifitas kebijakan, pelatihan, dan pengawasan.
b. Kepemimpinan organisasi.
Kepemimpinan dan juga harapan dari seorang pemimpin organisasi akan nampak dari
tingkah laku pegawai atau anak buah dari organisasi tersebut. Seorang pemimpin yang
menegakkan harapannya secara jelas tentang apa yang harus dicapai oleh bawahannya
serta memberi dukungan untuk pencapaian tersebut dan sebaliknya memberi sanksi
bila harapannya tidak tercapai akan dapat menghindarkan kemungkinan terjadinya
pelanggaran. .
Potensi pelanggaran terdapat pada hampir semua penugasan penegakan hukum, tidak
hanya intelijen.

55

Penegakan hukum modern seperti saat ini harus selalu berpegang kepada fungsi
penegakan hukum yang bertanggung jawab dan sesuai dengan ketentuan dan peraturan
yang berlaku serta dilakukan secara profesional.
Kesamaan karakteristik penting lainnya baik dalam pemolisian masyarakat (community
policing) maupun ILP adalah pengambilan keputusan yang beretika. Dalam pemolisian
masyarakat keperluan untuk pengambilan keputusan yang beretika, salah satunya
didasarkan kepada keperluan untuk membangun kepercayaan timbal balik antara polisi
dan masyarakat. Tanpa ada kepercayaan, masyarakat tidak akan membantu polisi dengan
memberi informasi kritis yang diperlukan untuk pengendalian tindak kejahatan.
Demikian juga adanya keperluan untuk membangun pengambilan keputusan yang
beretika dalam ILP, malah lebih jauh dari itu. Ini disebabkan oleh macam atau jenis
informasi yang dikumpulkan oleh penegak hukum dan bagaimana informasi tersebut
disimpan dalam catatan penegak hukum. Yang menjadi kepentingan masyarakat adalah
bahwa penegak hukum tidak melanggar hak-hak sipil dan kebebasan individu dalam
mengumpulkan informasi tentang teroris dengan melakukan pertanyaan-pertanyaan
terhadap orang.
Oleh sebab itu aura pengambilan keputusan yang beretika serta langkah yang tepat dan
tidak melanggar hak-hak sipil adalah hal yang tidak bisa ditawar-tawar lagi dalam fungsi
intelijen penegakan hukum.
Masalah hak-hak sipil pasti akan menjadi bahan pembahasan bila berbicara tentang law
enforcement intelligence
Dalam proses memberi perlindungan untuk keselamatan masyarakat, tanggung jawab
yang tidak bisa dipisahkan dari institusi penegak hukum adalah perlindungan terhadap
hak sipil, tidak terkecuali kegiatan intelijen.
Sebagai contoh Amerika Serikat memiliki FISA (Foreign Intelligence Surveillance Act)
yang berlaku sejak 1978, yang memberikan kewenangan pengumpulan bahan keterangan
atau informasi yang berkaitan dengan jaminan keamanan Amerika Serikat.
Proses untuk mendapatkan jaminan bertindak berdasarkan FISA berbeda dengan UndangUndang Kriminal biasa baik prosedur maupun pengadilannya.
Prosedur FISA ini mendapatkan kritikan karena dianggap menghambat badan intelijen
dalam melakukan penyelidikan atau pengumpulan informasi, namun banyak juga yang
menyokong. FISA kemudian disempurnakan menjadi Patriot Act.(P.L. 107 50)
USA PATRIOT ACT singkatan dari Uniting and Strengthening America by Providing
Appropriate Tools Required to Intercept and Obstruct Terrorism Act, yaitu Undang
Undang Federal Amerika Serikat yang memberi wewenang kepada pemerintah Amerika
Serikat untuk mengatasi terrorisme.
Kelahiran Patriot Act tidak luput dari tentangan sebagian masyarakat Amerika Serikat
yang menganggap pemberian kekuasaan kepada pemerintah untuk mendapatkan akses
terhadap hak-hak yang bersifat pribadi akan mengancam kebebasan pribadi yang
fundamental yang dilindungi Undang-Undang.
Kekuasaan pemerintah yang dianggap mengancam kebebasan pribadi itu adalah
kekuasaan untuk memeriksa data dan catatan kesehatan pribadi, dokumen dan catatan
pajak pribadi, informasi tentang buku yang dicetak, dibeli atau dipinjam oleh seseorang,
memasuki rumah seseorang dan melakukan penggeledahan tanpa pemberitahuan
sebelumnya. Juga kewenangan untuk melakukan penyadapan telepon, rekaman, dan
komputer oleh pemerintah.

56

Patriot Act ini juga mengijinkan kepada Badan Keamanan Nasional ( National Security
Agency) untuk menyadap telepon warga negara Amerika Serikat sendiri.
Namun pada hari Kamis tanggal 7 Mei 2015 pengadilan banding Manhattan memutuskan
bahwa Undang Undang Patriot (Patriot Act) tidak mengijinkan NSA untuk menyadap dan
mengumpulkan data-data telepon penduduk secara besar-besaran.
Pengadilan menetapkan bahwa Pasal 215 Undang-Undang Patriot memang
memungkinkan FBI untuk melakukan pengumpulan rekaman bisnis namun pasal ini tidak
bisa diinterpretasikan sebagai ijin kepada NSA untuk melakukan penyadapan dan
mengumpulkan rekaman telpon dalam jumlah besar-besaran.
Patriot Act berakhir pada tanggal 1 Juni 2015 dan sekarang ada inisiatif baru untuk
mengganti Patriot Act dengan Freedom Act yang telah diloloskan Senat pada tanggal 2
Juni 2015 dan diharapkan Presiden akan segera menanda tanganinya.
USA Freedom Act yang berarti Uniting and Strengthening America by Fulfilling Rights
and Ending Eavesdropping, Dragnet-Collection and Online Monitoring Act, yang pada
intinya mengadopsi Patriot Act hanya membatasi kewenangan NSA dalam hal
penyadapan.
Di Indonesia Undang- Undang Anti Subversi (UU-No.11 / PNPS/ 1963) dianggap produk
undang-undang yang merampas dan melanggar hak azasi manusia.
Hal serupa terjadi di Malaysia dan Singapura yang memiliki Internal Security Act yang
tujuannya untuk menegakkan public order and public interest atas nama keamanan
negara.
Namun para penggiat hak azasi manusia menuduh pemahaman public order and public
interest, sangat tergantung dari kepentingan pemerintah. Banyak pasal-pasal yang
dianggap melanggar hak azasi manusia, diantaranya yang memberi wewenang kepada
aparat penegak hukum without warrant untuk menangkap orang yang- in manner
prejudicial to security of Malaysia or any part of thereof or to the maintenance of
essential services therein or to the economic life thereof
Mereka yang dicurigai akan ditahan selama 60 hari dan tidak memperoleh akses untuk
bantuan hukum dan tidak boleh kontak keluarga.
Yang juga menjadi isu hangat pada pertengahan tahun 2015 terutama yang dilontarkan
oleh sebagian anggota DPR RI salah satunya adalah kewenangan penyadapan yang
dimiliki Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sehingga muncul gagasan untuk merevisi
Undang-Undang KPK.
Gagasan ini dilatar belakangi oleh pandangan bahwa kewenangan penyadapan oleh KPK
diamggap melanggar HAM dan dikhawatirkan KPK akan melakukan abush of power.
Gagasan untuk merevisi Undang- Undang KPK ini dipandang berbeda oleh sebagian
pihak yaitu sebagai upaya pelemahan KPK dan nampaknya pemerintahpun berada dalam
posisi menolak seperti yang disampaikan oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo
yang menolak revisi Undang - Undang KPK.
Namun demikian DPR RI tetap memasukan revisi UU No 30/2002 tentang KPK kedalam
Program Legislasi Nasional Prioritas 2015 kendati Presiden Joko Widodo sudah menolak
ikut membahas revisi tersebut. Meskipun demikian sangat tergantung kepada konsistensi
sikap Presiden Joko Widodo karena tanpa keterlibatan pemerintah revisi sulit dilakukan.
Pertanyaan tentang standar etika dan moral merupakan tantangan dan dilemma bagi
organisasi dan pelaku penegak hukum maupun intelijen.

57

Tantangan yang unik bagi ILP adalah bagaimana dapat menjaga dan melindungi hak sipil
seseorang.
CompStat dan analisis kriminal masing-masing memiliki perangkat undang-undang dan
peraturan yang berbeda.
CompStat berhubungan dengan pengumpulan data tentang tindakan kejahatan dan sifat
yang menandai tindakan kejahatan tersebut. Dalam analisis tersebut orang perorang tidak
diidentifikasi, karena itu hak-hak sipil tidak melekat pada data-data tersebut.
Kalau analisis kriminal fokus pada data-data individual, data-data individual tersebut
muncul dari bukti-bukti yang didapat dalam investigasi kriminal yang dapat menggiring
kepada kemungkinan penahanan.
Dalam sistem hukum Amerika Serikat, undang- undang tentang bukti kejahatan dan
prosedur, diterapkan dalam pengumpulan bukti-bukti lanjutan, dan informasinya
disimpan dalam manajemen sistem pencatatan institusi penegak hukum (the law
enforcement agencys records management system atau RMS), yang mengatur tentang
keluasan untuk menyimpan informasi tentang tersangka kejahatan, saksi, dan korban.
Sebaliknya seperti telah disinggung, ILP berhubungan dengan ancaman dan kondisi yang
memberi ruang kepada ancaman tersebut. Dalam hal ini tidak ada masalah yang dapat
mengakibatkan terlanggarnya hak-hak sipil.
Namun karena dalam proses intelijen ada pengidentifikasian terhadap individu dan
organisasi, karena itu hanya kepada mereka yang dengan cukup alasan dapat diduga kuat
dapat melakukan tindakan kejahatan pada masa mendatang, informasinya dikatagorikan
sebagai informasi intelijen kriminal.
Informasi dengan katagori ini harus disimpan dalam catatan penegak hukum yang disebut
- sistem pencatatan intelijen kriminal (criminal intelligence records system), yang
terpisah dari RMS.
Apabila institusi penegak hukum tidak melakukan prosedur ini maka terbuka
kemungkinan diminta pertanggungan jawab pelanggaran terhadap hak sipil.
Sifat kegiatan, operasi dan isu-isu intelijen, serta alasan yang mendasarinya menimbulkan
perdebatan luas menyangkut masalah moral dan etika intelijen, yaitu:
Pertama, kerahasiaan.
Untuk memperoleh informasi yang kritis umumnya kegiatan dan operasi intelijen
dilakukan secara rahasia. Pertanyaan yang mendasar adalah apakah kerahasiaan memang
diperlukan dalam kegiatan dan operasi intelijen ?.
Kalau memang diperlukan sejauh mana dan seluas apa kerahasiaan itu dibenarkan dan
apa yang menjadi dasar dan dorongan perlunya kerahasiaan itu, dan apa dampak serta
kerugian yang ditimbulkannya.
Pemerintah umumnya menyatakan bahwa pemerintah memerlukan informasi untuk
melindungi kepentingan dan keamanan pemerintah dan masyarakat, namun informasi itu
tidak secara mudah diperoleh karena disembunyikan pihak lain atau pihak lain tersebut
menolak memberikan informasi.
Jadi kerahasiaan tidak hanya berhubungan erat dengan apa yang dikerjakan oleh badan
intelijen dalam kegiatan pengumpulan dan kegiatan rahasia, tetapi juga berhubungan
dengan informasi yang sengaja dilindungi atau dicegah oleh pihak tertentu agar tidak
jatuh ketangan pemerintah.

58

Alasan lain adalah upaya perlindungan informasi yang dilakukan oleh pemerintah yang
tidak menghendaki pihak atau negara lain mengetahui lingkup dan sasaran kepentingan
pemerintah sendiri.
Diluar alasan perlunya kerahasiaan adalah dampak atau akibat yang ditimbulkan oleh
kerahasiaan tersebut terhadap kepentingan masyarakat, bukan kerugian materil dan
finansial tetapi yang penting adalah akses pengawasan oleh masyarakat.
Kedua, alat dan tujuan.
Pertanyaan yang klasik adalah apakah tujuan menghalalkan segala cara sebagai alat untuk
mencapai tujuan. Jawabannya pasti tidak. Kalau itu jawabannya lalu bagaimana ?.
Para pembuat keputusan akan menghadapi pilihan sulit ketika cara sebagai alat
dipertentangkan dengan tujuan.
Sebagai contoh, penangkapan oleh penegak hukum terhadap orang yang dicurigai sebagai
pengikut sebuah kelompok kejahatan.
Disatu sisi penangkapan tersebut dapat dianggap melanggar kebebasan seseorang yang
dilindungi Undang-Undang, namun disisi lain diperlukan untuk mengungkap jaringan
dan rencana kejahatan, dalam upaya melindungi keselamatan dan keamanan masyarakat.
Ketiga, hakikat dan sifat pelaku kejahatan (Offender).
Apakah cara bertindak pelaku kejahatan akan mempengaruhi cara bertindak sendiri. Di
satu sisi alangkah bodohnya bila mengabaikan taktik dan alat yang digunakan pelaku
kejahatan yang dapat membahayakan keamanan negara maupun keamanan dan
keselamatan masyarakat.
Disisi lain apakah kita tidak kehilangan kesempatan ketika kita tenggelam dalam nilai
moral ketika berhadapan dengan pelaku kejahatan yang jelas-jelas tidak memiliki moral.
Keempat, kepentingan nasional.
Apakah konsep kepentingan nasional sudah memadai sebagai tuntunan etika dan moral
bagi intelijen.
Di satu sisi konsep kepentingan nasional hanya merupakan petunjuk. Kalau kegiatan dan
operasi intelijen dilakukan tidak dengan dukungan pemerintah yang sah, hasilnya akan
sia-sia dan tidak memiliki arti atau merupakan operasi intelijen yang kasar dan
berbahaya.
Disisi yang lain pemerintah yang sah meskipun dengan patuh memegang prinsip-prinsip
dan idealisme demokrasi kadang-kadang dapat mengambil keputusan dan bertindak yang
secara moral dan etika dipertanyakan.
Contoh perang Amerika Serikat di Afganistan dengan dalih melindungi kepentingan
nasional dari ancaman teroris.
Kelima, telah terjadi pergeseran dalam etika dan moral.
Masalah etika dan moral selalu terjadi perubahan sepanjang jaman.
Salah satu contoh yang mulai berkembang di Indonesia adalah penggunaan cadar penutup
muka bagi wanita. Penggunaan cadar tidak dilarang oleh undang-undang di Indonesia
yang juga umum dipakai wanita di negara-negara Islam tertentu.
Untuk keperluan identifikasi terhadap gerak-gerik yang mencurigakan pengenalan muka
sangat penting, karena bisa saja yang bersembunyi dibalik cadar adalah seorang pria.

59

Tetapi menjadi persoalan ketika meminta sasaran tersebut membuka cadar karena tidak
sesuai dengan etika dan moral, padahal disisi lain pengenalan muka penting dalam
kegiatan pengamatan.
Isu-isu yang sering bertabrakan dengan masalah etika dan moral adalah kegiatan yang
berhubungan dengan pengumpulan data dan bahan keterangan serta kegiatan dan operasi
rahasia.
a. Human Intelligence.
Kegiatan pengumpulan bahan keterangan dengan penggunaan tenaga manusia atau
lazim disebut Human Intelligence adalah pemanfaatan manusia sebagai sumber
informasi.
Untuk itu diperlukan tehnik-tehnik dan pemahaman psikologi untuk meningkatkan
tingkat kepercayaan, termasuk simpati, empati, pembujukan, pembohongan dan
penipuan.
Metode yang lebih langsung untuk memperoleh kepercayaan, kedekatan dan
kerjasama dari sasaran adalah melalui tehnik penyuapan, blackmail, sex, dan
pemerasan
Apakah kegiatan seperti ini sah dan memiliki legitimasi baik secara moral, etika,
maupun hukum untuk dilakukan terhadap sasaran baik warga negara sendiri
maupun terhadap warga negara dari negara lain apakah itu musuh atau bukan.
Persoalan lain adalah tanggung jawab pemerintah dalam melakukan perekrutan
sumber-sumber informasi.
Pertama, sejauh mana tanggung jawab pemerintah dalam hal perekrutan sumber
informasi.
Kedua, sejauh mana kewajiban pemerintah dalam hal perekrutan. Apakah pemerintah
ikut menanggung akibat dari kewajibannya.
Ketiga, apakah asset Humint sudah disetujui. Sejauh mana perekrut diberi wewenang
untuk menjamin keamanan asset.
Apakah kewajiban ini juga termasuk keluarga asset?.
Keempat, bagaimana bila asset tersebut ternyata tidak produktif.
Berapa lama pemerintah berkewajiban untuk melindungi asset ketika diputuskan
tidak akan digunakan lagi.
Kelima, apakah pemerintah masih mempunyai kewajiban terhadap asset, apabila asset
tidak produktif karena ternyata asset tidak memiliki kemampuan seperti yang
diakuinya.
Isu lain yang sangat spesifik dan sangat tergantung kepada Humint untuk
mendapatkan intelijen yang baik adalah masalah terorisme dan kejahatan narkotika.
Untuk menjaga hubungan dan kontak, intelijen sangat sering menggunakan uang
untuk menyuap anggota teroris atau anggota organisasi jaringan narkotika
internasional.
Ada yang berpendapat bahwa cara seperti ini tidak etis dan melanggar nilai-nilai
moral.
Sebaliknya para pelaku intelijen dan para pembuat keputusan dihadapkan kepada
pilihan yang sulit antara membuka akses kepada informasi yang sulit dan tidak

60

mungkin didapat melalui cara-cara yang lain, dengan cara membayar teroris maupun
pengedar narkotika meskipun cara inipun tidak disukai namun memberi akses yang
baik terhadap informasi yang diperlukan.
b. Kegiatan pengumpulan bahan keterangan dengan pola lainnya.
Selain melakukan perekrutan terhadap asset manusia sebagai sumber informasi,
intelijen menggunakan juga tehnik-tehnik tertentu untuk mengumpulkan bahan
keterangan seperti pencurian dokumen atau material, juga penyadapan yang dapat
dikatagorikan pelanggaran hukum.
Apa yang menjadi legitimasi intelijen melakukan kegiatan seperti itu yang melanggar
hak dan kebebasan seseorang?.
Dasar hukum untuk melakukan kegiatan seperti ini sangat beragam dan berbeda dari
satu negara kenegara yang lain.
Di Indonesia kewenangan Badan Intelijen Negara untuk melakukan penyadapan,
pemeriksaan aliran dana, dan penggalian informasi terhadap sasaran dijamin oleh
Undang-Undang Republik Indonesia tentang Intelijen Negara, khususnya pasal 31,
terutama yang terkait dengan:
1). Kegiatan yang mengancam kepentingan dan keamanan nasional meliputi
ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan, dan
sektor kehidupan masyarakat lainnya, termasuk pangan, energi, sumber daya
alam, dan lingkungan hidup; dan/atau
2). Kegiatan terorisme, separatisme, spionase, dan sabotase yang mengancam
keselamatan, keamanan, dan kedaulatan nasional, termasuk yang sedang
menjalani proses hukum.
Kewenangan Komisi Pemberantasan Korupsi untuk melakukan penyadapan sempat
menimbulkan kontroversi dan dianggap melanggar kebebasan seseorang dan
pelanggaran hukum karena tidak didukung oleh dasar hukum yang kuat.
Sebagian beranggapan bahwa Peraturan Menteri Komunikasi dan Informasi dapat
dipakai sebagai dasar hukum, namun hal ini dibantah oleh pihak lain yang
menganggap Peraturan Menteri dalam hirarhi per undang-undangan di Indonesia
tidak bisa dijadikan dasar hukum KPK dalam melakukan penyadapan.
Di Amerika Serikat setiap aparat intelijen dan penegak hukum harus mendapat
perintah pengadilan (Court Order) untuk melakukan penyadapan dan tehnik-tehnik
lainnya. Perintah pengadilan juga diperlukan untuk melakukan kegiatan pengumpulan
bahan keterangan dan data-data tentang mata-mata yang dicurigai.
c. Kegiatan rahasia.
Kegiatan rahasia meliputi kegiatan baik yang bersifat politik atau bukan tergantung
dari kepentingannya baik terhadap sasaran perorangan, organisasi maupun negara.
Isu dasar etika adalah tentang legitimasi kegiatan dan operasi ini, karena kegiatan
rahasia dapat menimbulkan konflik dengan cita-cita kemanusiaan dan keyakinan
pribadi seseorang.
Kegiatan rahasia meliputi kegiatan yang bersifat politik, ekonomi, dan pertahanan
keamanan.

61

Dengan alasan demi kepentingan nasional Amerika Serikat pernah memasok


narkotika untuk melemahkan pasukan Uni Sovyet dalam perang di Afganistan,
sementara itu Amerika Serikat juga mengkampanyekan anti narkoba.
Apakah perbuatan itu dapat dipandang sebagai perbuatan yang etis dan bermoral?.
d. Pembunuhan dan penyiksaan.
Sebelum peristiwa 11 September 2001 yang meluluh lantakan World Trade Center di
New York, pelarangan terhadap pembunuhan sebagai metode operasi rahasia
mendapat dukungan luas.
Tetapi setelah terjadi tragedi 11 September 2001 mulai muncul keinginan untuk
menghidupkan kembali metode penghilangan terhadap teroris dengan sasaran terpilih.
Pilihan ini tentu tidak mudah dilihat dari sisi etika dan moral.
Selain itu metode pembunuhan bukan merupakan cara yang efektif, tetapi sebaliknya
telah menimbulkan gelombang pembalasan yang akan menghancurkan bingkaibingkai hukum dan norma kemanusiaan dari kedua belah pihak.
Pernyataan perang Amerika Serikat terhadap teroris ada yang menduga sebagai upaya
untuk memberi legitimasi pembunuhan terhadap pemimpin teroris sebagai korban
perang.
Langkah-langkah untuk menjamin perlindungan hak sipil warga negara.28
a.. Implementasi kebijakan.
Setiap institusi penegak hukum harus menerapkan kebijakan hak-kebebasan individu,
kebijakan keamanan, dab Sistem filing dan pendataan yang sesuai dengan hukum dan
peraturan yang berlaku.
Hal ini memberi keuntungan ganda.
Pertama, menunjukkan kepada masyarakat bahwa institusi penegak hukum memiliki
kebijakan intelijen yang tidak melanggar hukum dan sesuai dengan ketentuan yang
baku.
Kedua, bila menghadapi gugatan, dapat digunakan untuk pembelaan bahwa kebijakan
yang diterapkan telah sesuai dengan hukum dan aturan yang berlaku dan
dilaksanakan secara profesional.
b. Pelatihan.
Pelatihan memiliki 3 tingkat yang fundamental.
Pertama, setiap institusi penegak hukum harus mengikuti pelatihan tentang intelijen.
Di Amerika Serikat pelatihan ini direkomendasikan sesuai NCISP (National Criminal
Intelligence Sharing Plan ) dan MCITS (Minimal Criminal Intelligence Training
Standards) termasuk program pelatihan tentang kesadaran intelijen (intelligence
awareness) bagi semua personal.
Kedua, disamping standar pelatihan semua personal dalam institusi perlu mendapat
pelatihan tentang kebijakan organisasi dalam semua aspek yang berkaitan dengan
fungsi intelijen.
Penekanan khusus perlu diberikan kepada kegiatan pengumpulan informasi,
penyimpanan, serta penyebaran intelijen.
28

. Ibid - hal 163

62

Ketiga, setiap personal yang disumpah, seperti disebutkan diatas harus memperhatikan
dengan sungguh-sungguh hal-hal yang berkaitan dengan pelanggaran hukum seperti
dalam kegiatan pengumpulan informasi.
Kebijakan ini menunjukkan kepada semua personal penegak hukum dan juga
masyarakat bahwa pelanggaran terhadap hak sipil dan hak individu adalah hal yang
tidak bisa ditolerir.
c. Pengawasan..
Kebijakan dan pelatihan yang baik, bila dipersamakan hanyalah merupakan sebagian
dari unsur sebuah persamaan.
Artinya organisasi harus dapat menjamin bahwa kebijakan, pelatihan dan prosedur
harus dapat memenuhi dan sesuai dengan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan
organisasi.
Apabila personal organisasi tidak mengikuti kebijakan yang telah ditetapkan atau salah
menerjemahkan, berarti ada kelemahan tanggung jawab yang sistemik dan menyeluruh
terutama bila dihubungkan dengan disiplin.
Adalah tugas para atasan sebagai pengawas termasuk pengawas lapangan untuk
menjaga dengan baik agar komitmen organisasi dan pemolisian yang sesuai dengan
hukum dipatuhi dengan baik oleh semua personal organisasi dan bekerja secara
profesional terutama bila berhubungan dengan kegiatan pengumpulan informasi.
Dalam sistem hukum di Amerika Serikat bila dalam kurun waktu tertentu diketahui ada
praktek dan pola pelanggaran terhadap hak-hak sipil, maka polisi dapat diadukan ke
pengadilan.
d. Pendidikan masyarakat.
Unsur yang kritis untuk keberhasilan intelijen untuk penegakan hukum adalah
pemahaman masyarakat tentang fungsi dan kegiatan intelijen penegakan hukum. Ada
dua alasan utama, yaitu:
Pertama, pendidikan masyarakat tentang fungsi dan kegiatan intelijen akan
mengurangi asumsi masyarakat yang keliru tentang intelijen.
Masyarakat sering mengasumsikan bahwa kegiatan intelijen penegakan hukum juga
melakukan kegiatan klandestin seperti dilakukan intelijen negara atau militer dalam
kegiatan pengumpulan informasi..
Kedua, pendidikan masyarakat juga digunakan sebagai media komunikasi dalam
memberi pengetahuan kepada masyarakat tentang simbol-simbol dan tanda-tanda
terorisme, juga menyiapkan masyarakat tentang apa yang perlu dilihat dan bagaimana
melaporkannya.
Pendidikan masyarakat ini diharapkan akan dapat membantu penegak hukum dalam
proses pengumpulan informasi.
Model ini akan menimbulkan rasa ikut berpartisipasi pada masyarakat dalam menjaga
keamanan masyarakat sendiri dan membantu mengurangi rasa tidak percaya
masyarakat kepada penegak hukum dalam memerangi kejahatan dan terorisme.
e. Proses yang transparan.

63

Fungsi intelijen, seperti juga semua aspek dari institusi penegak hukum haruslah
dilakukan melalui proses yang masuk akal dan dapat dimengerti serta transparan.
Sementara informasi tertentu yang digunakan dalam fungsi intelijen harus
dirahasiakan, tetapi proses penggunaan informasi tersebut tetap harus terbuka.
Kritik yang selama ini muncul terhadap intelijen penegakan hukum adalah proses
intelijen selalu dirahasiakan sehingga muncul anggapan bahwa intelijen penegak
hukum memata-matai warganya sendiri.
Anggapan seperti ini dapat dinetralisir apabila institusi penegak hukum dapat
menunjukkan dengan terbuka dan transparan bagaimana proses intelijen dilakukan,
termasuk kerjasama yang erat dengan institusi lain.
Tanpa memberitahukan kepada masyarakat tentang substansi catatan atau file intelijen,
upaya institusi penegak hukum untuk mendidik masyarakat tentang langkah-langkah
prosedural yang dilakukan dalam kegiatan pengumpulan bahan keterangan atau
informasi serta kebijakan penyimpanan data, upaya institusi penegak hukum untuk
menanamkan kesadaran tentang pemolisian akan sangat sulit dicapai.
f.. Audit yang bertanggung jawab.
Merupakan keharusan untuk melakukan audit internal secara berkala tentang proses
intelijen dalam institusi penegak hukum.
Ada dua langkah proses yang harus dilakukan.
Langkah pertama adalah pengawas atau kepala unit organisasi yang diaudit harus
melakukan review dan mendokumentasikan proses intelijen menindak lanjuti laporan
pemeriksaan.
Setelah itu langkah selanjutnya harus dilakukan pemeriksaan oleh auditor luar
(external auditor) yang akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan baik kepada auditor
internal maupun kepada pimpinan institusi.
Penting pula dipahami secara positif bahwa audit adalah proses kegiatan yang
dirancang untuk mengidentifikasi kelemahan dan kekurangan yang harus diperbaiki
sehingga institusi dapat berjalan sesuai dengan aturan dan ketentuan yang sesuai
dengan undang - undang yang diamanatkan.
g. Selalu bertindak dengan benar.
Semua kegiatan dan tindakan institusi penegak hukum dan seluruh personalnya harus
menunjukkan bahwa semua keputusan dari proses intelijen telah mencerminkan niat
yang sesuai dengan standar hukum yang berlaku.
Tindakan yang benar dapat ditunjukkan dengan berbagai cara termasuk
mengimplementasikan kebijakan dan prosedur, pelatihan personal, dan menjamin
bahwa pengawasan telah dilakukan dengan benar dan baik.
Banyak ruang kebebasan dalam proses intelijen sehingga sering terbuka ruang untuk
mengabaikan petunjuk hukum.
Apabila kerangka kerja telah tersusun untuk membantu personal dalam membuat
keputusan yang baik yang melindungi hak-hak individu dan sekaligus juga menjaga
ketertiban dan keselamatan masyarakat, sehingga kemungkinan terjadi pengabaian
hukum dapat dikurangi melalui tindakan yang benar.

64

h. Bantuan konsultan hukum..


Dalam kasus hukum yang menyangkut pelanggaran yang dilakukan personal
kepolisian, tergantung kepada konsep praktek pemolisian yang baik, masuk akal, dan
juga berbagai pertimbangan, tanpa menimbulkan kebencian ketika mengadili
pelanggaran yang dilakukan personal polisi pada masa lalu.
Hakim biasanya tidak ingin mencari kesalahan petugas yang melakukan pelanggaran
atau melanggar kebijakan yang telah ditetapkan.
Namun tanpa adanya kebijakan yang jelas, rencana pelatihan yang mendalam dan bukti
yang menunjukkan bahwa institusi telah melaksanakan kegiatan yang sesuai dengan
undang-undang, penasehat hukum akan mendapat kesulitan membela personalnya
menghadapi tuduhan pelanggaran hak sipil di pengadilan.

BAB IV.
65

PENGEMBANGAN DAN IMPLEMENTASI ILP.


Pada dasarnya tidak ada sebuah model yang sama dalam mengimplementasikan ILP pada
setiap institusi, karena hal ini sangat dipengaruhi oleh variabel lingkungan dan sumber
daya. Namun demikian ada semacam pendekatan yang dapat digunakan untuk
mengidentifikasi keperluan adanya intelijen dalam sebuah institusi, dan kemudian
merancang sebuah kebijakan dan memprosesnya untuk memfungsikan ILP dalam
institusi.
Pada intinya intelijen adalah bagaimana mengelola informasi, terutama informasi yang
dibutuhkan untuk mengidentifikasi ancaman ancaman terhadap masyarakat, dan
mendapatkan informasi yang cukup sebagai dasar untuk melakukan tindakan pencegahan
terhadap ancaman.
Seperti digambarkan dalam skema dibawah ini ada 3 fase proses yang berkaitan dengan
pengintegrasian ILP kedalam organisasi penegakan hukum.29
Tiga fase pengembangan ILP kedalam organisasi penegakan hukum.

Membangun kerangka kerja untuk Prioritas strategis dan Pengolahan informasi :


Perencanaan Manajemen Informasi
Kerangka kerja manajemen informasi adalah business plan yang menjadi petunjuk dan
mengarahkan serangkaian proses intelijen untuk fungsi intelijen.
Perencanaan ini mengidentifikasi masalah-masalah yang menjadi prioritas dan
melembagakan sebuah proses untuk memonitor masalah-masalah tersebut dengan
menggunakan 7 (tujuh) unsur-unsur kritis.
Pendekatan elementer digunakan seperti digambarkan dalam tabel dibawah ini, untuk
menjelaskan setiap unsur dengan menyusun pertanyaan, yang harus dijawab serta
organisasi yang bertanggung jawab untuk menjawabnya.
Tujuh unsur dari Perencanaan Manajemen Informasi. 30
KONSEP
29
30

PERTANYAAN

PENANGGUNG
JAWAB

.Ibid - hal 99.


. Ibid - hal 100.

66

Prioritas
Strategis
(Strategic
Priority)
Kebutuhan
Intelijen
(Intelligence
Requirement)
Rencana
Pengumpulan
(Collection
Plan ).
Analisis
(Analysis)
Produk intelijen
(Intelligence
Product)
Operasi
yang
perlu dilakukan
(Operasional
Responses)
Proses
pengkajian
ulang ( Process
Review)

Masalah apa yang penting dan menonjol bagi Pembuat


saya ?.
kebijakan
Informasi tambahan apa yang saya perlukan Pembuat
untuk lebih memahami setiap masalah, penyebab kebijakan,
dan dampaknya?.
Pemimpin
petugas
lapangan,dan
Analis.
Dimana (sumber informasi) dan bagaimana Pemimpin
(metode) saya akan mendapatkan informasi petugas lapangan
tambahan yang saya butuhkan untuk lebih dan Analis.
memahami masalah?.
Secara kolektif, apa makna dan arti dari Analis,
dengan
informasi baru dan pemahaman baru apa yang kupasan
oleh
muncul atas masalah?.
Supervisor.
Informasi yang dapat digunakan (actionable Analis
dengan
information) mana yang saya butuhkan yang masukan
dari
perlu saya teruskan kepada orang atau pihak lain pemimpin
untuk tindakan pencegahan atau pengendalian petugas lapangan.
masalah.
Kegiatan operasi yang tepat seperti apa yang Komandan
harus dilakukan untuk mencegah munculnya intelijen
dan
masalah yang menjadi prioritas?. Sumber daya Komandan
apa yang diperlukan?.
Operasi
Dari proses ini:
Komandan
- Apakah informasi yang diperoleh akurat Intelijen
dan
dan berguna?.
Komandan
- Apakah masalah yang ada dapat diatasi Operasi,
untuk
sebagai hasil dari informasi tersebut?.
disampaikan
- Apa yang dapat membuat proses lebih kepada Pembuat
baik?.
kebijakan sebagai
umpan balik.

Terintegarsi kedalam perencanaan manajemen informasi adalah proses intelijen.


Enam tahap dari Roda Perputaran Intelijen adalah operasionalisasi pencaharian dan
proses informasi yang diperlukan untuk fungsi intelijen.
Unsur unsur dari manajemen informasi secara kolektif membentuk Perencanaan
Manajemen Informasi.
Roda Perputaran Intelijen adalah mekanisme untuk menjamin bahwa informasi yang
dikumpulkan, dianalisis secara ilmiah, dan konsisten dengan praktek-praktek yang telah
berlaku.
Seperti digambarkan dalam skema dibawah ini proses intelijen merupakan subsistem
yang penting dari Perencanaan Manajemen Informasi

67

Struktur Perencanaan Manajemen Informasi.

Perencanaan Manajemen Informasi.


Tujuh unsur utama dari Perencanaan Manajemen Informasi mengintegrasikan fungsi
intelijen dengan semua institusi yang bertanggung jawab. Ini harus ditekankan bahwa ini
adalah unsur-unsur manajemen, dan dengan demikian bukan komponen-komponen
fungsional.
Sebagai contoh, komponen analisis dari perencanaan manajemen fokus kepada peran
analisis yang dilakukan pada manajemen informasi. Sebaliknya tahap analisis dari
proses intelijen fokus pada pengembangan bahan keterangan yang masih mentah menjadi
intelijen.
Dalam penjelasan selanjutnya akan dijelaskan secara singkat dari setiap unsur
perencanaan manajemen informasi
a. Membangun Prioritas Strategis untuk Intelligence Led Policing..
Prioritas strategis dari intelijen adalah ancaman teroris dan ancaman tindak kejahatan
yang dinyatakan, yang harus dimonitor dan diurus oleh institusi penegak hukum yang
dapat menimbulkan dampak terhadap keselamatan dan keamanan publik
Prioritas strategis harus dinyatakan secara spesifik dalam kontek komunitas setempat
dan rencana langkah-langkah institusi penegak hukum dalam mengelola prioritas
tersebut.

68

Merumuskan prioritas strategis merupakan proses yang komplek karena organisasi


penegak hukum mempunyai rentang tanggung jawab yang luas mulai dari pengaturan
lalu lintas sampai anti terror.
Namun dengan alasan pragmatis, seperti disebabkan oleh keterbatasan sumber daya,
maka tidak semua tanggung jawab yang diembannya dapat ditangani secara seimbang.
Pada setiap bentuk tanggung jawab harus ditentukan prioritasnya yang akan menjadi
acuan dalam menentukan alokasi sumber daya dan besaran upaya organisasi yang perlu
dibangun dalam menghadapi masalahnya.
Bahkan dalam setiap bentuk tanggung jawab tersebut akan muncul prioritas-prioritas
tambahan atau subprioritas.
Sebagai contoh: Polisi lalu lintas menetapkan prioritas strategisnya yang berhubungan
dengan pengaturan lalu lintas (traffic control).
Didalam prioritas strategis pengaturan lalu lintas tersebut ada subprioritas seperti:
- Investigasi kecelakaan lalu lintas.
- Mengemudi sesuai dengan peraturan lalu lintas.
- Penegakan hukum dalam hal pengendalian kecepatan kendaraan.
- Pendaftaran kendaran dan peraturan penegakan hukum berlalu lintas.
- Peraturan parkir.
Prioritas strategis dipengaruhi oleh pengaruh sistemik dari beberapa faktor lingkungan,
seperti:
- Pemahaman tentang ancaman terhadap keselamatan publik.
- Tingkat keseriusan dari setiap ancaman.
- Prioritas politik dalam masyarakat.
- Sumber daya dari institusi penegak hukum.
- Kemahiran dari institusi penegak hukum.
- Prioritas pribadi atau professional dari pejabat eksekutif institusi penegak hukum.
- Kewajiban dalam kesepakatan kemitraan dengan institusi penegak hukum lain,
institusi yang berhubungan dengan keselamatan publik, atau sektor swasta.
- Kewajiban dana khusus.

Contoh Prioritas Strategis dari ILP.


Prioritas Strategis untuk ILP dari Institusi Kepolisian tingkat kota
- Terrorisme .
. Kelompok teroris yang berafiliasi internasional.
. Tindakan radikal perorangan yang mendukung ideologi kelompok teroris yang
berafiliasi internasional.

69

.
.
-

Ekstrimis kejahatan sayap kanan.


Ektrimis kejahatan lingkungan.

Homeland Security.
. Infrastruktur kritis.
. Instalasi tenaga listrik.
. Instalasi air minum.
. Instalasi militer.
. Sumber daya penting.
. Pabrik mobil.
. Gudang dan pusat penyimpanan logistik.
Kekerasan dengan menggunakan senjata api.
. Perampokan.
. Pembunuhan.
. Penyerangan.
Geng.
. Semua jenis kejahatan geng.
Kegiatan kejahatan terorganisasi.
. Rentenir.
. Pemalsuan kredit card.

b. Kebutuhan intelijen (intelligence requirement).


Perumusan dan penggunaan kebutuhan intelijen adalah hal yang lazim dalam dunia
intelijen, namun relatif baru dalam dunia penegakan hukum.
Ini disebabkan oleh perbedaan jurisdiksi, aplikasi kebutuhanpun sedikit berbeda dalam
dunia penegakan hukum.
Informasi yang hilang yang diperlukan untuk dapat lebih memahami ancaman, sasaran,
dan yang dicurigai dusebut dengan intelligence gap atau celah intelijen.
Informasi yang diidentifikasi untuk mengisi celah tersebut yang disebut dengan
intelligence requirement atau kebutuhan intelijen.
Kebutuhan ini dapat membantu para eksekutif atau administrator membuat keputusan,
dan keputusan tersebut terbentang dalam rentang yang luas, seperti contoh dibawah ini.
- Menentukan apakah yang pantas dicurigai memang ada.
- Sumber daya apa yang dikerahkan.
- Apakah menyiapkan untuk ancaman baru.
- Menentukan apakah ada sasaran baru dalam sebuah komunitas.
- Alternatif persiapan untuk menghadapi ancaman atau bahaya baru.
- Menentukan apakah kemitraan baru diperlukan untuk mengembangkan upaya dalam
menghadapi gambaran perubahan ancaman.
- Menentukan apakah perlu dibentuk keakhlian atau spesialisasi baru untuk menghadapi
ancaman.
- Mengidentifikasi pelatihan baru untuk personal yang diperlukan dalam menghadapi
perubahan gambaran tersebut.

70

Hal penting yang harus dicatat adalah, kebutuhan (requirement) mendefinisikan tentang
jenis informasi yang harus dikumpulkan yang berhubungan dengan prioritas strategis.
Pengumpulan informasi untuk menjawab kebutuhan intelijen harus dilakukan dengan
pengerahan sumber daya yang proaktif.
Pengumpulan informasi ini dilakukan termasuk dari sumber informasi terbuka, sistem
informasi penegakan hukum dan intelijen, kegiatan tertutup, informan, petugas patroli,
kemitraan dengan swasta, kemitraan dengan masyarakat, termasuk pengamatan dengan
menggunakan teknologi.
Semua itu diartikulasikan dalam rencana pengumpulan (collection plan).
c. Rencana pengumpulan.
Rencana pengumpulan adalah prosedur sistematik untuk mengumpulkan informasi yang
relevan dari sumber-sumber yang legal, untuk menjawab kebutuhan intelijen dalam
menghasilkan produk intelijen. Biasanya dalam rencana pengumpulan informasi
ditetapkan kerangka waktunya, meskipun untuk kebutuhan intelijen yang bersifat tetap,
kerangka waktunya berkelanjutan.
Rencana pengumpulan berhubungan dengan prioritas strategis melalui kebutuhan
intelijen dengan mengumpulkan informasi yang ditargetkan tentang ancaman baik yang
bersifat taktis maupun yang bersifat strategis.
Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam rencana pengumpulan adalah:
- Apakah kebutuhan intelijen telah dirumuskan dengan jelas dalam menetapkan
lokasi dan identitas khusus dari informasi yang dibutuhkan?.
- Apakah sumber-sumber terbuka telah digunakan sebagai pilihan pertama?.
- Adakah dari informasi yang harus dikumpulkan, yang telah tersedia baik dari
masyarakat atau Laporan Aktifitas yang mencurigakan (Suspicious Activity
Report)?.
- Apakah mitra yang ada dapat membantu menjawab kebutuhan intelijen yang telah
ditetapkan?. (Sebagai contoh mitra dari sektor swasta, kemitraan dengan
masyarakat, dan sebagainya).
- Apabila tidak memungkinkan mendapat informasi dari sumber-sumber terbuka
atau dari informasi yang telah dikumpulkan, metode apa yang harus digunakan
untuk mengumpulkan informasi?.
- Sumber apa yang akan digunakan untuk pengumpulan informasi?.
- Adakah metode teknologi khusus, kalau ada apakah diperlukan untuk pengumpulan
informasi?.
- Apakah ada hambatan administratif maupun hukum dalam pengumpulan
informasi?.
- Apakah diperlukan notifikasi atau ijin untuk mengumpulkan jenis informasi yang
spesifik?.
- Apakah validitas sumber dan tingkat kepercayaan terhadap informasi dapat dinilai
dengan akurat?. Apabila tidak maka sumber-sumber lain harus dicari.
Informasi yang telah dikumpulkan dan telah menjawab kebutuhan intelijen serta kaidahkaidah informasi lainnya, dianalisis,dan hasilnya berupa produk intelijen digunakan
untuk memonitor prioritas strategis, dan menetapkan langkah-langkah operasional apa
yang harus dilakukan sebagai respon terhadap ancaman dari setiap prioritas strategis.

71

Salah satu isu yang sangat penting dalam pengumpulan informasi adalah pengkajian
tentang metode yang digunakan dalam pengumpulan informasi.
Ketika institusi penegak hukum melakukan pengumpulan informasi, harus melalui suatu
proses yang tidak melanggar hukum.
Metode pengumpulan informasi yang tidak melanggar hukum ini penting disebabkan
oleh 3 (tiga) alasan :
Pertama, adalah jaminan konstitusional bahwa semua petugas penegak hukum telah
disumpah untuk tidak melanggar hukum dalam menjalankan tugasnya dan fungsinya.
Kedua, dalam pengadilan kriminal bukti penting bisa diabaikan bila diperoleh dengan
cara melanggar hukum.
Ketiga, bila kemudian diketahui bahwa pengumpulan informasi dilakukan dengan pola
yang melanggar hukum institusi penegak hukum akan menghadapi tuduhan telah
melakukan pelanggaran hak-hak sipil.
d. Analisis.
Data-data dan informasi yang masih mentah yang dikumpulkan sesuai dengan rencana
pengumpulan memiliki nilai yang rendah, kecuali telah mengalami proses analisis.
Berpedoman kepada pendekatan ilmiah dalam proses pemecahan masalah, alasan yang
logik, dan interpretasi data yang objektif, proses analisis menghasilkan arti yang utuh
terintegrasi dari berbagai informasi yang terpisah-pisah.
Analisis membangun keterkaitan antara data-data yang berbeda, sebab dan akibat, serta
korelasi dari kegiatan dan tata laku.
Pengetahuan baru yang didapat dari analisis dapat memberikan pemahaman terhadap
datang atau munculnya ancaman, serta metode intervensi yang potensil.
Sudah tentu sasaran dari analisis yang efektif adalah untuk menjamin bahwa kesimpulan
yang dirumuskan dari proses tersebut dapat digunakan (actionable), dalam arti bila hasil
analisis tersebut diberikan kepada unit-unit operasional institusi penegak hukum, telah
tersedia detail yang cukup bagi unit-unit operasional untuk mengembangkan sebuah
rencana bertindak untuk mencegah atau mengatasi ancaman.
Informasi yang dapat digunakan ini disajikan dalam format tertulis disebut dengan
produk intelijen.
e. Produk Intelijen.
Produk intelijen adalah sebuah laporan dan mekanisme penyebaran yang berisi dan
menyampaikan hasil proses analisis. Idealnya setiap unit intelijen atau unit intelijen
gabungan harus dapat menghasilkan produk intelijen yang dapat memenuhi kebutuhan
khusus yang diperlukan oleh pengguna yang berbeda-beda.
Laporan harus memiliki format dan tampilan yang tetap (sebagai brand) yang akan
membantu pengguna memilih produk yang tepat yang sesuai dengan tanggung jawabnya.
Sebagai contoh, ketika sebuah ancaman teridentifikasi dan dilaporkan, para pemimpin
membutuhkan informasi yang berbeda dengan petugas dilapangan.
Kewaspadaan yang sesuai dengan situasi yang berkembang (situational awareness),
analisis strategik, dan indikator taktis merupakan produk intelijen yang mempunyai fokus
yang berbeda terhadap ancaman yang sama.

72

Setiap unit intelijen dan kantor unit gabungan akan menentukan jenis produk intelijen
yang akan diproduksi. Penting untuk diperhatikan bahwa produk intelijen merupakan
metode yang utama dimana fungsi intelijen akan berinteraksi dengan pengguna intelijen.
Manfaat dan kegunaan dari unit intelijen akan dinilai dari produk intelijen yang
disebarkannya. Produk intelijen harus memenuhi kriteria, cukup dari sisi kualitas,
substansi, dan tingkat kegunaannya, sehingga unit-unit operasional akan dapat
mengembangkan taktik dan strategi untuk mencegah terjadinya atau berwujudnya
ancaman.
Dengan menjaga terpenuhinya karakteristik tersebut pada setiap produk intelijen, maka
akan dapat memaksimalkan penggunaan produk intelijen, yang pada gilirannya akan
terpeliharanya keamanan, ketertiban dan keselamatan masyarakat.
f. Operasi penanggulangan.
Mengidentifikasi ancaman lewat Proses Intelijen merupakan resep yang penting untuk
keselamatan masyarakat. Intelijen bagaimanapun hanya merupakan salah satu dari
masalah keamanan. Unsur kritis berikutnya adalah komandan unit-unit operasional yang
mengembangkan rencana tindakan yang dapat menghentikan atau menggagalkan
ancaman.
Sebagian operasi penanggulangan mungkin sangat sederhana, seperti memberikan
indikator-indikator tentang ancaman, sehingga para petugas dapat meningkatkan
kewaspadaan selama melakukan tugas dan tanggung jawab sehari-hari.
Tindakan penanggulangan lain mungkin lebih rumit seperti melakukan taktik penekanan
Seperti melakukan patroli yang intensif dan ekstensif, intervensi proaktif seperti
pemeriksaan kendaraan serta melakukan wawancara lapangan terhadap orang dan
kelompoknya yang diduga merupakan bagian dari ancaman, perkuatan sasaran, pelatihan
bagi masyarakat, membentuk satuan tugas, melakukan investigasi yang progresif untuk
mengidentifikasi dan menangkap para pelanggar.
Penting untuk dicatat bahwa unit operasional harus menyandarkan kepada fungsi intelijen
sebagai acuan ketika mengembangkan intervensi strategis.
Analis yang memiliki pemahaman yang komprehensif terhadap ancaman dapat
memberikan umpan balik yang bernilai untuk perencanaan operasi.
Hal yang tidak dapat dihindari dalam melaksanakan operasi penanggulangan adalah
pembiayaan. Dalam kontek ini masalah alokasi sumber daya adalah tanggung jawab
pimpinan operasi ketika mengembangkan metode operasi, fungsi intelijen dapat
membantu dengan mengembangkan prioritas dan fokus strategis, sehingga dapat
dilakukan efisiensi penggunaan sumber daya.

g. Kaji ulang dari proses.


Langkah terakhir dari perencanaan manajemen informasi adalah melakukan review
terhadap seluruh proses yang telah dilakukan untuk melihat tentang intelijen yang telah
dihasilkan dan juga apabila muncul celah intelijen yang baru.
Untuk itu perlu ditanyakan hal-hal sebagai berikut:
- Apakah informasi atau intelijen sudah akurat?.
- Apakah ancaman telah diidentifikasi dengan akurat?.

73

- Apakah sifat dan karakteristik ancaman telah diidentifikasi dengan akurat?.


- Apakah sasaran telah diidentifikasi dengan akurat?.
- Apakah kerawanan sasaran telah diidentifikasi dengan akurat?.
- Apa yang telah dapat dipelajari dari korban, saksi, pelaku pelanggaran / kejahatan,
dan dari tempat kejadian perkara?.
- Apakah ada intelijen yang dapat digunakan baik dari intelijen tehnik atau dari
kegiatan pengamatan?.
- Apa yang telah dipelajari dari celah intelijen dan apakah ada informasi yang dapat
dikumpulkan dari sumber yang tetap untuk menghindari celah intelijen dikemudian
hari?.
- Apakah terjadi perubahan ancaman setelah dilakukan operasi penanggulangan?.
Kalau terjadi, apa sebabnya?.
- Apakah operasi penanggulangan yang telah dilakukan menyebabkan perubahan
posisi ancaman, yang pada gilirannya menimbulkan ancaman baru diwilayah yang
berbeda?.
- Operasi penanggulangan apa yang digunakan dan apakah dapat mengatasi
kelemahan ancaman bila operasi serupa dilakukan pada masa yang akan datang?.
- Apakah ada ancaman baru atau apakah ancaman baru sudah teridentifikasi?.
- Apakah institusi lain sebagai mitra (termasuk sektor swasta) terlibat dalam setiap
aspek pengumpulan informasi atau operasi penangulangan?.
- Keuntungan apa yang didapat?.
- Umpan balik apa yang telah mereka berikan?.
- Umpan balik apa yang telah diberikan kepada mereka?
- Langkah-langkah apa yang telah dilakukan untuk mencegah ancaman muncul
kembali?.

Infrastruktur Organisasi ILP.


Sebelum ILP diterapkan kedalam institusi penegak hukum, terlebih dahulu harus
dikembangkan beberapa variabel seperti tertulis dibawah ini. Kerumitan dan rincian dari
rumusan ini sangat berbeda antara satu institusi dengan institusi lainnya. Ini sangat
tergantung dari faktor-faktor dibawah ini:
- Besarnya institusi.
- Sumber daya.
- Demografi dari wilayah jurisdiksi.
- Lokasi jurisdiksi.
- Karakter wilayah (industri, pusat kota, wilayah pinggiran kota, penduduk yang
berpindah).
- Hubungan dengan masyarakat (cenderung konflik, mendukung, banyak penduduk
yang tidak terdata).
- Pandangan para pejabat wilayah dan pemimpin masyarakat terhadap intelijen.
Penilaian dari variabel-variabel diatas, yang dalam banyak hal sangat tergantung dari
masing-masing institusi, akan dapat membantu dalam mengembangkan ILP.
Komponen ILP.

74

Komitmen
terhadap
konsep
(termasuk
sumber
daya)

Kemitraan
(Masyarakat
dan sektor
swasta)

Proses
Rencana
pertukaran Operasi
informasi
(intra dan
ekstern)

Kemampuan Alterrnatif
Analisis
operasi
penanggulangan
yang
bersifat
taktis
dan
strategis.

Komitmen.
Memberdayakan ILP harus dimulai oleh pimpinan institusi dahulu, melalui pemahaman
konsep ILP, karena bila pimpinan institusi penegak hukum tidak memahami dan tidak
komit terhadap konsep, tidak mungkin ILP berfungsi dengan baik.
Selain itu komitmen ini harus diartikulasikan dalam bentuk kebijakan.
Komitmen pimpinan ini harus diwujudkan dalam pengalokasian sumber daya baik
personel maupun finansial untuk membangun dan mengimplementasian konsep ILP.
Apabila anggota dari institusi tidak meyakini komitmen pimpinannya terhadap program
baru ini, maka segala upaya untuk mengimplementasikan ILP tidak akan berjalan efektif.
Kemitraan.
Untuk mewujudkan ILP yang efektif perlu membangun kemitraan yang luas. Kemitraan
ini perlu dibangun baik dengan institusi pemerintah yang lain diluar institusi penegak
hukum maupun dengan sektor swasta, serta juga dengan masyarakat.
Masing-masing dapat memberikan kontribusi penting dalam memberikan informasi yang
penting untuk proses intelijen.
Yang penting untuk kemitraan dengan sektor publik adalah mereka memahami apa yang
harus di kenali dan bagaimana melaporkannya kepada penegak hukum. Makin tinggi
tingkat kemungkinan partisipasi masyarakat dalam melaporkan informasi kepada
penegak hukum, maka makin tinggi pula kemungkinan untuk menggagalkan tindakan
terorisme dan kejahatan terorganisasi.
Kemitraan seperti ini telah dikembangkan di Kepolisian Inggris khususnya di London,
Turki dan Israel agar masyarakat dapat melaporkan informasi yang spesifik berupa
Kebutuhan Intelijen atau Intelligence Requirement kepada polisi untuk membantu
pencegahan terorisme.
Regional Community Policing Institute - Amerika Serikat mengembangkan pilot project
program ini melalui Wichita State University yang memberi pelatihan Public
awareness dan dihadiri sekitar 600 peserta.
Ada beberapa faktor kunci agar kemitraan ini dapat berjalan efektif.
- Institusi penegak hukum harus membangun kemitraan yang dapat dipercaya oleh
masyarakat dan saling percaya ini akan tumbuh melalui dialog, tidak cukup hanya
dengan meet and greet

75

Sekali saling percaya ini terbangun, komunikasi dua arah yang efektif perlu dibangun
melalui orang perorang, bisa melalui sarana e-mail, telepon, atau mungkin ada orang
yang lebih suka bertatap muka dengan mitra petugas yang dipercayainya.
Kepada masyarakat perlu diperkenalkan tanda-tanda, simbol ataupun kode-kode yang
biasa dipakai oleh kelompok teroris ataupun kejahatan terorganisir, demikian juga
tingkah laku yang aneh yang mengarah kepada kegiatan terorisme atau kejahatan
terorganisir, dalam upaya meningkatkan kewaspadaan masyarakat.
Dalam pelatihan harus pula diberitahukan tentang jenis informasi yang harus
didokumentasikan yang dilaporkan kepada penegak hukum.
Sedangkan tentang tingkah laku, bukti, kendaraan, atau diskripsi tentang orang bukan
kebiasaan dari masyarakat tetapi tugas dari kepolisian.
Jadi harus dijelaskan kepada mitra tentang apa yang perlu dilaporkan disertai waktu,
tanggal, dan tempat
Institusi penegak hukum harus membangun sistem dan proses perlindungan bagi
keamanan mitra baik perorangan maupun kelompok

Kemitraan masyarakat.
Seperti juga masalah kriminalitas yang lain serta problem kemasyarakatan, pengerahan
dukungan masyarakat merupakan hal yang penting.
Dalam dunia intelijen ada dua faktor penting yang membuat masalah dukungan menjadi
lebih menantang.
Pertama, institusi penegak hukum sangat berkepentingan terhadap ancaman.
Kedua, banyak anggota masyarakat tidak menginginkan peran intelijen dalam penegakan
hukum.
Dalam hal ancaman tidak cukup hanya dengan mengingatkan masyarakat agar waspada
terhadap hal yang mencurigakan, tetapi Petunjuk dan pengarahan diperlukan.
Sebagai contoh khususnya di Amerika Serikat, masyarakat dihimbau untuk melaporkan
bila ada orang bertampang Timur Tengah yang memotret atau mengawasi obyek vital
Dalam hal ini masyarakat sering bersikap stereotip baik disengaja atau tidak. Untuk ini
perlu ada petunjuk khusus yang lebih jelas tentang tingkah laku yang bagaimana yang
dianggap mencurigakan sehingga informasi yang disampaikan masyarakat memiliki nilai
intelijen dan berguna bagi institusi penegakan hukum.
Petunjuk yang jelas ini akan mengurangi sikap stereotip yang menyamakan semua orang
yang bertampang Timur Tengah sebagai sosok yang berbahaya.
Untuk mengajak masyarakat berperan dalam bidang intelijen bukan hal yang mudah,
karena banyak anggota masyarakat merasa seolah-olah dijadikan informan termasuk
memata-matai tetangganya meskipun merekapun menghargai peran intelijen. Mereka
merasa melanggar hak-hak sipil dan hak individu.
Untuk itu diperlukan pelatihan masyarakat agar tumbuh pemahaman yang benar tentang
peran intelijen dalam penegakan hukum.
Pelatihan ini harus memberikan wawasan kepada masyarakat tentang apa yang harus
dilihat, informasi apa yang perlu didokumentasikan dan diperlukan oleh penegak hukum,
dan bagaimana melaporkan informasi kepada petugas atau institusi penegak hukum.
Selain itu hal yang sangat penting adalah bagaimana menjalin jalur komunikasi dan
membangun sikap saling percaya antara institusi penegak hukum dengan masyarakat.

76

Kemitraan dengan swasta.


Kemitraan dengan sektor swasta lebih terstruktur dibandingkan dengan kemitraan dengan
masyarakat.
Semua sektor bisnis adalah subyek dari kemitraan, namun bagi yang cenderung rawan
terhadap ancaman perlu diberikan prioritas yang tinggi.
Sektor swasta memiliki sumber informasi yang besar yang dapat dimanfaatkan secara
berdaya guna dalam pertukaran informasi, terutama karena banyak yang memiliki kontak
serta jaringan komunikasi global sehingga berguna dan bernilai dalam upaya penegakan
hukum.
Pertukaran informasi dapat dilakukan melalui delivery persons yang dapat bersiap siaga
terhadap hal-hal yang mencurigakan, personal pengamanan dari perusahaan, atau
personal bagian pemasaran yang dapat memantau pembelian yang mencurigakan dan
tidak biasa, sehingga pertukaran informasi dengan sektor swasta akan makin menguat.
Dalam kasus tertentu institusi penegak hukum dapat membangun penghubung (liaison)
intelijen dengan perusahaan untuk memfasilitasi pertukaran informasi antara kedua belah
pihak.
Bentuk kemitraan ini akan meningkatkan efisiensi dan efektifitas proses pertukaran
informasi. Seperti pada kemitraan dengan masyarakat, institusi penegak hukum perlu
memberikan pelatihan, dan dalam kasus-kasus tertentu dapat memberikan pelatihan
khusus yang unik untuk perusahaan tertentu.
Agar intelijen untuk penegakan hukum dapat fokus kepada semua bentuk kejahatan dan
semua ancaman, penghubung intelijen harus menaruh perhatian yang lebih besar dari
sekedar masalah terorisme.
Ketika institusi penegak hukum bekerjasama secara erat dengan perusahaan swasta dan
informasi yang detail dipertukarkan, ada dua masalah penting yang harus diperhatikan.
Pertama, perlindungan terhadap hak privat warga negara. Sebagai contoh ketika
identitas pribadi seorang warga negara atau orang yang tidak melanggar hukum diberikan
kepada sebuah perusahaan, misalnya antara institusi penegak hukum dengan perusahaan
penerbangan. Meskipun dipandang penting dan ada alasan yang jelas untuk memberikan
identitas pribadi kepada pihak lain, kehati-hatian harus tetap dijaga untuk menjamin
kebenaran dan ketepatan tentang informasi pribadi yang disampaikan serta melindungi
hak privat seseorang. .
Kedua, adalah isu tentang perlindungan hak informasi perusahaan.
Sebagai contoh perusahaan dapat memberikan informasi tentang produk dan proses bisnis
perusahaan kepada pihak penegak hukum sebagai sarana untuk mendeteksi dan
mengurangi kemungkinan ancaman. Ini merupakan kewajiban bagi institusi penegak
hukum untuk melindungi hak informasi perusahaan.
Bentuk kemitraan.
Kemitraan dapat dibangun dalam bentuk yang berbeda tergantung dari sumber daya,
ancaman, dan informasi yang diperlukan.
Semua akan ditentukan oleh faktor-faktor seperti sifat ancaman dalam masyarakat, jenis
infrastruktur kritis, dan sumber daya yang vital dalam satu wilayah dan kerawanannya,

77

yang juga penting adalah kehendak dan niat dari masyarakat serta pemimpin organisasi
swasta untuk menjadi mitra dalam pertukaran informasi.
a. Kemitraan penuh melalui penugasan personal.
Kemitraan penuh adalah ketika seorang personal dari sektor swasta ditempatkan
secara full-time kedalam organisasi intelijen. Personal tersebut biasanya akan
mewakili sektor bisnis atau asosiasi bisnis, tidak hanya mewakili perusahaan
darimana dia berasal.
Sebagai contoh Boeing Corporation telah menempatkan seorang analis intelijen yang
telah mendapat Security Clearance dari Departemen Pertahanan, di Pusat Analisis
Bersama di Washington atau Washington Joint Analysis Center (WAJAC). Analis ini
tidak hanya mewakili Boeing tetapi mewakili seluruh industri pesawat terbang
termasuk supplier.
Ketentuan ini untuk menghindari tuduhan menganak emaskan salah satu perusahaan
selain untuk tujuan efisiensi dan efektifitas dengan menempatkan satu orang yang
mewakili bisnis sejenis, dari pada menempatkan banyak orang untuk perusahaan yang
sejenis.
Masalahnya adalah mendapatkan jaminan bahwa perwakilan di sektor tersebut telah
memiliki persetujuan dari perusahaan lainnya untuk melakukan pertukaran informasi
yang diperlukan.
Untuk penugasan kemitraan penuh minimal harus dilakukan beberapa ketentuan yaitu
pengusutan latar belakang dari personal yang ditugaskan, memorandum
kesepakatan dengan masyarakat maupun sektor swasta yang memerinci tentang tugas,
tanggung jawab, dan proses dari kedua entitas tersebut yang berhubungan dengan
penugasan personal, serta kesepakatan khusus (nondisclosure agreement) yang
ditanda tangani.
Intelijen penegakan hukum perlu melakukan penilaian tentang sektor kritik di
wilayahnya masing-masing untuk menetapkan sektor mana yang harus diwakili
b. Kemitraan penuh melalui pertukaran informasi.
Melalui pengaturan waktu penuh terjadi pertukaran informasi dua arah antara
penegak hukum dengan mitra sektor swasta secara berlanjut seperti yang terjadi antar
sesama penegak hukum. Perbedaan bentuk ini dengan bentuk kemitraan penuh adalah
dalam bentuk ini personal yang ditugaskan mewakili sektor swasta atau masyarakat
tidak ditempatkan di unit intelijen, tetapi tetap bekerja sebagai pegawai ditempatnya
bekerja. Ini terutama bermanfaat bila kebutuhan intelijen yang tetap berkaitan dengan
sector swasta.
Model yang biasa digunakan adalah program penghubung intelijen atau Intelligence
Liaison Officer (ILO).
Konsep ILO akan membangun hubungan formal dengan sektor swasta yang
menugaskan seseorang sebagai contact point dalam pertukaran informasi dua arah.
ILO dibentuk untuk tujuan keamanan, mendapat pelatihan bersama petugas intelijen
dari institusi penegakan hukum tentang intelijen, kontra terorisme, dan intelijen
tentang keamanan dalam negeri, juga diberikan wilayah tanggung jawab untuk
pertukaran informasi, serta diberikan akses untuk mengamankan system e-mail untuk
pertukaran intelijen. Meskipun ILO tetap berada di kantornya namun harus secara

78

berkala bertemu dengan kelompok intelijen untuk mendiskusikan isu-isu dalam upaya
memaksimalkan efektifitas pertukaran informasi, juga untuk memelihara hubungan
timbal balik yang sangat penting dalam program ILO.
Karena ILO tetap berada ditempatnya masing-masing maka pengamanan informasi
menjadi sangat penting. Program ILO ini biasanya ditempuh bila sektor swasta tidak
mempunyai cukup personal untuk diperbantukan kepada institusi penegak hukum.
c. Kemitraan yang bersifat Ad Hoc atau sementara.
Kemitraan bentuk ini dibentuk sesuai keperluan (as-needed basis). Ini terutama
dibentuk bila tidak ada kebutuhan intelijen yang bersifat tetap yang diperlukan dari
industri sektor swasta.
Ketika ditengarai ada ancaman yang berhubungan dengan sektor swasta atau
organisasi tertentu, kemitraan dibangun dan ditetapkan mekanismenya agar
pertukaran informasi dapat dilakukan dengan cepat.
Dalam kasus yang ekstrem, perwakilan sektor swasta diperbantukan untuk sementara
di institusi penegakan hukum.
Prosedur yang berlaku dalam program ILO harus tetap diberlakukan dalam bentuk
kemitraan ad hoc
Kemitraan penegak hukum dengan sektor swasta dalam prakteknya menghadapi beberapa
kendala.
a. Hambatan dalam pertukaran informasi menyangkut ketidak jelasan tentang jenis
informasi apa yang bisa dipertukarkan dengan sektor swasta karena kepentingan
perlindungan hak-sipil dan pribadi.
Demikian juga tentang informasi dengan katagori hanya untuk penegak hukum. Selain
itu penetapan metode yang dapat diterima untuk pertukaran informasi yang sensitif dan
intelijen
b. Lemahnya tingkat kepercayaan antara sektor swasta dengan penegak hukum.
Sering kedua belah pihak melihat bahwa masing-masing memiliki tujuan yang berbeda
dan wilayah yang berbeda. Wilayah penegak hukum adalah masyarakat yang
dilayaninya, sedangkan sektor swasta selain masyarakat, juga para investor yang
berada diluar komunitas lokal.
Sering juga timbul hal ketidak percaya dari masing-masing pihak yaitu bila satu pihak
berlaku koperatif apakah pihak lain juga akan bersikap sama.
c. Misinformasi dan kesalah pahaman.
Masalah ini timbul sebagai akibat tidak terbangunnya saling percaya antara kedua
belah pihak. Sering sekali terjadi masing-masing pihak tidak saling memahami dengan
benar apa yang dilakukan atau dapat dilakukan oleh pihak lain. Dan ini sering dilihat
oleh kedua belah pihak sebagai hal yang tidak dapat diperbaiki.
Ada semacam penuntun yang direkomendasikan untuk menghilangkan kendala itu yaitu:
6. Komunikasi (Communication) Sasaran atau tujuan, perencanaan, jenis informasi
yang dipertukarkan, dan kepentingan masing-masing harus ditegaskan secara jelas
dan dibicarakan oleh kedua belah pihak agar tidak menimbulkan kesalah pahaman.

79

b. Kerjasama (Cooperation) Upaya-upaya yang jelas dan terbuka harus dilakukan


untuk dapat bekerjasama dengan pihak lain.
Dalam kerjasama pasti masing-masing pihak akan mendapat keuntungan atau
menderita kerugian.
Mencari cara-cara yang kreatif harus merupakan hal yang paling penting agar dapat
terbangun hubungan yang saling percaya.
c. Koordinasi (Coordination) Pastikan bahwa kegiatan dan tanggung jawab masingmasing pihak diartikulasikan secara jelas untuk menjamin tidak terjadi duplikasi dan
semua kegiatan dapat dilakukan dengan baik.
d.. Kolaborasi (Collaboration) Tidak hanya bekerja bersama, tetapi juga membuat
perencanaan bersama. Masing - masing pihak harus dapat memanfaatkan keakhlian
dan kekuatan pihak lain.
Proses pertukaran informasi.
Inti dari intelijen yang efektif adalah mendapatkan serta melakukan pertukaran informasi
atau bahan keterangan yang kritis. Adalah hal yang logis bila setiap institusi penegakan
hukum harus mengembangkan tata cara atau mekanisme untuk mendokumentasikan, dan
mengelola begitu banyak informasi baik jumlah maupun macam informasi yang
diperoleh,.yang berbeda atau terpisah dari sistem manajemen dokumentasi yang ada.
Mekanisme ini akan berbeda dari satu institusi penegak hukum dengan institusi penegak
hukum yamg lain, tergantung dari besarnya organisasi serta ketersediaan sumber daya.
Meskipun ada perbedaan, sejumlah pertanyaan harus dijawab ketika mengembangkan
kemampuan sistem dokumentasi intelijen atau informasi yang sensitif.
Pertanyaan pertanyaan itu diantaranya adalah:
- Dimana dan bagaimana informasi disimpan?. Perlu dicatat di Amerika Serikat sebagai
negara yang sudah maju masih terdapat sistem penyimpanan yang sederhana seperti
melalui pencatatan dibuku, fotokopi, atau melalui fax
Ini terjadi karena organisasi yang kecil, dan berada diwilayah terpencil.
- Bagaimana kepercayaan terhadap sumber informasi dan validitas informasi dievaluasi.
- Bagaimana keakuratan seluruh informasi dapat dijamin.
- Bagaimana pengamanan informasi dilakukan?.
- Siapa yang memiliki akses terhadap informasi dan dalam kondisi apa akses tersebut
diberikan?.
- Siapa yang mempunyai wewenang memasukkan informasi kedalam sistem?.
- Bagaimana aturan pertukaran informasi, dan siapa yang memiliki kewenangan untuk
menentukan diseminasi informasi?.
- Apakah telah diambil langkah-langkah yang cukup untuk pengamanan informasi?.
Pertanyaan ini semua harus dapat dijawab dan dijabarkan sebagai bagian dari
pembentukan struktur ILP.
Penting untuk diperhatikan bahwa sistem dokumentasi yang akan dibangun harus dijamin
telah sesuai dengan peraturan dan hukum yang berlaku.
Rencana operasi.
Sebagian besar institusi penegak hukum mempunyai rencana operasi, termasuk
didalamnya pernyataan tentang misi, sasaran, tujuan, dan sistem pengarahannya.
Semua unsur-unsur ini diaplikasikan kedalam ILP tanpa perubahan.

80

Sebagai contoh adalah keseragaman bagi semua institusi penegak hukum untuk standar
peri laku personal penegak hukum dan petunjuk keselamatan bagi petugas.
Unsur-unsur dari rencana operasi ini sebenarnya tipikal ditujukan untuk investigasi
kriminal serta operasi penangkapan.
Jadi rencana operasi ILP harus berkaitan dengan komponen operasional untuk memenej
ancaman. Sasaran dan tujuan dari ILP harus secara jelas diartikulasikan.
Operasi intelijen dan investigasi harus dirumuskan secara jelas dan dipisahkan karena ada
perbedaan, seperti hubungan ILP dengan misi institusi penegak hukum untuk operasi
penangkapan.
Rencana operasi ILP harus dikembangkan sebagai petunjuk kegiatan intelijen.
Rencana operasi merupakan road map untuk melaksanakan ILP sebagai strategi
institusi.
Kemampuan analisis.
Tanpa analisis pasti tidak ada intelijen, namun kebanyakan institusi penegak hukum di
Amerika Serikat tidak memiliki analis hanya karena alasan tidak tersedianya anggaran
untuk itu. Selain itu ada hambatan politik bila institusi penegak hukum ingin
mendapatkan atau menyewa seorang analis. Sebagai contoh bagi institusi penegak hukum
tingkat kota kecil di Amerika Serikat tidak mudah untuk meyakinkan masyarakat bahkan
anggota Dewan Kota, bahwa membayar analis sangat diperlukan ketika tindak kejahatan
menunjukkan kecenderungan meningkat, sehingga anggaran perlu dialokasikan.
Selain itu ada kesulitan untuk menambah pegawai sebagai analis yang tidak disumpah di
institusi kepolisian.
Oleh sebab itu banyak institusi dengan ukuran organisasi yang kecil yang harus mencari
cara dalam upaya meningkatkan kemampuan analisisnya, seperti saling meminjamkan
analis antar institusi, penggunaan analis sukarela.
Cara ini memang tidak tepat dan kurang efektif, tetapi pilihan kreatif seperti ini
merupakan satu-satunya cara yang dapat dikembangkan.
Alternatif operasi penanggulangan yang bersifat taktis dan strategis.
Mengembangkan alternatif operasi penanggulangan terhadap ancaman kejahatan atau
kriminalitas menggambarkan cara berpikir yang berbeda tentang kejahatan.
Sebagai contoh dahulu Divisi Kontra Terorisme FBI dalam mengatasi kasus kejahatan
terror dengan melakukan penangkapan dan penahanan sesegera mungkin ketika
kemungkinan penyebabnya telah dikembangkan..
Sekarang ketika pendekatan intelijen digunakan sebagai acuan (intelligence led
approach), Divisi Kontra Terrorisme menggunakannya untuk menambah sebanyak
mungkin informasi tentang sasaran investigasi dan tidak lagi cepat-cepat melakukan
penangkapan dan penahanan.
Salah satu cara yang digunakan adalah membalik sasaran menjadi informan, dengan
tetap membiarkan sasaran melakukan kegiatannya.
Dalam kasus lain sasaran dibiarkan namun tetap berada dalam pengawasan yang ketat,
meskipun mungkin akan menimbulkan hal lain, namun institusi penegak hukum dapat
memonitor dan mengidentifikasi sebanyak mungkin kelompok-kelompok lainnya yang
berhubungan dengan sasaran.

81

Tujuan lain adalah untuk mengetahui dan memahami bagaimana sasaran melakukan
komunikasi, dari mana sasaran memperoleh dukungan finasial, dan bagaimana sasaran
mengendalikan kelompoknya, sehingga dapat dilakukan operasi penanggulangan dan
melumpuhkan organisasi kejahatan.
Tindakan selanjutnya mungkin akan berlanjut dengan penahanan, namun seperti dalam
banyak kasus tujuan ILP bukan pada penahanan, tetapi lebih kepada upaya melumpuhkan
organisasi kejahatan untuk menghilangkan ancaman.
Ini seperti dikemukakan oleh Ratcliffe dan Guidetti:
Intelligence Led Policing is a conceptual framework for conducting the business of
policing. It is not a tactic in a way saturation patrolling is, nor is it a crime reduction
strategy in the way situational crime prevention is.
Rather, it is a business model (John and Maguire, 2003) and an information organizing
process that allows police agencies to better understand their crime problems and take a
measure of the resources available to able to decide on an enforcement tactic or
prevention strategy best designed to control crime. 31
(Intelijen Led Policing adalah kerangka kerja konseptual untuk melaksanakan urusan
pemolisian.
Ini bukan taktik seperti patroli pemeriksaan, atau strategi untuk mengurangi tindak
kejahatan seperti pencegahan situasional terhadap tindak kejahatan.
Ini merupakan model kerja dan proses pengorganisasian informasi agar institusi
kepolisian mempunyai pemahaman yang lebih baik akan masalah kejahatan yang
dihadapinya dan mengambil langkah-langkah dengan menggunakan sumber daya yang
tersedia sehingga dapat menentukan taktik penegakan hukum atau menyusun strategi
yang terbaik untuk mengontrol kejahatan)

Implementasi.
Sering institusi penegak hukum menanyakan model yang baku bagaimana
mengimplementasikan ILP.
Dalam kenyataannya tidak ada model yang baku dan universal.
Yang harus dilakukan oleh institusi penegak hukum adalah menguji dan mendalami
filosofi ILP serta komponen-komponen kritis, kemudian merancang skema
implementasinya yang sejalan dengan tingkat keperluan, sumber daya yang tersedia,
sasaran yang ditetapkan, dan dikaitkan dengan pelaksanaan ILP dari keperluan yang telah
dirumuskan.
Proses implementasi adalah percobaan dalam perubahan organisasi agar komponenkomponen tersebut bekerja.

Penilaian sendiri (self assessment) terhadap kemampuan intelijen.


Untuk menguji kemampuan intelijen institusi penegak hukum, David L.Carter,PhD
membagi kedalam 4 (empat) katagori skala kualitatif yang didasarkan kepada kebijakan,
keakhlian, kemampuan dalam pertukaran informasi.
31

. Ibid hal 119

82

Empat katagori tersebut adalah:32


- Tidak memiliki kemampuan intelijen sama sekali.
- Memiliki kemampuan dasar intelijen untuk pertukaran informasi.
- Memiliki kemampuan intelijen yang lebih baik termasuk sistem dokumentasinya.
- Memiliki kemampuan intelijen yang lengkap.
Waktu dan sumberdaya, termasuk tersedianya tenaga akhli merupakan hal yang penting
untuk mengembangkan infrastruktur dan pengetahuan institusi penegak hukum agar
intelijen dapat berfungsi dengan baik.
Katagori yang membedakan kemampuan intelijen diatas bukan perbedaan yang hitam
putih namun melalui suatu proses yang berlanjut.
Ini tergantung dari karakteristik operasional fungsi intelijen.
Skema rangkaian variable.
Continuation of Intelligence Capacity

Resource Increase

Resources to
Implement
ILP
(Proportional)

No
Intelligence
Capacity

Basic
Intelligence
Capacity
for
Information
Sharing

Advance
Intelligence
Capacity
Including
Record
System

Mature Full
Service
Intelligence
Capacity

Need of
External
Assistance

Time
Required to
Implement
ILP

Time Increase

Makin rendah kemampuan intelijen yang dimiliki sebuah institusi makin besar keperluan
bantuan dari luar serta sumber daya untuk mengembangkan kemampuan intelijen ke
tahap yang diperlukan oleh sebuah institusi
Untuk menentukan tingkat kemampuan intelijen, dan dimulainya pengembangan atau
merancang fungsi intelijen, institusi penegak hukum harus melakukan penilaian sendiri
atau self assessment terhadap variabel kritis yang tertera dalam tabel dibawah ini.
32

. Ibid hal 120.

83

Penilaian sendiri terhadap faktor organisasi dari ILP.


Tidak memiliki
kemampuan intelijen

Memiliki kemampuan
dasar intelijen untuk
pertukaran informasi

Karakteristik
operasional.
- Tidak ada pelatihan
yang sistematik
bagi anggota.
- Tidak memiliki
kebijakan serta
prosedur dalam
bidang intelijen.
- Tidak ada
keterkaitan
dengan sistem
dokumentasi
intelijen.
- Tidak ada prakarsa
yang sistematik
dalam bidang
intelijen, selain
menerima dari
institusi
penegak hukum
yang lain.

Karakteristik
operasional.
- Pelatihan intelijen
yang terbatas,
terutama untuk
investigator.
- Kebijakan intelijen
yang
sangat
dasar.
- Tidak memiliki
sistem
dokumentasi
intelijen
kriminal.
- Tidak memiliki
ataupun
ada
sangat terbatas
keterkaitan
dengan system
dokumentasi
intelijen.
- Kegiatan intelijen
terbatas
pada
kegiatan
identifikasi satu
atau dua sasaran
serta pertukaran
intelijen
terbatas.
Langkah tindakan.
- Kaji ulang
kebijakan yang
berhubungan
dengan Rencana
Operasi
Intelijen.
- Pelatihan
untuk
seluruh personal
sesuai standar
minimum.
- Bangun kemitraan
dengan sektor
swasta.
- Bangun kemitraan
dengan
masyarakat.
- Jamin
bahwa
penanganan
CUI(Controlled

Langkah tindakan.
- Mengembangkan
kemampuan
intelijen sesuai
standar
pertukaran
intelijen
nasional.
Amerika Serikat
menggunakan
standar
National
Criminal
Intelligence
Sharing Plan.
(NCISP)
- Pelatihan untuk
anggota sesuai
standar
minimum.

Memiliki kemampuan
intelijen yang lebih
baik termasuk sistem
dokumentasinya
Karakteristik
operasional.
- Memiliki satu atau
dua
analis
intelijen.
- Memiliki sistem
dokumentasi
kriminal.
Mempunyai
hubungan
dan
ketersambungan
dengan Sistem
pertukaran
Informasi
institusi penegak
hukum yang lain.

Memiliki kemampuan
intelijen yang lengkap

Langkah tindakan
- Sistem dokumentasi
intelijen
harus
sudah
sesuai
dengan UndangUndang
atau
Peraturan
lainnya.
- Susun atau kaji
ulang kebijakan
tentang
kerahasiaan
(privacy policy)
yang
sesuai
dengan UndangUndang
atau
peraturan yang
berlaku.
- Pastikan bahwa
semua petugas

Langkah tindakan.
- Pastikan
bahwa
semua
telah
sesuai
dengan
standar
yang
telah ditetapkan.
- Pelatihan
analis
tingkat lanjutan.
- Program pelatihan
untuk
petugas
penghubung.
- Kemitraan dengan
masyarakat telah
terbangun.
- Kemitraan dengan
sektor
swasta
telah terbangun.
- Telah terbangun
jaringan
pertukaran

Karakteristik
operasional.
- Memiliki kelompok
analis.
- Terhubung dengan
beberapa sumber
informasi.
- Pelatihan analis
yang lebih tinggi.
- Memiliki sistem
dokumentasi
yang
komprehensif.

84

Amerika Serikat
menggunakan
Minimum
Criminal
Intelligence
Training
Standards for
United
States
Law
Enforcement
and
Other
Criminal
Justice Agencies
(Minimum
Standards).
- Mengembangkan
Rencana
Operasi.
Menyiapkan
logistik untuk
menerima dan
menyimpan
Controlled
Unclassified
Information
(CUI) .
- Siapkan kebijakan
tentang
ke
rahasiaan
(privacy policy)
- Siapkan personal
penghubung.
- Bangun kemitraan
dengan
masyarakat.
- Bangun
jaringan
komunikasi online
dengan
institusi
penegak hukm
lainnya.

Unclasified
Information)
telah memenuhi
standar
keamanan.
Jamin bahwa
kebijakan
tentang
kerahasiaan
(privacy policy)
sudah ada.
Siapkan petugas
penghubung
atau
Liaison
Officer.

telah mendapat
pelatihan
kesiagaan
intelijen.
Lakukan kaji ulang
terhadap
Rencana Operasi
yang
sesuai
dengan standar
pertukaran
intelijen
yang
ditetapkan.
Pastikan bahwa
pelatihan analis
telah
sesuai
dengan standar
minimum.
Siapkan petugas
penghubung
(liaison officer).
Kemitraan dengan
masyarakat
sudah terbangun.
Kemitraan dengan
sektor
swasta
telah terbangun.

intelijen dengan
institusi penegak
hukum lainnya.
Kaji
ulang
kebijakan
tentang
kerahasiaan
(privacy policy)
yang
sesuai
dengan UndangUndang
dan
ketetapan yang
berlaku.

Titik awal implementasi ILP.


Setiap inisiatif baru harus ditentukan titik awal dimulainya pelaksanaan inisiatif tersebut
sehingga dapat memberi gambaran yang akurat tentang tingkat pengetahuan dan
kemampuan organisasi saat dimulainya inisiatf baru tersebut.
Untuk menentukan titik awal, ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh setiap
organisasi penegak hukum.
- Bagaimana tingkat pengetahuan dari pemimpin organisasi serta anggotanya tentang
filosofi dan praktek intelijen untuk penegakan hukum, termasuk ILP?.
- Apakah ada unit intelijen atau kemampuan intelijen dalam institusi penegak hukum?.

85

- Apakah kemampuan intelijen saat ini telah berjalan sesuai dengan praktek intelijen
yang seharusnya, seperti misalnya di Amerika Serikat sesuai ketentuan National
Criminal Intelligence Sharing Plan dan Standar Minimum yang ditetapkan oleh
Counterterrorism Training Coordination Working Group.
- Apakah kemampuan intelijen saat ini telah mengembangkan kebijakan tentang
kerahasiaan?.
- Proses apa yang telah dilakukan dan dipertimbangkan dalam mengembangkan
kemampuan intelijen menuju ILP?
- Apakah institusi penegak hukum telah diakreditasi oleh Komisi Akreditasi untuk
Institusi Penegak Hukum (Commision on Accredttation for Law Enforcement
Agencies). Kalau sudah komitmen dan kebijakan apa yang telah ditetapkan yang
sesuai dengan standar intelijen yang ditetapkan oleh Komisi .Ini berlaku di
Amerika Serikat.
Bagaimana secara umum tingkat kesadaran dan pengetahuan dari personal penegak
hukum mengenai intelijen untuk penegakan hukum.
Bagaimana tingkat ketersediaan sumberdaya internal untuk membantu mengembangkan
dan mengimplementasikan ILP?.
Bagaimana tingkat ketersediaan sumberdaya eksternal untuk membantu
mengembangkan dan mengimplementasikan ILP?.
Apakah ada kesulitan dan hambatan yang harus diatasi sebelum mengimplementasikan
ILP?.

Tujuan dari pertanyaan ini adalah untuk mendapat gambaran yang menyeluruh tentang
institusi penegak hukum. Penilaian terhadap jawaban atas pertanyaan ini akan membantu
dan menuntun institusi penegak hukum dalam melakukan langkah berikutnya dalam
proses implementasi ILP.
Perubahan adalah proses yang tidak mudah dan biasanya kebanyakan orang
menentangnya, oleh sebab itu langkah awal dalam proses memasarkan ILP adalah
menghilangkan sikap resistensi atau dogmatisme.
Cara yang paling efektif adalah dengan membangun pemahaman tentang ILP dan
mendemonstrasikan manfaat perubahan baik untuk perorangan maupun untuk organisasi.
Intinya personal pada semua tingkat harus dibentuk dalam semangat perubahan, dalam
hal ini adalah ILP.
Merubah sikap, nilai dan keyakinan merupakan masalah yang sulit sehingga memerlukan
inisiatif yang proaktif, kesabaran, kegigihan, konsistensi dan menerima kenyataan bahwa
tidak semua orang mau menerima perubahan.
Salah satu metode kunci untuk membantu proses sosialisasi adalah mendemonstrasikan
komitmen dan menyediakan sumber daya untuk ILP.
Selama proses resosialisasi ILP berjalan, rencana operasi harus disiapkan yang
mengartikulasikan misi serta proses kemampuan intelijen.
Rencana operasi ini akan bersifat unik bagi masing-masing institusi penegak hukum.
Disamping ada beberapa unsur tertentu yang dapat dijadikan model, ada perbedaan yang
besar antar institusi penegak hukum yang akan mengurangi penggunaan model rencana
operasi yang sama.
Setelah pelatihan diberikan dan rencana operasi disusun dan disebarkan kepada seluruh
anggota dalam institusi penegak hukum, rencana harus diimplementasikan melalui

86

notifikasi resmi kepada seluruh anggota.


Tanpa melihat tingkat perencanaan mungkin ada beberapa aspek dari rencana yang tidak
berjalan, sehingga umpan balik dari semua personal akan sangat penting untuk melihat
mana yang sudah berjalan dan mana yang belum berjalan.
Rencana yang tidak berjalan jangan dipandang sebagai kegagalan, tetapi harus dilihat
sebagai bagian dari proses untuk membuat perencanaan berjalan seefektif mungkin.
Yang juga penting diperhatikan agar ILP berjalan efektif adalah alat yang kadang-kadang
dilupakan yaitu sistem penilaian dan evaluasi kinerja untuk memberi pengakuan dan
penghargaan kepada individu yang mempraktekkan ILP, juga penilaian kinerja untuk
seluruh inisiatif dalam mengimplementasikan ILP.
Dalam sistem evaluasi tradisional di Amerika Serikat untuk menilai kinerja perorangan,
penilaian dilakukan berdasarkan variabel kuantitatif seperti jumlah laporan yang dibuat,
jumlah penahanan yang dilakukan, jumlah respon yang telah dilakukan terhadap
panggilan, dan sebagainya, sehingga penilaian kualitatif dari kegiatan anggota diabaikan.
Agar ILP dapat dilaksanakan dengan baik maka penilaian kualitatif terhadap kinerja
perorangan juga harus dilakukan, karena keberhasilan organisasi tidak terlepas dari
proses evaluasi.

BAB V
PEMOLISIAN MODEL IACP DALAM INTELIJEN KRIMINAL.

87

The International Association of Chiefs of Police (IACP) adalah sebuah Asosiasi


Kepolisian yang dibentuk pada tahun 1893 di Chicago dengan nama the National Chiefs
of Police Union.
Tujuan utama dari organisasi ini adalah untuk menangkap dan mengembalikan pelaku
kejahatan yang melarikan diri dari wilayah jurisdiksi dimana pelaku kejahatan dicari dan
tempat kejahatan dilakukan.
Organisasi ini kemudian dikembangkan dan diperluas dengan tujuan
Pertama, untuk meningkatkan dan mengembangkan ilmu dan seni kepolisian.
Kedua, mengembangkan dan menyebarluaskan tehmik dan operasional kepolisian,
administrasi, serta meningkatkan penggunaannya dalam kegiatan dan operasi kepolisian.
Ketiga, meningkatkan kerjasama kepolisian, pertukaran informasi dan pengalaman
sesama instansi kepolisian dari seluruh dunia.
Keempat, melakukan perekrutan dan pelatihan untuk meningkatkan profesionalisme dan
kemampuan personal polisi.
Kelima, mendorong personal kepolisian untuk mencapai standar profesi yang tinggi baik
dari sisi kecakapan maupun dari sisi tingkah laku.
IACP juga telah memainkan perannya secara proaktif dalam semua aspek untuk
mengembangkan kemampuan intelijen kontemporer dari semua institusi penegak hukum
di Amerika Serikat serta lebih dari 100 negara anggota lainnya.
Pemolisian Model IACP untuk Intelijen Kriminal telah memberikan petunjuk dan
prosedur yang jelas dan mempermudah tugas dan fungsi intelijen terutama untuk
organisasi dan agensi yang kecil.
IACP National Law Enforcement Policy Center mengusulkan misi untuk fungsi intelijen
penegakan hukum sebagai berikut: 33
It is the mission of the intelligence function to gather information from all sources in a
manner consistent with the law in support of efforts to provide tactical or strategic
information on the existence, identities, and capabilities of criminal suspects and
enterprises generally and, in particular, to further crime prevention and enforcement
objectives / priorities identified by this agency.
(Ini adalah bagian dari fungsi intelijen untuk mengumpulkan informasi dari semua
sumber yang sejalan dengan Undang-Undang untuk memberikan informasi yang bersifat
taktis maupun strategis tentang keberadaan, identitas, dan kemampuan dari sasaran
yang dicurigai sebagai pelaku tindak kejahatan, terutama untuk tujuan pencegahan
kejahatan / dan prioritas yang ditetapkan oleh badan yang berwenang).
Sebagai tambahan terhadap rumusan diatas IACP mengusulkan 2 (dua) hal yang perlu
mendapat perhatian yaitu.:
Pertama, Information gathering in support of intelligence function is the responsibility
of each member of this agency although specific assignments may be made as deemed
necessary by officer-in-charge (OIC) of the intelligence authority.
( Pengumpulan informasi untuk mendukung fungsi intelijen adalah tanggung jawab dari
setiap bagian dari institusi meskipun tugas yang spesifik adalah suatu keharusan yang
harus ditetapkan oleh pejabat yang ditetapkan olen Otoritas Intelijen).
33

IACP National Law Enforcement Policy Center Criminal Intelligence. Hal 4.

88

Kedua, Information that implicates, suggests implication or complicity of any public


official in criminal activity or corruption shall be immediately reported to this agencys
chief executive officer or another appropriate agency.
(Informasi yang berimplikasi atau diduga berimplikasi atau keterlibatan dari setiap
pejabat publik dalam tindakan kejahatan atau korupsi harus segera dilaporkan kepada
Pimpinan Institusi atau atau Institusi lain yng tepat)
Untuk kasus yang menyangkut model yang berbeda, bahasa pemolisian model IACP
memerlukan penyesuaian untuk dapat memenuhi keperluan jurisdiksi yang berbeda.
Namun begitu model ini telah membangun pijakan dan landasan yang baik untuk
memulai proses selanjutnya.
IACP juga melihat bahwa operasi Intelijen Penegakan Hukum (Law Enforcement
Intelligence) merupakan sarana yang penting untuk mengembangkan sarana sistem
pemolisian yang lebih proaktif.
Sebagai contoh dalam operasi intelijen penegakan hukum petugas dapat melakukan
intervensi lebih efektif kedalam organisasi kriminal yang dikelola seperti perusahaan
(criminal enterprise) dan melakukan penyelidikan dan pengusutan terhadap aktifitasnya.
Namun demikian tetap perlu diorganisasikan secara baik agar tidak melanggar hukum
dan hak-hak perorangan.
Untuk itu direkomendasi 4 macam panduan.34
Pertama, pengumpulan informasi untuk keperluan intelijen tentang orang atau organisasi
tertentu, terlebih dahulu harus didasarkan kepada kecurigaan yang cukup beralasan
bahwa orang atau organisasi tersebut merencanakan atau terlibat dalam suatu tindak
kejahatan.
(Information gathering for intelligence purposes shall be premised on circumstances that
provide a reasonable suspicion that specific individual or organizations may be planning
or engaging in criminal activity).
Sebagai contoh untuk membuka file seseorang dan menginisiasi penyelidikan intelijen
harus didasarkan kepada alasan pembenar yang cukup. Dengan alasan yang cukup,
penyelidikan intelijen pendahuluan dapat dilakukan untuk menentukan apakah ada fakta
untuk dilakukan penyelidikan intelijen yang lebih mendalam.
Beberapa parameter yang diusulkan untuk melakukan penyelidikan intelijen pendahuluan
adalah catatan kriminal baik pada tingkat nasional ataupun lokal, keterangan informan,
pengamatan fisik, dan wawancara terhadap saksi dan korban.
Kedua, tehnik investigasi yang dilakukan tidak boleh melanggar undang-undang yang
berlaku dan tindakan yang lebih jauh untuk mengumpulkan informasi yang cukup hanya
dilakukan untuk mencegah dilakukannya tindak kejahatan atau rencana tindak kejahatan.
(Investigative techniques employed shall be lawful and only so intrusive as to gather
sufficient information to prevent criminal conduct or the planning of criminal conduct).
Untuk ini diperlukan pengawasan administratif yang matang dan pertimbangan yang
baik. Ini terutama dalam kasus dimana operasi intelijen dilibatkan untuk pengumpulan
informasi terhadap perbuatan kriminal yang mungkin dilakukan, dan ini berlawanan
34

. Ibid hal 6.

89

dengan tindakan penegakan hukum tradisional yang dilakukan setelah perbuatan kriminal
terjadi.
Sesuai dengan sifat operasi intelijen pada umumnya yang bersifat antisipatif, operasi
intelijen penegakan hukum biasanya kurang fokus.
Maka dikatakan intelijen sering menggunakan prinsip The fishing net rather than the
fishing spear.
Namun demikian untuk mendapatkan informasi yang seluas-luasnya dalam upaya
melakukan tindakan investigasi yang lebih aktif dan mendalam, petugas intelijen dapat
mengembangkan berbagai tehnik.
Dalam operasi yang demikian pertanyaan yang sering muncul adalah sejauh mana
petugas intelijen dapat melakukan tindakan yang lebih aktif dan agresif dalam
pengumpulan informasi. Seorang superviser intelijen yang berpengalaman harus
membuat judgment yang tepat dalam membaca situasi yang dihadapinya.
Karena itu diperlukan adanya petunjuk yang bersifat umum sebagai bingkai pengawasan
yang dapat menakar kegiatan intelijen yang dianggap mengganggu dalam pengumpulan
informasi dihadapkan kepada tingkat bahaya dari kegiatan perbuatan kejahatan yang
potensil atau dugaan.
Sebagai contoh di Amerika Serikat dikenal dengan apa yang disebut dengan sneak and
peek search warrant.
Sneak and peek search warrant atau disebut juga Covert entry search warrant atau
Surreptitious entry search warrant adalah surat kuasa atau surat perintah yang memberi
wewenang kepada petugas penegak hukum untuk melakukan penggeladahan fisik dengan
diam-diam dan memasuki rumah pribadi seseorang tanpa harus mendapat ijin atau
sepengetahuan dari penghuni. Namun petugas penegak hukum yang melakukan
penggeladahan diam-diam dilarang mengambil barang-barang apapun dari rumah
tersebut.
Cara ini sangat bermanfaat terutama untuk menyelidiki pabrik narkotika ilegal, karena
dapat melihat bahan-bahan kimia dan perlengkapan yang dicurigai, kemudian petugas
kembali lagi dengan surat perintah penggeladahan biasa.
Cara ini dikukuhkan dalam Patriot Act Section 213, Under Title II atau The Enchanced
Surveillance Procedures.
Ketiga, melakukan segala upaya untuk menjamin bahwa informasi tambahan yang
diperoleh untuk memperkuat informasi dasar intelijen kriminal, relevan dengan
penyelidikan yang sedang berjalan dan produknya didapat dari sumber yang dapat
dipercaya. Sumber dari mana informasi diperoleh dan dipelihara berdasarkan fungsi
intelijen.harus disimpan.
(shall make every effort to ensure that information added to the criminal intelligence
base is relevant to the current or on-going investigation and the product of dependable
and trustworthy source of information. A record shall be kept of the source of all
information received and maintained by the intelligence function).
Intinya standar professional ini adalah upaya untuk meningkatkan kendali mutu. Dari
sudut pandang standar professional, kegagalan untuk menetapkan standar kendali mutu
dapat menimbulkan problem yang serius.

90

Sebagai contoh, kurangnya pengendalian mutu dapat menyebabkan informasi tambahan


yang tidak benar dalam catatan dan file intelijen dan ini dapat menimbulkan akibat
kepada seseorang dalam kegiatan kriminal.
Kesalahan ini dapat dianggap sebagai pelanggaran terhadap hak individu dan hak sipil
dan berpotensi untuk dibawa ke pengadilan sipil, terutama bila informasi ini digunakan
sebagai dasar untuk melakukan operasi intelijen secara tertutup atau operasi intelijen
yang lebih intrusif.
Informasi yang salah dan tidak mempunyai dasar dan alasan yang benar juga akan
menyebabkan kerugian bagi sumber informasi yang memberikannya karena bisa
menyebabkan mereka menjadi sasaran penyelidikan.
Yang harus menjadi prioritas dan perhatian utama adalah kendali mutu yang menyangkut
validitas dan nilai kebenaran atau tingkat kepercayaan informasi dalam file intelijen.
Namun selain itu standar professional juga mensyaratkan bahwa informasi yang di file
harus relevan dengan investigasi atau penyelidikan yang sedang berlangsung.
Untuk membantu menetapkan validitas dan nilai kebenaran atau tingkat kepercayaan
informasi serta mempertahankan akuntabilitasnya, otoritas intelijen harus juga
menyimpan dan memelihara sumber-sumber informasi.
Keempat, yang berkenaan dengan penyebaran informasi IACP merekomendasikan
sebagai berikut:
Informasi yang dikumpulkan dan dipelihara institusi untuk keperluan intelijen hanya
disebarkan kepada orang yang tepat untuk tujuan penegakan hukum yang sesuai dengan
undang-undang dan prosedur yang ditetapkan oleh institusi tersebut. Buku catatan
tentang penyebaran informasi tersebut harus disimpan, baik yang mencatat penyebaran
kepada orang didalam institusi tersebut maupun kepada institusi penegak hukum yang
lain.
(Information gathered and maintained by this agency for intelligence purposes may be
dessimainated only to appropriate persons for legitimate law enforcement purposes in
accordance with law and procedures established by this agency. A record shall be kept
regarding the dissemination of such information to persons within this or another law
enforcement agency).
Petunjuk ini dirancang untuk menjamin keamanan informasi yang dikembangkan dan
dipelihara berdasarkan fungsi intelijen. Informasi yang telah menjadi intelijen selalu
bersifat sensitif. Oleh sebab itu penyebaran intelijen hanya terbatas kepada orang atau
institusi yang memang membutuhkan dan berhak mendapatkan (need and right) intelijen.
Intelijen harus dan hanya disampaikan kepada personal penegak hukum yang telah
mendapat otorisasi, yang dapat menjamin bahwa intelijen yang didapat digunakan untuk
tujuan penegakan hukum.
Di Amerika Serikat setiap negara bagian biasanya memiliki persyaratan khusus untuk
mengeluarkan atau menyebarkan intelijen, oleh sebab itu personal intelijen harus
memahami benar perundang-undangan yang relevan terhadap sebuah issu.
Untuk mengembangkan sistem pemeriksaan dan penelusuran, institusi yang menyebarkan
intelijen harus menyimpan dan memelihara catatan (records) perorangan atau institusi
dengan siapa telah melakukan pertukaran intelijen.
Demikian juga sebaliknya institusi yang menerima intelijen harus mencatat institusi
intelijen dari mana intelijen tersebut berasal dan memelihara catatannya

91

BAB VI.
.

PROSES INTELIJEN.

Telah disinggung bahwa intelijen adalah informasi yang telah mengalami proses analisis.
Proses untuk menghasilkan intelijen yang terpercaya adalah kunci suksesnya fungsi
penegakan hukum.

92

Analis mengorganisasikan dan menyajikan intelijen untuk meningkatkan keberhasilan


dalam memerangi kejahatan terorganisasi.
Analis mengidentifikasi dan membuat perkiraan tentang kecenderungan, pola atau situasi
yang memerlukan sebuah tindakan.
Kebanyakan institusi penegak hukum terutama pada institusi yang besar memiliki unit
intelijen, namun kebanyakan tidak dimanfaatkan secara optimal karena masalah struktur
dan petunjuk yang tidak jelas.
Dalam kebanyakan kasus kegiatan pengumpulan dilaksanakan tetapi tidak dilakukan
proses analisa.
Informasi yang berhasil dikumpulkan hanya tersimpan dalam data base menunggu
diakses.
Informasi yang tersimpan secara pasif dalam data base akan memberi manfaat yang kecil.
Sebaliknya apabila informasi yang dikumpulkan dari agen-agen lapangan oleh unit
intelijen dipelajari, diolah dan dianalisa serta dibandingkan dengan informasi lainnya,
maka informasi tersebut akan dapat digunakan secara lebih efektif.
Unit intelijen yang hanya melayani permintaan informasi tetapi tidak secara proaktif
melakukan analisis dan menyajikan informasi yang telah memiliki nilai, maka unit
intelijen tersebut bukan merupakan sebuah unit yang hidup.
Juga sangat sering terjadi ketika unit intelijen melakukan analisis, tidak mampu untuk
membedakan tipe intelijen apa yang sebenarnya menjadi kewajibannya sehingga tidak
mampu memenuhi kebutuhan institusi untuk menyelesaikan tugasnya.
Kadang kala juga unit intelijen ditempatkan secara tidak tepat dalam organisasi dan
hanya dipandang sebagai satuan pendukung sehingga sering dipandang sebagai bagian
yang tidak penting.
Analisis intelijen dimulai dari tingkat yang sangat dasar yaitu pengumpulan bahan
keterangan tentang segitiga kejahatan (crime triangle) yaitu pelaku, korban / komoditi,
dan lokasi .
Sebagai
contoh
dalam
serangan
teroris,
melakukan

pengumpulan informasi / bahan keterangan serta analisis tentang korban dan lokasi akan
memberi petunjuk dan informasi tentang pelaku. Karena kelompok teroris biasanya
memiliki motif, metode, dan sasaran yang berbeda, maka informasi yang berhasil

93

dikumpulkan tentang korban dan lokasi dapat memberi petunjuk tentang kelompok mana
yang melakukannya.
Dalam kejahatan bisnis korban dapat berarti komoditas.
Dari contoh-contoh diatas informasi yang dicari harus didasarkan kepada intelligence
requirement. Merumuskan kebutuhan informasi (requirement) dengan tepat akan
menghasilkan intelijen yang tepat pula.
Contoh lain, serangan teroris dalam deret waktu kurun tertentu, dilakukan terhadap
sasaran-sasaran dan kepentingan kepentingan yang berbau Amerika Serikat, maka dapat
diduga dilakukan oleh kelompok-kelompok teroris Anti Amerika Serikat.
Kegiatan pengumpulan informasi dan kegiatan riset dan analisis selalu berjalan seiring.
Yang satu tidak akan memiliki arti tanpa kegiatan yang lain.
Kegiatan pengumpulan informasi dan analisis semuanya ditujukan untuk menjawab
pertanyaan terhadap masalah yang dihadapi, meskipun antara agen pengumpul bahan
keterangan dan analis secara professional terdapat perbedaan yang besar.
Agen lapangan yang bertugas mengumpulkan bahan keterangan mencari jawaban
terhadap pertanyaan spesifik (intelligence requirement) melalui sumber-sumber yang
dianggap memiliki keterangan yang diperlukan. Sedangkan analis mencari jawaban yang
sama melalui serangkaian proses deduktif, atau induktif, atau pendekatan gabungan,
setelah menelaah semua bahan keterangan yang diperlukan.
Seperti telah dijelaskan diatas bahwa informasi yang belum diolah memiliki nilai
kegunaan yang kecil, namun tergantung dari kondisi aktual.
Sebagai contoh, apakah serangan yang dilancarkan terhadap sistem pembangkit tenaga
listrik musuh berhasil atau tidak.
Indikatornya apabila listrik masih menyala dapat disimpulkan bahwa serangan gagal
tanpa memerlukan analisis lebih jauh.
Dalam kasus ini kondisinya sangat khusus dan unik, yaitu bila sistem pembangkit listrik
hanya satu. Kejadian seperti ini sangat jarang terjadi.
Penggunaan intelijen sebagai hasil pengolahan dan analisis intelijen oleh pengguna
intelijen, ditentukan oleh 3 (tiga) faktor utama yaitu mutu intelijen, sikap pengguna
intelijen dan ketepatan pengguna intelijen menentukan sejumlah kebutuhan intelijen
(intelligence requirement) yang dirumuskan oleh pengguna intelijen untuk dicari
jawabannya oleh intelijen.
Collation
O.S
Reliability
1. Mutu intelijen sebagai keluaranSource
proses
analisis.
Mutu intelijen
mempunyai pengaruh
yang paling dominan terhadap kualitas
Collection
Evaluation
sebuah keputusan dan kebijakan. Kualitas keputusan atau kebijakan adalah
Info dilaksanakan dapat
apakah keputusan yang telah ditetapkan,
dan kemudian
Information Validity
C.S.
Segr
dengan tepat menyelesaikan persoalan yang dihadapi, baik dilihat dari sisi
substansi maupun waktu. Untuk menghasilkan keluaran yang bermutu, intelijen
Commodity Flow
harus mengalami suatu
yang disebut dengan siklus Index&
intelijen seperti
Activity proses
Flow
Storage
35
tergambar dibawah ini:
Analysis
Link Analysis
Logical Reasoning
Hypothesis Testing.
35

Conclusion

. David
L.Carter - Law Enforcement
Local, and Tribal Law
ReportingIntelligence : A Guide for State,
Dissemination
s
Enforcement Agencies .(Edisi 1-2004). Hal 64.
Protections

Estimate
s

Feedback and Reevaluation.

Tactica
l

Strategi
c

Periodic

R.D.

RTR

94

Catatan .
Info.Seg. Information Segregation.
O.S
Overt Sources
C.S
- Covert Sources.
R.D
Routine Distribution.
RTR
- Response to Request.
a. Penyusunan rencana dan Petunjuk ( Planning and Direction)
Perencanaan bagaimana data dan informasi diperoleh adalah kunci dari proses
intelijen. Perencanaan yang efektif adalah mengolah data yang tersedia dan
harus dapat menjamin bahwa data tambahan dapat melengkapi data yang telah
ada. Sehingga ada motto yang mengatakan :Jangan beritahu yang saya
ketahui, tetapi beritahu yang belum saya ketahui.
Agar pengumpulan data atau bahan keterangan berjalan efektif, maka
perencanaan pengumpulan harus dirancang secara terarah dan fokus, metode
pengumpulan harus dikoordinasikan, harus ditegaskan agar pengumpulan data
dan bahan keterangan tidak melanggar hukum. Pengumpulan bahan
keterangan yang tidak terarah akan menghasilkan intelijen yang menyesatkan,
meskipun dilakukan dengan metode analisis yang benar dan analis yang
cakap.
Dalam penyusunan rencana pengumpulan harus dapat diidentifikasi tentang
apa yang ingin dicapai. Identifikasi akan mengarahkan para agen lapangan
tentang lingkup kegiatan investigasi yang akan dilaksanakannya.
Sebagai contoh misalnya: Mengidentifikasi kelompok kejahatan / kriminal di
daerah tertentu, atau mengidentifikasi kemungkinan kelompok ekstrimis
tertentu menyerang tamu negara.

95

b, Pengumpulan (Collection).
Analis intelijen memerlukan data dan bahan keterangan yang cukup sebagai
bahan pengolahan. Pengumpulan data dilihat dari aspek proses intelijen
merupakan kegiatan yang most labor-intensive. Secara tradisional manusia
merupakan unsur yang penting dalam kegiatan pengumpulan data atau bahan
keterangan. Teknologi baru, undang-undang baru atau yang disempurnakan
hanya sebagai alat bantu.
Manusia belum mampu digantikan oleh sistem apapun karena manusia
memiliki beberapa kemampuan dan kelebihan yaitu, berakal (Inventive), dapat
berhubungan (communicative), cerdik (manipulative), memiliki daya imajinasi
(imagination), tangkas (dexterous), abadi (self perpetuating), mandiri (Need
no operator), memiliki daya nalar (common sense), cerdas (intelligence),
kemampuan melihat kedepan (foresee problems), dan kemampuan
memecahkan masalah (solve problem).
Catatan dibawah ini tercatat bentuk kegiatan pengumpulan data atau bahan
keterangan pada masa lalu yang dilakukan oleh unit - unit intelijen:
- Pengamatan fisik (oleh manusia atau menggunakan videotape).
- Pengamatan elektronik (menggunakan trap and trace atau penyadapan)
- Menggunakan tenaga informan.
- Kegiatan rahasia.
- Laporan dari Surat Kabar ( sekarang ditambah dari Internet)
- Dokumen publik (Public records), seperti Akte, catatan pajak.
c. Prosesing dan pemilahan (Processing / Collation).
Processing / Collation adalah kegiatan pemilahan / penyaringan untuk
mendapatkan data dan bahan keterangan yang diperlukan dan relevan dengan
masalah yang dihadapi dan menyusun data dalam urutan yang logis. Kegiatan
ini akan memudahkan identifikasi data dan bahan keterangan yang ada
hubungannya dengan masalah yang sedang dipecahkan.
Saat ini kegiatan penyaringan dapat dilakukan melalui data base yang canggih
dengan kemampuan pencarian data yang cepat.
Rancang bangun data base merupakan hal yang kritis dalam pencarian dan
pembandingan data-data. Banyak pembuat perangkat lunak komputer yang
menawarkan data base, tetapi yang dibutuhkan adalah yang memenuhi
kebutuhan institusi penegak hukum.
Dalam kegiatan prossesing dan pemilahan / penyaringan juga dilakukan
evaluasi terhadap data-data yang akan disimpan, untuk dinilai tingkat
kepercayaan terhadap sumber dan nilai kebenaran terhadap data-data atau
bahan keterangan.
Setiap data atau bahan keterangan yang disimpan dalam sistem intelijen harus
memenuhi standar relevansinya, misalkan harus ada hubungan yang relevan
antara perbuatan kejahatan dengan sumber informasi / informan.
d. Analisis ( Analysis).

96

Analisis adalah tahapan merubah informasi atau bahan keterangan menjadi


intelijen. Tahapan ini sangat penting karena hasil analisis sebagai keluaran
harus memberi arti dan makna yang jelas. Intelijen yang tidak memberi makna
hanyalah sekumpulan berkas.
Analisis adalah sebuah proses pemaknaan dari data-data dan bahan
keterangan. Dalam intelijen operasi untuk penegakan hukum, data dianalisis
untuk memberi petunjuk lebih lanjut dalam kegiatan penyelidikan,
menyajikan hipotesa tentang siapa yang melakukan tindakan kejahatan atau
bagaimana kejahatan dilakukan, membuat perkiraan pola kejahatan yang
mungkin dilakukan pada masa yang akan datang, Analisis termasuk juga
membuat sintesa dari data-data, membuat kesimpulan, dan menyajikan tested
knowledge of the fact atau pengetahuan berdasarkan fakta-fakta yang telah
teruji. Yang dimaksud fakta-fakta adalah kemampuan calon pelaku kejahatan,
kebijakan negara sponsor atau pendukung bila ada (the policies of other
nation), niat pelaku atau calon pelaku kejahatan.
Intelijen dalam pemikiran Donovan dapat memberikan rekomendasi tetapi
tidak boleh menyarankan suatu kebijakan atau cara bertindak, namun setelah
berakhirnya Perang Dingin, diskusi tentang red line antara intelijen dengan
pembuat kebijakan / pengambil keputusan mulai ramai dipertanyakan
terutama di Amerika Serikat.
Hal ini disebabkan munculnya ancaman baru seperti terror yang dianggap
sebagai intelligence intensive, time sensitive, and tactical in nature,
sehingga diperlukan kedekatan antara intelijen dengan pembuat keputusan.36
Tehnik dan metode analisis telah berhasil mendukung upaya penegakan
hukum.:
1). Analisis kejahatan (Crime Analysis) : Analisis pola kejahatan
(Crime pattern analysis), analisis geografik (Geographic analysis),
analisis deret waktu ( time-series analysis ), analisis kekerapan
distribusi (Frequency-distribution analysis),
analisis tata laku
(Behavioral analysis), analisis statistik (statistical analysis).
2). Analisis Investigatif/Pembuktian(Investigative/Evidential
Analysis): Analisis Jejaring (Network Analysis), Analisis Catatan
Telepon (Telephone record analysis), Analisis catatan kegiatan usaha
(Business record analysis), Analisis muatan (Content analysis),
Analisis kasus (Case analysis), Analisis pasca penangkapan
(Postseizure analysis), Analisis percakapan (Conversation analysis).
3). Analisis strategik (Strategic Analysis): Analisis ancaman (Threat
assesment), Analisis pendahuluan (Premonitories), Analisis
kerawanan (Vulnerability assessment), Analisis resiko (Risk
assessment), perkiraan (Estimates), Analisis secara menyeluruh
36

. http://www.guisd.org/redline.pdf . Hal 6.

97

(General assessment), Peringatan (Warning), Bentuk dan sifat


persoalan (Problem profiles), Bentuk dan sifat sasaran (Target
profiles), Penilaian Sasaran strategik (Strategic targeting)
Sebagai contoh dalam membuat analisis ancaman (Threat Assesment) ada 4
variabel kunci yaitu:
1.) Daftar Ancaman (Threat Inventory).
Daftar Ancaman (Threat Inventory) adalah catatan tentang
perorangan maupun kelompok yang diidentifikasi oleh penegak
hukum didalam wilayah kewenangannya yang diduga dapat menjadi
ancaman.
Mereka bisa kelompok teroris internasional, lokal, ekstreemis, atau
jaringan kejahatan terorganisir baik lokal maupun transnasional.
Jenis informasi yang diperlukan adalah jawaban terhadap pertanyaan
sebagai berikut:
a) Siapa orang-orang yang terlibat?.
b). Mereka berafiliasi kepada kelompok apa?.
c). Kalau berafiliasi apa yang menjadi keyakinan mereka?.
Untuk memahami gerakan atau kelompok ekstreemis perlu didalami
tentang motivasi, metode gerakan, serta sasarannya. Dalam
kelompok kejahatan perdagangan informasi yang perlu dicari dan
didalami
adalah
metode
kegiatannya,
komoditi
yang
diperdagangkan, dan lokasi.
Dalam kasus-kasus tersebut memahami tentang bagaimana mereka
melakukan kegiatannya akan sangat berguna dalam melakukan
pengawasan terhadap kemampuan operasi mereka. Dalam
melakukan penyelidikan harus dilakukan dengan sangat hati-hati.
2.) Analisis ancaman (Threat Assessment).
Setiap bentuk ancaman yang tercatat dalam daftar ancaman harus
dikaji dengan memperhatikan derajat ancaman, karena mungkin ada
seseorang yang melakukan ancaman tetapi belum tentu
menghadirkan ancaman.
Dan sebaliknya mungkin saja ada perorangan atau kelompok dapat
menjadi ancaman tanpa mengancam. Untuk mengkaji tentang
kapasitas ancaman ada beberapa faktor yang harus dipelajari.
a).
b).

Bagaimana latar belakang dan riwayat kelompok-kelompok?.


Apakah kelompok-kelompok ini pernah terlibat dalam
penyerangan atau perbuatan kriminal pada masa lalu?
c).
Kalau ya, bagaimana Modus Operandi dan ciri-ciri
kegiatannya?
d). Apakah kelompok kelompok mempunyai kemampuan untuk
melakukan tindakan terror atau kriminal?.
e). Kalau ya, berapa besar kemampuannya?
98

f).

Apakah ada keadaan khusus yang menjadi peluang bagi


kelompok untuk melakukan tindakannya?
g). Apa yang menjadi komitmen dan keteguhan hati kelompok untuk
melaksanakan tujuannya.
Faktor-faktor diatas dapat membantu mengembangkan gambaran
untuk menentukan ciri-ciri dan karakteristik ancaman oleh kelompok
atau perorangan yang dicatat dalan Daftar Ancaman.
3). Analisis Sasaran (Target Assessment)
Dengan mempelajari sifat dan karakter kelompok yang terdapat
dalam Daftar Ancaman, akan dapat diidentifikasi kemungkinan
obyek sasaran dalam wilayah tertentu. Sangat jarang sasaran yang
spesifik dapat ditentukan, namun dari riwayat kelompok, pernyataanpernyataan, ancaman, serta dari afiliasi ideologinya, bentangan
sasaran dapat dipersempit.
4.) Kerawanan sasaran (TargetVulnerability)
Variabel terakhir adalah menentukan tentang tingkat kerawanan
sasaran terhadap serangan. Dalam melakukan analisis kerawanan
sasaran sering kali melibatkan sektor swasta dan akhli pencegahan
tindakan kriminal dari institusi penegak hukum. Menyadari kesulitan
untuk mengidentifikasi sasaran secara spesifik, maka tujuan analisis
sasaran adalah untuk memberikan jaminan perlindungan dan
perkuatan terhadap sasaran-sasaran potensil
e. Penyebaran (Dissemination).
Diseminasi atau penyebaran adalah penyampaian intelijen kepada mereka
yang memerlukan dan berhak untuk mengetahui serta menggunakannya sesuai
dengan kaidah - "Right to know and Need to know".
Intelijen yang hanya disimpan sendiri oleh institusi intelijen adalah produk
yang tidak ada artinya dan intelijen dianggap gagal melakukan misinya.
Kebanyakan yang memerlukan dan menggunakan intelijen adalah institusi
diluar badan intelijen.
Intelijen yang telah disampaikan di nilai kembali (re evaluasi) oleh penerima
atau pengguna apakah intelijen dapat digunakan secara efektif. Salah satu
bentuk re-evaluasi adalah umpan balik dari setiap intelijen yang telah
disebarkan.
Intelijen selain disampaikan kepada institusi diluar intelijen, juga disampaikan
kepada sesama institusi penegakan hukum yang disebut pertukaran intelijen.
Perlu ditetapkan sebuah kebijakan yang mengatur tentang jenis informasi apa
yang dapat dipertukarkan dan kepada siapa.
Persoalan kritis dalam penyebaran informasi adalah adanya pemahaman
tentang siapa yang berhak mengetahui (right to know) dan siapa yang
memerlukan informasi (need to know), baik dalam lingkungan institusi sendiri
maupun antar institusi.

99

Dalam beberapa kasus mungkin untuk satu produk diperlukan informasi


dalam versi yang berbeda.
Sebagai contoh: Ada satu laporan versi publik tentang kemungkinan adanya
ancaman. Laporan ini disebar luaskan dengan maksud untuk menggugah
kewaspadaan warga terhadap kemungkinan adanya sebuah ancaman.
Versi yang lain terhadap kasus yang sama adalah laporan yang lebih
bernuansa Sensitifitas Penegak Hukum yang berisi laporan yang lebih rinci
yang menyebutkan tentang pelaku yang potensial melakukan ancaman.
Laporan ini tidak tepat untuk disebar luaskan.
Ada satu kaidah bila menyangkut intelijen yang sensitif, penegak hukum
harus memberlakukan yang disebut Third Agency Rule, yaitu si penerima
dilarang untuk menyebarkan intelijen yang diterima kepada pihak lain.
Pertukaran informasi yang paling efisien adalah dengan menggunakan jejaring
elektronik.
Dengan menggunakan sistem pengaman tertentu pertukaran informasi melalui
jejaring elektronik selain efisien, juga cepat dan mudah.
Amerika Serikat mengembangkan sistem elektronik untuk pertukaran
informasi, seperti RISS (Regional Information Sharing System) untuk
penegak hukum, atau FBI mengembangkan yang disebut Law Enforcement
On line (LEO), Joint Regional Information Exchange System (JRIES) untuk
United States of Homeland Security. RISS dan LEO telah terhubung dan
telah disetujui masuk dalam NCISP (National Criminal Intelligence Sharing
Plan), demikian juga JRIES dan RISS dalam JITF-CT RISS (Joint Task Forse
Counter Terrorism RISS) Information Exchange.
POLRI memiliki Sistem Informasi & Komunikasi, yang untuk lalu lintas
tingkat nasional terintegrasi dengan PIKNAS (Pusat Informasi Kriminal
Nasional) yang disebut NTMC (National Traffic Management Center), untuk
tingkat Provinsi RTMC ( Regional Traffic Management Center) dan pada
tingkat Kabupaten /Kota disebut TMC.
Beberapa kelemahan dalam pertukaran informasi dan intelijen adalah:
1). Institusi penegak hukum dan intelijen umumnya enggan untuk bertukar
informasi atau intelijen, mengakibatkan kurangnya komunikasi antar
institusi penegak hukum.
2). Kelemahan dalam teknologi untuk mengembangkan sistem data nasional.
3). Masih belum ada ukuran baku dan kebijakan yang menyangkut isu
intelijen.
4). Tenaga analis yang belum memadai.
Intelijen sebagai hasil akhir suatu proses harus berisi unsur-unsur 5W + 1H
Why, When, Who, What , Where, dan How.
Sumber informasi dapat digambarkan sebagai berikut.37
37

.David L.Carter- Law Enforcement Intelligence: A Guide for State, Local, and Tribal Enforcement
Agencies(2009). Hal 11.

100

Kegiatan intelijen tertutup.


Bahan-bahan keterangan sebagai bahan dasar untuk pengolahan intelijen
hampIr sebagian besar didapat dari sumber-sumber dan cara terbuka. Untuk
kelengkapannya dan bila masih ada bahan keterangan yang penting, dilakukan
dengan cara-cara tertutup (Covert means) atau disebut juga kegiatan rahasia.
Intelijen tertutup atau covert intelligence adalah pengumpulan intelijen tanpa
sepengetahuan sasaran. Pengumpulan bahan keterangan dengan cara tertutup
bukan kegiatan yang mudah dilakukan, oleh sebab itu cara ini dilakukan
dengan persiapan panjang dan hati-hati dengan sasaran terpilih. Dengan sifat
dan fungsi yang demikian, informasi tentang organisasi yang melakukan
kegiatan tertutup selalu sulit untuk diungkap, dan apabila ada publikasi
tentang organisasi dan kegiatannya, biasanya publikasi tersebut tidak memiliki
nilai lagi. Pengumpulan bahan keterangan dengan cara tertutup, dengan alat
dan metode apapun membutuhkan organisasi yang besar dan mahal, dan nilai
dari hasil yang diperoleh sangat tergantung dengan sarana dan metode yang
digunakannya serta kadang-kadang sulit membandingkan dengan biaya yang
dikeluarkan. Membangun organisasi semacam ini memerlukan proses panjang
karena diperlukan kehati-hatian yang tinggi pada setiap tahapan manajemen
kegiatan, mulai seleksi dan perekrutan agen-agen, pelatihan, penempatan dan
pengendalian operasinya. Penyiapan pada setiap tahapan bukan merupakan
hal yang sederhana, tetapi memiliki tingkat kerumitan yang sangat tinggi.
Secara umum kegiatan tertutup dilakukan oleh manusia yang disebut Human
Intelligence (HUMINT ) atau dengan menggunakan teknologi
Kegiatan intelijen terbuka.
101

Bahan keterangan atau informasi hampir sebagian besar dengan mudah dapat
diakses dari sumber terbuka (Open-source intelligence), meskipun secara
tradisional sumber terbuka dianggap sebagai sumber informasi yang memiliki
nilai rendah (under valued resources) dan dikatagorikan sebagai sumber
informasi kelas dua (second class status)
Penilaian ini terjadi karena asumsi yang keliru yang menganggap bahwa
informasi tentang orang, gerakan-gerakan, dan kondisi yang dapat
menimbulkan ancaman, terutama yang menyangkut niat, karakteristik, dan
perilaku, tidak mungkin diperoleh dari sumber-sumber terbuka.
Asumsi yang keliru ini didasarkan kepada 6 (enam) alasan mendasar yang
sering-sering tidak dipahami yaitu:38
Pertama, orang perorang atau kelompok yang dapat menampilkan ancaman
adalah mereka yang menganut ideologi ekstrem, bahkan juga mereka yang
mendukung tindakan kekerasan untuk mencapai tujuan ideologinya dan
khususnya bila mereka ingin menyebarkan keyakinan dan tujuannya, biasanya
dengan mendekati orang atau kelompok lain untuk ikut bergabung. Untuk itu
mereka akan menggunakan berbagai sarana baik melalui web site, bahan
cetakan, media penyiaran atau media elektronik yang lain. Contoh media yang
mendukung World Jihad bisa diakses melalui - www.memri.org.
Kedua, pelaku kejahatan menggunakan jaringan tanpa identitas untuk
melakukan aktifitas perdagangan gelap. Pelaku dengan mudah dapat mencapai
pasar didalam negeri dari luar negeri, dengan menggunakan tehnik-tehnik
tertentu sehingga sulit dilacak.
Ketiga, jenis informasi tertentu yang berguna untuk proses intelijen, termasuk
informasi tentang identitas perorangan, dapat diperoleh secara terbuka karena
kebijakan, peraturan, atau undang-undang yang membolehkan informasiinformasi tersebut dibuka kepada publik di wilayah-wilayah tertentu. Sebagai
contoh database yang berisi informasi tentang surat kendaraan bermotor,
kepemilikan property, pendaftaran pemilih, pelanggaran seksual, daftar gaji
pekerja publik, dan sejumlah informasi lainnya sulit diperoleh masyarakat,
kalaupun dapat diperoleh dengan pengendalian ketat saat dipublikasikan.
Keempat, masyarakat menginginkan informasi yang terpilih yang
dipublikasikan. Ini disebabkan oleh berbagai alasan: nomor telepon, kartu
nama dan alamat, laporan riset, dan pemasaran adalah dari sedikit contoh
Sebuah informasi dapat memberi pengetahuan, tetapi setumpuk informasi
akan memberi pemahaman yang lebih mendalam apabila telah mengalami
proses analisis.
Kelima, komunitas bukan penegak hukum, seperti media atau kelompok
advokasi, dapat melakukan penyelidikan yang kemudian menjadi sumber
terbuka. Sumber-sumber ini dapat memberikan informasi perorangan
(personal information), penjelasan tentang perilaku, hubungan personal,
kegiatan dari kelompok tertentu, dan penjelasan tentang sebuah peristiwa
dalam memenuhi tujuan bisnisnya atau sebab-sebab lain.
38

. Ibid Hal 284.

102

Terakhir, informasi sering kali menjadi terbuka karena kelalaian. Misalkan


seorang politisi membuat pernyataan yang mengganggu didepan mikrofon
yang lupa dimatikan.
Seperti yang dilakukan Presiden George W.Bush, ketika menggunakan katakata yang tidak pantas diucapkan seorang Chief Diplomat sebuah negara
besar.
Ketika itu Bush berbisik kepada Perdana Menteri Inggris Tony Blair dan
tertangkap mikrofon yang lupa dimatikan. Bush mengatakan : See the irony
is what they need to do is to get Syria to get Hezbollah to stop doing this shit
and its over.
Namun dalam banyak hal informasi yang diperoleh dari sumber terbuka
ternyata banyak yang memiliki nilai yang tinggi untuk intelijen karena
memiliki informasi yang dapat dipercaya dan dapat digunakan sebagai bahan
analisis, serta dapat diperoleh dari sumber yang luas.
Informasi dari sumber terbuka adalah informasi yang diperoleh dari sumbersumber terbuka secara legal tentang orang perorang, kelompok, lokasi,
kejadian, atau kecenderungan. Bahan keterangan atau informasi tersebut
secara terpisah belum dapat memberikan kejelasan yang berarti, namun ketika
bahan keterangan yang diperoleh dari sumber terbuka itu dievaluasi,
diintegrasikan, dan dianalisis akan dapat memberikan gambaran baru tentang
sasaran dan kecenderungan.
Sumber bahan keterangan dari sumber terbuka sangat beragam seperti:
- Semua media cetak dan media elektronik.
- Database yang dipublikasikan.
- Buku-buku Petunjuk (Directories).
- Database tentang orang, tempat, dan kejadian-kejadian.
- Diskusi terbuka, baik dalam bentuk forum, kelas, atau diskusi lewat
mayatara (on-line), bulletin, atau percakapan umum. - Laporan pemerintah
atau dokumen-dokumen terbuka lainnya.
- Statistik. Websites yang terbuka untuk umum.
- Mesin pencari di Internet.
- Publikasi komersil.
Kemudahan dalam memperoleh informasi dari sumber terbuka tidak ada
masalah hukum yang dihadapi serta tidak memerlukan tehnik pengumpulan
dengan cara tertutup.
Bahan keterangan telah ada dalam sumber terbuka, dan telah berkembang
sejalan dengan kemajuan teknologi. Sebagai contoh kalau seorang analis
akan menyiapkan intelijen strategik tentang perkembangan dan
kecenderungan terorisme, seorang analis dapat mengakses dengan mudah ,
misalnya Department of State Counterterrorism Office Amerika Serikat,
laporan FBI tentang terorisme, atau kantor manapun yang menangani
terorisme.
POLRI saat ini sedang menyiapkan database yang memungkinkan masyarakat
mengakses informasi yang berhubungan dengan tugas dan fungsi kepolisian.

103

Sumber informasi baik manusia maupun alat hasil teknologi dinilai menurut
kriteria Reliability of Source atau tingkat kepercayaan terhadap sumber.
Tingkat kepercayaan ditentukan sebagai berikut :
A. Sangat dipercaya (Completely reliable).
B. Biasanya dapat dipercaya (Ussually reliable).
C. Agak dapat dipercaya (Fairly reliable).
D. Biasanya tidak dapat dipercaya (Not usually reliable)
E. Tidak dapat dipercaya (Unreliable).
F Tidak diketahui (Unknow or No Judgment).
Kebenaran bahan keterangan (probable accuracy of information) dinilai
menurut kriteria sebagai berikut.:
1. Kebenarannya dikuatkan oleh sumber lain ( Confirm by other source).
2. Benar ( Probably true).
3. Mungkin benar ( Posibly true).
4. Diragukan ( Doubtful).
5. Sangat diragukan (Improbable).
6. Tidak diketahui ( Unknown or No Judgment).
Dalam melakukan analisis perlu kehati-hatian yang tinggi serta tersedianya
bahan keterangan yang diperoleh dari sumber dengan tingkat kepercayaan
yang tinggi serta tingkat kebenaran bahan keterangan yang tinggi pula, agar
setiap keputusan dan tindakan yang diambil dapat dilakukan secara objektif.
Meskipun proses intelijen merupakan siklus yang tidak terputus, namun
terjadi pemisahan (kompartementasi) yang ketat antar tahap.
Pengumpulan bahan keterangan / informasi terpisah dari proses pengolahan
dan nalisis , demikian juga untuk penyebaran.
Untuk proses pengolahan dan analisis perlu tersedia bahan keterangan /
informasi yang cukup, baik yang merupakan latar belakang atau basic
intelligence maupun bahan keterangan aktual atau current intelligence.
Dengan kedua jenis bahan keterangan ini analis intelijen melakukan
pengolahan dan analisis sehingga dapat menyajikan intelijen baik berupa
perkiraan (estimasi) maupun peringatan dini (early warning). Hasil akhir yang
berupa intelijen disebarkan kepada pengguna intelijen. Kegunaan intelijen
harus memenuhi syarat tepat masalah, tepat waktu, dan tepat sasaran.
Intelijen yang disampaikan kepada pengguna intelijen yang tidak memenuhi
ketiga syarat diatas, sudah tidak memiliki arti dan nilai intelijen, tetapi hanya
sebagai berita biasa.
2. Sikap pengguna intelijen.
Seseorang yang disebut pengguna intelijen adalah mereka yang membuat
keputusan dan melakukan kegiatan operasi. Mereka tersebar pada berbagai
tingkatan organisasi mulai dari tingkat pusat, daerah maupun sampai pada tingkat
paling bawah.

104

Intelijen yang dibutuhkan pada tiap tingkatan berbeda sesuai keperluan sesuai
tingkat kewenangan organisasi. Para pengguna intelijen memiliki power,
sehinggga mereka dapat mempengaruhi peran organisasi intelijen dalam arti
mereka memilki kekuasaan apakah mereka akan menggunakan intelijen yang
disiapkan oleh organisasi intelijen atau disiapkan oleh para pembantunya.
Jadi manfaat intelijen tergantung dari sikap pengguna intelijen, yaitu apakah dia
mempercayai intelijen dan apakah mereka membutuhkannya. Ketepatan
pemanfaatan intelijen selain ditentukan oleh mutu intelijen tergantung juga
kepada sikap pengguna intelijen tadi. Ini menyangkut Need and Trust. Sikap ini
yang krusial dalam meletakkan produk intelijen dalam tataran pengambilan
keputusan.
R.Hilsman dalam surveynya mengklasifikasikan pengguna intelijen yang disebut
Operator ke dalam 3 (tiga) katagori yaitu: Activism, Simplism, dan
Organizational Tinkering. 39
Pertama tipe Activism adalah mereka yang rajin dan bekerja keras. Pemimpin dan
pengguna intelijen tipe ini umumnya teliti (conscientious), bersungguh-sungguh
(serious), ambisius (ambitious), dan seorang pekerja keras (hard working).
Pemimpin tipe ini orientasinya kepada bertindak dan menyelesaikan pekerjaannya
dengan cepat dan tuntas. Tidak mengherankan pengguna intelijen tipe ini adalah
orang yang tidak sabar untuk membaca laporan yang panjang-panjang yang
memuat berbagai alternatif. Mereka cenderung untuk menyelesaikan persoalan
dengan berbuat dan bertindak, bukan berpikir lama-lama.
Tipe kedua disebut simplism. Pemimpin dan pengguna intelijen tipe ini tidak suka
kepada pola penyelesaian yang rumit. Ini disebabkan oleh orientasinya pada
tindakan dan berada pada tekanan pekerjaan. Mereka tidak suka kepada
penyelesaian yang rumit, juga tidak menyukai solusi dengan berbagai persyaratan,
alasan yang tidak jelas dan terlalu akademik. Mereka lebih menyukai
penyelesaian masalah dengan alasan yang praktis, masuk akal dan langsung
meskipun mereka juga menghargai pemikiran para analis. Mereka tidak suka
dengan laporan dan analisis yang panjang karena mereka memiliki waktu yang
sedikit untuk membaca. Satu halaman padat sudah cukup bagi mereka.
Tipe ketiga disebut Organizational Tinkering. Pemimpin dan pengguna intelijen
tipe ini meyakini bahwa kinerja yang baik terjadi karena kesempurnaan
organisasi.. Kesempurnaan menyangkut rantai komando, pembagian kerja yang
jelas, sentralisasi atau desentralisasi dalam pembuatan kebijakan dan sebagainya.
Organisasi yang rumit akan menghambat aliran informasi, oleh sebab itu tipe ini
menganggap organisasi yang sederhana dan pembagian kerja yang tidak berteletele akan meningkatkan kinerja. Tugas-tugas yang menyangkut riset dan analisis
dalam organisasi cenderung dianggap penghambat kinerja, karena pada dasarnya
analisis dapat dikerjakan oleh bagian-bagian tanpa perlu yang khusus.
R.Hilsman mengkatagorikan tipe diatas sebagai sikap pengguna yang memiliki
pengaruh tidak langsung terhadap pemanfaatan intelijen sebagai hasil
pengolahan dan analisis.
39

. R.Hilsman - Strategic Intelligence and National Decision. Hal 57.

105

Pengguna intelijen yang mempunyai pengaruh langsung terhadap pemanfaatan


intelijen sebagai hasil pengolahan dan analisis adalah mereka yang disebut
sebagai Anti Intelectualism.
Pengguna intelijen tipe ini sangat percaya kepada pengalaman praktis lapangan,
sehingga tidak mengherankan bila tipe ini memandang sebelah mata kepada
para analis intelijen. Mereka berpandangan bahwa para analis adalah pemimpi
(bookish dreamer), yang lebih menekankan pada idealisme ketimbang hal-hal
praktis yang dapat dilaksanakan dilapangan.
3. Ketepatan menetapkan Intelligence Requirement.
Ketepatan dan manfaat intelijen yang disampaikan kepada pengguna intelijen
tergantung kepada ketepatan menentukan
Kebutuhan Intelijen (Intelligence Requirement) atau umum juga disebut
Unsur Utama Keterangan (UUK) atau Essential Element of Information
(EEI).
Inteligence Requiremant adalah sejumlah kebutuhan dalam bentuk
pertanyaan yang disampaikan kepada badan intelijen untuk dicari
jawabannya, yang akan digunakan oleh pengguna intelijen dalam
menetapkan kebijakan atau langkah tindakan yang diperlukan yang
berhubungan dengan kejahatan dan ancaman terorisme.
Tersedianya informasi yang sesuai dengan keperluan analisis akan
menghasilkan intelijen yang bermutu. Makin baik mutu intelijen yang
disajikan makin baik pula keputusan atau kebijakan yang dihasilkan.
Tidak memiliki informasi yang cukup dan terarah yang sesuai dengan
masalah yang dihadapi akan makin menyulitkan didalam proses pengambilan
keputusan bahkan akan menimbulkan resiko.
Penyusunan kebutuhan intelijen adalah tanggung jawab pengguna intelijen.
Berdasarkan Intelligence Requirement, intelijen akan menyusun suatu
rencana kegiatan baik untuk pengumpulan bahan keterangan maupun untuk
kegiatan riset dan analisis.
Dalam prakteknya sangat jarang para penentu kebijakan atau pengambil
keputusan melakukannya, sehingga umumnya kebutuhan intelijen ini disusun
sendiri oleh intelijen dengan membaca kecenderungan arah kebijakan yang
mungkin diambil dan situasi yang berkembang.
Resiko praktek seperti ini adalah tidak tepatnya intelijen yang disajikan yang
mengakibatkan resiko terhadap keputusan atau tindakan yang diambil
Proses pengumpulan bahan keterangan atau informasi harus fokus dan
terarah sehingga kebutuhan terhadap informasi yang spesifik dapat dipenuhi.
Ini akan meningkatkan efesiensi dalam proses analisis dan menjamin bahwa
informasi yang diperlukan telah dipenuhi.
Pada masa lalu sering kali digunakan pendekatan dragnet atau dragnet
approach dalam proses pengumpulan informasi, dan analis dan para
penyelidik akan mempelajari informasi yang dikumpulkan dengan harapan
mendapatkan sesuatu yang bermanfaat.
Dragnet Approach adalah pendekatan yang hanya mengandalkan pada
pencarian fakta.

106

Pengumpulan informasi saat ini sudah menggunakan pendekatan yang


berbeda dalam pengumpulan informasi dengan istilah Requirement
Approach yang lebih ilmiah, lebih objektif, lebih berhasil guna, dan tidak
menimbulkan masalah terutama yang berhubungan dengan hak-hak sipil.
Dibawah ini digambarkan perbedaan pengumpulan informasi secara tradisional
dengan pengumpulan informasi yang didasarkan kepada intelligence requirement.
Pengumpulan Tradisional

Pengumpulan
berdasarkan
Intelligence Requirements
. Penekanan pada data
. Penekanan pada Analisis.
. Bersifat mencari. (Exploratory).
. Bersifat olah intelektual melalui
proses berpikir (Contemplative).
. Menekankan pada data sebanyak- . Menekankan pada analisis data.
banyaknya.
. Menyimpulkan perbuatan kriminal . . Menyimpulkan pelaku kriminalitas
dari orang yang dicurigai (Suspected yang dicurigai dari peristiwa kriminal.
persons)
. Dalam pengumpulan informasi, . Dalam pengumpulan informasi,
menggunakan
pendekatan menggunakan pendekatan sasaran secara
pengumpulan
data
sebanyak- terarah dan spesifik yang ada kaitannya
banyaknya
dengan
peristiwa
kejahatan
yang
dicurigai.
. Mempelajari semua referensi . Mempelajari secara terpilih kejahatan
tentang tindak kejahatan yang
yang menonjol berdasarkan prioritas
potensial.
dan bukti.
. . Mempelajari semua informasi yang.
Menjawab
pertanyaan
dengan
terhimpun untuk melihat bila ada
mengumpulkan dan menganalisis
pertanyaan yang harus dijawab.
informasi.
. Membangun file intelijen untuk . Mengembangkan file intelijen untuk
kontijensi
mendukung penyelidikan kejahatan
yang aktif.
.
Statistik disusun untuk tujuan.
Stastistik disusun untuk proses
penjelasan
pengambilan keputusan.
Karena ini merupakan proses ilmiah, fungsi intelijen dapat menggunakan protokol
kualitatif untuk pengumpulan bahan keterangan atau informasi yang diperlukan
untuk memenuhi requirement.
Protokol ini untuk menyempurnakan proses pengumpulan bahan keterangan yang
merupakan bagian dari siklus intelijen.
Beberapa langkah dibawah ini adalah tindakan-tindakan dalam protokol, sebagai
gambaran petunjuk-petunjuk.
Ini bukan merupakan sebuah model, tetapi sebuah proses dimana setiap institusi
atau badan perlu mengembangkannya untuk dapat memenuhi karakteristik
masing-masing.
a. Memahami tujuan intelijen anda.

107

b.
c.

d.

e.

f.

. Menahan teroris dan / atau kriminal.


. Mencegah atau mengurangi kesempatan serangan teroris.
. Menghentikan beroperasinya criminal enterprise.
Membangun strategi analitik.
. Tipe informasi apa yang diperlukan.
. Bagaimana informasi yang diperlukan di kumpulkan.
Tentukan jejaring dan lingkungan sosial.
. Siapa yang menjadi lingkaran atau lingkungan sosial dari sasaran.
. Siapa saja yang secara regular beraktifitas dalam lingkungan sosial dari
sasaran.
. Siapa yang memiliki akses kepada sasaran untuk mendapatkan informasi dan
untuk melakukan observasi.
. Apa yang menjadi hobi, kesukaan, karakteristik atau ciri-ciri sasaran yang
dapat memberikan atau membuka peluang untuk mendapatkan informasi,
pengamatan, atau penyusupan.
Tentukan jejaring logistiknya.
. Bagaimana jaringan atau kelompok beroperasi.
. Sumber pedanaannya.
Jaringan dan sumber-sumber komunikasi.
Dukungan logistik dan suplainya.
Tentukan jaringan fisik.
. Rumah.
. Kantor.
. Ruang penyimpanan dan pangkalan.
Tugas dari proses pengumpulan bahan keterangan atau informasi.
. Tentukan metode yang paling baik untuk mendapatkan bahan keterangan
(pengamatan, informan, penyadapan dan sebagainya).
. Cari informasi.

Contoh penyusunan Intelligence requirement,


Intelligence Information Needs (IINs).

yang

Intelligence Information Needs Requesting


(IINs)
Organization
(Badan
Pengumpul)
Laporan Analisa Ancaman
- Badan.
tingkat nasional, dan daerah.
- Departemen.
- Tingkat kepercayaan dan
- Organisasi.
kebenaran dari informasi
yang diterima.

dijabarkan kedalam

Dissemination
Instruction
(Instruksi
Penyebaran).
- Nama
pengguna.
- Jabatan.
- Alamat.
korespodensi

108

Rencana serangan dari


kelompok teroris.
Sasaran.
Mengapa sasaran itu
dipilih.
Perkiraan
metode
serangan
Senjata
yang
akan
digunakan
dalam
serangan.
Perkiraan
waktu
serangan.

Nomor
kontak.
Alamat e-mail
pejabat
Penegak
hukum atau
pegawai
lainnya.

Laporan
kecenderungan
global,
nasional,
daerah
tentang
organisasi,
dan
struktur teroris yang aktif,
kriminal,
narkoba,
dan
kelompok pengacau lainnya.
- Identitas dari kelompok
yang
dicurigai
dan
peranan
mereka
di
daerah.
- Jangkauan territorial dari
kelompok-kelompok
tersebut.
- Proses
pengambilan
keputusan;
derajat
otonomi
kelompokkelompok.
- Komando-PengendalianKomunikasi (C-3) dari
sisi tehnik, peralatan, dan
jaringan.

Laporan
kecenderungan
global, nasional, dan daerah

109

tentang kemampuan, niat,


modes operandi dari kelompok
yang dicurigai.
- Tipe
senjata,
bahan
peledak, atau senjata
pemusnah massal.
- Metode
pergeseran,
penyimpanan,
dan
penyembunyian senjata,
perdagangan
gelap,
perdagangan manusia.
- Kemampuan dan tehnik
khusus yang dimiliki
kelompok .
Kegiatan illegal / pelanggaran
hukum dari kelompok yang
dicurigai dalam jurisdiksi
daerah.
- Produksi dan pengadaan
secara illegal bahan-bahan
kimia, biologi, radiologi,
nuklir, bahan peledak;
narkoba, bahan terlarang
lainnya.
- Perdagangan senjata illegal,
pencurian,
penyesatan,
penyelundupan
orang
asing, teroris, atau barangbarang terlarang, dan
perdagangan manusia.
- Kejahatan
lingkungan,
perdagangan
dan
penyelundupan
yang
membahayakan
kelestarian spesies yang
dilindungi.
- Keterkaitan
kelompok
kriminal
dengan

110

kelompok teroris atau


organisasi intelijen asing;
penyuapan / pemerasan /
korupsi oleh pejabat
publik.
Identitas,
peranan
warga
negara sendiri maupun asing
yang
mensponsori
/
mendukung kegiatan kriminal,
teroris, spionase di wilayah
hukum daerah.
- Kegiatan kriminal yang
diperankan oleh setiap
kelompok di daerah serta
keluasan jangkauannya
keluar daerah.
- Kelompok
bisnis
/
yayasan
yang
ada
hubungannya
dengan
kelompok yang dicurigai;
organisasi samaran.
- Rantai
pengamannya
dalam
pengiriman
teknologi yang kritik,
barang / orang yang
illegal.
- Hubungan
dengan
kelompok di luar negeri
baik resmi, tidak resmi
atau
perorangan;
kelompok simpatisan.
- Ketergantungan finansial;
tingkat ketergantungan
kelompok
kepada
dukungan
luar,
pembiayaan.
Kegiatan

intelijen

111

pengamanan dari kelompok


yang dicurigai.
- Pengamatan,
penyelidikan,
penyembunyian diri,
penyamaran kegiatan,
safe-house.
- Tehnik serta taktik kontra
intelijen dan pengamanan
fisik.
- Operasi
pengamanan
komunikasi (COMSEC),
kemampuan memonitor
komunikasi lokal atau
Local Exchange Carrier
(LEC) Communication.
- Jejaring informan yang
dimiliki kelompok yang
dicurigai.
- Kemampuan
untuk
membuat dokumen dan
identitas palsu.
- Tehnik penyamaran, dan
operasi
penyesatan
informasi.
Mode angkutan (darat, laut,
udara) dan pengiriman.
- Menggunakan angkutan
komersial
/
kurir/
pengapalan .
- Menggunakan tranportasi
pribadi / sistem angkutan
non-komersil.
- Tipe
/
identifikasi
kontener
barang,
modifikasi.
- Rute, jadwal; rute yang
paling menguntungkan;

112

titik
pemberangkatan,
negara transit.
Simpul-simpul / titik-titik
pemindahan
muatan;
tehnik
pelintasan
perbatasan.
Tehnik pengamanan rantai pengaman kurir
secara berlapis ; ketibaan
dan tehnik pengambilan
muatan.

Sumber keuangan kelompok


yang dicurigai.
- Jejaring
pendukung;
Negara sponsor atau
sponsor
perorangan;
perusahaan pelindung.
- Tehnik pencucian uang;
pengiriman uang secara
inkonvensional.
- Perusahaan
pelindung;
Sponsor
Yayasan
kemanusiaan
dan
penyamarannya.
- Kejahatan dalam bidang
keuangan
untuk
meningkatkan
pendapatan; pemerasan
terhadap sasaran- sasaran
rawan.
- Bentuk
kerjasama,
memfasilitasai institusi
keuangan
atau
pelayanan.
- Penghubung
keuangan
antara
organisasi
kriminal atau perusahaan
dengan pejabat publik,

113

kelompok yang tidak


disukai.
Pengendalian kelompok
kriminal atas publik,
asset
keuangan
dan
kekayaan desa.

Dampak dari upaya Penegak


hukum atau pemerintah untuk
memberantas
kegiatan
kelompok yang dicurigai.
- Infiltrasi;
kompromi;
penghancuran; pemecah
belahan.
- Taktik apa yang paling /
kurang efektif; bukti
perubahan taktik, tehnik
dan
sasaran
dari
kelompok yang dicurigai.
- Efektifitas kerja penegak
hukum diluar negeri.
- Respon dari kelompok
yang dicurigai terhadap
upaya Penegak Hukum
(Countermeasures)
- Upaya kelompok yang
dicurigai dalam korupsi
oleh pejabat publik /
penegak hukum.
Bukti dari kemampuan
penegak hukum asing /
luar untuk melakukan
upaya bersama atau
kerjasama operasi.
- Bukti dan tanda-tanda
sikap dan kebijaksanaan
luar
negeri
yang
membawa
dampak
terhadap toleransi dan

114

kebebasan bergerak dari


kelompok yang dicurigai
dalam lingkungan asing.
Perekrutan
;
latihan
;
kerjasama oleh kelompok yang
dicurigai.
- Tehnik perekrutan dan
sasaran prioritas.
- Pelatihan
yang
dilakukan: tipe , lokasi ,
yang memberi pelatihan ,
kurikulum , fasilitas.
Taktik penekanan (intimidasi),
pelanggaran hak-hak sipil.
- Sasaran dari kelompok
pembenci,
organisasi
etnik ekstrem.
- Insiden kekerasan atau
gangguan
terhadap
individu,
kelompok,
tempat ibadah, sekolah,
kelompok
usaha
golongan minoritas baik
secara etnik maupun
secara politik.
Kemampuan, rencana, niat,
modus
operandi
dari
kelompok
yang
dicurigai
untuk melakukan gangguan
dan serangan terhadap sistem
komputer dan database
Hacker hacker yang aktif.
Di negara maju pertukaran informasi dan intelijen sudah lebih terstandarisasi dan
intelijen penegakan hukum (law enforcement intelligence) sebagai sebuah disiplin
sudah lebih professional, semua institusi penegakan hukum pada semua tingkatan
melakukan proses intelijen dengan pendekatan - requirement driven.
Meskipun demikian Robert Taylor berbeda pendapat dan melihat dua kelemahan
utama dalam sistem intelijen Amerika Serikat, yaitu:40
- Hasil analisis intelijen masih belum sempurna.
40

. Jonathan R. White Defending the Homeland: Domestic Intelligence, Law Enforcement, and Security.
Hal 80.

115

Institusi penegak hukum belum melakukan pertukaran intelijen secara


terkoordinasi
Padahal menurut Chad Nelson dan Tod Burke institusi penegak hukum adalah
institusi yang paling bertanggung jawab untuk melindungi Amerika Serikat dari
serangan teroris melalui pertukaran intelijen yang baik.
Untuk meningkatkan dan menyempurnakan pertukaran intelijen, Homeland
Defense Intelligence, atau David L. Carter menyebutnya Homeland Security
Intelligence mengeluarkan semacam instruksi seperti tertera dalam tabel dibawah
ini.41
HOMELAND DEFENSE INTELLIGENCE
The National Strategy for Homeland Security menghimbau kepada institusi
pemerintah pada semua tingkat untuk.
Melakukan pertukaran informasi.
Meningkatkan sistem pertukaran informasi baik pada tingkat federal, negara
bagian dan wilayah
Mengembangkan standar bersama untuk data elektronik.
Meningkatkan komunikasi keamanan dan kesehatan masyarakat.
Membangun lima prinsip untuk pertukaran informasi, yaitu:
- Keseimbangan antara kebutuhan keamanan dengan kebebasan individu.
- Melihat pemerintah pusat (federal), Negara bagian, dan wilayah sebagai satu
kesatuan.
- Pengumpulan informasi oleh satu sumber yang akan didistribusikan di
banyak tempat.
- Membangun database informasi tentang ancaman.
- Secara teratur mengkemas kinikan (up-date) informasi

BAB VII.
INTELIJEN BERDASARKAN SIFAT ANALISIS.
Didasarkan kepada prosesnya dikenal dua istilah intelijen yaitu raw intelligence dan
finished intelligence.
Raw Intelligence adalah informasi yang diperoleh dari sumber-sumber yang umumnya
dapat dipercaya.
Jenis intelijen ini dianggap valid dan memenuhi syarat bukan karena diperoleh dari
sumber yang dipercaya tetapi karena cocok atau sesuai dengan informasi lain yang telah
diketahui.
Meskipun demikian raw intelligence memiliki kelemahan dilihat dari sisi waktu dan
masa berlakunya, tingkat validitasnya relatif pendek dan akan menurun seiring waktu.
Karena masalah waktu merupakan masalah yang sensitif dan kritis dihubungkan dengan
41

. Ibid. Hal 80.

116

keselamatan masyarakat ataupun perorangan, disarankan disebarkan hanya sebagai


mekanisme pencegahan.
Finished Intelligence adalah raw intelligence yang telah diolah dan dianalisis. Produk
intelijen ini harus disebarkan secara teratur supaya nilai gunanya dapat ditingkatkan.
Perbedaan bentuk dari laporan intelijen yang telah diolah untuk memenuhi kebutuhan
pengguna yang berbeda disebut produk intelijen.

Produk Intelijen.
Kebanyakan petugas penegak hukum sangat memahami tentang laporan investigasi atau
catatan investigasi, namun sering kurang memahami produk atau laporan intelijen.
Keduanya memiliki perbedaan yang harus dipahami oleh pengguna, seperti tergambar
dibawah ini.
Investigasi Kriminal.
Intelijen Penegakan Hukum.
Laporan dan Catatan.
Laporan, Catatan, dan Produk.
- Tujuan utama adalah penuntutan.
- Tujuan utama adalah pencegahan
- Laporan berupa dokumentasi
terhadap ancaman.
tindakan kriminal yang terjadi.
- Laporan focus kepada ancaman
- Laporan merupakan catatan resmi
kriminal yang dicurigai.
dan berisi bukti-bukti.
- Laporan berisi informasi yang
- Motif tidak relevan sebagai unsur
berhubungan dengan pertanyaan
hukum dari tindak kejahatan.
tentang ancaman.
- Bukti didokumentasikan untuk
- Motif merupakan unsur penting
membuktikan corpus delicti (barang
untuk membuat perkiraan.
yang digunakan untuk melakukan
- Informasi
didokumentasikan
suatu kejahatan atau hasil dari suatu
untuk membangun hipotesa
kejahatan).
tentang
ancaman
tindak
kejahatan.
Keluaran atau produk Intelijen penegakan hukum terbagi kedalam dua tipe yaitu Case
Intelligence atau Intelijen Kasus dan Intelligence Advisory Product.
Ciri yang kritikal dari Case Intelligence adalah mengidentifikasi orang perorang atau
organisasi. Secara konseptual tujuan yang paling tinggi adalah menahan dan mengadili
sasaran sebagai alat untuk mencegah terlaksananya ancaman.
Faktor penting yang harus dicatat dari Case Intelligence adalah hak-hak sipil yang
melekat pada orang perorang yang diidentifikasi pada setiap laporan.
Sedangkan pada tipe kedua yaitu Intelligence Advisory Product berisi indikatorindikator tindakan kejahatan dan ancaman secara umum agar para petugas menjadi
waspada. Jadi tujuannya adalah untuk menggugah kewaspadaan para personil penegak
hukum tentang indikator-indikator, sehingga apabila ada indikasi-indikasi dilapangan ,
dapat dilakukan tindakan pencegahan yang tepat untuk menjamin keselamatan
masyarakat dan pencegahan terhadap tindakan kriminal.
Sebagai perbandingan dapat digambarkan sebagai berikut,
Case Intelligence
- Seseorang diidentifikasi.

Intelligence Advisory Product


- Kecenderungan dalam

tindak

117

Kejahatan
yang
spesifik
diidentifikasi.
Intelijen mengembangkan bukti
sehingga dapat dipertanggung
jawabkan secara hukum.
Pengembangan kasus untuk tujuan
penuntutan.

kejahatan / atau metodologinya


diidentifikasi.
Perubahan kecenderungan tindak
kejahatan di perkirakan (forecast).
Indikator dari tipe kejahatan baru
diidentifikasi untuk diwaspadai
para petugas penegak hukum.
Tujuannya untuk pencegahan agar
tindak kejahatan tidak terjadi..

Untuk dapat memenuhi tujuannya, intelijen dan informasi-informasi yang sangat penting
harus disusun dalam format laporan agar dapat digunakan secara berdaya dan bernilai
guna
Laporan tersebut harus,
- Dapat mengidentifikasi pelanggan / pengguna yang memerlukan informasi seperti
petugas patroli, administrator, anggota satuan tugas dan lainnya.
- Dapat menyampaikan pesan atau informasi penting dan kritis secara jelas.
- Dapat mengidentifikasi parameter waktu dimana intelijen ditindak lanjuti.
- Memberikan perkiraan, rekomendasi tetapi bukan cara bertindak.
Produk intelijen akan bermanfaat bila setiap produk intelijen menunjukan sasaran dan
tujuan yang spesifik, konsisten, jelas, dan memenuhi estetika laporan, memuat informasi
yang kritis yang benar-benar diperlukan oleh pengguna dan tidak berisi informasi yang
tidak bermanfaat.
Produk intelijen ini akan berbeda sesuai dengan besarnya lembaga yang memproduksinya
apakah tingkat pusat, daerah atau satuan yang lebih rendah selain juga kemampuan
pengumpulan dan analisis dari personal yang tersedia.
Sebagai aturan yang umum hanya 3 (tiga) jenis produk yang diperlukan yaitu:
- Laporan yang memberi perkuatan kepada upaya investigasi dan pencegahan.
- Laporan yang menyajikan perkiraan tentang ancaman dalam upaya memperkuat
pengamanan sasaran.
- Laporan yang berisi analisis strategik yang dapat memberi masukan untuk penyusunan
perencanaan dan penentuan alokasi sumber daya.
Selain itu produk intelijen harus memenuhi karakteristik sebagai berikut: 42
- Dapat ditindak lanjuti (Actionable).
Setiap produk intelijen harus dapat memberi muatan yang cukup sehingga
kegiatan operasi ataupun respon dapat dilakukan berdasarkan intelijen tersebut
- Akurat (Accurate).
Proses analisis sering-sering bersifat probabilistik (kemungkinan-kemungkinan),
sehingga jarang sekali terumuskan kesimpulan atau ramalan yang konkrit.
Meskipun demikian segala upaya dan kemampuan harus dilakukan agar dapat
dihasilkan produk yang seakurat mungkin
- Objektif (Objective).
42

. David L.Carter- Law Enforcement Intelligence: A Guide for State, Local, and Tribal Law Enforcement
Agencies(2009). Hal 275..

118

Produk intelijen harus terhindar dari bias. Semua informasi harus diperlakukan
secara seimbang sehingga dapat dihasilkan intelijen yang dapat menggambarkan
apa yang diketahui maupun apa yang tidak diketahui, juga kekuatan dan
kelemahan dari analisis.
Relevan (Relevant).
Analisis dan produk harus fokus kepada ancaman yang menjadi bagian dari
prioritas yang strategis atau ancaman yang muncul dan berkembang yang dapat
memberi dampak kepada keselamatan masyarakat dalam wilayah tertentu.
Tepat waktu (Timely).
Waktu memiliki 2 komponen.
Pertama produk intelijen harus menjawab tentang ancaman yang sedang menjadi
perhatian saat itu.
Kedua, yang bersifat praktis yaitu intelijen harus dapat memberi waktu sejauh
mungkin sehingga unit-unit operasional memiliki waktu yang cukup untuk
mempersiapkan rencana tindakan dan pelaksanaannya.
Luas dan lengkap (Comprehensive).
Intelijen harus dapat memberi muatan sebanyak mungkin tentang seluruh dimensi
dari sebuah ancaman.

Tiga hal mendasar yang harus dihindarkan dalam membuat produk intelijen.
Pertama, jangan menjiplak produk intelijen dari organisasi lain.
Kebanyakan organisasi intelijen akan menerima produk intelijen yang asli, oleh karena
itu menjiplak akan merupakan duplikat dan akan membingungkan.
Produk jiplakan memiliki nilai yang rendah dan dapat menyesatkan bila intelijen yang
sama didistribusikan sebagai produk dari institusi yang berbeda.
Apabila satu institusi mengeluarkan produk jiplakan maka institusi tersebut akan
menemui kesulitan bila diminta tindak lanjut laporan yang lebih detail.
Kedua, jangan menyebarkan semua intelijen kepada setiap orang.
Terlalu banyak menerima informasi tidak akan efektif, sama halnya dengan tidak
menerima informasi sama sekali. Apabila seseorang dibanjiri oleh aliran informasi yang
kurang bernilai, maka akan ada kecenderungan mereka mengabaikan setiap informasi.
Intelijen harus mampu memisahkan sekam dari gandum.
Hal yang kritis adalah penyebaran intelijen harus ditujukan kepada mereka yang benarbenar memerlukan
Ketiga, jangan mengembangkan sikap berkarya atau binasa (publish or perish).
Hampir semua pimpinan intelijen pada semua tingkatan ingin melihat produktifitas para
analisnya. Namun produktifitas dalam fungsi intelijen sulit mengukurnya. Banyak yang
menggunakan jumlah produk sebagai ukuran produktifitas, padahal banyaknya produk
tidak bisa diukur tersendiri sebagai sebuah ukuran keberhasilan. Meskipun sebuah produk
intelijen nampak menarik namun apabila tidak bisa dilaksanakan dan ditindak lanjuti
tidak memiliki nilai.

119

Jadi yang menjadi ukuran bukan jumlah produk, namun mutu dan kegunaannya (quality
and utility). Memang hal ini bukan perkara yang mudah dan bersifat subyektif..
Produk intelijen yang tidak memenuhi kriteria diatas hanya merupakan kertas yang tidak
berguna.
a. Intelijen operasi - Non product .
Institusi penegak hukum baik pada tingkat pusat, daerah maupun pada tingkat yang
lebih rendah sering kali dihadapkan pada kebutuhan untuk menyimpan intelijen baik
yang berupa raw intelligence maupun finished intelligence yang menghadapkannya
pada situasi kontroversi.
Untuk kepentingan keamanan masyarakat, penegak hukum harus menyimpan
informasi tentang orang - orang maupun organisasi tertentu dengan 2 alasan utama;
1).Mereka memiliki potensi untuk melakukan tindakan kejahatan.
2).Mereka dapat menampilkan ancaman yang serius, meskipun untuk menentukan
parameter ancaman secara spesifik sering kali tidak mudah dilakukan.
Langkah, tindakan tindakan serta jaringan mereka dimonitor untuk mencegah
perbuatan kejahatan dikemudian hari.
Persoalan yang mendasar tentang kejahatan yang mungkin dilakukan di kemudian
hari adalah apa yang menjadi dasar dan alasan rasional untuk menyimpan data dan
informasi seseorang yang tidak berbuat kejahatan, hanya dengan dasar mungkin
berbuat kejahatan.
Yang paling penting, kalau ada kepentingan yang memaksa demi kepentingan
keamanan masyarakat, alasan yang tepat untuk dapat menyimpan informasi orang
perorang atau kelompok adalah adanya alasan pembenar yang masuk akal yang
menghubungkan kegiatan orang dimaksud dengan perbuatan kejahatan / kriminal.
Intelijen tipe ini tidak dalam bentuk produk tetapi secara berkala disiapkan dan
disebarkan dalam catatan operasional tentang keterkaitan orang atau kelompok
dengan kegiatan terror atau kejahatan terorganisasi. Yang terpenting meskipun sulit,
diperlukan keseimbangan untuk menjamin tidak ada pelanggaran undang-undang
selama proses berlangsung dengan tetap memelihara sumber informasi yang dapat
dipercaya untuk mencapai tujuan penegakan hukum yang legitimate.
Sebagai contoh: Demonstran yang menganjurkan bertindak anarkis, dibubarkan oleh
polisi. Pembubaran demonstrasi oleh polisi dapat dianggap melanggar hak
demonstran yang dijamin Undang Undang. Demonstrasi pada hakekatnya
merupakan ekspresi untuk mengeluarkan pendapat dan kebebasan berbicara yang
dijamin oleh Undang-Undang, sehingga operasi intelijen untuk mengatasi para pelaku
demonstrasi adalah tindakan yang tidak tepat. Namun tindakan anarkis yang
membahayakan keamanan properti dan keselamatan masyarakat, tindakan intelijen
operasi menjadi penting karena potensil terjadi tindakan pelanggaran terhadap
undang-undang kriminal.
Bila penganjur tindakan anarkis melakukan rapat, akan lebih baik bagi intelijen untuk
menghadirkan agen-agennya secara tertutup, mencatat poin-poin penting, mencatat

120

para peserta rapat, dan membuat catatan yang lebih terperinci dan memasukkannya
kedalam sistem data intelijen.
b. Intelijen berdasarkan proses analisis.
Secara umum intelijen untuk institusi penegak hukum baik pada tingkat pusat, daerah,
atau pada tingkat yang lebih rendah, dari hasil analisis dapat dilihat apakah untuk
kepentingan taktis atau strategis.
Sering sekali terjadi salah pengertian tentang perbedaan antara intelijen taktis dan
intelijen strategis.
Intelijen taktis memberikan arah dan petunjuk langsung kepada sebuah tindakan,
sedangkan intelijen strategis berevolusi sejalan waktu dan eksplorasi dalam jangka
panjang, serta menjadi dasar pemecahan masalah dengan lingkup yang luas. .
Sebagian professional ada yang menggunakan istilah intelijen berdasarkan bukti atau
evidential intelligence, dimana dari sebagian bukti yang ada dapat diperoleh buktibukti lain yang ada hubungannya dengan peristiwa yang sedang diselidiki.
Intelijen berdasarkan bukti atau evidential intelligence dapat membantu untuk
mengungkapkan sebuah tindakan kejahatan atau memberi petunjuk dan arah untuk
tindakan penyelidikan selanjutnya.
Terminologi intelijen operasi atau Operational Intelligence sering dipakai untuk
jenis intelijen yang digunakan untuk mendukung penyelidikan jangka panjang dengan
sasaran banyak dan sejenis.
Intelijen operasi terutama berhubungan dengan kegiatan identifikasi, penentuan
sasaran, deteksi, dan intervensi dalam kegiatan kriminal. 43
1). Intelijen Taktis (Tactical Intelligence).
Intelijen taktis digunakan untuk pengembangan kasus yang kritik, biasanya
kejahatan terorganisir, kejahatan lintas negara, atau investigasi kasus
kejahatan yang rumit, seperti terorisme. Intelijen taktis mengumpulkan dan
memanaje informasi yang bermacam-macam untuk keberhasilan
menyelesaikan sasaran intelijen. Intelijen taktis digunakan juga sebagai dasar
pengambilan keputusan yang spesifik atau pemecahan masalah untuk
menangani krisis dengan segera.
Intelijen taktis memberikan kontribusi langsung kepada keberhasilan kegiatan
penyelidikan
IACP National Enforcement Policy Center mendefinisikan Intelijen Taktis
sebagai berikut;
Tactical Intelligence is defined in the model policy as: Information
regarding a specific criminal event that can be used immediately by
operational units to further a criminal investigation, plan tactical operations
and provide for officer safety44
(Informasi yang berhubungan dengan peristiwa kejahatan yang dapat
digunakan dengan segera oleh unit-unit operasional untuk tindakan
43

. Marilyn Peterson Intelligence Led Policing: The New Intelligence Architecture. Bureau of
Justice Assistance US Department of Justice. Hal 3.
44
. IACP National Law Enforcement Policy Center Criminal Intelligence. Hal 3

121

investigasi selanjutnya, perencanaan operasi taktis dan keselamatan


petugas).
Tidak seperti intelijen strategis, intelijen taktis lebih siap untuk digunakan
dalam operasi penegakan hukum. Meskipun demikian seperti juga intelijen
strategis informasi dapat diperoleh dari hasil investigasi kriminal, pengamatan
(surveillance), operasi tertutup, informan , atau dari sumber-sumber lain.
Namun sifat dari informasi membuat informasi ini segera dapat digunakan
untuk keperluan operasi penegakan hukum.
Sebagai contoh: Bila diketahui ada ancaman teroris terhadap sasaran tertentu,
tugas utama intelijen taktis adalah mendalami tentang sifat ancaman maupun
sasaran teroris. Hasilnya digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan
untuk pengamanan sasaran dan melumpuhkan serangan teroris.
2). Intelijen Strategis (Strategic Intelligence).
Intelijen strategis berhubungan dengan gambaran masalah yang lebih besar
atau big picture issues, seperti kegiatan perencanaan dan alokasi sumber
daya manusia.
Intelijen Strategis mempelajari dan mendalami pola dan kecenderungan
sebuah kejahatan yang akan digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan,
pengembangan sumber daya, pengalokasian sumber daya, dan perencanaan
kebijakan.
IACP National Law Enforcement Policy Center mendefinisikan intelijen
strategis sebagai berikut:
The model policy defines strategic intelligence as : Information concerning
existing pattern or emerging trends of criminal activity design to assist in
criminal apprehension and crime control strategies, for both short-and long
term investigative goals.45
( ......: Informasi yang berhubungan dengan pola dan kecenderungan yang
berkembang tentang aktifitas kriminalitas, yang dirancang untuk membantu
strategi dalam mengatasi dan mengendalikan kriminalitas baik untuk sasaran
investigasi jangka pendek maupun jangka panjang).
Intelijen strategis merupakan sintesa dari berbagai informasi tentang tipe dan
tindakan kejahatan dan digunakan untuk melihat kecenderungan (trend),
indikator-indikator, peramalan (forecast) dan proyeksi tentang kegiatan
kejahatan dilihat dari berbagai perspektif. Karena intelijen strategis bersifat
umum dan luas, informasi yang dikumpulkan untuk menghasilkan intelijen
strategis dikumpulkan berdasarkan kurun waktu tertentu.
Seperti analisa kriminal (crime analysis), intelijen strategis menitik beratkan
kepada kejahatan yang spesifik seperti kejahatan terorganisir, terorisme,
peredaran narkoba, dan bentuk kejahatan lain yang rumit. Intelijen strategis
juga menyajikan informasi secara rinci dan detail tentang bentuk kejahatan
yang spesifik, seperti penjelasan tentang sel sel kelompok teroris yang ada
45

Ibid hal 3.

122

kaitannya dengan Al-Qaeda di Indonesia menyangkut sruktur, karakteristik,


filosofi, jumlah anggota, lokasi, dan karakteristik lain. Laporan intelijen
strategis memungkinkan polisi untuk mengembangkan pemahaman tentang
motivasi dari sasaran intelijen dan dapat membantu dalam pengerahan sumber
daya untuk investigasi, mengembangkan program pelatihan agar setiap
anggota polisi lebih memahami tentang bentuk ancaman, dan pendalaman
yang memungkinkan dilakukan tindakan perkuatan pengamanan sasaran
teroris.
Intelijen strategis akan meningkatkan kewaspadaan polisi terhadap ancaman
dan potensi tindakan kejahatan.
Setiap bentuk intelijen memiliki peran yang berbeda. Apabila intelijen
dilakukan dengan benar, setiap intelijen yang berbeda akan menjadi petunjuk
penyelidikan, memberi petunjuk secara mendalam dalam pengalokasian
sumber daya, memberi saran terhadap mana yang harus diprioritaskan untuk
dikembangkan, mana yang harus diubah, memberikan saran bagaimana
pelatihan baru dan prosedur baru harus dikembangkan menghadapi perubahan
sifat dan bentuk ancaman baru, memberi ruang untuk melakukan pendalaman
bila terjadi perubahan tingkat ancaman dalam komunitas tertentu atau
didaerah tertentu.

Tingkat Intelijen.
Agar intelijen dapat bekerja secaa efektif, intelijen harus menjadi fungsi setiap institusi
dan dapat menggunakannya tanpa memandang besar kecilnya.
Secara umum institusi intelijen dapat dikatagorikan berdasarkan kepada 4 tingkatan
operasi intelijen.. Dalam katagori berikut digambarkan kamampuan institusi meskipun
tidak dapat dikatakan tepat
Kemampuan intelijen dari setiap institusi pada dasarnya berbeda, dan menjelaskan
kemampuan dilihat dari besar kecilnya organisasi hanya salah satu cara untuk
menggambarkan perbedaan tersebut.
Untuk menjelaskan hal tersebut katagori dibawah ini digunakan untuk
mengidentifikasi rencana kegiatan (plan of action).46
a. Intelijen tingkat 1.
Intelijen tingkat 1 adalah tingkatan intelijen paling tinggi, merupakan skenario ILP
yang ideal dimana institusi tersebut memproduksi intelijen taktis dan strategis untuk
kepentingan Departemennya sendiri atau institusi penegak hukum lainnya.
Institusi penegak hukum pada tingkat ini diawaki dengan seorang pemimpin,
beberapa pegawai, serta beberapa analis intelijen professional.
Contoh institusi intelijen tingkat I yang terdapat dalam sistem intelijen penegak
hukum di Amerika Serikat adalah the High Intensity Drug Trafficking Area
(HIDTA) Intelligence Support Centers, the Financial Crimes Enforcement Network,
dan beberapa institusi lain yang dapat memberikan produk intelijen atas permintaan,
kepada institusi penegak hukum pada tingkat daerah, seperti the Californian
Department of Justice, the Florida Department of Law Enforcement, the Arizona
46

. Marilyn Peterson Intelligence Led Policing: The New Intelligence Architecture. Bureau of
Justice Assistance US Department of Justice. Hal 12.

123

Department of Public Safety, the Illinois State Police. Di Amerika Serikat


diperkirakan ada sekitar 300 institusi yang beroperasi pada tingkat 1. Institusi ini
memiliki pegawai disumpah ratusan orang bahkan mungkin ribuan.
The National Drug Intelligence Center (NDIC) adalah contoh lain dari intelijen
operasi tingkat 1. NDIC yang memiliki rasio analis disumpah yang paling tinggi
dibandingkan institusi lain di Amerika Serikat, menghasilkan baik intelijen taktis
maupun strategis untuk mendukung institusi lain. NDIC memproduksi analisis
ancaman narkotika untuk masing-masing negara bagian serta analisis ancaman
narkotika untuk tingkat nasional.
NDIC juga mengoperasikan kelompok terbang analis atau flying team untuk
melakukan analisis terhadap dokumen-dokumen yang berhasil dikumpulkan selama
penyelidikan. Meskipun demikian NDIC tidak mempunyai fungsi penyelidikan
seperti yang dimiliki institusi kepolisian.
b.Intelijen tingkat 2.
Intelijen tingkat 2 termasuk institusi kepolisian yang memproduksi intelijen untuk
keperluan sendiri baik intelijen taktis maupun strategis.
Umumnya intelijen yang diproduksi intelijen tingkat 2 digunakan sebagai bahan
untuk mendukung kegiatan penyelidikan dan bukan untuk mengarahkan suatu
operasi.
Institusi setingkat ini harus memiliki komputer data-base yang dapat diakses oleh
institusi lain, namun tidak menugaskan personal khusus untuk memberikan produk
intelijen penting kepada institusi lain. Institusi tingkat ini memiliki unit intelijen
dengan sejumlah personal intelijen, sejumlah analis dan dipimpin seorang kepala
unit.
Beberapa contoh intelijen tingkat 2 adalah institusi kepolisian pada tingkat negara
bagian / provinsi atau di Indonesia disebut Kepolisian Daerah, institusi atau
Lembaga Kepolisian pada tingkat kota besar, dan beberapa Komisi Penyelidikan
(Investigating Commissions)
Institusi pada tingkat ini memiliki ribuan personal disumpah. Di Amerika Serikat
sedikitnya ada sekitar 500 institusi yang beroperasi pada tingkat ini.
Salah satu contoh institusi tipe ini adalah institusi penegak hukum pada tingkat
daerah / provinsi dengan kekuasaan polisional dan penuntutan. Institusi pada tingkat
ini memiliki para analis untuk mendukung penyelidikan tindakan kriminal yang
komplek dan rumit seperti kejahatan terorganisasi, kejahatan asuransi, serta
kejahatan lingkungan.
Institusi pada tingkat ini secara berkala membuat analisis ancaman atau produk
strategik lainnya untuk membantu upaya penyelidikan. Kebanyakan upaya
penyelidikan dilakukan secara independen, meskipun kadang-kadang juga
melakukan operasi dalam satuan tugas gabungan.
c. Intelijen tingkat 3.
Institusi intelijen tingkat 3 adalah institusi dengan fungsi intelijen yang paling
umum di Amerika Serikat. Ini termasuk institusi penegak hukum dengan petugas
disumpah yang mencapai jumlah puluhan hingga ratusan personal. Institusiinstitusi ini mampu menghasilkan produk intelijen secara mandiri untuk

124

kepentingan internal, namun umumnya institusi ini lebih menggantungkan


intelijen kepada mitra institusi lain, seperti RISS (Regional Information Sharing
System), HIDTA (High Intensity Drug Trafficking Areas), Institusi Intelijen pada
tingkat Pusat seperti Federal Intelligence Centers, Intelijen pada tingkat daerah.
Intelijen tingkat 3 umumnya dalam menganalisis kasus yang rumit dan komplek
menggunakan analis dari luar institusinya.
Dalam struktur organisasi intelijen tingkat 3 tidak terdapat bagian analis intelijen,
tetapi menunjuk pegawai atau petugas disumpah sebagai pejabat intelijen yang
dilatih secara khusus dalam bidang intelijen dan analis.
d. Intelijen tingkat 4.
Institusi-institusi ini hanya diawaki oleh puluhan orang petugas atau kurang, dan
tidak mempunyai anggota dengan kualifikasi intelijen.
Apabila institusi ini menugaskan petugasnya untuk melakukan operasi intelijen,
biasanya petugas ini memiliki tanggung jawab yang banyak dan kebanyakan
merupakan petugas bidang narkotika, petugas dalam mengurusi bandit-bandit, atau
petugas kontra terorisme.
Meskipun sebagian dari institusi ini merupakan anggota dari RISS, keterlibatannya
dalam pertukaran informasi terbatas pada wilayah hukum tingkat provinsi/negara
bagian (state) atau wilayah (county).
Beberapa dari institusi pada tingkat ini telah menerima pelatihan kesiagaan intelijen
(intelligence awareness) dan dapat melakukan interpretasi produk analisis.
Institusi dengan katagori ini meskipun tidak memiliki pengetahuan dan
menggunakan analisis intelijen, tetap harus berusaha untuk memiliki kemampuan
intelijen dasar melalui on-line training atau mengirim ke tempat pelatihan.
Apabila upaya ini dapat dilakukan dengan baik institusi katagori ini akan dapat
menggunakan intelijen yang diterima dari institusi lain atau dari institusi yang lebih
tinggi, serta dapat mengaplikasikan tehnik-tehnik intelijen dasar.

Klasifikasi Informasi.
Pemerintah mempunyai tanggung jawab terhadap kelangsungan hidup bangsa dan
rakyat. Salah satu upaya dalam rangka mengamankan kelangsungan hidup bangsa
adalah dengan cara menetapkan klasifikasi informasi serta membatasi akses
terhadapnya. Oleh sebab itu klasifikasi informasi sering disebut sebagai cornerstone
dari keamanan nasional. Klasifikasi mengidentifikasi informasi mana yang harus
dirahasiakan terhadap pihak-pihak yang tidak berhak.
Perbedaan yang utama dari informasi yang tidak berklasifikasi dengan yang
berklasifikasi adalah pada sumber (source) dan metoda (methode).
Undang-Undang Republik Indonesia - Nomor 17 Tahun 2011 tentang Intelijen Negara,
pasal 25 mengkatagorikan Rahasia Intelijen dapat:
a. Membahayakan pertahanan dan keamanan negara.
b. Mengungkapkan kekayaan alam Indonesia yang masuk dalam katagori dilindungi
kerahasiaannya.
c. Merugikan ketahanan ekonomi nasional.
d. Merugikan kepentingan politik luar negeri dan hubungan luar negeri.

125

e. Mengungkapkan memorandum atau surat yang menurut sifatnya perlu dirahasiakan.


f. Membahayakan sistem Intelijen Negara.
g. Membahayakan akses, agen, dan sumber yang berkaitan dengan pelaksanaan fungsi
Intelijen.
h. Membahayakan keselamatan Personel Intelijen Negara, atau
i. Mengungkapkan rencana dan pelaksanaan yang berkaitan dengan penyelenggaraan
fungsi Intelijen.
Undang - Undang ini tidak menetapkan derajat kerahasiaan.
Beberapa definisi yang ditetapkan dalam Executive Order 12958 Amerika Serikat
mendefinisikan sebagai berikut:
. Top Secret atau Sangat Rahasia - diberlakukan terhadap informasi, yang jika jatuh
ketangan pihak yang tidak berhak diperkirakan akan menimbulkan dampak yang luar
biasa terhadap keamanan nasional.
.

Secret atau Rahasia - diberlakukan terhadap informasi, yang jika jatuh ketangan
yang tidak berhak diperkirakan akan menimbulkan dampak yang serius terhadap
keamanan nasional.

. Confidential diberlakukan terhadap informasi yang jika jatuh ketangan yang tidak
berhak diperkirakan akan menimbulkan dampak terhadap keamanan nasional.
Ada beberapa ketentuan dalam menetapkan klasifikasi yaitu:
- Bila terdapat keraguan apakah sebuah informasi harus diklasifikasi atau tidak, maka
langkah yang harus dilakukan adalah memberi klasifikasi sampai ada ketentuan lain
dari pejabat yang berhak memberi klasifikasi, paling lambat dalam waktu 30 hari.
- Jika terdapat keraguan dalam menetapkan tingkat klasifikasi sebuah informasi, maka
langkah yang harus dilakukan adalah menetapkan dengan klasifikasi yang lebih
tinggi sampai ada ketentuan dari pejabat yang berhak memberikan klasifikasi, paling
lambat dalam waktu 30 hari.
Apabila seorang analis menerima informasi dasar (raw information), langkah pertama
yang harus dilakukan adalah melakukan penilaian terhadap tingkat kepercayaan
sumber informasi serta validitas informasinya.
Derajat hasil penilaian terhadap kedua variabel tersebut serta kesimpulannya akan
memberi gambaran yang mendalam terhadap kredibilitas dan pentingnya informasi
tersebut.
Makin tinggi kredibilitas sumber serta validitas informasi, akan makin tinggi pula
ketepatan (accuracy) informasi tersebut.
Secara utuh bila kredibilitas makin meningkat maka akan memberi keyakinan kepada
pengambil keputusan untuk melakukan respon terhadap informasi tersebut..
Sebagai contoh, Badan Intelijen Negara menerima informasi tentang kemungkinan
adanya serangan teroris. Apabila penilaian terhadap informasi tersebut rendah baik
mengenai kredibilitas sumber informasi maupun validitas informasinya, maka

126

kepercayaan terhadap kemungkinan adanya serangan teroris itupun akan ditempatkan


pada derajat yang rendah pula.
Meskipun demikian Badan Intelijen Negara akan tetap mengembangkannya serta
menyusun rencana penanggulangannya.
Ketika tingkat kepercayaan dan validitas meningkat terutama bila ada faktor-faktor
penguat lain maka BIN akan mengembangkan kebijakan penanggulangannya.
Kebijakan penanggulangan meliputi kegiatan penyelidikan, memperkuat sasaran, serta
mendorong kesiagaan semua elemen pemerintah pada semua tingkat.
Contoh ini memang nampak sangat sederhana, namun maksud ilustrasi ini untuk
menggambarkan pentingnya seorang analis mengetahui sumber dan metode informasi
sehingga para analis dapat membuat kesimpulan yang benar dan tepat dalam
analisisnya.
Selain analis, para penyelidik juga penting untuk mengerti sumber dan metode kerja
yang menjadi petunjuk kerja mereka.
Di Amerika Serikat anggota Joint Terrorism Task Forces (JTTF) memerlukan Security
Clearance agar mereka dapat melakukan kegiatan penyelidikan secara efektif. Apakah
anggota institusi penegak hukum yang lain memerlukan Security Clearance. Tidak
semuanya, namun mereka yang menerima Clearance tergantung kepada beberapa
faktor.
Sebagai aturan umum semua eksekutif dari institusi penegak hukum pada semua
tingkatan dapat melamar untuk mendapat clearance dengan ketentuan sebagai berikut:
- Mengerti dan memahami secara utuh sifat ancaman dalam jurisdiksinya.
- Menyusun keputusan manajemen, mulai dari penugasan personil untuk kegiatan
penyelidikan, hingga perpanjangan penugasan dan pembatalan cuti apabila keadaan
menghendaki karena ada ancaman.
- Sebagai penghargaan kepada para eksekutif yang telah memberikan kontribusinya
baik berupa personil maupun sumber daya untuk kegiatan counter terrorism.
Penghargaan ini untuk penghormatan terhadap tanggung jawab para eksekutif.
Kewenangan penetapan Klasifikasi.
a. Sangat Rahasia.
1). Presiden.
2). Kepala kepala Lembaga dan Pejabat-pejabat yang ditunjuk Presiden dan
dimasukkan ke dalam daftar tersendiri.
3). Pejabat pejabat yang diberi pendelegasian wewenang oleh Presiden yang
jumlahnya sangat dibatasi.
b. Rahasia.
1). Kepala kepala Lembaga dan pejabat pejabat yang termasuk dalam daftar.
2). Pejabat pejabat yang berwenang menentukan klasifikasi Sangat Rahasia.
3). Pejabat pejabat yang diberi pendelegasian wewenang oleh Presiden yang
jumlahnya sangat dibatasi.
c. Konfidensial.

127

1). Kepala kepala Lembaga dan pejabat pejabat termasuk daftar.


2). Pejabat pejabat yang berwenang menentukan klasifikasi Sangat Rahasia dan
Rahasia.
3). Pejabat pejabat yang diberi pendelegasian wewenang oleh Presiden yang
jumlahnya sangat sedikit.
Dalam institusi penegak hukum Amerika Serikat, diluar ketiga klasifikasi diatas ada yang
disebut Sensitive But Unclasified (SBU) Information.
Mekasisme ini digunakan agar petugas memiliki akses kepada informasi yang kritis tanpa
membahayakan informasi yang berklasifikasi. Prosedur ini ditempuh karena tidak
mungkin setiap anggota penegak hukum memegang security clearance agar memiliki
akses kepada dokumen atau informasi yang sensitif. telijen, dimana mengambil yang
penting tetapi menghapus data-data yang berklasifikasi.
Meskipun demikian terhadap informasi dengan katagori SBU tetap dilindungi agar tidak
jatuh kepada yang tidak berhak dengan beberapa alasan, namun tetap bisa diakses oleh
penegak hukum, organisasi keamanan swasta, atau kepada badan atau orang yang
mempunyai tugas melindungi masyarakat
Tidak ada keseragaman perlakuan terhadap dokumen SBU pada setiap negara bagian.

Manajemen Informasi dan Intelijen.


Dalam era komunikasi dan jejaring yang serba digital, adalah suatu yang tidak mungkin
untuk menafikan implikasi teknologi dalam manajemen dan pertukaran informasi dan
intelijen,
Seperti dalam manajemen kepolisian,
Penurunan klasifikasi ini dilakukan dengan dua cara.
Pertama, dengan menggunakan tear line report, yaitu dengan menyingkat laporan pada
laporan kritis, serta menghapuskan sumber-sumber informasinya.
Kedua, dengan menyingkat laporan in banyak juga vendor yang menawarkan perangkat
lunak untuk penyimpanan data intelijen, analisis, dan penyebaran intelijen dengan sistem
pengamanannya. Namun sistem yang canggih umumnya biaya pengadaan dan
pemeliharaannya sangat mahal terutama untuk organisasi yang tidak besar, sehingga
penerapan teknologi yang canggih bukan pilihan yang tepat dihadapkan kepada
keterbatasan biaya. Oleh sebab itu penggunaan off-the-shelf software yang
penggunaannya sudah meluas akan dapat meningkatkan fungsi intelijen. Seperti program
word prosessing and presentation digunakan untuk sistem pelaporan dan briefing.
Diluar sistem ini beberapa program yang dapat digunakan yang dapat membantu
meningkatkan fungsi intelijen, seperti:
- Database
Institusi penegak hukum dapat menggunakan database yang dapat dengan mudah
diperoleh dipasaran untuk membangun sistem pencatatan dan penyimpanan data.
-

Spreadsheet
Kapasitas analisis dari perangkat lunak versi spreadsheet sudah menunjukkan
kegunaan yang cukup baik.Sebagai contoh data dari pen-register (alat pencatat
nomor telepon dan komunikasi lewat internet) dapat dimasukan, dibandingkan,

128

lengkap dengan grafik untuk mengidentifikasi sebuah keterkaitan dan


kecenderungan. Setiap data dapat dianalisis dan dirubah kedalam bentuk grafik
kotak, plot tersebar, grafik garis, peta daerah, grafik radar, surface chart dan
bentuk grafik lain untuk membantu interpretasi data dan penyajiannya.
-

Program Pemetaan (Mapping programs).


Perangkat lunak pemetaan yang tidak mahal seperti program Microsoft Streets
and Maps. Dapat digunakan baik untuk analisis maupun untuk penyajian data
intelijen. Map dapat digunakan untuk penggambaran intelijen strategis dalam
memetakan wilayah kepentingan yang berbeda, seperti orang perorang,
kelompok, pertemuan, peredaran komoditi, lalu lintas perdagangan gelap.
.
- Program statistik (Statistical Programs).
Untuk analisis strategik, program ini dengan kemampuan tampilan grafik sangat
berguna. Perangkat lunak untuk kepentingan ini yang banyak digunakan dan
cukup handal adalah SPSS (Statistical Package for Social Sciences).
- Perangkat Lunak Analisis Intelijen (Intelligence Analysis Software).
Program yang digunakan untuk membantu dalam proses analisis intelijen mulai
pemilahan (collating), integrasi (integrating), dan penyajian (presenting) data
yang digunakan untuk analisis.

Manajemen Teknologi Informasi..


Dengan munculnya kejahatan komputer dan masuknya jaringan komputer yang illegal,
perlu dibangun satu sistem pengamanannya.
Pertumbuhan jaringan nir kabel (wireless) yang cukup signifikan dan penggunaan
Bluetooth selain membawa dampak yang positif telah memunculkan pula terhadap
masalah keamanan jaringan.
Diantara isu-isu tersebut yang harus mendapat perhatian dan penanganan adalah:
a

Manual Assurance of Data Handling.


Sampai derajat tertentu semua data pada dasarnya ditangani secara manual. Oleh
sebab itu perlu ada satu ketentuan yang mengatur penanganan data, informasi,
maupun intelijen agar tidak jatuh ke tangan yang tidak berhak. Demikian juga
ketentuan yang mengatur kualitas data yang dimasukkan kedalam sistem.

b. Pengamanan fisik (Physical Security).


Perlu ada langkah-langkah yang efektif dalam pengamanan ruang-ruang komputer
dimana komputer-komputer dioperasikan, server, atau perangkat keras lainnya
yang terhubung sistem dan memiliki akses terhadap sistem.
c. Pengamanan operasi (Operations Security).
Tindakan penelitian terhadap personal yang mengoperasikan sistem, juga sistem
monitoring terhadap yang memiliki akses di daerah tertentu dimana komputer,
server, disimpan dan dioperasikan. Termasuk juga personal untuk pemeliharaan

129

dan perbaikan perangkat keras, dan personal lainnya yang memiliki akses ke
daerah tertentu.
d..
.
.
.
.
.

Manajemen pengawasan (Management Initiated Control).


Manajemen pengawasan dari operasi sistem.
Kebijakan yang mengatur akses terhadap komputer dan penggunaannya.
Pengaturan penggunaan web-site umum disediakan.
Membuat manajemen kebijakan yang mengatur keamanan data.
Membuat peraturan klasifikasi d ata untuk pengawasan dan akses.

e. Sistem Pengamanan Komputer (Computer Security System).


Pengawasan yang ketat terhadap akses ke komputer dilakukan melalui,
- Penetapan personal yang diberi akses terhadap komputer (Authorization of
personel)
- Mengoperasikan perangkat lunak untuk sistem pengamanan komputer
(Software acces control)
- Pengamanan sistem dan inokulasi.( System protection and inoculation)
Seluruh jaringan sistem harus dilengkapi dengan sistem pengamanan berlapis dan
secara rutin harus selalu meng up-date perangkat lunak anti- virus.
f. Persandian untuk peralatan jaringan nir kabel (Encryption for wireless de
vices)
Harus tersedia sistem persandian apabila menggunakan mesin-mesin nir kabel
baik untuk sistem recording intelijen maupun untuk komunikasi intelijen
g. Sistem pengawasan dan pengendalian akses (Access Audit Control).
Sistem auditing dalam waktu yang sesungguhnya (real time auditing) harus dapat
mengawasi dan memonitor semua akses terhadap sistem, identifikasi pengguna,
kegiatan pengguna dalam waktu tertentu, nomor IP akses komputer terhadap
sistem.
h. Pengawasan terhadap media penyimpanan data terpisah (Control of remote
storage media).
Perlu disusun suatu ketentuan dan juga penerapan teknologi untuk mengatur
pengawasan dan penggunaan data rahasia yang tersimpan dalam sistem
penyimpanan yang terpisah seperti disc, CD dan yang sejenis.

130

BAB VIII
TEHNIK PENANGANAN KRIMINALITAS .
Kriminalitas atau kejahatan merupakan perbuatan yang sangat merugikan baik dalam
konteks orang perorang maupun masyarakat.
Kerugian bisa dalam bentuk kerugian materil seperti hilangnya barang berharga,
keuangan dan psikologis, bahkan penderitaan fisik seperti terluka atau kematian.
Kenyamanan dan ketenangan adalah tuntutan setiap orang untuk dapat menjalankan
kehidupan secara layak dan wajar.
Namun berharap untuk hilangnya sama sekali tindakan kejahatan adalah hal sangat tidak
mungkin.
Akan tetapi adalah masuk akal untuk meyakini sebuah pandangan bahwa kejahatan dan
perasaan takut akan tindak kejahatan bisa dikurangi dan dikontrol.

131

Untuk tujuan itu upaya pencegahan menjadi unsur utama dari upaya pengendalian
kejahatan.
Pencegahan kejahatan adalah sebuah pendekatan langsung dan sederhana tetapi elegan
yang bisa melindungi calon korban dari serangan kejahatan.
Robert L. OBlock menyatakan bahwa kejahatan adalah masalah sosial, maka usaha
pencegahan kejahatan merupakan usaha yang melibatkan berbagai pihak.
Konsep pencegahan kejahatan (crime prevention) menurut The National Crime
Prevention Institute adalah - " the anticipation, recognition and appraisal of a crime risk
and the initiation of some action to remove or reduce it".
( antisipasi, identifikasi dan estimasi resiko akan terjadinya kejahatan dan melakukan
inisiasi atau sejumlah tindakan untuk menghilangkan atau mengurangi kejahatan).
Sedangkan Venstermark dan Blauvelt mendefinisikan konsep pencegahan kejahatan
yaitu- " crime prevention means, practically reducing the probability criminal activity".
(pencegahan kejahatan berarti mengurangi kemungkinan atas terjadinya aksi kejahatan)..
Sedangkan Fisher mengemukakan pendapatnya tentang syarat dalam melakukan tindakan
pencegahan kejahatan yaitu - " to determine the amount of force a security officer may
use to prevent crime, the court have consider circumstances, the seriousness of the crime
prevented and the possibility of preventing the crime by other means".
. ( Untuk menentukan jumlah kekuatan petugas pengamanan yang dapat digunakan untuk
mencegah kejahatan, pengelola mempertimbangkan keadaan, keseriusan kejahatan yang
harus dicegah dan kemungkinan mencegah kejahatan dengan cara lain).
Pencegahan itu dilakukan dengan cara mengantisipasi kemungkinan yang akan terjadi
dan seterusnya menghilangkan atau mengurangi peluang akan munculnya tindak
kejahatan serta mengantisipasi kemungkinan yang akan membahayakan bagi seseorang
ataupun kemungkinan hilangnya harta benda bila memang tindak kejahatan terjadi.47
Ada berbagai cara dan ragam pendekatan dalam mengatasi kejahatan yaitu:
a. Social Based Crime Prevention merupakan pendekatan untuk mencegah kejahatan
dengan cara mengubah pola kehidupan sosial daripada bentuk fisik dari lingkungan.
b. Situational Crime Prevention: pendekatan ini pada dasarnya lebih menekankan
bagaimana caranya mengurangi kesempatan bagi pelaku untuk melakukan kejahatan
c. Community Based Crime Prevention adalah pencegahan berupa operasi dalam
masyarakat dengan melibatkan masyarakat secara aktif bekerja sama dengan lembaga
lokal pemerintah untuk menangani masalah-masalah yang berkontribusi untuk terjadinya
kejahatan, kenakalan, dan gangguan kepada masyarakat.
George Richard dalam bukunya - Understanding Crime Prevention - yang diterjemahkan
oleh Lembaga Cegah Kejahatan Indonesia, menjelaskan bahwa kejahatan akan terjadi
bila ada tiga unsur utama yaitu:
Pertama :. Keinginan atau motivasi dari pelaku tindak kejahatan.
Kedua :. Keterampilan dan tersedianya alat-alat yang diperlukan untuk melakukan
tindak kejahatan.
Ketiga :. Peluang atau kesempatan.
Ketiga unsur utama tejadinya tindak kejahatan tersebut digambarkan sebagai berikut

47

.LCKI - Memahami pencegahan kejahatan. Hal 2.

132


Routine activity theory untuk
Crime
prevention
yang
merupakan teori utama dari
masalah
kriminalitas
atau
kejahatan merumuskan hal yang sama dengan wording yang berbeda. Menurut teori ini
kejahatan dapat terjadi apabila ketiga unsur utama kejahatan datang bersamaan pada
waktu dan tempat tertentu.
Unsur-unsur tersebut adalah:
Pertama : Sasaran yang bisa diakses ( an accessable target)
Sasaran yang bisa diakses dapat berupa orang, barang atau tempat. Akronim dibawah ini
dapat digunakan untuk menjelaskan sasaran yang bisa diakses.
* VIVA - Value, Inertia, Visibility, Access.
* CRAVED - Concealable, Removable, Available, Valuable, Enjoyable, Disposable.
Routine activity theory sebagai metode pencegahan kejahatan fokus pada unsur-unsur
penting yang menyebabkan terjadinya kejahatan.
Teori ini memberi kerangka pencegahan kejahatan dengan mengubah paling tidak satu
dari unsur-unsur penting tersebut yaitu pelaku kejahatan, sasaran kejahatan atau
penjagaan yang baik.
Strategi pencegahan kejahatan yang paling efektif tentu akan fokus kepada ketiga unsur
tersebut.
Kedua, ketiadaan pengawalan yang baik yang dapat melakukan tindakan pencegahan
(Absence of capable guardian that could intervene)
Unsur pengawalan yang baik memiliki " unsur manusia" biasanya mereka yang sering
hadir akan menimbulkan efek tangkal terhadap pelaku potensial yang berniat melakukan
tindakan kejahatan.. Pengawalan yang baik juga dapat berupa CCTV asalkan ditempatkan
ditempat yang tepat dan selalu dimonitor..
Contoh yang termasuk pengawalan adalah patroli polisi, satuan pengamanan, penjaga
pintu, teman atau tetangga.
Beberapa dari bentuk pengawalan bersifat formal seperti satuan pengamanan (Satpam),
tetapi ada juga yang bersifat informal dan tidak disengaja seperti tetangga tetapi pasti
tidak efektif.
Ketiga, adanya pelaku kejahatan yang termotivasi ( the presence of a motivated offender).
Routine activity theory melihat kejahatan dari sudut pandang pelaku kejahatan. Kejahatan
hanya akan dilakukan apabila pelaku kejahatan melihat sasaran yang tepat serta tidak
adanya pengawalan. Ini merupakan analisis situasi dari pelaku kejahatan apakah
kejahatan akan dilakukan atau tidak.
Pencegahan kejahatan dimaksudkan untuk mempersempit peluang terjadinya tindak
kejahatan ketimbang menghambat keinginan seseorang untuk melakukan tindak
kejahatan.
Strategi Kepolisian Republik Indonesia dalam Pencegahan Kejahatan:

133

Pertama, Pre-emtif yaitu kebijakan yang melihat akar masalah utama penyebab
terjadinya kejahatan melalui pendekatan sosial, pendekatan situasional dan pendekatan
kemasyarakatan untuk menghilangkan unsur Potensi Gangguan (Faktor Korelatif
Kriminogen).
Kedua, Preventif yaitu upaya pencegahan munculnya Ambang Gangguan (police
hazard), agar tidak berlanjut menjadi gangguan nyata / Ancaman Faktual (crime)
. Ketiga, Represif yaitu upaya penegakan hukum terhadap Gangguan Nyata / Ancaman
Faktual berupa penindakan/pemberantasan/ penumpasan setelah terjadinya kejahatan atau
pelanggaran hukum.
Tujuan dari langkah represif ini adalah untuk memberikan contoh (Social Learning) dan
menimbulkan Efek Deterence agar dapat mengantisipasi para pelaku melakukan /
mengulangi perbuatannya.
Alan M. Dershowitz merumuskan beberapa tehnik dalam penanganan kriminalitas: 48
Pertama, yang disebut dengan tehnik Disincentive The Act atau Deter The Actor yaitu
tehnik untuk meyakinkan pelaku kriminal bahwa tindakannya akan mendatangkan
kerugian yang lebih besar dibandingkan keuntungan yang diperoleh.
Tehnik Disincentive adalah untuk mengurangi sejauh mungkin keuntungan atau manfaat
yang diperoleh oleh pelaku kriminal. Ronald V. Clarke menyebutnya dengan Denying
Benefit.
Kedua, yang disebut dengan tehnik Incapacitate yaitu suatu tindakan melumpuhkan
pelaku atau memperkecil atau menghilangkan peluang atau kesempatan sehingga pelaku
kriminal tidak dapat melakukan rencananya, karena berkurangnya kemampuan.
Dalam tehnik ini yang dilakukan bukan mengubah keinginannya tetapi menciptakan
penghalang yang sulit ditembus antara pelaku kejahatan dan sasaran.
Ketiga, yang disebut tehnik - Proactive Prevention. Kata Prevention menggambarkan
implikasi yang luas, termasuk membatasi dalam mengurangi penyebab tindakan kriminal.
Dalam arti yang spesifik prevention adalah kegiatan pencegahan dengan mengumpulkan
intelijen tentang rencana atau ancaman tindakan kejahatan..
Keempat, yang disebut tehnik Persuade. Tehnik pembujukan ini dilakukan agar pelaku
tidak melakukan tindakan kriminal dengan meyakinkan pelaku bahwa tindakannya salah.
Ronald V. Clarke menyebutnya dengan tehnik Reducing Temptation yaitu usaha untuk
mengurangi suatu keinginan pelaku untuk melakukan tindak kejahatan.
Dalam praktek penggunaan tehnik tehnik tersebut kadang kadang tidak dapat
dipisahkan secara hitam putih.
Apakah tehnik tehnik ini dapat digunakan dalam menghadapi terorisme?.
Alan M.Deshowitz menjelaskan bahwa untuk memerangi terorisme dapat ditempuh
pendekatan makro dan pendekatan mikro.

48

. Alan M. Dershowitz Why Terrorism Works : Understanding the Threat, Responding to the
Challenge. Scribe Publication, Melbourne. Hal 16.

134

Dalam pendekatan makro diperlukan pikiran dan upaya bersama untuk memerangi
bahkan menghilangkan hal-hal yang memacu dan mendorong berkembangnya terorisme
atau disebut disincentive.
Pendekatan makro lebih ditujukan kepada para pemimpin teroris yang berusaha untuk
mengukuhkan pembenaran terhadap sebab-sebab dilakukannya tindakan terror. Upaya
untuk menghilangkan hal yang mendorong, memperkuat dan memperluas terorisme
hanya dapat dilakukan melalui kerjasama antar negara. Untuk lebih meningkatkan
perlawanan terhadap terorisme tidak mungkin dilakukan hanya dengan pendekatan makro
tetapi juga pendekatan mikro.
Pendekatan mikro adalah upaya perlawanan terhadap terorisme yang lebih ditujukan
terhadap kelompok teroris daripada para pemimpinnya. Upaya mikro misalnya kegiatan
pengumpulan intelijen, penyusupan kedalam sel-sel organisasi teroris, pengintaian
elektronik dan satelit serta tindakan tindakan pengamanan lainnya.
Penyusupan agen kedalam organisasi teroris merupakan cara yang terbaik karena
informasi tentang rencana dan niat teroris hanya dapat diperoleh melalui Human
Intelligence, meskipun tindakan penyusupan kedalam organisasi teroris merupakan hal
yang tersulit dan paling berbahaya. Dalam mendeteksi rencana teroris tidak pernah bisa
dilakukan dengan sempurna, tetapi dapat mengurangi dan tidak dapat dikatakan gagal.
Diantara pendekatan makro dan mikro terbentang strategi strategi pencegahan lainnya,
selain tindakan penyusupan agen, seperti penyogokan bahkan pemerasan terhadap
anggota anggota teroris agar dapat menjadi agen ganda (double agent). Kadang
kadang melakukan tindakan dengan mendorong kegiatan kriminal agar jaringannya dapat
dibuka. Semua kegiatan ini masuk dalam tehnik Proactive Prevention.
Cara terbaik adalah gabungan tehnik tehnik makro dan mikro.
Ronald V. Clarke merumuskan pencegahan kejahatan dengan pendekatan Situational
Crime Prevention sebagai berikut:49
1. Target Hardening ( Penguatan Sasaran).
Sering sekali cara yang sangat efektif untuk mengurangi peluang kejahatan dengan
menggunakan hambatan fisik seperti pemasangan pagar, penggunaan kunci, brankas,
Layar Pemantau atau perkuatan materil lainnya.
Misalnya dengan melakukan perubahan rancang bangun pada Mesin Penolak Koin Palsu
(Slug rejecter) ditempat-tempat parkir yang telah berhasil mengurangi penggunaan koin
palsu di New York Parking Meter.(Decker 1992), dan juga Mesin Tiket di London
Underground (Clarke dkk., 1994).
Pelindung transparan untuk melindungi pengemudi bus telah berhasil secara signifikan
mengurangi serangan dalam salah satu sistem angkutan. (Poyner et al ,. 1988); atau
pelindung anti-bandit yang dipasang di Loket Pelayanan kantor pos di London pada tahun
1980-an yang diperkirakan telah berhasil menurunkan aksi perampokan sekitar 40%.
2. Pengawasan Akses ( Access Control).
Pengawasan Akses adalah langkah-langkah yang dimaksudkan untuk mencegah pelaku
kejahatan potensial di tempat - tempat seperti kantor, pabrik, atau apaartment.

49

.Ronald V.Clarke - Situational Crime Prevention (Second Edition) - Harrow and Heston PublishersNew York. Hal 17.

135

Pintu yang dapat dinaikkan dan diturunkan (The portcullises), Parit dan Jembatan yang
bisa diangkat dan diturunkan (drawbridges) dari Kastil Abad Pertengahan merupakan
contoh dari sistem Pencegahan yang mungkin sama
Pengawasan Akses sekarang telah berkembang sesuai perkembangan teknologi seperti
penggunaan Nomor Identifikasi Pribadi elektronik (PIN), yang dibutuhkan untuk masuk
kedalam ruangan atau akses ke Sistem komputer dan Rekening Bank.
Poyner dan Webb (1987b) menemukan bahwa kombinasi dari Pengawasan Akses (Acces
Control) yang dioperasikan di Perumahan di London Selatan termasuk entry phone
( sistem telepon untuk masuk), pagar disekitar blok Apartemen dan Pemantau Akses ke
garasi parkir, menunjukan hasil yang signifikan dalam mengurangi aksi vadalisme serta
pencurian
Mereka juga menemukan bahwa penempatan Meja Resepsionis di Lantai Dasar blok
menara menyebabkan menurunnya tindakan vandalisme, corat - coret dan juga
perbuatan-perbuatan yang melanggar tata tertib
3. Menyimpangkan Pelaku (Deflecting Offenders).
Pada pertandingan sepak bola di Inggris, Kelompok Pendukung dari tim yang berbeda
telah dipisahkan di stadion untuk mengurangi kemungkinan terjadi perkelahian, demikian
juga kedatangan dan keberangkatan mereka telah dijadwalkan untuk menghindari bentrok
saat menunggu pertandingan dimulai.(Clarke, 1983).
Penjadwalan bus terakhir yang meninggalkan segera setelah waktu penutupan Pub,
dimaksudkan untuk mengalihkan kebiasaan yang tidak diinginkan dan sering terjadi di
Inggris yaitu keributan sat penutupan Pub.
(Hope, 1985) menyarankan cara lain, yaitu untuk mengurangi gerombolan anak muda
yang mabuk dijalanan setelah Pub ditutup dapat dikurangi dengan menghindarkan
konsentrasi Pub-Pub ditempat-tempat tertentu dalam kota.
Belland Burke (1989) juga menunjukkan bahwa kemacetan parah yang terjadi dijalanjalan sekitar tempat parkir di Arlington, Texas pada setiap malam akhir pekan, sehingga
menimbulkan kerawanan terjadinya tindak kejahatan, dapat dikurangi dengan
mengadakan acara khusus untuk kegiatan para remaja.
Ini semua merupakan contoh cara menjauhkan para penjahat atau yang berpotensi
melakukan kejahatan dari sasaran kejahatan, tehnik situasional yang disarankan oleh teori
kegiatan rutin ( routine activity theory)
Foynerr dan Webb (1987a) juga menunjukkan bahwa pencurian dengan menggunakan
kantong belanja di Pasar kota Birmingham, Inggris, dapat dikurangi secara substansial
dengan menghindarkan kerumunan disekitar kios-kios yang dapat mempersulit pencopet
atau pencuri lainnya dalam melakukan aksinya.
4. Mengontrol fasilitator (Controlling Facilitators).
Salon-salon di Wild West mewajibkan pelanggannya untuk menyerahkan senjata api pada
saat mereka memasuki Salon untuk menghindari perkelahian bersenjata karena mabuk.
Sekarang sudah mulai disuarakan agar pabrik - pabrik senjata membuat "Senjata Yang
Kurang Mematikan " seperti senjata dengan peluru lilin, listrik atau yang hanya membuat
pingsan. (Hemenway Dan Weil, 1990).
Dewan Kejahatan Skotlandia (1975) menyatakan bahwa di beberapa pub bir harus
disajikan dalam cangkir plastik untuk mencegah penggunaan cangkir sebagai senjata.

136

Studi terbaru di Inggris tentang potensi cedera oleh berbagai jenis pecahan kaca telah
melahirkan rekomendasi tentang penggunaan bahan kaca yang kuat untuk gelas bir.
(Shepherd dan Brickley, 1992).
Pengontrolan pada fasilitator yang digunakan pada berbagai jenis kejahatan telah
diusulkan termasuk cek dan Kartu Kredit (yang dapat digunakan untuk penipuan), atau
telepon (Yang dapat memfasilitasi transaksi narkoba, penipuan dan pelecehan seksual).
Untuk mengurangi peredaran narkoba, Telepon Umum Berbayar telah dihapus dari
tempat yang diduga tempat berkumpulnya pengedar narkoba, atau telah diubah untuk
mereka legih mempersulit penggunaannya. (Natarajan et al. , 1996).
Sebuah sistem telepon terkomputerisasi baru di Penjara Pulau Rikers secara substansial
telah mengurangi panggilan telepon terlarang yang dilakukan oleh kelompok nara pidana
dipenjara dar juga bermanfaat tak terduga telah mengurangi perkelahian yang
disebabkan oleh akses ke ponsel (La Vigne, 1994). Dua Studi kasus ini menggambarkan
manfat dari pengontrolan telepon.
Dalam Studi Kasus # 5, Clarke (1990) menunjukkan bahwa pengenalan Caller ID di New
Jersey yang memungkinkan penerima telepon membaca nomor Panggilan,
mengakibatkan penurunan dari panggilan telepon yang tidak bertanggung jawab.dan
mengganggu.
Bichler Dan Clarke (1996) menunjukkan bahwa pemograman - kembali (re-programing
telepon ) bayar di Terminal Bus Port Authority di Manhattan telah dapat mencegah
Akses terlarang ke Jalur tol, dan mencegah peluang penipuan multi-juta Dolar yang
dilakukan penjahat (Studi Kasus # 6).
Akhirnya, Knutsson Dan Kuhlhorn (1981)menunjukkan bahwa Pengenalan Prosedur
identifikasi di Swedia menghasilkan penurunan angka penipuan cek yang dilaporkan
(Studi Kasus 7 #).
5. Skrining Masuk / Keluar ( Entry / Exit Screening).
Skrining masuk berbeda dengan Kontrol Akses (Access Control), yang tujuannya adalah
kurang lebih kepada upaya untuk menyingkirkan penjahat potensial dibandingkan upaya
meningkatkan pendeteksian mereka yang tidak memenuhi syarat untuk masuk.
Persyaratan ini mungkin berhubungan dengan barang atau objek yang dilarang, atau
kepemilikan dokumen atau tiket.
Sebaliknya skrining keluar, tujuan utamanya adalah untuk mencegah pencurian dengan
mendeteksi benda-benda tertentu tetap berada ditempat-tempat tertentu yang dilindungi.
seperti barang-barang ditoko yang tidak dijual.
Perkembangan teknologi elektronik telah mengakibatkan meningkatnya penggunaan
teknik-teknik situasional ditoko ritel, seperti pelabelan barang dagangan (merchandise
tagging) , bar - coding dan titik jual elektronik (electronic point of sales) yaitu pelayanan
mandiri, komputerisasi peralatan yang melakukan semua tugas dari toko .
Hal ini memungkinkan pembayaran oleh Bank atau kartu kredit , memverifikasi
transaksi , menyediakan laporan penjualan , koordina si persediaan data, dan
melakukan beberapa layanan lainnya yang biasanya dilakukan oleh karyawan
6. Pengawasan formal (Formal Surveillance).
Pengawasan formal dilakukan oleh Polisi, Satuan Pengamanan Pusat Belanja, kantor,
perumahan serta pusat-pusat kegiatan lainnya. .
Fungsi utamanya adalah untuk memberikan daya tangkal

137

Personel keamanan ini dalam menjalankan tugasnya kadang-kadang dilengkapi dengan


alat alat elektronik seperti alarm (burglar alarm) atau CCTV.
Dalam salah satu studi kasus penggunaan alarm ini telah membantu polisi dalam
menurunkan anggaran operasional polisi dalam mengatasi kejahatan..
7. Pengawasan oleh karyawan (Surveillance by Employees)
Disamping tugas utamanya sebagian karyawan ditugasi fungsi pengawasan terutama
yang berhubungan dengan publik selain juga dilihat kepantasan posisi mereka yang
memungkinkan..
Ini termasuk beberapa "manajer setempat" .seperti Penjaga toko, Penjaga Pintu Hotel,
Penjaga Parkir, Kondektur Kereta Api.
Semua karyawan itu ditugasi untuk melakukan pengawasan disekitar tempat mereka
bekerja.
Sebuah penelitian di Kanada menunjukkan bahwa blok Apartemen dengan Penjaga Pintu
lebih aman terhadap tindakan pencurian dibandingkan dengan blok Apartmen tanpa
penjaga Pintu (Waller Dan Okihiro, 1979).
Di Inggris, vandalisme jarang terjadi dalam bus yang mengoperasikan Kondektur
(Mayhew et al., 1976) atau di Komplek Perumahan yang ada Pembantu Rumah
tangganya.(Departemen Lingkungan, 1977).
Telepon Umum di Inggris yang terawasi baik di Stasion Kereta Api, Pub atau Fasilitas
publik lainnya lebih aman karena keterlibatan karyawan setempat dalam pengawasan.
(Markus, 1984).
Kasir juga sangat berperan dalam membantu mencegah penggunaan Kartu Kredit palsu
atau penggunaan Kartu Kredit Curian.
Survey telah membuktikan peran tambahan kasir ini telah menyelamatkan kerugian
tahunan hampir $ 1 juta Dolar di sebuah toko elektronik di New Jersey (Masuda, 1993).
8. Pengawasan Alamiah (Natural Surveillance).
Penghuni rumah dapat memangkas semak-semak di depan dan samping rumah mereka
sehingga pandangan dari dalam rumah tidak terhalangi demikian juga bagi orang-orang
yang berlalu lalang seperti petugas keamanan , pedagang dan pejalan kaki dapat melihat
keadaan rumah dan sekitarnya.
Untuk meningkatkan Pengawasan Alamiah dapat dilakukan dengan pemasangan atau
perbaikan Lampu penerangan jalan (Tien et al ,. 1979; Ramsay, 1991a), ruang yang
sengaja dikosongkan, (Mayhew, 1979; Coleman, 1985), dan yang memungkinkan
tetangga ikut mengawasi atau neighborhood watch (Bennett, 1990; Rosenbaum, 1988)
Meskipun hasilnya belum merata secara positif namun manfaat dari Pengawasan Alamiah
in telah dilaporkan.
9.. Penghapusan sasaran (Target Removal).
Adalah upaya menghindari tindakan kejahatan dengan cara sasaran kejahatan direkayasa
sedemikian rupa sehingga sasaran kejahatan teramankan.
Contoh penerapan tehnik pencegahan situasional ini dilakukan oleh sebuah Perusahaan
tambang perak yang membentuk perak olahan dam bentuk kubus dengan berat 400
pound dan dengan ukuran sisinya masing-masing satu kaki.
Berat dan ukuran seperti ini akan sulit bagi pencuri untuk mencurinya.

138

Kasus lain adalah dengan mengurangi transaksi kontan (Cash) di toko-toko atau
pembayaran tiket untuk bis.
Sasaran penting pencurian seperti brankas diamankan dengan penggunaan kunci waktu
(time lock).
"Teknologi sederhana" yang dapat dilakukan misalnya dengan menghimbau pasen-pasen
yang dirawat dirumah sakit untuk tidak membawa barang-barang berharga ke rumah
sakit.
10. Menandai Properti (Identifying Property).
Menulis nma seseorang pada sebuah buku adalah bentuk sederhana dari tehnik
"Menandai Properti" dimana ruang disediakan dalam buku itu untuk maksud tersebut.
Program yang lebih maju untuk tehnik "Menandai Properti" berhubungan dengan
kendaraan. Registrasi kendaraan bermotor telah dilakukan di hampir semua negara.
Di Ameruika Serikat semua mobil yang dijual di Amerika Serikat diwajibkan memiliki
Vehicle Identification Number (VIN)
Motor Vehicle Theft Law Enforcement 1984 telah mengamanatkan untuk memberi tanda
kepada semua bagian penting dari sebuah mobil.
11. Mengurangi godaan (Reducing Temptation)
Adalah salah satu tehnik pencegahan situasional, sebagai upaya untuk mengurangi
keinginan pelaku melakukan tindak kejahatan.
Di jalan-jalan umum dikota adalah tidak bijaksana untk memakai gelang emas yang
mencolok atau meninggalkan mobil diparkir yang menarik perhatian.para pengemudi
yang lalu lalang tanpa tujuan (Joyriders)
Godaan lain yang nampaknya tidak begitu menonjol adalah direktori telepon genggam
yang netral gender dapat memancing panggilan telepon gelap terhadap wanita.
Demikian juga telah ditemukan dalam salah satu riset bahwa kepemilikan senjata api
telah memicu sikap agresif kepada pemiliknya, yang disebut dengan - "weapon effect"
(Berkowitz dan LePage, 1967).
12. Menghilangkan Manfaat (Dennying Benefit).
Masih ada kaitan dengan tehnik "Mengurangi godaan", tetapi secara konsep berbeda
yaitu mengurangi manfaat bagi pelaku tindak kejahatan..
Perkembangan terbaru adalah kode keamanan dari radio mobil. Si pecuri harus tahu
terlebih dahulu nomor PIN radio yang dicurinya sebelum dipasang di mobil lain
merupakan contoh yang sangat baik dari prinsip ini.
Penelitian di Australia menemukan bahwa mobil dilengkapi yang dilengkapi dengan
teknologi tersebut jarang menjadi sasaran pencurian (NRMA Asuransi Ltd 1990) dan juga
di Jerman dan Amerika (Braga Dan Clarke, 1994).
Keberhasilan ini menunjukkan bahwa prinsip yang sama mungkin dapat diterapkan ke
VCR dan TV sehingga dapat mengurangi manfaat bagi pencuri,
Teknologi lain adalah yang disebut - "Ink Tag". Ink tag digantungkan di baju, tas, sepatu
atau barang yang dijual untuk mencegah pencurian.
Apabila ink tag dilepas dengan paksa maka tinta nya akan merusak barang-barang
tersebut sehingga tidak bisa digunakan atau dijual.

139

13. Membuat peraturan (Rule Setting).


Semua organisasi pasti memerlukan Aturan yang mengatur tentang perilaku dalam
melaksanakan kewajiban sesuai dengan bidang masing-masing .
Sebagai contoh, semua perusahaan besar akan mengatur penggunaan telepon oleh
karyawan begitu pula perusahaan ritel akan mengatur semua karyawannya untuk
mengikuti aturan dengan ketat tentang penanganan uang kontan (cash) dan prosedur
pengawasan persediaan (stock)..
Organisasi seperti Rumah Sakit, Sekolah, Hotel, Perusahaan transportasi, Restoran akan
mengatur para pelanggannya agar mereka puas tetapi disamping itu perusahaan tidak
mengalami kerugian yang diakibatkan oleh penipuan atau kecurangan.
Contoh lain adalah peraturan tentang penggunaan Tanda Pengenal, Larangan bagi orang
yang tidak berkepentingan masuk dalam daerah tertentu di Rumah Sakit atau Kantor.
14. Merangsang hati nurani (Stimulating conscience).
Teknik situasional ini dapat dibedakan dari Kontrol sosial informal dalam masyarakat
dengan fokus pada kejahatan spesifik yang berbeda, dengan seting yang sangat terbatas.
(Clarke Dan Homel, 1997).
Daripada berusaha untuk melakukan perubahan yang lama dan berusaha merubah tingkah
laku yang melawan hukum secara umum, tehnik situasional ini lebih mudah dilakukan
dengan cara merangsang kesadaran terhadap kejahatan yang spesifik.
Misalnya memasang tanda di Pintu masuk sebuah toko yang bertuliskan "Mengutil
adalah Mencuri", atau tanda di Terminal Bus yang bertuliskan "Merokok disini adalah
melanggar hukum, Egois dan Kasar."
Untuk mengingatkan para pengemudi mobil polisi Australia bekerja sama dengan
beberapa institusi terkait membuat slogan yang bertuliskan - "Good mates don't let mates
drink and drive".
15. Mengendalikan disinhibitors (Controlling disinhibitors).
Adalah tehnik pencegahan situasional dengan cara mengendalikan faktor-faktor yang
dapat mendorong perilaku secara fisik maupun psikologis.
Kejahatan tidak hanya difasilitasi oleh alat-alat seperti senjata, tetapi juga faktor
psikologis, seperti::
a. Minuman keras dan obat-obatan, yang dapat mengganggu kontrol sosial dan nilai
moral, merusak persepsi dan kognisi sehingga pelaku pelanggaran tidak menyadari
melanggar hukum (White dan Humeniuk, 1994).
b. Propaganda, yang dapat diarahkan untuk tindkan dehumanisasi terhadap kelompokkelompok tertentu.,
c. Kekerasan yang disebabkan oleh pengaruh Televisi, seperti propaganda, yang dapat
mengurangi atau merusak pengendalian diri yang diajarkan oleh orang tua atau
lembaga-lembaga sosial .. (Belson, 1978: 17).
16. Facilitating Compliance (Memfasilitasi Kepatuhan).
Merupakan salah satu tehnik pencegahan situasional untuk mengurangi keadaan yang
dapat digunakan sebagai alasan untuk melakukan kejahatan.

140

Misalnya, tidak memiliki tempat sampah umum dapat digunakan sebagai alasan untuk
membuang sampah sembarangan, antrian panjang sebagai alasan untuk masuk tanpa
membayar atau penampilan bobrok sebagai alasan untuk vandalisme.
Langkah-langkah yang dapat dilakukan misalnya dengan menyediakan tempat sampah
yang cukup, memasang 'papan grafiti' di mana pesan dapat dituangkan dipapan tersebut,
menyediakan toilet umum, program rehabilitasi untuk pecandu
George Walker Bush ketika masih menjadi Presiden Amerika Serikat menyatakan
intelijen harus dibangun agar mampu mendukung strategi memerangi terorisme yang
dikenal dengan istilah 4 D yaitu Defeat, Deny, Diminish, dan Defend.
Defeat dilakukan melalui tindakan langsung atau tidak langsung dengan menggunakan
unsur kekuatan nasional seperti diplomasi, ekonomi, informasi, hukum, keuangan,
intelijen, dan militer.
Dari sejarah perlawanan terhadap terorisme dapat ditarik pelajaran bahwa cara yang
terbaik dalam strategi ini adalah melakukan tindakan isolasi dan lokalisasi terhadap
aktivitas teroris dan menghancurkannya melalui tindakan yang intensif dan berkelanjutan.
Namun dengan berkembangnya organisasi teroris baik dilihat dari sisi kecanggihan
maupun jangkauannya, maka yang harus dilakukan adalah mengurangi lingkup operasi
dan kemampuannya. Tugas intelijen dalam tahap ini adalah melakukan identifikasi
terhadap teroris, mencari dan menemukan serta melokalisasi persembunyiannya,
sehingga dapat menghancurkan kemampuan teroris untuk merencanakan dan melakukan
aksinya.
Identifikasi teroris dan organisasinya adalah upaya untuk mengetahui secara jelas
identitas satu organisasi teroris. Dalam perang rumusan know your enemy adalah paling
utama. Komunitas intelijen penegakan hukum harus mampu mengidentifikasi organisasi
teroris, peta rantai komandonya, serta infrastuktur pendukungnya.
Tugas intelijen lainnya adalah harus mampu mengidentifikasi dan memusatkan perhatian
kepada kelompok yang paling berbahaya. Sifat organisasi teroris yang tidak jelas,
menyulitkan dalam membuat analisis tentang niat dan kemampuan organisasi teroris
secara tepat. Untuk mencapai keberhasilan dalam menghancurkan teroris, intelijen tidak
cukup hanya bertumpu pada intelijen tehnik saja, tetapi harus mengembangkan
kemampuan lain yang mampu menembus organisasi teroris, melokalisasi
persembunyiannya serta menggagalkan rencana aksinya.
Intelijen harus mampu menyajikan intelijen yang menyangkut kepemimpinan, niat,
rencana, modus operandi, sumber pendanaan, komunikasi dan perekrutan. Selain itu
intelijen juga harus mampu mengembangkan kerjasama dengan mitranya dinegara lain,
untuk memperoleh intelijen yang lengkap.
Menghancurkan teroris dengan organisasinya adalah dengan menggunakan semua unsur
kekuatan nasional untuk mengurangi dan menghancurkan kemampuan teroris sehingga
tidak mampu melaksanakan aksinya.
Dalam tahap ini intelijen harus mampu mendukung:
a. Upaya untuk menemukan, menangkap, menahan dan membawa teroris ke pengadilan.
b. Mendukung upaya penggunaan kekuatan militer dalam menghancurkan sarang
sarang teroris.

141

c. Mengembangkan kerjasama internasional untuk memutus sumber sumber keuangan


teroris.
Deny ditujukan untuk memotong dan menghilangkan dukungan, sponsor maupun
tempat konsentrasi kelompok teroris, yang memungkinkan kelompok teroris tetap eksis
dan berkembang. Dengan strategi ini diharapkan teroris akan kehilangan
kemampuannya karena terputusnya akses komunikasi, transportasi, dana, pelatihan dan
teknologi
Upaya ini akan berhasil apabila ada kerjasama internasional dan kemauan bersama untuk
memerangi terorisme.
Peran intelijen dalam strategi ini sangat menentukan dengan menyajikan intelijen tepat
waktu, tepat sasaran, sehingga dapat dilakukan tindakan-tindakan dengan segera dan pada
sasaran yang tepat.
Untuk mendukung strategi Deny dilakukan dengan beberapa cara.
a. Memutus dukungan negara sponsor kepada kelompok atau organisasi terorisme
Disini harus dilakukan tehnik disincentives dan incapacitate. Apabila negara sponsor
tidak memberi respons yang positip, langkah-langkah yang tegas perlu dilakukan.
b. Membangun dan memelihara tanggung jawab internasional dalam memerangi
terorisme. Kerjasama ini diperlukan untuk membendung aktivitas teroris, termasuk
mencegah mengalirnya bantuan keuangan terhadap kelompok-kelompok teroris,
mencegah terbangunnya persembunyian dan basis-basis teroris di suatu negara serta
mencegah pergerakan kelompok-kelompok teroris. Kerjasama ini sudah memiliki
legitimasi seperti ditunjukan oleh berbagai konvensi, protokol, maupun hukum
internasional untuk memerangi terorisme secara internasional. Kerjasama
internasional ini juga memberi kesempatan kepada negara yang lemah untuk
memperoleh bantuan dalam menghadapi terorisme baik dalam kerangka hukum,
pelatihan, intelijen maupun militer.
Diminsh yaitu upaya bersama untuk mengurangi atau menghilangkan faktor-faktor
yang dapat dieksploitasi oleh teroris. Kondisi yang dapat dieksploitasi misalnya masalah
kemiskinan, kehilangan hak politik dan sosial, konflik politik dan regional yang tidak
terselesaikan. Kondisi ini dapat dimanfaatkan oleh kelompok teroris untuk
kepentingannya. Strategi ini sama dengan tehnik Proactive Prevention.
Strategi ini dapat dilakukan bila dibangun kemitraan masyarakat internasional untuk
mewujudkan keadilan. Harus sudah dihilangkan ketimpangan-ketimpangan yang terjadi
selama ini antara negara maju dan negara berkembang.
Kepincangan hanya akan menumbuhkan instabilitas, suatu kondisi yang dapat
dieksploitasi oleh kelompok teroris.
Upaya lain yang harus dilakukan adalah memenangkan the war of ideas, yaitu upaya
untuk meyakinkan bahwa tindakan terror adalah tidak sah dan melanggar hukum dan
kemanusiaan sehingga tercipta kondisi yang tidak menguntungkan bagi teroris.
Defend, yaitu upaya melindungi keutuhan teritorial, kedaulatan, dan kepentingan
nasional, termasuk perlindungan kekayaan negara dan penduduk.

142

Terorisme merupakan musuh yang sulit dihitung karena mudah menyesuaikan diri
dengan lingkungannya, didukung oleh kemajuan teknologi, dan mereka memegang
inisiatif sehingga dapat menghindari kekuatan yang dihadapinya dan memanfaatkan
kerawanan dan kelengahan yang dilihatnya.
Kemajuan teknologi telah memungkinkan saling keterkaitan antar kelompok teroris
sehingga jarak dan waktu bukan menjadi penghalang bagi kelompok teroris.
Oleh sebab itu berlaku hukum pertahanan yang terbaik adalah serangan yang baik.
Maknanya adalah dengan meningkatkan dan mengkoordinasikan indikasi-indikasi dan
peringatan dini, akan dapat mendeteksi rencana teroris sebelum sempat melakukan aksiaksinya.
Intelijen yang baik yang mampu mendeteksi organisasi teroris akan dapat mematahkan
kemampuan teroris dan menghancurkannya. Ini berarti investasi pemerintah dalam
mengembangkan kemampuan intelijen baik menyangkut sumber daya manusia maupun
teknologi harus dilakukan dalam skala besar. Investasi teknologi pada alat pelacak sangat
menolong, tetapi yang paling penting adalah peningkatan Humint, begitu pula dalam
kemampuan analisis. Yang merupakan kelemahan yang dialami oleh hampir semua
organisasi intelijen.

BAB IX
PENATAAN INTELIJEN PENEGAKAN HUKUM.
.
Penataan intelijen sebenarnya merupakan isu biasa yang selalu terjadi, karena penataan
intelijen selalu dilakukan dihadapkan kepada perubahan lingkungan strategik, hakekat
ancaman, serta kepentingan nasional.
Ada sebuah pendekatan yang dirumuskan oleh David L.Carter yang disebut dengan R
atau R-Cubed Approach yaitu Reassessing, Refocusing, dan Reallocating.50
Tujuan dari R adalah menggambarkan kerangka untuk penataan organisasi yang
berkaitan dengan tanggung jawab intelijen. Ini membutuhkan penilaian atau kajian
internal (self assessmant) yang kritis tentang tanggung jawab dan juga sumber daya,
objektivitas yang jauh dari kepentingan-kepentingan tertentu, perspektif yang realistik,
pertimbangan taktis dan strategis dari tanggung jawab pemolisian tradisional maupun
yang baru, serta metoda (termasuk anggaran) bagaimana semua tanggung jawab
pemolisian dapat diselesaikan.
Upaya penataan adalah upaya yang tidak mudah sehingga perlu dilakukan dengan hatihati dan tidak terburu-buru.
50

. David L.Carter,PhD - Law Enforcement Intelligence: A Guide for State, Local,and Tribal Law
Agencies (2009). Hal 415..

143

Reassessing (penilaian kembali)


Menguji prioritas intelijen baik yang sedang berjalan maupun prioritas baru, untuk
menentukan kegiatan apa yang perlu dilanjutkan untuk memelihara keamanan
masyarakat dan untuk menjalankan misi penegak hukum yang berhubungan dengan
kriminalitas, pemeliharaan ketertiban, dan kontra terorisme.
Penilaian ini harus juga memasukkan pertimbangan dari sejumlah variabel seperti:
- Bagaimana volume panggilan tugas yang diterima oleh institusi penegak hukum dan
bagaimana kemampuan menanganinya.
- Bagaimana spesialisasi yang ada di kepolisian saat ini seperti : geng, narkoba, program
sekolah, bagaimana inisiatif menghadapi orang-orang lanjut usia, lalu lintas, dan lainlainnya dan apa kebutuhan nyata untuk setiap spesialisasi tersebut.
- Objektivitas merupakan faktor yang sangat penting, karena masuknya kepentingankepentingan tertentu akan membelokkan dari tujuan penataan yang diharapkan akan
meningkatkan kemampuan institusi penegak hukum.
- Spesialisasi yang perlu dikembangkan, seperti kemampuan intelijen, first responder
(termasuk senjata pemusnah massal), pencegahan terhadap kejahatan komputer / teror
dunia maya (cyberterrorism), keakhlian dalam bidang investigasi, kemampuan
investigasi untuk terorisme, tenaga akhli dalam menghadapi berbagai ancaman (all
hazard) yang membahayakan keselamatan dan ketertiban masyarakat.
- Sumber daya yang dapat digunakan untuk membantu tugas dan tanggung jawab polisi
dalam berbagai bentuk, seperti polisi cadangan, sukarelawan, tenaga akhli dari institusi
lain, organisasi masyarakat.
- Penilaian yang objektif tentang ancaman dan sasaran potensial dalam masyarakat dan
wilayah tertentu. Kedua yang terakhir termasuk bagaimana ancaman kejahatan
multijurisdiksi dan teroris menimbulkan dampak terhadap institusi baik langsung
maupun tidak langsung, termasuk tugas dan kewajiban memberikan bantuan timbal
balik.
- Kecakapan dan praktek intelijen saat ini, termasuk pertukaran intelijen, dan keperluan
untuk merubah praktek intelijen yang sudah berjalan, termasuk juga memasukkan
unsur sektor swasta kedalam infrastruktur kritik.
- Mandat politik dari pejabat dan atau masyarakat tidak boleh diabaikan, karena harapan
dan keinginan dari kelompok ini harus dipertimbangkan dalam proses penilaian
Refocusing ( memfokuskan kembali).
Dipedomani oleh hasil penilaian kembali, lembaga penegak hukum
mengembangkan rencana perubahan yang menekankan kepada prioritas baru.
Dalam proses "refocusing", yang harus dilakukan oleh institusi adalah:

harus

Pertama merumuskan prioritas baru dengan melakukan penilaian kembali (reassessing)


dan evaluasi terhadap tugas dan tanggung jawab. Dari sana dapat dilakukan refocus
terhadap prioritas-prioritas tersebut apabila diperlukan..
Bila penilaian kembali (reassessment) meliputi pengumpulan bahan keterangan dan
menganalisisnya, memfokuskan kembali (refocussing) adalah pengembangan dan
implementasi dari langkah-langkah kebijakan agar perubahan dapat berjalan.

144

Kedua, setiap wilayah tanggung jawab harus diukur dan ditimbang. Langkah ini untuk
menentukan besarnya beban tugas dan tanggung jawab dan menetapkan wilayah
tanggung jawab mana yang harus mendapatkan perhatian.
Hampir pada setiap institusi kepolisian memenuhi panggilan tugas masih selalu
merupakan prioritas utama. Namun tidak berlebihan dan merupakan tindakan yang
realistik bila prioritas itu dirubah dengan menambahkan pada fungsi intelijen.
Ketiga, perubahan ini diimplementasikan melalui penetapan kebijakan, prosedur, dan
perintah-perintah yang baru. Juga penting dicatat bahwa dalam melakukan perubahan
komunikasi juga memegang peran penting.
Reallocating (pengalokasian kembali)
Ketika keputusan refocusing telah ditetapkan, institusi penegak hukum harus melakukan
pengalokasian kembali sumber daya untuk memenuhi prioritas yang telah ditetapkan. Ini
termasuk sumber daya manusia, anggaran operasional, perlengkapan seperti mobil, radio,
komputer, ruang kantor sesuai kebutuhan baru.
Kesulitan dalam proses realokasi adalah "perlawanan", seperti perpecahan dalam
organisasi karena perbedaan orientasi. Oleh sebab itu dalam proses realokasi diperlukan
kepemimpinan yang efektif untuk memimpin organisasi dan memotivasi personal untuk
memahami pentingnya perubahan dan manfaat perubahan tersebut bagi masyarakat.
Tidak ada resep yang eksplisit untuk perubahan suatu organisasi. Begitu juga dalam
bidang intelijen ketika proses ini tidak dipahami oleh sebagian besar personel.
Namun ada sedikit petunjuk yaitu waktu yang diperlukan dalam proses perubahan ini.
Institusi harus menggunakan waktu secara hati-hati untuk mempertimbangkan semua
tugas dan tanggung jawab baru, yang diimbangi oleh tuntutan yang muncul dalam
organisasi sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan yang berlaku, dan lakukanlah
langkah-langkah yang jelas menuju organisasi yang telah disesuaikan dengan perubahan
yang telah ditetapkan.

Implementasi penataan intelijen .


Intelijen untuk penegakan hukum atau Law Enforcement Intelligence adalah pendekatan
baru dalam mengamankan kepentingan nasional, keamanan dan ketertiban masyarakat
dari bentuk ancaman yang telah berubah.
Penataan Law Enforcement Intelligence diarahkan kepada pembangunan sistem baik
dalam tataran perundang-undangan, kelembagaan, perangkat keras dan perangkat lunak
sebagai kelengkapan sistem. Indonesia perlu melakukan upaya-upaya yang sungguhsungguh karena Law Enforcement Intelligence di Indonesia pada dasarnya belum
terbangun dengan sempurna.
Penataan ini perlu dilakukan dengan makin mengemukanya bentuk ancaman baru seperti
terorisme, kejahatan transnasional terorganisir, pelintasan dan perdagangan manusia dan
narkoba (human and drug trafficking).
Serentetan serangan teroris seperti serangan teroris di asrama tentara Amerika Serikat di
Khobar, Saudi Arabia tahun 1996, pemboman Kedutaan Besar Amerika Serikat di Kenya
dan Tanzania pada tahun 1998, serangan terhadap USS COLE pada Oktober 2000,
serangan 11 September 2001, serangan bom di Stasion kereta api Spanyol, adalah

145

peristiwa-peristiwa yang harus segera diantisipasi melalui upaya pencegahan agar tidak
terulang kembali.
Demikian juga dengan peristiwa terorisme di Indonesia yang makin meningkat baik
dilihat dari korban yang jatuh dari orang-orang yang tidak berdosa maupun sasaransasarannya.
Bila pada tahun 1981 serangan terror baru pada tahap pembajakan pesawat terbang, maka
pada tahun 2005, setelah serentetan tindakan terorisme sebelumnya yang terjadi hampir
pada setiap tahun, telah terjadi tindak kekerasan terorisme di Bali yang telah menelan
korban 22 orang tewas dan 102 orang lainnya mengalami luka-luka akibat ledakan bom
yang terjadi di RAJAs Bar dan Restaurant, Kuta Square, di daerah Pantai Kuta dan di
Nyoman Caf Jimbaran.
Hal lain adalah bagaimana produk intelijen dapat dijadikan acuan terpercaya bagi para
pengambil keputusan dan penentu kebijakan sehingga mampu memberi ruang dan waktu
sebelum serangan terjadi, serta bagaimana membangun akses informasi yang luas dengan
membangun kerjasama antara institusi penegak hukum dengan intelijen.
Pendekatan ini diperlukan karena ada kecenderungan organisasi teroris memanfaatkan
atau saling memafaatkan dengan organisasi kriminal.
Alasan lain adalah batas antara isu-isu domestik dan internasional, kalaupun ada kadangkadang sudah menjadi kabur. Salah satu contoh mudahnya manusia dan narkoba keluar
masuk antar negara.
Organisasi teroris dengan dukungan teknologi akan mampu melaksanakan operasi secara
simultan didalam negeri dan diluar negeri. Aliran uang di dalam negeri maupun antar
negara dapat dengan mudah dilakukan dan dapat digunakan untuk mendukung kegiatankegiatan illegal. Pencurian teknologi juga merupakan kasus yang melibatkan masalah
domestik dan antar negara.
Kepentingan kerjasama institusi intelijen dan institusi penegak hukum yang makin
meningkat, telah memunculkan beberapa pemikiran yaitu:
Pertama, melebur institusi intelijen dan penegak hukum dan menempatkannya dibawah
institusi penegak hukum.
Kedua, melebur kedua institusi tersebut dan menempatkannya dibawah institusi intelijen.
Ketiga, koordinasi operasi antara institusi penegak hukum dan institusi intelijen serta
perluasan fungsi penegak hukum Indonesia di luar negeri perlu mendapatkan prioritas.
Dilihat dari sisi per Undang Undangan dimana tiap institusi mempunyai kewenangan
yang sama seperti TNI dan POLRI dalam menangani terorisme, penataan intelijen yang
mendesak dilakukan adalah pada koordinasi dalam bentuk pertukaran intelijen antar
lembaga penegak hukum maupun dengan institusi intelijen, pengumpulan bahan
keterangan dan pada sistem analisis, karena memang pada ketiga sistem itulah yang akan
menentukan mutu intelijen.
Semua upaya penataan intelijen pada dasarnya selalu ditujukan agar dapat dihasilkan
intelijen yang bermutu dan dapat dipercaya sehingga tidak akan terjadi pendadakan.
a. Peningkatan koordinasi.

146

Masalah pertukaran intelijen antar institusi penegak hukum adalah bagaimana


mendekatkan dan saling mengisi antar institusi penegak hukum dan antara institusi
penegak hukum dengan intelijen, terutama dalam menghadapi keamanan non
tradisional seperti isu terorisme dan kegiatan kejahatan terorganisasi dan lintas
negara.
Koordinasi nampaknya merupakan masalah yang mudah secara konsep, namun tidak
sederhana dalam pelaksanaannya. Dalam prakteknya merupakan masalah yang sulit
sekaligus menantang bila dihadapkan kepada berbagai aturan masing masing
institusi namun koordinasi saat ini merupakan keperluan yang perlu dicari jalan
keluarnya, baik menyangkut perundang-undangan, mekanisme maupun prosedur.
Sebagai contoh dalam masalah penanggulangan terorisme, sekarang Indonesia sudah
memiliki sebuah Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) yaitu Badan
Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang dibentuk berdasarkan Peraturan
Pemerintah Nomor 46 - Tahun 2010.
Namun Peraturan Pemerintah ini masih bersifat umum dan tidak menjelaskan secara
rinci departemen yang terlibat dalam BNPT, berikut tugas, wewenang dan peran
masing-masing.
Kebijakan penanggulangan terorisme setidaknya harus mencakup dua aspek utama
yaitu kebijakan Anti Terorisme dan kebijakan Kontra Terrorisme.
Anti Terorisme adalah seluruh kebijakan untuk mencegah dan menghilangkan
peluang tumbuhnya terorisme, sedangkan Kontra Terorisme segenap instrumen yang
menitik beratkan pada aspek penindakan.
BNPT memiliki kedua kewenangan tersebut, namun ini akan menimbulkan kerumitan
tersendiri dalam operasionalisasinya dan akan terjadi tumpang tindih.
Pasal 7 Undang-Undang nomor 34 tahun 2004 tentang TNI menyebutkan bahwa salah
satu tugas pokok TNI adalah melakukan operasi militer selain perang, termasuk
mengatasi aksi terorisme, sedangkan Undang Undang Nomor 15 tahun 2003 tentang
penanggulangan tindak pidana terorisme disebutkan bahwa terror termasuk tindak
kejahatan khusus yang masuk dalam domain penegakan hukum. Dari sini jelas bahwa
lembaga lain termasuk TNI tidak dapat berkordinasi.
Kerumitan ini sulit terpecahkan bila mengacu pada salah satu tugas BNPT yaitu
Melaksanakan kebijakan di bidang penanggulangan terorisme dengan membentuk
Satuan Satuan Tugas yang terdiri dari instansi pemerintah terkait sesuai tugas,
fungsi, dan kewenangan masing-masing.
Bagaimana pelaksanaannya bila Undang-Undang yang lebih tinggi kedudukan
hukumnya dari Peraturan Pemerintah sudah memagari terorisme sebagai domain
penegakan hukum yang tidak dimiliki oleh TNI.
Langkah-langkah teknis yang dapat dilakukan dalam peningkatan koordinasi adalah:
. Menetapkan focal points seperti kantor penghubung antara institusi penegak
hukum dengan institusi intelijen.
. Menetapkan prosedur yang mengatur permintaan intelijen yang mungkin dapat
menghasilkan keterangan yang dapat digunakan di pengadilan.
. Institusi penegak hukum perlu menyampaikan pemberitahuan kepada penuntut,
bila ada kepentingan intelijen.

147

Langkah-langkah menyangkut pengamanan identitas dari anggota intelijen yang


memiliki identitas yang dirahasiakan.
. Perlu disusun ketentuan atau prosedur yang menetapkan klasifikasi informasi atau
intelijen yang mungkin belum termasuk dalam ketentuan sebelumnya.
. Perlu dibuat semacam Memorandun of Understanding antara intelijen dan institusi
penegak hukum, seperti antara Badan Intelijen Negara dengan Kejaksaan Agung.
. Perlu dibangun pusat latihan bersama antar institusi penegak hukum dengan
institusi intelijen untuk memfasilitasi koordinasi.
Badan Intelijen Negara dapat mengambil peran aktif dalam meningkatkan koordinasi
diantara komunitas intelijen untuk meningkatkan efektifitas penanggulangan terorisme,
kejahatan narkotika, kejahatan terorganisir.
b. Badan pengumpul.
Dari beberapa kajian yang dilakukan negara maju seperti Amerika Serikat
disimpulkan bahwa Humint yang penting dalam menghadapi terorisme sempat
terkesampingkan.
Penggunaan intelijen tehnik dan elektronik dalam pengumpulan bahan keterangan
tentang terorisme meskipun memberi manfaat namun tidak mampu mengungkapkan
niat teroris. Ini hanya dapat dilakukan oleh Humint, seperti agen rahasia dan
informan.
Peningkatan Human Intelligence adalah keniscayaan yang harus didukung oleh
kemauan politik yang kuat. Penyiapan Humint dan perekrutan agen-agen bukan
masalah mudah, karena resiko yang dihadapi mereka dalam melaksanakan tugasnya
kelak, serta penyiapan yang panjang dalam menyiapkan agen yang paripurna.
Peningkatan kegiatan Humint memang dilematis antara keniscayaan dan resiko.
Keniscayaan tersebut bukan saja pada keharusan meningkatan Humint dalam
pengertian ekstensitas, yaitu memperluas penggunaan agen dalam katagori Non
Official Cover, seperti penyamaran. Resikonya apabila kedok agen tersebut terbuka,
mereka tidak dapat dilindungi oleh kekebalan diplomatik.
Begitu pula bila kedok agen dengan katagori Official Cover terbuka akan
mengganggu hubungan diplomatik.
Tuntutan untuk membentuk agen yang paripurna bukan masalah yang sederhana.
Agen-agen harus secara khusus dibentuk dan disesuaikan dengan sasaran dimana
mereka akan ditugaskan.
Diperlukan persiapan panjang terutama dalam penyiapan kemampuan penguasaan
bahasa setempat dengan sempurna, adat istiadat setempat serta keterangan
keterangan dasar lainnya.
Perekrutan yang terbaik adalah bila mendapatkan calon-calon agen dari daerah atau
etnik tertentu dimana mereka akan dioperasikan, meskipun ada kesulitan dan
hambatan psikologis terutama bila didaerah sasaran mereka mempunyai sanak
saudara.
c.

Peningkatan kemampuan analisis.

148

Ada 5(lima) tipe analisis yang termasuk dalam analisis kejahatan.51


Semua tipe analisis tersebut secara umum memiliki karakteristik analisis kejahatan
yang sama. Perbedaannya terletak kepada data dan tehnik analisis yang digunakan
sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai oleh setiap tipe analisis.
Tipe-tipe analisis tersebut adalah:
1). Analisis Intelijen (Intelligence Analysis}
Studi tentang aktifitas kejahatan terorganisasi, baik yang dilaporkan maupun yang
tidak dilaporkan kepada penegak hukum, untuk membantu personal yang terlibat
dalam kegiatan investigasi dalam melihat hubungan antara orang, kejadian dan
properti.
Tujuannya adalah untuk mengkaitkan semua informasi yanng diperoleh,
menentukan informasi yang menjadi prioritas, mengidentifikasi hubungannya,
dan mengidentifikasi daerah untuk investigasi selanjutnya dan meletakkan dalam
kerangka analisis yang lebih mudah dipahami.
2). Analisis Investigatif Kriminal (Criminal Investigative Analysis).
Studi tentang kejahatan berantai, korban, dan/atau peristiwa kejahatan, serta
karakteristik
fisik, sosio-demografis, psikologi dan geografi untuk
mengembangkan pola-pola yang akan membantu untuk menghubungkan dan
memecahkan kejahatan berantai yang terjadi.
Tipe analisis ini disebut juga dengan - profiling - yaitu proses untuk
mengkonstruksi "profil" pelaku kejahatan yang tidak diketahui, didasarkan kepada
sifat kejahatan, fakta-fakta dari kejadian, dan karakteristik dari korban.
Analisis tipe ini dilakukan pada institusi penegak hukum tingkat pusat karena
kejahatan yang terjadi bersifat khusus. Dan lintas jurisdiksi.
3). Analisis Kejahatan Taktis (Tactical Crime Analysis).
Studi tentang kejahatan yang terjadi serta aktifitas kriminal yang potensial dengan
mempelajari dan menguji karakteristik kejahatan seperti bagaimana, kapan, dan
dimana kejahatan itu terjadi. Analisis tipe ini digunakan untuk membantu
pemecahan masalah dengan mengembangkan pola dan kecenderungan,
identifikasi tersangka atau terduga, dan memperjelas kasus yang terjadi.
Analisis Kejahatan Taktis fokus pada informasi dari kejahatan yang "baru" terjadi.
"Baru " disini dapat diartikan beberapa bulan yang lalu atau lebih lama untuk
persoalan spesifik yang sedang terjadi.
Analisis Kejahatan Taktis juga fokus pada informasi spesifik dari setiap kejahatan
yang terjadi seperti cara dimulainya tindak kejahatan (method of entry), titik
dimulainya kejahatan, kegiatan tersangka, tipe korban, jenis dan tipe senjata yang
digunakan, juga tentang tanggal, waktu, lokasi .
4). Analisis Kejahatan Strategis ( Strategic Crime Analysis)
Studi tentang kejahatan dan informasi penegakan hukum yang terintegrasi dengan
sosio demografis dan faktor-faktor spasial untuk menentukan pola kejahatan
dalam jangka panjang, untuk membntu pemecahan persoalan, juga untuk
51

. Rachel Boba, PhD - Introduction to Crime Analysis and Mapping. Hal 11

149

penelitian dan evaluasi prosedur serta langkah-langkah penanggulangan suatu


kasus kejahatan.
Analisis Kejahatan Strategis terutama menggunakan Analisis Kuantitatif dari data
dan informasi yang dikumpulkan.
Tujuan utama Analisis Kejahatan Strategis adalah:
a). Membantu untuk mengidentifikasi dan menganalisis masalah kejahatan
dalam jangka panjang seperti kejahatan narkoba ataupencurian.
b). Melakukan studi untuk menginvestigasi atau mengevaluasi prosedur serta
langkah penanggulangan yang sesuai.
5). Analisis Kejahatan Administratif ( Administrative Crime Analysis)
Penyajian temuan dari hasil riset atas kejahatan yang menonjol dan analisis yang
didasarkan kepada hukum, politik, dan hal-hal praktis lainnya yang berkaitan.
Hasil studi ini disampaikan kepada lingkungan penegak hukum, pemerintah serta
masyarakat.
Analisis ini bersifat umum dan tidak mengungkapkan kasus secara khusus dan
rinci.
Tujuan analisis ini adalah memberikan informasi kepada pihak yang
berkepentingan untuk memahami fenomena kejahatan yang terjadi dan kemudian
mengambil kebijakan baik yang bersifat strategis maupun operasional bagi pihakpihak yang menggunakan hasil analisis ini.
Analis intelijen adalah seorang professional yang mengumpulkan berbagai fakta,
dokumen-dokumen, bukti - bukti, hasil wawancara, dan berbagai bahan keterangan
yang terkait dengan masalah kriminal dan menyusunnya dalam urutan logis, untuk
mengembangkan kasus kriminal, menjelaskan fenomena kriminal, dan menguraikan
masalah kriminal dan kecenderungannya.
Kesulitan utama para analis adalah menghasilkan produk intelijen yang mampu
menggambarkan dengan jelas aktifitas kejahatan. Dalam kasus teror misalnya
kesulitan dalam menggambarkan aktifitas teroris, jaringan, rencana, terutama
mengindikasikan kapan dan dimana serangan akan dilakukan.
Seorang analis harus memiliki pendidikan paling tidak setingkat S-1 dan telah
mengikuti pelatihan dalam proses intelijen, prosedur dan hukum pidana, analisis
statistik, analisis fakta dan pembuktian. Seorang analis harus seorang obyektif,
pemikir analitis, serta memiliki kemampuan menulis dan penyajian yang baik.
Seorang analis adalah seorang yang memiliki pengetahuan dan keakhlian analisis
karena akumulasi pengalamannya sebagai analis selama penugasannya. Kebanyakan
seorang analis memperoleh keakhlian substantif (tentang manusia, pola kriminal,
lokasi dan sebagainya) dari pekerjaannya dalam menganalisis berbagai masalah.
Seorang analis harus melihat masalah kriminal dari gambaran yang luas gambaran
yang secara tepatnya dilihat dari pengalaman lapangan penegakan hukum selama
bertahun-tahun. Keluaran intelijen yang bermutu hanya akan didapat dari pekerjaan
seorang analis yang professional, bukan seorang analis yang menduduki jabatannya
hanya karena hadiah dari institusinya yang didasarkan kepada balas jasa semata-mata
karena seseorang telah dianggap berjasa kepada institusinya.

150

Berbagai pemikiran muncul dalam upaya menghasilkan hasil analisis yang


berkualitas. Salah satu adalah membawa analis yang berkelas dari luar institusi ke
dalam proses intelijen, meskipun pola ini mengandung resiko keamanan terutama
akses kepada intelijen dengan klasifikasi tinggi. Namun gagasan ini umumnya kurang
mendapat perhatian karena posisi seorang analis adalah posisi yang highly
experiental, yang merupakan subject matter expertise tidak semata-mata hanya
penguasaan metodologi analisis.
Untuk menjadi seorang analis intelijen yang professional Sherman Kent menyarankan
seorang analis menjauhkan diri dari sorotan publik. Dia tidak boleh memberikan
wawancara, bahkan ketika mereka sudah pensiun.
Kent melihat seorang analis intelijen adalah pemasok informasi sekaligus pengawas
bagi pembuat keputusan dan pelaksana operasi.
Frans Bax menyusun sebuah doktrin bagi seorang analis intelijen yang disebutnya
sebagai Doktrin Analisis Kent (Kents Analytic Doctrine), sebagai berikut: 52
Pertama, fokus kepada apa yang menjadi perhatian pembuat keputusan yang
dilayaninya (Focus on Policymaker Concerns).
Lingkaran pembuat kebijakan memerlukan analis karena mereka dapat membantu
memecahkan persoalan dan tantangan yang dihadapi para pembuat kebijakan, karena
kemampuan serta latar belakang pengetahuannya, kemampuan evaluasi, dan
menyusun bahan-bahan dari berbagai sumber, serta pemahamannya dalam kegiatan
rahasia.
Sambil memperhatikan persoalan yang belum dapat digambarkan oleh pembuat
kebijakan, tanggung jawab pertama analis adalah membantu pengguna intelijen
dengan memberikan kajian tentang masalah yang harus dipecahkan dan tetap focus
pada kurva belajar (learning curve).
Kurva belajar adalah kemampuan individu untuk meningkatkan kinerja dengan
berlalunya waktu, karena mereka melakukannya dengan baik. Dengan penumpukan
pengalaman dalam melakukan tugas tertentu, diharapkan individu itu akan mampu
melakukan tugas itu lebih cepat dan lebih baik.
Seorang analis harus juga mampu memberi intelijen yang actionable yang dapat
digunakan untuk menggagalkan ancaman dan mengambil peluang dalam menetapkan
sebuah kebijakan.
Kedua, menghindarkan diri dari agenda kebijakan yang bersifat pribadi
(Avoidance of a Personal Policy Agenda). .
Analis harus mampu memberi hasil analisis dan evaluasi yang dapat mendekatkan
perbedaan-perbedaan yang disebabkan oleh agenda-agenda pribadi dalam membuat
kebijakan. Artinya seorang analis harus objektif, netral dan dituntun oleh kepentingan
organisasi semata-mata.
Analis harus menghindarkan diri dari pesanan yang akan digunakan oleh satu
kelompok yang terlibat dalam perumusan kebijakan untuk memaksakan
pandangannya secara sepihak kepada pihak lainnya yang sama-sama terlibat dalam
proses pembuatan kebijakan.
52

. Jack Davis Occasional Paper : Vol 1, Number 5, Nov 02, The Sherman Kent for Intelligence Analysis.

151

Untuk analisis sebagai bahan pembuatan perkiraan (estimate analysis), analis harus
secara serius memusatkan perhatiannya kepada yang nampaknya akan mempengaruhi
keluarannya.
Untuk analisis sebagai dasar sebuah tindakan (action analysis) analis harus mampu
mengidentifikasi dan mengevaluasi beberapa alternatif, namun tidak menyarankan
tetapi membiarkan pembuat keputusan membuat rekomendasi atau memilihnya
sendiri.
Ketiga, kemapanan intelektual ( Intellectual Rigor ).
Analisis yang baik adalah kunci dalam proses pembuatan kebijakan / keputusan.
Dalam doktrin Kent informasi harus mengalami proses evaluasi yang baku dan ketat
untuk menentukan validitas sumber informasi, untuk mencegah adanya penyesatan
(deception) dan penolakan (denial), serta penilaian terhadap kebenaran informasinya.
Perkiraan atau estimasi dibuat berdasarkan pengorganisasian dan evaluasi data yang
benar, keakhlian yang tidak berpihak, perumusan asumsi yang baik dan terbuka.
Ketidak pastian serta kesenjangan dalam informasi akan sangat mempengaruhi dalam
membuat perkiraan yang baik
Keempat, kesadaran upaya untuk menghindari penyimpangan analisis
(Concious Effort to Avoid Analytic Biases).
Penyimpangan politik atau kebijakan (policy or political bias) adalah kesalahan yang
tidak bisa ditolerir. Namun disadari penyimpangan analitik dan penyimpangan
kognitif adalah proses mental yang biasa dan sulit dihindari dalam menganalisis dan
mengevaluasi masalah yang kompleks dan cair.
Oleh sebab itu diperlukan upaya yang terus menerus, berlanjut serta sungguhsungguh untuk meminimalkannya.
Salah satu cara yang dianjurkan Kent untuk mengurangi penyimpangan analitik dan
kognitif adalah menguji asumsi telah ditegakkan secara sungguh-sungguh.
Kelima, kesediaan untuk mempertimbangkan pendapat orang lain (Willingness
to Consider Other Judgments).
Dalam menegakkan hasil analisis yang baik diperlukan tidak hanya kesepahaman
tetapi juga perbedaan pendapat.
Pendapat yang berbeda perlu dipertimbangkan selama dasar, alasan, dan
argumentasinya jelas seperti kepercayaan terhadap asumsi alternatif atau perbedaan
interpretasi terhadap satu informasi.
Sebelum teknologi informasi berkembang, pada masa lalu biasa dilakukan rapat
bersama para analis dari berbagai disiplin yang ada hubungan dengan masalah yang
dikaji.
Keenam, pemanfaatan tenaga akhli dari luar institusi secara sistematik
(Systematic Use Outside Experts).
Sebagai uji tambahan terhadap kemungkinan penyimpangan analisis dan
kemungkinan ada hal-hal yang tidak tertinjau dalam proses analisis masalah yang
kompleks dan sulit, perlu dipertimbangkan pendapat lain dari luar institusi.

152

Tentu seorang analis harus memegang teguh dan memelihara kerahasiaan hasil
analisis yang disiapkan untuk pengguna intelijen yang dilayaninya.
Pendapat lain itu tidak harus selalu sependapat, namun yang diperlukan adalah
kemungkinan munculnya data dan bahan keterangan tambahan dan analisis dari
asumsi yang mendasarinya.
Berita-berita di media atau jurnal-jurnal khusus harus dipelajari untuk keperluan yang
sama. Seorang analis juga harus menggali dan mengembangkan hubungan dengan
kalangan lain baik dalam bidang pengajaran, riset, dan bisnis yang melakukan
kegiatan serupa.
Ketujuh, hasil analisis adalah tanggung jawab bersama (Collective Responsibility
for Judgement).
Analisis beserta pendapat yang disimpulkan pada dasarnya adalah produk institusi
dan bukan kerja perorangan.
Ketika seorang analis berhadapan dengan pengguna intelijen, harus dapat
menampilkan dan mempertahankan ciri dan pandangan kebersamaan. Namun ketika
keadaan mengharuskan adanya pendapat pribadi, seorang analis harus dapat
menjelaskan sumber yang memberi wewenang kepadanya untuk berbicara tentang isu
tertentu.
Kedelapan, kebijakan komunikasi yang efektif dari informasi pendukung dan
hasil analisis.(Effective communication of policy-support information and
judgements)
Bagi seorang pembuat keputusan yang sibuk, analisis yang pendek akan lebih baik.
Namun demikian kejelasan pendapat yang disampaikan analis juga merupakan hal
yang esensial. Dalam proses analisis persoalan yang kompleks dan cair, faktor ketidak
pastian adalah hal yang tidak bisa dihindarkan.
Meskipun demikian yang juga penting diperhatikan adalah harus dihindarkan sikap
benar sendiri. Apabila timbul kebingungan karena dihadapkan kepada pilihan apakah
harus memperpanjang analisis atau membiarkannya singkat, berikanlah detail yang
terukur dan hati-hati.
Kesembilan, mau mengakui kesalahan dengan jujur (Candid Admission of
Mistakes).
Analis harus selalu berusaha untuk menguasai substansi dan praktek analisis dengan
baik, meskipun tidak ada aturan dan teori analisis yang dapat menjamin keberhasilan
dalam menangani persoalan yang berat dan rumit, atau menghilangkan apa yang
disebut dengan bahaya dalam membuat perkiraan (perils of estimating).
Menurut Sherman Kent seorang analis harus secara sistimatik melihat kembali
kinerjanya untuk mencari cara meningkatkan kemampuan dalam membuat analisis,
juga untuk mempelajari kesalahan-kesalahan.
Kesalahan mungkin saja terjadi, tetapi seorang analis dapat pelajaran penting dengan
melihat kembali secara kritis kegagalan-kegagalan yang terjadi, terutama dari
penilaian kembali tersebut dapat ditemukan kesalahan-kesalahan yang berulang
dengan pola yang sama, seperti melihat dari bayangan (mirror imaging), atau asumsiasumsi yang tidak berubah meskipun lingkungan telah berubah.

153

Manajemen Fungsi Intelijen.


Tidak semua institusi penegakan hukum memiliki unit intelijen yang terstruktur dan
formal, namun tetap menjalankan fungsi intelijen. Tidak dapat dipungkiri dengan
berkembangnya tindak kejahatan baik dalam modus operandi maupun jangkauan
operasinya, yang diakibatkan oleh kemajuan teknologi informasi dan transportasi.
Kerjasama intelijen antar institusi penegakan hukum maupun dengan institusi lain
menjadi sebuah keniscayaan untuk meningkatkan kemampuan intelijen dalam upaya
memelihara keamanan nasional dan keamanan masyarakat.
Untuk keperluan tersebut ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian pimpinan
institusi penegakan hukum :
a. Menyesuaikan kembali struktur organisasi dan prosesnya terhadap tuntutan baru.
b. Mengembangkan visi bersama tentang ancaman teroris dan kejahatan lainnya.
c. Berperan serta dalam proses intelijen dan menindak lanjuti dengan informasi
mengenai ancaman.
d. Menyediakan sumber daya, waktu, dan upaya untuk optimalisasi fungsi intelijen.
e. Membangun semangat untuk proaktif dan kreatif agar mampu mengidentifikasi
apa yang tidak kita ketahui tentang terorisme dan kejahatan internasional
terorganisir.
f. Membangun budaya dalam masyarakat penegakan hukum agar terbiasa dengan
think globally and act locally.
g. Menampilkan kepemimpinan yang berjiwa pelopor, sabar, dan waspada.
Untuk menjabarkannya kedalam mekanisme fungsi intelijen, institusi penegak hukum
dari berbagai tingkatan minimal memerlukan komponen operasional sebagai berikut:
a. Anggota yang ditugaskan sebagai focal point yang berhubungan dengan
institusi diluar institusi penegakan hukum yang dapat secara langsung menerima
permintaan keperluan dari institusi diluar institusi penegakan hukum (inquiries),
menerima informasi, peringatan (warning), atau saran-saran lainnya. Petugas ini
harus mendapatkan pelatihan yang cukup dalam bidang bahasa, proses, dan
regulasi yang ada dalam komunitas intelijen penegakan hukum.
b. Sistem komunikasi yang aman untuk mengirim dan menerima informasi yang
sensitif (Law Enforcement Sensitive atau LES) atau informasi resmi untuk
kepentingan pengguna tertentu (For Official Use Only atau FOUO).
c. Menetapkan kebijakan dalam pengumpulan bahan keterangan / informasi,
pembuatan laporan dan penyebaran. Apabila institusi penegakan hukum akan
menyimpan dan memelihara dokumen apapun tingkat organisasinya, institusi
yang bersangkutan harus menetapkan kebijakan atau petunjuk pengamanannya
( Law Enforcement Intelligence Unit File Guideline) .
d. Membangun kemampuan untuk menentukan jenis informasi / intelijen yang dapat
digunakan secara efektif untuk mencegah terorisme dan menghancurkan
kelompok kriminal. Masalah ini bukan hal yang mudah karena memerlukan
investasi sumber daya yang besar. Memahami tentang ancaman dan sasaran dalam
sebuah komunitas serta membangun kekuatan untuk menetralisirnya merupakan
hal yang sangat penting.

154

Diluar faktor faktor diatas, faktor faktor manajemen lainpun perlu dipertimbangkan
untuk meningkatkan kemampuan intelijen.

Membangun Kerangka Organisasi.


Seperti juga fungsi lain dalam institusi penegakan hukum, perhatian dalam organisasi
harus juga diberikan kepada struktur administratif dari unit intelijen penegakan hukum.
Para pengelola organisasi harus mempelajari hal-hal sebagai berikut.
a. Kebutuhan untuk unit Intelijen Penegakan Hukum.
b. Bagaimana memfungsikannya setiap hari.
c. Isu yang menyangkut pengadaan sumber daya, penugasan , dan manajemen.
d. Kebutuhan fungsi intelijen institusi penegakan hukum pada masa yang akan
datang.
Fungsi intelijen dalam organisasi yang pengorganisasian dan pengawakannya dilakukan
dengan tepat akan dapat befungsi sebagai konsultan internal bagi manajemen dalam
pengerahan sumber daya. Ini harus dirancang sebagai unsur organik dan integral dari
organisasi penegakan hukum, bukan fungsi yang terpisah dan berbeda.
Intelijen merumuskan ruang lingkup dan dimensi tindak kejahatan yang komplek
termasuk terorisme dan memberikan alternatif dalam merumuskan kebijakan
penanggulangan problem yang dihadapi. Yang juga penting adalah berfungsi sebagai
focal point untuk berbagi informasi dan penyebarannya dalam upaya memaksimalkan
keamanan masyarakat. Ada kecenderungan keengganan pada beberapa institusi
penegakan hukum untuk mengembangkan unit intelijen baik untuk kepentingan
intelijen taktis maupun intelijen strategis dengan beberapa alasan.
Alasan paling utama dalam pengalaman institusi penegakan hukum di Amerika Serikat
adalah seringnya mereka diadukan masyarakat karena dianggap melakukan pelanggaran
hak sipil. Ini terjadi akibat buruknya pengorganisasian dan manajemen kegiatan intelijen.
Dalam banyak kasus para pimpinan institusi penegakan hukum sengaja tidak
memfungsikan bahkan menghilangkan unit intelijen. Tujuannya adalah untuk mengurangi
tanggung jawab dan meminimalisir kritik dan pengaduan masyarakat yang sebenarnya
tidak memahami peranan intelijen atau masyarakat yang menolak fungsi penegakan
hukum dengan alasan filosofis.
Hal yang sama adalah kebutuhan, nilai serta manfaat Unit Intelijen untuk penegakan
hukum belum dipahami secara utuh dan menyeluruh oleh para pimpinan yang tidak
mengerti bahwa fungsi intelijen sangat penting sebagai sumber perencanaan dan operasi.
Sebagai contoh , analis intelijen sering diberi tugas hanya sebagai pegawai kantor yang
tidak ada hubungannya dengan analisis dan bukan diberi tugas sebagai analis yang
proaktif. Ini disebabkan para pimpinan institusi tidak mengakui dan memahami nilai
sebuah analisis intelijen sebagai salah satu sumber dalam proses manajemen.
Sekarang jaman berubah dan setelah dunia dihadapkan pada kenyataan baru dalam
menghadapi kejahatan baru seperti serangan teroris terhadap WTC New York, dan
serangan serangan lain dibelahan bumi yang lain termasuk di Indonesia, kejahatan
internasional terorganisir, muncul semangat Zeitgeist atau Spirit of the times dalam
institusi penegakan hukum.
Zeitgeist artinya setiap jaman memiliki ruh jaman tersendiri dan semangat jaman
menjelaskan tentang semangat on becoming dalam satu ruang dan waktu. Sering

155

diartikan juga sebagai karakter yang dicirikan oleh kesadaran terhadap harapan dan
kesadaran percepatan masa depan.
Kini ada kesadaran baru dalam institusi penegakan hukum tentang pentingnya Intelijen
untuk penegakan hukum (Law Enforcement Intelligence). Kini institusi penegakan
hukum di negara-negara maju secara proaktif melakukan penegakan hukum dengan
menggunakan pendekatan pemolisian masyarakat ( community policing) melalui proses
pemecahan masalah secara proaktif, CompStat, analisis kriminal, komunikasi internal dan
eksternal yang efektif, penanggulangan kejahatan melalui pendekatan multidisiplin,
pendekatan bottom up untuk gelar operasi. Selain itu terutama sejak peristiwa 11
September telah terlihat kemajuan yang sangat penting terutama dalam sumber daya dan
pelatihan sehingga fungsi intelijen penegakan hukum sudah lebih mudah diadaptasi
kedalam sistem.
Kondisi ini menyebabkan fungsi intelijen penegakan hukum sudah menjadi professional,
juga didorong oleh keterlibatan secara intensif dari kalangan akademisi, serta upaya yang
panjang yang dilakukan International Association of Law Enforcement Inteligence
Analysts (IALEIA) atau Asosiasi Analis Intelijen Penegakan Hukum dan juga Unit
Intelijen.

Pen - Charter an Unit Intelijen.


Langkah pertama yang dapat dilakukan dalam membangun unit intelijen adalah dengan
pen-charter-an fungsi.
Langkah ini termasuk hal-hal sebagai berikut:
a. Menetapkan prioritas organisasi dan penempatannya.
b. Alokasi sumber daya.
c. Merumuskan misi dan sasarannya.
d. Menetapkan kewenangan dan tanggung jawab dari unit intelijen.
Membentuk unit intelijen harus dilakukan melalui pengkajian yang berdasarkan
keperluan. Ini termasuk mengidentifikasi current intelligence yang berhubungan dengan
kemampuan institusi penegakan hukum dan kemampuan yang diharapkan.
Salah satu keluaran dari pengkajian didasarkan keperluan yang efektif adalah dapat
mengidentifikasi bagaimana unit intelijen dapat memberi pengaruh untuk mendorong
efisiensi dan daya tanggap organisasi.
Kajian ini juga penting untuk menetapkan dan merumuskan keperluan sumber daya.
Alokasi sumber daya bukan masalah yang mudah prosesnya karena inisiatif untuk
membangun unit yang baru biasanya menghilangkan atau mengurangi fungsi yang satu
untuk mengembangkan fungsi yang lain.
Dalam pengalaman untuk membangun unit yang baru biasanya pada tahap-tahap awal
sulit untuk mendapatkan alokasi sumber daya secara penuh.
Itu sebabnya diperlukan penetapan prioritas dari institusi penegakan hukum mana yang
akan didahulukan dalam pembentukan unit intelijen.
Harus pula dirumuskan tentang misi dari unit intelijen yaitu peran yang dilakukan oleh
unit intelijen untuk mendukung misi institusi penegakan hukum secara umum.
Perumusan misi unit intelijen dijelaskan secara spesifik dalam bahasa yang jelas tentang
apa yang ingin dicapai dan arahan serta tanggung jawab dari unit intelijen, sehingga dapat
ditetapkan dukungan administratif serta kegiatannya untuk mencapai misi yang telah
dirumuskan.

156

Sasaran adalah ujungnya dimana seluruh aktifitas intelijen diarahkan dan yang penting
sasaran harus mission oriented yaitu pencapaian sasaran intelijen akan mendukung
pencapaian misi yang lebih luas dari institusi penegakan hukum.
Contoh tentang perumusan Misi dan Sasaran dari Unit Intelijen.
Misi Intelijen
Misi dari Unit Intelijen dari Bagian Penelitian POLRES Jakarta Timur ialah
mengumpulkan, mengevaluasi, menganalisis, dan menyebarkan intelijen tentang
kegiatan kriminal di wilayah hukum Jakarta Timur atau kejahatan di wilayah hukum
lain yang dapat membawa akibat terhadap keamanan di wilayah hukum Jakarta Timur.
Termasuk juga kegiatan melakukan proses pemilahan dan analisis informasi yang
dikumpulkan oleh unit operasi.
Unit intelijen akan melengkapi data-data yang diperlukan oleh Kapolres, agar Unit
Operasi yang bertanggung jawab terhadap penangkapan dapat melakukan tindakan
yang diperlukan.
Sasaran Intelijen
1.
Unit Intelijen akan memasok Kapolres dengan data intelijen, baik intelijen taktis
maupun strategis yang akurat agar Kapolres selalu dapat mengikuti
perkembangan dan dinamika keamanan di wilayah hukum Jakarta Timur.
2.
Unit Intelijen akan memberi laporan analisis intelijen secara lengkap dan
terperinci tentang sistem kejahatan terorganisir yang beroperasi di wilayah
hukum Jakarta Timur kepada Unit Operasi dengan data-data yang diperlukan
untuk mengidentifikasi kelompok kejahatan terorganisir maupun perorangan
yang terlibat dalam kelompok kejahatan teroganisir.
3.
Unit Intelijen akan memusatkan perhatiannya kepada kejahatan sebagai berikut:
a. Kelompok ekstrim Jamaah Islamiah yang mendukung terorisme
menyangkut kegiatan, pengikut, pendanaan, dan dukungan logistik, yang
bersifat kegiatan kriminal..
b Kelompok ekstrimis di wilayah hukum Jakarta Timur yang mendukung
tindakan kejahatan menyangkut kegiatan, pengikut, pendanaan, dukungan
logistik, yang semuanya bersifat tindakan kriminal.
c Kegiatan buruh / pemogokan melakukan monitoring dan mengumpulkan
intelijen strategis dan disampaikan kepada Biro Operasi yang berhubungan
dengan kegiatannya.
d. Kejahatan terorganisir identifikasi kejahatan dan pengikutnya, termasuk
identifikasi kelompok kejahatan yang baru muncul.
e. Penyebar Narkoba yang besar menyampaikan intelijen taktis dan analisis
informasi kepada Biro Operasi tentang orang yang teridentifikasi terlibat
dalam perdagangan narkoba.
Unit Intelijen mengerti perlunya keseimbangan antara hak-hak individu warga
negara dengan keperluan penegakan hukum yang sah secara hukum. Dengan
pemahaman ini Unit Intelijen akan melaksanakan kegiatan intelijen sesuai dengan
keseimbangan diatas secara konsisten.

157

BAB X
PENGAWASAN INTELIJEN
Pengertian pengawasan dari terminologi control, review, dan oversight sempat menjadi
perdebatan hangat ketika merumuskan fungsi pengawasan. Ini bukan merupakan debat
semantik tetapi lebih kepada akses terhadap informasi dari Badan atau Institusi Intelijen.
Perbedaan yang nampak lebih jelas adalah antara control dengan oversight.
Dalam bahasa Indonesia control diartikan pengendalian, sedangkan oversight diartikan
pengawasan.
Sudah umum dipahami bahwa seorang pemimpin sebuah organisasi memerlukan
kekuasaan yang cukup untuk mengatur dan mengarahkan kegiatan dan operasi dari
institusi tersebut, ini yang dimaksud dengan Control.
Sedangkan oversight lebih kepada proses supervisi terhadap kegiatan yang menjadi
tugas dan tanggung jawab sebuah institusi bukan kepada manajemen harian (day to day
management), tetapi untuk menjamin bahwa seluruh kebijakan, kegiatan dan metode
yang dijalankan institusi tersebut sejalan dengan mandat undang-undang terkait.

158

Isu pengawasan terhadap Institusi intelijen makin menguat sejalan dengan tuntutan
demokratisasi intelijen.
Yang menjadi pertanyaan adalah mungkinkah melakukan demokratisasi intelijen melihat
sifat intelijen yang menonjol yaitu melakukan kegiatannya dengan senyap dan penuh
kerahasiaan.
Ada dua hal yang berhadapan yaitu transparansi dan akuntabilitas dengan kerahasian,
sehingga ini bisa dipandang sebagai sebuah oxymoronic.
Pengawasan publik atas badan intelijen dalam sistem demokrasi dianggap penting karena
alasan-alasan sebagai berikut:53
Pertama, berseberangan dengan konsep keterbukaan dan transparansi yang menjadi hal
yang sangat penting dari pengawasan demokratis, badan intelijen seringkali beroperasi
secara rahasia. Karena kerahasiaan dapat menutupi operasi mereka dari pengamatan
publik, maka menjadi penting bagi legislatif dan khususnya eksekutif untuk
memperhatikan dengan seksama operasi-operasi badan tersebut.
Kedua, badan intelijen memiliki kemampuan khusus untuk memasuki wilayah hak milik
pribadi atau komunikasi yang jelas-jelas dapat melanggar prinsip hak azasi manusia. Oleh
sebab itu pegawasan menjadi masalah yang sangat penting dalam sistem demokrasi.
Ketiga, badan intelijen sedang mengalami penyesuaian dengan munculnya ancaman baru
yang disebut Ancaman Non Tradisional yang dapat berupa kejahatan terorganisasi lintas
negara yang dilakukan oleh aktor-aktor non negara, dengan memanfaatkan kondisi dalam
negeri. Ancaman ini dapat dalam bentuk terorisme, gerakan separatis, kejahatan dunia
maya (Cybercrime), kejahatan lintas negara seperti penyelundupan dan pencurian ikan,
pencemaran dan perusakan ekosistem, imigran gelap, pembajakan / perampokan, aksi
radikalisme, konflik komunal, serta dampak bencana alam
Proses penyesuaian ini seharusnya berada dibawah pengawasan otoritas sipil yang dapat
menjamin proses penyesuaian ini akan berjalan sesuai dengan sistem demokrasi.
Pengawasan oleh legislatif dan eksekutif harus memastikan perubahan yang diinginkan,
diterapkan dengan cara yang efisien, karena badan intelijen merupakan badan birokrasi
yang memiliki daya tolak terhadap perubahan dan tingkat kemapanan birokratis tertentu.
Keempat, badan intelijen bertugas untuk mengumpulkan informasi dan membuat analisis
ancaman serta melakukan penilaian tentang adanya ancaman. Karena penilaian ancaman
merupakan titik awal bagi rencana tindakan pasukan keamanan (militer, polisi dan
pasukan penjaga perbatasan) , maka merupakan hal penting bila penilaian ancaman ini
dilakukan dibawah acuan demokratis. Hal ini relevan terutama karena penilaian ancaman
ini berimplikasi terhadap penentuan prioritas ancaman yang dapat mengakibatkan
dampak politis yang besar.
Kelima, berlaku bagi negara-negara yang berada dibawah rezim otoriter dan dalam proses
transisi menuju demokrasi. Pada masa lalu tugas utama badan intelijen dinegara-negara
tersebut adalah melindungi dan menjaga keamanan para pemimpinnya dari rakyat

53

. Bob S. Hadiwinata (Editor), Hans Born dan Ian Leigh - Mendorong Akuntabilitas Intelijen::Dasar
Hukum dan Praktik Terbaik dari Pengawasan Intelijen. Hal 33.

159

mereka. Badan intelijen terutama berperan untuk memenuhi dan menjalankan fungsifungsi represif.
Dalam proses menuju sistem yang demokratis, yang semula lebih menekankan kepasda
pendekatan yang bersifat represif menjadi alat kebijakan keamanan yang modern
menuntut adanya pengawasan yang ketat oleh eksekutif dan legislatif.

Demokratisasi intelijen.
Dalam pemerintahan yang otoriter tujuan dari institusi intelijen adalah mengabdi kepada
kekuasaan dan menekan serta membungkam oposisi.
Dalam posisi ysng demikian institusi intelijen berada dalam kendali partai yang berkuasa
atau menjadi "bagian" dari struktur komando militer atau sebagai badan yang otonom
dalam negara, layaknya "state within state".
Selain itu institusi intelijen dalam rejim otoriter tidak berada dalam pengawasan yang
independen.54
Dalam negara yang menganut sistem demokrasi, pemantauan terhadap musuh negara
tetap menjadi tugas dari institusi intelijen keamanan. Namun perbedaan rejim otoriter
dengan rejim demokratis terletak pada adanya kebebasan berpolitik serta kebebasan
berkompetisi.
Perbedaan yang lain adalah semua kegiatan intelijen harus berada dalam pengawasan
agar dapat berfungsi secara efektif, efisien, tidak melanggar undang-undang dan etika.
Demokratisasi adalah sebuah proses yang panjang dan bergejolak oleh sebab itu mungkin
prosesnya mandek atau malah kembali kearah semula.
Pertanyaan yang selalu muncul adalah bagaimana karakter bidang keamanan termasuk
intelijen dalam sistem pemerintahan yang demokratis?.
Laurie Nathan menggambarkan 6 (enam) faktor yang harus dipenuhi untuk dapat disebut
memenuhi standar demokrasi.55
Keenam faktor tersebut ialah:
*. Supremasi Sipil di Sektor Keamanan ( Civil Supremacy over the Security Sector).
Pimpinan didalam negara demokratis mereprentasikan kalangan sipil yang dipilih
melalui proses pemilihan umum, maka sektor keamanan (sebagai bagian dari
eksekutif) berada pada tanggung jawab kalangan sipil. Mekanismenya adalah bahwa
pemimpin tertinggi militer dan Menteri Pertahanan hendaknya dari kalangan sipil; dan
lembaga keamanan harus mempertanggungjawabkan setiap tindakannya - termasuk
anggaran belaja - kepada badan legislatif.
* Pembagian tanggung jawab ( Division of Responsibility)
Harus ada pembagian yang tegas antara kelompok sipil dan militer. Sementara
kelompok sipil bergerak di bidang politik dan kepemimpinan nasional, kelompok
militer berkonsentrasi dibidang keamanan nasional. Untuk menjaga profesionalitas
militer, maka militer seharusnya tidak melibatkan diri di dalam urusan politik dan
perebutan kekuasaan politik. Sebagai bagian dari pemerintahan demokratis, kalangan
militer maupun sipil harus bersama-sama mempertanggungjawabkan tindakannya
kepada badan pengawas di badabn legislatif yang dipilih oleh rakyat.
54
55

.Peter Gill and Mark Phythian - Intelligence in an Insecure World. Hal 173.
.Bob S. Hadiwinata (Editor), Hans Born dan Ian Leigh - Mendorong Akuntabilitas Intelijen: Dasar
Hukum dan Praktik Terbaik dari Pengawasan. Intelijen. Hal 17..

160

* Legalitas ( Legality)
Dalam rangka untuk memperoleh pengakuan dan legitimasi dari rakyat, maka sektor
keamanan harus tunduk pada prinsip penegakan hukum (rule of law)
Artinya, lembaga keamanan - termasuk intelijen - harus beroperasi atas dasar
perangkat aturan hukum ( Undang-Undang) yang jelas. Undang-Undang juga dapat
memberikan parameter yang jelas bagi operasi-operasi sektor keanananan.
* Kepatuhan terhadap Hak Asasi Manusia ( Respect for Human Rights),
Sekalipun pada waktu tertentu lembaga keamanan dihadapkan pada suatu situasi
dimana dia harus menggunakan kekuatan penuh ( maximum force), dalam
pemerintahan demokratis mereka tetap harus patuh terhadap prinsip universal tentang
Hak Azasi Manusia, terutama hak setiap orang untuk hidup, bebas dari penyiksaan,
dan bebas dari perlakuan semena-mena. Kegagalan untuk memenuhi hal tersebut,
dapat memiliki akibat hukum (nasional maupun internasional)
* Ketidak berpihakan politik (Political Non-partisanship )
Sebagai suatu organ vital pertahanan negara, lembaga keamanan harus mampu
menjaga diri untuk tidak berpihak-baik secara diam-diam maupun terus terang kepada salah satu kekuatan politik, termasuk partai politik. Keegagalan untuk menjaga
netralitas akan berakibat fatal, karena legitimasi dan integritas lembaga tersebut dimata
masyarakat luas menjadi terancam.
* Transparansi ( Transparency)
Dalam rangka memenuhi prinsip sistem administrasi modern yang menekankan pada
akuntabilitas adan transparansi, maka lembaga keamanan harus bersedia menyediakan
informasi yang memadai mengenai aspek-aspek pertahanan negara, terutama kepada
lembaga pengawas di badan legislatif yang dipilih rakyat. Kesediaan untuk
menerapkan prinsip transparansi tidak saja meningkatkan pamor lembaga pertahanan
dimata rakyat, tetapi juga semakin mendekatkan manajemen sektor keamanan pada
prinsip good governance.
Sejak tahun 1980-an ketika negara-negara Eropa Timur dan beberapa negara dikawasan
yang lain, demokratisasi intelijen terutama dalam reformasi hukum lebih nampak sebagai
simbolik daripada perubahan yang benar-benar.
Dibalik pemerintahan baru para perancang perubahan nampaknya belum menyentuh
secara utuh masalah hukum, terutama kerangka hukum untuk intelijen keamanan
Kerangka hukum untuk intelijen keamanan adalah keniscayaan dalam sistem demokrasi,
namun itu tidak cukup dalam pengawasan demokrasi.
Standar pengawasan demokrasi tidak hanya menyangkut bidang hukum, namun termasuk
isu yang lebih luas yaitu isu tata - laku termasuk isu hak asasi manusia dan etika .
Namun demikian ada semacam dilematik antara kebebasan dan pembatasan terhadap
kebebasan.
European Convention on Human Rights (ECHR) pada pasal 8 - 11, secara umum
mencantumkan ada dua alasan utama dimana "kekuasaan khusus" dibolehkan melakukan
tindakan yang membatasi hak (right) .56

56

.Peter Gill and Mark Phythian - Intelligence in an Insecure World . Hal 176.

161

Pertama, pembatasan terhadap kebebasan seseorang (privacy), kebebasan untuk


mengemukakan pendapat, berserikat, dibolehkan asal tidak bertentangan dengan Undang
Undang dan "diperlukan dalam masyarakat demokratis".
Pembatasan terhadap hak seseorang juga dibolehkan apabila dimaksudkan untuk
melindungi keamanan nasional, melindungi moral bangsa, hak orang lain dan keamanan
masyarakat.
Kedua, pembatasan juga dapat dilakukan dalam keadaan khusus seperti negara dalam
keadaan perang atau keadaan darurat (public emergency) yang mengancam kelangsungan
hidup bangsa, meskipun tetap dilarang untuk melakukan penyiksaan dan tindakantindakan lain yang tidak manusiawi..
Sedangkan UU Republik Indonesia No 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia,
menjelaskan pembatasan terhadap hak asasi seperti tertulis dalam pasal 70 dan 73 yang
berbunyi sebagai berikut:
Pasal 70 - Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada
pembatasan yang ditetapkan Undang-Undang dengan maksud untuk menjamin
pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi
tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, keamanan, dan ketertiban umum
dalam suatu masyarakat demokratis.
Pasal 73 - Hak dan kebebasan yang diatur dalam Undang-Undang ini hanya dapat
dibatasi oleh dan berdasarkan Undang-Undang, semata-mata untuk menjamin pengakuan
dan penghormatan terhadap hak asasi manusia serta kebebasan dasar orang lain,
kesusilaan, ketertiban umum dan kepentingan bangsa.
Menyangkut masalah etika intelijen ada yang meragukan, bagaimana mungkin
menggabungkan etika dan intelijen.
Michael Herman mendefinisikan etika sebagai gabungan dari moralitas pribadi dan
utilitas sosial, sedangkan Michael Andregg memandang bahwa etika adalah studi logika
dan paradigma moral.
Dalam kehidupan sehari-hari nilai moral kuno seperti harus jujur, jangan mencuri, jangan
membunuh, menghormati tetangga dan sebagainya dapat ditemui dan ditaati.
Keraguan dan sikap skeptis ini disebabkan oleh beberapa alasan.
Pertama, selama ini intelijen dilihat sebagai institusi yang tidak mengindahkan masalah
etika dan moral karena bagi mereka yang penting bukan kejujuran tetapi tujuan tercapai
sehingga berbohong dan tindakan mengeksploitasi orang lain bukan hal yang harus
menghalangi kegiatan intelijen.
Bagi intelijen seolah berlaku semboyan - Het doel heiligt de middelen, yang artinya
tujuan menyucikan (menghalalkan) cara.
Kedua, meskipun intelijen dijustifikasi demi kepentingan keamanan nasional, namun
penggunaan dimasa damai dipandang sebagai hal yang tidak patut.
Namun dunia intelijen yang berada dalam wilayah abu-abu dalam pemikiran tentang
moral dan menghasilkan dilema dimana intelijen harus menyeimbangkan kepentingan
keamanan nasional yang harus mereka lindungi dengan niali-nilai moral ortodoks yang
melarang berbohong, mencuri, membunuh dan lainnya.

162

Karena itu Michael Andregg mengatakan bahwa etika tidak bisa disamaratakan. Ini
disebabkan oleh dua sudut pandang yang berbeda antara masyarakat diluar intelijen dan
intelijen.
Didalam intelijen sendiri mempunyai pandangan yang berbeda menyangkut nilai
moralitas kebajikan disebabkan tipe profesional intelijen yang berbeda.
Pertama, bagi pengumpul bahan keterangan (collectors) atau badan pengumpul, mereka
memandang bahwa nilai moral terpenting adalah melindungi metode, sumber keterangan,
dan anonimitas nereka.
Kedua, para analis memandang bahwa nilai moral bagi mereka adalah menghindari
produk yang mereka hasilkan sebagai cook intelligence yang dibuat hanya untuk
memenuhi pesanan pengguna. Bagi analis produk intelijen harus Useful yang bermakna
tepat waktu, akurat, relevan, dan actionable bagi pengguna atau pembuat kebijakan.
Ketiga, operator yaitu mereka yang pergi ke berbagai tempat dan melakukan berbagai
hal. Merekalah yang mengendalikan agen-agen untuk melakukan tindakan penetrasi ke
kandang musuh seperti kelompok teroris, melakukan pembunuhan, dan pekerjaan lain
yang penuh resiko.
Bagi mereka nilai moral tertinggi adalah keselamatan dan keamanan operasi mereka
termasuk keselamatan para agen dan dirinya sendiri.
Keempat, manajer yang mengorganisasikan pekerjaan termasuk pendanaannya bagi
seluruh kegiatan organisasi serta profesional yang disebutkn diatas.
Nilai moral tertinggi mereka adalah keberhasilan organisasi ditengah tantangan
persaingan dengan para birokrat.
Kelima, pembuat kebijakan yang membuat kebijakan yang membawa efek yang paling
besar. Secara teoritis semua profesional intelijen adalah mendukung kebijakan yang
dibuat oleh pembuat kebijakan.
Namun karena umumnya pembuat kebijakan adalah para politisi maka bertolak belakang
dengan para analis.
"Kebenaran" bagi mereka tidak begitu penting dibandingkan dengan "kemanfaatan" dan
kepraktisan perangkat mereka dalam pertarungan politik.
Berdasarkan hal-hal diatas maka dalam menetapkan suatu perangkat etika sebagai aspek
pengawasan bagi intelijen tidak boleh menafikan aspek-aspek intelijen yaitu:
Pertama intelijen sebagai pengetahuan, kegiatan dan organisasi.
Kedua, intelijen dengan karakter kerahasiaannya.
Ketiga, kompartemetasi dalam organisasi intelijen

Sistem pengawasan.

163

Sistem pengawasan intelijen berbeda dari satu negara dengan negara lainnya. Ini sangat
tergantung kepada sistem politik, pemerintahan, budaya dan sistem hukum yang
dianutnya.
Negara-negara yang dipengaruhi oleh tradisi sistem hukum Anglo Saxon atau dikenal
dengan Common Law atau Unwritten Law, cenderung lebih menekankan kepada aspek
pengawasan dan pengendalian yudisial.
Sedangkan negara-negara Eropa daratan yang dipengaruhi Sistem Hukum Kontinental
atau dikenal dengan istilah Civil Law lebih mengedepankan pengawasan legislatif,
meskipun seperti Perancis yang belum menginginkan parlemen untuk terlibat dalam
pengawasan intelijen.
Amerika Serikat meskipun dipengaruhi tradisi Hukum Anglo Saxon lebih
mengedepankan pengawasan legislatif, sedangkan Kanada yang juga dipengaruhi tradisi
hukum Anglo Saxon memilih bentuk Komisi yaitu Komisi Peninjauan Intelijen
Keamanan (Security Intelligence Review Committee)..
Lain lagi dengan negara-negara Nordik seperti Norwegia yang memiliki sebuah Komisi
Independen untuk mengawasi badan intelijen.
Anggota Komisi Independen ini dipilih oleh Parlemen.. Komisi Independen ini setiap
tahun membuat laporan tahunan kepada Parlemen serta laporan khusus sesuai keperluan.
Dalam masyarakat demokratis yang modern, ada kebutuhan akan sistem pengawasan
yang memastikan kepatuhan kepada hukum yang mengatur kegiatan badan intelijen.

Pengawasan Intelijen menurut Peter Gill.57


Level of Control /
Oversight
Form of control

1. Agencies

Guidelines

2. Executive
branch
Ministerial
directions

3. Other
4. Citizens
state
and groups
institutions
Statutes,
cases

Manifestos

drawn up by
57

. Peter Gill - Policing Politic:Security Intelligence and Liberal Democratic State. Hal 252
Ibid - h al 173

56.

164

Institutions
of control

e.g. Director

e.g. Attorney
General

Assemblies,
Courts

Political
Parties,
NGOs

report to

Institutions
Of oversight

e.g. Office of
Professional
Responsibility

e.g. Inspector
General

e.g.
Oversight
.
committees
Media /
Commissions Citizens

Secrecy
Seperti telah diuraikan bahwa pengawasan diartikan sebagai proses manajemen yang
tidak berhubungan dengan kegiatan manajemen harian, tetapi lebih kepada untuk
menjamin bahwa kebijakan dan kegiatan serta metode yang dikerjakan oleh badan
intelijen tidak menyimpang dan tidak bertentangan dengan Undang-Undang.
Prinsip pengawasan ini sesuai dengan peribahasa yang berbunyi - "stable doors should be
shut before the horses can bolt".58
Peter Gill dan Mark Phythian membagi pengawasan kedalam 2 kelompok utama yaitu:
a. Pengawasan Internal yang terdiri dari pengawas Internal Badan Intelijen sendiri serta
kekuasaan Eksekutif lainnya,.
b. Pengawasan Eksternal yang terdiri dari institusi negara lainnya yaitu kekuasaan
legislatif dan yudikatif, serta pengawasan masyarakat dan media..
Sedangkan Aleksius Jemadu memformulasikan tugas pengawasan sebagai berikut;59
a..Kekuasaan eksekutif untuk mengawasi manajemen badan intelijen.
b..Kekuasaan judikatif untuk menghukum tiap pelanggaran hukum.
c. Kekuasaan legislatif bertanggung jawab untuk menyediakan kerangka kerja legal bagi
badan intelijen dan untuk memeriksa dengan teliti kepatuhan badan intelijen terhadap
Undang-Undang
Masalah pengawasan terhadap intelijen merupakan persoalan dibanyak negara, terutama
setelah gencar-gencarnya kampanye hak-hak sipil.
Sebagian masyarakat yang belum memahami peran dan fungsi intelijen, mengganggu hak
hak individu.mengkhawatirkan kegiatan intelijen terutama kegiatan tertutup akan
melanggar dan mengganggu hak-hak individu.
Ada yang berpendapat sebaiknya organisasi intelijen ditempatkan dibawah DPR seperti
dilontarkan oleh Amin Rais. Sistem ini seperti yang dianut negara-negara Eropa daratan
yang menempatkan pengawasan legislatif berada didepan.
58
59

. Praktek - praktek Intelijen dan Pengawasan Demokratis (2007)- Pandangan Praktisi, Editor - Aleksius
Jemadu.

165

Tetapi ada juga yang berpendapat bahwa intelijen harus ditempatkan sesuai fungsinya
yaitu melayani kebutuhan pengambil keputusan dan penentu kebijakan yaitu pemerintah
yang berarti lebih menekankan kepada pengawasan eksekutif..
Pendapat ini didasarkan kepada tugas utama intelijen yaitu :
Pertama, menyediakan dan memasok informasi yang telah diolah dengan bahan
keterangan yang cukup, mutakhir, dan tepat waktu, kepada penentu kebijakan sebagai
dasar pengambilan keputusan.
Kedua, intelijen harus mampu menyediakan intelijen yang telah teruji, tentang
perkembangan dan kecenderungan yang dapat atau mungkin membahayakan atau
mengganggu kepentingan nasional dan keamanan masyarakat. Yang terpenting intelijen
yang disampaikan harus memenuhi persyaratan kelengkapan dan dapat dipercaya.
Ketiga, penentu kebijakan ataupun para perencana memerlukan berbagai perkiraan atau
estimate tentang sesuatu hal pada masa tertentu.
Ada satu pemahaman bahwa penguasaan informasi merupakan unsur kekuatan yang
sangat penting bagi suatu negara, terlepas dari sistem pemerintahan yang dianut apakah
sistem demokrasi atau despotik.
Informasi yang tidak mudah diperoleh dan dicari dengan cara lain serta pembatasan
terhadap penyebaran intelijen merupakan pilar utama dalam dunia intelijen. Dengan
menguasai informasi yang diperoleh dengan cara-cara tertutup seperti kegiatan spionase
ataupun bentuk operasi-operasi yang lain, penyadapan, dan bergerak dalam kerahasiaan,
aparat intelijen dipandang memiliki kemampuan yang luar biasa.
Namun sebaliknya apabila dilepas tanpa pengawasan mempunyai potensi yang dapat
membahayakan pemerintah sendiri dan tidak mustahil digunakan untuk mengkhianati
atau menyesatkan pengambil keputusan.
Peran ini dianggap sangat berbahaya bila dilakukan tanpa pengawasan dalam arti bila
intelijen membuat cook intelligence yang dapat menyesatkan penentu kebijakan dalam
merumuskan kebijakan.
Oleh sebab itu kemampuan kekuasaan eksekutif untuk mengawasi intelijen secara efektif
merupakan hal yang sangat vital.
Persoalannya adalah bagaimana dan sejauh mana pengawasan terhadap intelijen dapat
dilakukan karena menentukan parameter sistem pengawasan intelijen bukan perkara yang
mudah. Dalam negara yang menganut sistem demokrasi pengawasan terhadap intelijen
dilakukan bersama antara kekuasaan legislatif dan kekuasaan eksekutif.
Sebagai contoh, dalam penetapan anggaran dan pengalokasiannya yang bersifat umum
mungkin tidak akan mendapat tantangan berat dari badan legislatif , berbeda dengan
pengawasan terhadap kegiatan rahasia yang mungkin dianggap mengganggu dan
melanggar hak warganegara mengingat sifat operasi yang tertutup, namun badan legislatif
menganggap hal ini perlu dilakukan sebagai langkah politik yang penting.
Tingkat kerahasiaan dan pengamanan yang tinggi yang melekat pada sifat intelijen
menimbulkan pembatasan tertentu kepada anggota legislatif dalam melaksanakan
fungsinya. Setiap anggota legislatif yang berhubungan langsung dengan pengawasan
memerlukan Security Clearance sampai klasifikasi Sangat Rahasia. Yang
mengeluarkan Security Clearance adalah kekuasaan eksekutif, tetapi eksekutif tidak
memiliki landasan atau dasar untuk memberi atau menolak Security Clearance bagi

166

anggota legislatif karena itu akan melanggar azas pemisahan kekuasaan. Dalam waktu
yang bersamaan anggota yang telah memperoleh Security Clearance tidak berarti
memiliki akses kepada seluruh aktifitas intelijen.
Pembatasan juga berlaku bagi penyebaran intelijen sehingga informasi yang
berklasifikasi tinggi hanya boleh diberikan kepada mereka yang berada dalam Komite
Intelijen di badan legislatif.
Bentuk pengawasan lain yang sering dilakukan adalah dengan membentuk Komisi.
Masalah penting yang menjadi isu utama pengawasan adalah mengenai: anggaran,
ketanggap segeraan intelijen terhadap kebutuhan pengambil keputusan / penentu
kebijakan, kualitas produk intelijen sebagai hasil analisis, kegiatan operasi intelijen, dan
sisi-sisi kelayakan dan kepatutan dalam melakukan aktifitasnya.
Amerika Serikat memiliki keunikan dalam pengawasan intelijen dengan memberi
tanggung jawab pengawasan yang luas kepada kekuasaan legislatif yaitu Kongres.

Isu pengawasan oleh kekuasaan eksekutif.


Titik sentral isu pengawasan oleh eksekutif adalah apakah komunitas intelijen telah
melakukan fungsinya secara benar yaitu apakah intelijen telah mampu memasok
kebutuhan intelijen kepada pengambil keputusan atau penentu kebijakan sesuai dengan
kebutuhan baik dari sisi substansi maupun waktu, kepatuhan terhadap norma-norma dan
kaidah intelijen dalam melakukan analisis, dan kemampuan yang diperlukan untuk
melakukan kegiatan intelijen seperti kegiatan pengumpulan bahan keterangan baik secara
terbuka maupun tertutup.
Pembuat keputusan tidak dapat meletakkan kepercayaan sepenuhnya terhadap intelijen,
dan dilain pihak pejabat tinggi pemerintah yang mempunyai hubungan erat dengan
kegiatan intelijen seperti Menteri Pertahanan, Menteri Luar Negeri, Menteri Hukum
dan HAM atau Presiden sendiri tidak mungkin mengawasi dan mewaspadai komunitas
intelijen sepanjang waktu.
Sistem pengawasan kekuasaan eksekutif terhadap intelijen di Amerika Serikat dilakukan
oleh Dewan Keamanan Nasional untuk Program Intelijen atau National Security
Council Office of Intelligence Program.
Dewan Keamanan Nasional merupakan badan pengawas eksekutif tertinggi yang
melakukan pengawasan sehari-hari terhadap kegiatan intelijen di samping menetapkan
kebijakan dalam bidang intelijen.
Sejak pemerintahan Dwight D.Eisenhower fungsi pengawasan intelijen diletakkan
kepada satu badan yang disebut Presidents Foreign Intelligence Advisory Board (PFIAB)
sebagai badan pengawas yang lebih tinggi dan lebih terarah dari apa yang dilakukan oleh
National Security Council Office of Intelligence Program.
Keanggotaan PFIAB ditunjuk oleh Presiden, biasanya terdiri dari mantan pejabat senior
pemerintah yang berkecimpung dalam proses penentuan kebijakan serta perorangan yang
memiliki latar belakang dalam bidang perdagangan yang relevan.
Hubungan PFIAB dengan pembuat kebijakan kadang-kadang berada dalam situasi yang
tidak menyenangkan seperti hubungan intelijen dengan pembuat kebijakan, padahal
hubungan antara intelijen disatu sisi dengan pembuat kebijakan disisi lain memiliki
kepentingan yang krusial dan memerlukan perhatian khusus.
Ketidak serasian itu terjadi kalau pembuat kebijakan tidak sejalan dengan PFIAB, karena
PFIAB memiliki ruang untuk tidak sejalan dengan pemerintah sesuai fungsinya yaitu

167

merespon berbagai persoalan intelijen atau membuat inisiatif untuk satu kegiatan
intelijen. Undang-Undang Intelijen Amerika Serikat 2004 telah menambahkan badan
pengawas baru dalam jajaran kekuasaan eksekutif, dan lahirlah yang disebut Dewan
Komunitas Intelijen Gabungan atau Joint Intelligence Community Council (JICC).
JICC dipimpin oleh Direktur Intelijen Nasional (DNI) dengan keanggotaannya termasuk:
Menteri Luar Negeri, Keuangan, Pertahanan, Energi, Keamanan Dalam Negeri, dan Jaksa
Agung.
JICC bertindak sebagai penasihat dan memberi masukan kepada DNI dalam masalah
kebutuhan intelijen, anggaran, kinerja, dan evaluasi. Meskipun demikian setiap anggota
JICC dapat menyampaikan pendapat dan masukan yang berbeda kepada Presiden dalam
suatu masalah, dengan apa yang disampaikan oleh DNI kepada Presiden.
Kewenangan seperti ini menyulitkan DNI, karena kedudukan anggota kabinet jelas lebih
tinggi dengan kewenangan yang lebih besar dibanding DNI.
Kekuasaan eksekutif di Amerika Serikat cenderung untuk menitik beratkan pengawasan
kepada isu yang berhubungan dengan spionase atau kegiatan tertutup lainnya, meskipun
isu-isu yang berhubungan dengan hasil analisispun tidak dikesampingkan.
Semua kegiatan tertutup harus dengan persetujuan Presiden.
Karena berbagai tekanan politik dalam masa pemerintahan George W.Bush dibentuk
Komisi yang bertugas untuk melakukan penilaian terhadap kinerja intelijen.
Meningkatnya pemanfaatan Komisi telah memunculkan berbagai pertanyaan dan
keraguan:
Pertama, secara definisi pembentukan Komisi lebih bersifat politis, pembentukan Komisi
adalah upaya pemerintah untuk mendapatkan keuntungan politik dan meredam tekanan
politik.
Kedua, Komisi yang dibentuk pemerintah selalu menimbulkan pertanyaan tentang
obyektifasnya, karena biasanya anggota Komisi terdiri dari individu dengan latar
belakang dan pandangan politik yang beragam.
Ketiga, dengan keadaan seperti itu menimbulkan pertanyaan tentang tingkat
profesionalisme dan bagaimana tingkat pemahaman dan kepakarannya dalam
menghadapi isu inrelijen.
Intelijen seperti juga profesi lain memiliki kamus, kaidah, norma, dan praktek-praktek
sendiri yang tidak mudah dimengerti dan dipahami oleh komunitas diluar intelijen.
Dengan demikian hasil investigasi Komisi akan diragukan validitasnya sehingga tingkat
kegunaannya pun akan minimal.
Sebaliknya apabila terlalu banyak mantan-mantan intelijen dilibatkan didalam Komisi
akan menimbulkan penilaian yang bias terhadap Komisi.
Di Indonesia ketentuan pengawasan oleh kekuasaan eksekutif tidak dirumuskan dengan
jelas. Undang- Undang Nomor 17 Tahun 2011 tentang Intelijen Negara - pasal 43 , ayat
(1) tentang Pengawasan hanya menjelaskan bahwa pengawasan internal untuk setiap
penyelenggara Intelijen Negara dilakukan oleh pimpinan masing-masing.

Isu pengawasan oleh kekuasaan legislatif.


Pendekatan pengawasan intelijen oleh kekuasaan legislatif dilakukan dari perspektif yang
berbeda namun setara dengan pengawasan yang dilakukan oleh kekuasaan eksekutif.

168

Kesulitan dan perbedaan pengawasan oleh kekuasaan legislatif terletak kepada tidak
satunya suara kekuasaan legislatif, yang berbeda dengan kekuasaan eksekutif yang selalu
satu suara.
Sebagai akibat dari tidak adanya satu suara dan untuk mencapai kesepakatan selalu
dilakukan melalui voting, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang apakah kekuasaan
legislatif bekerja berdasarkan kenyataan atau dilatar belakangi oleh kepentingan lain.
Namun kekuasaan legislatif memiliki daya ungkit untuk melakukan fungsi pengawasan.
Pertama, pengawasan anggaran.
Pengawasan terhadap anggaran pemerintah merupakan daya ungkit kekuasaan legislatif
yang paling penting. Secara tehnis dapat dikatakan pengalokasian anggaran program
hanya dapat diberikan untuk program yang telah mendapat otorisasi.
Kedua, forum dengar pendapat
Dengar pendapat merupakan alat yang penting dalam proses pengawasan dengan
meminta keterangan dan penjelasan dari pejabat yang bertanggung jawab, serta mencari
pandangan lain dari sumber yang relevan. Dengar pendapat dapat dibuka kepada publik
atau tertutup tergantung substansi yang dibahas. Pemerintah biasanya menggunakan
forum dengar pendapat untuk menyampaikan pilihan kebijakan dan merupakan
kesempatan untuk menjual pilihan kebijakan tersebut. Pejabat intelijen umumnya tidak
menggunakan kesempatan dengar pendapat untuk menjual kebijakan baik mendukung
atau menolak suatu kebijakan, tetapi lebih kepada penyampaian pandangan komunitas
intelijen tentang suatu isu tanpa menyentuh masalah kebijakan yang telah ditetapkan.
Dengan demikian intelijen akan terlindung dari tuduhan legislatif akan netralitasnya
karena ada rambu-rambu pemisah yang jelas antara kebijakan dan intelijen, kecuali bila
intelijen dipandang telah melanggar rambu-rambu itu.
Ketiga, nominasi.
Kekuasaan Legislatif dalam Sistem pemisahan kekuasaan seperti di Amerika Serikat,
khususnya Komite Pemilihan Senat untuk intelijen memiliki kekuatan politik untuk
menyetujui atau menolak pencalonan pejabat intelijen.
Kritik terhadap proses nominasi ini muncul bukan hanya dalam proses nominasi pejabat
intelijen, namun lebih luas.
Proses nominasi oleh Senat dilihat lebih bersifat politis dan pribadi, tidak ada
keterkaitannya dengan masalah profesionalisme atau tepatkah seseorang untuk jabatan
tertentu, karena keputusan lolos atau tidaknya calon ditentukan oleh suara mayoritas
Komite Pemilihan Senat.
Para pendukung kewenangan ini menjelaskan bahwa proses nominasi memang proses
politik dan Senat tidak hanya menjadi tukang stempel, namun melakukan pemilihan
melalui proses yang hati-hati meskipun mungkin nampak dan terasa mengganggu.
Terlepas dari pro dan kontra terhadap kewenangan ini dan siapa yang benar atau yang
salah, yang pasti kewenangan nominasi Senat telah menunjukan kapasitasnya dan
kekuasaannya.
Keempat, perjanjian atau Treaty.
Kewenangan dan kekuasaan Senat lainnya adalah memberi masukan dan persetujuan
terhadap ratifikasi sebuah perjanjian.

169

Tidak seperti nominasi yang memerlukan suara mayoritas dari anggota Senat yang hadir,
pada masalah perjanjian diperlukan suara dua pertiga dari yang hadir.
Komite Pemilihan Senat untuk Intelijen diberi tugas dan tanggung jawab untuk
melakukan evaluasi terhadap kemampuan komunitas intelijen dalam memonitor
perjanjian.
Memonitor pelaksanaan sebuah perjanjian adalah fungsi intelijen, terutama untuk
melihat, meneliti, memonitor adanya kemungkinan penyimpangan pelaksanaan sebuah
perjanjian.
Kelima, keperluan terhadap laporan.
Pemisahan kekuasaan antara kekuasaan legislatif dengan kekuasaan eksekutif telah
menempatkan informasi pada posisi khusus.
Kekuasaan eksekutif cenderung menyampaikan informasi yang dapat mendukung
kebijakannya. Sebaliknya kekuasaan legislatif menginginkan informasi yang lebih luas
dari yang dilaporkan oleh kekuasaan eksekutif sebagai dasar pengambilan keputusan.
Untuk memperluas akses kekuasaan legislatif, Kongres di Amerika Serikat telah
melembagakan dengan mengharuskan kekuasaan eksekutif membuat laporan baik secara
berkala ataupun sesuai keperluan, dengan apa yang disebut Congresionally Directed
Actions atau CDAs.
CDAs kebanyakan merupakan kajian yang dilakukan oleh Intelijen Komuniti atas
permintaan Kongres. Landasan yang digunakan adalah Intelligence Authorization Act.
CDAs merupakan kesempatan bagi Kongres untuk mendapatkan informasi yang
diinginkan dari kekuasaan eksekutif. Sebagai sebuah peraturan CDAs dirasakan
mengganggu bagi bagian yang membuat laporan terutama dari sisi waktu yang
dipergunakan. Timbul pula pertanyaan tentang sejauh mana laporan ini digunakan dan
dimanfaatkan oleh Kongres secara substantif.
Keenam, investigasi dan pelaporan.
Salah satu fungsi Legislatif adalah investigasi. Laporan investigasi pada umumnya
memuat hasil temuan dan rekomendasi untuk melakukan perubahan-perubahan yang
diperlukan.
Oleh sebab itu investigasi dianggap alat yang penting untuk mengungkapkan kekurangan
atau kelemahan dan pelanggaran-pelanggaran serta membantu kekuasaan eksekutif untuk
menetapkan arah kebijakan baru.
Laporan sebuah investigasi tentang intelijen biasanya singkat karena pertimbangan
keamanan dan kerahasiaan.
Namun demikian Komite Intelijen yang melakukan investigasi harus dapat meyakinkan
anggota legislatif yang lain dan juga masyarakat bahwa investigasi telah dilaksanakan
dengan mengeluarkan semacam dokumen kebijakan yang berisi hal-hal yang harus
dilakukan dan ditindak lanjuti oleh pemerintah.
Hal ini disebabkan oleh sifat legislatif yang merupakan tempat para partisan, yang terdiri
dari partai pendukung pemerintah dan partai yang bersikap oposisi terhadap pemerintah.
Situasi ini dapat memberi pengaruh terhadap kegiatan dan hasil investigasi, sehingga
kemampuan legislatif untuk bersikap obyektif selalu dipertanyakan. Padahal legislatif
memiliki tanggung jawab terhadap tampilan dan kinerja intelijen dalam melakukan
pengawasan yang baik dan objektif dan penyediaan anggaran yang cukup.

170

Ketujuh, penyanderaan.
Yang dimaksud dengan penyanderaan adalah sifat yang sering digunakan legislatif untuk
mencapai kesepakatan dengan pemerintah, dengan menempatkan pemerintah pada posisi
yang tidak mudah dalam melaksanakan suatu kebijakan yang telah ditetapkan. Tindakan
legislatif ini misalnya dengan menahan atau menunda persetujuan terhadap anggaran
intelijen yang diajukan pemerintah sampai pemerintah membuka ruang untuk mengubah
kebijakan sesuai dengan tuntutan legislatif.
Sikap ini menimbulkan kritik dan dianggap sikap yang tidak cerdas. Namun para
pendukung sikap ini menjelaskan bahwa cara ini hanya akan digunakan legislatif apabila
cara-cara lain tidak memberi hasil.
Kedelapan, pemberitahuan pendahuluan tentang kegiatan tertutup.
Legislatif menghendaki adanya pemberitahuan pendahuluan tentang rencana kegiatan
tertutup.Meskipun legislatif menyatakan hal ini sebagai suatu ketentuan, namun
umumnya pemerintah keberatan tentang hal ini sehingga menimbulkan potensi
perselisihan antara pemerintah dengan legislatif.
Pengawasan oleh kekuasaan legislatif di Indonesia ditegaskan dalam Undang-Undang
Nomor 17 tahun 2011 tentang Intelijen Negara -pasal 43, ayat (2), (3) dan (4) yang
berbunyi sebagai berikut:
(2). Pengawasan eksternal penyelenggara Intelijen Negara dilakukan oleh komisi di
Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia yang khusus menangani bidang Intelijen.
(3) Dalam melaksanakan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), komisi
membentuk tim pengawas tetap yang terdiri atas perwakilan fraksi dan pimpinan komisi
di Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia yang khusus menangani bidang
Intelijen serta keanggotaannya disahkan dan disumpah dalam Rapat Paripurna Dewan
Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dengan ketentuan wajib menjaga Rahasia
Intelijen.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pembentukan tim pengawas tetap sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Isu pengawasan oleh kekuasaan yudikatif atau Yudisial.


Pengendalian dan pengawasan yudisial tidak seluas pengawasan eksekutif ataupun
legislatif.
Lembaga yudikatif menangani isu-isu legal, dan bukan isu-isu kebijakan. Yudikatif
meninjau dan mengartikan kesesuaian perundangan dengan konstitusi.
Tugas yudikatif dalam pengawasan dan pengendalian intelijen terlihat sangat sederhana,
namun dari waktu ke waktu dapat menjadi signifikan ketika sedang dilakukan peninjauan
terhadap tata cara pelaksanaan kegiatan dan operasi intelijen.
Oleh karena kegiatan dan operasi intelijen dapat menjadi objek peninjauan pengadilan
yang independen, suatu pengendalian antisipatif dapat terbentuk. Meskipun judikatif
lebih merujuk kepada badan eksekutif menyangkut masalah-masalah intelijen,
pengendalian yudisial dapat berperan sebagai pihak yang menentukan tingkat kerahasiaan
pemerintah dengan cara-cra yang efektif.

171

Pengawasan yudisial pada dasarnya untuk meletakkan bahwa intelijen tidak berada diatas
hukum sehingga setiap kegiatan dan operasi intelijen tidak melanggar ketertiban
konstitusional.
Ketertiban konstitusional mencakup berbagai kebebasan dasar dan hak asasi. Badan
intelijen tidak boleh melanggar dan mengancam kemerdekaan dan hak asasi dengan cara
melawan hukum.
Dalam negara yang demokratis, badan intelijen dilarang oleh hukum untuk melakukan
wewenang dan tindakan polisional atau kewenangan penegakan hukum lainnya.
Salah satu cara untuk mengawasi badan intelijen dan untuk melindungi hak-hak sipil
adalah dengan membentuk kantor Ombudsman..

Isu pengawasan publik.


Publik dapat berperan secara tidak langsung dalam pengawasan intelijen, agar badan
intelijen bergerak dalam alur yang benar dalam arti tidak melanggar hukum ataupun
melanggar hak asasi manusia dan hak sipil.
Oleh sebab itu peran organisasi masyarakat sipil - organisasi non pemerintah serta media
menjadi penting dalam melakukan pengawasan.
Untuk dapat melakukan pengawasan dengan efektif maka publik perlu mendapatkan
akses yang cukup terhadap informasi yang dimiliki oleh badan intelijen.
Namun tidak dapat dipungkiri bahwa kerahasiaan merupakan keniscayaan bagi dunia
intelijen, sehingga tidak semua informasi dapat diakses secara leluasa oleh publik. Disisi
lain trasparansi merupakan tuntutan dalam sistem demokrasi.
Organisasi masyarakat sipil memainkan peran penting dalam mengartikulasikan
kepentingan untuk mewujudkan pemerintah yang bertanggung jawab dan dapat
menjelaskan kepada publik apabila terjadi pelanggaran terhadap kebebasan sipil dan hak
asasi manusia. Oleh sebab itu tingkat kerahasiaan intelijen diatur oleh Undang-Undang
sehingga dapat ditetapkan informasi mana yang terbuka kepada publik dan mana yang
tidak

Bagaimana sistem pengawasan intelijen Indonesia sebaiknya ditata.


Sistem pengawasan intelijen Indonesia perlu segera disesuaikan dengan perkembangan
sistem demokrasi Indonesia yaitu keseimbangan pengawasan oleh DPR dan Pemerintah,
namun bukan melalui sistem pemisahan kekuasaan antara legislatif dan eksekutif seperti
yang umumnya dianut negara-negara barat, tetapi berdasarkan azas pembagian kekuasaan
sehingga tercipta kemitraan antara DPR dengan Pemerintah.
Meskipun pengawasan dilakukan baik oleh DPR maupun oleh Pemerintah, organisasi
intelijen sebaiknya tetap ditempatkan di bawah kekuasaan eksekutif dengan
pertimbangan kerahasiaan dan kecepatan bertindak, selain tugas utama intelijen adalah
memasok keperluan intelijen bagi pengambil keputusan yaitu pemerintah.
Penempatan intelijen dibawah DPR akan mengganggu kecepatan dan kerahasiaan
kegiatan intelijen, mengingat setiap keputusan di DPR dilakukan melalui voting dan
kepemimpinan yang tersebar.
Selama ini DPR sudah menjalankan fungsi pengawasan melalui Komisi I DPR dengan
segala kewenangan yang dimiliki DPR namun nampak belum efektif, demikian juga
fungsi pengawasan oleh Pemerintah.
Organisasi Intelijen Negara di Indonesia yaitu BIN, Panglima TNI yang membawahi
BAIS -TNI, Kapolri dengan Badan Keamanan Intelijen Polri - nya, maupun Jaksa Agung

172

selama ini bertanggung jawab langsung kepada Presiden.


Dalam satu saat pernah Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) berpangkat Menteri.
Dengan pola struktur seperti itu pengawasan oleh kekuasaan eksekutif tidak akan berjalan
secara optimal mengingat ruang lingkup tugas dan kesibukan Presiden.
Pola pengawasan oleh kekuasaan eksekutif dapat dijalankan melalui beberapa pola. Salah
satu diantaranya ialah menempatkan pengawasan oleh pemerintah melalui satu Badan
atau Komite Tetap yang terdiri dari Menteri Sekretaris Kabinet, Kepala Badan Intelijen
Negara, Kepala Sandi Negara, Panglima TNI, Menteri Luar Negeri, Menteri Keuangan
dan Mantan Pejabat negara yang kompeten dalam bidang intelijen sesuai keperluan.
Badan atau Komite Tetap ini diketuai oleh Menteri Sekretaris Kabinet dengan tugas
sebagai berikut:
- Melakukan supervisi dalam bidang anggaran intelijen.
- Melakukan supervisi terhadap Komunitas Intelijen Nasional secara luas.
- Memberi persetujuan terhadap prioritas kegiatan intelijen lintas Kementerian.

Lampiran.

Pendekatan Penilaian dan Manajemen Resiko .


(A Risk Assessment and Management Approach) 60
Pendekatan Penilaian dan Manajemen Resiko membutuhkan tahapan langkah sebagai
berikut:
1. Infrastruktur kritis dan kelompok asset kunci (Critical infrastructure and key
asset inventory).
2. Penilaian kritikalitas (Criticality assessment).
3. Penilaian ancaman (Threat assessment).
4. Penilaian kerawanan (Vulnerability assessment).
5. Kalkulasi resiko (Risk calculation).
6. Tindakan kontra identifikasi (Countermeasure Identification).
60

. Assessing and Managing the Terrorism Threat - Bureau of Justice Assistance, US Department of Justice.

173

Setiap Lembaga dan berbagai literatur berbeda dalam menetapkan langkah yang harus
dilalui.

I. Penilaian Resiko (Risk Assessment).


I.1. Penilaian kritikalitas: Evaluasi Asssets.
Departement of Homeland Security Amerika Serikat mendefinisikan Penilaian
Kritikalitas (Critically Assesment) sebagai berikut:
Upaya secara sistimatik untuk mengidentifikasikan dan mengevaluasi asset penting
dan kritis dalam wilayah hukum tertentu. Penilaian kritikalitas dapat membantu para
perencana untuk menetapkan asset yang relatif penting, membantu menetapkan
prioritas untuk mengalokasikan sumber daya ke asset yang paling kritis.
Bagian yang paling esensial dari persamaan resiko (risk equation) adalah
mempertimbangkan konsekuensi dari kehilangan atau kerusakan yang serius dari
infrastuktur penting, sistem atau asset lainnya.
Mengukur kritikalitas, atau nilai asset, menentukan kepentingan paling tinggi dari asset.
Kehilangan jiwa dan kehancuran dari asset penting adalah hal-hal yang paling penting
dari para pelaksana penegakan hukum. Kerusakan dan kehilangan dari sasaran-sasaran
simbolik, yang dapat menjadi peliputan pers secara luas dan yang diinginkan teroris juga
penting, karena dapat menghancurkan kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan
penegak hukum dan pemerintah dalam melindungi kepentingan publik.
Dalam melakukan penilaian kritikalitas dalam derajat tertentu dapat melibatkan
subjektifitas. Penilaian harus didasarkan kepada pengetahuan yang dipahami secara
professional oleh institusi penegak hukum dan institusi lain yang terkait untuk mengukur
tingkat kepentingan dari setiap sasaran potensil.
Bagaimanapun penilaian yang jernih dan objektif adalah keharusan bila menyangkut
kemungkinan jatuhnya korban manusia.
Fasilitas tertentu yang dipandang rawan dan harus dilihat sebagai infrastruktur kritis atau
asset kunci oleh penegak hukum:
-

Fasilitas transportasi, terminal, dan daerah tertentu yang merupakan konsentrasi


manusia.
Fasilitas publik listrk, air, gas alam, dan pengelolaan limbah.
Fasilitas publik dan pemerintah, bangunan simbolik, balai kota, gedung-gedung,
kator polisi, pemadam kebakaran, gedung sekolah, stadion, museum, dan
monumen.
Lembaga keuangan dan per bank-an.
Kementerian Pertahanan serta industri dan pusat-pusat riset yang berhubungan
dengan masalah pertahanan.
Pendukung sistem transportasi radar, jembatan, terowongan-terowongan,
dermaga, dan alat bantu navigasi..
Rumah sakit dan fasilitas kesehatan baik milik swasta maupun pemerintah.
174

Bangunan serta fasilitas pelayanan teknologi informasi / cyber.

I.2. Kalkulasi kritikalitas (Calculating Criticality).


Skala lima titik (Five Point Scale) dapat digunakan untuk membuat perkiraan (estimate)
dampak kerugian jiwa manusia maupun properti, terganggunya penggunaan fasilitas atau
asset lainnya, atau keuntungan yang diperoleh oleh musuh.
a. Ekstrim (Extreme) atau Skala 5.
Kerugian dalam bentuk kehilangan jiwa yang substansial atau kerusakan fasilitas yang
permanen serta tidak dapat diperbaiki lagi atau memerlukan perbaikan yang sangat
mahal.
Kerusakan dan berkurangnya kemampuan sistem akan memberi keuntungan yang tidak
ternilai kepada musuh. (liputan pers, keuntungan politik, atau keuntungan taktik yang
diperoleh musuh dalam melakukan tujuannya lebih lanjut).
b. Tinggi (High) atau Skala 4.
Kerusakan yang serius dengan kerugian yang sangat besar terhadap fasilitas, atau
menimbulkan dampak yang positif bagi musuh.. Tidak ada korban jiwa,
c. Sedang (Medium) atau Skala 3.
Menimbulkan gangguan pada operasi sistem dan fasilitas untuk sementara waktu,
perbaikan meskipun mahal tidak akan menimbulkan kehilangan kemampuan fasilitas
secara signifikan. Tidak ada korban jiwa.
d. Rendah (Low) atau Skala 2.
Mengakibatkan gangguan kecil pada pengoperasian dan kemampuan fasilitas, namun
tidak menimbulkan keuntungan material apapun bagi pihak lawan. Tidak ada korban
jiwa.
e. Diabaikan (Negligible) atau Skala 1.
Menimbulkan kerusakan atau kerugian yang tidak berarti.bagi pengoperasian sistem atau
fasilitas maupun terhadap biaya. Tidak ada korban jiwa.
Kritikalitas Ekstrem dan tinggi merupakan concern yang paling tinggi. Ketika dengan
tingkat ancaman yangtinggi serta kerawanan yang tinggi, maka diperlukan tindakan
perlawanan (counteraction).

I.3.Penilaian ancaman (Threat Assessment).


Department of Home Security- Amerika Serikat mendefinisikan Penilaian Ancaman sebagai
berikut:
Upaya sistematik untuk mengidentufikasikan ancaman nyata atau potensil teroris di

wilayah hukum tertentu beserta obyek sasarannya.. Karena kesulitan dalam melakukan
penilaian secara tepat dan akurat tentang kemampuan teroris, niat, dan taktik,
penilaian ancaman hanya memberikan informasi yang bersifat umum tentang resiko
potensial yang mungkin ditimbulkannya

175

Penilaian ancaman ini mempertimbangkan spektrum ancaman secara luas, seperti


bencana alam, kegiatan kriminal, dan kecelakaan yang besar, dan juga kegiatan
terorisme.
Fused Intelligence (Intelijen Pemacu).
Proses intelijen merupakan kunci dan hal yang sangat penting dalam melakukan
penilaian ancaman. Pencarian informasi secara sistematik dengan hal-hal yang ada
kaitannya dengan kejahatan akan dapat memberi petunjuk dan arah serta membantu
evaluasi dan analisis tentang terorisme dan kelompok - kelompok teroris. Tentang siapa
(who), apa (what), dimana (where), kapan (when) serta bagaimana (how) keterikatan ,
kedekatan serta hubungan natara kelompok-kelompok teroris. Kegiatan intelijen akan
membantu menghasilkan tindakan atau respon yang dapat dipercaya dan dapat
menjawab persoalan secara tepat.
Tanpa proses seperti itu penilaian terhadap ancaman sulit dirumuskan secara tepat dan
dapat dipercaya.
Penilaian ancaman harus dilakukan melalui serangkaian riset dan analisis yang
komprehensif dan kerja keras serta taat kaidah.
Penegak hukum tidak dapat bekerja sendirian. Penilaian ancaman yang tidak berkait
antara pengetahuan, penilaian, dan pemahaman dari institusi penegak hukum,
organisasi swasta atau institusi lainnnya dengan potensi ancaman dinilai sebagai tidak
lengkap daun tidak utuh.
Sebagai contoh :
Penilaian ancaman terhadap suatu fasilitas air minum harus dilengkapi data yang
komprehensif yang didapat dari berbagai instansi seperti dari polisi, dinas pemadam
kebakaran, dinas kesehatan , badan atau organisasi penanggulangan darurat, juga
semua lembaga yang dapat terpengaruh oleh rusaknya fasilitas dan infrastruktur air
minum oleh serangan teroris atau oleh sebab-sebab lain.
Penilaian ancaman juga harus memperhatikan informasi intelijen yang ada kaitannya
dengan ancaman yang sedang dinilai sebagai tambahan informasi meskipun sumbernya
berasal dari luar institusi sendiri atau sumber-sumber terbuka.
Yang penting juga menjadi perhatian, penilaian ancaman harus dapat memberikan dan
membangkitkan kesadaran dan pemahaman tentang perubahan bentuk ancaman dan
perubahan lingkungan yang dihadapi pemerintah.
Data-data yang penting yang harus dikumpulkan sebelum melakukan penilaian
ancaman adalah:
a. Tipe musuh yang dihadapi: Teroris, aktivis, buruh atau bentuk atau kelompok
lainnya.
b. Katagori musuh: asing atau domestik, teroris atau kriminal, unsur luar /atau dalam
dari suatu organisasi.
c. Sasaran dari masing-masing musuh: pencurian, sabotase, perusakan masal,
(dengan korban maksimum), pernyataan yang bermuatan masalah sosial politik.

176

d. Jumlah musuh dari setiap katagori: Bom bunuh diri yang berdiri sendiri,
kelompok atau merupakan sel dari kelompok teroris, bandit, atau bentuk lain.
e. Sasaran yang dipilih musuh: Infrastruktur kritis, gedung pemerintah, monumen
nasional, atau lainnya.
f. Tipe dari kegiatan perencanaan yang disiapkan untuk menyelesaikan misinya:
Cassing jangka panjang, pemotretan, memonitor pola operasi dan patroli polisi
dan petugas keamanan lainnya.
g. Kemungkinan waktu serangan terburuk yang dilakukan musuh: Apakah
ketika sasaran sedang dihuni secara optimal, pada waktu jam sibuk, malam atau
waktu lainnya.
h. Rentang taktik yang digunakan musuh: Secara senyap, pemaksaan dengan
kekuatan, penipuan dan pengelabuan atau kombinasi.
i. Kemampuan musuh: Pengetahuan dan pemahaman akan target, motivasi,
kecakapan,senjta serta perlengkapan lainnya.
Untuk menyelesaikan tugas intelijen dalam penilaian ancaman, para atasan institusi
penegak hukum harus dapat menjamin bahwa anggotanya telah dsiapkan, dilatih dan
diberi tugas untuk mengidentifikasi sasaran musuh yang potensil, dan dapat
memberikan rekomendasi untuk meningkatkan pengamanan sasaran-sasaran potensil
tadi.

I.4. Mengukur Ancaman (Calculating Threat)


Tingkat ancaman didasarkan kepada derajat gabungan faktor-faktor sebagai berikut:
a. Eksistensi: Apakah kelompok teroris itu ada, atau dapat menambah akses dalam
wilayah operasi yang dipilihnya.
b. Kemampuan: Kemampuan kelompok teroris dalam melakukan serangan sudah
dinilai dan pernah dilakukan nsebelumnya.
c. Niat: Bukti dari aktifitas kelompok teroris, termasuk penilaian niat untuk
melakukann kegiatannya.
d. History: Kegiatan teroris pada masa lalu yang pernah terpantau atau tercatat.
e. Penetapan sasaran: Informasi yang dapat dipercaya atau kegiatan yang terpantau
yang menunjukan adanya persiapan operasi teroris yang spesifik pengumpulan
data intelijen yang dilakukan oleh kelompok yang dicurigai, persiapan dan
penyediaan alat penghancur, serta kegiatan lainnya.
f. Situasi keamanan: Pelajari bagaimana postur politik dan keamanan dari wilayah
yang diperkirakan menjadi sasaran teroris, dapat mempengaruhi kemampuan teroris
untuk melaksanakan niatnya. Perhatikan wilayah tertentu yang menjadi perhatian
teroris dan apakah telah diambil langkah-langkah proaktif yang serius untuk
menghadapi ancaman teroris tersebut.
Untuk mengukur tingkat keseriusan ancaman teroris, kritikalitas, ancaman dan
kerawanan dapat dinilai dari hal-hal sebagai berikut (Proteus Security Group, 1997).
a. Kritis (Critical) - (5): Eksistensi, kemampuan, dan sasaran nyata. Meskipun history
dan niat tidak nampak.
b. Tinggi (High) - (4): Eksistensi, history dan niat nyata.

177

c. Menengah (Medium) - (3): Eksistensi, kemampuan, dan history nyata. Namun Niat
tidak nampak.
d. Rendah (Low) (2) : Eksistensi dan kemampuan nyata. History tidak nampak.
e. Diabaikan (Negligible) (1): Eksistensi dan kemampuan tidak nyata.
Identifikasi ancaman merupakan sebuah proses yang rumit sehingga sering terjadi ada
hal-hal yang tidak terpantau karena tidak dipahaminya secara benar proses penilaian
ancaman (threat assessment). Proses penilaian ancaman sering dilihat secara tehnis
merupakan hal yang sulit dijangkau.
Banyak sumber-sumber baik didalam ataupun diluar komunitas penegak hukum yang
dapat dimanfaatkan untuk membantu institusi penegak hukum dalam melaksanakan tugas
ini, dan menggunakan sumber-sumber tersebut merupakan hal yang penting.

I.5. Penilaian Kerawanan (Vulnerability Assessment).


Department of Homeland Security (DHS) Amerika Serikat merumuskan Penilaian
Kerawanan sebagai berikut:
Identifikasi kelemahan dilihat dari struktur fisik, sistem perlindungan manusia,
proses, atau bidang lain yang dapat dieksploitasi oleh teroris. Penilaian
kerawanan dapat memberikan saran untuk mengurangi atau menhilangkan sisi
kelemahan.
Kerawanan sebenarnya sangat sulit diukur secara objektif. Namun ada beberapa faktor
yang dapat dipertimbangkan ketika menentukan Kerawanan .
a. Lokasi (Location): Lokasi geografik dari sasaran - sasaran potensial atau
fasilitas, serta rute jalan-jalan masuk dan jalan-jalan keluar; jarak relatif sasaran
atau fasilitas dari dari tempat-tempat umum (public areas); jalur transportasi, atau
daerah yang mudah dipecah-pecah.
b. Aksesiblitas (Accesibility): Bagaimana aksesibilitas musuh (perusak, teroris, atau
unsur-unsur subversif) ke fasilitas atau sasaran yang dituju. Berapa mudah
seseorang untuk masuk, melakukan operasi, mengumpulkan bahan keterangan,
dan menghindari tindakan perlawanan dari pasukan pengamanan.
c. Kecukupan (Adequacy). Kecukupan gudang perlengkapan, penjagaan dan
perlindungan, dan daya tolak akses terhadap asset yang berharga dan sensitif
seperti material berbahaya, persenjataan, kendaraan dan alat berat, bahan peledak
atau material lain yang dapat digunakan dengan mudah dan leluasa oleh baik
perorangan maupun kelompok yang dapat membahayakan.
d. Ketersediaan
(Availability):
Ketersediaan
perlengkapan,
pasukan
pengawal/penindak yang cukup dan langkah-langkah pengamanan fisik secara
umum.

I.6. Mengukur Kerawanan (Calculating Vulnerability).


Tingkat kerawanan ditetapkan dalam skala 5 dengan menggunakan perkiraan
kecukupan perlindungan atau aksesibilitas seperti tertulis dalam daftar faktor-faktor
sebagai berikut:

178

a. Tingkat kerawanan tinggi (Highly vulnerable) 5: Gabungan dari dua atau


lebih hal-hal dibawah ini dengan memperhitungkan tingkat ancaman.
1). Akses langsung kepada fasilitas atau asset sangat dimungkinkan melalui satu
atau lebih jaringan jalan raya. Wilayah perairan atau jalan pendekat melalui air
juga terbuka atau adanya daratan ruang terbuka tidak berpenghuni dan tidak
terjaga yang letaknya berdampingan, atau jalan pendekat yang bebas digunakan
untuk keluar masuk.
2). Fasilitas atau asset terbuka, tak terawasi dan tidak berpenerangan, atau.sistem
keamanan yang tidak baik sehingga unsur-unsur ancaman dapat melakukan
kegiatannya dengan leluasa seperti pengumpulan intelijen, melakukan operasi,
menghindari pasukan pengamanan. Patroli, sistem monitoring elektronik, alarm
mudah dilumpuhkan atau dibuat tidak dapat beroperasi sepenuhnya.
3). Sistem pengaman dari tiap-tiap fasilitas seperti untuk barang berbahaya,
senjata, bahan peledak, atau kendaraan, dapat dengan mudah ditembus dan
didekati dengan kekuatan yang minimum atau kemungkinan untuk mendeteksi.
4). Unit penanggulangan yang kurang efektif untuk menghadapi tingkat ancaman
yang berpengalaman. Pengamanan fisik yang tidak dapat memberikan
pengamanan yang seimbang dengan tingkat ancaman yang diperkirakan.
b. Tingkat kerawanan sedang (Moderatly vulnerable) 3. Merupakan gabungan
dua dari hal-hal dibawah ini.
1). Akses langsung ke fasilitas atau asset dimungkinkan melalui satu atau lebih
sistem jalan raya, namun lalu lintasnya terbatas dan adanya sistem patroli.
Wilayah perairan atau jalan pendekat melalui air juga terbuka atau adanya daratan
ruang terbuka tidak berpenghuni yang letaknya berdampingan, namun ada
hambatan geografik seperti alur yang panjang.
2). Fasilitas atau asset terbuka, tidak terawasi atau tidak berpenerangan, atau
pengamanan yang dapat menghambat unsur-unsur ancaman, di deteksi, atau dapat
mengaktifkan sistem pengaman jarak jauh (remote) seperti alarm. Akses musuh
untuk mengumpulkan intelijen, melakukan operasi, atau menghindari pasukan
pengamanan akan terkendala sebagian. Patroli, sistem monitor elektronik, sistem
alarm masih dapat dilumpuhkan sebagian sehingga tidak dapat beroperasi
sepenuhnya.
3). Sistem pengaman dari tiap-tiap fasilitas atau asset seperti untuk barang
berbahaya, senjata, bahan peledak, atau kendaraan dapat ditembus dengan
kekuatan sedang, atau menghadapi bahaya ketika melaakukan deteksi.
4). Unit penanggulangan dapat melakukan fungsinya dengan efektif untuk
menghadapi tingkat ancaman berpengalaman. Langkah-langkah pengamanan fisik

179

tidak mampu memberi perlindungan yang sesuai dengan tingkat ancaman yang
diperkirakan.
c. Tingkat kerawanan rendah (Low Vulnerable) 1. Merupakan gabungan dari
dua atau lebih hal-hal dibawah ini, dan memberikan kesadaran untuk terus
menerus mengantisipasi tingkat ancaman yang diperkirakan.
1). Fasilitas atau asset sulit didekati dari jalan raya atau jaringan jalan lainnya,
atau akses lainnya terhalang oleh faktor geografi.
2). Fasilitas atau asset memiliki akses pengawasan yang cukup. Patroli, kamera,
remote sensor, serta sistem pelaporan lainnya cukup untuk merintangi masuknya
unsur atau orang yang tidak berhak, berkeliling, melakukan pemotretan, atau
akses ke daerah terlarang.
3). Pengawalan telah dilakukan dengan benar untuk mencegah dan menghalangi
akses ke material yang sensitif. Pengawalan dan penjagaan telah dilakukan secara
seimbang dengan tingkat sensitifitas material yang diamankan dan tingkat
ancaman .
4) Pasukan penanggulangan dapat dengan tepat merespon setiap ancaman yang
terjadi dengan kelengkapan personal, persenjataan, dan waktu yang tepat.

I.7. Perhitungan penilaian resiko (Risk Assessment Calculation).


Penilaian resiko merupakan gabungan dari penilaian - penilaian diatas:
kritikalitas, ancaman, dan kerawanan untuk memberi gambaran yang utuh tentang
resiko dari asset asset atau fasilitas.
Ada beberapa tehnik yang digunakan intuk menghitung resiko, mulai dari sistem
kualitatif sederhana hingga ke sistem dengan rumus-rumus kualitatif yang rumit,
Gambaran umum dari kebanyakan metodologis adalah dari input yang digunakan.
Hampir semua tehnik mengedepankan 3 pertanyaan berikut untuk mengumpulkan
informasi yang diperoleh dari setiap langkah penilaian.
a. Kritikalitas : Tanyakan apa dampak yang mungkin terjadi apabila asset
yang diidetifikasi hancur atau rusak oleh kejadian yang tidak diinginkan
yang telah diidentifikasi.
b. Ancaman: Tanyakan bagaimana musuh akan menyerang asset yang telah
diidentifikasi.
c. Kerawanan: Tanyakan apa yang paling rawan yang akan digunakan musuh
untuk sasaran dari asset yang diidentufikasi.
Pejabat penegak hukum atau perorangan yang ditugasi untuk melakukan analisis
dapat menggunakan metoda seperti dijelaskan diatas untuk menjelaskan resiko
dari serangan yang tidak diharapkan terhadap setiap asset atau fasilitas.
Hasil yang komprehensif dari setiap penilaian dapat disimpulkan menjadi
Penilaian Resiko (Risk Assessment) dengan tingkatan angka. Persamaan resiko
dapat menggunakan rumus yang paling sederhana seperti dibawah ini.

180

Risk = Threat x Vulnerability x Criticality

II. Manajemen Resiko.


II.I. Identifikasi ancaman.
Agar pembuat keputusan dapat mengidentifikasi ancaman yang dapat dilakukan oleh
kelompok militan atau teroris, menilai bagaimana kelompok tersebut beradaptasi dan
berubah, serta mengidentifikasi kelemahan dan kerawanannya, Cargin dan Daly 61
menggambarkan kemampuan yang mempengaruhi kelompok militant atau teroris dalam
matrix sebagai berikut.
Organizational Tools
Ideology
Leadership
Recruitment Tools
Publicity

Operational Tools
Command and Control
Weapons
Operational Space
Training
Intelligence
Technical expertise and specialists
External weapons sources
Sanctuary
Money
Deception Skills

II.2. Identifikasi Langkah Pencegahan.


Langkah Pencegahan adalah tindakan, sarana, atau sistem yang digunakan untuk
menghilangkan, mengurangi, atau meringankan resiko dan kerawanan. Untuk membantu
mempelajari pengambilan keputusan yang dapat mendukung secara berlanjut, paket atau
kumpulan tindakan pencegahan secara berganda harus disiapkan.
Opsi-opsi dapat dikelompokan sebagai berikut:
a. Paket menghilangkan resiko (Risk averse package)
Pilihan atau opsi yang paling baik, yang tidak terhalangi oleh pertimbangan
politik maupun finansial. Paket ini memberikan peluang anggaran yang
diperlukan untuk mengurangi resiko secara efekfif. Opsi ini dirancang untuk
dapat mengurangi derajat resiko sebesar mungkin.
a. Paket dengan toleransi resiko (Risk tolerant package).
Pilihan atau opsi yang mempertimbangkan keseimbangan antara keperluan
keamanan dan perlindungan dengan ketersediaan anggaran dan hambatan
politik .
b. Paket dengan penerimaan resiko (Risk acceptance package).
61

. Amir Dhia - The Information Age and Diplomacy, An Emerging Strategic Vision in World Affairs,
Dissertation.Com. Hal 251.

181

Pilihan atau opsi yang paling tidak dikehendaki, yang menggambarkan


penerimaan terhadap resiko yang paling tinggi, tetapi menggambarkan biaya
yang paling rendah.
Langkah Pencegahan seperti penambahan staf, pemasangan peralatan dengan teknologi
baru, memperkuat sasaran, harus selalu dievaluasi atau diuji secara berkala untuk
memastikan bahwa sistem telah meningkat seperti yang diinginkan. Evaluasi dan
pungujian ini untuk mem-verifikasi bahwa prosedur dan kebijakan telah benar, untuk
memandu bagaimana langkah pencegahan ini akan dilakukan.
Langkah pencegahan termasuk pengamanan fisik, pengamanan cyber atau teknologi
informasi, pengamanan personal, dan metode proaktif lainnya yang digunakan untuk
mengamankan infrastruktur kritis.

Daftar Pustaka
1. Aa Kustia - Intelien : Dilema dan Tantangan.
2. Alan M. Dershowitz - Why Terrorism Works : Understanding the threat,
responding to the challenge, Scribe Publications, Melbourne.
3. Aleksius Jemadu (Editor) - Praktek-Praktek Intelijen Dan Pengawasn Demokratis Pandangan Praktisi, Publikasi DCAF -FES SSR Vol II, Jakarta, 2007.
4. Amir Dhia - The Information Age and Diplomacy: An Emerging Strategic Vision
in World Affair - Dissertation. Com, Boca Raton, Florida, USA.
5. Bob S. Hadiwinata (Editor), Hans Born dan Ian Leigh - Mendorong Akuntabilitas
Intelijen: Dasar Hukum dan Praktik Terbaik dari Pengawasan Intelijen Publishing House Parlemen Norwegia, Oslo.

182

6. David L. Carter, Ph D - .Law Enforcement Intelligence: A Guide for State, Local,


and Tribe Law Enforcement Agencies. - School of Criminal Justice, Michigan
State University.
7. Habib Ozdemir - Compstat : Strategic Police Management for Effective Crime
Deterrence in New York City - International Police Executive Symposium,
Working Paper No 38.
8. Marilyn Peterson - Intelligence Led Policing: The New Intelligence Architecture
- Bureau of Justice Assistance U.S. Department of Justice.
9. Mark M.Lowenthal - Intelligence: From Secret to Policy - cq Press, A Division of
Congressional Quarterlly, Washington DC
.
10. Michael I. Handel - Leaders and Intelligence - Frank Cass & Co. Ltd , Abingdon,
Oxon.
11. Muradi - Polmas dan Profesionalisme Polri - PSKN UNPAD & LCKI
12. National Gang Threat Assessment : Emerging Trends - National Gang Intelligence
Center.
13. Peter Gill and Mark Phythian - Intelligence in insecure World - Polity
Press,Malden, MA , USA. 2012.
14. Rachel Boba, PhD - Introductory Guide to Crime Analysis and Mapping (2001) Community Oriented Policing - US Department of Justice..
15. R.Hilsman - Strategic Intelligence and National Decisions Free Press, Glencoe,
Illinois, Michigan, USA.
16. Ronald V.Clarke - Situationl Crime Prevention- Successful Case Studies (Second
Edition) - Harrow and Heston Publishers, Guilderland - New York .
17. Susaningtyas, Dr - Komunikasi dalam kinerja Intelijen Keamanan - PT Gramedia
Pustaka Utama, Jakarta.
18. Y.Wahyu Saronto dan Jasir Karwita: Intelijen: Teori, Aplikasi dan Modernisasi Ekalaya Saputra.
19. Publikasi lainnya - Jerry Ratcliffe - Intelligence -Led Policing : Trends& Issues in
crime and criminal justice - Australian Institute of Criminology, April 2003. :

183

Profile Penulis.

184

Nama

: Aa Kustia Sukarnaprawira, SE

Tempat/Tgl lahir : Bandung - 28 Mei 1944


Pangkat :
Mililiter
Diplomatik

: Laksamana Muda TNI (Purnawirawan)


: Duta Besar LB&BP

Pendidikan
Militer.
- Akademi Angkatan Laut Lulus Tahun 1967.
- Pendidikan Lanjutan Perwira Tingkat I/ Sekolah Intelijen Angkatan Laut
Tahun 1971.
- Pendidikan Lanjutan Perwira Tingkat II Tahun 1978.
- Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut 1983.
- LEMHANNAS Tahun 1991.
Umum.
- Universitas Terbuka Jurusan Ekonomi Manajemen Tahun 1998.
Kursus.
- Kursus Intelijen Hankam, Cilendek Bogor Tahun 1970.
- Special Intelligence Course Woodside Australia Tahun 1973.
- Kursus Atase Pertahanan Tahun 1984.

Riwayat Penugasan.
Militer.
- Perwira Elektro, Fregat KRI Slamet Riyadi, Komando Jenis Jelajah dan
Pemburu Armada RI -Tahun 1968 1970.
- Perwira Intelijen Bidang Pengamanan Materil, Staf Umum Armada /I
Tahun 1971 1975.
- Kepala Hubungan Luar Negeri Dinas Pengamanan TNI-AL, MABESAL
Tahun 1975 1978.
- Pewira Pembantu Utama Bidang Perencanaan Staf Intelijen Daerah
Angkatan Laut 7 / Ujung Pandang Tahun 1978 1980.
- Perwira Pembantu Utama Bidang Perencanaan Umum Staf Pengamanan
KASAL Tahun 1980 1982 dan 1983 1984.
- Atase Pertahanan Urusan Laut di Malaysia Tahun 1985 1988.
- Perwira Pembantu Utama Urusan Asia Pasifik, Direktorat B/Luar Negeri
BAIS ABRI Tahun 1988 (3 bulan ).
- Perwira Pembantu Utama Kerjasama Keamanan Perbatasan Staf Operasi
MABES ABRI Tahun 1988 -1990.
- Direktur B/Luar Negeri BAIS ABRI Tahun 1992 1994.
- Staf Akhli Panglima ABRI, Tingkat III Bidang Kesra Tahun 1992 1994.
- Kordinator Staf Akhli Kepala Staf TNI-AL Tahun 1994 1996.
185

Sipil
- Inspektur Jenderal Departemen Luar Negeri Tahun 1996 1998.
- Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk Republik Rakyat China
merangkap Republik Marshal Islands Tahun 2001 2005.

Pekerjaan saat ini


- Senior Partner - Law Office Hardi & Associate.
- Direktur PT Century Investment Futures.
- Penasehat - KADIN Indonesia Komite Tiongkok.
- Pengajar Program Pasca Sarjana - Universitas Indonesia.
Karya tulis.
- Intelijen :Dilema dan Tantangan.
- China : Peluang atau Ancaman
- Perdagangan Berjangka (Konsep)

186

187