Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Harapan untuk diterima di dunia kerja tentunya tidaklah keliru, namun
tidak dapat dipungkiri bahwa kesempatan kerja pun sangat terbatas dan tidak
berbandng lurus dengan lulusan lembaga pendidikan baik dasar, menengah
maupun pendidikan tinggi. Oleh sebab itu semua pihak harus terus berpikir
dan mewujudkan karya nyata dalam mengatasi kesenjangan antara lapangan
kerja dengan lulusan institusi pendidikan.
Kesenjangan ini merupakan penyebab utama peningkatan angka
pengangguran. Sedangkan pengangguran adalah salah satu permasalahan
pembangunan yang sangat kritis khususnya di negara Indonesia termasuk di
daerah-daerah di pelosok nusantara. Salah satu solusinya adalah dengan
mencetak lulusan lembaga pendidikan yang memiliki potensi untuk
mengembangkan keterampilannya menjadi usaha mandiri. Selain menjadi
solusi bagi dirinya, seringkali usaha mandiri ini mendatangkan berkah bagi
orang lain yang direkrut sebagai karyawan ataupun buruh pada usaha yang
dirintisnya.
Adapun alasan-alasan seseorang tertarik untuk berwirausaha adalah
sebagai berikut: alasan keuangan untuk mencari nafkah, alasan sosial untuk
memperoleh gengsi/status untuk dapat dikenal, alasan pelayanan memberi
pekerjaan pada masyarakat alasan pemenuhan diri untuk lebih produktif
menggunakan kemampuan pribadi.
Semua alasan itulah yang mendorong seseorang untuk melakukan
terobosan dan memilih berwirausaha. Namun demikian pada prakteknya
tidaklah mudah memulai suatu usaha. Rasa takut yang berlebihan akan
kegagalan dan kerugian seringkali menghantui jiwa seseorang ketika akan
memulai usahanya. Keberanian untuk memulai merupakan modal utama yang
harus dimilki seseorang untuk terjun dalam dunia usaha. Namun itu saja tidak

Kewirausahaan

cukup, keberanian tanpa disertai perhitungan dan kemampuan berwirausaha


seringkali menjerumuskan kita ke dalam situasi kegagalan.
1.2 Rumusan masalah
a. Bagaimana menumbuhkan minat wirausaha?
b. Apa saja faktor kritis untuk memulai usaha?
c. Bagaimana mengukur minat wirausaha?
d. Bagaimana menumbuhkan jiwa dan kompetensi wirausaha?
e. Bagaimana cara untuk memulai usaha baru?
f. Apa saja bentuk atau jenis bidang usaha?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui bagaimana menumbuhkan minat wirausaha
2. Mengetahui faktor kritis untuk memulai usaha
3. Mengetahui bagaimana mengukur minat wirausaha
4. Mengetahui dan memahami bagaimana menumbuhkan jiwa dan kompetensi
wirausaha
5. Mengetahui bagaimana cara untuk memulai usaha baru
6. Mengetahui bentuk atau jenis bidang usaha

BAB II
PEMBAHASAN

Kewirausahaan

2.1 Menumbuhkan Minat Wirausaha


Menjalankan usaha untuk meningkatkan taraf hidup merupakan unsur
penting dalam pembangunan. Paling tidak dapat ditemukan ada dua alasan
mengapa harus menjalankan suatu usaha, yaitu :
a) Usaha yang dijalankan apapun bentuknya sepanjang sifatnya membangun
oleh seseorang baik itu dalam suatu lembaga maupun individu (keluarga)
merupakan motor penggerak pembangunan.
b) Menjalankan usaha merupakan salah satu sumber pendapatan yang
berarti juga menyangkut aspek kehidupan.
Di dalam perkembangannya usaha tersebut dapat dibagi menjadi dua
menurut sumber inisiatif, yaitu : (a) Usaha yang dijalankan dari pada usaha
sendiri, dan (b) usaha yang dijalankan karena dari inisiatif dan kemampuan
orang lain. Dalam hal ini manusialah yang memegang peranan penting.
Karena manusia berperan sebagai perencana, pelaksana dan yang sekaligus
akan menikmati pembangunan. Atau dalam garis garis besar haluan Negara
dikemukakan bahwa tujuan pembangunan nasional adalah membangun
manusia seutuhnya dan seluruh masyarakat Indonesia. Artinya manusia yang
mempunyai harga diri, mampu berprestasi, maupun sebagai buruh atau tenaga
kerja.
Sebelum mengulas lebih jauh tentang bagaimana untuk menumbuhkan
minat berwirausaha, maka perlu diketahui lebih dahulu apakah yang menjadi
syarat utama dalam berwiraswasta. Untuk mengetahui hal ini salah satu cara
mempelajari kehidupan wiraswasta yang semestinya adalah mengenal dan
memahami cara orang mencapai keberhasilan usahanya. Prinsip prinsip
apakah yang mendasari dalam memahami tentang berwirausaha.
a) Rasa tanggung jawab yang tebal
Yang dimaksud adalah meghayati kewajibannya dengan rasa tanggung
jawab besar dan berarti bersedia juga memikul tanggung jawab atas
kekurangan kekurangan dan kesalahan- kesalahan para pengikutnya.
b) Rasa keadilan yang seimbang
Dalam hal ini dimaksudkan sebagai wirausaha harus mampu untuk lebih
banyak memberi kenikmatan kepada orang lain dan mengurangi beban

Kewirausahaan

orang lain. Bersedia berkorban dan menolong orang lain yang


membutuhkan pertolongan. Tidak melebihkan kenikmatan bagi dirinya
sendiri dan tidak pula melebihkan beban kewajiban orang lain.
c) Keberanian
Tidak ada seorang pengikutpun yang mau dipimpin oleh seorang
penakut, tidak memiliki kepercayaan diri, dan tidak tegas. Untuk itu
sebagai seorang wirausaha harus berani memikul resiko dan segala akibat
dari keputusan yang diambilnya, sekalipun akibat tersebut akhirnya tidak
menguntungkan.
d) Kemampuan
Sebagai seorang wirausaha harus mampu untuk mengendalikan diri,
memutuskan sesuatu, membuat rencana dan menguasai halhal yang
kecil

dari

tugasnya,

mampu

organisasi/kelompok/panitia. Tidak ragu-ragu

memimpin

suatu

dalam mengambil

keputusan.
e) Kebiasaan bekerja lebih banyak dibanding dengan imbalannya
Kenyataan menunjukkan banyak orang akan bekerja dengan baik apabila
memperoleh imbalan yang sesuai dengan apa saja yang diharapkannya.
Seoranf pemimpin dalam wirausaha harus tahu berkorban seperti yang
dituntut dari padanya, dan imbalan merupakan hal nomor dua yang
dipentingkan adalah bekerja dengan baik dahulu.
f) Kepribadian yang menyenangkan
Sebagai seorang wirausaha dan juga sebagai seorang pemimpin harus
memiliki kepribadian yang menyenagkan. Kepemipinan menuntut
adanya kehormatan, sekaligus pemimpin itu sendriri tidak memintanya.
Namun pengikutnya yang akan meberikan penilaian, pengikut tidak dapat
menghormatinya kalau ia tidak mampu menunjukkan kepribadian yang
menyenangkan. Kpribadian yang menyenangkan tersebut dapat diketahui
dari bagaimana ia menaruh simpati kepada para pengikutnya, bahkan
sebanyak dan sejauh mungkin harus dapat mengerti jiwa dan kesulitan
kesulitan pengikutnya.
g) Kesediaan untuk bekerja sama
Prinsip kerja sma harus melekat erat pada diri wirausaha, karena dengan
prinsip kerja sama ini dapat mendorong pengikut pengikutnya untuk

Kewirausahaan

berbuat yang sama. Sebagai pemimpin perlu kekuasaan, dan kekuasaan


perlu adanya kerja sama diantara yang dipimpin dengan yang memipin.
2.2 Faktor Faktor Kritis Untuk Memulai Usaha
Sebagai seoranng wirausaha umunya memiliki kemampuan untuk
memipin usaha baik secara teknis maupun ekonomis. Karena dalam hal ini
wirausaha tersebut memiliki dan dipandang dari sudut permodalan mungkin
memiliki secara penuh (owner) maupun secara bagian (co-owner) untuk
melaksanakan kegiatannya. Wirausaha tersebut juga mampu sebagai
penanggung jawab dan manajer, mampu menerima tantangan ketidakpastian
dan karenanya menanggung resiko ekonomi yang sulit diukur secara
kuantitatif maupun kualitatif. Dalam suatu kegiatan mampu sebagai dasar
pelopor usaha baru, menerapkan kombinasi baru, dinamis serta memiliki
kelebihan sebagai koordinator, mampu sebagai penemu (inovator), peniru
(imitator) serta penyalur dan pemindah teknologi.
Selain itu sebagai wirausaha umumnya berprinsip mencari keuntungan
dalam berbisnis dengan memberikan manfaat yang maksimal kepada
masyarakat. Oleh karenanya wirausaha tersebut harus mampu membawa
usahanya kearah kemajuan, perluasan, perkembangan melalui kepemimpinan
dengan

berpedoman

pada

menaikkan

kewibawaan,

kebebasan

(independency), kekuasaan dan kehormatan serta kontinuitas usaha.


Untuk menjadi seorang wirausaha yang berkualitas dan berbakat
untuk memulainya suatu usaha harus mengetahui faktor faktor kritis yang
harus dapat diatasi sebelumnya. Faktor faktor kritis tersebut dapat dicermati
dan diperhatikan secara sungguh sungguh untuk memulai usaha baru sebagai
berikut :
a) Faktor personality, atau yang menyangkut tentang aspek kepribadian
atau diri pribadi seseorang calon wirausaha.
Adanya ketidakpuasan terhadap pekerjaan yang sekarang
Adanya pemutusan hubungan kerja
Dorongan faktor usia
Keberanian menanggug resiko
Minat yang tinggi terhadap bisnis
b) Faktor sosiologycal, yaitu masalah yang menyangkut tentang
hubungan dengan orang lain

Kewirausahaan

Adanya hubungan-hubungan atau relasi dengan orang lain


Adanya tim yang dapat diajak kerjasama dalam berusaha
Adanya dorongan dari orang tua atau family untuk membuka usaha
Adanya bantuan dari pihak lain dalam kemudahan berusaha
Adanya pengalaman-pengalaman dalam dunia bisnis sebelumnya
c) Faktor enviromental, adalah faktor-faktor yang menyangkut hubungan
dengan lingkungan.
Adanya persaingan dalam dunia kehidupan
Adanya sumber-sumber yang bisa dimanfaatkan
Mengiuti pelatihan atau incibator isnis
Kebijakan pemerintah dalam kemudahan berusaha
2.3 Mengukur Minat Wirausaha
Pada dasarnya sifat-sifat wirausaha adalah sifat-sifat keberanian,
keutamaan, dan keteladanan di dlama berusaha. Sifat-sifat tersebut dalam
kewirausahaan tercermin dalam empat konsep utama yaitu :
1) Daya inovasi
Daya inovasi diartikan sebagai kemapuan untuk menemukan hal-hal
baru yang bermanfaat dalam proses ekonomi. Jadi merupakan ide-ide untuk
mencipta dan mewujudkan sesuatu yang memiliki nilai ekonomis dan
bermanfaat bagi orang banyak. Tidak dapat dipungkiri, pada kenyataannya
dunia usaha saat ini semakin banyak diminati oleh banyak orang, karena dlam
dunia usaha ini terkandung harapan-harapan baru yang menjanjikan. Banyak
orang yang memperebutkan dan tanpa disadari dunia telah berkembang
menjadi kemapuan untuk menemukan hal-hal yang baru, harus juga didukung
adanya pengelolaan usaha yang baik. Pengelolaan usaha yang baik harus
memeperhatikan hal-hal berikut ini :
a) Penentuan tujuan usaha
Penentuan tujuan usaha tanpa suatu tujuan yang jelas dicanangkan
sekalipun ada nahkoda semuanya tak berguna. Karena petunjuk bagi setiap
kegiatan untuk mencapai tujuan-tujuan yang dikehendaki dan menjadi
pendorongh bagi yang berusaha untuk memuaskan upanya mencapai
tujuan.
b) Rencana Usaha

Kewirausahaan

Atas dasar tujuan yang disetujui dibuat suatu rencana. Rencana itu disusun
sedemikian rupa agar kegiatan yang dijalankan itu terus dan mampu untuk
menuju tujuan.
c) Organisasi
Organisasi ini disusun berdasarkan kegiatan pokok yang telah dirumuskan
dalam rencana. Sesudah itu dibagi tugas dan tanggung jawab diantara
keluarga untuk menjalankan tugas tugas tersebut.
d) Pengarahan
Dalam suatu usaha kecil yang sifatnya keluarga pengarahan bisa dilakukan
setiap waktu dengan pertemuan bersama. Pengarahan termasuk pula
mengingatkan agar setiap orang melakukan usaha dalam bidangnya.
Sebaik mungkin, agar usaha bersama bisa berhasil.
e) Menilai hasil usaha
Menilai hasil usaha penting untuk perkembangan usaha dalam arti apakah
rencana yang dirancangkan atau dilaksanakan. Bila ada kesulitankesulitan, perlu dibahas apa yang menjadi penyebabnya dan bagaimana
memperbaikinya.
2) Keberanian Menanggung Resiko
Manusia hidup bukan hanya disini dan kini, tetapi juga untuk masa
depan, masa yang penuh ketidakpastian. Karena masa depan yang tidak
pasti ini, kita sebagai pengusaha diperhadapkan pada resiko-resiko karena
ketidakpastian tersebut. Pengusaha yang berminat untuk mengembangkan
usaha hendaknya bersedia taua mampu menanggung resiko tersebut.
Ketidakpastian atau resiko yang akan timbul dapat dikurangi dengan jalan:
1. Memiliki usaha yang tidak berkaitan erat dengan musim
2. Mengurangi penggunaan tenaga manusia dan lebih banyak
menggunakan mesin
3. Mengasuransikan resiko-resiko itu kepada perushaan lain dengan jalan
bekerja sama dengan perusahaan asuransi
4. Membagi resiko kepada pemegang saham, penanam modal atau
sesama pengusaha (koperasi)
Usaha mengurangi resiko ketidakpastiandapat juga dilakukan dalam
bidang produksi maupun dalam pemasaran hasil. Secara sederhana resiko
ketidakpastian dalam bidang produksi maupun dalam pemasaran hasil.
Secara sederhana resiko ketidakpastian dapat dilakukan dengan jalan

Kewirausahaan

menjaga kelangsungan bahan (baku dan pelengkap), modal cukup,


prasarana memadai dan tenaga siap pakai.
Manajemen membagi resiko dengan banyak dilakukan dengan
meniru usaha lain yang telah berhasil. Usaha ini perlu memperluas posisi
pengusaha, antar pengusaha akan bersaing dalam menghadapi pembeli.
Untuk mengatasi resiko renteng ini perlu penompang, tidak hanya untuk
mebagi resiko akan tetapi untuk menghadapi bersama, agar resiko secara
total berkurang. Usah tersebut dapat dilakukan dengan membentuk
koperasi.
Mengahadapi resiko dan ketidakpastian secara bersama antar
pengusaha. Kerjasama itu digunakan unutuk membagi jenis resiko.
Kelangsungan ketersediaan bahan pakai, tenaga, transport dan proses
produksi ditanggung oleh usaha yang ditunjuk. Kerja sama yang kedua
membagi

besar/jumlah

resiko,

dimana

bersama-sama

pengusaha

menghadapi para pembeli.


3) Semangat Kerja
Ada falsafah juga mengatakan bahwa orang hidup ada tiga syaratnya
untuk berhasil sehat adalah syarat utama untuk bekerja. Semangat kerja
adalah salah satu sifat kejiwaan yang sangat erat hubungannya dengan
faktor-faktor

kepuasan

kerja,

kegairahan

kerja,

keinginan

untuk

mempertinggi hasil kerja. Semuanya ini akan didapat bila dirinya ada rasa
tanggung jawab dan rasa memiliki, sehingga hidup matinya seolah-olah
ada pada usaha yang dijalankannya. Menjalankan usaha dengan pikiran
hanya sebagai tugas sangat tidak cocok ada dalam diri seorang wiraswasta.
Yang harus ada dalam seorang wiraswasta dalam menjalankan usahanya
adalah bekerja dengan semangat tinggi dimana semnagat yang tinggi ini
mendorong orang melakukan usahanya sebagai suatu kewajiban atau lebih
tepatnya kewajaran. Semangat kerja yang tinggi tidak akan membawa
kemajuan dan keberhasilan bila tidak dibarengi dengan kemampuan dan
keterampilan yang memadai dalam mengerjakan sesuatu. Artinya kemauan
saja tidak cukup untuk membawa kepada keberhasilan usaha, harus ada
keterampilan dan kemampuan untuk melaksanakan usaha itu. Lain dari itu

Kewirausahaan

kemampuan untuk bekerja juga harus ditunjang dengan pemikiran yang


jauh kedepan. Semangat kerja yang tinggi menjadikan sesuatu yang baru
dan menguntungkan. Semangat kerja yang tinggi mampu menjadikan
orang berani untuk menanggung resiko. Semnangat kerja yang tinggi
mampu menjadikan orang selalu rindu untuk melakukan sesuatu dengan
lebih baik. Dingkat kata semangat yang tinggilah yang menjadikan usaha
seseorang menuju kepada keberhasilan.
2.4 Menumbuhkan Jiwa dan Kompetensi Wirausaha
1.

Menumbuhkan Jiwa Wirausaha


Mungkin kita pernah mendengar bahwa keluarga yang kaya akan

memunculkan anak-anak yang kaya karena mereka terbiasa kaya. Begitu pula
ada yang menganggap bahwa seseorang menjadi pengusaha karena memang
bapak ibunya, kakek-neneknya, dan sebagian besar keluarganya adlah
keturunan pengusaha.
Anggapan seperti ini menurut hemat penulis merupakan pemikiran
yang keliru. Tidak bisa dipungkiri memang, ada banyak pengusaha yang lahir
dari keluarga atau keturunan pengusaha. Tetapi bukan berarti diturunkan
secara genetis. Mungkin hal ini terjadi karena aspek lingkungan pengusaha
yang cukup kuat mempengaruhi jiwa orang tersebut untuk menjadi
pengusaha.
Menjadi wirausaha (entrepreneur) tentu saja merupakan hak azasi
semua kita. Jangan karena mentang-mentang kita tidak punya turunan
pengusaha sehingga menutup peluang untuk menjadi wirausaha.
Langkah awal yang kita lakukan apabila berminat terjun ke dunia
wirausaha adalah menumbuhkan jiwa kewirausahaan di diri kita. Banyak cara
yang dapat dilakukan misalnya:
a. Melalui pendidikan formal. Kini berbagai lembaga pendidikan baik
menengah maupun tinggi menyajikan berbagai program atau paling tidak
mata kuliah kewirausahaan.

Kewirausahaan

b. Melalui seminar-seminar kewirausahaan. Berbagai seminar kewirausahaan


seringkali diselenggarakan dengan mengundang pakar dan praktisi
kewirausahaan sehingga melalui media ini kita akan membangun jiwa.
c. Kewirausahaan di diri kita
d. Melalui pelatihan. Berbagai simulasi usaha biasanya diberikan melalui
pelatihan baik yang dilakukan dalam ruangan (indoor) maupun di luar
ruangan outdoor). Melalui pelatihan ini, keberanian dan ketanggapan kita
terhadap dinamika perubahan linghkungan akan diuji dan selalu diperbaiki
dan dikembabangkan.
e. Otodidak. Melalui berbagai media kita bisa menumbuhkan semangat
berwirausaha. Misalnya melalui biografi pengusaha sukses (sucess story),
media televisi, radio majalah koran dan berbagai media yang dapat kita
akses untuk menumbuhkembangkan jiwa wirausaha yang ada di diri kita.
Melalui berbagai media tersebut ternyata setiap orang dapat
mempelajari dan menumbuhkan jiwa wirausaha.
Adapun aspek-aspek kejiwaan yang mencirikan bahwa seseorang
dikatakan memilki jiwa wirausaha adalah sebagai berikut yang penulis kutip
dan bahas berdasarkan pendapat Suryana (2003) bahwa orang-orang yang
memiliki jiwa dan sikap kewirausahaan yaitu :
1) Percaya diri (yakin, optimis dan penuh komitmen).
Percaya diri dalam menentukan sesuatu, percaya diri dalam
menjalankan sesuatu, percaya diri bahwa kita dapat mengatasi berbagai
resiko yang dihadapi merupakan faktor yang mendasar yang harus
dimiliki oleh wirausaha. Seseorang yang memiliki jiwa wirausaha merasa
yakin bahwa apa-apa yang diperbuatnya akan berhasil walaupun akan
menghadapi berbagai rintangan. Tidak selalu dihantui rasa takut akan
kegagalan sehingga membuat dirinya optimis untuk terus maju.
2) Berinisiatif (energik dan percaya diri)
Menunggu akan sesuatu yang tidak pasti merupakan sesuatu yang
paling dibenci oleh seseorang yang memiliki jiwa wirausaha. Dalam

Kewirausahaan

10

menghadapi dinamisnya kehidupan yang penuh dengan perubahan dan


persoalan yang dihadapi, seorang wirausaha akan selalu berusaha
mencari jalan keluar. Mereka tidak ingin hidupnya digantungkan pada
lingkungan, sehingga akan terus berupaya mencari jalan keluarnya.
3) Memiliki motif berprestasi (berorientasi hasil dan berwawasan ke depan)
Berbagai target demi mencapai sukses dalam kehidupan biasanya
selalu dirancang oleh seorang wirausaha. Satu demi satu targetnya terus
mereka raih. Bila dihadapkan pada kondisi gagal, mereka akan terus
berupaya

kembali

memperbaiki

kegagalan

yang

dialaminya.

Keberhasilan demi keberhasilan yang diraih oleh seseorang yang berjiwa


entrepreneur menjadikannya pemicu untuk terus meraih sukses dalam
hidupnya. Bagi mereka masa depan adalah kesuksesan adalah keindahan
yang harus dicapai dalam hidupnya.
4) Memiliki jiwa kepemimpinan (berani tampil berbeda dan berani
mengambil resiko dengan penuh perhitungan)
Leadership atau kepemimpinan merupakan faktor kunci menjadi
wirausahawan sukses. Berani tampil ke depan menghadapi sesuatu yang
baru walaupun penuh resiko. Keberanian ini tentunya dilandasi
perhitungan yang rasional. Seorang yang takut untuk tampil memimpin
dan selalu melemparkan tanggung jawab kepada orang lain, akan sulit
meraih sukses dalam berwirausaha. Sifat-sifat tidak percaya diri, minder,
malu yang berlebihan, takut salah dan merasa rendah diri adalah sifatsifat yang harus ditinggalkan dan dibuang jauh-jauh dari diri kita apabila
ingin meraih sukses dalam berwirausaha.
5) Suka tantangan
Kita mungkin sering membaca atau menyaksikan beberapa kasus
mundurnya seorang manajer atau eksekutif dari suatu perusahaan. Apa
yang

menyebabkan

mereka

hengkang

dari

perusahaannya

dan

meninggalkan kemapanan sebagai seorang manajer? Sebagian dari

Kewirausahaan

11

mereka ternyata merasa jenuh terus menerus mengemban tugas rutin


yang entah kapan berakhirnya. Mereka membutuhkan kehidupan yang
lebih dinamis yang selama ini belim mereka dapatkan di perusahaan
tempat mereka bekerja. Akhirnya mereka menelusuri aktivitas seperti
apakah yang dapat memuaskan kebutuhan mereka akan tantangan ?
Berwirausaha ternyata menjadi pilihan sebagian besar manajer yang
sengaja

keluar

dari

kemapanannya

di

perusahaan.

Mengapa

wirausaha ? Ternyata begitu banyak variasi pekerjaan dan perubahan


yang sangat menantang dalam dunia wirausaha.
2. Menumbuhkan Kompetensi Kewirausahaan
Wirausaha yang sukses pada umumnya adalah mereka yang
memiliki kompetensi yaitu : seseorang yang memiliki ilmu pengetahuan,
keterampilan dan kualitas individu yang meliputi sikap, motivasi, nilai
serta

tingkah

laku

yang

diperlukan

untuk

melaksanakan

pekerjaan/kegiatan. Keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang


wirausaha adalah :
1) Managerial skill
Managerial skill atau keterampilan manajerial merupakan bekal
yang harus dimiliki wirausaha. Seorang wirausahawan harus mampu
menjalankan fungsi-fungsi perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan
dan pengawasan agar usaha yang dijalankannya dapat mencapai tujuan
yang diinginkan. Kemampuan menganalisis dan mengembangkan pasar,
kemampuan mengelola sumber daya manusia, material, uang, fasilitas
dan seluruh sumber daya perusahaan merupakan syarat mutlak untuk
menjadi wirausaha sukses.
Secara garis besar ada dua cara untuk menumbuhkan kemampuan
manajerial, yaitu melalui jalur formal dan informal. Jalur formal
misalnya melalui jenjang lembaga pendidikan sekolah menengah
kejuruan bisnis dan manajemen atau melalui pendidikan tinggi misalnya
departemen administrasi niaga atau departemen manajemen yang tersebar
berbagai perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Jalur informal,

Kewirausahaan

12

misalnya melalui seminar, pelatihan dan otodidak serta melalui


pengalaman.
2) Conceptual skill
Kemampuan untuk merumuskan tujuan, kebijakan dan strategi
usaha merupakan landasan utama menuju wirausaha sukses. Tidak
mudah memang mendapatkan kemampuan ini. Kita harus akstra keras
belajar dari berbagai sumber dan terus belajar dari pengalaman sendiri
dan pengalaman orang lain dalam berwirausaha.
3) Human skill (keterampilan memahami, mengerti, berkomunikasi dan
berelasi)
Supel, mudah bergaul, simpati dan empati kepada orang lain adalah
modal keterampilan yang sangat mendukung kita menuju keberhasilan
usaha. Dengan keterampilan seperti ini, kita akan memiliki banyak
peluang dalam merintis dan mengembangkan usaha.
Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan ini
misalnya denganmelatih diri diberbagai organisasi, bergabung dengan
klub-klub hobi dan melatih kepribadian kita agar bertingkah laku
mentenangkan bagi orang lain.
4) Decision making skill (keterampilan merumuskan masalah dan
mengambil keputusan)
Sebagai seorang wirausaha, kita seringkali dihadapkan pada
kondisi ketidakpastian. Berbagai permasalahan biasanya bermunculan
pada situasi seperti ini. Wirausaha dituntut untuk mampu menganalisis
situasi dan merumuskan berbagai masalah untuk dicarikan berbagai
alternatif pemecahannya.
Tidak mudah memang memilih alternatif terbaik dari berbagai
alternatif yang ada. Agar tidak salah menentukan alternatif, sebelum
mengambil keputusan, wirausaha harus mampu mengelola informasi
sebagai bahan dasar pengambilan keputusan. Keterampilan memutuskan
dapat kita pelajari dan kita bangun melalui berbagai cara. Selain

Kewirausahaan

13

pendiudikan formal, pendidikan informal melalui pelatihan, simulasi dan


berbagi pengalaman dapat kita peroleh.
5) Time managerial skill ( keterampilan mengatur dan menggunakan waktu)
Para pakar psikologi mengatakan bahwa salah satu penyebab atau
sumber stress adalah ketidakmampuan seseorang dalam mengatur waktu
dan pekerjaan. Ketidakmampuan mengelola waktu membuat pekerjaan
menjadi menumpuk atau tak kunjung selesai sehingga membuat jiwanya
gundah dan tidak tenang. Seorang wirausaha harus terus belajar
mengelola waktu. Keterampilan mengelola waktu dapat memperlancar
pelaksanaan pekerjaan dan rencana-rencana yang telah digariskan.

2.5 Cara untuk Memulai Usaha Baru


Mentransformasi ide menjadi sebuah bisnis komersial bisa menjadi
pengalaman

menggembirakan

sekaligus

penuh

tekanan.

Melakukan

penelitian untuk ide sekaligus mengumpulkan informasi tentang pesaing


merupakan hal yang penting. Mulailah untuk mengidentifikasi pasar,
menentukan positioning, dan proporsi penjualan serta menentukan identitas
merek sehingga produk mampu bersaing di pasar. Adapun rumus yang dapat
digunakan oleh calon usahawan untuk memulai usaha baru, yaitu:
a. WHAT
Apa model bisnis yang ingin kita kerjakan? Sebelum kita menjalankan
atau mengembangkan sebuah bisnis tentunya kita harus mengenal bisnis
itu secara general. Dengan mengenal sebuah bidang bisnis kita bisa
menjalankan dan mengembangkan bisnis tersebut dengan baik.
b. WHY
Pikirkan kembali apa alasan kita dalam memilih sebuah bisnis untuk
dijalankan. Apakah kita memilih menjalankan sebuah bisnis karena sesuai
dengan hobi, minat, kreatifitas yang sedang ditekuni, terinspirasi dari
bisnis orang lain yang sukses, atau hanya ingin mengisi waktu luang saja?
c. WHOM

Kewirausahaan

14

Menentukan dan memahami target market untuk bisnis yang akan


dijalankan. Kita juga perlu mempelajari karakter orang-orang yang
menjadi target market bisnis kita agar kita dapat mempersiapkan cara
pemasaran yang tepat pada mereka.
d. WHERE
Menentukan lokasi bisnis yang tepat seringkali menjadi hal yang sulit
bagi seorang pebisnis. Pastikan lokasi bisnis sesuai dengan target market
bisnis kita, misalnya daerah perkantoran, kampus, perumahan, dan lainlain.
e. WHEN
Menentukan waktu operasional bisnis juga termasuk hal yang penting
untuk dipersiapkan. Apakah bisnis kita akan buka 8 jam sehari selama
satu minggu penuh, atau buka 24 jam selama seminggu penuh.
Pertimbangkan juga untuk memperhitungkan segala persiapan usaha dan
juga pengembangan usaha itu ke depannya.
f. WHO
Tentukan orang-orang yang akan terlibat dalam menjalankan bisnis. Mulai
dari karyawan, partner bisnis, dan orang lain yang dapat membantu
dalam

menjalankan bisnis tersebut. Tentukan tugas dari masing-masing

orang yang akan terlibat dalam bisnis sesuai dengan kemampuan dan
bidangnya masing-masing.
g. HOW
Pastikan bahwa kita memiliki strategi dan rencana dalam menjalankan
bisnis. Akan lebih baik bila kita mengetahui mengetahui modal yang
dibutuhkan, kualitas dan kuantitas produk yang akan kita jual.
Berikut di bawah ini cara-cara yang perlu diperhatikan dalam memulai
usaha baru, yaitu:
1. Desain nama bisnis yang baik
Nama

yang

baik

dapat

memberikan

manfaat.

Pertama,

mudah

mengkomunikasikan brand dan pesan pemasaran kepada pelanggan dan

Kewirausahaan

15

investor. Teliti pesaing dan pelajari bagaimana mereka membranding usaha.


Pastikan nama yang diambil menunjukkan keunikan dan belum digunakan
orang lain.
2. Skala dan struktur bisnis
Pahami bahwa usaha yang akan dijalankan sendiri, bermitra dengan pihak
lain, atau berbentuk korporasi. Jika korporasi maka urus status badan
hukumnya, desain aturan untuk pemilik dan pemegang saham. Mintalah
penasihat hukum untuk menentukan struktur terbaik.
3. Mendaftarkan merek dagang dan hak paten
Mendaftarkan merek dagang dan hak paten akan melindungi nama, slogan,
dan logo yang melekat pada usaha yang akan dijalankan. Jika ada kompetitor
yang melakukan plagiasi, pemilik mempunyai hak paten yang bisa
melindunginya. Ada baiknya juga untuk mendaftarkan nama domain, dan
menggunakan nama yang konsisten di semua sosial media.
4. Pastikan bisnis lolos persyaratan hukum
Pemerintah telah memiliki panduan, bahkan untuk pendirian usaha kecil
menengah. Perhatikan, pelajari, dan pastikan calon usahawan tersebut
mematuhinya.
5. Pajak dan pelaporan bisnis
Sejumlah pajak berlaku untuk bisnis. Penting untuk mempelajari berbagai
macam pajak, dan manfaatnya. Pajak akan dikenakan setelah menyelesaikan
laporan keuangan. Diharapkan untuk konsisten membayar dana pensiun
karyawan.
6. Asuransi usaha
Asuransi menjadi penting untuk sejumlah alasan. Lokasi usaha perlu
mendapat perlindungan dari resiko kebakaran, banjir, kerusakan akibat
kecelakaan. Asuransi

jiwa dan asuransi perlindungan pendapatan juga

penting. Lalu, asuransi perlindungan terhadap gangguan usaha.


7. Kantongi sejumlah lisensi yang diperlukan
Kunjungi pihak yang berwenang memberikan ijin usaha, atau juga yang

Kewirausahaan

16

mengeluarkan lisensi bahwa produk layak diedarkan di pasar. Menjaga


keuangan juga sangat penting dalam bisnis. Pertimbangkan untuk menyewa
seorang akuntan untuk membantu pencatatan keuangan.
8. Perangkat lunak yang tepat
Semakin hari, urusan bisnis bisa dipermudah dengan memanfaatkan
teknologi informasi. Pastikan usaha tersebut menggunakan perangkat lunak
(software) yang tepat untuk mengerjakan laporan keuangan misalnya dan
pembayaran gaji karyawan.
9. Saran dan dukungan
Cari informasi darimanapun yang dapat mendukung usaha Anda. Bisa dari
website pemerintah atau lainnya. Anda akan temukan kalender dari banyak
peristiwa yang jadi agenda mereka.

2.6 Bentuk atau Jenis jenis Bidang Usaha


1. Bidang Produksi
Bidang produksi merupakan salah satu bidang usaha yang bisa kita
lakukan. Bidang produksi itu bisa dilihat dari kegiatan usahanya. Apabila
sebuah usaha itu mengelola bahan mentah menjadi bahan jadi maka itu
yang di sebut produksi, termasuk di antaranya pengusaha pengrajin.
Mereka adalah termasuk pada bidang usaha produksi. Dalam laporan
keuangan untuk bidang ini biasanya ada pos atau perkiraan persediaan
awal dan persediaan akhir serta memiliki satu kelompok jurnal keuangan
yang disebut barang dalam proses.
2. Bidang Perdagangan
Sama seperti bidang produksi, bidang perdagangan juga masuk sebagai
salah satu bidang usaha yang juga terpisah. Perdagangan dapat dilihat dari
kegiatan usahanya dalam memperoleh barang. Bila bidang produksi,
barang di peroleh dengan

mengelola bahan baku menjadi bahan jadi,

maka kelompok bidang perdagangan memperoleh produk dari barang jadi


yang dijual kembali. Biasanya suplier adalah salah satu tempat mereka

Kewirausahaan

17

memperoleh barang yang akan dijual.


3. Bidang Jasa
Bidang Jasa juga termasuk salah satu dari dari kelompok bidang usaha.
Untuk mengetahui jenis bidang ini dapat dilihat dari produk yang mereka
jual. Apabila mereka menjual produk non fisik maka itu disebut bidang
jasa, contohnya seperti servis televisi atau servis kulkas dan AC.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kewirausahaan adalah suatu kemampuan kreatif dan inovatif dalam
menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda yang dijadikan dasar, kiat dalam
usaha atau perbaikan hidup. Hakikat dasar dari kewirausahaan adalah
kreativitas dan keinovasian. Kreativitas adalah berfikir sesuatu yang baru dan
keinovasian adalah berbuat sesuatu yang baru. Ada beberapa alas an mengapa
seseorang berminat berwirausaha yaitu alasan keuangan, alasan social, alasan
pelayanan dan alasan memenuhi diri. Untuk memulai usaha kita harus
mengetahui 5W+1H yaitu apa, mengapa, dimana, siapa, kapan dan bagaimana
usaha kita akan dijalankan. Sehingga kita dapat mengerti dan mempersiapkan
apa saja yang diperlukan untuk memulai usaha. Setelah itu, kita dapat
melaksanakan tahap-tahap yang akan dijalankan untuk memulai usaha baru.

3.2 Saran
Karena keterbatasan pengetahuan serta referensi, maka saya
menyarankan kepada para pembaca tidak hanya menjadikan makalah ini
sebagai panduan tapi sebaiknya dilengkapi dari berbagai sumber lain.

Kewirausahaan

18

DAFTAR PUSTAKA

Buchari Alma. 2003. Kewirausahaan. Bandung: Alfabeta.

Mardiningsih, Dyah., et al. 2003. Buku Ajar Kewirausahaan. Undip: Semarang


Meredith, Geoffrey G. 2002. Kewirausahaan: Teori dan Praktek.
Jakarta: PPM

Kewirausahaan

19