Anda di halaman 1dari 60

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Hidrosefalus merupakan suatu kedaan di mana terdapat timbunan
likor serebros-spinalis yang berlebihan dalam ventrikel-ventrikel yang
disertai dengan kenaikan tekanan intrakranial. Hidrosefalus dapat timbul
sebagai kelainan kongenital atau kelainan postnatal (Rukiyah & Yulianti,
2010). Hidrosefalus adalah kelainan patologis otak yang mengakibatkan
bertambahnya cairan serebrospinal dengan atau pernah dengan tekanan
intracranial yang meninggi, sehingga terdapat pelebaran ventrikel (Hassan,
1983) dalam (Maryunani & Nurhayati, 2009).
Hidrosefalus terjadi akibat dari prodeksi likuar yang berlebihan,
peningkatan resistensi aliran likuar, dan peningkatan tekanan sinus venosa.
Sebagai konsekuensi dari tiga mekanisme tersebut adalah peningkatan
tekakanan intracranial sebagai upaya mempertahankan keseimbangan
sekresi dan absorsi. Produksi likuor yang berlebihan akan menyebabkan
tekanan intrakranial. Gangguan aliran likuor merupakan awal dari
kebanyakan kasus hidrosefalus (Satyanegara, 2010). Secara umum gejala
yang paling umum terjadi pada pasien-pasien hidrosefalus dibawah usia 2
tahun adalah pembesaran abnormal yang progresif dari ukuran kepala
(Rukiyah & Yulianti, 2010).
Prognosis hidrosefalus tergantung banyak faktor, tindakan upaya
pencegahan, faktor resiko, komplikasi, progresifilitas,penyakit dan
tindakan pembedahan yang dikerjakan (Maryunani & Nurhayati, 2009).
Prognosis pada anak- anak dengan hidrosefalus yang telah ditangani
bergantung

terutama

pada

kecepatan

perkembangan

hidrosefalus.

Penanganan hidrosefalus secara pembedahan yang dilanjutkan dengan


penatalaksanaan bedah saraf dan medis memiliki angka keberhasilan hidup
sekitar 80%, dengan insiden mortalitas tertinggi terjadi pada periode satu
tahun pertama setelah penanganan. Di antara anak-anak yang berhasil
hidup, sekitar sepertiga diantaranya memiliki fungsi intelektual dan
neurologi yang normal dan separuhnya mengalami disabilitas neurologik
(Wong, 2008).

Salah satu penatalaksanaan pasien dengan hidrosefalus adalah


dengan Operasi pemasangan pintas (shunting) bertujuan untuk membuat
aliran lokuor dengan kavitas drainase (seperti; peritoneum, atrium kanan,
pleura). Pada anak-anak lokasi kavitas yang terpilih adalah rongga
peritoneum. Selain shunting cara terbaik untuk melakukan perforasi dasar
ventrikel III adalah dengan teknik bedah endoskopik (Putra, 2012).
Berdasarkan data yang diperoleh pada laporan registrasi pasien di
Ruang Perina Atas RSUD Kabupaten Tangerang pada tanggal 02 Maret
2016, pada periode dua bulan terakhir (Januari 2016- Febuari 2016)
terdapat 1 pasien dengan kasus hidrosefalus.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut penulis dapat merumuskan
masalah Asuhan Keperawatan Pada By. F dengan Hidrosefalus di Ruang
Perina Atas RSUD Kabupaten Tangerang Tahun 2016.
1.3. Tujuan
1.3.1.
Tujuan Umum
Untuk mendapatkan pengalaman nyata dalam memberikan asuhan
keperawatan pada klien Hidrosefalus dengan menggunakan pendekatan
proses asuhan keperawatan.
1.3.2.

Tujuan Khusus

1. Mahasiswa dapat melakukan pengkajian pada By. F dengan


hidrosefalus di Ruang Perina Atas RSUD Kabupaten Tangerang Tahun
2016.
2. Mahasiswa dapat menyusun diagnosa keperawatan pada By. F dengan
hidrosefalus di Ruang Perina Atas RSUD Kabupaten Tangerang Tahun
2016.
3. Mahasiswa dapat menyusun intervensi keperawatan pada By. F dengan
hidrosefalus di Ruang Perina Atas RSUD Kabupaten Tangerang Tahun
2016.
4. Mahasiswa dapat melakukan implementasi keperawatan pada By. F
dengan hidrosefalus di Ruang Perina Atas RSUD Kabupaten
Tangerang Tahun 2016.

5. Mahasiswa dapat melakukan evaluasi keperawatan pada By. F dengan


hidrosefalus di Ruang Perina Atas RSUD Kabupaten Tangerang Tahun
2016.
1.4. Manfaat
1.4.1.
Bagi Ilmu Pengetahuan
Penulis berharap laporan ini dapat digunakan sebagai acuan dalam
perkembangan ilmu keperawatan pada kasus hidrosefalus terutama yang
dialami pada bayi.
1.4.2.
Bagi Profesi Keperawatan
Laporan ini diharapkan menjadi suatu dasar pencapaian asuhan
keperawatan yang menyeluruh terhadap pemberian pelayanan pada kasus
hidrosefalus baik di rumah sakit maupun fasilitas kesehatan lainnya.
1.4.3.
Bagi Institusi/Lahan Praktek
Laporan ini diharapkan dapat dijadikan sebagai acuan untuk tenaga
kesehatan khususnya perawat di RSUD Kabupaten Tangerang dalam
pemberian asuhan keperawatan

komprehensif pada

bayi

dengan

hidrosefalus.
1.4.4.
Bagi Institusi Pendidikan
Laporan ini diharapkan dapat menjadi acuan laporan-laporan selanjutnya
untuk pengembangan lebih lanjut asuhan keperawatan pada kasus bayi
dengan hidrosefalus.

BAB 2
TINJAUAN TEORITIS
2.1. Definisi Hidrosefalus
Hidrosefalus merupakan suatu keadaan dimana terdapat timbunan
cairan serebrospinalis yang berlebihan dalam ventrikel-ventrikel yang
disertai dengan kenaikan tekanan intracranial (Sarwono,1992) dalam
(Maryunani & Nurhayati, 2009). Hidrosefalus merupakan keadaan yang
disebabkan gangguan keseimbangan antara produksi dan absorpsi cairan
serebrospinal dalam sistem ventrikel otak. Jika produksi CSS lebih besar
daripada absorpsi, CSS akan terakumulasi dalam sistem ventrikel, dan
biasanya peningkatan tekanan akan menghasilkan dilatasi asi ventrikel
(Wong, 2008).
Hidrosefalus adalah kelainan patologis otak yang mengakibatkan
bertambahnya cairan serebrospinal dengan atau pernah dengan tekanan
intracranial yang meninggi, sehingga terdapat pelebaran ventrikel.
Pelebaran ventrikuler ini akibat ketidakseimbangan antara produksi dan
absorsi cairan serebrospinal. Hidrosefalus selalu bersifat sekunder, sebagai
akibat penyakit atau kerusakan otak. Adanya kelainan-kelainan tersebut
menyebabkan kepala menjadi besar serta terjadi pelebaran sutura-sutura
dan ubun-ubun (Putra, 2012).
2.2. Klasifikasi Hidrosefalus
Ada beberapa istilah dalam klasifikasi hidrosefalus maupun
sebutan diagnosis kasus yaitu:
1. Hidrosefalus interna: menunjukkan adanya dilatasi ventrikel.
2. Hidrosefalus eksternal: cenderung menunjukkan adanya pelebaran
rongga subarachnoid di atas permukaan korteks.
3. Hidrosefalus komunikans adalah keadaan hidrosefalus dimana ada
hubungan antara sistem ventrikel dengan rongga subarachnoid otak
dan spinal.
4. Hidrosefalus nonkomunikans bila ada blok di dalam sistem ventrikel
atau salurannya ke rongga subarachnoid (Satyanegara, 2010).
2.3. Etiologi

Hidrosefalus terjadi apabila terdapat penyumbatan aliran cairan


serebrospinal pada salah satu tempat antara tempat pembentukan cairan
serebrospinal dalam system ventrikel dan tempat absorsi dalam ruang
subaraknoid. Pada bayi penyebab penyumbatan aliran cairan serebrospinal
yang sering terjadi adalah:
1) Kelainan kongenital: adanya stenosis akuaduktus sylvii (merupaka
penyebab terbanyak pada hedrosefalus bayi), spina bifida dan cranium
bivida, sindrom dandy walker, kista araknoid dan anomaly pembuluh
darah.
2) Infeksi: timbul pada pasca meningiitis, TORCH.
3) Neoplasma: hidrosefalus terjadi karena obstruksi mekanis yang dapat
terjadi pada setiap aliran cairan serebrospinal, antara lain tumor
ventrikel III, tumor fossa posterior, limfoma dan lain-lain.
4) Perdarahan: perdarahan sebelum dan sesudah lahir dalam otak dapat
menyebabkan

fibrosis

yang

akan

menimbulkan

penyumbatan

(Maryunani & Nurhayati, 2009).


2.4. Patofisiologi
Dua mekanisme pembentukan CSS adalah sekresi oleh pleksus
koroid dan rabas menyerupai cairan limfatik yang berasal dari cairan
ekstraselular otak. Cairan serebrospinal bersirkulasi melalui seluruh sistem
ventrikel, kemudian diabsorpsi dalam rongga subaraknoid dengan
mekanisme yang tidak sepenuhnya dipahami. Diagnosis pranatal jelas
memberikan dampak terhadap prevalensi kelahiran hidrosefalus pada saat
ini. Kemajuan teknologi dalam pemeriksaan MRI dan CT Scan telah
menghasilkan informasi yang sangat berharga tentang patofisiologi
berbagi penyakit. Hidrosefalus disebabkan oleh berbagai keadaan;
hidrosefalus

dapat

merupakan

penyakit

kongenital

(gangguan

perkembangan janin dalam uterus atau infeksi intrauteri), atau didapat


(neoplasma, perdarahan, atau infeksi) (Wong, 2008).
Hidrosefalus merupakan gejala kelainan otak mendasar yang dapat
mengakibatkan gangguan absorsi CSS dalam ruang subaraknoid (masih
9

ada hubungan antar ventrikel; hidrosefalus komunikans), atau obstruksi


aliran CSS dalam ventrikulus (tidak ada hubungan antar ventrikel;
hidrosefalus nonkomunikans). Setiap gangguan keseimbangan antara
produksi dan absorsi CSS menyebabkan peningkatan akumulasi CSS
dalam ventrikel yang kemudian mengalami dilatasi dan menekan substansi
otak ke tulang kranial, peristiwa ini akan menimbulkan pembesaran
tengkorak selain dilatasi ventrikel (Wong, 2008).

11

2.5. Pathway

Hydrocephalus

Kelainan Kongenital
Obstruksi salah satu
tempat pembentukan

Obstruksi/penyerapan LCS

Peningkatan jumlah cairan


serebrospinal

Hydrocephalus
nonkomuniskas
Pembesaran
kepala

Peningkatan
TIK

Kesulitan bergerak

Penekanan
total

Herniasi falk
serebri

Kerusaka
n
mobilitas

Kompresi
batang otak

Koping keluarga
tidak efektif

Pembuluh darah
tertekan

Disfungsi
persepsi visual
spasial

Aliran
darah

Perfusi
jaringan tidak
efektif

Otak semakin
tertekan
Hipotalamus semakin
tertekan

Kejang
Resik
o
ceder

Adanya port de
entry dan benda
asing masuk

Papiledema

Gangguan
persepsi
sensori

Penurunana kesadaran

Terpasang
shunt

Penekanan
saraf optikus

Depresi saraf
kardiovaskular
dan pernafasan

Gangguan
integritas
kulit

Tindakan
pembedahan

Mual
muntah
BB menurun
Kebutuhan
nutrisi kurang
dari tubuh

Resiko
infeksi
Respon
inflamsi
Hipertermi

Kerusakan fungsi
kognitif dan
psikomotor
Defisist perawatan
diri

Saraf pusat
tertekan
Kesadaran
Penuruna
n
kesadara
13

Sakit
kepala
Nyeri
akut

2.6. Manifestasi Klinis


Tanda awal dan gejala hidrosefalus tergantung pada awitan dan
derajat ketidakseimbangan kapasitas produksi dan resorbsi CSS. Gejalgejala yang menonjol merupakan refleksi adanya hipertensi intrakranial
(Putra, 2012). Manifestasi klinis dari hidrosefalus dikelompokkan menjadi:
a. Masa bayi, tahap awal
1. Pertumbuhan kepala cepat dan abnormal
2. Fontanel menonjol (terutama fontanel anterior) kadang-kadang

3.
4.
5.
6.

tanpa pembesaran kepala:


a. Tegang
b. Tidak berdenyut
Dilatasi vena-vena kulit kepala
Sutura terpisah
Tanda Macewen (bunyi perkusi: seperti pot retak)
Penipisan tulang tengkorak (Wong, 2008).

b. Masa bayi, tahap lanjut


1. Pembesaran frontal, atau penonjolan dahi
2. Mata yang masuk ke dalam
3. Tanda Setting sun sklera terlihat di atas iris
4. Refleks pupil lamban, respons terhadap cahaya tidak sama (Wong,
2008).
c. Masa bayi, umum
1. Iritabilitas (rewel)
2. Letargi
3. Bayi menangis ketika digendong atau ditimang dan diam ketika
dibiarkan berbaring tenang
4. Refleks infantil awal mungkin masih ada
5. Respons yang normalnya terjadi tidak muncul
6. Dapat memperlihatkan:
a. Perubahan tingkat kesadaran
b. Opistotonos (sering berlebihan)
c. Spastisitas ekstremitas bawah
d. Muntah
7. Kasus lanjut:
a. Kesulitan menghisap dan minum susu
b. Tangisan yang melengking, singkat dan bernada tinggi
c. Gangguan kardiopulmonal (Wong, 2008)
d. Masa kanak-kanak

15

1. Sakit kepala pada saat bangun tidur, perbaikan terjadi setelah


muntah atau dalam posisi tegak
2. Papiledema
3. Strabismus
4. Tanda-tanda traktus ekstrapiramidal (mis, ataksia)
5. Iritabilitas (rewel)
6. Letargi
7. Apatis
8. Konfusi (bingung)
9. Inkoherensi
10. Muntah (Wong, 2008).
2.7. Komplikasi
Komplikasi terbesar pada VP shunt adalah infeksi dan malfungsi.
Malfungsi lebih sering disebabkan oleh obstruksi mekanik atau
perpindahan di dalam ventrikel dari bahan-bahan khusus atau ujung distal
dari thrombosis sebagai akibat dari pertumbuhan. Anak dengan obstruksi
shunt sering menunjukkan kegawatan dengan manifestasi klinik
peningkatan TIK yang lebih sering disertai dengan status neurologis yang
buruk (Muttaqin, 2008). Komplikasi dari Shunt adalah Obstruksi shunt,
infeksi, dan drainase yang berlebih (Pople, 2002).

2.8. Pemeriksaan Penunjang


Diagnosis dapat dilakukan dengan beberapa cara berikut:
1) Pemeriksaan fisik, meliputi dua hal. Pertama, pengukuran lingkar
kepala secara berkala. Pengukuran ini penting untuk melihat
pembesaran kapala yang progresif atau lebih dari normal. Kedua
adalah dengan transimulasi.
2) Pemeriksaan darah, dalam hal ini tidak ada pemeriksaan darah khusus
untuk hidrosefalus.
3) Pemeriksaan cairan serebrospinal. Analisis cairan serebrospinal pada
hidrosefalus akibat perdarahan atau meningitis untuk mengetahui kadar
protein dan menyingkirkan kemungkinan ada infeksi sisa.
4) Pemeriksaan radiologi meiputi tiga hal. Pertama X-foto kepala; tampak
cranium yang membesar atau sutura yang melebar. Kedua, USG
kepala; dilakukan bila ubun-ubun besar belum menutup. Ketiga, CT-

17

Scan kepala; bertujuan untuk mengetahui adanya pelebaran ventrikel


sekaligus mengevaluasi struktur-struktur intraserepral lainya.
Diagnosis banding juga perlu ditegakkan dalam pemeriksaan
hidrosefalus. Pemebesaran kepala dapat terjadi pada hidrosefalus,
makrosefalik, tumor otak, abses otak, granuoma intracranial, dan
bematoma subdural perinatal hidranensefali (Putra, 2012).
2.9. Penatalaksanaan Medis
Adapun penatalaksanaan bayi yang mengalami hidrosefalus
sebagai berikut:
1) Perawatan bayi umum ditambah pencegahan dekubitus karena bayi
akan lebih banyak teentang.
2) Pemberian diamok (aseta

zolami)

untuk

mengurangi

cairan

serebrospinal 50-70 mg/kgBB/hari.


3) Pemasangan pirau ventrikulo peritoneal.
4) Penyuluhan pada orang tua tentang kesiapan menghadapi kenyataan
dan pencegahan komplikasi dekubitus (Rukiyah & Yulianti, 2010).
Sedangkan tiga prinsip dalam pengobatan hidrosefalus dengan
kedokteran, yaitu;
1. Mengurangi produksi CSS dengan merusak sebagian pleksusu
koroidalis, dengan tindakan reseksi (pembedahan)

atau koagulasi,

akan tetapi hasilnya tidak memuaskan.


2. Mempengaruhi hubungan antara tempat produksi CSS dengan tempat
absorpsi yakni menghubungkan ventrikel dengan ruang subarachnoid.
Misalnya, ventrikulosisternostomi pada stenosis akuaduktus silvius.
Pada anak hasilnya kurang memuaskan, karena sudah ada insufisiensi
fungsi absorpsi.
3. Pengeluaran likuar (CSS) ke dalam organ ekstrakranial (Rukiyah &
Yulianti, 2010).
Penanganan hidrosefalus juga dapat dibagi menajadi:
a. Penanganan sementara
1) Terapi konservatif medikamentosa; ditujukan untuk membatasi
evolusi hidrosefalus melalui upaya mengurangi sekresi cairan dan
pleksus choroid (asetazolamid 100 mg/kgBB/hari; furosemid 1,2
mg/kgBB/hari) atau upaya meningkatkan resorpsinya (isorbid).

19

Terapi di atas hanya bersifat sementara sebelum dilakukan terapi


defenitif diterapkan atau bila ada harapan kemungkianan pulihnya
gangguan hemodinamik tersebut; sebaliknya terapi ini tidak efektif
untuk pengobatan jangka panjang mengingat adanya resiko
terjadinya gangguan metabolik (Rukiyah & Yulianti, 2010)
2) Drainase liqouor eksternal; dilakukan dengan memasang kateter
ventrikuler yang kemudian dihubungkan dengan suatu kantong
drain eksternal. Keadaan ini dilakukan untuk penederita yang
berpotensi menjadi hidrosefalus (hidrosefalus transisi) atau yang
sedang mengalami infeksi. Keterbatasan tindakan ini adalah
adanya ancaman kontaminasi liqour dan penderita harus selalu
dipantau secara ketat. Cara lain yang mirip dengan metode ini
adalah puksi ventrikel yang dilakukan berulang kali untuk
mengatasi pembesaran ventrikel yang terjadi (Rukiyah & Yulianti,
2010).
b. Penanganan Alternatif
Tindakan alternatif selain operasi pintas (shunting) diterapkan
khususnya bagi kasus-kasus yang mengalami sumbatan di dalam
sistem ventrikel termasuk juga saluran keluar ventrikel IV (misal;
stenosis akuaduktus, tumor fossa posterior, kista arakhnoid). Dalam hal
ini maka tindakan terapeutik semacam ini perlu dipertimbangkan
terlebih dahulu, walaupun kadang lebih rumit daripada memasang
shunt, mengingat restorasi aliran liqour menuju keadaan atau
mendeteksi normal selalu lebih baik daripada suatu drainase yang
artifisial. Penanganan yang dapat dilakukan antara lain:
1) Terapi etiologik; Penanganan terhadap etiologi hidrosefalus
merupakan strategi terbaik; seperti antara lain pengomtrolan kasus
yang mengalami intoksikasi vitamin S, reseksi radikal lesi massa
yang mengganggu aliran liqour, pembersihan sisa darah dalam
liqour atau perbaikan suatu malformasi. Pada beberapa kasus
diharuskan untuk melakukan terapi sementara terlebih dahulu
sebelum diketahui secara pasti lesi penyebab atau masih

21

memerlukan tindakan operasi shunting karena kasusu yang


mempunyai etiologi multifactor atau mengalami gangguan aliran
liqour sekunder (Rukiyah & Yulianti, 2010).
2) Penetrasi membrane; Penetrasi dasar ventrikel III merupakan suatu
tindakan membuat jalan alternatif melalui rongga subarachnoid bagi
kasus-kasus stenosis akuaduktus atau gangguan aliran pada fossa
posterior (termasuk tumor fossa posterio). Selain memulihkan
fungsi sirkulasi liqour secara pseudofisiologi, ventrikulostomi III
dapat mebciptakan tekanan hidrostatik yang uniform pada seluruh
sistem saraf pusat sehingga mencegah terjadinya perbedaan tekanan
pada struktur-struktur garis tengah yang rentan (Rukiyah &
Yulianti, 2010).
c. Operasi pemasangan pintas (shunting)
Sebagian besar pasien hidrosefalus memerlukan tindakan
operasi pintas (hunting) bertujuan membuat saluran baru aliran likuor
(ventrikel atau lumbar) dengan kavitas drainase (seperti; peritoneum,
atrium kanan, pleura). Pada anak-anak lokasi kavitas yang terpilih
adalah rongga peritoneum, mengingat mampu menampung kateter
yang cukup panjang sehingga dapat menyesuaikan pertumbuhan anak
serta resiko terjadinya infeksi relatif lebih kecil dibanding rongga
jantung. Biasanya cairan LCS didrainasi dari ventrikel, namun
terkadang pada hidrosefalus komunikans ada yang didrain ke rongga
subarachnoid lumbar (Rukiyah & Yulianti, 2010).
2.10.
2.10.1.

Asuhan Keperawatan
Anamnesa
Anamesis pada hidrosefalus meliputi keluhan utama, riwayat penyakit

sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat perkembangan dan riwayat


psikososial.
1. Identitas klien meliputi nama, umur (kebanyakan terjadi pada bayi dan
neonates), jenis kelamin, pendidikan, alamat pekerjaan, agama, suku
bangsa, tanggal dan jam masuk rumah sakit, nomor register, asuransi
kesehatan diagnose medis.

23

2. Keluhan utama yang sering menjadi alasan klien untuk meminta


pertolongan kesehatan tergantung dari seberapa jauh dampak
hidrosefalus pada peningkatan tekanan intrakrania meliputi muntah,
gelisah, nyeri kepala, lelah, apatis, penglihatan ganda, perubahan pupil,
dan kontriksi penglihatan perifer.
3. Riwayat penyakit saat ini, pengkajian yang didapat meliputi keluhan
anaknya mengalami pembesaran kepala, tingkat kesadaran menurun,
kejang,

muntah,

sakit

kepala,

wajah

tampak

kecil

secara

disproporsional, anak menjadi lemah, kelemahan fisik umum,


akumulasi secret pada saluran pernafasan. Adanya penurunan atau
perubahan pada tingkat kesadaran.
4. Riwayat pengkajian dahulu, pengkajian yang peru ditanyakan meliputi
adanya riwayat hidrosefaus sebelumnya, adanya neoplasma otak,
kalainan bawaan pada otak dan riwayat infeksi.
5. Riwayat perkembangan, kelahiran premature,

lahir

dengan

pertolongan, pada waktu lahir menangis kencang atau tidak. Riwayat


penyakit keluarga kaji anggota keluarga generasi terdahulu yang
menderita stenosis aquaduktus yang berhubungan dengan penyakit
keluarga/keturunan yang terpaut seks.
6. Pengkajian psikososial, pengkajian mekanisme koping yang digunakan
klien dan keluarga (orang tua) untuk menilai respon terhadap penyakit
yang dideritan dan perubahan peran dalam keluarga dan masyarakat.
Apakah ada dampak yang timbul pada klien dan orang tua, yaitu
timbul ketakutan akan kecacatan, cemas, ketidakmampuan untuk
melakukan aktivitas secara optimal (Muttaqin, 2008)
2.10.2.
Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan Umum, pada keadaan hidrosefalus umumnya mengaami
penurunanan kesadaran (GCS <15) dan terjadi perubahan pada tandatanda vital.
2) B1 (Breathing), ispeksi apakah didapatkan klien batuk, peningkatan
produksi sputum, sesak nafas, penggunaan otot bantu nafas, dan
peningkatan frekuensi pernafasan. Terdapar retraksi klavikula/dada,
pengembangan paru tidak simetris. Ekspansi dada dinilai penuh dan
kesimetrisannya.

25

3) B2 (Blood), nadi bradikardi merupakan tanda adanya perubahan


perfusi jaringan otak, kulit pucat. Hipotensi merupakan tanda awal
terjadinya perfusi jaringan dan tanda-tanda syok.
4) B3 (Brain), secara umum kepala akan terlihat lebih besar, mengukur
lingkar kepala bergantian dengan lingkar dada, ubun-ubun besar
melebar, teraba tegang dan menonjol. Dahi tampak melebar dengan
kulit kepala yang menipis, pelebaran vena kulit kepala, sutura belum
menutup dan melebar. Didapatkan cracked pot sign bunyi seperti pot
kembang retak saat diperkusi. Bola mata terdorong kebawah, sklera
tampak diatas iris. Mengkaji timgkat kesadaran, pemeriksaan fungsi
serebri.
5) B4 (Bladder), kaji keadaan urine meliputi warna, jumlah, dan
karakteristik urine. Penurunan jumlah urine dan peningkatan retensi
caira terjadi karena menurunya perfusi pada ginjal. Klien mengalami
inkontinensia

urine,

ketidakmampuan

mengkomunikasikan

kebutuhan, dan ketidakmampuan untuk menggunakan system


perkemihan karena kerusakan kontrol motorik dan postural. Kontrol
sfingter urinarius eksternal hilang atau berkurang.
6) B5 (Bowel), kelainan kesulitan menean, nafsu makan menurun, mual
muntah pada fase akut. Terjadi konstipasi akibat penurunan peristaltik
usus, kontinensia alvi yang beranjut kerusakan neurologis luas.
7) B6 (Bone), kelemahan fisik umum, warna kulit kebiruan
menunjukkan sianosis (ujung kuku, ekstremitas, telinga, hidung, bibir,
membrane mukosa) (Muttaqin, 2008).
2.10.3.

Diagnosa Keperawatan

1. Resiko tinggi peningkatan tekanan intrakranial yang berhubungan


dengan peningkatan jumlah cairan serebrospinal.
2. Bersihan jalan nafas tidak efektif yang berhubungan dengan
penumpukan sputum, peningkatan sekresi secret dan penurunan batuk
sekunder akibat nyeri dan keletihan, adanya jalan nafas buatan pada
trakea, ketidakmampuan batuk/batuk efektif.
3. Nyeri yang berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial,
terpasanganya shunt.

27

4. Gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan


dengan perubahan kemampuan mencerna makanan, peningkatan
kebutuhan metabolism.
5. Resiko tinggi cedera yang berhubungan dengan kejang.
6. Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan penurunan
kesadaran, kelemahan fisik umum, pembesaran kepala.
7. Ansietas keluarga yang berhubungan dengan keadaan kritis pada klien.
8. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan misinterpretasi
informasi, tidak mengenal sumber-sumber informasi, ketegangan
akibat krisis situasional.
9. Resiko gangguan integritas kulit sehubungan dengan mobilitas, tidak
adekuatnya sirkulasi perifer.
10. Resiko defisit cairan dan elektrolit berhubungan dengan muntah,
asupan cairan kurang, peningkatan metabolism.
11. Resiko tinggi infeksi yang berhubungan dengan post d antree organism
sekunder akibat trauma (Muttaqin, 2008).

29

2.10.4.
2.1.5

Intervensi Keperawatan
Resiko tinggi peningkatan tekanan intrakranial yang berhubungan

dengan peningkatan jumlah cairan serebrospinal.


Tujuan/Kriteria Hasil:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam tidak terjadi
peningkatan TIK pada klien.
Kriteria Hasil: Klien tidak gelisah, tidak mengeluh nyeri kepala, mualmual dan muntah, GCS: 4,5,6, tidak terdapat palpidema, TTV dalam
batas normal.
Tabel 2.1

Intervensi

Rasional

1. Kaji faktor penyebab dari situasi/keadaan 1. Deteksi dini untuk memprioritaskan


individu/penyebab
jaringan

dan

koma/penurunan
kemungkinan

perfusi

penyebab

peningkatan TIK.
2. Monitol tanda-tanda vital tiap 4 jam.

intervensi, mengkaji status neurologis/


tanda-tanda

kegagalan

untuk

menentukan perawatan kegawatan atau


tindakan pembedahan.
2. Dengan peningkatan tekanan darah
diastolik

maka

dibarengi

dengan

peningkatan tekanan darah intrakranial.


3. Reaksi pupil merupakan tanda dari
3. Evaluasi pupil.

gangguan nervus jika batang otak


terkoyak. Keseimbangan saraf simpatis
dan parasimpatis merupakan respon
reflek saraf kranial.
4. Panas merupakan reflek dari

4. Monitor temperature dan pengaturan suhu


lingkungan

hipotalamus. Peningkatan kebutuhan


metabolism dan O2 akan menunjang
peningkatan TIK.

5. Pertahankan kepala/leher pada posisi yang 5. Perubahan kepala pada satu sisi dapat
netral, usahakan dengan sedikit bantal, hindari
menimbulkan penekanan pada vena
penggunaan bantal yang tinggi.
jugularis dan menghambat aliran darah
6. Berikan periode istirahat antara tindakan
otak.
perawatan dan batasi lamanya prosedur.
6. Tindakan yang terus menerus dapat
7. Kurangi rangsangan ekstra dan berikan rasa

meningkatkan

TIK

oleh

31

efek

nyaman seperti masase punggung, lingkungan


yang tenang, sentuhan yang ramah.

rangsangan kumulatif.
7. Memberikan suasanan yang tenang
dapat mengurangi respon psikologis dan
memberikan

8. Vegah/hindarkan terjadinya valsava maneuver.

istirahat

untuk

memperthankan TIK.
8. Mengurangi tekanan intrathorakal dan
intraabdominal sehingga menghindari

9. Bantu klien jika batuk/muntah.

peningkatan TIK.
9. Aktivitas ini dapat
intrathorakal

dan

meningkatkan
intraabdominal

dimana dapat meningkatkan tekanan


TIK.
10. Kaji peningkatan istirahat dan tingkah laku 10. Tingkah nonverbal ini dapat merupakan
pada pagi hari.
indikasi peningkatan TIK.
11. Palpasi pada pembesaran kandung kemih, 11. Dapat meningkatkan respons otomatis
pertahankan drainase urine dan monitor
yang potensial menaikkan TIK.
terdapatnya konstipasi.
12. Berikan penjelasan pada klien dan orang tua 12. Meningkatkan
tentang sebab akibat TIK meningkat.
13. Observasi tingkat kesadaran dengan GCS.

meningkatkan

kerja

sama

perawatan

mengurangi kecemasan.
13. Perubahan kesadaran

dalam

klien

dan

menunjukkan

peningkatan TIK.
14. Kolaborasi pemberian o2 sesuai indikasi.
14.
Mengurangi hipoksemia.
15. Berikan cairan intravena sesuai dengan yang
15. Pemberian cairan untuk mengurangi
diindikasikan.
edema serebri, peningkatan minimum
pada pembuluh darah dan TIK.
16. Berikan obat direutik osmotic contohnya 16. Digunakan pada fase akut untuk
manitol furoscide.
mengalirkan air dari kerusakan sel dan
17. Berikan steroid contohnya deksamentason,
metal predniksolon.
18. Monitor hasil laboratorium sesuai dengan
indikasi seperti prothorombin LED.

mengurangi edema serebri dan TIK.


17. Untuk menurunkan inflamasi dan
mengurangi edema jaringan.
18. Memberikan
informasi

tentang

efektivitas pemberian obat (Muttaqin,


2008).

33

3.1.5

Bersihan jalan nafas tidak efektif yang berhubungan dengan

penumpukan sputum, peningkatan sekresi secret dan penurunan batuk


sekunder akibat nyeri dan keletihan, adanya jalan nafas buatan pada
trakea, ketidakmampuan batuk/batuk efektif.
Tujuan: Dalam waktu 2x24 jam terdapat perilaku peningkatan keefektifan
jalan nafas.
Kriteria hasil: bunyi nafas terdengar bersih, ronkhi tidak terdengar,
tracheal tube bebas sumbatan, mununjukkan batuk yang efektif, tidak ada
lagi penumpukan secret di saluran pernafasan.
Tabel 2.2

Intervensi

Rasional

1. Kaji keadaan jalan nafas.

1. Obstruksi mungkin disebabkan oleh


akumulasi secret, sisa cairan mucus,

2. Evaluasi pergerakan dada dan auskultasi suara


napas pada kedua paru.

perdarahan, broncospasme.
2. Penrgerakan dada yang simetris dengan
suara nafas yang keluar dari paru-paru

3. Lakukan penghisapan lender jika diperlukan.

4. Anjurkan klien menggunakan teknik batuk

menandakan
terganggu.
3. Pengisapan

lender

nafas
tidak

pun dapat dikurangi untuk mencegah

secret dari saluran nafas.


5. Mengatur pengeluaran
minuman

hangat

jika

selama

bahaya hipoksia.
4. Batuk yang efektif dapat mengeluarkan

5. Atur posisi secara teratur (tiap 2 jam.

6. Berikan

tidak

dilakukan terus-menerus dan durasinya

selama penghisapan seperti waktu bernafas


panjang.

jalan

keadaan

secret

dan

ventilasi segmen paru-paru, mengurangi

memungkinkan.
7. Jelaskan kepada klien tentang kegunaan batuk 6.
efektif dan kenapa terdapat penumpukan secret.
8. Ajarkan klien yang kooperatif tentang metode 7.

resiko atekektasis.
Membantu
pencernaan

yang tepat untuk pengontrolan batuk.


9. Napas dalam dan perlahan saat duduk setegak

membantu mengembangkan kepatuhan

mungkin.
10. Lakukan pernafasan diafragma.
11. Tahan nafas selama 3-5 detik.

sekret,

mempermudah pengeluaran sekret.


Pengeluaran yang diharapkan akan

klien terhadap rencana terapeutik.


8. Batuk yang tidak terkontrol adalah
melelahkan dan tidak efektif.
9. Memungkinkan ekspansi paru lebih

luas.
12. Lakukan nafas ke dua, tahan dan batukkan dari 10. Menurunkan
dada dengan melakukan 2 batuk pendek dan

frekuensi

nafas

35

dan

kuat.
meningkatkan sekresi secret.
13. Auskultasi paru sebelum dan sesudah klien 11. Meningkatkan volume udara dalam paru
batuk.

mempermudah

14. Ajarkan klien tindakan untuk menurunkan


viskositas sekresi.
15. Berikan perawatan mulut yang baik setelah
batuk.
16. Kolaborasi

dengan

doketr,

radiologi,

sekresi

secret.
12. Pengkajian ini membantu mengevaluasi
keefektifan upaya batuk klien.
13. Sekresi kental dapat menyebabkan
sumbatan mukus.
14. Untuk menghindari pengentalan sekret
atau mosa pada saluran nafas bagian

fisioterapi: pemberian okspektoran, antibiotic,


dada, foto thoraks.
17. Lakukan fisioterapi dada sesuai indikasi seperti

pengeluaran

atas.
15. Hygiene

pascaural drainase, penepukan.

mulut

yang

baik

mengakibatkan rasa kesejahteraan dan


mencegah bau mulut.
16. Untuk memudahkan

mengeluarkan

lender.
17. Mengatur ventilasi segmen paru-paru
dan

pengeluaran

secret

(Muttaqin,

2008).

4.1.5

Nyeri yang berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial,

terpasanganya shunt.
Tujuan: setelah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan nyeri dapat
berkurang/hilang.
Kriteria hasil:
- Melaporkan nyeri dapat berkurang atau terkontrol.
- Mengikuti program farmakologi yang diresepkan.
- Mendemonstrasikan penggunaan keterampilan

relakasasi

atau

pengalihan.
Tabel 2.3

Intervensi

Rasional

1. Catat usia klien, tingkat perkembbangan dan 1. Mempengaruhi

kemampuan

untuk

usia saat ini.


melaporkan parameter nyeri.
2. Lakukan pengkajian nyeri lokasi, karakteristik, 2. Mengidentifikasi faktor pencetus.
awitan,

durasi,

frekuensi,

kualitas,

dan

3. Nyeri yang mengikuti cedera, trauma,

intensitas.

37

3. Catat

kemungkinan

penyebab

nyeri

patofisiologis dan psikologis.


4. Catat lokasi prosedur pembedahan.
5. Pantau tanda-tanda vital selama periode nyeri.
6. Beri manajemen nyeri nonfarmakologis
(masase, perubahan posisi, kompres, relaksasi
nafas, visualisasi, imajinasi terbimbing).
7. Kolaborasi pemberian analgesik

5.1.5

atau prosedur seperti pembedahan.


4. Adanya komplikasi yang diketahui
dapat membuat nyeri lebih berat.
5. TTv biasanya berubah pada saat nyeri.
6. Aktivitas pengalihan atau distraksi.
7. Jenis obat yang diberikan bergantung
pada jenis dan keparahan nyeri.

Gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan

dengan

perubahan

kemampuan

mencerna

makanan,

peningkatan

kebutuhan metabolisme.
Tujuan: dalam waktu 2x24 jam kebutuhan nutrisi klien terpenuhi dalam
waktu 7x24 jam.
Kriteria hasil: turgor baik, asupan dapat masuk sesuai kebutuhan,
terdapat kemampuan menelan, sonde dilepas, BB meningkat 1kg, hb dan
albumin dalam batas normal.
Tabel 2.4

Intervensi

Rasional

1.
2.
3.
4.
5.

Observasi tekstur, turgor kulit.


1. Mengetahui status nutrisi klien.
Lakukan oral hygiene.
2. Kebersihan mulut merangsang nafsu
Observasi asupan keluaran.
makan.
Observasi posisi dan keberhasilan sonde.
3. Mengetahui keseimbangan nutrisi klien.
Tentukan kemampuan klien dalam mengunyah,
4. Intuk menghindari resiko infeksi.
menenlan, dan reflek batuk.
5. Untuk menetapkan jenis makanan yang
6. Letakkan posisi kepala lebih tinggi pada saat
akan diberikan pada klien.
selama dan sesudah makan.
6. Agar klien lebih mudah menelan karena
7. Stimulasi bibir untuk menutup dan membuka
gaya gravitasi.
mulut secara manual dengan menekan ringan di 7. Membantu dalam melatih kembali
atas bibir/di bawah dagu jika dibutuhkan.
8. Letakkan makanan pada daerah mulut yang

sensorik dan meningkatkna nkontrol


muscular.

tidak terganggu.
8. Memberikan stimuasi sensorik yang
9. Berikan

makanan

dengan

perlahan

pada

lingkungan yang terang.


10. Mulailah untuk memberikan makanan per/oral
setengah cair, makan lunak ketika klien dapat

dapat

mencetuskan

usaha

untuk

menelan dan meningkatkan masukan.


9. Klien dapat berkonsentrasi pada
mekanisme

makan

tanpa

39

adanya

menelan air.
distraksi gangguan dari luar.
11. Anjurkan klien menggunakan sedotan untuk 10. Mudah untuk mengendalikannya di
meminum cairan.
12. Anjurkan klien untuk berpartisipasi dalam

dalam mulut, menurunkan terjadinya


aspirasi.

program latihan.
11. Menguatkan
13. Kolaborasi

dengan

tim

dokter

untuk

memberikan cairan mealui IV atau makanan


melalui selang.

menelan

otot

serta

fasial

dan

menurunkan

tersedak.
12. Dapat
meningkatkan
endorphin

dalam

otot
resiko

pelepasan
otak

yang

meningkatkan nafsu makan.


13. Mungkin diperlukan untuk memberikan
cairan pengganti (Muttaqin, 2008).

6.1.5

Resiko tinggi cedera yang berhubungan dengan kejang, perubahan

status mental dan penurunan tingkat kesadaran.


Tujuan: dalam waktu 3x24 jam perawatan klien bebas dari cedera yang
disebabkan oleh kejang dan penurunan kesadaran.
Kriteria hasil: klien tidak mengalami cedera ababila kejang berulang.
Tabel 2.5

Intervensi

Rasional

1. Monitor kejang pada tangan, kaki, mulut, dan 1. Gambaran tribalitas system saraf pusat
otot-otot muka lainnya.

memerlukan

evaluasi

yang

sesuai

dnegan intervensi yang tepat untuk


2. Persiapkan lingkungan yang aman seperti
batasan ranjang, papan pengaman, dan alat
suction selalu berada dekat klien.
3. Pertahankan bedrest total selama fase akut.
4. Kolaborasi

pemberian

Phenobarbital.

7.1.5

terapi

diazepam,

mencegah terjadinya komplikasi.


2. Melindungi klien apabila kejang terjadi.
3. Mengurangi resiko jatuh/terluka jika
vertigo, sincope, dan ataksia terjadi.
4. Untuk mencegah atau mengurangi
kejang (Muttaqin, 2008).

Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan penurunan

kesadaran, kelemahan fisik umum, pembesaran kepala.

41

Tujuan: dalam waktu 2x24 jam mobilitas klien meningkat sesuai kondisi
klien.
Kriteria hasil: skala ketergantungan klien meningkat menjadi bantuan
minimal, tidak terjadi kontraktur, tootdrop, gangguan integritas kulit,
fungsi bowell dan bladder optimal, serta peningkatan kemampuan fisik.
Tabel 2.6

Intervensi

Rasional

1. Review kemampuan fisik dan kerusakan yang 1. Mengidentifikasi kerusakan fungsi dan
terjadi.
menentukan pilihan intervensi.
2. Kaji tingkat imobillisasi, gunakan skala tingkat 2. Tingkat ketergantungan minimal care,
ketergantungan.
partial care, dan total care.
3. Biarkan perubahan posisi yang teratur pada 3. Perubahan
posisi
teratur
klien.

dapat

mendistribusikan berat badan secara


menyeluruh
peredaran

dan
darah

memfasilitasi
serta

mencegah

4. Pertahankan body aligment adekuat. Berikan

dekubitus.
latihan ROM pasif jika klien sudah bebas panas 4. Mencegah terjadinya kontraktur atau
footdrop

dan kejang.
5. Berikan

perawatan

kulit

secara

adekuat,

lakukan masase, ganti pakaian klien dengan

serta

dapat

mempercepat

pengamatan fungsi tubuh.


5. Memfasilitasi sirkulasi dan mencegah
gangguan integritas kulit.

bahan linen dan pertahankan tempat tidur


dalam keadaan kering.
6. Berikan perawatan mata, bersihkan mata dan
tutup dengan kapas yang basah sekali.
7. Kaji adanya nyeri, kemerahan, bengkak pada
area kulit.

6. Melindungi mata dari kerusakan akibat


terbukanya mata terus menerus.
7. Indikasi adanya kerusakan kulit dan
deteksi awal adanya dekubitus pada area
local yang tertekan (Muttaqin, 2008).

43

8.1.5

Ansietas keluarga yang berhubungan dengan keadaan kritis pada

klien.
Tujuan: dalam waktu 1x24 jam secara subjektif klien atau orang tua
melaporkan rasa cemas berkurang.
Kriteria hasil: klien atau orang tua mampu mengungkapkan perasaan
yang kaku dan cara-cara sehat kepada perawat, klien atau orang tua dapat
mendemostrasikan keterampilan pemecahan masalahnya dan perubahan
koping yang digunakan sesuai situasi yang dihadapi, klien dan orang tua
mencatat penurunan kecemasan dibawah standar, klien dapat rileks dan
istirahat dengan baik.
Tabel 2.7

Intervensi
1. Identifikasi

Rasional

persepsi

klien

untuk

1. Menegakkan batasan masalah individu

menggambarkan tindakan sesuai situasi.


2. Monitor respon fisik seperti kelemahan, ttv,

dan pengaruhnya selama diberikan

gerakan berulang, catat kesesuain respon verbal


dan nonverbal selama komunikasi.
3. Anjurkan
klien
dan
keluarga

kesadaran khususnya ketika melakukan


untuk

mengungkapkan dan mengekspresikan rasa


takutnya.

membuat cemas dan takut.


5. Identifikasi ulang bersama
pengamanan

yang

klien/keluarga
ada

seperti

kekuatan dan suplai oksigen, kelengkapan


suction kegawatan, diskusikan arti dari bunyi
alarm.
6. Catat

komunikasi verbal.
3. Memberikan
kesempatan

untuk

berkonsentrasi, kejelasan dari rasa

4. Anjurkan untuk mengungkapkan situasi yang

tindakan

intervensi.
2. Digunakan dalam mengevaluasi derajat

takut, dan mengurangi cemas yang


berlebihan.
4. Mengevaluasi situasi yang nyata tanpa
mengurangi pengaruh emosional.
5. Membesarkan hati klien untuk
membantu menghilangkan cemas yang
tak berguna, mengurangi konsentrasi
yang tidak jelas dan rencana sebagai

reaksi

dari

klien/keluarga,

berikan

kesempatan untuk mendiskusikan perasaanya


dan harapan masa depan.
7. Identifikasi kemampuan koping klien/keluarga
sebelumnya dan mengontrol penggunaannya.

respon dalam keadaan darurat.


6. Anggota keluarga dengan responsnya
pada apa yang terjadi dan kecemasanya
dapat disampaikan kepada klien.
7. Memfokuskan
perhatian
pada
kemampuan

8. Anjurkan
relaksasi

klien
seperti

untuk

melakukan

mengatur

teknik

pernafasan,

meningkatkan

sendiri

dapat

pengertian

dalam

penggunaan koping.
45

menuntun dalam berkhayal, relaksasi progresif.


9. Anjurkan aktivitas pengalihan perhatian sesuai

8. Pengaturan

situasi

yang

aktif

mengurangi perasaan tak berdaya.

kemampuan individu seperti menulis, nonton


9. Sejumlah keterampilan baik secara

dan keterampilan tangan.

mandiri
10. Kolaborasi:

rujuk

ke

bagian

lain

guna

pencegahan selanjutnya.

maupun

dibantu

selama

pemasangan ventilator dapat membuat


klien

merasa

berkualitas

dalam

hidupnya.
10. Mungkin dibutuhkan untuk membantu
jika

klien/keluarga

tidak

dapat

mengurangi cemas atau ketika klien


membutuhkan alat yang lebih canggih
(Muttaqin, 2008).

9.1.5

Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan misinterpretasi

informasi, tidak mengenal sumber-sumber informasi, ketegangan akibat


krisis situasional.
Tujuan: Setelah diberi asuhan keperawatan diharapkan keluarga
mengetahui tentang penyakit yang dialami.
Kriteria hasil:
- Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit,
-

kondisi, prognosis dan program pengobatan


Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan

secara benar
Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan
perawat/tim kesehatan lainnya
Tabel 2.8

Intervensi
Rasional
1. Tentukan tingkat pengetahuan pasien 1. Mempengaruhi
pilihan
dan kemampuan untuk berperan serta

terhadap

intervensi yang akan dilakukan.

dalam proses rehabilitasi.


2. Memberikan
2. Jelaskan kembali mengenai penyakit

kesempatan

untuk

mengklrifikasi kesalahan persepsi.

yang diderita pasien dan perlunya


pengobatan atau penanganan.

3. Meningkatkan kembali pada perasaan


normal dan perkembangan hidupnya

3. Anjurkan untuk mengungkapkan apa

pada situasi yang ada.


47

yang

dialami,

bersosialisasi

dan 4. Jika pasien dapat kembali kerumah,

meningkatkan kemandiriannya.

perawatan dapat difasilitasi dengan alat

4. Bekerja dengan orang terdekat untuk

bantu.

menentukan peralatan yang diperlukan


dalam rumah sebelum pasien pulang.
10.1.5

Resiko gangguan integritas kulit sehubungan dengan mobilitas,

tidak adekuatnya sirkulasi perifer.


Tujuan: dalam waktu 2x24 jam klien mampu mempertahankan keutuhan
kulit.
Kriteria hasil: klien mau berpartisipasi terhadap pencegahan luka,
mengetahui penyebab dan cara pencegahan luka, tidak ada tanda-tanda
kemerahan atau luka.
Tabel 2.9

Intervensi

Rasional

1. Anjurkan untuk melakukan latihan ROM dan 1. Meningkatkan aliran darah keseluruh
mobilisasi jika mungkin.
2. Ubah posisi tiap dua jam.

tubuh.
2. Menghindari tekanan dan meningkatkan

3. Gunakan bantal air atau pengganjal yang lunak


di bawah daerah-daerah yang menonjol.
4. Lakukan masase pada daerah (tulang) yang

aliran darah.
3. Mengindari tekanan yang berlebih pada

daerah yang menonjol.


menonjol yang baru mengalami tekanan pada 4. Menghindari
kerusakan-kerusakan

waktu berubah posisi.


5. Observasi terhadap eritema, kepucatan, dan
palpasi area sekitar terhadap kehangatan dan
pelunakan jaringan tiap mengubah posisi.
6. Jaga kebersihan kulit dan seminimal mungkin
hindari trauma dan panas terhadap kulit.

kapiler.
5. Hangat dan pelunakan adalah tanda
kerusakan jaringan.
6. Mempertahankan

kebutuhan

(Muttaqin, 2008).

11.1.5

Resiko defisit cairan dan elektrolit berhubungan dengan muntah,

asupan cairan kurang, peningkatan metabolisme


Tujuan: dalam waktu 2x24 jam tidak ada tanda-tanda edema perifer/paruparu.

49

kulit

Kriteria hasil: klien dapat menunjukkan tekanan darah, berat badan, nadi,
intake dan output dalam batas normal.
Tabel 2.10

Intervensi

Rasional

1. Pertahankan secara ketat intake dan output.

1. Untuk mencegah dan mengidentifikasi

2. Timbang berat badan setiap hari.

secara awal terjadinya kelebihan cairan


2. Peningkatan berat badan merupakan
indikasi berkembangnya edema sebagai

3. Monitor tanda vital seperti tekanan darah, nadi.

manifestasi dari keebihan cairan.


3. Kekurangan cairan dapat menunjukkan
gejala peningkatan nadi dan tekanan
darah menurun.
4. Penurunan kardiak output berpengaruh

4. Catatlah

perubahan

turgor

kulit,

kondisi

mukosa mulut dan karakter sputum.

pada perfusi fungsi otak. Kekurangan


cairan

selalu

diidentifikasi

dengan

turgor kulit berkurang, mukosa mulut


kering dan secret yang kental.
5. Memberikan informasi tentang keadaan
secara umum untuk mempertahankan
5. Hitunglah jumlah cairan yang masuk dan
keluar.

tetap seimbang.
6. Mempertahankan volume sirkulasi dan
tekanan osmotis.
7. Elektrolit, khususnya potassium dan
sodium dapat berkurang jika klien

6. Kolaborasi, berikan cairan per infuse jika


diindikasikan.

mendapatkan obat diuretik (Muttaqin,


2008).

7. Monitor kadar elektrolit jika diindikasikan.

51

12.1.5

Resiko infeksi yang berhubungan dengan post d antre organisme

sekunder akibat trauma


Tujuan: dalam waktu 2x24 jam infeksi tidak terjadi selama perawatan.
Kriteria hasil: individu mengenal faktor-faktor resiko, mengenal tindakan
pencegahan faktor resiko infeksi, menunjukkan teknik-teknik untuk
meningkatkan lingkungan yang aman.
Tabel 2.11

Intervensi
Rasional
1. Kurangi faktor resiko infeksi nosokomial 1. Faktor-faktor ini tampak sederhana
seperti cuci tangan sebelum dan sesudah

tetapi

melaksanakan

pencegahan

tindakan

keperawatan.

Pertahankan teknik suction serta steril.

sangat

infeksi saluran nafas atas.


3. Lakukan teknik isolasi sesuai indikasi.

nafas

atas

infeksi

infeksi

saluran

meningkatkan

berkembangnya infeksi.
3. Sesuai dengan diagnosis
harus

perlindungan
dekuat. Berikan cairan 2500 cc/hari.

terjadinya

dengan

spesifik
4. Pertahankan hidrasi dan nutrisi yanga

sebagai

nosokomial.

2. Monitor/batasi kunjungan. Menghindari 2. Individu


kontak dengan orang yang menderita

penting

infeksi

resiko
yang

memperoleh
orang

lain

seperti TB.
4. Membantu meningkatkan daya tahan
tubuh dari penyakit dan mengurangi

5. Pertahankan prinsip aseptic pada drainase


dan ekspirasi shunt.

stasis.
5. Meminimalisir

6. Bantu perawatan diri dan keterbatasan


aktivitas sesuai toleransi. Bantu program
latihan.
7. Kolaborasi:
indikasi.

berikan

resiko infeksi akibat sekresi yang

antibiotic

sesuai

masuknya

mikroorganisme dari terpasangnya


shunt.
6. Mununjukkan kempampuan secara
umum

dan

kekuatan

otot

dan

merangsang pengembalian system


imun.
7. Satu atau beberapa agen diberikan

tergantung dan sifat pathogen dan


infeksi

yang

terjadi

(Muttaqin,

53

2008).
2.10.5 Jurnal Terkait
1. Hidrosefalus adalah masalah klinis umum yang sering dijumpai
dalam praktek bedah saraf. Hidrosefalus terjadi karena dilatasi
ventrikel dan efek tekanan terhadap parenkim. Hidrosefalus akibat
infeksi, kelainan congenital, dan hidrosefalus sekunder memiliki
gejala klinis yang berbeda serta cara penanganan yang berbeda.
Ventriculoperitoneal shunt adalah treatment yang sederhana
(Venkataramana, 2011).
2. Hidrosefalus adalah akumulasi berlebihan dari cairan serebrospinal
(CSF) dalam kepala yang disebabkan oleh gangguan pembentukan,
aliran atau penyerapan. Komplikasi dari shunting adalah obstruksi
shunt, infeksi, over drainage (Pople, 2002).
3. Hidrosefalus adalah suatu kondisi yang

dihasilkan

dari

ketidakseimbangan antara produksi dan penyerapan cairan


serebrospinal. Ketidakseimbangan ini hasil dalam peningkatan
volume cairan tulang belakang, pelebaran sistem ventrikel, dan
peningkatan tekanan intrakranial.perawatan yang bisa dilakukan
adalah pengkajian neurologis, perawatan luka, pemberian obat,
(nielsen & breedt, 2013)
4. Angka kejadian hidrosefalus di RSU dr.Soedarso Pontianak
menunjukan bahwa angka kejadian pada tahun 2008 sebanyak 35
kasus dan meningkat pada tahun 2009 menjadi 45 kasus. Kasus
Acquired hidrosefalus lebih tinggi dari hidrosefalus akibat kelainan
congenital, communicating hidrosefalus lebih tinggi daripada non
communicating hidrosefalus, dan symptomatic hidrosefalus lebih
tinggi dari asymptomatic hidrosefalus (Edikta, 2011).
BAB 3
TINJAUAN KASUS
3.1. Pengkajian

55

1. Tanggal Pengkajian

: 02 Maret 2016

2. Jam

: 08.30

3. Oleh

: Christianus S. Ghoe

A. Identitas
a. Pasien
1. Nama

: By. F

2. TT Lahir/ Usia

: 08 Januari 2016/ 2 bulan

3. Jenis Kelamin

: laki-laki

4. Agama

: islam

5. Alamat

: Perum Taman Adiyasa Blok J.25/28

Kec.Sulear Kab. Tangerang


6. Tgl Masuk RS

7. Nomor RM/ CM

: 00072817

8. Ruangan

: Perina Atas

9. Diagnosa Medis

: Hidrosefalus

b. Keluarga/ Penanggung Jawab


1. Nama

: Ibu Z

2. Umur

: 28 tahun

3. Pendidikan

: SMP

4. Pekerjaan

: IRT

5. Hub. dengan pasien : Orang Tua


6. Alamat

: Perum Taman Adiyasa Blok J.25/28

Kec.Sulear Kab. Tangerang

57

B. Riwayat Kesehatan
Keluhan Utama

: Ibu Z cemas dengan keadaan anaknya dan tidak

percaya anaknya lahir dengan keadaan seperti sekarang. Ibu Z


mengatakan bingung harus melakukan apa kepada anaknya.
Riwayat Penyakit

a. Riwayat Penyakit Sekarang:


Saat dilakukan pengkajian pada tanggal 2 Maret 2016 didapatka hasil
kepala klien tampak membesar dengan ukuran lingkar kepala 41 cm,
terdapat luka post operasi vp shunt sebelah kiri yang tertutup kassa
steril, tanda-tanda vital klien didapatkan nadi 120 kali/menit, respirasi
46 kali/menit, suhu 38oC, terdapat luka post operasi vp shunt di
abdomen di regio kiri bawah.
b. Riwayat Kesehatan yang Lalu
1. Riwayat kelahiran

: Ibu Z mengatakan anak F adalah anak

pertama. Anak F lahir dengan proses Caesar, dengan berat badan


3000 gram dengan usia gestasi 33 minggu dan penyulit janin yaitu
janin dengan hidrosefalus.
2. Riwayat pemberian makan : ASI
3. Diet terakhir (24 jam terakhir) : ASI
4. Penyakit yang pernah diderita : Demam
c. Riwayat Keluarga
Orang tua klien mengatakan tidak memiliki riwayat hipertensi,
diabetes melitus, tidak memiliki riwayat penyakit jantung dan orang
tua mengatakan di keluarganya yang tidak ada yang mengalami
penyakit yang sama seperti anaknya.

59

Genogram

Bp.M

Ny.Z

By. F
Ket:
Laki-laki
Perempuan

C. Pola Kebiasaan
1. Aspek psikososial orang tua
a. Sikap

: Orang tua mengatakan ingin sekali anaknya

sembuh dan bisahidup normal seperti anak-anak lain.


b. Komunikasi

: Komunikasi baik dan terbuka

c. Pengetahuan Persepsi Terhadap Penyakit

Ibu mengatakan kurang memahami tentang penyakit yang diderita,


cara merawat yang baik.
d. Hal Yang Difikirkan Saat Ini

: Ingin anaknya cepat sembuh.

2. Aspek Spiritual
a. Apa/ siapa sumber kekuatan: ALLAH SWT
b. Apakah Tuhan, agama, kepercayaan penting untuk anda? Ya
c. Kegiatan agama/ kepercayaan yang dilakukan (macam dan
frekuensi)
Sebutkan: Shalat 5 waktu

61

D. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum
1. Status Gizi
PB

: 58 cm

BB

: 2880 gram

LD

: 31cm

LK

: 41cm

2. Tanda-tanda Vital
Suhu

: 38

Nadi

: 120 x/menit

Pernafasan

: 46 x/menit

b. Pemeriksaan Head To Toe


1. Kepala

Bentuk kepala tidak normal, terjadi pembesaran pada kepala


dengan lingkar kepala 41cm, terdapat luka post VP Shunt di
bagian kepala sebelah kiri yang tertutup dengan kassa steril, tidak
terdapat rembesan darah pada kassa di kepala,
2. Mata
:
Pupil isokor dengan ukuran pupil 3 mm, reaksi terhadap cahaya
positif, sklera tidak ikterik, konjungtiva tidak anemis, terdapat
kotoran di mata. Reflek glabela (-).
3. Hidung

Bentuk simetris, tidak terpasang alat bantu nafas, tidak terdapat


sekret, tidak ada luka, tidak ada perdarahan dari hidung, tidak ada
pernafasan cuping hidung.
4. Mulut dan tenggorokan:
Bibir simetris, mukosa kering, tidak ada gigi, tidak ada sumbing,
langit-langit utuh. Reflek rooting (+), reflek sucking lemah.

5. Telinga

:
63

Telinga simetris, bersih, tidak terdapat cairan yang keluar pada


telinga, tidak ada luka di telinga.
6. Leher
:
Bentuk simetris, tidak terdapat pembesaran JVP, tidak terdapat
pembengkakan pada kelenjar getah bening, tidak ada luka atau
memar pada leher.
7. Dada/ Thorax :
Bentuk

dada

simetris,

RR

46x/menit,

suara

nafas

vesikuler,Lingkar dada 31 cm, pergerakan dada simetris, tidak ada


tarikan sternum saat bernapas, putting susu terbentuk dan simetris.
8. Abdomen

Lingkar perut 32 cm, turgor kulit baik, terdapat luka post vp shunt
di perut regio kiri bawah dan tertutup oleh kassa steril, tidak
terdapat rembesan darah pada kassa, tidak ada pembengkakan.
9. Genetalia

Genetalia tampak bersih, tidak ada pembengkakan, klien


menggunakan popok, terdapat kemerahan, tidak ada hipospadia
dan epispadia, jumlah testis 2.
10. Ekstremitas atas dan bawah
Kedua kaki dan kedua tangan simetris, panjang tangan dan kaki
sama, tidak ada kelainan pada ekstremitas, jari, gerak bebas,
terdapat memar pada ekstremitas atas akibat tindakan infasif
(pemasangan infus/mengambilan darah), tidak ada pembengkakan,
ada kemerahan pada tangan akibat tindakan invasive.

E. Pengkajian Tertier (Pemeriksaan Penunjang)


a. Laboratorium

65

1)
2)
3)
4)

Hemoglobin
Leukosit
Hematokrit
Trombosit

:12,5 g/dl
:17,1 L
:38%
:362 * 103/L

b. Radiologi
1. Pemeriksaan: CT-Scan
F. Therapy
Ampicilin
Gentamicin

2x150 mg
1x15 mg

67

3.2. Analisa Data


Tabel 3.1

No

Data

Etiologi

Masalah
Keperawatan

Ds

Hidrosefalus
Peningkatan Jumlah

Do:

Cairan Serebrospinal

Klien tampak:
-

Terdapa luka post vp shunt di

Tindakan pembedahan

kepala bagian kiri


Luka tampak ditutup dengan kassa

Pemasangan VP shunt

steril
Terdapat luka operasi di abdomen

Adanya port de entry

regio kiri bawah


TTV
N: 120 kali/menit
RR: 46 kali/menit
S: 38o C

Petalaksanaan
Orang tua mengatakan By. F
mengatakan

belum

tau

Hidrosefalus

Kurang
Pengetahuan

cara

merawat anaknya yang sakit.


-

dan benda asing


masuk

DS:

Resiko Infeksi

Pemasangan VP Shunt

Orang tua klien mengatakan takut


jika

tidak

perawatan

bisa
dirumah

melakukan
saat

klien

Perawatan pasca
operasi.

sudah diijinkan pulang.


Kurang Terpapar
DO:
-

Informasi

Orang tua tampak selalu bertanyatanya dengan semua tindakan yang

dilakukan perawat.
Orang tua tampak bertanya-tanya
69

tentang

obat

yang

diberikan

kepada anaknya.

Hidrosefalus

DS:
DO:
-

Klien terpasang infuse


BB masuk 3000 gram
BB sekarang 2880 gram
Asupan nutrisi klien 8x25 cc

susu
Klien terpasang OGT
Reflek menghisap lemah

Peningkatan Jumlah

kurang

Cairan Serebrospinal

kebutuhan

Penurunan kesadaran
Reflek menghisap
(terpasang OGT)

Hidrosefalus

terdapat kemerahan pada daerah

Cairan Serebrospinal

bokong
by F memakai popok
terdapat memar pada ekstremitas

Pembesaran kepala

tindakan

infasif

(pemasangan infus/mengambilan
-

Integritas kulit

Peningkatan Jumlah

akibat

darah)
ada kemerahan

pada

dari

tidak adekuat

DS:
DO:

atas

Gangguan nutrisi

Kesulitan bergerak
adanya penekanan
pada kepala

bagian

kepala belakang

3.3. Diagnosa Keperawatan


1. Resiko Infeksi berhubungan dengan adanya port de entry akibat
pemasangan VP shunt.
2. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurangnya terpapar
informasi.
3. Gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan
dengan reflek menghisap pada bayi tidak adekuat.

71

4. Resiko gangguan integritas kulit sehubungan faktor mekanik (adanya


tekanan).
3.4. Rencana Asuhan Keperawatan
Tabel 3.2

No
1.

Diagosa

Tujuan/Kriteria

Keperawatan

Hasil

Resiko

Infeksi

Intervensi

Rasional

1. Cuci tangan sebelum 1. Faktor-faktor

ini

berhubungan

Setelah dilakukan

dan

dengan

tindakan

melaksanakan

tetapi sangat penting

keperawatan 3 x

tindakan

sebagai

akibat

24 jam diharapkan

keperawatan.

terjadinya

pemasangan VP

meningkatkan

shunt

waktu

port

adanya
de

entry

ditandai

penyembuhan

dengan:

dengan
Ds

tepat,

bebas dari infeksi.


Kriteria Hasil:
-

Klien tampak:

di
-

kepala

bagian kiri
Luka tampak

Menghindari

dengan kassa
steril
Terdapat

menderita

infeksi

memasuki

bawah
TTV
N:

kiri

120

dengan

atas

meningkatkan

resiko
berkembangnya
infeksi.

ruangan klien.
4. Pertahankan nutrisi
4. Membantu
meningkatkan

luka operasi
regio

infeksi

resiko
dan 3. Mencegah
infeksi nosokomial.

yang adekuat.

di abdomen

pencegahan

infeksi saluran nafas


kontak

saluran nafas atas.


3. Instuksikan
aseptic.
Tidak terjadi
pengunjung
untuk
tanda-tanda
mencuci tangan saat
infeksi.

sederhana

2. Individu

kunjungan.

meninggalkan

ditutup

2. Monitor/batasi

lingkungan

Terdapa luka
post vp shunt

Pertahankan

tampak

nosokomial.

dengan orang yang

Do:
-

sesudah

tahan
5. Observasi tanda-tanda
vital.

tubuh

penyakit
mengurangi

daya
dari
dan
resiko

infeksi akibat sekresi


6. Pertahankan

prinsip

yang stasis.

73

kali/menit
RR:
46

aseptik pada drainase 5. Menunjukkan adanya


dan ekspirasi shunt.

kali/menit
S: 38o C
7. Kolaborasi:

berikan

antibiotik

sesuai

infeksi.
6. Meminimalisir
masuknya
mikroorganisme dari
terpasangnya shunt.

indikasi.

7. Satu atau beberapa


agen

diberikan

tergantung dan sifat


pathogen dan infeksi

2.

Kurang

Setelah diberikan 1. Kaji

yang terjadi
tingkat 1. Mempengaruhi

pengetahuan

tindakan

pengetahuan

pasien

yang

keperawatan 3x24

dan kemampuan untuk

intervensi yang akan

berhubungan

jam

berperan serta dalam

dilakukan.

dengan

pengetahuan orang

kurangnya

tua

terpapar

penyakit

informasi

diderita

ditandai dengan:

Orang

Kriteria Hasil:

pengobatan

F
tau

anaknya yang
sakit.
Orang

untuk

kesalahan persepsi.

cara merawat

kesempatan

dan

mengatakan
belum

penyakit

2. Memberikan

meningkat.

mengatakan

tua -

anaknya

mengenai

kembali

mengklrifikasi

tua

By.

proses rehabilitasi.

mengenai 2. Jelaskan
yang

terhadap

yang diderita pasien

DS:

diharapkan

pilihan

Pasien

dan

keluarga

perlunya
atau

3. Meningkatkan

penanganan.

3. Anjurkan

untuk

menyatakan

mengungkapkan

pemahaman

yang

tentang

bersosialisasi

penyakit,

meningkatkan

kondisi,

kemandiriannya.

apa

dialami,
dan

pengobatan
Pasien
dan

klien

keluarga

mengatakan

mampu

takut

jika

melaksanakan

tidak

bisa

prosedur yang

pada

perasaan normal dan


perkembangan
hidupnya pada situasi
yang ada.

prognosis dan
program

kembali

4. Jika

4. Bekerja dengan orang

pasien

kembali

dapat

kerumah,

untuk

perawatan

dapat

menentukan peralatan

difasilitasi

dengan

yang diperlukan dalam

alat bantu.

terdekat

rumah sebelum pasien


pulang.

75

melakukan

dijelaskan

perawatan
dirumah saat
klien

sudah

secara benar.
Pasien
dan
keluarga
mampu

diijinkan

menjelaskan

pulang.

kembali

DO:
-

Orang

tua

tampak selalu
bertanyatanya dengan

apa

yang dijelaskan
perawat/tim
kesehatan
lainnya

semua
tindakan
yang
dilakukan
-

perawat.
Orang
tua
tampak
bertanyatanya tentang
obat

yang

diberikan
kepada
anaknya.
Gangguan

nutrisi:
dari

kurang
kebutuhan

tubuh

yang

Tujuan:

setelah 1. Observasi

diberikan

asuhan

jam

kebutuhan 2. Observasi

nutrisi

dengan

terpenuhi dengan

menghisap pada
bayi

tidak

adekuat
yang
dengan:

ditandai

turgor kulit.

status

nutrisi klien.

keperawatan 3x24

berhubungan
reflek

tekstur, 1. Mengetahui

klien

Kriteria hasil:
Terdapat
kemampuan
menelan, sonde

asupan 2. Mengetahui

keluaran.
3. Observasi posisi dan
keberhasilan sonde.

keseimbangan nutrisi
klien.
3. Intuk

menghindari

resiko infeksi.

4. Catat laporan/ hal-hal


seperti mual, muntah

4. Mual, muntah dapat


menurunkan

77

asupan

dilepas, tidak
DS:
DO:

makanan.
posisi 5. Agar klien

5. Letakkan

terjadi mual

lebih

muntah, tidak ada

kepala lebih tinggi

mudah

terpasang

tanda tanda

pada saat selama dan

karena gaya gravitasi.

infuse
- BB masuk 3000

malnutrisi.

- Klien

menelan

2880 gram
- Asupan
nutrisi

sesudah makan.
6. Membantu
dalam
6. Stimulasi bibir untuk
melatih
kembali
menutup
dan
sensorik
dan
membuka
mulut
meningkatkna
secara manual dengan
nkontrol muscular.
menekan ringan di

klien 8x25 cc

atas bibir/di bawah 7. Mungkin diperlukan

gram
- BB
sekarang

susu
- Klien terpasang

dagu jika dibutuhkan.


7. Kolaborasi

OGT

tim
- Reflek

dengan

dokter

untuk

memberikan

cairan

menghisap

mealui

IV

lemah

makanan

untuk

memberikan

cairan pengganti

atau
melalui

selang.

Resiko gangguan

Tujuan:

integritas

waktu 2x24 jam

kulit

dalam 1. Ubah posisi tiap dua 1. Menghindari tekanan

sehubungan

klien

faktor

mempertahankan

mekanik

(adanya tekanan)
yang

di

tandai

dengan:

mampu

keutuhan kulit.
Kriteria hasil:
Kemerahan

- terdapat

daerah

kemerahan
pada

daerah

bokong
- by F memakai
popok.
- terdapat memar

pada

bokong

berkurang ataupun
hilang,, tidak ada
kemerahan

atau

memar

pada

daerah

jam.

dan

2. Gunakan pengganjal
yang lunak di bawah
daerah-daerah
menonjol.

eritema,
dan

yang berlebih pada


daerah

yang

terhadap
kepucatan, 3. Hangat

palpasi

sekitar

area

terhadap

kehangatan

dan

pelunakan

dan

pelunakan
tanda

adalah
kerusakan

jaringan.

jaringan

tiap mengubah posisi.


4. Jaga kebersihan kulit

ekstremitas, tidak

dan

ekstremitas

terjadi

mungkin

atas

pada daerah yang

akibat

aliran darah.
2. Mengindari tekanan

menonjol.

3. Observasi

pada

dekubitus

yang

meningkatkan

trauma

seminimal
hindari
dan

4. Mempertahankan
kebutuhan kulit

panas

79

tertekan.

terhadap kulit.

tindakan infasif
(pemasangan
infus/mengamb
ilan darah)
- ada kemerahan
pada

bagian

kepala
belakang

81

3.5. Implementasi dan Evaluasi


Tabel 3.3

Hari/

Tgl

Diagnosa

Jam

Rabu,

Resiko

08.30

02

Infeksi

sesudah

Klien tampak:

Maret

berhubung

melaksanakan

2016

an dengan

tindakan

shunt di kepala sebelah

adanya

keperawatan.
EF/Mencegah

kiri
Luka tampak tertutup

kassa steril
Terdapat luka operasi

di abdomen.
Tidak terdapat warna

port

de

08.35

Implementasi
1. Mencuci

tangan

sebelum

dan

entry

terjadinya

akibat

nosokomial.

pemasanga

Jam

09.00

O:

tanda-tanda vital.
EF/ TTV: Nadi
120

post operasi baik di


daerah kepala maupun

RR 46 kali/menit,
suhu 38 C.
10.25

6. Mempertahankan
prinsip

aseptik

Terdapa luka post vp

kemerahan sekitar luka

kali/menit,
o

Paraf

S: -

infeksi

5. Mengobservasi

n VP shunt

Evaluasi

di abdomen
TTV
N: 122 kali/menit
RR: 44 kali/menit
S: 38,o C

pada drainase dan


ekspirasi shunt.
EF/ Menghindari
infeksi

A: Masalah infeksi belum


teratasi

nosokomial.
P: Intervensi dilanjutkan
8. Memberikan
antibiotik.
EF/
antibiotik
yang
ampicilin
150mg

diberikan
1x
dan

83

gentamicin

1x

15mg
Gangguan

Rabu,

nutrisi:

02

kurang dari

Maret

kebutuhan

2016

tubuh yang

1. Mengobservasi
09.10
09.10

posisi

dan

sonde.
EF/ OGT

an dengan
10.45

menghisap

S:
O:

3. Mengobservasi
keberhasilan

berhubung
reflek

asupan keluaran.

yang

terpasang

Klien masih terpasang

infuse
BB sekarang

gram
Klien terpasang OGT
Reflek
menghisap

masih lemah
Klien masih tampak

membantu proses

pada bayi

pemberian susu.
7. Memberikan

tidak

cairan melalui IV

adekuat

atau

makanan

melalui selang.
EF/
Pemberian

2880

lemas
A : Masalah nutrisi belum
teratasi
P : Intrevensi dilanjukan

susu melalui OGT


1x25 cc.
3. Mengobservasi

Rabu,

Resiko

08.30

02

gangguan

kepucatan,

dan

Maret

integritas

palpasi

area

2016

kulit

sekitar

terhadap

sehubunga

kehangatan

pelunakan jaringan

pada ekstremitas atas

mekanik

tiap

akibat tindakan infasif

(adanya

posisi.
EF/

faktor

tekanan)
07.25

terhadap eritema,

dan

S:
O:
-

mengubah

kemerahan

terdapat kemerahan
masih terdapat memar

(pemasangan
terdapat

infus/mengambilan

dan

memar pada area

darah).
Terdapat

pemasangan infuse

pada

dan

popok.

kemerahan

terdapat
pada

area sekitar popok.


4. Menjaga

kemerahan

area

sekitar

A : Masalah belum teratasi

85

kebersihan
dan

kulit

mengganti

popok
EF/ Kulit

P : Lanjutkan intervensi

tidak

kotor

87

3.6. Catatan Perkembangan


Tabel 3.4
Nama Pasien

: By. F

No. Rekam Medis : 00072817

Umur

: 08-01-2016/2 bulan

Ruang

: Perina Atas

Diagnosa Medis

: Hidrosefalus

Jenis Kelamin : Laki-Laki


Tanggal
No.
1.

: 04 Maret 2016
Diagnosa
Tgl/

Keperawatan
Resiko
Infeksi
berhubungan
dengan

Jam
Jumat,

S: -

04

O:

adanya

Maret

port de entry akibat

2016

pemasangan

Catatan Perkembangan Hari Ke-1

VP

shunt.

Paraf

Klien tampak:
-

Terdapa luka post vp shunt di kepala sebelah

kiri
Luka tampak tertutup kassa steril
Terdapat luka operasi di abdomen.
Tidak terdapat warna kemerahan sekitar luka
post operasi baik di daerah kepala maupun di

abdomen
TTV
N: 140 kali/menit
RR: 52 kali/menit
S: 38,2o C

A: Masalah infeksi belum teratasi


P : Intervensi dilanjutkan
I :
1. Mencuci

tangan

sebelum

dan

sesudah

melaksanakan tindakan keperawatan.


EF/ mencegah terjadinya infeksi nosokomial.

14.50

5. Mengobservasi tanda-tanda vital.


EF/ TTV: Nadi 140 kali/menit, RR 52
kali/menit, suhu 38,2oC.

15.05

6. Mempertahankan

prinsip

aseptik

pada

drainase dan ekspirasi shunt.


EF/ Menghindari infeksi nosokomial

89

15.10

Kurang pengetahuan
yang
dengan

berhubungan
kurangnya

terpapar informasi.

Jumat,
04

R:-

S:
-

Maret
2016

Orang tua mengatakan By. F mengatakan


belum tau cara merawat anaknya yang sakit.

Orang tua klien mengatakan takut jika tidak


bisa melakukan perawatan dirumah saat klien
sudah diijinkan pulang.

O:
-

Orang tua tampak selalu bertanya-tanya


dengan semua tindakan yang dilakukan

perawat.
Orang tua tampak bertanya-tanya tentang obat
yang diberikan kepada anaknya.

A : Masalah belum teratasi


P : Lakukan intervensi
I:

1. Menentukan tingkat pengetahuan pasien dan


kemampuan untuk berperan serta dalam

16.10

proses rehabilitasi.
EF/ orang tua mengatakan bingung teradap
penyakit anaknya.

2. Jelaskan kembali mengenai penyakit yang


16.15

diderita pasien dan perlunya pengobatan atau


penanganan.

91

EF/ Orang tua tampak selalu bertanya tentang


kemajuan kondisi anaknya.

16.25

3. Anjurkan untuk mengungkapkan apa yang


dialami, bersosialisasi dan meningkatkan
kemandiriannya.
EF/ Orang tua mengatakan yakin kalau
anaknya akan sembuh dan kembali pulang ke
rumah.
E : Orang tua mengatakan masih bingung dengan
penyakit yang diderita anaknya. Orang tua tampak
lebih tenang, dan kooperatif dalam setiap tindakan
yang dilakukan oleh petugas kesehatan.. Masalah
kurang pengetahuan teratasi sebagian. Intervensi
dilanjutkan.
R:-

3.

Gangguan
kurang
kebutuhan

nutrisi:
dari

Jumat,
04

tubuh

Maret

yang berhubungan

2016

dengan
menghisap

reflek
pada

bayi tidak adekuat.

S:
O:
-

Klien masih terpasang infuse


BB sekarang 2880 gram
Klien terpasang OGT
Reflek menghisap masih lemah
Klien masih tampak lemas

A : Masalah nutrisi belum teratasi


P : Intrevensi dilanjukan
I :
1. Mengobservasi asupan keluaran.

18.10

3. Mengobservasi posisi dan keberhasilan sonde.


EF/ OGT yang terpasang membantu proses
pemberian susu.

18.10
93

4. Mencatat laporan ada tidaknya mual muntah.


EF/ klien tidak ada mual muntah.

18.15

7. Memberikan cairan mealui IV atau makanan


melalui selang.
EF/ tidak ada muntah, klien menjadi tenang

18.50
E : Klien minum susu frekuensi dalam sehari

sekitar 2x25cc/x tidak ada muntah, masalah


belum teratasi. Lanjutkan intervensi

R :_
4.

Resiko
integritas

gangguan
kulit

Jumat,
04

sehubungan faktor

Maret

mekanik

2016

(adanya

S:
O:
-

tekanan).

terdapat kemerahan
masih terdapat memar pada ekstremitas atas
akibat

tindakan

infasif

(pemasangan

infus/mengambilan darah).
Terdapat ruam popok.

A : Masalah belum teratasi


P : Lanjutkan intervensi
I :

15.05

3. Mengbservasi terhadap eritema, kepucatan,


dan palpasi area sekitar terhadap kehangatan
dan pelunakan jaringan tiap mengubah posisi.
EF/ terdapat kemerahan dan memar pada area
pemasangan infuse dan ruam popok
4. Menjaga kebersihan kulit (berikan perawatan
kulit) dan seminimal mungkin hindari trauma

15.10

dan panas terhadap kulit


EF/ kulit menjadi lembab

95

Kemerahan

pada

area

sekitar

yang

menggunakan popok mulai tampak berkurang


memar pada area terpasang infuse sudah mulai
hilang, kulit tampak lembab tidak kering. Masalah
teratasi sebagian. Lanjutkan intervensi.
R-

97

Tabel 3.5
Nama Pasien
Umur

: By. F

No. Rekam Medis : 00072817

: 08-01-2016/2 bulan

Jenis Kelamin : Laki-Laki


Tanggal
No.
1.

: 05 Maret 2016
Diagnosa
Tgl/

Keperawatan
Resiko
Infeksi
berhubungan
dengan

S: -

05

O:

Maret

port de entry akibat

2016

pemasangan

VP

shunt.

: Perina Atas

Diagnosa Medis

: Hidrosefalus

Catatan Perkembangan Hari Ke-2

Jam
Sabtu,

adanya

Ruang

Paraf

Klien tampak:
-

Terdapat luka post vp shunt di kepala sebelah

kiri
Terdapat luka operasi di abdomen.
Tidak terdapat warna kemerahan sekitar luka
post operasi baik di daerah kepala maupun di

abdomen
TTV
N: 140 kali/menit
RR: 30 kali/menit
S: 36,4o C

A: Masalah infeksi teratasi sebagian


P : Intervensi dilanjutkan
I :
1. Mencuci

14.20

tangan

sebelum

dan

sesudah

melaksanakan tindakan keperawatan.


EF/ tangan menjadi bersih.
5. Mengobservasi tanda-tanda vital.
EF/ TTV: Nadi 140 kali/menit, RR 30
kali/menit, suhu 36,4oC.

14.30

6. Mempertahankan

prinsip

aseptik

pada

drainase dan ekspirasi shunt.


EF/ alat shunt masih terpasang dengan baik,
tidak ada kotor atau bekas darah

14.40
99

7. Memberikan antibiotik.
(ampicilin 1x 150mg dan gentamisin

1x

15mg.)
EF/ obat diberikan semua, klien tidak
menangis

16.40

E : Tidak terdapat warna kemerahan sekitar luka


post operasi baik di daerah kepala maupun di
abdomen. Masalah teratasi sebagian. Lanjutkan
intervensi.
R:-

2.

Kurang
pengetahuan yang

Sabtu,

S : Ibu mengatakan masih ingat dengan

05

penjelasan dari perawat kemarin

berhubungan

Maret

tentang penyakit yang diderita

dengan kurangnya

2016

anaknya dan perawatannya

terpapar informasi.

O: Orang tua tampak lebih tenang, dan kooperatif


dalam setiap tindakan yang dilakukan oleh
petugas kesehatan.
A: Masalah kurang pengetahuan teratasi sebagian.
P: Intervensi dilanjutkan.
I:

17.25

1. Tentukan tingkat pengetahuan pasien dengan


bertanya tentang masalah anaknya
EF/ pada saat diberikan pertanyaan tentang
penyakit anaknya ibu klien sudah mampu
menjawab beberapa pertanyaan

17.30

2. Anjurkan untuk mengungkapkan apa yang


dialami, bersosialisasi dan meningkatkan
kemandiriannya.
EF/ ibu klien mengatakan berharap anaknya
cepat sembuh dan cepat pulang ke rumah

101

: orang tua klien mengatakan sudah mulai

paham akan penyakit anaknya dan mampu


menjawab pertanyaan yang diajukan oleh perawat.
Masalah teratasi. Intervensi dihentikan.
R_

4.

Resiko
integritas

gangguan
kulit

Sabtu,

S:

05

Kemerahan

pada

area

sekitar

yang

sehubungan faktor

Maret

menggunakan popok mulai tampak berkurang

mekanik

2016

memar pada area terpasang infuse sudah mulai

(adanya

hilang, kuli lembab.

tekanan).

A : Masalah belum teratasi


P : Lanjutkan intervensi

14.50

3. Mengbservasi terhadap eritema, kepucatan,


dan palpasi area sekitar terhadap kehangatan
dan pelunakan jaringan tiap mengubah posisi.
EF/ terdapat kemerahan dan memar pada area
pemasangan infuse dan ruam popok

4. Menjaga kebersihan kulit (berikan perawatan


15.00

kulit) dengan mengganti popok


EF/ kulit tidak basah
E : kulit tampak lembab tidak kering, memar pada
area bekas pemasangan infuse sudah hilang,
kemerahan pada area sekitar popok mulai
berkurang. Masalah teratasi sebagian. Lanjutkan
intervensi.

103

R-

Tabel 3.6
Nama Pasien

: By. F

No. Rekam Medis : 00072817

Umur

: 08-01-2016/2 bulan

Ruang

: Perina Atas

Diagnosa Medis

: Hidrosefalus

Jenis Kelamin : Laki-Laki


Tanggal
No.
1.

: 06 Maret 2016
Diagnosa
Tgl/

Catatan Perkembangan Hari Ke-3

Paraf

Keperawatan
Jam
Resiko
Infeksi Minggu S: berhubungan
dengan

05

adanya

Maret

port de entry akibat

2016

pemasangan

O:
Klien tampak:
-

VP

Tidak terdapat warna kemerahan pada sekitar


luka post operasi baik di daerah kepala

shunt.

maupun di abdomen.TTV
N: 132 kali/menit
RR: 38 kali/menit
S: 37o C
A: Masalah infeksi belum teratasi
P : Intervensi dilanjutkan
I :
2. Mencuci

14.25

14.30

tangan

sebelum

dan

sesudah

melaksanakan tindakan keperawatan.


EF/ tangan menjadi bersih
5. Mengobservasi tanda-tanda vital.
EF/ TTV: Nadi 134 kali/menit, RR 30
kali/menit, suhu 37oC.
6. Mempertahankan

14.40

prinsip

aseptik

pada

drainase dan ekspirasi shunt.


EF/Shunt tetap terpasang dengan baik, tidak
copot, tidak kotor
Memberikan antibiotik (/ ampicilin 1x 150mg
dan gentamisin 1x 15mg)
EF/ obat diberikan semua, klien tidak
menangis atau rewel, tidak ada perdarahan

105

16.30

E : Tidak terdapat warna kemerahan sekitar luka


post operasi baik di daerah kepala maupun di
abdomen,

tidak

ada

tanda-tanda

yang

menunjukkan adanya infeksi. Masalah teratasi


sebagian. Lanjutkan intervensi
R:-

3.

Gangguan
kurang
kebutuhan

nutrisi:
dari

Jumat,
04

tubuh

Maret

yang berhubungan

2016

dengan
menghisap

reflek
pada

S:
O:
-

Klien terpasang OGT


Reflek menghisap masih lemah
Klien masih tampak lemas
Klien minum susu frekuensi dalam sehari
sekitar 3-6x sebanyak 8x25cc/x tidak ada

bayi tidak adekuat.

muntah
A : Masalah nutrisi belum teratasi
P : Intrevensi dilanjukan
I :

15.00

1. Mengobservasi asupan keluaran.


EF/ tidak ada muntah,mual
5. Mengobservasi posisi dan keberhasilan sonde.
EF/ OGT terpasang, tidak ada mual
13. Memberikan cairan mealui IV atau makanan
melalui selang.
EF/ pemberian susu melalui OGT 1x25 cc, susu

diberikan semua 25 cc, tidak ada mual dan


muntah, bayi terlihat tenang
E : Masih mengunakan OGT dan tidak ada

muntah, masalah belum teratasi.


Lanjutkan intervensi

R :_

107

BAB 4
PEMBAHASAN
4.1. Pengkajian
Berdasarkan pengkajian pada tanggal 02 Maret 2016 didapatkan
hasil, By. F dengan diagnosa hidrosefalus, saat dilakukan pengkajian
didapatkan hasil, terdapat luka post operasi vp shunt sebelah kiri yang
tertutup kassa steril, terdapat luka post operasi di abdomen di regio kiri
bawah. Orang tua mengatakan anak F adalah anak pertama. Anak F lahir
dengan proses kelahiran Caesar, dengan berat badan 3000 gram dengan
usia gestasi 33 minggu dan penyulit janin yaitu janin dengan hidrosefalus.
Gejala klinis lain yang ditemukan adalah kepala klien tampak membesar
dengan ukuran lingkar kepala 41 cm vena di kepala bisa terlihat jelas,
reflek menelan lemah,

tanda-tanda vital klien didapatkan nadi 120

kali/menit, respirasi 46 kali/menit, suhu 38oC.


Hal ini sejalan dengan teori yang menyatakan bahwa gejala klinis
dari hidrosefalus adalah kemampuan untuk makan atau menyusui yang
buruk, perkembangan yang lambat, fontanel yang menonjol, vena di
ke[pala yang menonjol (Venkataramana, 2011).
4.2

Resiko Infeksi berhubungan dengan adanya port de entry akibat pemasangan


VP shunt.
Setelah dilakukan pengkajian pada by. F didapatkan hasil terdapat
luka post vp shunt di kepala bagian kiri, luka tampak ditutup dengan kassa
steril, terdapat luka operasi di abdomen regio kiri bawah, N:120
kali/menit, RR: 46 kali/menit, S: 38o C. Intervensi yang diberikan pada
klien adalah mencuci tangan sebelum dan sesudah melaksanakan tindakan
keperawatan, kolaborasi memberikan antibiotik ampicilin 2 x 150mg dan
gentamisin 1x 15 mg, mengobservasi tanda-tanda vital.
Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa infeksi
merupakan ancsman yang paling serius pada periode pasca bedah, perawat
harus terus menerus waspada terhadap manifestasi infeksi yang biasanya

109

muncul yang meliputi peningkatan tanda-tanda vital. Pemberian


antibiotikdilakukan melalui jalur IV sesuai program (Wong, 2008).
Setelah

dilakukan

implementasi

selama

2x24

jam

hari

Implementasi yang selanjutnya dilakukan evaluasi. Pada saat dilakukan


evaluasi keperawatan didapatkan data tidak terdapat kemerahan pada area
sekitar luka post operasi baik di daerah kepala maupun di abdomen, tidak
ada tanda-tanda yang menunjukkan adanya infeksi. Masalah resiko infeksi
teratasi sebagian dan intervensi dilanjutkan oleh perawat ruangan untuk
mencegah timbulnya infeksi.

4.3

Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurangnya terpapar


informasi.
Setelah dilakukan pengkajian pada orang tua klien didapatkan data
Orang tua mengatakan By. F mengatakan belum tau cara merawat anaknya yang
sakit, takut jika tidak bisa melakukan perawatan dirumah saat klien sudah
diijinkan pulang, orang tua tampak selalu bertanya-tanya dengan semua tindakan
yang dilakukan perawat, orang tua tampak bertanya-tanya tentang obat yang
diberikan kepada anaknya. Hal ini disebabkan karena orang tua klien kurang
terpapar informasi tentang penyakit anaknya. Intervensi yang dilakukan perawat
adalah menjelaskan mengenai penyakit yang diderita pasien dan perlunya
pengobatan atau penanganan, menentukan tingkat pengetahuan pasien dan
kemampuan untuk berperan serta dalam proses rehabilitasi, menganjurkan untuk
mengungkapkan

apa

yang

dialami,

bersosialisasi

dan

meningkatkan

kemandiriannya.
Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa pendidikan
kesehatan adalah proses yang direncanakan dengan sadar untuk menciptakan
peluang bagi individu-individu untuk senantiasa belajar memperbaiki kesadaran,
serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya demi kepentingan
kesehatannya. (Nursalam & Efendi, 2008). Orang tua sering kali hanya memiliki
sedikit pemahaman mengenai anatomi, oleh karena itu mereka memerlukan
ekplorasi lebih lanjut dan penegasan kembali informasi yang telah diberikan
dokter, selain itu mereka juga memerlukan informasi tentang apa yang dapat
mereka harapkan (Wong, 2008).

111

Setelah

dilakukan

implementasi

selama

2x24

jam

hari

Implementasi yang selanjutnya dilakukan evaluasi. Pada saat dilakukan


evaluasi keperawatan orang tua klien mengatakan sudah mulai paham
akan penyakit anaknya dan mampu menjawab pertanyaan yang diajukan
oleh perawat. Masalah kurang pengetahuan yang dialami oleh orang tua
klien teratasi dan intervensi dihentikan.
4.4

Gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan


reflek menghisap pada bayi tidak adekuat.
Setelah dilakukan pengkajian didapatkan data klien terpasang
infuse, BB masuk 3000 gram sedangkan BB sekarang adalah 2880 gram,
asupan nutrisi yang diberikan pada klien 8x25 cc susu dan klien terpasang
OGT karena untuk pemenuhan kebutuhan nutrisi klien dikarenakan klien
tidak dapat melakukan secara oral karena reflek menghisap pada klien
lemah akibat penurunan kesadaran yang dialami oleh klien. Intervensi
kepada klien antara lain mengobservasi asupan keluaran, mengobservasi posisi
dan keberhasilan sonde, kolaborasi untuk memberikan cairan melalui IV atau
makanan melalui selang untuk pemberian susu 1x25 cc. Hal ini sejalan dengan
teori yang mengatakan manajemen pada pasien hidrosefalus adalah menghitung
dan mencatat intake dan output klien, menjaga frekuensi pemberian makanan
pada klien (Zaben, 2013).

Setelah dilakukan implementasi selama 2x24 jam yang selanjutnya


dilakukan evaluasi. Pada saat dilakukan evaluasi keperawatan klien masih
menggunakan OGT untuk pemenuhan kebutuhan nutrisinya, tidak terjadi
mual ataupun muntah pada klien tetapi masalah gangguan nutrisi belum
terpenuhi, intervensi dilanjutkan oleh perawat ruangan.

4.5

Resiko gangguan integritas kulit sehubungan faktor mekanik (adanya


tekanan).

113

Dari hasil pengkajian didapatkan data terdapat kemerahan pada


daerah bokong klien, terdapat memar pada ekstremitas atas akibat tindakan
infasif (pemasangan infus/mengambilan darah), klien menggunakan
popok, terdapat kemerahan pada area belakang kepala klien. Tanda dan
gejala yang dialami klien terjadi karena faktor mekanik (adanya tekanan)
pada area kepala klien akibat terjadinya pembesaran yang abnormal pada
daerah kepala. Intervensi yang diberikan meliputi mengobservasi terhadap
eritema, kepucatan, dan palpasi area sekitar terhadap kehangatan dan
pelunakan jaringan tiap mengubah posisi, menjaga kebersihan kulit dan
seminimal mungkin hindari trauma dan panas terhadap kulit.
Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa perawatan
kulit yang saksama setelah pembedahan dilanjutkan, dengan perhatian
ekstra untuk mencegah kerusakan jaringan akibat tekanan, inspeksi kulit
dilakukan secara teratur untuk medeteksi setiap tanda penekanan, iritasi
atau infeksi (Wong, 2008).
Setelah dilakukan implementasi selama 2x24 jam yang selanjutnya
dilakukan evaluasi. Pada saat dilakukan evaluasi keperawatan kulit klien
tampak lembab, memar pada area bekas pemasangan infuse sudah hilang,
kemerahan pada area sekitar popok sudah mulai berkurang atau hilang.
Masalah resiko kerusakan integritas kulit yang dialami klien teratasi
sebagian dan intervensi dilanjutkan oleh perawat ruangan.

115

BAB 5
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
1. Berdasarkan pengkajian pada tanggal

02 Maret 2016 didapatkan

hasil, By. F dengan diagnosa hidrosefalus, saat dilakukan pengkajian


didapatkan hasil kepala klien tampak membesar dengan ukuran
lingkar kepala 41 cm, terdapat luka post operasi vp shunt sebelah kiri
yang tertutup kassa steril, tanda-tanda vital klien didapatkan nadi 120
kali/menit, respirasi 46 kali/menit, suhu 38oC, terdapat luka post
operasi vp shunt di abdomen di regio kiri bawah.

Orang tua

mengatakan anak F adalah anak pertama. Anak F lahir dengan proses


kelahiran Caesar, dengan berat badan 3000 gram dengan usia gestasi
33 minggu dan penyulit janin yaitu janin dengan hidrosefalus.
2. Masalah keperawatan yang muncul pada kasus By. F ada 4 yaitu
Resiko Infeksi berhubungan dengan adanya jalur invasif akibat
pemasangan VP shunt. Gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan
tubuh. Resiko gangguan integritas kulit. Kurang pengetahuan yang
berhubungan dengan misinterpretasi informasi.
3. Melaksanakan Intervensi dan implementasi yang sudah direncanakan
yaitu seperti cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan perawatan
kepada klien dan mempertahankan teknik aseptik.
4. Evaluasi, Setelah dilakukan asuhan

keperawatan,

perawat dapat meghindari masalah dari resiko infeksi,


menangani masalah kurang pengetahuan keluarga, gangguan nutrisi
dan gangguan integritas kulit belum teratasi sepenuhnya.

5.2. Saran
Berdasarkan pengkajian dan asuhan keperawatan yang telah
dilakukan oleh penulis, asuhan keperawatan yang baik adalah asuhan yang
selalu memperhatikan seluruh aspek dari kehidupan klien baik biologi,
psikologi, sosial dan spiritualnya. Pada kasus hidrosefalus terdapat banyak
117

intervensi keperawatan yang bisa diberikan kepada klien, dari hal yang
sederhana sampai pada hal yang perlu ketelitian dan konnsentrasi dalam
memberikan asuhan keperawatan. Intervensi seperti cuci tangan sebelum
dan sesudah melakukan tindakan keperawatan, observasi tanda-tanda vital,
observasi intake dan ouput klien, kolaborasi pengobatan adalah hal yang
harus diberikan dan diperhatikan dalam menangani kepada pasien dengan
hidrosefalus. Menghindari resiko infeksi adalah hal yang paling penting
untuk diperhatikan. Masalah integritas kulit juga harus diperhatikan
dengan selalu menjaga agar tidak ada penekanan pada bagian kepala, atau
ekstremitas. Untuk peneliti selanjutnya yang menangani pasien dengan
hidrosefalus bisa melakukan intervensi yang dikemukakan oleh (Zaben,
2013) yaitu merubah posisi kepala klien setiap 2 jam dan intervensiintervensi lain yang mampu memberikan kenyamanan kepada klien.

119