Anda di halaman 1dari 25

Tugas Kelompok

MAKALAH FARMAKOGNOSI II
STANDARISASI NON SPESIFIK EKSTRAK

Oleh Kelompok IV

Aswan Sudiman
Devita Suba Mairi
Hendra Febriansyah
Lili Handayani
Malindo Sufriadin
Muh. Ridwan Esi
Nurlela Sundari Z.
Nurnaningsih
Reski Nahdiati Rianda
JURUSAN FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2015-2016
1|Standarisasi Non Spesifik

2|Standarisasi Non Spesifik

KATA PENGANTAR
Assalamu Alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat ALLAH SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua sehingga makalah Farmaognosi II ini
dengan judul Standarisasi Non Spesifik dapat terselesaikan meskipun masih jauh
dari kesempurnaan.
Ucapan terima kasih tak lupa kami sampaikan kepada dosen Farmaognosi II
yang senantiasa memberikan arahan kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah ini.
Kami menyadari masih banyak kekurangan dari makalah ini karena adanya
keterbatasan literatur dan pengetahuan dari kami, untuk itu kami sangat
mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun untuk kesempurnaan
penulisan makalah selanjutnya.
Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Kendari,

Februari 2016

Penulis

i3 | S t a n d a r i s a s i N o n S p e s i f i k

DAFTAR ISI
Cover..........................................................................................................................i
Kata Pengantar...........................................................................................................ii
Daftar Isi....................................................................................................................iii
BAB I

Pendahuluan................................................................................................4

A. Latar Belakang...............................................................................................4
B. Rumusan Masalah..........................................................................................5
C. Tujuan............................................................................................................5
BAB II

Pembahasan................................................................................................6

A. Simplisia........................................................................................................6
B. Ekstak.............................................................................................................9
C. Manfaat Standarisasi......................................................................................15
BAB IV Penutup......................................................................................................16
A. Kesimpulan....................................................................................................16
B. Saran..............................................................................................................16
Daftar Pustaka............................................................................................................17

BAB I
ii

PENDAHULUAN
4|Standarisasi Non Spesifik

A. Latar Belakang
Obat tradisional sudah sangat pesat perkembangannya di Indonesia.
Peredaran obat tradisional di Indonesia harus memenuhi persyaratan dan aturan
yang telah ditetapkan dalam KEPMENKES No 661/MENKES/SK/VII/1994.
Berdasarkan aturan tersebut,Maka sangat penting untuk melakukan suatu
prosedur yaitu Standarisasi Obat Herbal.
Standardisasi adalah serangkaian parameter, prosedur dan cara
pengukuran yang hasilnya merupakan unsur-unsur terkait paradigma mutu
kefarmasian, mutu dalam arti memenuhi syarat standar (kimia, biologi, dan
farmasi), termasuk jaminan (batas-batas) stabilitas sebagai produk kefarmasian
umumnya. Terpenuhinya standar mutu produk/bahan ekstrak tidak terlepas dari
pengendalian proses, artinya bahwa proses yang terstandar dapat menjamin
produk yang terstandar berdasarkan tetapan yang telah ditetapkan. Namun
kenyataannya masih banyak dilakukan proses standarisasi tanpa mengacupada
terstandar mutu dan proses yang terkendali/terstandar dan produk atau bahan
ekstrak terstandar tidak dilakukan penerapan pengujian atau pemeriksaan.
Padahal pengujian atau pemeriksaan persyaratan parameter standar umum
ekstrak

mutlak

harus

dilakukan

dengan

berpegang

pada

manajemen

pengendalian mutu eksternal oleh badan formal atau badan independen.


Salah satu tahap standarisasi yaitu uji penetapan parameter non spesifik
yang meliputi penetapan kadar air (moisture content), penetapan kadar Abu (ash
value), penetapan logam berat (heavy metal), penetapan residu pestisida

5|Standarisasi Non Spesifik

(pesticide residues), cemaran mikroorganisme (microbial contaminant), dan


identifikasi aflatoksin.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan standarisasi?
2. Apa saja parameter standar non spesifik dari simplisia dan ekstrak?
3. Apa manfaat standarisasi suatu simplisia dan ekstark ?
C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian standarisasi
2. Mengetahui parameter standar non spesifik dari simplisia dan ekstark
3. Manfaat standarisasi suatu simplisia dan ekstrak

BAB II
PEMBAHASAN

A. Simplisia

6|Standarisasi Non Spesifik

Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai bahan obat, kecuali
dinyatakan lain berupa bahan yang telah dikeringkan. Syarat yang harus dipenuhi
antara lain kemurnian simplisia, tidak mengandung peptisida berbahaya, logam berat,
dan senyawa toksik dan beberapa persyaratan lain dalam Farmakope Indonesia.
Simplisia terdiri dari simplisia nabati, hewani dan mineral. Simplisia nabati
adalah simplisia yang berupa tanaman utuh, bagian tanaman atau eksudat tanaman.
Eksudat tanaman adalah isi sel yang secara spontan keluar dari selnya atau zat-zat
nabati lainnya yang dengan cara tertentu dipisahkan dari tanamannya. Simplisia
hewani adalah simplisia yang berupa hewan utuh atau zat-zat yang berguna yang
dihasilkan oleh hewan dan belum berupa zat kimia murni. Simplisia pelikan atau
mineral adalah simplisia yang berupa bahan pelikan atau mineral yang belum diolah
dengan cara sederhana dan belum berupa zat kimia murni. Untuk menjamin
keseragaman senyawa aktif, keamanan maupun kegunaan simplisia harus memenuhi
persyaratan minimal untuk standardisasi simplisia. Standardisasi simplisia mengacu
pada tiga konsep antara lain sebagai berikut:
a) Simplisia sebagai bahan baku harus memenuhi 3 parameter mutu umum
(nonspesifik) suatu bahan yaitu kebenaran jenis (identifikasi), kemurnian,
aturan penstabilan (wadah, penyimpanan, distribusi).
b) Simplisia sebagai bahan dan produk siap pakai harus memenuhi trilogi QualitySafety-Efficacy.
c) Simplisia sebagai bahan dengan kandungan kimia yang berkontribusi terhadap
respon biologis, harus memiliki spesifikasi kimia yaitu komposisi (jenis dan
kadar) senyawa kandungan.
Parameter standar simplisia

7|Standarisasi Non Spesifik

a. Penetapan kadar air


Prinsip metode uji ini adalah pengukuran kandungan air yang berada di dalam
bahan, dilakukan dengan cara yang tepat diantara cara titrasi, destilasi, atau
gravimetri.
b. Susut Pengeringan
Susut pengeringan adalah pengukuran sisa zat setelah pengeringan pada
temperatur105oC selama 30 menit atau sampai berat konstan, yang dinyatakan
sebagai nilai prosen. Dalam hal khusus (jika bahan tidak mengandung minyak
menguap dan sisa pelarut organik menguap) identik dengan kadar air, yaitu
kandungan air karena berada di atmosfer atau lingkungan udara terbuka.
Tujuan mengetahui susut pengeringan adalah memberikan batasan maksimal
(rentang) tentang besarnya senyawa yang hilang pada proses pengeringan
c. Penetapan kadar Minyak atsiri
Penetapan kadar minyak atsiri ini dengan cara destilasi Stahl. Pada metode ini,
simplisia yang akan disuling kontak langsung dengan air mendidh. Bahan
tersebut mengapung diatas air atau terendam secara sempurna tergantung dari
bobot jenis dan jumlah bahan yang disuling. Air dipanaskan dengan metode
panas langsung, mantel uap, pipa uap melingkar tertutup, atau dengan memakai
pipa uap melingkar terbuka atau berlubang. Ciri khas dari metode ini adlah
kontak langsung antara bahan dengan air mendidih (Ketaren, 1987). Penyulingan
ini dilakukan pada tanaman yang dikeringkan dan tidak dirusak oleh pendidihan
( Claus dan Tyler, 1970).
B. Ekstak
Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat aktif
dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai,
kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang

8|Standarisasi Non Spesifik

diperoleh diperlukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan.


Standardisasi ekstrak tidak lain adalah serangkaian parameter yang dibutuhkan
sehingga ekstrak persyaratan produk kefarmasian sesuai dengan persyaratan yang
berlaku.
Ekstrak terstandar berarti konsistensi kandungan senyawa aktif dari setiap batch
yang diproduksi dapat dipertahankan, dan juga dapat mempertahankan pemekatan
kandungan senyawa aktif pada ekstrak sehingga dapat mengurangi secara signifikan
volume permakaian per dosis, sementara dosis yang diinginkan terpenuhi, serta
ekstrak yang diketahui kadar senyawa aktifnya ini dapat dipergunakan sebagai bahan
pembuatan formula lain secara mudah seperti sediaan cair , kapsul, tablet, dan lainlain.
Dalam menjamin suatu ekstrak dapat digunkan sebagai sautu bahan obat harus
memenuhi suatu karaktristik antara lain parameter standar non spesifik suatu ekstrak.
Adapun parameter non spesifik ektrak antara lain :
1. Parameter Kadar Air
Salah satu jaminan kemurnian dan kontaminasi adalah penetapan kadar air.
Nilai kadar air yang tidak sesuai dengan standar dapat mempengaruhi kualitas
herbal. Yaitu Sebagai media tumbuh mikroorganisme yang Baik. Pertumbuhan
jamur ataupun bakteri dapat menyebabkan terjadinya perubahan metabolit
sekunder. Selain itu kadar air yang tinggi dapat menyebabkan masih
berlangsungnya reaksi enzimatis yang dapat merubah metabolit sekunder di
dalam tanaman tersebut. Perubahan metabolit sekunder Akan sangat
mempengaruhi kualitas herbal itu sendiri dalam hal aktivitas farmakologinya.

9|Standarisasi Non Spesifik

Parameter kadar air merupakan pengukuran kandungan air yang berada di


dalam bahan. Penetapan parameter dilakukan dengan cara yang tepat yaitu
titrasi, destilasi atau gravimetri. Tujuan dari parameter ini adalah memberikan
batasan maksimal atau rentang tentang besarnya kandungan air di dalam bahan.
2. Parameter Kadar Abu
Parameter kadar abu merupakan pernyataan dari jumlah abu fisiologik bila
ekstrak dipijar hingga seluruh unsur organik hilang. Abu fisiologik adalah abu
yang diperoleh dari sisa pemijaran.
Penetapan fisis dari sediaan jamu (simplisia) dilakukan berupa penetapan
kadar abu sisa pemijaran (kadar abu total) dan kadar abu yang tidak larut dalam
asam. Pemeriksaan ini digunakan untuk mengidentifikasi suatu simplisia karena
tiap simplisia mempunyai kandungan atau kadar abu yang berbeda-beda, dimana
bahan anorganik yang terdapat dalam simplisia tersebut ada yang terbentuk
secara alami dalam tumbuhan.
Prinsipnya adalah bahan dipanaskan pada temperatur dimana senyawa
organik dan turunannya terdekstruksi dan menguap hingga tersisa unsur mineral
organik, penetapan kadar abu bertujuan memberi gambaran kandungan mineral
internal dan eksternal dalam simplisia, mulai dari proses awal sampai
terbentuknya ekstrak. Kadar abu diperiksa untuk menetapkan tingkat pengotoran
oleh logam-logam dan silikat. Kadar Abu dibagi atas dua macam yaitu kadar abu
larut air dan kadar abu tidak larut asam.
Kadar abu total (sisa pemijaran) dan abu yang tidak dapat larut dalam asam
dapat ditetapkan melalui metode yang resmi. Dalam hal ini terjadi pemijaran dan

10 | S t a n d a r i s a s i N o n S p e s i f i k

penimbangan, total abu kemudian dididihkan dengan asam klorida, disaring,


dipijarkan dan ditimbang abu yang tidak larut dalam asam dimaksudkan untuk
melarutkan kalsium karbonat, alkali klorida sedangkan yang tidak larut dalam
asam biasanya mengandung silikat yang berasal dari tanah atau pasir. Jumlah
kotoran, tanah, tanah liat dan lain-lain yang terdapat dalam sample uji disebut
sebagai zat anorganik asing yang terbentuk dalam bahan obat atau melekat pada
bahan obat pada saat pencampuran.
Adapun contoh penetapan penentuan kadar abu antara lain, 2 gram
simplisia ditimbang seksama,dimasukkan ke dalam krus porselen yang
telahdipijarkan dan ditara, kemudian dipijarkanperlahan-lahan hingga arang
habis, didinginkandan ditimbang. Jika dengan cara ini arang tidakdapat
dihilangkan, ditambahkan air panas,diaduk, disaring melalui kertas saring
bebasabu. Kertas saring beserta sisa penyaringandipijarkan dalam krus yang
sama. Filtratdimasukkan ke dalam krus, diuapkan dandipijarkan hingga bobot
tetap. Kadar abu totaldihitung terhadap berat ekstrak, dan dinyatakandalam %
b/b.

3. Kadar Abu Tidak Larut Asam


Abu yang diperoleh dari penetapan kadar abu pada penetapan kadar abu
yang tidak larut dalam asam ketika dilarutkan dengan pelarut asam. Adapun
contoh perhitungan kadar abu tidak larut asam adalah abu yang diperoleh pada
penetapan kadar abu total, dididihkan dengan 25 ml asam klorida P, dicuci

11 | S t a n d a r i s a s i N o n S p e s i f i k

dengan air panas, pijar hingga bobot tetap. Kadar abu yang tidak larut dalam
asam dihitung terhadap berat simplisia, dinyatakan dalam % b/b.

4. Parameter Cemaran Logam Berat


Parameter cemaran logam berat adalah menetukan kandungan logam
berat secara spektroskopi serapan atom atau lainnya yang lebih valid. Tujuan
dari parameter ini adalah untuk memberikan jaminan bahwa ekstrak tidak
mengandung logam berat tertentu (Hg, Pb, Cu dll.) melebihi nilai yang
ditetapkan karena berbahaya (toksik) bagi kesehatan.
Kontaminasi logam berat dapat terjadi secara tidak sengaja ataupun
sengaja untuk ditambahkan. Logam berat yang berbahaya dan Ada di sediaan
OT adalah merkuri, timbal, tembaga, kadmium, dan arsen. Cara penentuan
logam berat yang sederhana dapat ditemukan dalam pharmacopoeias dan
didasarkan pada reaksi warna menggunakan reagen spesifik Yaitu thiocetamide
atau

diethyldithiocarbamate.

membandingkan

menggunakan

Kehadiran
standar.

logam

berat

Penetapan

diukur

logam

dengan

berat

dapat

menggunakan instrument seperti Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS),


Inductively coupled plasma (ICP), dan Neutron Activation Analysis (NAA).
5. Parameter Cemaran Aflatoksin
Parameter cemaran aflatoksin merupakan parameter yang menetukan
adanya aflatoksin dengan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Tujuan dari

12 | S t a n d a r i s a s i N o n S p e s i f i k

parameter ini adalah memberikan jaminan bahwa ekstrak tidak mengandung


cemaran jamur melebihi batas yang ditetapkan karena berpengaruh pada
stabilitas ekstrak dan aflotoksin yang berbahaya bagi kesehatan.
6. Parameter Cemaran Mikroba
Parameter cemaran mikroba digunakan untuk menentukan (identifikasi)
adanya mikroba yang patogen secara analisis. Tujuan dari parameter ini adalah
untuk memberikan jaminan bahwa ekstrak mengandung mikroba patogen dan
tidak mengandung mikroba nonpatogen melebihi batas yang ditetapkan karena
berpengaruh pada stabilitas ekstrak dan berbahaya (toksik) bagi kesehatan.
7. Penetapan residu pestisida
Obat tradisional dapat mengandung residu pestisida, yang terakumulasi
melalui proses agricultural seperti penyemprotan, treatment pada tanah Selama
proses penanaman, dan penggunaan pestisida gas Selama penyimpanan. Banyak
pestisida mengandung klorin atau fosfat. Pengukuran residu pestisida dapat
dilakukan dengan menetapkan total organik klorin dan/ total organik fosfat
apabila tercemar pestisida lebih dari satu. Penentuan pestisida tunggal dapat
dilakukan dengan metode kromatografi gas. Tetapi apabila senyawa pestisida
atau senyawa lain juga terdeteksi dalam kromatogram suatu residu pestisida
maka perlu dilakukan suatu perlakuan kimiawi atau fisika lain untuk
menghilangkan atau mengurangi intervensi senyawa senyawa tersebut sebelum
dilakukan kuantitasi residu pestisida yang ingin ditentukan..

13 | S t a n d a r i s a s i N o n S p e s i f i k

Persyaratan parameter non spesifik ekstrak secara umum ditunjukkan


pada tabel berikut.

C. Manfaat Standarisasi
Persyaratan mutu ekstrak terdiri dari berbagai parameter standar umum dan
paramater standas spesifik. Dengan standarisasi, pemerintah melakukan fungsi
pembinaan dan pengawasan serta melindungin konsumen untuk tegaknya trilogi
"mutu, keamanan dan manfaat. Pengertian standarisasi juga berarti proses menjamin
bahwa produk akhir mempunyai nilai parameter tertentu yang konstan dan ditetapkan
(dirancang dalam formula) terlebih dahulu. Khasiat ekstak dengan simplisia asalnya
belum sama persis, kerena simplisia yang diekstrak mengandung senyawa aktif yang
dapat larut dan senyawa yang tidak dapat larut seperti serat, karbohidrat, protein dan
lain-lain.
Senyawa aktif yang terdapat dalam berbagai simplisia dapat digolongkan
kedalam golongan minyak atsiri, alkaloid, flavanoid dan lain-lain. Struktur kimia

14 | S t a n d a r i s a s i N o n S p e s i f i k

yang berbeda-beda akan mempengaruhi kelarutan serta stabilitas senyawa-senyawa


tersebut terhadap pemanasan, udara, cahaya, logam berat dan derajat keasaman.
Dengan diketahuinya senyawa aktif yang dikandung simplisia, akan mempermudah
pemilihan pelarut dan cara ekstrak yang tepat. Keadaan kadar senyawa aktif
merupakan syarat mutlak ekstrak yang diproduksi. Oleh sebab itu setiap ektrak harus
distandarisasi terlebih dahulu.

BAB III
PENUTUP

15 | S t a n d a r i s a s i N o n S p e s i f i k

A. Kesimpulan
Kesimpulan yang diperoleh dari penulisan makalah ini adalah:
1. Standardisasi adalah serangkaian parameter, prosedur dan cara pengukuran
yang hasilnya merupakan unsur-unsur terkait paradigma mutu kefarmasian,
mutu dalam arti memenuhi syarat standar (kimia, biologi, dan farmasi),
termasuk jaminan (batas-batas) stabilitas sebagai produk kefarmasian
umumnya.
2. Parameter non spesifik simplisia meliputi penetapan kadar air, penetapan
kadar abu, penetapan logam berat dan penetapan residu pestisida. Sedangkan
parameter non spesifik dari ekstrak meliputi parameter kadar air, parameter
kadar abu, kadar abu tidak larut asam, parameter cemaran logam berat,
parameter cemaran aflatoksin, parameter cemaran mikroba dan penetapan
residu pestisida.
3. Manfaat standarisasi adalah pemerintah melakukan fungsi pembinaan dan
pengawasan serta melindungin konsumen untuk tegaknya trilogi "mutu,
keamanan dan manfaat dari simplisia.
B. Saran
Saran dalam penulisan makalah ini adalah penulis mengharapkan mahasiswa
mengetahui apa-apa saja parameter-perameter standarisasi non spesifik dari eksrak
dan simplisia.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2005. Info POM RI (Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik
Indonesia). Vol. 6. No. 4.
Anonim.

2012. http://mipa-farmasi.blogspot.co.id/2012/04/standarisasi-ekstrakherbal.html.

16 | S t a n d a r i s a s i N o n S p e s i f i k

Anonim. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta :


Departemen Kesehatan.
Badan POM RI. 2005. Standarisasi Ekstrak Tumbuhan Obat Indonesia, Salah Satu
Tahapan Penting dalam Pengembangan Obat Asli Indonesia. Info POM.
Vol. 6. No. 4.
Muhtadi, dkk. 2012. Potensi Daun Salam (Syzigium polyanthum Walp.) dan Biji
Jinten Hitam (Nigella sativalinn) sebagai Kandidat Obat Herbal Terstandar
Asam Urat. Jurnal Farmasi Indonesia. Vol. 13. No. 1.
Paramita V. 2014. https://vidyaparamita.wordpress.com/2014/03/14/parameter-nonspesifik-standarisasi-obat-tradisional.

TEORI DASAR
Untuk menjamin kualitas dari simplisia atau ekstrak diperlukan standararisasi
simplisia atau ekstrak. Parameter standarisasinya berupa parameter standar spesifik
dan non spesifik.
1. Parameter spesifik
Identitas

17 | S t a n d a r i s a s i N o n S p e s i f i k

Tujuannya memberikan identitas objektif dari nama dan spesifik dari senyawa
identitas. Diantaranya deskripsi tata nama dan ekstrak yang mempunyai senyawa
identitas artinya senyawa tertentu yang menjadi penunjuk spesifik dengan metode
tertentu. Deskripsi nama berupa nama ekstrak, nama latin tumbuhan, bagian
tumbuhan yang digunakan dan nama Indonesia tumbuhan.
Organoleptik
Penggunaan panca indera mendeskripsikan bentuk, warna, bau, dan rasa.
Tujuannya untuk pengenalan awal yang sederhana seobjektif mungkin.
Senyawa terlarut dalam pelarut tertentu
Melarutkan ekstrak dengan pelarut (alcohol atau air) untuk ditentukan jumlah
solute yang identik dengan jumlah senyawa kandungan secara gravimetri. Dalam hal
tertentu dapat diukur senyawa terlarut dalam pelarut lain misalnya heksana,
diklorometan, metanol. Tujuannya memberikan gambaran awal jumlah senyawa
kandungan. (Ditjen POM, 2000)
2. Ekstraksi
Ekstraksi yang sering digunakan untuk memisahkan senyawa organik adalah
ekstraksi zat cair, yaitu pemisahan zat berdasarkan perbandingan distribusi zat
tersebut yang terlarut dalam dua pelarut yang tidak saling melarutkan.
Yang paling baik adalah dimana kelarutan tersebut dalam pelarut satu lebih besar
daripada konsentrasi zat terlarut dalam pelarut lainnya, harga K hendaknya lebih
besar atau lebih kecil dari satu ekstraksi jangka pendek disebut juga proses
pengorokan, sedangkan pada proses jangka panjang menggunakan soxhlet dan
dengan pemanasan (Wasilah, 1978).
Kriteria pemilihan pelarut:
- Pelarut mudah melarutkan bahan yang di ekstrak
- Pelarut tidak bercampur dengan cairan yang di ekstrak
- Pelarut mengekstrak sedikit atau tidak sama sekali pengotor yang ada
- Pelarut mudah dipisahkan dari zat terlarut
- Pelarut tidak bereaksi dengan zat terlarut melalui segala cara (Cahyono, 1991).
2.1. Prinsip Ekstraksi pelarut
Ekstrasi adalah proses pemindahan suatu konstituen dalam suatu sample ke
suatu pelarut dengan cara mengocok atau melarutkannya. Ektraksi pelarut bisa
disebut ekstraksi cair-cair yaitu proses pemindahan solut dari pelarut satu ke pelarut
lainnya dan tidak bercampur dengan cara pengocokkan berulang. Prinsip dasar dari
ekstraksi pelarut ini adalah distribusi zat terlarut dalam dua pelarut yang
tidak bercampur (Ibrahim,2009).
3. Kadar sari
Penetapan kadar sari adalah metode kuantitatif untuk jumlah kandungan
senyawa dalam simplisia yang dapat tersari dalam pelarut tertentu. Penetapan ini
dapat dilakukan dengan dua cara yaitu kadar sari yang larut dalam air dan kadar sari
yang larut dalam etanol. Kedua cara ini didasarkan pada kelarutan senyawa yang
terkandung dalam simplisia.

18 | S t a n d a r i s a s i N o n S p e s i f i k

Ada beberapa teknik isolasi senyawa bahan alam yang umum digunakan seperti
maserasi, perkolasi, dan ekstraksi kontinu. Tetapi pada penelitian ini yang digunakan
adalah maserasi. Maserasi merupakan metode perendaman sampel dengan pelarut
organik, umumnya digunakan pelarut organik dengan molekul relatif kecil dan
perlakuan pada temperatur ruangan, akan mudah pelarut terdistribusi ke dalam sel
tumbuhan.
Metode maserasi ini sangat menguntungkan karena pengaruh suhu dapat
dihindari, suhu yang tinggi kemungkinan akan mengakibatkan terdegradasinya
senyawa-senyawa metabolit sekunder. Pemilihan pelarut yang digunakan untuk
maserasi akan memberikan efektivitas yang tinggi dengan memperhatikan kelarutan
senyawa bahan alam dalam pelarut akibat kontak langsung dan waktu yang cukup
lama dengan sampel (Djarwis, 2004).
Salah satu kekurangan dari metode ini adalah membutuhkan waktu yang lama
untuk mencari pelarut organik yang dapat melarutkan dengan baik senyawa yang
akan diisolasi dan harus mempunyai titik didih yang tinggi pula sehingga tidak
mudah menguap (Manjang, 2004).
4. Kayu manis (Cinnamomum burmani).
Kingdom
: Plantae
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Magnoliopsida
Ordo
: Laurales
Famili
: Lauraceae
Genus
: Cinnamomum
Spesies
: Cinnamomum burmannii
Tinggi tanaman 6-12 m, akan tetapi pada tempat yang cocok bisa mencapai 18
m. Batang berwarna keabu-abuan dan berbau harum, percabangan dekat tanah, pada
ranting tua sering tidak tumbuh daun-daun baru (gundul), tajuk kekar, dan
mahkotanya berbentuk kerucut. Daun berbentuk bulat telur, agak memanjang dengan
ujung bulat/tumpul, meruncing dan lokos (licin dan mengkilap), dan berwarna merah
pada waktu masih muda, dan berubah menjadi hijau tua di permukaan atas dan pucat
keabu-abuan di bagian bawah. Bunga kecil, tidak menarik, ranting, warnanya putih
kekuning-kuningan, dan berbunga pada bulan Juli hingga September. Buah
memanjang berwarna coklat.
Ketinggian tempat penanaman kayu manis dapat mempengaruhi pertumbuhan
tanaman serta kualitas kulit seperti seperti ketebalan dan aroma. Kayu manis dapat
tumbuh pada ketinggian hingga 2000 meter dari permukaan laut. Cinnomomun
burmannii akan berproduksi baik bila ditanam di daerah dengan ketinggian 500-1500
meter dari permukaan laut.
Kandungan kimia dalam kulit kayu manis komponen terbesarnya ialah
cinnaldehida 6070% ditambah dengan eugenol, beberapa jenis aldehida,
benzylbenzoat, phelandrene dan lainlainnya. Kadar eugenol ratarata 8066%.
Dalam kulit kayu manis masih banyak komponenkomponen kimiawi misalnya

19 | S t a n d a r i s a s i N o n S p e s i f i k

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.

damar, pelekat, tanin, zat penyamak, gula, kalsium, oksalat, dua jenis insektisida
cinnzelanin dan cinnzelanol, cumarin dan sebagainya (Rismunandar, 1995).
Kulit kayu manis mempunyai rasa pedas dan manis, berbau wangi, serta bersifat
hangat. Beberapa bahan kimia yang terkandung di dalam kayu manis diantaranya
minyak atsiri eugenol, safrole, sinamaldehide, tannin, kalsium oksalat, damar dan zat
penyamak (Hariana, 2007).
Kayu manis memiliki banyak khasiat obat, antara lain:
Menurunkan kadar kolesterol
Melindungi tubuh dari resiko atherosclerosis
Mengandung antioksidan yang berguna untuk melumpuhkan radikal bebas yang
mengganggu sistem kekebalan tubuh
Membantu mengobati kanker
Mengobati asam urat, tekanan darah tinggi (hipertensi), radang lambung atau maag
(gastritis)
Membantu menurunkan berat badan
Meredakan sakit kepala dan sakit gigi
Meredakan masuk angin, perut kembung, diare, dan muntah-muntah
Membantu masalah susah buang air besar
Membantu mengobati sariawan dan membuat nafas tetap segar
Meredakan pilek, batuk, serta sinus dan membantu mencegah flu

4.1. Kulit kayu manis (Burmani Cortex)

Nama Daerah
Sumatera: holim, holim manis, modang siak-siak (Batak), kanigar, kayu manis
(Melayu), madang kulit manih (Minangkabau). Jawa: huru mentek, kiamis (Sunda),
kanyengar (Kangean). Nusatenggara: kesingar, kecingar, cingar (Bali), onte (Sasak),
kaninggu (Sumba), puu ndinga (Flores).
Pemerian
Bau khas aromatik, rasa agak manis, agak pedas dan kelat.

Pemeriksaan Makroskopik
Potongan kulit : bentuk gelondong, agak menggulung membujur, agak pipih atau
berupa berkas yang terdiri dari tumpukan beberapa potong kulit yang tergulung
membujur; panjang sampai 1m, tebal kulit 1mm sampai 3mm atau lebih. Permukaan
luar: yang tidak bergabus berwarna coklat kekuningan atau coklat sampai coklat
kemerahan, bergaris-garis pucat bergelombang memanjang dan bergaris-garis pendek
melintang yang menonjol atau agak berlekuk; yang bergabus berwarna hijau
kehitaman atau coklat kehijauan, kadang-kadang terdapat terdapat bercak bercak
lumut kerak berwarna agak putih atau coklat muda. Permukaan dalam: berwarna
coklat kemerahan tua sampai coklat kehitaman. Bekas patahan tidak rata.
Uji Kemurnian

20 | S t a n d a r i s a s i N o n S p e s i f i k

Kadar abu. Tidak lebih dari 3,5%.


Kadar abu yang tidak larut dalam asam. Tidak lebih dari 0,4 %
Kadar sari yang larut dalam etanol. Tidak kurang dari 10%
Bahan organik asing. Tidak lebih dari 2 %.
Kegunaan : Karminatif
Kandungan Senyawa : Minyak atsiri 1-3%, tanin, damar, lendir, kalsium oksalat.
(Depkes RI, 1977)

C. ALAT DAN BAHAN


Alat :
Alat destilasi stahl
Labu destilasi 1000 ml

Bahan :
Simplisia
Aquadest

Kondensor
Buret 0,5 ml berskala 0,01 ml
Pemanas
Timbangan analitis
Batu didih

D. PROSEDUR
1. Penetapan kadar senyawa larut air
Cawan dipanaskan pada suhu 105o C, didinginkan dalam desikator hingga suhu
kamar, kemudian cawan tersebut ditimbang.
Sampel ditimbang sebanyak 5 gram
Sampel dimaserasi Selama 24 jam dengan 100 ml air-kloroform P, menggunakan
Erlenmeyer sambil sesekali dikocok selama 6 jam pertama dibiarksan selama 18 jam.
Sebanyak 20 ml filtrat disaring, kemudian diuapkan hingga kering dalam cawan yang
telah ditara, sisanya dipanaskan pada suhu 105o C hingga bobot tetap.
Kadar sari larut dalam air dihitung dalam persen terhadap bahan yang dikeringkan
diudara.
2. Penetapan kadar senyawa larut etanol
Cawan dipanaskan pada suhu 105o C, didinginkan dalam desikator hingga suhu kamar,
kemudian cawan tersebut ditimbang.
21 | S t a n d a r i s a s i N o n S p e s i f i k

Sampel ditimbang sebanyak 5 gram


Sampel dimaserasi Selama 24 jam dengan

100 ml etanol (95%), menggunakan


Erlenmeyer sambil sesekali dikocok selama 6 jam pertama dibiarksan selama 18 jam.
Sebanyak 20 ml filtrat disaring, kemudian diuapkan hingga kering dalam cawan yang
telah ditara, sisanya dipanaskan pada suhu 105o C hingga bobot tetap.
Kadar sari larut dalam etanol (95%) dihitung dalam persen terhadap bahan yang
dikeringkan diudara.
E. DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN
Data Pengamatan
Nama simplisia
: Kulit kayu manis
Nama latin simplisia
: Burmani Cortex
Nama latin tumbuhan
: Cinnamomum burmani
Pengamatan Kadar sari
:
1. Kadar sari larut air ( kelompok 3C)
Berat kayu manis tabung I = 5,0141 g
Berat kayu manis tabung II = 5,0060 g
Masing-masing tabung ditambahkan kloroform (0,25 ml) dan aquadest ad 100 ml.
Berat cawan kosong yang sudah ditara:
Cawan I = 65,31 g
Cawan II = 71,66 g
Berat cawan + simplisia filtrat kering (bobot tetap):
Cawan I = 65,42 g
Cawan II = 71,78 g
2. Kadar sari larut etanol ( kelompok 4C)
Berat kayu manis tabung I = 5,0 g
Berat kayu manis tabung II = 5,0 g
Masing-masing tabung ditambahkan etanol 100 ml.
Berat cawan kosong yang sudah ditara:
Cawan I = 71,06 g
Cawan II = 70,53 g
Berat cawan + filtrat kering (bobot tetap):
Cawan I = 71,42 g
Cawan II = 70,84 g
Perhitungan :
x x 100 %
1. Kadar sari larut air
Cawan I
x x 100 % = 10,97 %

22 | S t a n d a r i s a s i N o n S p e s i f i k

Cawan II
x x 100 % = 11,99 %
2. Kadar sari larut etanol
Cawan I
x x 100 % = 36 %
Cawan II
x x 100 % = 31 %
Tabel persen kadar sari Kulit kayu manis
Kadar sari
Cawan 1
Kadar sari larut air
10,97 %
Kadar sari larut etanol
36 %

Cawan 2
11,99 %
31 %

Rata-rata
11,48 %
33,5 %

F. PEMBAHASAN
Simplisia sebagai suatu bahan yang akan mengalami proses lanjutan atau
langsung dikonsumsi harus memiliki standarisasi. Hal ini penting sebagai acuan
mengenai segala sesuatu mengenai cara penggunaan simplisia. Karena simplisia yang
berasal dari bahan alam biasanya memiliki keragaman, terutama dalam kandungan
zat aktifnya. Sehingga agar didapatkan mutu dan kualitas yang sama pada semua
konsumen, standar penggunaan simplisia sangat diperlukan.
Standarisasi merupakan hal yang penting untuk simplisia dan ekstrak yang akan
digunakan atau dikonsumsi. Parameter standar merupakan suatu metode standarisasi
untuk menjaga kualitas dari suatu simplisia maupun ekstrak. Parameter standar
meliputi parameter standar spesifik dan parameter standar non spesifik, yang diujikan
terhadap simplisia dan ekstrak. Salah satu parameter standar spesifik untuk pengujian
standar simplisia adalah penetapan kadar sari pada pelarut tertentu.
Kadar sari larut air dan etanol merupakan pengujian untuk penetapan jumlah
kandungan senyawa yang dapat terlarut dalam air (kadar sari larut air) dan
kandungan senyawa yang dapat terlarut dalam etanol (kadar sari larut etanol). (Ditjen
POM, 2000)
Metode penentuan kadar sari digunakan untuk menentukan jumlah senyawa aktif
yang terekstraksi dalam pelarut dari sejumlah simplisia. Penentuan kadar sari juga
dilakukan untuk melihat hasil dari ekstraksi, sehingga dapat terlihat pelarut yang
cocok untuk dapat mengekstraksi senyawa tertentu. Prinsip dari ekstraksi didasarkan
pada distribusi zat terarut dengan perbandingan tertentu antara dua pelarut yang tidak
saling campur (Ibrahim,2009).
Pada penentuan kadar sari larut air, simplisia terlebih dahulu dimaserasi selama
24 jam dengan air. Sedangkan pada penentuan kadar sari larut etanol, simplisia
terlebih dahulu dimaserasi selama 24 jam dengan etanol (95 %). Hal ini bertujuan
agar zat aktif yang ada pada simplisia dapat terekstraksi dan tertarik oleh pelarut
tersebut.

23 | S t a n d a r i s a s i N o n S p e s i f i k

Ketika penentuan kadar sari larut air, simplisia ditambahkan kloroform terlebih
dahulu, penambahan kloroform tersebut bertujuan sebagai zat antimikroba atau
sebagai pengawet. Karena apabila pada saat masrasi hanya air saja, mungkin
ekstraknya akan rusak karena air merupakan media yang baik untuk pertumbuhan
mikroba atau dikhawatirkan terjadi proses hidrolisis yang akan merusak eksatrak
sehingga menurunkan mutu dan kualitas dari ekstrak tersebut. Sementara pada
penentuan kadar sari larut etanol tidak ditambahkan kloroform, karena etanol sudah
memiliki sifat antibakteri jadi tidak perlu ditambahkan kloroform.
Dari percobaan yang telah dilakukan didapatkan hasil kadar sari larut air dari
kulit kayu manis adalah 11,48 % dan 33,5 % untuk kadar sari larut etanol. Kadar sari
larut etanol yang didapat lebih besar dibandingkan dengan kadar sari larut airnya. Hal
ini karena air bersifat polar dan etanol bersifat non polar. Jadi etanol bisa menarik
senyawa yang bersifat polar dan non polar dibandingkan air yang hanya bias menarik
senyawa yang polar saja. Oleh karena itu etanol biasa disebut pelarut universal.
Berdasarkan kelarutan dari kandungan senyawa yang terkandung dalam kulit
kayu manis yaitu minyak atsiri 1-3%, tanin, damar, lendir (mucilago/amilum),
kalsium oksalat (Depkes RI, 1977) dapat diketahui sifat-sifat dari zat tersebut.
Misalnya tannin. Tanin mudah larut dalam air disebabkan karena adanya gula
yang terikat. Hal ini sama diungkapkan oleh Browning (1980) bahwa semua jenis
tanin larut dalam air, kelarutannya akan bertambah besar apabila dilarutkan adalam
air panas. Markhan (1988) mengatakan bahwa karena mempunyai sejumlah gugus
hidroksil pada flavanoid (bentuk tanin yang umum ditemukan) maka cenderung
menyebabkan flavanoid mudah larut dalam air panas atau larutan basa encer karena
cara ini adalah cara yang termurah dengan perolehan ekstraksi uang cukup besar
( Umar, 2002). Kelarutan dalam etanol 0,82gr dalam 1 ml (70oC). Kelarutan dalam
air 0,656 gr dalam 1ml (70oC) (Anonim, 2011).
Sifat damar antara lain rapuh dan mudah melekat pada tangan pada suhu kamar,
mudah larut dalam minyak atsiri dan pelarut organic nonpolar,sedikit larut dalam
pelarut organic yang polar, tidak larut dalam air, tidak tahan panas, mudah
terbakar,tidak volatile apabila terdekomposisi dan mudah berubah warna bila
disimpan terlalu lama dalam tempat tertutup tanpa sirkulasi udara yang baik
(Mulyono, 2004). Sehingga damar tersebut akan lebih banyak terekstraksi oleh
etanol.
Selain tanin dan damar, terdapat pula minyak atsiri 1-3%,
tanin, lendir (mucilago/amilum), kalsium oksalat. Minyak atsiri yang bersifat non
polar akan lebih mudah dan lebih banyak terekstraksi oleh etanol dibanding dengan
air. Pati atau amilum adalah karbohidrat kompleks yang tidak larut dalam air, oleh
karena itu tidak akan terekstraksi oleh air.
Dilihat dari kelarutan zat-zat yang terkandung dari simplisia tersebut yang
sebagian besar tidak larut dalam air jadi kadar sari larut airnya lebih sedikit dari pada
kadar sari larut etanol.

24 | S t a n d a r i s a s i N o n S p e s i f i k

Kadar sari yang larut dalam etanol dari kulit kayu manis pada literature (MMI)
tidak kurang dari 10%. Dari data yang didapat dari percobaan kadar sari larut dari
etanol telah memenuhi persyaratan karena hasil yang didapatkan yaitu 33,5 %.
Data kadar sari dalam pelarut tertentu biasanya diperlukan untuk menentukan
pelarut yang akan digunakan untuk mengekstraksi senyawa tertentu agar zat-zat yang
terekstraksi lebih banyak yang terekstrak dari simplisia yang akan diekstrak.

G. KESIMPULAN
Salah satu parameter standar spesifik untuk pengujian standar simplisia adalah
penetapan kadar sari pada pelarut tertentu.
Kadar sari larut air dan etanol merupakan pengujian untuk penetapan jumlah
kandungan senyawa yang dapat terlarut dalam air (kadar sari larut air) dan
kandungan senyawa yang dapat terlarut dalam etanol (kadar sari larut etanol).
Maserasi bertujuan agar zat aktif yang ada pada simplisia dapat terekstraksi dan
tertarik oleh pelarut tersebut.
Ketika penentuan kadar sari larut air, simplisia ditambahkan kloroform terlebih
dahulu, penambahan kloroform tersebut bertujuan sebagai zat antimikroba atau
sebagai pengawet.
Pada penentuan kadar sari larut etanol tidak ditambahkan kloroform, karena etanol
sudah memiliki sifat antibakteri jadi tidak perlu ditambahkan kloroform.
Hasil kadar sari larut air dari kulit kayu manis yang didapat adalah 11,48 %
Hasil kadar sari larut etanol dari kulit kayu manis yang didapat adalah 33,5 %.
Data kadar sari dalam pelarut tertentu biasanya diperlukan untuk menentukan pelarut
yang akan digunakan untuk mengekstraksi senyawa tertentu agar zat-zat yang
terekstraksi lebih banyak yang terekstrak dari simplisia yang akan diekstrak.

25 | S t a n d a r i s a s i N o n S p e s i f i k