Anda di halaman 1dari 4

Soft Approach Kontra Terorisme: Deradikalisasi atau

Disengagement?

A. Pendahuluan
Berbagai upaya telah dilakukan untuk menghentikan aksi terorisme yang
terjadi berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Pendekatan militeristik
maupun non militer telah dan terus diupayakan untuk menghilangkan ancaman
teror di tengah-tengah masyarakat. Aksi militeristik dinilai belum mampu
menyelesaikan permasalahan terorisme. Pendekatan dengan kekuatan senjata
dianggap sebatas menyelesaikan terorisme sesaat tanpa dapat menghilangkan
faktor pemicu munculnya terorisme. Untuk itu, para ahli berpendapat bahwa
pendekatan militeristik harus disertai dengan pendekatan non militeristik untuk
menghentikan aksi terorisme.
Salah satu strategi non militeristik yang populer adalah strategi
deradikalisasi. Deradikalisasi menjadi bahasan yang seolah tidak dapat
dipisahkan dalam pembahasan upaya penanganan terorisme. Namun demikian,
meskipun deradikalisasi telah dijalankan, bahkan untuk menjalankannya di
Indonesia telah dibentuk sebuah badan khusus yaitu Badan Nasional
Penanggulangan Terorisme (BNPT), ternyata masih terdapat kelompokkelompok yang menjalankan aksi terorisme di Indonesia.
Pendekatan soft approach dalam kontra terorisme dikenal adanya dua
konsep yaitu deradikalisasi dan disenagegement. Deradikalisasi sering
mendapatkan sorotan tajam berupa kritik yang pedas dari kalangan akademisi.
Di Indonesia kedua program tersebut tampak tumpang tindih dan sifat kedua
program itu pun cenderung transaksional, yakni tersangka teroris yang bersedia
bekerja sama dengan aparat bisa berharap imbalan keringanan pasal, hukuman,
pembebasan bersyarat, atau amnesti.
Deradikalisasi dan disenagegement dianggap sebagai strategi yang terlalu
mahal jika ditinjau dari sisi input output. Biaya yang besar dalam program
deradikalisasi sering kali tidak dibarengi dengan hasil yang sepadan. Disamping
1

itu program deradikalisasi masih diragukan efektivitasnya dalam kontra


terorisme. Agak sulit memang untuk kita membuktikan seberapakah berhasil
program deradikalisasi dapat dikatakan berhasil atau tidak sehingga pendekatan
ini oleh beberapa kalangan mudah diklaim keberhasilannya tanpa paramter yang
jelas dan terukur.
B. Pembahasan
John Horgan menganggap deradikalisasi tidak realistis untuk diandalkan
dalam penanganan terorisme. Menurut dia, strategi negara sebaiknya difokuskan
pada upaya disengagement atau pemutusan keterikatan anggota teroris dengan
jejaringnya, termasuk memutus segala aksesnya terhadap aksi kekerasan.
Terlebih, derajat radikal tidaknya seseorang sulit diukur.1
Disengagement merupakan proses yang kompleks menyangkut sosial dan
psikologis yang dapat membantu kita memahami proses deradikalisasi.
Disengagement bisa saja terjadi tanpa melalui mekanisme deradikalisasi, bahkan
disengagement bisa mengarah kepada deradikalisasi pada kasus-kasus tertentu.
Menurut Horgan disengagement lebih penting daripada deradikalisasi karena
disengagement dapat terjadi tanpa melalui deradikalisasi, tetapi disengagement
merupakan prasyarat untuk memasuki proses deradikalisasi.
Ada perbedaan yang penting antara konsep disengagement dan
deradikalisasi. Disengagement terjadi ketika individu atau kelompok tidak lagi
terlibat dalam kekerasan atau individu tidak lagi melibatkan diri dalam aktivitas
kekerasan baik secara pribadi maupun secara berkelompok. Disengagement
adalah perubahan perilaku yaitu keluar dari kelompok sosial yang radikal
(dengan ciri-ciri sekuler, etnosentris, totalitarian, dan memilih cara-cara
kekerasan) atau memilih cara-cara non kekerasan untuk memperjuangkan citacita dan ideologi kelompok sedangkan deradikalisasi adalah proses sosial dan
psikologis yang rumit dan panjang, dimana dalam hal ini, komitmen individu

1 Horgan, John. Deradicalization or Disengagement? A Process in Need of Clarity and a


Counterterrorism Initiative in Need of Evaluation. Journal of The Terrorism Research
initiative Vol II Issue 4 February 2008

dan keterlibatannya dalam organisasi kekerasan dikurangi sampai batas tertentu


di mana mereka tidak lagi berisiko terlibat dalam aktivitas kekerasan.2
Studi-studi

tentang

deradikalisasi

dan

disengagement

umumnya

membedakan istilah yang satu dari istilah lain secara ketat. Disengagement
adalah proses ketika seorang atau sekelompok pelaku teror tidak lagi melakukan
kekerasan, meninggalkan kelompok teroris, atau berganti peran. Di sisi lain,
deradikalisasi adalah menekankan proses perubahan kognitif, yaitu ketika
seorang penganut paham radikal mengubah pahamnya secara mendasar,
misalnya menjadi moderat. Berdasarkan pembedaan ini, bisa saja seseorang tak
lagi melakukan aksi teror, tetapi paham keagamaannya tetap radikal. Dengan
disengaement nilai-nilai HAM, demokrasi pluralisme dan multikuturalisme lebih
terjamin tanpa harus memaksa seseorang untuk merubah
seseorang.

Ideologi

seradikal

pandangan hidup

apapun dapat berkembang tanpa harus

mengaktualisasikan radikalisasinya dalam bentuk tindakan kekerasan di tengah


masyarakat.
Proses disengagement dan deradikalisasi merupakan salah satu metode
dalam penanganan kasus terorisme dimana rehabilitasi dan reintegrasi kepada
masyarakat luas seorang pelaku terorisme menjadi tujuan utamanya. Proses ini
menjadi sarana penting dalam model penegakan hukum (law enforcement
model) dalam penanganan terorisme. Pelaku terorisme dalam pendekatan ini
dilihat sebagai manusia secara seutuhnya, sehingga proses penegakan hukum,
penahanan, pembinaan yang tercakup dalam disengagement dan deradikalisasi
diharapkan dapat kembali menjadikan seorang pelaku terorisme untuk
meninggalkan ideologi radikal dan kembali memiliki kehidupan normal di
masyarakat. Deradikalisasi dilakukan agar individu pelaku terorisme dapat
mengubah cara pandang dan tindakan radikalnya menjadi lebih moderat dan
tidak radikal.
Selain berfokus kepada pelaku terorisme, program deradikalisasi juga
ditujukan kepada keluarga dan kerabat dekatnya. Hal ini dilakukan agar proses
deteksi dini dan pencegahan ideologi radikalisme dapat dilakukan secara lebih
efektif. Selain itu pula aspek sosial-ekonomi juga menjadi hal yang penting
2 Ibid

untuk diperhatikan, mengingat dengan ditahannya pelaku terorisme di dalam


penjara, maka praktis pendapatan keluarga pelaku juga akan terkendala,
sehingga pemerintah memberikan program bantuan pendanaan kepada keluarga
pelaku, termasuk juga pendidikan untuk anak dan keluarga pelaku. Setelah
pelaku terorisme dibebaskan dilakukan juga pendampingan pekerjaan untuk
pelaku agar dapat memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya.
Beberapa kasus keberhasilan kontra-terorisme dengan melibatkan eksteroris yang mau bekerja sama yaitu dengan cara memoderasi orang-orang yang
terlanjur menjadi radikal atau ekstrim. Deradikalisasi di Indonesia kebanyakan
menerapkan model semacam ini. Eks teroris yang telah dapat telah mengalami
deradikalisasi

kembali

disusupkan

untuk

mengungkap

jaringannya.

Deradikalisasi macam ini biasanya didahului dengan penggalangan dari sebuah


operasi intelijen.3
C. Kesimpulan
Kebijakan yang bersifat soft diplomacy ini diharapkan dapat memutus
mata rantai kekerasan dan radikalisme yang berpotensi untuk tumbuh di lingkar
inti pelaku terorisme, yaitu keluarga serta kerabat, kemudian juga diharapkan
program deradikalisasi dan disenagegement ini dapat menjadi penyeimbang bagi
pendekatan operasi militer yang seringkali memicu kebencian dari lingkar inti
komunitas kelompok radikal kepada pemerintah dan aparat keamanan.
Pendekatan militeristik semata ternyata tidak bisa diandalkan untuk
melawan terorisme. bukannya dapat diberantas, justru pendekatan militeristik
memicu sifat daur ulang diri pada terorisme, baik pada level individu maupun
level organisasi. Dalam konteks ini, deradikalisasi dan disengagement
merupakan salah satu solusi alternatif untuk melawan terorisme yang perlu
dipertimbangkan saat ini. Dalam konteks terorisme berbasis ideologi Islam,
menghilangkan ideologi jihad dari alam pikiran para pelakunya tidak semudah
membalikkan tangan, yang paling penting dan paling rasional untuk dilakukan
adalah bagaimana mengubah sikap mereka terhadap kekerasan. Dari pro
kekerasan menjadi anti kekerasan, dan disengagement adalah jawabannya.
3 Kurlantzick, Josh. Fighting Terrorism with Terrorist. Los Angeles Times 6 Januari 2008