Anda di halaman 1dari 14

ANALISIS LANJUTAN

Tentang
Perkembangan Terbaru Konflik Partai Golkar
Menjelang Munas Rekonsiliasi
Februari Maret 2016

I. Pendahuluan
Munas rekonsiliasi Partai Golkar 2016 telah di depan mata.
Sejumlah nama bakal calon kandidat yang akan bertarung dalam
Munas Rekonsiliasi telah bermunculan. Saat ini nama-nama tersebut
tengah sibuk melakukan konsolidasi sekaligus sosialisasi dalam
menggalang dukungan pemilik suara sah (DPD I dan DPD II).
Siapa yang akan memenangkan pertarungan di Munas
Rekonsiliasi

Partai

Golkar

2016

akan

memegang

tampuk

kepemimpinan Partai Golkar hingga tahun 2021. Posisi strategis


Ketua

Umum

baru

Partai

Golkar

dipastikan

akan

sangat

mempengaruhi dinamika politik nasional terutama saat menjelang


Pemilu 2019.
Paling tidak pertimbangan diatas membuat momentum Munas
Rekonsiliasi Partai Golkar 2016 begitu strategis untuk menentukan
arah pembangunan sistem politik dan demokrasi di Indonesia pada
masa mendatang khususnya pada saat Pemilu 2019. Bukan tidak
mungkin sejumlah pada saat ada momentum politik yang strategis
tersebut akan menimbulkan gejolak-gejolak politik yang tidak terduga
sehingga menciptakan sejumlah kegaduhan politik yang akan
mengganggu stabilitas politik nasional.

II. Fakta-Fakta
Secara anatomi politik di dalam tubuh Partai Golkar paling tidak
dikenal ada sejumlah faksi yaitu militer, birokrasi, profesional (KADIN
dan HIPMI) dan belakangan ada faksi aktivis, terutama dari kelompok
cipayung yang didominasi para alumni Himpunan Mahasiswa Islam
(HMI).
Berikut nama-nama bakal calon kandidat yang diprediksi akan
bertarung dalam Munas Rekonsiliasi Partai Golkar 2016 :
1. Ade Komaruddin
2. Setya Novanto
Ketiga nama yang dicetak tebal adalah kandidat yang didukung
3. Aziz Syamsuddin
oleh ARB. Ade Komarudin pada awalnya berada di kubu ARB
4. Idrus Marham
dan saat ini diketahui sudah tidak sejalan lagi. (pecah kongsi)
5. Airlangga Hartarto
6. Indra Bambang Utoyo Ade Komarudin oleh kubu ARB dinilai tidak komitmen terhadap
7. Syahrul Yasin Limpo surat pernyataan yang ditandatanganinya yang menegaskan tidak
8. Mahyudin
akan maju sebagai calon kandidat dalam Munas Partai Golkar
9. Agus Gumiwang Kartasasmita
setelah menjabat sebagai Ketua DPR RI.
10. Priyo Budi Santoso
Saat ini dalam tim pemenangan Ade Komarudin banyak
11. Zaki Iskandar
didukung
oleh Golkar
Jusuf Kallapada
(Wapres).
Dari sejumlah nama-nama
bakal
calonfaksi
kandidat
Munas
Rekonsiliasi Partai Golkar 2016 diatas, diketahui ada sejumlah nama
yang telah dan sedang giat melakukan konsolidasi dan sosialisi.
Diantaranya Ade Komarudin yang saat ini menjabat sebagai Ketua
DPR menggantikan Setya Novanto.
Berdasarkan

urutan

kronologis

deklarasi

kandidat-kandiat

Munas

Rekonsiliasi Partai Golkar sebagai berikut :


1. Idrus Marham mendeklarasikan diri secara personal
maju dalam Munas Rekonsiliasi Partai Golkar 2016
pada tanggal 4 Februari 2016 di Jakarta. "Saya akan
maju di Munas mendatang. Karena ARB tidak maju
saya akan maju dan saya akan lebih konsentrasi
lagi," ujar Idrus Marham (4/2/2016, detik.com)
2. Aziz

Syamsuddin

mendeklarasikan

diri

secara

personal maju dalam Munas Rekonsiliasi Partai

Golkar 2016 pada tanggal 4 Februari 2016 setelah


mengikuti rapat Golkar di Kantor DPP Golkar.
"Bismillah, saya maju (sebagai calon Ketua Umum
Golkar)," ujar Aziz (4/2/2016, liputan6.com). Sekali lagi
Aziz Syamsuddin menegaskan dirinya maju dalam
Munas Rekonsiliasi Golkar 2016 pada tanggal 9
Februari 2016. "Saya sedang melakukan konsolidasi
ke daerah-daerah, untuk mendapatkan suara 30
persen baik DPD I, DPD II dan ormas selaku pemilik
suara,"

ujar

Aziz

Syamsuddin

(9/2/2016,

metrotvnews.com).
3. Mahyudin mendeklarasikan diri secara seremonial
maju dalam Munas Rekonsiliasi Partai Golkar 2016
pada tanggal 13 Februari 2016 di Banjarmasin.
Deklarasi Mahyudin dilakukan dihadapan Dewan
Pimpinan Daerah Partai Golkar tingkat I (provinsi) dan
II

(kabupaten/kota)

dari

Kalimantan

Selatan,

Kalimantan Utara, Kalimantan Timur dan Kalimantan


Tengah. "Kalau ada pelita, buat apa beli lilin. Kalau
ada orang kita, buat apa pilih yang lain," ujar
Mahyudin (13/2/2016, kompas.com)
4. Airlangga

Hartarto

mendeklarasikan

secara

seremonial maju dalam Munas Rekonsiliasi Partai


Golkar 2016 pada tanggal 1 Maret 2016 di Hotel
Grand Sahid, Jakarta dan dihadiri oleh Waketum
Golkar versi Munas Riau, Agung Laksono (kubu lawan
politik ARB dalam dualisme Golkar) dan juga dihadiri
oleh politisi senior Golkar Mahadi Sinambela yang
juga anggota Dewan Pertimbangan Partai Golkar
yang akhirnya ditunjuk sebagai MC (master campaign)
atau Ketua Tim Sukses oleh Airlangga Hartarto. "Saya

maju dengan dukungan teman-teman, para senior,


para kolega, generasi muda dan masih panjang
perjalanan kita. Perjuangan tidak mudah. Seperti
perjuangan yang kami lakukan bersama-sama sejak
di Bali sampai hari ini. Kami tidak bergeming, kami
akan

berjuang

kejayaannya,"

mengembalikan

ujar Airlangga

Golkar

Hartarto

pada

(1/3/2016,

detik.com)
5. Ade

Komarudin

mendeklarasikan

diri

secara

seremonial maju dalam Munas Rekonsiliasi Golkar


2016 pada tanggal 11 Maret 2016 di Alun-Alun Utara
Kota Yogyakarta. Dalam pembacaan acara deklaras
yang dihadiri ribuan kader Partai Golkar tersebut,
Akom juga mengikrarkan diri siap untuk maju sebagai
calon ketua umum untuk Munas mendatang. Prosesi
deklarasi Ade Komarudin hanya dihadiri oleh 240 DPD
II Golkar dan 2 DPD I Golkar yaitu DPD I Golkar
Yogyakarta selaku tuan rumah dan DPD I Golkar
Sumatera Barat."Saya menyatakan siap maju sebagai
calon ketua umum Partai Golkar dalam munas yang
akan

datang,"

ujar Ade

republika.co.id).

Komarudin

"Dengan

Bismilahirahmanirahim,

pada

(11/3/2016,
mengucap

malam

ini

saya

menyatakan siap maju sebagai Calon Ketua


Umum Partai Golkar dalam Munas yang akan
datang. Saya siap memimpin partai yang kita
cintai ini untuk merebut masa depan yang lebih
baik," ujar Ade Komarudin (11/3/2016, suara.com).
Pada acara deklarasi Ade Komarudin diketahui
anggaran welcome drink (uang selamat datang)
menghadiri acara deklarasi tersebut untuk masing-

masing DPD II yang hadir sebesar Rp. 100 juta


tiap DPD II. Uang selamat datang sebesar Rp. 100
juta tersebut dibagikan oleh Misbakhun. Diketahui
deklarasi Ade Komarudin di Yogyakarta tersebut
dihadiri oleh 240 perwakilan DPD II dan 2
perwakilan DPD I Partai Golkar yaitu DPD I Partai
Golkar Yogyakarta selaku tuan rumah dan DPD I
Partai

Golkar

Sumatera

Barat.

Berdasarkan

estimasi kasar, deklarasi yang digelar oleh Ade


Komarudin paling minimal memakan biaya sebesar
Rp. 30 miliar.
Sejauh ini ada dua nama yang belum secara resmi melakukan
deklarasi akan tetapi serius melakukan konsolidasi dan sosialisasi
kepada DPD I dan DPD II, yaitu Setya Novanto yang saat ini menjabat
Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI dan Syahrul Yasin Limpu yang
saat ini menjabat sebagai Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan.
Berikut fakta-fakta mengenai keduanya.
Setya Novanto sejauh ini belum melakukan deklarasi
secara resmi dan masih wait and see namun konsolidasi dan
sosialiasi yang dilakukan oleh tim suksesnya berjalan secara
massif di tingkat DPD I dan DPD II, terutama mengganggu DPD I
dan DPD II yang telah berkomunikasi dengan Ade Komarudin.
Seperti ditegaskan oleh Roem Kono tim sukses Ade Komarudin .
"Ngapain juga buru-buru, belum tentu juga menang kok. Apa Munas
sudah

pasti?

Belum

toh,

ujar

Roem

Kono

(11/3/2016,

rimanews.com). Dukungan terhadap Setya Novanto terus mengalir


melalui DPD I dan DPD II terutama di dapilnya NTT. Sepertinya
ditegaskan oleh Muhammad Ansor, ketua DPD I Golkar NTT.
"Kami telah mengumpulkan Ketua DPD II dari 22 kabupaten/kota,
bersama Ketua DPD I Golkar NTT, intinya melakukan penguatan
dukungan

terhadap

Pak

Novanto,"

ujar

Muhammad Ansor

(11/3/2016, suara.com). Muhammad Ansor juga memastikan jika


23 DPD Golkar NTT (1 DPD I dan 22 DPD II) solid mendukung
Setya Novanto dengan sejumlah pertimbangan. "Di situ kami
memastikan tidak ada satu pun utusan NTT yang menghadiri
deklarasi Pak Ade Komaruddin di Yogya. Pertimbangan kami
mendukung Pak Novanto ada 2, pertama secara emosianal dekat,
kedua secara rasional. Beliau pengalaman sebagai Bendum Partai
Golkar, Waketum Munas Bali, pernah Ketua DPR, Pimpin fraksi,
sangat menguntungkan bagi Golkar kedepan," ujar Muhammad Ansor
(11/3/2016, liputan6.com). Diketahui Setya Novanto juga mengimbangi
dengan membagikan uang mengikuti jumlah nominal yang dibagikan
oleh tim pemenangan Ade Komarudin pada saat deklarasi di
Yogyakarta.
Sejauh ini Syahrul Yasin Limpo yang juga Gubernur Sulawesi
Selatan belum resmi mendeklarasikan diri untuk maju dalam Munas
Rekonsiliasi Partai Golkar. Namun tim suksesnya terutama yang
berasal DPD I dan DPD II telah melakukan konsolidasi dan sosialiasi
kepada DPD I dan DPD II diluar Sulawesi Selatan. Sebanyak 154
DPD I dan II Partai Golkar se-Indonesia menyatakan dukungannya
secara resmi kepada Syahrul Yasin Limpo sebagai calon ketua umum
Partai Golkar. Dukungan itu disampaikan ketika Syahrul menerima 22
ketua DPD Partai Golkar se-Kalimantan di rumah jabatan Gubernur
Sulawesi Selatan (8/3/2016, tempo.co). Ketua tim pemenangan
Syahrul Yasin Limpo adalah Farouk Mappaselling Beta yang juga
Ketua DPRD Kota Makassar. Dukungan itu secara tertulis, ujar
Farouk Mappaselling Beta (8/3/2016, tempo.co).
Sejauh ini kepanitiaan Munas Rekonsiliasi Partai Golkar sudah
dibentuk dan dalam susunan kepanitiaan inti melibatkan kedua belah
pihak yang berkonflik (ARB dan AL). Untuk ketua penyelenggara
Munas ditunjuk Theo L Sambuaga, Nurdin Halid sebagai ketua SC
(steering

committee)

dan

Zainudin Amali

sebagai

ketua

OC

(organizing committee). (23/2/2016, teropongsenayan.com). Nurdin


Halid merepresentasikan kubu Munas Bali (ARB) dan Zainudin Amali
merepresentasikan kubu Munas Ancol (AL). Sedangkan mengenai
waktu dan tempat diperkirakan pada bulan April-Juni 2016 untuk
kepastiannya masih akan dibahas melalui pleno DPP Partai Golkar.
Berdasarkan AD/ART Partai Golkar untuk dapat maju sebagai
calon kandidat para bakal calon kandidat ini harus mengantongi
dukungan resmi dari 30% pemilik suara sah (DPD I, DPD II dan
Ormas Partai Golkar). Saat diperkirakan ada sekitar 560 suara sah
yang berasal dari DPD I, DPD II dan Ormas Partai Golkar.
III. Analisis dan Pembahasan
Berdasarkan AD/ART Partai Golkar bahwasanya syarat untuk
menjadi calon kandidat pada Munas Golkar harus memenuhi
dukungan resmi dari 30% pemilik suara sah maka diprediksi dalam
Munas Rekonsiliasi Partai Golkar 2016 mendatang maksimal hanya
akan diikuti oleh 3 orang calon kandidat. Jadi dari 10 nama bakal
calon kandidat yang ada akan mengkerucut pada 3 nama calon
kandidat saja.
Berdasarkan hitung-hitungan jumlah pemegang suara sah,
suara DPD I Partai Golkar sejumlah provinsi yang ada hanya ada 34
suara sedangkan suara DPD II Partai Golkar sebanyak jumlah
kabupaten/kota yang memiliki perwakilan DPD II. Dengan demikian
maka lumbung suara pada Munas Partai Golkar berada di level DPD II
Partai Golkar. Artinya kunci untuk memenangkan Munas Partai Golkar
adalah bagaimana memperoleh dukungan suara sebanyak-banyaknya
dari DPD II Partai Golkar.
Sejarah dan tradisi dalam Munas Partai Golkar semenjak tahun
2004 s/d 2009 diketahui bahwasanya kekuatan uang dan kedekatan
dengan penguasa menjadi kekuatan strategis dalam memenangkan
pertarungan di Munas. Perilaku politik DPD II Partai Golkar selaku
pemegang

mayoritas

suara
7

sah

di

Munas

cenderung

mengenyampingkan pertimbangan ideologis dan strategis dalam


menentukan pilihan dalam Munas. Dalam sejarah Munas Partai
Golkar 2004 s/d 2009 perilaku politik DPD II sangat pragmatis dan
transaksional. (Munas Partai Golkar 2004 dimenangkan oleh Jusuf
Kalla yang saat itu menjabat Wakil Presiden dan Munas Partai Golkar
2009 dimenangkan oleh Abu Rizal Bakrie yang menjabat sebagai
Menkokesra dalam KIB jilid II)
Dari beberapa nama bakal calon kandidat yang beredar
diperkirakan akan mengkerucut pada 3 nama yaitu Ade Komarudin,
Setya Novanto dan untuk nama ke-3 akan sangat ketat dan sengit
diperebutkan oleh Aziz Syamsuddin, Airlangga Hartarto, Syahrul Yasin
Limpo dan Mahyudin. Mengapa Ade Komarudin dan Setya Novanto
diprediksi akan bertarung sampai akhir di Munas? Karena mereka
berdua merupakan bakal calon kandidat yang memiliki kesiapan
finansial dan logistik lebih mapan dibandingkan nama-nama bakal
calon kandidat yang lain.
Sedangkan nama-nama lain seperti Idrus Marham, Priyo Budi
Santoso, Agus Gumiwang Kartasasmita, Indra Bambang Utoyo dll.
Relatif tidak memiliki modal politik dan finansial yang mapan.
Misalnya, Idrus Marham saat ini hanya menjabat sebagai fungsionaris
DPP Partai Golkar dan sedang tidak memegang jabatan baik eksekutif
maupun legislatif. Selain itu ada Priyo Budi Santoso mantan Ketua
DPR RI 2009-2014 pada Pileg 2014 tidak terpilih menjadi anggota
DPR RI bahkan dalam Munas MKGR, salah satu Ormas Partai Golkar
Priyo kalah melawan Roem Kono yang saat bergabung dalam tim
sukses pemenangan Setya Novanto. Sedangkan Aziz Syamsuddin
telah melakukan blunder dengan mengambil Pimpinan Pusat Kolektif
Kosgoro telah membuat Agung Laksono tidak nyaman karena Aziz
Syamsuddin merupakan salah satu jagoan Abu Rizal Bakrie di Munas
mendatang (ARB, AL dan Setnov sama-sama berasal dari Kosgoro)

sehingga akan mempersulit langkahnya dalam meraih 30% dukungan


dari pemilik suara sah di Munas.
Jika Setya Novanto terjegal oleh intrik dan Aziz Syamsuddin
memiliki resistensi yang besar akibat mengambil ketua umum di
Kosgoro maka Abu Rizal Bakrie masih memiliki satu nama yaitu Idrus
Marham. Sayangnya Idrus Marham tidak cukup kuat dalam logistik
dan finansial jika dibandingkan dengan Setya Novanto atau pun Aziz
Syamsuddin.
Pertarungan antara Ade Komarudin vs Setya Novanto secara
irisan politik dapat diartikan sebagai pertarungan antara Presiden Joko
Widodo vs Wakil Presiden Jusuf Kalla. Setya Novanto yang didukung
oleh ARB dikenal memiliki kedekatan dengan Luhut Binsar Panjaitan,
Menkopolhukam yang dikenal sebagai inner circle Presiden Joko
Widodo. Sedangkan Ade Komarudin yang juga Ketua Umum SOKSI
dalam tim pemenangannya berisi nama-nama seperti M.S. Hidayat,
Titiek Soeharto, Ahmadi Noor Supit, Bambang Soesatyo, Misbakhun.
Semenjak tidak lagi berada di kubu yang sama dengan ARB, Ade
Komarudin gencar menjalin komunikasi politik dan melobby dukungan
kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla. Hal ini dijembatani oleh Eka
Sastra politisi muda Partai asal Sulawesi Selatan yang juga anggota
Komisi VI DPR RI.
Baik Setya Novanto dan Ade Komarudin sama-sama memiliki
kelemahan dalam sejumlah kasus hukum. Pendukung keduanya baik
di media maupun di jalanan (demonstrasi ke KPK/Kejaksaan) kerap
saling serang membuka kelemahan masing-masing kandidatnya.
Khsusus bagi Ade Komarudin semenjak terpilih menjadi Ketua DPR RI
dinilai agak terkesan eksklusif di kalangan faksi HMI di dalam Golkar
khususnya faksi Akbar Tanjung. (AT dan JK sejak Munas 2004
memang diketahui memiliki konflik pribadi yang laten satu sama lain)
Nama Airlangga Hartarto disebut-sebut sebagai kuda hitam
yang akan muncul di arena Munas Rekonsiliasi Partai Golkar 2016

mendatang. Airlangga Hartarto adalah alumni Fakultas Teknik


Universitas Gadjah Mada (FT UGM) dengan kata lain Airlangga
Hartarto satu almamater dengan Presiden Joko Widodo sehingga
keduanya bertemu di KAGAMA (Keluarga Alumni Universitas Gadjah
Mada). Informasi yang didapat terkait Munas Golkar komunikasi
Airlangga Hartarto dengan Presiden Joko Widodo justru dijembatani
oleh F.X. Rudyatmo mantan wakil Joko Widodo sewaktu menjabat
walikota Kota Surakarta. F.X. Rudyatmo saat ini menjabat sebagai
walikota Kota Surakarta.
Di barisan tim pemenangan Airlangga Hartarto diketuai oleh
Mahadi Sinambela politisi senior Partai Golkar yang akrab dan dekat
dengan Akbar Tanjung. Selain itu ada nama-nama seperti Lamhot
Sinaga, Chairruman Harahap, Ridwan Mukti yang juga Gubernur
terpilih Bengkulu, Indra J Piliang yang juga staff khusus Yudi
Chrisnandi Menpan-RB. Airlangga Hartarto diketahui bersahabat
akrab

dengan

Syahrul

Yasin

Limpo

dan

Agus

Gumiwang

Kartasasmita. Jadi besar peluang terjadi koalisi diantara mereka


bertiga dalam arena Munas. Sejauh ini tantangan dan kelemahan
Airlangga Hartarto hanya ada pada sisi kesiapan finansial dan logistik
untuk bertarung di arena Munas. Komunikasi sesama KAGAMA
antara Airlangga Hartarto dengan Presiden Jokowi ditambah garansi
dari F.X. Rudyatmo akan menjadi kekuatan dan modal politik tersendiri
bagi Airlangga Hartarto dalam bertarung di arena Munas mendatang.
Jika ARB tampak jelas memiliki 3 orang calon yaitu, Setya
Novanto, Idrus Marham dan Aziz Syamsuddin. Sejauh ini Agung
Laksono (AL) masih wait and see dan mengamati dinamika politik
yang terjadi menjelang Munas. Untuk meningkatkan posisi tawarnya
berdasarkan konstelasi politik yang ada, tampaknya Agung Laksono
(AL) akan sangat berhati-hati sehingga akan bermain diujung atau
diakhir pada saat menjelang pemilihan di Munas nanti.

10

Siapapun yang akan memenangkan Munas Rekonsiliasi Partai


Golkar 2016 akan memberikan pengaruh terhadap stabilitas dan
dinamika politik nasional terutama berkaitan dengan sejumlah
momentum politik strategis ke depan.
Berdasarkan analisis aktor politik yang kemungkinan besar
yang akan bertarung di Munas Rekonsiliasi Partai Golkar 2016 adalah
Setya Novanto yang didukung oleh Abu Rizal Bakrie yang dikenal
dekat Menkopolhukam Luhut Binsar Panjaitan (LBP) yang merupakan
inner circle dari Presiden Joko Widodo. Sedangkan di lain pihak Ade
Komarudin akan cenderung merapat kepada Wakil Presiden Jusuf
Kalla.
Wakil Presiden Jusuf Kalla adalah politisi senior sekaligus tokoh
senior di Partai Golkar dan pernah menjabat sebagai Wakil Presiden
periode 2004 2009. Sosok Jusuf Kalla dikenal sebagai seorang
politisi yang matang dan berpengalaman. Pada saat menjabat Wakil
Presiden mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ia
banyak dinilai berbagai kalangan lebih atraktif dan berperan dibanding
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Hal ini dapat dilihat pada
sejumlah momentum strategis, misalnya pada saat perjanjian Helsiniki
antara pemerintah RI dan GAM dan juga peran sentral dalam
menangani konflik di Indonesia Timur. Sedangkan Presiden Joko
Widodo masih relatif baru di level politik nasional sehingga harus
masih banyak belajar dari Wakil Presiden Jusuf Kalla.
Mengingat posisi Jusuf Kalla sebagai Wakil Presiden
memerlukan dukungan politik Partai Golkar untuk meningkatkan
bargaining position di mata Presiden Joko Widodo maka Wakil
Presiden Jusuf Kalla akan bermain untuk mendorong Ade Komarudin
mengambil alih kendali Partai Golkar pada Munas mendatang.
Di sisi lain Presiden Joko Widodo juga sangat memerlukan
dukungan Partai Golkar untuk menciptakan stabilitas politik sekaligus
meningkatkan

dukungan

politik

11

dalam

menjalankan

roda

pemerintahan. Hal ini tentu tidak didapat cuma-cuma, salah satu


caranya dengan merangkul kader Partai Golkar masuk ke dalam
Kabinet. Lebih strategis tidak menutup kemungkinan ke depan Partai
Golkar berpeluang akan turut mengusung Presiden Joko Widodo jika
ingin kembali bertarung dalam Pilpres 2019
Adapun sejumlah momentum strategis ke depan yang akan
sangat berpengaruh terhadap siapapun figur yang akan menjadi
Ketua Umum Partai Golkar, misalnya di legislatif mengenai konfigurasi
susunan alat kelengkapan dewan (AKD) di DPR, posisi Ketua DPR
dan bahkan terkait wacana merevisi UU MD3. Di eksekutif terkait
komposisi kabinet terutama pada saat momentum evaluasi dan
reshuffle kabinet. Dan terakhir yang paling krusial dan strategis adalah
pada saat Pemilu 2019 mendatang terutama mengenai kemana arah
dukungan Partai Golkar pada saat Pilpres 2019.
Yang harus diwaspadai dan diantisipasi adalah adanya potensi
terjadi gejolak di parlemen jika diantara Ade Komarudin atau Setya
Novanto memenangkan Munas Rekonsiliasi Partai Golkar 2016 tanpa
meletakkan posisi jabatannya masing-masing di parlemen terutama
bagi Ade Komarudin yang saat ini menjabat Ketua DPR RI dan oleh
kubu ARB dinilai telah melanggar komitmen politik dengan ikut serta
bertarung dalam Munas.
IV.Kesimpulan
Saat ini konflik antara Abu Rizal Bakrie (ARB) dan Agung
Laksono (AL) perlahan mulai memudar dan berganti menjadi
persaingan antar bakal calon kandidat yang akan bertarung di Munas.
Dinamika dan konstelasi politik menjelang Munas Rekonsiliasi Partai
Golkar 2016 mengarah kepada 2 nama yaitu Setya novanto dan Ade
Komarudin. Pertarungan keduanya memiliki irisan yang mengarah
kepada relasi politik antara Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden
Jusuf Kalla.

12

Munas Rekonsiliasi Partai Golkar 2016 mengingat begitu


strategisnya posisi Partai Golkar dalam mempengaruhi jalannya roda
pemerintahan dalam konteks relasi politik antara Presiden Joko
Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang juga politisi sekaligus
tokoh strategis di Partai Golkar maka seperti yang digambarkan oleh
Harold Lasswell bahwasanya politik adalah who gets what, when and
how. Baik Presiden Joko Widodo maupun Wakil Presiden Jusuf Kalla
memiliki kepentingan politik terhadap Partai Golkar dari perspektif
posisi politiknya masing-masing.
Berdasarkan sejarah dan tradisi Munas Partai Golkar pasca
reformasi ada 2 faktor untuk menyebabkan seorang calon kandidat
memenangkan Munas Partai Golkar. Pertama, memiliki sumber
finansial dan logistik yang kuat mengingat perilaku politik mayoritas
pemilik suara sah (DPD II Partai Golkar) sangat pragmatis dan
transaksional.

Kedua,

memiliki

kedekatan

dengan

pemerintah

mengingat Partai Golkar tidak memiliki karakter menjadi partai oposisi.


Munas Rekonsiliasi Partai Golkar 2016 akan menjadi panggung
dari praktik plutokrasi (kekuasaan berdasarkan jumlah kekayaan),
kartel

politik

(kompromi

memaksimalkan

keuntungan

dan

meminimalkan kerugian antar calon kandidat) dan bossims (figur kuat


secara tradisi yang memiliki pengaruh mengarahkan pilihan).
Partai Golkar adalah partai yang memiliki tradisi panjang
sebagai partai pemerintah dan banyak diisi oleh kalangan birokrasi.
Artinya Partai Golkar tidak memiliki karakter sebagai partai oposisi
sejati.
Munas

Siapapun yang memimpin Partai Golkar berdasarkan hasil


mendatang

akan

berkecenderungan

merapat

kepada

pemerintah dan bahkan tidak menutup kemungkinan justru akan


sangat tertarik masuk ke dalam kabinet.
V. Rekomendasi

13

Dinamika politik pra Munas, saat Munas dan pasca Munas


harus terus dipantau dan diamati sehingga setiap momentum dan
peristiwa politik yang akan terjadi terutama yang akan berpengaruh
kepada stabilitas politik di tingkat nasional dapat terprediksikan
dengan cepat dan akurat sehingga tidak terjadi pendadakan yang
menimbulkan kegaduhan-kegaduhan politik berlarut-larut yang dapat
menggangu stabilitas politik di tingkat nasional.
Selain hal diatas perlu juga diciptakan kondisi yang kondusif
dan fair baik sebelum Munas, saat Munas dan pasca Munas sehingga
semua pihak dapat berjiwa besar dan ksatria dalam menerima dan
menyikapi hasil Munas mendatang agar tidak kembali tercipta
dualisme kepengurusan di dalam tubuh Partai Golkar.
Intervensi terhadap jalannya Munas Rekonsiliasi Partai Golkar
menjadi sangat situasional dan kondisional tergantung kepada
kebutuhan. Sebaiknya jika langkah intervensi terpaksa diambil
alangkah baiknya dengan terlebih dahulu memperhatikan dan
mempertimbangkan dinamika dan konstelasi politik yang sedang
terjadi pada saat menjelang Munas dan juga terutama pada dinamika
dan konstelasi politik yang terjadi di arena pada saat Munas sedang
berlangsung.

14

Anda mungkin juga menyukai