Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Berdasarkan PPDGJ

III, skizofrenia adalah suatu diskripsi sindrom

dengan variasi penyebab (banyak belum diketahui) dan perjalanan penyakit (tak
selalu bersifat kronis atau deteriorating) yang luas, serta sejumlah akibat yang
tergantung pada pertimbangan pengaruh genetik, fisik dan sosial budaya. Pada
umumnya ditandai oleh penyimpangan yang fundamental dan karakteristik dari
pikiran dan persepsi, serta oleh afek yang tidak wajar atau tumpul. Kesadaran
yang jernih tetap terpelihara, walaupun kemunduran kognitif tertentu dapat
berkembang kemudian.1
Skizofrenia berasal dari bahasa Yunani, schizein yang berarti terpisah
atau pecah dan phren yang artinya jiwa. Pada skizofrenia terjadi pecahnya
atau ketidakserasian antara afeksi, kognitif dan perilaku. Secara umum, simptom
skizofrenia dapat dibagi menjadi tiga golongan: yaitu simptom positif, simptom
negative, dan gangguan dalam hubungan interpersonal.2
Pasien

yang

mengalami

delusi,halusinasi,gangguan

bentuk

skizofrenia
pikiran

memiliki
dan

gejala

perilaku,bahasa

seperti
yang

terganggu,dan yang berupa perilaku katatonia. Kebanyakan penderita memiliki


ketidakmampuan untuk menjalankan fungsi hidup seperti biasa,namun ada juga
yang hanya memiliki gangguan aktifitas tetap seperti bekerja, ataupun
ketidakmampuan dalam berkomunikasi.3
Skizofrenia hebefrenik disebut juga disorganized type atau kacau balau
yang ditandai dengan inkoherensi, afek datar,perilaku dan tertawa kekanakkanakan ,yang terpecah pecah ,dan perilaku aneh seperti menyeringai
sendiri,menunjukkan gerakan gerakan aneh, mengucap berulang-ulang, dan
kecenderungan untuk menarik diri secara ekstrim dari hubungan sosial.2

Skizofrenia Herbefrenik

1.2 Tujuan
Paper ini ditulis sebagai salah satu prasyarat untuk mengikuti aktivitas koasisten di Departemen Psikiatri. Paper ini diharapkan dapat menambah
pengetahuan pembaca mengenai skizofrenia hebeferenik, sehingga pembaca
dapat lebih mengenal tentang gangguan ini dan lebih akurat dalam
mendiagnosisnya.
Pemahaman tentang diagnosis

Skizofrenia Hebefrenik yang baik

diharapkan dapat memberikan potensi untuk prognosis yang lebih baik dengan
diagnosa dini, mencegah terjadinya kesalahan pengobatan dan memungkinkan
untuk mencegah penyakit berlarut-larut.

Skizofrenia Herbefrenik

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Skizofrenia
2.1.1 Definisi
Skizofrenia adalah suatu deskripsi sindrom dengan variasi penyebab
(banyak belum diketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis atau
deteriorating) yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada
pertimbangan pengaruh genetik, fisik dan sosial budaya. Pada umumnya ditandai
oleh penyimpangan yang fundamental dan kharacteristik dari pikiran dan
persepsi ,serta oleh afek yang tidak wajar. Kesadaran yang jernih tetap
terpelihara,walaupun

kemunduran

kognitif

tertentu

dapat

berkembang

kemudian.1
Skizofrenia adalah sebuah kata yang berasal dari bahasa Yunani;
schizein yang berarti terpisah atau pecah dan phrenia yang berarti
jiwa. Arti dari kata-kata tersebut menjelaskan tentang karakteristik utama dari
gangguan skizofrenia, yaitu adanya pemisahan antara pikiran, emosi, dan
perilaku dari orang yang mengalaminya.2
2.1.2 Etiologi
1.Model Diatesis-stres
Merupakan integrasi faktor biologis, faktor psikososial, faktor
lingkungan. Model ini mendalilkan bahwa seseorang mungkin memiliki suatu
kerentanan spesifik (diatessis) yang jika dikenai oleh suatu pengaruh lingkungan
yang menimbulkan stress, memungkinkan perkembangan skizofrenia.2
Semakin besar kerentanan seseorang maka stressor kecil pun dapat
menyebabkan menjadi skizofren. Semakin kecil kerentanan maka butuh stressor
yang besar untuk membuatnya menjadi penderita skizofren. Sehingga secara

Skizofrenia Herbefrenik

teoritis seseorang tanpa diathese tidak akan berkembang menjadi skizofren,


walau sebesar apapun stressornya.2
2. Faktor Neurobiologi
Penelitian menunjukkan bahwa pada pasien skizofrenia ditemukan
adanya kerusakan pada bagian otak tertentu. Namun sampai kini belum diketahui
bagaimana hubungan antara kerusakan pada bagian otak tertentu dengan
munculnya simptom skizofrenia. Terdapat beberapa area tertentu dalam otak
yang berperan dalam membuat seseorang menjadi patologis, yaitu sistem limbik,
korteks frontal, cerebellum dan ganglia basalis. Keempat area tersebut saling
berhubungan, sehingga disfungsi pada satu area mungkin melibatkan proses
patologis primer pada area yang lain. Dua hal yang menjadi sasaran penelitian
adalah waktu dimana kerusakan neuropatologis muncul pada otak, dan interaksi
antara kerusakan tersebut dengan stressor lingkungan dan sosial.2
Hipotesa Dopamin
Menurut hipotesa ini, skizofrenia terjadi akibat dari peningkatan
aktivitas neurotransmitter dopaminergik. Peningkatan ini mungkin merupakan
akibat dari meningkatnya pelepasan dopamine, terlalu banyaknya reseptor
dopamine, turunnya nilai ambang atau hipersentivitas reseptor dopamine, atau
kombinasi dari faktor-faktor tersebut. Munculnya hipotesa ini berdasarkan
observasi bahwa :
a.Ada korelasi antara efektivitas dan potensi suatu obat antipsikotik dengan
kemampuannya bertindak sebagai antagonis reseptor dopamine D2.
b.Obat yang meningkatkan aktivitas dopaminergik- seperti amphetamine-dapat
menimbulkan gejala psikotik pada siapapun.
3. Faktor Genetika

Skizofrenia Herbefrenik

Penelitian tentang genetik telah membuktikan faktor genetik/keturunan


merupakan salah satu penyumbang bagi jatuhnya seseorang menjadi skizofren.
Resiko seseorang menderita skizofren akan menjadi lebih tinggi jika
terdapat anggota keluarga lainnya yang juga menderita skizofren, apalagi jika
hubungan keluarga dekat. Penelitian terhadap anak kembar menunjukkan
keberadaan pengaruh genetik melebihi pengaruh lingkungan pada munculnya
skizofrenia, dan kembar satu telur memiliki kemungkinan lebih besar untuk
mengalami skizofrenia.
4. Faktor Psikososial
a. Teori Tentang Individu Pasien

Teori Psikoanalitik

Secara umum, dalam pandangan psikoanalitik tentang skizofrenia,


kerusakan ego mempengaruhi interprestasi terhadap realitas dan kontrol
terhadap dorongan dari dalam, seperti seks dan agresi. Gangguan tersebut
terjadi akibat distorsi dalam hubungan timbal balik ibu dan anak.
Berbagai simptom dalam skizofrenia memiliki makna simbolis bagi
masing-masing pasien. Misalnya fantasi tentang hari kiamat mungkin
mengindikasikan persepsi individu bahwa dunia dalamnya telah hancur.
Halusinasi mungkin merupakan substitusi dari ketidakmampuan pasien
untuk

menghadapi

realitas

yang

obyektif

dan

mungkin

juga

merepresentasikan ketakutan atau harapan terdalam yang dimilikinya.

Teori Psikodinamik

Menurut pendekatan psikodinamik, simptom positif diasosiasikan


dengan onset akut sebagai respon terhadap faktor pemicu/pencetus, dan erat
kaitannya dengan adanya konflik. Simptom negatif berkaitan erat dengan
faktor biologis, dan karakteristiknya adalah absennya perilaku/fungsi
tertentu. Sedangkan gangguan dalam hubungan interpersonal mungkin

Skizofrenia Herbefrenik

timbul akibat konflik intrapsikis, namun mungkin juga berhubungan dengan


kerusakan ego yang mendasar. Selain itu, menurut pendekatan ini, hubungan
dengan manusia dianggap merupakan hal yang menakutkan bagi pengidap
skizofrenia.

Teori Belajar

Menurut teori ini, orang menjadi skizofrenia karena pada masa kanakkanak ia belajar pada model yang buruk. Ia mempelajari reaksi dan cara pikir
yang tidak rasional dengan meniru dari orangtuanya, yang sebenarnya juga
memiliki masalah emosional.
b. Teori Tentang Keluarga
Beberapa pasien skizofrenia sebagaimana orang yang mengalami
nonpsikiatrik-berasal dari keluarga dengan disfungsi, yaitu perilaku keluarga
yang patologis, yang secara signifikan meningkatkan stress emosional yang
harus dihadapi oleh pasien skizofrenia.
c. Teori Sosial
Beberapa teori menyebutkan bahwa industrialisasi dan urbanisasi
banyak berpengaruh dalam menyebabkan skizofrenia. Meskipun ada data
pendukung, namun penekanan saat ini adalah dalam mengetahui
pengaruhnya terhadap waktu timbulnya onset dan keparahan penyakit
2.1.3 Kriteria Diagnostik Skizofrenia 1,2,4
Pedoman diagnostik berdasarkan PPDGJ III
Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya
dua gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):
a. -Thought echo

Skizofrenia Herbefrenik

Isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya
(tidak keras) dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun
kualitasnya berbeda, atau
-Thought insertion or withdrawal
Isi pikiran yang asing dari luar masuk kedalam pikirannya (insertion) atau
isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (Withdrawal)
dan
-Thought broadcasting
Isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umumnya
mengetahuinya.
b. -Delusion of control
Waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari
luar
- Delusion of influence
Waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu kekuatan tertentu dari luar
- Delusion of passivity
Waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan
dari luar; (tentang dirinya= secara jelas ,merujuk ke pergerakan
tubuh/anggota gerak atau kepikiran, tindakan atau penginderaan khusus).
- Delusion perception
Pengalaman inderawi yang tidak wajar, yang bermakna sangat khas bagi
dirinya , biasanya bersifat mistik dan mukjizat.
c. -Halusinasi Auditorik :

Skizofrenia Herbefrenik

-Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap prilaku


pasien ,atau
-Mendiskusikan perihal pasien di antara mereka sendiri (diantara berbagai
suara yang berbicara) atau
-Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh.
d. Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat
dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahi,misalnya perihal
keyakinan agama atau politik tertentu atau kekuatan dan kemampuan
diatas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca atau
berkomunikasi dengan mahluk asing atau dunia lain)
Atau paling sedikitnya dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara
jelas:
e. Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja , apabila disertai baik
oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa
kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan
(over-valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama
berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus menerus.
f. Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan
(interpolation) yang berakibat inkoherensia atau pembicaraan yang tidak
relevan atau neologisme.
g. Perilaku katatonik seperti keadaan gaduh gelisah (excitement), posisi
tubuh tertentu (posturing) atay fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme,
dan stupor
h. Gejala negatif seperti sikap apatis, bicara yang jarang dan respons
emosional yang menumpul tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan
penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunya kinerja sosial, tetapi
Skizofrenia Herbefrenik

harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau
medikasi neureptika.
Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun
waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik
prodromal);
Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu
keseluruhan (overall quality) dari beberapa aspek perilaku pribadi (personal
behavior), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak
berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri (self absorbed attitute), dan
penarikan diri secara sosial.
2.1.4 Klasifikasi 1,2,4
Dalam PPDGJ III Skizofrenia dibagi lagi dalam 9 tipe atau kelompok yang
mempunyai spesifikasi masing-masing yang kriterianya didominasi dengan halhal sebagai berikut :
1.

Skizofrenia Paranoid

2.

Skizofrenia Hebefrenik

3.

Skizofrenia Katatonik

4.

Skizofrenia Tak Terinci (Undifferentiated)

5.

Depresi Pasca Skizofrenia

6.

Skizofrenia Residual

7.

Skizofrenia Simpleks

8.

Skizofrenia lainnya

9.

Skizofrenia YTT

2.2 Skizofrenia Hebefrenik


2.2.1 Definisi
Skizofrenia hebefrenik adalah suatu bentuk skizofrenia dengan perubahan
perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tidak dapat diramalkan ,ada

Skizofrenia Herbefrenik

kecenderungan untuk selalu menyendiri .dan ungkapan kata yang diulangulang,proses pikir mengalami disorganisasi dan pembicaraan tak menentu serta
adanya penurunan perawatan diri pada individu.1
2.2.2 Etiologi
Faktor predisposisi dan presipitasi 2:
1. Faktor Predisposisi
Beberapa faktor predisposisi yang berkontribusi pada munculnya respon
neurobiologi seperti pada harga diri rendah antara lain :
a.

Faktor Genetis
Telah diketahui bahwa secara genets skizofrenia diturunkan melaluui
kromosom-kromosom tertentu. Tetapi kromosom yang ke berapa
menjadi faktor penentu gangguan ini sampai sekarang masih dalam
tahap penelitian. Diduga letak gen skizofrenia ada dikromosom no. 6
dengan kontribusi genetik tambahan no. 4, 8, 15 dan 22. Anak kembar
identik memiliki kemungkinan mengalami skizofrenia sebesar 50%

b. Faktor Neurologis
Ditemukan bahwa korteks prefrotal dan korteks limbik pada klien
skizofrenia tidak pernah berkembang penuh. Ditemukan juga pada
klien skizofrenia terjadi penurunan volume dan fungsi otak yang
abnormal. Neurotransmitter yang ditemukan tidak normal khususnya
dopamine, serotonine, dan glutamat.
c.

Studi Neurotransmiter
Skizofrenia diduga juga disebkan oleh adanya ketidakseimbangan
neurotransmtter dopamine yang berlebihan.

d. Teori Virus
Paparan virus influenza pada trimester 3 kehamilan dapat menjadi
faktor predispossisi skizofrenia.
e.

Psikologis
Beberapa kondisi psikologis yang menjadi faktor predisposisi

Skizofrenia Herbefrenik

10

skizofrenia antara lain anak yang diperlakukan oleh ibu pencemas,


terlalu melindungi dan tidak berperasaan, sementara ayah yang
mengambil jarak dengan anaknya.
2. Faktor Presipitasi
Faktor-faktor pencetus respon neurobiologis meliputi :
a.

Berlebihannya proses inflamasi pada sistem saraf yang menerima dan


memproses informasi di thalamus dan frotal otak.

b. Mekanisme penghantaran listrik di saraf terganggu.


c.

Gejala-gejala pemicu seperti kondisi kesehatan, lingkunga, sikap dan


perilaku.
Gejala-gejala pencetus respon biologis :
-

Kesehatan

nutrisi

kurang,

kelelahan, kurang

tidur,

ketidakseimbangan irama sirkadian, infeksi, obat-obatan sistem saraf


pusat, kurangnya latihan dan hambatan layanan kesehatan yang sulit
terjangkau.
-

Lingkungan : lingkungan yang tidak kondusif, masalah rumah

tangga, pola aktivitas sehari-hari, kesukaran berhubungan dengan


orang lain, isolasi sosial, kehilangan kebebasan hidup, perubahan pola
hidup, kurang mendapat dukungan sosial, tekanan kerja, stigmasisasi,
kemiskinan, kurangnya alat transportasi dan ketidakmampuan mencari
pekerjaan.
- Tingkah laku : merasa tidak mampu, putus asa, merasa gagal,
kehilangan kendali diri (demoralisasi), merasa punya kekuatan
lebih,perilakunya agresif, perilaku kekerasan,

merasa malang,

bertindak

kurang

mampu

dan

kurang

tidak

sama

bersosialisasi, kurang

seperti

orang

memadainya

lain,

pengobatan

memadainya penanganan gejala.

Skizofrenia Herbefrenik

11

2.2.3 Tanda dan Gejala.


Skizofrenia Hebefrenik ditandai dengan gejala-gejala antara lain sebagai
berikut 3:
1. Inkoherensi yaitu jalan pikiran yang kacau, tidak dapat dimengerti apa
maksudnya.
2. Alam perasaan yang datar tanpa ekspresi serta tidak serasi atau ketololtololan.
3. Perilaku dan tertawa kekenak-kanakan, senyum yang menunjukkan rasa puas
diri atau senyum yang hanya dihayati sendiri.
4. Waham yang tidak jelas dan tidak sistematik tidak terorganisasi sebagai
suatu kesatuan.
5. Halusinasi yang terpecah-pecah yang isi temanya tidak terorganisasi sebagai
satu kesatuan.
6. Perilaku aneh, misalnya menyeringai sendiri, menunjukkan gerakan-gerakan
aneh, berkelakar, pengucapan kalimat yang diulang-ulang dan cenderung
untuk menarik diri secara akstrim dari hubungan social.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan skizofenia hebrefrenik adalah
gangguan jiwa dengan perilaku yang khas regresi dan primitif, afek tidak sesuai,
dengan karakteristik umum wajah dungu, tertawa-tawa aneh, meringis, percakan
dan perilaku yang kacau, permulaanya perlahan-lahan atau subakut, sering timbul
pada masa remaja atau antara 15-25 tahun yang disertai adanya gangguan
kemauan, gangguan psikomotor seperti manerisme, neologisme atau perilaku
kekanak-kanakan, waham, dan halusinasi.
2.2.4 Kriteria Diagnostik Skizofrenia Hebefrenik
Pedoman Diagnostik berdasarkan PPDGJ III 1,2
Memenuhi Kriteria umum diagnosis skizofrenia

Skizofrenia Herbefrenik

12

Diagnosis hebefrenik untuk pertama kali hanya ditegakkan pada usia remaja
atau dewasa muda (onset biasanya 15-25 tahun).
Kepribadian premorbid menunjukan pemalu dan senang menyendiri
(solitary), namun tidak harus demikian untuk menentukan diagnosis.
Untuk diagnosis hebefrenia yang meyakinkan umumnya diperlukan
pengamatan kontinu selama 2 atau 3 bulan lamanya, untuk memastikan
bahwa gambaran yang khas berikut ini memang benar bertahan :
o

Perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tidak dapat diramalkan,


serta manerisme, ada kecenderungan untuk menyendiri (solitaris) dan
perilaku menunjukan hampa tujuan dan hampa perasaan.

Afek pasien yang dangkal (shallow) tidak wajar (inaproriate), sering


disertai oleh cekikikan (gigling) atau perasaan puas diri (self-satisfied),
senyum-senyum sendiri (self absorbed smiling) atau sikap tinggi hati
(lofty manner), tertawa menyerigai, (grimaces), manneriwme,
mengibuli secara bersenda gurau (pranks), keluhan hipokondriakalI
dan ungkapan dan ungkapan kata yang diulang-ulang (reiterated
phrases)

Proses pikir yang mengalamu disorganisasi dan pembicaraan yang


tak menentu (rambling) dan inkoheren

Gangguan afektif dan dorongan kehendak, serta gangguan proses pikir


biasanya menonjol.Halusinasi dan waham biasanya ada tapi tidak menonjol )
fleeting and fragmentaty delusion and hallucinations.Dorongan kehendak
(drive) dan yang bertujuan (determnation) hilang serta sasaran ditinggalkan,
sehingga prilaku penderita memperlihatkan ciri khas yaitu perilaku tanpa
tujuan (aimless) dan tanpa maksud (empty of purpose) Tujuan aimless tdan

Skizofrenia Herbefrenik

13

tampa maksud (empty of puspose).


Adanya suatu preokupasi yang dangkal, dan bersifat dibuat-buar terhadap
agama, filsafat, dan tema abstrak lainnya, makin mempersukar orang
memahami jalan pikiran pasien.
2.2.5 Penatalaksanaan
1.Terapi Somatik (Medikamentosa) 5
Obat-obatan yang digunakan untuk mengobati Skizofrenia disebut
antipsikotik. Antipsikotik bekerja mengontrol halusinasi, delusi dan perubahan
pola fikir yang terjadi pada Skizofrenia. Pasien mungkin dapat mencoba
beberapa jenis antipsikotik sebelum mendapatkan obat atau kombinasi obat
antipsikotik yang benar-benar cocok bagi pasien. Pada dasarnya semua obat
antipsikotik mempunyai afek primer (efek klinis) yang sama. Perbedaan utama
pada

efek

sekunder(efek

samping).

Pemilihan

jenis

antipsikosis

mempertimbangkan gejala psikosis yang dominan dan efek samping obat. Bila
gejala negative lebih menonjol dari gejala positif pilihannya adalah obat
antipsikosis atipikal(golongan generasi kedua),sebaliknya bila gejala positif lebih
menonjol

dibandingkan

gejala

negatif

pilihannya

adalah

antipsikosis

tipikal(golongan generasi pertama). Terdapat 2 kategori obat antipsikotik yang


dikenal saat ini, yaitu antipsikotik tipikal dan antipsikotik atipikal.
a. Antipsikotik Tipikal
Walaupun sangat efektif, antipsikotik tipikal sering menimbulkan efek
samping yang serius. Penggolongan obat antipsikotik tipikal antara lain :
a. Phenothiazine
Rantai Aliphatic :
-Chlorpromazine
-Levomepromazine
Rantai Piperazine
-Perphenazine
-Trifluoperazine

Skizofrenia Herbefrenik

14

-Fluphenazine
Rantai Piperidine
-Thioridazine
b. Butyrophenone
-Haloperidol
c. Diphenyl-butylpiperidine
- Pimozide
Mekanisme kerja antipsikotik tipikal adalah memblokade Dopamine pada
reseptor pasca sinaptik neuron di otak,khususnya di sistem limbik dan sistem
ekstrapiramidal (Dopamine D2 receptor antagonists) sehingga efektif untuk
gejala positif.
2. Antipsikotik Atipikal
Obat-obat yang tergolong kelompok ini disebut atipikal karena prinsip
kerjanya berbeda, serta sedikit menimbulkan efek samping bila dibandingkan
dengan antipsikotik tipikal. Beberapa contoh, antara lain :
a. Benzamide
-Sulpride (dogmatil)
b. Dibenzodiazepine
-Clozapine(clozaril)
-Olanzapine (zyprexa)
-Quetiapine (Seroquel)
c. Benzisoxazole
-Risperidone (risperdal)
Mekanisme kerja antipsikotik atipikal berafinitas terhadap Dopamine D2
receptor juga berafinitas terhadap Serotonin 5 HT2 Receptors (Serotonin
dopamine antagonists) sehingga efektif untuk gejala negatif.
Efek samping obat anti psikotik dapat berupa :

Skizofrenia Herbefrenik

15

- Sedasi dan inhibisi psikomotor (rasa mengantuk,kewaspadaan berkurang,


kinerja psikomotor menurun, kemampuan kognitif menurun)
- Gangguan otonomik (hipotensi, antikolinergik/parasimpatolitik, mulut
kering, sering miksi dan defekasi, hidung tersumbat, mata kabur, tekanan
intraokuler meninggi, gangguan irama jantung)
- Gangguan ekstrapiramidal (distonia akut, akathisia, sindrom parkinson
berupa tremor, bradikinesia dan rigiditas)
- Gangguan endokrin (amenorrhea, gynaecomastia), metabolik (jaundice)
hematologik (agranulocytosis), biasanya untuk pemakaian jangka panjang
- Efek samping yang irreversible yaitu tardive dyskinesia (gerakan berulang
involunter pada lidah,wajah,mulut/rahang dan anggota gerak,dimana pada
waktu tidur gejala tersebut menghilang). Biasanya terjadi pada pemakaian
jangka panjang (terapi pemeliharaan) dan pada pasien usia lanjut. Efek
samping ini tidak berkaitan dengan dosis obat antipsikotik.
Pemilihan Obat untuk Episode (Serangan) Pertama
Atypical antipsycoic merupakan terapi pilihan untuk penderita Skizofrenia
episode pertama karena efek samping yang ditimbulkan minimal dan resiko untuk
terkena tardive dyskinesia lebih rendah. Biasanya obat antipsikotik membutuhkan
waktu beberapa saat untuk mulai bekerja. Sebelum diputuskan pemberian salah
satu obat gagal dan diganti dengan obat lain, para ahli biasanya akan mencoba
memberikan obat selama 6 minggu (2 kali lebih lama pada Clozaril)
Pemilihan Obat untuk keadaan relaps (kambuh)
Biasanya timbul bila pendrita berhenti minum obat, untuk itu, sangat penting
untuk mengetahui alasan mengapa penderita berhenti minum obat. Terkadang
penderita berhenti minum obat karena efek samping yang ditimbulkan oleh obat
tersebut. Apabila hal ini terjadi, dokter dapat menurunkan dosis menambah obat
untuk efek sampingnya, atau mengganti dengan obat lain yang efek sampingnya
lebih rendah. Apabila penderita berhenti minum obat karena alasan lain, dokter

Skizofrenia Herbefrenik

16

dapat mengganti obat oral dengan injeksi yang bersifat long acting, diberikan tiap
2- 4 minggu. Pemberian obat dengan injeksi lebih simpel dalam penerapannya.
Terkadang pasien dapat kambuh walaupun sudah mengkonsumsi obat sesuai
anjuran. Hal ini merupakan alasan yang tepat untuk menggantinya dengan obat
obatan yang lain, misalnya antipsikotik konvensonal dapat diganti dengan newer
atipycal antipsycotic atau newer atipycal antipsycotic diganti dengan antipsikotik
atipikal lainnya. Clozapine dapat menjadi cadangan yang dapat bekerja bila terapi
dengan obat-obatan diatas gagal.
Pengobatan Selama fase Penyembuhan
Sangat penting bagi pasien untuk tetap mendapat pengobatan walaupun
setelah sembuh. Para ahli merekomendasikan pasien-pasien Skizofrenia episode
pertama tetap mendapat obat antipskotik selama 12-24 bulan sebelum mencoba
menurunkan dosisnya. Pasien yang mendertia Skizofrenia lebih dari satu episode,
atau belum sembuh total pada episode pertama membutuhkan pengobatan yang
lebih lama. Perlu diingat, bahwa penghentian pengobatan merupakan penyebab
tersering kekambuhan dan semakin beratnya penyakit.
Tabel 1. Sediaan Obat Anti Psikosis dan Dosis Anjuran
Nama Generik
Klorpromazin

Sediaan

Dosis

Tablet, 25 dan 100 mg,

150 - 600 mg/hari

Injeksi 25 mg/ml
Haloperidol

Tablet, 0,5 mg, 1,5 mg, 5 mg,

5 - 15 mg/hari

Injeksi 5 mg/ml
Perfenazin

Tablet 2, 4, 8 mg

Flufenazin

Tablet 2,5 mg, 5 mg

Skizofrenia Herbefrenik

12 - 24 mg/hari
10 - 15 mg/hari

17

Flufenazin dekanoat
Levomeprazin

Inj 25 mg/ml

25 mg/2-4 minggu

Tablet 25 mg, Injeksi 25 mg/ml 25 - 50 mg/hari

Trifluperazin

Tablet 1 mg dan 5 mg

10 - 15 mg/hari

Tioridazin

Tablet 50 dan 100 mg

150 - 600 mg/hari

Sulpirid

Tablet 200 mg
Injeksi 50 mg/ml

Pimozide

Tablet 1 dan 4 mg

Risperidon

Tablet 1, 2, 3 mg

300 600 mg/hari


1 - 4 mg/hari
1 - 4 mg/hari
2 - 6 mg/hari

2.Terapi Psikososial 2
a. Terapi perilaku
Teknik perilaku menggunakan hadiah dan latihan ketrampilan sosial untuk
meningkatkan kemampuan sosial, kemampuan memenuhi diri sendiri, latihan
praktis, dan komunikasi interpersonal. Perilaku adaptif adalah didorong dengan
pujian atau hadiah. Dengan demikian, frekuensi perilaku maladaptif atau
menyimpang seperti berbicara lantang, berbicara sendirian di masyarakat, dan
postur tubuh aneh dapat diturunkan.
b. Terapi berorientasi-keluarga
Terapi ini sangat berguna karena pasien skizofrenia seringkali dipulangkan
dalam keadaan remisi parsial, dimana pasien skizofrenia kembali seringkali

Skizofrenia Herbefrenik

18

mendapatkan manfaat dari terapi keluarga yang singkat namun intensif (setiap
hari). Setelah periode pemulangan, yang dibahas didalam terapi keluarga adalah
proses pemulihan, khususnya lama dan kecepatannya.
Ahli terapi harus membantu keluarga dan pasien mengerti skizofrenia.
Sejumlah penelitian telah menemukan bahwa terapi keluarga adalah efektif dalam
menurunkan relaps. Angka relaps tahunan tanpa terapi keluarga sebesar 25-50 %
dan 5 - 10 % dengan terapi keluarga.
c. Terapi kelompok
Terapi kelompok bagi skizofrenia biasanya memusatkan pada rencana,
masalah, dan hubungan dalam kehidupan nyata. Terapi kelompok efektif dalam
menurunkan isolasi sosial, meningkatkan rasa persatuan, dan meningkatkan tes
realitas bagi pasien skizofrenia. Kelompok yang memimpin dengan cara suportif
paling membantu bagi pasien skizofrenia.
d. Psikoterapi individual
Penelitian yang paling baik tentang efek psikoterapi individual dalam
pengobatan skizofrenia telah memberikan data bahwa terapi adalah membantu dan
menambah efek terapi farmakologis. Menjalin hubungan seringkali sulit dilakukan
karena pasien skizofrenia seringkali kesepian dan menolak terhadap keakraban dan
kepercayaan dan kemungkinan sikap curiga, cemas, bermusuhan, atau teregresi
jika seseorang mendekati.
3.Perawatan di Rumah Sakit (Hospitalization) 2
Indikasi utama perawatan rumah sakit adalah untuk tujuan diagnostik,
menstabilkan medikasi, keamanan pasien karena gagasan bunuh diri atau
membunuh, prilaku yang sangat kacau termasuk ketidakmampuan memenuhi
kebutuhan dasar. Perawatan di rumah sakit menurunkan stres pada pasien dan
membantu mereka menyusun aktivitas harian mereka. Lamanya perawatan rumah

Skizofrenia Herbefrenik

19

sakit tergantung dari keparahan penyakit pasien dan tersedianya fasilitas


pengobatan rawat jalan.
2.2.6

Prognosis
Menurut Kraepelin dan Bleuler,skizofrenia hebefrenik dan jenis jenis

skizofrenia

tipe

sederhana

lainnya

memiliki

prognosis

yang

paling

buruk,dibandingkan dengan tipe paranoid atau katatonik akut yang memiliki reaksi
cepat,namun ada juga yang berkembang menjadi kronik dan semakin lama
semakin memburuk.2
Berikut daftar faktor yang mempengaruhi prognosis penderita skizofrenia :
Perihal
Onset
Faktor pencetus
Onset
Riwayat sosial ,seksual

Prognosis Baik
Lama
Jelas
Akut
Baik

Prognosis Buruk
Muda
Tidak ada
Tidak jelas
Buruk

dan pekerjaan premorbid


Gejala

Gangguan mood

Perilaku

Status Perkawinan

Menikah

diri,autistik
Tidak

menarik

menikah,bercerai,atau
Riwayat keluarga
Dukungan
Gejala

Gangguan mood
Baik
Gejala Positif

janda/duda
Skizofrenia
Buruk
Gejala negatif
Ada tanda dan gejala
neurologis,
Riwayat

trauma

perinatal,tidak ada remisi


dalam 3 tahun,banyak
relaps

Skizofrenia Herbefrenik

20

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Skizofrenia hebefrenik adalah suatu bentuk skizofrenia dengan perubahan
perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tidak dapat diramalkan, ada
kecenderungan untuk selalu menyendiri dan ungkapan kata yang diulang-ulang,
proses pikir mengalami disorganisasi dan pembicaraan tak menentu serta adanya
penurunan perawatan diri pada individu.
Etiologinya

tidak

diketahui.

Diduga

adanya

keterlibatan

genetic,biologis,lingkungan dan psikologis dalam terjadinya skizorenia. Salah satu


teori yang banyak mendapat perhatian adalah keterlibatan neurotransmitter.
Skizofrenia Hebefrenik ditandai dengan gejala-gejala antara lain sebagai
berikut inkoherensi ,alam perasaan yang datar tanpa ekspresi serta tidakserasi atau
ketolol-tololan,perilaku dan tertawa kekenak-kanakan, senyum yang menunjukkan
rasa puas diri atau senyum yang hanya dihayati sendiri,waham yang tidak jelas dan
tidak sistematik tidak terorganisasi sebagai suatu kesatuan,halusinasi yang
terpecah-pecah yang isi temanya tidak terorganisasi sebagai satu kesatuan dan
perilaku aneh, misalnya menyeringai sendiri, menunjukkan gerakan-gerakan aneh,
berkelakar, pengucapan kalimat yang diulang-ulang dan cenderung untuk menarik
diri secara akstrim dari hubungan social
Terapi skizofrenia meliputi psikofarmaka dan psikoterapi. Pemilihan jenis
antipsikotik mempertimbangkan gejala psikosis yang dominan dan efek samping
obat. Bila gejala negatif lebih menonjol dari gejala positif pilihannya adalah
antipsikotik atipikal ,sebaliknya jika gejala positif yang lebih menonjol maka

Skizofrenia Herbefrenik

21

diberi

antipsikotik

tipikal.

Dalam

psikoterapi

,bisa

digunakan

metode

individual,keluarga ataupun kelompok. Peran serta lingkungan sekitar sangat


membantu dalam menangani skizofrenia secara keseluruhan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Maslim, Rusdi dr. 2001. Buku Saku Diagnosisi Gangguan Jiwa Rujukan
Ringkas dari PPDGJ-III. Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa. Jakarta : FK Unika
Atmajaya.
2. Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. 2010. Buku Ajar Psikiatri Edisi 2 Jilid 1.
Jakarta : Binarupa aksara.
3. Elvira,SD. Hadisukanto G. 2013. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta : Badan
Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
4. Puri, Basant K. Paul J. Laking. 2011. Buku Ajar Psikiatri Edisi 2. Jakarta :
EGC
5. Maslim, Rusdi. 2002. Paduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik.
Jakarta : Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atmajaya

Skizofrenia Herbefrenik

22