Anda di halaman 1dari 18

ALTERASI HIDROTERMAL DAN TIPE

UBAHAN

TERMINOLOGI ENDAPAN MINERAL


KOMPOSISI INTERIOR BUMI BUMI
TEKTONIK LEMPENG
MAGMATISME-HIDROTERMAL

NON
MAGMATISMEHIDROTERMAL
ENDAPAN
MISSISIPI
VALLEY

PROSES
MAGMATIK

ENDAPAN
PEGMATIK

ENDAPAN
GRAVITATIONAL
SETTLING

PROSES
HIDROTERMAL

ENDAPAN
GREISEN

ENDAPAN
PORFIRI

ENDAPAN
EPITERMAL

PROSES METAMORFIKHIDROTERMAL

ENDAPAN
SULFIDA
MASIF

ENDAPAN
SKARN

PROSES
PERMUKAAN

ENDAPAN
PLACER

ESPLORASI ENDAPAN MINERAL

ENDAPAN
EVAPORASI

ENDAPAN
SUPERGEN

ENDAPAN
RESIDUAL

SISTEM HIDROTERMAL

Sistem hidrotermal dapat didifinisikan sebagai sirkulasi fluida panas (50


sampai >500C), secara lateral dan vertikal pada temperatur dan
tekanan yang bervarisasi, di bawah permukaan bumi (Pirajno, 1992).
Sistem ini mengandung dua komponen utama, yaitu
sumber panas dan sumber fluida.

Sirkulasi fluida hidrotermal menyebabkan himpunan mineral pada


batuan dinding menjadi tidak stabil, dan cenderung menyesuaikan
kesetimbangan baru dengan membentuk himpunan mineral yang sesuai
dengan kondisi yang baru, yang dikenal sebagai alterasi (ubahan)
hidrotermal.

SKEMA SISTEM HIDROTERMAL


YANG TERKAIT DENGAN MAGMATISME

JENIS FLUIDA

SUMBER PANAS

SUMBER PANAS UTAMA : PROSES MAGMATISME

Oleh karena itu, tempat dimana terjadi proses


magmatisme, senderung terbentuk sistem hidrotermal.
Baik magmatisme yang membentuk plutonisme maupun
vulkanisme

FLUIDA UTAMA : FLUIDA MAGMATIK DAN METEORIK

Fluida hidrotermal dapat berasal dari:


Fluida Magmatik
Air Meterorik
Air Connate
Air Metamorfik
Air Laut

FLUIDA MAGMATIK
Fraksi-fraksi volatil hidrous yang umumnya lebih ringan dan alkalik,
cenderung terakumulasi pada bagian atas kantong magma, disebut
sebagai Fluida magmatik (atau juvenile), dalam artian masih fres, belum
terkontaminasi dan belum pernah muncul di permukaan. Komponen volatil
di dalam magma umumnya terdiri dari H2O, H2S, CO2, HCl, HF, dan H2
(sebagian besar adalah H2O, yaitu sekitar 1-15%).

Perubahan-perubahan tersebut akan tergantung pada


karakter batuan dinding, kelulusan batuan
karakter fluida (Eh, pH),
kondisi tekanan maupun temperatur pada saat reaksi berlangsung
(Guilbert dan Park, 1986),
konsentrasi, serta lama aktivitas hidrotermal (Browne, 1991 dalam
Corbett dan Leach, 1996).
temperatur dan kimia fluida merupakan faktor yang paling
berpengaruh pada proses ubahan hidrotermal (Corbett dan Leach,
1996).

Pada sistem hidrotermal akan dijumpai tiga fase subtansi, yaitu padat
(solid), cair (liquid), dan gas (gas). Pada saat sistem masih aktif, fase
fluida (cair dan gas) akan dominan.

Molekul fase padat apabila dipanaskan, akan cenderung bergerak satu


sama lain, pada saat mencapai melting point, fase padat akan berubah
menjadi fase cair. Apabila temperatur terus bertambah, pada saat
mencapai critical temperatur (boiling point), cairan akan berubah
menjadi uap (vapor) atau gas. Steam adalah istilah kusus untuk
menyebut uap air (water vapor). H2O merupakan senyawa yang dapat
hadir sebagai fase padat (es/ice), fase cair (air/water), dan fase gas
(uap air/steam) pada tekanan yang relatif sama.

Pada temperatur dan tekanan tertentu, beberapa substansi dapat


terlarut (solute) pada substansi yang lain (pelarut/solvent) membentuk
larutan (solution) yang homogen. Baik zat terlarut maupun pelarut dapat
berupa fase padat, cair, maupun gas.

Zat
(solvent)

pelarut Zat terlarut (solute)

H2O ( c )

NaCl (p)

Alkohol/C2H2OH ( c ) H2O (c )
H2O ( c )

CO2 (g)

O (g)

N (g)

Pt (p)

H (g)

Fe (p)

C (p)

Sfalerit (ZnFeS) (p)

Kalkopirit

(CuFeS2)

Larutan dimana zat pelarutnya adalah air disebut sebagai aqueous.


Pelarut air yang mengandung zat terlarut NaCl 35% disebut sebagai
brine. Istilah fluida (fluids) digunakan untuk menyebut semua substansi
atau materi yang dapat bergerak, yaitu cairan, gas, campuran gas dan
cairan, atau larutan bukan padat. Partikel-partikel sangat halus (1-15
Angstrom) yang tersebar sebagai suspensi (tidak homogenous) pada
suatu substansi (umumnya cairan) disebut sebagai colloid.

FLUIDA A

BATUAN A

FLUIDA B

BATUAN B

Interaksi Fluida A dan Batuan A akan menghasilkan Alterasi (Ubahan)


hidrotermal berupa Batuan B dan fluida B atau batuan B saja.
ENDAPAN MINERAL

ENDAPAN BIJIH

Definisi batuan dinding (wall rock atau country rock)


adalah batuan disekitar intrusi yang melingkupi urat;
umumnya mengalami ubahan hidrotermal. Derajad dan
lamanya proses ubahan akan menyebabkan perbedaan
intensitas ubahan (total, sangat kuat, kuat, sedang,
lemah hingga tak terubah) dan derajat alterasi (terkait
dengan stabilitas pembent ukan)

Secara umum umum dikenal adanya tiga pola ubahan,


yaitu pervasive, selectively pervasive, dan nonpervasive (Pirajno, 1992).

Creasey (1966) membuat klasifikasi ubahan hidrotermal pada


endapan tembaga porfir menjadi tiga tipe yaitu propilitik,
argilik, potasik, dan himpunan kuarsa-serisit-pirit.
Lowell dan Guilbert (1970) menambahkan zona filik

Model Ubahan Propilitic


dan Himpunan Mineral

Menurut Creasey (1966) terdapat empat kecenderungan himpunan


mineral yang hadir

pada tipe propilitik, yaitu :

a. klorit-kalsit-kaolinit

b. klorit-kalsit-talk

c. klorit-epidot-kalsit

d. klorit-epidot.

Muskovit-Kaolinit-Monmorilonit

Muskovit-Klorit-Monmorilonit

Muskovit-biotit-alkali feldspar-magnetit

Kuarsit-serisit-pirit

Epidot aktinolit-klorit-dan ilit

Pirofilit + diaspor + andalusit + kuarsa + tourmalin + Energit-luzonit

Kaolinit + alunit + kalsedon + kuarsa + pirit