Anda di halaman 1dari 16

KONSEP MEDIS

A. Pengertian
Selulitis adalah infeksi streptokokus, stapilokokus akut dari kulit dan
jaringan subkutan biasanya disebabkan oleh invasi bakteri melalui suatu area
yang robek pada kulit, meskipun demikian hal ini dapat terjadi tanpa bukti
sisi entri dan ini biasanya terjadi pada ekstremitas bawah (Tucker, 2008 :
633).
Selulitis adalah inflamasi supuratif yang juga melibatkan sebagian
jaringan subkutan (Mansjoer, 2000 : 82).
Selulitis adalah infeksi bakteri yang menyebar kedalam bidang
jaringan (Brunner & Suddarth, 2000 : 496).
Selulitis adalah penyebaran infeksi pada kulit yang meluas hingga
jaringan subkutan (Arif, 2000).
Selulitis mammae adalah peradangan akut terutama menyerang
jaringan subkutis pada mammae, biasanya didahului luka atau trauma dengan
penyebab tersering Streptokokus betahemolitikus dan Stafilokokus aureus.
Sellulitis mammae adalah peradangan pada jaringan kulit mammae yang
mana cenderung meluas kearah samping dan ke dalam (Herry, 1996).

B. Klasifikasi

Selulitis dapat digolongkan menjadi:


1. Selulitis Sirkumskripta Serous Akut
Selulitis yang terbatas pada daerah tertentu yaitu satu atau dua spasia
fasial, yang tidak jelas batasnya.Infeksi bakteri mengandung serous,
konsistensinya sangat lunak dan spongius.Penamaannya berdasarkan ruang
anatomi atau spasia yang terlibat.
2. Selulitis Sirkumskripta Supurartif Akut
Prosesnya hampir sama dengan selulitis sirkumskripta serous akut,
hanya infeksi bakteri tersebut juga mengandung suppurasi yang purulen.
Penamaan berdasarkan spasia yang dikenainya.Jika terbentuk eksudat yang
purulen, mengindikasikan tubuh bertendensi membatasi penyebaran
infeksi dan mekanisme resistensi lokal tubuh dalam mengontrol infeksi.
3. Selulitis Difus Akut
Dibagi lagi menjadi beberapa kelas, yaitu:
1) Ludwigs Angina
2) Selulitis yang berasal dari inframylohyoid
3) Selulitis Senators Difus Peripharingeal
4) Selulitis Fasialis Difus
5) Fascitis Necrotizing dan gambaran atypical lainnya

6) Selulitis Kronis

C. Etiologi
Penyebab dari selulitis menururt Isselbacher (2009 ; 634) adalah
bakteri streptokokus grup A, streptokokus piogenes dan stapilokokus aureus.
Penyakit selulitis dapat disebabakan oleh :
a. Infeksi bakteri dan jamur :
1. Disebabkan oleh Streptococcus grup A dan Staphylococcus
aureus
2. Pada bayi yang terkena penyakit ini dibabkan oleh Streptococcus
grup B
3. Infeksi dari jamur, Tapi Infeksi yang diakibatkan jamur termasuk
jarang Aeromonas Hydrophila.
4. S. Pneumoniae (Pneumococcus)
b. Penyebab lain :
1. Gigitan binatang, serangga, atau bahkan gigitan manusia.
2. Kulit kering
3. Eksim

4. Kulit yang terbakar atau melepuh


5. Diabetes
6. Obesitas atau kegemukan
7. Pembekakan yang kronis pada kaki
8. Penyalahgunaan obat-obat terlarang
9. Menurunnyaa daya tahan tubuh
10. Cacar air
11. Malnutrisi
12. Gagal ginjal

Faktor Resiko
a. Usia
Semakin tua usia, kefektifan sistem sirkulasi dalam menghantarkan darah
berkurang pada bagian tubuh tertentu. Sehingga abrasi kulit potensi mengalami
infeksi seperti selulitis pada bagian yang sirkulasi darahnya memprihatinkan.
b. Melemahnya Sistem Immun (Immunodeficiency)

Dengan sistem immune yang melemah maka semakin mempermudah terjadinya


infeksi. Contoh pada penderita leukemia lymphotik kronis dan infeksi HIV.
Penggunaan obat pelemah immun (bagi orang yang baru transplantasi organ) juga
mempermudah infeksi.
c. Diabetes Mellitus
Tidak hanya gula darah meningkat dalam darah namun juga mengurangi sistem
immun tubuh dan menambah resiko terinfeksi. Diabetes mengurangi sirkulasi
darah pada ekstremitas bawah dan potensial membuat luka pada kaki dan menjadi
jalan masuk bagi bakteri penginfeksi.
d. Cacar dan Ruam Saraf
Karena penyakit ini menimbulkan luka terbuka yang dapat menjadi jalan masuk
bakteri penginfeksi.
e. Pembangkakan Kronis Pada Lengan Dan Tungkai (Lymphedema)
Pembengkakan jaringan membuat kulit terbuka dan menjadi jalan masuk bagi
bakteri penginfeksi.
f. Infeksi Jamur Kronis Pada Telapak atau Jari Kaki
Infeksi jamur kaki juga dapat membuka celah kulit sehinggan menambah resiko
bakteri penginfeksi masuk
g. Penggunaan Steroid Kronik

Contohnya penggunaan corticosteroid.


h. Penyalahgunaan Obat dan Alcohol
Mengurangi sistem immun sehingga mempermudah bakteri penginfeksi
berkembang.
i. Malnutrisi
Sedangkan lingkungan tropis, panas, banyak debu dan kotoran, mempermudah
timbulnya penyakit ini.

D. Patofisiologi
Bakteri pathogen yang menembus lapisan luar menimbulkan infeksi
pada permukaan kulit atau menimbulkan peradangan. Penyakit infeksi sering
berjangkit pada orang gemuk, rendah gizi, orang tua dan pada orang dengan
diabetes mellitus yang pengobatannya tidak adekuat.
Gambaran klinis eritema lokal pada kulit dan sistem vena serta
limfatik pada ke dua ekstremitas atas dan bawah. Pada pemeriksaan
ditemukan kemerahan yang karakteristi hangat, nyeri tekan, demam dan
bakterimia.
Selulitis yang tidak berkomplikasi paling sering disebabkan oleh
Streptokokus grup A, Streptokokus lain atau Staphilokokus aereus, kecuali jika
luka yang terkait berkembang bakterimia, etiologi microbial yang pasti sulit

ditentukan, untuk abses lokalisata yang mempunyai gejala sebagai lesi kultur
pus atau bahan yang diaspirasi diperlukan. Meskipun etiologi abses ini
biasanya adalah stapilokokus, abses ini kadang disebabkan oleh campuran
bakteri aerob dan anaerob yang lebih kompleks. Bau busuk dan pewarnaan
gram pus menunjukkan adanya organisme campuran.
Ulkus kulit yang tidak nyeri sering terjadi. Lesi ini dangkal dan
berindurasi dan dapat mengalami infeksi. Etiologinya tidak jelas, tetapi
mungkin merupakan hasil perubahan peradangan benda asing, nekrosis dan
infeksi derajat rendah.

E. Manifestasi Klinis
Selulitis menyebabkan kemerahan atau peradangan yang terlokalisasi.
Kulit tampak merah, bengkak, licin disertai nyeri tekan dan teraba hangat.
Ruam kulit muncul secara tiba-tiba dan memiliki batas yang tegas. Bisa
disertai memar dan lepuhan-lepuhan kecil.
Gejala lainnya adalah:
a. Demam
b. Menggigil
c. Sakit kepala
d. Nyeri otot

e. Tidak enak badan


Menurut Mansjoer (2000 : 82) manifestasi klinis selulitis adalah
kerusakan kronik pada kulit sistem vena dan limfatik pada kedua ekstremitas,
kelainan kulit berupa infiltrat difus subkutan, eritema lokal, nyeri yang cepat
menyebar dan infitrasi ke jaringan dibawahnya, bengkak, merah dan hangat,
nyeri tekan, supurasi dan lekositosis.

F. Pemeriksaan Penunjang
Tidak membutuhkan prosedur lebih lanjut untuk sampai ke tahap
diagnosis yang meliputi anamnesis, uji laboratorium, sinar x dll, dalam kasus
cellulite yang belum mengalami komplikasi yang mana kriterianya seperti :
a. Daerah penyebaran belum luas
b. Daerah yang terinfeksi tidak mengalami rasa nyeri atau sedikit nyeri
c. Tidak ada tanda-tanda systemic seperti : demam, terasa dingin,
dehidrasi, tachypnea, tachycardia,hypotensi.
d. Tidak ada factor resiko yang dapat menyebabkan penyakit bertambah
parah seperti : Umur yang sangat tua, daya tahan tubuh sangat lemah.
Jika sudah mengalami gejala seperti adanya tanda systemic, maka
untuk melakukan diagnosis membutuhkan penegakan diagnosis tersebut
dengan melakukan pemeriksaan lab seperti :

a. Complete blood count, menunjukkan kenaikan jumlah leukosit dan ratarata sedimentasi eritrosit. Sehingga mengindikasikan adanya infeksi
bakteri.
b. BUN level
c. Creatinine level
d. Culture darah
e. Pembuangan luka
1. Immunofluorescence : Immunofluorescence adalah sebuah teknik
yang dimana dapat membantu menghasilkan diagnosa sera pasti
pada kultur cellulites negative, tapi teknik ini jarang digunakan.
2. Penggunaan MRI juga dapat membantu dalam mendiagnosa infeksi
cellulites yang parah. Mengidentifikasi pyomyositis, necrotizing
fascitiis, dan infeksi selulitis dengan atau tanpa pembentukan abses
pada subkutaneus.

G. Penatalaksanaan Medis
Rawat inap di rumah sakit, Insisi dan drainase pada keadaan terbentuk
abses. Pemberian antibiotik seperti oksasilin atau nafsilin, obat oral dapat atau
tidak digunakan, infeksi ringan dapat diobati dengan obat oral pada pasien

diluar rumah sakit, analgesik, antipiretik. Posisi dan imobilisasi ekstremitas,


bergantian kompres lembab hangat (Long, 2006 : 670).
Pengobatan yang tepat dapat mencegah penyebaran infeksi ke darah
dan organ lainnya. Diberikan penicillin atau obat sejenis penicillin (misalnya
cloxacillin). Jika infeksinya ringan, diberikan sediaan per-oral (ditelan).
Biasanya sebelum diberikan sediaan per-oral, terlebih dahulu diberikan
suntikan antibiotik jika:
a. penderita berusia lanjut
b. selulitis menyebar dengan segera ke bagian tubuh lainnya
c. demam tinggi.
Jika selulitis menyerang tungkai, sebaiknya tungkai dibiarkan dalam
posisi terangkat dan dikompres dingin untuk mengurangi nyeri dan
pembengkakan.

H. Pencegahan
Jika memiliki luka :
a. Bersihkan luka setiap hari dengan sabun dan air
b. Oleskan antibiotic
c. Tutupi luka dengan perban

d. Sering-sering mengganti perban tersebut


e. Perhatikan jika ada tanda-tanda infeksi
Jika kulit masih normal :
a. Lembabkan kulit secara teratur
b. Potong kuku jari tangan dan kaki secara hati-hati
c. Lindungi tangan dan kaki
b. Rawat secara tepat infeksi kulit pada bagian superficial

I. Komplikasi
a. Bakteremia
b. Nanah atau local Abscess
c. Superinfeksi oleh bakteri gram negative
d. Lymphangitis
e. Trombophlebitis
f. Sellulitis pada muka atau Facial cellulites pada anak menyebabkan meningitis
sebesar 8%.

g. Dimana dapat menyebabkan kematian jaringan (Gangrene), dan dimana harus


melakukan amputasi yang mana mempunyai resiko kematian hingga 25%.

KONSEP KEPERAWATAN
A. Pengkajian dan Anamnesa
a. Identitas
Menyerang sering pada lingkungan yang kurang bersih
b. Riwayat Penyakit
1. Keluhan utama
Pasien biasanya mengeluh nyeri pada luka, terkadang disertai demam, menggigil
dan malaise
2. Riwayat penyakit dahulu
Ditanyakan penyebab luka pada pasien dan pernahkah sebelumnya mengidap
penyakit seperti ini, adakah alergi yang dimiliki dan riwat pemakaian obat.
3. Riwayat penyakit sekarang
Terdapat luka pada bagian tubuh tertentu dengan karakteristik berwarna merah,
terasa lembut, bengkak, hangat, terasa nyeri, kulit menegang dan mengilap
4. Riwayat penyakit keluarga
Biasanya dikeluarga pasien terdapat riwayat mengidap penyakit selulitis atau
penyekit kulit lainnya

c. Keadaan Emosi Psikologi


Pasien tampak tenang,dan emosional stabil
d. Keadaan social ekonomi
Biasanya menyerang pada social ekonomi yang sederhana
e. Pemeriksaan fisik
1. Keadaan umum : Lemah
TD : Menurun (< 120/80 mmHg)
Nadi : Turun (< 90)
Suhu : Meningkat (> 37,50)
RR : Normal
2. Kepala : Dilihat kebersihan, bentuk, adakah oedem atau tidak
3. Mata : Tidak anemis, tidak ikterus, reflek cahaya (+)
4. Hidung : Tidak ada pernafasan cuping
5. Mulut : Kebersihan, tidak pucat
6. Telinga : Tidak ada serumen
7. Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar

8. Jantung : Denyut jantung meningkat


9. Ekstremitas : Adakah luka pada ekstremitas
10. Integumen : Gejala awal berupa kemerahan dan nyeri tekan yang terasa di
suatu daerah yang kecil di kulit. Kulit yang terinfeksi menjadi panas dan bengkak,
dan tampak seperti kulit jeruk yang mengelupas (peau d'orange). Pada kulit yang
terinfeksi bisa ditemukan lepuhan kecil berisi cairan (vesikel) atau lepuhan besar
berisi cairan (bula), yang bisa pecah.

B. Diagnosis Keperawatan
a. Nyeri akut b.d. respons inflamasi lokal saraf perifer kulit
b. Hipertermi b.d. respon inflamasi sistemik
c. Kerusakan integritas kulit b.d adanya lesi kemerahan
d. Resiko tinggi terjadinya infeksi b.d adanya luka pada kulit.
e. Ansietas b.d perubahan status kesehatan
f. Kurang pengetahuan b.d kurang terpajan informasi