Anda di halaman 1dari 15

D

I
S
U
S
U
N
OLEH :
KELOMPOK 3
ADI SAPUTRA
HASRIANTI S.
NOVITA HAMDIN
M. RAHMAN
YUNI HERMILA
KELAS A KEPERAWATAN
SEMESTER IV

KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat
menyelesaikan karya tulis ini. Sungguh suatu kesyukuran yang memiliki
makna tersendiri, karena walaupun dalam keadaan terdesak, kami dapat
menyelesaikan makalah ini.
Dalam penulisan karya tulis ini, kami mencoba membahas tentang
Asuhan Keperawatan AIDS pada wanita. Dalam karya tulis ini, kami
juga menyediakan pembahasan tentang tinjauan teori dan asuhan
keperawatan AIDS pada wanita.
Apa yang kami lakukan dalam karya tulis ini, masih jauh yang
diharapkan dan isinya masih terdapat kesalahan kesalahan baik dalam
penulisan kata maupun dalam menggunakan ejaan yang benar. Oleh
karena itu, kritikan dan saran yang sifatnya membangun, kami harapkan
sehingga makalah ini menjadi sempurna.

Palopo,

Maret

2013

Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................. i
DAFTAR ISI .............................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN............................................................. 1
A. Latar Belakang................................................................... 1
B. Tujuan ................................................................................ 1
C. Rumusan Masalah ............................................................. 1

BAB II TINJAUAN TEORI ......................................................... 3


A.
B.
C.
D.

Defenisi..............................................................................
Etiologi ..............................................................................
Patofisiologi .......................................................................
HIV/AIDS pada wanita ........................................................

3
3
3
4

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN........................................... 6


A.
B.
C.
D.

Pengkajian .........................................................................
Diagnosa Keperawatan ......................................................
intervensi...........................................................................
Evaluasi ............................................................................

6
7
7
10

BAB IV PENUTUP .................................................................... 11


A. Kesimpulan......................................................................... 11
B. Saran.................................................................................. 11

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada tahun 2000 terjadi peningkatan penyebaran epidemic HIV
secara nyata melalui perkerja seks komersial, tetapi ada fenomena
baru penyebaran HIV/AIDS melalui pengguna narkoba suntik. Tahun
2002 HIV sudah menyebar ke rumah tangga. Sejauh ini lebih dari 6,5
juta perempuan di Indonesia jadi populasi rawan tertular HIV. Lebih
dari 30% diantaranya melahirkan bayi yang tertular HIV. Pada tahun
2015, diperkirakan akan terjadi penularan pada 38.500 anak yang
dilahirkan dan itu terinfeksi HI
Sampai tahun 2006 diperkirakan 4.360 anak terkena HIV dan
separuh diantaranya meninggal dunia. Saat ini diperkirakan 2320
anak
terkena
HIV.
Kebanyakan wanita mengurus keluarga dan anak-anaknya selain
mengurus diri sendiri, sehingga gangguan kesehatan pada wanita
akan mempengaruhi seluruh keluarganya. Wanita dengan HIV/AIDS
harus mendapatkan dukungan dan perawatan mencakup penyuluhan
yang memadai tentang penyakitnya, perawatan, pengobatan, serta
pencegahan penularan pada anak dan keluarganya. Penularan HIV ke
ibu bisa akibat hubungan seksual yang tidak aman, pemakaian
narkoba injeksi dengan jumlah bergantian bersama pengidap HIV,
tertular melalui darah dan produk darah, penggunaan alat kesehatan
yang tidak steril serta alat untuk menoreh kulit. Penyebab terjadinya
infeksi HIV pada wanita secara berurutan dari yang terbesar adalah
pemakaian obat terlarang melalui injeksi 51%, wanita heteroseksual
34%, transfuse darah 8%, dan tidak diketahui sebanyak 70%.

B. Tujuan
Makalah ini dimasukkan sebagai pedoman, agar mahasiswa
mengetahui tentang AIDS pada wanita serta mampu melakukan
pengkajian dan merumuskan diagnosa keperawatan pada klien yang
mengalami AIDS khususnya pada wanita.

C. Rumusan Masalah
Secara garis besar, masalah yang kami rumuskan adalah sebagai
berikut.
1. Mampu mengetahui tentang AIDS pada wanita.
2. Mampu memahami konsep dan asuhan keperawatan pada
klien dengan gangguan AIDS khususnya pada wanita.

3. Mampu mengetahui dan memahami asuhan


keperawatan
yang
benar
sehingga dapat
menjadi
bekal
dalam
persiapan praktik di rumah sakit.

BAB II
KONSEP DASAR PENYAKIT
A. Defenisi
Acquired Immunodeficiency Syndrome (disingkat AIDS) adalah
sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena
rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV.
HIV dan virus-virus sejenisnya umumnya ditularkan melalui kontak
langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran
darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air
mani, cairan vagina, dan air susu ibu. Penularan dapat terjadi melalui
hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum
suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan,
bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairancairan tubuh tersebut.

B. Etiologi
Penyebab AIDS adalah retrovirus (HIV/ Human Immunodeficiency
Virus) yang termasuk famili retroviridae
Sarana transmisinya HIV (Retrovirus HIV) melaui :
1. Penularan melalui darah, penularan melalui hubungan seks
(pelecehan seksual).
2. Hubungan seksual yang berganti-ganti pasangan.
3. Perempuan yang menggunakan obat bius injeksi dan bergantian
memakai alat suntik.
4. Individu yang terpajan ke semen atau cairan vagina sewaktu
berhubungan kelamin dengan orang yang terinfeksi HIV.
5. Orang yang melakukuan transfusi darah dengan orang yang
terinfeksi HIV, berarti setiap orang yang terpajan darah yang
tercemar melalui transfusi atau jarum suntik yang terkontaminasi.

C. Patofisiologi
Penyebab menurunnya sistem Imun pada AIDS adalah suatu agen
virus yang disebut dari kelompok retrovirus. Retrovirus ditularkan oleh
darah melalui kontak intim (seksual) dan mempunyai afinitas yang
kuat terhadap limfosit T. Pada retrovirus, informasi genetic
ditransmisikan sebagai rantai tunggal RNA, agar RNA mereplekasi
dini, informasi ini ditransfer ke dalam DNA. HIV masuk tubuh manusia
terutama melalui darah, semen dan secret vagina, serta transmisi dari
ibu ke anak. Tiga cara penularan HIV adalah sbb:

a) Kontak seksual, baik secara vaginal, oral maupun anal dengan


seorang
pengidap. Kontak langsung dengan darah, produk darah,
atau jarum suntik. Transfusi darah atau produk darah yang tercemar.
b)Transfusi secara vertikal dari ibu hamil pengidap HIV kepada
bayinya melalui plasenta. Setelah masuk tubuh, virus menuju kelenjar
limfe dan berada dalam sel dendritik selama beberapa hari, kemudian
terjadi sindrom retraviral akut seperti flu.
Alat kelamin pada wanita yaitu Vagina merupakan saluran yang
menghubungkan rahim dengan dunia luar. Lendir vagina banyak
mengandung glikogen yang dapat dipecah oleh bakteri doderline,
sehingga keasaman vagina sekitar 4,5 (bersifat asam) sebagai
perlindungan alamiah terhadap infeksi. apabila PH vagina terganggu
akibat masuknya jamur, bakteri atau virus akan mempermudah
masuknya organisme yang dapat menyebar ke organ yang lain. Pada
wanita virus masuk melalui luka/lecet pada vagina. Anatomi sistem
Reproduksi wanita memungkinkan naiknya organisme dari saluran
bagian Bawah ke atas dan dapat mencapai rongga peritoneal,
demikian pula infeksi dapat turun dari saluran bagian atas jika terjadi
penyebaran organisme dari dalam tubuh. Beberapa spesies candida
dalam keadaan normal terdapat di mulut, tenggorokan & usus besar.
Tetapi apabila pertumbuhan yg berlebihan dari organisme ini yang
terjadi jika terdapat perubahan dari dalam tubuh atau flora bakterial
lokal menyebabkan berbagai macam penyakit infeksi.

D. HIV/AIDS Pada Wanita


1.
Wanita lebih mudah

terinfeksi HIV dari pada pria. Pria


memasukkan semen ke dalam vagina, dimana cairan tersebut
tidak akan menetap untuk waktu yang lama. Bila dalam semen
tersebut mengandung virus HIV maka akan mudah masuk kedalam
tubuh wanita melalui vagina dan servix, terutama bila terdapat
sayatan atau ulkus pada bagian tersebut.

2.

Wanita sering terkena infeksi pada usia muda daripada pria.


Ini karena wanita muda dan gadis-gadis biasanya sulit untuk
menolak hubungan seksual yang tidak dikehendaki ataupun yang
tidak aman.

3.

Wanita menerima transfusi darah lebih banyak daripada pria


karena masalah kelahiran.

4.

Perkembangan penyakit AIDS lebih cepat pada wanita setelah


terinfeksi HIV. Gizi kurang dan usia subur menyebabkan wanita
kurang mampu melawan penyakit.

5.

Wanita sering secara tidak adil dipermasalahkan sebagai


biang keladi penyebaran AIDS, tetapi sebetulnya pria juga
mempunyai tanggung jawab yang sama besar dengan pria.

6.

Wanita hamil yang terinfeksi HIV akan menularkannya kepada


janin.

7.

Wanita biasanya menjadi perawat anggota keluarga yang


sakit dengan AIDS, meskipun mereka juga sedang sakit.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Aktifitas /istirahat :
Mudah lelah, berkurangnya toleransi terhadap aktifitas,
kelelahan yang progresif.
Kelemahan otot.

Perubahan pola tidur.


2. Sirkulasi

Proses penyembuhan luka yang lambat, perdarahan lama bila


cedera.
Sianosis.

3. Integritas ego
Faktor stress yang berhubungan dengan kehilangan: dukungan
keluarga, hubungan dengan orang lain, penghasilan dan gaya
hidup tertentu.
Mengkhawatirkan penampilan: lesi , cacat, menurunnya berat
badan.
Merasa tidak berdaya, putus asa, rasa bersalah, kehilangan
control diri, dan depresi.
4. Eliminasi.
Diare berat.
Feses encer dengan atau tanpa disertai mucus dan darah.
5. Makanan/cairan :
Disfagia
Tidak ada nafsu makan, mual, muntah
Penurunan BB yang cepat
Turgor kulit jelek, lesi pada rongga mulut.
6. Hygine
Memperlihatkan penampilan yang tidak rapi.
Kekurangan dalam banyak atau semua perawatan diri.

7. Nyeri
Nyeri pada daerah inflamasi.
Penurunan rentang gerak.
8. Pernapasan
Napas pendek yang progresif, batuk produktif/non,
Sesak pada dada, takipnea, bunyi napas tambahan, sputum
kuning.
Hipoksemia.
9. Interaksi sosial
Isolasi, kesepian, perubahan interaksi keluarga, aktifitas yang
tdk terorganisi

B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri

b.d

inflamasi

penularan nekrosis
2. Gangguan integritas

atau
kulit

kerusakan
b.d

jaringan:

deficit

infeksi,

immunologis

lesi,
AIDS

dihubungkan dengan infeksi virus.


3. Kekurangan volume cairan b. d diare berat.
4. Ansietas b.d ancaman pada konsep pribadi dan penularan
interpersonal.
5. Isolasi sosial b.d perubahan status kesehatan, perubahan pada
penampilan fisik.

C. Intervensi
1. Nyeri

b.d

inflamasi

atau

kerusakan

jaringan:

infeksi,

lesi,

penularan nekrosi. Tujuan : nyeri hilang/terkontrolnya rasa sakit,


menunjukan posisi/ekspresi wajah rileks, dapat tidur/beristirahat
adekuat.
Intervensi
Kaji keluhan nyeri, intensitas (skala 1-10) frekuensi dan waktu.
R/ : Mengindikasikan kebutuhan untuk intervensi dan tanda

tanda perkembangan/ resolusi komplikasi.


Dorong mengungkapkan perasaan.
R/: Dapat mengurangi
ansietas dan rasa takut, sehingga mengurangi persepsi akan

intensitas rasa sakit.


Instruksikan pasien untuk menggunakan teknik nafas dalam.
R/ : Meningkatkan relaksasi dan perasaan sehat.

Berikan aktivitas hiburan misalkan membaca atau menonton


televisi. Rasional : mengalihkan perhatian dari nyeri.

2. Gangguan

integritas

kulit

b.d

deficit

immunologis

AIDS

dihubungkan dengan infeksi virus. Tujuan : gangguan integritas


kulit dapat diatasi.
Intervensi :
Pertahankan/intruksikan dalam hygiene kulit, misal membasuh
kemudian

mengeringkannya

menggunakan

losion

atau

dengan

krim.

R/

hati-hati

dan

Mempertahankan

kebersihan, kulit yan gkering dapat menjadi barier infeksi


Kaji kulit setiap hari. Catat warna, turgor kulit. Gambarkan lesi
dan amati perubahan. R/: menentukan garis dasar dimana
perubahan pada status dapat dibandingkan dan melakukan

intervensi yang tepat.


Secara teratur ubah posisi, ganti seprei sesuai kebutuhan. R/:
mengurangi stress pada titik tekanan, meningkatkan aliran
darah ke jaringan.

3. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diare berat.


Tujuan : kebutuhan cairan terpenuhi.
Intervensi
Pantau tanda dan gejala kekurangan cairan. R/ : Untuk
mengetahui sejauh mana pasien mengalami kehilangan cairan
bila terus-menerus BAB.
Observasi tanda-tanda vital. R/ : Dengan memonitor tandatanda vital diharapkan dapat mengetahui keadaan umum
pasien secara rinci sehingga bisa mengobservasi proses
perkembangan penyakit dan tingkat keberhasilan perawatan.
Pantau intake dan output. R/ : upaya untuk menggganti cairan
yang keluar bersama feses.
Anjurkan keluarga untuk memberi minum banyak pada klien, 23 lt/hr. R/: Mengganti cairan dan elektrolit yang hilang secara
oral.
Berikan cairan / elektrolit melalui selang pemberi makanan (IV).
R/ : Mungkin diperlukan untuk mendukung terpenuhinya cairan,
terutama jika pemasukan oral tak adekuat.

4. Ansietas b.d ancaman pada konsep pribadi dan penularan


interpersonal. Tujuan : berkurangnya rasa takut/ansietas dan
menunjukkan kemampuan mengatasi masalah.
Intervensi
:
Pertahankan hubungan yang sering dengan pasien. R/ :

Menjamin bahwa pasien tidak akan sendiri atau ditelantarkan.


Berikan informasi akurat dan konsisten mengenai prognosis.
R/ : Dapat mengurangi ansietas dan ketidakmampuan pasien

untuk membuat keputusan/ pilihan berdasrkan realita.


Berikan lingkungan terbuka dimana pasien akan merasa aman
untuk mendiskusikan perasaan. R/ : Membantu pasien untuk
merasa

diterima

pada

kondisi

sekarang

tanpa

perasaan

dihakimi dan meningkatkan perasaan harga diri dan kontrol.


Izinkan paien untuk mengekspresikan rasa marah, takut, putus
asa

tanpa

konfrontasi.

R/

Penerimaan

perasaan

akan

membuat pasien dapat menerima situasi


5. Isolasi sosial b.d perubahan status kesehatan, perubahan pada
penampilan fisik. Tujuan : Menunjukkan peningkatan perasaan
harga diri dan berpartisipasi dalam aktivitas.
Intervensi :
tentukan persepsi pasien tentang situasi. R/ : Isolasi sebagian
dapat mempengaruhi diri saat pasien takut penolakan / reaksi

orang lain
Hindari menggunakan

masker

dan

sarung

tangan

jika

memungkinkan misalnya saat berbicara dengan pasien. R/ :


mengurangi perasaan pasien akan isolasi fisik dan menciptakan
hubungan sosial yang positif, yang dapat meningkatkan rasa

percaya diri.
Dorong adanya hubungan yang aktif dengan orang terdekat.
R/ : membantu memantapkan partisipasi pada hubungan sosial,
dapat mengurangi kemungkinan upaya bunuh diri.

D.Evaluasi

1. nyeri hilang/terkontrolnya rasa sakit, menunjukan posisi/ekspresi


wajah rileks, dapat tidur/beristirahat adekuat.
2. gangguan integritas kulit dapat diatasi.
3. kebutuhan cairan terpenuhi.

4. berkurangnya rasa takut/ansietas dan menunjukkan kemampuan


mengatasi masalah.
5. Menunjukkan peningkatan perasaan harga diri dan berpartisipasi
dalam aktivitas.

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
HIV adalah kuman yang sangat kecil, yang disebut virus yang
tidak

bisa

terlihat

oleh

manusia.

AIDS

adalah

penyakit

yang

berkembang kemudian, setelah seseorang terkena infeksi HIV, virus


AIDS. Penularan HIV pada wanita terjadi melalui injeksi ,wanita
homoseksual dan transfusi darah.Sedangkan penularan HIV pada bayi
dan anak bisa melalui jalur vertical (ibu ke bayi), darah, penularan
melalui

hubungan

seks

(pelecehan

seksual

pada

anak),

dan

pemakaian alat kesehatan yang tidak steril.

B. Saran
1. Bagi yang belum terinfeksi virus HIV/AIDS sebaiknya :
a. Belajar agar dapat mengendalikan diri.
b. Memiliki prinsip hidup yang kuat untuk berkata TIDAK
terhadap segala jenis yang mengarah kepada narkoba dan
psikotropika lainnya.
c. Membentengi diri dengan agama;
d. Menjaga keharmonisan keluarga karena pergaulan bebas sering
kali menjadi pelarian bagi anak anak yang depresi.
2. Bagi penderita HIV/AIDS sebaiknya :
a. Memberdayakan diri terhadap HIV/AIDS;
b. Mencoba untuk hidup lebih lama;
c. Mau berbaur dengan orang disekitarnya/lingkungan;
d. Tabah dan terus berdoa untuk memohon kesembuhan.

DAFTAR PUSTAKA

Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta:


penerbit buku Kedokteran EGC

http://wadung.wordpress.com/2010/03/23/makalah-hiv-aids/

http://dwihandra089.blogspot.com/2012/12/askep-aids.html