Anda di halaman 1dari 4

Penyakit Kulit karena virus terdiri atas:

1. Varisela
2. Herpes Zoster
3. Herpes Simpleks
4. Variola
5. Veruka
6. Kondiloma Akuminatum
7. Moluskum Kontagiosum
Herpes Zoster
Disebabkan infeksi virus varisela zoster (VZV) yang menyebabkan infeksi primer akut pada
kulit dan mukosa, lesi vesikel berkelompok sepanjang persarafan sensorik kulit sesuai
dermatom. Hal ini merupakan reaktivasi (shingles) virus setelah infeksi primer.
Patogenesis
Virus berdiam di ganglion radiks posterior susunan saraf tepi dan dan ganglion kranialis, pada
20 % dari orang yang terinfeksi sebelumnya, virus bergerak menuruni akson untuk
menimbulkan lesi reaktivasi pada dermatom tersebut (shingles). Kelainan kulit yang timbul
memberi lokasi setingkat dengan daerah persarafan ganglion tersebut. Kadang virus
menyerang ganglion anterior, bagian motorik kranialis sehingga memberi gangguan motorik.
Gejala Klinis
Sebelum timbul gejala kulit, terdapat gejala prodromal baik sistemik (demam, pusing,
malaise), maupun lokal (nyeri otot-tulang, gatal, pegal, dll), terdapat juga neuralgia.
Kemudian timbul eritem, (dalam waktu singkat) menjadi vesikel berkelompok dengan dasar
kulit eritem dan edema. Vesikel berisi darah (herpes zoster hemoragik). Dapat pula timbul
infeksi sekunder sehingga menimbulkan ulkus dengan penyembuhan berupa sikatrik.
Masa tunas 7-12 hari, masa aktif penyakit (lesi yang timbul) selama 1 minggu. Masa
resolusi 1-2 minggu. Daerah torakal sering terkena, walaupun daerah lain tidak jarang.
Selain kulit, terdapat pembesaran kelenjar getah bening regional. Lokalisasi penyakit
unilateral dan bersifat dermatomal. Pada susunan saraf tepi, jarang timbul kelainan motorik
tapi susunan saraf pusat bisa terjadi infeksi.
Gambaran Histopatologi
Vesikel unilokular, biasanya pada stratum granulosum, kadang subepidermal. Yang penting
temuan sel balon (sel stratum spinosum yang mengalami degenerasi dan membesar), juga
badan inklusi lipschutz (tersebar dalam inti sel epidermis, dalam jaringan ikat dan endotel
pembuluh darah). Dermis: dilatasi pembuluh darah dan sebukan limfosit.

Hiperestesi, pada daerah yang terkena memberi gejala khas. Kelainan pada muka akibat
gangguan n. trigeminus (dengan ganglion gasseri) atau n. fasialis dan otikus (dari ganglion
genikulatum)
Herpes Zoster Oftalmikus disebabkan infeksi cabang pertama n. trigeminus, sehingga
menimbulkan kelainan pada mata berupa fotofobia, banyak keluar air mata, kelopak mata
bengkak dan sukar dibuka. Selain itu pada cabang kedua dan ketiga menyebabkan kelainan
kulit pada daerah persarafannya.
Herpes Zoster Frontalis terdapat pada wajah yang dipersarafi n. trigeminus cabang atas
Sindrom Ramsay Hunt diakibatkan oleh gangguan n. fasialis dan otikus, sehingga memberi
gejala paralisis otot muka (paralisis bell), kelainan kulit yang sesuai dengan tingkat
persarafan, tinnitus, vertigo, gangguan pendengaran, nistagmus dan nausea, juga gangguan
pengecapan.
Herpes Zoster Torakalis bila menyerang saraf interkostal.
Herpes Zoster Abdominalis/Lumbalis bila menyerang daerah lumbal.
Herpes Zoster Abortif, penyakit ini berlangsung dalam waktu singkat dan kelainan kulitnya
hanya berupa beberapa vesikel dan eritem
Herpes Zoster Generalisata kelainan kulitnya unilateral dan segmental ditambah kelainan
kulit yang menyebar secara generalisata berupa vesikel yang soliter dan ada umbilikasi,
biasanya pada orang tua atau orang dengan fisik lemah, misal penderita limfoma malignum.
Neuralgia Pasca Herpetik adalah rasa nyeri yang timbul pada daerah bekas penyembuhan
lebih dari sebulan setelah penyakit sembuh, dapat hilang spontan bahkan dapat berlangsung
beberapa bulan bahkan bertahun-tahun dengan gradasi nyeri bervariasi. Kejadian cenderung
pada orang berusia >40 tahun dengan herpes zoster. Berhubungan dengan peningkatan
kejadian risiko bunuh diri
Pembantu Diagnosis
Dengan pemeriksaan Tzanck ditemukan sel datia berinti banyak.
Diagnosis Banding
1. Herpes simpleks
2. Varisela: lesi bersifat sentrifugal, selalu disertai demam
3. Pada nyeri (gejala prodromal), sering dianggap penyakit reumatik, angina pectoris
(jika nyeri setinggi jantung)
Komplikasi
Pada penderita tanpa defisiensi imun biasanya tanpa komplikasi, dan sebaliknya. Vesikel
sering menjadi ulkus dengan jaringan nekrotik.

Komplikasi pada Herpes zoster oftalmikus, diantaranya ptosis paralitik, keratitis, skleritis,
uveitis, korioretinitis, dan neuritis optik
Neuralgia Pasca Herpetik cenderung pada orang berusia >40 tahun dengan herpes zoster,
risiko bertambah pada penderita usia makin tua.
Paralitis motorik terdapat pada 1-5% kasus, terjadi akibat penjalaran virus secara per
kontinuitatum dari ganglion sensorik ke sistem saraf yang berdekatan. Biasanya muncul
dalam 2 minggu sejak awitan munculnya lesi. Biasanya di muka, diafragma, batang tubuh,
ekstremitas, vesika urinaria, dan anus. Umumnya sembuh spontan. Infeksi juga menjalar ke
dalam misal paru, hepar, dan otak.
Pengobatan
Terapi sistemik bersifat simtomatik. Nyeri diberikan analgetik. Jika terdapat infeksi
sekunder diberi antibiotik.
indikasi obat antiviral (asiklovir, valasiklovir) ialah herpes zoster oftalmikus dan pasien
dengan defisiensi imun. Obat terbaru famsiklovir dan pensiklovir 3250 mg/hari selama tiga
hari pertama sejak lesi muncul.
Dosis asiklovir 5800 mg/hari selama 7 hari, valasiklovir 31000 mg/hari. Jika lesi masih
ada, bisa diteruskan dan dihentikan sesudah 2 hari sejak lesi baru tidak timbul lagi.
Untuk neuralgia pasca herpetik dapat dicoba akupungtur.
Menurut FDA, obat nyeri neuropatik pada neuropati perifer diabetic dan neuralgia pasca
herpetik ialah pregabalin, dosis awal 275 mg/hari, setelah 3-7 hari bila respon kurang
dapat dinaikkan 2150 mg/hari. Dosis maksimum 600 mg/hari. Efek samping dizziness dan
somnolen yang menghilang sendiri. Obat lain, anti depresi tetrasiklik (nortriptilin,
amitriptilin), menghilangkan nyeri 44-67% kasus. Efek samping gangguan jantung, sedasi
dan hipotensi.
Dosis awal amitriptilin 75 mg/hari, ditinggikan sampai awal terapeutik, antara 150-300
mg/hari. Dosis nortriptilin ialah 50-150 mg/hari.
Indikasi kortikosteroid untuk Sindrom Ramsay Hunt harus dilakukan sedini mungkin
(menghindari paralisis). Prednison 320 mg/hari, setelah seminggu dosis diturunkan
bertahap. Dosis tinggi tersebut bisa menekan imun sehingga lebih baik dibarengi antiviral
untuk mencegah fibrosis ganglion.
Pemakaian topikal tergantung stadiumnya. Stadium vesikel diberi bedak (mencegah
pecahnya vesikel agar tidak terjadi infeksi sekunder). Bila erosive beri kompres terbuka.
Kalau terjadi ulserasi dapat diberi salap antibiotik.
Prognosis
Umumnya baik, pada herpes zoster oftalmikus. Prognosis bergantung pada tindakan
perawatan dini

Artikel Terkait Diatas


Beberapa Aspek Khusus Fungsi Somato-Sensorik (kategori Sistem Saraf)
Referensi
Djuanda A, dkk. 2007. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi Kelima (cetakan Kelima,
2010). Jakarta : Balai Penerbit FKUI
Siregar R. S., 1995. Atlas Berwarna-Saripati Penyakit Kulit. Jakarta : EGC