Anda di halaman 1dari 10

Vol.14 No.1. Februari 2013

Jurnal Momentum

ISSN : 1693-752X

Perencanaan Teknis Drainase Kawasan Kasang Kecamatan Batang Anai Kabupaten Padang Pariaman

Ir. Syofyan. Z , MT*, Kisman** * Staf Pengajar FTSP – ITP ** Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil FTSP Institut Teknologi Padang Jl. Gajah Mada, Kandis nanggalo, Padang babe.syofyan@gmail.com

INTISARI

Drainase merupakan bangunan air yang berfungsi untuk mengurangi dan atau membuang kelebihan air dari suatu kawasan atau lahan, sehingga lahan dapat difungsikan secara optimal. Diurut dari hulunya, bangunan sistem drainase terdiri dari saluran penerima, saluran pengumpul, saluran pembawa, saluran induk dan badan air penerima. Untuk menjaga keseimbangan antara aliran permukaan (Run Off) dengan peresapan (hifiltrasi) akibat perubahan tata guna lahan serta drainase yang ada terabaikan, maka penampang drainase yang tidak mampu lagi menampung besarnya debit banjir sehingga luapan air ke daerah-daerah perkampungan tidak dapat dihindari lagi. Dengan demikian untuk mengatasi permasalahan diatas, maka Penulis sangat tertarik membahas masalah ini sebagai tugas akhir dengan judul “Perencanaan Teknis Drainase Kawasan Kasang Kecamatan Batang Anai Kabupaten Padang Pariaman”. Adapun maksud dari perencanaan teknis drainase kawasan Kasang ini adalah untuk membuat rencana rinci saluran drainase sekunder dan tersier kawasan kasang serta meningkatkan daerah kawasan dalam pengembangan pembangunan wilayah. Sedangkan tujuannya adalah untuk mendapatkan gambaran perencanaan yang konkrit dan lengkap, dengan kapasitas penampang saluran yang mampu mengalirkan debit banjir rencana agar kawasan kasang aman dari bahaya banjir sehingga perekonomian menjadi lancar dan dapat meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat.

Kata Kunci: Perencanan Teknis, Drainase

86

Vol.14 No.1. Februari 2013

Jurnal Momentum

ISSN : 1693-752X

1.

Pendahuluan

Kawasan Kasang Kecamatan Batang Anai Kabupaten Padang Pariaman terletak diperbatasan Kota Padang dengan Kabupaten Padang Pariaman yang sebagian besar merupakan daerah dataran rendah dan rawa, mempunyai beberapa drainase yang bermuara ke Batang Anai dan selanjutnya ke pantai barat atau lautan Indonesia. Banjir sudah menjadi langganan didaerah ini, bila turun hujan terus menerus selama 1 atau 2 hari maka perkampungan kasang sudah digenangi banjir, menurut informasi masyarakat setempat banjir yang cukup besar terjadi 3 sampai dengan 4 kali setahun dengan ketinggian air genangan 0.50 m diatas permukaan tanah.

Berbagai upaya dan kegiatan yang berkaitan dengan penanggulangan banjir sudah dimulai sejak beberapa repelita, namun kawasan ini tidak luput juga dari banjir, dengan adanya pengembangan Kota Padang ke arah utara atau perbatasan Kota Padang dengan Kabupaten Padang Pariaman dan telah dibangunnya beberapa fasilitas umum seperti Bandara dan Pasar Grosir, maka kawasan ini mendapat perhatian untuk pengembangan wilayah, salah satunya perlu penanggulangan banjir agar masyarakat yang didaerah ini menjadi aman dan tentram dari bahaya banjir. Pesatnya pembangunan yang dilaksanakan baik bersifat permanen maupun temporer yang dibangun oleh masyarakat maupun developer perumahan dan pabrik dikawasan kasang mengakibatkan terjadinya gejala penurunan fungsi keseimbangan antara aliran permukaan (Run Off) dengan peresapan (hifiltrasi) akibat perubahan tata guna lahan serta drainase yang ada terabaikan, maka penampang drainase yang tidak mampu lagi menampung besarnya debit banjir sehingga luapan air ke daerah-daerah perkampungan tidak dapat dihindari lagi.

87 86

BATASAN MASALAH

Dalam penelitian ini penulis membatasi ruang lingkup tentang Perencanaan Teknis Drainase Kawasan Kasang Kecamatan Batang Anai Kabupaten Padang Pariaman berupa masalah perencanaan dimensi saluran drainase sekunder dan dimensi saluran drainase tersier.

2.

METODOLOGI

ANALISA HUJAN Data hujan yang diperoleh dari alat penakar hujan merupakan hujan yang terjadi hanya padasatu tempat atau titik saja. Mengingat hujan sangat bervariasi terhadap tempat,maka untuk kawasan yang luas satu alat penakar hujan belum dapat menggambarkan hujan wilayah tersebut. Dalam hal ini diperlukan hujan kawasan yang diperoleh dari harga rata-rata curah hujan beberapa stasiun penakar hujan yang ada di dalam kawasan tersebut. Ada tiga macam cara yang umum dipakai dalam menghitung hujan rata-rata kawasan :

1) Rata-rata Aljabar

Merupakan metode yang paling sederhana dalam perhitungan hujan kawasan. Metode ini didasarkan pada asumsi bahwa semua penakar hujan mempunyai pengaruh yang setara. Cara ini cocok untuk kawasan dengan topografi rata atau datar, alat penakar tersebut merata / hampir merata dan harga individual curah hujan tidak terlalu jauh dari harga rata- ratanya. Hujan kawasan diperoleh dari persamaan

2) Metode Poligon Thiessen Metode ini dikenal juga sebagai metode rata-rata timbang. Cara ini memberikan proporsi luasan daerah pengaruh pos penakar hujan untuk mengakomodasi ketidak seragaman jarak. Prosedur penerapan metode ini meliputi langkah-langkah sebagai berikut :

Lokasi pos penakar hujan diplot pada peta DAS, antara pos penakar dibuat garis lurus penghubung

Vol.14 No.1. Februari 2013

Jurnal Momentum

ISSN : 1693-752X

Tarik garis tegak lurus di tengah-tengah tiap garis penghubung sedemikian rupa, sehingga membentuk poligon thiessen. Semua titik dalam satu poligon akan mempunyai jarak terdekat dengan pos penakar yang ada di dalamnya dibandinkan dengan jarak terhadap pos lainnya. Selanjutnya curah hujan pada pos tersebut dianggap representasi hujan pada kawasan dalam poligon yang bersangkutan.

Luas areal pada tiap-tiap poligon dapat diukur dengan planimeter dan luas total DAS dapat diketahui dengan menjumlahkan semua luasan poligon

Hujan rata-rata Das dapat dihitung dengan persamaan berikut :

R

A

1

.

R

1

A

2

.

R

2

A

n

.

R

n

 

A

1

A

2

A

n

Dimana :

 

R

: Curah hujan daerah rata-rata

: Jumlah pos curah hujan

R1,

R2

Rn

: Curah hujan ditiap titik pos

A1, A2

An

Curah hujan : Luas daerah Thiessen yang

n

mewakili titik pos curah hujan

3) Metode Isohyet

Metode Isohyet terdiri dari beberapa langkah sebagai berikut :

Plot data kedalaman air hujan untuk tiap- tiap pos penakar hujab pada peta

Gambar kontur kedalaman air hujan dengan menghubungkan titik-titik yang mempunyai kedalaman air yang sama. Interval isohyet yang umum dipaki adalah 10 mm

Hitung luas area antara dua garis isohyet dengan menggunakan planimeter. kalikan masing-masing luas areal dengan rata-rata hujan antara dua isohyet yang berdekatan.

Cara Memilih Metode

1)

Jaring-jaring pos penakar hujan

Jumlah pos penakar hujan cukup Metode isohyet, Thiessen atau rata-rata aljabar

dapat dipakai.

Jumlah pos penakar hujan terbatas Metode rata-rata aljabar atau thiessen

Pos penakar hujan tunggal Metode hujan titik

2)

Luas DAS

DAS besar ( Metode isohyet.

5000 Km2 ) yang digunakan

Das

digunakan Metode thiessen

DAS kecil ( 500 km2) rata-rata aljabar

sedang

(

500

s/d

5000

km2

)

yang

yang digunakan Metode

3)

Topografi DAS

Pegunungan

Dataran

Berbukit dan tidak beraturan (Metode isohyet)

(Metode rata-rata aljabar) (Metode thiessen)

Analisa Frekuensi dan Probalitas

Dalam ilmu stastik dikenal beberapa macam distribusi frekuensi dan empat jenis distribusi yang banyak digunakan dalam bidang hidrologi adalah :

1) Distribusi normal 2) Distribusi Log Normal 3) Distribusi Log Person III 4) Distribusi Gumbel

Uji Kecocokan

Pengujian parameter yang sering dipakai adalah

1)

Uji Chi Kuadrat

X

2

K

i 1

(

Ef

Of

)

Ef

X² = Harga chi- kuadrat

87 88

Vol.14 No.1. Februari 2013

Jurnal Momentum

ISSN : 1693-752X

Ef = Frekuensi yang diharapkan untuk kelas i

Of

= Frekuensi terbaca pada kelas i

saluran diisi oleh air. Pada aliran tertutup permukaan air secara langsung tidak dipengaruhi

K

= Banyaknya kelas.

oleh tekanan udara luar, kecuali hanya oleh tekanan hidraulik yang ada dalam aliran saja.

Analisis Intensitas Hujan

Intensitas hujan adalah tinggi atau kedalaman air hujan per satuan waktu.Sifat umum hujan adalah makin singkat hujan berlangsung intensitasnya cenderung makin tinggi dan makin besar periode ulangnya makin tinggi pula intensitasnya

Debit Banjir Rencana

Menganalisis debit banjir rencana drainase

perkotaan dengan waktu konsentrasi yang relatif pendek, digunakan rumus metode rasional :

Q

=

0,278 . C . I . A

Q

= Debit Rencana (m 3 /detik)

C

= Koefisien pengaliran/limpasan

I

= Intensitas hujan (mm/jam)

A

= Luas daerah pengaliran (km 2 )

hujan (mm/jam) A = Luas daerah pengaliran (km 2 ) Analisa Hidrolika Aliran air dalam suatu

Analisa Hidrolika

Aliran air dalam suatu saluran dapat

berupa aliran saluran terbuka (open channel flow) dan saluran tertutup (pipe flow). Pada aliran saluran terbuka terdapat permukaan air yang bebas, yang dipengaruhi oleh tekanan udara luar secara langsung. Sedangkan pada aliran tertutup tidak terdapat permukaan yang bebas, oleh karena seluruh

88 89

Flow Chart Perencanaan Saluran Drainase

karena seluruh 88 89 Flow Chart Perencanaan Saluran Drainase 3. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisa Curah Hujan

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisa Curah Hujan Rencana Pengambilan data curah hujan dilakukan pada stasiun penangkar hujan yang terdekat, yaitu stasiun penangkar hujan Batang Kasang, Ulakan Tapakis dan Tabing, pengambilan data selama 20 tahun dengan priode pencatatan mulai tahun 1985 sampai dengan tahun 2005, Perhitungan dilakukan dengan mencari nilai rata-rata curah hujan maksimum dari 3 (tiga) Stasiun pada hari pencatatan yang sama. Adapun salah satu contoh perhitungan dari metode aritmatika adalah :

Curah hujan Stasiun Tabing = 130 Curah hujan Stasiun Kasang = 299

Vol.14 No.1. Februari 2013

Jurnal Momentum

ISSN : 1693-752X

Curah hujan Stasiun Ulakan = 148 ( 130 + 299 + 148 ) / 3 = 192 Selanjutnya perhitungan curah hujan areal mengunakan metode aritmatika akan ditunjukan akan ditunjukan pada table berikut :

akan ditunjukan akan ditunjukan pada table berikut : Curah Metode Aritmetik Hujan Maksimum berdasarkan 90 89

Curah

Metode Aritmetik

Hujan

Maksimum

berdasarkan

berikut : Curah Metode Aritmetik Hujan Maksimum berdasarkan 90 89 Perhitungan Parameter Distribusi Pearson Tipe III

90 89

Perhitungan Parameter Distribusi Pearson Tipe

III

90 89 Perhitungan Parameter Distribusi Pearson Tipe III Perhitungan parameter-parameter statistik untuk distribusi

Perhitungan parameter-parameter statistik untuk distribusi Pearson Type III berdasrkan tabel adalah :

Nilai rata – rata (mean) :

 X 3924 X = = = 196,20 mm n 20  Deviasi standar :
X 3924
X =
=
= 196,20 mm
n 20
 Deviasi standar :
2
 
X
 X
S
=
 n 
1
62.975,20
20
 1
=

Vol.14 No.1. Februari 2013

= 57,572

Koefisien variasi :

Cv

S

57,572 = 0,293

= X

= 196,20

Koefisien kemencengan :

Jurnal Momentum

ISSN : 1693-752X

Dari hasil analisis jangka panjang (untuk interval ulang 20 tahun) debit banjir maksimum = 3,989 m 3 /det. Untuk efisiensi maka perhitungan debit banjir disajikan dalam bentuk tabel berikut :

   3 n X  X Cs  =  3 n 
3
n
X
X
Cs
=
3
n
1

n
2 S
20
4.034.016,72
=
19
18
57,572
 3
80.680.334.40 = 1,236
=
65.261.951,50
Koefisien ketajaman :
4
2
n
X
X
Ck =
n
1

n
2

n
3 S
4
2
20
563.182.296,54
=
19
18
17
57,572
 4

` = 3.53

Dari hasil analisis data diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa distribusi yang memenuhi syarat adalah distribusi Log Pearson III.

Analisa Debit Banjir Rencana

Untuk analisis debit puncak dapat dipakai rumus metode rational sebagai berikut :

puncak dapat dipakai rumus metode rational sebagai berikut : = 0,278 . c . I .

= 0,278 . c . I . A

Untuk daerah kawasan kasang pengunaan lahan analisis debit banjir puncak adalah

berdasarkan tabel 4.7, sedangkan untuk daerah yang diteliti adalah sebagai berikut :

Luas Area (A)

Koefesien pengaliran (c) = 0.70 (tabel 4.6) Intensitas (I) = 113.88 mm/jam (perhitungan sebelumnya)

= 0,1800 km 2

Analisa Hidrolika

a) Hidrolika Saluran

Rumus kecepatan rata-rata pada perhitungan

dimensi penampang saluran menggunakan rumus Manning. Untuk penampang saluran trapesium yang paling ekonomis adalah kemiringan dinding

saluran α = 60 0 = 1 : m, dengan m = 2 perbandingan lebar saluran (b) dan tinggi air

(h)

Penampang saluran trapesium

90 91

Vol.14 No.1. Februari 2013

Jurnal Momentum

ISSN : 1693-752X

        





 
Kekasaran manning (n)
Kemiringan dasar saluran (s)
Kecepatan aliran (V)
:
0,012
: 0.003
:
1,524

Maka luas penampang saluran adalah :

A

Q

3,989

V 1.5 2 A  2,659 m (luas penampang saluran) Untuk α = 60 0
V
1.5
2
A  2,659 m
(luas penampang saluran)
Untuk α = 60 0 ,
h
 0,76 A
 0,76 2,659
h
= 1,239 ≈ 1,25 m
b
 0,877 A  0 ,877
2,659
b
= 1,43 ≈ 1,45 m
2
A
2,5 h
R
0,543 h
P
4,606 h

R 0,543h

R 0,543x1,25

R 0,68

Dengan

demikian

didapatkan

data

dimensi

saluran adalah sebagai berikut :

 

Debit banjir rencana (Q)= 2,571 m 3 /det Lebar saluran (b) Tinggi saluran (h) Tinggi jagaan (w) Tinggi total saluran (H)

= 1,15 m = 1,00 m = 0,25 m = 1,25 m

Kecepatan aliran (V)

= 1,524 m/det

Kemiringan dasar saluran (S)

 

= 0,003

Untuk penampang saluran type II :

Q.2

=

0,278 c . I . A

Dimana :

Koefesien pengaliran (c) = 0,70 Intensitas hujan (I) = 113,88 mm/jam Luas area pengaliran (A) = 0.1050 km² Maka debit rencana pada saluran type II

adalah

Q.2 = 0.278 x 0.70 x 113.88 x 0.1000

=

2,216 m 3 /det

Luas penampang saluran (A) yang dibutuhkan adalah :

A

Q 2,216   1,454 m V 1,524 h  0,76 A h  0,76
Q
2,216
 1,454 m
V
1,524
h  0,76 A
h  0,76 1,454

2

h = 0,916 m ≈ 0,95 m

b 0,877 A

h  0,76 1,454 2 h = 0,916 m ≈ 0,95 m b  0,877 A

b 0,877 1,454

b = 1,058 m ≈ 1,10 m

Dengan

saluran adalah sebagai berikut :

Debit banjir rencana (Q.2)

Lebar saluran (b) Tinggi saluran (h) Tinggi jagaan (w) Tinggi total saluran (H) Kecepatan aliran (V) Kemiringan dasar saluran (S)

demikian

didapatkan

data

dimensi

2,216 m 3 /det

=

= 1,10 m = 0,95 m = 0,25 m = 1,20 m = 1,524 m/det. = 0,003.

Untuk penampang saluran type III :

Q3

=

Q.1

+

Q.2

=

2,571 + 2,216

=

4,787

m 3 /det

V

= 1,524.

Luas penampang saluran (A) yang dibutuhkan

adalah :

91 92

h

Q 4,787 2 A    3,141 m V 1,524  0,76 A h
Q
4,787
2
A 
 3,141 m
V
1,524
 0,76 A h  0,76 3,141

h = 1,347 m ≈ 1,40 m

b

3,141 m V 1,524  0,76 A h  0,76 3,141 h = 1,347 m ≈
3,141 m V 1,524  0,76 A h  0,76 3,141 h = 1,347 m ≈

0,877 A b 0,877 3,141

Vol.14 No.1. Februari 2013

Jurnal Momentum

ISSN : 1693-752X

b = 1,554 m ≈ 1,60 m

Dengan

saluran adalah sebagai berikut :

demikian

didapatkan

data

dimensi

Debit banjir rencana (Q)

=

4,787 m 3 /det

1,65 m

Lebar saluran (b) Tinggi saluran (h) Tinggi jagaan (w) Tinggi total saluran (H)

= 1,60 m = 1,40 m = 0,25 m =

Kecepatan aliran (V) m/det. (dari tabel terlampir) Kemiringan dasar saluran (S) = 0,003. (hasil analisis)

Untuk penampang saluran type IV :

Q.4

Dimana :

=

0,278 c . I . A

= 1,524

Kecepatan aliran (V) m/det. (dari tabel terlampir) Kemiringan dasar saluran (S) = 0,003. (hasil analisis)

= 1,524

Rekapitulasi analisis debit banjir rencana

analisis) = 1,524 Rekapitulasi analisis debit banjir rencana Untuk penampang saluran type V : Koefesien pengaliran

Untuk penampang saluran type V :

Koefesien pengaliran (c) = 0,70

Q5

=

Q.3 +

Q.4

Intensitas hujan (I)

= 113,88 mm/jam

= 4,787 + 1,773

Luas area pengaliran (A) = 0.095 km²

 

= 6,560 m 3 /det

V

= 1,524. (dari tabel terlampir)

Maka debit rencana pada saluran type IV adalah

:

Q.4 =

0.278 x 0.70 x 113,88 x 0.080

=

1,773 m 3 /det

Luas penampang saluran (A) yang dibutuhkan adalah :

A

Q

1,773

V

1,524

saluran)

1,163 m

2

h

0,76 A

h  0,76 A h  0,76 1,163

h

0,76 1,163

h

= 0,820 m ≈ 0,85 m

A
A

b

0,877

b

0,877 1,163

b

= 0,946 m ≈ 0,95 m

(luas penampang

Dengan

saluran sebagai berikut :

Debit banjir rencana (Q) Lebar saluran (b)

demikian

didapatkan

=

data

dimensi

1,773 m 3 /det

=

0,95

m

Tinggi saluran (h)

=

0,85

m

Tinggi jagaan (w)

=

0,25

m

Tinggi total saluran (H)

= 1,10 m

93

92

Penampang saluran yang dibutuhkan adalah :

A

Q 6,560   4,304 m V 1,524 h  0,76 A h  0,76
Q
6,560
 4,304 m
V
1,524
h  0,76 A
h  0,76 4,304

2

h = 1,577 m ≈ 1,60 m

b  0,877 A b  0,877 4,304
b  0,877
A
b  0,877 4,304

b = 1,819 m ≈ 1,85 m

Dengan

demikian

didapatkan

data

dimensi

saluran

sebagai berikut :

 

Debit banjir rencana

(Q)

= 6,560 m 3 /det Lebar saluran

(b)

= 1,850 m Tinggi saluran

(h)

= 1,60 m Tinggi jagaan

(w)

= 0,25 m Tinggi total saluran

(H)

= 1,85 m Kecepatan aliran

(V)

= 1,524 m/det. (dari tabel terlampir)

Vol.14 No.1. Februari 2013

Jurnal Momentum

ISSN : 1693-752X

Kemiringan dasar saluran (S) = 0,003. analisis) (hasil  Penampang saluran sekunder type V, sepanjang
Kemiringan dasar saluran (S) = 0,003.
analisis)
(hasil
Penampang saluran sekunder type V,
sepanjang 881 meter

Perencanaan Dimensi Saluran



 

 
 




 

 









saluran sekunder type V

Pola dan Type Saluran yang digunakan
1. Saluran Sekunder Kawasan Kasang dengan
panjang saluran 1.891 meter.
2. Saluran Tersier Kampung Tanjung dan
Perumahan Kasai Permai, dengan
panjang total mencapai 734 meter.
Penampang saluran Tersier type II,
sepanjang 550 m.

U



Penampang saluran sekunder type I, sepanjang 352 m:

     

 


 


 

 
 





saluran sekunder type I Penampang saluran sekunder type III, sepanjang 658 meter

   




 

 
 

 
 





saluran sekunder type III

i)

Penampang saluran Tersier type II, sepanjang 550 m.

    




 

 
 

 
 





saluran tersier type II

ii) Penampang saluran Tersier type IV, sepanjang 450 m.

    




 

 
 

 
 





93 94

Vol.14 No.1. Februari 2013

Jurnal Momentum

ISSN : 1693-752X

saluran tersier type IV

4. KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN

1. Berdasarkan perhitungan perencanaan dari hasil analisis jangka panjang untuk interval 20 tahun debit banjir maksimum didapatkan Q = 3,989 m³/detik

2. Perencanan Drainase kawasan

Kasang terdiri dari saluran sekunder dan saluran tersier, masing-masing diperoleh dimensi sebagai berikut :

Saluran sekunder type I, dengan lebar saluran (b) : 1,15 m, tinggi saluran (h) : 1,00 m, tinggi jagaan (w) = 0,25 m,

Saluran sekunder type II, dengan lebar saluran (b) : 1,60 m, tinggi saluran (h) : 1,40 m, tinggi jagaan (w) = 0,25 m,

Saluran sekunder type V, dengan lebar saluran (b) : 1,85 m, tinggi saluran (h) : 1,60 m, tinggi jagaan (w) = 0,25 m,

Saluran tersier type II, dengan lebar saluran (b) : 1,10 m, tinggi saluran (h) : 0,95 m, tinggi jagaan (w) = 0,25 m,

Saluran tersier type IV, dengan lebar saluran (b) : 0,95 m, tinggi saluran (h) : 0,85 m, tinggi jagaan (w) = 0,25 m,

3. Gambar perencanaan teknis drainase kawasan Kasang yang terdiri dari dimensi saluran sekunder dan saluran tersier terlampir.

.

SARAN

Perlu adanya pengawasan yang ketat terhadap operasi dan pemeliharaan drainase secara kontinu

Perlu adanya pengamanan dan perawatan serta perbaikan terhadap drainase rutinitas

95 94

5. KEPUSTAKAAN

Hindarko, S. 1997. “Drainase Perkotaan”. Jakarta : Gunadarma

Harto, Sri. 1993. “Analisis Hidrologi”. Jakarta :

Gramedia Pustaka Utama

Soewarno. “Hidrologi” jilid I dan II. Bandung :

Nova Sosrodarsono, Suyono. Takeda,Kensaku,Ir. 1978. “Hidrologi dan Pengairan”. Jakarta : PT. Pradya Pratama

Suryawan, Ari, Ir. 2002. “Analisis Hidrologi dan Hidrolika Disain Drainase Jalan”. Jogyakarta : UGM Press.

Sukarto,

Haryono,

Ir.

Msi.

1999.

“Drainase

Perkotaan”.

Departemen

Pekerjaan

Umum

:

Jakarta