Anda di halaman 1dari 36

PERCOBAAN 3

Penentuan Kadar Oksigen Terlarut, Salinitas, Resistivitas, Petensial Reduksi


Oksidasi (ORP), Serta Ph Peraiaran

I.

Tujuan Percobaan
1. Mahasiswa mampu menggunakan HQd Portable meter

untuk

penentuan kadar oksigen terlarut, ORP, dan pH perairan.


2. Mahasiswa memahami keterkaitan antara kadar oksigen terlarut, ORP,
dan pH perairan.

II.

Dasar Teori
2.1 Air
A. Pengertian Air
Air adalah zat atau materi atau unsur yang penting bagi semua bentuk

kehidupan yang diketahui sampai saat ini di bumi, tetapi tidak di planet lain. Air
menutupi hampir 71% permukaan bumi. Terdapat 1,4 triliun kubik (330 juta mil)
tersedia di bumi.Air merupakan satu-satunya zat yang secara alami terdapat di
permukaan bumi dalam ketiga wujudnya tersebut. Air sebagai materi esensial
dalam kehidupan tampak dari kebutuhan terhadap air untuk keperluan sehari-hari
di lingkungan rumah tangga ternyata berbeda-beda di setiap tempat, setiap
tingkatan kehidupan atau setiap bangsa dan negara. Semakin tinggi taraf
kehidupan seseorang semakin meningkat pula kebutuhan manusia akan air.
Jumlah penduduk dunia setiap hari bertambah, sehingga mengakibatkan jumlah
kebutuhan air.
Bagi manusia kebutuhan akan air sangat mutlak karena sebenarnya zat
pembentuk tubuh manusia sebagian besar terdiri dari air yang jumlahnya sekitar
73% dari bagian tubuh. Air di dalam tubuh manusia berfungsi sebagai pengangkut
dan pelarut bahan-bahan makanan yang penting bagi tubuh. Sehingga untuk
mempertahankan kelangsungan hidupnya manusia berupaya mendapatkan air
yang cukup bagi dirinya. Air merupakan faktor penting dalam pemenuhan

kebutuhan vital bagi mahluk hidup diantaranya sebagai air minum atau keperluan
rumah tangga lainnya. Air yang digunakan harus bebas dari kuman penyakit dan
tidak mengandung bahan beracun. Sumber air minum yang memenuhi syarat
sebagai air baku air minum jumlahnya makin lama makin berkurang sebagai
akibat ulah manusia sendiri baik sengaja maupun tidak disengaja.
B. Standard Kualitas Air
Dengan adanya standard kualitas air, orang dapat mengukur kualitas dari
berbagai macam air. Setiap jenis air dapat diukur konsentrasi kandungan unsur
yang tercantum didalam standard kualitas, dengan demikian dapat diketahui syarat
kualitasnya, dengan kata lain standard kualitas dapat digunakan sebagai tolak
ukur. Standard kualitas air bersih dapat diartikan sebagai ketentuan-ketentuan
berdasarkan Permenkes RI No. 416/MENKES/PER/IX/1990 yang biasanya
dituangkan dalam bentuk pernyataan atau angka yang menunjukkan persyaratan
persyaratan yang harus dipenuhi agar air tersebut tidak menimbulkan gangguan
kesehatan, penyakit, gangguan teknis, serta gangguan dalam segi estetika.
Peraturan ini dibuat dengan maksud bahwa air yang memenuhi syarat
kesehatan mempunyai peranan penting dalam rangka pemeliharaan, perlindungan
serta mempertinggi derajat kesehatan masyarakat. Dengan peraturan ini telah
diperoleh landasan hukum dan landasan teknis dalam hal pengawasan kualitas air
bersih. Demikian pula halnya dengan air yang digunakan sebagai kebutuhan air
bersih sehari-hari, sebaiknya air tersebut tidak berwarna, tidak berasa, tidak
berbau, jernih, dan mempunyai suhu yang sesuai dengan standard yang ditetapkan
sehingga menimbulkan rasa nyaman. Jika salah satu dari syarat tersebut tidak
terpenuhi maka besar kemungkinan air itu tidak sehat karena mengandung
beberapa zat kimia, mineral, ataupun zat organis/biologis yang dapat mengubah
warna, rasa, bau, dan kejernihan air. Untuk standart kualitas air secara global
dapat digunakan Standar Kualitas Air WHO. Sebagai organisasi kesehatan
internasional, WHO juga mengeluarkan peraturan tentang syarat-syarat kulaitas
air bersih yaitu meliputi kualitas fisik, kimia dan biologi. Peraturan yang
ditetapkan oleh WHO tersebut digunakan sebagai pedoman bagi Negara anggota.
Namun demikian masing-masing negara anggota, dapat pula menetapkan syarat
syarat kualitas air sesuai dengan kondisi negara tersebut.

C. Syarat Biologis Air


Sumber-sumber air di alam pada umumnya mengandung bakteri, baik air
angkasa, air permukaan, maupun air tanah. Jumlah dan jenis bakteri berbeda
sesuai dengan tempat dan kondisi yang mempengaruhinya. Penyakit yang
ditransmisikan melalui faecal material dapat disebabkan oleh virus, bakteri,
protozoa, dan metazoa. Oleh karena itu air yang digunakan untuk keperluan
sehari-hari harus bebas dari bakteri patogen. Bakteri golongan Coli (Coliform
bakteri) tidak merupakan bakteri patogen, tetapi bakteri ini merupakan indikator
dari pencemaran air oleh bakteri patogen. Menurut Permenkes RI No.
416/MENKES/PER/IX/1990, bakteri coliform yang memenuhi syarat untuk air
bersih bukan perpipaan adalah < 50 MPN.
Persyaratan mikrobiologis yang harus dipenuhi oleh air adalah sebagai
berikut:

Tidak mengandung bakteri patogen, missalnya: bakteri golongan coli;


Salmonella typhi, Vibrio cholera dan lain-lain. Kuman-kuman ini mudah
tersebar melalui air.

Tidak

mengandung

bakteri

non

patogen

seperti: Actinomycetes,

Phytoplankton colifprm, Cladocera dan lain-lain.


Kualitas air yang digunakan masyarakat harus memenuhi syarat kesehatan
agar dapat terhindar dari berbagai penyakit maupun gangguang kesehatan yang
dapat disebabkan oleh air. Untuk mengetahui kualitas air tersebut, perlu dilakukan
pemeriksaan laboratorium yang mencakup antara lain pemeriksaan bakteriologi
air, meliputi Most Probable Number (MPN) dan angka kuman.
Adapun Parameter Air Bersih secara Biologi:

Bakteri

Binatang

Tumbuh-tumbuhan

Protista

Virus

2.2 Parameter Pengukuran Air

Dalam mengukur suatu kelayakan air dapat dilakukan dengan beberapa


parameter diantaranya:

1. Konduktivitas listrik

Konduktivitas listrik adalah pengukuran kemampuan suatu larutan

untuk membawa arus listrik. Jika suatu beda potensial listrik ditempatkan pada
ujung-ujung sebuah konduktor ,muatan-muatan bergeraknya akan berpindah,
menghasilkan arus listrik Sedangkan ion adalah suatu atom unsur yang telah
memproleh atau kehilangan elektron yang akan membuat keadaan negatif atau
positif. Sebagai contoh natrium klorida, terdiri dari ion natrium (Na +) dan ion
klorida (Cl-) yang terjadi bersama-sama dalam suatu kristal. Karakteristik sensor
kimia ditentukan dari sejauh mana sensor tersebut memiliki kemampuan yang
baik dalam mengenali zat yang ingin dideteksinya.

Konduktivitas listrik didefinsikan sebagai ratio dari rapat arus

terhadap kuat medan listrik Pada beberapa jenis bahan dimungkinkan terdapat
konduktivitas listrik yang anisotropik.Lawan dari konduktivitas listrik adalah
resistivitas listrik atau biasa disebut sebagai resistivitas saja. Daya hantar listrik
disebut Konduktivitas. Konduktivitas digunakan untuk pengukuran larutan /
cairan

elektrolit.

Konsentrasi

elektrolit

sangat

menentukan

besarnya

konduktivitas. Kemampuan mendeteksi zat tersebut meliputi sensitivitas yang


merupakan ukuran seberapa sensitif sensor mengenali zat yang dideteksinya.
Sensor yang baik akan mampu mendeteksi zat meskipun jumlah zat tersebut
sangat sedikit dibandingkan gas disekelilingnya.
2. Konduktivitas meter digital

Conductivity atau juga sering disebut dengan konduktivitas

merupakan kemampuan dalam menghantarkan listrik oleh suatu benda. Dalam


suatu larutan konduktivitas ini sering dihubungkan dengan kemampuan suatu
larutan dalam menghantarkan listrik yang tentunya sangat bergantung pada
banyaknya ion di dalam larutan tersebut. Point penting yang juga diperhatikan

terhadap alat ukur conductivity meter adalah lakukan verivikasi terhadap


instrument dengan

menggunakan standar solution paling tidak pada rentang dimana alat ini
akan digunakan, karena hampir mirip seperti pH meter dimana komponen
pengukurnya adalah probe / elektroda yang mempunyai sifat sangat
sensitif. Standar conductivity dapat kita temukan di pasaran mulai dari 1
mikrosiemens sampai dengan 112 milisiemens.

Gambar 1. Konduktivitas Meter

Conductivity meter adalah alat untuk mengukur nilai konduktivitas

listrik (specific/electric conductivity) suatu larutan atau cairan. Nilai konduktivitas


listrik sebuah zat cair menjadi referensi atas jumlah ion serta konsentrasi padatan
(Total Dissolved Solid / TDS) yang terlarut di dalamnya. Pengukuran jumlah ion
di dalam suatu cairan menjadi penting untuk beberapa kasus.

Konsentrasi ion di dalam larutan berbanding lurus dengan daya

hantar listriknya. Semakin banyak ion mineral yang terlarut, maka akan semakin
besar kemampuan larutan tersebut untuk menghantarkan listrik. Sifat kimia inilah
yang digunakan sebagai prinsip kerja conductivity meter. Sebuah sistem
conductivity meter tersusun atas dua elektrode, yang dirangkaikan dengan sumber
tegangan serta sebuah ampere meter. Elektrode-elektrode tersebut diatur sehingga
memiliki jarak tertentu antara keduanya (biasanya 1 cm). Pada saat pengukuran,
kedua elektrode ini dicelupkan ke dalam sampel larutan dan diberi tegangan
dengan besar tertentu. Nilai arus listrik yang dibaca oleh ampere meter, digunakan
lebih lanjut untuk menghitung nilai konduktivitas listrik larutan.

3. Oksigen Terlarut (DO)

Oksigen terlarut (Dissolved Oxygen =DO) dibutuhkan oleh semua

jasad hidup untuk pernapasan, proses metabolisme atau pertukaran zat yang
kemudian menghasilkan energi untuk pertumbuhan dan pembiakan. Disamping
itu, oksigen juga dibutuhkan untuk oksidasi bahan-bahan organik dan anorganik
dalam proses aerobik. Sumber utama oksigen dalam suatu perairan berasal sari
suatu proses difusi dari udara bebas dan hasil fotosintesis organisme yang hidup
dalam perairan tersebut. Kecepatan difusi oksigen dari udara, tergantung sari
beberapa faktor, seperti kekeruhan air, suhu, salinitas, pergerakan massa air dan
udara seperti arus, gelombang dan pasang surut.

Kadar oksigen dalam air laut akan bertambah dengan semakin

rendahnya suhu dan berkurang dengan semakin tingginya salinitas. Pada lapisan
permukaan, kadar oksigen akan lebih tinggi, karena adanya proses difusi antara air
dengan udara bebas serta adanya proses fotosintesis. Dengan bertambahnya
kedalaman akan terjadi penurunan kadar oksigen terlarut, karena proses
fotosintesis semakin berkurang dan kadar oksigen yang ada banyak digunakan
untuk pernapasan dan oksidasi bahan-bahan organik dan anorganik Keperluan
organisme terhadap oksigen relatif bervariasi tergantung pada jenis, stadium dan
aktifitasnya. Kebutuhan oksigen untuk ikan dalam keadaan diam relatif lebih
sedikit apabila dibandingkan dengan ikan pada saat bergerak atau memijah. Jenisjenis ikan tertentu yang dapat menggunakan oksigen dari udara bebas, memiliki
daya tahan yang lebih terhadap perairan yang kekurangan oksigen terlarut.

Kandungan oksigen terlarut (DO) minimum adalah 2 ppm dalam

keadaan nornal dan tidak tercemar oleh senyawa beracun (toksik). Kandungan
oksigen terlarut minimum ini sudah cukup mendukung kehidupan organisme.
Idealnya, kandungan oksigen terlarut tidak boleh kurang dari 1,7 ppm selama
waktu 8 jam dengan sedikitnya pada tingkat kejenuhan sebesar 70 % . KLH
menetapkan bahwa kandungan oksigen terlarut adalah 5 ppm untuk kepentingan
wisata bahari dan biota laut. Oksigen memegang peranan penting sebagai
indikator kualitas

perairan, karena oksigen terlarut berperan dalam proses oksidasi

dan reduksi bahan organik dan anorganik. Selain itu, oksigen juga menentukan
khas biologis yang dilakukan oleh organisme aerobik atau anaerobik. Dalam
kondisi aerobik, peranan oksigen adalah untuk engoksidasi bahan organik dan
anorganik dengan hasil akhirnya adalah nutrien yang pada akhirnya dapat
memberikan kesuburan perairan. Dalam kondisi anaerobik, oksigen yang
dihasilkan akan mereduksi senyawa-senyawa kimia menjadi lebih sederhana
dalam bentuk nutrien dan gas. Karena proses oksidasi dan reduksi inilah maka
peranan oksigen terlarut sangat penting untuk membantu mengurangi beban
pencemaran pada perairan secara alami maupun secara perlakuan aerobik yang
ditujukan untuk memurnikan air buangan industri dan rumah tangga.
Sebagaimana diketahui bahwa oksigen berperan sebagai pengoksidasi dan
pereduksi bahan kimia beracun menjadi senyawa lain yang lebih sederhana dan
tidak

beracun.

Disamping

itu,

oksigen

juga

sangat

dibutuhkan

oleh

mikroorganisme untuk pernapasan. Organisme tertentu, seperti mikroorganisme,


sangat berperan dalam menguraikan senyawa kimia beracun rnenjadi senyawa lain
yang Iebih sederhana dan tidak beracun. Karena peranannya yang penting ini, air
buangan industri dan limbah sebelum dibuang ke lingkungan umum terlebih
dahulu diperkaya kadar oksigennya.
4. Analisis Oksigen Terlarut (DO)

Oksigen terlarut dapat dianalisis atau ditentukan dengan 2 macam

cara, yaitu :
1. Metoda titrasi dengan cara WINKLER
2. Metoda elektrokimia

Metoda titrasi dengan cara WINKLER

Metoda titrasi dengan cara WINKLER secara umum banyak

digunakan untuk menentukan kadar oksigen terlarut. Prinsipnya dengan


menggunakan titrasi iodometri. Sampel yang akan dianalisis terlebih dahulu
ditambahkan larutan MnCl2 dan NaOH - KI, sehingga akan terjadi endapan Mn0 2.
Dengan menambahkan H2SO4 atan HCl maka endapan yang terjadi akan larut

kembali dan juga akan membebaskan molekul iodium (I2) yang ekivalen dengan
oksigen

terlarut. Iodium yang dibebaskan ini selanjutnya dititrasi dengan larutan


standar natrium tiosulfat (Na2S203) dan menggunakan indikator larutan
amilum (kanji). Reaksi kimia yang terjadi dapat dirumuskan sebagai
berikut :

MnCl2 + NaOH

Mn(OH)2 + 2 NaCI

2Mn(OH)2 + O2

2 MnO2 + 2 H2O

MnO2 + 2 KI + 2 H2O

Mn(OH)2 + I2 + 2 KOH

I2 + 2 Na2S2C3

Na2S4O6 + 2 NaI

Metoda elektrokimia

Cara penentuan oksigen terlarut dengan metoda elektrokimia

adalah cara langsung untuk menentukan oksigen terlarut dengan alat DO meter.
Prinsip kerjanya adalah menggunakan probe oksigen yang terdiri dari katoda dan
anoda yang direndam dalarn larutan elektrolit. Pada alat DO meter, probe ini
biasanya menggunakan katoda perak (Ag) dan anoda timbal (Pb). Secara
keseluruhan, elektroda ini dilapisi dengan membran plastik yang bersifat semi
permeable terhadap oksigen. Aliran reaksi yang terjadi tersebut tergantung dari
aliran oksigen pada katoda. Difusi oksigen dari sampel ke elektroda berbanding
lurus terhadap konsentrasi oksigen terlarut. Penentuan oksigen terlarut (DO)
dengan cara titrasi berdasarkan metoda WINKLER lebih analitis apabila
dibandingkan dengan cara alat DO meter. Hal yang perlu diperhatikan dalam
titrasi iodometri ialah penentuan titik akhir titrasinya, standarisasi larutan tiosulfat
dan pembuatan larutan standar kaliumbikromat yang tepat. Dengan mengikuti
prosedur penimbangan kaliumbikromat dan standarisasi tiosulfat secara analitis,
akan diperoleh hasil penentuan oksigen terlarut yang lebih akurat. Sedangkan
penentuan oksigen terlarut dengan cara DO meter, harus diperhatikan suhu dan
salinitas sampel yang akan diperiksa. Peranan suhu dan salinitas ini sangat vital
terhadap akurasi penentuan oksigen terlarut dengan cara DO meter. Disamping
itu, sebagaimana lazimnya alat yang digital, peranan kalibrasi alat sangat
menentukan akurasinya hasil penentuan. Berdasarkan pengalaman di lapangan,

penentuan oksigen terlarut dengan cara titrasi lebih dianjurkan untuk mendapatkan
hasil yang lebih akurat. Alat DO meter masih dianjurkan jika sifat penentuannya
hanya bersifat kisaran.
5. Kebutuhan Oksigen Biologi (BOD)

Kebutuhan

oksigen

biologi

(BOD)

didefinisikan

sebagai

banyaknya oksigen yang diperlukan oleh organisme pada saat pemecahan bahan
organik, pada kondisi aerobik. Pemecahan bahan organik diartikan bahwa bahan
organik ini digunakan oleh organisme sebagai bahan makanan dan energinya
diperoleh dari proses oksidasi. Parameter BOD, secara umum banyak dipakai
untuk menentukan tingkat pencemaran air buangan. Penentuan BOD sangat
penting untuk menelusuri aliran pencemaran dari tingkat hulu ke muara.
Sesungguhnya penentuan BOD merupakan suatu prosedur bioassay yang
menyangkut pengukuran banyaknya oksigen yang digunakan oleh organisme
selama organisme tersebut menguraikan bahan organik yang ada dalam suatu
perairan, pada kondisi yang harnpir sama dengan kondisi yang ada di alam.
Selama pemeriksaan BOD, contoh yang diperiksa harus bebas dari udara luar
untuk rnencegah kontaminasi dari oksigen yang ada di udara bebas. Konsentrasi
air buangan/sampel tersebut juga harus berada pada suatu tingkat pencemaran
tertentu, hal ini untuk menjaga supaya oksigen terlarut selalu ada selama
pemeriksaan. Hal ini penting diperhatikan mengingat kelarutan oksigen dalam air
terbatas dan hanya berkisar 9 ppm pads suhu 20C.

Penguraian bahan organik secara biologis di alam, melibatkan bermacammacam organisme dan menyangkut reaksi oksidasi dengan hasil akhir
karbon dioksida (CO2) dan air (H2O). Pemeriksaan BOD tersebut dianggap
sebagai suatu prosedur oksidasi dimana organisme hidup bertindak sebagai
medium untuk menguraikan bahan organik menjadi CO 2 dan H2O. Reaksi
oksidasi selama pemeriksaan BOD merupakan hasil dari aktifitas biologis
dengan kecepatan reaksi yang berlangsung sangat dipengaruhi oleh jumlah
populasi dan suhu. Karenanya selama pemeriksaan BOD, suhu harus
diusahakan konstan pada 20C yang merupakan suhu yang umum di alam.
Secara teoritis, waktu yang diperlukan untuk proses oksidasi yang
sempurna sehingga bahan organik terurai menjadi CO2 dan H2O adalah
tidak terbatas. Dalam prakteknya dilaboratoriurn, biasanya berlangsung
selama 5 hari dengan anggapan bahwa selama waktu itu persentase reaksi
cukup besar dari total BOD.

Nilai BOD 5 hari merupakan bagian dari total BOD dan nilai BOD

5 hari merupakan 70 - 80% dari nilai BOD total. Penentuan waktu inkubasi adalah
5 hari, dapat mengurangi kemungkinan hasil oksidasi ammonia (NH3) yang cukup
tinggi. Sebagaimana diketahui bahwa, ammonia sebagai hasil sampingan ini dapat
dioksidasi menjadi nitrit dan nitrat, sehingga dapat mempengaruhi hasil penentuan
BOD. Oksidasi nitrogen anorganik ini memerlukan oksigen terlarut, sehingga
perlu diperhitungkan. Dalam praktek untuk penentuan BOD yang berdasarkan
pada pemeriksaan oksigen terlarut (DO), biasanya dilakukan secara langsung atau
dengan cara pengenceran. Prosedur secara umum adalah menyesuaikan sampel
pada suhu 20C dan mengalirkan oksigen atau udara kedalam air untuk
memperbesar kadar oksigen terlarut dan mengurangi gas yang terlarut, sehingga
sampel mendekati kejenuhan oksigen terlarut. Dengan cara pengenceran
pengukuran BOD didasarkan atas kecepatan degradasi biokimia bahan organik
yang berbanding langsung dengan banyaknya zat yang tidak teroksidasi pada saat
tertentu. Kecepatan dimana oksigen yang digunakan dalam pengenceran sampel
berbanding lurus dengan persentase sampel yang ada dalam pengenceran dengan
anggaapan faktor lainnya adalah konstan. Sebagai contoh adalah 10 %

pengenceran akan menggunakan sepersepuluh dari kecepatan penggunaan sampel


100%.

Dalam hal dilakukan pengenceran, kualitas aimya perlu diperhatikan dan


secara umum yang dipakai aquades yang telah mengalami demineralisasi.
Untuk analisis air laut, pengencer yang digunakan adalah standard sea
water (SSW). Untuk menentukan BOD, terlebih dahulu diukur DO nya
(DO 0 hari), sementara sampel yang lainnya diinkubasi selama 5 hari pada
suhu 20C, selanjutnya setelah 5 hari diukur DO nya (DO 5 hari). Kadar
BOD ditentukan dengan rumus :

5 x [ kadar { DO(0 hari) - DO (5 hari) }] ppm

Selama penentuan oksigen terlarut, baik untuk DO maupun BOD,


diusahakan seminimal mungkin larutan sampai yang akan diperiksa tidak
berkontak dengan udara bebas. Khusus untuk penentuan BOD, sebaiknya
digunakan botol sampel BOD dengan volume 250 ml dan semua isinya
dititrasi secara langsung.

Berikut ini adalah tabel nilai DO dan BOD untuk tingkat pencemaran
perairan.

Tabel 1. Tingkat Pencemaran Air

Tingkat
Pencemaran

Parameter

DO (ppm)

BOD

Rendah

>5

0-10

Sedang

0-5

10-20

Tinggi

25

6. pH
A. Teori Dasar pH

pH atau derajat keasaman digunakan untuk menyatakan tingkat

keasaaman atau basa yang dimiliki oleh suatu zat, larutan atau benda. pH normal
memiliki nilai 7 sementara bila nilai pH > 7 menunjukkan zat tersebut memiliki
sifat basa sedangkan nilai pH< 7 menunjukkan keasaman. pH 0 menunjukkan
derajat keasaman yang tinggi, dan pH 14 menunjukkan derajat kebasaan tertinggi.
Umumnya indicator sederhana yang digunakan adalah kertas lakmus yang
berubah menjadi merah bila keasamannya tinggi dan biru bila keasamannya
rendah. Selain menggunakan kertas lakmus, indicator asam basa dapat diukur
dengan pH meter yang bekerja berdasarkan prinsip elektrolit/konduktivitas suatu
larutan. Sistem pengukuran pH mempunyai tiga bagian yaitu elektroda
pengukuran pH, elektroda referensi dan alat pengukur impedansi tinggi. Istilah pH
berasal dari "p", lambang matematika dari negative logaritma, dan "H", lambang
kimia untuk unsur Hidrogen. Defenisi yang formal tentang pH adalah negative
logaritma dari aktivitas ion Hydrogen. pH adalah singkatan dari power of
Hydrogen.

pH = -log[H+]

B. Pengertian Derajat keasaman

Untuk memahami pengertian dasar keasaman dibawah ini

diuraikan secara ringkas tentang ionisasi. Bila suatu atom menerima energi
tambahan dari luar, electron atom itu akan meningkat energi kinetiknya. Hal itu
akan memindahkan tingkat energi electron ke tingkat yang lebih tinggi. Elektron
akan berpindah menuju kulit yang lebih luar yang akhirnya jika energi yang
diterima cukup besar dapat memisahkan electron dari atomnya. Dari atom ini akan
didapatkan dua partikel yang masing-masing partikel bermuatan positif dan
negatif. Partikel atom yang melepas elektronnya itu disebut ion positif. Atom juga
bisa menerima

elektron sehingga akan kelebihan electron. Partikel seperti ini juga disebut
ion tetapi merupakan ion negatif. Molekul- molekul suatu zat yang dalam
larutannya dapat menghantarkan arus listrik disebut elektrolit. Ion-ion
negative bergerak menuju ke anode, oleh karena itu ion negative disebut
anion. Ion positif bergerak menuju katode, oleh karena itu ion positif
disebut kation. Suatu larutan elektrolit, molekulnya terurai menjadi ionion. Derajat keasaman (pH) air pengencer biasanya berkisar antara 6,5 8,5 dan untuk menjaga agar pH-nya konstan bisa digunakan larutan
penyangga (buffer) fosfat. Dalam air murni dengan suhu 25C, konsentrasi
H+=10-7mol/liter, sedangkan hasil kali konsentrasi H+ dengan OH-=1014. Konsentrasi H+= konsentrasi OH-=10-7. Untuk menentukan asam atau
basa diperlukan skala pH seperti berikut.

Gambar 2. Skala pH

C. Dasar pengukuran Derajat Keasaman

Asam dan basa adalah besaran yang sering digunakan untuk

pengolahan sesuatu zat, baik di industri maupun kehidupan sehari-hari. Pada


industri kimia, keasaman merupakan variabel yang menentukan, mulai dari
pengolahan bahan baku, menentukan kualitas produksi yamg diharapkan sampai
pengendalian limbah industri agar dapat mencegah pencemaran pada lingkungan.
Pada bidang pertanian, keasaman pada waktu mengelola tanah pertanian perlu

diketahui. Untuk mengetahui dasar pengukuran derajat keasaman akan diuraikan


dahulu pengertian derajat keasaman itu sendiri.

Pada prinsipnya pengukuran suatu pH adalah didasarkan pada potensial


elektro kimia yang terjadi antara larutan yang terdapat didalam elektroda
gelas (membrane gelas) yang telah diketahui dengan larutan yang terdapat
diluar elektroda gelas yang tidak diketahui. Hal ini dikarenakan lapisan
tipis dari gelembung kaca akan berinteraksi dengan ion hydrogen yang
ukurannya relative kecil dan aktif, elektroda gelas tersebut akan mengukur
potensial elektro kimia dari ion hydrogen. Untuk melengkapi sirkuit
elektrik dibutuhkan elektroda pembanding. Sebagai catatan alat tersebut
tidak mengukur arus tetapi hanya mengukur tegangan.

III.

Alat dan bahan

3.1 Alat

Peralatan yang digunakan adalah seperangkat HQd Portable meter, tali


raffia, benang, wadah sampel, besi.

3.2 Bahan

IV.

Bahan yang digunakan adalah sampel air, aquades, tisu.

Prosedur kerja
1. Rangkai alat dan sambungkan ke arus listrik.
2. Nyalakan alat dan lakukan kalibrasi dengan mengatur ke pembacaan
kalibrasi pada alat, kemudian dibersihkan ujung alat dengan
menggunakan botol semprot yang diisi oleh aquades dan di bersihkan
dengan tissue sekali pakai, selanjutnya mencelupkan ujung alat ke
dalam wadah yang berisi aquades, apabila kalibrasi telah selesai maka
pada layar alat akan muncul 100 % kalibrasi.
3. Buat media bantu untuk pengukuran dengan menggunakan benang
sepanjang 2,5 m yang diikatkan pada batu dan setiap 0,5 m diberi
pembatas memakai tali raffia. Pengukuran dilakukan sampai
kedalaman 2 m.
4. Lakukan pengukuran sampel.

V.

Hasil dan Pembahasan

5.1 Hasil
5.
Analisis CDC (Konduktivitas)
7.
8.
6.

Sampel/bagian

10.
1

17.

Per

mukaan
16.

T 25.

itik I

Ten
gah

33.
ar

Per

T 49.

itik II

Ten
gah

57.
ar

Per

T 73.

itik III

Ten
gah

81.

42,8
50.
58.
66.
42,8
74.
43,2

das
ar

88.
89.

42.

32,6

mukaan
64.

34.

43,5
das

65.

26.

39,5

mukaan
40.

42,2
42,1

das

41.

18.

82.
38,6

11.

Suh

u (OC)
19.

28,1

27.

27,7

35.

27,7

43.

27,9

51.

27,8

59.
67.

28
28,1

75.

28

83.

28

Pengulangan
12.
2
20.
42,3
28.
42,8
36.
39,4
44.
43,1
52.
43,9
60.
31,7
68.
42,7
76.
43,5
84.
38,6

13.

Suh

u (OC)

21.

27,9

29.

27,7

37.

27,8

45.

28

53.

27,9

61.

28,1

69.

27,9

77.
85.

14.

28
27,8

22.
42,2
30.
42,2
38.
39,1
46.
43,0
54.
43,1
62.
31,1
70.
42,7
78.
43,3
86.
32,4

15.

Suh

u (OC)
23.

27,9

31.

27,7

39.

27,8

47.

28,1

55.

28

63.

28,1

71.

27,9

79.

27,9

87.

27,9

Keterangan:
90.
Titik I
Permukaan:0 cm
Tengah:58,5 cm
Dasar:117 cm

Titik II
Permukaan:0 cm
Tengah:48 cm
Dasar:96 cm

Titik III
Permukaan:0 cm
Tengah:58 cm
Dasar:116 cm

91.

Analisis pH
93.
94.

92.

Sampel/bagian

96.
1

103.

Per

mukaan
102.

T 111.

itik I

Ten

gah
119.

das
Per

mukaan
T 135.

Ten

gah
143.

das
Per

mukaan
T 159.

Ten

gah
167.

Das
ar

128.
7,04
136.
144.
6,86

151.

itik III

120.

7,05

ar

150.

112.

7,04

127.

itik II

7,73
7,36

ar

126.

104.

152.
6,95
160.
7,05
168.
6,99

97.

Suh

u (OC)
105.

27,9

113.

27,9

121.

27,9

129.

28

137.

28

145.

28

153.
161.
169.

27,9
28
27,9

Pengulangan

98.
2
106.
7,43
114.
7,16
122.
7,03
130.
7,12
138.
7,12
146.
6,80
154.
7,07
162.
7,03
170.
6,76

99.

Suh

u (OC)
107.

3
108.

28

7,38

115.

27,8

123.

27,9

131.

27,9

139.

28,1

147.

28,1

155.

28,1

163.

28

171.

28

100.

116.
7,14
124.
6,99
132.
7,10
140.
7,14
148.
6,87
156.
7,04
164.
7,10
172.
6,65

101.

Suh

u (OC)
109.

27,9

117.

27,9

125.

28,1

133.

28

141.

28

149.

28,2

157.

28,1

165.
173.

28
28,1

174.
175.
Keterangan:
176.
Titik I
cm
5.2 Permukaan:0
embahasan
Tengah:58,5
cm
177.
Dasar:117
cm
178.

Titik II
Permukaan:0 cm
Tengah:48 cm
Dasar:96 cm

Titik III
Permukaan:0 cm
Tengah:58 cm
Dasar:116 cm

VI.Analisis LDO
VIII.
VII.

IX.

Sampel/bagian
XI.

XII.

XV.

XXIII.
Ten

XXV.
28,9
XXVI.
7,8

27,3

XXX.

XXXI.
27,3 XXXII.
7,14

27,3

XXXV.
Per
XXXVI.
mukaan 7,22

XXXVII.
27,6 XXXVIII.
6,85

27,6

XLIII.
27,6
XLIV.
6,64

27,6

XLIX.
28,3
5,47

L.

28,3

LIV.

LV.
28,5
LVI.
6,67

27,7

LX.

LXI.
28,1
LXII.
6,47

28

LXVII.
28,7 LXVIII.
6,75

28,7

XXIV.
6,04

dasa
XXIX.
r

7,05

TXL.
itik II

Ten
XLI.

XLII.
7,44

gah

XLVI.

dasa
XLVII.
XLVIII.
r
6,50

LII.

Per
LIII.
mukaan

LI.

LVIII.
T
itik III

(OC)

26,7

XXVIII.

XXXIII.

Suhu

XIX.
26,7
XX.
7,31

XVIII.
mukaan 7,44
gah

XXXIV.

XIV.

Per
XVII.

XXII.
T
itik I

Suh
XIII.
u (OC)

1
XVI.

Pengulangan

7,19

Ten
LIX.
gah

LXIV.

7,14

Das
LXV.
ar

LXVI.
6,47

LXIX.

LXX.

LXXI.

Keterangan:
Titik
I
Permukaan:0 cm
Tengah:58,5 cm
Dasar:117 cm

Titik II
Permukaan:0 cm
Tengah:48 cm
Dasar:96 cm

Titik III
Permukaan:0 cm
Tengah:58 cm
Dasar:116 cm

5.2 Pembahasan

LXXII.

Pemeriksaan parameter pada limbah cair dapat dibedakan


menjadi beberapa kategori, antara lain pemeriksaan fisik, kimia, dan biologis.
Adapun parameter pada pemeriksaan fisika meliputi warna, bau, rasa,
kekeruhan, padattan, dan temperatur. Pada pemeriksaan kimia terdapat
parameter untuk pH, DO, kesadahan, kandungan logam, dan kandungan
senyawa organik atau non-organik. Sedangkan pada pemeriksaan biologi
terdapat parameter bakteri atau virus yang terkandung dalam sampel.

LXXIII.

Cara dalam pengambilan sampel limbah cair yang digunakan

adalah teknik Integrated sampling adalah campuran contoh yang diambil dari
satu titik pada waktu yang sama, dengan titik yang berbeda. Contoh air
gabungan tempat merupakan air gabungan yang diambil secara terpisah dari
beberapa tempat dengan volume yang sama. Maksud dan tujuan pengambilan
contoh air adalah mengambil contoh dari sampel yang akan diteliti dengan
jumlah sekecil mungkin tetapi karakteristik dan komposisinya sama dengan
karakteristik sampel secara keseluruhan. Untuk mendapatkan contoh air yang
representatif diperlukan beberapa persyaratan sebagai berikut :

a. Pemilihan lokasi yang tepat.

b. Teknik pengambilan contoh air.

c. Metode pengawetan.

LXXIV.

1. pH
LXXV.

Nilai pH menyatakan nilai konsentrasi ion Hidrogen dalam suatu

larutan. Dalam air yang bersih jumlah konsentrasi ion H+ dan OH- berada

dalam keseimbangan sehingga air yang bersih akan bereaksi netral. Organisme
akuatik dapat hidup dalam suatu perairan yang mempunyai nilai pH netral
dengan kisaran toleransi antara asam lemah dan basa lemah. pH yang ideal
bagi kehidupan organisme akuatik umumnya berkisar antara 7 - 8,5. Kondisi
perairan yang bersifat sangat asam maupun sangat basa akan membahayakan
kelangsungan hidup organisme karena akan menyebabkan mobilitas berbagai
senyawa logam berat yang bersifat toksik.
LXXVI.

Pengukuran pH menggunakan alat yang dinamakan HQd Portable

Meter atau dapat digunakan sense Ion MM150. Alat ini tidak hanya dapat
mengukur pH suatu senyawa, namun juga dapat digunakan untuk mengukur
temperatur, electro conductivity, dan Oxidation Reduction Potential (ORP).
Dalam satu kali pengukuran, secara otomatis alat ini akan memunculkan hasil
dari tiga parameter, antara lain pH, EC, ORP, dan Temperatur. Sehingga hanya
diperlukan satu kali pengukuran saja untuk mendapat hasil dari parameterparameter tersebut, kecuali jika terdapat eror pada hasil pengukuran maka
pengukuran harus diulang dengan menekan tombol centang kembali.

LXXVII.

Pengukuran pH air dilakukan pada beberapa titik kedalaman.


Minimalnya titik permukaan, bagian tengah dan titik dasar air dengan masing
masing tiga (3) kali pengulangan, kemudian dicari reratanya. Diharapkan nilai
rerata ini dapat mewakili pH air secara keseluruhan.

LXXVIII.

Berdasarkan kerja praktik dari praktikan cara penggunaan alat

tersebut antara lain:

Menyiapkan alat dan bahan yang akan diuji.

Memasang kabel penghubung probe ke SensIon. Posisikan garis putih pada ujung
kabel probe menghadap ke atas, serta posisi layar juga menghaddap ke atas.

Memastikan probe sudah terkalibrasi dan bersih.

Menuang sampel limbah cair ke dalam tabung pemeriksaan dengan volume 50ml.

Meletakkan di tatakan tabung.

Memasukkan probe ke sampel.

Menyalakan tombol power pada SensIon dan tunggu hingga layar blank.

Menekan tombol centang () dan tunggu beberapa menit untuk mendapatkan


hasil pengukuran. Jika ada beberapa hasil yang error maka tekan lagi tombol
centang hingga semua angka pada beberapa parameter keluar.

Mencatat hasil pengukuran pada lembar pengukuran.

Mematikan alat dengan menekan dan menahan tombol power.

Membersihkan probe dengan aquadest dan keringkan dengan tissue.

LXXIX.
LXXX.

Perairan dengan nilai pH = 7 adalah netral, pH < 7 dikatakan

kondisi perairan bersifat asam, sedangkan pH > 7 dikatakan perairan bersifat basa.
Berdasarkan data percobaan didapatkan hasil yang diplotkan melalui grafik seperti
pada grafik berikut :

LXXXI.

pH
7.6
7.4
7.2
7

Nilai pH

6.8
6.6
6.4
Permukaan

LXXXII.

Tengah

Dasar

Berdasarkan kurva dapat dilihat bahwa pH dan kedalaman air

berbanding terbalik. Artinya, semakin tinggi tingkat kedalaman air maka pH nya
semakin rendah. pH terkecil didapatkan pada bagian dasar danau untuk masingmasing titik. Hal ini disebabkan oleh beberapa factor, antara lain :

a. Proses dekomposisi bahan organik menyebabkan terbentuknya senyawasenyawa asam organik yang akan menurunkan pH, dan pelepasan senyawa
anorganik yang akan memperkaya kandungan ion dalam perairan sehingga
meningkatkan konduktivitas.

b. Kadar pH akan meningkat pada bagian permukaan karena pada prmukaan


terjadi

proses

fotosintesis

berjalan

efektif

dan

dimana

kadar

karbondioksida menurun. Karbondioksida yang berasal dari proses


respirasi banyak terdapat di bagian dasar perairan sehingga berakibat kadar
pH dalam perairan menurun.

c. Curah hujan juga mempengaruhi pH pada air danau. Dimana air hujan
juga yang bersifat asam kemudian secara langsung jatuh dan tercampur
dengan air danau. Maka pH pada air danau dapat meningkat.
LXXXIII. Menurut literature, nilai pH perairan danau berkisar pH 6,7 8,6 hal ini
dikarenakan karena kedalaman danau dangkal sehingga pH tanah sangat
mempengaruhinya. Maka dapat disimpulkan bahwa air pada danau unja tersebut
nilai pH-nya masih berada di range standar pH danau yang mana minimalnya
untuk danau UNJA yaitu 6.8 dan maksimalnya 7.51.
2. CDC ( conductivity)
LXXXIV.

Pada analisis penentuan konduktivitas, dilakukan pada tiga titik

dengan setiap titiknya dilakukan pengukuran pada tiga kedalaman dimana setiap
kedalaman

dilakukan

tiga

kali

pengulangan

dalam

pengukurannya.

Konduktivitas/conductivity sering disebut juga daya hantar listrik (DHL) yang


berarti gambaran numeric dari kemampuan air untuk meneruskan listrik.
LXXXV.

Pada air, seperti yang kita ketahui mengandung senyawa organic

maupun anorganik. Dimana Senyawa organic adalah penghantar listrik


(konduktor) yang baik, sedangkan senyawa anorganic adalah penghantar listrik
yang lemah. Kemampuan air untuk menghantarkan arus listrik yang dinyatakan
dalam Umhos/cm (s/cm). Dalam arti lain, conduktivity adalah kemampuan
menghantarkan panas, listrik dan suara. semua logam kebanyakan penghantar
yang baik karena terdiri dari electro-electron. Air murni atau air yang bagus
adalah air yang sulit dalam menghantarkan atau mengalirkan listrik.
LXXXVI.

Analisis CDC menggunakan sampel yang sama pada analisis

sebelumnya, yaitu menggunakan sampel air danau UNJA, dimana air danau unja
memiliki warna hijau kecoklatan dan berdasarkan survey terlihat adanya
beberapa masyarakat memanfaatkan lokasi sebagai tempat untuk memancing.
LXXXVII.

Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan pada air perolehan


dari danau UNJA pada titik sampling 1 dibagian permukaan ( 0 cm ) diperoleh
hasil sebesar 42,2 ; 42,3 dan 42.2 s/cm . Pada bagian tengah (58,5 cm) adalah

42,1 ;42,8 dan 42,2 s/cm . pada bagian dasar dengan kedalaman 117 cm
diperoleh hasil pengukuran 39,5 ; 39,4 dan 39,1 . dari hasil tersebut dapat terlihat
bahwa kadar ataupun jumlah CDC dari danau UNJA semakin menurun seiring
bertambahnya kedalaman air.
LXXXVIII.

Pada analisis di titik 2 pada bagian permukaan ( 0 cm) diperoleh

hasil 42,8 ; 43,1 dan 43,0 s/cm . Pada bagian tengah dengan kedalaman 48 cm
diperoleh hasil pengukuran sebesar 43,5 : 43,9 dan 43,1 s/cm dan pada bagian
dasar dengan kedalaman 96 cm diperoleh hasil sebesar 32,6 ; 31,7 dan 31,1
s/cm. Dari data pada bagian titik 2, dapat teramati bahwa hasil yang diperoleh
berbeda dari titik ketiga dimana pada bagian tengah mengalami peningkatan dan
kemudian pada bagian dasar mengalami penurunan.
LXXXIX.

Pada analisis bagian di titik 3 pada bagian permukaan ( 0 cm)

diperoleh hasil 42,8 ; 42,7 dan 42,7 s/cm . Pada bagian tengah ( 58 cm )
diperoleh hasil 43,2 ; 43,5 dan 43,3 s/cm dan pada bagian dasar dengan
kedalaman 116 cm diperoleh hasil 38,6 ; 38,6 dan 38,4 s/cm. Hasil yang
diperoleh dari bagian tengah mengalami peningkatan dan kemudian mengalami
penurunan pada bagian dasar. Hasil tersebut sama dengan hasil yang diperoleh
pada bagian titik 2.
XC.

Berdasarkan

data

percobaan

diplotkan melalui grafik seperti pada grafik berikut :

didapatkan

hasil

yang

XCI.

CDC
50
40
30
Nilai CDC

20
10
0
Permukaan

Tengah

Dasar

XCII.Berdasarkan hasil dari seluruh data yang diperoleh, baik itu pada titik 1 , 2
maupun 3 nilai kadar atapun konsentrasi dari konduktivitas dari tiap tiap
kedalaman menunjukkan hasil yang serupa yaitu pada kedalaman di bagian
tengah menunjukkan perolehan nilai konduktivitas yang lebih besar
dibandingkan kedalam danau dibagian permukaan ataupun kedalaman di
bagian dasar. Hal tersebut dikarenakan konduktivitas air bergantung pada
jumlah ion-ion terlarut pervolumenya dan mobilitas ion- ion tersebut dengan
satuannya adalah mhos/cm pada suhu 25 C. Konduktivitas bertambah dengan
jumlah yang sama dengan bertambahnya salinitas. Secara umum, faktor yang
lebih dominan dalam perubahan konduktivitas air adalah temperatur. Untuk
mengukur konduktivitas digunakan konduktivitimeter. Berdasarkan nilai DHL,
jenis air juga dapat dibedakan melalui nilai pengukuran daya hantar listrik
dalam mho/cm pada suhu 25 C menunjukkan klasifikasi air sebagai
XCIII.Nilai konduktivitas yang terdapat dalam air berhubungan dengan kualitas
air yang baik diantaranya : air yang memiliki nilai konduktivitas tinggi seperti

itu umumnya hanya terdapat di daerah pegunungan, jadi jangan khawatir


kelebihan mineral dalam tubuh, konsumsi mineral dalam tubuh tinggi,
sehingga kondisi kelebihan mineral, hampir-hampir tidak mungkin terjadi.
penyakit batu ginjal umumnya terjadi karena konsumsi bahan pangan sintetis
yang tidak dapat diolah oleh ginjal dan akhirnya mengendap dan air bermineral
sehat bagi tubuh, terbukti dengan maraknya produksi minuman-minuman air
mineral dan isotonic.

3. Dissolved Oxygen (DO)


XCIV.

Konsentrasi oksigen terlarut dalam keadaan jenuh bervariasi

tergantung dari suhu dan tekanan atmosfer. Semakin tinggi suhu air, semakin
rendah tingkat kejenuhan. Misalnya danau di pegunungan yang tinggi mungkin
mengandung oksigen terlarut 20-40 % kurang daripada danau pada permukaan
laut. Oksigen terlarut (dissolved oxygen, disingkat DO) atau sering juga
disebut dengan kebutuhan oksigen (Oxygen demand) merupakan salah satu
parameter penting dalam analisiskualitas air. Dengan melihat kandungan
oksigen yang terlarut di dalam air dapat ditentukan seberapa jauh tingkat
pencemaran air lingkungan telah terjadi. Adanya oksigen yang terlarut (DO)
dalam air dapat meningkatkan aktivitas kehidupan ikan dan organismeorganisme yang lebih kecil dalam air. Sebaliknya, adanya oksigen terlarut yang
cukup tinggi dalam air dapat menyebabkan korosi.
XCV.

Pada pemeriksaan DO limbah cair Pengukuran pH menggunakan

alat yang dinamakan HQd Portable Meter atau dapat digunakan sense Ion
DO6. Langkah penggunaannya persis seperti sense Ion MM150 yaitu sebagai
berikut:

Menyiapkan alat dan bahan yang akan diuji.

Memasang kabel penghubung probe ke SensIon. Posisikan garis putih


pada ujung kabel probe menghadap ke atas, serta posisi layar juga
menghaddap ke atas.

Memastikan probe sudah terkalibrasi dan bersih.

Menuang sampel limbah cair ke dalam tabung pemeriksaan dengan


volume 50ml.

Meletakkan di tatakan tabung.

Memasukkan probe ke sampel.

Menyalakan tombol power pada SensIon dan tunggu hingga layar blank.

Menekan tombol centang () dan tunggu

beberapa menit untuk

mendapatka hasil. Jika ada beberapa hasil yang eror maka tekan lagi
tombol centang hingga semua angka pada beberapa parameter keluar.

Mencatat hasil pengukuran pada lembar pengukuran.

Mematikan SensIon dengan menekan dan menahan tombol power.

Membersihkan probe dengan aquadest dan keringkan dengan tissue.

XCVI.

XCVII.

Sama halnya pada pengukuran pH, pengukuran DO air


dilakukan pada beberapa titik kedalaman. Minimalnya titik permukaan, bagian
tengah dan titik dasar air, namun pada DO hanya dilakukan tiga (2) kali
pengulangan saja dan berbeda pada pH dengan dengan tiga (3) kali
pengulangan, kemudian dicari reratanya. Diharapkan nilai rerata ini dapat
mewakili DO air secara keseluruhan.

XCVIII.

Berdasarkan data percobaan didapatkan hasil yang diplotkan


melalui grafik seperti pada grafik berikut :

XCIX.

DO
8
7
6
5
4

Nilai DO

3
2
1
0
Permukaan

C.

Tengah

Dasar

Berdasarkan grafik diatas dapat dilihat bahwa kedalaman air


berbanding terbalik dengan nilai DO yang dihasilkan. Artinya semakin dalam
atau semakin ke dasar danau maka nila DO yang terukur semakin kecil. Hal ini
menandakan bahwa semakin tinggi kedalaman air danau unja maka kualitas air
nya semakin buruk sebab semakin banyak jumlah DO (dissolved oxygen ) maka
kualitas air semakin baik. Jika kadar oksigen terlarut yang terlalu rendah akan
menimbulkan bau yang tidak sedap akibat degradasi anaerobik yang mungkin
saja terjadi.

CI.

Pada lapisan permukaaan, kadar oksigen lebih tinggi, karena


adanya proses difusi antar air dengan udara bebas serta adanya proses
fotosintesis. Dengan bertambahnya kedalaman akan terjadi penurunan kadar
oksigen terlarut, karena proses fotosintesis semakin berkurang dan kadar oksigen
yang ada banyak digunakan untuk pernapasan dan oksidasi bahan bahan
organik dan anorganik. Keadaan oksigen terlarut berlawanan dengan keadaan
BOD, semakin tinggi BOD semakin rendah oksigen terlarut. Keperluan
organisme terhadap oksigen relatif bervariasi tergantung pada lems, stadium dan
aktifitasnya. Kebutuhan oksigen untuk ikan dalam keadaan diam relatif lebih
sedikit dibandingkan dengan ikan pada saat bergerak.

CII.

Kandungan oksigen terlarut (DO) minimum adalah 2 ppm


dalam keadaan normal dan tidak tercemar oleh senyawa beracun. Idealnya,
kandungan oksigen terlarut dan tidak boleh kurang dari 1,7 ppm selama waktu 8
jam dengan sedikitnya pada tingkat kejenuhan sebesar 70 %. KLH menetapkan
bahwa kandungan oksigen terlarut adalah 5 ppm untuk kepentingan wisata
bahari dan biota laut.

CIII.

Nilai DO terendah terdapat pada titik II bagian dasar unja yang


mana nilai rata-rata yang dihasilkan ialah 5,985. Nilai tersebut berada pada
range tercemar ringan (4,5 6,5). Berdasarkan kandungan (oksigen terlarut),
maka pengelompokan kualitas perairan air dapat dibagi menjadi empat macam
yaitu :

Tidak tercemar (> 6,5 mgr/l )

Tercemar ringan (4,5 6,5 mgr/l)

Tercemar sedang (2,0 4,4 mgr/l)

Tercemar berat (< 2,0 mgr/l)

CIV.
CV.
CVI.

CVII.

Penutup

6.1 Kesimpulan
CVIII.

Berdasarkan data pengamatan yang diperoleh , dapat disimpulkan

sebagai berikut :
1. Nilai Kadar oksigen terlarut dengan jumlah paling tinggi terdapat pada
titik 1 di bagian permukaan sebesar 7.375 dan nilai kadar oksigen terlarut
paling rendah terdapat pada titik 3 di kedalaman bagian dasar sebesar
5.985. Nilai pH tertinggi terdapat pada titik 1 di bagian permukaan sebesar
7.51 dan nilai pH terendah terdapat pada titik 3 di kedalaman bagian dasar
sebesar 6.08 sedangkan Nilai CDC ( konduktivitas ) tertinggi terdapat pada
titik 2 di bagian tengah sebesar 43.5 dan nilai konduktivitas terendah
terdapat pada titik 2 di kedalaman bagian dasar sebesar 31.8.
2. Konduktivitas
menghantarkan

merupakan
arus

listrik.

kemampuan
Sehingga

suatu
nilai

larutan

konduktivitas

untuk
akan

menunjukkan konsentrasi ion dalam suatu larutan dan konduktivitas


menggambarkan kadar garam-garam yang terionisasi atau terlarut dalam
air . Sedangkan pH menunjukkan derajat keasaman atau keberadaan
suatu konsentrasi ion pada ion Hidrogen [H+] dan Ion Hidroksida[OH-].
Sehingga bila semakin tinggi nilai pH berarti akan berbanding lurus
dengan besarnya nilai konduktivitas dan oksigen terlarut.
CIX.
6.2 Saran
CX.Dalam analisis kali ini ,saran yang dapat diberikan yaitu dalam
pengambilan sampel sebaiknya volume air yang di ambil sekitar 0,5- 1 L.
selain itu, dalam analisis air sebaiknya analisis dilakukan sesegera mungkin
karna sampel yangtak segar dapat mempengaruhi hasil analisis.

DAFTAR PUSTAKA
CXI.
CXII.

HUET, H.B.N. 1970. Water Quality Criteria for Fish Life Bioiogical
Problems in Water Pollution. PHS. Publ. No. 999-WP-25. 160-167 pp.

CXIII.

JONES, H.R.E. 1964. Fish and River Pollution. Buther Worth. London : 203
pp.

CXIV.

ODUM, E.P. 1971. Fundamental of Ecology. W.B. Saunder Com.


Philadelphia 125 pp.

CXV.

PESCOD, M. D. 1973. Investigation of Rational Effluen and Stream


Standards for Tropical Countries. A.I.T. Bangkok, 59 pp

CXVI.

SALMIN. 2000. Kadar Oksigen Terlarut di Perairan Sungai Dadap, Goba,


Muara Karang dan Teluk Banten. Dalam : Foraminifera Sebagai Bioindikator
Pencemaran, Hasil Studi di Perairan Estuarin Sungai Dadap, Tangerang
(Djoko P. Praseno, Ricky Rositasari dan S. Hadi Riyono, eds.) P3O - LIPI hal
42 - 46

CXVII.

SAWYER, C.N and P.L., MC CARTY, 1978. Chemistry for Environmental


Engineering. 3rd ed. Mc Graw Hill Kogakusha Ltd.: 405 - 486 pp.

CXVIII.

SWINGLE, H.S. 1968. Standardization of Chemical Analysis for Water and


Pond Muds. F.A.O. Fish, Rep. 44, 4 , 379 - 406 pp.

CXIX.

WARDOYO, S.T.H. 1978. Kriteria Kualitas Air Untuk Keperluan Pertanian


dan Perikanan. Dalam : Prosiding Seminar Pengendalian Pencemaran Air.
(eds Dirjen Pengairan Dep. PU.), hal 293-300.

CXX.

WIROSARJONO, S. 1974. Masalah-masalah yang

dihadapi

dalam

penyusunan kriteria kualitas air guna berbagai peruntukan. PPMKL-DKI


Jaya, Seminar Pengelolaan Sumber Daya Air. , eds. Lembaga Ekologi
UNPAD. Bandung, 27 - 29 Maret 1974, hal 9 - 15