Anda di halaman 1dari 11

BAB VIII

ANALISA KIMIAWI AIR FORMASI


9.1 Tujuan Percobaan
1. Mengetahui sifat air formasi, apakah bersifat korosif, mengendap, atau stabil.
2. MenentukanpH,alkalinitas,kalsium,magnesium,barium,sulfat,ferro,klorida,
dan sodium.
3. Menentukan hasil perhitungan indeks stabilitas kalsium karbonat
9.2 Dasar Teori
Air formasi disebut pula dengan oil field water. Air formasi ini ada yang
ikut terproduksi bersamasama minyak dan gas. Air formasi hampir selalu ditemukan
di dalam reservoir hidrokarbon, karena adanya air ikut terakumulasinya minyak. Air
selalu menempati sebagian dari reservoir. Air formasi diperkirakan berasal dari air
laut yang ikut terendapkan bersama sama dengan endapan disekelilingnya, karena
situasi pengendapan batuan reservoir minyak terjadi pada lingkungan pengendapan
laut.
Adapun sifat sifat air formasi :
1. Sifat fisik yang meliputi :
1. Kompresibilitas
2. Kelarutan gas dalam air
3. Viskositas air dalam formasi
4. Berat jenis
5. Konduktivitas
2. Sifat kimia yang meliputi :
1. Anion
2. Kation

Keberadaan air formasi akan menimbulkan gangguan produksi sumur,


tetapi walau demikian keberadaan air formasi juga mempunyai kegunaan yang cukup
penting yaitu :
1.

Untuk mengetahui penyebab korosi pada peralatan produksi suatu


sumur.

2.

Untuk mengetahui adanya scale formation.

3.

Untuk dapat menentukan sifat lapisan dan adanya suatu kandungan


yodium dan barium yang cukup besar, dan dapat juga digunakan untuk
mengetahui adanya reservoir minyak yang cukup besar.
Adapun kesulitan yang ditimbulkan karena adanya air formasi :

1.

Adanya korosi

2.

Adanya solid deposit

3.

Adanya scale formation

4.

Adanya emulsi

5.

Adanya kerusakan formasi


Untuk menganalisa air formasi secara tepat, dipakai klasifikasi air

formasi yang digambarkan, secara grafis hal ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi
sifat

air

formasi

dengan

cara

yang

paling

sederhana

tetapi

dipertanggungjawabkan, hanya kelemahannya tergantung pada spesifikasinya.


9.3 Peralatan dan Bahan
9.3.1 Peralatan
1. Alat titrasi
2. Gelas ukur
3. Kertas lakmus
4. Pipet
5. DR 1

dapat

9.3.2 Bahan
1. Sample air formasi

9.4 Prosedur Percobaan


1.

Penentuan pH ( elektrolit ) :
1.

Menghubungkan alat pengukur elektroliit atau yang sejenisnya dengan


arus listrik sesuai petunjuk.

2.

Mengkalibrasikan alat sebelum digunakan.

3.

Mensterilkan alat agar tidak terjadi kontaminasi.

2.

Penentuan Alkalinitas
1.

Mengambil contoh air formasi 1 cc dan menambahkan PP 2 tetes.

2.

Mentitrasi dengan larutan H2SO4 0,02 N. Bila larutan telah jernih,


mencatat jumlah larutan pentitrasi yang digunakan.

3.

Mentetesi dengan larutan MO 2 tetes.

4.

Mentitrasi kembali sampai ada perubahan warna menjadi pink,


mencatat volume larutan pentitrasi.

5.

Perhitungan :
Kebasahan P = Vp / banyaknya cc contoh air
Kebasahan M = Vm / banyaknya cc contoh air
Penentuan untuk setiap ion dalam mili eqivalen ( me / L ) dapat ditentukan
dari table berikut :

HCO3

CO3

OH

P = 0

M 20

P = M

20 P

2P = M

40 P

2P < M

20 ( M 2P )

40 P

2P > M

40 ( M P )

20 ( 2P M )

Tabel 9.1. Klasifikasi konsentrasi ion.

3.

Penentuan Kalsium dan Magnesium


1. Penentuan kesadahan total :
1. Mengambil 20 ml air suling dan menambahkan 2 tetes larutan buffer
kesadahan total dan 1 tetes indicator, warna harus biru asli ( jernih ).
2. Manambah 5 ml contoh air, warna akan berubah merah.
3. Mentitrasi dengan larutan kesadahan total hingga warna kembali
jernih, mencatat volume pentitrasi.
4. Perhitunggan :
Bila menggunakan larutan 1 ml = 2 epm
Volume titrasi 2
Kesadahan total, me / L =
Volume contoh air
Bila menggunakan larutan 1 ml = 20 epm
Volume titrasi 20
Kesadahan total, me / L =
Volume contoh air
2. Penetuan Kalsium ( Ca ) :
1. Mengambil 20 ml air suling, menambahkan 2 tetes larutan buffer
calver dan 1 tepung indicator calcer II, warna akan berubah menjadi
cerah.

2. Menambahkan 5 cc air yang dianalisa. Bila ada Ca larutan yang


berubah menjadi kemerahan.
3. Mentitrasi dengan larutan kesadahan total 20 epm, warna akan
berubah jernih, mencatat volume titrasi.
3. Penentuan Magnesium ( Mg ) :
Magnesium, me / L = ( kesadahan total, me / L ) ( kalsium, me / L ) =
Magnesium, me / L 12,2
4. Penentuan Klorida
1. Mengambil 20 ml air sample, menambahkan 5 tetes KcrO, warna akan
menjadi bening.
2. Mentitrasi dengan larutan AgNO3 1 ml = 0,001 g Cl sampai warna
coklat kemerahan, mencatat volume pentitrasi.
3. Jika menggunakan AgNO3 0,001 N :
ml titer 1000
Kadar Cl, mg/L =
ml contoh air
4. Jika menggunakan AgNO3 0,01 N :
ml titer 10000
Kadar Cl, mg/L =
ml contoh air
5. Penentuan Sodium
1. Mengkonversikan

mg/L anion dengan

me/L dan menjumlahkan

harganya.
2. Mengkonversikan mg/L kation menjadi me/L dan menjumlahkan
harganya.
3. Kadar sodium ( Na ), mg/L = ( anion kation ) 23.
6.

Grafik hasil analisa air

Hasil analisa air dibuat dalam bentuk grafik dengan memplotkan tiap
komponen dengan konsentrasinya masing masing dengan membedakan
anion dan kationnya.
7. Perhitungan indeks stebilitas CaCO3
Indeks stabilitas ini didapat dengan memplotkan jumlah harga tenaga
ion dengan Ca dan CO3 pada grafik yang telah disediakan, bila indeks
berharga positif berarti air sample memiliki gejala membentuk endapan
dan apabila bernilai negatif bersifat korosif.

9.5

HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN


1. Penentuan Alkalinitas
pH air

= 8

Volume sample

= 10 cc

Konsentrasi ion CO3 = 10 me/l


Konsentrasi ion OH = 3

me/l

2. Penentuan Sodium ( Na+ )


Konsentrasi Anion
Anion BM
mg/l
me/l
4

35.5
2,44
X
10
687,324
Cl
96
300
6,25
SO42
2
60
300
10
CO3

61
0
0
HCO3

17
51
3
OH
706,574
Anion

Konsentrasi Kation
Kation BM
mg/l
me/l
Ca3++
40
40
2
2++
Mg
24
0
0
2++
Fe
56
1000
35,714
2+
Ba
137
-

Kation
+

9.2 Tabel Penentuan Sodium (Na )

Kadar Sodium ( Na+ ) = Anion Kation


= (706,574 37, 714) mg/l = 668,860 mg/l

37,714

9.1 Grafik Diagram Stiff Davis

(10-4)
Cl(102)
HCO3
(102)
CO3
10 9

3. Perhitumgan Indeks Stabilitas CaCO3


Ion
ClSO42-

Konsentrasi
me/l
687,324
6,25

Faktor Koreksi
Ppm
me/l
2,4 x 10-5
6 x 10-4
2,1 x 10-5
1 x 10-3

Tenaga Ion
0,412
0,006

CO32HCO32Ca2+
Mg2+
Fe2+
Ba2+
Na2+

1000
Negative

10
0
2
0
35,714
Negative

3,3 x 10-5
0,8 x 10-5
3 x 10-5
8,2 x 10-5
8,1 x 10-5

1,5 x 10-3
5 x 10-3
2 x 10-3
1 x 10-3
1,5 x 10-3

0,015
0
0,004
0
0,054

2,2 x 10-5

2 x 10-4

0,1338
0,625

Molar Ionic Strength


9.3 Tabel Perhitungan Indeks Stabilitas CaCO3

1. Tenaga ion keseluruhan ( K) :


1. Pada temperatur 0 C diperoleh harga K

= 3,65

2. Pada temperatur 20 C diperoleh harga K

= 3,4

3. Pada temperatur 40 C diperoleh harga K

= 2,96

4. Pada temperatur 60 C diperoleh harga K

= 2,38

5. Pada temperatur 80 C diperoleh harga K

= 1,72

6. Pada temperatur 100 C diperoleh harga K = 0,94


2. Harga pCa = 3,0 ; pAlk = 3,2
Berdasarkan hasil analisa tersebut diatas, maka indeks stabilitas ( SI )
dapat dihitung dengan menggunakan persamaan :
SI = pH K pCa palk

9.2 Grafik SI vs Suhu

9.6 Pembahasan

Jika perhitungan indeks stabilitas (SI) di atas menghasilkan suatu angka


angka, maka akan dapat diketahui sifat sifat dari air formasi yang diteliti dengan
memperhatikan hubungan antara pH air formasi, tenaga ion keseluruhan, temperatur,
serta pCa dan palk, dimana jika SI menunjukkan hasil yang positif, maka pada
temperatur tersebut akan cenderung untuk membentuk scale. Sebaliknya, jika SI
menunjukkan hasil negatif maka pada temperatur tersebut air formasi akan cenderung
untuk membentuk korosi pada alat alat produksi, akan tetapi jika SI menunjukkan
hasil nol (SI = 0) maka pada temperatur tersebut air formasi dalam keadaan
setimbang dimana tidak terbentuk scale maupun korosi. Sayang sekali praktikan tidak
dapat menyelesaikan perhitungan SI akibat tidak adanya grafik untuk perhitungan
tersebut serta kurangnya waktu untuk membahasnya.
Tetapi, secara garis besar, penelitian air formasi ini akan dapat
memberikan informasi mengenai seberapa banyak kadar unsur dan ion yang
terkanndung dalam air formasi tersebut, sehingga dapat digunakan untuk
mengantisipasi dampak berupa kerusakan terhadap pipa pemboran maupun alat alat
produksi lainnya akibat adanya scale dan korosi.
9.7 Kesimpulan
1.

Untuk mendapatkan kandungan air formasi yang lebih akurat, sample


harus diambil langsung dari separator atau kepala sumur dan kemudian
disimpan pada wadah tertutup yang terbuat dari kaca atau plastik, sehingga
kebasahan sample masih seperti semula.

2.

Faktor faktor yang sangat berpengaruh dalam penentuan tingkat


pengendapan dan pelarutan dalam air formasi adalah pH, temperatur, serta
total tenaga ion keseluruhan dari air formasi tersebut.

3.

Harga SI yang positif menunjukkan bahwa masalah pada produksi


adalah sifat yang timbul dari air formasi yang bersifat korosif.

4.

Harga SI yang negatif menunjukkan bahwa masalah pada produksi


adalah sifat yang timbul dari air formasi yang berifat membentuk scale.

5.

Harga SI yang sama dengan nol menunjukkan bahwa tidak ada


masalah pada produksi adalah sifat yang timbul dari air formasi yang bersifat
setimbang, jadi tidak membentuk scale maupun korosi.