Anda di halaman 1dari 37

Bab I

Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
Kanker leher rahim merupakan keganasan yang terjadi pada leher rahim dan disebabkan oleh
infeksi Human Papilloma Virus (HPV) yang ditularkan melalui hubungan seksual dan infeksinya
terjadi pada 75% wanita yang pernah berhubungan seksual. Penyakit kanker leher rahim
merupakan masalah kesehatan yang penting bagi wanita di seluruh dunia di mana ia merupakan
jenis kanker kedua terbanyak yang diderita perempuan. 1 Berdasarkan data Globocan
International Agency for Research on Cancer (IARC) 2010, kanker leher rahim menempati
urutan kedua dari seluruh kanker pada perempuan dengan incidence rate 15 per 100.000
perempuan, dengan jumlah kematian 7,8 % per tahun dari seluruh kanker pada perempuan di
dunia.2
Kanker payudara adalah keganasan yang berasal dari sel kelenjar, saluran kelenjar dan
jaringan penunjang payudara, tidak termasuk kulit payudara. Kanker payudara merupakan salah
satu penyebab utama kematian yang diakibatkan oleh kanker pada perempuan di seluruh dunia. 1
Berdasarkan data Globocan International Agency for Research on Cancer (IARC) 2005, kanker
payudara menempati urutan pertama seluruh kanker pada perempuan dengan incidence rate 38
per 100.000 perempuan, kasus baru yang ditemukan 22,7% dengan jumlah kematian 14% per
tahun dari seluruh kasus kanker pada perempuan di dunia.2
Di Indonesia, berdasarkan data dari Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) di Indonesia
tahun 2007 diketahui bahwa kanker leher rahim menempati urutan kedua pada pasien rawat inap
(11,78%) dan pasien rawat jalan (17,00%). Manakala, kanker payudara menempati urutan
pertama pasien rawat inap (16,85%) dan pasien rawat jalan (21,69%). 3 Oleh karena itu, Indonesia
mengembangkan upaya pengendalian kanker leher rahim dan payudara melalui deteksi dini sejak
tahun 2007. Deteksi dini kanker leher rahim menggunakan metode Single Visit Approach yaitu
dengan Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) dan krioterapi untuk IVA positif, sedangkan
deteksi dini kanker payudara menggunakan metode Clinical Breast Examination (CBE).4
Di Kabupaten Karawang, kasus kanker leher rahim yang ditemukan pada tahun 2011
sebanyak 0,3% dari seluruh wanita usia subur dan kasus kanker payudara sebanyak 0,6% dari
seluruh wanita usia subur. Menurut Depkes RI 2007, deteksi dini kanker leher rahim difokuskan
pada wanita yang berisiko tinggi dan berusia 30-50 tahun.5
1

Pada Kabupaten Karawang, kasus kanker leher rahim yang ditemukan pada tahun 2011
sebanyak 0,3% dari seluruh wanita usia subur dan kasus kanker payudara sebanyak 0,6% dari
seluruh wanita usia subur. Program penapisan kanker leher rahim dan kanker payudara di
Kabupaten Karawang yang telah berlangsung dari tahun 2008, berdasarkan data yang diperoleh
dari periode Januari sampai dengan desember 2013 telah mampu menapiskan sebesar 44,94%
dari seluruh wanita usia subur dan dengan target sebesar 80%.6Berdasarkan latar belakang di atas
maka perlu dilakukan evaluasi untuk menilai tingkat keberhasilan program penapisan kanker
leher rahim dan kanker payudara di Puskesmas Kecamatan Jatisari, Kabupaten Karawang
periode Januari 2013 sampai dengan Desember 2013.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai
berikut :
1.2.1

Menurut International Agency for Research on Cancer (IARC) tahun 2010, masih
tingginya angka kematian kanker leher rahim di dunia dengan incidence rate 15 per
100.000 perempuan, dengan jumlah kematian 7,8 % per tahun dari seluruh kanker

1.2.2

pada perempuan di dunia.


Menurut International Agency for Research on Cancer (IARC) tahun 2005, masih
tingginya jumlah kasus baru dan angka kematian kanker payudara di dunia dengan
incidence rate 38 per 100.000 perempuan, kasus baru yang ditemukan 22,7% dengan

1.2.3

jumlah kematian 14% per tahun dari seluruh kasus kanker pada perempuan di dunia.
Berdasarkan data dari Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) di Indonesia tahun 2007
diketahui bahwa kanker leher rahim menempati urutan kedua pada pasien rawat inap
(11,78%) dan pasien rawat jalan (17,00%), sedangkan kanker payudara menempati

1.2.4

urutan pertama pasien rawat inap (16,85%) dan pasien rawat jalan (21,69%).
Masih tingginya jumlah kasus kanker leher rahim dan kanker payudara di Kabupaten
Karawang, yaitu sebanyak 0,3% dan 0,6% dari seluruh wanita usia subur pada tahun

1.2.5

2011.
Masih terdapat kesenjangan antara cakupan yaitu 44,94% dengan target sejumlah
80% setelah dilakukan program penapisan kanker leher rahim dan kanker payudara
selama periode 1 tahun ( Januari 2013-desember2013) di Puskesmas Jatisari.

1.3. Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
2

Mengetahui tingkat keberhasilan pelaksanaan program pencegahan kanker leher rahim


dan kanker payudara di Puskesmas Jatisari, Kecamatan Jatisari, Kabupaten Karawang
periode Januari sampai dengan Desember 2013.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1
Diketahuinya cakupan konseling perempuan berusia 30-50 tahun di Puskesmas
Jatisari, Kecamatan Jatisari, Kabupaten Karawang periode Januari sampai dengan
Desember 2013.
Diketahuinya cakupan penyuluhan kelompok perempuan berusia 30-50 tahun di

1.3.2.2

Puskesmas Jatisari, Kecamatan Jatisari, Kabupaten Karawang periode Januari


sampai dengan Desember 2013.
Diketahuinya cakupan penapisan kanker leher rahim pada perempuan berusia 30-

1.3.2.3

50 tahun di Puskesmas Jatisari, Kecamatan Jatisari, Kabupaten Karawang periode


1.3.2.4

Januari sampai dengan Desember 2013.


Diketahuinya cakupan perempuan dengan hasil positif dari tes Inspeksi Visual
dengan Asam Asetat (IVA) pada penapisan kanker leher rahim di Puskesmas
Jatisari, Kecamatan Jatisari, Kabupaten Karawang periode Januari sampai dengan

1.3.2.5

Desember 2013.
Diketahuinya cakupan perempuan yang dilakukan krioterapi pada penapisan
kanker leher rahim dengan IVA positif di Puskesmas Jatisari, Kecamatan Jatisari,

1.3.2.6

Kabupaten Karawang periode Januari sampai dengan Desember 2013.


Diketahuinya cakupan pelayanan rujukan pada penapisan kanker leher rahim di
Puskesmas Jatisari, Kecamatan Jatisari, Kabupaten Karawang periode Januari
sampai dengan Desember 2013.
Diketahuinya cakupan penapisan kanker payudara pada perempuan berusia 30-50

1.3.2.7

tahun di Puskesmas Jatisari, Kecamatan Jatisari, Kabupaten Karawang periode


Januari sampai dengan Desember 2013.
Diketahuinya cakupan pelayanan rujukan pada penapisan kanker payudara di

1.3.2.8

Puskesmas Jatisari, Kecamatan Jatisari, Kabupaten Karawang periode Januari


sampai dengan Desember 2013.
1.4. Manfaat Evaluasi Program
1.4.1 Bagi evaluator
1. Menerapkan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh saat kuliah.
2. Melatih serta mempersiapkan diri untuk mengevaluasi program, khususnya Program
Kesehatan dengan pendekatan sistem bermula dari masukan, proses, keluaran,
dampak dan lingkungan.
3

3. Mengetahui kendala yang dihadapi dalam mengambil langkah-langkah yang harus


dilakukan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan antara lain perencanaan,
pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan.
1.4.2

Bagi perguruan tinggi


1. Mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam melaksanakan fungsi atau tugas
perguruan tinggi sebagai lembaga yang menyelenggarakan pendidikan, penelitian dan
pengabdian bagi masyarakat.
2. Mewujudkan kampus sebagai masyarakat ilmiah dalam peran sertanya di bidang
kesehatan.

1.4.3

Bagi Puskesmas yang dievaluasi


Dengan adanya masukan-masukan berupa hasil evaluasi dan beberapa saran-saran maka
diharapkan dapat menjadi umpan balik positif bagi Puskesmas Jatisari dalam
meningkatkan efisiensi dan efektivitas program pencegahan kanker leher rahim dan
kanker payudara sehingga Puskesmas dapat mengetahui besarnya permasalahan
khususnya mengenai kanker payudara dan kanker leher rahim di wilayah kerja
Puskesmas serta faktor risiko yang ditemukan sehingga dapat dilakukan tindakan

1.4.4

pencegahan yang tepat.


Bagi masyarakat
Menurunkan angka kesakitan dan kematian yang diakibatkan oleh kanker leher rahim dan
kanker payudara dengan cara deteksi dini dan perlakuan yang tepat bagi masyarakat yang
membutuhkan sebagai upaya menghentikan penyakit pada tahap awal.

1.4.5

Sasaran
Semua perempuan berusia 30-50 tahun yang ada di Puskesmas Jatisari, Kecamatan
Jatisari, Kabupaten Karawang periode Januari sampai dengan Desember 2013.

Bab II
Materi Dan Metode
2.1

Materi
Materi yang dievaluasi dalam program ini terdiri dari laporan hasil kegiatan bulanan dan
laporan tahunan Puskesmas mengenai program pencegahan kanker leher rahim dan
kanker payudara di Puskesmas Jatisari, Kecamatan Jatisari, Kabupaten Karawang periode
Januari sampai dengan Desember 2013, yang berisi kegiatan:
1. Konseling
2. Penyuluhan kelompok
3. Penapisan kanker leher rahim
4. Penapisan dengan hasil IVA positif pada penapisan kanker leher rahim
5. Penanganan dengan krioterapi pada penapisan kanker leher rahim dengan IVA
positif
6. Pelayanan rujukan pada penapisan kanker leher rahim
7. Penapisan kanker payudara
8. Pelayanan rujukan pada penapisan kanker payudara

2.2

Metode
Evaluasi dilakukan dengan cara mengetahui cakupan program pencegahan kanker leher
rahim dan kanker payudara di Puskesmas Jatisari, Kecamatan Jatisari, Kabupaten
Karawang periode Januari sampai dengan Desember 2013 yang kemudian dibandingkan
dengan tolok ukur yang ditetapkan dengan mengadakan pengumpulan data, pengolahan
data, analisis data dan interpretasi data dengan menggunakan pendekatan sistem sehingga
dapat ditemukan masalah yang ada dari pelaksanaan program pencegahan kanker leher
rahim dan kanker payudara di Puskesmas Jatisari dan kemudian dibuat usulan dan saran
sebagai pemecahan masalah tersebut berdasarkan penyebab masalah yang ditemukan dari
unsur-unsur sistem.

Bab III
Kerangka Teori
3.1

Kerangka Teoritis

Lingkungan

Masukan

Proses

Keluaran

Dampak

Umpan Balik

Gambar 1. Unsur Sistem


Menurut Ryans, sistem adalah gabungan dari elemen-elemen yang saling dihubungkan
oleh suatu proses atau struktur dan berfungsi sebagai salah satu kesatuan organisasi dalam upaya
menghasilkan sesuatu yang telah ditetapkan.
Pendekatan sistem adalah prinsip pokok atau cara kerja sistem yang diterapkan pada
waktu menyelenggarakan pekerjaan administrasi. Dibentuknya suatu sistem pada dasarnya untuk
mencapai suatu tujuan tertentu yang telah ditetapkan. Untuk terbentuknya sistem tersebut perlu
dirangkai beberapa unsur atau elemen sedemikian rupa sehingga secara keseluruhan membentuk
suatu kesatuan dan secara bersama-sama berfungsi untuk mencapai kesatuan.
Ada 6 unsur yang saling berhubungan dan mempengaruhi pada sistem, yaitu
1. Masukan (input)
Masukan adalah kumpulan bagian atau elemen yang terdapat dalam sistem dan yang
diperlukan untuk dapat berfungsinya sistem tersebut. Terdiri dari tenaga (man), dana
(money), sarana (material) dan metode (method).
2. Proses (process)
6

Proses adalah kumpulan bagian atau elemen yang terdapat dalam sistem dan yang
berfungsi untuk mengubah masukan menjadi keluaran yang direncanakan. Terdiri dari
perencanaan (planning), organisasi (organization), pelaksanaan (actuating) dan
pengawasan (controlling).
3. Keluaran (output)
Keluaran adalah kumpulan bagian atau elemen yang dihasilkan dari berlangsungnya
proses dalam sistem.
4. Lingkungan (environment)
Lingkungan adalah dunia di luar sistem yang tidak dikelola oleh sistem tetapi mempunyai
pengaruh besar terhadap sistem.
5. Umpan balik (feedback)
Umpan balik adalah kumpulan bagian atau elemen yang merupakan keluaran dari sistem
dan sekaligus sebagai masukan bagi sistem tersebut.
6. Dampak (impact)
Dampak adalah akibat yang dihasilkan oleh keluaran suatu sistem.
3.2

Tolok Ukur Keberhasilan


Tolok ukur keberhasilan terdiri dari variabel masukan, proses, keluaran, lingkungan,
umpan balik, dan dampak. Digunakan sebagai pembanding atau target yang harus dicapai
dalam program pencegahan kanker leher rahim dan kanker payudara (Lampiran I).

Bab IV
Penyajian Data
4.1
4.1.1

4.1.2

Sumber Data
Data Primer
Wawancara dengan petugas program Puskesmas Jatisari, Kabupaten Karawang dan
petugas Dinas Kesehatan bagian P2PL.
Data Sekunder
Data Monografi Puskesmas Jatisari, Kecamatan Jatisari tahun 2013.
Laporan tahunan Puskesmas Jatisari, Kabupaten Karawang tahun 2013.
Laporan Bulanan IVA UPTD Puskesmas Jatisari periode Januari sampai dengan

Desember 2013.
4.2 Data Umum
4.2.1 Data Geografis
Lokasi puskesmas
Gedung Puskesmas Jatisari, Kecamatan Jatisari, Kecamatan Karawang terletak di
Desa Jatisari yang berjarak 30 Km dengan kota kabupaten Karawang dengan waktu

tempuh 1 jam menggunakan roda 4.


Luas wilayah kerja
Puskesmas Jatisari, Kecamatan Jatisari mempunyai wilayah kerja administratif
seluruh wilayah kecamatan Jatisari, yang memiliki luas area 519,475Ha mencakup
10 desa, 30 dusun, 62 RW, 182 RT dan 1.405 Kepala Keluarga dengan batas wilayah
meliputi:

Sebelah utara
Sebelah selatan
Sebelah barat
Sebelah timur

: Berbatasan dengan Puskesmas Cicinde


: Berbatasan dengan Puskesmas Pacing
: Berbatasan dengan Puskesmas Kota Baru
: Berbatasan dengan Puskesmas Beusi Kabupaten
Karawang

Jarak dari Puskesmas Jatisari dengan kota Kabupaten Karawang yaitu 30 km


sedangkan jarak antar desa ke Puskesmas Jatisari dapat dilihat dibawah ini sebagai
berikut:
Nama Desa
1. Cirejag
2. Cikalongsari

Jarak Terjauh ke Puskesmas (km)


4,5
4
8

Waktu
15
15

3. Jatisari
4. Balonggandu
5. Jatiragas
6. Jatiwangi
7. Kalijati
8. Situdam
9.Barugbug
10. Mekarsari

Lokasi PKM
1
5
7
7
4
7
0,5

10
15
20
30
15
20
5

Jarak terjauh dari desa ke Puskesmas Jatisari, Kecamatan Jatisari yaitu desa Kalijati
dengan jarak 7 km dan merupakan desa dengan waktu tempuh terlama yaitu 30 menit.
4.2.2

Data Demografi
Jumlah penduduk secara keseluruhan di wilayah kerja Puskesmas Jatisari, Kecamatan
Jatisari, Kabupaten Karawang periode Januari sampai dengan Desember 2013 adalah

sebesar 54.233 jiwa.


Jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin adalah laki-laki 27.325 jiwa dan jumlah
perempuan 26.908 jiwa. Jumlah penduduk terbanyak yaitu desa Balonggandu dengan

jumlah 12.872 jiwa. (Selengkapnya dapat dilihat di Lampiran II Tabel 2)


Jumlah desa yang termasuk di wilayah kerja Puskesmas Jatisari adalah sebanyak 10

desa dengan jumlah kepala keluarga (KK) 15.607.


Mata pencaharian terbanyak di Kecamatan Jatisari adalah petani sebanyak 9.522

penduduk. (Selengkapnya terdapat pada Lampiran II Tabel 3)


Tingkat kepercayaan terbesar penduduk di Kecamatan Jatisari yang terbanyak adalah
Islam dengan presentase 99,8% dan sebagian kecil adalah Kristen Katolik/ Prostesten

dengan presentase 0.2%.


Tingkat pendidikan penduduk Kecamatan Jatisari yang terbanyak adalah tamat SD

sebanyak 3450 orang (Selengkapnya terdapat pada Lampiran II Tabel 4)


Pada Kecamatan Jatisari didapatkan proporsi penduduk miskin dan keluarga miskin
sebesar 54,7 % dan 53,6%. Ini merupakan bukti cukup banyaknya penduduk miskin
di wilayah kerja Puskesmas Jatisari, Kecamatan Jatisari, sehingga harus menjadi
perhatian dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. (Selengkapnya
terdapat pada Lampiran II Tabel 5)

4.2.3

Fasilitas Kesehatan
9

Jenis fasilitas pelayanan kesehatan yang ada pada wilayah kerja Puskesmas Jatisari,
Kecamatan Jatisari, Kabupaten Karawang, antara lain Puskesmas (1), Puskesmas
Pembantu (1), Polindes (0), Pusling (1), Ambulan Pusling (1), Posbindu (10),Posyandu
(66), klinik rawat inap (3), Balai Pengobatan 24 jam(2), Klinik Bersalin(3), Balai
Pengobatan Sore Swasta: Dokter(4), Perawat(4), Bidan (11), Pengobatan Tradisional(56),
Toko Obat(1), Apotek(4) (Selengkapnya terdapat pada Lampiran II Tabel 6)
4.3 Data Khusus
4.3.1 Masukan
A. Tenaga
Dokter Umum (terlatih)
: 1 orang
Bidan Puskesmas (terlatih)
: 3 orang
Bidan Desa (terlatih)
: 20 orang
B. Dana
APBD
: Cukup
C. Sarana
Medis :
i. Tes IVA
Meja peralatan (trolley)
: 2 buah
Wadah peralatan dengan tutup
: 2 buah
Meja pemeriksaan
: 1 buah
Lampu sorot sumber cahaya
: 1 buah
Senter (bila listrik mati)
: 1 buah
Baterai kering untuk senter
: 2 buah/bulan
Bivalved spekulum
: 36 (13 buah ukuran kecil, 17 buah sedang,
dan 6 buah besar)
Kain perlak untuk meja ginekologi : 15 buah
Kain penutup perut pasien
: 10 buah
Kursi pemeriksa
: 1 buah
Gallipots antikarat
: 24 buah
Kapas lidi kassa
: Jumlah cukup
Sarung tangan disposable
: Jumlah cukup
Spatula kayu
: Jumlah cukup
Asam asetat 3-5%
: Jumlah cukup
Masker
: Jumlah cukup
Atlas IVA
: 2 buah
ii.
Krioterapi
Unit Krioterapi
: 1 buah (1 untuk cadangan)
Krioterapi tip
: 2 buah (1 untuk cadangan)
Karet penahan untuk krio unit:
: 1 per unit
Tabung CO2
: 2 buah (1 untuk cadangan)
Kereta dorong untuk tabung CO2
: 1 buah
Tang/ spanner
: 1 buah
10

iii.

Mur/ baut Washers krio machine


Pengatur waktu/Timer
Pencegahan Infeksi
Ember plastik dekontaminasi
Larutan klorin 0,5%
Sabun bubuk
Sikat gigi (untuk cuci alat)
Sarung tangan rumah tangga
Tempat sampah plastik
Kantung plastik

iv. Antibiotik untuk IMS


Non-Medis

: Ada
: 1 buah
: 3 buah
: Jumlah cukup
: Jumlah cukup
: 1 buah
: 2 pasang
: Ada
: Jumlah cukup
: Jumlah cukup

Tinta stempel
: 1 buah
Leaflet
: Ada
Poster
: Ada
Catatan Medik Pemeriksaan PAnggul/ IVA dan Payudara
Stempel untuk persetujuan ibu di kartu status ibu
Buku acuan Pencegahan Kanker Leher Rahim dan Kanker Payudara

: Ada
: Ada
: Ada

D. Metode
1. Konseling
Pemahaman yang jelas tentang kanker leher rahim dan kanker payudara merupakan
faktor yang mempengaruhi keberhasilan program pencegahan kanker leher rahim dan
payudara. Oleh karena itu, konseling/ anamnesis/ penyuluhan/ edukasi dilakukan
perorangan sebelum, semasa dan sesudah menjalani pemeriksaan Inspeksi Visual
dengan Asam Asetat terhadap setiap perempuan yang menjalani tes IVA ini.
a.
Sebelum tindakan IVA
Sebelum menjalani tes IVA, pasien diberikan wawancara, edukasi dan
konseling perorangan. Pada anamnesis perorangan dicari faktor risiko baik
kanker leher rahim atau payudara. Dilakukan sesuai dengan lembar Catatan
Medik Pemeriksaan Panggul/ IVA dan Payudara (dapat dilihat di Lampiran V)
yang tercantum dalam lembar dan status pemeriksaan seperti:
Menstruasi <12 tahun
Usia pertama berhubungan seksual <17 tahun
Sering keputihan
Merokok
Terpapar asap rokok >1 jam sehari
Kurang konsumsi buah dan sayur
11

b.
c.

Sering konsumsi makanan berlemak dan berpengawet


Kurang aktifitas fisik (30 menit/hari)
Pernah pap smear
Riwayat keluarga kanker dan jenis kanker
KB hormonal (pil >5 tahun atau suntik >5 tahun)
Riwayat tumor jinak payudara
Riwayat operasi kandungan
Menopause >50 tahun
Kehamilan pertama >35 tahun
Pernah atau tidak menyusui
Pernah atau tidak melahirkan
Semasa tindakan IVA
Setelah tindakan IVA
Jika hasil tes IVA negative, beritahu ibu untuk datang menjalani tes

kembali 5 tahun kemudian dan ingatkan ibu tentang faktor-faktor resiko.


Jika hasil tes IVA positif, jelaskan artinya dan pentingnya pengobatan dan
tindak lanjut dan didiskusikan langkah-langkah selanjutnya yang

dianjurkan.
Jika telah siap menjalani krioterapi, beritahukan tindakan yang akan
dilakukan lebih baik pada hari yang sama atau hari lain bila pasien

inginkan.
Jika tidak perlu merujuk, isi kertas kerja dan jadwal pertamuan yang perlu.
Pada semua kasus, khususnya jika pengobatan diberikan segera, konseling
harus selengkap mungkin untuk memastikan agar ibu dapat membuat
keputusan berdasarkan informasi yang didapatkan (informed consent).

2. Penyuluhan kelompok
Pada sesi penyuluhan kelompok yang diadakan pada kelompok masyarakat dibahas
beberapa topik dengan tujuan memberikan informasi tentang kanker leher rahim dan
kanker payudara. Pada saat penyuluhan dalam kelompok selama 10 hingga 15 menit,
topik-topik berikut harus dibahas:

Menghilangkan kesalahpahaman konsep dan rumor tentang IVA dan krioterapi

Sifat dari kanker leher rahim atau payudara sebagai sebuah penyakit

Faktor- faktor risiko terkena penyakit tersebut

Pentingnya penapisan dan pengobatan dini

Konsekuensi bila tidak menjalani penapisan

Mengkaji pilihan pengobatan bila hasil test IVA abnormal


12

Peran pasangan pria dalam penapisan dan keputusan menjalani pengobatan

Pentingnya pendekatan kunjungan tunggal sehingga ibu siap menjalani


krioterapi pada hari yang sama jika mereka mendapat hasil IVA abnormal

3.

Arti test IVA positif atau negatif

Pentingnya membersihkan daerah genital/kemaluan sebelum menjalani test IVA

Penapisan kanker leher rahim


Upaya penapisan merupakan upaya pemeriksaan atau tes sederhana dan mudah
dilaksanakan pada populasi masyarakat yang sehat yang bertujuan untuk mengetahui
masyarakat yang sakit atau berisiko terkena penyakit di antara masyarakat yang sehat.
Dalam hal ini dilakukan Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) untuk pemeriksaan
lesi prakanker leher rahim. Tindakan sesuai prosedur tepat dan etis.
Tes IVA dilakukan dengan prosedur pasien berada dalam posisi litotomi, kemudian
dengan penerangan yang cukup, dilakukan inspeksi genitalis eksternal dan lihat apakah
terjadi discharge pada mulut uretra. Setiap abnormalitas yang ditemukan, bila ada
dicatat. Katakan pada pasien spekulum akan dimasukkan dan mungkin ibu akan
merasakan beberapa tekanan. Dengan hati-hati masukan spekulum sepenuhnya atau
sampai terasa ada tahanan lalu secara perlahan buka bilah untuk melihat serviks. Atur
spekulum sehingga seluruh leher rahim dapat terlihat. Serviks diamati apakah ada
infeksi (cervicitis) seperti discharge/ cairan keputihan (mucopus), ektropion (ectropion),
kista Nabothian, nanah dan lesi strawberry (infeksi Trichomonas). Kapas lidi yang
bersih digunakan untuk membersihkan cairan yang keluar, darah atau mukosa serviks
dan dilakukan indentifikasi ostium servikalis dan SSK serta daerah di sekitarnya. Kapas
lidi dibasahi dengan larutan asam asetat dan dioleskan pada serviks dan didiamkan
selama kurang lebih 1 menit agar diserap dan memunculkan reaksi. Periksa SSK
dengan teliti dan apakah serviks mudah berdarah dan dicari apakah ada bercak putih
yang tebal atau epitel aceto-white yang menandakan IVA positif. Leher rahim yang
normal akan tetap bewarna merah muda sementara hasil positif bila ditemukan area,
plak atau ulkus yang bewarna putih. Bila pemeriksaan visual pada serviks telah selesai,
gunakan kapas lidi yang baru untuk menghilangkan sisa asam asetat dari serviks dan
vagina. Spekulum dilepaskan secara perlahan.
13

4.

Penapisan dengan hasil IVA positif pada penapisan kanker leher rahim
Hasil daripada pemeriksaan Inspeksi Visual dengan Asam Asetat dibahagikan mengikut
kategori klasifikasi IVA seperti tabel dibawah:
Klasifikasi IVA
Tes Negatif

Kriteria Klinis
Halus, berwarna merah muda, seragam, tidak berfitur, ektropion,

Tes Positif

cervicitis, ovula Nabothian dan lesi acetowhite tidak singnifikant


Bercak putih (acetowhite epithelium sangat jelas terlihat) dengan
batas yang tegas dan meninggi, tidak mengkilap yang terhubung

Dicurigari
kanker

5.

atau meluas dari SSK (squamocolumnar junction)


Pertumbuhan massa seperti kembang kol yang mudah berdarah
atau luka bernanah/ ulcer
Tabel 1. Klasifikasi IVA mengikut kriteria klinis

Penanganan dengan krioterapi pada penapisan kanker leher rahim dengan IVA
positif
Perempuan yang mendapat hasil tes IVA positif termasuk perempuan dengan usia
kehamilan kurang dari 20 minggu boleh mendapatkan pengobatan krioterapi. Lesi yang
dapat dilakukan krioterapi di Puskesmas dan unit pelayanannya dan Rumah Sakit yang
mempunyai pelayanan ginekologi.
Lesi aceto-white yang menutupi serviks kurang dari 75% (jika lebih dari 75%

serviks tertutup harus dilakukan oleh ahli ginekologi)


Tidak lebih dari 2mm dari diameter prob krioterapi
Lesi tidak meluas sampai dinding vagina atau kanal serviks diluar jangkauan

krioprob
Tidak dicurigai kanker
Prosedur krioterapi yang tidak dapat dilakukan oleh tenaga dokter umum/ bidan di
Puskesmas yaitu:
Lesi aceto white yang menutupi serviks lebih dari 75% permukaan leher rahim
Lesi acetowhite meluas sampai ke dinding vagina atau lebih dari 2 mm di luar

kriotip
Pasien menginginkan pengobatan lain selain dari krioterapi atau meminta tes

diagnosa lebih lanjut


Dicurigai kanker
Pada pemeriksaan bimanual, dicurigai adanya massa ovarium (ovarium mass)

atau fibroid
Proses pembekuan leher rahim baik menggunakan CO 2 terkompresi atau NO2 sebagai
pendingin (pendinginan terus-menerus selama tiga menit untuk membekukan, diikuti
14

pencairan selama lima menit kemudian tiga menit pembekuan kembali). Tindakan
sesuai prosedur legeartis.
6.

Pelayanan Rujukan pada penapisan kanker leher rahim


Bidan dan dokter umum harus merujuk pasien yang mengalami kondisi-kondisi di
bawah ini ke tingkat fasilitas perawatan yang lebih tinggi:
Lesi aceto-white lebih dari 75% permukaan serviks
Lesi aceto-white meluas sampai dinding vagina atau melebihi 2 mm dari tepi
luar prob krioterapi.
Pelayanan rujukan pada penapisan kanker leher rahim juga dilakukan sesuai temuan
IVA seperti tabel dibawah:
Temuan IVA
Bila ibu dicurigari menderita

Tindakan Rujukan
Segera rujuk ke RS Kab/ Kota atau Propinsi

kanker leher rahim

yang dapat memberikan pengobatan kanker

Ibu dengan hasil tes positif yang

yang memadai.
Rujuk untuk penilaian dan pengobatan di

lesinya menutupi rahim lebih dari

fasilitias terdekat yang menawarkan LEEP atau

75%, meluas ke dinding vagina

cone biopsy. Jika tidak mungkin atau dianggap

atau lebih luas 2 mm dari probe

tidak akan pergi ke fasilitas lain, beritahu

krioterapi.

tentang kemungkinan besar ersintensi lesi


dalam waktu 12 bulan dan tentang perlunya

Ibu dengan hasil tes positif yang

pengobatan ulang.
Beritahu mengenai kelebihan dan kekurangan

memenuhi kriteria untuk

semua metode pengobatan. Rujuk ke RS Kab/

mendapat pengobatan segera

Kota atau Propinsi terdekat yang menawarkan

tetapi meminta diobati dengan

pengobatan sesuai keinginan pasien.

tindakan lain, bukan dengan


kriterapi
Ibu dengan hasil tes positif yang

Rujuk ke fasilitas tersier (RS Propinsi/ Pusat)

meminta tes lebih lanjut (diagnose

yang menawarkan klinik ginekologi (bila

tambahan), yang tidak tersedia di

diindikasi).

Puskesmas.
Ibu dengan hasil tes positif yang

Beritahu tentang kemungkinan pertumbuhan

menolak menjalani pengobatan

penyakit dan prognosisnya. Anjurkan untuk


datang kembali setelah setahun untuk
15

menjalani tes IVA kembali untuk menilai status


lesinya.
Tabel 2. Pelayanan rujukan penapisan kanker leher rahim sesuai dengan temuan IVA
7.

Penapisan kanker payudara


Terdiri dari skrining kanker payudara (Clinical Breast Examination) dan edukasi
masyarakat tentang Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI). Pemeriksaan sesuai
prosedur yang tepat. Penapisan pada kanker payudara yang dilakukan oleh petugas
kesehatan dapat dilakukan dengan pelbagai cara, antara lain adalah Cinical Breast
Examination (CBE). Pada perempuan berumur 20-40 tahun, CBE dianjurkan untuk
dilakukan tiga tahun sekali. Untuk perempuan yang mendapatkan kelainan pada saat
SADARI dianjurkan untuk melaksanakan CBE sehingga dapat lebih dipastikan apakah
ada kemungkinan keganasan. Pada perempuan berusia di atas 40 tahun, dilakukan CBE
setiap tahun.

8.

Pelayanan rujukan pada penapisan kanker payudara


Rujukan dilakukan pada setiap kasus berat yang menunjukkan tanda bahaya yang tidak

dapat diatasi serta pada kasus yang dicurigai keganasan.


4.3.2 Proses
A. Perencanaan
Ada perencanaan tertulis mengenai:
1. Konseling
Dilakukan pada hari pelayanan IVA yaitu Selasa dan Kamis oleh bidan di Puskesmas
dengan memberikan sesi konseling perorangan kepada setiap wanita yang datang
untuk menjalani pemeriksaan Inspeksi Visual dengan Asam Asetat di Puskesmas.
Konseling perorangan dilakukan sebelum, semasa dan sesudah pemeriksaan IVA
dilakukan. Dilakukan juga konseling dan sosialisasi kepada pasien yang menjadi
sasaran yang datang ke Balai Pengobatan Umum dengan menganjurkan kepada
mereka untuk menjalani pemeriksaan IVA.
2. Penyuluhan Kelompok
Dilakukan berkelompok satu kali setiap bulan di setiap desa oleh bidan-bidan desa.
3. Penapisan kanker leher rahim
Dilakukan pada hari Selasa dan Kamis oleh bidan di gedung KIA Puskesmas atau di
tempat lain secara berkelompok oleh bidan desa serta satu bulan diadakan satu kali di
setiap desa.
16

4. Penapisan dengan hasil IVA positif pada penapisan kanker leher rahim
Dilakukan pada hari Selasa dan Kamis oleh bidan di gedung KIA Puskesmas atau di
tempat lain secara berkelompok oleh bidan desa serta satu bulan diadakan satu kali di
setiap desa.
5. Penanganan dengan krioterapi pada penapisan kanker leher rahim
Single Visit Approach yaitu dilakukan krioterapi untuk IVA positif pada saat itu juga.
Dilakukan pada hari Selasa dan Kamis oleh dokter atau bidan terlatih di gedung KIA
Puskesmas atau tempat lain secara berkelompok serta satu bulan diadakan satu kali di
setiap desa.
6. Pelayanan Rujukan pada Penapisan kanker leher rahim
Dilakukan pada hari Selasa hingga Jumat oleh dokter maupun bidan di gedung KIA
Puskesmas, berupa sistem rujukan bagi pasien dengan efek samping maupun
komplikasi yang berat yang tidak dapat ditangai oleh tenaga medis di Puskesmas.
Rujukan diberikan ke RSUD Karawang atau rumah sakit yang bekenaan bagi pasien.
7. Penapisan kanker payudara
Dilakukan pada hari Selasa dan Kamis oleh bidan di gedung KIA Puskesmas atau
tempat lain secara berkelompok oleh bidan desa serta satu bulan diadakan satu kali di
setiap desa.
8. Pelayanan rujukan pada penapisan kanker payudaya
Dilakukan pada hari Selasa hingga Jumat oleh dokter maupun bidan di gedung KIA
Puskesmas, berupa sistem rujukan bagi pasien dengan efek samping maupun
komplikasi yang berat yang tidak dapat ditangani oleh tenaga medis di Puskesmas.
Rujukan diberikan ke RSUD Karawang atau rumah sakit yang bekenaan bagi pasien.
9. Pencatatan dan pelaporan
Setiap akhir bulan oleh bidan di Puskesmas, berupa kegiatan pencatatan hasil kegiatan
program pencegahan kanker rahim dan payudara di Puskesmas setempat dan
dilaporkan setiap bulan.
B. Pengorganisasian
Struktur organisasi tertulis dan pemberian tugas yang teratur dalam melaksanakan
tugasnya.
17

Kepala Puskesmas
HJ. Een Nuraeni, SKM

Penanggung jawab
Pelaksana Pelayanan IVA
dr. Diah Eka Yusnitasari
Koordinator IVA
Ooy Suhartika, SST
Koordinator Pelayanan
Bd. Dewi S. AMKeb

Bidan-Bidan Desa

Bagan 1. Struktur Organisasi Program Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA)
Puskesmas Jatisari, Kecamatan Jatisari, Kabupaten Karawang
C. Pelaksanaan
1. Konseling
Dilakukan kepada semua pasien hanya pada hari Selasa dan Kamis oleh bidan di
Puskesmas dan konseling dilakukan kepada sasaran perorangan sebelum, semasa dan
sesudah pemeriksaan IVA dilakukan. Sosalisasi kepada pasien yang menjadi sasaran
dijalankan pada hari Selasa dan Kamis di Balai Pengobatan Umum.
2. Penyuluhan kelompok
Tidak terdapat data bertulis mengenai pelaksanaan penyuluhan kelompok di desa-desa
oleh bidan desa.
3. Penapisan kanker leher rahim
18

Dilakukan hanya pada hari Selasa dan Kamis di Puskesmas oleh bidan di Puskesmas.
Tidak terdapat data bertulis mengenai pelaksanaan penapisan kanker leher rahim di
tempat lain secara berkelompok oleh bidan desa satu bulan satu kali di setiap desa.
4. Penapisan dengan hasil IVA positif pada penapisan kanker leher rahim
Dilakukan hanya pada hari Selasa dan Kamis di Puskesmas oleh bidan di Puskesmas.
Tidak terdapat data bertulis mengenai penapisan dengan hasil IVA positif pada
penapisan kanker leher rahim di tempat lain secara berkelompok oleh bidan desa satu
bulan satu kali di setiap desa.
5. Penanganan dengan krioterapi pada penapisan kanker leher rahim
Dilakukan hanya pada hari Senindan Kamis oleh dokter terlatih di Puskesmas. Semua
pasien yang ditemukan positif IVA pada hari pelayanan IVA dan memerlukan
tindakan krioterapi akan dijadwalkan untuk dilakukan krioterapi pada hari senin dan
kamis.
6. Penapisan Rujukan pada Penapisan kanker leher rahim
Dilakukan pada hari Selasa hingga Jumat di Puskesmas oleh dokter maupun bidan di
Puskesmas.
7. Penapisan kanker payudara
Dilakukan hanya pada hari Selasa dan Kamis di Puskesmas oleh bidan. Tidak terdapat
data bertulis mengenai pelaksanaan penapisan kanker payudara di tempat lain secara
berkelompok oleh bidan desa satu bulan satu kali di setiap desa
8. Pelayanan rujukan
Dilakukan pada hari Selasa hingga Jumat oleh dokter maupun bidan di Puskesmas.
9. Pencatatan dan pelaporan
Dilakukan pada setiap akhir bulan oleh bidan di Puskesmas.
C. Pengawasan
Pencatatan dan pelaporan bulanan oleh bidan.
Rapat bulanan yang dipimpin oleh kepala Puskesmas Jatisari, Kecamatan Jatisari,
Kabupaten Karawang.
4.3.3 Keluaran
1) Cakupan Konseling
Perkiraan target sasaran
Data Dinas Kesehatan Karawang tahun 2013, jumlah sasaran penapisan Puskesmas
Jatisari, Kecamatan Jatisari (wanita usia subur = 7.356 orang perempuan.
19

Target penapisan

= 80% x 7.356
= 5885 orang perempuan

Target yang akan ditapis tiap tahun

= 5.885
5
= 1.177 orang perempuan

Persentase konseling
=
= 529 X 100%
529
= 100%

2) Cakupan Penyuluhan Kelompok


Tidak terdapat data mengenai pelaksanaan penyuluhan kelompok.

20

3) Cakupan Penapisan Kanker Leher Rahim


Inspeksi

Curiga

Visual dengan

Ca

Asam Asetat
Bulan
Januari 2013
Februari 2013
Maret 2013
April 2013
Mei 2013
Juni 2013
Juli 2013
Agustus 2013
September

33
35
83
25
63
40
22
29

IVA (+)
0
1
2
0
0
2
0
0

Krioterapi Rujukan Komplikasi


0
0
0
1
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0

0
0
0
0
0
1
0
0

2013
Oktober 2013
November

42
60

0
2

1
1

0
1

1
1

0
0

2013
Desember

49

2013
48
0
0
0
0
0
4
Total
529
8
4
4
0
Tabel 3. Jumlah Penapisan Kanker Leher Rahim Puskesmas Jatisari, Kecamatan Jatisari,
Kabupaten Karawang periode Januari sampai dengan Desember 2013

Persentase penapisan kanker leher rahim


=
= 529

x 100%

1.177
= 44,95%
4) Cakupan Penapisan dengan Hasil IVA Positif
Persentasi penapisan dengan hasil IVA positif

21

=
=8

x 100%

529
= 1,512%
5) Cakupan Penanganan dengan Krioterapi pada Penapisan Kanker Leher Rahim
Persentase penanganan dengan krioterapi
=
= 4 x 100%
8
= 50%
6) Cakupan Pelayanan Temuan Kasus Rujukan Penapisan Kanker Leher Rahim
a) Cakupan temuan kasus rujukan kanker leher rahim
Persentase temuan kasus rujukan kanker leher rahim
=

=
= 80%
b) Cakupan Pelayanan rujukan Kanker Leher Rahim
Cakupan pelayanan rujukan kanker leher rahim
=

=
=100%
22

7) Cakupan Penapisan Kanker Payudara


Bulan
Clinical Breast Examination Benjolan (+) Rujukan
Januari 2013
33
0
0
Februari 2013
35
0
0
Maret 2013
83
0
0
April 2013
25
0
0
Mei 2013
63
0
0
Juni 2013
40
0
0
Juli 2013
22
0
0
Agustus 2013
29
0
0
September 2013
42
0
0
Oktober 2013
60
0
0
November 2013
49
0
0
Desember 2013
48
0
0
Total
529
0
0
Tabel 4. Jumlah Penapisan Kanker Payudara Puskesmas Jatisari, Kecamatan Jatisari,
Kabupaten Karawang periode Januari sampai dengan Desember 2013.

Persentase penapisan kanker payudara


=
= 529 x 100%
1.177
= 44,94%

8) Cakupan Pelayanan Rujukan pada Penapisan Kanker Payudara


a) Cakupan temuan kasus rujukan kanker payudara
Persentase temuan kasus rujukan kanker payudara
=

= 0

x 100%

1.177
= 0%
23

b) Cakupan pelayanan rujukan kanker payudara


Persentase pelayanan kasus rujukan kanker payudara
=

=
= 0%
4.3.4 Lingkungan
A. Fisik
a) Lokasi Puskesmas
Lokasi puskemas mudah dijangkau oleh masyarakat di wilayah kerja Puskesmas
Jatisari, Kecamatan Jatisari, Kabupaten Karawang.
b) Transportasi
Tersedia sarana transportasi umum yang relatif murah seperti ojek dan mobil

angkutan umum.
Jalur jalan raya yang rata dan tidak sukar dilalui oleh prasarana trasportasi

darat.
Di Puskesmas terdapat 1 ambulans yang siap pakai.
c) Fasilitas kesehatan
Adanya kerjasama yang baik antara Puskesmas dengan fasilitas kesehatan
yang lain seperti Rumah Sakit Bersalin (RSB) dan Bidan Praktek Swasta
(BPS).
B. Non Fisik
a) Pendidikan

: Mayoritas berpendidikan rendah (tamat SD) sebanyak 3.450


orang
b) Sosial Ekonomi : Mayoritas bekerja sebagai petani sebanyak 9.522 orang
c) Agama
: Mayoritas beragama Islam sebanyak 99,8%
d) Dukungan suami : Mayoritas istri akan meminta persetujuan suami untuk setiap
tindakan

4.3.5

Umpan Balik
A. Pencatatan dan pelaporan yang lengkap dan sesuai
dengan waktu yang ditentukan akan dapat digunakan
sebagai masukan
24

Ada

B. Rapat kerja yang membahas laporan kegiatan setiap


bulannya untuk mengevaluasi program yang telah

Tidak Ada

dijalankan
4.3.6

Dampak
A. Langsung
1. Menurunkan jumlah kesakitan kanker leher rahim
dan kanker payudara
2. Menurunkan jumlah kematian kanker leher rahim
dan kanker payudara
B. Tidak Langsung
Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat

25

Belum dapat dinilai


Belum dapat dinilai

Belum dapat dinilai

Bab V
Pembahasan
Tabel 5. Masalah Menurut Variabel Keluaran:
No.
Variabel
1
Persentase penapisan kanker

Tolok Ukur
100%

Pencapaian
44,94%

Masalah
(+) 55,06%

100%

44,94%

(+) 55,06%

85%

50%

(+) 35%

leher rahim
2.

Persentase penapisan kanker


payudara

3.

Persentase penanganan dengan


krioterapi

pada

penapisan

kanker leher rahim


Keterangan : = bermasalah

Tabel 6. Masalah Menurut Variabel Proses:


No
Variabel
1.
Konseling

Tolok Ukur
Pencapaian
Dilakukan Selasa dan Kamis oleh Dilakukan konseling
bidan

di

Puskesmas

memberikan

sesi

Masalah
(+)

dengan sebelum, semasa dan


konseling sesudah

pemeriksaan

perorangan pada setiap wanita pada hari Selasa dan


sebelum,

semasa

dan

sesudah Kamis oleh bidan di

pemeriksaan IVA.

Puskesmas

Dilakukan sosalisasi pada hari Dilakukan

sosialisasi

Selasa dan Kamis kepada sasaran pada hari Selasa dan

(+)

yang datang ke Balai Pengobatan Kamis.


Umum
2.

untuk

menjalani

pemeriksaan IVA.
Penyuluhan Dilakukan satu kali pada satu Tidak
kelompok

bulan di setiap desa oleh bidan bertulis


desa.

3.

Penapisan

terdapat

data

(+)

mengenai

pelaksanaan

penyuluhan kelompok.
Dilakukan Selasa dan Kamis oleh Dilakukan hari Selasa
26

(+)

kanker

bidan di Puskesmas.

leher rahim

dan Kamis oleh bidan

Dilakukansatu bulan diadakan satu


kali di setiap desa di tempat lain
secara berkelompok oleh bidan.

di Puskesmas.
Tidak

terdapat

bertulis

data

(+)

mengenai

pelaksanaan penapisan
kanker

leher

rahim

secara berkelompok di
4.

Penapisan

desa.
Dilakukan Selasa dan Kamis oleh Dilakukan hari Selasa

dengan

bidan di Puskesmas.

hasil

IVA

positif pada
penapisan
kanker
leher rahim

dan Kamis oleh bidan

Dilakukan penapisan dengan hasil


IVA positif pada penapisan kanker
leher rahim satu bulan diadakan
satu kali di setiap desa di tempat
lain

secara

(+)

berkelompok

oleh

di Puskesmas.
Tidak

terdapat

bertulis

data

(+)

mengenai

pelaksanaan penapisan
dengan

hasil

IVA

positif pada penapisan

bidan.

kanker

leher

rahim

secara berkelompok di
desa.
5.

Penangana
n

Single

Visit

dengan dilakukan

krioterapi

Approach

pada

harus

setiap

Masih

belum

kasus dijalankan

dengan IVA positif.

(+)

Single

Visit Approach untuk


setiap

kasus

IVA

positif yang ditemui


Tindakan

krioterapi

pada

Selasa dan Kami.

hari Tindakan

krioterapi

(+)

pada hari Selasa dan


Kamis,

Tindakan dilakukan oleh dokter Hanya


atau bidan terlatih.

terdapat

(+)

seorang dokter terlatih


untuk

melakukan

tindakan krioterapi
Setiap

hasil

pemeriksaan

IVA Setiap

lesi

yang

positip harus di pastikan adakah dijumpai dengan IVA


27

(-)

dapat ditangani di puskesmas atau positif


tidak.

di

pastikan

bahwa bukan dicurigai


kanker

dan

dapat

dilakukan krioterapi di
5.

Penapisan

puskesmas
Dilakukan Selasa dan Kamis oleh Dilakukan hari Selasa

kanker

bidan di Puskesmas.

hingga

payudara

Jumat

(+)

oleh

bidan di Puskesmas.
Dilakukansatu bulan diadakan satu Tidak

terdapat

kali di setiap desa di tempat lain tertulis


secara berkelompok oleh bidan.

data

(+)

mengenai

pelaksanaan penapisan
kanker

leher

rahim

secara berkelompok di
desa.
Tabel 7. Masalah Menurut Variabel Lingkungan:
No.
1.

Variabel
Pendidikan

Tolok Ukur
Pencapaian
Tidak
menjadi Mayoritas berpendidikan
faktor penghambat

Dukungan suami

Tidak

rendah

(tamat

SD)

sebanyak 3.450 orang


menjadi Mayoritas
istri
akan

faktor penghambat

meminta
suami

Masalah
(+)

(+)

persetujuan
untuk

setiap

tindakan
* Tabel pembahasan pembandingan variable dengan tolok ukur untuk mengetahui masalah dapat dilihat
selengkapnya di Lampiran III.

Bab VI
Perumusan Masalah
Masalah menurut keluaran (masalah sebenarnya):
28

A. Cakupan penapisan kanker leher rahim masih kurang 44,94% dari target sebesar 100%.
Besarnya masalah adalah 55,06%
B. Cakupan penapisan kanker payudara masih kurang 44,94% dari target sebesar 100%.
Besarnya masalah adalah 55,06%
C. Cakupan penanganan dengan krioterapi pada penapisan kanker leher rahim masih kurang
50% dari target sebesar 85%. Besarnya masalah adalah 35%.
Masalah lain (penyebab):
1. Konseling hanya dilakukan pada hari Selasa dan Kamis oleh Bidan di Puskesmas.
2. Tidak terdapat data tertulis mengenai pelaksanaan kegiatan penyuluhan kelompok.
3. Penapisan kanker leher rahim hanya dilakukan pada hari Selasa dan Kamis oleh bidan di
Puskesmas.
4. Penanganan krioterapi dilakukan pada hari Selasa dan Kamis oleh dokter terlatih di
Puskesmas.
5. Masih belum dijalankan Single Visit Approach untuk setiap kasus IVA positif yang
ditemui.
6. Penapisan kanker payudara hanya dilakukan pada hari Selasa dan Kamis oleh bidan di
Puskesmas.
7. Mayoritas penduduk di Kecamatan Jatisari, Kabupaten Karawang berpendidikan rendah
(tamat SD) sebanyak 3.450 orang.
8. Mayoritas istri akan meminta persetujuan suami untuk setiap tindakan.

Bab VII
Prioritas Masalah
Masalah menurut keluaran:
A. Cakupan penapisan kanker leher rahim masih kurang 44,94% dari target sebesar
100%. Besarnya masalah adalah 55,06%
B. Cakupan penapisan

kanker payudara masih kurang 44,94% dari target sebesar

100%. Besarnya masalah adalah 55,06%


C. Cakupan penanganan dengan krioterapi pada penapisan kanker leher rahim masih
kurang 50% dari target sebesar 85%. Besarnya masalah adalah 35%.
29

Prioritas Masalah:
No.

Parameter

Besarnya masalah

A
5

2.

Berat ringannya akibat yang ditimbulkan

Masalah
B
C
5
3
5
4

3.

Keuntungan sosial yang diperoleh

4.

Teknologi yang tersedia

5.

Sumber daya yang tersedia

23

20

21

Total
Keterangan derajat masalah:
5 = Sangat penting
4 = Penting
3 = Cukup penting
2 = Kurang penting
1 = Sangat kurang penting

Yang menjadi prioritas masalah adalah:


1. Cakupan penapisan kanker leher rahim masih kurang sebanyak 44,94% dari target sebesar
100%. Besarnya masalah adalah 55,06%.
2. Cakupan penapisan kanker payudara masih kurang 50% dari target sebesar 85%. Besarnya
masalah adalah 35%
Bab VIII
Penyelesaian Masalah
Masalah:
1.

Cakupan penapisan kanker leher rahim masih kurang sebanyak 44,94% dari target
sebesar 100%. Besarnya masalah adalah 55,06%.
30

Penyebab:

Konseling hanya dilakukan pada hari Selasa dan Kamis oleh Bidan di Puskesmas.
Tidak terdapat data tertulis mengenai pelaksanaan kegiatan penyuluhan kelompok.
Upaya penyuluhan yang berkesan yaitu secara perorangan dan kumpulan dengan teknik
berbincang dan berdiskusi masih belum diterapkan pada hari pelayanan IVA yaitu Selasa

dan Kamis.
Penapisan kanker leher rahim hanya dilakukan pada hari Selasa dan Kamis oleh bidan di

Puskesmas.
Kurangnya info mengenai pelayanan penapisan kanker leher rahim dan kanker payudara

di gedung KIA Puskesmas dan hari pelayanan progam ini setiap hari Selasa dan Kamis.
Pengetahuan masyarakat yang masih kurang mengenai kanker leher rahim dan kanker

payudara serta deteksi dini.


Mayoritas istri akan meminta persetujuan suami untuk setiap tindakan.

Penyelesaian:
Menambah hari pelayanan konseling sehingga lebih banyak kesempatan melakukan
konseling untuk istri dan suami mengenai kepentingannya pemeriksaan untuk penapisan
kanker leher rahim dan kanker payudara ini.
Memberikan penyuluhan secara rutin sesuai dengan perencanaan awal untuk
meningkatkan tingkat pengetahuan masyarakat tentang pentingnya pencegahan kanker
leher rahim. Penyuluhan yang diberikan tidak hanya untuk kelompok wanita, namun juga
dilakukan untuk kelompok pria atau suami untuk meningkatkan tingkat pengetahuan akan
pentingnya pencegahan kanker leher rahim sehingga diharapkan adanya dukungan dari
pihak pria atau suami terhadap kegiatan pencegahan kanker leher rahim. Penyuluhan
sebaiknya diadakan dengan sistem terbuka melalui kerja sama dari Puskesmas dengan
pihak luar seperti media massa, pamong desa, tokoh agama, sponsor bakti sosial yang
dilakukan secara rutin.
Melengkapi kegiatan penyuluhan dengan data tertulis baik perencanaan, pelaksanaan, dan
hasil dari kegiatan sehingga kegiatan penyuluhan dapat dinilai manfaatnya.
Menambah hari pelayanan penapisan kanker leher rahim dan melakukan pelatihan kepada
bidan tentang cara melakukan pemeriksaan IVA sehingga dapat dilaksanakan lebih
banyak dan lebih sering lagi.

31

Memberi info mengenai pelayanan penapisan kanker leher rahim dan kanker payudara
yang dijalankan di Puskesmas dengan bantuan lintas sektor seperti lansia dan lintas
program POSYANDU dan kelas ibu hamil.
Bidan-bidan desa memainkan peran dengan memberikan penyuluhan mengenai
penapisan kanker leher rahim dan kanker payudara di tempat praktek.
Bidan-bidan desa harus melakukan pelaporan secara bertulis akan setiap kegiatan di
lapangan/ desa yang dilakukan dengan membuat daftar nama dan laporan kegiatan yang
dilakukan.
Dokter, bidan di puskesmas dan bidan di desa bekerjasama untuk melakukan program
seperti IVA keliling di desa-desa.
2.

Cakupan penanganan dengan krioterapi pada penapisan kanker leher rahim masih
kurang sebanyak 50% dari target sebesar 85%. Besarnya masalah adalah 35%.
Penyebab:
Upaya Single visit approach masih belum dilaksanakan lagi oleh bidan atau dokter
terlatih pada yang menemui kasus IVA positif. Pendekatan ini penting untuk memberikan
pemahaman tentang kondisi kesehatan isteri dan keluarga mengenai pentingnya

mencegah kanker leher rahim.


Hanya terdapat seorang dokter terlatih untuk melakukan tindakan krioterapi, belum ada

bidan terlatih untuk melakukan krioterapi di Puskesmas.


Pasien yang ditemukan IVA positif pada hari pelayanan IVA selain hari Senin akan
dibuat temu janji untuk pertemuan yang berikutnya pada hari Senin untuk dilakukan

tindakan krioterapi.
Tidak ada informasi yang dapat disebar luaskan kepada keluarga di rumah mengenai IVA

dan tindakan krioterapi


Pengetahuan masyarakat yang masih kurang mengenai penanganan krioterapi pada

perempuan dengan IVA positif.


Mayoritas istri akan meminta persetujuan suami untuk setiap tindakan.

Penyelesaian:

Memberikan pelatihan kepada para bidan untuk melakukan tindakan krioterapi sehingga
kegiatan ini dapat dilakukan dengan metode Single Visit Approach seperti pada
32

perencanaan awal dan tidak hanya bergantung pada seorang dokter terlatih, sebab dokter
tersebut juga mempunyai tugas di bagian lain (UGD atau Balai Pengobatan). Single visit
approach harus dilaksanakan sesuai dengan jadwal pelayanan IVA yaitu hari Selasa dan

Kamis.
Dokter terlatih harus bersedia di tempat bilamana adanya kasus IVA positif yang harus di

krioterapi.
Perlu adanya tambahan tenaga kesehatan yang di latih untuk tindakan krioterapi karena
apabila hanya ada seorang saja dokter terlatih krioterapi, apabila diperlukan dan dia tidak
ada ditempat, maka tindakan harus ditunda dan kebarangkalian untuk datang kembali itu

sangat sedikit.
Perlu adanya penyuluhan secara tertulis seperti pamflet yang berkait mengenai hal
krioterapi seperti maksud IVA dan krioterapi, prosedur, manfaat, komplikasi dan dampak
dari penolakan tindakan krioterapi yang mana dapat di bawa pulang oleh ibu-ibu yang

mendapat pelayanan KIA dan dapat di baca oleh anggota keluarga yang lain.
Memberikan penyuluhan sesuai dengan perencanaan awal yaitu sebanyak satu kali
dalam satu bulan di setiap desa dengan sasaran tidak hanya kepada kelompok wanita,
tetapi juga kepada kelompok pria atau suami untuk meningkatkan pengetahuan dan
kesadaran untuk bersedia melakukan krioterapi dan mengizinkan istri untuk melakukan
krioterapi. Hal ini penting untung mengelakkan terjadinya komplikasi lanjut apabila
tidak dilakukan krioterapi.

33

Bab IX
Kesimpulan Dan Saran
9.1.

Kesimpulan
Dari hasil evaluasi program pencegahan kanker leher rahim dan payudara yang
dilakukan dengan cara pendekatan sistem di Puskesmas Jatisari, Kecamatan Jatisari,
Kabupaten Karawang periode Januari sampai dengan Desember 2013 didapatkan:
1. Cakupan konseling sebesar 100%.
2. Tidak terdapat data pelaksanaan penyuluhan kelompok.
3. Cakupan penapisan kanker leher rahim sebesar 44,94%.
4. Cakupan penapisan kanker leher rahim dengan IVA positif yaitu 1,512%.
5. Cakupan penanganan krioterapi pada penapisan kanker leher rahim sebesar 50%.
6. Cakupan pelayanan rujukan pada penapisan kanker leher rahim 0%.
7. Cakupan penapisan kanker payudara sebesar 44,94%.
8. Cakupan pelayanan rujukan pada penapisan kanker payudara 0%.
Dipilih dua prioritas masalah, yaitu:
1. Cakupan penapisan kanker leher rahim masih kurang sebanyak 26,47% dari
2.

target sebesar 80%. Besarnya masalah adalah 73,53%.


Cakupan penanganan dengan krioterapi pada penapisan kanker leher rahim
masih kurang sebanyak 80% dari target sebesar 85%. Besarnya masalah adalah
5%.

9.2 Saran
Apabila saran ini dapat dijalankan dengan benar, maka diharapkan masalah ini tidak akan
kembali muncul di Puskesmas Jatisari, Kecamatan Jatisari sebagai pokok masalah, yaitu
dengan:
Mengadakan penyuluhan tidak hanya untuk kelompok perempuan, namun juga
dilakukan pada kelompok pria atau suami untuk meningkatkan pengetahuan akan
pentingnya pencegahan kanker leher rahim sehingga dapat meningkatkan kesadaran
untuk melakukan pemeriksaan IVA dan meningkatkan dukungan dari pihak pria atau

suami terhadap kegiatan pencegahan kanker leher rahim.


Penyuluhan dilakukan dengan rutin bekerja sama dengan pihak-pihak luar, seperti
pamong desa, tokoh agama dan organisasi sosial lainnya sehingga dengan dukungan
peran aktif masyarakat dapat mempermudah dan memfasilitasi kegiatan penyuluhan
sehingga dapat meningkatkan kepercayaan dan kesadaran masyarakat untuk
melakukan pemeriksaan IVA.
34

Penyuluhan yang diadakan harus lebih bersifat interaktif dan dinamis dengan
mengikutsertakan narasumber dokter atau

mereka yang menderita kanker leher

rahim sehingga kesadaran masyarakat akan meningkat seiring peningkatan


pengetahuan masyarakat. Adanya penghargaan pada kegiatan juga bisa meningkatkan

motivasi dari masing-masing pihak sehingga dapat terus dilaksanakan dengan rutin.
Perlunya evaluasi cara penyampaian penyuluhan dan konseling diantara dokter,
bidan dan kader sehingga pembaikan dan penuturan bahasa yang benar dapat
membantu menarik minat masyarakat untuk menyertai program penapisan kanker

leher rahim dan kanker payudara yang dijalankan di Puskesmas atau di desa-desa.
Perlunya ada bantuan penyebaran informasi mengenai program penapisan kanker
leher rahim dan kanker payudara yang di laksanakan di gedung KIA Puskesmas
Jatisari lintas sektoral dan lintas program terutama pada program POSYANDU dan

kelas ibu hamil.


Sosialisasi kepada sasaran mengenai program program penapisan kanker leher rahim
dan kanker payudara bukan hanya di BPU tapi diluaskan lagi ke MTBS dan lansia
jika ditemukan wanita sesuai dengan kriteria sasaran untuk pemeriksaan program

penapisan kanker leher rahim dan kanker payudara ini.


Diharapkan agar dokter melatih kembali para bidan untuk melakukan tindakan IVA

sehingga tindakan IVA dapat dilaksanakan lebih banyak dan lebih sering lagi.
Diharapkan agar bidan membuat data tertulis didalam sebuah buku mengenai
penyuluhan kelompok mengenai desa mana dilakukan penyuluhan, waktu
pelaksanaan, materi yang diberikan, hasil pelaksanaan sehingga kegiatan penyuluhan

dapat dinilai manfaatnya.


Diharapkan agar dokter terlatih memberi kesempatan kepada bidan terlatih untuk
melakukan tindakan krioterapi sehingga tindakan krioterapi dapat dilaksanakan

secara mandiri dengan metode Single Visit Approach.


Pihak puskesmas juga membuat usulan kepada Suku Dinas Kesehatan tentang
penyediaan media-media promosi seperti spanduk, poster, video dan pamflet di
wilayah Kecamatan Jatisari, sehingga diharapkan pada tahun berikutnya dengan
diadakan kegiatan rutin ini, cakupan penapisan kanker leher rahim dan payudara
dapat meningkat dan dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat kanker
payudara dan kanker leher rahim

35

36

Daftar Pustaka
1) Buku Acuan Pencegahan Kanker Leher Rahim dan Kanker Payudara. Direktorat Jendral
PP & PL Depkes RI, Jakarta. 2007.
2) Incidens Cancers in the World Based on International Agency for Research on Cancer.
[updated 2010, cited on 2013]. Diunduh dari http://globocan.iarc.fr. pada tanggal 26
Februari 2013.
3) Profil Kesehatan UPTD/DTP/PONED Puskesmas Jatisari tahun 2013, Dinas Kesehatan
Kabupaten Karawang.
4) Laporan tahunan Puskesmas Jatisari, Kabupaten Karawang tahun 2013.
5) Pedoman Teknis Pengendalian Kanker Payudara dan Kanker Leher Rahim. Kepmenkes
RI No. 796/Menkes/ SK/ VII/ 2010.
6) Skrining Kanker Leher Rahim dengan Metode IVA. DEPKES RI, Jakarta. 2010.
7) Petunjuk teknis pencegahan deteksi dini dan kanker payudara. Direktorat Jendral PP &
PL Depkes RI, Jakarta. 2007.

37