Anda di halaman 1dari 13

Jenis-jenis Gangguan Pendengaran

Gangguan pendengaran pada bayi dan anak


Proses belajar mendengar pada bayi dan anak sangat kompleks dan bervariasi karena
menyangkut aspek tumbuh kembang, perkembangan embriologi, anatomi, fisiologi,
neurologi dan audilogi. Gangguan pendengaran pada bayi dan anak kadang- kadang disertai
dengan keterbelakangan mental, gangguan emosional maupun afasia perkembangan yang
diaali dengan keterlambatan bicara (delayed speech).
Tabel 1. Tahapan perkembangan bicara
Usia

Kemampuan

Neonatus

Menangis (reflex vocalization), mengeluarka suara-suara


mendengkur seperti suara burung (cooing), suara seperti

2-3 bulan

berkumur (gurgles).
Tertawa dan mengoceh tanpa arti (babbling).

4-6 bulan

Mengeluarkan suara yang merupakan kombinasi huruf hidup


(vokal), dan huruf mati (konsonan). Suara berupa ocehan yang

7-11 bulan

bermakna (true babbling atau lalling) seperti pa...pa..da..da


Dapat menggabungkan kata atau suku kata yang tidak
mengandung arti. Usia 10 bulan mampu meniru suara, mulai

12-18 bulan

memberi perhatian terhadap nyanyian atau musik.


Mampu menggabungkan kata atau kalimat

pendek,

mengucapkan kata yang memiliki arti, usia 12-14 bulan


mengerti intruksi sederhana, menunjukan bagian tubuh dan
mainannya, usia 18 bulan mampu mengucapkan 6 -10 kata.
Tabel 2. Perkiraan adanya gangguan pendengaranpada bayi dan anak
Usia
12 bulan

Kemampuan bicara
Belum dapat mengoceh (babbling) atau meniru bunyi.

18 bulan

Tidak dapat menyebutkan 1 kata yang mempunyai arti.

24 bulan

Pembendaharaan kata kuarang dari 10 kata.

30 bulan

Belum dapat merangkai 2 kata.

Penyebab gangguan pendengaran pada bayi dan anak


Dibedakan menurut saat terjadinya gangguan pendengaran yaitu, masa pranatal,
perinatal dan postnatal.
A. Masa pranatal
Non genetik seperti gangguan pada masa kehamilan, kelainan struktur anatomik dan
kekurangan zat gizi (misalnya defisiensi jodium). Pada masa kehamilan, periode yang
paling penting adalah trimester pertama sehingga setiap gangguan atau kelainan yang terjadi
pada masa tersebut dapat menyebabkan ketulian pada bayi. Infeksi bakteri maupun virus
pada ibu hamil seperti Toksoplasmosis, Rubela, Cytomegalovirus, Herpes dan sifilis
(TORCH) dapat berakibat buruk pada pendengaran bayi yang akan dilahirkan. Selain hal
tersebut beberapa jenis obat ototoksik dsn terstogenik berpotensi mengganggu proses
organogenesis dan merusak sel-sel rambut koklea seperti neomisisn, gentamisisn,
streptomisin, salisilat, kina,barbiturat. Malformasi struktur anatomi telinga seperti atresia
liang telinga dan aplasia kokleanjuga akan menyebabkan ketulian.
B. Masa perinatal
Beberapa keadan bayi saat lahir juga merupakan faktor risiko terjadinya gangguan
pendengaran seperti prematur, berat badan lahir rendah (< 2500 gram), hiperbilirubinemia,
dan asfiksia. Umumnya ketulian yang terjadi akibat faktor pranatal dan perinatal adalah tuli
sensorineural bilateral dengan derajat ketulian berat.

C. Masa postnatal
Adanya infeksi bakteri atau virus seperti rubela, campak, parotis, infeksi otak
(meningitis, ensefalitis), perdarahan pada telinga tengah, trauma temporaljuga dapat
menyebabkan tuli saraf atau tuli konduktif.
Diagnosis
Penegakan diagnosis pada gangguan pendengaran anak ataupun bayi harus dilakukan
secepat mungkin walaupun derajat ketulian yang dialami masih ringan. Pada dasarnya anak
bayi sudah bersiap untuk berkomuniksi dengan dunia luar pada usia 18 bulan, jadi sebelum
usia tersebut bayi harus dipersiapkan untuk mendapatkan pertolongan bila mengalami
gangguan.
Pemeriksaan penunjang untuk anak cukup sulit disbanding dengan dewasa karena
memerlukan ketelitian dan kesabaran. Kebanyakan pemeriksaan butuh konfirmasi ulang dan
pemeriksaan tambahan. Selain itu pemeriksa juga harus memiliki pengetahuan yang cukup
untuk mengetahui tahap perkembangan anak yang disesuaikan dengan tahap motoriknya.
1. Behavioral Observation Audiometry (BOA)
Tes ini berdasarkan respon aktif pasien terhadap stimulus bunyi dan merupakan respon
yang di dasari (voluntintary ressponse). Metoda ini dapat mengetahui seluruh sistim auditorik
termasuk pusat kognitif yang lebih tinggi, pemeriksaan ini dapat digunakan pada setiap tahap
usia perkembangan bayi. Namun setiap pilihan jenis tes harus disesuaikan dengan usia bayi.
Pemeriksaan dilakukan diruangan yang cukup tenang (bising lingkungan tidak lebih 60
dB), idealnya pada ruangan kedap suara (sound proof room).

Sebagai sumber bunyi

sederhana dapat menggunakan tepukan tangan , bola plastik berisi pasir, remasan kertas
minyak, bel, trompet karet dan mainan yang mempunyai frekwensi bunyi tinggi (squaker
toy). Dinilai kemampuan anaka dalam memberikan respons terhadap sumber bunyi tersebut

seperti menoleh kearah bunyi, mengejapkan mata, melebarkan mata, mengerutkan wajah,
berhenti menyusu, denyut jantung meningkat dan refleks moro.
2. Timpanometri
Pemeriksaan ini bertujuan untuk menilai kondisi telinga tengah. Gambaran timpano
metri yang abnormal (adanya cairan atau tekanan negatif di telinga tengah), merupakan
petunjuk gangguan pendengaran konduktif. Melalui probe tone ( sumbat liang telinga) yang
di pasangpada liang telingauntuk mengetehai tekanan di liang telinga berdasarkan energi
suara yang dipantulkan kembali oleh gendang telinga. Pada orang dewasa atau pada bayi
berusia diatas 7 bulan digunakan probe tone frekwensi 226 Hz, khusus pada bayi yang
berusia dibawah 6 bulan tidak menggunakan probe tone 226 Hz karena akan terjadi
resonansi pada liang telinga. Sehingga harus digunakan probe tone frekwensi tinggi (668,
678 atau 1000 Hz) Terdapat 4 jenis timpanogram yaitu;
a. Tipe A (normal)
b. Tipe AD (diskontinuitas tulang tulang pendengaran)
c. Tipe AS (kekakuan rangkaian tulsng pendengran)
d. Tipe B (cairan di dalam telinga tengah)
e. Tipe C (gangguan fungsi tuba eustachius)

Gambar 1. Timpanogram

3. Audiometri nada murni


Pemeriksaan menggunakan audiometer, dapat dilakukan pana anak yang berusia lebih
dari 4 tahun yang kooperatif. Sebagai sumber suara digunakan nada murni (pure tone) yaitu
bunyi yang teridiri dari 1 frekwensi. Pemeriksaan dilakukan di ruang kedap suara, dengan
menilai hantaran suara melalui udara (air conduction) melalui headphone pada frekwensi
125, 250, 500, 1000, 2000,4000 dan 8000 Hz. Hantaran susara melalui tulang (bone
conduction) dengan menggunakan bone vibrator pada prosesus mastoid pada prekwensi
500, 1000, 2000, 4000 Hz. Intensitas yang dapat digunakan antara 10 -100 dB (dengan
kelipatan 10), secara bergantian pada kedua telinga. Suara dengan intesitas terendah dapat
didengar dicatat pada audiogram untuk memperoleh informasi tentang jenis derajat ketulian.

4. Oto Acoustic Emission (OAE)


Terdapat 2 jenis OAE yaitu (1) Spontaneus OAE (SPOAE) dan (2) Evoked OAE.
SPOAE adalah mekanisme aktif koklea untuk memproduksi OAE tanpa harus diberikan
stimulus, namun tidak semua orang dengan pendengaran normal mempunyai SPOAE.
EOAE hanya timbul bila diberikan stimulus akustik yang dibedakan menjadi (1) Transient
Evoked OAE (TEOAE) dan (2) Distortion Product OAE (DPOAE). Pada TEOAE stimulus
berupa click sedangkan DPOAE stimulus berupa 2 buah nada murni yang berbeda
frekwensi dan intensitasnya. Pemeriksaan tidak harus di ruang kedap suara, cukup di
ruangan yang tenang. Tujuan dari pemeriksaan ini adalah untuk menilai fungsi koklea yang
obyektif, otomatis (menggunakan kriteria pass / lurus dan refer / tidak lurus ), tidak invasif,
mudah, tidak membutuhkan waktu lama dan praktis sehingga sangat efisien utuk program
skrining pendengaran bayi baru lahir (Universal newborn Hearing Screening).

5. Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA)


Merupakan pemeriksaan elektrofisiologik untuk menilai integritas sistim auditorik,
bersifat obyektif, tidak invasif, dapat memeriksa bayi, anak, dewasa, penderita koma. Bera
merupakan cara pengukuran evoked potential (aktifitas listrik yang dihasilkan n.VIII, pusatpusan neural dan traktus didalam batang otak)
Gangguan Pendengaran Pada Remaja
2.5.1

Noise Induced Hearing Loss (NIHL)


Gangguan pendengaran akibat bising (noise induced hearing loss) ialah gangguan

pendengaran yang disebabkan akibat terpajan oleh bising yang cukup keras dalam jangka
waktu yang cukup lama dan biasanya diakibatkan oleh bising lingkungan kerja. Sifat
ketuliannya adalah tuli sensorineural koklea dan umumnya terjadi pada kedua telinga.
Secara umum bising adalah bunyi yang tidak diinginkan. Secara audiologik bising
adalah campuran bunyi nada murni dengan berbagai frekuensi. Bising yang intensitasnya 85
desibel (dB) atau lebih dapat mengakibatkan kerusakan pada reseptor pendengaran corti di
telinga dalam. Yang sering mengalami kerusakan adalah alat corti untuk reseptor bunyi yang
berfrekuensi 3000 Hertz (Hz) sampai dengan 6000 Hz dan yang terberat kerusakan alat corti
untuk reseptor bunyi yang berfrekuensi 4000 Hz.

Etiologi
Kebiasaan mendengarkan musik
Beberapa hal yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran pada remaja adalah bising
kronik akibat penggunaan telepon genggam, mendengarkan musik melalui earphone,
perangkat audio dalam mobil maupun musik diskotek dan klub-klub malam.

Hal-hal tersebut dapat menyebabkan bising kronik yang dapat mengganggu fungsi
pendengaran. Ambang suara minimal yang dianggap dapat menurunkan fungsi pendengaran
adalah 85 dB dengan paparan lebih dari 8 jam per hari. Intensitas suara yang dihasilkan oleh
earphone dapat mencapai 110 dB. Paparan suara berintensitas 110 dB selama 1 jam per hari
dapat menurunkan fungsi pendengaran.
Musik yang didengar melalui earphone dalam telinga memiliki intensitas bising lebih
besar daripada intensitas bising musik yang didengar tanpa menggunakan earphone dengan
volume yang sama karena jarak sumber suara lebih dekat. Selain itu, earphone dalam telinga
tidak sepenuhnya mencegah masuknya suara-suara bising dari lingkungan sekitar sehingga
penggunanya mempunyai kecenderungan untuk mendengarkan musik dengan volume cukup
besar. Hal tersebut menimbulkan efek trauma lebih besar terhadap reseptor suara di organ
corti.
Bising kronik biasanya menyebabkan kerusakan organ corti di telinga dalam dan
menyebabkan gangguan pendengaran untuk frekuensi tinggi. Bising kronik dapat pula
menyebabkan gangguan pendengaran frekuensi rendah dan sedang seperti pada frekuensi
tinggi. Pada bising kronik akan terjadi kerusakan stereosilia yang berfungsi sebagai reseptor
suara. Kerusakan reseptor tersebut menyebabkan gangguan persepsi suara, baik yang
dihantarkan melalui tulang maupun melalui udara. Oleh sebab itu pada audiogram akan
ditemukan peningkatan ambang dengar pada hantaran tulang maupun hantaran udara.
Gangguan pendengaran yang terjadi dapat membaik apabila penyebab tersebut
dihentikan.
Kebisingan Pusat Perbelanjaan (Mall)

Tingkat kebisingan pada pusat perbelanjaan berkisar 64,3 dB sampai dengan 86 dB.
Tingkat kebisingan tersebut melebihi tingkat kebisingan yang seharusnya yaitu 65 dB untuk
sebuah tempat atau daerah perdagangan.
Berdasarkan hasil penelitian, pengunjung terbanyak di pusat perbelanjaan berusia 1723 tahun. Sumber suara bising di pusat perbelanjaan berasal dari berbagai intensitas suara
yang ada di dalam mall itu sendiri maupun kebisingan dari banyaknya kendaraan yang datang
ke pusat perbelanjaan tersebut (suara klakson, suara mesin mobil).

Gejala Klinik
Kurang pendengaran disertai tinitus (berdenging di telinga) atau tidak. Bila sudah
cukup berat disertai keluhan sukar menangkap percakapan dengan kekerasan biasa dan bila
sudah lebih berat percakapan yang keras pun sukar dimengerti. Secara klinis pajanan bising
pada organ pendengaran dapat menimbulkan reaksi adaptasi, peningkatan ambang dengar
sementara (temporary threshold shift) dan peningkatan ambang dengar menetap (permanent
threshold shift).
1.

Reaksi adaptasi merupakan respons kelelahan akibat rangsangan oleh bunyi dengan
intensitas 70 dB SPL atau kurang, keadaan ini merupakan fenomena fisiologis pada
saraf telinga yang terpajan bising.

2.

Peningkatan ambang dengar sementara, merupakan keadaan terdapatnya peningkatan


ambang dengar akibat pajanan bising dengan intensitas yang cukup tinggi. Pemulihan
dapat terjadi dalam beberapa menit atau jam. Jarang terjadi pemulihan dalam satuan
hari.

3.

Peningkatan ambang dengar menetap, merupakan keadaan dimana terjadi peningkatan


ambang dengar menetap akibat pajangan bising dengan intensitas sangat tinggi
berlangsung singkat (explosif) atau berlangsung lama yang menyebabkan kerusakan
pada berbagai struktur koklea, antara lain kerusakan organ corti, sel-sel rambut, stria
vaskularis dll.

Patologi
Telah diketahui secara umum bahwa bising menimbulkan kerusakan di telinga dalam.
Lesinya sangat bervariasi dari disosiasi organ corti, ruptur membran, perubahan stereosilis
dan organal subseluler. Bising juga menimbulkan efek pada sel ganglion, saraf, membran
tektoria, pembuluh darah dan stria vaskularis. Pasa observasi kerusakan organ corti dengan
mikroskop elektron ternyata bahwa sel-sel sensor dan sel penunjang merupakan bagian yang
paling peka di telinga dalam.
Jenis kerusakan pada struktur organ tertentu yang ditimbulkan bergantung pada
intensitas, lama pajanan dan frekuensi bising. Penelitian menggunakan intensitas bunyi 120
dB dan kualitas bunyi nada murni sampai bising dengan waktu pajanan 1-4 jam menimbulkan
beberapa tingkatan kerusakan sel rambut. Kerusakan juga dapat dijumpai pada sel
penyangga, pembuluh darah dan serat aferen.
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, riwayat pekerjaan, pemeriksaan fisik
dan otoskopi serta pemeriksaan penunjang untuk pendengaran seperti audiometri.
Anamnesis pernah bekerja atau sedang bekerja di lingkungan bidang dalam jangka
waktu yang cukup lama biasanya lima tahun atau lebih. Pada pemeriksaan otoskopik tidak

ditemukan kelainan. Pada pemeriksaan audiologi, tes penala didapatkan hasil Rinne positif,
Weber lateralisasi ke telinga yang pendengarannya lebih baik dan Schwabach memendek.
Kesan jenis ketuliannya tuli sensorineural. Pemeriksaan audiometrik nada murni didapatkan
tuli sensorineural pada frekuensi di antara 3000 6000 Hz dan pada frekuensi 4000 Hz sering
terdapat takik (notch) yang patognomonik untuk jenis ketulian ini. Pemeriksaan audiologi
khusus seperti SISI (short increment sensitivity index), ABLB (alternate binaural loudness
balance), audiometeri Bekesy, audiomteri tulur (speech audiometry), hasil menunjukkan
adanya fenomena rekrutmen (recruitment) yang patognomonik untuk tuli sensorineural
koklea.
Orang yang menderita tuli sensorineural koklea sangat terganggu oleh bising latar
belakang (background noise), sehingga bila orang tersebut berkomunikasi di tempat yang
ramai akan mendapat kesulitan mendengar dan mengerti pembicraan. Keadaan ini disebut
sebagai cocktail party deafness.
Apabila seorang yang tuli mengatakan lebuh mudah berkomunikasi di tempat sunyi
atau tenang, maka orang tersebut menderita tuli sensorineural koklea.

Penatalaksanaan
Sesuai dengan penyebab ketulian, penderita sebaiknya dipindahkan kerjanya dari
lingkungan bising. Bila tidak mungkin dipindahkan dapat dipergunakan alat pelindung

telinga terhadap bising, seperti sumbat telinga (ear plug), tutup telinga (ear muff) dan
pelindung kepala (helmet).
Oleh karena tuli akibat bising adalah tuli sensorineural koklea yang bersifat menetap
(irreversible), bila gangguan pendengaran sudah mengakibatkan kesulitan berkomunikasi
dengan volume percakapan biasa, dapat dicoba pemasangan alat bantu dengar atau ABD
(hearing aid). Apabila pendengarannya telah sedemikian buruk, sehingga dengan memakai
ABD pun tidak dapat berkomunikasi dengan adekuat perlu dilakukan psikoterapi agar dapat
menerima keadaannya. Latihan pendengaran (auditory training) agar dapat menggunakan sisa
pendengaran dengan membaca ucapan bibir (lip reading), mimik dan gerakan anggota badan,
serta bahasa isyarat untuk dapat berkomunikasi. Di samping itu, oleh karena pasien
mendengar suaranya sendiri sangat lemah, rehabilitasi suara juga diperlukan agar dapat
mengendalikan volume, tinggi rendah dan irama percakapan.
Pada pasien yang telah mengalami tuli total bilateral dapat dipertimbangkan untuk
pemasangan impian koklea (cochlear implant).

Prognosis
Oleh karena jenis ketulian akibat terpapar bising adalah tuli sensorineural kolea yang
sifatnya menetap, dan tidak dapat diobati dengan obat maupun pembedahan, maka
prognosisnya kurang baik. Oleh karena itu yang terpenting adalah pencegahan terjadinya
ketulian.

Pencegahan

Bising dengan intensitas lebih dari 85 dB. Hal ini dapat diusahakan dengan cara
meredam sumber bunyi, misalnya yang berasal dari generator dipisah dengan
menempatkannya di sutau ruangan yang dapat meredam bunyi. Jika bising ditimbulkan oleh
alat-alat seperti mesin tenun, mesin pengerolan baja, kilang minyak atau bising yang
ditimbulkan sendiri oleh pekerja seperti di tempat penempaan logam, maka pekerja tersebut
yang harus dilindungi dengan alat pelindung bising seperti sumbat telinga, tutup telinga dan
pelindung kepala. Ketiga alat tersebut terutama melindungi telinga terhadap bising yang
berfrekuensi tinggi dan masing-masing mempunyai keuntungan dan kerugian. Tutup telinga
memberikan proteksi yang terbaik. Pekerja yang menjadi tuli akibat terpajan bising di
lingkungan kerjanya berhak mendapat santunan. Selain alat pelindung telinga terhadap bising
dapat juga diikuti ketentuan pekerja di lingkungan bising yang berintensitas lebih dari 85 dB
tanpa menimbulkan ketulian, misalnya dengan menggunakan tabel dibawah ini.

Batas pajanan bising yang diperkenankan sesuai keputusan Menteri Tenaga Kerja 1999

Jam

Menit

Lama pajan/hari

Intensitas dlm dB

24

80

16

82

85

88

91

94

30

97

15

100

7,50

103

3,75

106

1,88

109

Detik

0,94

112

28,12

115

14,06

118

7,03

121

3,52

124

1,76

127

0,88

130

0,44

133

0,22

136

0,11

139

Tidak boleh terpajan lebih dari 140 dB, walau sesaat


Semua usaha pencegahan akan lebih berhasil bila diterapkan Program Konservasi
Pendengaran (PKP) yang bertujuan untuk mencegah atau mengurangi tenaga kerja dari
kerusakan atau kehilangan pendengaran akibat kebisingan di tempat kerja, tujuan lain adalah
mengetahui status kesehatan pendengaran tenaga kerja yang terpajan bising berdasarkan datadata. Untuk mencapai

keberhasilan program konservasi

pendengaran,

diperlukan

pengetahuan tentang seluk beluk pemeriksaan audiometri, kemampuan dan keterampilan


pelaksana pemeriksaan audiometrik, kondisi audiometer dan penilaian hasil audiogram.
Tinjauan Pustaka
Suwento R. Diagnosis Dini Ketulian pada bayi dan anak. Kursus Penyegar dan Penambah
Ilmu Kedokteran (KPPIK) FKUI. Evidence Based Medicine in Daily Practice. Jakarta,
Februari 2005
Irwandi R. Penyakit Akibat Kerja dan Penyakit Terkait Kerja. 2007. Di unduh dari
http://library.usu.ac.id/download/ft/07002746.pdf pada 13 Maret 2011
Harmadji S, Kabulah H. Noise Induced Hearing Loss In Steel Factory Workers. Desember
2004. Diunduh dari http://journal.unair.ac.id/filerPDF/FMI-40-4-04.pdf pada 13 Maret 2011