Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM

FISIOLOGI VETERINER DAN SATWA AKUATIK I

NAMA

: LOLA ADRIANA N.

NIM

: O111 14 003

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
TAHUN 2015

LEMBAR PENGESAHAN

Nama Mahasiswa

: Lola Adriana N.

NIM

: O111 14 003

Nama Asisten

: Rismayani

Waktu Asistensi
No.

Jadwal Asistensi

Saran Perbaikan

Paraf Asisten

Makassar, 28 Oktober 2015


Asisten

Praktikan

Rismayani

Lola Adriana N.

JUDUL PRAKTIKUM
SISTEM INDERA

TUJUAN PRAKTIKUM
1. Untuk mengetahui gerak refleks Patella, pupil mata, dan sensasi panas dingin.
2. Untuk mengetahui fungsi Vestibular melalui tes nistagmus dan tes jatuh
Sistem
Indera
3.
Untuk
mengetahui sistem Termoreseptor/termoregulasi pada tubuh katak.
Sistem indera dapat diartikan sebagai hirargi tertinggi susunan stuktur dan
fungsitubuh. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sistem adalah perangkat unsur yang
secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas.Sedangkan indera
merupakan reseptor rangsang. Selain itu indera juga dapa tdiartikan sebagai alat untuk
merasa, mencium bau, mendengar, melihat, meraba,dan merasakan sesuatu secara naluri
(intuitif). Macam indera sesuai dengan macam stimulus di alam: raba fisik, raba suhu
panas/dingin, raba arus angin/air,bau, kecap, bunyi, keseimbangan, nyeri dan cahaya
RUANG
LINGKUP
PRAKTIKUM
(Nurasiyyah,
2008).
Reseptor merupakan alat penerima rangsang yang memungkinkan hewan mampu
Ruang lingkup
dalamlingkungannya,
percobaan kali ini
ialah
sebagai berikut:
memantau
keadaan
baik
lingkungan
didalam maupun diluar tubuhnya.
1. Melakukan
pengamatan
pada reflekstanggapan
patella, refleks
mata, informasi/rangsang
dan sensasi panas
Efektor
berfungsi
untuk menimbulkan
hayati pupil
atas suatu
yangdingin.
diterima oleh hewan (Isnaeni, 2006).
2. Melakukan
fungsimerubah
vestibular
dengan
mengamati
adanya
nistagmus
dan
Berdasarkanpengamatan
kemampuannya
pacuan
mengenal
impuls,
reseptor
dibedakan
tes jatuh.kemoreseptor, termoreseptor, dan radio elektromagneik reseptor
atasmelakukan
mekanoreseptor,
3. Melakukan
(Sonjaya,
2013).pengamatan tentang termoreseptor/termoregulasi pada katak.
Informasi tentang lingkungan internal dan eksternal ditangkap oleh sistem saraf pusat
dari berbagai organ sensor. Organ sensor ini mengandung berbagai sel reseptor yang
menerjemahkan berbagai bentuk energi pada lingkungan menjadi aksi potensial dalam
saraf sensor. Bentuk bentuk energi yan diambil oleh reseptor-reseptor, termasuk energi
mekanik (tekanan dan rabaan), thermal (panas dan dingin), elektromagnetik (cahaya), dan
kimia (bau, rasa, kandungan CO2 dalam darah). Reseptor-reseptor suatu organ pada tingkat
nilai ambang yang lebih redah dibandingkan dengan reseptor organ indera lainnya
(Sonjaya, 2013).
Sistem indera merupakan alat untuk mengenal dunia luar. Alat indera mempunyai
lima indera yang dikenal dengan panca indera, yaitu mata, telinga, hidung, kulit dan lidah.
Alat indera tersebut dilengkapi dengan bagian bagian yang berfungsi untuk menerima
rangsangan dari luar, dan saraf-saraf pembawa rangsang ke saraf pusat ( otak )
(Nurasiyyah, 2008).
Alat indera dapat berfungsi dengan sempurna apabila (Nurasiyyah, 2008):
1. Saraf saraf yang berfungsi membawa rangsang ke sumsum saraf pusat bekerja
dengan baik.
2. Otak sebagai pusat pengolah rangsang bekerja dengan sempurna.
3. Secara anatomi alat-alat indera tidak mempunyai kelainan bentuk dan fungsinya.
II. Gerak Refleks
Gerak yang disadari timbul dari rangkaian penyaluran respon dan pengolahan diotak
sehingga timbul ritme gerakan
yang kita inginkan.
Berbeda dengan gerak yang disadari
TINJAUAN
PUSTAKA
dalam gerak refleks biasanya hewan vertebrata melakukan gerak yang tidak seperti
biasanya dilakukan karena rangkaian rangsang yang ditimbulkan lebih ke arah cepat dan
tanpa pengolahan respon di otak (Pangestiningsih, 2010).
Sistem saraf sadar disusun oleh saraf otak (saraf kranial), yaitu saraf-saraf yang keluar
dari otak, dan saraf sumsum tulang belakang, yaitu saraf-saraf yang keluar dari sumsum
tulang belakang (Pangestiningsih, 2010).
Macam-macam gerak refleks, yaitu (Pangestiningsih, 2010) :
1. Refleks segmental adalah refleks yang hanya melewati sebagian kecil dari CNS.
Contohnya adalah refleks peregangan otot dan refleks cahaya pada pupil karena hanya

menggunakan segmen kecil dari Medulla spinalis atau brainstem.


2. Refleks intersegmental. Refleks ini menggunakan multiple segmen dari CNS.
Contohnya adalah respons propriosepsi karena aksi potensial saraf sensori jauh
memasuki Spinal cord dan belum akan berjalan kembali ke Cerebral cortex
sebelum responsi motorik dihasilkan. Respon motorik kembali melalui rute
intersegmental yang sama.
Urutan perambatan impuls pada gerak refleks yaitu: stimulus pada organ reseptor - sel
saraf sensorik - sel penghubung (asosiasi) pada sumsum tulang belakang - sel saraf motorik
- respon pada organ efektor. Jalan pintas pada gerak refleks yang memungkinkan terjadinya
gerakan dengan cepat disebut lengkung refleks. Macam gerak refleks yaitu refleks otak dan
refleks sumsum tulang belakang. Refleks otak terjadi apabila saraf penghubung (asosiasi)
terdapat di dalam otak, seperti gerak mengedip atau mempersempit pupil pada saat ada
cahaya yang masuk ke mata. Refleks sumsum tulang belakang terjadi apabila sel saraf
penghubung terdapat di dalam sumsum tulang belakang seperti refleks pada lutut (Hill,
2015).
III. Sistem Vestibular
Sistem vestibular berperan penting dalam keseimbangan, gerakan kepala, dan gerak
bola mata. Sistem vestibular meliputi organ-organ di dalam telinga bagian dalam.
Berhubungan dengan sistem visual dan pendengaran untuk merasakan arah dan kecepatan
gerakan kepala (Irfan, 2008).
Sebuah cairan yang disebut endolymph mengalir melalui tiga kanal telinga bagian
dalam sebagai reseptor saat kepala bergerak miring dan bergeser. Gangguan fungsi
vestibular dapat menyebabkan vertigo atau gangguan keseimbangan. Alergi makanan,
Dehidrasi, dan trauma kepala / leher dapat menyebabkan disfungsi vestibular. Melalui
refleks vestibulo-occular, mereka mengontrol gerak mata, terutama ketika melihat obyek
yang bergerak. Kemudian pesan diteruskan melalui saraf cranialis VIII ke Nucleus
vestibular yang berlokasi di batang otak (brain stem). Beberapa stimulus tidak menuju
langsung ke Nukleus vestibular tetapi ke serebelum, formatio retikularis, thalamus dan
korteks serebri (Irfan, 2008).
Nukleus vestibular menerima masukan (input) dari reseptor labyrinth, formasi
(gabungan reticular), dan cerebelum. Hasil dari nucleus vestibular menuju ke motor neuron
melalui Medula spinalis, terutama ke motor neuron yang menginervasi otot-otot proksimal,
kumparan otot pada leher dan otot-otot punggung (otot-otot postural). Sistem vestibular
bereaksi sangat cepat sehingga membantu mempertahankan keseimbangan tubuh dengan
mengontrol otot-otot postural (Irfan, 2008).
IV. Termoregulasi
Memang ada banyak hal yang mempengaruhi proses fisiologi dalam tubuh hewan dan
salah satunya itu adalah temperatur. Termoregulasi merupakan salah satu aspek fisiologi
yang secara khusus membahas ihwal temperatur yang menyangkut pengaturan temperatur
tubuh hewan (body temperature) yang dikaitkan dengan temperatur sekitarnya (ambient
temperature), keduanya berkaitan erat bagi keberlangsungan proses fisiologi didalam tubuh
hewan dengan sepatutnya (Putra, 2012).
Termoregulasi adalah suatu mekanisme makhluk hidup untuk mempertahankan suhu
internal agar berada di dalam kisaran yang dapat ditolelir. Proses yang terjadi pada hewan
untuk mengatur suhu tubuhnya agar tetap konstan dinamis. Mekanisme termoregulasi
terjadi dengan mengatur keseimbangan antara perolehan panas dengan pelepasan panas
(Campbell, 2004).

Mekanisme pengaturan suhu tubuh merupakan penggabungan fungsi dari organ-organ


tubuh yang saling berhubungan. Di dalam pengaturan suhu tubuh mamalia terdapat dua
jenis sensor pengatur suhu, yautu sensor panas dan sensor dingin yang berbeda tempat pada
jaringan sekeliling (penerima di luar) dan jaringan inti (penerima di dalam) dari tubuh
(Gunawan, 2002).
Berdasarkan dua karakteristik yaitu apakah hewan itu bersifat endothermi atau tidak
dan apakah mereka melakukan thermoregulasi atau tidak, maka ada empat tipe hubungan
thermal paling mendasar antara hewan dan lingkungan sekitarnya sebagai berikut ini
(Putra, 2012) :
a. Hewan poikilotherm non-thermoregulasi atau ektotherm non-thermoregulasi, yaitu
hewan yang tidak mampu mempertahankan temperatur tubuhnya melalui proses
metabolisme dan juga tidak melakukan thermoregulasi atau upaya mempertahankan
temperatur tubuhnya mendekati konstant.
b. Hewan endotherm non-thermoregulasi yaitu hewan yang menghasilkan panas
metabolisme untuk mempertahankan temperatur tubunya mendekati konstan, tetapi
tidak mempunyai mekanisme fisiologi untuk mempertahankan temperatur tubuhnya
mendekati konstan.
c. Hewan poikilotherm atau ektotherm yang melakukan thermoregulasi. Hewan yang
demikian itu, walaupun proses metabolisme tidak mampu mempertahankan
temperatur tubuhnya, mereka mempunyai kemampuan untuk mempertahankan
temperatur tubuhnya mendekati konstan dengan melakukan perubahan perilaku.
d. Hewan endotherm yang melakukan thermoregulasi (disebut juga hewan
homeotherm). Kelompok hewan ini mampu mempertahankan temperatur tubuhnya
mendekati konstan melalui penyesuaian mekanisme fisiologi yang berlangsung
didalam tubuhnya. Sebagian besar hewan darat termasuk dalam hewan endotherm
yang melakukan thermoregulasi dan sebagian hewan aquatik termasuk dalam hewan
ektotherm.
Pengaruh suhu pada lingkungan, hewan dibagi menjadi dua
golongan, yaitu poikiloterm dan homoiterm. Poikiloterm suhu tubuhnya
dipengaruhi oleh lingkungan. Suhu tubuh bagian dalam lebih tinggi
dibandingkan dengan suhutubuh luar. Hewan seperti ini juga disebut
hewan berdarah dingin. Dan hewan homoiterm sering disebut hewan
berdarah panas. Hewan berdarah panas adalah hewan yang dapat
menjaga suhu tubuhnya, pada suhu-suhu tertentu yang konstan
biasanya lebih tinggi dibandingkan lingkungan sekitarnya. Sebagian
panas hilang melalui proses radiasi, berkeringat yang menyejukkan
badan. Melalui evaporasi berfungsi menjaga suhu tubuh agar tetap
konstan. Contoh hewan berdarah panas adalah bangsa burung dan
mamalia, hewan yang berdarah dingin adalah hewan yang suhu
tubuhnya kira-kira sama dengan suhu lingkungan sekitarnya (Sany,
2013).
Hewan homoiterm suhunya lebih stabil, hal ini dikarenakan adanya
reseptor dalam otaknya sehingga dapat mengatur suhu tubuh.
Mengatasi masalah ini adalah dengan mengendalikan panas yang
diterima dan peningkatan panas yang terbuang oleh ternak, yaitu
pemberian naungan atau atap dan pemilihan bahan atap yang lebih
efektif dalam menciptakan kondisi iklim mikro kandang yang kondusif
bagi ternak untuk berproduksi. Hewan homoiterm mempunyai variasi
temperatur normal yang dipengaruhi oleh faktor umur, jenis kelamin,

MATERI DAN METODE


Materi
Alat :
1.
2.
3.
4.
5.

Baskom 3 buah
Kain penutup mata
Palu Hummer
Penlight
Thermometer air raksa

Bahan :
1. Air dengan suhu 20oC, 30oC, 40oC
2. Alkohol
3. Katak (Rana sp.)
II. Metode
II.1 Refleks (Patella, pupil mata, sensasi panas dingin)
1. Patella
a. Pelaku duduk di atas meja dengan kaki terjuntai bebas. Lalu memukul
Ligamentum patelaris di atas meja. Catatlah hasilnya.
b. Mengalihkan perhatian pelaku pada objek tertentu, kemudian memukul
Ligamentum patellaris-nya. Catatlah hasilnya.
2. Pupil mata
a. Pelaku menutup mata selama 2 menit.
b. Segera setelah membuka, lalu mengamati perubahan yang terjadi pada ukuran
pupil mata dengan menggunakan penlight. Mengamati selama beberapa detik.
Catatlah hasilnya.
3. Sensasi panas dingin
a. Sediakan 3 baskom bersuhu kira-kira 20o, 30o, dan 40o
b. Masukkan tangan kanan ke dalam air bersuhu 20 o dan tangan kiri ke dalam air
bersuhu 40o selama 2 menit.
c. Catat kesan apa yang dialami.
d. Kemudian masukkan segera kedua tangan itu serentak kedalam air bersuhu 30 o.
Catat kesan apa yang saudara alami.
e. Tiup perlahan-lahan kulit punggung tangan dari jarak 10 cm.
f. Basahi sekarang kulit punggung tangan tersebut dengan air dan tiup sekali lagi
dengan kecepatan seperti diatas.
g. Bandingkan kesan yang saudara alami hasil tiupan pada sub. 5 dan 6.
h. Olesi sebagian kulit punggung tangan dengan eter atau alkohol. Kesan apa yang
saudara alami?
II.2 Fungsi Vestibular
1. Nistagmus
a. Probandus duduk tegak di kursi dengan kedua tangannya memegang erat
lengan kursi.

b. Probandus memejamkan matanya dan menundukkan kepalanya 30 derajat ke


depan Memutar kursi ke kanan 10 kali tanpa sentakan.
c. Hentikan pemutaran kursi dengan tiba-tiba.
d. Probandus membuka mata dan melihat jauh ke depan.
e. Perhatikan adanya nistagmus.
2. Tes jatuh
Dengan mata tertutup dan kepala ditundukkan sehingga kepala membentuk
sudut sudut 120 derajat, probandus diputar di kursi menurut arah jarum jam
sebanyak 10 kali.
b. Probandus berhenti sambil membuka matanya, dan menegakkan kepala serta
badannya perhatikan kemana dia akan jatuh dan tanyakan kepada probandus
kemana rasanya ia akan jatuh.
II. 2 Termoreseptor/termoregulasi
a. Telentangkan katak dan ikat pada suatu papan.
b. Ukur suhu tubuhnya dengan memasukkan termometer ke dalam esophagus-nya
selama 5 menit.
c. Masukkan katak ke dalam air es selama 5 menit, dalam keadaan termometer
tetap dipasang, lihat dan bacalah termometernya. Angkat katak tersebut,
kemudian masukkan ke dalam air panas 40 oC selama 5 menit pula, baca lagi
suhunya.

HASIL DAN PEMBAHASAN


I.1 Refleks (Patella, pupil mata, sensasi panas dingin)
I.1.1Refleks Patella
- Ligamentum patellaris dipukul secara sadar : tidak sakit, terasa geli, dan kaki
berayun refleks
- Ligamentum patellaris dipukul dengan mengalihkan perhatian : kaki berayun
lebih cepat, probandus kaget.
Pembahasan :
Pengujian aktivitas refleks terhadap Ligamentum patellaris secara sadar atau tanpa
mengalihkan perhatian dilakukan dengan memukul Ligamentum patellaris pelaku
menggunakan palu hummer. Hasil yang diperoleh yaitu terjadi refleks pada pelaku
dengan mengayunkan kakinya secara refleks namun reaksinya agak lambat. Perlakuan
yang kedua yaitu pelaku dialihkan perhatiannya pada objek tertentu, kemudian
Ligamentum patellaris dipukul lagi menggunakan palu hammer. Hasil yang terjadi
adalah gerakan refleks yang lebih cepat yakni pelaku mengayunkan kakinya lebih cepat
dibandingkan saat perhatian pelaku tidak dialihkan kepada objek tertentu. Hal ini sesuai
dengan teori yang ada bahwa terdapat gerak refleks pada lutut, refleks pada lutut ini
disebut refleks sumsum tulang belakang, karena saraf penghubungnya terletak di dalam
sumsum tulang belakang yang disebut saraf somasensorik yang berkapsula. Somato
sensorik terdapat di daerah persendiaan disebut korpuskula veter-pecini. Reseptor ini
tersebar diseluruh tubuh di jaringan subkutan dan jaringan pengikat Tendon (Wade,
2008).
I.1.2 Refleks pupil mata
- Pada mata mines
: pupil mengecil dan berbentuk lonjong
- Pada mata normal
: pupil mengecil dan berbentuk bulat
Pembahasan :
Pengujian berikutnya yaitu pengujian aktivitas refleks pada pupil. Pengujian
dilakukan terhadap mata normal dan mata yang mengalami rabun jauh. Pelaku menutup
mata selama 2 menit. Segera setelah membuka mata, perubahan pupil pelaku diamati
menggunakan penlight.. Hasil yang diperoleh yaitu pupil pelaku mengecil. Pada mata
normal pupil kecil dan berbentuk lonjong, sedangkan pada mata yang menderita rabun
jauh pupil mata kecil dan berbentuk bulat. Hal ini dikarenakan iris merupakan suatu
bagian mata yang mengendalikan pupil (memperbesar dan mengecilkan pupil) dan
tempat pengaturan jumlah cahaya yang masuk ke dalam mata. Hasil pratikum ini juga
telah sesuai dengan teori yang ada yaitu :Bila cahaya sangat kuat (terang), maka pupil
akan menyempit. Sebaliknya bila cahaya lemah, maka pupil akan melebar. Jadi pupil
dapat mengalami perubahan ukuran tergantung dari kuat atau lemahnya cahaya yang
masuk kemata (Mikrajuddin et.al, 2006). Atau juga disebabkan karena mata berusaha
untuk mengumpulkan cahaya kembali setelah lamanya penutupan mata, dan mata
kehilangan cahaya. Cahaya yang dapat masuk hanya cahaya yang masuk kedalam
omatidium yang paralel (atau hampir) dengan sumbu panjang yang mundur yang
diserap oleh pigmen-pegmen penyaring. Sifat faset dalam mata bertindak sebagai lensa
yang menghimpun khas cahaya dari seluruh bagian objek yang dipandang dan
meneruskannya kembali (sudjadi, 2009).

I.1.3 Sensasi panas dingin


- Air suhu 20oC
: tangan kanan terasa dingin, keram
o
- Air suhu 40 C
: tangan kiri terasa hangat, tidak keram
- Air suhu 30oC
: tangan kiri lebih berkerut dibanding tangan kanan
tangan kiri terasa lebih tegang dibanding tangan kanan
tangan kiri lebih keram dibanding tangan kanan
- Ketika diolesi alkohol dan ditiup kesan yang dialami yaitu tangan kiri terasa
lebih dingin dibanding tangan kanan
Pembahasan :
Pengujian selanjutnya yaitu mengamati sensasi panas dingin. Pelaku mencelupkan
jari kanannya pada air bersuhu 20oC dan jari kiri dicelupkan pada air bersuhu 40oC
masing-masing selama 2 menit. Kesan yang dialami pelaku yaitu jari kanan terasa
dingin disertai dengan rasa keram dan jari kiri terasa hangat dan tidak terasa keram.
Kemudian kedua jari segera dimasukkan kedalam air bersuhu 30 oC secara bersamaan.
Hasilnya yakni tangan kiri lebih berkerut dibanding tangan kanan, tangan kiri terasa
lebih tegang dibanding tangan kanan dan tangan kiri lebih keram dibanding tangan
kanan. Selanjutnya jari diolesi dengan alkohol setelah kulit punggung jari yang ditiup
dari jarak 10 cm. Kesan yang ditimbulkan yaitu jari yang dicelupkan pada air hangat
bersuhu 40oC terasa lebih dingin dibandingkan jari yang dimasukkan kedalam air
bersuhu dingin bersuhu 20oC. Menurut teori, hal tersebut terjadi karena rasa dingin
air membuat aliran darah di sekitar telunjuk yang dicelupkan menjadi lambat
sehingga tangan terasa keram dan teori tersebut sesuai dengan hasil praktikum.
Sedangkan pada telunjuk kiri yang dimasukkan ke dalam air hangat seharusnya terasa
nyeri karena pembuluh darah daerah tersebut mengalami respon
terhadap
suhu
yang
melebihi
suhu
normal
sehingga
menyebabkan rasa nyeri, namun hasil praktikum pelaku tidak merasakan nyeri.
Hal tersebut dapat disebabkan oleh faktor air yang digunakan telah mengalami
penurunan suhu karena telah dipakai pada kelompok sebelumnya atau lapisan
epidermis kulit pelaku yang tebal. Setelah kedua tangan dimasukkan ke dalam air
suhu kamar (30oC) hasil tidak sesuai dengan teori seharusnya tangan terasa
kembali normal, pada tangan kiri (yang air panas) lebih lama pulih
dari tangan sebelah kanan (yang air dingin). Air dengan suhu
kamar ini cepat menetralkan aliran darah daerah tangan yang
dicelupkan
sehingga tangan berangsur-angsur kembali normal
(Haries, 2015).
I.2 Fungsi Vestibular
- Nistagmus
- Tes jatuh

: ada, gerakan mata ke kiri dan kanan


: jatuh ke arah kanan

Pembahasan :
Pengujian fungsi Vestibular yaitu mengamati nistagmus dan tes jatuh, pada
pengujian nigtagmus probandus diputar sebanyak 5 kali dalam keadaan mata tertutup
dan kepala tunduk 30 derajat, hasilnya gerakan bola mata pada pelaku tidak normal yaitu
bergerak ke kiri dan ke kanan. Hal tersebut sesuai dengan teori yang menyatakan
nistagmus akan timbul bila ada ketidakseimbangan impuls yang masuk ke inti III, IV
dan VI dari mekanisme supranuclear terutama dari sistem vestibuler (Japari, 2002).
Kemudian pengujian tes jatuh yaitu pelaku diputar sebanyak 10 kali dalam
keadaan mata tertutup dan kepala tunduk 120o, hasilnya pelaku merasa pusing dan
linglung kemudian pelaku jatuh ke arah kiri. Sesuai dengan teori yang menyatakan

RANGKUMAN
seperti berpindah tempat, dan seakan
akan dunia serasa berputar karena faktor organ
telinga bagian dalam yaitu labyrinth merupakan organ yang berperan dalam mengatur
keseimbangan dan ini merupakan sistem yang bekerja didalam tubuh (vestibular). Ketika
tubuh berputar cairan endolymph didalam organ labyrinth menjadi tidak stabil sehingga
Berdasarkan
hasil
praktikum
mempengaruhi
keseimbangan
(Irfan,
2008). yang telah dilakukan maka dapat
disimpulkan bahwa gerak refleks yang terjadi pada lutu disebut gerak
sumsum tulang belakang. Gerakan pupil mata yang
I.3refleks
Termoreseptor/Termoregulasi
o
menyempit
karena
terkena rangsangan cahaya
- suhu tubuh dan
normal melebar
katak
: 33
C
o
o
merupakan
contoh
refleks
- suhu tubuh
di air 20gerak
C
: 22 C otak. Pupil mengecil ketika banyak
o
terpapar
cahaya
karena
pupil
untuk mengatur banyaknya
- suhu tubuh di air 40 C
: 34oberfungsi
C
cahaya yang
masuk kedalam mata. Pada lapisan dermis kulit terdapat
Pembahasan
:
reseptor panas, dingin, dan sebagainya. Sehingga pada percobaan
Berdasarkan hasil praktikum, katak diukur suhu tubuh normalnya selama 2 menit
sensasi
jugatidak
merasakan
refleks
o
danrefleks
didapatkan
suhu panasa
tubuh 33dingin
C, hasilkulit
tersebut
sesuai dengan
teori karena
yang
mempunyai
reseptor
panas
dan
dingin.
Posisi
kepala
dan
rotasi
akan
o
o
menyatakan suhu normal katak barada pada kisaran 34 -36 C. ada beberapa faktor yang
memberikan
rangsangan
terhadap
semisirkularis,
kemudian
menyebabkan
ketidaksesuaian
hasil
praktikumCanalis
dengan teori
yakni kesalahan
dalam
mata
dan
posisi
kepala
mempengaruhi
keseimbangan
seseorang
pada
menggunakan termometer yaitu tangan praktikan menyentuh badan termometer
uji vestibular.
Termoregulasi
pada katak pengukuran
termasuksuhu
dalam
sehingga
suhu tangan
bercampur dan mempengaruhi
tubuhpoikiloterm,
katak.
dimana
suhu
tubuh
berubah
sesuai
dengan
perubahan
suhu
Kemudian katak dimasukkan kedalam air es tanpa melepas temometer selama
2
lingkungan
di sekitarnya.
menit.
Hasil yang
diperoleh suhu tubuh katak menurun yaitu 22 oC dan tubuhnya
menjadi lebih dingin. Kemudian katak dimasukkan kedalam air panas tanpa melepas
termometer selama 2 menit yang terjadi adalah katak mengalami peningkatan suhu
tubuh yaitu 34oC atau katak berada pada suhu tubuh normal. Hal ini di karenakan pada
hewan poikiloterm, (katak) suhu internal tubuhnya akan bergantung pada suhu
lingkungan sekitarnya. Pemberian perlakuan suhu tersebut juga berpengaruh terhadap
laju konsumsi oksigen hewan uji, terutama katak selaku hewan poikiloterm,. Hal ini
berkaitan dengan hukum Vant Hoff, dimana Q10 = K (T+10) + K/T. Rumus ini
menunjukan bahwa kenaikan suhu, kecepatan reaksi akan bertambah besar sampai
batas tertentu. Hal ini berkaitan dengan kinetika reaksi, dimana panas akan
menyebabkan energi kinetik molekul menjadi bertambah besar, sehingga reaksi dapat
berlangsung dengan lebih cepat ( Putra, 2012).

DAFTAR PUSTAKA
Campbell, N.A., dkk. 2004. Biologi. Edisi kelima. Jilid 1. Jakarta: Erlangga
Gunawan, A. 2002. Mekanisme Penghantaran Dalam Neuron (Neurotransmitter).
Universitas Negeri Yogyakarta : Yogyakarta. http://staff.uny.ac.id/sites/default/
files/mekanisme_penghantaran_dalam_neuron.pdf. Diakses pada tanggal 26
Oktober 2015 pukul 02.10 WITA
Haries, Yusron. 2015. Indera Peraba. Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta.
http://dokumen.tips/documents/indera-peraba.html. Diakses pada 25 Oktober
2015 pukul 20.35 WITA
Hill, Faisal. 2015. Bullet. IPB Press : Bogor. https://www.academia.edu/9981217/
BULLET. Diakses pada tanggal 26 Oktober 2015 pukul 17.30 WITA
Irfan dan Jemmy Susanti. Pengaruh Penerapan Motor Relearning Programme (Mrp)
Terhadap Peningkatan Keseimbangan Berdiri Pada Pasien Stroke Hemiplegi.
Universitas Esa Unggul : Jakarta. http://digilib.esaunggul.ac.id/pengaruhpenerapan-motor-relearningprogramme-mrp-terhadap-peningkatan-keseimba
ngan-berdiri--pada-pasien-stroke hemiplegi -3891.html. Diakses pada tanggal 26
Oktober 2015 pukul 23.45 WITA
Isnaeni, Wiwi. 2006. Fisiologi Hewan. Yogyakarta : Kanisius
Japari, Iskandar. 2002. Kelainan Neurooptalmologik Pada Pasen Stroke. Universitas
Sumatera Utara : Medan. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/
1981/3/bedahiskandar%20japardi16.pdf. Diakses pada tanggal 26 Oktober 2015
pukul 18.10 WITA
Mikrajuddin et.al. 2006. Fisiologi Hewan. Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama.
Nurasiyyah. 2008. Perbedaan Penguasaan Konsep Sistem Indera Antara Siswa Yang
Diajar Dengan Metode Brainstorming dan Metode Tanya Jawab. UIN Syarif
Hidayatullah
:
Jakarta.
http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789
/21131/2/IIS
%20NURAISIYYAH-FITK.pdf. Diakses pada tanggal 26 Oktober pukul 23.33
WITA
Pangestiningsih, T. W. 2010. Mikroanatomi Sistem Saraf. Yogyakarta : Fakultas
Kedokteran
Hewan
UGM.
http://ugm.ac.id/user/archive/download/
24113/a52628g2101752b08161.pdf. Diakses pada tanggal 25 Oktober 23.16
WITA
Putra, Harya. 2012. Fisiologi Hewan Termoregulasi. Bali: Udayana University Press.
Sany, 2013. Makalah Termoregulasi. Universitas Airlangga : Surabaya.
https:// ml.scribd.com/doc/145626940/makalah-termoregulasi.
Diakses pada tanggal 25 Oktober 2015 pukul 01.35 WITA
Sonjaya, Herry. 2013. Dasar Fisiologi Ternak. Bogor: Penerbit IPB Press
Sudjadi, bagod et.al .2009. Fisiologi Kehidupan. Jakarta: Yudhistira.
Wade, carole, dkk. 2008. Psikologi Jilid 1 Edisi 9. Universitas Erlangga : Jakarta.
http://file.ue.edu/Direktori/universitas_erlangga/download/456732/732639g25a6

LAMPIRAN

Gambar I.1.1 Mengetes gerak refleks


dengan memukul Ligamentum patellaris
menggunakan palu Hummer

Gambar I.2.1 Perubahan ukuran


pupil mata ketika dikenai penlight

Gambar II.1.1 Nistagmus pada mata probandus

Gambar II.2.1 Prabondus diputar


keseimbangan setelah berputar 10 kali

Gambar II.2.2. Probandus kehilangan


keseimbangan

(1)
(2)
(3)
Gambar III.1.1 Mengukur suhu normal katak (1) suhu tubuh katak pada air dingin (2)
suhu tubuh katak pada air hangat (3)