Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN

FISIOLOGI SISTEM RESPIRASI

Disusun oleh :
Kelompok 1
Rizki Fauziah (3415110139)
Qoyima Kamilah (3415111362)
M. Nicova Kresnada (3415111368)
Anggi Diah Aristi (3415111375)
Indriya Rahayu (3415111391)

Pendidikan Biologi Reguler


Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Jakarta
2014

HASIL PENGAMATAN
1. Pengamatan Alat Pernafasan Ikan
Ikan Gurami (Oshpronemus gouramy)

Gambar 1. Insang pada ikan gurame


Ikan Mas (Cyprinus carpio)

Lembaran2
insang

Dustus pneumaticus
(swim bladder)

Gambar 2. Ductus pneumaticus pada ikan mas

Gambar 3. Insang pada ikan mas

Ikan lele (Clarias batracus)

Labirin berbentuk
seperti bunga karang

Gambar 4. Labirin karang pada ikan lele

Alat respirasi pada ikan


Ikan
Primer
Ikan
Insang berlamela seperti benang-benang
gurame
halus yang banyak. Warna merah (++).
Halus, ukurannya lebih besar dan lebih
panjang
Ikan mas

Ikan lele

Sekunder
Labirin. Berlamela, berlipat-lipat,
Merah terang dan kontur kasar,
banyak lekukan dan lebih kecil
serta lebih pendek (bentuk bunga
mawar)
Insang, Warna merah (+++). Halus, Gelembung udara, tipe fisotomus,
ukurannya lebih besar dan lebih panjang
berwarna putih dan terdapat dua
rongga yang pertama lebih besar.
Kontur licin.
Insang Warna merah (+). Halus, ukurannya Labirin, berbentuk bunga karang ,
lebih besar dan lebih panjang
warna merah terang dan kontur
kasar.

2. Pengamatan Oksidasi Jaringan


Sebelum
- Jantung
Merah keunguan
- Saraf
Merah
- Otot
Putih butek
- Hati
Merah tua pekat
- Ginjal
Merah gelap

Sesudah
Putih bening
Putih
Putih keunguan
Hitam
Merah

Gambar 5. Organ dalam katak setelah diinjeksi metilen blue


3. Permeabilitas Paru-Paru Terhadap Gas
Sebelum direndam larutan CaCO3
Warna paru-paru merah
Paru-paru kempes
Larutan CaCO3 agak keruh dan
tidak ada endapan

Setelah direndam larutan CaCO3


Warna paru-paru merah muda
pucat
Paru-paru mengembung
Larutan CaCO3 bening dan ada
sedikit endapan

Gambar 6. Paru-paru sebelum dicelupkan ke dalam larutan CaCO3

Gambar 7 dan 8. Paru-paru setelah dicelupkan ke dalam larutan CaCO3


PEMBAHASAN
1. Pengamatan Alat Pernapasan Ikan
Ikan gurame memiliki empat lembar insang serta organ pernapasan tambahan
berupa labirin pada lembaran insang keempat yang berbentuk seperti bunga mawar.
Labirin merupakan perluasan ke dalam rongga insang, membentuk lipatan-lipatan dan
merupakan rongga-rongga tidak teratur. Labirin merupakan suatu bentuk adaptasi ikan
gurame terhadap ketersediaan oksigen. Dengan organ tambahan ini memungkinkan ikan
ini mengambil langsung oksigen langsung dari udara sehingga ia mampu bertahan di
lingkungan dengan kadar oksigen yang rendah (Susanto,1999).
Bentuknya yang berlipat-lipat berfungsi memperluas permukaan respirasi pada
kondisi daerah yang kurang oksigen. Labirin kaya akan darah yang memungkinkan
transfer oksigen dari air yang dihirup ke sistem peredaran darah gurame. Dengan
memiliki organ ini, gurame dapat bertahan hidup di air yang rendah oksigen. sehingga

keberadaan bagian tubuh tersebut sangat menguntungkan bagi ikan gurame (Tucker,
1989).
Labirin juga membantu ikan untuk membentuk buih/gelembung yang biasa
digunakan sebagai sarang telur mereka. Labirin akan menahan udara yang mereka hirup
dan kemudian dikeluarkan lagi setelah dilapisi zat berminyak sehingga terciptalah
buih/gelembung di permukaan air. Ciri khas ikan labirin lainnya adalah kemampuan
yang mengagumkan untuk hidup pada kondisi air yang menggenang, misalnya di rawa,
genangan sungai yang mengalir pelan, waduk, danau, genangan sawah yang
berhubungan dengan sungai, dll. Jenis ikan yang memiliki labirin mempunyai ketahanan
hidup di air yang keruh.
Ikan mas bernapas dengan insang yang terdapat pada sisi kiri dan kanan kepala.
Masing-masing mempunyai empat lembar insang yang ditutup oleh tutup insang
(operkulum). Lembaran-lembaran insang berwarna merah tua karena banyak
mengandung kapiler-kapiler darah sebagai tempat pertukaran oksigen dan karbon
dioksida. Proses pernapasan pada ikan berlangsung dengan 2 tahap, yaitu tahap inspirasi
dan tahap ekspirasi. Pada proses inspirasi, operkulum menutup, rongga mulut
membesar, tekanan rongga mulut mengecil, mulut membuka, dan air masuk ke dalam
rongga mulut. Oksigen yang terlarut dalam air masuk berdifusi ke dalam pembuluh
kapiler darah yang terdapat dalam lembaran insang. Sedangkan ekspirasi yaitu dengan
mulut menutup, tutup insang membuka dan air dari rongga mulut keluar melalui insang.
Bersamaan dengan keluarnya air melalui insang, karbon dioksida dikeluarkan.
Berbeda dengan ikan gurame, ikan mas tidak mempunyai labirin, tetapi
mempunyai gelembung renang yang terletak di dekat punggung. Gelembung berenang
berfungsi sebagai alat hidrostatik, untuk menentukan tekanan air sehubungan dengan
kedalaman perairan. Pneumatocyst terdapat di bagian dorsal rongga badan, yaitu di
sebelah ventral dari ren, aorta abdominalis, dan columna vertebralis. Umumnya
berbentuk oval dengan warna keputih-putihan, terdiri atas dua bagian yang tidak sama
besar. Dari bagian anterior, tepat di perbatasan antara bagian anterior dan bagian
posterior, keluar sebuah saluran yang menghubungkan pneumatocyst dengan esophagus.
Saluran ini disebut ductus pneumaticus dan berfungsi sebagai jalan keluar masuknya
udara ke dalam pneumatocyst. Pada ikan mas, ductus pneumaticus ini menghubungkan
gelembung renang dengan saluran pencernaan, sehingga termasuk tipe fisostomus.
Anatomi insang ikan dapat digunakan sebagai penunjuk kondisi lingkungan
ikan. Ikan mas tidak mempunyai labirin karena ikan mas hidup di perairan luas yang
terbuka, yang masih tersedia cukup oksigen. Ikan mas menyukai tempat hidup (habitat)
di perairan yang airnya tidak terlalu dalam dan alirannya tidak terlalu deras, seperti di
pinggiran sungai atau danau. Ikan mas dapat hidup baik di daerah dengan ketinggian
150--600 meter di atas permukaan air laut (dpl) dan pada suhu 25-30 C.
Bagian-bagian Insang :
1. Tulang Lengkung Insang sebagai tempat melakeatnya tulang tapis insang dan
daun insang, mempunyai banyak saluran-saluran darah dan saluran syaraf.
2. Tutup Insang (Operkulum), hanya terdapat pada ikan bertulang sejati, sedangkan
pada ikan bertulang rawan, tidak terdapat tutup insang. Operkulum berfungsi
melindungi bagian kepala dan mengatur mekanisme aliran air sewaktu bernapas.
3. Membran Brankiostega (selaput tipis di tepi operkulum), berfungsi sebagai
katup pada waktu air masuk ke dalam rongga mulut.

4. Lengkung Insang (Arkus Brankialis).


5. Lembaran (Filamen) Insang (Holobrankialis), bewarna kemerahan.
6. Saringan Insang (Tapis Insang/gills rakers), tulang yang muncul dari lengkung
branchial yang berfungsi untuk menyaring makanan dan menjaga agar tak ada
benda asing yang masuk ke dalam rongga insang. Jarak, bentuk dan struktur dari
gill rakers ini bervariasi, biasanya digunakan dalam klasifikasi dan identifikasi
spesies ikan dan menentukan ukuran makanan yang bisa dimakan oleh ikan.
7. Mulut Ikan.
8. Labirin (jika ada).
9. Gelembung renang/swim bladder dan ductus pneumaticus (jika ada)
Hal-hal yang berkaitan dengan sistem pernapasan :
1. Perairan harus mengandung O2 cukup banyak
2. Bila perairan kurang O2, ikan akan antara lain :
a. menuju permukaan
b. menuju tempat pemasukkan air
c. menuju tempat air yg berarus
3. Daun insang harus dalam keadaan lembab
Faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan ikan akan O2:
1. Ukuran dan umur (stadia hidup): ikan-ikan kecil membutuhkan O2 lebih besar
2. Aktivitas ikan: yang aktif berenang membutuhkan O2 lebih besar
3. Jenis kelamin: ikan betina membutuhkan O2 lebih besar
4. Stadia reproduksi: ikan yang bereproduksi membutuhkan O2 lebih besar
Ikan lele merupakan ikan yang hidup pada kondisi oksigen rendah (berlumpur).
Pada ikan lele insangnya berwarna merah pekat dan filamen pendek. Warna merah pada
insang ini disebabkan karena adanya pembuluh darah yang membawa darah kaya akan
oksigen sehingga menyebabkan viskositas darah yang rendah. Hal tersebut dikarenakan,
ikan lele hidup di air yang miskin O2. Pada ikan lele, terdapat organ tambahan yang
disebut arboresent organ atau labirin. Organ tersebut berupa struktur dengan
kenampakan mirip bunga karang yang berwarna merah (Kholis, 2011). Struktur yang
berlipat-lipat berfungsi memperluas permukaan respirasi. Labirin ini berfungsi
menyimpan cadangan O2 sehingga ikan lele tahan pada kondisi yang kekurangan O 2.
Labirin kaya dengan kapiler darah. Alat ini terletak di dalam ruangan sebelah atas
insang. Organ tersebut berfungsi untuk membantu mengikat oksigen pada kondisi
oksigen rendah dan organ ini sangat efektif untuk pengambilan oksigen di udara
(Asyari, 2007). Pada ikan lele tidak terdapat gelembung renang. Pada ikan yang tidak
mempunyai struktur tambahan, terdapat kompensasi dengan cara menambah jumlah
filamen insang, hal tersebut dapat dijumpai pada ikan nila dan ikan mas.
Mekanisme sistem respirasi pada ikan
Mekanisme pernapasan pada ikan diatur oleh mulut dan tutup insang. Pada
waktu tutup insang mengembang, membran brankiostega menempel rapat pada tubuh,
sehingga air masuk lewat mulut. Sebaliknya jika mulut ditutup, tutup insang
mengempis, rongga faring menyempit, dan membran brankiostega melonggar sehingga

air keluar melalui celah dari tutup insang. Air dengan oksigen yang larut di dalamnya
membasahi filamen insang yang penuh kapiler darah dan karbon dioksida ikut keluar
dari tubuh bersama air melalu celah tutup insang.
Insang umumnya tidak cocok untuk hewan yang hidup didarat, karena luas
permukaan membran basah yang besar apabila terpapar udara akan menjadi terlalu
banyak kehilangan air akibat penguapan, dan juga karena insang akan mengempes
ketika filamen halusnya, yang tidak didukung lagi oleh air aka saling menempel satu
sama lain (Campbell, 2003).
2. Pengamatan Oksidasi Jaringan
Praktikum oksidasi jaringan pada katak menggunakan metilen biru sebagai
indikator bahwa telah terjadi oksidasi jaringan pada katak. Sebelum melakukan
penginjeksian, metilen biru dicampur dengan NaCl. Pencampuran antara metilen biru
dengan NaCl dilakukan karena adanya NaCl dalam tubuh katak sehingga metilen biru
dapat larut dalam cairan tubuh katak. Jadi NaCl berfungsi sebagai perantara
mengalirnya metilen biru ke jaringan tubuh katak.
Penginjeksian metilen biru+NaCl dilakukan pada bagian saccus lymphaticus
dorsalis, karena saccus lymphaticus katak mempunyai ukuran yang lebih besar bila
dibandingkan dengan bagian lain sehingga memudahkan praktikkan menginjeksikan
metilen biru untuk masuk ke dalam jaringan tubuh katak. Selain itu, tujuan
penginjeksian dilakukan di saccus lymphaticus adalah untuk mengurangi resiko
kematian pada katak karena percobaan ini dilakukan saat katak dalam keadaan setengah
sadar sehingga metilen biru dan NaCl dapat dialirkan ke seluruh jaringan tubuh melalui
pembuluh darah.
Pada kantung limfa ada banyak jalan (saluran) sehingga ketika cairan
disuntikkan pada kantung limfa maka cairan tersebut akan menyebar dengan cepat dan
memudahkan proses oksidasi jaringan didalamnya. Kantung limfa ini memiliki afinitas
lebih tinggi sehingga oksigen diikat oleh hemoglobin lalu oksigen masuk di sepanjang
pembuluh darah. Ketika metilen biru disuntikkan, menyebabkan metilen biru yang
diikat oleh hemoglobin bukan oksigen. Maka metilen biru masuk ke pembuluh darah
kemudian masuk ke eritrosit dan diikat oleh hemoglobin membentuk metilen
hemoglobin. Setelah 30 menit, diketahui bahwa metilen biru yang beredar ke seluruh
jaringan berada di saccus lymphaticus akan beredar ke jantung dan masuk ke dalam
pembuluh darah dan beredar ke seluruh organ dan jaringan melalui pembedahan.
Berdasarkan hasil pengamatan setelah pembedahan, katak yang diinjeksi metilen
biru+NaCl hampir semua jaringan-jaringannya mengalami perubahan warna menjadi
putih, merah pucat, hingga hitam kebiruan. Pemeriksaan juga dilakukan 15 menit
setelah pos mortal dan didapatkan hasil bahwa seluruh jaringan yang diamati
mengalami perubahan warna menjadi lebih pucat atau lebih gelap.
Perubahan warna terjadi karena tekanan O2 dalam darah menurun sehingga
ikatan HbO2 terurai. Selain itu pada kantung limfe memiliki afinitas lebih tinggi
sehingga oksigen diikat oleh hemoglobin lalu oksigen masuk ke sepanjang pembuluh
darah. Metilen biru memiliki afinitas lebih tinggi daripada gas oksigen terhadap
hemoglobin. Sehingga ketika disuntikkan metilen biru, yang diikat oleh hemoglobin
bukan oksigen tetapi metilen biru. Hemoglobin adalah suatu pigmen (berwarna merah)
karena berikatan dengan oksigen dan berwarna biru apabila mengalami deoksigenasi.

Dengan demikian, darah arteri yang teroksigenasi sempurna tampak merah, dan
darah vena yang telah kehilangan sebagian oksigennya di jaringan memperlihatkan rona
kebiruan. Di pembuluh darah, metilen biru yang memiliki afinitas (daya ikat) yang lebih
tinggi dibandingkan oksigen menyebabkan terbentuknya ikatan metHb
(methemoglobin) sehingga warna organ menjadi kebiruan. Itulah tandanya bahwa telah
terjadi deoksidasi jaringan, karena suplai oksigen di jaringan berkurang drastis akibat
penambahan metilen biru. Metilen biru yang telah masuk pembuluh darah akan masuk
ke eritrosit dan diikat oleh hemoglobin dan membentuk metilenhemoglobin (MetHb)
dengan persamaan reaksi sebagai berikut:
HbO2
Hb + O2
Hb + Met
MetHb
Metilen biru yang diikat oleh hemoglobin akan diserap ke jaringan, sehingga
akan terjadi kematian jaringan (hipoksia) karena jaringan kekurangan oksigen sehingga
tidak dapat memproduksi energi, maka kemampuan sel eritrosit semakin lama semakin
tidak dapat mempertahankan ikatan Hb dengan metilen biru menyebabkan organ
menjadi warna biru. Hipoksia adalah kekurangan O 2 di tingkat jaringan. Ketika
campuran metilen biru dan hemoglobin pecah maka hemoglobin akan masuk ke
pembuluh darah sehingga peredaran darah tidak dapat bekerja secara maksimal dan
melepaskan metilen biru ke pembuluh darah dan proses oksidasi jaringan pun terhenti,
15 menit kemudian setelah pos mortal, terlihat warna jaringan semakin pucat karena
proses oksidasi jaringan terhenti.
3. Permeabilitas Paru-Paru Terhadap Gas
Paru yang digunakan pada praktikum adalah paru-paru katak yang terdiri dari
dua paru (di sebelah kanan dan di sebelah kiri tubuh katak). Paru katak berwarna
merah sesaat setelah dilakukan pembedahan.
Paru-paru katak tersusun atas jaringan epitel pipih selapis, sehingga bisa terjadi
pertukaran gas melalui membran paru-paru yang tersusun dari jaringan tersebut.
Setelah ditekan, paru-paru katak diikat dengan benang halus di daerah bronkus yang
bertujuan agar aliran darah dari pembuluh darah tidak mengalir ke dalam paru-paru
dan tercipta tekanan udara antara lingkungan dengan bagian dalam paru. Paru yang
sudah diikatkan dipotong pada bagian trakhea untuk dimasukkan ke dalam air kapur
(larutan CaCO3).
Paru-paru katak dimasukkan ke dalam air kapur yang memiliki banyak gas CO2,
namun hal ini tidak membuat paru-paru katak menjadi kolaps. Hal ini disebabkan
karena sel-sel alveolus tipe II mengeluarkan suatu campuran kompleks lemk dan
protein yang disebut surfaktan paru. Peran surfaktan paru dalam mengurangi
kecenderungan alveolus mengalami recoil sehingga mencegah alveolus kolaps,
penting untuk membantu mempertahankan stabilitas paru. Selain itu, dengan
menurunkan tegangan permukaan alveolus, surfaktan paru memberi manfaat penting
lainnya, yaitu bahan ini meningkatkan compliance paru, mengurangi kerja untuk
mengembangkan paru (Sherwood, 2011). Menurut Sloane (2004), surfaktan
mengurangi tegangan permukaan cairan yang menurunkan kecenderungan
pengempisan alveoli dan memungkinkan alveoli untuk berinflasi dalam tekanan yang
lebih rendah.

Setelah direndam larutan CaCO3, paru-paru katak menjadi mengembang dan


warnanya berubah menjadi merah muda pucat karena adanya akumulasi CO 2 ke dalam
paru. Surfaktan paru juga membantu menstabilkan ukuran alveolus serta membantu
alveolus tetap terbuka dan ikut serta dalam pertukaran gas (Sherwood, 2011). Larutan
CaCO3 menjadi bening karena gas CO2 didalam air kapur telah masuk ke dalam
alveolus secara difusi. Sehingga CO2 yang tertinggal hanya sedikit di dalam air kapur
serta ada sedikit endapan Ca(OH)2. Berikut ini persamaan reaksi yang terjadi:
CaCO3 (s) + H2O (l) H2CO3 (l) + Ca(OH)2 (l)
H2CO3 (l) H2O (l) + CO2 (g)
Tekanan CO2 pada larutan CaCO3 (air kapur) lebih besar dibandingkan dengan
tekanan CO2 di dalam alveolus, sehingga CO2 berdifusi dari dalam larutan CaCO3 ke
dalam alveolus sesuai dengan selisih tekanan sehingga paru-paru terlihat
menggembung karena terisi oleh CO2 yang terdapat dalam larutan air kapur. Paru-paru
katak menjadi mengembang setelah dicelupkan ke dalam larutan CaCO 3 disebabkan
karena adanya perbedaan tekanan parsial gas CO2 antara di dalam air kapur dengan di
dalam paru. Tekanan parsial ini tidak terlalu beda jauh, karena gas yang terdapat di
dalam air kapur ada yang menguap ke udara, tetapi masih tersisa gas yang terlarut
didalam air kapur, sehingga tekanan tetap terjadi walau tidak begitu besar.

DAFTAR PUSTAKA
Ansyari. 2007. Pentingnya labirin bagi ikan rawa. Jurnal Bawal. Vol.1 No.5. Agustus
2007: 161-167.
Campbell, et al. 2003. Biologi Jilid 3. Jakarta: Erlangga.
Mahyuddin, Kholish. 2011. Panduan Lengkap Agribisnis Lele. Jakarta: Penebar
Swadaya.
Sherwood, Lauralee. 2011. Fisiologi Manusia. Jakarta: EGC.
Sitanggang, L. 1995. Budidaya Gurame . Jakarta: PT Penebar.
Sloane, Ethel. 2004. Anatomi dan Fisiologi Untuk Pemula. Jakarta: EGC.
Susanto H. 1995. Budidaya ikan di Pekarangan. Jakarta: PT Penebar.
Tucker, C.S. and E.H. Robinson. 1991. Channel Catfish Farming Handbook. An Avi
Book. New York. 454 pp.