Anda di halaman 1dari 15

PEWARNAAN KAPSULA BAKTERI

LAPORAN PRAKTIKUM
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Mikrobiologi
yang dibina oleh Sitoresmi Prabaningtyas, S.Si, M.Si

Oleh :
Kelompok 1
Isfatun Chasanah

140342603465

Maulidan Asryofil Anam 140342604964


Robiatul Hadawiyah

140342604500

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Februari 2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. Dasar Teori
Mikroorganisme sulit dilihat dengan mikroskop cahaya, karena tidak
mengadsorpsi

ataupun

membiaskan

cahaya.

Alasan

inilah

yang

menyebabkan zat warna digunakan untuk mewarnai mikroorganisme


ataupun latar belakangnya. Zat warna mengadsorpsi dan membiaskan
cahaya sehingga kontras mikroorganisme disekelilingya ditingkatkan.
Penggunaan zat warna memungkinkan pengamatan struktur sel seperti
spora dan bahan infeksi yang mengandung zat pati dan granula fosfat
(Dwidjoseputro, 1998). Sejumlah bakteri dapat membentuk kapsul dan
lendir (Kusnadi, 2003). Bakteri mengeluarkan lendir pada permukaan
selnya, kemudian melapisi dinding sel. Apabila lapisan lapisan lendir
tersebut cukup tebal dan kompak maka disebut kapsula (Hastuti, 2008).
Kapsul merupakan lapisan materi polisakarida yang mengelilingi selsel bakteri dan dapat bertindak sebagai pelekat pada sel inang. Kapsul
dapat diketahui dengan pewarnaan bakteri menggunakan Kristal violet
dan Cu2SO4 atau tinta cina. Kapsul merupakan struktur luar pelindung sel
yang disekressikan oleh dinding sel. Hanya bakteri tertentu yang
membentuk kapsul dan tidak semua jenis bakteri mempunyai kapsul.
Adanya kapsul dapat dijadikan sebagai proses klasifikasi dan identifikasi
bakteri (Madigan , 2012: 464). Seperti bakteri yang menyebabkan
penyakit antraks, penyakit yang ditemukan pada hewan ternak, tidak
pemproduksi kapsul saat tumbuh di luar tubuh inang akan tetapi
membentuk sel kapul saat menginfeksi tubuh inang. (Black &Laura, 2012:
94).
Kapsul memiliki zat gula yang terdiri dari 6 atom karbon yang disebut
heksosa. Kapsul ini lebih banyak memiliki polisakarida daripada molekul
disakarida. Misalnya bakteri Leuconostoc mesenteroides dan beberapa
jenis lalin kapsul tersusun dari dekstran (Madigan, 2012:405). Untuk

melihat ada tidaknya kapsul pada bekteri digunakan pewarnaan secara


langsung/positif dan pewarnaan secara tidak langsung/negatif.
Pewarnaan negatif bukan digunakan untuk mewarnai bakteri tetapi
mewarnai latar belakangnya menjadi hitam gelap. Zat warna tidak akan
mewarnai sel melainkan mewarnai lingkungan sekitarnya, sehingga sel
tampak transparan dengan latar belakang hitam. Pewarnaan negatif/tidak
langsung dapat terjadi karena senyawa pewarna bermuatan negatif.
Sedangkan,

pewarnaan

positif/secara

langsung

dilakukan

dengan

menggunakan kristal violet dan CuSO4.5H2O. Pewarnaan secara langsung


ini dimaksudkan untuk mewarnai sel-sel bakteri yang diamati. Apabila
bakteri mempunyai kapsul, maka dalam pengamatan sel bakteri akan
tampak berwarna ungu dan diselubungi oleh kapsul yang berwarna biru
muda (Hastuti, 2008).
B. Tujuan
Tujuan dari praktikum pewarnaan kapsula bakteri yaitu:
1. Untuk memperoleh ketrampilan melakukan pewarnaan kapsula bakteri
2. Untuk mengetahui ada atau tidak adanya kapsul bakteri

BAB II
METODE
A. Alat dan Bahan
Alat :
1. Mikroskop
2. Kaca benda
3. Lampu spritus
4. Mangkuk pewarna
5. Kawat penyangga
6. Jarum inokulasi berkolong
7. Pinset
8. Korek api
Bahan :
1. Biakan campuran/biakan murni bakteri
2. Tinta cina merk Pelikan
3. Aquades steril
4. Larutan kristal violet 0,5%
5. Larutan CuSO4, 5H2O 20%
6. Alkohol
7. Lisol
8. Sabun cuci
9. Kerta penghisap
10. Lap
B. Cara Kerja
I. Pewarnaan Langsung/Positif
Menyediakan kaca benda bersih, lalu melewatkan di atas nyala lampu api spriritus

Meneteskan satu ose aquades steril di atas kaca benda itu

Secara antiseptik, menginokulasikan bakteri yang diperiksa di atas tetesan


aquades, meratakan perlahan-lahan dan menunggu sampai mengering

Melakukan fiksasi dengan cara melewatkan sediaan tersebut di atas nyala api
lampu spiritus dengan cepat

Meneteskan larutan kristal violet pada sediaan, kaca benda sediaan diletakkan di
atas kawat penyangga yang telah diletakkan di atas mangkuk pewarna. Menunggu
hingga 1 menit

Menjepit kaca benda sediaan dengan pinset (Kedudukan tetap di atas mangkuk
pewarna), Membilas sediaan dengan larutan CuSO4, 5H2O secara hati-hati

Mengeringkan sediaan dengan menggunakan kertas penghisap denga hati-hati


agar tidak merusak sediaan

Mengamati sediaan di atas mikroskop


II. Pewarnaan Tak Langsung/Negatif
Menyediakan kaca benda bersih, lalu melewatkan di atas nyala lampu api spriritus

Menyiapakan biakan campuran atau biakan murni bakteri, lalu menentukan koloni
bakteri yang akan diperiksa kapsulnya

Meneteskan satu ose aquades steril di atas kaca benda

Secara aseptik mengambil inokulum yang akan diperiksa, lalu meratakan perlahanlahan di atas tetesan aquades itu.

Membiarkan sediaan mengering tanpa difiksasi

Meneteskan setetes tinta cina merk Pelikan di atas sediaan tersebut, lalu
meratakan secara perlahan-lahan

Membiarkan sediaan mengering, lalu mengamati dibawah mikroskop (tanpa kaca


penutup). Sel-sel bakteri nampak transparan dengan latar belakang berwarna hitam,
sedang kapsula (bila ada) berwarna coklat muda disekeliling bakteri

BAB III
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
A. Data
Koloni yang diamati pada tabel di bawah ini berasal dari koloni bakteri yang sampelnya
diambil dari Greenhouse Biologi.
No
1
2

Jenis Pewarnaan
Langsung
Tak Langsung
Langsung
Tak Langsung

Warna Sel Vegetatif


Ungu
Transparan
Ungu
Transparan

Warna Kapsula
Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Ada

Bentuk Sel
Basil
Basil
Coccus
Coccus

B. Analisis Data
Pada praktikum pewarnaan kapsul bakteri, digunakan pewarnaan
dengan

metode

pewarnaan

langsung/positif

dan

pewarnaan

tak

langsung/negatif. Pada pewarnaan dengan metode langsung digunakan


larutan CuSO4, 5H2O agar dapat mengamati kapsul. Sedangkan, pada
metode tidak langsung digunakan tinta cina. Berdasarkan hasil praktikum
yang telah kami lakukan, dapat diketahui bahwa pada sel bakteri koloni I
maupun sel bakteri koloni II terdapat kesaamaan. Yaitu, pada sel bakteri
koloni I maupun koloni II setelah dilakukan pewarnaan langsung warna sel
bakteri yaitu ungu, dan pada pewarnaan tidak langsung warna sel bakteri
transparan.
Pada pewarnaan langsung, bakteri koloni I yang berbentuk basil
dengan bakteri berwarna ungu setelah diberi pewarna larutan Kristal
violet dan dibilas dengan CuSO4.5H2O. tidak ada banyangan bewarna biru
muda yang mengelilingi bakteri. Demikian pula pada sel koloni bakteri II
yang berbentuk coccus. Sel-sel bakteri nampak terpisah bewarna ungu
dan tidak memiliki bayangan bewarna biru muda yang mengelilinginya.
Sedangkan pada pewarnaan tidak langsung, bakteri kaloni I setelah diberi
tinta cina, ditunggu mengering dan diamati, sel bakteri terlihat transparan

tanpa ada warna coklat muda di sekeliling bakteri. Demikian juga pada
bakteri koloni II yang diamati menunjukkan hasil yang sama yaitu terlihat
transparan.

Pewarnaan langsung/positif, sel


bakteri ungu

Pewarnaan tak langsung/negatif, sel


bakteri transparan

Apabila terdapat kapsul pada bakteri dengan metode pewarnaan


langsung/positif diindikasikan dengan adanya warna biru muda yang
terdapat di luar dinding sel bakteri sedangkan, pada pewarnaan negatif
diindikasikan dengan

adanya pembungkus sel bakteri yang berwarna

kecoklatan. Dari hasil yang diperoleh, dapat ditarik kesimpulan sementara


bahwa pada sel bakteri koloni I maupun II merupakan koloni sel bakteri
yang tidak memiliki kapsul sehingga tidak virulen.
C. Pembahasan
Bakteri mengeluarkan lendir pada permukaan selnya, kemudian melapisi dinding sel. Bila
bahan berlendir tersebut kompak dan tampak sebagai bentuk yang pasti (bundar atau lonjong)
maka disebut kapsul, tetapi bila tidak teratur bentuknya dan menempelnya pada sel kurang
erat, maka disebut lendir (Hadioetomo, 1990). Menurut Tarigan (1988), kapsul merupakan
substansi yang bersifat viskous sehingga membentuk suatu selubung yang mengelilingi
dinding sel, memiliki fungsi lain yakni melindungi tubuh bakteri dari kekeringan sementara,
dengan mengikat molekul-molekul air, serta memudahkan bakteri untuk melekat pada
permukaan atau substrat.

Kapsul tersusun dari molekul polisakarida kompleks yang berbentuk gel. Namun, setiap
bakteri mensekresikan komposisi kimia kapsul yang berbeda, tergantung pada jenis
bakterinya. Kapsul dan cairan lendir dapat berupa cairan yang tebal dan padat atau fleksibel,
tergantung pada zat kimia dan derajat hidrasinya (Madigan,2012:500). Pada kapsul bakteri
antrax memiliki protein. Ketika bakteri yang berkapsul menyerang sel inang, kapsul
mencegah mekanisme pertahanan sel inang, seperti fagositosis untuk mengancurkan bakteri.
Jika bakteri tidak memiliki kapsul maka bakteri ini mudah diserang dan dihancurkan (Black
&Laura, 2012: 94). Kapsula bersifat non-ionik maka pewarnaan tidak dapat dilakukan
dengan prosedur pewarnaan sederhana yang biasa. Adapun kapsula bakteri tidak berwarna,
sehingga untuk mengetahui ada tidaknya kapsula bakteri perlu dilakukan pewarnaan khusus
(Hastuti, 2008). Pada praktikum digunakan pewarnaan secara langsung maupun tidak
langsung untuk mengamati ada tidaknya kapsul bakteri.
1. Pewarnaan kapsula bakteri secara langsung (pewarnaan positif).
Pada praktikum, pewarnaan secara langsung dilakukan dengan menggunakan kristal
violet dan CuSO4.5H2O. Pewarnaan secara langsung dimaksudkan untuk mewarnai sel-sel
bakteri yang diamati. Apabila bakteri mempunyai kapsul, maka dalam pengamatan sel bakteri
akan tampak berwarna ungu dan diselubungi oleh kapsul yang berwarna biru muda. Kristal
violet merupakan larutan yang yang mempunyai kromophore atau butir pembawa warna yang
bermuatan positif (memiliki kation) sedangkan muatan yang berada di sekeliling bakteri
bermuatan negatif (memiliki anion), sehingga terjadi adanya tarik menarik antara kedua ion
tersebut. Hal inilah yang menyebabkan bakteri berwarna ungu. Terbentuknya warna biru
muda pada kapsula disebabkan karena kapsula menyerap CuSO4.5H2O (Darkuni, 2001) Pada
pewarnaan kapsul ini, CuSO4 berfungsi sebagai peluntur warna (decolourisasi) dimaksudkan
untuk menghilangkan atau mencuci zat warna tanpa menghilangkan warna pada sel bakteri.
Berdasarkan hasil pengamatan pada praktikum , dapat diketahui bahwa pada koloni
bakteri I dan koloni bakteri II tidak berkapsul. Hal ini ditandai dengan tidak adanya warna
biru muda yang menyelubungi sel bakteri yang berwarna ungu. Tidak terbentuknya warna
biru muda disekeliling sel bakteri dapat diketahui bahwa tidak ada yang menyerap
CuSO4.5H2O, seperti yang kita ketahui yang dapat menyerap CuSO 4.5H2O adalah kapsul.
Menurut Tarigan (1988), fungsi kapsul adalah melindungi tubuh dari kekeringan sementara
dengan mengikat molekul-molekul air, dapat memblok perlekatan bakteriofag, serta sebagai
anti fagositosik. Selanjutnya Hastuti (2008) menjelaskan bahwa pada beberapa jenis bakteri,
adanya kapsula ini menunjukkan sifat virulen.

2. Pewarnaan kapsula bakteri secara tidak langsung (pewarnaan negatif).


Pewarnaan negatif yaitu pewarnaan yang ditujukan terhadap bakteri yang sulit diwarnai,
dimana bakterinya tidak diwarnai melainkan latar belakangnya, metode pewarnaan negatif
merupakan suatu metode perwarnaan umum, dimana digunakan larutan zat warna yang tidak
meresap ke dalam sel-sel bakteri melainkan melatar

belakangi sehingga kelihatan atau

nampak sebagai bentuk-bentuk kosong tak berwarna(negatif) (Lay.1994).


Pada kegiatan praktikum ini, pewarnaan secara tidak langsung dilakukan dengan
menggunakan tinta cina. Menurut Tarigan (1988), salah satu pewarnaan pewarnaan negatif
yang bertujuan untuk mewarnai latar belakang atau bidang pandang di bawah mikroskop dan
bukan untuk mewarnai sel-sel mikroba yang diperiksa. Tinta cina merupakan larutan yang
mempunyai kromophore atau butir pembawa warna yang bermuatan negatif (memiliki
anion), sedangkan muatan yang ada di sekeliling bakteri juga bermuatan negatif (memiliki
anion), sehingga terjadi adanya tolak menolak antara kedua ion tersebut. Hal inilah yang
menyebabkan bakteri berwarna transparan dan nampak hanya warna latar belakangnnya yaitu
hitam. Terbentuknya warna transparan ini dikarenakan sel bakteri tidak mampu menyerap
warna. Tanpa adanya pewarnaan, kapsul bakteri sangat sukar diamati dengan mikroskop
cahaya biasa karena tidak berwarna (Hastuti, 2008).
Dari hasil pengamatan pada praktikum ini, dapat diketahui bahwa pada koloni bakteri I
dan koloni bakteri II tidak berkapsul. Hal ini ditandai dengan tidak adanya warna kecoklatan
yang menyelubungi luar dinding sel bakteri. Berdasarkan hasil, dapat diketahui bahwa bakteri
pada koloni I dan koloni II sama-sama tidak berkapsul, baik pada pewarnaan langsung
(pewarnaan positif) dan tidak langsung (pewarnaan negatif). Salah satu fungsi kapsul adalah
sebagai antifagosit sehingga kapsul memberikan sifat virulen. Sehingga apabila bakteri tidak
mempunyai kapsul maka ia tidak bersifat virulen dan dengan demikian bakteri tidak mampu
menyebabkan infeksi.
Pelczar (1986) menyatakan bahwa jika bakteri kehilangan kapsulnya sama sekali maka ia
akan dapat kehilangan virulensinya dan dengan demikian akan kehilangan kemampuannya
untuk menyebabkan infeksi. Bakteri-bakteri berkapsula juga menyebabkan adanya gangguan
seperti lendir dalam beberapa proses industri. Selanjutnya Kusnadi (2003) menjelaskan
bahwa tidak adanya kapsula tidak mempengaruhi kelangsungan hidup bakteri sehingga tidak
semua bakteri memiliki kapsula, ada juga yang tidak memiliki kapsula. Kapsula bukanlah

suatu organ yang penting bagi kehidupan sel, karena apabila kondisi medium normal maka
sel bakteri tidak membentuk kapsula dan tetap dapat tumbuh secara normal (Darkuni, 2001)
Dijelaskan juga pada percobaan Griffith (1928) yang menggunakan bakteri
pneumococcus Bakteri pneumococcus yang berkapsul menyebabkan kematian tikus karena
sistem imun tikus tidak dapat membunuh bakteri berkapsul, sehingga sel-sel berproliferasi
dalam paru-paru dan menyebabkan pneumonia. Sedangkan sel bakteri tidak berkapsul
(Rough cell/sel R) bersifat tidak patogen. Akan tetapi kombinasi dari sel R yang hidup dan sel
S yang mati menyebabkan kematian tikus dan sel S yabg hidup dapat diisolasi dari hewaan.
DNA pembawa gen yang memproduksi berkapsul di dibebaskan dari sel S yang mati dan
tergabung dalam sel R, sehingga sel R dapat bertrasnfomasi menjadi sel S. (Madigan,
2012:276)
Banyak bakteri yang mensintesis peptidoglycan, lipopolysaccharide, dan polimer lain
yang bergabung dengan dinding sel. Beberapa bakteri membetuk kapsul dari zat tersebut,
karena zat tersebut mengandung serum atau gula dalam jumlah besar. Seperti bakteri antraks
memiliki kapsul yang mengandung polypeptide asam glutamat. (Black &Laura, 2012: 138).

BAB IV
PENUTUP
Simpulan
1. Pada pewarnaan langsung (pewarnaan positif), sel bakteri dari koloni I dan koloni II
berwarna ungu dan tidak terdapat warna biru muda pada bagian luar dinding selnya. Hal
ini menunjukkan bahwa dengan pewarnaan langsung, bakteri koloni I dan koloni II
menunjukkan tidak adanya kapsula.
2. Pada pewarnaan tidak langsung (pewarnaan negatif), sel bakteri dari koloni I dan koloni
II berwarna transparan dan tidak terdapat warna kecoklatan pada bagian luar dinding
selnya. Hal ini menunjukkan bahwa dengan pewarnaan tidak langsung, bakteri koloni I
dan koloni II juga menunjukkan tidak adanya kapsula.

DAFTAR RUJUKAN
Black, Jacquelyn G. & Laura Blacks. 2012. Microbiology: Principles And Explorations 8th
Ed. USA: John Wiley & Sons, Inc.
Darkuni, N. 2001. Mikrobiologi (Bakteriologi, Virologi dan Mikologi). Malang
: UM Press
Dwidjoseputro, D.1998.Dasar-Dasar Mikrobiologi. Malang : Djambatan
Hadioetomo & Ratna, S. 1990. Mikrobiologi Dasar dalam Praktek Teknik
dan Prosedur Laboratorium. Jakarta : Gramedia
Hastuti, U.S. 2008. Petunjuk Praktikum Mikrobiologi. Malang : UM Press
Kusnadi. 2003. Mikrobiologi. Bandung : JICA IMSTEP
Lay & Bibiana.W.1994.Analisis Mikroba di Laboratorium.Jakarta : Rajawali
Madigan, M.T., John M.Martinko, David A. Stahl, David P. Clark. 2012. Brock biology of
microorganisms. 13rd edition. USA: Pearson Education, Inc.
Pelczar, M J. & E.C.S Chan.1986.Dasar- dasar Mikrobiologi Jilid 1 Jakarta: UI

Press.

Tarigan, J. 1988. Pengantar Mikrobiologi. Jakarta: DIRJEN DIKTI Proyek


Pengembangan LPTK
Waluyo, lud. 2004. Mikrobiologi Umum.Malang : UMM Press

Diskusi
1. Apakah fungsi kapsula bagi bakteri ?
Jawab :
Fungsi kapsula pada bakteri:

Berperan sebagai antifagosit sehingga memberi sifat virulen pada bakteri.


Mempertahankan diri dari antitoksin yang dihasilkan sel inang.
Meningkatkan kemampuan bakteri untuk menimbulkan penyakit.
Melindungi sel dari kekeringan dan kehilangan nutrisi karena kapsula mengandung

banyak air.
Sebagai penyeimbang antara sel dan lingkungan eksternal.

2. Adakah hubungan antara kapsula dan virulensi bakteri ? Jelaskan !


Jawab :
Kapsula berperan sebagai antifagosit sehingga kapsula memberikan sifat virulen bagi
bakteri. Kapsula melindungi bakteri dari fagosit oleh sel-sel yang berperan dalam imunitas
dari inang. Jika bakteri ini tidak dapat difagosit oleh sel-sel imunitas (seperti leukosit,
limfosit, dan makrofag), maka bakteri tersebut akan bersifat virulen.
Kapsula merupakan lapisan polimer (terdiri atas polisakarida, polipeptida atau kompleks
polisakarida dengan protein) yang berlekatan dengan dinding sel. Koloni bakteri yang tidak
berkapsula umumnya tergolong tidak virulen (tidak ganas).Dengan tidak adanya kapsula
maka bukan termasuk bakteri yang virulen. Hal ini terkait dengan fungsi bakteri yang
mempunyai kemampuan untuk menimbulkan penyakit. Apabila bakteri kehilangan
kapsulanya sama sekali, maka bakteri tersebut kehilangan virulensinya, dan dengan demikian
kehilangan kemampuannya sebagai penyebab infeksi.

LAMPIRAN
Foto

Alat
dan Bahan
Pewarnaan
tak langsung/negatif

Hasil pengamatan
pewarnaan
Hasil pengamatan
pewarnaan
kapsuldengan
bakteri metode
dengan metode
kapsul bakteri
langsung
pewarnaanpewarnaan
tak langsung