Anda di halaman 1dari 25

TUGAS KEWIRAUSAHAAN

OLEH :
Wulan Suci Ningrum (1301109)

DOSEN PENGAJAR : Erniza Pratiwi, M.Farm, Apt

PROGRAM STUDI S1 FARMASI


SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI RIAU
YAYASAN UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2016

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena atas taufiq dan hidayah-Nya
sehingga saya dapat menyelesaikan makalah
Kami mengucapkan terima kasih kepada ibu Erniza Pratiwi, M.Farm, Apt
selaku dosen mata kuliah KEWIRAUSAHAAN yang telah membina,
memberikan bimbingan dan gambaran kepada kami dalam menyelesaikan
makalah ini.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah atau tulisan ini jauh dari
kesempurnaan. Olehnya itu saran dan kritik dari semua pihak sangat diharapkan
demi penyempurnaan dalam penulisan selanjutnya. Akhirnya, kami berharap
semoga

makalah ini dapat berguna sebagai acuan dalam pembelajaran dan

hasilnya dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.


Pekanbaru, 31 Maret 2016
Penyusun

DAFTAR ISI
Kata Pengantar.......................................................................................................i
Daftar Isi................................................................................................................ii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1

LAtar Belakang..........................................................................................1

1.2

Rumusan Masalah......................................................................................2

1.3

Tujuan.........................................................................................................2

BAB II ISI
2.1

Definisi wirausaha......................................................................................3

2.2

Tujuan wirausaha........................................................................................3

2.3

Faktor faktor yang mempengaruhi wirausaha.........................................4

2.4

Tipe tipe wirausaha..................................................................................7

BAB III PENUTUP


3.1

Kesimpulan.................................................................................................19

3.2

Saran............................................................................................................19

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Memasuki era perdagangan bebas persaingan usaha diantara perusahaan
semakin

ketat.

Kondisi

demikian

menuntut

perusahaan

untuk

selalu

mengembangkan strategi perusahaan agar dapat bertahan atau dapat lebih


berkembang. Untuk itu, perusahaan perlu mengembangkan suatu strategi yang
tepat agar perusahaan bisa mempertahankan eksistensinya dan memperbaiki
kinerjanya.
Merger dan akuisisi adalah strategi pertumbuhan eksternal dan merupakan
jalur cepat untuk mengakses pasar baru produk baru tanpa harus membangun dari
awal. Terdapat penghematan waktu yang sangat signifikan antara pertumbuhan
internal dan eksternal melalui merger dan akuisisi. Dari waktu ke waktu
perusahaan lebih menyukai pertumbuhan eksternal melalui merger dan akuisis
dibanding pertumbuhan internal.
Penggabungan usaha dapat dilakukan dengan berbagai cara yang
didasarkan pada pertimbangan hukum, perpajakan, atau alasan lainnya. Di
Indonesia didorong oleh semakin besarnya pasar modal, transaksi merger dan
akuisisi semakin banyak dilakukan. Bentuk-bentuk penggabungan usaha antara
lain melalui merger dan akuisis. Di Indonesia praktek akuisisi umumnya
dilakukan oleh satu grup (internal acquition) khusus pada perusahaan yang go
publik. Merger dan akuisis ini telah berkembang menjadi tren beberapa
perusahaan.
Alasan perusahaan melakukan merger dan akuisisi adlaah untuk
memperoleh sinergi, strategic opportunities, meningkatkan efektifitas dan
mengeksploitasi mis-pricing di pasar modal. Pada umumnya tujuan dilakukannya
merger dan akuisis adalah mendapatkan sinergi dan nilai tambah. Keputusan
untuk merger dan akuisisi bukan sekedar menjadikan dua ditambah dua menjadi
empat tetapi merger dan akuisis harus menjadikan dua ditambah dua menjadi lima
dan seterusnya.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Bagaimana cara mengembangkan usaha baru ?
2. Apa yang dimaksud dengan akuisis ?
3. Apa yang dimaksud dengan merger?
1.3 TUJUAN
1. Untuk mengetahui bagaimana cara mengembangkan usaha baru ?
2. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan akuisis ?
3. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan merger?

BAB II
ISI
2.1 MEMULAI USAHA BARU
Ada banyak cara bagi wirausaha untuk mengembangkan ide peluang
usaha. Diantaranya adalah memberikan kebebasan dan dorongan kepada para
karyawan. Pengembangan ide harus dilakukan secara terus menerus agar
wirausaha dapat memenangkan persaingan yang mangkin tajam. Adapun macammacam ide yang perlu dikembangkan adalah:
1. Ide dalam pembuatan produk/jasa yang diminati konsumen,
2. Ide dalam pembuatan produk/jasa yang dapat memenangkan persaingan,
3. Ide dalam pembuatan dan pendayagunaan sumber-sumber produk,
4. Ide yang dapat mencegah kebosanan konsumen didalam penggunaan
produk,
5. Ide dalam pembuatan desain, model, corak, dan warna produk/jasa yang
disenangi konsumen.
Setelah mengidentifikasi peluang usaha, seorang wirausaha memilih jenis
usaha, proses pemilihan ini terdiri atas tahap melalui saringan yang makin lama
makin sempit. Untuk itu diperlukan pertimbangan mendalam, biasanya disebut
evaluasi dengan kriteria yang telah dikembangkan sesuai kebutuhan. Faktor-faktor
yang menjadi dasar pertimbangannya adalah sebagai berikut :
1. Faktor keuntungan Jika setelah diperhitungkan ternyata tidak memberi
keuntungan memadai, sebaiknya pilihan bersangkutan dibatalkan.
2. Faktor penguasaan teknis Cara pembuatan barang atau jasa perlu
dikuasai

atau

dipelajari

atau

menggunakan

orang

lain

untuk

menguasainya.
3. Faktor pemasaran Harus diteliti kemungkinan pemasaran dan prospek
pemasarannya di waktu mendatang.
4. Faktor bahan baku Bahan baku merupakan faktor penting yang ikut
menentukan tingkat harga pokok dan kelancaran proses produk usaha.

5. Faktor tenaga kerja Yang perlu dipertimbangkan adalah tersedianya


tenaga kerja yang murah dan kemungkinan untuk memenuhinya, baik
jumlah, keahlian maupun jasa.
6. Faktor modal Perlu dipertimbangkan kesesuaian antara modal yang
disediakan

dan

kebutuhan

masing-masing

jenis

usaha

yang

ditanggung

perlu

dipertimbangkan.
7. Faktor

risiko

dipertimbangkan

Tingkat
besarnya

risiko

yang

kemampuan

bakal
untuk

menanggung

dan

imbangannya keuntungan yang akan diperoleh.


8. Faktor persaingan Perlu dipelajari situasi yang bakal terjadi dan
disesuaikan dengan kemampuan menghadapinya, dalam modal maupun
pemasarannya.
9. Faktor fasilitas dan kemudahan Fasilitas yang dibutuhkan untuk operasi
usaha dan kemudahan penyediaannya menjadi pertimbangan lain bersama,
kemudahan yang mungkin dapat diperoleh dari pemerintah seperti pajak.
10. Faktor manajemen Pertimbangan penting lainnya adalah produk
pengelolaannya yang paling sesuai dan bagaimana kemampuan kita untuk
mengelolanya. Hal ini sering diabaikan dalam mendirikan perusahaan
kecil. Faktor lain yang perlu menjadi pertimbangan adalah peraturan
pemerintah, perizinan, pertimbangan etis, lingkungan, dan sebagainya.
Jika wirausaha sudah menetapkan jenis usaha sesuai dengan yang
diinginkan dan sudah melalui berbagai macam pertimbangan, tugas yang perlu
diperhatikan seorang wirausaha adalah mempertimbangkan hal-hal berikut :
1. Jenis usaha yang sesuai dengan hasrat dan minat.
2. Jenis usaha yang benar-benar akan membawa suatu keuntungan.
3. Jenis usaha yang mudah mengurus dan mengerjakannya.
4. Jenis usaha yang mudah memeliharanya.
5. Jenis usaha yang produknya disenangi dan dibutuhkan konsumen.
6. Jenis usaha yang bahan bakunya mudah didapat.

7. Jenis usaha yang mendapat dukungan serta perlindungan pemerintah


Peluang usaha yang sudah dijalankan tentu memerlukan pengembangan
supaya lebih dapat mengembangkan potensi yang sudah ada. Diantaranya adalah
sebagai berikut.:
1. Integrasi vertikal
Integrasi

vertikal

adalah

penggabungan

usaha

yang

mempunyai

keterkaitan usaha yang saling membutuhkan kontinu, misalnya; usaha macammacam kue, memerlukan pasokan terigu dengan kualitas tertentu dari pemasok.
2. Menambah kapasitas
Penambahan kapasitas adalah menambah atau menaikkan jumlah produksi
untuk memenuhi kebutuhan peluang pasar baru atau untuk memasuki wilayah
pasar baru. Penambahan kapasitas produksi dimungkinkan bila perusahaan masih
memiliki kapasitas lebih. Bila kapasitas produksi yang dimiliki sudah
dimanfaatkan

maksimal,

penambahan

kapasitas

produksi

memerlukan

penambahan alat-alat baru.


3. Memasuki bisnis baru
Memasuki bisnis baru adalah membuka usaha baru yang tidak ada
kaitannya dengan usaha yang sudah berjalan. Memasuki bisnis baru dapat
dilakukan dengan menambah jenis produk dari usaha yang sudah berjalan atau
mendirikan usaha yang berbeda dengan usaha yang sudah berjalan.
2.2 HAL HAL DALAM MEMULAI USAHA BARU
Hal Praktis dalam Memulai Usaha :
-

Memilih Nama dan membuat logo

Memilih tempat usaha

Membeli perlengkapan

Pemenuhan terhadap mesin dan alat-alat produksi

Merekrut pegawai

Melakukan training persiapan dan uji coba

Memproduksi alat-alat promosi

Pilihan secara legal atau informal

Peresmian

Proses tambahan

Hal-hal yang perlu diperhatikan :

Membuat usaha bisnis secara legal di tahap awal atau terburu-buru pada
bulan-bulan pertama, mengikat hubungan hukum tanpa mengalami
kerjasama sebelumnya

Tidak melakukan riset mendalam terhadap persaingan dan kekuatan


internal (SWOT analysis)
Menghabiskan terlalu banyak dana untuk membeli peralatan dan renovasi,
termasuk sewa tempat, salah memilih lokasi
Membayar upah tenaga kerja lebih mahal dari pesaing
Menggunakan tenaga kerja yang level-nya lebih tinggi dari pesaing
Cara terbaik mempelajari common mistakes adalah berinteraksi langsung
dengan pelaku usaha yang pernah mengalaminya. Pelajarilah kiat-kiat
mereka untuk bangkit dari kesalahan dan untuk memperbaiki kesalahan
itu.
2.3 RENCANA BISNIS
Rencana Bisnis Yang Baik meliputi:

Singkat dan padat

Terorganisir rapi dengan penampilan menarik

Rencana yang menjanjikan

Hindari melebih-lebihkan proyeksi

Kemukakan risiko-risiko bisnis yang signifikan

Tim terpercaya dan efektif

Fokus

Target pasar

Realistis

Spesifik

Komponen Rencana Bisnis antara lain :


o Ringkasan Eksekutif
o Deskripsi Bisnis
o Strategi Pemasaran
o Analisis Persaingan
o Rencana Desain dan Pengembangan
o Rencana Operasi dan Manajemen
o Analisis Rencana Keuangan
Berikut adalah yang dapat dilakukan dalam memulai usaha :
1. Bangun Motivasi dan Bulatkan Tekad!
Menjadi pengusaha memerlukan tekad yang kuat untuk mengadapi
berbagai kesulitan selama mengembangkan usaha, diperlukan tenaga extra dan
persistensi yang tinggi untuk menembus semak belukar dunia usaha yang gelap
dan tajam. Tekad kuat hanya dapat terbentuk jika Anda sudah membangun
motivasi dan cita-cita yang besar atau karena keinginan untuk keluar tekanan
keadaan yang sulit dan memaksa.
2. Perkuat Tawakkal Kepada Allah Taala!
Setelah tekad sudah bulat maka bertawakallah kepada Allah Subhaanahu
Wataaala dengan sebaik-baik tawakkal. Dengan bertawakkal, pikiran menjadi
tenang saat bekerja, tidak khawatir akan hal-hal yang belum terjadi, secara penuh
pasrahkan nasib dan rezeki Anda kepada Allah Taala.

3. Saat Merintis Usaha, Jangan Memaksakan Diri untuk Berbisnis Sesuai


Gambaran Ideal yang Anda Miliki!
Banyak orang yang menunda-nunda berbisnis karena ide bisnisnya tidak
dapat diwujudkan, seperti karena modal tidak mencukupi, tidak sesuai dengan
bidang keahlian atau malu karena peluang bisnis yang ada sekarang hanya sekedar
bisnis ecek-ecek, tidak keren, dsb. mereka menunggu keajaiban yang tidak
kunjung datang, mereka memilih mengabaikan peluang usaha yang telah ada
dimana menurut mereka keuntungannya kecil dan tidak menarik, mereka
berkhayal untuk mengembangkan bisnis besar atau memperoleh proyek besar
tanpa didukung asset dan fasilitas penunjang yang diperlukan.
Kerjakan apa yang Anda mampu untuk mengerjakannya sekarang juga,
meskipun Anda merasa peluang bisnis yang ada saat ini kurang menarik namun
bersabarlah, boleh jadi suatu hari Anda akan menemukan peluang bisnis baru
yang lebih baik dengan sarana bisnis pertama yang telah Anda rintis. Bisa jadi
Anda akan menemukan partner bisnis atau pemodal besar yang bersimpati kepada
Anda karena kejujuran dan kualitas kerja Anda sekarang. Jalani dulu apa adanya,
syukuri apa yang ada, pasti Allah tambah nikmatNya. Just do it!
4. Pilih Bisnis yang Dapat Anda Kuasai dengan Cepat!
Anda dapat memilih bisnis yang ada hubungannya dengan latarbelakang
pendidikan atau yang sesuai dengan hobi atau yang dapat dibackup oleh keluarga,
teman, dsb. Seperti misalkan Anda diperbolehkan mengambil barang dagangan
tapi hutang dulu karena yang punya barang adalah teman sendiri, atau outsourcing
pekerjaan cetak buku ke percetakan tapi bayarnya dicicil karena yang punya
percetakan adalah paman sendiri, dsb.
Manfaatkan asset apapun yang Anda miliki dan yang dapat dimanfaatkan
seoptimal mungkin, baik aset fisik maupun aset yang tidak terlihat (intangible aset
yang berupa skill, pengalaman kerja, hubungan baik, kepercayaan, jaringan, dsb).

Intinya manfaatkan dulu asset apapun yang kita punya, jangan memikirkan ide
bisnis yang kita tidak mempunyai kekuatan apapun disana. Jangan memulai bisnis
dengan asset nol.
Sebagai contoh, Anda biasa bekerja sebagai sales disebuah perusahaan
kemudian ingin berwiraswasta, meskipun Anda mempunya ide produk yang hebat
maka jangan berpikir untuk mengembangkan produk tersebut disaat kita merintis
usaha, karena terlalu banyak variabel yang diperlukan untuk sukses dalam sebuah
bisnis produksi, kembangkan terlebih dahulu bisnis jasa, pemasaran, konsultan,
dsb

hindari

bisnis

produksi

yang

memakan

biaya

besar

dalam

mengembangkannya, semua ada waktunya, bersabarlah. Carilah teman yang


punya produk yang menarik untuk kita pasarkan atau kita jual dengan merek dan
kemasan kita sendiri. Cari dulu pengalaman menjual dan melayani pelanggan baru
berpikir produksi, bangun intangible asset baru sebanyak-banyaknya untuk
pengembangan produk baru dimasa depan. Nanti kalau sudah berjalan sekian lama
akan terbentuk pola, gambaran yang tepat tentang produk yang cocok untuk
dikembangkan sendiri
Yang paling utama dalam sebuah bisnis adalah memiliki pasar (market),
punya merek dan dipercaya orang. Selanjutnya produksi bisa outsourcing.
Contohnya : sepatu Nike, pemilik sepatu Nike tidak mempunyai pabrik, tapi
mereka mempunyai merek yang kuat dan pasar yang besar. (Saya tidak tahu apa
Nike masih seperti itu atau sudah punya pabrik sendiri sekarang). Juga
kebanyakan perusahaan IT hampir sebagian besar outsourcing ke Taiwan, Korea,
Malaysia dan Cina untuk produksi notebook dan peralatan elektroniknya. Seperti
Apple dengan iPod dan iPhone-nya, kalau kita lihat dibalik produknya akan
terbaca made in china, tapi mereka bisa berhasil menguasai pasar pemutar MP3
dan nomor dua untuk smartphone.
5. Tentukan Diferensiasi Produk!
Pikirkan produk apa yang kira-kira dapat dijual tanpa banyak persaingan
serta belum ada produk lain dengan merek yang kuat yang terhubung kepada
produk tersebut. Pelajari apa yang bisa membuat produk atau layanan kita berbeda

dengan yang lain. Setidaknya produk kita dikemas berbeda dan pada akhirnya
dipersepsi berbeda oleh pelanggan.
Apa yang membuat Apple bisa sukses dengan iPod dan iPhone-nya?
Mereka bisa membangun pasar baru yang belum dipikirkan orang lain, mereka
membuat inovasi baru, mereka mencari celah2 dimana konsumen belum puas
dengan produk yang ada. Mereka membangun kekuatan merek dan loyalitas
pelanggan, kebanggaan memakai produk mereka, gengsi dan gaya hidup. Mereka
tidak serta merta membuat produk untuk sekedar menyaingi produk lain.
Sebagai contoh, iPhone dikembangkan tahun lalu, disaat ratusan juta orang
sudah memiliki handphone, mereka sepertinya sudah terlambat untuk memulai
bisnis ini, tapi ternyata iPhone dalam waktu kurang dari dua tahun sudah merajai
pasar smartphone, diposisi kedua setelah nokia untuk penjualan smartphone,
mengalahkan RIM Blackberry dan Microsoft Smartphone.
6. Pilih Fokus dan Bekerjalah Secara Fokus!
Jangan asal terima proyek, jangan kembangkan banyak produk untuk satu
merek yang sama atau mengembangkan banyak bisnis sekaligus disaat Anda
merintis usaha. Tujuan dari fokus adalah agar kita semakin ahli dan menguasai
bidang usaha yang kita geluti yang pada akhirnya akan terbangun merek yang
kuat yang terkait erat dengan satu jenis produk saja dibenak pelanggan (Donat =
Dunkin Donut, Burger = McD, Teh Botol = Sosro, Pizza = Pizza Hut, dsb.).
Dana yang terbatas jangan dipecah2 untuk berbagai jenis produk atau
banyak usaha. Tanamkan semua sumberdaya untuk menguatkan kekuatan
bisnis/produk kita. (Ini mungkin bertentangan dengan pendapat jangan letakkan
semua telur dalam satu keranjang), tapi bagi saya justru telah terbukti, semakin
kita fokus dan semakin banyak sumber daya yang kita tanamkan untuk satu jenis
produk/jasa, maka hasilnya akan lebih baik. Lama kelamaan pasar akan punya
persepsi yang kuat untuk merek produk kita, karena kita fokus dan mempunyai
positioning yang kuat.
Sebagai contoh:
DHL dikenal untuk pengiriman seluruh dunia

FedEX dikenal untuk pengiriman semalam sampai.


Maka mereka yang ingin barangnya terkirim dalam waktu semalam akan
mempercayakan pengiriman barangnya kepada FedEX karena FedEx benar-benar
berupaya untuk terwujudnya janji semalam sampai, sedangkan mereka yang ingin
mengirim barang ke ujung dunia, mereka akan mempercayakannya kepada DHL,
karena FedEx tidak mempunyai infrastruktur hingga kepelosok-pelosok negeri
yang jauh.
7. Carilah Teman atau Berpartnerlah!
Jangan takut untuk mencari partner atau menggaji karyawan. Jangan
berusaha mengerjakan semuanya sendiri. Masing-masing kita mempunyai
kelebihan dan kekurangan, carilah teman atau karyawan yang dapat menutupi
kelemahan dan kekurangan kita. Agar terbentuk tim yang kuat dalam segala
bidang. Jangan takut tidak dapat menggaji karyawan, rezeki mereka telah diatur
oleh Allah Subhaanahu Wataaala, kita hanya sarana saja. Justru dengan
melibatkan orang lain InsyaAllah rezeki kita akan lebih baik dan lebih barokah
daripada bekerja sendirian.

2.4 MERGER DAN AKUISISI


Barangkali kegiatan yang memperoleh perhatian besar dari masyarakat
adalah pada waktu suatu perusahaan mengambil alih (melakukan akuisisi)
perusahaan lain, atau penggabungan (merger atau consolidation) dari dua
perusahaan. Perluasan usaha memang dapat dilakukan dengan ekspansi intern
(yaitu menambah kapasitas pabrik, menambah unit produksi, menambah divisi
baru, dan sebagainya), tetapi juga dapat dilakukan dengan menggabungkan
dengan usaha yang telah ada atau membeli perusahaan yang telah ada (akuisisi).
Beberapa perusahaan memilih untuk mengakuisisi perusahaan lain dalam
mendukung usaha pengembangan mereka.
Akuisisi suatu perusahaan oleh perusahaan yang lain, pada dasarnya
merupakan suatu keputusan investasi yang mengandung unsur ketidak-pastian.

Karena itu, konsep keuangan tentang keputusan investasi berlaku pula. Diterapkan
dalam konteks akuisisi, maka suatu akuisisi dapat dibenarkan secara ekonomi
apabila akuisisi tersebut diharapkan akan memberikan NPV yang positip bagi
pemegang saham perusahaan yang mengakuisisi. Hanya saja, untuk kasus akuisisi
beberapa karakteristik berikut akan membuat keputusan akuisisi mempunyai
kekhususan.
Pengertian Merger dan Akuisisi, Merger adalah penggabungan dua
perusahaan

menjadi

satu,

dimana

perusahaan

yang

me-merger

mengambil/membeli semua assets dan liabilities perusahaan yang demerger


dengan begitu perusahaan yang me-merger memiliki paling tidak 50% saham dan
perusahaan yang di-merger berhenti beroperasi dan pemegang sahamnya
menerima sejumlah uang tunai atau saham di perusahaan yang baru (Brealey,
Myers, & Marcus, 1999, p.598). Definisi merger yang lain yaitu sebagai
penyerapan dari suatu perusahaan oleh perusahaan yang lain. Dalam hal ini
perusahaan yang membeli akan melanjutkan nama dan identitasnya. Perusahaan
pembeli juga akan mengambil baik aset maupun kewajiban perusahaan yang
dibeli. Setelah merger, perusahaan yang dibeli akan kehilangan/berhenti
beroperasi (Harianto dan Sudomo, 2001, p.640)
Akuisisi adalah pengambil-alihan (takeover) sebuah perusahaan dengan
membeli saham atau aset perusahaan tersebut, perusahaan yang dibeli tetap ada.
(Brealey, Myers, & Marcus, 1999, p.598).
Jenis-jenis Merger dan Akusisi Menurut Damodaran 2001, suatu perusahaan dapat
diakuisisi perusahaan lain dengan beberapa cara, yaitu :
a. Merger Pada merger, para direktur kedua pihak setuju untuk bergabung
dengan

persetujuan

para

pemegang

saham.

Pada

umumnya,

penggabungan ini disetujui oleh paling sedikit 50% shareholder dari


target firm dan bidding firm. Pada akhirnya target firm akan menghilang
(dengan atau tanpa proses likuidasi) dan menjadi bagian dari bidding
firm.

b. Konsolidasi Setelah proses merger selesai, sebuah perusahaan baru


tercipta dan pemegang saham kedua belah pihak menerima saham baru di
perusahaan ini.
c. Tender offer Terjadi ketika sebuah perusahaan membeli saham yang
beredar perusahaan lain tanpa persetujuan manajemen target firm, dan
disebut tender offer karena merupakan hostile takeover. Target firm akan
tetap bertahan selama tetap ada penolakan terhadap penawaran. Banyak
tender offer yang kemudian berubah menjadi merger karena bidding firm
berhasil mengambil alih kontrol target firm.
d. Acquisistion of assets Sebuah perusahaan membeli aset perusahaan lain
melalui persetujuan pemegang saham target firm. (p.835).
Pembagian akuisisi tersebut berbeda menurut Ross, Westerfield, dan Jaffe 2002.
Menurut mereka hanya ada tiga cara untuk melakukan akuisisi, yaitu :
a. Merger atau konsolidasi
Merger adalah bergabungnya perusahaan dengan perusahaan lain. Bidding
firm tetap berdiri dengan identitas dan namanya, dan memperoleh semua aset dan
kewajiban milik target firm. Setelah merger target firm berhenti untuk menjadi
bagian dari bidding firm. Konsolidasi sama dengan merger kecuali terbentuknya
perusahaan baru. Kedua perusahaan sama-sama menghilangkan keberadaan
perusahaan secara hukum dan menjadi bagian dari perusahaan baru itu, dan antara
perusahaan yang di-merger atau yang me-merger tidak dibedakan.
b. Acquisition of stock
Akuisisi dapat juga dilakukan dengan cara membeli voting stock
perusahaan, dapat dengan cara membeli sacara tunai, saham, atau surat berharga
lain. Acquisition of stock dapat dilakukan dengan mengajukan penawaran dari
suatu perusahaan terhadap perusahaan lain, dan pada beberapa kasus, penawaran
diberikan langsung kepada pemilik perusahaan yang menjual. Hal ini dapat
disesuaikan dengan melakukan tender offer. Tender offer adalah penawaran

kepada publik untuk membeli saham target firm, diajukan dari sebuah perusahaan
langsung kepada pemilik perusahaan lain.

c. Acquisition of assets
Perusahaan dapat mengakuisisi perusahaan lain dengan membeli semua
asetnya. Pada jenis ini, dibutuhkan suara pemegang saham target firm sehingga
tidak terdapat halangan dari pemegang saham minoritas, seperti yang terdapat
pada acquisition of stock (p.817- 818).
Sedangkan berdasarkan jenis perusahaan yang bergabung, merger atau akuisisi
dapat dibedakan:
a. Horizontal merger terjadi ketika dua atau lebih perusahaan yang bergerak di
bidang industri yang sama bergabung.
b. Vertical merger terjadi ketika suatu perusahaan mengakuisisi perusahaan
supplier atau customernya.
c. Congeneric merger terjadi ketika perusahaan dalam industri yang sama tetapi
tidak dalam garis bisnis yang sama dengan supplier atau customernya.
Keuntungannya adalah perusahaan dapat menggunakan penjualan dan distribusi
yang sama.
d. Conglomerate merger terjadi ketika perusahaan yang tidak berhubungan bisnis
melakukan merger. Keuntungannya adalah dapat mengurangi resiko. (Gitman,
2003, p.717).
Ada tiga prosedur dasar yang dapat dilakukan perusahaan untuk mengambil alih
perusahaan lain. Tiga cara tersebut adalah:
(1) merger atau konsolidasi
(2) akuisisi saham
(3) akuisisi assets.

Merger atau konsolidasi

Istilah merger sering digunakan untuk menunjukkan penggabungan dua


perusahaan atau lebih, dan kemudian tinggal nama salah satu perusahaan yang
bergabung. Sedangkan consolidation menunjukkan penggabungan dari dua
perusahaan atau lebih, dan nama dari perusahaan-perusahaan yang bergabung
tersebut hilang, kemudian muncul nama baru dari perusahaan gabungan. Misalkan
PT. A mengambil alih PT. B dalam suatu merger. Pemegang saham PT. B
setuju bahwa setiap lembar saham mereka diganti dengan dua lembar saham PT.
A. Dengan demikian, setelah merger saham PT. B hilang, dan yang ada hanya
saham PT. A. Dalam kasus consolidation, saham PT. A dan B diganti dengan
saham PT dengan nama lain (missal PT. C). Karena perbedaan tersebut tidaklah
penting untuk maksud-maksud analisis, kita nantinya akan menggunakan istilah
merger bagi kedua bentuk penggabungan usaha tersebut.
Jenis Merger
Terdapat empat jenis merger:
1. Merger horisontal, terjadi ketika sebuah perusahaan bergabung dengan
perusahaan lain di dalam lini bisnis yang sama.
2. Merger vertikal, berupa akuisisi sebuah perusahaan dengan salah satu
pemasok atau pelanggannya.
3. Merger kongenerik akan melibatkan perusahaan-perusahaan yang saling
berhubungan tetapi bukan merupakan produsen dari sebuah produk yang
sama atau perusahaan yang memiliki hubungan pemasok-produsen.
4. Merger konglomerat, terjadi ketika perusahaan-perusahaan yang tidak
saling berhubungan bergabung.
Syarat Merger
Hazel J.Johnson (1995) menyatakan, prasyarat yang harus dianalisis
terlebih dahulu dari kedua Perusahaan yang akan melakukan merger adalah:
1.

Kondisi

keuangan

masing-masing

Perusahaan,

perusahaan sehat atau karena collapse


2.

Kecukupan modal

3.

Manajemen, baik sebelum atau sesudah merger

merger

sesama

4.

Apakah merger dapat memberi manfaat bagi pengguna jasa Perusahaan


tersebut
Johnson lebih lanjut menyatakan setiap lembaga yang akan melakukan

merger, pada umumnya mempunyai beberapa isu penting yang relevan untuk
dianalisis sebelum merger dilakukan, antara lain:
1.

Kapan waktu yang tepat untuk melakukan merger?

2.

Bagaimana mengidentifikasi kecocokan pasangan (partner) untuk


merger?

3.

Bagaimana mengkomunikasikan dengan baik atas rencana merger ini


kepada seluruh pihak yang berkepentingan agar niat merger mempunyai
dampak yang positif di pasar?

4.

Bagaimana melakukan cara, yang akan dilakukan untuk konsolidasi


diantara Perusahaan yang merger?

Akuisisi saham
Cara kedua untuk mengambil alih perusahaan lain adalah membeli saham
perusahaan tersebut, baik dibeli secara tunai, ataupun menggantinya dengan
sekuritas lain (saham atau obligasi). Kadang-kadang penawaran langsung
dilakukan terhadap pemegang saham perusahaan yang akan diambil alih. Apabila
perusahaan yang akan diambil alih (missal PT. B) merupakan perusahaan yang
telah terdaftar di bursa efek, maka sesuai dengan keputusan BAPEPAM pada
tahun 1995, upaya penguasaan terhadap 20% atau lebih saham perusahaan
tersebut harus dilakukan dengan tender offer. Dengan cara ini, perusahaan yang
akan mengambil alih (missal PT. A) harus mengumumkan di media masa
(memasang iklan), menjelaskan bahwa PT. A bermaksud membeli saham PT. B
dengan harga tertentu (yang lebih tinggi dari harga pasar), sejumlah lembar saham
tertentu. Apabila jumlah lembar saham yang ditawarkan oleh para pemegang
saham PT. B melebihi jumlah yang akan dibeli oleh PT. A, maka penjatahan akan
dilakukan.

Akuisisi assets
Suatu perusahaan dapat mengakuisisi perusahaan lain dengan jalan
membeli aktiva perusahaan tersebut. Cara ini akan menghindarkan perusahaan
dari kemungkinan memiliki pemegang saham minoritas, yang dapat terjadi pada
peristiwa akuisisi saham. Akuisisi assets dilakukan dengan cara pemindahan hak
kepemilikan aktiva-aktiva yang dibeli. Meskipun demikian proses hukum
pemindahan aktiva-aktiva tersebut dapat menjadi sangat mahal. Pengelompokan
akuisisi

berdasarkan

keterkaitan

operasi.

Para

analis

keuangan

sering

mengelompokkan akuisisi ke dalam salah satu dari tiga bentuk berikut ini.
1) Akuisisi horizontal. Akuisisi ini dilakukan terhadap perusahaan yang
mempunyai bisnis atau bidang usaha yang sama. Perusahaan yang
mengakuisisi dan yang diakuisisi bersaing untuk memasarkan produk
yang mereka tawarkan.
2) Akuisisi vertical. Akuisisi ini dilakukan terhadap perusahaan yang berada
pada tahap proses produksi yang berbeda. Sebagai missal, perusahaan
rokok mengakuisisi perusahaan perkebunan tembakau, perusahaan
garment mengakuisisi perusahaan tekstil, dan sebagainya.
3) Akuisisi konglomerat. Perusahaan yang mengakuisisi dan yang diakuisisi
tidak mempunyai keterkaitan operasi. Akuisisi perusahaan yang
menghasilkan food products oleh perusahaan komputer, dapat dikatakan
sebagai akuisisi konglomerat.
Akuisisi atau Takeover?
Dua istilah ini sering dipergunakan untuk maksud yang sama, yaitu
pengambil-alihan suatu perusahaan oleh pihak lain. Meskipun demikian,
sebenarnya akuisisi hanyalah merupakan salah satu cara untuk melakukan
takeover. Takeover merupakan istilah umum yang dipergunakan untuk
menjelaskan pengambilalihan kendali suatu perusahaan dari sekelompok
pemegang saham ke kelompok yang lain.

Aspek pajak dalam peristiwa akuisisi


Apabila suatu perusahaan mengakuisisi perusahaan lain, transaksi tersebut
mungkin terkena pajak mungkin pula tidak. Dalam peristiwa taxable acquisition,
pemegang saham dari perusahaan yang diakuisisi diperlakukan sebagai menjual
saham yang mereka miliki, dan karenanya akan memperoleh capital gains (yang
akan dikenakan pajak) atau loss. Dalam peristiwa akuisisi yang taxable,
perusahaan yang mengakuisisi mungkin melakukan revaluasi atas aktiva tetap dari
perusahaan yang diakuisisi. Dalam peristiwa akuisisi yang tax-free, pemegang
saham dari perusahaan yang diakuisisi dipandang hanya melakukan pertukaran
saham dengan nilai yang sama, sehingga tidak memperoleh capital gains atau loss.
Dalam transaksi yang tax-free, aktiva dari perusahaan yang diakuisisi tidak
revaluasi.
Akuntansi untuk akuisisi
Setelah kita memahami bagaimana dampak akuisisi bagi pembayaran
pajak, sekarang kita bicarakan bagaimana mencatat peristiwa akuisisi dalam
akuntansi. Ada dua perlakuan akuisisi, yaitu dicatat sebagai pembelian
(purchase) atau sebagai penggabungan kepentingan (pooling of interest).
Dicatat sebagai pembelian Metode ini mencatat kekayaan perusahaan yang
diakuisisi pada harga pasar yang wajar (fair market value) pada buku yang
melakukan akuisisi. Dengan demikian maka perusahaan yang melakukan akuisisi
dapat menentukan harga perolehan yang baru (new cost basis) untuk aktiva-aktiva
yang diakuisisi. Pada metode ini, istilah akuntansu goodwill diciptakan.
Goodwill merupakan selisih antara harga yang dibayar dengan nilai pasar dengan
nilai pasar yang wajar dari aktiva yang diakuisisi. Dicatat sebagai pooling of
interest Dengan cara pooling of interest, aktiva-aktiva perusahaan baru dinilai
sama dengan nilai buku dari perusahaan yang mengakuisisi dan diakuisisi.

Motif merger dan akuisisi


Mengapa perusahaan bergabung dengan perusahaan lain, atau membeli
perusahaan lain (akuisisi)? Alasan yang sering dikemukakan adalah karena dengan
akuisisi perusahaan mampu mencapai pertumbuhan lebih cepat dari pada harus
membangun unit usaha sendiri. Meskipun alasan tersebut benar, faktor yang
paling mendasari sebenarnya adalah motif ekonomi. Dengan kata lain, kalau kita
akan membeli perusahaan lain, maka pembelian tersebut hanya dapat dibenarkan
apabila pembelian tersebut menguntungkan kita. Diperoleh synergy sebagai akibat
merger dan akuisisi Kondisi saling menguntungkan tersebut akan terjadi kalau
dari peristiwa akuisisi atau merger tersebut diperoleh synergy. Synergy berarti
bahwa nilai gabungan dari kedua perusahaan tersebut lebih besar dari
penjumlahan masing-masing nilai perusahaan yang digabungkan. Dalam bahasa
yang lebih mudah, synergy adalah situasi pada saat 2 + 2 = 5. Peningkatan
pendapatan Pendapatan dapat meningkat karena kegiatan pemasaran yang lebih
baik, strategic benefits, dan peningkatan daya saing. Pemasaran yang lebih baik
dapat terjadi karena pemilihan bentuk dan media promosi yang lebih tepat,
memperbaiki system distribusi, dan menyeimbangkan komposisi produk.
Kelebihan dan Kekurangan Merger dan Akuisisi
Kelebihan Merger Pengambilalihan melalui merger lebih sederhana dan
lebih murah disbanding pengambilalihan yang lain (Harianto dan Sudomo, 2001,
p.641) Kekurangan Merger Dibandingkan akuisisi merger memiliki beberapa
kekurangan, yaitu harus ada persetujuan dari para pemegang saham masingmasing perusahaan,sedangkan untuk mendapatkan persetujuan tersebut diperlukan
waktu yang lama. (Harianto dan Sudomo, 2001, p.642)
Kelebihan dan Kekurangan Akuisisi

Kelebihan Akuisisi Keuntungan-keuntungan akuisisi saham dan akuisisi aset


adalah sebagai berikut:
a. Akuisisi Saham tidak memerlukan rapat pemegang saham dan suara
pemegang saham sehingga jika pemegang saham tidak menyukai tawaran
Bidding firm, mereka dapat menahan sahamnya dan tidak menjual kepada
pihak Bidding firm.
b. Dalam Akusisi Saham, perusahaan yang membeli dapat berurusan
langsung dengan pemegang saham perusahaan yang dibeli dengan
melakukan tender offer sehingga tidak diperlukan persetujuan manajemen
perusahaan.
c. Karena tidak memerlukan persetujuan manajemen dan komisaris
perusahaan, akuisisi saham dapat digunakan untuk pengambilalihan
perusahaan yang tidak bersahabat (hostile takeover).
d. Akuisisi Aset memerlukan suara pemegang saham tetapi tidak
memerlukan mayoritas suara pemegang saham seperti pada akuisisi saham
sehingga tidak ada halangan bagi pemegang saham minoritas jika mereka
tidak menyetujui akuisisi (Harianto dan Sudomo, 2001, p.643-644).
e.
Kekurangan Akuisisi
Kerugian-kerugian akuisisi saham dan akuisisi aset sebagai berikut :
a. Jika cukup banyak pemegang saham minoritas yang tidak menyetujui
pengambilalihan tersebut, maka akuisisi akan batal. Pada umumnya
anggaran dasar perusahaan menentukan paling sedikit dua per tiga
(sekitar 67%) suara setuju pada akuisisi agar akuisisi terjadi.
b. Apabila perusahaan mengambil alih seluruh saham yang dibeli maka
terjadi merger.
c. Pada dasarnya pembelian setiap aset dalam akuisisi aset harus secara
hukum dibalik nama sehingga menimbulkan biaya legal yang tinggi.
(Harianto dan Sudomo, 2001, p.643)

BAB II
PENUTUP
KESIMPULAN
Terdapat dua motif yang mendorong sebuah perusahaan melakukan merger
dan akuisisi yaitu motif ekonomi dan motif non ekonomi. Motif ekonomi
berkaitan dengan esensi tujuan perusahaan yaitu untuk meningkatkan nilai
perusahaan atau memaksimalkan kemakmuran pemegang saham. Termasuk motif
ekonomi adalah motif untuk mencapai sinergi dan motif untuk mencapai posisi
strategi. Motif strategi dimaksudkan untuk membangun keunggulan kompetitif
jangka panjang perusahaan yang pada akhirnya bermuara kepada peningkatan
nilai perusahaan atau peningkatan kemakmuran pemegang saham. Di sisi lain
motif non ekonomi adalah motif yang bukan didasarkan pada esensi tujuan
perusahaan tersebut, tetapi didasarkan pada keinginan subjektif atau ambisi
pribadi pemilik atau manajemen perusahaan. Hanya alasan yang bersifat
ekonomis dan rasional yang bisa diterima sehingga aktivitas merger dan akuisisi
bisa dipertanggungjawabkan
Dalam melakukan merger dan akuisisi banyak kendala yang harus diatasi
oleh perusahaan, yaitu modal, tenaga kerja, maupun budaya perusahaan. Untuk
menyatukan kedua perusahaan dengan budaya yang berbeda, tentunya sangat sulit
dan ini harus dipilih salah satu budaya mana yang sekiranya cocok untuk tetap
dipergunakan dalam melaksanakan merger dan akuisisi. Sebelum melakukan
merger dan akuisisi kedua perusahaan ini, harus berkoordinasi dengan perwakilan
karyawan dari masing-masing perusahaan tentang langkah atau kebijakan yang
akan diambil perusahaan nantinya setelah merger dan akuisisi. Karena budaya
perusahaan merupakan hal yang sangat sulit untuk dirubah, sehingga dalam
melakukan perubahan ini perlu diakukan secara bertahap.

DAFTAR PUSTAKA
Abdul Kadir Muhamad, Hukum Perikatan, PT Citra Aditya Bakti, Bandung, 1990.
Chandra Prasana, Financial Management, Theory an Practice, Tata Mc
Graw-Hill Publishing Company Limited, New Delhi, 2001.
Chatamarrasjid, Menyikapi Tabir Perseroan, Kapita Selekta Hukum Perusahaan,
PT Citra Aditya Bakti, Bandung, 2000.
Cornelius Simanjuntak, Hukum Merger Perseroan Terbatas, Teori dan Praktek,
PT Citra Aditya Bakti, Bandung, 2002.
Munir Fuady, Hukum Tentang Merger, PT Citra Aditya Bakti, Bandung, 2002
Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 1999 tentang Merger, Konsolidasi, dan
Akuisisi Bank.
Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1998 tanggal 24 Pebruari 1998
Tentang Penggabungan, Peleburan, dan Pengambilalihan Perseroan Terbatas.