Anda di halaman 1dari 14

METODE PENGUMPULAN DATA

Untuk memenuhi tugas mata kuliah Metodelogi


Penelitian

Oleh :
Bella Sugiarto ( 125020200111099 )
Farin Septia Likwansa ( 125020200111102 )
Laila Karlinasari ( 125020200111033 )
Marcellina Hedy Fatdiana Cen ( 125020201111020 )
Zellyana Iswanto Putri ( 125020200111077 )
Kelas BD
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Brawijaya
2013
Bab 1 Pendahuluan

Dalam bab ini kita menelaah beragam sumber dan beberapa metode pengumpulan
data. Kita akan membahas kelebihan dan kekurangan, serta bias yang melekat dalam tiap
metode pengumpulan data. Kita juga menelaah dampak melekat dalam tiap metode
pengumpulan data. Kita juga menelaah dampak teknologi terhadap pengumpulan data. Karena
bias yang melekat dalam setiap metode pengumpulan data, mengumpulkan data dari berbagai
sumber dan melalui berbagai metode direkomendasikan. Tentu saja, keputusan akhir akan
ditentukan berdasarkan pertimbangan biaya, dan tingkat ketaatan tujuan penelitian yang
diperlukan. Kita juga mempelajari sejumlah persoalan dalam penelitian lintas budaya seperti
penerjemahan kembali dan memperingatkan akan berbagai kekurangan ketika mengumpulkan
data dalam budaya yang berbeda.
Dari makalah ini kita mengharapkan dapat membantu para pembaca untuk mengetahui
perbedaan antara data primer dan sekunder serta sumbernya, mengenal berbagai metode
pengumpulan data, mengetahui kelebihan dan kekeurangan tiap metode, membuat keputusan
logis mengenai metode pengumpulan data yang tepat studi tertentu, dan sebagainya.

Bab 2 Isi
Bab 2.1 Sumber Data
Data bisa diperoleh dari sumber primer atau sekunder. Data primer mengacu pada
informasi yang diperoleh dari tangan pertama oleh peneliti yang berkaitan dengan variabel
minat untuk tujuan spesifik studi. Data sekunder mengacu pada informasi yang dikumpulkan
dari sumber yang telah ada.
Sumber Data Primer
Beberapa contoh sumber data primer ( primary data ) adalah responden individu,
kelompok fokus, dan panel yang secara khusus ditentukan oleh peneliti dan di mana pendapat
bisa dicari terkait persoalan tertentu dari waktu ke waktu, atau sumber umum seperti majalah
atau buku tua. Internet juga dapat menjadi sumber data primer jika kuesioner disebarkan
melalui internet.
1. Kelompok Fokus
Kelompok fokus terdiri dari 8 10 anggota dengan seorang moderator yang memimpin
diskusi mengenai suatu konsep, topik, atau produk tertentu. Anggota dipilih berdasarkan
keahliannya dalam topik yang akan dibahas. Misalnya, spesialis komputer mungkin dipilih
untuk membentuk sebuah kelompok fokus dalam rangka membahas hal yang berkaitan
dengan komputer dan komputasi. Sesi sesi fokus bertujuan memperoleh kesan interpretasi,
kesan, dan opini responden, saat anggota membahas tentang peristiwa, konsep, produk, atau
layanan. Moderator mengarahkan diskusi agar menghasilkan informasi yang dicari, dan
menjaga anggota agar tetap berada pada jalur yang tepat.
2. Panel
Panel, seperti halnya kelompok fokus , merupakan sumber informasi primer untuk bertujuan
penelitian, panel (anggota) bertemu lebih dari satu sesi, dan individu dipilih secara acak
sebagai anggota panel. Misalnya, jika pengaruh iklan untuk sebuah merek kopi tertentu ingin
dinilai dengan cepat, anggota dapat diminta mempelajari iklan dan intensi pembelian mereka
terhadap merek yang dinilai tersebut. Panel bisa statis ( static ), yaitu anggota yang sama
berada dalam panel selama periode waktu yang diperpanjang atau dinamis ( dynamic ), yaitu
anggota panel berganti dari waktu ke waktu saat berbagai fase studi sedang berlangsung.
3. Ukuran Umum
Ukuran jejak ( trace measures ), atau juga dikenal sebagai ukuran umum ( yang tidak langsung
tampak unobtrusive ), berasal dari sumber primer yang tidak melibatkan orang. Satu contoh
adalah sampul dan tampilan jurnal di sebuah perpustakaan universitas, yang memberikan
petunjuk baik mengenai popularitas, frekuensi penggunaan, atau keduanya.

Sumber Data Sekunder


Data Sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan peneliti dari berbagai
sumber yang telah ada (peneliti sebagai tangan kedua). Data sekunder dapat diperoleh dari
berbagai sumber seperti Biro Pusat Statistik (BPS), buku, laporan, jurnal, dan lain-lain. Meski
data sekunder secara fisik sudah tersedia dalam mencari data tersebut kita tidak boleh lakukan
secara sembarangan. Untuk mendapatkan data yang tepat dan sesuai dengan tujuan penelitian,
kita memerlukan beberapa pertimbangan, diantaranya sebagai berikut :
1. Jenis data harus sesuai dengan tujuan penelitian yang sudah kita tentukan sebelumnya
2. Data sekunder yang dibutuhkan bukan menekankan pada jumlah tetapi pada kualitan
dan kesesuaian, oleh karena it peneliti harus selektif dan hati-hati dalam memilih dan
menggunakannya
3. Data sekunder biasanya digunakan sebagai pendukung data primer, oleh karena itu
kadang0kadang kita tidak dapat hanya menggunakan data sekunder sebagi satusatunya sumber informasi untuk menyelesaikan masalah penelitian kita.
Sebelum proses pencarian data sekunder dilakukan, kita perlu melakukan identifikasi
kebutuhan terlebih dahulu. Identifikasi dapat dilakukan dengan cara membuat pertanyaanpertanyaan sebagai berikut :
1. Apakah kita memerlukan data sekunder untuk menyelesaikan masalah yang akan
diteliti?
2. Data sekunder seperti apa yang kita butuhkan?
Identifikasi data sekunder yang kita butuhkan akan membantu mempercepat dalam
pencarian dan penghematan waktu serta biaya. Data sekunder dapat dipergunakan untuk halhal sebagai berikut :
1. Pemahaman Masalah : Data sekunder dapat digunakan sebagai sarana pendukung
untuk memahami masalah yang akan diteliti.
2. Penjelasan Masalah : Data sekunder bermanfaat sekali untuk memperjelas masalah
dan menjadi lebih operasional dalam penelitian.
3. Formulasi Alternative-Alternative Penyelesaian Masalah yang Layak : Data sekunder
akan bermanfaat dalam memunculkan beberapa alternativelain yang mendukung
dalam penyelesaian masalah yang akan diteliti.
4. Solusi Masalah : Data sekunder disamping member manfaat dalam membantu
mendefinisikan dan mengembangkan masalah, data sekunder juga dapat memunculkan
solusi masalah yang ada. Tidak jarang persoalan yang akan diteliti akan mendapatkan

jawabannya hanya didasarkan pada data sekunder saja.


Tipe Data Sekunder
Data Internal: dokumen-dokumen akuntansi dan operasi yang dikumpulkan, dicatat
dan disimpan di dalam suatu organisasi. Contoh: faktur penjualan, jurnal penjualan,
laporan penjualan periodik, surat-surat, notulen hasil rapat, memo manajemen
Data Eksternal: umumnya disusun oleh suatu entitas selain peneliti dari organisasi
yang bersangkutan. Contoh: buku, jurnal, majalah atau buletin yang memuat data indeks
atau referensi, hasil sensus, statistik, pasar, industri, investasi
Penelitian Data Sekunder
Menggunakan data sekunder: penelitian arsip yang memuat kejadian masa lalu (historis.
Pengumpulan data sekunder relatif lebih cepat & murah dibandingkan pengumpulan data
primer. Peneliti harus melakukan evaluasi apakah data sekunder yang tersedia dapat
memenuhi kebutuhan peneliti. Aspek dari data sekunder yang harus dievaluasi:
1. Kemampuan data yang tersedia untuk menjawab masalah atau pertanyaan
(kesesuaiannya dengan tujuan penelitian).
2. Kesesuaian antara periode waktu tersedianya data dengan periode waktu yang
diinginkan dalam penelitian.
3. Kesesuaian antara populasi data yang ada dengan populasi yang menjadi perhatian
peneliti.
4. Relevansi dan konsistensi unit pengukur yang digunakan.
5. Biaya yang diperlukan untuk mengumpulkan data sekunder.
6. Kemungkinan bias yang ditimbulkan oleh data sekunder.
7. Dapat atau tidaknya dilakukan perngujian terhadap akurasi pengumpulan data.

Bab 2.2 Metode Pengumpulan Data


Wawancara
Salah satu metode pengumpulan data adalah mewawancara responden untuk
memperoleh informasi mengenai isu yang diteliti. Wawancara bisa terstruktur atau tidak
terstruktur, dan dilakukan secara tatap muka maupun melalui telepon. Berikut adalah tipe dari
wawancara yaitu :
1. Wawancara terstruktur :

Wawancara terstruktur artinya peneliti telah mengetahui dengan pasti apa informasi yang
ingin digali dari responden sehingga daftar pertanyaannya sudah dibuat secara sistematis.
Peneliti juga dapat menggunakan alat bantu tape recorder, kamera photo, dan material lain
yang dapat membantu kelancaran wawancara.
2. Wawancara tidak terstruktur :
Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara bebas, yaitu peneliti tidak
menggunakan pedoman wawancara yang berisi pertanyaan yang akan diajukan secara
spesifik, dan hanya memuat poin-poin penting masalah yang ingin digali dari
responden.
Sedangkan metode dari wawancara adalah sebagai berikut :
1. Wawancara tatap muka
Kelebihan :
Bisa membangun hubungan dan memotivasi responden.
Bisa mengklarifikasi pertanyaan, menjernihkan keraguan, menambah
pertanyaan baru.
Bisa membaca isyarat non verbal.
Bisa memperoleh data yang banyak.
Sementara kekurangannya adalah :
Membutuhkan waktu yang lama.
Biaya besar jika responden yang akan diwawancara berada di beberapa daerah
terpisah.
Responden mungkin meragukan kerahasiaan informasi yang diberikan.
Pewawancara perlu dilatih.
Bisa menimbulkan bias pewawancara.
2. Wawancara melalui telepon :
Kelebihan :
Biaya lebih sedikit dan lebih cepat dari warancara tatap muka.
Bisa menjangkau daerah geografis yang luas.
Anomalitas lebih besar dibanding wawancara pribadi (tatap muka).
Kelemahan :
Isyarat non verbal tidak bisa dibaca.
Wawancara harus diusahakan singkat.
Nomor telpon yang tidak terpakai bisa dihubungi, dan nomor yang tidak
terdaftar pun dihilangkan dari sampel.
Kuesioner
Kuesioner ( questionnaires ) adalah daftar pertanyaan tertulis yang telah dirumuskan
sebelumnya yang akan responden jawab, biasanya dalam alternatif yang didefinisikan dengan
jelas. Kuesioner merupakan suatu mekanisme pengumpulan data yang efisien jika peneliti
mengetahui dengan tepat apa yang dibutuhkan dan bagaimana mengukur variabel penelitian.

Kuesioner dapat diberikan secara pribadi, disuratkan pada responden, atau disebarkan secara
elektronik.
1. Kuesioner yang diberikan secara Pribadi
Peneliti dapat mengumpulkan semua respons lengkap dalam periode waktu singkat.
Lebih murah dalam hal biaya. Lebih mudah karena tidak memerlukan keterampilan
khusus. Kekurangan : organisasi kemungkinan menolak memberikan waktu
perusahaan untuk survey dengan kelompok karyawan yang dikumpulkan untuk tujuan
tertentu.
2. Kuesioner melalui Surat
Responden bisa lebih nyaman dan tidak terburu buru akan waktu. Kekurangan :
keraguan apa pun yang responden miliki tidak dapat diklarifikasi dan tingkat
pengembalian kuesioner rendah.
3. Kuesioner melalui Email
Hampir sama dengan kuesioner melalui surat, yaitu lebih memberikan kenyamanan
bagi responden dalam menjawab pertanyaan, selain itu juga akan memberikan
kebebasan bagi responden. Lebih murah dari kuesioner melalui surat, karena
menggunakan media elektronik. Kekurangan : : responden bisa saja mengacuhkan
begitu saja kuesioner yang kita berikan tanpa pemberitahuan.
Menurut sifatnya, kuesioner dibagi menjadi 2 yaitu kuesioner tertutup dan kuesioner terbuka.
1. Kuesioner Tertutup
Kuesioner tertutup yaitu daftar pertanyaan tersebut cukup terperinci dan lengkap dan
biasanya sudah menyediakan pilihan jawaban.
2. Kuesioner Terbuka
Kuesioner terbuka yaitu daftar pertanyaan memberikan kesempatan responden
menjawab secara bebas.

Metode Pengumpulan Data Lainnya


Survei Observasional (Observational Surveys) merupakan kegiatan pengamatan
lingkungan sekitar, dengan memperhatikan situasi, aktivitas yang sedang dilakukan, dan juga
perilaku dari orang orang yang berperan di dalamnya atau item minat lainnya bisa dicatat
dan direkam. Peneliti dapat melakukan salah satu dari dua peran ketika mengumpulkan data
observasional lapangan yaitu :
1. Pengamat Nonpartisipan ( Nonparticipant-Observer)

Pengamat nonpartisipan yaitu peneliti mengumpulkan data yang diperlukan dalam


kapasitas tersebut tanpa menjadi bagian integral dari sistem organisasi. Misalnya :
peneliti bisa duduk di sudut sebuah kantor, mengamati, dan mencatat bagaimana
manajer menghabiskan waktunya.
2. Pengamat Partisipan ( Participant-Observer)
Pengamat partisipan yaitu peneliti ikut berperan dalam kegiatan, peneliti memasuki
organisasi atau lingkungan penelitian, da menjadi bagian tim kerja. Misalnya : jika
peneliti ingin mengetahui dinamika kelompok, peneliti akan bergabung dalam
organisasi sebagai karyawan dan mengobservasi dinamika kelompok sambil menjadi
bagian dari organisasi kerja dan kelompok kerja.
Observasi sebagai metode pengumpulan data lainnya memiliki kelebihan dan kekurangan,
yaitu sebagai berikut :
1. Kelebihan
Data yang diperoleh melalui observasi peristiwa, sebagaimana adanya, pada

umumnya lebih dapat dipercaya dan bebas dari bias responden.


Dalam studi observasional, lebih mudah untuk mencatat akibat dari pengaruh

lingkungan pada hasil spesifik.


Lebih mudah untuk mengobservasi kelompok individu tertentu , misalnya anak
anak yang masih sangat muda dan eksekutif yang sangat sibuk, mungkin

sulit untuk mendapatkan informasi.


2. Kekurangan
Adalah perlu bagi pengamat untuk hadir secara fisik (kecuali jika sebuah
kamera atau sistem mekanis lainnya dapat menangkap peristiwa yang
diminati), sering untuk periode waktu yang panjang

Bab 2.3 Prinsip Pengukuran


Prinsip pengukuran disini sebagai instrumen penelitian untuk memastikan data yang
diperoleh adalah tepat untuk menguji hipotesis. Hal ini mengacu pada skala dan teknik
penyusunan skala yang digunakan dalam mengukur konsep dan penilaian terhadapa
keandalaan serta validitas ukuran yang dipakai.
Ketepatan skala yang digunakan bergantung pada jenis data yang perlu dikumpulkan.
Terdapat dua macam skala yang biasa digunakan, yaitu, skala peringkat dan skala ranking.
Skala Peringkat digunakan untuk mendapat respon terkait dengan objek, peristiwa, atau orang
yang dipelajari dengan membuat beberapa kategori respon. Sedangkan Skala ranking
membuat perbandingan antarobjek, peristiwa atau orang, dan mengungkap pilihan yang lebih

disukai dan merankingnya. Berikut skala peringkat yang sering dipakai dalam penelitian
organisasi:
1. Skala Dikotomi
Skala dikotomi digunakan untuk memperoleh jawaban Ya atau Tidak.
2. Skala Kategori
Skala kategori menggunakan banyak item untuk mendapatkan respons tunggal.
3. Skala Likert
Skala likert didesain untuk menelaah seberapa kuat subjek setuju atau tidak setuju
dengan pernyataan pada skala 5 titik.
4. Skala Diferensial Semantik
Beberapa atribut berkutub dua diidentifikasi pada skala ekstrem dan responden
diminta untuk menunjukan sikap mereka pada hal yang biasa disebut sebagai jarak
semantik terhadap individu, objek, atau kejadian tertentu pada masing-masing atribut.
Kata sifat berkutub dua yang digunakan misalnya akan berupa istilah tertentu, seperti
baik-buruk; kuat-lemah; panas-dingin. Skala diferensial semantik dipakai untuk
menilai sikap responden terhadap merek, iklan, objek atau orang tertentu.

5. Skala Numerikal
Skala numerikal mirip dengan skala difensial semantik, dengan perbedaan dalam hal
nomor pada skala 5 titik atau 7 titik disediakan, dengan kata lain sifat berkutub dua
pada ujung keduanya.
6. Skala Peringkat Terperinci
Pada skala peringkat terperinci skala 5 titik atau 7 titik dengan titik panduan atau
jangkar, sesuai keperluan, disediakan untuk tiap item dan responden menyatakan
nomor yang tepat di sebelah masing-masing item, atau melingkari nomor yang relevan
untuk tiap item.
7. Skala Jumlah Konstan atau Tetap
Disini responden diminta untuk mendistribusikan sejumlah poin yang diberikan ke
berbagai item. Skala jumlah konstan atau tetap lebih bersifat skala ordinal.
8. Skala Stapel
Skala stapel secara simultan mengukur arah dan intensitas sikap terhadap item yang
dipelajari. Skala ini memberikan ide mengenai seberapa dekat atau jauh respons
individu terhadap stimulus. Karena skala ini tidak memiliki titik nol absolut, skala ini
adalah skala interval.
9. Skala Peringkat Grafik
Gambaran grafis membantu responden untuk menunjukkan pada skala peringkat
grafik jawaban mereka untuk pertanyaan tertentu dengan menempatkan tanda pada
titik yang tepat pada garis. Terlihat seperti skala interval. Deskripsi singkat mengenai

titik skala berguna sebagai pedoman dalam menempatkan peringkat daripada mewakili
kategori diskrit.
10. Skala Konsensus
Skala juga dibuat berdasarkan konsensus, di mana panel juri memilih item tertentu,
mengukur konsep yang menurut mereka relevan. Item dipilih terutama berdasarkan
ketepatan atau relevansinya dengan konsep. Skala konsensus tersebut dibuat setelah
item terpilih diperiksa dan diuji validitas dan keandalannya. Satu contoh skala
konsensus konsensus adalah Thurstone Equal Apprearing Interval Scale, di mana
sebuah konsep diukur dengan suatu proses rumit yang melibatkan sebuah panel juri.
Skala ini jarang dipakai untuk mengkur konsep organisasional karena banyaknya
waktu yang dibutuhkan untuk membuatnya.
11. Skala Lainnya
Ada juga beberapa metode penskalaan yang sudah sangat maju atau rumit seperti
penskalaan multidimensional, di mana objek, orang, tau kedua-duanya diskalakan
secara visual dan dilakukan analisis gabungan. Hal tersebut memberikan gambaran
visual mengenai hubungan yang ada diantara dimensi sebuah konsep. Biasanya skala
linkert atau suatu bentuk skala numerikal paling sering digunakan untuk mengukur
sikap dan perilaku dalam penelitian organisasional.
Skala ranking digunakan untuk mengungkap preferensi antara dua atau lebih objek
atau item. Tetapi, ranking semacam itu mungkin tidak memberi petunjuk yang pasti mengenai
jawaban yang dicari. Berikut metode alternatif yang dapat dipakai:
1. Perbandingan Berpasangan
Skala perbandingan berpasangan digunakan ketika di antara sejumlah kecil objek,
responden diminta untuk memilih antara dua objek pada suatu waktu. Perbandingan
berpasangan merupakan metode yang baik jika jumlah stimulus yang diberikan
sedikit.
2. Pilihan yang Diharuskan
Pilihan yang diharuskan memungkinkan responden meranking objek secara relatif satu
sama lain, si antara alternatif yang disediakan. Hal ini mempermudah responden,
khususnya jika jumlah pilihan yang harus diranking terbatas jumlahnya.
3. Skala Komparatif
Skala komparatif memberikan standar atau poin referensi untuk menilai sikap terhadap
objek, kejadian, atau situasi saat ini yang diteliti.
Setelah data diperoleh, ketepatan data dinilai melalui uji keandalan dan validitas.
Keandalan menunjukan seberapa stabil dan konsisten instrumen mengungkap variabel.
Validitas memperlihatkan seberapa baik sebuah teknik, instrumen, atau proses mengukur
suatu konsep tertentu.

Dalam uji keandalan terdapat dua item, yaitu stabilitas pengukuran dan konsistensi
internal ukuran. Stabilitas pengukuran ialah kemampuan suatu pengukuran untuk tetap sama
sepanjang waktu meskipun terdapat kondisi pengujian yang tidak dapat dikontrol. Dua uji
stabilitas adalah keandalan tes ulang dan keandalan untuk paralel. Konsistensi Internal
Ukuran merupakan indikasi homogenitas item dalam ukuran yang mengungkap ide.
Konsistensi dapat diuji melalui keandalan antar item dan uji keandalan belah dua. Keandalan
konsistensi antar item merupakan pengujian konsistensi jawaban responden atas semua item
yang diukur. Keandalan belah dua mencerminkan korelasi antara dua bagian instrumen.
Dalam uji validitas digunakan untuk menguji ketepatan ukuran dan penulis
menggunakan istilah yang berbeda untuk menunjukkannya. Uji validitas dibagi dalam tiga
kelompok, yaitu validitas isi, validitas berdasar kriteria, dan validitas konsep. Validitas isi
memastikan bahwa pengukuran memasukkan sekumpulan item yamg memadai dan mewakili
yang mengungkap konsep. Validitas berdasar kriteria terpenuhi jika pengukuran membedakan
individu menurut suatu kriteria yang diharapkan diprediksi. Validiatas konsep menunjukkan
seberapa baik hasil yang diperoleh dari penggunaan cocok dengan teori yang mendasari
desain tes. Hal tersebut dinilai melalui validitas konvergen dan validitas diskriminan. Validitas
konvergen terpenuhi jika skor yang diperoleh dengan dua instrumen berbeda yang mengukur
konsep yang sama menunjukkan korelasi tinggi. Validitas diskriminan terpenuhi jika,
berdasarkan teori, dua variabel diprediksi tidak berkorelasi, dan skor yang diperoleh dengan
mengukurnya benar-benar secara empiris membuktikan hal tersebut.
Bab 2.4 Etika Dalam Pengumpulan Data
Etika dan Peneliti
1. Memperlakukan informasi dari responden sebagai sangat rahasia dan menjaga privasi.
2. Peneliti tidak boleh mengemukakan hal yang tidak benar mengenai sifat penelitian
kepada subjek.
3. Informasi pribadi atau yang tampaknya mencampuri sebaiknya tidak ditanyakan.
4. Apa pun sifat metode pengumpulan, harga diri dan kehormatan subjek tidak boleh
dilanggar.
5. Tidak boleh ada paksaan kepada responden.
6. Pengamat nonpartisipan harus sedapat mungkin tidak mencampuri.
7. Dalam studi lab, subjek harus diberitahu sepenuhnya mengenai alasan eksperimen
setelah mereka berpartisipasi di dalamnya.
8. Subjek tidak boleh dihadapkan pada situasi yang mengancam mereka secara fisik atau
mental.
9. Tidak boleh ada penyampaian yang salah atau distorsi dalam melaporkan data yang
dikumpulkan selama studi.
Perilaku Etis Responden

1. Subjek, setelah menyetujui pilihan untuk berpartisipasi dalam sebuah studi, harus
bekerja sama sepenuhnya dalam tugas tugas yang diberikan, seperti merespons
survei atau mengambil bagian dalam eksperimen.
2. Responden juga wajib menyampaikan respons secara benar dan jujur. Salah
menyampaikan atau memberikan informasi, meskipun mengetahui bahwa hal tersebut
tidak benar, hendaknya dijauhi.

Bab 3 Kesimpulan
Dalam bagian metode pengumpulan data ini telah kita pelajari mengenai sumber data,
bagaimana cara pengumpulan data, bagaimana prinsip pengukuran data yang digunakan, dan
juga etika yang seharusnya dilakukan oleh peniliti maupun responden.
Dengan penjelasan pada bagian ini, semoga peneliti peneliti yang membacanya bisa
terbantu dan memiliki pedoman dalam melakukan penilitian menurut kaidah yang benar.

Daftar Pustaka

1. Sekaran Uma. Research Methods For Business. Jakarta. 2006. Salemba Empat.
2. Dari sumber internet www.google.com.

Anda mungkin juga menyukai