Anda di halaman 1dari 20

KEPERAWATAN SISTEM INTEGUMEN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN MORBUS HANSEN

Disusun Oleh Kelompok 7 (Kelas B):


Ika RIzqi Lia N.

131011087

Ema Kharismawati

131011088

Woro Mustika Weni 131011095


Dahlia Ulfa

131011096

Rosidatus Salimah

131011103

Yuarnistira

131011104

Annisa Nur Aini

131011112

Putu Indraswari A

131011114

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2013

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas
segala limpahan berkah dan rahmat yang diberikan, sehingga kita dapat
menyelesaikan tugas makalah yang berjudul Asuhan Keperawatan pada Klien
dengan Morbus Hansen dengan lancar.
Dalam menyusun karya tulis ini, tentunya berbagai hambatan telah
dialami. Oleh karena itu, terselesaikannya makalah ini bukan semata-mata karena
kemampuan kelompok saja, melainkan karena adanya dukungan dan bantuan dari
pihak-pihak terkait. Sehubungan dengan hal tersebut, dengan ketulusan hati
disampaikan terima kasih kepada Bu Laily Hidayati sebagai fasilitator. Terima
kasih juga kepada rekan-rekan mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas
Airlangga serta kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Dalam penyusunannya, penyusun menyadari bahwa pengetahuan dan
pengalaman yang dimiliki masih sangat terbatas, oleh karena itu kritik dan saran
yang konstruktif sangat diharapkan demi kesempurnaan makalah berikutnya.
Semoga karya tulis ini dapat memberi manfaat untuk kita semua.

Surabaya,23 Mei 2013

Penyusun

DAFTAR ISI

Kata Pengantar.......................................................................................................................
i
Daftar Isi................................................................................................................................
ii

BAB I : PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ........................................................................................................
1
1.2 Rumusan Masalah....................................................................................................
1
1.3 Tujuan......................................................................................................................
1
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi.....................................................................................................................
3
2.2 Etiologi ....................................................................................................................
3
2.3 Klasifikasi................................................................................................................
3
2.4 Manifestasi Klinis ...................................................................................................
5
2.5 Patofisiologi.............................................................................................................
5
2.6 WOC........................................................................................................................
7
2.7 Pemeriksaan diagnostik ..........................................................................................
8
2.8 Komplikasi ..............................................................................................................
8
2.9 Prognosis..................................................................................................................
8
2.10................................................................................................................................
Penatalaksanaan ............................................................................................................
8
BAB III : ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian ...............................................................................................................
10

3.2 Diagnosa dan Intervensi ..........................................................................................


11

BAB IV : PENUTUP
4.1 Kesimpulan .............................................................................................................
16
4.2 Saran .......................................................................................................................
16

Daftar Pustaka .......................................................................................................................


17

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit kusta adalah penyakit kronik yang disebabkan oleh
mikroorganisme intraseluler atau kuman Mycobacterium leprae (M.leprae)
yang pertama kali menyerang saraf tepi dan selanjutnya menyerang kulit serta
organ tubuh lainnya. Penyakit kusta dapat mengakibatkan kecacatan tubuh
serta menimbulkan masalah psikososial akibat masih adanya stigma dan
persepsi masyarakat yang jelek pada penderitanya (Jopling, 1996). Pada tahun
2009, tercatat 17.260 kasus baru kusta di Indonesia (rate: 7,49/100.000) dan
jumlah kasus terdaftar sebanyak 21.026 orang dengan angka prevalensi: 0,91
per 10.000 penduduk. Sedangkan tahun 2010, jumlah kasus baru tercatat
10.706 (Angka Penemuan kasus baru/CDR: 4.6/100.000) dan jumlah kasus
terdaftar sebanyak 20.329 orang dengan prevalensi: 0.86 per 10.000 penduduk
(Depkes, 2012).
Bila kusta tidak terdiagnosis dan diobati secara dini, akan menimbulkan
kecacatan menetap. Jika sudah terjadi cacat, umumnya akan menyebabkan
penderitanya dijauhi, dikucilkan, diabaikan oleh keluarga dan sulit
mendapatkan pekerjaan. Mereka menjadi sangat tergantung secara fisik dan
finansial kepada orang lain yang pada akhirnya berujung pada akhirnya
berujung pada kemiskinan (Depkes, 2012). Untuk itu dalam makalah ini,
penulis akan menjelaskan tentang penyakit kusta, sehingga diharapkan dapat
mencegah dan menurunkan angka penderita kusta di Indonesia.
1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah pada makalah ini sebagai berikut :


1.2.1 Apakah definisi Morbus Hansen?
1.2.2 Apa klasifikasi Morbus Hansen?
1.2.3 Apa etiologi Morbus Hansen?
1.2.4 Bagaimana patofisiologi Morbus Hansen ?
1.2.5 Apa saja manifestasi klinis Morbus Hansen?
1.2.6 Bagaimana WOC Morbus Hansen?
1.2.7 Apa saja pemeriksaan diagnostik untuk klien Morbus Hansen?
1.2.8 Bagaimana penatalaksanaan klien Morbus Hansen?
1.2.9 Apa saja komplikasi dari Morbus Hansen?
1.2.10 Bagaimana prognosis dari Morbus Hansen?
1.2.11 Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan Morbus Hansen?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Mahasiswa dapat mengetahui dan melakukan askep klien dengan
Morbus Hansen
1.3.2

Tujuan Khusus
1.3.2.1 Mahasiswa dapat mengetahui definisi Morbus Hansen.
1.3.2.2 Mahasiswa dapat mengetahui klasifikasi Morbus Hansen.
1.3.2.3 Mahasiswa dapat mengetahui etiologi Morbus Hansen.
1.3.2.4 Mahasiswa dapat mengetahui patofisiologi Morbus Hansen.
1.3.2.5 Mahasiswa dapat menyebutkan manifestasi klinis Morbus
Hansen.
1.3.2.6 Mahasiswa dapat mengetahui WOC Morbus Hansen.
1.3.2.7 Mahasiswa dapat mengetahui pemeriksaan diagnostik pada
Morbus Hansen.
1.3.2.8 Mahasiswa dapat mengetahui penatalaksanaan klien dengan
Morbus Hansen.
1.3.2.9 Mahasiswa dapat mengetahui komplikasi dari Morbus
Hansen.
1.3.2.10 Mahasiswa dapat mengetahui prognosis klien dengan
Morbus Hansen.
1.3.2.11 Mahasiswa dapat menjelaskan asuhan keperawatan pasien
dengan Morbus Hansen.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Penyakit kusta adalah penyakit kronik yang disebabkan oleh
mikroorganisme intraseluler atau kuman Mycobacterium leprae (M.leprae)
yang pertama kali menyerang saraf tepi dan selanjutnya menyerang kulit serta
organ tubuh lainnya. Penyakit kusta dapat mengakibatkan kecacatan tubuh
serta menimbulkan masalah psikososial akibat masih adanya stigma dan
persepsi masyarakat yang jelek pada penderitanya (Jopling, 1996)
Kusta adalah penyakit infeksi kronis yang di sebabkan oleh
mycobacterium lepra yang interseluler obligat, yang pertama menyerang saraf
tepi, selanjutnya dapat menyerang kulit, mukosa mulut, saluran nafas bagian
atas, sistem endotelial, mata, otot, tulang, dan testis ( Djuanda, 1997 )
Kusta adalah penyakit yang menahun dan disebabkan oleh kuman kusta
(mikobakterium leprae) yang menyerang syaraf tepi, kulit dan jaringan tubuh
lainnya. (Depkes RI, 1998).
Kusta merupakan penyakit kronik yang disebabkan oleh infeksi
mikobakterium leprae. (Mansjoer Arif, 2000)
2.2 Etiologi
Penyebab penyakit kusta oleh karena Mycobacterium leprae, yaitu
kuman yang bersifat gram positif, berbentuk batang lurus atau melengkung,
ukuran panjang 1-8 mikron, diameter 0,2 0,5,mikron dan mempunyai sifat
pleomorfik. Mycobacterium leprae termasuk golongan Basil Tahan Asam
(BTA) bila dilakukan pewarnaan Ziehl Neelsen, namun dalam mengikat
warna merah dari karbol Fuchsin tidak sekuat Mycobacterium tuberculosis
(Agusni, 2001)
2.3 Klasifikasi
Menurut klasifikasi Ridley dan Jopling (1962) ada beberapa tipe reaksi yaitu :
1. Tipe Tuberkoloid ( TT )
a. Mengenai kulit dan saraf.
b. Lesi bisa satu atau kurang, dapat berupa makula atau plakat, batas
jelas, regresi, atau, kontrol healing ( + ).
c. Permukaan lesi bersisik dengan tepi meninggi, bahkan hampir sama
dengan psoriasis atau tinea sirsirata. Terdapat penebalan saraf perifer
yang teraba, kelemahan otot, sedikit rasa gatal.
d. Infiltrasi Tuberkoloid ( + ), tidak adanya kuman merupakan tanda
adanya respon imun pejamu yang adekuat terhadap basil kusta.
2. Tipe Borderline Tuberkoloid ( BT )
a. Hampir sama dengan tipe tuberkoloid
b. Gambar Hipopigmentasi, kekeringan kulit atau skauma tidak sejelas
tipe TT.
c. Gangguan saraf tidak sejelas tipe TT. Biasanya asimetris.

d. Lesi satelit ( + ), terletak dekat saraf perifer menebal.


3. Tipe Mid Borderline ( BB )
a. Tipe paling tidak stabil, jarang dijumpai.
b. Lesi dapat berbentuk macula infiltrate.
c. Permukaan lesi dapat berkilat, batas lesi kurang jelas, jumlah lesi
melebihi tipe BT, cenderung simetris.
d. Lesi sangat bervariasi baik ukuran bentuk maupun distribusinya.
e. Bisa didapatkan lesi punched out, yaitu hipopigmentasi berbentuk
oralpada bagian tengah dengan batas jelas yang merupaan ciri khas
tipe ini.
4. Tipe Borderline Lepromatus ( BL )
Dimulai makula, awalnya sedikit lalu menjadi cepat menyebar ke
seluruh tubuh. Makula lebih jelas dan lebih bervariasi bentuknya,
beberapa nodus melekuk bagian tengah, beberapa plag tampak seperti
punched out. Tanda khas saraf berupa hilangnya sensasi,
hipopigmentasi, berkurangnya keringat dan gugurnya rambut lebih
cepat muncil daripada tipe LL dengan penebalan saraf yang dapat
teraba pada tempat prediteksi.
5. Tipe Lepromatosa ( LL )
a. Lesi sangat banya, simetris, permukaan halus, lebih eritoma,
berkilap, batas tidak tegas atau tidak ditemuka anestesi dan
anhidrosis pada stadium dini.
b. Distribusi lesi khas :
1) Wajah : dahi, pelipis, dagu, cuping telinga.
2) Badan : bahian belakang, lengan punggung tangan, ekstensor
tingkat bawah.
c. Stadium lanjutan :
1) Penebalan kulit progresif
2) Cuping telinga menebal
3) Garis muka kasar dan cekung membentuk fasies leonine, dapat
disertai madarosis, intis dan keratitis.
d. Lebih lanjut :
1) Deformitas hidung
2) Pembesaran kelenjar limfe, orkitis atrofi, testis
3) Kerusakan saraf luas gejala stocking dan glouses anestesi.
4) Penyakit progresif, makula dan popul baru.
5) Tombul lesi lama terjadi plakat dan nodus.
e. Stadium lanjut
Serabut saraf perifer mengalami degenerasi hialin/fibrosis
menyebabkan anestasi dan pengecilan tangan dan kaki.
Menurut klasifikasi Internasional Madrid (1953), yaitu :
Klasifikasi Madrid merupakan klasifikasi yang paling sederhana yang
ditentukan atas dasar kriteria klinik, bakteriologik, dan histopatologik. Ini
sesuai dengan rekomendasi Internasional Leprosy Association di Madrid
tahun 1953 (Sekula, B.S, 2003). Klasifikasi Madrid tersebut memutuskan
bahwa penyakit kusta dibagi atas :
1. tipe indeterminate

Kelainan kulitnya berupa makula hipopigmentasi 1-2 buah, batas


kurang tegas kadang dijumpai hipoestesi
2. tipe tuberkuloid
Lesi kulit berupa macula/plak eritematosa atau hipopigmentasi dengan
batas tegas, jumlah 1-4 buah, permukaan lesi kering, bersisik dan
rambut pada lesi berkurang atau tidak ada sama sekali. Nyeri ,
hipoestesi atau anaestnesi dan penebalan syaraf. BTA negative, tes
lepromin positif sangat kuat
3. tipe lepromatosa
Lesi dimulai dengan makula yang menyebar dan terdistribusi secara
bilateral sinutris. Lesi terbatas tidak tegas, hipopigmentasi, atau sedikit
eritematosa. Pada fase lanjut terdapat pembesaran saraf dengan glove
anda stocking anaesthesia. Gejala yang lain adalah pelebaran hidung,
penebalan, lobules telinga dan edema kaki. BTA positif lima atau enam
(+5/+6). Test lepromin negative
4. tipe borderline (dimorphous)
Lesi dimulai dengan macula kemudian menyebar secara simetris. Lesi
punched-out lebih multiformis, banyak dan tersebar. Permukaan lesi
halus, mengkilat dengan batas tegas. Anestesi pada tangan dan kaki
simetris. BTA positif empat atau lima (+4/+5). Test lapromin negatif
Menurut klasifikasi WHO, yaitu :
1. Tipe Pause - Basiler (PB)
Tipe PB ini sesuai dengan tipe tuberkuloid pada klasifikasi Madrid
atau tipe TT dan BT pada klasifikasi Ridley & Jopling dengan syarat
BTA (-)
2. Tipe Multi Basiler (MB)
Tipe MB ini sesuai dengan tipe lepromatosa atau borderline pada
klasifikasi Madrid atau tipe BB, BL dan LL pada klasifikasi Ridley &
Jopling
2.4 Manifestasi klinis
Diagnosa kusta ditegakkan bila terdapat satu dari tanda kardinal berikut
(WHO, 1995) :
1. Adanya lesi kulit yang khas dan kehilangan sensibilitas. Lesi kulit dapat
tunggal atau multipel biasanya hipopigmentasi tetapi kadang-kadang lesi
kemerahan atau berwarna tembaga biasanya berupa: makula, papul,
nodul. Kehilangan sensibilitas pada lesi kulit merupakan gambaran khas.
Kerusakan saraf terutama saraf tepi, bermanifestasi sebagai kehilangan
sensibilitas kulit dan kelemahan otot.
2. BTA positif, Pada beberapa kasus ditemukan BTA dikerokan jaringan
kulit. Penebalan saraf tepi, nyeri tekan, parastesi.
2.5 Patofisiologi
Penyakit lepra (Kusta, Hansen) merupakan infeksi progresif lambat
yang disebabkan oleh Mycobacterium Leprae. Penemu basil tersebut
merupakan orang Norwegia yang bernama Armauer Hansen sehingga sering

disebut Penyakit Hansen. Mycobacterium Leprae terinhalasi difagositosis


oleh monosit dan makrofag pulmoner yang menyebabkan penyebaran lewat
darah, tetapi kuman tersebut terutama hanya tumbuh dalam jaringan perifer
yang lebih dingin. Lepra menyebar luas ke seluruh dunia dengan sebagian
besar kasus terdapat di daerah tropis dan subtropis, tetapi dengan adanya
perpindahan penduduk penyakit ini bisa menyerang dimana saja.
Lepra merupakan penyakit saraf perifer tetapi bisa juga menyerang
kulit dan kadang-kadang jaringan lain seperti mata, mukosa saluran
pernapasan bagian atas, tulang dan testis. Selain itu juga terjadi invasi
mikobakterium ke dalam sel makrofag perineural dan sel-sel schwan.
Penyakit lepra memiliki dua pola penyakit yang bergantung pada respon
imun hospes. Bila respon imunitas baik timbul leprae tuberkuloid dengan lesi
tunggal atau beberapa, namun bila respon imunitas rendah maka multiplikasi
kuman tidak terkendali dan timbul lepra leprometosa dengan lesi multipler
berbentuk nodular. Penyakit menahun ini timbul sangat lambat, seringkali
selama bertahun-tahun. Lepra tidak mudah ditularkan dari orang yang satu ke
orang yang lain, tetapi orang-orang yang tinggal bersama penderita lepra
dalam jangka waktu lama kadangkala turut terserang oleh penyakit tersebut.

2.6 WOC Leprae

Mycobacterium Lepra

terinhalasi
Fagositosis oleh monosit
dan makrofag pulmoner
Invasi mikrobakterium
ke sel makrofag
perineural dan sel
schwan

Penyebaran lewat darah


Tumbuh dalam
jaringan perifer

Leprae
Respon imunitas baik

Respon imunitas rendah

Lepra tuberkuloid

Penebalan saraf
kulit dan perifer

Lesi tunggal/
beberapa
Hipopigmentasi/ma
kula dg bagian
tengah hilang rasa
MK:
- Kerusakan
integritas
kulit
- Risiko
cedera

MK :
Hambatan
mobilitas fisik

Lepra leprometosa

Multiplikasi kuman tak terkendali

Sensori saraf rusak

Neuromuskuler
rusak
Kelumpuhan
otot
Kecacatan/
deformitas

MK :
Sindrom defisit
perawatan diri

Anestesi
/hilang
rasa
MK :
Risiko
Cedera

Lesi kulit
multiple

Penyebaran pd mukosa
sal.respirasi, testis, tulang,
mata

Terbentuk
nodular

Penumpukan
mukosa pada

Bersifat menular,
perubahan
penampilan fisik

Perubahan
integrasi sensori
MK : Risiko
cedera

MK :
- Isolasi sosial
- Gang. Citra tubuh
7

2.7 Pemeriksaan diagnostik


1. Pemeriksaan Bakterioskopik
Memiliki lesi yang paling aktif yaitu : yang paling erythematous dan
paling infiltratif. Secara topografik yang paling baik adalah muka dan
telinga. Denngan menggunakan Vaccinosteil dibuat goresan sampai
didermis, diputar 90 derajat dan dicongkelkan, dari bahan tadi dibuat
sediaan apus dan diwarnai Zeihlnielsen. Pada pemeriksaan akan tampak
batang-batang merah yang utuh, terputus-putus atau granuler.
a. Tes lepromin
Untuk menentukan klasifikasi dan tipe kusta, ada 2 macam lepromin,
yaitu:
1. lepromin mitsuda H
2. lepromin dharmendra
b. Indeks Morfologi (IM)
Merupakan persentase BTA bentuk utuh terhadap seluruh BTA. IM
digunakan untuk mengetahui daya penularan kuman, mengevaluasi
hasil pengobatan, dan membantu menentukan resistensi terhadap obat
2.8 Komplikasi
1. Imunologi : reaksi lepra tipe I (reversal) dari reaksi lepra tipe II
(eritema nodosum leprosum/ENL)
2. Neurologis : ulkus, law hand, drop hand, drop foot, kontraktur,
multilasi dan resorbsi.
2.9 Prognosis
Setelah program terapi obat, biasanya prognosis baik, yang paling sulit
adalah manajemen gejala neurologis, kontraktur dan perubahan pada
tangan dan kaki. Ini membutuhkan kerjasama dengan tenaga ahli seperti
neurologis, ortopedik, ahli bedah, oftalmologis, dan rehabilitasi.
2.10
Penatalaksanaan
1. Non medikamenstosa
a. Pengobatan profilaksis dengan dosis yang lebih rendah dari pada
dosis therapeutik.
b. Vaksinasi dengan BCG yang juga mempunyai daya profilaksis
terhadap lepra.
c. Menjelaskan pada pasien bahwa penyakit ini bisa disembuhkan,
tetapi pengobatan akan berlangsung lama, antara 12-18 bulan,
untuk itu pasien harus rajin mengambil obat di puskesmas dan tidak
boleh putus obat.
d. Jika dalam masa pengobatan, tiba-tiba badan pasien menjadi
demam, nyeri di seluruh tubuh, disertai bercak-bercak kemerahan,
maka harus segera mencari pertolongan ke saranan pelayanan
kesehatan.
e. Penyakit ini mengganggu syaraf sehingga mungkin akan terjadi
kecacatan jika tidak ada tindakan pencegahan.
f. Cuci tangan dan kaki setiap sesudah bekerja dengan sabun,
terutama yang banyak mengandung pelembab, bukan detergen.

g. Rendam jari kaki/tangan sekitar 20 menit dengan air dingin.


Apabila kulit sudah lembut, gosok kaki dengan busa agar kulit
kering terkelupas.
h. Untuk menambah kelembaban dapat diolesin minyak (baby oil).
i. Secara teratur periksa kaki, apakah ada luka, kemerahan atau nyeri
dan segera mencari pertolongan medis.
j. Proteksi jari tangan dan kaki, misalnya memakai sepatu, hindari
berjalan jauh atau menghindari bersentuhan dengan benda-benda
tajam.
2. Medikamentosa
Dosis menurut rekomendasi WHO
a. Kusta Paubacillary (tipe I, BT, TT)
Dapsone
: 1 x 100 mg tiap hari
Rifampisin : 1 x 600 mg tiap bulan
Pengobatan harus diberikan 6 bulan berturut-turut atau 6 dosis
dalam 9 bulan dan diawasi selam 2 tahun
b. Kusta Multibacillary (tipe BB, BL, LL)
Dapsone
: 1 x 100 mg tiap bulan
Rifampisin : 1 x 600 mg tiap hari
Clofazimine : 1 x 300 mg tiap bulan (hari pertama) kemudian
dilajutkan dengan 1 x 50 mg/hari
Pengobatan 24 bulan berturut-turut dan diawasi 5 tahun

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian
a. Biodata
Penyakit kusta paling sering terjadi di daerah dengan tingkat sosial
ekonomi yang rendah dan insidennya cenderung meningkat pada
daerah tropis/ sub tropis. Kaji pula secara lengkap jenis pekerjaan
klien, resiko trauma pekerjaan dan kemungkinan kontak dengan
penderita kusta.
b. Keluhan utama
`Klien sering datang ke tempat pelayananan kesehatan dengan
keluhan adaya bercak putih yang tidak terasa atau keluhan kontaktur
pada jari-jari
c. Riwayat penyakit sekarang
Kaji pada klien kapan timbul keluhan dan bagaimana proses
perubahannya baik warna kulit maupun keluhan lainnya. Pada kasus
yang lain dapat ditemui keluhan lain semisalnya gatal, nyeri, paas, atau
rasa tebal. Kaji apa klien pernah mengalami pemeriksaan laboratorium,
hal ini untuk mengetahui apakah klien pernah menderita penyakit
tertentu sebelumnya. Kemudian, pengobatan apa yang pernah dijalani
oleh klien sebelumnya karena reaksi obat juga menimbulkan
perubahan warna kulit dan reaksi alergi lain. Apabila sudah pernah
minum obat, kaji lagi lebih detail jenis obat dan keteraturan minum
obat.
d. Riwayat penyakit dahulu
Salah satu penyebab penyakit kusta selain adanya bakteri M.
Leprae juga dikarenakan daya tahan tubuh yang menurun.
e. Riwayat penyakit keluarga
Sebenarnya penyakit kusta bukanlah penyakit keturunan yang
diturunkan pergenerasi atapun karier. Namun, perlu dikaji apakah
keluarga ada yang menderita penyakit yang sama . Karena
karakteristik penyakit kusta adalah penyakit yang continous atau
berkelanjutan, intim dimana menular melalui kontak yang dekat dan
berkepanjangan dimana orang yang beresiko tertular biasanya adalah
orang yang sering kontak secara langsung dengan klien.
f. Riwayat psikososial
Pada masyarakat kita sering kali penyakit kusta dianggap sebagai
penyakit yang menjijikkan dan memalukan. Paradigma ini muncul
dikarenakan penderita kusta dapat mengalami kecacatan ataupun
deformitas. Hingga perlu dikaji bagaimana konsep diri klien dan

10

anggapan klien terhadap penyakit yang menimpanya serta respon


keluarga/ masyarakat terhadap klien.
g. Pemeriksaan fisik
a) Inspeksi
Kaji adanya ruam, hipopigmentasi, serta eritematosa dengan
permukaan yang kasar atau licin dengan batas yang kurang
jelas. Pada tipe tuberkuloid dapat ditemukan gangguan saraf
kulit yang disertai dengan penebalan syaraf, adanya nyeri tekan
akibat jaringan fibrosa, anhidrasi, dan kerontokan rambut pada
tipe lepromatus, dijumpai hidung pelana dan wajah singa.
Selain itu kaji juga adanya kelainan otot berupa artrofi disuse
otot yang ditandai dengan kelumpuhan otot.
Diikuti dengan adanya kekakuan sendi atau kontraktur
sehingga terjadi clow hand, drop foot dan drop hand. Kaji juga
adanya osteomilitis serta pemendekan kerusakan tulang.
Periksa kelainan mata akibat kelumpuhan. Inspeksi mata kering
kereatitis ulkus kornea iritis iridoskilitik dan berakhir dengan
kebutaan.
b) Palpasi
Temukan adanya penebalan serabut syaraf, macula anastetika
pada tipe T dan macula non anastetika pada tipe L. Serta
permukaan yang kering dan kasar.
h. Pemeriksaan penunjang
a) Uji kulit
Penggunaan jarum untuk mengertahui adanya rasa sakit
dilakukan dengan meminta pasien menyebutkan area yang
lebih terasa nyeri. Lalu kaji adanya rasa pada kulit dengan
disentuh kapas atau bulu ayam. Jika tidak bisa, lakukan dengan
reaksi suhu.
b) Uji keringat
Uji ini dilakukan dengan menggores lesi dengan pensil tinta
mulai dari beberapa cm dari arah dalam keluar. Hasilnya, akan
terjadi perubahan warna ungu sedangkan di area lesi tidak
berubah warna. Pada uji ini ditemukan anhidrosis karena
rusaknya kelenjar keringat.
c) Uji lepromin
Untuk menentukan diagnosis dan klasifikasi kusta. Pada
tipe 1, uji T dan BT uji lepromin positif. Sedang tipe BB, BL
dan LL uji leprominnya negative.
3.2 Diagnosa & Intervensi Keperawatan Teoritis
3.2.1 Diagnosa Keperawatan
1. Kerusakan integritas kulit: lesi yang berhubungan dengan perubahan
sensasi

11

2. Hambatan mobilitas fisik b.d kerusakan neuromuscular sekunder


kelumpuhan otot
3. Sidrom defisit perawatan diri
4. Gangguan citra tubuh b.d penyakit
5. Isolasi sosial b.d perubahan penampilan fisik
6. Resiko cedera b.d anestesi/ hilang rasa sakit sekunder neuritis
3.2.2 Intervensi Keperawatan
Diagnosa Keperawatan : Kerusakan integritas kulit: lesi yang berhubungan dengan
perubahan sensasi
Tujuan/ Kriteria Hasil
Intervensi
NOC :
a. Dalam waktu 3x24
jam
suhu,
elastisitas, hidrasi,
pigmentasi,
dan
warna
jaringan
kulit pasien ada
dalam
rentang
yang diharapkan
b. Pasien/ keluarga
menunjukkan
rutinitas
perawatan
kulit
yang optimal

NIC :
1. Pengkajian
a. Kaji karakteristik lesi (lokasi, luas, dalam, jaringan
nekrotik) dan kondisi sekitar lesi
2. Intervensi
a. Lakukan perawatan luka secara rutin dan tindakan
control infeksi
b. Ajarkan pada pasien/ anggota keluarga tentang
prosedur perawatan luka
3. Kolaborasi
a. Lakukan advis dokter untuk memberikan obat
sesuai dosis
b. Konsultasikan pada ahli gizi tentang makanan
tinggi protein, mineral, kalori dan vitamin

Diagnosa keperawatan : Hambatan mobilitas fisik b.d kerusakan neuromuscular


sekunder kelumpuhan otot
Tujuan/ Kriteria Hasil
NOC :
a. Pasien
akan
melakukan
aktivitas
seharihari
secara
mandiri
dengan
alat bantu

Intervensi
NIC :
1. Pengkajian
a. Kaji kebutuhan akan bantuan pelayanan kesehatan
di rumah dan kebutuhan akan peralatan pengobatan
yang tahan lama
b. Kaji kebutuhan pasien akan pendidikan kesehatan
c. Tentukan tingkat motivasi pasien untuk
mempertahankan/ meningkatkan mobilitas sendi
dan otot
2. Intervensi
a. Berikan penguatan positif selama aktivitas
12

b. Ajarkan pasien bagaimana menggunakan postur


dan mekanika tubuh yang benar saat melakukan
aktifitas
c. Ajarkan dan dukung pasien dalam latihan ROM
aktif/ pasif untuk mempertahankan/ memperkuat
otot
d. Dukung pasien dan keluarga untuk memandang
keterbatasan dengan realistis
3. Kolaborasi
a. Rujuk ke ahli terapi fisik untuk program latihan
Diagnosa Keperawatan : Sindrom defisit perawatan diri berhubungan dengan deformitas
Tujuan/ Kriteria Hasil
Intervensi
NOC :
a. Pasien
berpartisipasi
secara fisik dan/
verbal
dalam
aktivitas
pemberian
makanan,
mengenakan
pakaian,
ke
kamar mandi dan
madi.

NIC :
1. Pengkajian
a. Kaji ketidakmampuan atau kesulitan dalam beberapa
aktivitas yang terobservasi/ dilaporkan masingmasing dari 5 area perawatan diri dan penyebab atau
faktor yang berperan
2. Intervensi
a. Dorong pasien untuk mengekspresikan perasaan
tentang kurang perawatan diri
b. Tingkatkan partisipasi optimal pasien terhadap AKS
c. Tingkatkan harga diri dan penentuan diri
d. Evaluasi kemampuan pasien untuk berpartisipasi
dalam setiap aktivitas perawatan

b. Pasien
akan
menerima
bantuan
atau
perawatan total
dari
pemberi
perawatan
jika
diperlukan
c. Mampu
menggunakan
alat bantu dalam
melaksanakan
AKS
(Aktivitas
Kehidupan
Sehari-hari)
d. Mendemonstrasik
an
kebersihan

13

optimal
setelah
bantuan
dalam
perawatan
diberikan
Diagnosa keperawatan : Gangguan citra tubuh b.d penyakit
Tujuan/ Kriteria Hasil
Intervensi
NOC :
a. Pasien
akan
mengidentifikasi
kekuatan personal
b. Pasien
mampu
memelihara
hubungan
sosial
yang dekat dan
hubungan personal

NIC :
1. Pengkajian
a. Kaji dan dokumentasikan respons verbal dan non
verbal pasien tentang tubuh pasien
b. Tentukan harapan pasien tentang gambaran tubuh
pasien sesuai dengan tahap perkembangan
c. Identifikasi budaya, agama, ras, jenis kelamin dan
usia dari orang penting bagi pasien menyangkut
citra tubuh
2. Intervensi
a. Dengarkan psien / keluarga secara aktif dan akui
realitas adanya perhatian terhadap perawatan,
kemajuan dan prognosis
b. Beri perawatan dengan cara tidak menghakimi,
pelihara privasi dan martabat pasien
c. Identifikasi cara-cara untuk mengurangi dampak
dari segala kesalahan penggambaran memalui
berpakaian, kosmetik, atau sesuai kebutuhannya
3. Kolaborasi
a. Rujuk pada pelayanan sosial untuk merancanakan
perawatan dengan pasien / keluarga
b. Tawarkan untuk melakukan panggilan pada
sumber-sumber komunitas yang tersedia untuk
pasien/ keluarga

Diagnosa keperawatan : Isolasi sosial b.d perubahan penampilan fisik


Tujuan/ Kriteria Hasil
Intervensi
NOC :
a. Pasien
mampu
mengidentifikasi
dan
menerima karakteristik
pribadi atau perilaku
yang
mempengaruhi
isolasi sosial

NIC :
1. Pengkajian
a. Identifikasi dengan pasien faktor-faktor
yang mempengaruhi pada perasaan isolasi
sosial
2. Intervensi
a. Kurangi stigma isolasi dengan menghormati
martabat pasien
14

b. Mulai
berhubungan
dengan orang lain

b. Dukung usaha-usaha pasien, keluarga, dan


teman-teman untuk berinteraksi
c. Dukung hubungan dengan orang lain yang
memiliki ketertarikan dan tujuan yang sama
d. Berikan uji pembatasan interpersonal
e. Beri umpan balik tentang peningkatan
dalam perawatan penampilan diri atau
aktivitas lainnya

c. Mengembangkan
keterampilan sosial yang
dapat mengurangi isolasi

Diagnosa keperawatan : Resiko cedera b.d anestesi/ hilang rasa sakit sekunder
neuritis
Tujuan/ Kriteria Hasil
Intervensi
NOC :

NIC :

a. Pasien / keluarga
akan
mampu
mengidentifikasi
resiko
yang
meningkatkan
kerentanan terhadap
cedera
b. Pasien
menghindari
fisik

dapat
cedera

1. Pengkajian
a. Identifikasi
factor
yang
mempengaruhi
kebutuhan keamanan yaitu deficit sensorik/
motorik
b. Identifikasi
factor
lingkungan
yang
memungkinkan resiko jatuh/ cedera
2. Intervensi
a. Jangan lakukan perubahan yang tidak
diperlukan dilingkungan fisik (misalnya
penempatan mebel)
b. Yakinkan bahwa pasien menggunakan sepatu
yang sesuai (misalnya, haknya tidak tinggi dan
tali terikat aman)
c. Sediakan alat bantu berjalan
d. Gunakan alat pemanas dengan hati-hati pada
pasien dengan deficit sensori untuk mencegah
luka bakar
3. Kolaborasi
a. Rujuk pada kelas pendidikan pada komunitas

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan

15

Kusta adalah penyakit infeksi kronis yang di sebabkan oleh


mycobacterium lepra yang interseluler obligat, yang pertama menyerang saraf
tepi, selanjutnya dapat menyerang kulit, mukosa mulut, saluran nafas bagian
atas, sistem endotelial, mata, otot, tulang, dan testis ( Djuanda, 1997 ). Yang
diandai dengan danya lesi kulit yang khas dan kehilangan sensibilitas. Lesi
kulit dapat tunggal atau multipel biasanya hipopigmentasi tetapi kadangkadang lesi kemerahan atau berwarna tembaga biasanya berupa: makula,
papul, nodul. Kehilangan sensibilitas pada lesi kulit merupakan gambaran
khas. Kerusakan saraf terutama saraf tepi, bermanifestasi sebagai kehilangan
sensibilitas kulit dan kelemahan otot. Selain itu ditemukan BTA positif, Pada
beberapa kasus ditemukan BTA dikerokan jaringan kulit. Penebalan saraf
tepi, nyeri tekan, parastesi. Kusta dapat menyebabkan beberapa komplikasi,
pada sistem imun akan menimbulkan reaksi lepra tipe I (reversal) dari reaksi
lepra tipe II (eritema nodosum leprosum/ENL). Selain itu pada sistem
neurologis dapat ditemukan ulkus, law hand, drop hand, drop foot, kontraktur,
multilasi dan resorbsi
4.2 Saran
Setelah penulisan makalah ini, kami mengharapkan masyarakat pada
umumnya dan mahasiswa keperawatan pada khususnya mengetahui lebih
dalam tentang penyakit kusta. Kepada para perawat, kami sarankan untuk
lebih aktif dalam memberikan penyuluhan untuk mengurangi angka kesakitan
penyakit gangguan. Bagi para penderita tindakan pencegahan yang paling
mudah dilakukan adalah menghindari factor pencetus dari gangguan tersebut,
salah satunya dengan vaksinasi BCG yang juga mempunyai daya profilaksis
terhadap lepra. Bagi perawat diharapkan dapat menjelaskan pada pasien
bahwa penyakit ini bisa disembuhkan, tetapi pengobatan akan berlangsung
lama, antara 12-18 bulan, untuk itu pasien harus rajin mengambil obat di
puskesmas dan tidak boleh putus obat.

16

DAFTAR PUSTAKA
Departemen Kesehatan RI Dirjen P2M dan PLP, 1996, Buku Pedoman
Pemberantasan Penyakit Kusta, Jakarta.
Djuanda, adi, Hamzah Mochtar, Aizah siti, 2005. Ilmu Penyakit Kulit Dan
Kelamin edisi 4. FK UI.Jakarta
Depkes, (1998), Buku Pedoman Pemberantasan Penyakit Kusta, Cetakan ke-XII,
Depkes Jakarta
Graham-Brown, robin & Tony Burns 2005.Lecture Note Dermatologi Edisi 8,.
Jakarta: Erlangga
http://iwansaing.wordpress.com/2009/06/09/morbus-hansen. diakses 17-05-2013
Mansjoer, Arif, 2000, Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2 Ed. III, media
Aeuscualpius, Jakarta.
Robbins & Cotran. Buku Saku Dasar Patologis Penyakit.Jakarta : EGC Medical
Publisher.
Werner, David dkk.2010.Apa yang anda kerjakan bila tidak ada
dokter.Yogjakarta : Yayasan Essentia Medika

17