Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Infeksi didefinisikan sebagai keberhasilan invasi, keberadaan, dan
pertumbuhan mikroorganisme pada pejamu atau di dalam jaringan pejamu,
yang mengakibatkan reaksi jaringan tertentu (Brooker, 2008). Infeksi adalah
invasi tubuh oleh pathogen atau mikroorganisme yang mampu menyebabkan
sakit (Potter & Perry, 2005).
Kulit merupakan organ terluas penyusun tubuh manusia yang terletak
paling luar dan menutupi seluruh permukaan tubuh. Karena letaknya paling
luar, maka kulit yang pertama kali menerima rangsangan seperti rangsangan
sentuhan, rasa sakit, maupun pengaruh buruk dari luar. Fungsi kulit antara lain
: melindungi permukaan tubuh, memelihara suhu tubuh, dan mengeluarkan
kotoran-kotoran tertentu. Kulit juga penting bagi produksi vitamin D oleh
tubuh yang berasal dari sinar ultraviolet. Mengingat pentingnya kulit sebagai
pelindung organ-organ tubuh di dalamnya, maka kulit perlu dijaga
kesehatannya. Selain sebagai pelindung tubuh, kulit juga memiliki nilai
estetika. Kulit yang bersih dan terawat akan tampak indah dilihat.
Gangguan pada kulit sering terjadi karena berbagai faktor penyebab,
antara lain yaitu iklim, lingkungan tempat tinggal, kebiasaan hidup yang
kurang sehat, alergi, dan lain-lain. Penyakit kulit dapat disebabkan oleh
jamur, virus, kuman, parasit hewani dan lain-lain. Infeksi kulit di Indonesia
masih sering dijumpai balk infeksi yang disebabkan oleh bakteri, virus,
maupun parasit dan jamur. Salah satunya Indonesia akan tetapi angka kejadian
yang tepat belum diketahui. Iklim yang panas dan lembab mempermudah
tempat penyakit jamur berkembang dengan baik (Utama, 2004). Penyakit kulit
masih merupakan penyakit dengan jumlah penderita terbanyak ke-3 di
Indonesia.
Sejumlah penyakit infeksi dapat dicegah melalui budaya hidup sehat,
seperti mencuci tangan. Hal yang sering disepelekan ini berdampak besar
dalam mencegah penularan penyakit. Kebiasaan hidup sehat juga bergantung
sarana sanitasi yang menjadi tanggung jawab negara. Dengan melakukan
perilaku sederhana, cuci tangan pakai sabun (CTPS) sebenarnya sudah dapat
mengurangi risiko tertular penyakit-penyakit tersebut. Data WHO
menunjukkan, perilaku CTPS mampu mengurangi angka kejadian Diare
sebanyak 45%. Telah dibuktikan juga bahwa CTPS dapat mencegah
penyebaran penyakit kecacingan, serta mampu menurunkan kasus infeksi
saluran pernafasan atas (ISPA) dan Flu Burung hingga 50%. Sanitasi penting,
karena turut menyelamatkan jiwa. Pemberian antibiotik oleh dokter juga
penting dalam mencegah terjadinya infeksi.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan infeksi virus, jamur, dan bakteri?
2. Apa saja etiologi infeksi virus, jamur, dan bakteri?
3. Apa saja manifestasi klinis infeksi virus, jamur, dan bakteri?
4. Bagaimanakah patofisologi dan WOC infeksi virus, jamur, dan bakteri?
5. Apa saja pemeriksaan diagnostic infeksi virus, jamur, dan bakteri?
6. Apa saja penatalaksanaan infeksi virus, jamur, dan bakteri?

7. Apa saja komplikasi infeksi virus, jamur, dan bakteri?


8. Bagaimanakah asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan sistem
integument infeksi virus, jamur, dan bakteri?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Setelah perkuliahan diharapkan mahasiswa mengetahui asuhan
keperawatan tentang penyakit infeksi
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui definisi infeksi virus, jamur, dan bakteri.
2. Mengetahui etiologi infeksi virus, jamur, dan bakteri.
3. Mengetahui manifestasi klinis infeksi virus, jamur, dan bakteri
4. Mengetahui patofisologi dan WOC infeksi virus, jamur, dan bakteri
5. Mengetahui pemeriksaan diagnostic infeksi virus, jamur, dan bakteri
6. Mengetahui penatalaksanaan infeksi virus, jamur, dan bakteri
7. Mengetahui komplikasi infeksi virus, jamur, dan bakteri
1.4 Manfaat
Mahasiswa mampu memahami tentang penyakit infeksi virus, jamur, dan
bakteri serta mampu menerapkan asuhan keperawatan pada penyakit dengan
infeksi virus, jamur, dan bakteri.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi dan Fisiologi Kulit

Gambar : Struktur kulit


2.1.1 Epidermis
Epidermis merupakan jaringan yang terbentuk dari epithelial squamosa
yang memiliki beberapa lapisan. Jaringan ini tidak memiliki vaskularsasi
sehingga nutris didapat dari jaringan dermis dibawahnya. Jaringan epidermis
paling tebal terdapat di telapak tangan dan telapak kaki (Willams, 2003).
Epidermis terdiri dari 5 lapisan yaitu:
a. Stratum cornum
Merupakan lapisan terluar yang tersusun oleh banyak sel mati. Anucleat
keratinocyt, dan terbungkus oleh keratin. Lapisan terluar selalu
mengelupas dengan sendirinya
b. Stratum lucidum
Lapisan ini terdiri dari 2 sampai 3 lapis sel tanpa inti. Biasanya lapisan
terlihat pada epidermis yang tebal seperti pada telapak tangan
c. Stratum granulosum
Merupakan lapisan yang terdiri dari 2 sampai 4 lapis cel yang terikat
desmosome. Cel di lapisan ini mengandung keratohyaline granule yang
berfungsi menghasilkan keratin pada lapisan di atasnya
d. Stratum spinosum
Lapisan ini terdiri dari 8 sampai 10 lapisan yang dihubungkan dengan
desmosome. Lapisan ini aktif membelah selama mitosis
e. Stratum basale lapisan ini terdiri dari satu lapis sel kolumnar yang aktif
membelah secara mtosis untuk memproduksi sel yang akan bermigrasi ke
lapisan di atasnya (Pack, 2001).
Dalam lapisan epidermis terdapat 4 tipe cell :
a. Keratinocyte yang memprduksi keratin, yang merupakan lapisan yang
berfungsi menguatkan dn membuat kulit tahan air. Permukaan kulit
merupakan keratinocytes yang terbungkus keratin.
3

b. Melanocyte yang memproduksi melanin yang melindungi dari radiasi sinar


ultraviolet. Melanin yang diproduksi akan ditransfer ke keratinocyte
c. Langerhans cell merupakan fagosit makrofag yang berperan dalam respon
immunologi
d. Merkel cell merupakan type cell yang terletak pada patas epidermis dan
dermis. Mekel cell membentuk cakram merkel yang berhubungan dengan
ujung syaraf sebagai fungsi sensori.
2.1.2 Dermis
Berisi banyak jaringan pengikat, sebagai jaringan pengikat dermis
berisi fibroblast dan makrofag Lapisan ini juga matrix gelatinous yang
berisi collage, elastic, dan reticular fibers. Struktur ini berfungsi
menguatkan dan extensibilitas dan elastisitas.
Dermis memiliki 2 lapisan yakni papillary yang merupakan lapisan
tipis pembentuk sidik jari, dan lapisan reticular yang merupakan lapisan
tebal penyusun terbesar dermis
2.1.3 Hypodermis
Lapisan ini merupakan lapisan di antara dermis dan organ. Bagian ini
mengandung jaringan adipose yang dan merupakan tempat terbesar
penyimpanan lemak.
2.1.4 Organ aksesori
a. Rambut. Rambut dibentuk dalam follicle. Pada dasar follicle terdapat
cell yang aktif bermitosis. Sel ini cepat mengalami kematian setelah
memproduksi keratin dan melanin.
b. Kuku. Follicle kuku ditemukan di ujung jari dengan pertumbuhan yang
menyerupai rambut. Cell ini terus diproduksi dan mengandung keratin.
Saat sel ini mati maka sel ini menjadi kuku.
c. Kelenjar sudoriferous. Merupakan
kelenjar yang memproduksi
keringat. Keringat mengandung garam dan substansi lain. Terdapat
emapt enis kelenjar sudoriferus dalam tubuh :
1. Eccrine glands menghasilkan water solution yang melalui pori pori
2. Appocrine glands menghasilkan larutan yang dipicu stress dan sex
excitement. Sel ini banyak terdapat di ketiak dan area pubic.
3. Ceruminous glands menghasilkan cerumen di telinga.
4. Mammary Gland berfungsi menghasilkan ASI
d. Kelenjar cebaceous menghasilkan sebum yang merupakan minyak
melalui follicle rambut dan pori pori. Berfungsi menghambat
pertumbuhan bakteri dan mencegah kulit dan rambut kering.
Fungsi kulit adalah sebagai proteksi yang melindungi tubuh baik
sebagai proteksi terhadap infeksi, terhadap trauma, maupun terhadap
keseimbangan cairan dalam tubuh. Fungsi lain dari kulit adalah sebagai
organ thermorgulasi. Kulit juga berperan dalam respon sensory karena
adanya syaraf sensory, berperan dalam sintesis chalciferol (vitamin D), dan
sebagai fungsi respon immune.
2.2 Definisi Infeksi
Infeksi adalah proses invasif oleh mikroorganisme dan berpoliferasi di
dalam tubuh yang menyebabkan sakit (Potter & Perry, 2005). Infeksi adalah
invasi tubuh oleh mikroorganisme dan berproliferasi dalam jaringan tubuh.
(Kozier, et al, 1995).

Dalam Kamus Keperawatan disebutkan bahwa infeksi adalah invasi dan


multiplikasi mikroorganisme dalam jaringan tubuh, khususnya yang
menimbulkan cedera seluler setempat akibat metabolisme kompetitif, toksin,
replikasi intraseluler atau reaksi antigen-antibodi. Munculnya infeksi
dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling berkaitan dalam rantai infeksi.
Adanya patogen tidak berarti bahwa infeksi akan terjadi. Mikroorganisme
yang bisa menimbulkan penyakit disebut pathogen (agen infeksi), sedangkan
mikroorganisme yang tidak menimbulkan penyakit/kerusakan disebut
asimtomatik. Penyakit timbul jika pathogen berkembang biak dan
menyebabkan perubahan pada jaringan normal. Jika penyakit bisa ditularkan
dari satu orang ke orang lain, penyakit ini merupakan penyakit menular
(contagius).
Mikroorganisme
mempunyai
keragaman
dalam
virulensi/keganasan dan juga beragam dalam menyebabkan beratnya suatu
penyakit yang disebabkan.
2.2.1 Infeksi Jamur
Infeksi jamur adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi karena
jamur. Ada beberapa jamur yang bisa menginfeksi tubuh kita antara lain
adalah dermatofit dan jamur candida albican yang mana bisa menyebabkan
infeksi jamur superficial di kulit, kuku, rambut dan selaput lendir. Jamur
lainnya dapat menembus jaringan hidup dan menyebabkan infeksi dibagian
dalam. Jamur yang berhasil masuk itu bisa tetap berada ditempat (misetoma)
atau menyebabkan penyakit sistemik misalnya histoplasmosis.
Dermatofit termasuk dalam kelompok yang menyebabkan kelainan
yang disebut infeksi ringworm. Fase vegetative jamur dermatofit
terdiri dari hifa-hifa bersepta yang membentuk suatu anyaman
bercabang-cabang (miselium).
Candida albicans merupakan organism yang terdiri dari sel-sel
bulat tau oval yang membelah diri melalui pertunasan ( budding).
Terlepas dari bentuk raginya albicans dapat membuat pseudohifa yang
terdiri dari banyak sel yang tersusun linier, atau pada keadaan tertentu
membentuk hifa yang bersepta.
2.2.2 Infeksi Virus
Infeksi virus adalah infeksi yang disebabkan oleh virus. Ada
beberapa virus yang bisa menyebabkan infeksi virus diantaranya adalah
Human papiloma virus (HPV), varicela zoster, herpes zoster, herpes
simplex, pox virus variolae,. Sehingga ada beberapa penyakit yang
muncul disebabkan oleh virus virus tersebut diantaranya adalah
varicela (cacar air), variola (cacar/smallpox), herpes zoster (cacar
ular),herpes simplex, veruka (kutil/common wart).
2.2.3 Infeksi Bakteri
Bentuk infeksi kulit oleh bakteri ada 2 yaitu infeksi bakteri primer
dan infeksi bakteri sekunder. Infeksi bakteri primer pada kulit sering
sekali disebabkan oleh stafilakok koagulase positif dan streptokok beta
hemolitik. Staphycoccus Aureus suatu bakteri koagulase positif
merupakan kokus patogen utama pada kulit. Kokus ini adalah gram
positif, berbentuk bola dan bergerombol dalam bundle-bundel kecil.
Kokus ini mudah tumbuh dimedia biakan. Dalam media padat dalam 24
jam akan tumbuh koloni-koloni berkilat, berwarna kekuningan dan

besar. Streptokok adalah bakteri gram positif juga. Streptococcus


pyogenes termasuk dalam golongan A streptokok beta hemolitik.
Bakteri-bakteri lain seperti difteroid aerobic, difteroid anaerobic,
dan bakteri gram negative serta bakteri tahan asam adapat pula
menyebabkan berbagai infeksi kulit. Rentang infeksi ini mulai dari
yang ringan, infeksi yang asimtomatik seperti eritrasma sampai
penyakit sistemik seperti lepra.
2.3 Etiologi
2.3.1 Infeksi Jamur
Penyebab terjadinya infeksi jamur ini adalah kelompok jamur dari
dermatofit seperti microsporum, Trichophyton, dan epidermophyton.
Yang terbanyak di Indonesia adalah T. Rubrum dermatofita yang lain
adalah E. Floccosum, T. Mentagrophytes, M. Canis, M. gypseum, T.
cocentricum, T. schoenleini dan T. tonsurans. Kemudian juga
disebabkan dari jamur candida patogen yaitu candida albican.
Infeksi jamur ini akan dibagi menjadi beberapa klasifikasi
berdasarkan tempat yang diserang jamur dan juga dari jamur apa yang
menjadi penyebabnya. Jamur biasanya menyerang daerah jari-jari
tangan dan kaki, rambut, kuku, daerah lipatan paha, ketiak, punggung,
glutea.
2.3.2 Infeksi Virus
Ada beberapa virus yang bisa menyebabkan infeksi virus
diantaranya adalah Human papiloma virus (HPV), varicela zoster,
herpes zoster, herpes simplex, pox virus variolae,. Sehingga ada
beberapa penyakit yang muncul disebabkan oleh virus-virus tersebut
diantaranya adalah varicela (cacar air), variola (cacar/smallpox), herpes
zoster (cacar ular), herpes simplex, veruka (kutil/common wart).
2.3.3 Infeksi Bakteri
Bentuk infeksi kulit oleh bakteri ada 2 yaitu infeksi bakteri primer
dan infeksi bakteri sekunder. Infeksi bakteri primer pada kulit sering
sekali disebabkan oleh stafilakok koagulase positif dan streptokok beta
hemolitik. Staphycoccus Aureus suatu bakteri koagulase positif
merupakan kokus patogen utama pada kulit. Kokus ini adalah gram
positif, berbentuk bola dan bergerombol dalam bundle-bundel kecil.
Kokus ini mudah tumbuh dimedia biakan. Dalam media padat dalam 24
jam akan tumbuh koloni-koloni berkilat, berwarna kekuningan dan
besar. Streptokok adalah bakteri gram positif juga. Streptococcus
pyogenes termasuk dalam golongan A streptokok beta hemolitik.
Bakteri-bakteri lain seperti difteroid aerobic, difteroid anaerobic,
dan bakteri gram negative serta bakteri tahan asam adapat pula
menyebabkan berbagai infeksi kulit. Rentang infeksi ini mulai dari
yang ringan, infeksi yang asimtomatik seperti eritrasma sampai
penyakit sistemik seperti lepra.
2.4 Patofisiologi
2.4.1 Patofisiologi infeksi jamur
Infeksi jamur terbagi dua yaiti dermatophytosis (tinea dan
candidiasis)

a.

b.

Dermatophytoses (Tinea)
Infeksi superficial fungi pada kulit disebut dermatophytoss. Infeksi
fungal terjadi ketika host melakukan kontak dengan organisme.
Organimlah kelembapan bisa ditularkan dengan kontak langsung dari
hewan maupun orang yang terinfeksi. Atau dari benda mati seperti
handuk, bantal, topi. Factor paling penting dalam perkembangan
infeksi fungi adalah kelembapan dimana onset dan penyebaran
terbesar adalah di daerah dengan kelembapan tinggi ditubuh seperti
lipatan kulit, antara jari kaki, mulut. Factor lain adalah penggunaan
antibiotic spectrum luas yang membunuh floa normal yang sebenarnya
menghambat pertumbuhan fungi, diabetes mellitus, immunodefisiensi.
Infeksi jenis ini dinamakan sesuai lokasinya yakni tinea pedis bila
di kaki, tinea capitis, bila dikuit kepala, tinea corporis bila di badan.
Manifestasi yang muncul bergantng dari jenis fungi yang menyerang
namum umumnya muncul rasa gatal. Warna bisa kemerahan, putih,
maupun abu abu.
Candidiasis
Infeksi ini disebabkan Candida albicans yang ditemukan dalam
mukosa, vagina, dan saluran gastro intestinal. Fungi ini menjadi
pathogen bila ada factor berikut :
1. Kelembapan tingi disertai kerusakan integritas kulit
2. Antibiotic
3. Kehamilan
4. Nutrisi yang kurang
5. Konsumsi pil kontrasepsi
6. Adanya immunosuppresi

Awal infeksi ini adanya pustule yang menyebar dibawah lapisan


stratum corneum. Sel inflamasi kemudian menyebar ke permukaan
substansi seperti busa warna kuning di area infeksi. Adanya lesi satelit
(mucopopular di luar batas infeksi asli) juga merupakan karakteristik
kandidiasis.
2.4.2 Patofisiologi infeksi virus
a. Warts
Disebut juga veruccae merupakan lesi pada kulit yang disebabkan
oleh HPV. Bisa terjadi pada area genital, nongenital, dan membrn
mucus. Nongenital wart umumnya lesi jinak sedangkan pada genital
bisa saja menjadi precancer. Warts ditularkan melalui kontak kulit.
Area yang terinfeksi akan membentuk lesi datar, fusiform, kemerahan.
Tapi bisa pula menghasilkan lesi yang tinggi, permukaan kasar dan
gelap brgantung pada virus penyebab dan letaknya. Umumnya warts
akan sembuh sendiri.
b. Herpes simplex
Infeksi kulit ini disebabkan HSV-1 maupun HSV-2 dimana lesi
sering ditemukan pada bibir, wajah, dan mulut. Penularan oleh kontak
fisik, oral sex dan ciuman. Infeksi ini dimulai dengan adanya sensasi
gatal lalu terbentuk erythema. Kemudian lesi akan berkembang
menjadi vesicle dan akan timbul nyeri. Vesicle juga akan berkembang

menjadi pustule, ulcer, dan dan mongering setalah 10-14 hari.


Seringkali diperparah dan disertai manifestasi systemic berupa demam
dan radang tenggorokan.
c. Herpes zoster
Disebut juga shingles merupakan infeksi pada kulit yang
disebabkan varicella zoster. Dipercaya disebabkan oleh reaktivasi
varicella yang bertahan di ganglia sensory dorsal semasa anak anak.
Ketika teraktifasi virus berpndah ganglia menuju kulit. Klien dengan
penyakit hodgins, leukemia, lymphoma, HIV, paien radio dan
kemoterapi sering mengalami infeksi ini.
Lesi herpes zoster adalah vesicle dengan dasar erythematus.
Vesicle yang muncul di kulit berasal dari single maupun group dari
dorsal root ganglia. Lesi kemudian pecah dan mongering. Pasien akan
mengalami nyeri bahkan mungkin akan bertahan meskipun lesi telah
menghilang.
2.4.3 Patofisiologi infeksi bakteri
Infeksi bakerial berawal dari follicle rambut dan terakumulasi
sehingga mengakibatkan infeksi terlokalisir. Tetapi bakteri bisa
menyerang ka jaringan yang lebih dalam dan menyebabkan infeksi
sistemik bahkan kelainan yang mengancam jiwa. Infeksi bakteri di kulit
menimbulkan beberapa jenis yakni folliculitis, furuncles, carbunacles,
cellulitis, dan erysipelas.
a. Follicullitis
Folliculitis adalah infeksi bakteri pada follicle rambut yang
umumnya disebabkan Staphylococcus aureus. Infeksi dimulai dari
bukaan follicle dan meluas ke bawah dari follicle. Baktei melepaskan
enzyme dan dan agen kimia yang merangsang inflamasi. Lesi muncul
sebagai pustule yang dikelilingi erythema pada permukaan kulit dengan
disertai rasa terbakan ringan sampai sangat gatal. Folliculitis banyak
ditemukan pada kulit kepala dan ekstremitas, bisa juga pada pria yang
berjambang, kaki wanita yang dicukur dan kelopak mata. Umumnya
isebabkan oleh kebersihan yang kurang, nutrisi yang kurang baik,
kelembapan dalam aktu lama, dan trauma pada kulit.
b. Furuncles
Furuncle atau yang biasa disebut boils merupakan inflamasi pada
follicle rambut. Sering diakibatkan folliculitis tetapi infeksi menyebar
hingga akar rambut dan dermis. Umumnya juga disebabkan
Staphylococcus aureus. Sebuah furuncle dimulai dari nodule yang
dalam, keras, kemerahan, dan nyei berdiameter 1-5 cm. etelah beberapa
hai nodul akan berubah menjadi cystic nodul yang luas dan nyeri. Cyst
yang terbentuk bisa berisi cairan yang purulent. Factor yang memicu
kebersihan yang kurang, kelembapan dalamwaktu lama, dan trauma
pada kulit srta penyakit systemic seperti diabetes mellitus.
c. Carbuncle
Carbuncle merupakan kelompok infeksi pada follicle rambut. Lesi
dimulai dari massa keras yang terlokalisasi di jaringan subkutan dan
dermis bawah. Massa kemudian bengkak dan nyeri serta ada multiple
openings pada permukaan kulit. Biasanya ditemukan pada leher

belakang, punggung atas dan lateral paha, selain manifestasi local,


pasien mungkin akan merasakan menggigil, demam, dan malaise.
Factor pendorong sama seperti furuncle namun lebih pada temperature
panas dan iklim lembab.
d. Cellulitis
Cellulitis adalah infeksi local pada dermis dan subkutan. Muncul
mengikuti ulcer yang disebkan olej furuncle atau carbuncles. Infeksi
menyebar sebagai akibat adaya substansi yang dihasilkan organism
penyebab (hyaluronidase) yang memecah jaringan fibrin dan barrier
lain. Area akan terlihat merah, bengkak, dan nyeri. Pada beberapa kasus
ditemukan vesicle. Pasien mungkin akan merasakan menggigil, demam,
malaise, sakit kepala, dan pembngkakan kelenjar limfa.
e. Erysipelas
Erysipelas adalah infeksi yang disebabkan paling sering oleh
kelompok streptococcus. Sebelum lesi tampak 4 jam sampai 20 hari
sebelumnya biasanya ada tanda menggigil, demam, dan malaise. Infeksi
berawal dengan bentuk lesi dengan batas jelas, merah terang, tinggi,
dan panas. Vesicle mungkin terbentuk diatas permukaaan erysipelas.
Area ini biasanya terasa nyeri, gatal, dan terbakar. Erysipelas muncul
paling banyak di wajah, telinga, dan kaki bagian bawah.
2.5 Mekanisme Penyebaran Penularan
2.5.1
Infeksi Virus
Infeksi virus (Varicella zoster) dapat menyebar melalui kontak
dengan orang lain yang menderita varicella, maka akan terjadi respon
imun dengan peningkatan suhu tubuh. Setelah stadium prodromal timbul
banyak macula atau papula cepat berubah menjadi vesikula. Selama
beberapa hari akan timbul vesikula baru, sehingga umur dari lesi tidak
sama. Kulit sekitar lesi berwarna eritema (krusta).
2.5.2
Infeksi Bakteri
Infeksi bakteri (stafilococus dan streptococcus grup A) bersifat
menular dan dapat menyebar kebagian kulit pasien yang lain atau ke
anggota keluarga yang menyentuh pasien atau memakai handuk atau sisir
yang tercemar oleh eksudat lesi. Baktei melepaskan enzyme dan dan agen
kimia yang merangsang inflamasi. Lesi muncul sebagai pustule yang
dikelilingi erythema pada permukaan kulit dengan disertai rasa terbakan
ringan sampai sangat gatal. Lesi berupa macula kecil dan merah,
menonjol, yang dengan cepat berubah menjadi vesikel yang distrik. Dan
segera mengalami rupture serta tertutup oleh krusta yang melekat secara
longgar yang berwarna kuning keemasan seperti warna madu. Krusta ini
mudh terlepas dan memper;lihatkan permukaan yang licin merah serta
basah. Hal ini yang menyebabkan penularan.
2.5.3
Infeksi Jamur
Infeksi jamur badan (tinea korporis) dapat menyebar melalui
kontak langsung dan tidak langsung. Kontak langsungnya adalah
bersentuhan dengan binatang peliharaan yang terinfeksi jamur dan pada
area tubu khususnya daerah lipatan kulit yang panas dan lembab yang
memudahkan jamur berkembangbiak. Kontak tidak langsung karena
memakai handuk dan lap wajah yang sama dengan penderita infeksi jamur.

Jamur dapat melepaskan keratinases dan enzim lainnya untuk menyerang


lebih dalam dari stratum korneum, walaupun biasanya kedalaman infeksi
terbatas pada epidermis. Setelah masa inkubasi 1-3 minggu dermatofit
menyerang perifer dalam pola sentrifugal. Respon perlawanan terhadap
infeksi, maka terjadi peningkatan proliferasi sel epidermis, hal ini
memberikan manifestasi pertahanan parsial kulit yang terinfeksi dan
meninggalkan kulit baru yang sehat pada bagian dalam lesi.
2.6 WOC
Faktor predisposisi :
-Imun
lemah,
Kelainan
malignitas
(leukimia
&
limfoma), hygene tdk adekuat,
Kesehatan yg buruk, malnutrisi

Infeksi bakteri

Infeksi

Virus
Macula rupture
jadi krusta

Respon
inflamasi local

Kerusakan
saraf
perifer
nyeri

Kerusakn
integritas
jaringan

Vasikula
menyebar

Suhu
tubuh

gatal

Gangguan
istirahat&tidu
r

Respon
psikoogis

Respon
inflamasi
lsistemik

hiperter
mi

Kondisi
kerusaka
n
jar.
kulit
Kecemas
an

Ketidaktahuan
proses penyebaran
dan
penularan,
penularan
penyakit

Ganggua
n
gambara
n
citra

Kebutuha
n
pemenuha
n

2.7 Manifestasi Klinis


2.7.1 Infeksi Jamur :
a. Peradangan kulit disertai eritema dan gatal,
b. Dapat ditemukan sisik pada tepi kulit
c. Nyeri
d. Terjadi penebalan (pembengkakan)
e. Infeksi di vagina menimbulkan rabas yang berwarna putih seperti
keju
f. Infeksi di mulut menimbulkan ulkus ulkus putih yang dikelilingi
eritema dan sangat nyeri

10

2.7.2 Infeksi Bakteri :


a. Perasaan tidak nyaman
b. Demam
c. Apnea
d. Sianosis
e. Takikardia
f. Penurunan berat badan
g. Muntah
h. Letargi, ruam, petekie
2.7.3 Infeksi Virus :
a. Demam
b. Malaise
c. Nyeri
d. Gatal
e. Kemerahan
f. Kerusakan integritas jaringan
2.8 Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostik yang bisa dilakukan, meliputi hal-hal berikut ini :
a. Tzanck Smear : mengidentifikasi virus tetapi tidak dapat membedakan
herpes zoester dan herpes simpleks.
b. Kultur dari cairan vesikel dan tes antibody : digunakan untuk membedakan
diagnosis herves virus.
c. Immuno fluorocestent : mengidentifikasi varisella di sel kulit.
d. Pemeriksaan histopatologik.
e. Pemeriksaan mikroskop electron.
f. Identifikasi antigen/ asamnukleat VVZ.
g. Deteksi antibody terhadapinfeksi virus. (Muttaqin Arif & Kumala Sari,
2012)
2.9 Penatalaksanaan
2.9.1 Infeksi Virus
1) Tujuan tatalaksana Varisela adalah meredakan rasa nyeri dan
mengurangi/menghindari komplikasi. Untuk penatalaksannannya
diantara lain adalah :
a. Terdapat infeksi sekunder diberikan antibiotik oral:
1. Dikloksasilin 12,5-50mg/kg/hari
2. Eritromisin stearat 4x250-500mg/hari.
3. Asiklovir sedini mungkin (dalam 1-3 hari pertama),
Dewasa: 5x800mg/hari (selama 7-10 hari), Anak :
20mg/kgBB/kali 800mg 4kali/hari (selama 5 hari)
b. Salep antibiotik: yang erosi diberikan salep sodium fusidat.
c. Nonfarmako : manajemen nyeri seperti, atur posisi fisiologis,
manajemen lingkungan, teknik relaksasi dan distraksi, dan
manajemen sentuhan.
2) Tujuan tatalaksana Herpes Zoester adalah untuk meredakan rasa
nyeri dapat mengurangi atau menghindari komplikasi. Rasa nyeri
dikendalikan dengan pemberian analgesic karena pengendalian
nyeri yang adekuat selama fase akut akan membantu mencegah
terbentuknya pola nyeri yang persisten.

11

Bila saraf oftalmikus cabang dari saraf trigeminus terkena,


maka harus dirujuk pada seorang dokter ahli penyakit mata karena
dapat terjadi perforasi kornea akibat infeksi tersebut.
a. Pemberian kortikosteroid sistemik dini dapat membantu
mencegah timbulnya neuralgia post-herpetika.
b. Asiklovir oral 800 mg 5 kali sehari selama 10 hari dapat
mempersingkat lama infeksi herpes zoester.
2.9.2 Infeksi Bakteri
1) Impetigo
a. Krim antibiotik : untuk pengobatan topical
b. Drainage: bula dan pustula ditusuk dengan jarum steril untuk
mencegah penyebaran local
c. Kompres larutan Sodium kloride 0,9%
d. Pengobatan sistemik (FK Unair, 2007)
e. Penisilin dan semisintetiknya (pilih salah satu)
1. Kloksasilin
2. Dikloksasilin
3. Fenoksimatil penisilin (penisilin V)
4. Eritromisin
5. Klindamisin
f. Manajemen nyeri keperawatan
2) Folikulitis
a. Ajarkan perawatan kebersihan diri
b. Hindari mencukur
3) Furunkel (bisul)
a. Kolaborasi pemberian analgesic
b. Manajemen nyeri keperawatan
c. Nekrotomi (bila perlu)
4) Karbunkel
a. Manajemen nyeri keperawatan
b. Kolaborasi pemberian analgesic
c. Kolaborasi pemberian antibiotik (preparat oral kloksasilin,
dikloksasilin, flukicksasilin, sefalosporin, eritromisin)
d. Ekstrasi dan drainase pus
5) Selulitis
a. Manajemen nyeri keperawatan
b. Kolaborasi pemberian analgesic
c. Kolaborasi pemberian antibiotik
6) Erisipelas
a. Manajemen nyeri keperawatan
b. Kolaborasi pemberian analgesik
c. Kolaborasi pemberian antibiotik
2.9.3 Infeksi Jamur dan Parasit
1) Tinea Pedis
a. Kolaborasi pemberian antifungus (mikonazol, klotrimazol)
b. Merendam kaki pada larutan normal saline (mengurangi
inflamasi)
2) Tinea Korporis

12

a. Meningkatkan higienis harian


b. Kolaborasi pemberian antifungus (ketokonazol, griseofulvin
oral)
3) Tinea Kapitis
a. Meningkatkan higienis harian
b. Kolaborasi pemberian antifungus (ketokonazol, griseofulvin
oral)
4) Tinea Kruris
a. Meningkatkan higienis harian
b. Kolaborasi pemberian antifungus (klotrimazol, mikonazol,
haloprogin, tolnaftat/tinactin)
5) Tinea Inguium
6) Skabies
a. Kolaborasi antibiotik (skabisida, malathion 5%)
b. Kolaborasi antihistamin (Muttaqin Arif & Kumala Sari, 2012).
2.10 Pencegahan Penularan
a. Menjelaskan pentingnya pengobatan antijamur. Pemberian antijamur
digunakan untu mengurangi invasi jamur pada kulit
b. Mengajarkan untuk selalu menjaga kekeringan pada kulit. Pasien
diberitahukan untuk memakai handuk dan lap wajah yang bersih tiap hari.
Semua daerah kulit dan lipatan kulit yang menahan air harus dikeringkan
dengan seksama karena infeksi jamur akan berkembang pada udara yang
panas dan lembab. Pakaian yang menyentuh kulit secara langsung (seperti
pakaian dalam) harus pakaian dari katun bersih.
c. Meningkatkan cara hidup sehat seperti intake makanan yang baik,
keseimbangan antara aktivitas dan istirahat, monitor status kesehatan dan
adanya infeksi. Meningkatkan system imun dan pertahanan tahap infeksi
d. Cuci seluruh tubuh sekali sehari dengan sabun antiseptik. Cuci tangan
beberapa kali sehari sebelum dan sesudah melakukan kegiatan. Hindari
berbagi handuk dengan anggota keluarga lainnya. Ganti pakaian dan
pakaian dalam secara teratur.
2.11 Komplikasi
2.11.1 Infeksi Jamur :
a. Muncul jaringan parut kulit atau alopesia akibat tinea kapitis
b. Lesi mulut yang nyeri dan menganggu makan dapat menjadi salah
satu penyebab turunnya berat badan pada psien AIDS
c. Infeksi jamur yang dalam (internal) dapat menyebabkan
morbiditas dan mortalitas yang bermakna
d. Infeksi permukaan dapat menjadi sekunder karena bakteri
2.11.2 Infeksi bakteri
a. Syok septic
b. Endokarditis
c. Osteomielitis
d. Vaskulitis, Abses otak
2.9.3 Infeksi virus
Jarang terjadi, tetapi 10 15 % kasus komplikasi terbanyak adalah
neuralgia pasca herpetic
BAB III

13

ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian
3.1.1 Anamnesa
Riwayat kesehatan dan observasi langsung memberikan infomasi
mengenai persepsi klien terhadap dermatosis. Tanyakan kepada
klien bagaimana kelainan kulit dimulai?, apa pemicu?, apa yang
meredakan atau mengurangi gejala?, termasuk masalah
fisik/emosional serta keluhan utama yang dialami klien. Serta
beberapa penyakit sistemik dapat termanifestasi pada sistem kulit,
seperti. Alergi terhadap terhadap makanan atau obat-obatan.
Biasanya pasien mengelu nyeri dan gatal-gatal.
3.1.2 Pemeriksaan Fisik
a. Kulit :
1. Warna = warna kulit dipengaruhi oleh ras. Tampak tangan
pasien menggaruk pada sisi lesi dimana pada area tersebut
terdapat sensasi gatal. Kulit abnormal diantaranya adalah :
Jaundice : kekuningan (pada penyakit hati)
Sianosis : kebiruan (gangguan perfusi, oksigen menurun?
Flushing : kemerahan disekitar kulit, sering ditemukan pada
daerah dataran tinggi
Pigmentasi yang tidak teratur
Untuk infeksi virus pada pemeriksaan fisik lokalis, lesi
menyebar di seluruh tubuh dimulai suatu vesikula dan akan
berkembang lebih banyak di seluruh tubuh.setelah 5 hari
kebanyakan lesi mengalami krustasi dan lepas dalam waktu13 minggu. Penyakit dianggap dapat menular sejak 4 hari
sebelumerupsi timbul sampai 5 hari sesudah erupsi timul.
Cirri khas infeksi virus pada vesikula adalah terdapat
bentukan umbilikasi (delle) yaitu vesikula di mana bagian
tengahnya cekung didalam.
Untuk infeksi bakteri pada pemeriksaan fisik, karakteristik
lesi adalah vesikel yang berkembang menjadi sebuah bula
kurang dari 1 cm pada kulit normal, dengan sedikit atau tidak
ada kemerahan disekitarnya. Awalnya vesikel berisi cairan
bening yang menjadi keruh.. hampir semua bula akan pecah.
Apabila bula pecah akan meninggalkan jaringan parut di
pinggiran.
Untuk infeksi jamur pada pemeriksaan fisik sering
didapatkan lesi pada bagian muka, leher, ekstremitas. Pada
bagian yang terinfeksi akan tampak lesi berbentuk cincin atau
lingkaran yang khas. Kelainan yang dapat dilihat diklinik
merupakan lesi built dan lonjong, berbatas tegas terdiri atas
eritema, skuama, kadang-kadang dengan vesikel dan papul di
tepi. Terkadang terdapat krusta akibat garukan.
2. Kelembapan = tingkat hidrasi kulit terhadap basah dan
minyak. Biasanya kering tanpa adanya suatu kegiatan. Terjadi
penurunan kelembapan pada lansia dan tidak adekuatnya

14

intake cairan. Kelembapan biasanya terdapat pada lipatan


paha dan axial.
3. Suhu = dikaji menggunakan dorsal tangan. Normal hangat
secara keseluruhan. Bila ada hipertermi atau hipotermi
bandingkan dengan bagian opposite.
4. Texture = susunan, palpasi tekstur kulit dengan menekan
secara lembut dengan ujung jari. Normal terasa halus, lembut
dan kenyal. Abnormal terasa bengkak atau atrofi.
5. Turgor = elastisitas kulit. Diukur dengan agak dicubit, berapa
lama kulit dan jaringan dibawahnya kembali ke bentuk
semula. Normal < 3 detik.
6. Edema = penumpukan cairan yang berlebih pada jaringan.
Area edema dipalpasi untuk menentukan konsistensi,
temperature, bentuk, mobilisasi. Pitting edema : area yang
diperiksa disamping kana atau kiri tibia, pergelangan kaki.
7. Odor = bau. Kulit normal tidak berbau. Bila ada pada bagian
axial, luka terbuka, adanya bakteri pada kulit, infeksi, hygine
tidak adekuat.
8. Lesi = lokasi, distribusi, ukuran, warna, adanya drainase.
b. Rambut.
Warna, ditribusi, bilateral, sesuai dengan perkembangan usia dan
sexual, tanda infeksi.
c. Kuku
Inpeksi : ketebalan, waran, bentuk, tekstur
Palpasi : CRT 3-5 detik.
3.1.3 Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan mikologis kerokan kulit
Pengambilan bahan dapat dengan kerokan biasa atau
dengan menggunakan cellotape yang ditempel pada lesi. Setelah
diambil, bahan diletakkan di atas gelas obyek lalu diteteskan
larutan KOH 20% atau campuran 9 bagian KOH 20% dengan 1
bagian tinta parker blueback superchrome X akan lebih
memperjelas pembacaan karena memberi tampilan warna biru yang
cerah pada elemen-elemen jamur.
1. Hasil positif:
Hifa pendek, lurus, bengkok (seperti huruf i, v, j) dan
gerombolan spora budding yeast yang berbentuk bulat mirip
seperti sphagetti with meatballs.
2. Hasil negatif:
Bila tidak ada lagi hifa, maka berarti bukan pitiriasis
versikolor walaupun ada spora.
d. Lampu Wood
Untuk membantu menegakkan diagnosis dan untuk
menentukan luasnya lesi dapat dilakukan pemeriksaan dengan
penyinaran lampu Wood pada seluruh tubuh penderita dalam kamar
gelap. Hasilnya positif apabila terlihat fluoresensi berwarna kuning
emas pada lesi tersebut.

15

e. Pemeriksaan darah, menunjukkan peningkatan jumlah sel darah


putih, eosinofil dan peningkatan laju sedimentasi eritrosit (Tucker,
1998:633).
f. Pewarnaan gram dan kultur pus atau bahan yang diaspirasi
diperlukan, menunjukkan adanya organisme campuran (Issebacher
1999:634).
g. Rontgen Sinus-sinus para nasal (selulitis perioribital).
h. Tzank smear
Tujuan : melihat multinucleated giant cell untuk virus dan
vesikobulosa
Cara pemeriksaan :
1. Bahan pemeriksaan diambil dari dasar vesikel dengan cara
dikerok
2. Oleskan pada kaca objek lalu fiksasi
3. Warnai dengan giemsa
4. Lihat dengan mikroskop
Hasil pemeriksaan : Herpes zostersel datia dengan inti akantolisis.
Vesikubulosasel Tzank
i. Kultur virus dari apusan dasar vesikel, spesimen biopsi, skraping
kornea.
j. Histopatologis
Histopatologi lesi kulit varisela zoster sama sel epidermis
(pada lapisan germinal dan bagian dalam stratum spinosum)
menunjukkan ballooning degeneration dengan hilangnya
intercellular bridges (akantholisis) yang nantinya akan dipisahkan
oleh edema interselular.
k. Pemerikasaan antigen dan antibodi
3.2 Diagnosis dan Intervensi Keperawatan
3.2.1 Diagnosis Keperwatan
a. Nyeri berhubungan dengan respons inflamasi local sekunder dari
kerusakan saraf perifer kulit
b. Kerusakan integitas jaringan kulit berhubungan dengan nekrosis
local sekunder dari akumulasi pus pada jaringan folikel rambut.
c. Hipertermi berhubungan dengan respons inflamasi sistemik sekunder
dari proses supurasi lokal.
d. Gangguan gambaran citra diri berbuhbungan dengan perubahan
struktur kulit.
e. Risiko terhadap penularan infeksi berhubungan dengan pemajanan
penularan kontak (langsung, tidak langsung, kontak dengan droplet)
f. Kebutuhan pemenuhan informasi berhubungan dengan tidak adekuat
sumber informasi, risiko penularan, ketidaktahuan program
perawatan dan pengobatan.
g. Kecemasan berhubungan dengan prognosis penyakit, kondisi sakit,
dan perubahan kesehatan.
3.2.2 Intervensi Keperawatan
Nyeri berhubungan dengan respons inflamasi local sekunder dari kerusakan
saraf perifer kulit
Tujuan : Dalam waktu 1 x 24 jam nyeri berkurang/jilamg atau teradaptasi

16

Kriteria evaluasi :
Secara sbyektif melaporkan nyeri berkurang atau dapat diadaptasi. Skala
nyeri 0-1 (0-4) ngidenti.
Dapat mengidentifikasi aktivitas yang meningkatkan atau menurunkan
nyeri
Pasien tidak gelisah
Intervensit
Rasional
Kaji nyeri dengan pendekatan PQRST
Menjadi
parameter
dasar
untuk
mengetahui sejauh mana intervensi
yang diperlukan dan sebagai evaluasi
keberhasilan dari intervensi manajemen
nyeri keperwatan
Jelaskan dan bantu pasien dengan Pendekatan dengan mengggunakan
tindakan pereda nyeri nonfarmakologi relaksasi dan nonfarmakologi lainnya
dan non-invansif
telah menunjukkan keefektifan dalam
mengurangi nyeri
Lakukan manajemen nyeri keperawatan
1. Posisi
fisiologis
akan
:
meningkatkan
asupan
O2
1. Atur posisi fisiologis
kejaringan yang mengalami
2. Istirahatkan pasien
iskemia
3. Manajemen
lingkungan
:
2. Istirahat
akan
menurunkan
lingkungan tenang dan batasi
kebutuhan O2 jaringan perifer
pengunjung
dan akan meningkatkan suplai
4. Ajarkan
teknik
relaksasi
darah pada jaringan yang
pernapasan dalam
mengalami peradangan
5. Ajarkan teknik distraksi pada
3. Lingkungan
tenang
akan
saat nyeri
menurunkan stimulus nyeri
6. Lakukan manajemen sentuhan
eksternal
dan
pembatasan
pengnjung akan membantu
meningkatkan
kondisi
O2
ruangan yang akan berkurang
apabila banyak pengunjung yang
berada diruangan
4. Meningkatkan
asupan
O2
sehingga menurunkan nyeri
sekunder dari iskemia jaringan
5. Distraksi (pengalihan perhatian)
dapat menurunkan stimulus
internal dengan mekanisme
peningkatan produksi endorphin
dan enkefalin yang dapat
memblok reseptor nyeri untuk
tidak dikirimkan ke korteks
serebri sehingga menurunkan
persepsi nyeri
6. Manajemen sentuhan pada saat
nyeri berupa sentuhan dukungan
psikologis dapat membantu
17

menurunkan nyeri. Masase


ringan dapat meningkatkan liran
darah dan dengan otomatis
membantu suplai darah dan
oksigen ke area nyeri dan
menurunkan sensasi nyeri
Tingkatkan pengetahuan tentang : Pengetahuan yang akan dirasakan
sebab-sebab nyeri dan menghubungkan membantu mengurangi nyerinya dan
berapa lama nyeri akan berlangsung
dapat
membantu
mengembangkan
kepatuhan pasien terhadap rencana
terapeutik
Kolaborasi pemberian analgesic
Analgesic memblok lintasan nyeri
sehingga nyeri akan berkurang
Hipertermi berhubungan dengan respons inflamasi sistemik sekunder dari
proses supurasi lokal
Tujuan : dalam aktu 1 x 24 jam perawatan suhu tubuh menurun
Kriteria evaluasi : suhu tubuh normal 36-37 C
Intervensi
Rasional
Monitor suhu tubuh pasien

Peningkatan
suhu
tubuh
yang
berkelanjutan pada pasien akan
memberikan komplikasi pada kondisi
penyakit yang lebih parah dimana efek
dari peningkatan tingakat metabolisme
umum dan dehidrasi akibat hipertermi.
Beri kompres dingin di kepala dan Memberikan respons dingin pada pusat
aksila
pengatur panas dan pada pembuluh
darah besar
Pertahankan tirah baring total selama Mengurangi
peningkatan
proses
fase akut
metabolism umum
Pertahankan asupan cairan minimal Selain sebagai pemenuhan hidrasi
2.500 ml sehari
tubuh, juga akan meningkatkan
pengeluaran panas tubuh melalui
system perkemihan, maka panas tubuh
juga dapat dikeluarkan melalui urine
Kolaborasi
pemberian
analgesic- Analgetik diperlukan untuk penurunan
antipiretik
respons nyeri , antipiretik diperlukan
untuk menurunkan panas tubuh dan
memberikan perasaan yang nyaman
pada pasien
Kerusakan integitas jaringan kulit berhubungan dengan nekrosis local
sekunder dari akumulasi pus pada jaringan folikel rambut.
Tujuan : Dalam 5 x 24 jam integritas kulit membaik secara optimal
Kriteria Evaluasi :
a. Pertumbuhan jaringan meningkat
b. Keadaan luka membaik
c. Pengeluaran pus pada luka tidak ada lagi

18

d. Luka menutup
Intervensi

Rasional

Kaji kerusakan jaringan lunak yang Menjadi data dasar untuk memberikan
terjadi pada klien
informasi intervensi perawatan luka,
alat apa yang akan digunakan dan jenis
balutan apa yang akan digunakan
Lakukan perawatan luka :
a. Perawatan luka denganperawatan
a. Lakukan perawatan luka dengan
luka dengan teknik steril dapa
baik dan teknik steril
mengurangi kontaminasi kuman
b. Kaji keadaan luka dengan
langsung ke area luka
teknik membuka balutan dengan b. Manajemen membuka luka dengan
mengurangi stimulus nyeri, bila
mengguyur larutan NaCl ke kasa
melekat kuat kasa diguyur
dapat mengurangi stimulus nyeri
dengan NaCl
c. Teknik pembuangan jaringan dan
c. Lakuakan pembilasan luka dari
kuman di area luka dan diharapkan
arah dalam keluar dengan cairan
keluar dari area luka
NaCl
d. NaCl merupakan larutan fisiologis
d. Tutup luka dengan kasa
yang lebih mudah diabsorpsi oleh
antimikroba
steril
dan
jaringan
dibandingkan
dengan
dikompres dengan NaCl
larutan antiseptic, serta dicampur
e. Lakukan nekrotomi
dengan antibiotic agar dapat
mempercepat penyembuhan luka
e. Jaringan nekrotik pada luka furunkel
akan
memperlambat
proses
epitelisasi jaringan luka sehingga
memperlambat perbaikan jaringan
Tingkatkan asupan nutrisi
Diet
TKTP
diperlukan
untuk
meningkatakn asupan dari kebutuhan
pertumbuhan jaringan
Evaluasi kerusakan jaringan dan Apabila masih belum mencapai dari
perkembangan pertumbuhan jaringan
criteria evaluasi 5x24 jam, maka perlu
dikaji ulang faktor-faktor menghambat
pertumbuhan luka
Gangguan gambaran citra diri berbuhbungan dengan perubahan struktur
kulit
Tujuan : dalam waktu 1 x 24 jam citra diri pasien meningkat
Kriteria evaluasi :
Mampu menyatakan atau mengkomunikasikan dengan orang terdekat
tentang situasi dan perubahan yang sedang terjadi
Mampu menyatakan penerimaan diri terhadap situasi
Intervensi
Rasional
Kaji perubahan dari gangguan persepsi
dan
hubungan
dengan
derajat
ketidakmampuan
Dukung perilaku atau usaha seperti
peningkatan minat atau partisipasi

Menentukan bantuan individual dalam


menyusun rencana perawatan atau
pemilihan intervensi
Pasien dapat beradaptasi dengan
perubahan dan pengertian tentang

19

dalam aktivitas
peran individu dimasa mendatang
Monitor gangguan tidur peningkatan Dapat mengindikasi terjadinya depresi
kondentrasi, letargi, dan withdrawl
yang umumnya terjadi dimana keadaan
ini memerlukan intervensi dan evaluasi
lebih lanjut
Kolaborasi untuk oemberian regimen Multi Drug Therapi (MDT) diberikan
MDT
selama 6-9 bulan dan diminum didepan
petugas
Risiko terhadap penularan infeksi berhubungan dengan pemajanan
penularan kontak (langsung, tidak langsung, kontak dengan droplet)
Tujuan : Resiko penularan berkurang
Kriteria Evaluasi :
a. Mengungkapkan kebutuhan untuk diisolasi sampai tidak menularkan
infeksi.
b. Menggambarkan cara penularan penyakit.
c. Memperagakan cuci tangan yang cermat selama perawatan di rumah sakit
Intervensi
Rasional
Identifikasi penjamu yang rentan
berdasarkan pada fokus pengkajian
terhadap faktor-faktor risiko dan
riwayat pemajanan.
Identifikasi cara penularan berdasarkan
pada agen-agen penginfeksi.
a. Melalui udara
b. Kontak
- Langsung
- Tidak langsung.
- Kontak dengan droplet.
c. Penularan melalui media makanan,
air, darah.
d. Penularan melalui 20ector (serangga,
hewan)
Amankan ruangan yang digunakan,
tergantung pada jenis infeksi dan
praktek 20ygiene dari orang yang
terinfeksi.

Mengetahui penjamu yang rentan


diharapkan dapat menhindari faktorfaktor resiko.
Mengetahui cara penularan dapat
mencegah dan intervensi secara dini
dan tepat

Meminimalisir resiko infeksi yang ada


diruangan tersebut

Ajarkan klien mengenai rantai infeksi


dan tanggung jawab pasien baik di
rumah sakit maupun di rumah.

Cuci seluruh tubuh sekali sehari dengan


sabun antiseptik. Cuci tangan beberapa
kali sehari sebelum dan sesudah
melakukan kegiatan. Hindari berbagi
handuk dengan anggota keluarga
lainnya. Ganti pakaian dan pakaian
dalam secara teratur
Kebutuhan pemenuhan informasi berhubungan dengan tidak adekuatnya
sumber informasi, ketidaktahuan program perawatan dan pengobatan

20

Tujuan : Terpenuhnya pengetahuan pasien tentang kondisi penyakit


Kriteria Evaluasi :
a. Mengungkapkan pengertian tentang proses infeksi
b. Tindakan yang dibutuhkan dengan kemungkinan komplikasi
c. Mengenal perubahan gaya hidup untuk mencegah terjadinya komplikasi
Intervensi
Rasional
Beritahukan pasien terdekat mengenai
dosis, aturan dan efek pengobatan

Informasi dibutuhkan untuk


meningkatkan perawatan diri, untuk
menambah kejelasan efektivitas
pengobatan, dan mencegah komplikasi
Jadwalkan kontrol ulang
Mengatur tindak lanjut kunjungan
dalam waktu 2 minggu untuk
memeriksa respons terhadap
pengobatan
Anjurkan untuk tidak memencet bisul
Apabila frunkel pecah, cairannya dapat
menyebar kuman ke sekitar kulit yang
normal
Jelaskan cara perawatn kebersihan diri
Menurunkan respons penularan infeksi.
Kebersihan pribadi yang baik, termasuk
mandi, mencuci tangan, serta menjaga
kuku pendek dan bersih dapat
mengurangi risiko folikulitis. Memakai
pakaian longgar daripada ketat
membantu mengurangi gesekan pada
kulit terutama folikel rambut.
Anjurkan aktivitas dan kegiatan untuk
Jika berlebihan berat badan, anjurkan
meningkatkan imunitas
untuk mengurangi berat badan dan
berolahraga secara teratur. Anjurkan
diet sehat seimbang dengan daging,
banyak buah, sayuran. Bila mengalami
kekurangan zat besi, anjurkan untuk
mengkonsumsi tablet zat besi agar
membantu peningkatan imunitas
Cuci seluruh tubuh sekali sehari dengan
sabun antiseptik. Cuci tangan beberapa
kali sehari sebelum dan sesudah
melakukan kegiatan. Hindari berbagi
handuk dengan anggota keluarga
lainnya. Ganti pakaian dan pakaian
dalam secara teratur
Kecemasan berhubungan dengan prognosis penyakit, kondisi sakit, dan
perubahan kesehatan.
Tujuan : Dalam waktu 1x24 jam kecemasan pasien berkuran
Kriteria Evaluasi :
a. Pasien menyatakan kecemasan berkurang
b. Mengenal perasaannya, dapat mengidentifikasi penyebab atau faktor yang
mempengaruhinya, kooperatif terhadap tindakan, wajah rileks

21

Intervensi
Kaji tanda verbal dan non verbal
kecemasan, damping pasien dan
lakukan tindakan bila menujukkan
perilaku merusak
Hindari konfrontasi
Mulai melakukan tindakan untuk
mengurangi kecemasan. Beri
lingkungan yang tenang dan suasana
penuh istirahat
Tingkatkan control sensasi pasien

Orientasikan pasien terhadap prosedur


rutin dan aktifitas yang diharapkan
Beri kesempatan kepada pasien untuk
mengungkapkan ansietasnya
Berikan privasi untuk pasien dan orang
terdekat

Kolaborasi :
Berikan anticemas sesuai indikasi,
contohnya diazepam

Rasional
Reaksi verbal/nonverbal dapat
menunjukkan rasa agitasi, marah dan
gelisah
Konfrontasi dapat meningkatkan rasa
marah, menurunkan kerja sama, dan
mungkin memperlambat penyembuhan
Mengurangi rangsangan eksternal yang
tidak perlu
Control sensasi pasien (dan dalam
menurunkan ketakutan) dengan cara
memberikan informasi tentang keadaan
pasien, menekankan pada penghargaan
terhadap sumber-sumber koping
(pertahanan diri) yang psitif, membantu
latihan relaksasi dan teknik-teknik
pengalihan, serta memberikan respons
balik yang positif
Orientasi dapat menurunkan kecemasan
Dapat menghilangkan ketegangan
kekhawatiran yang tidak diekspresikan
Member waktu untuk mengekspresikan
perasaan, menghilangkan cemas, dan
perilaku adaptasi. Adanya keluarga dan
teman yang dipilih pasien melayani
aktivitas dan pengalihan (misalnya:
mambaca) akan menurunkan perasaan
terisolasi
Meningkatkan relaksasi dan
menurunkan kecemasan

22

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Infeksi didefinisikan sebagai keberhasilan invasi, keberadaan, dan
pertumbuhan mikroorganisme pada pejamu atau di dalam jaringan pejamu,
yang mengakibatkan reaksi jaringan tertentu (Brooker, 2008). Gangguan pada
kulit sering terjadi karena berbagai faktor penyebab, antara lain yaitu iklim,
lingkungan tempat tinggal, kebiasaan hidup yang kurang sehat, alergi, dan
lain-lain. Penyakit kulit dapat disebabkan oleh jamur, virus, kuman, parasit
hewani dan lain-lain. Infeksi kulit di Indonesia masih sering dijumpai balk
infeksi yang disebabkan oleh bakteri, virus, maupun parasit dan jamur.
Sejumlah penyakit infeksi dapat dicegah melalui budaya hidup sehat, seperti
mencuci tangan. Hal yang sering disepelekan ini berdampak besar dalam
mencegah penularan penyakit. Kebiasaan hidup sehat juga bergantung sarana
sanitasi yang menjadi tanggung jawab negara.

23

DAFTAR PUSTAKA
1. Muttaqin Arif & Kumala Sari. 2012. Asuhan Keperawatan Gangguan
Sistem Integumen. Jakarta : Salemba Medika
2. Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofiologi . Jakarta : EGC
3. Schwartz, Seymour I. 2000. Intisari Prinsip Prinsip Ilmu Bedah.
Jakarta : EGC
4. Cecily Lynn Betz. 2009. Buku Saku Keperawatan Pediatri. Jakarta : EGC
5. Robbin Graham dan Brown Tony Burn. 2005. Lecture note Dermatologi
ed.8.Jakarta:Erlangga
6. Harahap, Mawarli. 1998. Ilmu Penyakit Kulit.Jakarta : Hipokrates
7. Le Mone, P & Burke, K. 2008. Medical surgical Nursing (critical
thinking in client care). New Jersey: pearson education
8. Lewis, S.M. et al. 2000. Medical-Surgical Nursing. Assesment and
Management of Clinical Problem. Missouri:Mosby Company
9. Smeltzer,S.C.dan Bare, B.G. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah Brunner & Suddarth. Edisi 8. Jakarta : EGC
10. Price S.A. dan Wilson L.M. 1995. Patofisiologi Konsep Klinis Prosesproses Penyakit. Edisi 4. Jakarta : EGC

24