Anda di halaman 1dari 29

MODUL ORGAN MENTAL-EMOSIONAL

Pasien Mengalami Kecelakaan Tetapi Tertawa Terbahak-Bahak

KELOMPOK VI
030.09.154
030.09.155
030.09.156
030.09.157
030.09.158
030.09.216
030.09.217
030.09.218
030.09.219
030.09.221
030.09.267
030.09.268
030.09.269

Michelle Jansye
M. Rifki Maulana
M. Fachri Ibrahim
Monica Raharjo
Muhamad Rosaldy
Runy Dyaksari
Ruri Eka Putri
Ruti Devi Permatasari
S Ratriazqi Rachmayanti
Salzabila
Widya Rahayu Arini Putri
Winda Indriati
Winda Setyowulan

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI JAKARTA


Jakarta, 14 May 2012
BAB I
PENDAHULUAN

Salam sejahtera kami ucapkan pada semua dosen dan terima kasih atas bimbingan yang
telah diberikan untuk mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti yang mengikuti
modul mental-emosional.
Pada tanggal 9 May 2012 telah dilakukan diskusi kelompok 6, kasus 3 sesi 1 yang
berlangsung selama 2 jam. Perwakilan mahasiswa yang menjadi ketua adalah M. Rifki Maulana
dan yang menjadi sekretaris Ruti Devi Permatasari. Perilaku peserta diskusi aktif, kontributif,
dan ikut berperan serta dalam jalannya diskusi. Topik diskusi kasus 4 ini ialah Tn.Ganda yang
mengalami kecelakaan motor dan dibawa ke UGD dengan kondisi marah-marah serta tertawa
terbahak-bahak. Hal-hal yang dibahas selama diskusi ialah analisis masalah, anamnesis yang
diperlukan, hipotesis yang mungkin pada pasien ini, pemeriksaan fisik, serta rencana
pemeriksaan penunjang. Tutor kami ialah Dr. Rudy Hartanto. Beliau membimbing kami dengan
baik sehingga kami bisa mengadakan diskusi yang terarah.
Pada tanggal 10 May 2012 telah dilakukan diskusi kelompok 6, kasus 3 sesi 2, di ruang
301 yang dimulai pada pukul 10.00 dan berlangsung selama 2 jam. Perwakilan mahasiswa yang
menjadi ketua adalah Muhamad Rosaldy dan yang menjadi sekretaris Winda Indriati. Perilaku
peserta diskusi aktif, kontributif, dan ikut berperan serta dalam jalannya diskusi. Hal-hal yang
dibahas selama diskusi meliputi pemeriksaan penunjang, diagnosis multiaksial, patofisiologi dari
penyakit yang dialami oleh pasien ini serta penatalaksanaan. Saat itu yang menjadi tutor adalah
Dr. Ida. Beliau membimbing kami dalam diskusi sehingga kami bias menentukkan diagnosis
multiaksial dan penatalaksanaan yang tepat untuk pasien ini.

BAB II
SKENARIO KASUS

2.1 SKENARIO 1
Tn.Ganda, 25 tahun, dimasukkan ke UGD RSU Trisakti dengan diantar oleh polisi setelah
mengendarai sepeda motornya menabrak pohon. Ia jatuh, dengan akibat hematoma pada kepala
daerah pelipis kiri, tetapi tidak pingsan. Di kamar tunggu, ia banyak bicara, marah-marah,
tertawa terbahak-bahak, gelisah, tremor kecil, dan berkeringat banyak. Penampilan dan status
gizi pasien baik.
1. Sebutkan problema Tn.Ganda!
2. Uraikan hipotesis dari problem pasien!
3. Bagaimana psikopatologi kasus Tn.Ganda?
Guiding questions:
a. Diantar oleh polisi, apakah ada masalah hukum?
b. Undang-undang apa yang mengatur mengenai Kesehatan dan Narkotika?
2.2 SKENARIO 2
Sejak remaja, Tn.Ganda sudah merokok dan kadang-kadang minum alkohol tapi tidak pernah
mabok. Sejak satu tahun yang lalu ia merokok ganja terutama pada malam hari libur. Pada
pemeriksaan fisik: tensi 150/170, nadi = 120, t = 36,5C, pupil melebar, konjugtiva merah. Ia
masih dapat bekerja biasa dan tidak ada masalah dalam pergaulan sosialnya.
4. Pemeriksaan apa yang masih dibutuhkan?
2.3 SKENARIO 3
Pemeriksaan Status Mental: Terdapat depersonalisasi dan dearilisasi, tetapi waham dan
halusinasi tidak ada.
Pemeriksaan diagnostik lanjut:
Pemeriksaan fisik umum: dalam batas normal
Pemeriksaan neurologis: tanpa defisit neurologis
EKG: normal
Pemeriksaan radiologi kepala: tidak ada kelainan
Laboratorium darah dan urin: normal, kecuali tetrahidrokanabiol positif
5. Apa diagnosis multiaksial dan penatalaksanaan holistik kasus Tn.Ganda?
2.4 SKENARIO 4
3

Perkembangan masa kanak dan remaja tidak ada kelainan yang berarti, hanya ia mengeluh
dididik oleh ayahnya terlalu keras dan disiplin. Setelah menginjak dewasa, ia menunjukan ciri
kepribadian yang sering bimbang, selalu tepat waktu, tertib dan sering berfikir berulang-ulang. Ia
tahu bahwa fikiran tersebut tidak rasional dan ingin menghilangkannya, tetapi akibatnya ia
menjadi gelisah. Sebelum tidur ia selalu mengunci pintu lima kali agar dapat tidur lebih nyenyak.
Kadang-kadang ia juga merasa sedih karena masalah pekerjaannya.
Diagnosis:

Aksis I:
Aksis II:
Aksis III:
Aksis IV:
Aksis V:

2.5 SKENARIO 5
Pasien belum pernah berobat ke psikiater, tapi beberapa kali berobat pada dokter umum dan
diberikan obat penenang dan obat tidur dengan tujuan agar lebih tenang dan tidur lebih
nyenyak.
Penatalaksanaan Tn. G
a. Rawat inap atau jalan?
b. Psikofarmaka: untuk kedaruratan dan sesudahnya
c. Psikososial: psikoterapi suportif dan lingkungan
6. Prognosis
Guiding questions:
a. Kriteria diagnostik intoksikasi kanabis?
Diagnosis banding dengan zat adiktif yang lain?
b. Neurofarmakologi apa yang terdapat pada pasien ini?
c. Hukum pidana apa yang terkait dengan pasien ini?
d. Pembuatan status psychiatricus yang leng
BAB III
PEMBAHASAN KASUS
3.1 IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn. Ganda

Umur

: 25 tahun
4

Jenis kelamin

: Laki-laki

Alamat

:-

Pendidikan

:-

Pekerjaan

:-

Agama

:-

Suku bangsa

:-

Status pernikahan

:-

3.2 MASALAH
Masalah yang dialami Tuan Ganda adalah sebagai berikut:

Diantar oleh polisi.


Hematoma kepala pada pelipis kiri.
Banyak bicara, marah-marah, tertawa terbahak-bahak, dan berkeringat banyak.

Masalah
Di antar oleh polisi

Pengkajian Masalah
Pasien diantar oleh

polisi,

bukan

keluarganya,

kemungkinan pasien terlibat masalah hukum. Dari


keluhan pasien ada kemungkinan bahwa pasien terlibat
dalam pelanggaran peraturan lalu lintas atau penggunaan
Hematoma pada pelipis kiri

obat-obatan yang terlarang.


Hematoma disebabkan oleh trauma yang dialami pasien.
Perlu

dilakukan

pemeriksaan

lebih

lanjut

untuk

mengetahui apakah ada perdarahan epidural/subdural


yang dapat menjadi fatal atau hanya suatu perdarahan
subgaleal.
Banyak bicara, marah-marah, Pada pasien ini terdapat mood yang labil dan afek yang
tertawa terbahak-bahak, gelisah, tidak sesuai. Perlu dilakukan pemeriksaan status mental
dan berkeringat banyak

lebih lanjut. Hal ini dapat disebabkan oleh gangguan


organik,

penyalahgunaan

zat,

psikosis,

maupun

derealisasi.
3.3 HIPOTESIS
Berdasarkan data awal yang kami dapat berupa pasien yang di antar polisi, sepeda motornya
menabrak pohon, jatuh dan ada hematoma pada pelipis kiri, pasien banyak bicara, marah-marah,
5

tertawa terbahak-bahak, gelisah, tremor kecil dan berkeringat banyak, maka kelompok kami
menetapkan hipotesis seperti berikut:
1. Gangguan mental organik akibat trauma: delirium traumatikum disertai oleh
perdarahan intrakranial seperti epidural hematoma atau subdural hematoma
Dasar hipotesis: Pasien motornya menabrak motor, jatuh, dan terlihat hematoma kepala pada
pelipis kiri.
Pada delirium traumatikum, permulaan penyakit di mulai saat pasien mulai sadar kembali
dari trauma yang menimpanya. Biasanya pada delirium traumatikum gejalanya hanya ringan
seperti lekas terangsang, pencerapan tidak jelas, tidak kenal orang, lekas lupa, tidak begitu
mengerti percakapan dan keadaan. Namun, bisa juga terdapat gejala yang lebih parah dimana
pasien tampak gelisah, marah-marah, agresif, dan mengalami halusinasi.
Hipotesis ini perlu dibuktikan dengan pemeriksaan penunjang seperti ronsen kepala maupun
CT-scan kepala untuk melihat apakah jaringan otak pasien terganggu akibat trauma. 1
2. Gangguan jiwa akibat penyalahgunaan zat: intoksikasi amfetamin, intoksikasi alkohol,
intoksikasi kanabis (ganja)
Dasar hipotesis: Pasien di antar oleh polisi, kemungkinan karena pasien telah melanggar
hukum dengan mengonsumsi alkohol maupun obat-obatan terlarang. Pada pasien dapat
ditemukan gejala gangguan jiwa seperti pasien banyak bicara, marah-marah, tertawa
terbahak-bahak, gelisah, tremor kecil dan berkeringat banyak.
Berikut ialah gejala masing-masing intoksikasi zat yang kami duga:
a. Intoksikasi amfetamin: Pada penderita dengan intoksikasi amfetamin, gejala berupa
perilaku agresif, terkikih-kikih, bodoh, bicara cepat, pikiran bingung, euforia, nafsu
makan tidak ada, kelelahan yang amat sangat, mulut kering, gemetar dan insomnia.
b. Intoksikasi alkohol: Pada penderita intoksikasi alkohol didapatkan adanya perubahan
perilaku atau mental yang maladaptif dan bermakna secara klinis (misalnya perilaku
agresif dan perilaku seksual yang kacau, perasaan yang labil, gangguan mengambil
keputusan, hendaya fungsi sosial, pekerjaan) yang terjadi saat penggunaan atau segera
setelah memakai zat. Juga bisa didapatkan gejala berikut yaitu slurred speech/ bicara
cadel, gangguan koordinasi, gaya berjalan sempoyongan, nistagmus, gangguan
perhatian atau daya ingat, serta stupor atau koma.
c. Intoksikasi kanabis: Nama lain dari kanabis ialah marijuana atau ganja. Pada
penderita dengan intoksikasi kanabis, di dapatkan gejala berupa euforia, lekas
mengantuk, suka melamun, pupil melebar, kurang koordinasi, dan nafsu makan
bertambah.
6

Untuk mengetahui apakah gejala yang timbul pada pasien ialah akibat penyalahgunaan zat
(intoksikasi), maka perlu dilakukan anamnesis lebih lanjut serta pemeriksaan lebih lanjut
yang dapat berupa pemeriksaan laboratorium darah dan urin. 1
3. Gangguan jiwa psikosis: skizofrenia
Dasar hipotesis: Pada pasien skizofrenia didapatkan pada pasien adanya gejala positif
skizofrenia, yaitu pasien marah-marah dan pasien tertawa terbahak-bahak.
Pada pasien ini, kecurigaan skizofrenia harus di buktikan dengan anamnesis apakah pada
pasien terdapat gejala-gejala lain skizofrenia. Juga ditanyakan berapa lama gejala skizofrenia
telah di alami oleh pasien, karena skizofrenia berlangsung dalam kurun waktu satu bulan atau
lebih. 1
3.4 ANAMNESIS
Anamnesis yang dilakukan kepada pasien pada kasus ini dapat dilakukan secara auto maupun
allo-anamnesis kepada polisi yang mengantar mengingat kondisi pasien yang tampak kurang
kooperatif.

Riwayat Penyakit Sekarang


-

Bagaimana posisi pasien saat terjadinya kecelakaan?

Apakah pasien merasa nyeri pada tempat lain?

Apakah ada keluhan lain seperti mual, muntah, demam, pusing?

Apakah ada pencetus atau stressor timbulnya gejala pada pasien?

Apakah pasien mengkonsumsi zat tertentu seperti alkohol atau obat-obatan atau
merokok?

Bila ya, sudah berapa lama pasien mengkonsumsinya?

Bagaimana tanggapan pasien mengetahui bahwa ia kecelakaan?

Apakah pasien mengendarai motornya dengan laju yang terlampau cepat?

Riwayat Medik Lampau

Apakah pasien pernah mengalami trauma pada daerah kepala sebelumnya?

Pengobatan apa yang pernah diterima pasien?

Riwayat Psikiatrik Lampau


-

Apa yang dirasakan pasien beberapa waktu terakhir ini?

Apakah pasien memiliki kepribadian tertentu/ perubahan kepribadian? Bila ya,


sejak kapan terjadinya?

Apakah pasien pernah di rawat atau berobat ke dokter sebelumnya?

Pengobatan apa yang telah diterima oleh pasien?

Apakah pasien mengalami trauma psikis atau peristiwa hidup yang penuh stres?

Bagaimana pandangan pasien terhadap dirinya?

Riwayat Perkembangan Sosial


-

Bagaiman riwayat kelahiran pasien?

Bagaimana perkembangan masa kecil pasien?

Bagaimana hubungan pasien dengan orang tuanya?

Bagaiman pola asuh orang tua pasien?

Bagaimana hubungan pasien dengan saudaranya (bila ada)?

Bagaimana pendidikan pasien?

Bagaimana hubungan pasien dengan lingkungan sosialnya? Pergaulannya?

Apa pekerjaan pasien?

Bagaimana perasaan pasien terhadap pekerjaannya dan lingkungan pekerjaannya?

Apa hobi atau kebiasaan pasien?

Apakah pasien pernah memiliki masalah dengan hukum atau catatan criminal
sebelumnya?

Apakah pasien sudah menikah atau mempunyai pasangan? Bagaimana hubungan


pasien dengan pasangannya?

Riwayat Keluarga
-

Apakah di keluarga pasien ada yang pernah menderita gangguan jiwa?

Apakah di keluarga pasien ada yang mengkonsumsi zat tertentu seperti alkohol
atau obat-obatan atau merokok? 2

3.5 STATUS MENTAL


Status Mental

Pengkajian Status Mental 3


1. Penampilan Umum:
Pasien laki-laki.
Dilihat apakah pasien terlihat lebih tua dari usianya atau sesuai

Gambaran
Umum

Mood dan Afek

dengan usianya.
Dilihat bagaimana pakaian dan tataan rambut pasien, apakah rapi

atau berantakan.
Tampak hematom di pelipis kiri pasien akibat benturan yang

terjadi saat kecelakaan motor.


2. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor:
Pasien banyak bicara.
Pasien marah-marah dan tertawa terbahak-bahak.
Pasien tampak gelisah dan tidak tenang.
Terlihat tremor kecil.
Pasien berkeringat banyak.
3. Sikap Terhadap Pemeriksa:
Sika terhadap pemeriksa kurang kooperatif.
4. Kesadaran: perlu dinilai.
1. Mood: Pasa pasien didapatkan mood yang labil dan euforia ditandai
oleh pasien yang marah-marah kemudian tertawa terbahak-bahak.
Mood yang labil: osilasi antara euforia dan depresi atau
kecemasan. Depresi dan kecamasan tampak sebagai marahmarah dan banyak berkeringat.
9

Euforia: elasi yang kuat dengan perasaan kebesaran. Pada pasien

ini tampak sebagai tertawa terbahak-bahak.


2. Afek: Pada pasien didapatkan afek yang tidak sesuai.
Afek tidak sesuai merupakan ketidakharmonisan antara irama
perasaan emosional dengan gagasan, pikiran, atau pembicaraan
yang menyertainya.
1. Depersonalisasi: suatu perasaan subyektif merasa tidak nyata, aneh,
Persepsi

atau tidak mengenali diri sendiri.


2. Derealisasi: suatu perasaan subjektif bahwa lingkungan adalah aneh
atau tidak nyata; suatu perasaan tentang perubahan realitas.
1. Bentuk Pikir: Bentuk pikir pasien kacau karena pasien tidak berpikir
logis, sistematis, dan pikirannya tidak informative.
Berpikir tidak logis: berpikir mengandung kesimpulan yang salah
atau kontradiksi internal.
2. Arus Pikir: Arus pikir pasien cepat ditandai dengan pasien banyak
bicara.
3. Proses Pikir: Proses pikir pasien cepat dan banyak. Perlu dicurigai

Pikiran

flight of ideas.
4. Isi Pikir: Tidak ada waham dan. Ditemukan obsesi dan kompulsi. Ini
karena pasien sering berfikir berulang-ulang, tidak dapat
dihilangkan, dan disertai kegelisahan. Selain itu, pasien juga perlu
mengunci pintu lima kali agar ia dapat tidur lebih nyenyak.
Obsesi: ketekunan yang patologis dari suatu pikiran atau
perasaan yang tidak dapat ditentang dan dihilangkan dari

kesadaran oleh usaha logika, yang disertai dengan kecemasan.


Kompulsi: kebutuhan yang patologis untuk melakukan suatu

impuls yang bila ditahan akan menyebabkan kecemasan.


1. Kewaspadaan: perlu dinilai.
2. Orientasi: perlu dinilai terhadap waktu, tempat, dan orang.
3. Daya Ingat: perlu dinilai. Pasien pasca kecelakaan biasanya
Sensorium dan
Kognitif

4.
5.
6.
7.

mengalami amnesia retrograde.


Konsentrasi dan Perhatian: perlu dinilai.
Kemampuan Membaca/Menulis/Visuospasial: perlu dinilai.
Pikiran Abstrak: perlu dinilai.
Kecerdasan: perlu dinilai.

10

Pengendalian
Impuls
Pertimbangan
dan Tilikan

Perlu dinilai.
1. Pertimbangan/Daya Nilai Sosial: perlu dinilai.
2. Tilikan/Daya Nilai Diri: perlu dinilai.

3.6 INTERPRETASI HASIL ANAMNESIS


Pada anamnesis didapatkan hasil sebagai berikut:
1. Pasien diantar polisi setelah mengendarai sepeda motor dan menabrak pohon.
Pasien diantar oleh polisi merupakan suatu masalah hukum. Kemungkinan yang terjadi
ialah pasien mengendarai motor dengan ugal-ugalan sehingga menyebabkan kecelakaan,
sehingga peristiwa tersebut harus ditangani oleh polisi sebagai suatu pelanggaran lalu
lintas. Dugaan selanjutnya ialah pasien mengalami kecelakaan karena kecerobohannya,
lalu pasien jatuh, kemudian masyarakat yang ada di sekitar lokasi kejadian
melaporkannya ke polisi. Untuk kemungkinan pertama nampaknya lebih kuat. Maka dari
itu, perlu dicari latar belakang terjadinya kecelakaan, karena ada hubungannya sama
koordinasi dan konsentrasi pasien sebagai pengendara.
2. Pada kecelakaan itu, mengakibatkan terdapat hematoma pada pelipis kiri dan
pasien tidak pingsan
Hasil anamnesis ini menunjukkan bahwa kesadaran biologis (kuantitas) pasien masih
baik karena pasien tidka mengalami pingsan, namun hal ini tidak memberikan pengaruh
pada kesadaran psikologisnya. Jika nanti ada gangguan pada kesadaran psikologis, berarti
dapat dieksplorasi keterangan tentang hal-hal apa saja yang dapat menyebabkan
gangguan itu sebelum terjadinya kecelakaan, misalnya pasien dipengaruhi zat-zat tertentu
selama berkendara atau pasien sedang mengalami gangguan psikiatrik tertentu.
3. Sejak remaja, pasien sudah merokok dan minum alkohol. Sejak satu tahun lalu,
pasien merokok ganja.
Didapatkan keterangan, pasien minum alkohol sejak remaja namun tidak sampai mabuk.
Pada satu tahun lalu pasien sudah mengkonsumsi ganja terutama malam hari libur. Ini
jelas bahwa pasien sudah terbiasa mengkonsumsi zat-zat adiktif. Pasien merokok ganja
terutama pada malam hari libur kemungkinan untuk merelaksasi kehidupan yang penuh
masalah.
11

Jika pasien didapatkan keterangan menggunakan ganja tepat sebelum mengendarai motor
maka hal ini dapat berhubungan dengan kejadian kecelakaannya, karena salah satu efek
penggunaan ganja secara psikomotorik ialah terutama pada pekerjaan kompleks, seperti
mengendarai mobil atau sepeda motor. Pada saat berkendara dibawah pengaruh ganja
terlihat gangguan pada perhatian/atensi, persepsi waktu dan kondisi, dan koordinasi
tangan dan mata. 4
4. Perkembangan masa kanak dan remaja sampai dewasa
Informasi yang berarti yang didapatkan saat perkembangan masa kanak dan remaja
pasien adalah pola asuh ayahnya yang terlalu keras dan disiplin, sehingga beranjak
dewasa pasien seperti sering bimbang, tertib, selalu tepat waktu. Pasien berfikir berulangulang walaupun ia tahu pikiran tersebut tidak rasional dan mau dihilangkannya, namun ia
malah jatuh pada kegelisahan; hal ini disebut sebagai suatu obsesi. Pasien juga suka
mengunci pintu lima kali agar dapat tidur lebih nyenyak; hal ini disebut sebagai suatu
kompulsi. Kadang ia juga merasa sedih karena masalah kerja namun ia masih dapat
bekerja biasa. Dari data ini kemungkinan pasien menujukkan suatu ciri kepribadian
Anankastik. Pada ciri kepribadian ini pasien preokupasi dengan hal rinci seperti peraturan
atau jadwal, perfeksionisme, teliti yang berlebihan, kaku dan keras kepala, pemaksaan
agar orang lain mengikuti caranya. Ciri kepribadian Anankastik erat kaitannya dengan
Gangguan Obsesif Kompulsif yang ditunjukan pada pasien ini dengan adanya kegiatan
pengulangan yang tidak menyenangkan dan hasil dari perbuatan (yang disadari itu)
memberi perasaan lega dari anxietas dan bukan kesenangan.
5. Beberapa kali diberi obat penenang dan obat tidur oleh dokter umum.
Pasien belum pernah ke dokter psikiatrik, namun beberapa kali diresepkan obat penenang
dan obat tidur oleh dokter umum. Usaha pasien ini diduga untuk mengurangi rasa gelisah
maupun cemas karena sifat obsesif dan kompulsif, atau mungkin menurunkan efek dari
pemakaian ganja. Tapi secara umum, gangguan obsesif kompulsif hanya akan
mendapatkan kesenangan semu setelah melakukan sesuatu yang berulang-ulang.
Artinya, ia hanya merasa lega namun kegelisahan tetap dipertahankan. Maka dari itu,
untuk membuat optimal rasa senangnya itu ia mungkin memilih diresepkan obat
penenang dan obat tidur agar lebih tenang dan tidur lebih nyenyak.

12

3.7 INTERPRETASI PEMERIKSAAN FISIK


Jenis
Pemeriksaan
Tanda Vital
Tekanan Darah
Nadi
Frekuensi
Pernapasan
Suhu
Wajah
Mata

Hasil
150/70mmHg,

Interpretasi

130/85 mmHg

Tekanan darah

120x/ menit
32x/ menit

60-100x/ menit
16-20x/menit

meningkat
Takikardia
Takipnue

36,50 C

36,50-37,20

Normal

Pupil

melebar, Normal,

konjungtiva
Pemeriksaan

merah
Tanpa

Neurologis

neurologis

Normal

konjungtiva Adanya dilatasi

tidak merah
defisit Tanpa defisit neurologis

pembuluh darah di
mata.
Normal,

tidak

ada

kelainan neurologis

Tekanan darah yang tinggi mungkin disebabkan oleh gangguan yang berhubungan dengan
zat, kanabis. Perubahan tekanan darah ini tergantung dari postur tubuh saat diperiksa.
Tekanan darah meningkat saat duduk dan menurun saat berdiri. 5

Nadi yang meningkat (takikardia) juga mungkin disebabkan karena gangguan yang
berhubungan dengan kanabis. Efek langsung dari penghirupan kanabis adalah peningkatan
nadi sebesar 20-50% dalam waktu beberapa menit sampai beberapa jam. 5

Takipnue yang terjadi dimungkinkan karena kompensasi dari kurangnya oksigen.


Pemeriksaan terhadap paru-paru harus lebih ditekankan mengingat pasien mempunyai
riwayat merokok dan menghirup ganja karena komplikasinya adalah bronkitis kronis (PPOK)
dan emfisema.

Pupil yang melebar (midriasis) dan konjungtiva yang merah ini disebabkan karena
adanya dilatasi pada pembuluh darah di mata karena efek dari gangguan yang berhubungan
dengan zat seperti kanabis, halusinogen, PCP, dan amfetamin. 3

Pemeriksaan fisik tambahan yang perlu dilakukan untuk pasien ini ialah:

13

Pemeriksaan GCS perlu dilakukan pada pasien untuk menilai kesadaran pasien. Keterangan
yang disediakan bahwa pasien tidak pingsan tidak menutup kemungkinan bahwa terjadi

penurunan kesadaran pada pasien.


Pemeriksaan thorax dalam hal ini pemeriksaan paru-paru dan jantung. Hal ini ditujukan
untuk melihat ada tidaknya komplikasi yang terjadi pada paru-paru seperti bronkitis kronis

(PPOK) dan emfisema, juga pada jantung yaitu risiko dari hipertensi dan penyakit jantung. 6
Pemeriksaan tenggorokan. Hal ini ditujukan untuk melihat ada tidaknya iritasi tenggorokan
pada pasien mengingat riwayat merokok dan menghirup ganja pada pasien. 6

3.8 INTERPRETASI PEMERIKSAAN TAMBAHAN


Pemeriksaan

Hasil Pemeriksaan

Penunjang
EKG

Normal

Radiologi

Tidak ada kelainan

Interpretasi

Belum terjadi komplikasi ke jantung akibat

penggunaan zat.
Tidak ada perdarahan intrakranial berupa

kepala

epidural

hematoma

atau

subdural

hematoma.

Gejala psikiatrik yang timbul pada pasien


tidak disebabkan oleh kelainan organik
(delirium traumatikum).

Hematoma yang terlihat pada kepala pelipis


kiri pasien merupakan suatu hematoma

Laboratorium

Tetrahidrokanabinol

subgaleal.
Memperkuat diagnosa intoksikasi kanabis.

darah dan urin

Konfirmasi dari anamnesis dimana pasien


telah mengakui menghirup ganja.

Pemeriksaan terhadap zat lain normal


menunjukkan
memakai

ganja

bahwa

pasien

hanya

saja

sebelum

terjadi

kecelakaan.
3.9 DIAGNOSIS MULTIAKSIAL + DIAGNOSIS BANDING

14

Pedoman diagnosis yang kamu gunakan ialah PPDGJ-III. Diagnosis multiaksial untuk
Tn.Ganda ialah sebagai berikut:
Aksis I : 1. Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Kanabinoida (F12)
-

Terdapat kriteria diagnosis intoksikasi kanabis (diambil dari DSM-IV), yaitu :

Baru saja menggunakan kanabis. Hal ini dapat dibuktikan pada pemeriksaan
laboratorium darah dan urin pasien ditemukan tetrahidrokanabinol positif.

Perilaku maladaptif atau perubahan psikologis yang secara klinis bermakna


yang berkembang selama, atau sesaat setelah, menggunakan kanabis. Pada
pasien ini terdapat gangguan koordinasi motorik yaitu tremor kecil, adanya
euphoria yang ditandai dengan pasien tertawa terbahak-bahak dan banyak
bicara.

Terdapat injeksi konjungtiva dan takikardi

Karena pada pasien ini terdapat derealisasi dan depersonalisasi, penambahan aksis I
ditambah dengan Intoksikasi akut dengan distorsi persepsi F12.04
2. Gangguan Obsesif-Kompulsif (F42)
-

Adanya tindakan kompulsif yang dilatar-belakangi perasaan takut terhadap bahaya


yang mengancam dirinya. Hal ini ditandai dengan adanya perilaku pasien yang selalu
mengunci pintu lima kali agar ia dapat tidur lebih nyenyak.

Ada gejala obsesif yaitu pikiran yang tidak berhasil dilawan dan disadari oleh pasien
sendiri

Pasien menghilangkan kecemasannya dengan perbuatan atau pikiran yang berulangulang. Pasien mengetahui bahwa pikiran dan perbuatannya tidak masuk akal, tetapi ia
tidak dapat menghilangkannya dan ia juga tidak mengerti mengapa ia mempunyai
dorongan yang kuat untuk berbuat dan berpikir demikian

Aksis II

: Tidak Ada Diagnosis Aksis II Z 03.2


Pada pasien ini tidak terdapat gangguan kepribadian karena belum adanya
hendaya. Tetapi, pasien ini memiliki ciri kepribadian anankastik yaitu perasaan
ragu-ragu atau bimbang, ketelitian berlebihan dan keterpakuan dan keterikatan
yang berlebihan pada kebiasaan sosial yang ditandai dengan kepribadian pasien
15

Aksis III

Aksis IV
Aksis V

yang selalu tepat waktu dan tertib.


: Cedera, keracunan dan akibat kausa eksternal (S00-T98)
Selain pasien mengalami intoksikasi dari penggunaan kanabinoida, ia juga
mengalami cedera berupa hematoma pada kepala daerah pelipis kiri yang
diakibatkan karena kecelakaan saat mengendarai sepeda motor.
: Masalah pekerjaan
: GAF 70 (Beberapa gejala ringan dan menetap, disabilitas ringan dalam fungsi,
secara umum masih baik)
Pasien masih dalam batas disabilitas yang ringan karena ia masih dapat bekerja
biasa. Tetapi kemungkinan hal itu bisa diatasi sendiri oleh pasien karena
konsumsi obat yang pernah diberikan dokter sebelumnya dengan tujuan agar
pasien dapat lebih tenang dan tidur lebih nyenyak sehingga disabilitas pasien
dalam pekerjaan masih bisa teratasi. 7

Kriteria diagnostik intoksikasi kanabis yang ditemukan dalam DSM-IV juga menjadi
pertimbangan kelompok kami. Kriteria diagnostiknya ialah:
A. Pemakaian kanabis yang belum lama.
B. Perilaku maladaptif atau perubahan psikologis yang bermakna secara klinis (misalnya,
gangguan koordinasi motorik, euforia, kecemasan, sensasi waktu menjadi lambat,
gangguan pertimbangan, penarikan sosial) yang berkembang segera, atau segera setelah,
pemakaian kanabis.
C. Dua (atau lebih) tanda berikut, berkembang dalam 2 jam pemakaian kanabis:
(1) Injeksi konjungtiva
(2) Peningkatana nafsu makan
(3) Mulut kering
(4) Takikardia
D. Gejala tidak disebabkan oleh kondisi medis umum dan tidak diterangkan lebih baik oleh
gangguan mental lain.
Sebutkan jika: dengan gangguan persepsi 3
3.10 UU DAN HUKUMAN TERKAIT
Karena pasien terbukti menggunakan kanabis/ ganja yang merupakan suatu zat terlarang makan
ia dapat dikenakan hukuman sesuai dengan yang diatur dalam Pasal 112 UU no.35 Tahun 2009
tentang narkotika yang berisi:
(1) Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum memiliki, menyimpan, menguasai,
atau menyediakan Narkotika Golongan I bukan tanaman, dipidana dengan pidana penjara
paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan pidana denda
paling sedikit Rp800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah) dan paling banyak
Rp8.000.000.000,00 (delapan miliar rupiah).
16

(2) Dalam hal perbuatan memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan Narkotika
Golongan I bukan tanaman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) beratnya melebihi 5
(lima) gram, pelaku dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara
paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda
maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah 1/3 (sepertiga).
Selain penyalahgunaan narkotika, pasien ini juga melanggar hukum berlalu-lintas yang diatur
dalam pasal 106 ayat 1 UU no.22 Tahun 2009:
(1) Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib mengemudikan
kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi.
3.11 PATOFISIOLOGI DAN NEUROFARMAKOLOGI
Pada hasil anamnesis didapatkan informasi bahwa pada riwayat perkembangan masa kanakkanak hingga remaja tidak terdapat kelainan yang berarti, namun pada masa dewasa pasien
sering mengeluh dididik oleh ayahnya yang terlalu keras. Semenjak itu pasien sering
menunjukkan kepribadian yang menunjukkan ciri kepribadian obsesif-kompulsif. Menurut
salah satu sumber, bahwa etiologi dari terbentuknya kepribadian obsesif kompulsif ialah
multifaktorial, antara lain faktor biologis (neurotransmitter dan genetik), faktor perilaku
dan faktor psikososial (faktor kepribadian, faktor psikodinamik dan lain-lain). 8

Pada hasil anamnesis juga didapatkan bahwa pasien terkadang merasa sedih memikirkan
masalah pekerjaannya. Mungkin hal ini, disertai oleh ciri kepribadian yang dimiliki oleh
pasien, menyebabkan pasien merasa tertekan dan cemas. Hal ini mungkin yang mendorong
pasien untuk mencari kelagaan melalui penggunaan rokok, konsumsi alcohol, dan
konsumsi ganja.

17

Pasien datang ke RS diantar oleh polisi karena mengalami kecelakaan sepeda motor dan
menabrak sebuah pohon. Hasil pemeriksaan yang dilakukan pada pasien menunjukkan bahwa
pasien mengalami depersonalisasi dan derealisasi disertai dengan mood yang labil (marah-marah
kemudian euforik) dan afek yang tidak sesuai dengan kondisinya. Selain itu juga didapatkan
gejala-gejala klinis seperti tremor kecil, takikardia, pupil melebar, konjungtiva merah, dan
berkeringat banyak. Temuan klinis pada pasien ini mungkin disebabkan oleh pengaruh zat
yang terkandung dalam kanabis yang dikonsumsi oleh pasien. Intoksikasi kanabis pada pasien
dipastikan melalui pemeriksaan urin yang menunjukkan tetrahidrokanabinol yang positif.

8-9

Skema berikut menunjukkan efek dari konsumsi kanabis yang terjadi pada pasien ini:

18

Berikut akan dijelaskan neurofarmakologi dari kanabis. Kanabis adalah nama singkatan untuk
tanaman Cannabis sativa. Semua bagian Cannabis sativa mengandung kanabinoid psikoaktif,
diantaranya yang paling banyak adalah (-)-9-tetra-hidrokanabinol (9-THC). Pada manusia,
9-THC dengan cepat diubah menjadi 11-hidroksi-9-THC, metabolit yang aktif di sistem
saraf pusat. Reseptor kanabinoid, anggota famili reseptor terkait protein G, berikatan dengan
protein G inhibitorik (Gi), yang berikatan dengan adenilil siklase secara inhibitorik. Reseptor
kanabinoid ditemukan dalam konsentrasi tinggi di ganglia basalis, hippokampus, dan
serebelum, dengan konsentrasi yang lebih rendah di korteks serebri. Reseptor kanabinoid tidak
ditemukan di batang otak, fakta yang konsisten dengan efek minimal kanabis terhadap
fungsi respirasi dan jantung. Studi pada hewan menunjukkan bahwa kanabis mempengaruhi
berbagai macam neuron dan neurotransmitter yaitu: neuron monoamine, neuron GABAnergik,
dan neuron dopaminergik di area tegmental ventralis. Neuron dopaminergik di area
tegmental ventralis merupakan pusat reward dari otak sehingga intoksikasi kanabis berhubungan
dengan timbulnya euforia. 3, 8
Intoksikasi kanabis dapat menimbulkan toleransi terhadapa kanabis serta ketergantungan
terhadap kanabis. Ketergantungan fisiologis kanabis tidak kuat dibandingkan dengan
19

ketergantungan psikologis zat kanabis. Bila kanabis dikonsumsi dalam bentuk rokok, efek
euforik terlihat dalam hitungan menit, memuncak kira-kira 30 menit, dan bertahan selama 2
sampai 4 jam. Beberapa efek motorik dan kognitif berlangsung selama 5 sampai 12 jam.
Konsumsi kanabis per oral harus sekitar 2-3 kali lipat agar potensinya dapat menyerupai
konsumsi kanabis dengan cara menghirup asapnya. Banyak variabel mempengaruhi sifat
psikoaktif kanabis, termasuk potensi kanabis yang digunakan, rute pemberian, teknik
penghirupan, efek pirolisis terhadap kandungan kanabinoid, dosis, situasi, pengalaman pengguna
sebelumnya, ekspektasi pengguna, serta kerentanan biologis pengguna yang unik terhadap efek
kanabinoid. 3, 8
3.12 PENATALAKSANAAN
Tatalaksana yang kami berikan untuk pasien ini ialah:
1. Rawat inap: Pasien dirawat inap karena mengalami intoksikasi kanabis. Salah satu
prinsip pengobatan intoksikasi kanabis ialah abstinensi yang bisa dicapai dengan
monitoring ketat pasien saat ia dirawat di rumah sakit. Pasien dirawat sampai gejala
fisik dan mental-emosional akibat intoksikasi kanabis hilang kemudian dirawat jalan.
Rawat jalan disertai oleh monitoring pasien melalui skrining obat dalam urin. 3
2. Penatalaksanaan emergensi: Pertama kali pasien datang diperiksa sesuai dengan ABC
yaitu Airway, Breathing, dan Circulation. Kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan
Disability atau trauma maupun cedera yang dialami pasien. Dalam hal ini status
neurologis pasien dan radiologis kepalanya normal dan pasien hanya mengalami suatu
hematoma subgaleal. Pemeriksaan dilanjutkan dengan observasi status neurologis pasien.
3. Farmakoterapi:

Untuk gangguan obsesif-kompulsif: Terapi standar untuk gangguan obsesifkompulsif ialah memulai dengan obat spesifik-serotonin seperti clomipramine
atau SSRI (serotonin-specific reuptake inhibitor) seperti flouxetine. Efek awalnya
biasanya terlihat setelah empat sampai enam minggu pengobatan, walaupun
biasanya diperlukan waktu 8-16 minggu untuk mendapatkan manfaat terapeutik
yang maksimum. Pada pasien ini diberikan clomipramine dosis awal 25 mg
sebelum tidur, dosis ditingkatkan 25 mg setiap 3 hari sampai dosis
20

maksimum 250 mg per hari. Bila efek samping timbul saat dosis ditingkatkan
maka dosis maksimum sampai timbulnya efek samping itu yang dipertahankan.
Efek samping dari clomipramine termasuk sedasi, hipotensi, disfungsi seksula,
dan efek samping antikolinergik seperti mulut kering. 10

Untuk intoksikasi kanabis: Karena pada pasien ini diduga penggunaan zat ialah
akibat perasaan tertekan dan cemas maka dapat diberikan antidepresan (lihat
cara pemberian clomipramine diatas). Bila timbul gejala putus kanabis maka
dapat diberikan antianxietas. 3

4. Terapi non-farmakologis/ psikososial: Terapi non-farmakologis untuk pasien ini


meliputi psikoterapi suportif dan terapi perilaku. Tentunya terapi farmakologis
dilaksanakan bila pasien sudah tenang, mood dan afeknya kembali normal, serta
kesadaran dan orientasinya baik.

Psikoterapi suportif: Tujuan dari psikoterapi ialah untuk memberikan dukungan


bagi pasien agar dia memiliki motivasi untuk berhenti menggunakan kanabis dan
alcohol. Pasien juga dididik untuk mengatasi masalah yang dialaminya tanpa
menggunakan zat-zat yang terlarang. Psikoterapi dapat dilakukan individual,
keluarga, atau kelompok (group therapy). Manfaat psikoterapi bagi pasien yang
obsesif-kompulsif ini juga dapat membantunya menyesuaikan diri dengan
lingkungan sosial dan kerjanya. 3, 10

Terapi perilaku: Terapi perilaku merupakan terapi terpilih untuk gangguan


obsesif-kompulsif. Tujuan dari terapi perilaku ialah memperbaiki perilaku yang
maladaptif. Terapi perilaku untuk pasien ini dapat dilakukan pada situasi rawat
inap maupun rawat jalan. 10

3.13 PROGNOSIS
Prognosis untuk pasien ini ialah dubia ini karena pasien sudah mengalami gangguan obsesifkompulsif yang sifatnya menetap namun di sisi lain disabilitas pasien belum berat karena ia
masih dapat bekerja biasa dan tidak mengalami masalah dalam pergaulan sosialnya.

21

BAB IV
STATUS PSIKIATRI
Hari/Tanggal: ..................
Rumah Sakit: UGD RSU Trisakti
I. Identitas Pasien
Nama
Umur
Jenis kelamin
Alamat
Pendidikan

: Tn. Ganda
: 25 tahun
: Laki-laki
:
:

Pemeriksa:

Pekerjaan
Agama
Suku bangsa
Status perkawinan

:
:
:
:

II. Riwayat Psikiatrik


1. Keluhan Utama
:
Mengalami kecelakaan tetapi tertawa terbahak-bahak.
2. Riwayat Penyakit Sekarang
:
Hematoma pada kepala daerah pelipis kiri et cause trauma kecelakaan sepeda motor.
3. Riwayat Medik Lampau
:
Konsumsi obat penenang dan obat tidur dari dokter umum.
4. Riwayat Psikiatrik Lampau
:
Belum pernah berobat ke psikiater. Kepribadian: sering bimbang, selalu tepat waktu, tertib. Sejak
dewasa, sering berfikir hal yang tidak rasional berulang-ulang, tidak dapat dihilingkan, disertai
gelisah. Tidak bisa tidur nyenyak bila tidak mengunci pintu lima kali. Sedih karena masalah
pekerjaan.
5. Riwayat Perkembangan Sosial :
Perkambangan masa kanak-kanak dan remaja baik. Pola asuh ayah terlalu keras dan disiplin.
Sejak remaja merokok dan mengkonsumsi alkohol tapi tidak pernah mabok. Sejak satu tahun lalu
merokok ganja. Pekerjaan biasa. Pergaulan sosial tidak ada masalah.
6. Riwayat Keluarga
:III. Status Mental
1. Gambaran umum
:
Pasien bernama Tn.Ganda, berusia 25 tahun, dan berjenis kelamin laki-laki. Penampilan pasien
baik, tampak sesuai usia, pakaian dan rambut rapi. Tampak hematoma pada kepala daerah pelipis
kiri pasien. Pasien banyak bicara, marah-marah, dan juga tertawa terbahak-bahak. Pasien tampak
gelisah, mengalami tremor kecil, dan banyak berkeringat. Sikap terhadap pemeriksa kurang
kooperatif. Penilaian kesadaran perlu dilakukan.
2. Mood dan Afek
:
Pada pasien didapatkan mood yang labil, pada suatu waktu pasien merasa cemas dan gelisah dan
kemudian menjadi euforik. Afek pasien tidak sesuai dengan keadaanya.
3. Persepsi
:

22

Pada pasien dapat ditemukan depersonalisasi dan derealisasi. Gangguan persepsi berupa
halusinasi tidak ditemukan.
4. Pikiran
:
Bentuk pikiran pasien tidak logis, arus pikir cepat, dan proses pikir banyak. Pada pasien
ditemukan kelainan isi pikir berupa obsesi dan kompulsi. Kelainan isi pikir berupa waham tidak
ditemukan.
5. Sensorium dan Kognitif
6. Pengendalian Impuls
7. Pertimbangan dan Tilikan

:::-

IV. Pemeriksaan Diagnostik Lanjut


1. Pemeriksaan Fisik Umum
:
Pemeriksaan tanda vital menunjukkan hipertensi grade I (JNC VII), takikardia, takipnue.
Pemeriksaan mata didapatkan mata pasien midriasis dan injeksi konjungtiva positif. Pemeriksaan
fisik organ lain dalam batas normal.
2. Pemeriksaan Neurologis
:
Pemeriksaan neurologis pada pasien menunjukkan bahwa tidak ada defisit neurologis.
3. Pemeriksaan Laboratorium
:
Pemeriksaan laboratorium pada pasien dalam batas normal kecuali ditemukan tetrahidrokanabinol
yang positif.
4. Pemeriksaan Penunjang Lain :
Pemeriksaan EKG dan radiologi kepada yang dilakukan pada pasien menunjukkan hasil yang
normal.

V. Ikhtisar Penemuan Bermakna


Sejak kecil pasien dididik oleh ayahnya secara keras dan disiplin. Sejak remaja pasien sudah
mulai merokok dan mengkonsumsi alkohol walaupun tidak pernah mabok. Sejak beranjak dewasa, pasien
memiliki ciri kepribadian yang sering bimbang, selalu tepat waktu, dan terbit. Ia juga sering berfikir
berulang-ulang walaupun pikiranya tidak rasional. Pasien ingin menghilangkan pikiranya yang juga
mengakibatkan dirinya menjadi gelisah. Sebelum tidur pasien harus mengunci pintu 5 kali agar ia dapat
tidur nyenyak. Ia sudah beberapa kali berobat ke dokter umum dan diberikan obat penenang dan obat
tidur agar ia dapat tidur lebih nyenyak. Pasien dapat bekerja biasa tapi mengaku sering sedih akibat
masalah pekerjaanya. Sejak setahun yang lalu pasien mulai merokok ganja terutama pada malam hari
libur. Sekarang pasien dibawa oleh polisi ke UGD RSU Trisakti setelah mengalami kecelakaan sepeda
motor. Hasil pemeriksaan status mental ialah mood pasien labil (kadang euforik, kadang gelisah dan
marah-marah), afeknya tidak sesuai, serta terdapat derealisasi, depersonalisasi, obsesi, dan kompulsi.
Pemeriksaan fisik menunjukan peningkatan tekanan darah, denyut jantung, dan laju pernafasan. Selain itu

23

ditemukan midriasis, injeksi konjungtiva, dan hematom pada daerah pelipis kiri kepala. Pemeriksaan
penunjang ditemukan tetrahidrokanabinol positif.
VI. Diagnosis Multiaksial

Aksis I

: 1. Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Kanabinoida (F12)


2. Gangguan Obsesif-Kompulsif (F42)

Aksis II

: Tidak Ada Diagnosis Aksis II

Aksis III
Aksis IV
Aksis V

: Cedera, keracunan dan akibat kausa eksternal (S00-T98)


: Masalah pekerjaan
: GAF 70 (Beberapa gejala ringan dan menetap, disabilitas ringan dalam fungsi,
secara umum masih baik)

VII. Penatalaksanaan
1. Rawat inap
2. Penatalaksanaan emergensi: ABCD.
3. Farmakoterapi: Clomipramine dosis awal 25 mg sebelum tidur, ditingkatkan 25 mg setiap 3 hari
sampai dosis maksimum 250 mg per hari.
4. Terapi psikososial. Psikoterapi suportif dan terapi perilaku.

BAB V
TINJAUAN PUSTAKA
4.1 GANGGUAN OBSESIF KOMPULSIF
Istilah obsesi menunjuk pada suatu idea atau bayangan mental yang mendesak ke dalam pikiran
secara berulang. Pikiran atau bayangan obsesif dapat berupa kekhawatiran yang biasa tentang
apakah pintu sudah dikunci atau belum, sampai fantasi yang aneh dan menakutkan tentang
bertindak kejam terhadap orang yang disayangi.
Istilah kompulsi menunjuk pada dorongan atau impuls yang tidak dapat ditahan untuk melakukan
sesuatu. Sering suatu pikiran obsesif mengakibatkan suatu tindakan kompulsif. Tindakan
kompulsif dapat berupa berulang kali memeriksa pintu yang sudah terkunci, kompor yang sudah
mati atau menelepon orang yang dicintai untuk memastikan keselamatannya. Sebagian orang
sangat terdorong untuk berulang kali mencuci tangan setiap beberapa menit atau menghabiskan
sangat banyak waktu untuk membersihkan sekelilingnya dengan tujuan untuk mengurangi rasa
takut akan kontaminasi.
Terdapat beberapa persamaan antara obsesi dan kompulsi:
24

1. Suatu pikiran atau dorongan mendesak ke alam sadar secara gigih dan terus menerus.
2. Timbul perasan takut yang hebat dan penderita berusaha untuk menghilangkan pikiran
atau dorongan itu.
3. Obsesi dan kompulsi itu dirasakan sebagai asing, tidak disukai, tidak dapat diterima,
tetapi tidak dapat ditekan.
4. Pasien tetap sadar akan gangguan ini, ia tetap mengenal bahwa hal ini tidak wajar dan
tidak rasional, biarpun obsesi atau kompulsi itu sangat hebat.
5. Pasien merasakan suatu kebutuhan yang besar untuk melawan obsesi dan kompulsi itu.
Individu menghilangkan kecemasannya dengan perbuatan atau buah pikiran yang berulang
ulang. Pasien mengetahui bahwa perbuatan dan pikirannya itu tidak masuk akal, tidak pada
tempatnya atau tidak sesuai dengan keadaan, tetapi ia tidak dapat menghilangkannya dan ia juga
tidak mengerti mengapa ia mempunyai dorongan yang begitu kuat untuk berbuat dan berpikir
demikian. Bila ia tidak menurutinya, maka akan timbul kecemasan yang hebat.
Lebih dari separuh pasien gangguan obsesif kompulsif (GOK) mempunyai pikiran obsesif
tanpa perilaku kompulsif yang ritualistik. GOK sring menyertai depresi atau gangguan anxietas
lain. Ada bukti bukti yang menunjukkan bahwa gejala akan membaik dengan waktu dan
hampir separuhnya akan pulih atau hanya menderita gejala yang ringan.
Terdapat juga beberapa gangguan yang bisa merupakan bagian dari, atau dengan kuat
dihubungkan dengan, spektrum GOK, termasuk:

Gangguan dismorfik tubuh (Body Dysmorphic Disorder). Pada gangguan ini orang
terobsesi dengan keyakinan bahwa mereka buruk rupa atau abgian tubuh mereka

berbentuk tidak normal.


Trikhotilomania. Orang dengan trikhotilomania terus menerus mencabuti rambut mereka

sehingga timbul daerah daerah botak.


Sindrom Tourettes. Gejala sindrom Tourettes meliputi gerakan yang pendek dan cepat, tik
dan ucapan kata kata kotor yang tak terkontrol. 1

4.2 INTOKSIKASI KANABIS


Kanabis adalah nama singkat untuk tanaman rami Cannabis sativa. Semua bagian dari tanaman
mengandung kanabioid psikoaktif. Tanaman kanabis biasanya dipotong, dikeringkan, dipotong
kecil kecil, selanjutnya digulung menjadi rokok (biasanya disebut joints), yang selanjutnya
dihisap seperti rokok. Nama yang umum untuk kanabis adalah mariyuana, grass, pot, weed, tea,
25

dan Mary Jane. Nama lain untuk kanabis yang menggambarkan tipe kanabis dalam berbagai
kekuatan, adalah hemp, chasra, bhang, ganja, dagga, dan sinsemilla. Bentuk kanabis yang paling
poten berasal dari ujung tanaman yang berbunga atau dari eksudat resin yang dikeringkan dan
berwarna cokelat hitam yang berasal dari daun, yang disebut sebagai hashish atau hash. Efek
euphoria dari kanabis telah dikenali selama beribu ribu tahun. Efek medis yang potensial dari
kanabis sebagai analgesik, antikonvulsan, dan hipnotis telah dikenali pada abad ke 19 dan ke
20.
Diagnosis dan Gambaran Klinis
Efek fisik yang paling sering dari kanabis adalah dilatasi pembuluh darah konjunctiva (yaitu
mata merah) dan takikardia ringan. Pada dosis tinggi, hipotensi ortostatik dapat terjadi.
Peningkatan nafsu makan seringkali disebut sebagai pengunyah dan mulut kering adalah efek
intoksikasi kanabis yang sering lainnya. Belum pernah dicatat secara jelas kasus kematian yang
disebabkan oleh intoksikasi kanabis saja, yang mencerminkan tidak adanya efek dari zat pada
kecepatan pernapasan. Rfek merugikan potensial yang paling serius dari penggunaan kanabis
berasal dari inhalasi hidrokarbon karsinogenik yang sama sama ditemukan dalam tembakau
konvensional, dan beberapa data menyatakan bahwa penggunaan kanabis yang berat berada
dalam risiko mengalami penyakit pernafasan kronis dan kanker paru paru. Praktik menghisap
rokok yang mengandung kanabis sampai sangat habis, yang disebut lipas (roach), meningkatkan
lebih lanjut asupan tar (yaitu materi partikel). Banyak laporan menyatakan bahwa penggunaan
kanabis jangka panjang berhubungan dengan atrofi cerebral, kerentanan kejang, kerusakan
kromosom, defek kelahiran, gangguan reaktivitas kekebalan, perubahan konsentrasi testosteron,
dan disregulasi siklus menstruasi, tetapi laporan tersebut belum secara pasti ditegakkan, dan
hubungan antara efek tersebut dengan penggunaan kanabis adalah tidak pasti.
Intoksikasi Kanabis
DSM IV meresmikan criteria diagnostik untuk intoksikasi kanabis. Kriteria diagnostik
menyebutkan bahwa diagnosis dapat diperkuat dengan kalimat dengan gangguan persepsi. Jika
tes realitas yang intak tidak terdapat, diagnosis adalah gangguan psikotik akibat kanabis.
Intoksikasi kanabis sering kali menonggikan kepekaan pemakai terhadap stimuli eksternal,
mengungkapkan perincian yang baru, menbuat warna warna tampak lebih terang daripada
26

sebelumnya, dan erlambatan waktu secara subjektif. Pada dosis tinggi, pemakai mungkin juga
merasakan depersonalisasi dan derealisasi.
Keterampilan motorik terganggu oleh pemakaian kanabis, dan gangguan pada keterampilan
motorik tetap ada sete;ah efek euphoria dan subjektif telah menghilang. Selama 8 sampai 12 jam
setelah menggunakan kanabis, pemakai mengalami suatu gangguan keterampilan motorik yang
mengganggu operasi kendaraan bermotor dan mesin mesin berat lainnya. Selain itu, efek
tersebut adalah aditif dengn efek alcohol, yang sering kali digunakan dalam kombinasi dengan
kanabis.
Pengobatan
Pengobatan pemakaian kanabis terletak pada prinsip yang sama dengan pengobatan
penyalahgunaan substansi lain, abstinensia dan dukungan. Abstinensia dapat dicapai melalui
intervensi langsung, seperti perawatan di rumah sakit, atau melalui monitoring ketat atas dasar
rawat jalan dengan menggunakan skrining obat dalam urine, yang dapat mendeteksi kanabis
selama tig hari sampai empat minggu setelah pemakaian. Dukungan dapat dicapai dengan
menggunakan psikoterapi individual, keluarga, dan kelompok. Pendidikan harus merupaan inti
untuk program abstinensia dan dukungan, karena pasien yang tidak mengerti alas an intelektual
untuk mengatasi masalah penyalahgunaan substansi menunjukkan sedikit motivasi untuk
berhenti. Untuk beberapa pasien suatu obat antiansietas mungkin berguna untuk menghilangkan
gejala putus zat jangka pendek. Untuk pasien lain penggunaan kanabis mungkin berhubungan
dengan gangguan depresi dasar yang mungkin berespons dengan terapi antidepresan spesifik. 3

27

BAB VI
KESIMPULAN
Pasien, Tn. Ganda, 25 tahun diantar oleh polisi setelah karena menabrak pohon saat ia
mengendarai motor. Terdapat hematoma pada kepala daerah pelipis kiri. Pada anamnesis
didapatkan bahwa pasien merokok ganja sejak satr tahun lalu dan terkadang meminum alkohol.
Pada pemeriksaan status mental terdapat depersonalisasi dan dearilisasi. Pada pasien diduga
terdapat ciri kepribadian Anankastik yang erat hubungannya dengan gangguan obsesif
kompulsif, karena pada anamnesis pasien menjelaskan bahwa ia dididik terlalu keras dan disiplin
oleh ayahnya dan pada saat dewasa ia selalu tepat waktu, tertib dan sering berfikir berulangulang. Pada pemeriksaan juga ditemukan adanya tekanan darah dan nadi yang meningkat dan
juga

midriasis.

Hal

tersebut

merupakan

efek

dari

penggunaan

kanabis.

Adanya

tetrahidrokanabinol yang positif pada urin dapat dapat membantu penegakkan diagnosis
intoksikasi kanabis.
Dengan hasil anamnesis dan pemeriksaan-pemeriksaan yang dilakukan, maka diagnosis
Axis I pasien adalah Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Kanabinoida dan
Gangguan Obsesif-Kompulsif.
Pengelolaan pasien ini meliputi perawatan emergensi (ABC), pemberian obat spesifikserotonin untuk menangani gangguan obsesif kompulsif, dan antidepresan untuk intoksikasi
kanabis. Selain diberikannya farmakoterapi, perlu juga dilakukan psikoterapi dan terapi perilaku
pada pasien. Prognosis pada pasien adalah dubia, karena pasien sudah mengalami gangguan
obsesif-kompulsif yang sifatnya menetap namun disabilitasyang dialami masih ringan
Sekian penjelasan kami mengenai hasil diskusi kasus pertama. Akhir kata kami ucapkan
terima kasih kepada tutor pembimbing dan para narasumber yang kemudian akan menilai
makalah dan presentasi kami. Kritik dan saran akan kami jadikan pembelajaran untuk diskusi,
pembuatan makalah, ataupun seminar selanjutnya. Semoga ilmu yang dipelajari dapat berguna.

28

BAB VII
DAFTAR PUSTAKA
1. Maramis WF, Maramis AA. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. 2nd ed. Surabaya: Airlangga
University Press; 2009. P.369-83.
2. Bickley LS, Szilagyi PG. Bates Guide to Physical Examination and History Taking. 10th
ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2009. p.118.
3. Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. Sinopsis Psikiatri: Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri
Klinis, Jilid 1. Jakarta: Binarupa Aksara Publisher; 2010. p.470, 475, 587-9, 640-46.
4. Armentano P. Cannabis and Driving: A Scientific and Rational Review. Available at:
http://norml.org/library/item/cannabis-and-driving-a-scientific-and-rational-review. Last
accessed May 11, 2012.
5. Hall W, Degenhardt L, Lynskey M. The Health and Psychological Effects of Cannabis
Use. Available at:
http://www.health.gov.au/internet/main/publishing.nsf/Content/5A648B4BA51D4891CA
25703400033ED6/$File/mono44.pdf. Last cccessed May 11, 2012.
6. Health Science Centre. The Harmful Effects of Marijuana. Available at:
http://www.hsc.mb.ca/addictions/Media/Harmful%20Effects%20of%20Marijuana.pdf.
Last accessed May 11, 2012.
7. Maslim R. Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III. Jakarta: PT Nuh
Jaya; 2001.
8. Muttaqin H, Sihombing RNE. Kaplan & Sadock Buku Ajar Psikiatri Klinis. 2nd ed.
Jakarta: EGC; 2010. p.111-2, 248-9.
9. Genen L. Cannabis Compound Abuse. Available at:
http://emedicine.medscape.com/article/286661-overview. Last accessed May 11, 2012.
10. Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. Sinopsis Psikiatri: Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri
Klinis, Jilid 2. Jakarta: Binarupa Aksara Publisher; 2010. p.65-7.

29