Anda di halaman 1dari 57

FILUM ARTHROPODA

MAKALAH
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Keanekaragaman Hewan
Yang dibina oleh Dr. Hj. Sri Endah Indriwati M.Pd
disajikan pada Hari Rabu, 10 Februari 2016

Oleh:
Kelompok 4/Offering A
Dinar Ajeng Nur Aziza

(140341605926)

Fina Mustika Dewi

(140341601824)

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


UNIVERSITAS NEGERI MALANG
JURUSAN BIOLOGI
Februari 2016

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kelompok 4 panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah yang
berjudul Filum Arthropoda dengan tepat waktu.
Pada kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Hj.
Sri Endah Indriwati M.Pd selaku dosen pembimbing matakuliah Keanekaragaman
Hewan Universitas Negeri Malang dan teman-teman Biologi Of A 2014 yang telah
berpartisipasi dalam menuntaskan makalah ini.
Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah

ini masih jauh dari

sempurna. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun demi perbaikan makalah ini di masa yang akan datang. Akhir kata kami
mengucapkan terima kasih.

Malang, Februari 2016

Penyusun,

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..........................................................................................i
DAFTAR ISI........................................................................................................ii
DAFTAR GAMBAR...........................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang..........................................................................................1
B. Rumusan Masalah.....................................................................................2
C. Tujuan Penulisan.......................................................................................2
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A.
B.
C.
D.
E.

Ciri Umum Filum Arthropoda...................................................................3


Struktur Tubuh Hewan Filum Arthropoda.................................................4
Proses Fisiologis dalam Tubuh Arthropoda...............................................6
Klasifikasi Filum Arthropoda....................................................................8
Peranan dari Hewan Filum Arthropoda ....................................................32

BAB III PENUTUP


A. Simpulan...................................................................................................33
B. Saran.........................................................................................................34
DAFTAR RUJUKAN...........................................................................................35

ii

DAFTAR GAMBAR

Gambar

2.1:

Fosil

Trilobita

......................................................................................................7
Gambar

2.2:

Nymphon

sp..............................................................................................................9
Gambar
2.3:Eurypterus.................................................................................................................
10
Gambar

2.4:

Tubuh

bagian

dorsal

dan

ventral

dari

Limulus

sp ....................................................11
Gambar

2.5:

Anatomi

laba-

laba.....................................................................................................12
Gambar

2.6

Kalajengking............................................................................................................14
Gambar

2.7:

Tardigrada................................................................................................................15
Gambar

2.8:

Linguatula ................................................................................................................16
Gambar

2.9

Anatomi

Onychoporan............................................................................................18
Gambar

2.10

Peripatus...............................................................................................................20
Gambar 2.11:
Milipedes.............................................................................................................22
Gambar 2.12: Struktur Internal Lobster..
...27
Gambar 2.13: Belalang
Betina......................................................................................................29

Gambar 2.14: Kaki


Belalang..........................................................................................................32
Gambar 2.15: Struktur Dalam Belalang
Betina.............................................................................35
Gambar 2.16: Metamorphosis Holometabola Pada KupuKupu.......36
Gambar 2.17: Metamorphosis
Hemimetabola.......36
Gambar
2.18:
Diloboderus
abderus

..

42
Gambar 2.19: Xenos sp..
..42
Gambar 2.20: Paporna
refucens........43
Gambar 2.21 : Molanna
cinereai......44
Gambar 2.22 : Calpodes
Ethlius...44
Gambar 2.23: Morfologi Dosophila
melanogaster45
Gambar

2.24

Nematus..

....46
Gambar 2.25: Scutigerella .
...47
Gambar

2.26:

Paurpus ..................................................................................................................47
Gambar

2.27:

Peran

Menguntungkan

dari

Arthropoda.48
Gambar

2.28:

Peran

Merugikan

Arthropoda..49
BAB I

dari

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kata Arthropoda dari bahasa Yunani yaitu Arthros berarti sendi (ruas)
danPodos berarti kaki. Jadi arthropoda adalah hewan yang mempunyai kaki bersendisendi (beruas-ruas). Hewan ini banyak ditemukan di darat, air tawar, dan laut, serta
didalam tanah. Hewan ini juga merupakan hewan yang paling banyak jenis atau
macam spesiesnya, lebih kurang 75% dari jumlah keseluruhan spesies hewan di dunia
yang telah diketahui (Setiati, 2012:87).
Arthropoda dalah filum yang paling luas pada kingdom Animalia. Filum ini
terdiri dari tiga-perempat lebih dari semua yang diketahui jenisnya. Sekitar 900.000
spesies arthropoda telah diidentifikasi. Namun, berdasarkan survey yang telah
dilakukan dihutan hujan, ternyata spesies yangn belum dikenal berjumlah sangat
tinggi (Hickman et al, 2001 : 132).
Arthropoda lebih luas dan lebih padat penyebarannya ke seluruh seluruh
wilayah bumi daripada anggota dari filum lainnya. Mereka ditemukan di semua jenis
lingkungan dari kedalaman laut rendah sampai sangat tinggi, dan dari daerah tropis
utara dan wilayah kutub selatan. Arthropoda dapat hidup di air tawar, laut, tanah, dan
praktis semua permukaan bumi dipenuhi oleh spesies ini. Arthropoda mungkin satusatunya yang dapat hidup di Antartika dan liang-liang batu terjal di pegunungan yang
tinggi. Semua anggota filum ini mempunyai tubuh beruas-ruas dan kerangka luar
yang tersusun dari kitin. Rongga tubuh utama disebut hemocoel. Hemocoel terdiri
dari sejumlah ruangan kecil yang dipompa oleh jantung. Jantung terletak pada sisi
dorsal dari tubuhnya. Sistem saraf anthropoda seperti pada annellida, terdapat bagian
ventral tubuh berbentuk seperti tangga tali (Hickman et al, 2001 : 132).
Contoh anggota filum ini antara lain kepiting, udang, serangga, laba-laba,
kalajengking, kelabang, dan kaki seribu, serta spesies-spesies lain yang dikenal hanya
berdasarkan fosil. Sifat hidup Arthropoda bervariasi, ada yang menguntungkan dan
ada juga yang bersifat parasit (Kastawi et al, 2003 : 212).
1

1.2 Rumusan Masalah

1.
2.
3.
4.

Bagaimana ciri-ciri umum anggota filum Arthropoda?


Bagaimana anatomi dan morfologi anggota filum Arthropoda?
Bagaimana klasifikasi anggota filum Arthropoda?
Apa peran hewan anggota filum Arthropoda?

1.3 Tujuan
1.
2.
3.
4.

Mengetahui ciri-ciri umum anggota filum Arthropoda


Mengetahui anatomi dan morfologi anggota filum Arthropoda
Mengetahui klasifikasi anggota filum Arthropoda
Mengetahui peran hewan anggota filum Arthropoda

BAB II
KAJIAN TEORI
2.1 Ciri Umum Filum Arthropoda

Kata Arthropoda berasal dari bahasa Yunani (arthros = ruas, podos = kaki),
dapat diartikan bahwa Arthropoda merupakan hewan yang memiliki ciri, yaitu kaki
beruas, berbuku, atau bersegmen (segmen tersebut juga terdapat di tubuh). Tubuh
Arthropoda merupakan simetris bilateral dan tergolong triploblastik selomata. Jumlah
spesies anggota filum ini adalah terbanyak dibandingkan dengan filum lainnya yaitu
diperkirakan lebih dari 1.000.000 spesies. Contoh anggota filum ini antara lain
kepiting, udang, serangga, laba-laba, kalajengking, kelabang, dan kaki seribu, serta
spesies-spesies lain yang dikenal hanya berdasarkan fosil. Habitat hewan-hewan
Arthropoda adalah di air dan di darat. Di air dapat mencapai kedalaman lebih dari
6000 meter, sedangkan di daratdapat mencapai ketinggian 7000 meter. Sifat hidup
Arthropoda bervariasi, ada yang menguntungkan dan ada juga yang bersifat parasite
(Kastawi et al, 2003).
Menurut Kastawi (2003) ciri umum yang dimiliki anggota filum Arthropoda adalah:
a. Tubuh simetri bilateral, terdiri atas segmen-segmen yang saling berhubungan
dibagian luar dan memiliki tiga lapis germinal sehingga merupakan hewan
triploblastic
b. Tubuh memiliki kerangka luar dan dibedakan atas kepala, dada, sertaperut yang
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

terpisah atau bergabung menjadi Satu.


Setiap segmen tubuh memiliki sepasang alat gerak atau tidak ada.
Respirasi dengan menggunakan paru-paru buku,trachea atau keduanya.
Ekskresi dengan menggunakan tubulus Malpighi atau kelenjar koksal.
Saluran pencernaan sudah lengkap,terdiri atas mulut, usus dan anus.
Sistem peredaran darah berupa sistem peredaran darah terbuka.
Sarafnya merupakan sistem saraf tangga tali
Berkelamin terpisah, fertilisasi secara internal dan bersifat ovipar
4
Perkembangan individu baru terjadi secara langsung atau melalui stadium larva.

2.2 Anatomi dan Morfologi Filum Arthropoda


2.2.1 Pembagian Tubuh
3
Moyang Arthropoda kemungkinan seperti Annelida yang memiliki dinding
tubuh berotot dan tubuh tidak terbagi menjadi daerah tertentu. Pada Crustacea,
Insecta, Chilopoda dan Diploda tubuh dibedakan menjadi 3 daerah yang jelas yaitu
kepala, dada,dan abdomen atau kepala dan dada bergabung menjadi cefalotoraks.
Chelicerate biasanya memiliki sebuah cefalotorak atau prosoma dan sebuah abdomen
atau opisthosoma yang terdiri atas gabungan mesosoma dan metasoma. Ukuran dan

jumlah segmen setiap pembagian tubuh tersebut berbrda didalam kelompok dan
berhubungan erat dengan lingkungan dan aktivitas setiap spesies.
2.2.2 Saluran Pencernaan
Saluran pencernaan terdiri atas 3 daerah. Usus depan atau stomodeum dan
usus belakang atau proctodeum merupakan daerah ectodermal dan dilapisi dengan
khitin. Usus tengah mungkin berasal dari mesoderm tidak dilapisi khitin. Panjang,
diameter dan pembagian saluran pencernaan antar spesies berbeda, tergantung
kebiasaan makan spesies tersebut (Kastawi et al, 2003)
2.2.3 Rongga Tubuh
Rongga tubuh Arthropoda bukan coelom sebenarnya, tapi terisi dengan darah
sehingga dikenal sebagai homocoel. Coelom sebenarnya hanya ada pada masa
embrioyang berupa rongga yang terletak didalam segmen mesodermal.sedangkan
pada saat hewan dewasa, coelom sebenarnya terbatas untuk rongga dari organ-organ
reproduksi dan organ ekskresi tertentu.
2.2.4 Sistem saraf
Arthropoda memiliki sebuah otak dan rangkaian saraf ventral yang pendek.
Otak terdiri atas beberapa pasang ganglion yang berfusi bersama. Otak dibedakan
atas beberapa bagian yang dikenal sebagai otak depan,otak tengah dan otak
belakang.tali saraf ventral biasanya terdiri atas sejumlah masa jaringan saraf dan
masing-masing terdiri atas beberapa pasang ganglion.

2.2.5 Eksoskeleton
Eksoskeleton merupakan lapisan pelindung tubuh yang keras dan kaku berupa
lapisan kutikula. Lutikula tersusun atas khitin dan protein yang disekresi oleh
selepidermis (atau hypodermis). Kutikula dapat dibedakan atas epikutikula (lapisan
terluar, tipis) dan prokutikula (lebih tebal). Epikutikula tidak memiliki zat kitin dsan
bersifat tipis, sehingga memungkinkan lalu lintas air dan udara. Senyawa penyusun
epikutikula adalah protein dan zat lilin yang berfungsi menghambat kehilangan air.
Lapisan prokutikula dapat dibedakan menjadi eksokutikula (lapisan luar) dan
endokutikula (lapisan dalam).kedua lapisan ini tersusun atas zat kitin dan protein
yang membentuk senyawa glikoprotein kompleks. Namun, pada eksokutikula
ditambah zat tannin sehingga lebih keras, sedangkan endokutikula tidak.

Kutikula arthropoda juga bertanggung jawab untuk warna spektakuler yang


berfungsi untuk kamuflase, warna pengenalan, dan peringatan.warna-warna yang
dihasilkan oleh arthropoda dihasilkan dari pigmen dan struktur kutikula. Warna
coklat, merah, oranye dan kuning dihasilkan dari penumpukan pigmen didalam
eksokutikula. Sedangkan warna hijau, ungu dan biru akibat adanya striasi yang baik
pada epikutikula sehingga menyebabkan reflaksi cahaya yang memberi penampakan
cahaya tersebut. Jika eksoskeleton Arthropoda diiris melintang maka terlihat adanya
saluran pori dan saluran zat lilin yang melewati endokutikula menuju permukaan
kutikula. Pada beberapa bagian kutikula juga mengalami modifikasi menjadi
bermacam-macam reseptor sensori sehingga memungkinkan hewan arthropoda
mengetahui kondisi lingkungan.
Adanya eksoskeleton menghalangi pertumbuhan arthropoda.oleh karena itu,
arthropoda secara periodic mengganti kutikula saat mereka tumbuh. Proses
penggantian kutikula lama disebut molting atau ekdisis. Serangga mengalami
beberapa kali molting sampai mereka berkembang menjadi dewasa.sedangkan
Arthropoda lain,misalnya laba-laba mengalami molting berkali-kali dengan jumlah
tidak tentu, baik saat juvenil maupun dewasa. Proses molting berkaitan untuk
6

pertumbuhan jaringan atau otot. Pemicu terjadinya molting adalah hormone ekdison
yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin, misalnya kelenjar protoraks.
Hormon ekdison akan diedarkan melalui aliran darah dan bekerja secara
langsung terhadap sel-sel epidermis. Hormone ini akan menyebabkan lapisan
epidermis memisah dari kutikula lama dan mulai mensekresikan epikutikula baru.
Selanjutnya epidermis mulai mensekresi cairan molting yang mengandung enzim
protease dan khitinase. Pada dasarnya enzim tersebut tidak mencerna eksokutikula,
epikutikula baru, saraf dan persendian, tapi hanya berfungsi mencerna endokutikula.
Akibar dari keadaan tersebuthewan masih tetapdapat bergerak semampunya. Hasil
dari proses tersebut digunakan untuk menghasilkan kutikula baru. Setelah
endokutikula lama terpisan dari epikutikula baru, epidermis mensekresi prokutikula
baru.prokutikula baru tersebut kemudian terdeferensiasi menjadi eksokutikula dan
endokutikula baru. Eksokutikula lama akhirnya lepas pada saat arthropoda
membesarkan tubuhnya. Tempat sobeknya kutikula yaitu dibagian kepala, kemudian

diikuti tubuh bagian belakang dan akhirnya hewan bisa keluar dari kutikula lama
(Kastawi et al, 2003 : 216).
2.3 Klasifikasi Arthropoda
Menurut Engemann dan Hegner (1981) filum Arthropoda dibagi menjadi
empat sub-filum yaitu Trilobita (sudah punah), Chelicerata, Onychophora, dan
Mandibulata.
2.3.1 Sub-Filum Trillobita
Anggota filum Trilobita merupakan Arthropoda laut yang primitive dan sangat
melimpah pada masa Paleozoic, terdiri atas 4000 spesies. Tubuh berukuran 10-678
mm, terbagi oleh dua alur yang memanjang menjadi tiga cuping. Tubuh dilindungi
oleh cangkang bersegmen yang keras. Kepala jelas, terdiri atas empat segmen tubuh
yang berfusi, memiliki sepasang antenula, empat pasang apendik biramus dan
7
sepasang matamajemuk (Kastawi et al, 2003: 218)
Torak terdiri atas 2 sampai 29 somit abdominal berfusi pada keping kaudal
atau pygidium. Semua somit kecuali yang terakhir memiliki nggota tubuh biramus
terdiri atas kaki jalan sebelah dalam dan kaki jalan sebelah luar membawa filament
yang kemungkinan berfungsi sebagai organ respirasi. Perkembangan hewan ini terdiri
atas tiga stadium larva yaitu pronauplius (protapsis) merupakan stadium larva
pertama.,stadium kedua adalah merapsis dicirikan bahwa tubuh menjadi lebih jelas.
Stadium akhir adalah larva holaspis dengqn ciri penampakannya seperti hewan
dewasa.

Gambar 2.1: Fosil Trilobita


(Sumber : Hickman et al, 2001: 378 )
2.3.2 Sub-Filum Chelicerata
Umumnya hewan terrestrial, hidup bebas, berukuran kecil, dan umumnya
banyak ditemukan pada lingkungan kering daripada ditempat lain. Beberapa anggota
hewan ini memiliki kelenjar racun dan gigi racun atau taring yang berfungsi
membunuh Insektadan hewan kecil lainnya yang merupakan makanannya (Kastawi et
al, 2003 : 220).
Ciri-ciri umum dari subfilum Chelicerata adalah :
a. Tubuh dibedakan atas dua bagian yaitu cefalotorak (prosoma) dan abdomen
(episthosoma). Memiliki 6 pasang apendik yaitu kelisera, pedipalpus, dan 4
pasang kaki yang semuanya terletak pada cefalotorak. Tidak memiliki antenna
8
atau mandibular.
b. Bagian-bagian mulut dan saluran pencernaan utamanya untuk fungsi penusuk,

beberapa diantaranya memiliki kelenjar racun.


c. Respirasi menggunakan paru-paru buku, trachea, atau insang.
d. Ekskresi dengan menggunakan tubulus Malpighi atau kelenjar koksal, atau
keduanya.

e. Sistem saraf terdiri atas ganglion dorsal (sebagai otak),dan tali saraf ventral yang
memiliki pasangan ganglia. Mata biasanya sederhana dan berpasangan., pada
permukaan tubuh memiliki rambur taktil.
f. Berkelamin terpisah, lubang kelamin berjumlah satu (atau dua) yang terletak
pada anterior abdomen. Fertilisasi internal, utamanya bertelur, perkembangan
langsunga atau melalui fase larva.
g. Hidup terrestrial dan hidup soliter, yang lainnya hidup bebas dan bersifat
predator atau parasitic.
h. Ukuran tubuh anggota ini bervariasi dari yang memiliki panjang tubuh hanya 0,5
mm (kelompok tungau) sampai yang terpanjang 500 mm (20 in) yaitu limulus.
Kebanyakan kelisera yang dimiliki oleh anggota sub filum ini mempunyai
ruas tungkai tambahan yaitu oatella yang letaknya diantara femur dan tibiaa. Tungkaitungkai tersebbut biasanya tidak bercabang yang artinya tidak ada eksit atau
eksopodit (Borror, et al, 1992 : 135). Menurut Kastawi (2005), anggota subfilum ini
terdiri atas lima kelas, yaitu kelas Pycnogonoidea, kelas Merostomata. Kelas
Arachnoidea, kelas Tardigrada , dan kela Pentastomoidea .
A. Kelas Pycnogonidea
Anggota kelas ini habitatnya dilaut, biasanya disebut laba-laba laut. Hewan ini
memiliki 4 mata dan kaki panjang yang mendominasi sebagian besar tubuh. Sekitar
600 spesies Pynogonidea memiliki 4 pasang kaki yang panjang tetapi sebagian kecil
spesies memiliki 5 atau 6 pasang kaki. Setiap kaki terdiri atas 9 segmen. Pada
beberapa spesies apabila kakinya direntangkan dapat mencapai panjang 70 cm,
namun yang khas panjangnya kurang dari 1 cm. berkelamin terpisah dan hewan
jantan dari beberapa spesies memiliki sepasang kaki tambahan yang disebut kaki
ovigerous yang berfungsi mengumpulkan dan mengerami telur yang telah dibuahi.
Hewan ini biasanya berada disekitar porifera, hydroid,karang lunak, Anemon, dan
remis. Dengan menggunakan proboscisnya, hewan ini memakan bagian yang lunak
dari hewan-hewan disekitarnya. Pencernaan terjadi di sel mukosa dari saluranh
pencernaan. Saluranh ini bercabang sampai ke ujung kaki. Spesies Pycnogonidea
tidak memiliki sistem respirasi atau ekskresi (Kastawin et al, 2003 : 221).

Gambar 2.2 Nymphon sp


(Sumber : Hickman et al, 2001: 378 )

2.3.2.2 Kelas Merostomata


Mesrostomata berasal dari kata mero yang berarti bagian dan stomata yang
artinya mulut (Borror, et al, 1992: 135). Ciri khas anggota kelas Merostomata adalah
bersifat akuatik, tubuh dibedakan atas cefalotorak (prosoma) dan abdomen.
Cefalotorak membawa sapasang mata majemuk dan sepasang mata sederhana atau
ocelli. Di abdomen terdapat apendik berpasangan yang membawa insang dan sebuah
duri panjang (telson). Kelas Merostoma dibedakan menjadi 2 subkelas yaitu
Eurypterida dan Xiphosurida (Kastawi et al, 2003 : 222). Subkelas Eurypterida hidup
selama jaman paleozoikum, dari periode Kambrium sampai periode Karbon (Borror,
et al, 1992 : 135). Anggota subkelas ini telah punah sekitar 250 juta tahun yang lalu.
Dari fosil yang ditemukan diketahui bahwa hewan ini bentuknya seperti kalajengking,
memiliki cefalotorak yang kecil dan abdomen tersusun atas12 segmen. Arthropoda
terbesar dijumpai pada kelas ini dengan panjang tubuh sekitar 2 meter. Contoh hewan
ini adalah Eurypterus, Pterygotus, dan Stylonurus.

10

Gambar 2.3 Eurypterus


(Sumber : Hickman et al, 2001: 378 )
Anggota kelas ini yang hidup sampai sekarang adalah 3 genus kepiting sepatu
kuda dari subkelas Xiphosurida, antara lain Xiphospura (Limulus). Mimi/Mituna,
atau Limulus sp adalah hewan laut dan sangat umum terdapat disepanjang pantai
Atlantik dari Maine sampai teluk Meksiko. Mimi mudah dikenali dengan kelopak
bulat telur yang khas dan ekor berbentuk duri (Borror, et al, 1992 : 136). Pada saat
musim semi hewan ini datang ke pantai untuk reproduki. Hewan betina menggali
pasir dan meletakkan beberapa ratus telur yang berwarna kehijauan. Satu atau lebih
hewan jantan yang ukuran tubuhnya lebih kecil dari hewan betina mengikuti,
selanjutnya melepaskan sperma diatas telur sebelum hewan betina menutup telur
tersebut. Beberapa minggun kemudian telur menetas dan keluarlah larva
trilobita.penamaan ini diberikan karena ciri morfologinya mirip dengan moyangnya.

11

Gambar 2.4 Tubuh bagian dorsal dan ventral dari Limulus sp


(Sumber : Hickman et al, 2001: 378 )
B. Kelas Arachnida
Anggota kelas ini antara lain laba-laba, kalajengking dan tungau.Hewanhewan tersebut tidak memiliki antenajuga rahang sesungguhnya.Tubuh memiliki
sebuah cefalotorak dan abdomen, serta pasangan pertama apendik adalah kelisera
(Kstawi, 2003, 223).Selama iniArachbida merupakan kelas paling penting dan
tersebar

dari Chelicerata. Kebanyakan peneliti mengenali 11 kelompok penting

Arachnida, yaitu ordo Scorpiones, Palpigradi, Uropygi, Schizomida, Amblypugi,


Aranaeae, Ricinulei, Opiliones, Acari, Pseudoscorpoiones, dan Solifugae (Borror, et
al, 1992 : 137).
a) Laba-laba
Tubuh laba-laba terdiri atas cefalotoraks yangtidak terbagi dan abdomen yang
biasanya lunak, dan tidak bersegmen. Pada cefalotoraks terdapat 6 pasang apendiks.
Antena tidak ada, sehingga fungsi sensori dikerjakan oleh kaki jalan. Pasangan
pertama apendik disebut kelisera dan pada beberapa spesies terdiri atas dua bagian
yaitu mandibular (terletak dibagian basal) dan kuku (dibagian ujung). Sekresi dan
kelenjar racun bermuara pada kelisera, dapat membunuh insecta dan menyebabkan
sakit pada hewan besar. Pasangan kedua apendik adalah pedialpus, dengan bagian
dasar yang disebut maksila yang berfungsi untuk memotong makanan. Pada hewaqn

12

jantan, pedialpus memiliki fungsi tambahan sebagai organ kopulasi (Kastawi et al,
2003: 223).

Gambar 2.5: Anatomi laba-laba


(Sumber : Hickman et al, 2001: 379 )
Terdapat empat pasang kaki yang terletak dibelakang pedialpus. Setiap kaki
terdiri atas pedipalpus. Setiap kaki terdiri atas 7 bagian yaitu koksa, trochanter, femur,
patella, tibia, metatarsus, tarsus dan berakhir dengan 2 cakar dan juga terdapat rambut
yang membantu laba-laba bergantung pada dinding. Dasar dari kaki tertentu kadang
berfungsi sebgai rahang. Abdomen dihubungkan dengan cefalotoraks melalui pedikel.
Mendekati akhir ujung abdomen pada permukaan ventral terdapat lubang kelamin,
yang dilindungi oleeh sepasang apendik yang berfusi bersam membentuk suatu
lempeng disebut epigium. Berdekatan dengan epigium terdapat lubang berbentuk
celah yang merupakan lanjutan organ respirasi atau paru-paru buku. Beberapa labalaba juga memiliki trachea yangn membuka pada ujung belakang permukaan ventral
tubuh. Dibelakang lubang tracheal terdapat tiga pasang tuberlkel atau spirenet yang
berfungsi penghasil benang untuk pembuatan sarang dan tujuan lain, yang
disekresikan dari kelenjar didalam abdomen. Anus terletak dibelakang spirenet
(Kastawi et al, 2003 : 224)

Sistem pencernaan terdiri atas mulut, esophagus, lambung penghisap yang


digerakkan oleh otot yang meluas dari permukaan dorsal, lambung utama terdapat di
cefalotoraks denngan lima pasang seka atau kantung, yaitu satu terletak di dorsal dan
lainnya menuju masing-masing kaki usus yang terletak di abdomen yang
berhubungan dengan saluran dari kelenjar pencernaan (hati) dan berlanjut ke rectum
dimana terdapat kantung sterkoral dan berakhir ke anus (Kastawi et al, 2003 : 224)
Respirasi menggunakan paru-paru buku yang masing-masing organ tersebut
terdiri atas 15-20 lempeng horosontal berbentuk seperti daun yang emngandung
pembuluh darah. Udala mauk melalui celah eksternalabdomen menuju ke lempeng
tempat terjadinya pertukaran gas antara oksigen dan karbondioksida. Jika laba-laba
memiliki trachea maka trachea tersebut terbatas hanya di abdomen saja (Kastawi et
al, 2003 : 224).
Organ ekskresi terdiri atas tubulus Malpigfi yang bermuara ke dalam usus dan
sepasang atau dua pasang kelenjar koksal yang terdapat di cefalotora. Kelenjar
kokskal kadang kala mengalami degenerasi dan lubang muaranyan sulit ditemukan.
Kelenjar tersebut homolog dengan kelenjar hijau pada crustaceae (Kastawi et al, 2003
: 225).
Sistem saraf terdiri atas ganglion bilobus yang terletak diatas esophagus
sebuah masa ganglionic sub esoflageal dan saraf yang berasal dari organ tersebut.
Pasangan ganglion terjadi didalam abdomen laba-laba fase muda namun tidak
terdapat pada saat dewasa. Rambut-rambut sensori terdapat pada pedipalpus dan
mungkin juga terdapat pada kaki jalan, namun pada dasarnya organ sensori adalah
mata. Mata sederhana biasanya berjumlah 8 dan pada setiap spesies memiliki ukuran
dan susunan yang berbeda. Laba-laba tanpaknya dapat melihat objek hanya pada
jarak 4 atau 5 inci (Kastawi et al, 2003 : 225).
Laba-laba berkelamin terpisah dan umumnya hewan betina berukuran lebih
besar dibandingkan hewan jantan. Hewan jantan memiliki 2 testis terletak dibawah
usus bergabung dengan saluran eferensia yang melingkar menuju ke vesikula
seminalis dan akhirnya bermuara ke lubang kelamin. Hewan betina memiliki 2 ovari
yang besar dan setiap ovari bergabungdengan oviduct yang akhirnya bergabung

13

menuju vagina. Dua reseptakel seminal bermuara di vagina. Spermatozoa


dipindahkan dari jantan ke betina menggunakan pedipalpus dan fertilisasi telur terjadi
didalam tubuh hewan betina. Telur yang dikeluarkan dalam sebuah kokon sutra, yang
ditempelkan ke sarang atau tumbuhan yang dibawa oleh hewan betina. Hewan muda
meninggalkan kokon segera setelah menetas. Untuk mencapai usia reproduktif hewan
jantan mengalami lima kali molting, sedangkan hewan betina mengalami 7 atau 8 kali
molting (Kastawi et al, 2003 : 225).
Organ pembuat benang serang laba-laba terdiri atas tiga pasang apendik yang
disebut spineter. Spineter terdiri atas ratusan tabung mikroskopis yang akan
menyalurkan cairan yang disekresi oleh kelenjar sutera. Cairan tersebut selanjutnya
akan mengeras diudara membentuk sebuah benang. Benang tersebut selanjutnya
digunakan untuk membangun sarang, membentuk kokon, lingkaran sarang,dan tujuan
lain. Laba-laba akan berdiam diri dipusat sarang dan beristirahat disalah satu sisi
sarang untuk menunggu mangsanya terjerat (kastawi etal, 2003 : 225-226). Berbagai
tipe sutera doleh laba-laba, setiap laba-laba membuat jarring satang yang khas dan
berbeda. Beberapasutera ditutupi dengan tetesan bahan kecil yang sangat lengket
ditempat itu korban laba-laba menempel. Pada jarring laba-laba, benang spiral adalah
kental dan benang yang baru dilkeluarkan adalah sutera sederhana (Borror, et al, 1992
: 145).
b) Kalajengking
Kalajengking (skorpio, Ordo Scorpionida) merupakan Arachnida bertibuh
panjang dengan pedipalpus yang besar, kelisera kecil dan segmen abdomen yang
terdiri atas 12 segmen dengan ujung terminal berbentuk duri runcing. Tubuh
dibedakan atas cefalotorak ( prosoma), dan sebuah abdomen yang terdiri atas dua
bagian yaitu di anterior bersifat tebal (mesosoma) dan sebuah ekor berbengtuk seperti
tabung (Metasoma) yang diangkat naik pada saat kalajengking berjalan. Prosoma
pendek dan ditutup dengan karapak yang memiliki sepasang mata pada pertengahan
permukaan dorsal tubuh dan tiga mata lateral disetiap sisinya (anterior karapak).
Empat pasang kaki melekat pada prosoma dan berakhir dengan dua pasang cakar.
Segmen abdomen kedua membawa sepasang struktur yang berbentuk seperti sisir

14

yang disebut pektin. Struktur ini merupakan keunikan dari kalajengking dan
berfungsi sebagai alat sensori. Rambut taktil tersebar diatas tubuh dan berfungsi
sebagai peraba. Kalajengking memiliki 4 pasang paru-paru buku. Kalajengking
bersifat vivipara. Hewan muda akan diletakkan dipunggung betina sekitar satu
minggu dan selanjutnya hidup mandiri (Kastawi et al, 2003 : 226).

Gambar 2.6 Kalajengking


(Sumber : Hickman et al, 2001: 375 )
c) Tungau
Tungau dan kutu (ordo Acarina) merupakan hewan bertubuh kecil sampai
mikroskopis. Kepala, dada dan abdomen mengalami fusi membentuk tubuh yang
tidak bersegmen. Anggota ordo ini ada yang hidup bebas dan parasite. Pada ujung
anterior terdapat kepala ynag berukuran kecil, tidak bersegmen dan merupakan dasar
bagian mulut. Tubuh ditutupi oleh membran dan kadangkala dengan kerangka yang
keras. Memiliki 8 kaki yang terletak dilateral tubuh.berkelamin terpisah. Pada
sebagian besar spesies telur setelah menetas menjadi larva dengan 6 kaki, kemudian
mengalami molting menjadi fase nimfa dengan 8 kaki. Nimfa tersebut selanjutnya
menjadi hewan dewasa setelah mengalami 3 kali molting (Kastawi et al, 2003 : 227).

15

C. 2.3.2.4 Kelas Tardigrada


Habitat tardigrade atau beruang air adalah di dalam lumut atau pasir yang
lembab, serta didalam air tawar atau air asin. Tubuh dapat dibedakan atas kepala dan
badan. Badan terdiri atas 4 segmen tubuh yang berfusi. Sepasang segmen tubuh
memiliki sepasang kaki yangpendek dan tebal. Kaki tersebut tidak bersegmen, namun
diujung kaki terdapat 4 sampai 9 cakar yang runcing. Hewan anggota kelas ini tidak
memiliki sistem sirkulasi, terspirasi dan ekskresi. Sistem saraf berkembang baik.
Hewan dapatdibedakan atas hewan jantang dan betina.

Gambar 2.7 Tardigrada


(Sumber : Hickman et al, 2001: 447 )
D. Kelas Pentastomoidea
Pentasomida berasal dari Bahasa yunani. Penta = lima, stoma = mulut. Hewan
anggota kelas ini berbentuk seperti cacing dan bersifat parasite (Hickman et al, 2001).
Hewan ini dahulunya dikelompokkan bersama cacing, tetapi ternyata morfologi
hewan fase dewasa dan fase mudanya memperlihatkan ciri Arthropoda. Tubuh tidak
bersegmen-segmen, walaupun dinding tubuhnyaterdiri atas lingkaran.

16

Gambar 2.8: Linguatula


(Sumber : Hickman et al, 2001: 444 )
Saluran pencernaan lurus dan disekitar mulut terdapat sepasang kait yang
keras. Berjenis kelamin terpisah. Larva memiliki dua pang kaki. Hewan dewasa
berukuran sekitar dari 1 sampai 13 cm. Sistem pencernaan lurus dan disekitar mulut
terdapat sepasang kait yang keras, diadaptasi untuk mengisap. Sistem saraf, memiliki
sepasang ganglia sepanjang tali saraf ventral. Satu-satunya organ indera tampak
adalah papila. Tidak memiliki sistem sirkulasi, ekskretoris, atau organ pernapasan.
Jenis kelamin terpisah, dan betina biasanya lebih besar daripada jantan. Hewan betina
dapat menghasilkan beberapa juta telur (Hickman et al, 200: 444). Telur keluar
bersama lender, ketika telur tertelan oleh kelinci, hewan-hewan yang telah mengalami
domestikasi atau oleh manusia, maka telur akan menetas didalam lambung. Larva
yang menetas tersebut akan migrasi menuju paru-paru, ginal dan organ lainnya,
kemudian membentuk kista. Jika hewan hospes yang mengandung kista ini ditelan
oleh predator yang berupa hewan karnivora maka kista akan migrasi menuju hidung.
Seangkan Porocephalus (Armiliffer) armilatus, hewan ini fase dewasanya berada

17

didalam paru-paru ular, jika telur tertelan hewan maka akan menetas dann migrasi ke
dalam hari dan rongga tubuh (Kastawi et al, 2003 : 230).
2.3.3 Sub-Filum Onychophora
Kata Oncychophora berasal dari Bahasa Yunani yang terdiri atas kata onyx :
cakar dan phora: membawa. Menurut Kastawi(2003), karakter umum yang dimiliki
anggota subfilum ini sebagai berikut:
1. Bentuk tubuhnya seperti cacing dengan 14-43 pasang kaki (lobopodia). Akibat
kondisi ini Onychophora sering disebut cacing beludru atau cacing berjalan.
Panjang tubuh mulai 1,4 sampai 15 cm.
2. Rongga tubuhnya berupa homocoel
3. Memiliki kelenjar lumpur yang hasil sekresinya akan dikeluarkan melalui papilla
oral untuk menangkap mangsa atau predator.
4. Saluran pencernaan lengkap. Enzyme pencernaan dilepaskan kedalam mangsa
selanjutnya zat nutrisi dihisap
5. Sistem saraf memiliki ganglion kepala dan dua tali saraf longitudinal yang
membentuk tangga tali
6. Metanefridium dengan lubang yang teretak dekat kaki disetiap kakinya.
7. Jantung berbentuk tubular, terletak disebelah dorsal dan sistem sirkulasi terbuka.
8. Kerangka tubuh bersifat hidrostatis
9. Pernafasan menggunakan tabung tracheal.
10. Pergerakan tubuh akibat kontraksi peristaltic dibantu oleh lobopodia.
11. Bersifat bebas dan habitatnya terrestrial khususnya yang lembab
12. Berjenis kelamin terpisah. Fertilisasi terjadi secara internal atau eksternal.
13. Umumnya bersifatvivipar tapi juga ada yamh ovipar dan ovovivipar
Beberapa ahli zoology menganggap bahwa Oncychophora merupakan bentuk
pertengahan antara Annelida dan Arthropoda. Kemiripan dengan Arthropoda terlihat
adanya kutikula yang berkhitin, jantung tubular yang terletak didalam tubuh sebelah
dorsal, sistem sirkulasi terbuka, hemocoel sebagai rongga tubuh utama, memiliki
tabung

pernafasan

dan

tubuh

bersegmen-segmen.sedangkan

kondisi

yang

membedakan Oncychopora dengan Arthropoda adalah kutikula yang tidak mengeras,


apendik yang tidak bersendi, tidak memiliki ganglion thorak dan abdomen, dan
pembuka trachea tidak dapat menutup sehingga hewan dalam kelompok ini hanya
aktif pada malam hari saat lingkungan lembab dan selama hujan. Selain itu cara

18

makan Onychophora dalam menangkap mangsa adalah dengan menyemprot lumpur


(bahan pelekat) kepada mangsa pada jarak sekitar 30 cm. lumpur ini dihasilkan oleh
kelenjar lumpur yang bermuara pada papilla oral. Setelah mangsa terjerat, selanjutnya
hewan ini memuntahkan ludah ke tubuh mangsanya untuk mencerna jaringan tubuh
mangsa. Hasil proses pencernaan tersebut kemudian diisap masuk kedalam mulut
(Kastawi et al, 2003: 232).

Gambar 2.9 : Anatomi Onychoporan


(Sumber : Hickman et al, 2001: 446 )
Subfilum Onychopora hanya terdiri atas satu kelas yaitu Onychophora. Kelas
ini terdiri atas 10 genus dan 80 spesies. Kesepuluh genus tersebut beserta distribusi
geografisnya sebagai berikut : (1) Peripatus, di Amerika daerah tropis, (2)
Oroperipatus, di Pasifi, (3) Metaperipatus, di Chili, (4)Paraperipatus, di Inggris, New
Guinea dan Ceram, (5) Mesoperipatus, Afrika daerah barat-tengah, (6) Peripaptosis,
19

(7) Ophisthopatus, di Afrika selatan, (8) Peripatoides, di Australia, Tasmania, dan


New Zealand, (9) Eoperipatus, di Sumatera dan Malaysia, (10) Typhloperipatus, di
Tibet (Hickman et al, 2001).
Contoh anggota kelas Onychophora adalah Peripatus. Hewan ini hidup
didalam celah-celah batu, dibawah batang pohon dan batu, serta didalam tempat

lembab yang gelap lainnya. Hewan ini aktif hanya pada malam hari. Sebagai hewan
yang begerak perlahan dari satu tempat ke tempat lainnya dengan menggunakan
kakinya, maka 2 qntena yang dimiliki bersifat sensitive untuk mendeteksi kondisi
tanah.tempat ia berjalan. Disetiap dasar antenna terdapat mata yang sensitive terhadap
cahaya sehingga menyebabkan hewan menjauhi cahaya.
Ketika peripatus terganggu maka akan menyemburkan lumpur pada jarak
sekitar 30 cm dari sepasang kelenjar lumpur yang bermuara kedalam papilla oral.
Fungsi lumpur tersebut untuk menangkap mangsa yang berupa lalat, rayap dan hewan
kecil lainnya. Selain itu juga berperan sebagai alat pertahanan dari predator. Disekitar
mulut terdapat apendik yang telah mengalami modifikasi menjadi rahang dan
berfungsi untuk menyobek makanan. Sebagian besar spesies Peripatus bersifat
vivipara. Seekor hewan betina yang berukuran besar dapat menghasilkan 30-40
hewan muda setiap tahunnya. Kondisi hewan muda saat lahir sama seperti hewan
dewasa, hanya berbeda dalam ukuran dan warna tubuhnya. Pada kepala terdapat 3
pasang apendik yaitu antenna, papilla oral, dan rahang. Selain itu terdapat sepasang
mata yang sederhana dan mulut yang terletak disisi ventral kepala. Kaki berdaging
berjumlah 17 sampai lebih 40 pasang, dan jumlah kaki ini berbeda-beda tergantung
spesiesnya. Setiap kaki memiliki cakar yang tajam. Anus terletak pada ujung
posterior, lubang kelamin terletak diantara pasangan kaki terakhir, dan nefrodiofor
terletak pada setiap dasar kaki. Kulit tertutup oleh papilla dan setisp papilla membawa
duri. Papilla berperan sebagai organ taktil (Kastawi et al, 2003 : 234).
Sistem pencernaan sangat sederhana, terdiri atas satu faring yang
berotot,esophagus pendek, lambung yang panjang dan usus pendek. Sepasang
kelenjar ludah yang merupakan modifikasi dari nefridia bermuara kedalam rongga
mulut. Jantung berupa tabung dorsal yang memiliki pasangan-pasangan ostia
berfungsi menghubungkan

jangtung dengan rongga pericardium tempat jantung

berada. Rongga rubuh berupa hemocoel. Organ pernafasan berupa tabung udara yang
disebut trachea. Trakheaini berakhir dengan pori-pori yang terletak pada berbagai
bagin tubuh. Organ ekskresi berupanefridia berjumlah satu disetiapdasar kaki. Sestem
saraf terdiri atas otak yang terletak dikepala bagian dorsal, dan sepasang tali saraf

20

ventral yang dihubungkan oleh beberapa saraf transfersal. Hewan ini berkelamin
terpisah (Kastawi et al, 2003 : 234).

Gambar 2.10 : Peripatus


(Sumber : Hickman et al, 2001: 445 )
2.3.4 Sub filum Mandibulata
Karakter special yang dimiliki anggota sub filum Mandibulata adalah
dimilikinya mandibula dan antenna. Sub filum ini terdiri dari enam kelas yaitu kelas
Chilopoda, Diplopoda, Crustacea, Insekta, Pauropoda dan Symphyla (Kastawi, et
al.,.2013: 235)
A. Kelas Chilopoda
Chilopoda berasal dari bahasa Yunani yaitu Chelios yang berarti bibir dan
podos, yang berarti kaki (Hickman, et al., 2001:434). Tubuh pipih dorso-ventral dan
terdiri atas 15 sampai 173 segmen, yang setiap segmen tubuh membawa sepasang
kaki kecuali dua segmen terakhir dan satu segmen tepat di belakang kepala. Segmen
tersebut membawa sepasang cakar racun yang disebut maksilapoda untuk membunuh
21

mangsanya. Di daerah kepala terdapat sepasang antena panjang dengan sedikitnya


tersusun atas 12 segmen, sepasang mandibula dan dua pasang maksila (Kastawi, et
al.,.2013: 235).
Saluran pencernaan lurus dengan tiga pasang kelenjar ludah bermuara ke
mulut dan dua tubulus Malpighi yang panjang untuk ekskresi. Trachea bercabang-

cabang seperti pada serangga dan bermuara pada stigmata yang terletak hampir di
setiap segmen tubuh. Jantung terdapat dalam rongga pericardium dengan sepasang
ostia dan arteri lateral pada setiap segmen tubuh. Berkelamin terpisah, setiap jenis
kelamin memiliki gonad yang terletak di sebuah dorsal dan sepasang kelenjar asesori
yang dihubungkan ke lubang kelamin yang terletak di ventraltubuh pada ujung
posterior tubuh. Telur biasanya di letakkan di tanah, dan pada Lithobius, telurnya satu
dan ditutup dengan tanah (Kastawi, et al., 2013: 235).
Contoh dari kelas ini ialah lipan. Lipan suka tempat-tempat lembab seperti
kulit kayu, dan batu. Mereka sangat lincah dan karnivora dalam kebiasaan makan
mereka, hidup dengan memakan cacing tanah, kecoa, dan serangga lainnya. Mereka
membunuh mangsanya dengan mereka cakar racun dan kemudian mengunyahnya
dengan rahang mereka (Hickman, et al., 2001:435).
B. Kelas Diplopoda
Menurut Hickman, et al., (2001: 434), Diplopoda berasal dari bahasa Yunani
yaitu, Diploo, yang berarti ganda dan podos atau kaki. Milipedes disebut juga
Diplopoda. Tubuh millipedes berbentuk subsilindrik , terdiri atas 25 sampai 100
segmen, dann jumlah tersebut tergantung spesiesnya. Hampir pada setiap segmen
tubuh membawa 2 pasang apendiks yang kemungkinan bearsal dari fusi dua segmen,
dua pasang spirakel, ostia, dan ganglia saraf.
Pada hewan jantan salah satu atau kedua pasang kaki pada segmen ketujuh
mengalami modifikasi menjadi organ kopulasi. Di daerah mulut terdapat sepasang
mandibula dan sepasang maksila. Pada kepala terdapat sepasng antena pendek dan
sepasang mata yang masing-masing terdiri atas sekelompok mata sederhana. Pada
antena terdapat rambut-rambut olfaktori dan setiap segmen tubuh meiliki kelenjar bau
atau repugnatorial gland yang mensekresikan cairan berisi asam hidrosianik. Akibat
sekresi cairan yang dihasilkan oleh repugnatorial gland tersebut dari spesies yang
hidup di daerah tropical dapat menyebabkan kebutaan pada anak-anak. Trakhea tidak
bercabang dan bermuara pada lubang yang terletak di sebelah depan bagian kaki.
Jantung merupakan pembuluh dorsal dengan ostia yang terletak di sisi lateral. Hewan

22

memiliki dua atau empat organ ekskresi yang berbentuk tabung seperti benang
(Tubulus Malpighi) yang bermuara pada usus (Kastawi, et al., 2013: 236).
Habitat hewan meliputi tempat yang gelap, memiliki kelembapan tinggi, dan
secara prinsip memakan tumbuhan yang membusuk, namun terkadang memakan
tumbuhan yang masih hidup sehingga dapat menyebabkan kerusakan bagi tanaman
tersebut. Alat reproduksi terletak pada hwan yang berbeda atau kelamin terpisah, telur
diletakkan di dalam tanah. Pada saat mentas, hewan muda memiliki segmen yang
berjumlah sedikit dalam tiga pasang kaki. Dalam pertumbuhannya segmen
ditambahkan di depan segmen tempat anus berada (Kastawi, et al., 2013: 236).

Gambar 2.11 Milipedes


(Sumber: Hickman, et al., 2001: 435)
C. Kelas Crustacea
Crustacea (dalam bahasa latinnya, crusta = kulit) memiliki kulit yang keras.
Udang, lobster, dan kepiting adalah contoh kelompok ini. Umumnya hewan
Crustacea merupakan hewan akuatik, meskipun ada yang hidup di darat. Crustacea
dibedakan menjadi dua subkelas berdasarkan ukuran tubuhnya, yaitu Entomostraca
dan Malacostraca.Entomostraca adalah crustacea yang berukuran mikroskopik, hidup
sebagai zooplankton atau bentos di perairan, dan juga ada yang sebagai parasit.
Contoh hewan ini adalah Daphnia, Cypris virens, dan Cyclops sp (Mukayat, 1989:
135).

23

Habitat crustacean meliputi air laut, air tawar dan air payau. Beberapa larva
dan beberapa spesies anggota kelas ini bersifat meliang (tinggal di dalam liang),
sedangkan yang lain bersifat pelagic bahkan ada yang menghuni laut dalam. Sebagian
besar hidup bebas dan ada yang hidup dalam kelompok-kelompok besar.
a) Morfologi luar
Permukaan tubuh dilindungi oleh kutikula tersusun atas zat kitin yang
ditambah dengan garam-garam mineral dan bersifat sangat keras . Eksoskeleton
menutupi seluruh permukaan tubuh kecuali pada tempat perhubungan yang menjadi
tipis dan lunas agar mampu bergerak. Tubuh dibedakan menjadi cefalotorak dan
abdomen yang terdiri segmen-segmen (kepala 5, torak 8 dan abdomen 6) masingmasing dengan satu pasang anggota tubuh yang tubuh yang terdiri atas ruas-ruas.
Setiap segmen tubuh dibedakan atas tergum (bagian dorsal), sternum (bagian ventral),
pleura (lateral tubuh) dan pleura merupkan keeping, terletak pada sisi tubuh serta
epinera (keeping kecil antara plera dan anggota gerak) (Kastawi, et al., 2013: 236).
Ujung anterior karapak merupakan rostrum. Antenula dan antena merupakan
struktur indera. Di bawah rostrum terdapat mata bertangkai yang dapat digerakkan .
mulut terdapat pada permukaan ventral, dekat posterior daerah kepala terdapat
mandipula, sedangkan anus terletak di bagian ventral telson di ujung posterior
abdomen (Kastawi, et al., 2013: 236)..
Mulut memiliki sepasang mandibula dan di posteriornya terdapat maksila ke 1
dan ke 2. Pada daerah torak terdapat maksilapoda ke 1, ke 2, ke 3, selanjutnya diikuti
cheliped dan 4 pasang kaki jalan. Pada daerah sbdomen terdapat 6 pasang kaki renag
yang beberapa diantaranya mengalami modifikasi. Terdapat tiga macam apendik
yang dapat dibedakan pada hewan dewasa, yaitu (1) foliaceus, contohnya maksila ke2, (2) biramus, contohnya kaki renang, (3) uniramus, contohnya kaki jalan. Pada kaka
jalan pertama memiliki capit (cela) yang berfungsi untuk menyerang dan
mempertahankan diri. (Kastawi, et al., 2013: 236).

24

b) Anatomi dan fisiologi


Tubuh udang tersusun atas sistem organ yang seperti yang dimiliki oleh
hewan tingkat tinggi. Selom merupakan ruang yang tidak begitu luas, namun terbatas

untuk rongga organ-organ reproduksi. Organ tertentu seperti sistem saraf tersusun
secara metamerik, sedangkan organ ekskresi terkonsentrasi ke dalam sebuah rongga
kecil (Kastawi, et al., 2013: 236)..
c) Sistem pencernaan
Terdiri atas mulut, esophagus, lambung, usus dan anaus. Lambung dibedakan
atas dua bagian yaitu bagian yang besar (anterior ) disebut kamar kardiaka dan yang
kecil adalah pylorus. Pada permukaan dalam lambung terdapat bentukan seperti gigigigi yang mengapur untuk melumatka makanan. Pada kedua sisi bagian akhir
lambung bermuara saluran dari kelenjar pencernaan dan muara dari cecum yang
kecil. Usus merupakan tabug kecil mengarah ke arah posterior tubuh dan bemuara
pada anus yan terletak pada permukaan ventral telson. Kelenjar pencernaan berupa
hati yang terletak di daerah torak. Setiap lobus tersusun atas sejumlah kecil tubulus.
Epithelium yang melapisi dinding-dinding tubulus bersifat glandular da menghasilkan
sekresi yang akan mengalir ke duktus hepatic menuju ke kamar pilorik di lambung
(Kastawi, et al., 2013: 238).
Udang hidup disemua jenis habitat perairan dengan 89% diantaranya hidup
diperairan laut, 10% diperairan air tawar dan 1% di perairan teresterial (Maskoeri,
1992: 155).Makanan udang prinsipnya adalah hewan hewan yang hidup antara lain
siput, berudu, larva Insektadan ikan-ikan kecil. Namun ternyata udang juga makan
material organic yang membusuk. Hewan ini makan pada waktu malam hari, tetapi
lebih katif pada waktu senja dan fajar daripada waktu-waktu lainnya. Cara makan
udang yaitu maxillaped dan maxilla memeganag makanan sementara itu mandibula
melumatkan makan menjadi potongan-potongan kecil. Potongan-potongan tersebut
masuk ke dalam esophagus kemudian ke lambung. Sednagkan bagian-bagian yang
kasar keluar melalui mulut (Kastawi, et al., 2013: 238).
d) Sistem sirkulasi

25

Alat peredaran darah terdiri atas darah dan pembuluh darah. Darah terdiri atas
cairan darah yang hampir tidak berwarna dan corpuscular darah atau amoebocyt yang
berupa sel-sel amoeboid. Pembuluh darah terdiri atas sebuah jantung, tujuh buah
arteria utama dan sejumlah rongga-rongga yang disebut sinus. Jantung berupa

kantong yang berbentuk pelana di dalam sinus pericardial dan terletak di dalam
bagian pertengahan dorsal daerah torak. Jantung terikat pada dinding sinus pericardial
dengan perantaraan 6 ligamen yang elastic. Tiga pasang lubang yang dilengkapi
dengan valava disebut ostia (bentuk tunggal , ostum) ostia ini memungkan darah
masuk kembalai dari sinus yang melingkupinya (Kastawi, et al., 2013: 238)..
Pada ujung anterior jantung mempercabangakan ima buah pembuluh arteri
yaitu (1) arteria ophthalmica terletak di pertengahan dorsal, berjalan kearah anterior
di sebelah dorsal lambung, mengalirkan darah untuk pars cardiac

ventriculli,

esophagus dan kepala (2) dan (3) dua buah arteria antennary terletak di kana n dan
kiri arteria opthalmica dengan cabang-cabangnya menuju pars cardiaca ventriculli,
antena , alat-alat ekskresi, menuju otot-otot dan jaringan-jaringan lain di daerah
kepala (4) dan (5) dua buah arteria hepatic menuju ke kelnjar-kelenjar pencernaan.
Sedangkan pada ujung posterior jantung terdapat arteri abdominal dorsal. Pembuluh
darah ini mensuplai bagian dorsal abdomen. Arteri ini di dekat pangkalnya bercabang
menuju ke arah bawah (arteri sterna) dan dia daerah ventral tubuh bercabang menjadi
dua buah arteri yaitu yang menuju ke anterior adalah arteri thorax ventral dan yang
menuju ke arah posterior adalah arteri abdominal ventral (Kastawi, et al., 2003:241).
e) Sistem ekskresi
Alat sekresi berupa sepasang bangunan yang lebar, disebut kelenjar hijau
terletak di bagian bawah kepala, anterior esophagus. Setiap kelenjar terdiri atas
bagian glanduler berwarna hijau, vesica urinaria terbentuk dilatasi dinding yang tipis,
dan saluran yang bermuara keluar melalui suatu por terletak di bagian ventral pada
segmen basal antena. Fungsi kelenjar hijau adalah membuang sisa metabolism tubuh
(Kastawi, et al., 2013: 238)..
f) Sistem saraf

26

Sistem saraf terdiri atas ganglion suprasophageal (otak) yang bercabang ke


sarf-saraf mata, antenula dan antena.sepasang saraf yang berhubungan dengan
ganglion subsophageal yang terletak di belakang mulut bagian ventral. Saraf-saraf
dari ganglion subsophageal bercabang ke anggota mulut, tubuh, kelenjar hijau, dan
otot-otot depan (Kastawi, et al., 2013: 238).

g) Alat-alat indra
Mata
Mata berupa mata majemuk yang terletak pada ujung tangkai yang dapat
bergerak, jumlahnya satu pasang, terletak di kanan dan kiri rostrum. Disebut mata
majemuk, karena setiap mata tersusun atas bebrapa su unit yang disebut ommatidia.
Setiap mata tertutup oleh kutikula trasparan yang disebut cornea, dimana terbagi
menjadi area bersisi empat oleh garis-garis halus. Setiap area persegi tersebut disebut
facet. Setiap facet menutup setiap ommatidium. Di sebelah bawah setiap facet
terdapat kerucut Kristal (crystalline cone). Sedangkan daerahh fotoreseptif dari
ommatidium adalah retinula (retinula kecil). Retinula ini biasanya terdiri atas 7 atu
8 sel retinula dan sel retinula memiliki sejumlah mikrovili parallel. Di bagian tengah
gabungan sel-sel retinula mmebentuk rhabdom yang merupakan sumbu tengah
ommatidium. Rhabdom terdiri atas fotopigmnen dan diperkirakan sebagai tempat
transduksi energy cahaya ke dalam perubahan voltage yang akan menimbulkan
potensial aksi (Kastawi, et al., 2013: 238)..
Antropoda menganalisis sebuah stimulus visual sedikit demi sedikit, tanpa
memfokuskan gambar ke dalam retina. Adanya mikrovilli dari sel retinula yag
tersusun parael dalam rhabdom mengakibatkan adanya beberapa antropoda mampu
mendeteksi sudut polarisasi cahaya. Mata majemuk antropoda secara umum
diadaptasikan untuk peglihatan tajam di dalam cahaya suram. Pada crustacean dan
serangga aktif pada cahaya terang, maka setiap ommatidium terlindungi dari
ommatidium lainnya oleh pigmen. Mata majemuk dari tipe ini disebut mata aposisi.
Pada mata aposisi tersebut tampaknya diadaptasikan untuk penglihatan yang rinci.
Mata superposisi lebih sensitif di dalam cahaya redup. Mata superposisi tersebut tidak
27

setajam mata aposisi, bahkan ketika cahaya terang maka mata superposisi umumnya
akan berkurang sensitifitasnya dan meningkatnya ketajamannya dengan terjadinya
pigmen yang erpindah di sekitar ommatidia (Kastawi, et al., 2013: 238).

Statocyst

Statocyst berfungsi sebagai alat keseimbangan. Letak organ tersebut adalah di


segmen basal setiap antenulla. Statocyst berbentuk kantong dan dinding kantong
tersusun atas zat khitin (Kastawi, et al., 2013: 238)..
h) Sistem otot
Otot-otot yang terdapat di dalam tubuhnya menempel pada permukaan
sebelah dalam eksoskeleton. Pada prinsipnya otot di dalam tubuh udang terletak di
dalam abdomen. Otot tersebut digunakan untuk membengkokan bagian-bagian tubuh
udang pada permukaan ventral torak kea rah depan dan selanjutnya menghasilkan
gerak ke belakang pada saat berenang.

Gambar 2.12 struktur internal lobster


(Sumber: Hickman, et al., 2001: 435)
i) Sistem reproduksi
Udang bersifat diesius, yang betina memiliki abdomen yang lebih besar
dibandingkan yang jantan. Alat reproduksi jantan terdiri atas sepasang testis, sepasng
vas deferens dan vesikula seminalis. Pada udang betina, alat reproduksinya terdiri
dari sepasang ovary dan sepasang oviduk. Ovary berbentuk sabit dan terletak tepat di
bawah sinus pericardii.bagian depan dan belakang dari eksua ovary saling
berhubungan.

28

Pembuahan terjadi di luar tubuh. Ketika musim reproduksi udang jantan dan
udang betina mengadakan kopulasi. Pada saat kopulasi spermatozoa akan ditampung
dalam penampung sperma dari udang betina, kemudian kedua hewan berpisah.
Beberapa hari kemudian udang membersihkan daerah abdomennya menggunkan kaki
renangnya. Kemudian udang betina membalikkan tubuhnya, melipat tubuhnya dan
keluarlah sekresi berupa lendir yang menyelimuti kaki renang. Kemudian ovum akan
keluar dari oviduk sekitar 200-400 buah (diameter 2 mm) dan akan dibuahi oleh
spermatozoa yang keluar dari kantung penampung spermatozoa. Ovum tersebut akan
menempel pada kaki renang dan mendapat udara dari gerakan kaki renang.
Selanjutnya udang betina mengembalikan posisi tubuhnya. Telur tetap melekat pada
kaki renang sampai menetas, sekitar 5 minggu lamanya. Setiap anak udang keci
berukuran 4mm dan transparan. Setelah anak udang megalami beberapa pergantian
kulit, hewan akan menjadi dewasa.
j) Sistem endrokin
Organ endokrin yang utama adalah kompleks x organ sinus gland (xosg)
complex yang terletak di daerah saraf optic. Organ endokrin lainnya juga penting
adalah y organ, terletak pada bagian dasar maksila. Diantara hormone-hormon yang
akan merintangi terjadinya molting dengan menghambat sekresi ekdison dari organ Y.
komplek XOSG juga mensekresi hormone yang berfungsi mengontrol kromatofor,
sehingga memungkinkan hewan mengubah warna kulitnya. Hasil sekresi dari sistem
XOSG adalah crustacean hyperglycemic hormone yang analog dengan adrenalin dan
glukogon di dalam hewan Vertebrata. Fungsi hormone adalah meningkatkan
pengubahan glikogen yang disimpan menjadi glukosa. Sistem XOSG juga mensekresi
distal retinal-pigmen homone yang berfungsi membantu proses adaptasi mata
majemuk dalam cahaya redup. Udang karang dan Crustacea lain yang berkerabatan
29
dekat memiliki juga androgenic glands, dimana akan menyebabkan sifat maskulin

(Kastawi, et al., 2003: 247).


k) Regenerasi dan Autotomi

Regenerasi dapat terjadi terutama pada bagian-bagian ekstremitas yang rusak


atau dipotong.pertumbuhan jaringan-jaringan pada organ yang mengalami regenerasi
lebig sering atau cepat pada hewan-hewan muda. Struktu baru tidak selalu sama
dengan yang digantikan. Contohnya pada Orconectes pellucidus testii memiliki mata
yang tidak berfungsi. Namu setelah terjadi regenerasi, terbentuk semacam antena
yang berfungsi sebgai alat peraba. Regenerasi seperti ini disebut heteromorfis karena
struktur baru tidak serupa dengan struktur yang digantikan Autotomi yaitu pemutusan
kaki pada titik tertentu. Pada udang pemutusan tertentu yang terletak dekat dasar kaki
jalan (Kastawi, et al., 2003: 247).
D. Kelas Insekta
Insektaberasal dari bahasa Latin, insectus yang berarti memotong.
l) Morfologi luar
Eksosekeleton
Belalang memiliki eksosekeleton yang berfungsi melindungi organ-organ
dalam. Eksosekeleton beupa kutikula yang terdiri atas zat khitin dan terbagi menjadi
segmen-segmen. Antara segemn satu dengan segmen lainnya terdapat sutura yaitu
bagian yang lunak, dan berfungsi untuk memudahkan pergerakan abdomen, sayap,
kai , antena dan lain-lain. Setiap segmen terdiri atas potongan-potongan terpisah yang
dikenal sebgai sklerit. Beberapa sklerit dari segmen khusu tidak dapat dibedakan
sehingga sutura tidak berfungsi lagi. Tubuh belalang menjadi 3 kelompok segmen
yaitu kepala (caput), dada (torak) dan perut (abdomen) (Kastawi, et al., 2003: 248249)

30

Gambar 2.13 Belalang Betina


(Sumber : Hickman, et al., 2001: 437)

Kepala (Caput)
Kepala pada dasarnya tersusun atas 6 segmen yang berfusi. Keenam segmen

tersebut tidak tampak lagi pada hewan dewasa, tetapi pada saat embrio teramati.
Bukti adanya keenam segmen pada saat dewasa yaitu terlihat adanya 6 apendik yang
meliputi preoral, antena, interkalari, mandibula, maksila dan labial. Eksosekeleton
kepala dikenal sebagai epicranium yang terletak di sebelah belakang, merupakan
daerah diantara dan di belakang mata. Genae merupakan bagian bagian yang terletak
di kedua sisi lateral kepala bagian depan. Sedangkan sklerit empat persegi panjang
yang terletak di bawah epicranium depan disebut clypeus (Kastawi, et al., 2003: 250).
Pada kedua sisi kepala terdapat mata majmuk bewarna hitam . Mata mejemuk
dilindungi oleh bagian transparan dari kutikula yaitu cornea, dimana terbagi menjadi
sejumlah besar potongan berbentuk segi enam yang disebut sebagai facet. Setiap
facet merupakan ujung terluar dari suatu unit yang disebut ommatidium. Selain mata
majemuk, belalang memiliki mata sederhana atau ocellus (jamak: ocelli) di daerah
kepala bagian atas serta di tepi sebelah dalam mata majemuk. Mata sederhana ini
terdiri atas sekelompok sel-sel penglihatan yaitu retinula dan di bagian tengahnya

31

terdapat batang optic yaitu rhabdom. Selain mata terdapat juga sepasang antena yang
panjang dan sangat mobil (bergerak-gerak). Antena belalng berbentuk benang dan
tersusun atas sejumlah besar segmen. Pada antena terdapat rambut-rambut sensori
yang kemungkinan berfungsi sbgai indera pembau (Kastawi, et al., 2003 : 250).

Bagian-bagian mulut

Bagian-bagian mulut belalng adalah sebagai berikut:


Labrum atau bibir atas terletak sisi ventral clypeus. Di sebelah bawah labrum
terdapat organ yang bentuknya seperti lidah yaitu hypopharynx. Disetiap sisnya
terdapat rahang keras mandibula. Permukaan rahang ini bergigi untuk menggiling
makanan. Di sebelah mandibula terdapat sepasang maxilla (Kastawi, et al., 2003:
251).
Dada
Dada (thorax) terdiri atas 3 segemen yaitu prothorax (anterior), mesothorax
(tengah), dan metathorax (posterior).bagain dorsal disebut tergum, di sisi lateral
disebut pleura, di bagian ventral disebut sternum. Pada mesothorax dan metathorax
masing-masing terdapat sepasang sayap. Sayap pada segmen mesothorax merupakan
sayap anterior dan disebut tegmina atau elytra. Sayap pada segmen metathorax
merupakan sayap posterior. Berdasarkan perbandingan dari aneka ragam sayap, pada
dasarnya tetap mengikuti prinsip rangkaian vena longitudinal dari anterior menuju ke
posterior, yaitu:
1. Kosta; tidak bercabang, terletak pada atau di tepi sayap
2. Subkosta; ujungnya bercabang dua, dan mendekati ujung basal ada
kemungkinan berhubungan dengan kosta melalui vena humeral.
3. Radius; dengan dua cabang, cabang ke-1 tidak bercabang, sednagkan cabang
ke-2 disebut sector radial dan ujung dari sector radial bercabang.
4. Media; kedua cabang menghasilkan 4 cabang.
5. Kubitus; cabang dari kubitus menghasilkan dua sampai tiga cabang.
6. Anal; vena yang tidak bercabang dan bernomor ke-1, ke-2, ke-3, dan
seterusnya (Kastawi, et al., 2003: 252).
Di sisi lateral mesothorax dan metathorax terdapat spirakel yang merupakan

32

lubang dari sistem respirasi. Setiap segmen dada membawa sepasang kaki. Setiap
kaki tersusun atas 5 segmen. Kelima segmen tersebut dari proksimal ke distal sebagai
berikut.
1. Coxa, bersendi dengan tubuh
2. Trochanter, kecil berbentuk segitiga
3. Femur, khusus femur dari kaki metathorax (kaki ke-3) membesar dan
mengandung otot yang digunakan untuk melompat
4. Tibia, ramping dan berduri
5. Tarsus, terdiri atas 3 segmen yang tampak, salah satu yang bersendi dengan
tibia memiliki 3 bantalan pada permukaan ventral. Sedangkan segmen paling
ujung dilengkapi sepasang cakar yang terletak diantara lobus berdaging
(pulvillus).

Gambar 2.14 Kaki Belalang


Sumber: Hickman, et al., 2001: 438
Perut
Jumlah segmen abdomen embrio Insektaadalah 11 dan masing-masing

segmen membawa masing-masing sepasang apendik rudimenter. Sedangkan pada


33
Insektadewasa abdomennya tidak memiliki apendik dan sejumlah segmen biasanya

mereduksi (Kastawi, et al., 2013: 255)..


2. Anatomi dan fisiologi
Sistem organ yang dimiliki belalang sama seperti yang dimiliki hewan tingkat
tinggi. Sistem organ terletak di dalam rongga tubuh yang terisi darah (hemacoel).
Sistem organ sebagai berikut.

Sistem otot
Otot yang dimiliki belalang tergolong otot lurik, bersifat sangat lunak dan

lembut, tetapi cukup kuat. Di daerah perut otot tersebut tersusun bersegmen-segmen,
sednagkan di daerah kepala dan dada tidak tersusun bersegmen-segmen, sednagkan di
adaerah kepala dan dada tidak tersusun bersegmen-segmen. Otot ini membantu gerak
dari mandibula, sayap, kaki di daerah metatorak dan ovipositor (Kastawi, et al., 2003:
255).

Sistem pencernaan
Saluran pencernaan pada dasarnya meliputi usus depan, usus tengah dan usus

belakang. Usus depan terdiri atas farig yang merupakan kelanjutan dari mulut dan
terletak di daerah kepala yang disetiap sisinya terdapat kelenjar ludah, kemudian
esophagus membesar membentuk tembolok dan terletak di daerah mesotorak dan
metatorak. Organ selanjutnaya adalah proventrikulus yang berperan sebagai organ
penggiling. Usus tengah meliputi lambung, sedngakan usus belakang tersusun atas
usus yang membesar dan usus kecil yang meluas ke dalam rectum, dan anus sebagai
muara akhir saluran pencernaan. Pada ujung anterior usus besar terdapat tubulus
malphigi.

Sistem sirkulasi
Organ sistem sirkulasi berupa pembuluh tunggal yag diselbungi sinus

perikardii dan terletak di tengah-tengah sepanjang tubuh dalam rongga abdomen.


Pembuluh tersebut dianggap sebagai jantung belalang.

Sistem respirasi
Sistem respirasi terdiri atas susunan pipa-pipa udara atau trachea yang

bercabang-cabang membentuk anayaman membawa udara ke seluruh bagian tubuh.


Trachea terdiri atas selapis sel bekhitin. Batang pokok trachea membentk penebalan
34
serupa spiral yang berhubungan dengan lingkungan luar melalui aperture yang
berpasangan yaitu spirakel atau stigmata yang tersusun segmental (Kastawi, et al.,
2013: 256).

Sistem ekskresi

Proses ekskresi dan osmoregulasi serangga bergantung pada tubulus malphigi


dan rektumnya. Tubulus malphigi umumnya berwarna kuning dan memiliki otot
untuk menjaga pergerakkannya didalam hemocoel. Salah satu ujung dari setiap
tubulus malphigi melekat pada perbatasan antara usus tengah dan usus belakang.
Sedangkan ujung lainnya tidak melekat yaitu ke dalam rectum Kastawi, et al., 2013:
258).

Sistem saraf
Otak terletak di daerah kepala bagian dorsal terdiri atas 3 pasang ganglion

yang berfusi. Ganglion-ganglion tersebut berperan engatur mata, antena dan labrum.
Otak berhubungan dengan ganglion subesofageal melalui circumesophageal
connective. Ganglion subesofagela terdiri atas 3 pasang ganglion anterior dari
rangkaian saraf ventral yang berfusi bersama dan berfungsi mengatur bagian-bagian
mulut. Ganglion yang tedapat di dalam segmen metatorak merupakan ganglion yang
terbesar, dan sebenarnya merupakan gabungan dari ganglion ssegmen metatorak
dengan ganglion segmen pertama abdomen. Otak, saluran pencernaan, dan spirakel
berhubungan dengan otak melalui saraf simpatetik Kastawi, et al., 2013: 260).

Organ-organ indra
Belalang memiliki orga penglihatan, pendengaran, peraba, perasa dan

pembau. Organ penglihatan berupa mata majemuk dan ocelli. Organ pendengaran
terletak di lateral tergit dari segmen pertama abdomen. Organ tersebut terdiri atas
tympani yang direntangkan di dalam cincin berkhitin yang bentuknya hampir bulat.
Organ peraba berupa bentukan seperti rambut yang terletak di permukaan berbagai
bagian tubuh belalang, tetapi khususnya di permukaan antena. Organ perasa tereletak
di dalam bagian mulut, sedangkan antena merupakan organ pembau.

Sistem reproduksi
Belalang betina dapat dengan udah dibedakan dengan belalang jantan karena

adanya ovipositor. Hewan betina memiliki 2 ovari yang masing-masing terdiri atas
sejumlah filament yang disebut tubulus ovary . setiap filament ovary mengandung
oogonia dan oocit yang tersusun dalam seri linier. Selain itu juga berisi nurse cell dan
sel-sel jaringan lainnya. Pada setiap ovary ujung posterior semua filament menempel

35

pada oviduk yang merupakan saluran pelepasan telur. Kedua oviduk kemudian
bergabung membentuk vagina, selanjutnya menuju ke lubang kelamin yang terletak
diantara daerah lempeng-lempeng ovipositor. Seminal receptacle atau spermatheca
membuka kea rah vagina. Fungsi organ tersebut adalah menerima spermatozoa
tersebut akan dilepaskan kembali saat membuahi sel telur. Pada hewan jantan
memiliki 2 testes. Selanjutnya spermatozoa akan dilepas ke dalam vas deferens
bergabung membentuk duktus ejakulatori yang membuka ke permukaan dorsal dari
lempeng subgenital. Di ujung anterior duktus ejakulatori terdapat kelenjar asesori
yang fungsinya menghasilkan cairanyang berfungsi membantu dalam proses
meindahkan spermatozoa ke hewan betina (Kastawi, et al., 2013: 260).

Gambar 2.15 Struktur Dalam Belalang Betina


(Sumber : Hickman et al, 2001: 445 )
Metamorphosis adalah perkembangan dari telur sampai menjadi serangga
36
dewasa melalui tahap-tahap tertentu. Ada dua macam metamorphosis yaitu;
a) Metamorphosis sempurna (tipe holometabola), diawali dari telur, larva,
kepompong (pupa), dan bentuk dewasa (imago). Contohnya pada kupu-kupu,
kumbang dan lebah.

Gambar 2.16 Metamorphosis Holometabola Pada Kupu-Kupu


(Sumber: Hickman, et al., 2001: 447)
b) Metamorphosis tak sempurna (tipe hemametibola), diawali dari telur, nympha,
dan imago. Contohnya antara lain pada belalang, kecoak dan laron.

Gambar 2.17 Metamorphosis Hemimetabola


(Sumber: Hickman, et al., 2001: 447)
Klasifikasi Insekta
Klasifikasi Insekta menurut engemann dan hegner (1981) sebagai berikut.

37

Kelas Insekta
Sub-kelas 1. Apterygota
Ordo 1. Thysanurida (contoh: silverfish: kutu buku)
Ordo 2. Collembolida (contoh : springtails: collembola)
Sub-kelas 2. Paleopterygota
Ordo 1. Ephemeroptera (contoh: mayfly)
Ordo 2. Odonata (contoh : dragonflesy : capung)
Sub-kelas 3. Exopterygota
Super ordo 1. Orthopteriodea
Ordo 1. Orthopthera (contoh: cockroach: kecoa: grasshopper: belalang)
Ordo 2. Isopteran (contoh: termite : rayap)
Ordo 3. Embioptera (contoh: web snipper )
Ordo 4. Plecoptera (contoh: stonepflies)
Ordo 5. Dermaptera (contoh earwings)
Ordo 6. Zoraptera (contoh: zorapterans)
Super-ordo 2. Hemipteriodea
Ordo 1. Psocoptera (contoh: book lice)
Ordo 2. Thysanoptera (contoh: thrips)
Ordo 3. Homoptera (contoh: plant lice)
Ordo 4. Hemiptera (contoh : bugs)
Ordo 5. Mallophagida (contoh; bird lice)
Ordo 6. Anoplurida (contoh : sucking lice)
Sub-kelas 4. Endopterygota
Ordo 1. Neuropteran
Ordo 2. Coleopteran
Ordo 3. Strepsiptera
Ordo 4. Mecoptera
Ordo 5. Trichoptera
Ordo 6. Lepidoptera
Ordo 7. Dipteral

38

Ordo 8. Siphonaptera
Ordo 9. Hymnenoptera
1. Sub-kelas apterygota
Anggota dari sub kelas ini teriri atas serangga yang tidak memiliki sayap dan
tidak mengalami metamorphosis. Hewan muda pada fase instar memiliki ciri seperti
hewan dewasa. Pada bagian abdomen memiliki apendik ventral (styli) dan biasanya
dilengkapi dengan cerci.
Ordo 1. Thysanurida
Serangga tidak bersayap primitive, ukuran tubuh 30 mm (1 cm), antena
panjang bersegmen-segmen, tipe mulut pengunyah, tubuh biasanya bersisik ,
abdomen terdiri atas 11 segmen, biasanya dilengkapi dengan 2 atau 3 apendik caudal
yang bersegmen dan berbentuk filiform, bergerak cepat dengan cara meloncat.
Contoh : Lepisma saccarina (kutu buku) dan Campodea staphylinus (Kastawi, et al.,
2013: 263).
Ordo 2. Collembolida
Serangga tidak bersayap, ukuran tubuh mikrokopis sampai sekitar 5 mm,
39

tubuh berwarana atau berwarna putih, antena terdiri atas 4 samapai 6 segmen, tipe
mulut penguyah atau penghisap, tidak memiliki trachea, mata majemuk, memiliki
organ untuk melompat (disebut furcula) yang terletak pada segmen keempat bagian
abdomen, pada segmen pertama terdapat bentukan seperti tabung (collophore)
melekat pada permukaan substrat dengan bantuan sekresi dari kelenjar terletak di
belakang labium (Kastawi, et al., 2013: 263).
2. Sub-kelas palaepterygota
Serangga meiliki sayap pada fase dewas, sayap tidak bisa melipat dan terletak
di dorsal abdomen. Fase nympha bersifat akuatik dengan mengalami metamorphosis
sederhana. Adanya tunas sayap pada nympha menunjukkan bahwa nympha berusia
tua
Ordo 1. Ephemeroptera (ephemerida)
Bersifat hemimetabola, tubuh lunak, bagian-bagian mulut untuk mengunyah
dan hewan dewasa hanya tinggal sisa saja, antena pendek, memiliki 2 pasang sayap

berwujud membrane, pada bagian ujung abdomen memiliki filament caudal dan cerci
yang sangat panjang, bersifat akuatik, memiliki insang tracheal yang terletak di lateral
tubuh. Contoh: Ephemera (mayfly) (Kastawi, et al., 2003: 264).
Ordo 2. Odonata
Bersifat hemaetabola, mulut pada hewan dewasa bersifat pengunyah,
memiliki mata majemuk yang besar tersusun atas omatidia yang jumlahnya mencapai
30.000, hewan fase nympha dan dewasa bersifat predator, antena kecil. Pada hewan
dewasa terdapat kakai tidak digunakan untuk menangkap serangga lain pada saat
terbang. Contoh:

Macromia magnifica (dragonfly: capung), Ischnura cervula

(damselfly: capung jarum) (Kastawi, et al., 2003: 264).


3.

Sub kelas exopterygota


Serangga

bersayap,

mengalami

metamorphosis

sederhana.

Menurut

Engemann dan Hegner (1981) bahwa serangga exopterygota dikelompokkan menjadi


2 yaitu 1. Serangga paleopterous, meliputi Ephemeroptera dan Odonata, 2. Serangga
neopterous, memiliki sayap yang lebih berkembang dan sayap dapat dilipat pada
abdomen baian dorsal. Kelompok neopterous dibagi menjadi 2 kelompok yaitu
Orthoptherois dan hemipteroids (Kastawi, et al., 2003: 267).

40

Super ordo orthopteriodea


Ordo 1. Orthoptera
Tubuh berukuran medium sampai besar, bersifat hemimetabola, mulut tipe
pengunyah, memiliki 2 pasang sayap, sayap depan lebih tebal dan serupa kertas dari
kulit, serta disebut tegmina (tunggal: tegmen), pada bebrapa spesies sayap berupa sisa
saja atau tidak bersayap. Contoh: Stagmomantis carolina (lalang sembah),
Periplatena americana ( kecoak amerika), Acheta domesticus ( jengkerik),
Scapteriscus didatylus (orong-orong) (Kastawi, et al., 2003: 267).
Ordo 2. Isopteran
Tubuh lunak, bersifat hemimetabola

mulut tipe pengunyah, memiliki 2

pasang sayap sempit atau tidak bersayap, torak berhubungan langsung dengan
abdomen yang berukuran besar, merupakan serangga social, contohnya rayap
(Kastawi, et al., 2003: 268).

Ordo 3. Embioptera
Tubuh panjang dan lunak, hemimetabola, tidak bersayap atau bersayap 2
pasang yang bersifat membrane dan halus, serci terdiri 2 segmen, sedangkan tarsi
terdiri atas 3 segmen. Hewan jantan bersayap sedangkan hewan betina tidak bersayap.
Contohnya Oligotoma california (Kastawi, et al., 2003: 269).
Ordo 4. Plecoptera
Tubuh lunak, berukuran sedang sampai besar, mulut pengunyah tetapi tidak
berkembang pada hewan dewasa, antena panjang, memiliki 2 pasang sayap, serci
terdiri 2 segmen, sedangkan tarsi terdiri atas 3 segmen, memiliki berkas insang
tracheal yang terletak di porterior setiap pasang kaki. Contoh Allocapnia pygmae,
Taeniopteryx pacifica (Kastawi, et al., 2003: 269).
Ordo 5. Dermaptera
Bersifat hemimetabola, mulut tipe pengunyah, tidak bersayap atau dengan 1
pasang atau 2 pasang sayap, pada bebrapa spesies sayap berupa sisa saja atau tidak
bersayap, tarsi terdiri atas 3 ruas, cerci membentuk bentukan seperti gunting yang
kuatpada ujung posterior abdomen, contohnya Anisolabis maritime (Kastawi, et al.,
2003: 270).

41

Ordo 6. Zoraptera
Antena terdiri dari 9 segmen, tarsi 2 segmen, cerci pendek, serangga berkoloni
. Contoh Zorotypus hubbardi.
Super ordo 2 hemipteroidea
Ordo 1. Psocoptera
Bersifat hemimetabola, mulut tipe pengunyah, memiliki 2 pasang sayap, tidak
bersayap atau meiliki 2 pasang sayap yang serupa membran, contoh Licoscelis
divinatorius.
Ordo 2. Tysanoptera
Bersifat hemimetabola, mulut tipe penusuk, tidak bersayap atau memiliki
sayap yang sempit atau sama panjang, antena 6-10 segmen, bagaian ujung tarsi
membentuk seperti kantung. Contoh Heliothrips haemorrhoidalis

Ordo 3. Homoptera
Tubuh kecil, bersifat hemimetabola, mulut tipe penusuk dan penghisap,
memiliki 2 pasang sayap, contohnya Rhopalosiphum pronifoliae
Ordo 4. Hemiptera
Bersifat hemimetabola, mulut tipe penusuk dan penghisap, memiliki 2 pasang
sayap, sayap depan lebih tebal pada bagian dasar (hemelytra). Contohnya Artocorixa
alternata, Ranatra linearis, Lethocerus, Gerris remigis.
Ordo 5. Mallophagida
Bersifat hemimetabola, mulut tipe pengunyah, mata degredasi, anatena
pendek hanya terdiri dari 3-5 segmen, kaki pendek, tarsi 1-2 segmen memiliki 2
pasang sayap, bersifat ektoparasit pada burung

dan jarangnmenyerang hewan

mamalia, contohnya Menopon pallidum, Gyropus ovali.


ordo 6. Anoplurida
Bersifat hemimetabola, mulut tipe pengunyah atau penusuktidak bersayap,
mata tidak berkembang dengan baik, ektoparasit pada Mamalia, tarsi terdiri dari 1
42

segmen yang dilengkapi dengan cakar. Contohnya Pediculus humanus corparis,


Phthirus humanus corporis, Phthirus pubis, Linognathus vituli (Kastawi, et al.,2003:
271-272).
Sub kelas Endopterygota
Serangga bersayap mengalami metamorphosis kompleks. Fase larva dilanjutkan
dengan fase pupa yang tidak aktif dan merupakan bentuk dimana hewan dewasa
nantinya muncul.
Ordo Neuroptera
Hewan ordo ini bersifat holometabola, mulut tipe pengunyah, memiliki 4
sayap yang berupa membrane, abdomen tidak memiliki cerci, larva bersifat karnifor
dan pada beberapa spesies memiliki mulut tipe penghisap, terdapat insang tracheal
pada larva yang bersifat aquatic. Contoh: Chrysopa californica.
Ordo Coleoptera

Bersifat holometabola, mulut tipe pengunyah, tidak bersayap atau memiliki 2


pasang sayap. Sayap depan lebih tebal dank eras (elytra) dan sayap belakang berupa
membran serta dilipat dibawah sayap depan, protorax besar dan dapat digerakkan.
Contoh : Adalia bipuncata.

Gambar 2.18 Diloboderus abderus


(Sumber : Hickman et al, 2001: 446 )
Ordo Strepsiptera

43

Bagian-bagian mulut hanya tinggal sisa atau tidak ada, bersifat endoparasit
pada serangga lain. Sayap depan hewan jantan berbentuk seperti alat pemukul
sedangkan sayap belakang berupa membrane. Hewan betina tidak bersayapn dan
tidak memiliki kaki, dan mendapatkan makanan dengan cara absorbs. Contoh : Xenos
Wheeleri

Gambar 2.19 Xenos sp.


(Sumber : Hickman et al, 2001: 446 )
Ordo Mecoptera

Bersifat holometabola, mulut tipe pengunyah, antenna dan kaki panjang,


kepala memanjang, tidak berayap atau memiliki 2 pasang sayap yang panjang,
sempit, dan berupa membrane. Pada hewan jantan memiliki organ penjepit yang
terletak diujung posterior abdomen dan orgtan tersebut menyerupai organ penyengat
pada kalajengking, makanannya buah dan serangga yang mati. Contoh: Panorpa
refucens

Gambar 2.20 Paporna refucens


(Sumber : Hickman et al, 2001: 446 )
Ordo Trichoptera

44

Hewan dewasa berukuran 3 sampai 25 mm, bagian mulut rudimenter, antenna


dan kaki panjang, sayap 2 pasang dan berupa membrane, tubuh dan sayap tertutup
oleh rambut-rambut atau bentukan seperti sisik, larva bersifat aquatic dan membentuk
selubung yang terbuat dari butir pasir atau dari bahan sayuran yang diikat bersama
dengan benang sutera yang disekresikan oleh kelenjar ludah yang mengalami
modifikasi. Contoh: Molanna cinerea

Gambar 2.21 Molanna cinerea


(Sumber : Hickman et al, 2001: 446 )
Ordo Lepidoptera
Panjang tubuh bervariasi mulai 3 sampai 250 mm, bersifat holometabola,
ketika fase larva mulut tipe pengunyah, tetapi saat fase dewasa bertipe penghisap,
biasanya tidak memiliki mandibular. Maksila bergabung membentuk proboscis untuk
menghisap cairan. Antenna panjang, mata besar, bersayap 2 pasang yang bersifat
membran, biasanya sayap ditutup dengan sisik yang berukuran mikroskopis dan
tersusun tumpeng tindih , tubuh ditutupi sisik atau rambut, fase larva berbentuk
seperti cacing memiliki 3 pasang kaki ditambah pendukung fungsi kaki pada bagian
abdomen. Memiliki 2 kelenjar sutera pada labium yang berfungsi untuk membuat
cocon pada fase pupa. Contoh : Calpodes ethlius

45

Gambar 2.22 Calpodes Ethlius


(Sumber : Hickman et al, 2001: 446 )
Ordo Diptera
Bersifat holometabola, mulut tipe penusuk dan penghiap atau sponging, juga
membentuk proboscis, abdomen tersusun atas 4-9 segmen. Tidak bersayap atau
memiliki 1 pasang sayap depan yang berupa membrane sedangkan sayap belakang
membentuk halter. Larva tidak memiliki kaki, dan disebut belatung. Contoh :
Drosophila melanogaster

Gambar 2.23 Morfologi Dosophila melanogaster


(Sumber : Hickman et al, 2001: 446 )
Ordo Siphonapterida

46

Bersifat holometabola, mulut tipe penusuk dan penghisap, tidak bersayap,


kepala kecil, tidak memiliki mata majemuk, kaki panjang diadaptasi untuk melompat,
bersifat ektoparasit pada hewan mamalia dan burung. Contoh : Ctenocephalides felis
Ordo Hymenoptera
Bersifat holometabola, mulut tipe pengunyah atau penghisap, tidak bersayap
atau memiliki 2 pasang sayap yang berupa membrane dan sedikit vena, sayap depan
berukuran lebih besar daripada belakang. Hewan betina memiliki ovipositor.
Sebagian besar spesies bersifat soliter tapi ada juga yang bersifat social. Contoh :
Nematus

Gambar 2.24 Nematus

(Sumber : Hickman et al, 2001: 446 )


E. Kelas symphila
Kelas symphila merupakan Arthropoda berukuran kecil dengan panjang tubuh
kurang dari 1 cm. tubuh dibedakan atas kepala dan badan. Pada bagian kepala
terdapat antenna, maksila, dan labilum. Badan tersusun atas 12 segmen dan setiap
segmen tubuh memiliki sepasang kaki. Lubang kelamin terletak pada permukaan
ventral tubuhnya diantara pasangan kaki ke empat. Hewan anggota kelas ini bersifat
terestrial, dengan habitat ditempat lembab dan menghindari cahaya. Makanannya
berupa tanaman yang masih hidup atau sudah mati, sehingga kadangkala merupakan
hama kebun. Sebagian kecil spesies bereproduksi secara partenognesis, yaitu dari
telur yang tidak dibuahi, sedangkan spesies lainnya bereproduksi secara seksual.
Proses reproduksi seksual terjadi dengan cara hewan jantan meninggalkan
47

spermatofora pada hewan betina. Hewan betina menerima spermatofor didalam


mulutnya, selanjutnya sperma disimpan didalam kantong khusus. Pada saat bertelur
hewan bertelur, hewan betina menggunakan mulutnya untuk mengambil telur dari
lubang kelaminnya. Selanjutnya telur tersebut diletakkan diatas substrat missal
humus, kemudian sperma yang tersimpan didalam mulut hewan betina dilepaskan
diatas telur (Kastawi et al, 2003:278).

Gambar 2. 25 Scutigerella
(Sumber : Hickman et al, 2001: 446 )
F. Kelas Pauropoda

Hewan dari kelas ini berukuran sangat kecil dengan panjang tubuh 0,5 sampai
2 mm. hewan ini tidak berwarna, tubuh dibedakan atas kepala dan badan.antena
hewan ini bercabang 3 dan tidak memiliki mata. Tubuh berbentuk silindris tersusun
atas 11/12 segmen dengan 6 lempeng doral. Setisp segmen badan memiliki sepasang
kaki kecuali segmen pertama dan 2 segmen terakhir. Saat menetas hewan hanya
memiliki 3 pasang kaki. Lubang kelamin terletak dipermukaan ventral buakn pada
segmen ke 3. Tidak memiliki organ sirkulasi dan respirasi. Respirasi melalui seluruh
permukaan tubuh seperti pada cacing tanah. Habitat hewan ini ditempat lembab
dibawah kayu, daun atau tanah. Makanannya hewan berukuran mikroskopis.
Contohnya Pauropus Huxleyi, dan Eurypauropus spinopus yang ditemukan di
Amerika Timur dan Tengah serta Eropa(Kastawi et al, 2003 : 278)
.

48

Gambar 2.25 Paurpus


(Sumber : Hickman et al, 2001: 446 )
2.5 Peranan dari Hewan Filum Arthropoda
Peranan arthropoda yang mnguntungkan, antara lain sebagai berikut.
1. Sumber makanan yang mengandung protein tinggi, contohnya udang dan
kepiting
2. Menghasilkan madu, contohnya lebah madu
3. Bahan pakaian sutra, contohnya ulat sutra
4. Membantu penyerbukan tanaman
5. Serangga predator bagi pemberantas hama tanaman secara biologi
Peranan arthropoda yang merugikan, antara lain sebagai berikut.
1. Perusak tanaman, yaitu semua larva atau ulat pemakan daun
2. Inang perantara penyakit, misalnya Aedes aegepty

3. Parasit pada manusia, contohnya kutu rambut


4. Merusak kayu dan bangunan, contohnya rayap (Setiati, 2007: 112).

Gambar 2.26 Peran Menguntungkan Dari Arthropoda


(Sumber : Hickman et al, 2001: 446 )

Gambar 2.27 Peran Merugikan Dari Arthropoda


(Sumber : Hickman et al, 2001: 446 )

49

BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Dari beberapa penjelasan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut.
1. Ciri-ciri umum Filum Arthropoda, yaitu tubuh simetri bilateral, terdiri atas
segmen-segmen yang saling berhubungan dibagian luar dan memiliki tiga lapis
germinal sehingga merupakan hewan triploblastic, memiliki kerangka luar dan
dibedakan atas kepala, dada, sertaperut yang terpisah atau bergabung menjadi
satu, setiap segmen tubuh memiliki sepasang alat gerak atau tidak ada, sarafnya
merupakan system saraf tangga tali, perkembangan individu baru terjadi secara
langsung atau melalui stadium larva.
2. Arthropoda kemungkinan seperti Annelida yang memiliki dinding tubuh berotot
dan tubuh tidak terbagi menjadi daerah tertentu. Mollusca bergerak meluncur di
atas lendir oleh gerakan/gelombang silia atau kontraksi otot.
3. Arthropoda kemungkinan seperti Annelida yang memiliki dinding tubuh berotot
dan tubuh tidak terbagi menjadi daerah tertentu, system pencernaan terdiri dari
3 usus, system saraf tangga tali, kerangka luar merupakan kutikula.
4. Filum Arthropoda dibagi menjadi empat sub-filum yaitu Trilobita (sudah
punah), Chelicerata, Onychophora, dan Mandibulata.
5. Peranan dari Arthropoda ada yang menguntungkan dan ada yang merugikan,
yang menguntungkan diantaranya sebgai sumber makanan bergizi dan

membantu penyerbukan sedangkan yang merugikan yaitu sebagai hama atau


parasit.
3.2 Saran
Makalah ini masih sangat sederhana dan perlu dikaji dan diperluas lagi,
sehingga diharapkan pembaca dapat lebih memperluas dan memperdalam wawasan
mengenai filum Arthropoda.
50

DAFTAR RUJUKAN
Borror, D., J, Triplehorn, C., A, Johnso, N., K, 1992. Pengenalan Pelajaran
Serangga. Jogja : UGM Press
Engeman, J. G. & Hegner, R. W. 1981. Invertebrata Zoology. New York : Macmillan
Publishing Co., Inc
Hickman, C. P., Roberts, L.S., Larson, A. 2001. Intergrate Principle Of Zoology
8th Edition. New York: McGraw-Hill.
Kastawi,Y., Indriwati, S.E., Ibrohim, Masjhudi, Rahayu, S.E. 2003. Zoologi
Avertebrata. Umpress.
Maskoeri,J. 1992. Zoologi Invertebrata. Surabaya: Sinar Wijaya.
Mukayat, D.B. 1989. Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga.
Setiati. 2007. Artropoda. Jakarta: Lusdt.

51

Anda mungkin juga menyukai