Anda di halaman 1dari 6

Aspek Biomekanis Pada Preparasi Gigi Vital

FX Ady Soesetijo

Terminologi/Pengertian
Biomekanis : respons jaringan hidup terhadap rangsangan mekanis. Pada preparasi gigi
ragsangan mekanis dapat berasal dari putaran dan gesekan yang
ditimbulkan oleh alat bur.
Preparasi

: mempersiapkan gigi sebelum ditempati oleh suatu restorasi, dalam hal ini
dengan cara mengasah gigi/mengurangi jaringan keras gigi dengan sengaja
dengan alat bur. Tujuannya adalah membangun retensi dan resistensi dari
gigi yang akan dijadikan sebagai penyangga dan restorasi yang
menempatinya.

Prinsip-prinsip preparasi gigi (principles of tooth preparation)


Untuk mendapatkan restorasi yang optimal, terdapat beberapa persyaratan yang harus
dipenuhi pada saat preparasi gigi penyangga, yaitu :

Pertimbangan biologis (biological considerations) : a) preparasi tidak boleh


membahayakan jaringan sekitar dan pulpa; b) restorasi harus dibuat sedemikian rupa,
sehingga tidak mudah terjadinya penumpukan sisa makanan dan plaque dan c)

biokompatibel.
Pertimbangan mekanis (mechanical considerations) : gigi penyangga yang dipreparasi

harus tetap mencerminkan kekuatan, retensi dan resistensi restorasi.


Pertimbangan estetis (aesthetical considerations) : restorasi yang ditempatkan pada gigi
penyangga harus memiliki kesesuaian warna, ukuran dan bentuk serta susunan yang tepat

dengan gigi-gigi disekitarnya dan antagonis.


Pertimbangan psiko-sosial (psicho-social considerations) : tindakan pengasahan hampir
selalu timbul rasa sakit/ngilu terutama pada gigi yang masih vital, meskipun gradasinya
brvariasi sesuai ambang rangsang individu dan tipe kepribadiannya. Disamping itu
tindakan pengasahan menimbulkan bunyi yang cukup menakutkan, dengan demikian
operator perlu memperhatikan faktor psiko-sosial dalam melakukan perawatan pada
penderita untuk menghilangkan atau mengurangi rasa takut.
Timbulnya rasa sakit tidak hanya muncul dari rangsangan dan respon fisik, tetapi juga
berkaitan dengan respon emosi. Rangsangan pada daerah yang terluka/teriritasi akibat

pengasahan akan ditransmisikan ke dorsal horn dari spinal cord yang bertindak sebagai
gate atau gerbang antara serabut perifer dan otak.
Rasa sakit terdiri dari 3 (tiga) komponen, yaitu : a] sensory discriminative yang berkaitan
dengan informasi yang dipersepsikan oleh individu; b] cognitive motivasional yang
memberikan dorongan untuk bereaksi atau informasi yang diperoleh ; dan c] cognitive
evaluative yang berkaitan dengan pengalaman masa lampau. Dari ke tiga komponen
tersebut di atas apabila ditambah dengan pengalaman rasa sakit yang pernah didengar dari
orang lain, maka akan menyebabkan individu tersebut enggan berobat gigi. Oleh karena
itu dalam menangani atau memcegah rasa sakit pada perawatan/pengasahan gigi, selain
diperlukan anestesi juga memerlukan pendekatan yang bersifat psikologis.
Berbagai hal yang dapat digunakan sebagai dasar untuk melakukan pendekatan pada
penderita adalah ciri-ciri sosio-demografi seperti jenis kelamin, umur, pendidikan dan
pekerjaan serta kepribadian individu.
Hipocrates menyatakan bahwa kepribadian manusia dibagi menjadi 4 (empat) golongan :
1] tipe cholerik, dengan sifat-sifat bersemangat, keras daya juang, besar hati, memiliki rasa
optimis yang tinggi, tetapi emosional (hati mudah terbakar); 2] tipe melancholik, dengan
sifat-sifat mudah kecewa, daya juang kecil dan pesimistis; 3] tipe phlegmatik, dengan
sifat-sifat tidak suka terburu-buru, tenang, tidak mudah dipengaruhi dan setia; 4] tipe
sanguik, dengan sifat-sifat ramah, mudah berganti haluan, lekas betindak tetapi juga lekas
berhenti.
Dari prinsip-prinsip tersebut di atas, prinsip mekanis merupakan hal yang paling penting
untuk keberhasilan sebuah restorasi. Prinsip ini bertujuan untuk menghindari terlepasnya dan
juga mencegah fraktur serta distorsi restorasi.
Prinsip preparasi harus memperhatikan hal-hal tersebut di bawah ini.
a. Retensi dan resistensi
Restorasi harus dapat bertahan pada gigi penyangga. Preparasi harus dibuat
sedemikian rupa sehingga menghasilkan bentuk yang retentif (tidak terlepas) terhadap
gaya-gaya vertikal yang berlawanan dengan arah pasang. Dan menghasilkan
resistensi, yaitu bentuk hasil preparasi yang dapat menyebabkan restorasi bertahan
pada tempatnya terhadap gaya-gaya yang dapat merubah kedudukannya selama
berfungsi.
b. Taper/konvergensi
Dinding aksial bidang preparasi harus konvergen, artinya adalah dua dinding eksternal
yang berlawanan (mesial-distal dan labio/buko-palatinal/lingual) harus konvergen ke
arah insisal/oklusal. Besar derajat konvergensi (sudut taper) harus dibuat seminimal
mungkin, dengan tujuan untuk tetap mempertahankan jaringan sehat sebanyak
2

mungkin (preservasi), serta memberikan retensi dan resistensi maksimal. Secara


teoritis jika dinding aksial yang dipreparasi mendekati tegak lurus atau dindingdinding aksial saling sejajar, maka semakin besar retensi dan resistensi yang di dapat.
Pada kenyataannya hal tersebut sulit direalisasikan, karena sedikit undercut pasti
terbentuk, yang nantinya dapat menyulitkan proses insersi. Undercut didefinisikan
sebagai sebuah divergensi antar dua dinding aksial yang berlawanan dalam arah
serviko-insisal/oklusal.
c. Dimensi serviko-oklusal
Tinggi serviko-oklusal adalah faktor penting dalam retensi dan resistensi. Bidang
preparasi yang tinggi akan memiliki luas permukaan yang lebih besar, sehingga akan
menjadi lebih retentif dan memberikan resistensi yang baik untuk restorasi.
d. Arah pemasangan (path of insertion)
Arah pemasangan adalah garis imajiner yang menunjukkan arah restorasi pada saat
dipasang atau dilepas (removal) dari gigi penyangga. Arah pemasangan direncanakan
oleh operator/dokter gigi sebelum preparasi di mulai.
e. Ketebalan reduksi aksial dan insisal/oklusal
Banyaknya reduksi yang dibutuhkan bervariasi pada tipe mahkota dan permukaan gigi
yang berbeda. Reduksi juga dipengaruhi oleh morfologi, posisi dan susunan gigi,
hubungan oklusal, estetik, dan pertimbangan periodontal. Gigi-gigi yang crowded
umumnya memerlukan reduksi sisi permukaan yang protrude lebih besar, untuk
menyediakan tempat restorasi dan/atau bentuk retensi dan resistensi yang memuaskan.
f. Integritas marginal (marginal integrity)
Restorasi yang baik harus memiliki integritas marginal/tepi yang adekuat. Integritas
marginal dipengaruhi oleh tipe/jenis preparasi tepi servikal, dalam hal ini adalah batas
akhir tepi servikal (finish line). Finish line sebaiknya diletakkan supra-gingiva untuk
menjamin kesehatan periodontal jika retensi, resistensi dan estetik memungkinkan.
Jika sub-gingiva finish line dibutuhkan, sebaiknya tidak membahayakan perlekatan
epitelial.
g. Struktur jaringan gigi yang terlibat
Tindakan pengasahan merupakan rangsang mekanis dan termal, yang mempunyai
pengaruh utama pada pulpa. Secara ringkas dapat dijelaskan bahwa jaringan keras
mahkota gigi yang berhubungan dengan tahap preparasi adalah email dan dentin.
Email yang pertama-tama diasah mengandung 96 % bahan anorganik dengan porsi
utama disusun oleh kristal hidroksi apatit yang merupakan bagian terkeras karena
paling tinggi mineralisasinya. Ketebalan email ini tidak sama pada masing-masing
3

bagian permukaan gigi, umumnya pertautan email-dentin memiliki ketebalan 1


sampai 2 mm dimana semakin berkurang apabila mendekati cemento-enamel
junction.
Kekuatan email juga bergantung kepada dukungan dentin yang sehat. Dentin
merupakan bagian keras mahkota gigi yang dibentuk oleh odontoblast yang
terkalsifikasi dan bersifat elastis. Dentin mengandung kristal hidroksi apatit yang
termineralisasi sebesar 70 % . dentin terdiri dari saluran-saluran kecil yang
mengandung serat protoplasmik yang sangat responsif dan merupakan perpanjangan
odontoblast. Inti odontoblast masuk ke dalam pulpa, sehingga dentin dan pulpa
merupakan satu jaringan yang berhubungan. Ketebalan dentin berkisar 3 sampai 3,5
mm, sedangkan saluran tubuli dentin berdiameter 0,5 0,9 m di daerah dentinoenamel junction dan membesar sampai 2 3 m di daerah pulpa.
h. Faktor yang mempengaruhi kerusakan dan penyembuhan jaringan
Iritasi yang dapat menjadi penyebab kegagalan perawatan dikarenakan pengasahan
pada tahap preparasi gigi dapat berupa kenaikan suhu, trauma mekanis, bahan kimia
dan invasi kuman atau kombinasi dari hal-hal tersebut di atas. Faktor penyebab
terjadinya panas adalah banyaknya pengasahan, kecepatan putaran bur, dan bahan alat
pengasah. Demikian pula dengan besar tekanan alat pengasah, kebasahan daerah
kerja, pendinginan, getaran yang timbul dan macam jaringan yang diasah. Reaksi
pulpa dapat dipengarihi oleh usia, ketebalan sisa jaringan dentin dan keadaan pulpa
sebelum perawatan.
Pada pengasahan gigi vital dengan karies, maka timbulnya rangsangan terhadap pulpa
diakibatkan kombinasi rangsangan bersifat biologis seperti bakteri, fungi atau virus
dengan rangsang mekanis, termal dan kimia. Rangsangan kimia seperti pemberian
alkohol, asam dari likuid bahan semen dapat memperberat keadaan pulpa.
Pada pengasahan gigi vital yang normal, perlu diketahui dengan jelas seberapa banyak
jaringan email yang harus diambil. Pemenuhan syarat untuk ketebalan optimal bahan
yang dipakai, apakah metal, porselen, akrilik atau kombinasi metal dengan keduanya,
maka hasil pengasahan harus diusahakan meninggalkan selapis jaringan email di
seluruh permukaan gigi yang diasah.
Terkenanya jaringan dentin karena alasan khusus seperti untuk mendapatkan
ketebalan optimal atau adanya karies, fraktur pada gigi yang diasah, harus hati-hati
dalam manipulasinya karena kemungkinan pulpa teriritasi akan lebih besar.
Pengasahan yang dalam dan sempit seperti pembuatan onlay atau inlay akan lebih
4

merusak odontoblast dibandingkan dengan pengasahan yang lebih luas tetapi dangkal
seperti full veneer crown.
Penelitian in vitro menunjukkan adanya kenaikan suhu sampai 80 o F bila pengasahan
memakai steel bur tanpa pendingin dengan tekanan pound dan kecepatan 3.000
sampai 30.000 rpm. Kalau tekanan diperbesar menjadi 1 pound, maka suhu akan
meningkat menjadi 200o F. Terbukti bahwa penambahan tekanan pada waktu
mengasah akan menaikan suhu gigi, selain itu juga terjadi peningkatan respons radang
yang dapat menyebabkan perubahan letak inti odontoblast. Area pengasahan yang
kering akan menyebabkan dehidrasi, tetapi apabila dilakukan pada kondisi basah
maka edema pulpa tidak akan terjadi. Respons kenaikan suhu yang dapat ditoleransi
oleh pulpa adalah 68o F 122o F. Vibrasi mekaniuk karena pengasahan dengan
kecepatan tinggi dapat menyebabkan denaturasi protein dan perubahan morfologi
odontoblast.
Kecepatan aman atau dapat dipertanggungjawabkan adalah 200.000 250.000 rpm
dengan pendinginan sempurna. Bila tidak menggunakan pendingin, kecepatan
mengasah yang aman adalah 300 500 rpm. Kecepatan lambat ini umum dipakai
untuk membersihkan sisa jaringan karies atau untuk tahap akhir pengasahan dan
pemolesan. Kecepatan alat pengasah dan pendinginan berperan besar pada kenaikan
suhu yang dapat menyebabkan kelainan/kerusakan odontoblast dan jaringan pulpa.
Kenaikan suhu 5 7o C akan menyebabkan perubahan permeabilitas, keluarnya
plasma dan venula odontoblast, selain juga perubahan tekanan osmotik intra pulpa
yang menimbulkan vasodilatasi yang menetap.
Banyak faktor yang berperan pada pertahanan diri jaringan email, dentin dan pulpa
terhadap iritasi. Usia muda mempengaruhi daya regenerasi yang lebih baik
dibandingkan usia dewasa, karena pembentukan dentin reparatif lebih baik. Tetapi
pada usia dewasa, tubulus telah mengalami kalsifikasi, degenerasi atau sudah
terbentuk dentin reparatif, sehingga pemotongan tubulus tidak menyebabkan cedera
dan rasa sakit. Tidak demikian dengan pada usia muda, dimana pada daerah pertautan
enamel-dentin banyak mempunyai cabang tubuli dentin. Ketahanan pulpa juga banyak
dipengaruhi oleh faktor genetik, nutrisi, penyakit sistemik dan hormonal. Apabila
pulpa terkena iritasi, maka arteri akan mengembang dan meningkatkan jumlah darah
yang masuk ke dalam pulpa, akan tetapi selama vena masih mampu mengeluarkan
kelebihan suplai darah dari kamar pulpa, maka hal tersebut tidak membahayakan.

Lumen vena pada ujung akar yang terbatas pengembangannya akan menghambat
keluarnya aliran darah dan ini menyebabkan kongesti, degenerasi dan nekrosis pulpa.
Peradangan pulpa karena iritasi mekanis pada dentin dapat dikriteriakan dengan
ringan, sedang dan berat. Radang ringan akan menimbulkan reaksi odontoblast yang
paling perifer dengan cara mengendapkan mineral pada tubuli dentin, sehingga tubuli
menjadi lebih sempit atau tertutup sama sekali. Hal tersebut secara klinis tampak
berupa dataran dentin yang bening dan berwarna kecoklatan. Kelainan ini disebut
dentin sklerosis atau dentin transparans. Di samping itu, di perifer ruang pulpa
terbentuk endapan mineral yang mengisolasi jaringan pulpa dari rangsangan yang
datang dari luar, hal tersebut dinamakan dentin reparatif atau dentin tersier. Rangsang
sedang yang diakibatkan karena pemotongan dentin yang lebih dalam akan
menyebabkan kerusakan cabang sitoplasma odontoblast. Hal tersebut dapat
menyebabkan

terjadinya

degenerasi

membran

endoplasmik

retikulum

dan

mitokondria yang diikuti oleh denaturasi protein. Juga terjadi perlambatan aliran
darah dan dilatasi pembuluh darah, sehingga cairan akan keluar ke jaringan sekitarnya
yang menyebabkan stasis dan diikuti trombosis. Akumulasi cairan akan melepas
odontoblast dari dentin dan jaringan di bawahnya, sehingga menyebabkan kerusakan
membran pulpo-dentin. Kerusakan ini menyebabkan reaksi khemotaksis yang menarik
leukosit keluar dari pembuluh darah kemudian melapisi lapisan odontoblast.
Keluarnya eksudat radang pada lapisan tersebut akan menyebabkan tekanan dan
kematian sel, sehingga akan mengurangi ketebalan lapisan itu sendiri. Radang berat
menyebabkan

perubahan

letak

inti

odontoblast

yang

disebut

ectopic/aspirated/displaced odontoblast, yang umumnya terjadi karena keringnya


dentin atau pengasahan tanpa pendinginan. Pergerakan inti ini akan menyebabkan
autolisis.
Pemulihan jaringan yang teriritasi/rusak tergantung kepada kriteria radang, intensitas
dan lamanya iritasi. Bila konsentrasi iritan berkurang, maka dengan adanya bantuan
stimuli kimia dari sel-sel yang cedera akan mempercepat proses pemulihan.
Pemulihan jaringan pulpa ditandai dengan adanya proliferasi fibroblast, infiltrasi sel
radang dan akumulasi asam muko-polisakarida diikuti dengan peletakan kolagen dan
pembentukan dentin reparatif.