Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIK KI-2142

PRAKTIKUM E-2
KELARUTAN TIMBAL BALIK

Nama

: Catia Julie Aulia

NIM

: 13714035

Kelompok

: II

Shift

: Rabu Siang Minggu ke-2

Tanggal Percobaan

: 30 September 2015

Tanggal Laporan : 7 Oktober 2015


Asisten

: Prisanti Uni A. (10511016)

LABORATORIUM KIMIA FISIK


PROGRAM STUDI KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2014
I.

JUDUL PERCOBAAN

KELARUTAN TIMBAL BALIK.

II.

TUJUAN PERCOBAAN
1. Menentukan massa jenis larutan CH3OH, dan larutan NaCl.
2. Menentukan temperatur kritis campuran Fenol dengan Air.
3. Menggambarkan hubungan antara fraksi mol campuran
dengan temperatur campuran dalam suatu diagram fasa.

III.

DASAR TEORI
Kelarutan atau solubility adalah kemampuan suatu zat kimia
tertentu, zat terlarut (solute), untuk larut dalam suatu pelarut
(solvent). Kelarutan dinyatakan dalam jumlah maksimum zat
terlarut yang larut dalam suatu pelarut pada kesetimbangan.
Larutan hasil disebut larutan jenuh. Zat-zat tertentu dapat larut
dengan perbandingan apapun terhadap suatu pelarut. Contohnya
adalah etanol di dalam air. Sifat ini lebih dalam bahasa Inggris
lebih tepatnya disebut miscible. Pelarut umumnya merupakan
suatu cairan yang dapat berupa zat murni ataupun campuran.
Faktor faktor yang mempengaruhi kelarutan timbal balik
antara lain :

a Sifat solute dan solvent : Solute yang polar akan larut dalam solvent
yang polar pula, solute yang non polar akan larut dalam solvent
yang non polar juga.
b Temperatur : Zat pada umumnya bertambah larut bila
suhunya dinaikkan, zat padat tersebutdikatakan bersifat
endoterm.
c Salting out : Peristiwa adanya zat terlarut tertentu yang
mempunyai kelarutan lebih besar dibandingkan zat utama
akan menyebabkan penurunan kelarutan zat utama atau
terbentuknya endapan karena adanya reaksi kimia.

d Salting in : Peristiwa adanya zat terlarut tertentu yang


menyebabkan kelarutan zat utama dalam solventmenjadi
lebih besar.
e Consolvensi : Peristiwa kenaikan kelarutan suatu zat karena
adanya penambahan pelarutlain atau modifikasi pelarut.
f

Tekanan : Semakin besar tekanan yang diberikan pada


larutan maka akan semakin besar pula kelarutan suatu
campuran.

g Volume : Semakin banyak volume pelarut yang digunakan


untuk melarutkan suatu senyawa maka akan semakin
mudah senyawa itu untuk larut dalam suatu pelarut.
h pH : Suatu senyawa akan mudah larut dalam suatu pelarut
apabila suasananya tidak terlalu asam atau terlalu basa
yaitu pH netral.
i

Kelarutan (Ksp) : Semakin besar nilai kelarutan (Ksp) suatu


senyawa maka akan semakin mudah pula senyawa itu larut
dalam suatu pelarut.

Bila dua zat cair dicampur dengan komposisi yang berbeda


maka ada 3 kemungkinan yang akan terjadi, yaitu :
1. Kedua zat cair dapat bercampur dalam tiap komposisi (satu
fasa)
2. Kedua zat cair tidak dapat bercampur sama sekali (dua fasa)
3. Kedua zat cair hanya dapat bercampur pada komposisi
tertentu (setimbang)
Kelarutan timbal balik adalah kelarutan dari suatu larutan
yang bercampur sebagian bila temperaturnya di bawah
temperatur kritis. Temperatur mempengaruhi komposisi kedua
fasa pada kesetimbangan. Temperatur kritis adalah kenaikan
suhu tertentu dimana akan diperoleh komposisi larutan yang

berada dalam kesetimbangan. Temperatur kritis dibagi menjadi


dua, yaitu temperatur kritis atas dan temperatur kritis bawah.
Temperatur kritis atas adalah batas atas temperatur dimana
terjadi pemisahan fasa. Di atas temperatur batas atas, kedua
komponen benar-benar bercampur dan sistem berada pada satu
fasa (jernih). Apabila temperaturnya dibawah temperatur batas
bawah, kedua komponen tidak akan saling bercampur dan
sistem berada pada dua fasa (keruh).

Gambar 1. Diagram Temperatur-Komposisi dari Fenol dan Air.

Temperatur kritis bawah adalah batas bawah temperatur


dimana terjadi pemisahan fasa. Apabila suhu berada dibawah
temperatur itu makan komponen akan saling bercampur dan
membentuk satu fasa (jernih). Apabila temperaturnya diatas
temperatur itu maka komponen tidak saling melarutkan dan
sistem akan membentuk dua fasa (keruh).

Gambar 2. Diagram Temperatur-Komposisi dari Air dan Etilamina.

Beberapa sistem mempunyai temperatur kritis atas dan


temperatur kritis bawah. Sebabnya, sesudah kompleks yang
lemah terurai, sehingga kedua komponen dapat campur

sebagian, pada temperatur lebih tinggi, gerakan termal


membuat campuran homogen kembali, seperti halnya dalam
cairan campur sebagian biasa.

Gambar 3. Diagram Temperatur-Komposisi dari Air dan Nikotin.

IV.

DATA PENGAMATAN
1 Penentuan Volume Piknometer dan Massa Jenis Larutan

Tabel 1. Data Pengamatan Massa Zat dengan menggunakan Piknometer

Isi
Kosong
Air Suling

Pikno A
19,66 gr
46,22 gr

Pikno B
18,87 gr
43,50 gr

CH3OH 1%
NaCl 1%

46,20 gr
46,45 gr

43,44 gr
43,35 gr

Massa

pikno A + air

= 65,88 gr

Massa

pikno B + air

= 62,37 gr

Temperatur Ruangan : 27o C


0,996512 g/mL

air pada T ruang =


Massa

pikno A + CH3OH 1%

Massa

pikno B + NaCl 1%

= 65,86 gr

= 62,22 gr

2 Penentuan Temperatur
Tabel 2. Data Pengamatan Campuran Fenol dengan Air

Komposisi
Fenol
Air (mL)
(gr)
4
4

Tbening
(oC)

Tkeruh
(oC)

Trata-rata
(oC)

62

61

60,5

65

62

63,5

68

64

66

67

65

66,5

10

67

63

65

6,5

61

60

60,5

8,5

66

63

64,5

10,5

68

64,5

66,25

Tabel 3. Data Pengamatan Campuran Fenol dengan CH 3OH 1%

Komposisi
Fenol (gr)

CH3OH 1%

Tbening (oC)

Tkeruh (oC)

Trata-rata (oC)

(mL)
4

65

62

63,5

Tabel 4. Data Pengamatan Campuran Fenol dengan NaCl 1%

Komposisi
Fenol (gr)

NaCl 1%
(mL)

Tbening (oC)

Tkeruh (oC)

Trata-rata (oC)

81

79

80

V.

PENGOLAHAN DATA
1. Penentuan Volume Piknometer

Vpikno

CH3OH

( Wpikno+ air ) Wpiknokosong


air pada Truang

62,37 gr 19,66 gr
gr
0,996512
mL

= 42,7992 mL

Vpikno

NaCl

( Wpikno+air ) Wpiknokosong
air pada Truang

62,22 gr 18,87 gr
gr
0,996512
mL

= 43,5017 mL
2. Penentuan Larutan

Larutan CH3OH

( Wpikno+zat )Wpiknokosong
Vpikno

65,86 gr19,66 gr
42,7992 mL

= 1,0794 gr/mL

Larutan NaCl

( Wpikno+ zat )Wpiknokosong


Vpikno

62,22 gr18,87 gr
43,5017 mL

= 0,9965 gr/mL
3. Penentuan Temperatur Rata-Rata

Trata-rata

Tbening +Tkeruh
2

Tabel 5. Data Pengamatan Campuran Fenol dengan Air

Komposisi
Fenol
Air (mL)
(gr)
4
4

Tbening
(oC)

Tkeruh
(oC)

Trata-rata
(oC)

62

61

60,5

65

62

63,5

68

64

66

67

65

66,5

10

67

63

65

6,5

61

60

60,5

8,5

66

63

64,5

10,5

68

64,5

66,25

Tabel 6. Data Pengamatan Campuran Fenol dengan CH 3OH 1%

Komposisi
Fenol (gr)

CH3OH 1%
(mL)

Tbening (oC)

Tkeruh (oC)

Trata-rata (oC)

65

62

63,5

Tabel 7. Data Pengamatan Campuran Fenol dengan NaCl 1%

Komposisi
Fenol (gr)

NaCl 1%
(mL)

Tbening (oC)

Tkeruh (oC)

Trata-rata (oC)

81

79

80

4. Penentuan Fraksi Mol Fenol


a. Sistem Fenol-Air
Mrfenol

= 94.11 g/mol

Mrair

= 18 g/mol

air pada T ruang

Xfenol

0,996512 g/mL

mol fenol
mol fenol+ mol air

gram fenol
Mr fenol
gram fenol air . Vair
+
Mr fenol
Mr air

Tabel 8. Fraksi Mol Fenol

Komposisi

Xfenol

Fenol (gr)
4

Air (mL)
4

0,0112

0,0135

0,0159

0,0206

10

0,0322

6,5

0,0270

8,5

0,0405

10,5

0,0566

b. Sistem Fenol Air - CH3OH 1%

VCH3OH

1 mL
6 mL CH 3OH 1
100 mL larutan

= 0,06 mL

mCH3OH

= VCH3OH x CH3OH
= 0,06 mL x 1,0780 gr/mL
= 0,0646 gram

nCH3OH

CH 3 OH x V CH 3 OH
Mr CH 3 OH

gr
x 0,06 mL
mL
32,04 gr /mol

1,0780

= 0,00201 mol

Vair

= VCH3OH 1% - VCH3OH
= 6 mL 0,06 mL
= 5,94 mL

nair

V air air
Mr air

5,94 mL 0,996512

gr
mL

18 gr / mol

= 0,3288 mol

Xfenol

nfenol
nfenol+nair+ nCH 3 OH

4 gram
94,11 gr /mol
=

4 gram
+ 0,3288 mol+0,00201 mol
gr
94,11
mol

= 0,0158

c. Sistem Fenol-Air-NaCl 1%

WNaCl

1 gram
6 mL NaCl 1
100 mL larutan

= 0,06 gram

VNaCl

WNaCl
NaCl

0,06 gram
0,9965 gram/ mL

= 0,0602 mL

nNaCl

WNaCl
Mr NaCl

0,06 gram
58,44 gr /mol

= 0,0010 mol

Vair

= VNaCl 1% -VNaCl
= 6 mL 0,0602 mL
= 5,9398 mL

nair

Vair air
Mr air

5,9398 mL x 0,996512

gr
mL

18 gr /mol

= 0,3288 mol

Xfenol

nfenol
nfenol+nair+ nNaCl

4 gram
94,11 gr /mol
=

4 gram
+ 0,3288 mol+ 0,0010 mol
gr
94,11
mol

= 0,1141

5. Diagram Fasa

Diagram Fasa
100
80
Fenol-Air

60
Temperatur Rata-Rata (C)

Fenol-NaCl 1%

40

Fenol-CH3OH 1%

20
0
0

0.1 0.2

Fraksi mol Fenol

Y = ax + by
Dengan menggunakan regresi didapat :
A = 60,25o C
B = 157o C
Suhu kritis yang memungkinkan adalah 60,25o C

VI.

PEMBAHASAN
Pada percobaan ini komponen campuran divariasikan sehingga
terjadi perubahan campuran dari jernih menjadi keruh atau
sebaliknya yang terjadi pada suhu yang berubah-ubah. Pada
percobaan yang telah dilakukan dapat dikatakan bahwa fraksi
mol Fenol berpengaruh terhadap temperatur rata-rata campuran
Fenol dengan air.
Pada percobaan dengan komposisi fenol tetap dan komposisi air
yang berubah, temperatur rata-rata campuran semakin tinggi
apabila komposisi air nya juga tinggi. Maka dapat dikatakan
bahwa temperatur yang diperoleh bergantung pada volume
larutan. Semakin besar volume larutan maka temperatur rataratanya akan semakin besar juga dan sebaliknya. Apabila
dihubungkan dengan Fraksi mol Fenol, maka semakin tinggi
Fraksi mol Fenol maka akan semakin tinggi pula temperatur yang
akan dihasilkan.
Pengaruh Fraksi mol Fenol terhadap temperatur yang diperoleh
dapat dilihat dari perubahan warna larutan dari keruh menjadi
jernih setelah dipanaskan dan dari jernih menjadi keruh kembali
setelah didiamkan. Perubahan warna tersebut diakibatkan karena
zat tersebut mengalami perubahan kelarutan yang dipengaruhi
oleh perubahan temperatur.
Sebelum melakukan percobaan, massa jenis zat diukur terlebih
dahulu dengan menggunakan piknometer. Penggunaan
piknometer dalam percobaan ini cukup memudahkan praktikan
karena larutan uji yang digunakan dalam pengukuran jumlahnya
hanya sedikit, selain itu wadah pengukurannya kecil. Metode ini
lebih sederhana dan tidak rumit. Namun, kekurangan dari
metode ini karena dilakukan penimbangan zat atau larutan uji
berulang kali, dan alatnya cenderung sulit untuk dibersihkan dan

memerlukan waktu yang lama, selain itu penggunaan


piknometer yang mengharuskan tangan menyentuh piknometer
secara langsung dapat mengurangi akurasi pengukuran karena
minyak atau keringat pada tangan bisa menempel pada
piknometer dan mengacaukan pengukuran.
Dalam percobaan ini, terjadi perubahan warna larutan dari keruh
menjadi jernih dan sebaliknya. Perubahan warna ini menandakan
bahwa larutan mengalami perubahan fasa, dimana saat larutan
berwarna keruh, kedua zat yang ada pada larutan tersebut saling
melarutkan (satu fasa). Sedangkan saat larutan berwarna jernih,
kedua zat yang ada pada larutan tersebut tidak saling
melarutkan (dua fasa.
Dalam percobaan ini zat yang digunakan adalah NaCl dan CH3OH.
Zat tersebut digunakan agar terjadi efek salting out dan salting in
pada percobaan ini. Salting out adalah peristiwa adanya zat
terlarut tertentu yang mempunyai kelarutan lebih besar
dibandingkan zat utama akan menyebabkan penurunan
kelarutan zat utama atau terbentuknya endapan karena adanya
reaksi kimia. NaCl dapat digunakan untuk menurunkan kelarutan
zat utama sehingga apabila menggunakan NaCl, efek salting out
akan terjadi. Sedangkan salting in adalah adanya zat terlarut
tertentu yang menyebabkan kelarutan zat utama dalam solvent
menjadi lebih besar. CH3OH dapat menyebabkan efek salting in,
hal ini terjadi karena adanya ikatan hidrogen yang terjadi antara
CH3OH dan air.
Dalam percobaan ini juga dapat dilihat bahwa penambahan
CH3OH dapat meningkatkan kelarutan, namun menurunkan
temperatur larutan. Sebaliknya, penambahan NaCl dapat
menurunkan kelarutan, namun temperatur larutan akan
meningkat.

VII.

SIMPULAN

1. Massa Jenis Larutan CH3OH adalah 1,0794 gr/mL.


2. Massa Jenis Larutan NaCl adalah 0,9965 gr/mL.
3. Temperatur kritis sistem Fenol-Air adalah 60,25o C.

VIII. DAFTAR PUSTAKA


Darmaji. 2005. Kimia Fisika I. Jambi : Universitas Jambi.
Atkins, P.W . 1999. Kimia Fisika Jilid 1 Edisi Empat. Jakarta :
Erlangga.
Diakses : 6 Oktober 2015
http://www.alatlabor.com/article/detail/97/piknometer
Diakses : 6 Oktober 2015
http://faculty.nwfsc.edu/web/science/struckl/ABSOLUTE
%20DENSITY%20OF%20WATER%20TABLE.pdf

IX.

LAMPIRAN
1. Massa Jenis Air Berbagai Suhu (CRC)

2. Jawaban Pertanyaan Modul

1. Apakah yang diaksud dengan suhu konsolut atas atau suhu larutan
kritik? Berapa derajat kebebasan sistem pada T > T konsolut atas ?
Jawab : Suhu konsolut atas adalah kenaikan suhu tertentu dimana
komposisi campuran berada dalam kesetimbangan.
F=CP+2
=21+2
= 3 Derajat Kebebasan

2. Sebutkan sistem yang mempunyai titik konsolut bawah dan sistem


yang mempunyai dua suhu konsolut (atas dan bawah) ?
Jawab : Sistem yang mempunyai titik konsolut bawah adalah AirEtilamina, sedangkan sistem yang mempunyai dua suhu konsolut
adalah Air-Nikotin.

3. Apakah yang dimaksud dengan larutan konjugasi ?


Jawab : Larutan konjugasi adalah larutan campuran dari dua cairan
yang saling melarutkan.

4. Apakah yang dimaksud dengan efek Salting Out ? Tunjukkan


terjadinya efek tersebut pada percobaan yang saudara lakukan.

Jawab : Efek Salting Out adalah peristiwa adanya zat terlarut


tertentu yang mempunyai kelarutan lebih besar dibandingkan zat
utama akan menyebabkan penurunan kelarutan zat utama atau
terbentuknya endapan karena adanya reaksi kimia.
Dalam percobaan kali ini, efek Salting Out ditunjukkan oleh peristiwa
terbentuknya endapan ketika campuran berubah menjadi keruh.