Anda di halaman 1dari 5

PENGGUNAAN SISTEM MANAJEMEN BIAYA UNTUK EFISIENSI

LATAR BELAKANG
Sistem activity based costing memberikan gambaran yanglebih akurat dan rinci mengenai keadaan
peerusahaan, seperti profitabilitas dari produk tu pelanggan perusahaan. Menurut Cooper dan Kaplan
informasi activity based costing dapat dipergunakan untuk dua hal. Hal pertama disebut dengan
operating activity based management, dimana informasi ABC tersebut dipergunakan untuk
menunjukkan aktivitas-aktivitas yang dilakukan perusahaan secara tidak efisien, yang menimbulkan
biaya yang tinggi, yang pada akhirnya mengurangi profitabilitas produk atas pelanggan perusahaan.
Hal kedua disebut dengan strategic activity based management. Dalam hal ini sistem informasi ABC
dipergunakan untuk melakukan pengambilan keputusan stratejik yang lebih baik bagi perusahaan.
Sistem ABC akan menghasilkan informasi yang akurat, yang menyebabkan perusahaan dapat
mengetahui produk atau pelanggan yang mana yang merugikan ataupun yang menguntungkan,
sehingga perusahaan dapat mengambil keputusan yang lebih akurat mengenai tindakan-tindakan yang
dapat dilakukan perusahaan terhadap suatu produk.
Operating Activity based Management
Dalam penerapan activity based management maka model activity based costing yang harus dipakai
adalah model activity based costing yang memisahkan antara biaya fleksibel dengan biaya commited.
Tanpa pemisahan tersebut, perusahaan akan mengalami kesulitan untuk melakukan monitoring dari
dampak efisiensi terhadap pengurangan biaya perusahaan. Hal ini disebabkan karena tidak semua
biaya-biaya yang dikeluarkan perusahaan akan otomatis berkurang meskipun perusahaan
menghilangkan semua aktivitas-aktivitas yang dilakukannya. Hanya biaya yang bersifat fleksibel
yang akan hilang.
Jika dalam activity based costing, aktivitas-aktivitas yang dilakukan perusahaan dapat dibagi menjadi
empat tingkatan, yaitu unit level, batch level, prduct level, dan facility level, maka dalam activity
based management biasanya aktivitas perusahaan akan dibagi menjadi dua bagian yang besar, yaitu
aktivitas yang memiliki nilai tambah (value added activities) , dan aktivitas-aktivitas yang tidak
memiliki nilai tambah (non value added). value added activities adalah aktivitas-aktivitas yang
memiliki nilai tambah dimata konsumen, akibatnya konsumen mau membayar lebih karena
perusahaan melakukan aktivitas tersebut. sebagian besar dari aktivitas produksi, seperti memotong
kayu, merakit kursi, dan sebagainya, merupakan aktivitas yang memiliki nilai tambah, karena
konsumen merasa bahwa mereka tidak dapat melakukannya sendiri, maka mereka mau membayar
lebih karena perusahaan melakukan aktivitas tersebut.
Sebaliknya, konsumen tidak akan mau membayar untuk aktivitas-aktivitas yang tidak menambah
nilai yang dilakukan perusahaan. Karena itu, pada akhirnya perusahaan harus mencoba untuk
menekan bahkan menghilangkan biaya dari aktivitas-aktivitas yang tidak menambah nilai tersebut.
Contoh dari aktivitas-aktivitas yang tidak menambah nilai antara lain :
1. Pengerjaan ulang, aktivitas ini tidak memiliki nilai tambah, karena aktivitas pengerjaan ulang
menyebabkan perusahaan melakukan aktivitas trsebut sebanyak dua kali untuk produk yang
sama, karena aktivitas yang pertama kali dilakukan menghasilkan produk yang tidak sesuai
dengan spesifikasi. Pembeli produk perusahaan tidak akan peduli apakah terdapat pengerjaan
ulang dalam proses produksi perusahaan, yang penting bagi pembeli adalah membeli produk
perusahaan dalam keadaan baik dan berfungsi sebagaimana mestinya.

2. Pemeriksaan atau inspeksi merupakan aktivitas yang tidak memiliki nilai tambah. Jika
perusahaan dapat melakukan seleksi pemasok dengan baik, sehingga bahan baku yang
dipasok selalu sesuai dengan spesifikas, maka tidak diperlukan inspeksi bahan mentah lagi. S
edangkan jika perusahaan dapat menciptakan sistem zero defect, maka inspeksi barang ajdi
juga tidak diperlukan lagi.
3. Penyimpanan, biaya-biaya yang terkait dengan aktivitas penyimpanan, seperti biaya sewa
atau penyusutan gudang, biaya gaji orang gudang dan seterusnya merupakan biaya-biaya
yang tidak memiliki nilai tambah.
JUST IN TIME
JIT adalah suatu sistem produksi yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan tepat pada
waktunya sesuai dengan jumlah yang dikehendakinya.Tujuan sistem produksi Just In Time (JIT)
adalah untuk menghindari terjadinya kelebihan kuantitas/jumlah dalam produksi (overproduction),
persediaan yang berlebihan (excess Inventory) dan juga pemborosan dalam waktu penungguan
(waiting). Dengan adanya sistem JIT, kita telah dapat mengatasi 3 pemborosan (overproduction,
excess inventory dan waiting) diantara 7 pemborosan (7 Waste) yang harus dihindari dalam sistem
produksi Toyota.
Manufaktur JIT membuat produk atau jasa hanya bila pelanggan , internal atau eksternal , menuntut
hal itu . JIT menggunakan tata letak produk dengan aliran - satu kontinyu tanpa penundaan saat
produksi dimulai . Ini berarti harus ada pengurangan substansial dalam biaya setup untuk
menghilangkan kebutuhan untuk memproduksi dalam batch.
Implikasi dari JIT Manufacturing
Manufaktur JIT sederhana dalam teori tetapi sulit untuk mencapai dalam praktek . Beberapa
organisasi ragu untuk menerapkan JIT karena tanpa persediaan barang dalam proses , masalah di
mana saja ini sistem dapat menghentikan semua produksi . Untuk alasan ini , organisasi bahwa
manufaktur menggunakan JIT harus menghilangkan semua sumber kegagalan dalam sistem . Itu
proses produksi harus didesain ulang sehingga tidak mahal untuk proses satu atau sejumlah kecil item
pada suatu waktu . Hal ini biasanya berarti mengurangi jarak di mana pekerjaan dan proses telah
melakukan perjalanan dan menggunakan orang yang sangat mudah beradaptasi dalam menggunakan
peralatan yang dapat menangani selesainya pekerjaan.
Pada inti dari proses JIT adalah tenaga kerja yang sangat terlatih yang bertugas untuk membawa
kegiatan dengan menggunakan standar kualitas tertinggi . Ketika seorang karyawan menemukan
sebuah masalah dalam perusahaan , hal itu adalah tanggung jawab karyawan untuk mengatasi
masalah ini cepat terselesaikan. Pemasok harus mampu menghasilkan dan menyampaikan komponen
barangnya yang tidak cacat hanya ketika dibutuhkan . Dalam banyak kasus , perusahaan bersaing
dengan pemasok dari komponen yang sama untuk melihat siapa yang dapat memberikan kualitas
terbaik . Pada akhirnya kinerja pemasok yang melakukan pekerjaannya dengan baik akan
mendapatkan jangka panjang kontraknya.
Kebenaran dan ketepatan waktu pengiriman bahan-bahan produksi sangat diperlukan dalam Sistem
Produksi Just In Time ini. Contoh pada sebuah perusahaan manufaktur Handphone, perusahaan
tersebut harus dapat menerima model LCD display yang benar dan dalam jumlah yang dibutuhkan
untuk satu hari produksi, pemasok LCD Display tersebut diharapkan untuk dapat mengirimkannya
dan tiba di gudang produksi dalam batas waktu yang sangat singkat. Sistem permintaan bahan-bahan
Produksi demikian biasanya disebut dengan Pull System atau Sistem Tarik.

Motivasi untuk menggunakan pendekatan JIT adalah untuk meningkatkan kualitas produksi. Motivasi
untuk produksi penggunaan batch untuk mempertahankan tingkat tertentu persediaan untuk
mengurangi waktu pelanggan harus menunggu perintah . Sebagai waktu pemrosesan dan biaya setup
drop, organisasi dapat bergerak lebih dekat ke manufaktur JIT dan mengurangi masalah dan kualitas
yang timbul di batch produksi.
JIT Manufacturing dan Akuntansi Manajemen
manufaktur JIT memiliki implikasi besar bagi akuntansi manajemen . Pertama, akuntansi manajemen
harus mendukung langkah untuk manufaktur JIT dengan memantau mengidentifikasi , dan
berkomunikasi dengan para pembuat keputusan sumber keterlambatan , kesalahan , dan limbah dalam
sistem . Seimbang proses metrik Scorecard terkait dengan perusahaan kemampuan untuk menerapkan
sistem produksi JIT termasuk :
1.Defect rates (tingkat cacat ) 2.Cycle (siklus )
3.Percentase waktu pengiriman yang tepat waktu .
4. akurasi Order .
5.Actual sebagai persen dari produksi yang direncanakan .
6.Actual tersedia dibandingkan dengan mesin waktu yang direncanakan tersedia
sistem produksi konvensional menggunakan metrik kinerja berdasarkan tenaga kerja dan rasio
pemanfaatan mesin. Metrik ini mendorong ukuran batch besar dan tingkat tinggi produksi. Hasilnya
adalah jumlah persediaan yang besar yang mengarah ke manufaktur siklus panjang Oleh karena itu,
penggunaan tenaga kerja konvensional dan produktivitas mesin rasio tidak konsisten dengan filosofi
produksi JIT, di mana operator diharapkan akan menghasilkan hanya apa yang diminta, bila diminta,
dan tepat waktu.
Implikasi kedua adalah bahwa proses administrasi akuntansi manajemen disederhanakan oleh
manufaktur JIT karena ada persediaan yang lebih sedikit untuk memantau dan laporan. manufaktur
JIT telah menjadi manfaat untuk banyak organisasi. mereka yang tertarik dalam menerapkan sistem
ini perlu mengingat beberapa hal. Pertama, setiap inovasi manajemen yang signifikan, seperti ABC
atau JIT, membutuhkan perubahan budaya utama bagi suatu organisasi. Karena ide-ide utama di balik
JIT adalah perampingan operasi dan pengurangan limbah, banyak orang di dalam perusahaan yang
tidak siap untuk perubahan . JIT juga dapat mengubah kecepatan kerja dan disiplin kerja secara
keseluruhan organisasi . Hal ini dapat menyebabkan perubahan struktural dalam bidang-bidang seperti
penataan perusahaan.
Kelebihan Sistem Produksi Just In Time (JIT)
Banyak kelebihan yang dapat dinikmati dalam menerapkan sistem produksi Just In Time,
diantaranya sebagai berikut :
1. Tingkat Persediaan atau Stock Level yang rendah sehingga menghemat
tempat penyimpanan dan biaya-biaya terkait seperti biaya sewa tempat dan
biaya asuransi.
2. Bahan-bahan produksi hanya diperoleh saat diperlukan saja sehingga hanya
memerlukan modal kerja yang rendah.
3. Dengan Tingkat persedian yang rendah, kemungkinan terjadinya pemborosan
akibat produk yang ketinggalan zaman, lewat kadaluarsa dan rusak atau
usang akan menjadi semakin rendah.

4. Menghindari penumpukan produk jadi yang tidak terjual akibat perubahan


mendadak dalam permintaan.
5. Memerlukan penekanan pada kualitas bahan-bahan produksi yang dipasok
oleh Supplier (Pemasok) sehingga dapat mengurangi waktu pemeriksaan dan
pengerjaan ulang.

Kelemahan sistem produksi Just In Time (JIT)


Meskipun banyak kelebihan yang bisa didapat, Sistem Produksi Just In Time ini masih memiliki
kelemahan, yaitu :
1. Sistem Produksi Just In Time tidak memiliki toleransi terhadap kesalahan atau
Zero Tolerance for mistakes sehingga akan sangat sulit untuk melakukan
perbaikan/pengerjaan ulang pada bahan-bahan produksi ataupun produk jadi
yang mengalami kecacatan. Hal ini dikarenakan tingkat persediaan bahanbahan produksi dan produk jadi yang sangat minimum.
2. Ketergantungan yang sangat tinggi terhadap Pemasok baik dalam kualitas
maupun ketepatan pengiriman yang pada umumnya diluar lingkup
perusahaan manufakturing yang bersangkutan. Keterlambatan pengiriman
oleh satu pemasok akan mengakibatkan terhambatnya semua jadwal
produksi yang telah direncanakan.
3. Biaya Transaksi akan relatif tinggi akibat frekuensi Transaksi yang tinggi.
4. Perusahaan Manufaktring yang bersangkutan akan sulit untuk memenuhi
permintaan yang mendadak tinggi karena pada kenyataannya tidak ada
produk jadi yang lebih.
Banyak Perusahaan Manufakturing yang menerapkan sistem produksi Just In Time ini menikmati
keuntungan yang signifikan seperti Toyota dan beberapa perusahaan manufaktur Jepang yang
telah menerapkannya sejak tahun 1950an . Namun keberhasilan Sistem Produksi Just In Time
sangat tergantung pada komitmen seluruh karyawan perusahaan mulai dari lebel yang terendah
hingga pada level yang tertinggi.

Referensi :
http://ilmumanajemenindustri.com/pengertian-sistem-produksi-just-in-time-jit/