Anda di halaman 1dari 40

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami haturkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat
dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah Tugas Mekanika Tanah II mengenai
Dinding Penahan Tanah ini dengan baik meskipun terdapat kekurangan dalam makalah ini.
Kami berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah pengetahuan
kita mengenai fungsi dan perencanaan dinding penahan tanah dalam pekerjaan sipil di
lapangan. Kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna. Oleh
sebab itu kami berharap adanya kritik, saran, dan usulan demi perbaikan di masa yang
akan datang.
Semoga makalah ini dapat dipahami bagi yang membacanya. Sekiranya makalah
ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membiacanya. Sebelumnya kami
mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami mohon
kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.

Malang, Desember 2015

Penyusun

DAFTAR ISI

Kata pengantar
1
Daftar Isi..
2
BAB I

PENDAHULUAN.

3
1.1.
Latar

Belakang..

3
1.2.
Tujuan...
4
1.3.
Rumusan

Masalah....

4
BAB II ISI..
5
2.1.
Dasar

Teori.

5
2.1.1. Pengertian Dinding Penahan Tanah
5
2.1.2. Distribusi Tekanan Tanah terhadap Dinding Penahan..
6
2.1.3. Jenis-jenis Dinding Penahan Tanah.....
15
2

2.1.4. Kontrol Stabilitas Dinding....


21
2.2.
Contoh

Soal

dan

Pembahasan

29
BAB III PENUTUP.
35
3.1.
Kesimpulan.
35
Daftar Pustaka.
37

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Dewasa ini teknologi terus berkembang seiring kemajuan jaman. Teknologi di
bidang konstruksi bangunan juga mengalami perkembangan pesat, termasuk
teknologi dalam bidang geoteknik. Bidang geoteknik merupakan bidang ilmu
tersendiri dan menitikberatkan pada aplikasi teknik sipil dalam masalahmasalah yang
berhubungan dengan sifat mekanis tanah dan batuan (Suryolelono, 1996).
Tanah merupakan lapisan permukaan bumi yang sangat

dinamis,

perubahannya dipengaruhi oleh air, udara, dan pergeseran lempeng bumi. Salah satu
akibat dari perubahan itu adalah adanya lereng. Lereng adalah permukaan bumi yang
membentuk sudut kemiringan tertentu dengan bidang horisontal. Lereng dapat
terbentuk secara alamiah karena proses geologi atau karena dibuat oleh manusia.
Lereng yang terbentuk secara alamiah misalnya lereng bukit dan tebing sungai,
sedangkan lereng buatan manusia antara lain yaitu galian dan timbunan untuk
membuat jalan raya dan jalan kereta api, bendungan, tanggul sungai dan kanal serta
tambang terbuka. Suatu longsoran adalah keruntuhan dari massa tanah yang terletak
pada sebuah lereng sehingga terjadi pergerakan massa tanah ke bawah dan ke luar.
Longsoran dapat terjadi dengan berbagai cara, secara perlahan-lahan atau mendadak
serta dengan ataupun tanpa tanda-tanda yang terlihat.
Untuk menjaga kestabilan lereng lereng tersebut dan mencegah supaya
tanah tidak mengalami longsor, maka dibuatlah dinding penahan tanah. Dinding
penahan tanah merupakan komponen struktur bangunan penting utama untuk jalan
raya dan bangunan lingkungan lainnya yang berhubungan dengan tanah berkontur
atau tanah yang memiliki elevasi berbeda. Secara singkat dinding penahan
merupakan dinding yang dibangun untuk menahan massa tanah di atas struktur atau
bangunan yang dibuat.
Struktur atau bangunan penahan tanah seperti dinding penahan (retaining
wall), dinding ruang bawah tanah (basement wall), pangkal jembatan (abutment),dan
turap baja pada umumnya digunakan dalam teknik pondasi. Konstruksi penahan
tanah tersebut biasanya digunakan untuk menahan massa tanah dengan talud vertikal.
Agar dapat merencanakan konstruksi penahan tanah dengan benar, maka kita
perlu mengetahui gaya lateral yang bekerja antara konstrruksi penahan dan massa
4

tanah yang ditahan. Gaya lateral disebabkan oleh tekanan tanah arah horizontal dan
perubahan letak (displacement) dari dinding penahan dan sifat-sifat tanahnya.
1.2. TUJUAN
Untuk mengetahui pengertian dan fungsi dinding penahan tanah
Untuk mengetahui jenis-jenis dinding penahan tanah
Untuk mengetahui kontrol stabilitas dinding penahan tanah
Agar dapat menyelesaikan permasalahan mengenai tekanan tanah lateral
terhadap dinding penahan tanah berdasarkan teori-teori yang ada
1.3. RUMUSAN MASALAH
Apa fungsi dari dinding penahan tanah?
Apa saja jenis-jenis dinding penahan tanah?
Bagaimana control stabilitas pada dinding penahan tanah?
Bagaimana cara menyelesaikan permasalahan mengenai tekanan tanah lateral
terhadap dinding penahan tanah berdasarkan teori-teori yang ada?

BAB II
ISI

1.1. DASAR TEORI


1.1.1. Pengertian Dinding Penahan Tanah
Dinding penahan tanah merupakan komponen struktur bangunan
penting utama untuk jalan raya dan bangunan lingkungan lainnya yang
berhubungan dengan tanah berkontur atau tanah yang memiliki elevasi
berbeda. Secara singkat dinding penahan merupakan dinding yang dibangun
untuk menahan massa tanah di atas struktur atau bangunan yang dibuat.
Bangunan dinding penahan umumnya terbuat dari bahan kayu, pasangan
batu, beton hingga baja. Bahkan kini sering dipakai produk bahan sintetis
mirip kain tebal sebagai dinding penahan tanah. Produk bahan ini sering
disebut sebagai geo textile atau geo syntetic .

1.1.2. Distribusi Tekanan Tanah terhadap Dinding Penahan


Ada tiga kasus berbeda yang dipertimbangkan dalam pembahasan, yaitu :

A. Timbunan Horizontal
1. Tanah non kohesif
2. Tanah non kohesif terendam partial dengan beban/surcharge
3. Tanah kohesif
B. Timbunan Miring/Sloping
1. Tanah non kohesif
2. Tanah kohesih
C. Dinding dengan Geseran
1. Timbunan Horizontal dengan Tanah non Kohesif
Tekanan Aktif tanpa Beban q
Pada gambar ditunjukkan dinding penahan dengan tanah timbunan
non kohesif yang mempunyai permukaan horizontal. Berat satuan dan
sudut geser dalam tanah adalah

dan . Untuk keadaan aktif

Rankine, tekanan tanah pada sebarang kedalaman terhadap dinding


penahan dapat dinyatakan:
a=Ka. . z
a meningkat secara linear terhadap kedalaman, pada dasar dari
dinding menjadi :
a=Ka. . H
Gaya total, Pa per satuan lebar dinding adalah sama dengan luas
diagram tekanan, sehingga:
1
Pa= . Ka . . H 2
2

Tekanan Pasif tanpa Beban


Distribusi tekanan lateral terhadap dinding yang tingginya Untuk
keadaan pasif Rankine. Tekanan tanah lateral pada sembarang
kedalaman z adalah:
p =Kp. . H
Gaya total, Pp per satuan lebar dinding adalah:
1
Pp= . Kp. . H 2
2

Tekanan Aktif dengan Beban

Pada gambar menunjukkan dinding penahan tanpa gesekan yang


tingginya H dan timbunan tanah non kohesif. Muka air tanah berada
pada kedalaman H1di bawah muka tanah, dan timbunan dibebani
beban merata q per satuan luas, sehingga tekanan tanah aktif efektif
pada sebarang kedalaman adalah :
a=K a . v

10

dan

Pada z = 0

Dan

Pada z = H1

Dan

Pada z = H

v =(q+ . H 1 + H )

Dimana:

Dan
Dimana

= tekanan vertikal dan lateral efektif

=
=
=

=q

=
=

Ka . q
(q+ . H 1)
K a (q + . H 1 )

K a (q + . H 1 + H)

= sat w

Tejkana lateral pada dinding karena air pori antara z = 0 dan H1adalah
nol, dan untuk z > H1akan naik secara linear terhadap kedalaman pada
kedalaman z = H
u= w . H 2
Diagram tekanan lateral total adalah jumlah diagram tekanan yang
ditunjukkan pada gambar di atas. Gaya aktif total per satuan lebar
dinding adalah luas diagram tekanan total
1
1
Pa=K a . q . H + K a . . H 12 + K a . . H 1 . H 2 + ( K a . + w ) H 22
2
2

Tekanan Pasif dengan Beban


Tekanan pasif efektif Rankine pada sembarang kedalaman terhadap
dinding adalah :

11

p =K p . v

Dengan menggunakan persamaan sebelumnya, variasi

terhadap

kedalaman dapat ditentukan seperti yang ditunjukan pada gambar


berikut:

1
1
2
2
P p=K p . q . H+ K p . . H 1 + K p . . H 1 . H 2+ ( K p . + w ) H 2
2
2

12

2. Timbunan Horizontal Tanah Kohesif


Tekanan Aktif
Tekanan Aktif terhadap dinding pada sembarang kedalaman di bawah
permukaan tanah dapat dinyatakan :
a =K a . . z2. c . K a
Karena harga ini tidak merupakan fungsi z maka bentuknya
segiempat. Variasi netto dari
pengaruh kohesi

terhadap kedalaman diplot, karena

negatif pada bagian atas dari dinding penahan.

Kedalaman z0dimana tekanan aktif menjadi nol dapat dihitung dari :


K a . . z0 2. c . K a=0

atau

Untuk kondisi tak terdrainasi yaitu

z 0=

2. c
Ka

=0, K a =tg2 45=1 , dan

c=cu

z 0=

2.c u

Sehingga semakin lama retak tarik pada pertemuan tanah dinding


akan berkembang sampai kedalamn z0. Gaya altif total per satuan
lebar dinding dapat dihitung dari luas diagram tekanan total
1
Pa= . K a . . H 22. c . K a . H
2

Untuk kondisi

=0

1
2
Pa= . K a . H 2. cu . H
2
13

Untuk perhitungan gaya aktif total di dalam

praktek bisa

memperhitungkan retak tarik. Sepanjang tidak ada kontak antara tanah


dan dinding sampai pada kedalaman z0 setelah terjadi retak tarik,
distribusi tekanan aktif terhadap dinding hanya memperhitungkan

antara

z=

2. c
Ka

1
2.c
Pa= (K a . . H 2. c . K a)( H
)
2
Ka
2

1
c
Pa= . K a . . H 22. c . K a . H +2
2

Untuk kondisi

=0 ,

c
1
Pa= . K a . . H 22. c u . K a . H +2 u
2

Tekanan Pasif
Tekanan pasif Rankine terhadap dinding pada kedalaman z dapat
dinyatakan :
p =K p . . z +2. c . K p

14

Pada z = 0

p =2. c . K p

Pada z = H

p =K p . . H +2. c . K p Gaya pasif satuan lebar

dinding dapat dihitung dari luas diagram tekanan:


1
P p= . K p . . H 2+2. c . K p . H
2

Untuk

kondisi

=0 ,

K p=1

maka

p =K p . . H 2 +2. c u . H

3. Dinding Penahan dengan Geseran


Pembahasan sebelum ini dengan anggapan bahwa dinding tanpa
gesekan, padahal kenyataan di lapangan dinding adalah kasar dan gaya
geser akan timbul antar permukaan dinding dengan timbunan di
belakangnya. Untuk mempelajari pengaruh geseran dinding pada bidang
keruntuhan, ditinjau dinding penahan kasar dengan timbunan tanah
granular horizontal
15

Dalam tekanan aktif bila dinding AB bergerak ke posisi A`B`


massa tanah dalam zona aktif akan tergeser ke luar. Ini akan
menyebabkan gerakan tanah ke bawah relatif terhadap dinding. Gerakan
ini menyebabkan geseran ke bawah pada dinding. Dan ini disebut geseran
dinding positif dalam kasusu aktif. Jika

adalah sudut geser antara

dinding dan tanah di belakangnya, resultan gaya aktif Pa akan miring


membentuk sudut

terhadap normal permukaan belakang dinding.

Dari studi yang mendalam menunjukkan bahwa bidang keruntuhan


timbunan tanah di belakang dinding ditunjukkan oleh BCD. Bagian BC
lengkung dan bagian CD lurus. Keadaan aktif Rankine terjadi pada zona
ACD.
Dalam kondisi tertentu, jika dinding didorong ke bawah dengan
pijakan / referensi tanah timbunan di belakang dinding, arah dari gaya
aktif akan berubah. Ini adalah geseran dinding negatif dalam kasusu aktif
dan keruntujan tanah.

16

17

1.1.3. Jenis-jenis Dinding Penahan Tanah


Dinding penahan tanah dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa
cara. Berdasarkan cara pembuatannya dapat diklasifikasikan menjadi 2
kategori yaitu:
1. Dinding penahan tanah konvensional (Conventional Retaining Walls)

Dinding penahan gravitasi (Gravity Retaining Walls)

18

Dinding penahan semigravitasi (Semigravity Retaining Walls)

Dinding penahan kantilever (Cantilever Retaining Walls)

Dinding penahan counterfort (Counterfort Retaining Walls)

2. Dinding penahan tanah yang distabilisasi mekanis (Mechanically


Stabilized Earth Walls)
MSE dibuat dari beberapa elemen bahan yang dimaksudkan untuk
penguatan dan perbaikan tanah dengan menggunakan plat baja (steel
19

strip) atau bahan grid polimer (polymeric grid), geotekstil (geotextile)


yang kuat menahan tarikan dan beban bahan di atasnya. Keuntungan
dinding ini dibandingkan dinding konvensional dari bahan pasangan dan
beton bertulang adalah:
1. Fleksibel terhadap adanya kemungkinan penurunan
2. Cukup murah
3. Cukup efisien terhadap waktu pemasangan
4. Kapabilitas yang cukup baik untuk terjadinya drainase (drainage)
Terdapat dua macam produk, produk yang dapat mulur (extensible
product), dan produk yang tak dapat mulur (inextensible product).
Produk yang dapat meregang memungkinkan berubah bentuk akibat
beban tanpa mengalami putus karena kekuatannya telah dirancang
melebihi kekuatan tanah. Dinding ini diselenggarakan untuk keperluan
semi permanen dan atau jika lapangan menyulitkan membangun dinding
penahan dari bahan pasangan. Kadang bahan ini digunakan sebagai
stabilisasi saat pelaksanaan pekerjaan dinding penahan yang lebih
permanen.

Berdasarkan bentuk dan penahanan terhadap tanah, dinding penahan


dapat klasifikasikan ke dalam tiga bentuk, yakni:
1. Dinding gravity
Dinding gravity merupakan dinding penahan tanah yang mengandalkan
berat bahan sebagai penahan tanah umumnya berupa pasangan batu atau
bronjong batu (gabion).
2. Dinding semi gravity
20

Dinding semi gravity selain mengandalkan berat sendiri, memanfaatkan


berat tanah tertahan untuk kestabilan struktur.
3. Dinding non gravity
Dinding nongravity mengandalkan konstruksi dan kekuatan bahan untuk
kestabilan.

Dinding penahan tanah dapat digolongkan menurut bahan-bahan yang


dipakai untuk bentuk bangunannya:
1) Dinding Penahan dinding Batu Dan Balok
Dinding penahan jenis ini digunakan untuk mencegah terjadinya
keruntuhan tanah, dan digunakan apabila tanah asli di belakang tembok
itu cukup baik dan tekanan tanah dianggap kecil. Hal ini termasuk ke
dalam kategori di mana kemiringannya lebih curam dari 1: 1 dan

21

dibedakan dari pemasangan batu dengan kemiringan muka yang lebih


kecil.
2) Dinding Penahan Beton Tipe Gravitasi (Tipe Semigravitasi)
Bahan dari dinding ini dapat dibuat dari blok batuan, bata, atau beton
polos (plain concrete). Stabilitas dinding ini tergantung beratnya dan tidak
ada gaya tarik di setiap bagian dari dinding. Karena bentuknya yang
sederhana dan juga pelaksanaan yang mudah, jenis ini sering digunakan
apabila dibutuhkan konstruksi penahan yang tidak terlalu tinggi atau bila
tanah pondasinya baik. Dinding ini kurang ekonomis apabila digunakan
untuk dinding yang tinggi. Dinding Semi Gravitasi adalah dinding yang
sifatnya terletak antara sifat dinding gravitasi sebenarnya dan dinding
kantilever. Dimana pada dinding ini terdapat perluasan kaki sehingga
tebal penumpang dapat direduksi dan digunakan sejumlah kecil penguatan
baja.
3) Dinding Penahan Beton Dengan Sandaran (Lean against type)
Dinding penahan dengan sandaran sebenarnya juga termasuk dalam
kategori dinding penahan gravitasi tetapi cukup berbeda dalam fungsinya.
Apabila dikatakan dengan cara lain, maka dinding penahan tipe gravitasi
harus berdiri pada alas bawahnya meskipun tidak ada tanah timbunan di
belakang tembok itu, oleh karena itu berat dinding haruslah besar, dan
tergantung dari besarnya kapasitas daya dukung tanah pondasi.
Akibatnya, bila diperlukan dinding penahan yang tinggi maka dinding
penahan jenis ini tidak dipakai. Dinding penahan beton dengan sandaran
berbeda dalam kondisi kestabilan dan direncanakan supaya keseimbangan
tetap terjaga dengan keseimbangan berat sendiri badan dinding dan
tekanan tanah pada permukaan bagian belakang.
4) Dinding Penahan Beton Bertulang Dengan Balok Kantilever
Dinding penahan dengan balok kantilever tersusun dari suatu dinding
memanjang dan suatu pelat lantai, dinding ini menggunakan aksi konsol
untuk menahan massa yang berada di belakang dinding dari kemiringan
alami yang terjadi Masing-masing berlaku sebagai balok kantilever dan
kestabilan dari dinding didapatkan dengan berat badannya sendiri dan
berat tanah di atas tumit pelat lantai. Dinding penahan jenis ini relatif
ekonomis dan juga relatif mudah dilaksanakan.
5) Dinding Penahan Beton Bertulang Dengan Penahan (Buttress)

22

Dalam kenyataannya, dinding penahan jenis ini pada umumnya hanya


membutuhkan bahan yang sedikit. Jenis ini digunakan untuk tembok
penahan yang cukup tinggi. Kelemahan dari dinding penahan jenis ini
adalah pelaksanaannya yang lebih sulit dari pada jenis lainnya dan
pemadatan dengan cara rolling pada tanah di bagian belakang adalah jauh
lebih sulit.
6) Dinding Penahan Beton Bertulang Dengan Dinding Penyokong
Dinding ini sering disebut Dinding Pertebalan Belakang (Counterfort
Retaining Wall) serupa dengan dinding kantilever, tetapi pada dinding
tersebut digunakan untuk konsol yang panjang atau untuk tekanantekanan yang sangat tinggi di belakang dinding dan mempunyai
pertebalan belakang, yang mengikat dinding dan dasar bersama-sama,
yang

dibangun

pada

interval-interval

sepanjang

dinding

untuk

mengurangi momen momen lentur dan geser.


7) Dinding Penahan Khusus
Jenis ini adalah dinding penahan khusus yang tidak termasuk dalam
tembok penahan yang disebutkan dalam no1 sampai no 6. Jenis ini dibagi
menjadi dinding penahan macam rak, dinding penahan tipe kotak, dinding
penahan terbuat di pabrik, dinding penahan yang menggunakan jangkar,
dinding penahan dengan cara penguatan tanah dan dinding penahan
berbentuk Y terbalik.

1.1.4. Kontrol Stabilitas Dinding


Pola keruntuhan pada dinding penahan konvensional pada umunya
adalah:

Terguling pada ujung dasar dinding (gambar a)


Tergeser sepanjang dasar (gambar b)
Daya dukung terlampaui (gambar c)
Keruntuhan geser dalam (gambar d)
Penurunan yang berkelanjutan

23

Untuk itu di dalam perencanaan dinding penahan tanah harus dapat


memenuhi kriteria agar dinding mampu mencapai stabilitas secara
menyeluruh., sehingga tahapan perencanaan dinding penahan adalah sebagai
berikut:
1. Kontrol stabilitas dinding secara menyeluruh yang harus memenuhi
syarat:
Guling (overturning)
Geser (sliding)
Daya dukung (bearing capacity)
2. Kontrol masing-masing komponen untuk kekuatan dan penulangan
Gaya-gaya yang bekerja pada dinding penahan, umumnya diambil
permeter lebar untuk dinding grafitasi, semi grafitasi, dan dinding kantilever.
Gaya-gaya pada dinding kantilever yang menyebabkan timbulnya gaya
lintang dan gaya momen yang terjadi pada badan dinding tidak sama dengan
gaya-gaya yang diperhitungkan untuk menghitung stabilitas struktur terhadap
penggeseran. Gaya-gaya yang bekerja pada dinding penahan meliputi
a. Berat sendiri dinding penahan(W)
b. Gaya tekanan tanah aktif total tanah urug(Pa)
c. Gaya tekanan tanah pasif total di depan dinding(Pp)
24

d. Tekanan air pori di dalam tanah(Pw)


e. Reaksi tanah dasar(R)
Jika dinding pada keadaan seimbang, jumlah vector gaya-gaya akan
sama dengan nol. Analisis stabilitas dinding penahan tanah dapat ditinjau
terhadap hal-hal sebagai berikut :

Stabilitas Terhadap Penggeseran


Gaya-gaya yang menggeser dinding penahan tanah akan ditahan oleh:
1. Gesekan antara tanah dengan dasar pondasi
2. Tekanan tanah pasif bila di depan dinding penahan terdapat tanah

timbunan.
Faktor aman terhadap penggeseran(fgs), didefinisikan sebagai berikut :
F R 1.5
F S(Sliding) =
Fd

Untuk tanah granuler (c = 0) :


Rh =W f
= W tgb; dengan b
Untuk tanah kohesif ( = 0 ) :
Rh = caB
Untuk tanah c- c( > 0dan c > 0 ) :
Rh = caB + W tgb
Dengan
Rh= tahanan dinding penahan tanah terhadap penggeseran
W= berat total dinding penahan dan tanah di atas pelat pondasi
(kN)
b= sudut gesek antara tanah dan dasar pondasi, biasanya diambil
1/3(2/3)
ca= ad c = adhesi antara tanah dan dasar dinding (kN/m2)
c = kohesi tanah dasar (kN/m2)
ad = factor adhesi
B = lebar pondasi (m)
Kuat geser tanah di bawah dasar dinding adalah:
= tan +c a
Gaya lawan geser pada dasar dinding:
R= ( Bxl )=B tan + Bc a dan
B = V =

jumlah gaya vertikal


25

Sehingga:
R=( V ) tan +Bc a

F R =( V ) tan + Bc a+ P P
Dan gaya geser adalah

Fd =Pa cos

Sehingga angka keamanan terhadap geser adalah:


( V ) tan + Bc a + PP
FS(geser) =
P a cos

Dari gambar 3; Kekuatan geser tanah pada bagian dasar dinding


Jika persyaratan geser tidak terpenuhi dapat dilakukan alternatif untuk
meningkatkan stabilitas terhadap geser sebagai berikut:
Menambah lebar dasar
Menggunakan koperan pada dasar dinding (base key)
Menggunakan angker pada dinding (dead man anchor)

Stabilitas Terhadap Penggulingan


Tekanan tanah lateral yang diakibatkan oleh tanah urug di
belakang dinding penahan, cenderung menggulingkan dinding dengan
pusat rotasi pada ujung kaki depan pelat pondasi. Momon penggulingan
ini, dilawan oleh momen akibat berat sendiri dinding penahan dan momen
akibat berat tanah di atas pelat pondasi.
Faktor aman terhadap penggulingan (Fgl) bergantung pada jenis
tanah, yaitu :
26

FS(guling)=

MR
MO

M O =P h ( H3 )
Ph=Pa cos

(Fgl) 1,5 untuk tanah dasar granuler


(Fgl) 2 untuk tanah dasar kohesif
Tahanan tanah pasif, oleh tanah yang berada di depan kaki dinding
depan sering diabaikan dalam hitungan stabilitas. Jika tahanan tanah pasif
yang ditimbulkan oleh pengunci pada dasar pondasi diperhitungkan, maka
nilainya harus direduksi untuk mengantisipasi pengaruh-pengaruh erosi,
iklim dan retakan akibat tegangan-tegangan tarik tanah dasar yang
kohesif.

Stabilitas Terhadap Keruntuhan Kapasitas Dukung Tanah

27

Beberapa persamaan kapasitas dukung tanah telah digunakan untuk


menghitung stabilitas dinding tanah, seperti persamaan-persamaan
kapasitas dukung Terzaghi (1943), Meyerhof (1951,1963), Vesic (1975)
dan hansen (1970).
FS(daya dukung)=

qu
max

Dimana:
qu

= daya dukung batas tanah

max

= tegangan maksimum yang terjadi

Momen netto akibat gaya-gaya yang bekerja pada dinding:


M net= M R M O
Garis kerja gaya resultan R memotong garis dasar dinding:
M
X = net
V
Eksentrisitas gaya resultan R dapat dihitung:
B
e= X
2
Distribusi tegangan tanah di bawah dasar dinding:
=

V + M net y
A

Tegangan maksimum dan minimum untuk y=B/2, sehingga:


max =

V
B

(1+ 6Be )

V 6e
dan min = B 1 B

)
28

Gambar 4; Kontrol Terhadap Keruntuhan Daya Dukung

Penurunan

Seperti halnya struktur-struktur yang lain, dinding penahan tanah


juga akan mengalami penurunan. Untuk itu, prinsip-prinsipdasar untuk
29

menghitung besarnya penurunan sama dengan cara menghitung


penurunan pondasi.
Dinding penahan tanah, kecuali mengalami penurunan akibat
beban,

juga

mengalami

kemiringan

akibat

rotasiujung

kaki

pondasi.Umumnya, dinding penahan tanah miring kearah luar (kea rah


menjauhi tanah urug), karena resultan gaya-gayanya jatuh diantara
tengah-tengah pondasi dan ujung luar pondasi.Kemiringan dinding
penahan

akibat

momen

penggulingan

sulit

ditentukan.Dalam

perancangan, miring maksimum dibatasi sampai 0,01H, dengan H adalah


tinggi dinding penahan.
Adakalanya dinding penahan tanah miring ke arah dalam (turun
lebih banyak pada bagian pondasi yang terletak di bawah tanah urug).
Berat tanah urug dan pondasi dinding penahan menyebabkan penurunan
yang terjadi lebih besarpada tanah pondasi yang berada di bawah tanah
urug.
Kadang-kadang, dinding penahan tanah dibangun memanjang
sampai beberapa puluh meter.Pada kondisi ini, kondisi tanah dasar
mungkin bervariasi. Karena itu, penurunan tak seragam ataupun
miringnya dinding sulit dihindarkan. Dalam hal demikian, sambungansambungan dibutuhkan untuk memisahkan bagian-bagiannya supaya
penurunan pada bagian yang satu tidak berpengaruh pada bagian yang
lain.

30

1.2. CONTOH SOAL DAN PEMBAHASAN


1. Tentukan dtabilitas dinding gravitasi kantilever (cantilever gravity retaining wall)
beton (=24 kN/m3) seperti ditunjukkan pada gambar. Tanah dasar adalah
lempung sedang timbunan di belakang dinding adalah tanah berbutir kasar. Dasar
dinding terletak pada tanah timbunan yang dipadatkan tebalnya 50 mm. sudut
geser antara tanah timbunan yang dipadatkan dan dasar dinding adalah 20.
Diketahui:
=18 kN /m3
' =30
=20

31

32

# Koefisien gaya tanah aktif


cos 2 (30 0)

K ac

sin( 20 30) sin( 30 8)


cos (0) cos( 20 0) 1

cos( 20 0) cos(0 8)

0,3
2

K ac

# Garis kerja gaya tanah aktif


H 1 6 2,5. tan 8 0 7,35m

# Gaya lateral aktif pada dinding


1
1
Pac .K ac . .H 2 .0,3.18.(7,35) 2
2
2
Pac 145,86kN

# # Komponen gaya horizontal


Fax Pac . cos 145,86. cos( 20 0 )
Fax 137,06kN

# # Komponen gaya vertikal


Fay Pac . sin 145,86. sin( 20 0 )
Fay 49,89kN

33

# Gaya akibat beban merata


Fqx K ac .q.H . cos 0,3.20.7,35. cos( 20 0 )
Fqc 41,44kN
Fqy K ac .q.H . sin 0,3.20.7,35. sin( 20 0 )
Fqy 15,08kN

# Total komponen gaya


Pax Fax Fqx 137,06 41,44
Pax 178,5kN
Pay Fay Fqy 49,89 15,08
Pay 64,97 kN

# Letak garis kerja gaya horizontal


Fax .( H / 3) Fqx .( H / 2)
Y
Fax Fqx
137,06.(7,35 / 3) 41,44.(7,35 / 2)
137,06 41,44
Y 2,73m
Y

34

Mome
Gaya

Vertikal
0.5*2.5*0.35*18
1

Jarakterhadap O
2+(2.5*2/3)

7.88 =
270.

3.67

28.88
877.5

2.5*6*18=

00 2+(2.5/2)=
72.0 1.5+(0.5/2)

3.25

0
126.0

0.5*6*24=

0 =
21.6 1.2+(0.3*2/

1.75

0.5*0.3*6*24=

0 3)=
108.

1.40

30.24
243.0

1*4.5*24=

00 4.5/2=
50.0

2.25

0
162.5

2.5*20=

0 2+(2.5/2)=
64.9

3.25

0
292.3

7
594.

4.50

7
1760.

Pay
FV total

45

Mx total

48

35

Mome
Gaya

Horizontal

Jarakterhadap O
178.

Pay

5
178.
FV total

50

2.73
Mx total

n
487.3
1
487.3
1

# Letak garis kerja vertikal (dari O)


Mx My
V
1760,495 487,305
X
594,44
X 2,142m
X

# Eksentrisi tas
B
4,5
e X
2,142
2
2
B
e 0,108m 0,75m
6

# Kontrol terhadap guling


Mx 1760,48

My
487,31
SF 3,613 1,5
Aman
SF

36

# Kontrol terhadap geser


V .tg 594,45.tg (20 0 )

H
178,5
SF 1,21 1,5
Dinding akan terge ser
SF

Untuk mengatasi geser dapat dipasang koperan pada dasar

# Kontrol terhadap daya dukung tanah


# # Tegangan yang terjadi pada dasar dinding penahan

max

V .
6e 594,45.
6.0,108
. 1
. 1
151,120kPa
B
B
4,5
4,5

max

V .
6e 594,45.
6.0,108
. 1
. 1
113,076kPa
B
B
4,5
4,5

Tegangan maksimum terjadi di bawah titi k O

# # Daya dukung menggunaka n rumus Mayerhof

28 0
N 16,717
B ' B 2e 4,5 2.0,108 4,284m
Muka air masih dalam batas B dari dasar
' sat w 19 10 9kN / m 3
1
1
qu . '.B '.N .9.4,284.16,717 322,27 kPa
2
2
qu
322,27
SF

2,133 3
max 151,120
Dinding penahan ti dak mengalami keruntuhan (SF 1)
Namun tida k memenuhi kriteria perencanaa n karena SF 3

37

BAB III
PENUTUP

3.1. KESIMPULAN
Dinding penahan tanah merupakan dinding yang dibangun untuk menahan
massa tanah di atas struktur atau bangunan yang dibuat. Bangunan dinding penahan
umumnya terbuat dari bahan kayu, pasangan batu, beton, baja dan bahan sintetis
mirip kain tebal yang sering disebut sebagai geo textile atau geo synthetic.
Ada tiga kasus mengenai distribusi tekanan tanah terhadap dinding penahan
yaitu :
A. Timbunan Horizontal
1. Tanah non kohesif
2. Tanah non kohesif terendam partial dengan beban/surcharge
3. Tanah kohesif

38

B. Timbunan Miring/Sloping
1. Tanah non kohesif
2. Tanah kohesih
C. Dinding dengan Geseran
Dinding penahan tanah dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa cara.
Berdasarkan cara pembuatannya dapat diklasifikasikan menjadi 2 kategori yaitu:
1. Dinding penahan tanah konvensional (Conventional Retaining Walls)
Dinding penahan gravitasi (Gravity Retaining Walls)
Dinding penahan semigravitasi (Semigravity Retaining Walls)
Dinding penahan kantilever (Cantilever Retaining Walls)
Dinding penahan counterfort (Counterfort Retaining Walls)
2. Dinding penahan tanah yang distabilisasi mekanis (Mechanically Stabilized
Earth Walls)
Berdasarkan bahan-bahan yang dipakai untuk bentuk bangunannya,
diklasifikasikan menjadi 7 macam yaitu:
1. Dinding Penahan dinding Batu Dan Balok
2. Dinding Penahan Beton Tipe Gravitasi (Tipe Semigravitasi)
3. Dinding Penahan Beton Dengan Sandaran (Lean against type)
4. Dinding Penahan Beton Bertulang Dengan Balok Kantilever
5. Dinding Penahan Beton Bertulang Dengan Penahan (Buttress)
6. Dinding Penahan Beton Bertulang Dengan Dinding Penyokong
7. Dinding Penahan Khusus
Di dalam perencanaan dinding penahan, tanah harus dapat mkriteria agar
dinding mampu mencapai stabilitas secara menyeluruh, sehingga tahapan
perencanaan dinding penahan adalah sebagai berikut:
3. Kontrol stabilitas dinding secara menyeluruh yang harus memenuhi syarat:
Guling (overturning)
Geser (sliding)
Daya dukung (bearing capacity)
4. Control masing-masing komponen untuk kekuatan dan penulangan

39

DAFTAR PUSTAKA

Das, Braja M. 1985. Principles of Geotechnical Engineering. Jakarta: Erlangga.


Suroso. 2006. Mekanika Tanah Lanjut. Malang.

40