Anda di halaman 1dari 43

Grandcase

Benign Prostate Hyperplasia


Aiwi Japanesa 1110312108

Preseptor: dr. H. Alvarino, Sp.B, Sp.U

Tinjauan Pustaka

1.1 Definisi
Benign

Prostate Hyperplasia BPH

kelenjar periuretral mendesak


jaringan prostat yang asli ke perifer.

Hiperplasia

1.2 Anatomi

1.3 Etiologi
Belum

diketahui pasti .
Teori
Dihidrotestost
eron (DHT)

Ketidakseimba
ngan antara
Estrogen dan
Testosteron

Interaksi
Stroma Epitel

Berkurangnya
Kematian Sel
Prostat

Teori Stem
Cell

1.4 Patofisiologi

Pembesaran prostat penyempitan lumen uretra pars


prostatika menghambat aliran urine peningkatan
tekanan intravesika buli-buli harus berkontraksi lebih
kuat untuk melawan tahanan agar miksi dapat keluar.

Awal pembesaran prostat resistensi pada leher vesika


dan daerah prostat meningkat, dan detrusor menjadi lebih
tebal. Mukosa dapat menerobos keluar di antara serat
detrusor (sakula, divertikulum).

Keadaan lanjut detrusor menjadi lelah dekompensasi


dan tidak mampu lagi untuk berkontraksi retensi urin.

Pada hiperplasia prostat gejala dan tanda obsruksi dan


iritasi.

Gejala dan tanda obsruksi detrusor gagal berkontraksi


dengan cukup kuat atau cukup lama.
1. Hesistancy
2. Weak stream
3. Intermittency
4. Terminal dribbling

Gejala iritasi disebabkan hipersensitivitas otot detrusor.


1. Frequency
2. Nocturia
3. Urgency
4. Disuria

1.5 Diagnosis
Anamnesis
Lower

Urinary Tract Syndrome (LUTS) terdiri atas


gejala obstruksi dan iritasi.
beratnya penyakit Sistem scoring
International Prostate Skoring System(IPSS)

Derajat

Pemeriksaan Fisik

Rectal Touche ! Nilai prostat !

Rectal Touche menyingkirkan Differential Diagnosis


(kelainan buli-buli neurogenik, tumor di rekti)

Pemeriksaan fisik traktus urinarius bagian atas


mengetahui komplikasi (pielonefritis, retensio total)

Pemeriksaan genitalia eksterna menyingkirkan DD/


(batu di uretra anterior, fibrosis daerah uretra,
fimosis, kondiloma di daerah meatus)

Pemeriksaan abdomen mengetahui komplikasi


(retensio urin)

Pemeriksaan Penunjang
darah faal ginjal, gula darah, faal
hati, elektrolit (Natrium dan Kalium), dan PSA
(Prostate Spesific Antigen).

Pemeriksaan

ng/ml (gray area) penghitungan


PSA Density (PSAD) (> 0,15 biopsi prostat).

PSA 4-10
PSA >

10 ng/ml biopsi prostat.

Pemeriksaan

urin sedimen urin dan kultur

kandung kemih setelah miksi derajat berat


obstruksi

USG

1.6 Diagnosis Banding


Lesi

medulla spinalis

Neuropati

diabetes

Post

bedah radikal yang mengorbankan persarafan


daerah pelvis

Penggunaan

obat penenang, obat penghambat


reseptor ganglion, dan parasimpatolitik

Proses

fibrosis

Pembesaran
Tumor
Batu

prostat ganas

di leher kandung kemih

di uretra

Striktur

uretra.

1.7 Penatalaksanaan
Tujuan

terapi : PERBAIKI LUTS !!

1. Memperbaiki keluhan miksi


2. Meningkatkan kualitas hidup
3. Mengurangi obstruksi intravesika
4. Mengembalikan fungsi ginjal jika gagal ginjal
5. Mengurangi volume residu urine setelah miksi
6. Mencegah progresifitas penyakit.

1.

Watchful waiting ! IPSS <7

2.

Medikamentosa
adrenergic alfa blocker mengurangi
resistansi otot polos prostat.
.

5-reduktase inhibitor menghambat


pembentukan dihidrotestosteron
(DHT)
.

3. Pembedahan gagal terapi medikamentosa,


retensi urine, ISK berulang, hematuria, gagal ginjal,
dan batu saluran kemih atau penyulit lain akibat
obstruksi saluran kemih bagian bawah.
.

TURP Trans Urethral Resection of Prostate

TUIP Trans Urethral Incision of Prostate

BNI Bladder Neck Incision

Laporan Kasus

IDENTITAS

Nama

: Tn. S

Usia

: 54 tahun

Jenis kelamin

: Laki-laki

Agama

Status

: Menikah

Pendidikan

: SLTA

Pekerjaan

Alamat

Masuk RS

No. RM

: Islam

: Petani
: Jorong Sitiung, Dharmasraya
: 03 September 2015
: 00.92.04.11

ANAMNESIS
Keluhan Utama:
Gangguan

yang lalu.

berkemih tidak lancar sejak 2 bulan

Riwayat Penyakit Sekarang :.

Gangguan berkemih tidak lancar sejak 2 bulan yang lalu.

Awalnya pasien merasakan gangguan berkemih dan nyeri


apabila perut bawah ditekan sejak 2 bulan sebelum
dipasang kateter. Buang air kecil tidak lancar ada,
mengedan sebelum buang air kecil ada, pancaran buang
air kecil melemah ada, menetes urin setelah buang air
kecil ada, rasa tidak puas setelah buang air kecil ada,
buang air kecil dalam sehari rata-rata lebih dari 5 kali
ada, dan buang air kecil pada malam lebih dari 3x ada.
Kadang-kadang terasa nyeri setelah berkemih.. Setelah itu
pasien dibawa ke RS Dharmasraya dan dipasangkan kateter
urin. Penggantian kateter urin terakhir 15 hari yang lalu.

Riwayat

keluar batu atau berpasir saat buang air


kecil tidak ada.

Riwayat

buang air kecil berdarah atau bernanah


tidak ada.

Riwayat

trauma daerah pinggang dan


selangkangan tidak ada.

Riwayat

nyeri daerah pinggang ada.

Demam

tidak ada.

Penurunan
Mual

dan muntah tidak ada.

Gangguan
IPSS

berat badan tidak ada.

= 35

buang air besar tidak ada.

Riwayat penyakit dahulu


Pasien

pernah mengalami gangguan buang air


kecil pada 5 tahun yang lalu.

Riwayat

Diabetes Melitus ada.

Riwayat

Hipertensi ada.

Riwayat

stroke tidak ada.

Riwayat penyakit keluarga


Paman

pasien menderita pembesaran prostat.

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan

umum : tampak sakit sedang

Kesadaran

: composmentis GCS 15 (E4M6V5)

Vital sign
Tekanan

darah

: 130/90 mmHg

Nadi

: 72 x/ menit

Pernafasan

: 20 x/ menit

Suhu

: 36,2 oC

VAS

:2

Status Generalisata
Kepala

:Tidak ada kelainan (normocephal, deformitas


tidak ada).

Mata

:Konjungtiva anemis dan sklera tidak ikterik. Pupil


bulat isokor, 3mm/3mm, reflek cahaya (+/

+).
Kulit

:Tidak ada kelainan (Turgor kulit baik).

Hidung

:Tidak ada kelainan (Deviasi septum tidak ada,


pernapasan cuping hidung tidak ada, mukosa
tidak hiperemis, sekret tidak ada).

Telinga

:Tidak ada kelainan (otore tidak ada).

Mulut

:Tidak ada kelainan (bibir tidak sianosis, gusi tidak


ada perdarahan, lidah kotor tidak ada, faring
tidak hiperemis).

Leher

:Tidak ada kelainan (deviasi trakea tidak ada, tidak


ada pembesaran kelenjar tiroid dan getah
JVP tidak meningkat).

bening,
KGB

:Tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening.

Pemeriksaan

Thorax

1. Paru-paru
Inspeksi

: bentuk dinding dada normal, pergerakan dinding


dada simetris kanan kiri.

Palpasi

: Fremitus simetris kanan-kiri

Perkusi

: Sonor pada seluruh lapang paru

Auskultasi : Suara nafas vesikuler pada seluruh lapangan paru,


wheezing (-/-), ronkhi (-/-)

2. Jantung :
Inspeksi

: Iktus kordis tidak terlihat

Palpasi

: Iktus kordis teraba pada 1 jari medial LMCS RIC V

Perkusi

: Batas jantung normal

Auskultasi : Irama teratur, Bunyi jantung I-II murni, murmur (-)

Pemeriksaan Abdomen :
Inspeksi

: distensi, protrusio, dan kelainan kulit dinding perut


tidak ada.

Palpasi

: Supel, nyeri tekan dan nyeri lepas tidak ada. Hepar


dan lien tidak teraba.

Perkusi

: Timpani pada seluruh dinding perut.

Auskultasi : Bising usus (+) normal


Ekstremitas

: Edema tidak ada. Refilling kapiler <2 detik, akral


hangat, perfusi baik.

Status lokalis (Status Urologikus)


Regio flank:
Inspeksi
Palpasi

:Bulging (-/-)

:Ballotement ginjal (-/-), Nyeri ketok CVA (-/-),


nyeri tekan Murphy (-/-)

Regio suprapubik
Inspeksi

: datar, tidak tampak benjolan

Palpasi

: nyeri tekan (+), tidak teraba massa

Regio genitalia
Penis

: sirkumsisi (+), sikatrik (-)

Scrotum :

benjolan (-), lesi (-)

Regio anal
RT

: Anus tenang, tonus sfingter ani menjepit, mukosa


rectum licin, ampula rekti lapang dan tidak kolaps.
Prostat : teraba membesar di anterior arah jam 3, nodul
tidak ada, perabaan kenyal, permukaan licin, sulkus
medianus teraba, pole atas tidak teraba. Pada sarung
tangan tidak ditemukan feses , darah, dan lendir.

DIAGNOSIS KERJA
Retensio

urin et causa benign prostate hyperplasia

DIAGNOSIS BANDING
Retensio

urin et causa striktura uretra

Neurogenic
Keganasan

bladder

pada prostat

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium
Hb

: 9,9 gr%

Leukosit

: 10.400 /mm3

Trombosit

: 340.000/mm3

Hematokrit

: 31 %

PT

: 10,3 detik

APTT

: 29,4 detik

Ureum

: 44 mg/dl

Gula

Darah Puasa

Gula

Darah 2 jam PP

Kreatinin

: 109 mg/dl
: 123 mg/dl
: 4,2 mg/dl

Natrium

: 135 mmol/L

Kalium

: 4,3 mmol/L

Klorida

: 103 mmol/L

SGOT

: 11 u/l

SGPT

: 4 u/L

PSA

: 6,45 ng/dl

Analisa Urin
Makroskopik

: warna kuning kemerahan (hematuria)

Mikroskopik

: eritrosit 300-350/LPB (hematuria)

Kimia

: Protein positif 3 (proteinuria)

Roentgen Thoraks PA
Kesan

: Cor dan pulmo dalam batas normal.

Pemeriksaan USG Urologi


Kesan

: Hydronephrosis bilateral terutama sinistra, Cystitis


dengan divertikel, pembesaran prostat dengan suspect BPH.

DIAGNOSIS
Retensi

urin et causa benign prostate hyperplasia

TINDAKAN
Sistoskopi

TURP

PROGNOSIS
Quo

ad vitam: bonam
Quo ad functionam : bonam
Quo ad sanam : bonam

DAFTAR PUSTAKA

Sjamsuhidajat R, De Jong W. Saluran kemih dan alat kelamin laki-laki. Dalam: Buku
ajar ilmu bedah. Edisi ke-3. Cetakan 2011. Jakarta: EGC. 2010: 848-933.

Purnomo BB.Hiperplasia Prostat Benign. Dalam: Dasar-DasarUrologi.Edisike


3.Cetakan ke-2. Jakarta: Sagung Seto. 2012: 124-44.

Reksoprodjo S. Prostat Hipertrofi. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Bagian Ilmu Bedah
FKUI/RSCM. Cetakan ke-1. Jakarta : Binarupa Aksara Publisher. 1995.

Hugh AFD. Hamilton Baileys Emergency Surgery. 11th edition, Gadjah Mada
University Press. 1992.

Baltimore, MD. Severe Form of "Enlarged Prostate" Disease Discovered. Johns


Hopkins Medical Institutions. 2007

McConnel JD. Epidemiology, etiology, pathophysiology and diagnosis of benign


prostatic hyperplasia. In : Wals PC, Retik AB, Vaughan ED, Wein AJ. Campbells
urology. 7th ed. Philadelphia: WB Saunders Company.1998: 1429-52.