Anda di halaman 1dari 23

PENGANGGARAN BLU DAN SATKER PEMERINTAH DI DAERAH

PENGANGGARAN BLU
A. Pengertian
Menurut PP No 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan BLU menyebut Badan
Layanan Umum, yang selanjutnya disebut BLU, adalah instansi di lingkungan Pemerintah
yang dibentuk untuk memberikanpelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang
dan/ataujasa yang dijual tanpa Mengutamakan mencari keuntungan dandalam melakukan
kegiatarnya didasarkan pada prinsip efisiensi danproduktivitas
Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum, yang selanjutnya disebut PPK-BLU,
adalah pola pengelolaan keuanganyang memberikan fleksibilitas berupa keleluasaan untuk
menerapkanpraktek-praktek bisnis yarg sehat untuk meningkatkan pelayanan kepada
masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umumdan mencerdaskan kehidupan
bangsa, sebagaimana diatur dalamPeraturan Pemerintah ini. sebagai pengecualian dan
ketentuan pengelolaan keuangan negara pada umumnya.
Pola Anggaran Fleksibel (flexible budget) adalah pola anggaran yang penganggaran
belanjanya dapat bertambah atau berkurang dari yang dianggarkan sepanjang pendapatan
terkait bertambah atau berkurang setidaknya proporsional.
Persentase Ambang Batas adalah besaran persentase realisasi belanja yang diperkenankan
melampaui anggaran dalam DIPA BLU.

B. Dasar Hukum
1. Undang-UndangNomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, Pasal 69 ayat (7)
perlu

menetapkanPeraturan

Pemerintah

tentang

Pengelolaan

Keuangan

Badan

LayananUmum.
2. Peraturan Pemerintah No 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan layanan
Umum;

3. Peraturan Menteri Keuangan No 92/PMK.05/2011 tentang Rencana Bisnis Anggaran


serta Pelaksanaan Anggaran Badan Layanan Umum
C. Penganggaran BLU
1. Penyusunan RBA ( Rencana Bisnis Anggaran )
Rencana Bisnis dan Anggaran BLU, yang selanjutnya disebut RBA, adalah dokumen
perencanaan bisnis dan penganggaran yang berisi program, kegiatan, target kinerja, dan
anggaran suatu BLU.
BLU menyusun rencana strategis bisnis 5 (lima) tahunan dengan mengacu kepada
Rencana Strategis Kementerian Negara/Lembaga (Renstra-KL) yang disertai prakiraan
RBA tahun berikutnya.
RBA memuat seluruh program, kegiatan, anggaran penerimaan/pendapatan, anggaran
pengeluaran/belanja, estimasi saldo awal kas, dan estimasi saldo akhir kas BLU yang
disusun berdasarkan:
a. basis kinerja dan perhitungan akuntansi biaya menurut jenis layanannya;
BLU yang telah menyusun RBA berdasarkan basis kinerja dan perhitungan akuntansi
biaya menurut jenis layanannya serta menyusun standar biaya, menggunakan standar
biaya tersebut sementara BLU yang belum menyusun RBA berdasarkan basis kinerja
dan perhitungan akuntansi biaya menurut jenis layanannya dan belum mampu
menyusun standar biaya, BLU menggunakan standar biaya umum.
b. kebutuhan dan kemampuan pendapatan yang diperkirakan akan diterima;
Kemampuan pendapatan yang diperkirakan akan diterima terdiri dari :
pendapatan yang akan diperoleh dari layanan yang diberikan kepada masyarakat;
hibah tidak terikat dan/atau hibah terikat yang diperoleh dari masyarakat atau
badan lain;
hasil kerja sama BLU dengan pihak lain dan/atau hasil usaha lainnya yang terdiri
dari pendapatan jasa lembaga keuangan, hasil penjualan aset tetap, dan
pendapatan sewa.
penerimaan lainnya yang sah; dan/atau ;
penerimaan anggaran yang bersumber dari APBN

selain penerimaan anggaran yang bersumber dari APBN, kemampuan pendapatan


yang diperkirakan akan diterima dilaporkan sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak
( PNBP ) Kementerian Negera/ Lembaga.
RBA BLU selain penerimaan anggaran yang bersumber dari APBN menganut Pola
Anggaran Fleksibel (flexible budget) dengan suatu Persentase Ambang Batas
tertentu.Persentase Ambang Batas dihitung tanpa memperhitungkan saldo awal kas
yang tercantum dalam RKA-K/L dan DIPA BLU yang dapat berupa keterangan atau
catatan yang memberikan informasi besaran Persentase Ambang Batas.
c. Basis Akrual
2. Penyusunan Ikhtisar RBA
RBA dibuat disertai Ikhtisar RBA yang digunakan sebagai bahan untuk menggabungkan
RBA ke dalam RKA-K/L. Ikhtisar RBA adalah ringkasan RBA yang berisikan program,
kegiatan dan sumber pendapatan, dan jenis belanja serta pembiayaan sesuai dengan
format RKA-K/L dan format DIPA BLU.
BLU mencantumkan penerimaan dan pengeluaran yang tercantum dalam RBA BLU ke
dalam pendapatan, belanja, dan pembiayaan dalam Ikhtisar RBA termasuk belanja dan
pengeluaran pembiayaan yang didanai dari saldo awal kas yang dihitung berdasar basis
kas.
Pendapatan BLU yang dicantumkan ke dalam Ikhtisar terdiri atas :
pendapatan yang akan diperoleh dari layanan yang diberikan kepada masyarakat;
hibah tidak terikat dan/atau hibah terikat yang diperoleh dari masyarakat atau
badan lain;
hasil kerja sama BLU dengan pihak lain dan/atau hasil usaha lainnya yang terdiri
dari pendapatan jasa lembaga keuangan, hasil penjualan aset tetap, dan
pendapatan sewa.
penerimaan lainnya yang sah; dan/atau ;
penerimaan anggaran yang bersumber dari APBN

Belanja BLU yang dicantumkan ke dalam Ikhtisar dikelompokkan pada belanja pegawai,
belanja barang dan modalterdiri atas :

mencakup semua belanja BLU,


termasuk belanja yang didanai dari APBN (Rupiah Murni),
belanja yang didanai dari PNBP BLU,
penerimaan pembiayaan, dan
belanja yang didanai dari saldo awal kas.

Belanja Pegawai merupakan belanja pegawai yang berasal dari


a. APBN (Rupiah Murni),
b. belanja pegawai yang didanai dari PNBP BLU dimasukkan ke dalam Belanja Barang
BLU.
Belanja Barang yang didanai dari PNBP BLU terdiri dari Belanja Gaji dan
Tunjangan, Belanja Barang, Belanja Jasa, Belanja Pemeliharaan, Belanja Perjalanan,
dan Belanja Penyediaan Barang dan Jasa BLU Lainnya yang berasal dari PNBP BLU,
termasuk Belanja Pengembangan SDM.

Belanja Modal terdiri atas:


a. Belanja Modal yang berasal dari APBN (Rupiah Murni)
belanja modal yang bersumber dari Rupiah Murni yang terdiri dari Belanja Modal
Tanah, Belanja Modal Peralatan dan Mesin, Belanja Modal Jalan, Irigasi dan
Jaringan, dan Belanja Modal Fisik Lainnya.
b. Belanja Modal BLU.
Belanja Modal BLU merupakan belanja modal yang bersumber dari PNBP BLU yang
terdiri dari Belanja Modal Tanah, Belanja Modal Peralatan dan Mesin, Belanja Modal
Jalan, Irigasi dan Jaringan, dan Belanja Modal Fisik Lainnya.
Belanja Modal Fisik lainnya mencakup antara lain pengeluaran untuk perolehan aset
tidak berwujud, pengembangan aplikasi/software yang memenuhi kriteria aset tak
berwujud.

Pembiayaan antara lain :


a.

semua penerimaan pembiayaan BLU

mencakup penerimaan yang bersumber dari pinjaman jangka pendek, pinjaman


jangka panjang, dan/atau penerimaan kembali/penjualan investasi jangka panjang
BLU.
b. pengeluaran pembiayaan BLU.
Pengeluaran pembiayaan BLU mencakup antara lain pengeluaran untuk pembayaran
pokok pinjaman, pengeluaran investasi jangka panjang, dan/atau pemberian
pinjaman.Pengeluaran pembiayaan BLU yang dicantumkan dalam Ikhtisar RBA
adalah pengeluaran pembiayaan yang didanai dari APBN (Rupiah Murni) tahun
berjalan dan PNBP BLU.
Pengeluaran pembiayaan BLU yang didanai dari APBN (Rupiah Murni) tahun
berjalan yang telah tercantum dalam DIPA selain DIPA BLU, atau APBN (Rupiah
Murni) tahun lalu dan telah dipertanggungjawabkan dalam pertanggungjawaban
APBN sebelumnya, tidak dicantumkan dalam Ikhtisar RBA.

3. Pengajuan
Pimpinan BLU mengajukan usulan RBA yang ditandatangani oleh Pemimpin BLU, dan
diketahui oleh Dewan Pengawas atau pejabat yang ditunjuk oleh menteri/pimpinan
lembaga jika BLU tidak mempunyai Dewan Pengawas.kepada menteri/pimpinan
lembaga untuk dibahas sebagai bagian dari RKA-K/L disertai dengan
a. usulan standar
b. pelayanan minimal,
c. tarif, dan/atau
d. biaya dari keluaran (output) yang akan dihasilkan.
RBA dan Ikhtisar RBA yang merupakan bagian dari RKA-K/L yang telah disetujui dan
ditandatangani oleh menteri/pimpinan lembaga diajukan kepada Menteri Keuangan c.q.
Direktur Jenderal Anggaran.Pengajuan RBA dan Ikhtisar RBA dilaksanakan sesuai
dengan jadwal dalam ketentuan penyusunan RKA-K/L.
4. pengkajian dan Penetapan
Direktorat Jenderal Anggaran mengkaji RBA dan Ikhtisar RBA terutama mencakup
standar biaya dan anggaran BLU, kinerja keuangan BLU, serta besaran Persentase
Ambang Batas.

Besaran Persentase Ambang Batas ditentukan dengan mempertimbangkan fluktuasi


kegiatan operasional BLU.
Pengkajian dilakukan dalam rapat pembahasan bersama antara Direktorat Jenderal
Anggaran dengan unit yang berwenang pada Kementerian Negara/Lembaga serta BLU
yang bersangkutan.dimana Direktorat Jenderal Anggaran dapat mengikutsertakan
Direktorat Jenderal Perbendaharaan.

Hasil kajian atas RBA dan Ikhtisar RBA menjadi dasar dalam rangka pemrosesan RKAK/L sebagai bagian dari mekanisme pengajuan dan penetapan APBN.

Setelah APBN dan/atau Keputusan Presiden mengenai Rincian Anggaran Belanja


Pemerintah Pusat ditetapkan, pimpinan BLU melakukan penyesuaian atas RBA dan
Ikhtisar RBA menjadi RBA dan Ikhtisar RBA definitif. RBA definitif adalah RBA yang
telah disesuaikan dengan RKA-K/L dan Keputusan Presiden mengenai Rincian Anggaran
Belanja Pemerintah Pusat dan telah disahkan oleh Menteri/Pimpinan Lembaga

RBA dan Ikhtisar RBA definitif ditandatangani oleh Pemimpin BLU, yang diketahui oleh
Dewan Pengawas, dan disetujui menteri/pimpinan lembaga.jika BLU tidak mempunyai
Dewan Pengawas maka RBA dan Ikthisar RBA definitif ditandatangani oleh Pemimpin
BLU, diketahui oleh pejabat yang ditunjuk oleh menteri/pimpinan lembaga, dan disetujui
menteri/pimpinan lembaga.

Menteri/pimpinan lembaga menyampaikan RBA dan Ikthisar RBA definitif kepada


Menteri

Keuangan

c.q.

Direktur

Jenderal

Anggaran

dan

Direktur

Jenderal

Perbendaharaan.RBA definitif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan dasar


melakukan kegiatan BLU.

D. DIPA BLU
Daftar lsian Pelaksanaan Anggaran BLU yang selanjutnya disebut DlPA BLU adalah
dokumen pelaksanaan anggaran yang dibuat oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna

Anggaran pada satker BLU yang disahkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan/Kepala
Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan selaku
Bendahara Umum Negara, dan berfungsi sebagai dasar untuk melakukan tindakan yang
mengakibatkan pengeluaran negara dan pencairan dana BLU atas beban Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta berfungsi sebagai dokumen pendukung
kegiatan akuntansi pemerintah.
1. Penyusunan
RBA dan Ikhtisar RBA definitif digunakan juga sebagai acuan dalam menyusun DIPA
BLU untuk diajukan kepada Menteri Keuangan c.q. Direktur Jenderal Perbendaharaan.
DIPA BLU memuat antara lain saldo awal kas, pendapatan, belanja, pembiayaan, saldo
akhir kas, besaran Persentase Ambang Batas, proyeksi arus kas (termasuk rencana
penarikan dana yang bersumber dari APBN), dan jumlah serta kualitas barang dan/atau
jasa yang dihasilkan, sebagaimana ditetapkan dalam RBA definitif.
Saldo awal kas bersumber dari surplus anggaran tahun sebelumnya dan saldo pembiayaan
bersih BLU tahun sebelumnya.Saldo awal tidak termasuk:
a. saldo kas yang berasal dari pengeluaran pembiayaan APBN (Rupiah Murni) tahun
sebelumnya; dan/atau
b. saldo kas yang berasal dari pembiayaan yang didanai dari APBN (Rupiah Murni)
tahun berjalan yang telah tercantum dalam DIPA selain DIPA BLU.
Saldo pembiayaan bersih BLU merupakan selisih antara penerimaan pembiayaan BLU
dengan pengeluaran pembiayaan BLU.
Surplus anggaran tahun sebelumnya merupakan saldo kas yang berasal dari selisih lebih
antara PNBP BLU dengan belanja BLU, di luar APBN (Rupiah Murni).
DIPA BLU tidak mencantumkan:
a. Pengeluaran pembiayaan (dana bergulir/investasi) dari APBN (Rupiah Murni) tahun
sebelumnya; dan/atau
b. Pengeluaran pembiayaan (dana bergulir/investasi) dari APBN (Rupiah Murni) tahun
berjalan yang telah tercantum dalam DIPA lain.

DIPA BLU disampaikan oleh menteri/pimpinan lembaga kepada Menteri Keuangan c.q.
Direktur Jenderal Perbendaharaan
Menteri Keuangan c.q. Direktur Jenderal Perbendaharaan mengesahkan DIPA BLU
paling lambat tanggal 31 Desember dengan menerbitkan Surat Pengesahan DIPA BLU
(SP-DIPA BLU).
2. Penarikan dan Penggunaan Dana
DIPA BLU yang telah disahkan oleh Menteri Keuangan c.q. Direktur Jenderal
Perbendaharaan

menjadi

dasar

bagi

penarikan

dana

yang

bersumber

dari

APBN.Berdasarkan DIPA BLU Kuasa Pengguna Anggaran mengajukan Surat Perintah


Membayar

(SPM)

kepada

Kantor

Pelayanan

Perbendaharaan

Negara

(KPPN).Berdasarkan SPM sebagaimana dimaksud pada ayat (2), KPPN menerbitkan


Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) sesuai ketentuan yang berlaku.

Pendapatan yang diperoleh oleh BLU dapat dikelola dan digunakan langsung untuk
membiayai pengeluaran BLU sesuai dengan RBA definitif sementara BLU dengan status
Penuh dapat menggunakan langsung seluruh pendapatan.

BLU dengan status Bertahap dapat menggunakan langsung sebagian pendapatan sesuai
dengan persentase yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Keuangan mengenai
penetapan satker yang menerapkan pengelolaan keuangan BLU (PK BLU).BLU dengan
status Bertahap wajib secepatnya menyetorkan bagian pendapatan yang tidak dapat
digunakan langsung ke Kas Negara sesuai peraturan perundang-undangan di bidang
Penerimaan Negara Bukan Pajak.BLU dengan status Bertahap tidak dapat menggunakan
kembali seluruh pendapatan yang telah disetorkan ke Kas Negara

Dalam rangka pertanggungjawaban pendapatan /atau belanja yang bersumber dari PNBP
BLU yang dapat digunakan langsung, BLU mengajukan Surat Perintah Pengesahan
Pendapatan dan Belanja BLU (SP3B BLU) kepada KPPN paling kurang satu kali dalam
satu triwulan.Berdasarkan SP3B BLU, KPPN menerbitkan Surat Pengesahan Pendapatan

dan Belanja BLU (SP2B BLU) terhadap pendapatan dan/atau belanja yang bersumber
dari PNBP BLU yang dapat digunakan langsung.

3. Revisi DIPA
Revisi RBA definitif dapat berakibat dan/atau tidak berakibat pada perubahan DIPA
BLU.Dalam hal revisi RBA definitif berakibat pada perubahan DIPA BLU, maka revisi
RBA definitif diikuti dengan revisi DIPA BLU.Dalam hal revisi RBA definitif tidak
berakibat pada perubahan DIPA BLU, maka revisi RBA definitif tidak diikuti dengan
revisi DIPA BLU.

Kewenangan pengesahan revisi RBA definitif adalah sebagai berikut:


a. Disahkan oleh Pemimpin BLU untuk belanja sampai dengan pagu DIPA BLU;
b. Disahkan oleh Pemimpin BLU dan diketahui dewan pengawas, untuk:
belanja yang melebihi pagu DIPA BLU baik dalam ambang batas fleksibilitas
maupun melebihi ambang batas fleksibilitas;
penggunaan saldo awal kas; dan/atau
belanja yang melebihi pagu DIPA BLU pada BLU Bertahap.

Dalam hal BLU tidak mempunyai dewan pengawas maka revisi RBA definitif disahkan
oleh Pemimpin BLU dan diketahui oleh pejabat yang ditunjuk oleh menteri/pimpinan
lembaga untuk melaksanakan tugas dewan pengawas BLU.
Pemimpin BLU menyampaikan revisi RBA definitif kepada menteri/pimpinan lembaga
dan Menteri Keuangan c.q. Direktur Jenderal Anggaran dan Direktur Jenderal
Perbendaharaan.
Revisi DIPA BLU terdiri atas :
a. revisi DIPA BLU yang sumber dananya berasal dari PNBP diakibatkan oleh :
perubahan rincian anggaran yang disebabkan penambahan pagu anggaran belanja
diatas pagu APBN; dan/atau
perubahan atau pergeseran rincian anggaran belanja dalam hal pagu anggaran
tetap

Revisi DIPA BLU yang sumber dananya berasal dari PNBP dilakukan tanpa
perubahan SP-RKA-K/L
b. dan selain PNBP.
Perubahan atau pergeseran rincian anggaran belanja antara lain meliputi:
a. pergeseran rincian anggaran dalam hal pagu DIPA BLU tetap;
b. perubahan rincian anggaran akibat belanja melebihi pagu DIPA BLU namun masih
dalam ambang batas fleksibilitas;
c. perubahan rincian anggaran akibat belanja melebihi ambang batas fleksibilitas;
d. penggunaan saldo awal kas;
e. revisi DIPA BLU bertahap akibat PNBP melampaui target yang direncanakan;
f. perubahan rincian belanja akibat dari penyelesaian tunggakan tahun yang lalu;
dan/atau
g. revisi DIPA setelah penetapan menjadi satker BLU.

Dalam hal belanja BLU memerlukan revisi DIPA BLU maka:


a. belanja dapat dilakukan mendahului pengesahan revisi DIPA BLU
b. belanja dilakukan setelah pengesahan revisi DIPA BLU
Ketentuan lebih lanjut mengenai revisi RBA dan revisi DIPA BLU yang sumber dananya
berasal dari PNBP diatur dengan Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan.
Revisi DIPA BLU yang sumber dananya berasal dari selain PNBP mengikuti ketentuan
mengenai tata cara revisi DIPA.

PENGANGGARAN SKPD
A. Pendahuluan
Proses penyusunan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah merupakan bagian dari sistem
keuangan negara yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003. Demikian pula,

penyusunan APBD merupakan bagian tak terpisahkan dari sitem pengelolaan Pemerintah Daerah
sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. Salah satu sumber
pendanaan pembangunan daerah bnersumber dari APBN, sehingga proses penyusunan APBD
juga diatur dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan
antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Proses penganggaran diatur dalam Peraturan Pemerintah
Nomor 58 Tahun 2005 tentang pengelolaan Keuangan Daerah.
Dalam pelaksanaan Pengelolaan Keuangan Daerah Menteri Dalam Negeri menetapkan Peraturan
Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah,
Sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007
tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang
Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah
Penganggaran (budgeting) merupakan aktivitas terus menerus dari mulai perencanaan,
penyusunan, pelaksanaan, pelaporan dan pemeriksaan. Proses ini dikenal sebagai siklus anggaran
( budgeting cycle). Siklus ini tidak berjalan secara estafet, tetapi mengalami proses yang
simultan. Penyusunan anggaran yang disampaikan masing-masing satuan kerja perangkat daerah
(SKPD) dalam format Rencana kerja dan Anggaran (RKA) SKPD harus betul-betul dapat
menyajikan informasi yang jelas tentang tujuan, sasaran, serta disusun berdasarkan prestasi
kerja.
B.

Kerangka Pedoman

Dasar Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan
Keuangan Daerah.
a.

Keuangan Daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka

penyelenggaraan

pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk

didalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah
tersebut
b.

.Pengelolaan Keuangan Daerah adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi

perencanaan,

pelaksanaan,

pengawasan keuangan daerah.

penatausahaan,

pelaporan,

pertanggungjawaban,

dan

c.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, Selanjutnya disingkat APBD adalah

rencana keuangan pemerintah daerah yang dibahas dan disetujui bersama oleh
pemerintah daerah dan DPRD, dan ditetapkan dengan peraturan daerah.
d.

Satuan Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya disingkat SKPD adalah perangkat

daerah pada pemerintah daerah selaku pengguna anggaran/pengguna barang.


e.

Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah yang selanjutnya disingkat SKPKD adalah

perangkat daerah pada pemerintah daerah selaku pengguna anggaran/barang, yang juga
melaksanakan pengelolaan keuangan daerah.
f.

Bendahara Umum Daerah yang selanjutnya disingkat BUD adalah PPKD yang

bertindak dalam kapasitas sebagai bendahara umum daerah.


g.

Pengguna Anggaran/Barang adalah pejabat pemegang kewnangan penggunaan

anggaran/barang untuk melaksanakan tugas pokok , dan fungsi SKPD yang dipimpinnya.
h.

Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD yang selanjutnya disingkat PPK-SKPD

adalah pejabat yang melaksanakan fungsi tata usaha keuangan pada SKPD.
i.

Pejabat Pelaksana Teknis kegiatan yang selanjutnya disingkat PPTK adalah pejabat

pada unit kerja SKPD yang melaksanakan satu atau beberapa kegiatan dari suatu program
sesuai dengan bidang tugasnya.
j.

Bendahara Penerimaan adalah pejabat fungsional yang ditunjuk menerima,

menyimpan, menyetorkan, menatausahakan, dan mempertanggungjawabkan uang


pendapatanm daerah dalam pelaksanaan APBD pada SKPD.
k.

Bendahara Pengeluaran adalah pejabat fungsional

yang ditunjuk menerima,

menyimpan, membayarkan, menatusahakan, dan mempertanggungjawabkan uang untuk


keperluan belanja daerah dalam rangka pelaksanaan APBD.
l.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah yang selanjutnya disingkat RPJMD

adalah dokumen perencanaan untuk periode 5 (Lima) tahun.


m.

Rencana Pembangunan Tahunan Daerah, Selanjutnya disebut Rencana Kerja

Pemerintah Daerah ( RKPD ), adalah dokumen perencanaan Daerah untuk periode 1


(satu) tahun.
n.

Tim Anggaran Pemerintah Daerah yang selanjutnya disingkat TAPD adalah tim yang

dibentuk dengan keputusan kepala daerah dan dipimpin oleh sekretaris daerah yang
mempunyai tugas menyiapkan serta melaksanakan kebijakan kepala daerah dalam rangka

penyusunan APBD yang anggotanya terdiri dari pejabat perencana daerah, PPKD dan
pejabat lainnya sesuai dengan kebutuhan.
o.

Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara yang selanjutnya disingkat PPAS adalah

rancangan program prioritas dan patokan batas maksimal anggaran yang diberikan
kepada SKPD untuk setiap program sebagai acuan dalam penyusunan RKA_SKPD
sebelum disepakati dengan DPRD.
p.

Prioritas dan plafon Anggaran yang selanjutnya disingkat PPA adalah program

prioritas dan patokan batas maksimal anggaran yang diberikan kepada SKPD untuk
setiap program sebagai acuan dalam penyusunan RKA-SKPD setelah disepakati dengan
DPRD
q.

Rencana Kerja dan Anggaran SKPD yang selanjutnya disingkat RKA-SKPD adalah

dokumen perencanaan dan penggaran yang berisi rencana pendapatan, rencana belanja
program dan kegiatan SKPD serta pembiayaan sebagai dasar penyuusunan APBD
r.

Dokumen Pelaksanaan Anggaran SKPD yang selanjutnya disingkat DPA-SKPD

adalah dokumen yang memuat pendapatan, belanja dan pembiayaan yang digunakan
sebagai dasar pelaksanaan anggaran oleh pengguna anggaran.
s.

Surat Permintaan Pembayaran yang selanjutnya disingkat SPP adalah dokumen yang

diterbitkan oleh pejabat yang bertanggungjawab atas pelaksanaan kegiatan/bendahara


pengeluaran untuk mengajukan permintaan pembayaran.
t.

SPP uang Persediaan selanjutnya disingkat SPP-UP

SPP Ganti uang Persediaan selanjutnya disngkat SPP-GU


SPP Tambah uang Persediaan selanjutnya disingkat SPP-TU
SPP Langsung selanjutnya disingkat SPP-LS
u.

Surat Perintah Membayar yang selanjutnya disingkat SPM adalah dokumen yang

digunakan yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran untuk


penerbitan SP2D atas beban pengeluaran DPA-SKPD.
SPM uang persedian selanjutnya disingkat SPM-UP
SPM uang Ganti uang selanjutnya disingkat SPM-GU
SPM uang Tambahan uang selanjutnya disingkat SPM-GU
SPM uang membayar langsung selanjutnya disingkat SPM-LS

C.

Struktur APBD
Struktur APBD merupakan satu kesatuan terdiri dari :

D.

a.

Pendapatan daerah

b.

Belanja daerah

c.

Pembiayaan daerah

Pendapatan Daerah dikelompokan atas :


a.

Pendapatan asli daerah

1) Pajak daer4ah
2) Retribusi daerah
3) Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan
4)

E.

Lain-lain pendapatan asli daerah yang sah

b.

Dana perimbangan

c.

Lain-lain pendapatan daerah yang sah

Kelompok Belanja;
Belanja menurut kelompok belanja terdiri dari :
Belanja tidak langsung :
Merupakan belanja yang dianggarkan tidak terkait secara langsung dengan pelaksanaan
program.
Belanja tidak langsung dibagi menurut jenis belanja yang terdiri dari :
a.

Belanja pegawai

b.

Bunga

c.

Subsidi

d.

Hibah

e.

Bantuan sosial

f.

Belanja bagi hasil

g.

Bantuan keuangan

h.

Belanja tidak terduga

Belanja langsung:

Merupakan belanja yang dianggarkan terkait secara langsung dengan pelaksanaan


program kegiatan dan dibagi menurt jenis belanja :

F.

a.

Belanja pegawai

b.

Belanja barang dan jasa

c.

Belanja modal

Pembiayaan Daerah:
Pembiayaan daerah terdiri dari penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan :
a. Penerimaan pembiayaan mencakup :
1) Sisa lebih perhitungan anggaran tahun anggaran sebelumnya
2) Pencairan dana cadangan
3) Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan
4) Penerimaan pinjaman daerah
5) Penerimaan kembali pemberian pinjaman penerimaan piutang.
b. Pengeluaran pembiayaan mencakup :
1) Pembentukan dana cadangan
2) Penyertaan modal (investasi) pemerintah daerah
3) Pembayaran pokok utang
4) Pemberian pinjaman daerah
G.

Pejabat Pengelola Keuangan SKPD

a.

Kepala SKPD
Kepala SKPD selaku pejabat pengguna anggaran/pengguna barang mempunyai tugas

melaksanakan tugas-tugas

menyusun

RKA-SKPD, menyusun

DPA-SKPD dan

melaksanakan anggaran SKPD yang dipimpinnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan


oleh kepala daerah serta bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada kepala
daerah melalui sekretaris daerah.

b.

Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan SKPD ;

Pejabat pengguna anggaran/barang dalam melaksanakan program dan kegiatan menunjuk


pejabata pada unit kerja SKPD selku PPTK, Penunjukan PPTK berdasrkan pertimbangan
kompetensi jabatan, anggaran kegiatan, beban kerja, lokasi dan/ atau rentang kendali dan
pertimbangan obyektif lainnya.
1.

Tugas PPTK mengendalikan pelaksanaan kegiatan

2.

Melaporkan perkembangan pelaksanaan kegiatan

3.

Menyiapkan dokumen anggaran atas beban pengeluaran pelaksanaan kegiatan,

Dokumen anggaran tersebut mencakup dokumen administrasi kegiatan maupun dokumen


administrasi yang terkait dengan persyaratan pembayaran yang ditetapkan sesuai dengan
ketentuan perundang-undangan.
PPTK

bertanggungjawab

atas

pelaksanaan

tugasnya

kepada

kuasa

pengguna

anggaran/kuasa pengguna barang.


c. Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD;
Dalam melaksanakan anggaran yang dimuat dalam DPA- SKPD,

kepala SKPD

menetapkan pejabat yang melaksanakan fungsi tata usaha keuangan SKPD sebagai PPKSKPD.
PPK-SKPD mempunyai tugas-tugas ;
1.

Meneliti kelengkapan SPP, yang disampaikanoleh bendahara pengeluaran yang

disetujui oleh PPTK.


2.

Melakukan verifikasi SPP

3.

Menyiapkan SPM

4.

Melaksanakan akuntansi SKPD dan menyiapkan laporan keuangan SKPD.

d. Bendahara Penerimaan dan Bendahara Pengeluaran;


Kepala daerah atau usul PPKD menetapkan bendahara penerimaan dan bendahara
pengeluaran

untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan

anggaran SKPD.

Bendahara penerimaan / atau bendahara pengeluaran dalam

melaksanakan tugasnya dapat dibantu oleh bendahara pembantu dan atau bendahara
pengeluaran pembantu, dan secara fungsional
tugasnya kepada PPKD selaku BUD.

H.

Penyusunan Rancangan APBD

bertanggungjawab atas pelaksanaan

RPJMD untuk jangka waktu 5 tahun merupakan penjabaran dari visi,misi dan program
kepala daerah yang penyusunannya berpedoman kepada RPJD Daerah dengan
memperhatikan RPJMD nasional dan standar pelayanan minimal yang ditetapkan oleh
pemerintah.
RPJMD ditetapkan paling lambat 3 (tiga) bulan setelah Kepala Daerah dilantik. SKPD
menyusun rencana strategis yang selanjutnya disebut Renstra SKPD yang memuat visi,
misi tujuan, strategi, kebijakan, program dan kegiatan pembangunan yang bersifat
infikatif sesuai dengan tugas dan fungsinya.
Kebijakan Umum APBD.
Berdasarkan RKPD disusun rancangan kebijakan umum APBD, Penyusunan rancangan
kebijakan umum APBD berpedoman pada pedoman penyusunan APBD yang ditetapkan
Menteri Dalam Negeri, Rancangan kebijakan umum APBD tahun anggaran berikutnya
sebagai landasan penyusunan RAPBD kepada DPRD selambat-lambatnya pertengahan
bulan juni tahun anggaran berjalan.
Rancangan kebijakan umum APBD yang telah dibahas kepala daerah bersama DPRD
dalam pembicaraan pendahuluan RAPBD sebagimana dimaksud selanjutnya disepakati
menjadi kebijakan umum APBD.
Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara.
Pembahasan prioritas dan plafon anggaran sementara
a.

Berdasarkan surat edaran kepala daerah tentang pedoman penyusunan RKA-SKPD

kepala SKPD menyusun RKA-SKPD dengan menggunakan pendekatan kerangka


pengeluaran jangka menengah daerah, penggangaran terpadu dan penggangaran
berdasarkan prestasi.
b.

Pembahasan prioritas dan plafon anggaran sementara dilakukan paling lambat

minggu ke dua bulan Juli tahun anggaran sebelumnya, yang berisi langkah-langka
sebagai berikut :
1) Menentukan skala prioritas dalam urusan wajib dan urusan pilihan
2) Menentukan urutan program dalam masing-masing urusan
3) Menyusun plafon anggaran sementara untuk masing-masing program
c.

Kepala daerah berdasarkan nota kesepakatan menerbitkan pedoman penyusunan

RKA-SKPD sebagai pedoman kepala SKPD menyusun RKA-SKPD

I.

Rencana Kerja dan Anggaran SKPD

Dasar pedoman penyusunan RKA-SKPD Kepala SKPD menyusun RKA-SKPD


dengan menggunakan pendekatan kerangka pengeluaran jangka menengah daerah,
penganggaran terpadu dan penggaran berdasarkan prestasi , Penyusunan RKA-SKPD
dengan pendekatan kerangka pengeluaran jangka menengah dilaksanakan dengan
menyusun prakiraan maju yang berisi perkiraan kebutuhan anggaran untuk program dan
kegiatan yang direncanakan dalam tahun anggaran berikutnya dari tahun anggaran yang
direncanakan dan merupakan implikasi kebutuhan dana untuk pelaksanaan program dan
kegiatan tersebut pada tahun berikutnya.
a.

Penyusunan RKA-SKPD dengan pendekatan prestasi kerja dilakukan dengan

memperhatikan keterkaitan antara pendanaan dengan keluaran dan hasil yang diharapkan
dari kegiatan dan program termasuk efisiensi dalam pencapaian keluaran dan hasil
tersebut.
b.

Penyusunan anggaran berdasarkan prestasi dilakukan berdasarkan capaian kinerja,

indikator kinerja, analisis standar belanja, standar satuan harga dan standar pelayanan
minimal
c.

Standar satuan harga ditetapkan dengan keputusan kepala daerah.

Penyiapan Raperda APBD


a.

RKA-SKPD yang disusun oleh Kepala SKPD disampaikan kepada PPKD

b.

RKA-SKPD selanjutnya dibahas oleh tim anggaran pemerintah daerah.

c.

Pembahasan oleh tim anggaran pemerintah daerah dilakukan untuk menelaah

kesesuaian antara RKA-SKPD dengan kebijakan umum APBD, prioritas dan plafon
anggaran sementara, prakiraan maju yang telah disetujui tahun anggaran sebelumnya dan
dokumen perencanaan lainnya, serta capaian kinerja dan standar pelayanan minimal.
Penetapan APBD
Kepala Daerah menyampaikan rancangan peraturan daerah tentang APBD kepada DPRD
disertai penjelasan dan dokumen pendukungnya pada minggu pertama bulan oktober
tahun sebelumnya untuk dibahas dalam rangka memperoleh persetujuan bersama.

Penetapan rancangan daerah tentang APBD dilakukan selambat-lambatnya tanggal 31


Desember tahun anggaran sebelumnya, Kepala daerah menyampaikan peraturan daerah
tentang APBD dan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD kepada Menteri
Dalam Negeri bagi provinsi dan gubenur bagi kabupaten/kota selambat-lambatnya 7
(tujuh) hari kerja setelah ditetapkan.

J.

Siklus Anggaran SKPD


Pelaksanaan Anggaran SKPD
Penyiapan Dokumen Pelaksanan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah.
a.

PPKD paling lambat 3 (tiga ) hari kerja setelah APBD ditetapkan memberitahukan

kepada semua kepala SKPD agar menyusun dan menyampaikan rancangan DPA-SKPD.
b.

Rancangan DPA-SKPD merinci sasaran yang dicapai, fungsi, program, kegiatan

anggaran yang disediakan untuk mencapai sasaran tersebut, dan rencana penarikan dana
tiap-tiap satuan kerja serta pendapatan yang diperkirakan
Pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran, bendahara penerimaan/pengeluaran dan
orang atau badan yang menerima atau menguasai uang/barang/kekayaan daerah wajib
menyelenggarakan penatausahaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan

Penatausahaan Keuangan SKPD


-

Bendahara Penerimaan;

Bendahara penerimaan wajib menyelenggarakan penatausahaan terhadap seluruh


penerimaan dan penyetoran atas penerimaan yang menjadi tanggung jawabnya,
penatausahaan menggunakan buku kas umum, buku pembantu per rincian obyek
penerimaan dan buku rekapitulasi penerimaan harian,
SKPD

wajib

mempertanggung

jawabkan

Bendahara penerimaan pada

dengan

menyampaikan

laporan

pertanggungjawaban penerimaan kepada PPKD selaku BUD paling lambat tanggal 10


bulan berikutnya.
PAD pada dasarnya diterima oleh SKPD termasuk SKPD yang mengelola keuangan
daerah, PPKD menerima SPJ dari bendahara penerimaan melalui PPK-SKPD, dan
menerima nota kredit berikut STS dari Bank. PPKD selaku BUD melakukan verifikasi,

evaluasi dan analisis atas laporan pertranggungjawaban bendahara penerimaan pada


SKPD.
-

Bendahara Pengeluaran ;

Setelah penetapan anggaran kas, PPKD dalam rangka manajemen kas menerbitkan SPD,
Pengeluaran kas atas beban APBD dilakukan berdasarkan SPD atau dokumen lain yang
dipersamakan dengan SPD, berdasarkan SPD bendahara pengeluaran mengajukan SPP
kepada pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran melalui PPK-SKPD, SPP
dimaksud terdiri dari :
a.

SPP Uang Persediaan (SPP-UP)

b.

SPP Ganti Uang (SPP-GU)

c.

SPP Tambahan Uang (SPP-TU)

d.

SPP Langsung (SPP-LS)

Penerbitan dan pengajuan dokumen SPP dilakukan bendahara pengeluaran untuk


memperoleh persetujuan dari pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran melalui PPKSKPD dalam pencairan dana sesuai dengan kebutuhan uang, Dokumen SPP dimaksud
terdiri dari :
1) Surat pengantar SPP-UP/GU/TU atau LS
2) Ringkasan SPP-UP/GU/TU atau LS
3) Rincian SPP-UP/GU/TU atau LS
4) Salinan SPD
5)

Draf surat pernyataan untuk ditandatangani oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna

anggaran yang menyatakan bahwa uang yang dimintya tidak

dipergunakan untuk

keperluan selain uang yang diminta saat pengajuan uang.


6)

Batas jumlah pengajuan SPP-TU harus mendapat persetujuan dari PPKD dengan

memperhatikan rincian kebutuhan dan waktu penggunaan ditetapkan dalam peraturan


kepala daerah.
7)

Dana tambahan uang tidak habis digunakan dalam 1 (satu) bulan, maka sisa

tambahan uang disetor ke rekening kas umum


Perintah Membayar
Penerbitan SPM paling lama 2 (Dua) hari kerja terhitung sejak diterimanya dokumen
SPP, penolakan penerbitan SPM paling lama 1 (satu) hari kerja terhitung sejak

diterimanya pengajuan SPP, SPM yang telah diterbitkan selanjutnya diajukan kepada
kuasa BUD untuk penerbitan SP2D.
Penatausahaan pengeluaran perintah membayar sebagimana dimaksud dilaksanakan oleh
PPK-SKPD, Setelah tahun anggaran berakhir, pengguna anggaran/kuasa pengguna
anggaran dilarang menerbitkan SPM yang membebani tahun anggaran berkenaan.
Pencairan Dana
BUD meneliti kelengkapan dokumen SPM yang diajukan oleh pengguna anggaran/kuasa
pengguna anggaran

agar pengeluaran yang diajukan tidak melampaui pagu dan

memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan.


a.

Kelengkapan dokumen SPM-UP untuk penerbitan SP2D adalah surat pernyataan

tanggungjawab pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran


b.

Kelengkapan dokumen SPM-GU untuk penerbitan SP2D

1) Surat pernyataan tanggungjawab pengguna anggaran


2) Surat pernyataan pertanggungjawabanbendahara pengeluaran periode sebelumnya.
3)

Ringkasan pengeluaran per rincian obyek yang disertai dengan bukti-bukti

pengeluaran yang sah dan lengkap


4) Bukti atas penyetoran PPN/PPh
c.

Kelengkapan dokumen SPM-TU untuk penerbitan SP2D adalah surat pernyataan

tanggungjawab pengga anggaran/kuasa pengguna anggaran


d.

Kelengkapan dokumen SPM-LS untuk penerbitan SP2D ;

1) Surat pernyataan tanggungjawab pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran


2)

Bukti-bukti pengeluaran yang sah dan lengkap sesuai dengan kelengkapan persaratan

yang ditetapkan.

Pertanggungjawaban Pengguna Dana

Bendahara secara administrarif wajib mempertanggungjawabkan penggunaan uang


persediaan/ganti uang persediaan /tambah uang persediaan kepada kepala SKPD melalui
PPK-SKPD paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya. Adapun dokumen laporan
pertanggungjawaban yang disampaikan mencakup :
a.

buku kas umum

b.

ringkasan pengeluaran per rincian proyek yang disertai dengan bukti-bukti

pengeluaran yang sah atas pengeluaran dari setiap rincian obyek .


c.

bukti atas penyetoran PPN/PPh

d.

register pentutupan kas

Bila laporan pertanggunganjawaban bendahara sudah sesuai , pengguna anggaran/kuasa


pengguna anggaran menerbitkan surat pengesahan laporan pertanggungjawaban. Untuk
tertib laporan pertanggungjawaban pada akhir tahun anggaran pertanggungjawaban
pengeluaran dana bulan desember disampaikan paling lambat tanggal 31 Desember.
Penyampaian pertanggungjawaban bendahara pengeluaran SKPD secara fungsional atas
pengelolaanuang yang menjadi tanggungjawabnya dengan menyampaikan laporan
pertanggungjawaban pengeluaran kepada PPKD selaku BUD paling lambat tanggal 10
bulan berikutnya.
Dalam melakukan verifikasi atas laporan pertanggungjawaban yang disampaikan, PPKSKPD berkewajiban untuk :
a.

meneliti kelengkapan dokumen laporan pertanggungjawaban dan keabsahan bukti-

bukti pengeluaran yang disampaikan.


b.

Menguji kebenaran perhitungan atas pengeluaran per rincian obyek .

c.

Menghitung pengenaan PPN/PPh atas beban pengeluaran.

d.

Menguji kebenaran sesuai dengan SPM dan SP2D yang diterbitkan periode

sebelumnya.

Akuntansi Keuangan Daerah pada SKPD


Prosedur akuntansi penerimaan kas pada SKPD meliputi serangkaian proses mulai dari
pencatatan, pengikhtisaran, sampaidengan pelaporan keuangan yang berkaitan dengan
penerimaan kas dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD yang dapat
dilaksanakan secara manual atau menggunakan aplikasi komputer. Yang dilaksanakan
oleh PPK-SKPD.
Bukti transaksi yang digunakan dalam prosedur akuntansi penerimaan kas mencakup ;
a.

Surat tanda bukti pembayaran

b.

STS

c.

Bukti transfer

d.

Nota kredit bank

Buku yang digunakan untuk mmmencatat transaksi dalam prosedur akuntansi


pengeluaran kas mencakup:
a.

Buku jurnal pengeluaran kas

b.

Buku besar

c.

Buku besar pembantu

Laporan Keuangan SKPD


Laporan pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran SKPD dilaksanakan secara periodik
yang mencakup ;
a.

Laporan realisasi anggaran SKPD

b.

Neraca SKPD

c.

Catatan atas laporan keuangan SKPD

Kepala SKPD menyusun dan melaporkan arus kas secara periodik kepada kepala daerah,
laporan tersebut disusun dan disajikan sesuai dengan peraturan pemerintah yang
mengatur tentang standar akuntansi pemerintahan.