Anda di halaman 1dari 14

BAB II

IDENTIFIKASI GUGUS FUNGSI ALDEHID DAN KETON


TUJUAN
:
Membedakan senyawa aldehid dan keton dengan menggunakan uji Tollens dan
Fehling
Memahami reaksi yang terjadi selama uji Tollens dan Fehling
A. Pre-lab
1. Jelaskan perbedaan mendasar antara aldehid dan keton!
Pembeda
Aldehid
Atom hidrogen
Ada
Hasil oksidasi
Senyawa dengan jumlah atom
karbon yang sama dengan aldehid
awal
Proses oksidasi
Mudah
mengalami
oksidasi
(dengan tollens dan fehling)

Struktur

Keton
Tidak ada
Senyawa dengan jumlah atomatom karbon lebih sedikit dari
keton awal
Sulit
mengalami
oksidasi
karena hanya dapat dioksidasi
bila dengan pengoksidasi kuat
(tidak bisa dengan tollens dan
fehling)
O

R
H
Berakhiran al

Nomenklatur

R
R
Berakhiran -on
(Aulia, 2009).

2. Jelaskan prinsip uji Tollens !


Prinsip dari uji tollen adalah mngidentifikasi aldehid untuk membedakan aldehid dan
keton dengan penambahan reagen tollens yang mengakibatkan atom oksigen berikatan
dengan atom C karbonil aldehid membentuk asam karboksilat dan juga menghasilkan
endapan perak yang membentuk cermin perak.
O
O
C
R

+ Ag2O
H

C
R

+ Ag
OH
(William, 2012).

3. Apa fungsi pereaksi fehling pada uji fehling?


Fehling berfungsi sebagai oksidator lemah yang merupakan pereaksi untuk mendeteksi
aldehid dengan membentuk endapan merah bata. Sedangkan jika dengan senyawa lain tidak
akan bereaksi, sehingga uji fehling dapat digunakan untuk membedakan aldehid dan keton
(Andy, 2008).

B. Tinjauan Pustaka
1. Pengertian aldehid
Aldehid adalah suatu senyawa turunan dari alkana yang mempunyai gugus fungsi
R-CHO yang mempunyai sifat jika teroksidasi menjadi asam karboksilat, mempunyai bau
yang tajam. Golongan aldehid juga dinamakan golongan formil atau metanoil. Sifat
aldehid reaktif karena mengikat atom H. Aldehid adalah molekul polar adanya ikataan
rangkap C=O seperti halnya gaya-gaya dispersi, juga akan ada gaya tarik menrik antar
dipol-dipol permanen pada molekul-molekul yang berdekatan, titik didih semakin
meningkat bila molekul semakin besar, gaya tarik menjadi kuat apabila molekul menjadi
lebih panjang, dan memiliki lebih banyak elektron (Mulyono, 2006)
2. Pengertian Keton
Keton atau alkanon adalah suatu senyawa turunan alkana dengan gugus fungsi
C=O- yang memiliki rumus umum CnH2nO. Sama seperti aldehid, keton juga memiliki
gugus karbonil (C=O). Hanya saja gugus karbonil pada keton berikatan dengan dua
karbon sehingga ciri ini dapat digunakan untuk membedakan keton dari senyawasenyawa dengan gugus karbonil lain seperti asam karboksilat, aldehid, ester, amida dan
senyawa-senyawa beroksigen lainnya (Sudarmono, 2006).
3. Tinjauan Bahan
a. Aseton
Aseton merupakan senyawa keton paling sederhana. Aseton berwujud cair pada
suhu kamar dengan bau yang harum. Memiliki rumus molekul (CH3)2CO. Cairan
jernih, tidak berwarna, mudah menguap dan mudah terbakar. Penyimpanan dalam
wadah tertutup. Larut dalam air, etanol 95% eter P, kloroform P, membentuk larutan
jernih (Gandjar, 2007).
b. Glukosa
Glukosa adalah monoskarida yang banyak ditemukan pada tumbuhan. Glukosa
merupakan salah satu dari tiga monosakarida penyusun makanan selain fruktosa dan
galaktosa yang diserap secara langsung oleh darah selama pencernaan (Burns, 2006).
c. Fruktosa
Fruktosa adalah suatu ketoheksosa yang mempunyai sifat memutar cahaya
terpolarisasi ke kiri dan karenanya disebut juga levulosa. Fruktosa mempunyai rasa
lebih manis daripada gula tebu atau sukrosa. Frutosa dapat dibedakan dari glukosa
dengan pereaksi seliwanoff, yaitu larutan resorsinol (1,3- dihidroksi-benzena) dalam
asam klorida. Disebut juga sebagai gula buah, diperoleh dari hidrolisis sukrosa
(Abraham, 2010).
d. Formalin
Formalin atau formaldehida atau bahan kimia yang digunakan sebagai pengawet.
Memiliki rumus molekul C2H4O berat molekul 30,03. Cairan tidak berwarna, uap
dapat mengeluarkan air mata, baunya sangat merangsang selaput lendir hidung dan
tenggorokan (McMurry, 2011).
e. Tollens (AgNO3)
Nama resmi argenti nitras. Nama lainnya perak nitrat rumus molekul AgNO 3
berat molekul 169,87. Penyimpanan dalam wadah baik terlindung dari cahaya.
Kegunaan sebagai pengoksidasi (pereaksi tollens). Dan identifikasi bahaya, beracun,
berbahaya, korosif. Menyebabkan luka bakar pada setiap jaringan tubuh, bisa fatal bila

i.

tertelan dan dihirup, oksidator kuat dan dapat menyebabkan kebakaran apabila terjadi
kontak dengan bahan lain (Mulyono, 2006).
f. NH4OH
NH4OH atau amoniak merupakan cairan tidak berwarna, bau khas menusuk
kuat. Mudah larut dalam air. Penyimpanan dalam wadah tertutup rapat. Kegunaan
sebagai pereaksi. NH4OH digunakan dalam pembersih peralatan rumah tangga.
Larutan amonia dapat melarutkan residu oksida perak, digunakan untuk membuat
pereaksi tollens (William, 2012).
g. NaOH
NaOH atau natrium hidroksida berbentuk batang, butiran masa hablur putih
atau keping keras rapuh dan menunjukan susunan hablur putih, mudah meleleh.
Mudah larut dalam air dan etanol 95%. Penyimpanan dalam tertutup baik. Kegunaan
sebagai pereaksi (Fandy, 2010).
h. Fehling A
Fehling A mengandung CuSO4.5H2O 36, 64 gram H2SO4 pekat 6,5 ml dan
aquades 500 ml. Cairan berwarna biru dan tidak berbau. Mudah larut dalam air.
Penyimpanan dalam wadah yang baik. Kegunaannya sebagai oksidator (Hoffman,
2006).
Fehling B
Fehling B mengandung K.Na tetrat 176 gram, NaOH 77 gram dan aquades 500
ml. Cairan berwarna biru dan tidak berbau. Mudah larut dalam air. Penyimpanan
dalam wadah yang baik. Kegunaannya sebagai oksidator (Hoffman, 2006).
j. Aquades
Aquades adalah air dari hasil penyulingan, kadungan murni H 2O. Dalam
praktikum, aquades berfungsi untuk mebersihkan alat-alat praktikum hingga steril.
Aquades mempunyai warna bening, berwujud cair, titik didih dan titik beku yang
serupa dengan air, densitas 1.09 berfungsi sebagai pelarut suatu bahan (Andy, 2008).

C. Diagram Alir
1. Uji Tollens
1 ml larutan AgNO3 5%

Dimasukkan ke dalam tabung reaksi


NH4OH 6 M
Ditambahkan sampai endapan hilang
1 ml sampel
Ditambahkan pada tabung reaksi
Dipanaskan 2 menit
Diamati perubahan yang terjadi

Hasil
2. Uji Fehling
5 tetes Fehling A

Dimasukkan ke dalam tabung reaksi


5 tetes NaOH
Dimasukkan ke dalam tabung reaksi
10 tetes Fehling B
Dimasukkan ke dalam tabung reaksi
1 ml sampel
Dipanaskan 2 menit di dalam water bath
Diamati perubahan yang terjadi

Hasil

DAFTAR PUSTAKA
Abraham. 2010. Penuntun Praktikum Kimia Organik II. Kendari: Universitas Haluoleo
Andy, Muhammad. 2008. Uji identifikasi Senyawa Aldehid. Bogor: IPB Press
Aulia, Putri. 2009. Senyawa Keton dan Aldehid. Malang: UB Press
Burns, R. 2006. Fundamental of Chemistry. New Jerset: Prentice Hall
Fandy. 2010. Uji Tolens. Jakarta: Erlangga
Gandjar, G. I. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Ygyakarta: Pustaka Belajar
Hoffman, Revil. 2006. Organic Chemistry An Intermediate Text. Mexico: Sonr Inc
McMurry, J. 2011. Organic Chemistry. California: Brooks Cole
Mulyono, H. 2006. Chemisti. Dictionary Edition 1. Jakarta: Bumi Aksara
Siswoyo, R. 2009. Kimia Organik. Jakarta: Erlangga
Sudarmo, U. 2006. Kimia 3. Jakarta: Erlangga
William, B. 2012. Organic Chemistry. Washington: Cengange Learning
DAFTAR PUSTAKA TAMBAHAN
Abdurrahmat. 2010. Kimia Dasar II. Jogjakarta: UGM Press
Brown, W. 2012. Organic Chemistry. Washington: Cengange Learning
Ani, Firotul. 2008. Prinsip-Prinsip Uji Tollens. Jakarta: Erlangga
Emilda, F. 2010. Kimia. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
Firmansyah. 2008. Kimia Dasar edisi II. Jakarta: Erlangga
Kurniawan, W. 2011. Kimia Organik. Semarang: Universitas Diponegoro
Poedjiadi, A. 2009. Cerdas Belajar Kimia. Bandung: Setia Purna Invers
Stoker, S. 2010. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta: UIP
Toni. 2008. Prinsip-Prinsip Kimia Modern. Jakarta: Gagas Media

D. Hasil Percobaan Dan Pengamatan :


1. Uji Tollens
Nama
Reagen
Sampel + Reagen
Sampel
Tollens +
Tollens (tanpa
No
NH4OH
pemanasan)
1.

2.

Sampel + Reagen
Tollens (setelah
pemanasan)

Hasil
uji (+)/
(-)

Glukosa

Tidak
berwarna

Agak keruh

Terbentuk cermin
perak

Fruktosa

Tidak
berwarna

Hitam keruh

Terbentuk cermin
perak

Tidak
berwana

Tidak berwana

Hitam keruh

Tidak
berwarna

Tidak berwarna

Tidak berwarna

Tidak
berwarna

Sudah terbentuk
cermin perak sedikit

Terbentuk cermin
perak yang jelas

Reagen
Fehling +
NH4OH

Sampel + Reagen
Fehling (tanpa
pemanasan)

Sampel + Reagen
Fehling (setelah
pemanasan)

Hasil
uji
(+)/(-)

3.

Sukrosa

4.

Aseton

5.

Formaldehid

2. Uji Fehling
Nama
No
Sampel
.
1.

Glukosa

Biru Tua

Biru tosca

Ada endapan merah


bata

2.

Fruktosa

Biru Tua

Orange

Ada endapan merah


bata

3.

Sukrosa

Biru Tua

Biru bening

Biru bening

4.

Aseton

Biru Tua

Dua lapisan, atas


bening bawah biru

Biru

5.

Formaldehid

Biru Tua

Biru bening

Ada endapan merah


bata

PEMBAHASAN
1. Bahas dan bandingkan data-data uji tollens dari beberapa sampel dari percobaan
a. Prinsip uji tollens
Prinsip uji tollens adalah mengidentifikasi adanya gugus aldehid dan keton
dalam suatu sampel dengan ditambahkan reagen tollens (AgNO3) dimana terjdi reaksi
oksidasi reduksi, gugus aldehid dioksidasi menjadi anion karboksilat. Reaksi dengan
pereaksi tollens mampu mengubah ikatan CHO pada senyawa aldehid menjadi ikatan
COOH pada senyawa asam karboksilat. Sementara ion Ag+ dalam reagen tollens
(AgNO3) direduksi menjadi logam Ag ditandai dengan adanya cermin perak pada
dinding tabung reaksi. Uji positif ditandai dengan cermin perak pada dinding tabung.
O
O
R

H + Ag2O

+ 2Ag

b. Analisa Prosedur
Sebelum memulai percobaan, siapkan alat dan bahan yang ingin digunakan.
Alat yang harus dipersiapkan adalah pipet tetes, pipet ukur, tabung reaksi berjumlah 5,
penjepit tabung reaksi, rak tabung reaksi, label dan spiritus atau bunsen. Sedangkan
bahan yang digunakan adalah reagen tollens (AgNO3 5%), NH4OH 6M, aseton,
fruktosa, glukosa, sukrosa, dan formaldehid. Larutan AgNO3 5% berfungsi sebagai
oksidator lemah yang digunakan untuk membedakan antara aldehid dan keton. Larutan
NH4OH 6M berfungsi untuk mencegah pengendapam ion perak dan membentuk
suasana basa. Sedangkan aseton, fruktosa, glukosa, sukrosa dan formaldehida berfungsi
sebagai sampel yaitu bahan yang ingin di uji.
Setelah menyiapkan alat dah bahan, labelkan masing-masing tabung reaksi
dengan nama masing-masing sampel dengan tujuan agar tidak salaing tertukar antar
sampel. Masukan 1 ml larutan AgNO3 5% kedalam masing-masing tabung reaksi yang
telah diberi label menggunakan pipet ukur 1ml agar pengambilan larutan lebih mudah
dan ukuran volume yang diambil sesuai dengan yang dibutuhkan. Usahakan dalam
memasukan larutan AgNO3 5% harus dengan teliti atau sesuai dengan skala pipet ukur
dan ketika memasukannya kedalam tabung reaksi tidak boleh terkena dengan dinding
tabung reaksi agar ukurannya atau volume yang dibutuhkan tetap sesuai. Lalu
tambahkan larutan NH4OH 6M sampai endapan hilang (warnanya bening) atau
sebanyak 5-10 tetes menggunakan pipet tetes. Langkah ini dilakukan pada kelima
tabung raksi yang ada. Setelah itu menambahkan 1 ml tiap sampel ke dalam masingmasing 1 tabung reaksi menggunakan pipet ukur yang sebelumnya telah diberi label
pula sesuai sampel. Tujuan pemberian label agar pipet yang digunakan dapat berbeda
antara sampel dan tidak saling tertukar antara pipet ukur yang digunakan karena apabila
menggunakan pipet yang sama untuk 2 sampel akan menyebabkan hasil akhir kurang
maksimal karena sampel telah tercampur dengan sampel lainnya. Setelah itu, bunsen
dinyalakan menggunakan korek api. Sampel formaldehid dimasukkan terakhir dalam
tabung reaksi dan dipanaskan terlebih dahulu karena formaldehid mudah menguap dan
juga mudah teroksidasi. Lalu dipanaskan selama kurang lebih 2 menit diatas bunsen
menggunakan penjepit kayu pada masing-masing tabung reaksi. Cara memanaskannya
sambil menggoyang-goyangkan agar tabung reaksi tidak pecah selain itu agar tidak
cepat panas hingga menimbulkan percikan dan larutan tidak cepat menguap sebelum
terbentuk cermin perak. Dilakukan perlakuan yang sama pada setiap tabung reaksi.

Tujuan pemanasan ini untuk mempercepat laju reaksi. Terakhir ialah mencatat
perubahan yang terjadi pada data hasil pengamatan dan mendokumentasikannya dengan
cara memfoto hasil percobaan sebagai lampiran.
c. Analisa Hasil
Dari percobaan uji tollens yang telah kita lakukan menggunakan 5 sampel
untuk mengidentifikasi gugus aldehid dan keton didapatkan hasil yaitu reagen tollens
ditambahkan NH4OH semua tidak terbentuk endapan warnanya tetap tidak berwarna.
NH4OH berfungsi untuk menciptakan suasana basa dan mencegah timbulnya endapan
pada reagen. Kemudian setelah diberi sampel glukosa dan diamati hasilnya warnanya
berubah agak keruh. Lalu larutan dipanaskan selama kurang lebih 2 menit dan
didapatkan hasil dalam larutan terbentuk cermin perak. Hal itu menunjukan hasil uji
positif terhadap uji tollens karena mampu bereaksi dan menghasilkan cermin perak,
karena glukosa termasuk dalam golongan aldehid.
Pada larutan yang berisi reagen tollens (AgNO3) yang ditambahkan NH 4OH
lalu ditambahkan pula sampel fruktosa dan diamati hasilnya warnanya berubah hitam
keruh. Lalu larutan dipanaskan selama kurang lebih 2 menit dan didapatkan hasil dalam
larutan terbentuk cermin perak. Hal itu menunjukan hasil uji positif terhadap uji tollens
karena mampu bereaksi dan menghasilkan cermin perak. Fruktosa sebenarnya bukan
aldehid, namun fruktosa memiliki gugus pereduksi sehingga dapat berikatan dengan
reagen tollens sehingga menghasilkan cermin perak.
Pada larutan yang berisi reagen tollens (AgNO3) yang ditambahkan NH 4OH
lalu ditambahkan pula sampel sukrosa dan diamati hasilnya warnanya tetap tidak
berwarna. Lalu larutan dipanaskan selama kurang lebih 2 menit dan didapatkan hasil
dalam larutan berwarna hitam keruh. Hal itu menunjukan hasil uji negatif terhadap uji
tollens karena tidak bereaksi dan menghasilkan cermin perak, karena pada sukrosa
gugus C1 berikatan dengan C2 fruktosa sehingga tidak memiliki gugus pereduksi yang
dapat berikatan dengan reagen tollens.
Pada larutan yang berisi reagen tollens (AgNO3) yang ditambahkan NH 4OH
lalu ditambahkan pula sampel aseton dan diamati hasilnya warnanya tidak berwarna.
Lalu larutan dipanaskan selama kurang lebih 2 menit dan didapatkan hasil dalam larutan
tetap tidak berwarna. Hal itu menunjukan hasil uji negatif terhadap uji tollens karena
tidak bereaksi dan menghasilkan cermin perak, karena aseton termasuk dalam golongan
keton.
Pada larutan yang berisi reagen tollens (AgNO3) yang ditambahkan NH 4OH
lalu ditambahkan pula sampel formaldehid dan diamati hasilnya sudah mulai
membentuk cermin perak. Lalu larutan dipanaskan selama kurang lebih 2 menit dan
didapatkan hasil dalam larutan terbentuk cermin perak yang sangat jelas. Hal itu
menunjukan hasil uji positif terhadap uji tollens karena mampu bereaksi dan
menghasilkan cermin perak, karena formaldehid termasuk dalam golongan aldehid.
Berdasarkan literatur yang menyatakan bahwa formaldehid yang direaksikan
dengan reagen tollens akan membentuk endapan perak pada dinding tabung reaksi
karena formaldehid merupakan senyawa aldehid dengan adanya gugus karbonil yang
terikat pada alkil dan atom H. Kemampuan formaldehid dalam mereduksi AgNO3
sangatlah kuat (Brown, 2012). Larutan glukosa dan fruktosa pada uji tollens akan
menunjukan uji positif. Glukosa akan bereaksi dan berubah menjadi coklat keruh,
setelah dipanaskan akan mengalami perubahan menjadi abu-abu keruh dan terbentuk

endapat cermin perak. Sedangkan fruktosa memiliki gugus pereduksi yang dapat
berikatan AgNO3 sehingga membentuk endapan cermin perak. Sukrosa tidak memiliki
gula perduksi maka tidak dapat berikatan dengan AgNO3 dan akan menghasilkan uji
negatif pada uji tollens (Kurniawan, 2011). Aseton tergolong dalam keton sehingga
tidak akan bereaksi dengan reagen Tollens, menghasilkan warna abu-abu atau keruh
pada dinding tabung reaksi (Gandjar, 2007).
d. Reaksi setiap sampel
Aseton + Reagen Tollens

(Ani, 2008).

Glukosa + Reagen Tollens

(Emilda, 2010).

Fruktosa + Reagen Tollens

(Emilda, 2010).

Sukrosa + Reagen Tollens

(Emilda, 2010).

Formaldehid + Reagen Tollens

(Firmansyah, 2008).

2. Bahas dan bandingkan data-data uji fehling dari beberapa sampel dari percobaan
a. Prinsip uji fehling
Prinsip uji fehling adalah membedakan gugus aldehid dan keton dalam suatu
sampel dengan reagen fehling A dan fehling B, dimana fehling A merupakan CuSO4 da
fehling B campuran NaOH dan Kalium Natrium Tartrat. Aldehid dioksidasi membentuk
asam karboksilat sementara ion Cu2+ akan tereduksi menjadi ion Cu+ sehingga terbentuk
endapan merah bata. Uji positif ditandai dengan endapan erah bata pada dinding tabung.
O

H + 2CuO

+ Cu2O

b. Analisa Prosedur
Langkah awal memulai percobaan ialah menyiapkan alat dan bahan yang ingin
digunakan. Alat yang harus dipersiapkan adalah pipet tetes, pipet ukur, 5 tabung reaksi,
penjepit kayu, label dan bunsen. Sedangkan bahan yang dipersiapkan adalah larutan
Fehling A dan Fehling B, larutan NaOH, aseton, fruktosa, glukosa, sukrosa dan
formaldehid. Larutan Fehling A dan Fehling B berfungsi sebagai oksidator yang
bereaksi dengan sampel dan membentuk endapan merah bata. Fehling A terbuat dari
tembaga sulfat (CuSO4) sedangkan Fehling B terbuat dari campuran Kalium-Natrium
Tartrat dan NaOH. Larutan NaOH berfungsi sebagai Fehling B ketika dicampur kaliumnatrium tartrat. Sedangkan aseton, fruktosa, glukosa, sukrosa dan formaldehida
berfungsi sebagai sampel yaitu bahan yang ingin di uji.
Setelah menyiapkan alat dah bahan, memberi label pada masing-masing tabung
reaksi dengan nama masing-masing sampel dengan tujuan tidak saling tertukar antar
sampel. Masukkan 5 tetes Fehling A ke dalam masing-masing tabung reaksi
menggunakan pipet tetes. Lalu menambahkan 5 tetes NaOH ke dalam masing-masing
tabung reaksi menggunakan pipet tetes. Penambahan NaOH dengan tujuan menciptakan
suasan basa pada sampel agar aldehid mudah bereaksi. Kemudian tambahkan kembali
10 tetes Fehling B kedalam masing-masing tabung reaksi yang telah terisi Fehling A dan
NaOH menggunakan pipet tetes. Setelah itu menambahkan 1 ml tiap sampel ke dalam
masing-masing 1 tabung reaksi menggunakan pipet ukur yang sebelumnya telah diberi
label pula sesuai sampel. Tujuan pemberian label agar pipet yang digunakan dapat
berbeda antara sampel dan tidak saling tertukar antara pipet ukur yang digunakan karena
apabila menggunakan pipet yang sama untuk 2 sampel akan menyebabkan hasil akhir
kurang maksimal karena sampel telah tercampur dengan sampel lainnya. Setelah itu,
bunsen dinyalakan menggunakan korek api. Sampel formaldehid dimasukkan terakhir
dalam tabung reaksi dan dipanaskan terlebih dahulu karena formaldehid mudah
menguap dan juga mudah teroksidasi. Lalu dipanaskan selama kurang lebih 2 menit
diatas bunsen menggunakan penjepit kayu pada masing-masing tabung reaksi. Cara
memanaskannya sambil menggoyang-goyangkan agar tabung reaksi tidak pecah selain
itu agar tidak cepat panas hingga menimbulkan percikan dan larutan tidak cepat
menguap. Dilakukan perlakuan yang sama pada setiap tabung reaksi. Tujuan pemanasan
ini untuk mempercepat laju reaksi. Diamkan sebentar seluruh sampel untuk melihat
terbentuknya endapan merah bata. Terakhir ialah mencatat perubahan yang terjadi pada
data hasil pengamatan dan mendokumentasikannya dengan cara memfoto hasil
percobaan sebagai lampiran.
c. Analisa Hasil
Dalam percobaan ini bertujuan untuk mengidentifikasi adanya gugus aldehid
dengan menggunakan 5 sampel. Dari percobaan dapat dihasilkan pada sampel glukosa
yang direaksikan dengan uji fehling lalu ditambahkan dengan NaOH warnanya berubah
menjadi biru tua. Setelah ditambahkan sampel glukosa warnya menjadi biru tosca.
Setelah dilakukan pemanasan kurang lebih 2 menit menghasilkan uji positif dengan
adanya endapan merah bata, karena sebenarnya glukosa tergolong dalam gugus aldehid.
Pada sampel fruktosa yang direaksikan dengan uji fehling lalu ditambahkan dengan
NaOH warnanya berubah menjadi biru tua. Setelah ditambahkan sampel fruktosa
warnaya menjadi orange. Setelah dilakukan pemanasan kurang lebih 2 menit

menghasilkan uji positif dengan adanya endapan merah bata, karena sebenarnya
fruktosa memiliki gugus OH bebas yang dapat berikatan dengan reagen fehling.
Pada sampel sukrosa yang direaksikan dengan uji fehling lalu ditambahkan
dengan NaOH warnanya berubah menjadi biru tua. Setelah ditambahkan sampel sukrosa
warnanya menjadi biru bening. Setelah dilakukan pemanasan kurang lebih 2 menit
menghasilkan uji negatif dengan warnanya yang tetap biru bening, hal itu disebabkan
karena C1 pada glukosa berikatan dengan C2 pada fruktosa sehingga tidak memiliki
gugus pereduksi yanng dapat berikatan dengan reagen.Pada sampel aseton yang
direaksikan dengan uji fehling lalu ditambahkan dengan NaOH warnanya berubah
menjadi biru tua. Setelah ditambahkan sampel aseton warnanya membentuk dua lapisan
yang diatas bening dan bawahnya biru. Setelah dilakukan pemanasan kurang lebih 2
menit menghasilkan uji negatif dengan warnanya berubah menjadi biru. Hal itu
disebabkan karena aseton termasuk dalam gugus keton sehingga tidak dapat bereaksi
dengan reagen.Pada sampel formaldehid yang direaksikan dengan uji fehling lalu
ditambahkan dengan NaOH warnanya berubah menjadi biru tua. Setelah ditambahkan
sampel formaldehid warnanya menjadi biru bening. Setelah dilakukan pemanasan
kurang lebih 2 menit menghasilkan uji positif dengan adanya endapan merah bata,
karena sebenarnya formaldehid merupakan gugus aldehid sehingga dapat bereaksi
dengan reagen
Pereaksi fehling dapat direduksi oleh selain karbohidrat yang mempunyai sifat
mereduksi, juga dapat direduksi oleh senyawa lain (aldehid). Pereaksi fehling terdiri
dari dua yaitu fehling A dan fehling B dimana fehling A merupakan CuSO4 dan fehling
B adalah campuran kalium natrium tartrat dengan NaOH dalam air. Pereaksi akan
menghasilkan uji positif dengan timbulnya endapan merah bata (Poedjiaji, 2009).
Dari hasil pengamatan dapat diketahui bahwa semuanya telah sesuai dengan
literatur yang ada. Glukosa dan fruktosa yang direaksikan dengan fehling dapat
membentuk larutan merah bata karena keduanya memiliki gugus pereduksi yang dapat
beraksi dengan fehling sehingga menghasilkan larutan merah bata (Kurniawan, 2011).
Sukrosa akan menghasilkan uji negatif pada uji fehling dikarenakan sukrosa tidak
berada dalam kesetimbangan. Sukrosa tidak memiliki gugus pereduksi sehingga tidak
dapat berikatan dengan reagen fehling (Brown, 2012). Formaldehid atau formalin
tergolong senyawa aldehid. Endapan merah bata terbentuk karena adanya atom H pada
gugus karbonil formalin yang dapat mereduksi pereaksi fehling dan menghasilkan
endapat merah bata (McMurry, 2011). Aseton merupakan gugus keton sehingga apabila
direaksikan dengan fehling akan menunjukan uji negatif . aseton akan menghasilkan
warna dengan dua permukaan warna yaitu bening dan biru yang menandakan
kemampuan aseton memiliki daya pereduksi yang lemah dan tidak bereaksi dengan
fehling. (Gandjar, 2007).
d. Reaksi tiap sampel
Aseton

(Toni, 2008).

Fruktosa

(Emilda, 2010).
Glukosa

(Emilda, 2010).
Sukrosa

(Emilda, 2010).
Formaldehid

(Firmansyah,
2008).

PERTANYAAN
1. Apa fungsi penambahan larutan AgNO3 5% dalam percobaan uji Tollens?
Sebagai peraksi atau oksidator lemah yang digunakan untuk membedakan antara
aldehid dan keton. Pada uji Tollens menggunakan oksidator lemah karena gugus
aldehid merupakan gugus yang lebih mudah teroksidasi dibandingkan dengan gugus

keton dan karena gugus aldehid memiliki atom H yang terikat langsung pada gugus
karbonil (Abdurrahmat, 2010).
2. Apa fungsi penambahan larutan NH4OH 6M dalam percobaan uji Tollens?
Fungsi penambahan larutan NH4OH 6M adalah untuk menghilangkan endapan yang
terbentuk dari reagen tollens (AgNo3) dengan NaOH sehingga terbentuk endapan
selain itu untuk menciptakan suasana basa (Stroker, 2010).

KESIMPULAN

Tujuan praktikum ini adalah untuk membedakan senyawa aldehid dan keton dengan
menggunakan uji Tollens dan uji Fehling dan memahami reaksi yang terjadi selama uji
Tollens dan uji Fehling.
Prinsip uji tollens adalah mengidentifikasi adanya gugus aldehid dan keton dalam
suatu sampel dengan ditambahkan reagen tollens (AgNO3) dimana terjdi reaksi oksidasi
reduksi, gugus aldehid dioksidasi menjadi anion karboksilat. Reaksi dengan pereaksi tollens
mampu mengubah ikatan CHO pada senyawa aldehid menjadi ikatan COOH pada senyawa
asam karboksilat. Sementara ion Ag+ dalam reagen tollens (AgNO3) direduksi menjadi logam
Ag ditandai dengan adanya cermin perak pada dinding tabung reaksi. Sedangkan prinsip uji
fehling adalah membedakan gugus aldehid dan keton dalam suatu sampel dengan reagen
fehling A dan fehling B, dimana fehling A merupakan CuSO 4 da fehling B campuran NaOH
dan Kalium Natrium Tartrat. Aldehid dioksidasi membentuk asam karboksilat sementara ion
Cu2+ akan tereduksi menjadi ion Cu+ sehingga terbentuk endapan merah bata.
Dari data yang dihasilkan didapat bahwa glukosa, fruktosa dan formaldehid
mermberikan hasil uji positif pada reagen Tollens dan Fehling. Senyawa tersebut mengandung
gugus aldehid, kecuali fruktosa yang mengandung senyawa keton. Aseton dan sukrosa
memberikan hasil uji negatif. Hal ini disebabkan karena aseton terbentuk dari gugus keton
dan tidak memiliki gugus OH atau H bebas, sehingga tidak bereaksi dalam uji fehling maupun
tollens. Sedangkan pada sukrosa merupakan disakarida yang terdiri dari fruktuosa dan
glukosa. Selain itu sukrosa mempunyai atom H dari gugus aldehis pada glukosa dipecah dan
mengikat leton pada fruktosa.