Anda di halaman 1dari 4

Saat ini banyak sekali website yang menyajikan beragam informasi.

Namun demikian, banyak


pula di antara website tersebut yang tidak dapat memenuhi tujuan awal kenapa website tersebut dibuat
dan bahkan sangat banyak yang mengecewakan pengguna yang mengaksesnya. Menurut penelitian
yang dilakukan oleh User Interface Engineering, Inc (www.usability.gov:2004), diketahui bahwa 60%
waktu terbuang karena orang tidak bisa menemukan informasi yang ingin didapatnya pada suatu website
dan hal ini berdampak pada penurunan produktivitas, meningkatkan frustasi, dan bentuk kerugian
lainnya. Berdasarkan fakta tersebut, pengguna umumnya memberikan penilaian subjektif bahwa website
tersebut sudah tidak pantas untuk dikunjungi lagi. Jika hal ini terjadi kepada banyak pengguna, maka
sudah dapat dipastikan bahwa website tersebut akan ditinggalkan banyak orang sehingga akan berakibat
gagalnya pencapaian tujuan awal pembuatan website itu sendiri. Kerugian lain yang bisa terjadi adalah
kehilangan keuntungan yang mungkin dapat diperoleh, atau bahkan berakibat paling buruk berupa
ditutupnya website tersebut.
Berdasarkan hasil studi yang dilakukan Forrester Research(2002), dinyatakan bahwa sekitar 50%
dari potential sales hilang karena pengguna tidak bisa menemukan informasi dan 40% dari pengguna
tidak kembali lagi mengunjungi website karena pengalaman buruk ketika pertama kali mengunjungi
website tersebut. Oleh karena itu, sikap penerimaan terhadap aplikasi oleh pengguna patut menjadi
pertimbangan dalam mengimplementasikan aplikasi tersebut dikemudian hari. Walaupun hasil tersebut
tidak mempersentasikan semua website yang beredar, setidaknya terdapat dampak negative ketika
website tidak dikunjungi lagi. Untuk menjawab masalah tersebut, website yang dibangun harus mampu
memperoleh tingkat kepuasan yang tinggi tanpa meninggalkan tujuan khusus dari pembuatan website itu
sendiri.
Penilaian terhadap usability sangat berorientasi terhadap bagaimana pandangan pengguna saat
memanfaatkan suatu produk. Jika pengguna merasakan manfaat, kenyamanan, keefisiensian dalam
menggunakan waktu atau hal positif lainnya, kemungkinan besar pengguna akan terus memanfaatkan
produk tersebut dan secara otomatis tingkat usability produk tersebut berada pada level yang tinggi.
Usability menurut ISO 9241-11 didefinisikan sebagai tingkat dimana sebuah produk bisa digunakan
tertentu untuk mencapai tujuan tertentu dengan efektif, efisien dan memperoleh kepuasaan dalam
konteks penggunaannya. Sementara menurut Jacob Neilsen (2001) penyebab pentingnya tingkat
usability pada website adalah karena terdapat kebiasaaan dari pengguna, seperti tidak mau menerima
desain layout yang buruk dan sedikit pengguna yang mau mempelajari keadaan website. Dengan kata
lain pengguna hanya ingin langsung mengerti seketika saat berhadapan dengan sistem untuk pertama
kali.
Salah satu bentuk sukses proses pengembangan produk yang memiliki potensi kuat atau tinggi
untuk mendapatkan nilai usability yang tinggi adalah dengan menerapkan konsep User Centered Design
(UCD). Menurut Frank Spillers (2007) tentang Experience Dynamic, UCD mampu meningkatkan usability
dari suatu produk.

Perekonomian dan perdagangan saat ini telah berkembang pesat. Perkembangannya semakin
terasa membaik di segala bidang. Dengan perubahan ekonomi secara global ini, perusahaan perlu
melakukan pembenahan pada segala bidang termasuk meningkatkan kualitas informasi agar lebih efektif,
tepat, dan cepat. Informasi merupakan salah satu sumber daya yang penting bagi suatu perusahaan.
Informasi yang efektif dapat mempengaruhi daya saing perusahaan dengan didukung sistem penjualan
dan manajemen yang profesional, serta teknologi memadai.
Untuk menjadi perusahaan asuransi yang berdaya saing tinggi, maka setiap perusahaan
asuransi memerlukan sistem yang baik dalam mengolah data polis asuransi, dimana sistem yang dibuat
haruslah dapat menghasilkan informasi yang tepat dan akurat serta dapat memberikan kemudahan dan
kecepatan dalam pengolahan data. Informasi ini dalam bentuk dokumen-dokumen yang disusun secara
rapi.

Salah satu kasus adalah pengisian SPPA, SPPA adalah formulir isian yang harus di isi oleh

calon tertanggung dalam rangka penutupan asuransi yang akan digunakan oleh penanggung untuk
mengevaluasi tingkat resiko dari obyek pertanggungan tersebut. Adapun data yang diisi dalam SPPA
adalah seputar obyek pertanggungan, kondisi sekitar obyek pertanggungan, data tertanggung, perincian
obyek tertanggung, tingkat bahaya, dan lain-lain. Peranan pengisian SPPA sangatlah penting, karena
merupakan tahapan dalam proses akseptasi polis, apabila pengisian SPPA dapat dilakukan dengan
cepat, dan tepat maka akan mempercepat proses akseptasi polis.

Globalisasi adalah suatu proses di mana antar individu, antar kelompok, dan antar negara saling
berinteraksi, bergantung, terkait, dan memengaruhi satu sama lain yang melintasi batas negara
Globalisasi, menawarkan berbagai macam kemudahan bagi masyarakat di belahan dunia manapun,
sehingga setiap orang dalam arus bawah sadar termasuk negara - akan mengikuti ciptaan globalisasi
tersebut.
Era globalisasi ini sarat dengan berbagai persaingan yang begitu ketat dan tajam dari berbagai sektor
yaitu sektor riil dan keuangan. Persaingan itu tidak lepas dari semua unsur kebutuhan manusia yang
selalu berkembang setiap detiknya. Manusia terus berpikir dan melakukan suatu reka baru atau
innovation yaitu melakukan proses pengembangan pemanfaatan / mobilisasi pengetahuan, keterampilan
(termasuk teknologi) dan menciptakan atau memperbaiki produk (barang dan / atau jasa), proses,
sistem yang baru, yang memberikan nilai yang berarti atau signifikan (terutama ekonomi dan sosial).
Di dalam negeri, sektor riil berupa barang senantiasa mengalami dinamika. Produksi barang-barang
dalam negeri cenderung merosot seperti tekstil tak terkecuali batik karena masuknya produk-produk
pendatang dari China yang sejenis dengan kualitas lebih baik dan harga yang bersaing. Melihat
perkembangannya sektor riil di negeri ini, lebih sering dijadikan pasar produk-produk impor daripada
sebagai produsen. Hampir semua kebutuhan sektor riil disuplai oleh impor seperti beras, gula, kedelai,
bahkan garam. Selain itu juga terutama yng menyangkut kebutuhan barang-barang berkaitan dengan
teknologi (barang-barang elektronik) seperti televisi, handphome, mobil, sepeda motor, kereta api
semuanya adalah produk impor.
Selain sektor rill diatas, globalisasi juga merambah ke industri asuransi. Ketua Umum Asosiasi Asuransi
Jiwa Indonesia, Hendrisman Rahim mengungkapkan persaingan di industri asuransi jiwa akan cukup
ketat walaupun masih diaggap sehat. Hal ini terlihat dari lima besar perusahaan asuransi jiwa pada tahun
2011 ditempati oleh perusahaan-perusahaan joint venture.
Hari Asuransi Indonesia 2012 mengangkat tema Asuransi untuk Semua dengan harapan bahwa
asuransi akan dapat menjangkau dan bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat. Karena
peningkatan kesadaran masyarakat terhadap asuransi, tentu akan berdampak positif terhadap industri
perasuransian Indonesia secara keseluruhan.
Pada acara Indonesia Rendezvous ke 18 tanggal 3-6 Oktober 2012, yang dihadiri oleh 470 peserta dari
berbagai kalangan pelaku industri asuransi kerugian, asuransi jiwa, reasuransi dan usaha penunjang
usaha asuransi dari China, Hongkong, Thailand, Jepang, Malaysia, Singapura, Afika Selatan, Sudan,
Inggris dan Indonesia sebagai tuan rumah, disampaikan bahwa industri asuransi Indonesia mulai tahun
2012 akan fokus pada penerapan International Financial Reporting Standard (IFRS) yang merupakan
ketentuan dalam pembuatan laporan keuangan di Indonesia. Dimana tujuan dari IFRS adalah untuk
memfasilitasi pemahaman tentang laporan keuangan yang dikenal secara international.
Tahun 2012 juga merupakan tahun terbentuknya Financial Services Authority (FSA) atau lebih dikenal
dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). OJK adalah lembaga independen dan bebas dari campur

tangan pihak lain yang memiliki fungsi, tugas dan wewenang untuk mengatur, mengawasi dan menyelidiki
Sektor Jasa Keuangan di Indonesia.
Industri Asuransi di Indonesia terbagi menjadi Asuransi Konvensional dan Asuransi Syariah. Saat ini
terdapat 83 perusahaan asuransi kerugian, 44 perusahan asuransi jiwa, 4 perusahaan reasuransi dan
lebih dari 160 perusahaan penunjang asuransi.
Sementara pada kenyataannya industri asuransi di Indonesia masih terbilang kurang berkembang di
bandingkan perbankan. Menghadapi kondisi ini, para pelaku asuransi dituntut mampu berinovasi dan
membuat promosi yang lebih memikat. Salah satunya inovasi produk.
Sampai akhir tahun 2011, menurut Chief Business Officer MarkPlus, Taufik, terhitung ada 585 produk
asuransi baru yang tercatat di BAPEPAM-LK. Sayangnya, produk ini masih didominasi oleh produk
asuransi jiwa. Salah satu produk yang menjadi unggulan saat ini adalah asuransi mikro atau produkproduk asuransi berbiaya rendah yang ditujukan kepada kelompok yang belum tergarap selama ini.
Kemudian Produk hibrida atau produk campuran, misalnya produk perbankan (deposito) digabung
dengan produk asuransi jiwa, produk asuransi unit link dan lain-lain
Perusahaan asuransi kerugian / umum disarankan terlebih dahulu untuk membenahi sistem teknlogi dan
informasi (IT) nya agar lebih inovatif dalam menghasilkan produk. Karena perusahaan yang sudah
melakukan pembenahan IT umumnya memiliki basis data yang lebih baik sehingga dapat lebih produktif.
Agar dapat berkompetisi di bisnis pengelolaan risiko, pelaku asuransi khususnya kerugian harus siap
berinvestasi tidak saja IT tetapi juga sumber daya manusia.
Guna memenangkan persaingan yang semakin ketat, penggunaan teknologi informsi (IT) tidak dapat
ditawar-tawar lagi. Karena IT berperan lebih dari sekedar meningkatkan efisiensi dalam menjalankan
roda usaha perusahaan, tetapi juga sebagai strategi jangka panjang untuk menarik klien dengan
menawarkan berbagai kemudahan dalam bertransaksi.