Anda di halaman 1dari 11

PENDAHULUAN

Tuba kattarh merupakan salah satu penyakit telinga bagian tengah yang sering
dijumpai. Penyakit ini paling banyak dijumpai pada anak-anak dan dewasa, dimana
dijumpai adanya gangguan fungsi tuba eustachius. Gangguan fungsi tuba eustachius
merupakan tanda yang paling penting pada penyakit infeksi telinga bagian tengah,
karena dapat menimbulkan ketulian mulai dari yang ringan sampai yang berat,
tergantung pada proses yang timbul pada tuba eustachius dan dipengaruhi oleh
lamanya penyakit yang diderita sehingga penanggulangannya memerlukan tindakan
mulai dari yang sederhana sampai tindakan operasi. Beberapa usaha yang terus
dikembangkan adalah bagaimana mengurangi atau menghilangkan sumbatan tuba
tersebut. 1
Pada tahun 1704, Valsava menemukan otot yang berfungsi untuk membuka tuba
Eustachius dan menyangka bahwa otot ini aktif sebagai bagian dari proses
pendengaran. Maneuver Valsava dinamakan atas namanya setelah ia menemukan cara
untuk mengeluarkan pus dari telinga tengah ke telinga luar dengan cara ditiup oleh
penderita itu sendiri. Pada tahun 1724, Guyot adalah orang pertama yang mencoba
untuk melakukan kateterisasi lewat hidung, dan Wathen pada tahun 1756, telah
melanjutkan studinya dan menggambarkan secara detail bagaimana prosedurnya. 1
Pada tahun 1853, Toynbee menemukan bahawa, saat beristirahat tuba
Eustachius tertutup dan terjadi suatu penyerapan udara yang konstan pada ruang
telinga tengah. Tuba tersebut hanya dapat terbuka pada waktu menelan, dan udara
diperbolehkan masuk pada waktu itu. Ia percaya dengan melakukan maneuver ini,
akan membuat tekanan positif pada ruang telinga tengah. 1
Banyak

usaha

telah

dikembangkan

untuk

mengurangi

atau

bahkan

menghilangkan gejala ini. Tetapi pada referat ini akan dibahas apa penyebab
terjadinya tuba katar sehingga cara penatalaksanaannya.1

TINJAUAN KEPUSTAKAAN
1

DEFINISI
Kata Catarrh berasal dari bahasa yunani katarrhein. Katar yang berarti turun
dan rhein yang bererti mengalir. Jika diartikan dapat berarti lapisan eksudat yang
tebal yang terdiri dari mukus dan sel darah putih yang disebabkan oleh
pembengkakan dari membran mukosa dikepala yang merupakan respon dari suatu
infeksi. Ini merupakan gejala peradangan yang biasa ditemukan pada flu dan batuk,
tetapi dapat pula ditemukan pada pasien dengan infeksi dari adenoid, infeksi telinga
tengah, sinusitis atau tonsilitis. Keluhan yang sering tampak pada tuba katar adalah
tersumbatnya hidung dan tuba yang menyebabkan penderita dapat mendengar suara
sendiri.1

ANATOMI
Tuba Eustachius, yaitu sebuah bangunan yang berbentuk tabung yang berjalan
dari telinga tengah ke nasofaring. Tuba Eustachius telah dikenal sejak zaman yunani
kuno oleh Aristoteles, tetapi kemudian dinamapakai oleh Bartolomeus Eustachius
(1520-1574) sebagai ketua ahli ekonomi di Roma dan orang yang pertama kali
mendeskripsikan anatomi tuba Eustachius. Hal ini tidak dipublikasi sehingga 200
tahun kemudian setelah kematiannya, didapatkan satu buku yang berjudul Epistola
de Audius Organis 1,2,3
Fungsi tuba Eustachius adalah untuk proteksi, aerasi dan drainase telinga tengah.
Bila terjadi oklusi dapat menyebabkan peradangan pada telinga tengah (otitis media).
Tuba Eustachius juga disebut tuba otofaringeal kerana menghubungkan telinga ke
faring. 1,2,3

Tuba Eustachi

Gambar 1 : Struktur tuba Eustachius

Tuba Eustachius terdiri dari tulang rawan pada dua pertiga kearah nasofaring
dan sepertiganya terdiri atas tulang. Tuba biasanya dalam keadaan tertutup dan baru
terbuka apabila oksigen diperlukan masuk ke dalam telinga tengah atau pada saat
mengunyah, menelan dan menguap. Otot-otot dari system tuba Eustachius membantu
membuka dan menutup tuba agar berfungsi sebagaimana mestinya
Gambar 2 : Tuba Eustachius pada anak dan dewasa

Panjang tuba pada orang dewasa sekitar 36mm dan terbentang pada bagian
depan, bawah dan medial dari dinding anterior kavum timpani terhadap nasofaring.
Aksis tuba membentuk sudut 30o terhadap bidang horizontal dan 45o terhadap bidang
sagital median. Daerah tuba dibahagi menjadi dua, yaitu bagian tulang dan kartilago.

Bagian tulang merupakan bagian posterior sepertiga tuba, dilapisi oleh mukosa,
panjangnya sekitar 12mm, berhubungan langsung dengan timpani anterior dan
hampir selalu dalam keadaan terbuka, kemudian kebawah dan menyempit disebut
istmus. Bagian tulang hanya mempunyai peran sedikit atau bahkan tidak ada dalam
mekanisme pembukaan tuba. Fungsi istmus adalah membantu melindungi telinga
tengah dari sekret nasofaring. Schwartzbart (1994) mengatakan bahawa bagian tulang
dari tuba disebut sebagai protimpanum. 1,2,3

Fungsi fisiologi dari Tuba Eustachius


Fungsi fisiologi dari Tuba Eustachius adalah : 1,2,3

Ventilasi atau pengaturan tekanan dari telinga tengah


Perlindungan telinga tengah dari sekresi nasofaring dan tekanan suara
Pembersihan dan penyaluran sekresi telinga tengah ke nasofaring

Gangguan fungsi tuba dapat terjadi oleh beberapa hal:4


1.Tuba Terbuka Abnormal
Adalah tuba terus menerus terbuka, sehingga udara masuk ke telinga tengah
waktu respirasi. Dapat disebabkan oleh hilangnya jaringan lemak di sekitar mulut
tuba sebagai akibat turunnya berat badan yang hebat, penyakit kronis(rhinitis atrofi
dan faryngitis), gangguan fungsi otot seperti Myastenia Gravis, penggunaan obat antihamil pada wanita dan penggunaan esterogen pada laki-laki.
Keluhan pasien biasanya berupa rasa penuh dalam telinga tengah atau autofoni
(gema suara sendiri terdengar lebih keras). Keluhan ini sangat mengganggu sehingga
pasien mengalami stress berat. Pada pemeriksaan klinis dapat dilihat membran
timpani yang atrofi, tipis,dan bergerak pada respirasi( a telltale diagnostic sign)
Pengobatan

cukup

dengan

obat

penenang,

dan

bila

tidak

berhasil

digunakan pemasangan pipa ventilasi ( Grommet)


2. Myoklonus palatal

Ialah kontraksi ritmik dari otot-otot palatum yang terjadi secara periodic.Hal ini
menimbulkan bunyi klik dalam telinga pasien dan kadang-kadang dapat didengar oleh
pemeriksa. Keadaan ini jarang terjadi dan penyebab yang pasti belum diketahui.
3. Palatoskisis
Terjadi gangguan otot tensor veli palatine dalam membuka tuba. Hal

ini

menyebabkan terjadinya kelainan telinga tengah pada anak dengan palatoskisis lebih
besar dibandingkan dengan anak normal. Dianjurkan untuk melakukan koreksi
palatoskisis sedini mungkin.
4. Obstruksi tuba
Dapat

terjadi

oleh

beberapa

kondis,

nasofaring, peradangan adenoid atau tumor nasofaring.

seperti
Gejala

peradangan

di

klinik awal adalah

terbentuknya cairan pada telinga tengah (otitis media serosa). Oleh karena itu, setiap
pasien dewasa dengan otitis media kronik unilateral harus dipikirkan adanya ca
nasofaring. Sumbatan mulut tuba di nasofaring juga bisa disebabkan oleh tampon
posterior hidung (Bellocq tempon) atau oleh sikatriks akibat trauma operasi
(adenoidektomi).

PATOFISIOLOGI
Tuba eustachius berfungsi mengatur tekanan kavum timpani ( ventilasi ) agar
tekanan udara dalam telinga tengah sama dengan tekanan udara luar, mengalirkan
keluar sekret dari telinga tengah dan menghalangi masuknya secret dari nasofaring ke
telinga tengah.1,3
Obstruksi eustachius bisa partial maupun komplit, fungsional penyakit ini bisa
cepat atau lambat. Akibat obstruksi ini akan menyebabkan terhalangnya udara masuk
ke telinga tengah. Sehingga udara yang ada di dalam kavum timpani tidak
berhubungan lagi dengan udara yang di dalam faring, udara yang ada dalam kavum
timpani direabsorbsi hingga menyebabkan retraksi membran timpani.1,2,3

Apabila penyakit ini tidak segera diobati, dapat berlanjut menjadi bentuk kronis
dari tuba kattarh, dimana akibat adanya vakum dalam kavum timpani akan
menyebabkan efusi dan transudasi dari mukosa dan ini biasanya terjadi pada chronic
total obstruction.1,2,3
Tuba kattarh terbagi atas 2, yaitu :
1. Tuba kattarh akut.
Disebabkan oleh edema dari mukosa tuba eustachius, hingga lumen tertutup.
Akibat udara dalam kavum timpani tidak berhubungan lagi dengan udara yang ada
dalam faring, sehingga udara direabsorbsi dan terjadi vakum dalam kavum timpani,
akibat terjadi retraksi membrane timpani.1
2. Tuba kattarh kronis.
Dapat terjadi bila penyembuhan tuba kattarh akut tidak sempurna dan adanya
kelainan-kelainan dalam hidung, sinus, pallatum mole dan nasofaring.1

ETIOLOGI
1. Tuba kattarh akut. 1,3

Penyakit hidung ( pilek ), dalam sinus dan nasofaring.


Deviasi dari septum.
Poliposis nasi.
Hipertropi khonka nasalis.
Tamponade Bellocq.
Tumor pada nasofaring.
Palatoschisis.

2. Tuba kattarh kronik.1,3


Faktor-faktor yang dapat menyebabkan, yaitu :

Adenoiditis kronis dengan hyperplasia.


Adenoiditis kronis.
Sinusitis kronis.

Rhinitis alergi atau kronis


Hypertropi konkha nasi.
Poliposis nasi.
Sikatrik atau perlengketan nasofaring terutama pada fossa Rosen-Muller.
Kerusakan torus tularis sebagai komplikasi adenoidektomi.
Deviasi septum nasi posterior.
Stenosis atau malformasi langit-langit.
Paralysis atot-otot palatum.
Tumor nasofaring.

TANDA-TANDA DAN GEJALA


1. Tuba kattarh akut
Gejala :

Telinga terasa tertekan, rasa penuh,


Telinga berdengung.
Bila menelan mengeluarkan ingus, atau menguap merasa sedikit sakit dan
sekonyong-konyong pendengaran jelas kembali, tetapi akhirnya tertutup lagi.
Pendengaran berkurang.
Autofonie (mendengar suara sendiri pada telinga yang sakit karena
bertambahnya resonansi dari suara sendiri ).1,3

Otoskopi :
Membrana timpani sedikit hiperemis, reflek cahaya berubah, jika sudah lama dapat
terjadi retraksi.1,3

2. Tuba kattarh kronis


Gejala :

Telinga rasa penuh, rasa tertekan.


Tinnitus, autofonie
Telinga berbunyi, ingusan, rasa pening.

Pendengaran berkurang.
Bila ada tersendat terasa ada air didalam telinga.1,3

Otoskopi :
Membrana timpani tertarik ke dalam ( retraksi ), reflek cahaya mengecil, tempatnya
berubah atau hilang sama sekali.1,3
Tuba kattarh kronik terbagi atas 3 stadium :
1. Tuba kattarh kronika simpleks (penyempitan eustachius yang menahun)

Tejadi karena oedem dari mukosa dan timbulnya jaringan submukus.1


2. Bentuk eksudatif
Tejadi pemyempitan tuba eustachius akan tetapi didalam kavum timpani
terdapat cairan, ini disebabkan adanya pembendungan uraturat darah sehingga cairan
masuk ke kavum timpani.1
Otoskopi :

Membrana timpani kelihatan agak membiru atau lebih mengkilat dan agak
kekuning-kuningan.
Dijumpai meniscus seperti garis hitam bila cairan tidak penuh atau garis putih
oleh karena cahaya.
Permukaan cairan tetap horizontal, walaupun posisi kepala kita ubah.1

3. Bentuk hipertropi
Terjadi pembentukan jaringan didalam kavum timpani dan tuba eustachius
sehingga mengakibatkan perlengketan, pendengaran berkurang dan sukar untuk
sembuh kembali.1
Perlengketan dapat timbul antara gendang telinga dengan promontorium antara
tulang-tulang pendengaran dengan sekitarnya, hingga pergerakkan tulang-tulang
terganggu.1
Otoskopi :

Membrana timpani tipis (atropi), melekat pada promontorium, terdapat penebalan


timpani hingga warnanya kabur.1

PENATALAKSANAAN
Terdapat beberapa manuver yang dapat dilakukan untuk memperbaiki fungsi
tuba Eustachius. Hal yang sederhana dapat dengan menelan, sehingga mengaktifkan
otot-otot dibelakang tenggorokan yang membantu membukanya tuba Eustachius.
Mengunyah permen karet, minum atau makan membantu penelanan. Menguap lebih
baik karena mengaktifkan otot lebih kuat.1
Jika telinga terasa penuh, kita dapat memaksa untuk membuka tuba Eustachius
dengan cara mengambil nafas dalam, dan menghembuskan sembari menutup hidung
dan mulut. Jika terasa berbunyi pada telinga berarti tuba Eustachius terbuka dengan
baik. Tetapi jika permasalahan masih ada walaupun sudah melakukan manuver harus
segera diperiksa dokter.1
Jika fungsi tuba sedang terganggu seperti sedang flu, sinusitis, infeksi telinga
atau serangan alergi, disarankan untuk menunda perjalanan penggunakan pesawat
atau menyelam, karena dapat menyebabkan keadaan yang membahayakan, terutama
organ pendengaran. Pada bayi dan balita, mereka tidak dapat menyamakan tekanan
sendiri secara aktif sehingga harus diberikan minuman atau permen. Karena dengan
menelan tuba Eustachius terbuka dan fungsi menyamakan tekanan dapat terjadi.1
Pada seorang pasien yang sedang dengan sumbatan pada hidung upaya yang pertama
adalah menegakkan diagnosis yang benar. Karena pengobatan tidak selalu diperlukan
dan apabila diberikan pengobatan haruslah seimbang dengan resiko terapinya. Jika
pasien memiliki masalah yang akut seperti pilek dan sinusitis. Sebuah dekongestan
topikal mungkin merupakan pengobatan yang paling efektif, tetapi ini tidak boleh
berlangsung lebih dari beberapa hari dan pasien harus diperingatkan agar tidak
membeli obat serupa untuk dipergunakan lebih lama.1

Dalam kasus yang lebih kronis,seperti alergi atau rhinitis vasomotor, pengobatan
oral adalah yang terbaik. Simpatomimetik secara oral (pseudoefedrin atau
phenylephrine) mungkin sudah cukup, atau antihistamin saja sudah dapat membantu
dalam rhinitis alergi. Kombinasi produk sering efektif tetapi haruslah diingat tentang
kontraindikasi dan pencegahan untuk masing-masing bahan.1
PENANGANAN
1. Tuba kattarh akut
Ditujukan pada faktor penyebabnya :
o Bila disebabkan oleh rhinitis akut diberi obat tetes hidung,
misalnya :

Sol HCl ephedrine 2%


Sol protagol 2%
S3 dd gtt IV

Atau diberi obat spesial lainnya misalnya iliadin nose drop, pritin nose drops dan
lain-lain, dapat juga diberi obat perusahaan os misalnya decolgen, neozep dan lainlain.
o Rhinitis alergika diberikan antihistamin
o Adenoiditis, nasofaringitis, sinusitis diberikan antibiotika.1

2. Tuba kattarh kronik


o Dengan cara menghilangkan penyebab, misalnya :
1. Adenoid atau fibroma nasofaring di operasi
2. Polip diekstrasi
3. Septum deviasi dikoreksi
4. Rhinitis dan sinusitis diobati
o Memasukkan udara melalui tuba, dengan cara :

10

1. Valsava manover
2. Pollitzer
3. Kateterisasi
o Aspirasi gendang telinga
o Parasentase
o Ventilasi tuba
Komplikasi yang ditimbulkan jarang terjadi bila penyakit cepat diketahui dan di
terapi dengan tepat dan dapat sembuh dengan sempurna. Akan tetapi bila berlanjut
maka komplikasi yang terjadi dapat menyebabkan gangguan pendengaran berkurang
atau total.1

DAFTAR PUSTAKA
1. http://www.scribd.com/doc/126674582/Tuba-Katar
2. http://www.e-jurnal.com/ilmu-penyakit-anatomi-fisiologi-tht-telinga-hidung-

tenggorokan/
3. John Jacob Ballenger. Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala, dan Leher
(Jilid 2). Penerbit Binarupa Aksara, Jakarta, 2010.
4. http://www.scribd.com/doc/76935876/14/GANGGUAN-FUNGSI-TUBAEUSTACHIUS
11