Anda di halaman 1dari 76

1

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Parasitologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari parasit dan
hubungannya dengan inang. Parasit adalah organisme yang hidupnya bergantung
pada organisme lain (beda jenis) sebagai inang tumpangnya, menggunakan inang
tersebut sebagai sumber makanan dan di tempat bergantung tersebut ia bisa berada
selamanya atau hanya sementara (Hadi & Soviana 2010). Hubungan antar
organisme tersebut disebut sebagai parasitisme.
Berdasarkan

tempatnya

menumpang,

parasit

dibedakan

menjadi

endoparasit dan ektoparasit. Endoparasit adalah parasit yang hidup di dalam tubuh
inangnya, seperti cacing dan protozoa. Sedangkan ektoparasit adalah parasit yang
hidup di bagian luar dari tempatnya bergantung atau pada permukaan tubuh
inangnya.Sebagian besar dari kelompok ektoparasit merupakan kelompok
Arthropoda yaitu golongan serangga (kelas Insecta) dan kelas Arachnida (Hadi &
Soviana 2010).
Menurut Hadi (2011) peternakan merupakan salah satu habitat Arthropoda
(hama pengganggu) berkembangbiak, mencari makan dan tempat istirahat.
Arthropoda ini menyerang manusia dan hewan bisa secara langsung maupun tidak
langsung.Secara langsung dengan menghisap darahnya dan tidak langsung sebagai
penular berbagai jenis penyakit atau sebagai pengganggu dengan caranya hidup di
tempat manusia atau hewan tinggal sehingga menimbulkan gangguan fisik
maupun psikis pada ternak dan orang disekitarnya.Ektoparasit ini ada

yang

bersifat obligat dan fakultatif.


Parasit obligat adalahorganisme yang seluruh stadiumnya, mulai dari
pradewasa sampai dewasa, hidup bergantung kepada inangnya.Parasit obligatakan
mati apabila meninggalkaninangnya.Parasit fakultatif adalah organisme yang
hidupnya tidak mutlak tergantung pada inang, bisa hidup bebas maupun sebagai
parasit.Parasit fakultatif mendatangi inang pada saat-saat tertentu, misalnya waktu
makan saja seperti lalat penghisap darah.Parasit dalam arti luas meliputi bakteri,
virus, kapang, protozoa, helminth (cacing) dan arthropoda serta semua organisme
yang merugikan inang (Kusumamihardja 1992).

Peranan ektoparasit dalam kehidupan hewan dan manusia disekitarnya


sangat merugikan dengan adanya kegelisahan sehingga membuat lupa makan dan
berdampak pada menurunnya status gizi dan produksi daging secara drastis.Selain
itu, ektoparasit dapat menimbulkan iritasi, kegatalan, peradangan, kudisan, miasis,
reaksi alergi bagi ektoparasit yang tinggal di kulit.Ektoparasit juga menimbulkan
orang merasa ketakutan, jijik, dan benci terhadap serangga (entomofobia) (Hadi &
Soviana 2010).Oleh karena itu diperlukan pengetahuan mengenai morfologi, daur
hidup dan perilaku, serta peranan dari ektoparasit sehingga dapat menurunkan
populasinya hingga tidak berdampak pada kehidupan manusia dan hewan.
Tujuan
Tujuan praktikum ini adalah agar mahasiswa PPDH dapat melakukan
identifikasi ektoparasit dan endoparasit pada hewan yang terdapat di lingkungan
sekitar sehingga dapat mengetahui bioekologi dan cara pengendalian yang tepat.

MATERI DAN METODE


I.

Endoparasit
A. Pemeriksaan Cacing Parasitik
Bahan dan Alat
Bahan yang diperlukan antara lain tinja, air, methylen blue, dan larutan
pengapung (larutan gula garam). Alat yang diperlukan antara lain gelas plastik,
sendok plastik, saringan teh dengan ukuran lubang 750-900 x 600-675 m, gelas
ukur,kamar hitung McMaster, alat penghitung, tabung reaksi, gelas Baermann,
gelas objek, gelas penutup, cawan petri bergaris, kain kassa, gelas koleksi,
mikroskop cahaya, mikrometer okuler, lemari es, timbangan, pipet gelas,
videomikrometer, dan kamera digital.
Pengambilan Sampel Tinja
Sampel diperoleh dengan mengambil langsung tinja segar atau yang
berumur tidak lebih dari tiga jam dari tempat hewan defekasi. Sampel
tinjadimasukkan ke dalam kantung plastik transparan.Setiap sampel diberi
identitas berupa jenis hewan, nama atau kode hewan, kondisi tinja, tempat dan
tanggal pengambilan. Sampel-sampel tersebut disimpan pada suhu 40C. Sampel
diperiksa dengan pendekatan kualitatif yaitu metode natif, pengapungan,
sedimentasi dan pendekatan kuantitatif yaitu metode McMaster.
Pemeriksaan Kualitatif
Telur cacing parasitik dapat ditemukan dengan tiga metode pemeriksaan
kualitatif yaitu metode natif, metode pengapungan, dan metode sedimentasi.Telur
cacing yang ditemukan dapat diidentifikasi menggunakan videomikrometer.Jenis
cacing parasitik dapat diketahui setelah dilakukan pengamatan morfologi serta
pengukuran telur cacing parasitik yang ditemukan pada tinja.
Metode Natif
Tujuan metode ini untuk menentukan ada tidaknya telur cacing parasitik
dengan cepat.Langkah-langkah pengerjaan metode ini yaitu: Tinja diambil sedikit
menggunakan tusuk gigi atau lidi. Setelah itu dioleskan di atas gelas objek.
Beberapa tetes air diteteskan dan diratakan. Kemudian gelas objek ditutup dengan
gelas penutup. Ulasan diperiksa di bawah mikroskop dengan perbesaran 10

kali (Kusumamihardja 1995). Pemeriksaan natif dilakukan 3 kali terhadap satu


sampel tinja pada bagian-bagian yang berbeda (Soulsby 1982).
Metode Pengapungan
Metode ini bertujuan menentukan keberadaan telur cacing parasitik
nematoda dan cestoda.Tinja ditimbang 2 gram kemudian dimasukkan ke dalam
gelas.Setelah itu ditambahkan 58 mllarutan pengapung kemudian diaduk dan
disaring.Campuran tinja yang telah homogen dimasukkan ke dalam tabung reaksi
sampai terbentuk meniskus di atas permukaan tabung lalu ditutup dengan gelas
penutup tepat di atas meniskus dan dibiarkan 10-15 menit.Larutan pengapung
memiliki berat jenis lebih dari 1,20. Telur cacing parasitik nematoda dan cestoda
yang lebih ringan berat jenisnya akan mengapung di permukaan dan menempel di
gelas penutup. Gelas penutup diangkat kemudian diletakkan di atas gelas
objek.Pemeriksaan dilakukan di bawah mikroskop dengan pembesaran objektif 10
kali (Kusumamihardja 1995).
MetodeSedimentasi
Metode ini bertujuan untuk pemeriksaan telur cacing parasitik trematoda.
Berat jenis telur cacing parasitik trematoda lebih berat dibandingkan dengan berat
jenis air sehingga akan tenggelam. Langkah-langkah pengerjaan metode ini
yaitu.Tinja ditimbang 2 gram kemudian dimasukkan ke dalam gelas
danditambahkan

air

hingga

setengah

gelas.

Setelah

itudiaduk

dan

disaring.Campuran tinja yang telah homogen dimasukkan ke dalam gelas


Baermann dan ditambahkan air sampai penuh, biarkan 10-15 menit.Supernatan
dibuang dengan hati-hati supaya endapan tidak ikut terbawa.Air ditambahkan lagi
ke dalam gelas Baermann sampai penuh, dibiarkan 10-15 menit dan dibuang
kembali supernatannya.Hal tersebut diulangi hingga air supernatan menjadi
bening.Sedimen yang tersisa dituang ke dalam cawan petri bergaris lalu
ditambahkan bahan kontras methylen blue dan di periksa di bawah mikroskop
dengan pembesaran lensa obyektif 10 kali dan 40 kali(Kusumamihardja 1995).
Penghitungan

telur

cacing

trematoda

dari

menggunakan FEC (Faecal Egg Count).


Penghitungan : FEC = jumlah telur/massa tinja
Pemeriksaan Kuantitatif

hasil

metode

sedimentasi

Telur cacing parasitik dapat

dihitung jumlahnya

dengan

metode

McMaster. Jumlah telur cacing parasitik dapat digunakan untuk mengetahui


derajat infeksi pada hewan yang disebabkan oleh cacing parasitik.
Metode McMaster digunakan untuk menghitung jumlah telur cacing
parasitik nematoda dan cestoda.Tinja ditimbang 2 gram dan dimasukkan ke
dalam mortar untuk dihaluskan. Larutan pengapung ditambahkan hingga
volumenya mencapai 60 ml, selanjutnya dicampurkan dan disaring.Campuran
tinja dengan larutan pengapung yang telah homogen diambil dengan pipetlalu
diisikanke dalam kamar hitung McMaster hingga penuh.Setelah didiamkan 2-3
menit lalu dihitung jumlah telur per tipe telur di bawah mikroskop dengan
pembesaran 10 kali (Soulsby 1982).

Gambar 1.McMaster counting chamber (Ministry of Agriculture, Fisheries, and Food


London 1986).

Penghitungan jumlah telur dalam tiap gram tinja (TTGT) :


TTGT = n/bt x Vtotal/Vhitung
Keterangan :
n
: jumlah telur yang ditemukan dalam kamar hitung
bt
: berat tinja (gram)
Vtotal : volume larutan pengapung + tinja (ml)
Vhitung : volume campuran yang dimasukkan dalam kamar hitung (ml)
B. Pemeriksaan Protozoa
Pemeriksaan Protozoa Saluran Pencernaan
Sampel diperoleh dengan mengambil langsung tinja segar atau yang
berumur tidak lebih dari tiga jam dari tempat hewan defekasi. Setiap sampel
diberi identitas berupa jenis hewan, nama atau kode hewan, kondisi tinja, tempat

dan tanggal pengambilan. Sampel-sampel tersebut disimpan pada suhu 40C.


Sampel diperiksa dengan pendekatan kualitatif yaitu metode natif, pengapungan,
dan pendekatan kuantitatif yaitu metode McMaster.Pemeriksaan protozoa
dilakukan bersama dengan pemeriksaan helminth.
Pemeriksaan Protozoa Darah
Spesimen darah diambil dari hewan sapi, domba, ayam, dan kucing.
Selanjutnya dibuat preparat ulas pada gelas objek yang bersih. Preparat difiksasi
dalam metanol selama 3 menit, lalu dibilas dengan aquades. Preparat kemudian
direndam dalam larutan giemsa selama 30-60 menit. Pengamatan dilakukan pada
perbesaran 100x10.
II. Ektoparasit
Koleksi Spesimen
Pengambilan spesimen berupa insekta dari berbagai ordo yang mempunyai
peranan dalam dunia kedokteran hewan.Pengambilan insekta dapat menggunakan
sweeping net, aspirator, light trap, kerokan kulit,corong Barlesser ataupun secara
manual.Sweeping net digunakan untuk menangkap lalat dan serangga terbang
lainnya.Aspirator digunakan untuk menangkap serangga kecil, terutama bila ingin
menangkapnya dalam keadaan hidup.Light trap digunakan untuk menangkap
serangga yang aktif di malam hari seperti agas dan nyamuk, Kerokan kulit
diambil untuk mendapatkan tungau yang hidup di lapisan epidermis dan dermis
kulit. Corong Barlesser digunakan untuk mengumpulkan serangga renik tanah
atau tungau yang terdapat pada tanah dan alas/litter kandang.
Pembuatan Preparat Basah
Spesimen insekta yang dikoleksi diletakkan di dalam botol yang telah
berisi alkohol 70%.
Pembuatan Preparat Kering
Spesimen insekta yang telah dimatikan, kemudian dipinning menggunakan
jarum halus.Setelah itu, diatur ketinggian pinningnya dengan pin block.Untuk
insekta yang kecil, jarum pinning diberikan kertas yang kemudian dibalurkan

kutek.Kemudian insekta tersebut diletakkan pada kertas dengan posisi


menyamping.Setelah dipinning, spesimen insekta kemudian diinkubasi selama 1
hari pada suhu 45oC.
Pembuatan Slide Preparat Kutu dan Pinjal
Adapun cara pembuatan slide preparat adalah sebagai berikut:
1. Spesimen insekta dimatikan dengan klorofom atau alkohol 70%. Jika
dimatikan dengan klorofom maka perlu ditunggu sebentar agar organ-organ
lainnya lemas dan tidak kaku.
2. Setelah itu, spesimen dibilas dengan air biasa, kemudian dimasukkan ke
dalam tabung yang telah berisi KOH 10%.
a. Spesimen didiamkan selama 2-3 hari pada suhu kamar tergantung tebal
atau tipisnya lapisan kitin dari spesimen. Namun sekurang-kurangnya
direndam selama 12 jam.
b. Untuk mempercepat dapat dipanaskan api bunsen, akan tetapi tidak
sampai mendidih.
3. Kemudian dicuci dengan air/dibilas sampai bersih 2-3 kali. Jika ada bagian
insekta atau spesimen tersebut mengembung dapat ditusuk dengan
menggunakan jarum halus supaya isi dari abdomen tersebut keluar. Kemudian
ditekan perlahan menggunakan kuas sampai isi abdomen tersebut bersih.
4. Dehidratasi dengan alkohol 70%, 80%, 90%, dan terakhir alkohol absolut.
Masing-masing fase selama 10 menit.
5. Clearing dapat dilakukan dengan merendam insekta selama 15-30 menit
didalam minyak cengkeh atau asam laktat 60% ataupun asam asetat pekat.
Biasanya yang umum dipakai adalah minyak cengkeh atau asam laktat 60%.
Asam laktat digunakan apabila lapisan kitinnya masih tebal.
6. Insekta kemudian dicuci dengan larutan xylol. Pencucian pertama kali akan
berkabut maka insekta dicuci kembali dengan larutan xylol sampai kelihatan
bersih.
7. Slide preparat dibuat dengan menggunakan media canada balsam. Adapun 2
cara yang dapat digunakan adalah

a. Canada balsam diteteskan sebanyak 1-3 tetes pada objek glass.


Gelembung udaranya kemudian dihilangkan dan spesimen insekta
dimasukkan kedalamnya. Kemudian spesimen insekta diatur posisinya
dan sesudah rapi ditutup dengan cover glass.
b. Objek glass disiapkan, kemudian spesimen insekta yang sudah bersih
diletakkan di tengah-tengah objek glass. Kemudian diatur posisinya, dan
bila sudah rapi, sebanyak 2-3 tetes canada balsam diteteskan dan
kemudian ditutup dengan cover glass.
8. Slide preparat kemudian dimasukkan ke dalam slide warmer/inkubator
selama 1-2 hari. Setelah diidentifikasi kemudian diberi label sesuai dengan
jenisnya.
Pembuatan Slide Preparat Tungau
Adapun cara pembuatan slide preparat untuk tungau adalah sebagai berikut
:
1. Spesimen yang sudah dimatikan dengan alkohol dikeluarkan, kemudian
dibilas dengan air.
2. Spesimen yang memiliki lapisan kitin yang tebal (terlihat dari warna
spesimen yang coklat sampai coklat kehitaman) dapat ditipiskan dengan
caradibilas dengan larutan lactophenol. Pencucian dengan lactophenol dapat
dilakukan dengan cara :
a. Spesimen direndam dalam larutan lactophenol selama 7 hari pada suhu
kamar.
b. Spesimen yang direndam dalam larutan lactophenol dipanaskan dengan
api bunsen, akan tetapi jangan sampai mendidih.
3. Spesimen dicuci kembali dengan air (jika direndam dengan lactophenol)
sebanyak 3-4 kali sampai air tidak berkabut.
4. Larutan hoyers kemudian diteteskan sebanyak 1-2 tetes diatas object glass
yang akan dipakai.
5. Spesimen kemudian diletakkan kedalam larutan hoyers

6. Kemudian ditutup dengan cover glass dan diusahakan jangan sampai ada
gelembung udara. Bila terdapat gelembung udara, objek glass dipanaskan
diatas api bunsen perlahan-lahan.
7. Slide preparat kemudian disimpan dalam slide warmer/inkubator
8. Jika sudah kering, sekeliling cover glass ditutup dengan kuteks secara merata
dan diberi label sesusai identifikasinya.

10

HASIL
I. Endoparasit
A. Cacing Parasitik
Berikut adalah rekapitulasi hasil pemeriksan konsistensi Tinja dan
TTGT dari tiap jenis hewan yang diperiksa.
Jenis Hewan
Sapi
Domba

Umur (tahun)
>1
2

Ayam

Kucing

4,5

Konsistensi Tinja
2
2,5
2,5
3

Tipe Telur
Strongyloid
Trichurid
Strongyloid
Trichurid
Strongyloid
Ascarid

TTGT
2600
200
60
40
1800
1600

Keterangan Konsistensi Tinja


1
: Normal pellet
1,5
: Bentuk pellet tidak terlihat
2
: Lembek
2,5
: Sangat lembek
3-3,5 : Diare
B. Protozoa
Berikut adalah rekapitulasi hasil pemeriksan darah dan saluran pencernaan
dari hewan yang diperiksa.
Ordo
Eucoccidiidae
Ricketssiales
Haemosporida

Famili
Eimeriidae
Anaplasmataceae
Plasmodiidae

Genus
Eimeria
AnaplasmaA.
Plasmodiu

Species
Eimeria sp.
Phagocytophilum
P. gallinaceum

Inang
Ayam
Domba
Ayam

II. Ektoparasit
Berikut adalah rekapitulasi hasil sampel ektoparasit selama berada di
laboratorium parasitologi.
Ordo
Diptera

Family
Muscidae

Species
Musca domestica
Stomoxys calcitrans

Calliphoridae

Chrysomya bezziana
Chrysomya megacephala

11

Tabanidae
Hippoboscidae
Formicidae

Tabanus rubidus
Hippobosca variegata
Diacamma Vagas
Odontoponera transversa
Tapinoma indicum
Camponotus sp.
Dolichoderus thoracicus
Solenopsis invicta
Odontomachus

Ceratopogonidae
Culicidae

haematodes
Culicoides sp.
Anopheles sp.
Armigeres albopictus

Blattidae

Aedes sp.
Blattella germanica

Hemiptera
Phthiraptera

Cimicidae
Haematopinidae

Periplaneta americana
Cimex hemipterus
Haematopinus eurysternus

Siphonaptera

Pulicidae

Ctenocephalides felis

Astigmata

Psoroptidae

Otodectes cynotis
Damilinia ovis

Dyctioptera

Tungau pada sekam ayam


Parasitiforme

Ixodidae

Rhipicephalus sanguineus

s
Identifikasi sampel-sampeldiatas dilakukan dengan pengamatan
dibawah mikroskop compound.Sampel yang telah di-pinningdiinkubasikan
dengan suhu 40C selama 1 hari. Sampel untuk preparat setelah di proses,
inkubasikan 1-2 hari suhu 40C. Kemudian diamati dan dibandingkan
dengan literatur dan berdasarkan ciri-ciri yang khas pada ektoparasit
tersebut.

12

13

PEMBAHASAN
I. Endoparasit
A. Cacing Parasitik
Hubungan Konsistensi Tinja dengan TTGT
Hasil perhitungan TTGT tidak mungkin dijadikan dasar untuk mengetahui
jumlah pasti cacing parasitik yang menginfeksi hewan.Hal ini dikarenakan
produksi telur dari cacing parasitik berbeda-beda pada setiap spesies cacing
parasitik. Namun, TTGT yang berjumlah di atas 500 telur/ gram tinja
mengindikasikan infeksi sedang dan TTGT yang berjumlah di atas 1000 telur/
gram tinja umumnya mengindikasikan infeksi berat (Taylor et al. 2007).
Menurut Hansen & Perry (1993) dan Kusumamihardja (1995), faktor-faktor
yang mempengaruhi ketepatan diagnosis kecacingan melalui pemeriksaan tinja
secara kualitatif maupun kuantitaif yaitu:
a. Jumlah produksi dan konsistensi tinja yang diproduksi setiap harinya.
b. Hewan yang ditemukan terdapat telur cacing parasitik pada tinjanya tidak
selalu menunjukkan gejala klinis kecacingan.
c. Tidak ditemukannya telur cacing parasitik pada tinja belum tentu tidak
terinfeksi, kemungkinan cacing parasitik masih dalam tahap perkembangan.
Hasil pemeriksaan sampel tinja menunjukkan konsistensi 2,5 sampai 3
(sangat lembek -diare) memperlihatkan jumlah TTGT yang cukup banyak. Pada
konsistensi 2 tidak ditemukan adanya telur cacing parasitik.Feses yang lembek
(konsistensi 2) pada ruminansia dapat disebabkan oleh banyak hal, salah satunya
karena faktor nutrisi.
Domba yang mengalami helminthiasis dengan jumlah cacing parasitik
(nematoda) yang banyak, umumnya menunjukkan gejala diare dan hasil
perhitungan telur cacingnya (TTGT) tinggi (Besier 2004 dalam Jacobson et al.
2009). Hasil pemeriksaan pada beberapa konsistensi tinja yang tidak berbentuk
(lembek-diare) menunjukkan konsistensi tinja dengan skor 2,5-3 tidak selalu
menunjukkan nilai TTGT yang tinggi. Jacobson et al. (2009) melaporkan tidak
ada perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata TTGT telur cacing strongylus
pada domba yang diare maupun yang tidak.Hal tersebut menunjukkan konsistensi
tinja tidak terlalu berpengaruh pada hasil perhitungan TTGT.
Hubungan Konsistensi Tinja dengan Jenis Cacing

14

Hubungan konsistensi tinja pada domba (2,5) dengan jenis cacing yang
ditemukan adalah tipe telur strongyloid dan trichuris. Berdasarkan tipe telur dan
pengukuran telur, jenis cacing yang banyak ditemukan pada tinja dengan
konsentrasi tersebut adalah Trichostrongylus, Haemonchus dan Trichuris. Cacing
ini dianggap tidak patogen, mungkin karena tingkat infeksinya masih rendah.Pada
anak domba, jumlah cacing lebih 300 mulai menunjukkan gejala klinis. Pada
infeksi yang parah akan menimbulkan peradangan pada mukosa usus besar
dengan hemoragi dan ulserasi (Taylor et al. 2007).
Saint Frances Animal Center (SFAC 2010) melaporkan bahwa kucing
yang terinfeksi Nematoda akan dalam derajat tinggi akan menimbulkan gejala
klinis diare, kadang diare berdarah dan penurunan berat badan. Cacing dewasa
Ancylostoma tinggal di usus halus.Telur cacing ini keluar dari tubuh hewan
melalui tinja. Hewan yang terinfeksi cacing ini karena memakan larva infektif,
larva akan penetrasi ke kulit. Waktu yang dibutuhkan cacing ini sampai
menimbulkan gejala klinis adalah tiga minggu.Hasil pemeriksaan konsistensi 3
pada tinja kucing menunjukkan nilai TTGT stongyloid yang tinggi, sehingga
dapat disimpulkan bahwa derajat konsistensi tinja mempengaruhi jumlah telur
cacing strongyloid.
Terdapat dua spesies Ascarid atau Roundworm yang sering menginfeksi
kucing, yaitu: Toxocara cati dan Toxocara leonine. Cacing ini bisa ditularkan dari
induk ke anak.Selain itu, kucing juga bisa terinfeksi melalui meakanan yang
terinfeksi cacing ini atau menjilat-jilat tubuhnya setelah tiduran di tanah yang
terinfeksi telur cacing.Gejala klinis infestasi cacing ini adalah diare, namun
infestasi cacing yang sudah kronis jarang menimbulkan gejala klinis.Gejala klinis
hanya terlihat pada anak kucing, pada kucing dewasa sudah tidak menunjukkan
gejala klinis.Hal ini dikarenakan kucing dewasa telah memiliki kekebalan
perolehan yang timbul akibat infeksi sebelumnya (Levine 1990).
Prognosis infestasi cacing akan baik jika kucing dan anak kucing belum
terinfeksi dalam jumlah yang besar. Anthelmentik Pirantel pamoat efektif pada
kucing untuk infestasi cacing Toxocara cati dan Toxocara leonine.Hasil
pemeriksaan konsistensi 3 pada tinja kucing menunjukkan nilai TTGT ascarid

15

yang tinggi, sehingga dapat disimpulkan bahwa derajat konsistensi tinja


mempengaruhi jumlah telur cacing ascarid.
Hubungan TTGT dengan Jenis Hewan
Hewan memiliki struktur anatomi dan fisiologi yang berbeda-beda.
Perbedaan tersebut didasarkan kepada jenis hewan yang ada. Salah satu perbedaan
dari

sistem

tubuh

ialah

pada

sistem

pencernaannya.

Faktor

yang

mempengaruhinya antara lain, pakan yang dimakan oleh hewan tersebut.


Misalnya saja pada hewan ruminansia, karena pakan yang dimakan dedaunan
yang banyak mengandung serat, maka diperlukan suatu sistem pencernaan yang
rumit untuk dapat mencerna makanan. Oleh karena itu, pada sapi terdapat empat
perut yang berbeda-beda dengan fungsi yang berbeda pula.
Pakan hewan karnivora (misal anjing dan kucing) ialah pakan dengan
kadar protein tinggi yang cenderung lebih mudah dicerna. Oleh karena itu,
pencernaan pada hewan karnivora lebih sederhana dibandingkan dengan hewan
ruminansia. Asupan pakan yang dikonsumsi oleh hewan juga mempengaruhi
konsistensi tinja yang dihasilkan.
Penelitian yang dilakukan oleh Clauss et al. (2009), pada hewan Javan
langur (Trachypithecus auratus), konsistensi tinja yang lebih kaku atau keras
berhubungan dengan kenaikan NDF dan penurunan asupan air minum. Selain itu
menurut Nijboer et al. (2001), yang meneliti tentang penambahan pakan berserat
yang mempengaruhi konsistensi tinja, menyebutkan persentase air dalam tinja
umumnya lebih rendah jika terjadi penambahan pakan kaya akan serat. Pakan
kaya akan serat yang ditambahkan akan difermentasikan dan gangguan
penghasilan produk akan diperbaiki dalam fraksi karbohidrat dalam tinja Produk
yang mengalami gangguan tersebut memiliki peran superior dalam mengikat air
sehingga menghasilkan tinja yang memiliki bentuk. Clauss et al. (2009),
mengkategorikan konsistensi tinja menjadi enam macam, yakni sebagai berikut:

16

Gambar 2 Kategori konsistensi feses pada hewan tapir (Clauss et al. 2009)

Berdasarkan gambar di atas, dapat diketahui bahwa konsistensi tinja


dikategorikan menjadi enam, di antaranya:
Konsistensi Tinja
1

Deskripsi
Kering, keras, berbentuk bulat kompak dan tidak ada

2
2,5

keretakan pada fese tersebut


Kering, berbentuk bulat kecil dengan sedikit keretakan
Berbentuk bola kecil yang mudah rapuh dan sedikit terlihat

basah
Berbentuk bola besar yang mudah rapuh, basah, dan mudah

keretakan lebih mudah terjadi


Berbentuk massa yang saling berlekatan dengan bentuk

seperti bola, dan terlihat basah


Basah, massa yang saling berlekatan seperti pietanpa
adanya bentuk seperti bola

Konsistensi yang termasuk kategori FS 1-2 masih merupakan konsistensi


tinja yang normal. Namun, jika sudah mencapai 2,5, maka hewan dapat dikatakan
telah terkena diare. Diare sendiri diartikan sebagai kenaikan frekuensi, fluiditas,
dan volume dari eksresi tinja. Tinja yang dikeluarkan dapat air dan mukus bisa
juga berbau tidak sedap. Warna dari tinja tersebut juga terkadang tidak normal.
Namun, penyebab dari diare tidak hanya dapat ditemtukan dari perubahan warna,
konsistensi, ataupun bau tinja. Hal tersebut membutuhkan identifikasi secara lebih
mendalam. Secara umum, penyebab diare dapat bermacam-macam di antaranya,
parasit, bakteri, virus, dan akibat dari pola diet (Schoenian 2011).

17

Konsistensi hewan yang diperiksa dapat diketahui, melebihi normal karena


seluruh tinja memiliki nilai konsistensi di atas 2 (lebih encer).Namun, dari hasil
pengamatan, tinja domba dan sapi lebih terlihat padat dibandingkan dengan
kucing dan ayam.Hal ini dapat disebabkan pakan yang dikonsumsi oleh sapi dan
domba lebih memiliki serat yang tinggi.
Hubungan TTGT dengan Umur Hewan
Hewan muda pada umumnya lebih rentan terinfeksi oleh cacing
parasitik.Ayam berumur lebih dari 3 bulan lebih resisten terhadap Ascaridia sp.
(Levine 1990). Ayam dan unggas lain yang telah dewasa juga lebih resisten
terhadap infeksi Cestoda dibandingkan dengan unggas muda. Hal ini dikarenakan
unggas dewasa telah memiliki kekebalan perolehan yang timbul akibat infeksi
sebelumnya (Levine 1990).
Kehadiran cacing parasitik dalam tubuh inang ditentukan oleh derajat
reaksi penolakan baik selular maupun humoral. Infeksi cacing parasitik pada
saluran pencernaan menyebabkan timbulnya reaksi hipersensitifitas pada saluran
pencernaan.Reaksi

hipersensitifitas

ini

berhubungan

dengan

terjadinya

peningkatan sel mast di lamina propria dan produksi dari imunoglobulin E (IgE)
spesifik cacing parasitik yang terdapat di permukaan sel mast.Reaksi antigen dari
cacing parasitik menyebabkan sel mast melepaskan vasoaktif amin.Hal tersebut
menyebabkan peningkatan permeabilitas kapiler dan epitel serta hiperproduksi
lendir.Lendir tersebut mempengaruhi cacing parasitik dengan menurunkan
tekanan oksigen di saluran pencernaan sehingga cacing terlepas dari mukosa
saluran pencernaan dan dikeluarkan dari tubuh dengan gerak peristaltik usus
(Taylor et al. 2007).Rendahnya derajat reaksi penolakan menunjukkan rendahnya
derajat keasingan sehingga kehadiran cacing parasitik ditolerir oleh tubuh inang
(Kusumamihardja 1995).

B. Protozoa
Eimeria sp.
Genus Eimeria merupakan protozoa yang banyak menyebabkan penyakit
pada peternakan ayam.Peyakit yang disebabkan oleh Eimeria dinamakan

18

koksidiosis.Seperti kebanyakan penyakit parasit lainnya, hewan yang terserang


koksidiosis hanya sebagian kecil yang menunjukkan gejala klinis yang
jelas.Infeksi Eimeria menimbulkan banyak kerugian seperti kematian, morbiditas
yang cukup tinggi, keterlambatan masa bertelur, penurunan produksi telur,
pertumbuhan yang terhambat, efisiensi makanan yang rendah, dan biaya
pengobatan yang tinggi. Koksidiosis menyebabkan gangguan proses pencernaan
atau absorpsi zat makanan, dehidrasi, hilangnya darah dan meningkatnya
kepekaan terhadap agen penyakit lain.
Terdapat sembilan spesies Eimeria yang ditemukan pada ayam.
Berdasarkan lokasinya lesio (Gambar 3) dapat dibedakan kepada yang berlokasi
di sekum yaitu Eimeria tennela dan Eimeria necatrix, di usus halus atas yaitu
Eimeria acervulina, Eimeria praecox, Eimeria hagani, dan Eimeria mivati, di
usus halus tengah yaitu Eimeria maxima, dan di usus halus belakang yaitu
Eimeria mitis dan Eimeria brunette.Hanya 5 dari spesies tersebut yang bersifat
patogen pada ayam, yaitu E. tenella, E. maxima, E. necratix, E. acervulina dan E.
brunetti.Namun Eimeria tennela dan Eimeria necatrix merupakan spesies yang
paling pathogen.
Jejunum
:
E.

Duodenum :
E. acervulina
E. praecox

Ileum :
E.
brunettiSekum :
E. tennela

Gambar 3 Lokasi lesio berbagai spesies Eimeria (Idzar 2010)

Siklus hidup Eimeria terdiri dari tiga stadium yaitu skizogoni (merogoni),
gametogoni dan sporogoni.Skizogoni dan sporogoni merupakan stadium aseksual
sedangkan gametogoni merupakan stadium seksual dari Eimeria.Menurut Levine
(1985), siklus hidup dari semua anggota famili Eimeriidae adalah sama. Siklus

19

hidup koksidia berawal ketika ayam yang rentan memakan atau menelan ookista
yang telah bersporulasi dari air atau makanan yang terkontaminasi oleh ookista
dari ayam yang terinfeksi.Ayam yang terinfeksi melepaskan beberapa ratus juta
ookista dalam tinja dalam keadaan yang belum bersporulasi.
Ookista merupakan stadium yang sangat resisten dan dikeluarkan bersama
dengan tinja dari ayam yang terinfeksi. Pada kondisi ini ookista tersebut tidak
infektif, tetapi pada kondisi dengan kelembaban, suhu optimal (25-29 oC) dan
oksigen yang cukup ookista akan mengalami sporulasi sehingga terbentuk
sporokista (Ashadi & Partosoedjono 199, dalam

Hungerford 1969). Waktu

sporulasi tergantung kepada suhu. Pada suhu 29 oC sporulasi terjadi selama 18


jam, 26-28 oC selama 21 jam, dan pada suhu kamar selama 24-48 jam. Ookista
tidak dapat mengalami sporulasi pada suhu 8 oC.
Ookista yang telah bersporulasi bersifat infektif apabila tertelan oleh ayam
yang rentan.Setelah tertelah terjadi perkembangan sporokista menjadi sporozoit.
Dalam usus, sporozoit akan keluar dari dinding ookista kemudian memasuki selsel epitel usus. Di epitel usus akan dibentuk sporozoit yang kemudian menjadi
skizon. Kemudian skizon akan membentuk merozoit. Perkembangan dan aktifitas
merozoit dalam sel-sel epitel usus mengakibatkan robeknya sel-sel epitel dan
menyebabkan pembebasan merozoit-merozoit ke dalam lumen usus.Merozoit
yang bebas tersebut selanjutnya memasuki sel-sel epitel baru dan kemudian
membentuk skizon generasi kedua.Skizon generasi kedua ini membentuk
merozoit generasi kedua yang kemudian menjadi skizon lagi.Siklus terus berulang
hingga terbentuk merozoit generasi ketiga sehingga menyebabkan kerusakan
mukosa usus.Kejadian ini merupakan siklus aseksual dari Eimeria.
Siklus seksual berlangsung setelah melewati siklus aseksual, yaitu siklus
yang

ditandai

dengan

dimulainya

pembentukan

mikrogametosit

dan

makrogametosit. Mikrogametosit dan makrogametosit akan bertemu di usus dan


akan terbentuk zigot. Zigot selanjutnya akan menjadi ookista. Ookista ini
kemudian akan keluar dari tubuh bersama tinja dan kemudian membentuk
sporokista yang masing-masing berisi 2 sporozoit. Apabila ookista yang telah
bersporulasi tersebut tertelan oleh unggas yang rentan, makan akan terjadi infeksi.

20

Waktu yang dibutuhkan untuk siklus hidup Eimeria bervariasi berkisar antara 1-5
hari.
Penularan koksidiosis terjadi secara horizontal, baik melalui peralatan
(tempat ransum, minum), ransum, air minum maupun feses yang telah tercemar
oleh kedua agen penyakit tersebut.Selain itu, dapat terjadi secara langsung, yaitu
dari ayam sakit ke ayam yang sehat.
Berdasarkan patogenesisnya koksidiosis dibagi menjadi koksidiosis sekum
dan koksidiosis intestinal.Koksidiosis sekum terjadi ketika ookista menjadi bentuk
sporozoit yang kemudian keluar dari dinding ookista menjadi skizon di epitel
usus.Selanjutnya skizon pecah menghasilkan merozoit.Merozoit menyebabkan
kerusakan sel-sel epitel sampai di bawah submukosa sehingga epitel sekum
terkelupas.Akibatnya terjadi perdarahan hebat.Sedangkan pada koksidiosis
intestinal, pecahnya skizon hanya menyebabkan kerusakan pada mukosa usus
sehingga menyebabkan diare.
Patogenitas Eimeria dipengaruhi oleh jumlah ookista, jumlah merozoit
yang terbentuk, lokasi parasit, umur ayam dan kekebalan.Eimeria tenella dan
Eimeria necatrix memiliki patogenitas paling tinggi dengan mortalitas
100%.Kedua spesies ini menyebabkan diare berdarah pada sekum dan dapat
menyebabkan kematian.E. maxima, E. acervulina dan E. brunette bersifat patogen
pada usus dan meyebabkan diare.Infeksi dari ketiga spesies ini menyebabkan
gangguan

penyerapan

makanan,

dan

penurunan

produksi

daging

dan

telur.Sedangkan Eimeria praecox, Eimeria hagani, Eimeria mitis, dan Eimeria


mivati memiliki patogenitas yang rendah pada usus namun tetap dapat
menyebabkan diare.
Pada ayam umur 1-2 minggu diperlukan 200.000 ookista untuk
menimbulkan kematian, sedangkan ookista dengan jumlah 50.000 100.000
menimbulkan kematian pada ayam yang umurnya beberapa minggu lebih tua.
Koksidiosis merupakan penyakit yang bersifat immunosuppresif. Mekanisme
terjadinya immunosuppresif adalah:

Kerusakan jaringan mukosa usus menyebabkan proses pencernaan dan


penyerapan zat nutrisi tidak optimal. Akibatnya terjadi defisiensi nutrisi
sehingga pembentukan antibodi terganggu.

21

Mukosa usus dan seka tonsil merupakan bagian dari sistem kekebalan
lokal di saluran pencernaan. Kerusakan kedua organ ini mengakibatkan
ayam lebih mudah terinfeksi penyakit, terutama penyakit saluran
pencernaan yang diakibatkan olehE. coliataupun Salmonella enteritidis.

Kerusakan mukosa usus akan mengakibatkan keluarnya plasma dan sel


darah merah sehingga titer antibodi yang telah terbentuk dapat menurun.
Infeksi dini koksidiosis biasanya ditunjukkan adanya feses ayam yang

berwarna coklat gambir dengan konsistensi seperti pasta atau sedikit encer, nafsu
makan menurun, pertumbuhan terhambat, ayam terliihat pucat, bulu kusam, ayam
bergerombol dan mengalami depresi.Pada infeksi oleh E. tenella balung dan pial
pucat, serta kotoran sekum bercampur darah.Kalau diadakan pembedahan pada
usus yang diserang menunjukkan kerusakan dan pendarahan.
Diagnosa koksidiosis pada ayam paling baik dilakukan pada pemeriksaan
pasca mati.Diagnosa melalui pemeriksaan tinja saja dapat menimbulkan kesalahan
diagnosa.Terdapatnya ookista yang banyak dalam tinja tidak selalu berarti
keadaan patologis yang berat.Disamping itu, identifikasi ookista dari berbagai
spesies koksidia ayam bukanlah hal yang mudah.Lokasi lesio banyak memberi
petunjuk mengenai spesies koksidia yang terlihat.Jika lesio terjadi pada sekum
maka diduga ada infeksi Eimeriatenella.Diagnosa adanya koksidiosis tidak cukup
melihat adanya ookista saja, karena ookista tidak selalu dapat ditemukan dalam
usus ayam.Jika belum ada ookista perlu ditunjukan adanya skizon yang banyak
terdapat dalam jaringan subepitel yang dapat menimbulkan patogenitas (Soulsby
1982).
Pencegahan yang efektif terhadap koksidiosis adalah perpaduan antara
manajemen pengolahan peternakan dan penggunaan antikoksidia dalam pakan
atau air minum (Retno et al 1998). Dalam manajemen pengolahan peternakan
yang perlu diperhatikan adalah keadaan litter yang harus selalu kering, lantai
kandang harus bersih, penggunaan tempat air minum yang bersih dan tidak
membasahi alas kandang, alat makan dan minum diletakkan agak tinggi agar tidak
terjadi kontaminasi oleh feses, ventilasi untuk mengurangi kelembaban dan
menjaga alas kandang agar tetap kering.

22

Identifikasi awal adanya serangan koksidiosis menjadi langkah penting


untuk mengantisipasi terjadinya outbreak penyakit ini.Jika ada satu atau dua ekor
ayam yang menggigil dan bersembunyi di belakang tempat ransum atau minum
maupun adanya feses yang basah yang berlendir atau feses berdarah di daerah
kloaka maka curigai adanya serangan koksidiosis.Ayam yang positif terinfeksi
koksidiosis segera dikeluarkan dari kelompoknya dan feses ayam yang bercampur
dengan darah segera dibuang.
Penanganan kasus koksidiosis perlu memperhatikan pemberian obat
koksidiosis secara tepat, baik dosis maupun aturan pakai.Obat koksidiosis
biasanya diberikan dengan metode 3-2-3 yaitu 3 hari obat, 2 hari air minum tanpa
obat dan 3 hari obat. Obat koksidiostat yang sering digunakan adalah golongan
Sulfa, antara lain Sulfaquinoxaline, Sulfadimethoxaline, Sulfanetran, dan lainlain. Obat koksidiosis golongan ini lebih efektif untuk mengatasi intestinal
coccidia, yaitu E. acervulina dan E. maxima namun sulfaquinoxaline dan
sulfadimethylpirimidine efektif juga untuk cecal coccidia (E. tenella).Di samping
itu juga dibutuhkan vitamin A untuk mempercepat penyembuhan luka di usus, dan
vitamin K yang berfungsi untuk mempercepat terhentinya pendarahan.
Sulfaquinoxaline mempunyai zat aktif berupa Para Amino Benzen
Sulfonamide

(PABS).Mekanisme

kerja

Sulfonamide

adalah

mengadakan

antagonis kompetitif dengan Para Amino Benzoic Acid (PABA).Eimeria


membutuhkan PABA untuk pertumbuhannya.Telah diketahui PABA berperan
dalam sintesis asam folat.Di dalam tubuh asam folat berfungsi sebagai koenzim
untuk sintesis purin, timin, dan beberapa asam amino esensial.Selain itu, asam
folat merupakan bagian dari molekul vitamin B12 yang berperan dalam
metabolisme purin dan asam amino. Adanya defisiensi folat berakibat terjadinya
gangguan dalam sintesis purin, timin, dan asam amino esensial yang berakibat
gangguan dalam sintesis DNA dan RNA, sehingga fungsi tubuh yang berkaitan
dengan fungsi DNA dan RNA menjadi terganggu seperti proses pembelahan sel,
maturasi sel, termasuk gangguan dalam fungsi normal sel didalam tubuh
(Setiabudi & Mariana 1995).Sulfaquinoxaline digunakan untuk stadium merozoit
generasi II dari siklus hidup Eimeria tenella dan Eimeria necatrix, terutama
menyebabkan degenerasi pada stadium aseksual (Tampubolon 2004).

23

Dosis Sulfaquinoxaline yang dianjurkan untuk ayam melalui air minum


adalah 0,025% - 0,033% untuk pencegahan dan 0,043% untuk pengobatan.
Pemakaian dosis yang lebih tinggi dan dalam periode yang lama akan
menimbulkan tanda-tanda keracunan dan terhambatnya pertumbuhan ayam serta
dapat menimbulkan adanya galur Coccidia yang resisten terhadap obat itu
(Soulsby 1982).
Namun penggunaan antikoksidia yang terus menerus dengan dosis yang
tidak tepat dapat menimbulkan resistensi terhadap obat itu sendiri. Menurut Retno
et al (1998), pemberian obat antikoksidia dilakukan pada waktu-waktu tertentu,
hal ini bertujuan untuk memutus siklus hidup Eimeria dan memberi kesempatan
pada ayam untuk membentuk kekebalan. Pemberian sulfa yang melebihi dosis
dapat mengganggu produksi telur pada ayam petelur dan dapat menimbulkan
residu pada daging dan telur ayam.
Menurut Davies dan Kendall (1954, dalam Tampubolon 2004)
menganjurkan

pemberian

Sodium

Sulfamezatine,

Sulfadimidine,

dengan

kepekatan 0,2% dalam air minum untuk 2 periode masing-masing 3 hari


dipisahkan, 2 hari tanpa pengobatan. Sodium sulfaquinoxalin diberi dalam
makanan

konsentrasi

0,5%.

Nitrofurazone

dengan

furazolidone

dengan

konsentrasi 0,0126% diberi selama 7 hari dan dapat diulangi setelah interval 5
hari.
Anaplasma
Protozoa ini terdapat di dalam sel darah merah. Dalam sel darah merah
letaknya bervariasi, ada yang dipinggir dan ada juga yang ditengah tergantung
spesiesnya. Anaplasma tampak seperti benda bulat kecil dan tidak mempunyai
sitoplasma. Anaplasma berukuran 0,2-0,5 m. Anaplasma berlokasi di intraseluler,
ditularkan oleh caplak famili Ixodidae dan lalat Tabanus dan Stomoxys.
Anaplasmaphagocytophilum adalah anaplasma yang umum ditemukan pada
domba.

24

Gambar 4 Siklus hidup Anaplasma

Patogenitas anaplasma sangat bervariasi tergantung pada umur. Anak


domba mengalami infeksi ringan dengan sedikit kematian atau tidak sama sekali.
Pada ternak dewasa penyakit yang dialami sangat hebat, angka kematian
mencapai

20-50%.Semua

ini.A.phagocytophilum

jenis

mampu

dan tipe ternak dapat terkena parasit


menekan

system

imun

tubuh

sehingga

meningkatkan kemungkinan hewan terinfeksi Staphylococcus aureus dan


Pasteurella haemolytica yang dapat menyebabkan kematian.A.Phagocytophilum
banyak menginfeksi domba yang di lapangan yang dipenuhi oleh Ixodes ricinus.
A.phagocytophilum dilaporkan sebagai agen penyebab tick born fever di Eropa.
Gejala yang awal meliputi demam tinggi mencapai 40-41C, depresi, dan
berat badan menurun.Bila penyakit semakin parah maka ditandai dengan
bertambah parahnya anemia, dehidrasi dan konstipasi. Hewan yang sembuh akan
bertindak sebagai karier.
Pada daerah endemik, diagnosa dapat dilihat dari berbagai gejala klinis
yang ada seperti anemia tanpa terjadi hemoglobinuria dan ikterus.Anaplasmosis
sering diikuti dengan babesiosis akut dan theileirosis.Pewarnaan preparat ulas
darah

dengan

giemsa

mikroskopis.Pencegaham

dapat
infeksi

digunakan

untuk

Anaplasma

melihat

dapat

parasit

dilakukan

secara
dipping,

penyemprotan(spraying) secara teratur selama vektor banyak, dapat segera


menurunkan populasinya.

25

Anaplasmosis akut paling efektif diobati dengan menggunakan tetraciklin,


clortetraciklin, imidocarb propionate dan tranfusi darah 4-6 liter dapat diulang
setiap 48 jam.
Plasmodium
Plasmodium gallinaceum menginfeksi sel darah merah pada unggas dan
mengakibatkan terjadinya malaria.Penyakit ini tersebar luas di dunia, terutama
pada daerah tropis (Encyclopaedia Britannica 2011).Vektor yang menularkan
penyakit ini adalah nyamuk, seperti Culex, Anopheles, Culiceta, Mansonia, dan
Aedes (Jennings et al. 2006).
Plasmodiummelalui tiga siklus dalam hidupnya, yaitu gametosit,
sporozoit, dan merozoit.Gametosit berkembang dalam tubuh nyamuk menjadi
sporozoit.Sporozoit ditransfer ke saliva nyamuk dan masuk ke dalam tubuh inang
bersamaan dengan gigitan nyamuk. Kemudian sporozoitakan memasuki sel
parenkim hati dan berkembang menjadi merozoit (Encyclopaedia Britannica
2011). Pembelahan yang cepat pada merozoit mengakibatkan sel inang menjadi
ruptur dan merozoit masuk ke dalam eritrosit pada aliran darah.Hal ini mengawali
siklus intraeritrosit.Merozoit membelah diri di dalam RBC dan membentuk
schizon (scyzogony). Schizon ini akan ruptur dan merusakan RBC sehingga
merozoit hasil multiplikasi akan menginfeksi sel darah merah yang baru. Selama
fase schizogony, parasit memakan sitoplasma RBC dengan memproduksi granul
yang berpigmen coklat.Siklus intra-eritrosit berlanjut hingga inang mati atau
parasit ditekan oleh system imun inang.Setelah siklus intra-eritrosit, beberapa
merozoit berkembang menjadi sel seksual (mikrogamet dan makrogamet) dan
memulai siklus yang baru.Sel seksual lepas dalam usus nyamuk.Fertilisasi dan
pembentukan zigot terjadi ketika mikrogamet bertemu dengan makrogamet.Zigot
yang telah matang bergerak elongasi menembus dinding usus dan menjadi
ookinet. Ookinet akan membentuk oosit pada dinding luar usus nyamuk. Inti sel
oosit terbagi menjadi ratusan spindel membentuk sporozoit.Oosit kemudian pecah
dan melepaskan sporozoit.Beberapa sporozoit ini berpindah ke kelenjar saliva.
Sporozoit ini akan masuk ke dalam tubuh inang bersamaan dengan gigitan
nyamuk dan siklus hidup Plasmodium kembali berulang (Jennings et al. 2006).
Kerusakan sel darah merah oleh toksin merozoit menyebabkan siklus demam

26

yang periodik dan menjadi symptom dari malaria.(Encyclopaedia Britannica


2011).
Gejala klinis yang muncul di awal infeksi Plasmodium adalah feses yang
berwarna hijau.Hal ini dikarenakan peningkatan katabolisme hemoglobin dan
menghasilkan

peningkatan

ekskresi

biliverdin

(Paulman

&

McAllister

2005).Unggas yang diinfeksi Plasmodium seringkali lemah, depresi, dispnoe, dan


anoreksia.Burung-burung bahkan

mengalami

protusio abdominal (karena

hepatomegali) dan hemoragik okuler.Ischemia sistem syaraf pusat dapat terjadi


ketika P. gallinaceum membentuk oklusi pada kapiler dengan schizon eksoeritrosit dalam sel endotel.Anemia hemolitik sering disertai leukositosis,
limfositosis, dan hemoglobinuria.Koma dan kematian dapat terjadi dengan cepat
ketika kerusakan yang disebabkan oleh parasit sangat tinggi.Tetapi, beberapa jenis
unggas tidak menunjukkan gejala sakit dan berperan penting sebagai carrier
asimptomatik (Jennings et al. 2006). Unggas yang pulih akan resiten sepenuhnya
terhadap kejadian penyakit malaria untuk kedua kalinya setelah ekposur berulang
pada organisme melalui gigitan nyamuk (Paulman & McAllister 2005).
Pemeriksaan mikroskopis dilakukan dengan membuat ulas darah dan
pewarnaan Giemsa.Plasmodium pada fase merozoit tampak berbentuk bulat kecil
di dalam sitoplasma RBC.

Gambar 5Plasmodium dalam sitoplasma RBC pada ulas darah ayam (Jennings et
al 2006).

II. Ektoparasit
Musca domestica (Housefly, Lalat Rumah)

27

a. Morfologi
Ukuran panjang tubuh betina dewasa 6-8 mm dan jantan dewasa 5-6 mm.
Warna tubuhnya bervariasi dari abu-abu terang sampai gelap.Toraks berwarna
abu-abu dengan empat garis longitudinal di dorsalnya.Abdomen berwarna kuning
kecoklatan dengan garis longitudinal berwarna hitam di tengahnya.Matanya
berwarna kemerahan dan jarak diantara mata dapat digunakan untuk membedakan
jenis kelamin (Taylor et al. 2007).Probosinya tumpul dengan bagian ujung
melebar dan memiliki struktur seperti spons yang berfungsi dalam menyerap
makanan.Antenanya pendek dengan arista yang berambut (plumose) baik pada
ventral maupun dorsal.Sayapnya jernih dengan vena sayap M1+2 sangat khas
membentuk lengkungan sudut yang tajam dan sel R5 agak tertutup di distal (Hadi
& Soviana 2010).Venasi pada sayap dapat digunakan untuk membedakan Musca
dengan genus lalat lainnya.Morfologi Musca domestica dapat dilihat pada Gambar
6.

Gambar6Musca domestica yang ditemukan di URR.(Dokumen Kelompok C PPDH


2010/2011).

b. Perilaku dan Daur Hidup


Lalat betina dapat mengeluarkan telur sampai 150 butir.Bentuk telur
Musca domestica seperti pisang berwarna putih kecoklatan dengan ukuran
panjang 1 mm.Telur diletakkan di feses ataupun di bahan-bahan organik yang
membusuk. Telur akan menetas pada 12-24 jam pada suhu yang optimal. Larva
berwarna putih berbentuk silindris bersegmen dan tidak berkaki.Pada bagian
posterior terdapat sepasang respiratory spiracles, bentuk dan strukturnya dapat
digunakan sebagai kunci identifikasi.Suhu optimal untuk pertumbuhan larva yaitu
30-37 0C. Larva akan memakan bahan organik dan dalam waktu 3-7 hari akan
berubah menjadi pupa dalam puparium. Lalat dewasa akan muncul setelah 3-26

28

hari tergantung suhu (Taylor et al. 2007). Umumnya akan berubah menjadi lalat
dewasa setelah 4 hari dan akan kopulasi 2-3 hari kemudian (Hadi & Soviana
2010). Total perkembangan dari telur hingga menjadi lalat dewasa yaitu 8 hari
pada suhu 350C (Taylor et al. 2007). Lalat dewasa dapat bertahan hidup sekitar 12 bulan (Hadi & Soviana 2010).
c. Peranan
Musca domestica tersebar di seluruh dunia.Musca domestica yang
diperoleh ditemukan di kandang Sapi URR dan di beberapa bak penampungan
sampah di sekitar FKH IPB.Lalat ini bukan merupakan parasit pada hewan
hidup.Akan tetapi lalat ini dapat berperan sebagai vektor dalam memindahkan
berbagai macam agen penyakit dan parasit lainnya baik pada manusia maupun
hewan.Hal tersebut dikarenakan kebiasaan lalat yang sering hinggap pada feses
dan bahan-bahan organik yang membusuk (Taylor et al. 2007).Musca domestica
menghisap makanan dengan terlebih dahulu mencairkan makanan dengan
regurgitasi lambung yang mengandung enzim pencerna (Hadi & Soviana 2010).
Agen penyakit (virus, bakteri, cacing parasitik, protozoa) dapat terbawa karena
tertempel pada rambut-rambut di kaki maupun tubuh lalat tersebut atau
teregurgitasi

bersama

salivary

vomit

selama

proses

makan

Musca

domestica(Taylor et al. 2007).


Beberapa penyakit yang dapat ditularkan oleh lalat tersebut yaitu Kolera
(Vibrio cholera), Konjungtivitis (bakteri), Poliomyelitis (virus), Disentri (bakteri
dan protozoa), Helminthiasis (cacing pita dan cacing gilig), ND (virus Newcastle
Disease), Pasteurellosis (Pasteurella multocida), Limberneck (Clostridium
botulinum), Brucellocis (Brucella abortus), Mastitis (bakteri), Thelaziosis
(Thelazia rhodesii) serta penyakit lainnya (Hadi & Soviana 2010; Taylor et al.
2007).

d. Pengendalian
Pengendalian Musca domestica dapat dilakukan melalui pengelolaan
lingkungan.Feses ataupun sampah sebaiknya tidak dibiarkan terlalu lama
menumpuk di satu tempat.Hal tersebut dikarenakan baik feses maupun sampah
merupakan tempat perkembangbiakan serta sumber makanan bagi lalat.
Pengendalian non kimiawi merupakan cara yang ramah lingkungan, dapat

29

dilakukan dengan alat pengusir dan jebakan lalat yang sederhana (seperti kertas
perekat lalat) atau canggih (seperti perangkap lampu atau light trap) yang dapat
membunuh lalat dewasa dengan aliran listrik. Pengendalian kimiawi dapat
dilakukan dengan larvasida, repelen lalat, penyemprotan permukaan (surface
spray), penyemprotan ruangan (space spray), dan pengumpanan (baiting).
Stomoxys calcitrans (Stable Fly, Lalat Kandang)
Menurut Hadi & Koesharto (2006),Stomoxys calcitransbanyak dijumpai di
Indonesiaakan tetapi jarang dijumpai di permukiman, sangat umum pada
peternakan sapi perah dan sapi yang selalu dikandangkan oleh karena itu dikenal
populer dengan nama lalat kandang. Menurut Hadi & Soviana (2010) lalat ini
tersebar secara kosmopolitan(bisa ditemukan di seluruh dunia selama makanan
yang sesuai dan kondisi cuaca dapat memungkinkan) terutama di wilayah Etiopia,
Oriental dan Palaerktik.Stomoxys calcitrans menghisap darah ternak sehingga
dapat menurunkan produksi susu.
a. Morfologi
Ukuran panjang tubuh Stomooxys calcitrans hampir mirip dengan M.
domestica yaitu sekitar 7-8 mm.Toraks berwarna abu-abu dengan empat garis
longitudinal di dorsalnya.Abdomen pendek dan luas dibandingkan M. domestica
dengan tiga bintik hitam di segmen kedua dan ketiga abdominal (Gambar
2a).Metode paling sederhana untuk membedakan keduanya adalah dengan melihat
probosisnya (Taylor et al. 2007). Probosisnya panjang dan mencuat ke depan
kepala dan palpus maksilanya pendek, untuk menusuk kulit dan menghisap darah
(Gambar 2b). Arista berambut hanya pada sisi dorsal.Sayapnya jernih dengan
vena sayap M1+2 melengkung halus dan sel R5 terbuka di distal (Hadi & Soviana
2010).

30

Gambar 7Stomoxys calcitrans, (a) betina dewasa pada pandangan dorsal, (b) probosis
tampak dari samping (Hadi U.K. & F.X. Koesharto 2006).

b. Perilaku dan daur Hidup


Menurut Hadi (2011),siklus hidup lalat ini berkisar 3-5 minggu pada
kondisi optimal dan mengalami metamorfosis sempurna dalam perkembangannya.
Menurut Hadi & Soviana (2010) telur berbentuk lonjong berwarna putih,
berjumlah 150-450 butir dalam beberapa kelompok diletakkan pada bahan-bahan
yang membusuk bercampur tinja hewan atau manur sapi, sisa makanan, rumput,
sampah sayuran, kompos dan biji-bijian yang sedang membusuk. Telur menetas
menjadi larva pada 2-5 hari kemudian dan 7-12 hari larva akan berubah menjadi
pupa. Masa pupa dilalui selama 3-4 hari untuk mencapai tahap imago (dewasa).
Lalat jantan dan betina mengisap darah dan merupakan penerbang yang kuat dan
berumur panjang. Lalat ini aktif pada siang hari dan gigitannya menyakitkan.
c. Peranan
Stomoxys calcitrans(Gambar 3) merupakan vektor biologik penyakit surra
pada sapi oleh patogen Trypanosoma evansi dan penyakit antraks pada sapi oleh
patogen Bacillus antracis.

Gambar 8Stomoxys calcitrans yang ditemukan di URR (Dokumen Kelompok C PPDH


2010/2011).

d. Pengendalian
Menurut Hadi & Koesharto (2006), pengendalian lalat dapat dilakukan
dengan

pengendalian

kimiawi,

yaitu

dengan

larvasida,

repelen

lalat,

penyemprotan permukaan (surface spray), penyemprotan ruangan (space


spray)dan pengumpanan (baiting).
Chrysomya bezziana

31

Lalat ini banyak terdapat di wilayah Oriental termasuk di Indonesia dan


Etiopia. Larvanya merupakan penyebab miasis yang obligat pada sapi, kuda, dan
hewan lain.
a. Morfologi
Ukuran tubuhnya kurang lebih 1,5 kali lalat rumah. Umumnya berwarna
hijau metalik dengan banyak bulu bulu pendek menutupi tubuh yang diselingi
bulu kasar. Struktur mulutnya termasuk tipe penjilat seperti lalat rumah. Larvanya
berbentuk silinder dengan deretan duri duri pada keliling tiap ruas tubuh.
b. Perilaku dan daur Hidup
Lalat betina merupakan penyebab miasis obligat yang meletakkan telur
pada tepi luka yang terbuka dalam jumlah 150-500 butir dalam satu kelompok.
Umumnya betina akan memilih luka yang mulai membusuk. Telur akan menetas
setelah 23-30 jam, dan larvanya segera masuk jauh ke dalam luka sambil
memakan jaringan luka. Stadium larva dilalui selama 5-6 hari, lalu menjatuhkan
diri dari luka untuk berubah menjadi pupa yang akan berlangsung selama 7-9 hari,
kemudian menjadi dewasa.
c. Pengendalian
Pengendalian lalat ini dapat dilakukan secara non-kimiawi dan kimiawi.
Contoh pengendalian non-kimiawi antara lain sanitasi yang ditunjukan dengan
menciptakan lingkungan yang tidak memberikan suatu bentuk kehidupan lalat
yaitu keadaan yang kering, udara sejuk dan bersih, pemasangan penghalang
berupa kawat kasa pada pintu jendela dan lubang angin, atau membuat dua lapis
pintu. Pengendalian non-kimiawi lainnya adalah perangkap cahaya (light trap)
yang dapat membunuh lalat deasa dengan aliran listrik.
Pengendalian kimiawi dilakukan dengan penyemprotan, baik permukaan
maupun ruangan. Penyemprotan ini digunakan untuk mengendalikan lalat, namun
sangat tergantung pada permukaan tempat yang akan di semprot, biasanya
penyemprotan

dilakukan

pada

tempat-tempat

yang

sering

di

datangi

lalat.Insektisida yang digunakan adalah organofosfor, karbamat dan berbagai


piretroid sintetik. Insektisida yang digunakan untuk penyemprotan ruangan adalah
piretriod sintetik karena relatif lebih aman.piretriod sintetik karena relatif lebih
aman. Selain itu, pengendalian kimiawi dapat dilakukan dengan metode
pengumpanan. Penggunaan umpan digunakan untuk mengendalikan lalat dapat

32

dilakukan tetapi dalam jangka pendek. Bentuk umpan siap pakai yang terdapat di
pasaran biasanya di gunakan dengan cara ditaburkan disekitar tempat lalat
berkerumun, dan hasilnya cukup efektif.
Chrysomya megacephala
a. Morfologi
Ukuran tubuhnya kurang lebih 1,5 kali lalat rumah. Umumnya berwarna
hijau metalik dengan banyak bulu-bulu pendek menutupi tubuh yang diselingi
bulu kasar.Struktur mulutnya termasuk tipe penjilat.Larvanya berbentuk silinder
dengan deretan duri-duri pada keliling tiap ruas tubuh.

Gambar 9Chrysomya megacephala.

b. Perilaku dan Daur Hidup


Penyebaran lalat ini hampir diseluruh dunia.Lalat ini merupakan penyebab
terjadinya penyakit miasis.Lalat betina meletakkan telurnya pada tepi luka yang
terbuka dalam jumlah 150-500 butir dalam satu kelompok.Telur-telur tersebut
mulai menetas setelah 23-30 jam. Setelah telur menetas, maka akan keluar larva
yang langsung masuk menembus ke dalam luka. Perjalanan larva masuk menuju
ke dalam luka diikuti dengan larva tersebut memakan jaringan yang
dilewatinya.Perkembangan larva ini berlangsung selama 5-6 hari. Setelah larva
merasa kenyang, larva akan menjatuhkan diri dari luka tersebut untuk berkembang
menjadi pupa yang akan berlangsung selama 7-9 hari. Setelah itu lalat dewasa
keluar dari pupa yang matang.

33

Gambar10 Siklus hidup Chrysomya megacephala

c. Pengendalian Lalat Chrysomya megacephala


Pengendalian lalat dapat dilakukan dengan dua cara secara non kimiawi
dan kimiawi. Pengendalian secara non kimiawi dapat dilakukan dengan
memasang jebakan lalat (misalnya memasang lem perekat), menggunakan alat
pengusir lalat (misalnya sapu yang terbuat dari tali plastik) dan menjaga
kebersihan lingkungan. Pengendalian secara kimiawi yaitu dengan menggunakan
insektisida meliputi pembunuhan larva (larvisida), penolakan lalat dewasa
(repellent), pembunuhan lalat dewasa dengan cara penyemprotan residual pada
permukaan dan pemasangan umpan yang mengandung zat insektisida.
Tabanus rubidus
a. Morfologi
Tabanidae memiliki bentuk tubuh yang besar, kokoh, berukuran 6-25 mm,
kepala berbentuk setengah lingkaran, serta memiliki mata yang dominan. Lalat
jantan dan betina mudah dibedakan dari matanya. Lalat jantan memiliki mata
holoptik artinya mata kiri dan kanan saling berhimpitan. Sedangkan lalat betina
memiliki mata dikoptik artinya mata kiri dan kanan terpisah oleh suatu celah
(callus).
Tabanus rubidusmemiliki callus yang lebih panjang dibandingkan dengan
Tabanus megalops. Antenanya pendek terdiri dari tiga ruas, dengan berbagai
modifikasi pada ruas terakhirnya. Bagian mulut terdiri dari probosis yang pendek
dengan maksila yang bekerja seperti pisau untuk merobek, serta labrum dan
hipofarings sebagai penusuk dan penghisap. Telurnya diletakkan oleh lalat betina
dalam tumpukan lapisan dan berjajar rapat pada daun tanaman padi, enceng
gondok, dan tanaman lainnya yang tersembul di atas permukaan air. Telurnya

34

berbentuk silindris dengan ukuran 1-2 mm dan jumlahnya sekitar 100-500 butir.
Larvanya silindris dan langsing, ujungnya runcing dan terdiri atas kepala yang
kecil dan terdiri dari 12 ruas.

Kepala larva retraktil, mandibulanya dapat

menggigit yang menyakitkan. Pupanya obtek, pada bagian anterior membulat dan
pada baian posteriornya meruncing, bakal kaki dan sayapnya menempel pada
tubuh, ruas-ruas perutnya bergerak bebas dan panjangnya sama, ruas kedua
sampai ketujuh terdapat duri-duri yang mengelilingi tiap ruas abdomen. Ujung
pupanya terdapat duri yang tebal disebut aster. Lalat dewasa muncul (eksklosi)
dari pupa melalui celah dorsum toraks (Hadi UK & Soviana S 2010).
b. Perilaku dan Daur Hidup
Lalat ini mengalami metamorfosis sempurna. Telurnya berbentuk lonjong
diletakkan dalam kelompok pada tumbuhan air atau dekat dengan tempat berair.
Setelah satu minggu telur menetas menjadi larva yang berbentuk silinder dan
segera masuk kedalam tanah yang lembab atau lumpur, dan hidup sebagai
karnivora akuatik. Stadium larva berlangsung selama 6 minggu sampai satu tahun
tergantung jenis dan kondisi cuaca. Stadium pupa dilalui selama 1-3 minggu.
Hanya lalat betina dewasa yang menghisap darah, sedangkan lalat jantan hidup
dari cairan tumbuhan. Tahap imago merupakan penerbang yang tangguh dan
penggigit persisten yang aktif pada siang hari. Selain ternak, lalat ini juga
menyarang hewan liar bahkan manusia. Lalat ini juga dapat menularkan beberapa
penyakit yang berbahaya (Hadi & Soviana 2010). Tabanus betina membutuhkan
darah untuk perkembangan telurnya. Lalat dapat menghisap darah dalam waktu
lama karena lalat memasukkan antikoagulan pada tempat gigitan.

Lalat ini

memiliki ukuran tubuh yang sangat besar sehingga mampu menghisap darah
dalam jumlah besar.

35

Gambar11 Siklus hidup Tabanus rubidus.

c. Pengendalian
Pengendalian

yang dapat dilakukan antara lain secara non kimiawi,

kimiawi dan penyemprotan permukaan. Pengendalian non kimiawi ramah


lingkungan, dan lebih tepat sasaran. Perbaikan sanitasi adalah cara yang efektif.
Pengendalian kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida bisa
berupa larvasida atau pembunuhan lalat dewasa dengan penyemprotan residual
pada permukaan. Penggunaan larvasida kurang popular, karena bisa menimbulkan
resistensi. Insektisida yang digunakan untuk penyemprotan residual antara lain
organofosfor, karbamat dan berbagai jenis piretroid sintetik.
Lalat Tabanus spaktif pada siang hari sehingga hewan harus dijaga agar
terhindar dari gigitan lalat Tabanus sp.

Pengendalian Tabanus spp dapat

dilakukan dengan melakukan pengeringan daerah berair (genangan) disekitar


ladang penggembalaan, pembersihan tanaman yang ada dipermukaan air disekitar
ladang, pembersihan lumpur di tempat penyimpanan air, dan dipping sapi dewasa
dengan insektisida. Pengendalian lalat dapat juga dilakukan dengan penyemprotan
insektisida pada radius 1 km dari daerah rawa, sungai, dan habitat lainnya dimana
lalat dapat berkembangbiak. Perangkap serangga (insect trap) juga dapat

36

digunakan dalam upaya pengendalian vektor. Perangkap yang digunakan adalah


perangkap manitoba (Hadi & Soviana 2010).
Perangkap ini memiliki bentuk yang sederhana, berupa sungkup atau
selubung yang ditahan oleh tiga batang penahan (tripod), dan dilengkapi dengan
tabung pengumpul serangga pada bagian atas. Sungkup terbuat dari bahan kasa
atau plastik yang berwarna terang. Di tengah-tengah bagian bawah sungkup
terdapat benda berupa bola atau balon hitam yang bersifat atraktan (penarik) bagi
serangga. Perangkap ini ditancapkan di tanah. Bola berwarna hitam atau gelap
yang dipasang di tengah perangkap ini dapat bergerak ke kanan atau ke kiri bila
tertiup angin. Hal ini yang menjadi daya tarik bagi serangga tertentu yang
menyerang inang. Perkembangan selanjutnya balon karet diganti dengan balon
plastik (diameter 50 cm), dan bagian penampung yang ada di atas dilengapi
dengan sianida natrium agar lalat yang masuk segera mati begitu sampai pasa
perangkap.

Hippobosca variegata
a. Morfologi

37

Gambar 12 Hippoboaca variegatta(Dokumen Kelompok C PPDH 2010/2011).

Lalat ini berukuran sekitar 1 cm, tubuhnya melebar dan pipih dorso
ventral, berwarna cokelat merah dengan bercak kuning pucat pada bagian dorsal
toraknya. Seluruh tubuhnya ditutupi rambut pendek, memiliki sepasang sayap
yang kuat dengan vena anterior yang jelas. Antenanya tidak berkembang.
Probosisnya langsing, digunakanuntuk merobek dan menusuk jaringan. Palpinya
tebal, pendek dan melindungi probosisnya. Apabila probosis tidak digunakan
sebagian besar ditarik ke dalam kepala. Lalat ini memiliki tungkai dan kuku yang
berkembang baik.
b. Perilaku dan Daur Hidup

Gambar 13 Pupa Hippobosca sp. (Dokumen Kelompok C PPDH 2010/2011).

38

Lalat ini jarang terbang, biasanya hanya merayap di permukaan tubuh


inang. Umumnya, disiang hari baik jantan maupun betina mengisap darah dan
beristirahat pada inang, terutama sapi dan kuda. Lalat ini termasuk kedalam
kelompok pupipara. Telurnya menetas menjadi larva yang berkembang hingga
hampir mencapai tahap pupa di dalam saluran reproduksi betina, kemudian
dilahirkan, dan dalam waktu beberapa jam langsung berubah menjadi pupa. Pupa
ini berbentuk agak bulat, berukuran 5x4 mm dan mempunyai bercak gelap pada
ujung posterior. Pupa biasanya banyak ditemukan pada batang atau pelapah pohon
kelapa atau pohon lannya yang terlindung, atau tanah yang berlumpur. Lamanya
periode pupa banyak dipengaruhi oleh suhu. Lalat ini suka menetap lama pada
tubuh inangnya dan tidak mudah terganggu oleh rangsangan dari luar. Daerah
yang paling disukai adalah daerah leher, perineal, dan diantara kaki belakang,
serta daerah pubis.
c. Peranan
Lalat ini tergolong pengisap darah yang sangat merugikan sapi dan kuda
karena dapat mengurangi ketahan tubuh dan menyebabkan anemia. Selain itu,
lalat ini dapat menularkan Trypanosoma theileri yang bukan patogen pada sapi
dan Haemoproteus pada angsa, itik seta unggas lainnya.
d. Pengendalian
Pengendalian dalam populasi yang sangat banyak dapat menggunakan
sistem dipping, dimana hewan dilewatkan kedalam kolam yang telah dilarutkan
insektisida.

Untuk

populasi

yang

jumlahnya

sedikit

dapat

dilakukan

penyemprotan insektisida langsung kebadan hewan ternak.


Diamcamma vagas
a. Morfologi
Semut merupakan kelompok serangga pengganggu yang sering dijumpai
di sekitar tempat tinggal manusia di berbagai belahan dunia.Beberapa jenis telah
dilaporkan berpotensi sebagai vektor mekanik berbagai macam penyakit
manusia.Hadi (2011) melaporkan bahwa Diacamma vagas ditemukan disekitar
dan diluar gedung.

39

Diacammamemiliki tubuh yang hitam, mandibula dan lengaan yang


berwarna coklat kemerahan.Rambut jarang, tegak dan coklat terang serta adanya
sepasang spina pada dorsal petio terlihat dengan jelas (Kubota 2003).

Gambar 14Diacamma sp. (http://ant.edb.miyakyo-u.ac.jp/E/Taxo/F10501.html)

Odontoponera transversa
Semut adalah serangga sosial yang hidupnya dalam sarang yang kurang
lebih permanen.Ukuran koloni bervariasi dan kebanyakan lokasinya dalam tanah,
kayu dan diantara batu-batuan.Perilaku makannya berbeda-beda, ada yang
predator, bangkai, cairan tanaman atau secara umum mengandung gula, atau
pemakan segala (omnivora).Selain sebagai pengganggu di dalam dan di sekitar
gedung, semut juga berpotensi menularkan penyakit pada manusia dan hewan.
a. Morfologi
Memiliki 3 bagian tubuh yang jelas, yaitu kepala, thorax dan abdomen.
Ruas abdomen pertama dan ruas abdomen depan (yang berhubungan dengan
thorax) lebih kecil daripada yang lainnya sehingga tampak seperti pinggang.
Petiole (ruas abdomen basal yang kecil) satu ruas, anus terminal sirkular biasanya
berambut, mempunyai alat penyengat dan dapat menyemprotkan racun.Kepalanya
terdapat sepasang mata majemuk, sepasang antena yang membentuk siku.

40

Gambar 15Odontoponera transversa dari depan (kiri) dan dari samping (kanan) (Alpert
2005).

Semut Odontoponera memiliki thorax yang bercorak, badannya berwarna


hitam, petiole lancip, ujung gaster banyak bulu, bagian ujung gaster membulat
tanpa spina. Mandibula memanjang dan lurus kedepan, dengan gigi hanya
dibagian ujung
b. Daur hidup
Pada umumnya semut memiliki ratu yang akan bertelur banyak. Telur-telur
ini dirawat oleh semut pekerja.Telur kemudian berkembang menjadi larva dan
pupa. Pada tahap ini semut akan berkembang menjadi semut prajurit/pekerja dan
kemudian ada yang berkembang menjadi pejantan.
Tapinoma indicum
a. Morfologi
Secara khas, semut mempunyai tiga bagian tubuh yang jelas, yaitu kepala,
toraks dan abdomen.Bagian kepala dan thorak Tapinoma sp berwarna gelap
namun pada bagian tergit di posterior berwarna cerah kekuningan.Tapinoma sp
tidak memiliki alat penyengat.Tapinoma sp memiliki satu petiol.Gambaran
morfologi Tapinoma indicum ditampilkan pada gambar 16.

Gambar 16 Morfologi Tapinoma sp(http://eo.encydia.com/es/Tapinoma)

41

b. Perilaku dan daur hidup


Tapinoma spbiasanya hidup bergerombol di lantai. Gerombolan Tapinoma
spbiasanya akan keluar melalui celah-celah kecil. Tapinoma sp memiliki kebiasan
berjalan cepat. Apabila ada gangguan biasanya mereka akan berjalan tidak
menentu. Habitat semut ini biasanya di daerah yang tidak terganggu seperti di
celah-celah retakan kecil di rumah, celah buku, rongga dinding, di pot bunga dan
pada dasar palem.
Tapinoma spbersifatpoligami
betina.Daur

hidup

semut

dimana pejantan

termasuk

metamorfosis

mengawini banyak
sempurna

dalam

perkembangannya. Telurnya sangat kecil dan berwarna putih seperti susu.Larva


yang baru menetas berwarna putih seperti ulat dengan kepala menyempit ke arah
depan. Larva pertama kali ini diberi makan oleh yang dewasa, larva generasi
berikutnya diberi makan oleh pekerja. Setelah cukup makan dan beberapa kali
molting (menyilih) akan berubah menjadi pupa. Pupa bentuknya seperti dewasa
tetapi lebih lunak, berwarna putih krem, dan tidak aktif.Beberapa spesies, pupanya
terselubung oleh kokon sutera. Dewasa akan muncul dalam beberapa jam atau
hari dan akan mengalami proses pengerasan dan penggelapan kutikula.
Perkembangan dari stadium telur sampai menjadi dewasa berkisar 6 minggu lebih,
tergantung spesies, tersedianya makanan, suhu, musim dan faktor lainnya.
c. Peranan
Dalam suatu rumah semut ini dapat menjadi penganggu dimana
membentuk sarang-sarang bergerombol. Selain itu semut ini memangsa makanan
manusia seperti permen, kue dan makanan manis lainnya. Namun disamping itu
Tapinoma sp juga memakan hewan yang sudah mati.Sehingga ditakutkan semut
ini berpotensi menyebarkan penyakit.
d. Pengendalian
Umumnya, kontrol tidak diperlukan kecuali apabila semut ini menganggu
di rumah.Jika kontrol diperlukan, semut rentan terhadap sejumlah insektisida
sehingga biasanya digunakan umpan atau racun dengan metode contact poison.
Camponotus sp

42

Camponotus memiliki ciri-ciri antena dua belas ruas dengan bagian ujung
antena tidak berbentuk bonggol, seluruh tubuh berwarna hitam pekat.Seluruh
permukaan tubuh, kepala dan pedicel kasar/kesat.Mandibula pendek, seperti
segitiga. Abdomen bergaris memanjang dengan konstruksi antara segmen-segmen
basal terlihat jelas., petiola satu ruas dengan bentuk pipih, ukuran tubuh semut
pekerja 10-12mm. Camponotus merupakan semut perusak kayu, semut ini
bersarang di sela-sela pohon, daun, atau dapat ditemukan juga di dinding rumah.
Semut ini memakan nectar dari bunga atau cairan tumbuhan.Semut memiliki
metamorphosis sempurna, dimulai dari telur, larva, pupa dan dewasa.

Gambar 17Camponotus sp (www.naturephoto-cz.com)

Dolichoderus Thoracicus
Semut ini disebut juga semut hitam.Dolichoderus memakan cairan
tumbuhan atau nectar. Semut ini merupakan musuh alami hama pada tanaman
sawit dan cocoa. Oleh karena itu, semut ini sering digunakan oleh petani untuk
membasi hama. Semut hitam memiliki daur hidup yang sama sepertisemut pada
umumnya, mengalami metamorphosis sempurna, dimulai dari telur, larva, pupa
dan dewasa.

43

Gambar 18Dolichoderus sp (http://www.antbase.net/htdocs/dolichoderinae/dolichoderus)

Solenopsis invicta
a. Morfologi
Semut api yang dikenal dengan nama latinnya Solenopsis spp. (fire ants).
Semut ini berwarna kuning pucat sampai kuning kemerahan (pekerja), dan
berukuran 3,0-4,5 mm. Ciri utamanya petiol mempunyai dua node (tonjolan),
antena 10 ruas dengan dua ruas terakhir membentuk club di ujungnya. Pada ujung
abdomen terdapat alat penyengat (sting) yang dapat menyakiti orang yang
berkontak dengan semut ini. Koloni semut ini memiliki dua bentuk pekerja yang
berbeda yaitu besar (mayor) dan kecil (minor). Semut api melindungi dirinya
dengan membuat gundukan, dan biasanya di tempat yang terpapar sinar matahari.
Bentuk gundukan yang dibuat tidak teratur dengan banyak terowongan. Pada
setiap terowongan jaraknya bisa beberapa centimeter dari gundukan.

Gambar 19 Solenopsis invicta.


Semut ini sangat mengganggu pemukim karena gigitannya yang sangat
menyakitkan. Racun yang dikeluarkan kebanyakan terdiri atas alkaloid. Racun ini
berbahaya bagi orang yang hiperalergi. Solenopsis invicta merupakan satu jenis

44

semut yang sangat mengganggu industri pertanian terutama terhadap ternak sapi
yang digembalakan dan juga terhadap pekerjanya.
b. Peranan
Semut merupakan organisme pengganggu di dalam dan di luar gedung.
Selain sebagai pengganggu, semut juga berpotensi menularkan penyakit pada
manusia dan hewan. Semut dapat membawa berbagai agen penyakit yang dapat
menempel pada tubuhnya atau di saluran pencernaannya. Agen penyakit tersebut
adalah agen penyakit disentri, cacar air, dan berbagai jenis bakteri termasuk
Salmonella sp. Semut dapat menyengat manusia dan hewan, perilaku tersebut
sangat mengganggu manusia dan hewan karena sengatannya yang cukup
menyakitkan.
c. Pengendalian
Pengendalian dilakukan dengan pertama-tama dilakukan inspeksi terhadap
koloni dari semut. Dengan mengikuti semut pekerja akan didapatkan sarang
koloni sehingga dapat mudah dilakukan pengendalian. Pengendalian terhadap
semut dapat dilakukan secara nonkimiawi maupun kimiawi.
Pengendalian secara nonkimiawi meliputi berbagai upaya higiene dan
sanitasi di dalam gedung dan di luar gedung. Pengendalian secara kimiawi dapat
dilakukan dengan penggunaan insektisida langsung pada tempat bersarang semut,
membuat formasi penghalang dengan insektisida yang bersifat residual.
Odontomachus haematodes
Semut ini mempunyai peranan yang sulit untuk diidentifikasi karena
keberadaannya jarang mengganggu kesehatan manusia. Semut Odontomachus
haematodes ini memiliki daur hidup yang sama seperti semut pada umumnya,
mengalami metamorphosis sempurna, dimulai dari telur, larva, pupa dan dewasa.

45

Gambar 20 Odontomachus haematodes.


Culicoides sp.(Agas/Mrutu/biting midges)
Culicoides sp. merupakan jenis serangga dari ordo Diptera, subordo
Nematocera dan famili Ceratoponidae.Famili ini tersebar di daerah tropik dan
subtropik atau bersifat kosmopolit kecuali di Pentagonia dan Selandia Baru.
Famili ini terdiri dari empat genus yang menyerang manusia dan hewan berdarah
panas yaitu Culicoides, Forcipomya, Austrocopons dan Leptocopons, meskipun
demikian Culicoides yang paling mendapat perhatian utama (Hadi 2011).
a. Morfologi
Culicoides dewasa berukuran sangat kecil (1,5-5.0 mm), toraks sedikit
bongkok dan menonjol ke atas kepala. Sayapnya sempit dengan sedikit venasi
tanpa sisik-sisik sayap (scales), bening dan berambut halus, pada beberapa spesies
berbintik-bintik

(bertotol-totol).

Ketika

istirahat

sayap

terlipat

di

atas

abdomen.Antenanya panjang terdiri atas 14 segmen sedangkan palpi terdiri atas 5


segmen. Bagian dorsal toraks terdapat liang humerus (humeral pits) (Hadi &
Soviana 2010).
b. Perilaku dan Daur Hidup
Menurut Hadi (2011) telurnya berukuran 350-450 um, berbentuk lonjong
diletakkan satu persatu.Larvanya berbentuk seperti cacing berwarna putih,
mempunyai kepala, dan toraks yang terdiri dari tiga ruas, serta abdomen dengan 9
ruas.Pupanya berukuran 2-4 mm, berbentuk khas, lonjong dengan sepasang
corong pernafasan di daerah toraks.
Culicoides (Gambar 19a) betina mengigit dan menyerang hewan pada
waktu senja hari dan malam hari yang tenang, tanpa angin. Pada siang hari lalat
berkerumun di dekat kolam dan rawa-rawa, serta tanah yang lembab merupakan

46

tempat berkembang biak yang disukainya. Culicoides mengalami metamorfosis


sempurna (Gambar 19b), yaitu dari telur, larva, pupa dan dewasa.Habitat telur dan
larva bersifat akuatik atau semiakuatik.Telur diletakkanpada tanaman atau bahan
tumbuh-tumbuhan dalam air dangkal misalnya tepi kolam dan lubang-lubang
pohon, bahan-bahan yang telah membusuk seperti batang pepaya, pangkal batang
pisang, dan bahkan pada lubang tempat kotoran sapi. Dalam waktu kira-kira tiga
hari kemudian telur menetas menjadi larva yang halus, panjang dan berputar
berbelit masuk ke dalam dasar lumpur, tempat ia makan sisa tumbuhan dengan
mandibulanya yang bergerigi. Periode larva ini berlangsung selama 1-12 bulan,
setelah itu berubah menjadi pupa. Lalat dewasa keluar dari pupa dalam waktu 3
sampai 5 hari.Hanya lalat betina yang mengisap darah (0.139-0,410 l), sedang
yang jantan menghisap cairan tumbuh-tumbuhan.

Gambar 21 (a) Culicoides, (b) siklus hidup Culicoides(Hadi & Soviana 2010)

c. Peranan
Menurut Mawardi (1986),lalat dewasa ini biasanya menyerang hewan
pada malam hari dan disaat hewan itu berada di padang rumput, jarangsekali
Culicoides spp (Gambar 20) ini ditemukan menyerang di siang hari dan saat
dalam kandang, selain itu sifat menyerangnya yang bergerombol (tidak satu
persatu) dan biasanya menyerang mangsanya berpindah-pindah dari hewan yang
satu kehewan yang lain, hal ini yang merupakan Culicoides spp sebagai vektor
yang potensial terhadap beberapa penyakit pada sapi yaitu Bovine Onchocercosis.
Menurut Beveridge dan Kummerow (1981) pernah melakukan penyidikan pada
sapi-sapi yang menderita Bovine Onchocerciosis, kemudian dengan light trap
mereka menangkap serangga yang ada disekitar sapi yang menderita penyaki

47

tersebut, ternyata sebagian besar yang tertangkap adalah Culicoides marksi,


Culicoidesactoni dan Forcipomyia sp, penyidikan selanjutnya menunjukan pada
Culicoides marksi merupakan vektor utama dari onchocerciosis ini. Bovine
Onchocerciosis disebabkan oleh Onchocerca cervicalis.
d. Pengendalian
PengendalianCulicoides spp ini memang cukup sulit karena sifat
menyerangnya yang bergerombol dan pada malam hari serta menyenangi hewan
pada saat berada diluar kandang, sehingga tidak ada satupun macam kontrol yang
efektif untuk memberantas Culicoides spp ini, tetapi untuk mengontrol nyamuk
ini harus merupakan kombinasi dari ke empat cara yaitu : kontrol dengan senyawa
kimia, kontrol secara fisik dan mekanik, kontrol secara alami, kontrol melalui
praktek tata laksana. Kontrol dengan senyawa kimia yang tepat misalnya DDT,
dursban, chlornyrifos, temephos, fenthion, malathion dan ivermectin, secara fisik
dan mekanik dengan memperbaiki. Pengontrolan tersebut harus didukung
pengetahuan biologinya yang memadai sehingga diharapkan mendapat hasil yang
efisien dan efektif (Mawardi 1986).

Gambar 22 Culicoides spp(http://upikke.staff.ipb.ac.id)

Anopheles sp.
a. Morfologi
Telurnya diletakkan satu-persatu, menyerupai perahu dengan pelampung
dari korion yang berlekuk-lekuk di sebelah lateral.Larvanya tidak memiliki sifon,
pada bagian kiri dan kanan segmen abdomen dan kadang-kadang toraks
dilengkapi dengan rambut palmat (palmate hair), serta bagian dorsal abdomen
memiliki pelat tergal (tergal plate).

48

Nyamuk mempunyai maksila palpi yang sama panjang dengan proboscis,


tetapi pada yang jantan ujung palpi membesar (club-shaped). Posisi hinggap
nyamuk ini menungging.Skutelumnya membulat rata, tidak mempunyai
lobus.Tungkai-tungkainya panjang dan langsing serta abdomennya tidak
bersisik.Hanya Anopheles betina yang menghisap darah.

Gambar 23 NyamukAnopheles dewasa(http://www6.ufrgs.br)

Gambar 24 Telur (A) dan Larva Anopheles (B)(Service 2008)

b. Siklus hidup
Nyamuk mengalami metamorfosis sempurna, telur berubah menjadi larva,
larva tumbuh menjadi pupa dan pupa tumbuh menjadi dewasa.Stadium telur,
larva, dan pupa hidup di dalam air, sedangkan stadium dewasa hidup
beterbangan.Telur yang baru diletakkan berwarna putih, tetapi sesudah 1-2 jam
berubah menjadi hitam.Telur diletakkan satu per satu terpisah di permukaan
air.Telur

kemudian

menetas

menjadi larva yang kemudian

melakukan

pengelupasan kulit sebanyak 4 kali, lalu tumbuh menjadi pupa dan akhirnya
menjadi nyamuk dewasa jantan atau betina.Waktu yang diperlukan untuk
pertumbuhan sejak telur diletakkan sampai menjadi dewasa bervariasi antara 2-5
minggu, tergantung pada spesies, makanan yang tersedia dan suhu udara.Tempat
perindukan nyamuk Anopheles bermacam-macam tergantung kepada spesies dan

49

dapat dibagi menurut 3 kawasan yaitu kawasan pantai, kawasan pedalaman,


kawasan kaki gunung dan gunung.Anopheles aconitus ditemukan di kawasan
pedalaman yang ada sawah, rawa, dan saluran air irigasi (Hoedojo, 2000).

Gambar25 Daur hidup Anopheles(http://naturalmosquitorepellents.net)

c. Peranan
Peranan nyamuk dalam dunia kesehatan sangat jelas sekali yaitu selain
sebagai penganggu juga berperan sebagai vektor dan inang antara Plasmodium
penyebab malaria (Hadi et al. 2010).
d. Pengendalian
Secara umum pengendalian nyamuk dapat dilakukan dengan dua cara
yaitu pengendalian non kimiawi dan kimiawi. Pengendalian secara nonkimiawi
dapat dilakukan dengan cara pengelolaan lingkungan. Pengelolaan lingkungan
dapat dilakukan dengan memodifikasi lingkungan yaitu kegiatan dengan
mengubah fisik lingkungan secara permanen agar tempat perindukan nyamuk
hilang. Kegiatan ini di Indonesia popular dengan nama 3M yaitu menutup,
menguras dan menimbun berbagai temat yang menjadi sarang nyamuk. Selain itu,
pengendalian nonkimiawi dapat juga dilakukan dengan memanfaatkan musuhmusuh alami nyamuk (Sigit et al. 2006).
Pengendalian kimiawi adalah upaya yang dilakukan untuk mengendalikan
nyamuk dengan menggunakan insektisida.Pengendalian kimia sangat efektif
diterapkan apabila populasi nyamuk sangat tinggi atau untuk menangani kasus
yang

sangat

mengkhawatirkan

penyebarannya.Beberapa

insektisida

yang

digunakan adalah temephos dan metophrene untuk membunuh larva nyamuk,


repelan untuk mencegah gigitan nyamuk, aerosol untuk nyamuk, dan fogging
untuk pengendalian secara masal suatu daerah (Sigit et al. 2006).

50

Armigeres albopictus
a. Morfologi
Sifon larva pendek, tanpa gigi pekten, ruas anal tanpa keping ventral, pelana
berkembang tidak sempurna, ruas abdomen 1-IV atauII-IV tanpa spikula, sisik
sisir sederhana (10-11 buah). Bentuk nyamuk dewasa berukuran besar dengan
warna coklat dan bercak sisik putih pada bagian dada samping.Panjang palpus
betina sekitar 1/4 panjang probosis, sebaliknya palpi nyamuk jantan lebih panjang
dari probosis; klipeus dengan sekelompok sisik putih.Bagian atas postspirakular
dilengkapi dengan sekumpululan sisik hitam dan sisik putih dibagian
bawahnya.Mesonotum ditutupi sisik warna coklat yang sempit.
Bagian dalam pori ditutupi oleh sisik putih dan hitam. Bagian atas anterior
pronotal lobe bersisik hitam dan putih di bagian bawahnya, posterior pronotum
bagian depan bersisik hitam dan bagian belakang bersisik putih. Dada samping
dengan bercak sisik pucat, propleural koksa depan mempunyai sekumpulan sisik
hitam, postnotum tanpa seta. Klasper jantan membulat dengan lima duri tumpul di
bagian ujung (apeks). Femur kaki belakang bersisik putih dengan garis hitam pada
bagian dorsal dan ujungnya.
Tempat lain yang biasa dijadikan tempat perindukan adalah lubang pohon,
kulit kelapa, ketiak daun-daun pohon yang jatuh.
Nyamuk ini tersebar di Asia Tenggara (Filipina, Malaysia, Thailand,
Serawak dan Indonesia terutama di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Kep.
Sunda Kecil, dan Irian Jaya (Papua) dan daerah Asia lainnya (India, Assam,
China, New Guinea).
Aedes sp
Aedes spmerupakan jenis nyamuk yang dapat membawa virus dengue
penyebab penyakitdemam berdarah.Aedes sp tersebar luas di wilayah tropis dan
subtropis Asia Tenggara, terutamadi sebagian besar wilayah perkotaan.Penyebaran

51

Aedes sp di pedesaan akhir-akhir ini relative sering terjadi yang dikaitkan dengan
pembangunan sistem persediaan air pedesaan dan perbaikansistem transportasi.
a. Morfologi
Telur nyamuk Aedes berbentuk elips atau oval memanjang, warna hitam,
ukuran 0,5-0,8mm, permukaan polygonal (Gambar 19). Telur diletakkan satu
persatu pada permukaan yang basah tepat di atas batas permukaan air/tempat
penampungan air (TPA) yang berbatasan langsung dengan permukaan air.
Perkembangan embrio biasanya selesai dalam 48 jam di lingkungan yang hangat
dan lembab. Begitu proses embrionasi selesai, telur akan menjalani masa
pengeringan yang lama (lebih dari satu tahun). Telur akan menetas menjadi jentik
dalam waktu 2 hari setelah telur terendam air, tetapi tidak semua telur akan
menetas pada waktu yang sama. Kapasitas telur untuk menjalani masa
pengeringan akan membantu mempertahankankelangsungan spesies ini.

Gambar 26 Telur Aedes sp.

Larva nyamuk Aedes sp tubuhnya memanjang tanpa kaki dengan bulubulu sederhanayang tersusun bilateral simetris (Gambar 25). Larva ini dalam
pertumbuhan dan perkembangannyamengalami 4 kali pergantian kulit (ecdysis),
dan larva yang terbentuk berturut-turut disebutlarva instar I, II, III dan IV.

52

Gambar 27Larva Nyamuk Aedes sp.

Larva instarI, tubuhnya sangat kecil,transparan, panjang 1-2mm, duri-duri


(spinae) pada dada (thorax) belum begitu jelas, dan corong pernafasannya(siphon)
belum menghitam. Larva instar II bertambah besar, ukuran 2,5-3,9 mm, duri
dadabelum jelas, dan corong pernafasan sudah berwarna hitam. Larva instar IV
telah lengkapstruktur anatominya dan jelas tubuh dapat dibagi menjadi bagian
kepala (chepal), dada (thorax),dan perut (abdomen).Pada bagian kepala terdapat
sepasang mata majemuk, sepasang antena tanpa duri-duridan alat-alat mulut tipe
pengunyah (chewing).Bagian dada tampak paling besar dan terdapatbulu-bulu
yang simetris.Perut tersusun atas 8 ruas.Ruas perut ke-8, ada alat untuk
bernafasyang disebut corong pernafasan.Corong pernafasan tanpa duri-duri,
berwarna hitam dan adaseberkas bulu-bulu (tuft).Ruas ke-8 juga dilengkapi
dengan seberkas bulu-bulu sikat (brush) dibagian ventral dan gigi-gigi sisir
(comb) yang berjumlah 15-19 gigi yang tersusun dalam 1baris.Gigi-gigi sisir
dengan lekukan yang jelas membentuk gerigi.Larva ini tubuhnya langsingdan
bergerak sangat lincah, bersifat fototaktis negatif dan waktu istirahat membentuk
suduthampir tegak lurus dengan bidang permukaan air.
Pupa nyamuk Aedes sp bentuk tubuhnya bengkok, dengan bagian kepaladada(cephalothorax) lebih besar bila dibandingkan dengan bagian perutnya,
sehingga tampak sepertitanda baca koma (gambar 26). Pada bagian punggung
(dorsal) dada terdapat alat bernafas seperti terompet.Pada ruas perut ke-8 terdapat
sepasang alat pengayuh yang berguna untuk berenang.Alatpengayuh tersebut
berjumbai panjang dan bulu di nomor 7 pada ruas perut ke-8 tidakbercabang.Pupa
adalah bentuk tidak makan, tampak gerakannya lebih lincah bila dibandingkan
larva.Waktu istirahat posisi pupa sejajar dengan bidang permukaan air.

53

Gambar 28Pupa Nyamuk Aedes sp.

Nyamuk dewasa memliki skuletum yang trilobus atau berkeping


tiga.Nyamuk betina memiliki palpi maksila yang lebih pendek daripada separuh
panjang probosis.Toraks ditutupi oleh skutum pada bagian dorsal.Abdomen
tertutup oleh sisik-sisik yang kuat yang lebih mendatar.Nyamuk yang menghisap
darah hanya nyamuk betina (Hadi U.K. et al. 2010).

Gambar 29 Nyamuk Aedes sp Dewasa.

b. Siklus hidup
Nyamuk Aedes sp, meletakkan telur pada permukaan air bersih secara
individual.Setiaphari nyamuk Aedes dapat bertelur rata-rata 100 butir. Telurnya
berbentuk elips berwarna hitam danterpisah satu dengan yang lain. Telur menetas
dalam satu sampai dua hari menjadi larva.Terdapat empat tahapan dalam
perkembangan larva yang disebut instar. Perkembangan dariinstar satu ke instar
yang empat memerlukan waktu selama lima hari. Setelah mencapai instarkeempat,
larva berubah menjadi pupa di mana larva memasuki masa dorman (inaktif, tidur).
Telur Aedes sp tahan terhadap kondisi kekeringan, bahkan bisa bertahan
hingga satu bulan dalam keadaan kering. Telur nyamuk Aedes sp di dalam air
dengan suhu 20-40C akan menetas menjadi larva dalam waktu 1-2 hari.
Kecepatan pertumbuhan dan perkembangan larva dipengaruhi oleh beberapa
faktor, yaitu temperatur, tempat, keadaan air, dan kandungan zat makanan yang
ada di dalam tempat perindukan.Pada kondisi optimum, larva berkembang
menjadi pupa dalam waktu4-9 hari, kemudian pupa menjadi nyamuk dewasa
dalam waktu 2-3 hari.Jadi pertumbuhan danperkembangan telur, larva, pupa,
sampai dewasa memerlukan waktu kurang lebih 7-14 hari.Pupa bertahan selama
dua hari sebelum akhirnya nyamuk keluar dari pupa.Perkembangandari telur
hingga nyamuk dewasa membutuhkan waktu tujuh hingga delapan hari, tetapi
dapat lebihlama jika kondisi lingkungan tidak mendukung.

54

c. Peranan
Nyamuk dikenal sebagai kelompok pengganggu yang serius baik pada
manusia maupun hewan, karena kebiasaan nyamuk yang selalu menghisap
darah.Selain gigitannya yang menganggu kenyamanan ketika melakukan aktivitas
sampai tidur, juga peranannya sebagai penular berbagai jenis penyakit yang bisa
menimbulkan kematian (Sigit. et al 2006).Selain sebagai kelompok pengganggu
juga berperamn sebagai vektor dan inang antara suatu penyakit, syaitu demam
berdarah (Hadi et al. 2010).
d. Pengendalian
Pengendalian nyamuk dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa
metode yang tepat, antara lain pengendalian lingkungan yang dilakukan dengan
cara mengelola lingkungan yaitu memodifikasi. Sehingga terbentuk lingkungan
yang tidak cocok (kurang baik) yangdapat mencegah atau membatasi
perkembangan vektor. Modifikasi lingkungan merupakan carayang aman karena
tidak merusak keseimbangan alam dan tidak mencemari lingkungan, tetapi harus
dilakukan terus menerus. Sebagai contoh misalnya pengaturan sistem irigasi,
penimbunan tempat-tempat yang dapat menampung air dan tempat-tempat
pembuangan

sampah.Pengaliran

air

yang

menggenang

menjadi

kering.Pengubahan rawa menjadi sawah danpengubahan hutan menjadi tempat


pemukiman. Selain itu pengendalian dapat dilakukan secara biologi seperti
memelihara ikan pemakan jentik nyamuk seperti ikan adu/ikan cupang dan
menyebarkan larva nyamuk Toxorhynchites, dan secara kimia. Pengendalian
dengan menggunakan zat kimia dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu fogging
(pengasapan), larvasida dan menggunakan obat nyamuk (repellent).
Nyamuk Aedes sp dapat diberantas dengan fogging (pengasapan) racun
serangga yangdipergunakan sehari-hari.Melakukan pengasapan saja tidak cukup,
karena dengan pengasapanitu yang mati hanya nyamuk dewasa saja. Selama
jentiknya tidak di basmi setiap hari akanmuncul nyamuk yang baru menetas dari
tempat perkembang biaknya, karena itu cara yangtepat adalah memberantas
jentiknya yang di kenal dengan istilah Pembersihan Sarang NyamukDemam
Berdarah Dengue (PSN DBD). Larvasida dilakukan dengan cara membubuhkan
bubuk pembunuh jentik (abate 1 g) ditempat yang sulit dikuras ataudidaerah yang

55

sulit air dan menggunakan obat nyamuk (bakar, gosok (repellent) dll) untuk
mencegah gigitan nyamuk. Pengendalian lainnya adalah secara fisik, seperti
pemasangan kawat kasa di rumah, pencahayaan dan ventilasi memadai, jangan
biasakan menggantung pakaian di dalam rumah, karena akan menjadi tempat
peristirahatan nyamuk dan menggunakan kelambu pada saat tidur.
Blatella germanica
a. Morfologi
Lipas ini merupakan salah satu lipas yang umum ditemukan di
Indonesia.Lipas ini berukuran 10-15 mm, lebar 4-5 mm, warna coklat
kekuningan.Lipas betina berwarna sedikit lebih tua dari jantan.Pronotumnya
bewarna coklat dengan dua garis hitam memanjang.
Lipas betina setelah bertelur, selalu membawa ooteka dibelakang abdomen
sampai telur menetas. Kantung ooteka akan dijatuhkan ditempat yang terlindung,
nimfa akan keluar satu hingga dua hari. Seekor betina dapat menghasilkan 4-8
kantung ooteka selama hidupnya, setiap ooteka mengandung 30-48 butir telur.

Gambar 30 Morfologi (kiri) dan siklus hidup Blatella germanica (kanan).

Lipas ini sering masuk hunian manusia secara tidak sengaja melalui kardus
makanan, sayur, minuman atau furniture lainnya.Lipas dewasa dapat bermigrasi
dari satu tempat ke tempat lainnya.Lipas ini biasa hidup di dapur, kadang juga ada
di kamar mandi yang kotor.Lipas ini bergerak cepat sekali dan sangat lincah.
Karena cara hidupnya yang kotor, kemampuan bergerak yang cepat,
kebiasaan makannya dan hidup berdekatan dengan manusi, lipas mampu
menularkan berbagai macam agen penyakit secara mekanis. Lipas mampu
menularkan agen penyakit: bakteri-bakteri usus, helmint dan protozoa di usus,

56

jamur Aspergillus dan virus poliomyelitis. Lipas juga mampu bertindak sebagai
inang antara cacing Hymenolepis diminuta.
Periplaneta americana
a. Morfologi
Periplaneta americana secara morfologi pipih dorsoventral dengan
permukaan tubuh yang halus. Seperti kecoa pada umumnya, P.americana juga
memiliki bau yang menyengat.P.americana memiliki antenna yang panjang
berbentuk filiform dan beruas-ruas.Pada setiap ruas antena memiliki sensor suhu,
gerakan dan bau-bauan.Kepala dilengkapi dengan sepasang mata majemuk yang
terdiri atas dua ribu lensa dansatu mata tunggal untuk mendeteksi cahaya dan
keadaan gelap.Mulut digunakan untuk mengunyah dengan gigi yang kuat,
sepasang maksila untuk membersihkan antenna dan kaki.Labrum berbentuk
seperti lengan untuk mendorong setiap potong makanan (Hadi dan Soviana
2000).Gambaran morfologi P.americana ditampilkan pada Gambar 29.

Gambar 31 Morfologi P.americana.

P.americana memiliki tiga pasang kaki yang kuat.Persendian dilengkapi


organ seperti telinga yang berguna untuk mendeteksi suara dan sangat peka sekali.
Sayap yang dimiliki P.americana terdiri dari sepasang sayap yang tebal di bagian
depan seperti kulit dan sempit. Kemudian sepasang sayap belakang berbentuk
tipis (membranous).P.americanabernafas menggunakan trachea yang terletak di
lateral setiap ruas abdomen dan thoraks. Sebagai pendeteksi adanya bahaya
P.americana dilengkapi oleh sepasang serkus yang terletak di belakang

57

abdomen.Untuk membedakan kelamin jantan dan betina dilihat dari ada tidaknya
stylus yang merupakan alat kelamin jantan (Hadi dan Soviana 2000).
P.americanamemiliki

panjang

35-40

mm

dan

lebar

13-15mm.

P.americana merupakan jenis kecoa yang berukuran paling besar. Bagian


abdomen kecoa ini berwarna merah kecoklatan dan pronotum berwarna kuning
keruh dengan dua bercak coklat di bagian tengahnya.Serkus P.americana relatif
panjang dengan benuk tipis dan runcing di bagian ujung.
b. Perilaku dan daur hidup
Perkembangan

P.americana

sederhana.Perkembangannya
dewasa.Celah

dan

retakan

berawal

berlangsung
dari

merupakan

telur,
tempat

secara
kemudian

metamorfosis
nimfa

dan

persembunyian

dan

perkembangbiakan yang disukainya.Betina menghasilkan telur yang disimpanrapi


didalam ooteka.Ooteka ini biasanya ditempatkan dekat dengan sumber
makanan.Skema siklus hidup kecoa ditampilkan pada Gambar 30.

Gambar 32 Siklus hidup kecoa.

Di daerah tropis telur menetas dalam periode 42-81 hari tergantung pada
suhu, kelembaban lingkungan.Telur menetas menjadi nimfa yang kecil, berwarna
keputih-putihan dan belum bersayap. Nimfa berkembang agak lambat, tumbuh
menjadi 13 instar, setiap instar diakhiri dengan proses menyilih (ganti kulit) dan
berukuran semakin membesar. Lipas dewasa berumur beberapa bulan bahkan
sampai dengan dua tahun.Dalam stadium ini seekor betina dapat menghasilkan
15-90 ooteka.P. americanaumumnya merupakan penghuni dinding bak septik dan

58

saluran air limbah peternakan dan akan berkelana mencari makan pada malam
hari.

c. Peranan
Kecoa berperan dalam menularkan berbagai macam agen penyakit secara
mekanis.Hal ini dikarenan sifat hidup kecoa yang kotor.Selain itu lipas
mempunyai perilaku mengeluarkan makanan yang baru dikunyah atau
memuntahkan makanan dari lambungnya. Agen penyakit yang dapat ditularkan
oleh kecoa antara lain adalah bakteri-bakteri usus, parasit-parasit usus baik cacing
maupun protozoa, jamur Aspergillus dan virus poliomyelitis. Disamping itu kecoa
juga dapat berperan sebagai inang antara cacing Hymenolepis dimunita (Hadi &
Soviana 2000).
d. Pengendalian
Pengendalian hama kecoa ditujukan terhadap ooteka dan kecoa.
Pengendalian terhadapa ooteka dapat dilakukan secara mekanis dengan
mengambil ooteka yang terdapat pada celah-celah dinding, almari, peralatan, dan
kemudian dimusnahkan dengan membakar atau dihancurkan.
Pemberantasan kecoa dapat dilakukan secara fisik dan kimia.Secara fisik
atau mekanis dapat dilakukan dengan, membunuh langsung kecoa dengan alat
pemukul atau tangan, menyiram tempat perindukkan dengan air panas, dan
menutup celah-celah dinding. Sedangkan pemberantasan secara kimia dapat
dilakukan dengan menggunakan bahan kimia (insektisida) dengan formulasi
spray (pengasapan), dust (bubuk), aerosol (semprotan) atau bait (umpan).
Cimex hemipterus
a. Morfologi
Kutu busuk atau yang lebih dikenal dengan nama lain bedbugs, tergolong
ke dalam serangga penghisap darah.Dalam bahasa lokal serangga ini lebih dikenal
dengan nama tinggi (bahasa Jawa), kepinding, tumbila (bahasa Sunda), dan
bangsat. Selain spesies Cimex hemipterus, terdapat satu lagi spesies dari kutu
busuk yaitu Cimex lectularis.Cimex lectularis merupakan spesies yang paling

59

banyak ditemukan di daerah utara yang beriklim dingin, sedangkan untuk spesies
Cimex hemipterus lebih banyak terdapat di daerah tropis sepeti Indonesia.Kutu ini
berbentuk oval, pipih dorsoventral, berukuran 4-6 mm, dan berwarna coklat
kekuningan atau coklat gelap.Kepalanya memiliki sepasang antena panjang, mata
majemuk yang menonjol di lateral, dan alat mulut yang khas sebagai probosis
yang dapat dilipat ke belakang di bawah kepala dan toraks bila tidak
digunakan.Bagian

mulut

tersebut

digunakan

untuk

menusuk

dan

menghisap.Sayapnya tidak berkembang dan abdomennya terdiri dari 9 ruas yang


jelas.Seluruh tubuhnya tertutup oleh rambut-rambut kasar (seta)dan beberapa
rambut halus (Hadi & Soviana 2010).

Gambar 33Cimex sp (Jones 2004).

b. Siklus hidup
Tahap dewasa dan seluruh tahap nimfa dari Cimex spp. membutuhkan
darah sebagai makanan utamanya. Manusia umumnya merupakan target utama
dari kutu ini tetapi di saat tidak ada manusia di sekitarnya, maka kutu ini dapat
menyerang burung dan mamalia lainnya. Kutu betina dewasa akan mengeluarkan
telur kurang lebih 5 butir tiap harinya untuk sepanjang masa dewasanya. Telurtelur tersebut akan diletakkan pada tempat-tempat yang tersembunyi (celah-celah
kasur atau matras, celah-celah di bawah papan, dan tempat-tempat lainnya).
Telur akan menetas 4-12 hari kemudian dan berkembang menjadi fase
instar 1 yaitu nimfa, yang membutuhkan darah sebagai makanan untuk dapat
melanjutkan perkembangan ke tahap selanjutnya. Begitu seterusnya sampai kutu
ini mengalami lima tahap perkembangan. Pada tahap instar yang terakhir atau
kelima, kutu akan berkembang menjadi dewasa. Tahap nimfa memiliki bentuk
yang mirip dengan tahap dewasanya sehingga dapat dikatakan merupakan versi
kecil dari bentuk dewasanya.Nimfa dan dewasa membutuhkan waktu selama
kurang lebih 5-10 menit untuk menghisap darah.Perkawinan terjadi di luar tubuh

60

inang, biasa disebut dengan traumatic insemination.Perkawinan dimulai ketika


jantan melakukan penetrasi ke bagian dinding abdomen dari betina dengan
menggunakan alat kelamin eksternalnya dan menanamkannya di dalam lubang
tubuhnya.Kutu dewasa dapat hidup selama 6-12 bulan dan dapat bertahan hidup
tanpa meminum darah (CDC 2010).Cimex merupakan kutu yang bersifat
noktrunal yaitu aktif menghisap darah pada malam hari.

Gambar 34 Siklus hidup Cimex hemipterus.

c. Peranan
Meskipun kutu busuk ini secara alami menghisap darah dan dapat dapat
berperan sebagai vektor dari patogen lewat darah tetapi kutu ini tidak efektif
sebagai vektor dari suatu penyakit. Kepentingan utamanya antara lain adanya
reaksi peradangan yang dapat timbul karena gigitan yang ditimbulkan oleh kutu
ini (CDC 2010). Gigitan yang ditimbulkan oleh kutu ini, tidak menimbulkan rasa
sakit.Cairan saliva yang diinjeksikan oleh kutu ini, menyebabkan kulit iritasi dan
meradang, meskipun beberapa individu, memiliki rasa sensitivitas yang berbedabeda.Bahkan ada beberapa individu yang mengalami kegelisahan, stres, dan
insominia.Pembengkakan yang berukuran kecil dengan konsistensi keras dapat
terjadi di setiap sisi dari gigitannya dan tidak berwarna kemerahan seperti gigitan
caplak.Adanya

garukan

pada

pembengkakan

tersebut

mengakibatkan

pembengkakan tersebut mengalami infeksi sekunder.Kehilangan darah akibat


gigitan kutu ini tidak berakibat begitu fatal kepada inang (Jones 2004).

61

d. Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan terhadap
tempat-tempat yang diduga menjadi sarang telur dari kutu ini.Selain itu, proses
sanitasi juga harus dilakukan (menggunakan vacum cleaner).Penggunaan
insektisida pada tempat-tempat yang diduga bersarang Cimex juga perlu
dilakukan.Umumnya insektisida yang digunakan ialah insektisida yang beresidu
(misal organoklorin) (Jones 2004).
Haematopinus eurysternus
a. Morfologi

Gambar 35 Haematopinus eurysternus A. Hasil pengamatan B. Literatur.

b. Siklus hidup

62

Nimfa
Telur

Dewasa

Gambar 36 siklus hidup Haematopinus eurysternus.


Telur diletakkan dan ditempelkan pada batang rambut oleh kutu betina.
Dalam waktu 819 hari telur menetas menjadi nimfa. Nimfa berubah tiga kali
menjadi larva 1, 2 dan 3 pada induk semang dan berubah jadi dewasa. Seluruh
siklus menghabiskan waktu 36 minggu (Walker 2007).
c. Perilaku dan Peranan
Hematopinus eurysternus pada sapi dewasa sangat menggangu karena
dapat menimbulkan anemia, penurunan efisiensi food konversi, penurunan
produksi susuaborsi, general unthriftiness steril, dan kematian. Hewan yang
terinfeksi mengalami iritasi dan sulit untuk diajak kerja, terutama pada saat
pemerahan susu. Infestasi berat pada ternak berkontribusi terhadap timbulnya
stres yang dapat berefek kurang baik terhadap pertumbuhan, waktu awal laktasi
dan performa produksi keseluruhan untuk pergantian hewan selanjutnya. Selain
itu, peternak dapat berisiko terluka berat akibat hewan yang sukar ditangani

63

karena terinfestasi oleh parasit ini. Infestasi oleh kutu ini dapat juga menggangu
hewan lainnya. Ternak stres akibat berdesak-desakkan, kekurangan nutrisi sering
kali terinfeksi berat oleh kutu ini.
d. Pencegahan
Mayoritas insektisida yang digunakan dua kali untuk membunuh nimfa
dengan selang waktu 10 hari dimana telur menetas setelah treatmen yang pertama.
(telur resisten terhadap insektisida). Aplikasi insektisida dapat dilakukan dengan
spray pada seluruh tubuh hewan, kabut, debu, back rubbers, pour-on dan dust
bags. Setiap metode memiliki keuntungan tersendiri tergantung produksi individu
dan praktek manajemennya.Mist-blowers dapat digunakan untuk meminimalkan
jumlah cairan yang digunakan untuk treatme.Dusts dapat digunakan setiap waktu
dan disarankan tidak dicampur. Dust bags efektif jika posisi hewan secara
frequent melakukan kontak dengannya.
Ctenocephalides felis
a. Morfologi
Ctenocephalides merupakan pinjal yang sering ditemukan pada anjing dan
kucing. Ektoparasit ini diselaputi khitin yang tebal dan berwarna coklat gelap.
Abdomen dari pinjal terdiri atas sepuluh ruas, pada ruas ke-9 terdapat lempengan
dorsal yang disebut sensillium atau pygidium (Soulsby 1978 dalam Susanti 2001).
Perbedaan pinjal jantan dan betina terutama terlihat dari bentuk alat
reproduksinya yang hanya dapat diamati di bawah mikroskop. Pinjal jantan
memiliki alat genital berbentuk setengah lingkaran seperti siput (aedagus) yang
tampak tembus pandang pada pertengahan abdomen. Sedangkan pinjal betina
memiliki sebuah spermateka yang berbentuk koma dan berfungsi sebagai tempat
untuk menampung sperma saat perkawinan (Sigit dan Hadi 2006).
Ctenocephalides memiliki dahi (frons) dengan internal incrassation,
pronotum dorsal kurang dari setengah panjang duri dorsal, disamping itu terdapat
empat buah ktenidia genal yang tumpul. Ujung bagian atas dari lekuk antena
dihubungkan oleh sutura inter antena dengan tepi-tepi yang mengeras di bagian
dalam (Harwood dan James 1979 dalam Susanti 2001).

64

Gambar 37 Morfologi Ctenocephalides (Hadi dan Sigit 2006).

b. Siklus Hidup
Pinjal mengalami metamorfosis sempurna, yang diawali dengan telur,
larva, pupa kemudian menjadi dewasa. Ctenocephalides felis dapat bertelur 40-50
butir setiap hari selama puncak reproduksi (Rust dan Dryden 1997 dalam Susanti
2001). Telur pinjal berbentuk oval dan berwarna keputihan dengan panjang
kurang lebih 0,5 mm. Pinjal betina akan meninggalkan inangnya untuk
meletakkan telurnya pada tempat-tempat yang dekat dengan inangnya, seperti
sarang tikus, celah-celah lantai atau karpet, di antara debu dan kotoran organik
atau kadang-kadang di antara bulu-bulu inangnya. Telurnya menetas dalam waktu
224 hari tergantung jenis pinjal dan kondisi lingkungan.Larva pinjal sangat aktif,
makan berbagai jenis bahan organik di sekitarnya termasuk feses inangnya.
Larvanya terdiri atas 3-4 instar (mengalami 23 kali pergantian kulit instar)
dengan waktu berkisar antara 1021 hari. Larva instar terakhir bisa mencapai
panjang 410 mm, setelah itu berubah menjadi pupa yang terbungkus kokon.
Kondisi pupa yang berada dalam kokon seperti itu merupakan upaya perlindungan
terhadap sekelilingnya. Tahap dewasa akan keluar 714 hari setelah terbentunya
pupa. Lamanya siklus hidup pinjal dari telur hingga dewasa berkisar antara 23
minggu pada kondisi lingkungan yang baik (Sigit dan Hadi 2006).
Siklus hidup pinjal berkisar antara 18 hari 20 bulan atau lebih pada
kondisi laboratorium bertemperatur 24C. Stadium-stadium ini sangat dipengaruhi
oleh kondisi lingkungan seperti temperatur dan kelembaban relatif. Stadium pupa

65

merupakan stadium yang paling rentan terhadap kekeringan (Rust dan Dryden
1997 dalam Susanti 2001).

Gambar 38 Siklus Hidup Ctenocephalides.

c. Peranan
Gigitan pinjal dapat menyebabkan reaksi yang berbeda tergantung pada
sensitivitas hewan. Pada hewan yang hipersensitif, terjadi reaksi gatal yang hebat
terutama pada lumbal-sakral, abdomen, kaki belakang dan leher. Manifestasi
dermatitis akibat gigitan pinjal yang diperparah dengan infeksi sekunder dapat
berupa akhantosis, hiperpigmentasi dan hiperkeratinisasi. Infestasi yang berat
pada anjing dan kucing muda dapat menyebabkan anemia dan kematian (Rust dan
Dryden 1997 dalam Susanti 2001). Pinjal juga merupakan inang antara cacing
D.caninum.
d. Pengendalian
Berbagai formulasi insektisida untuk mengendalikan pinjal dewasa pada
hewan peliharaan telah banyak di pasaran mulai dari shampoo, spray, bahan
dipping, sabun foam untuk mandi, serbuk bedak hingga yang berkerja sistemik
seperti spot on untuk aplikasi diteteskan ke tubuh hewan inang, collar (kalung anti
pinjal) dan oral berupa tablet telan. Akan tetapi pemilihan jenis dan formulasi
insektisida harus memperhatikan jenis dan umur hewan inang, tingkat infestasi
Ctenocephalides yang terjadi, potensi reinfestasi, perlakuan pengendalian dan

66

tingkat resistensi populasi pinjal di lingkungan sekitar (Rust dan Dryden 1997
dalam Sigit dan Hadi 2006).
Lufenuron, fipronil dan imidacloprid umum digunakan untuk mengontrol
pinjal pada anjing dan kucing. Senyawa tersebut dapat diberikan setiap bulan,
walaupun lufenuron bersifat long acting dan dapat diberikan dengan interval lebih
dari satu bulan. Lufenuron tidak dapat membunuh pinjal dewasa, namun dapat
mencegah penetasan telur. Hal ini sangat membantu karena pinjal yang ditemukan
di lingkungan umumnya berupa telur, larva dan pupa (Ballweber 2001).
Otodectes cynotis
a. Morfologi
Otodectes merupakan parasit kecil seperti crab yang hidup pada
permukaan dan bagian dalam telinga hewan. Otodectes atau sering dikenal ear
mites tidak seperti fleas yang menghisap darah. Ear mites memakan serumen,
cairan jaringan, dan runtuhan sel sehingga menyebabkan gatal, iritasi, dan
peradangan pada telinga.
b. Siklus Hidup
Tungau ini memiliki siklus 3 minggu dan dapat bertahan sampai beberapa
minggu pada inang.Tungau betina meletakkan telurnya pada bulu atau telinga
hewan. Telur tersebut akan menetas kurang lebih setelah 4 hari dan akan berubah
menjadi larva. Larva akan memakan minyak pada kulit atau ear wax selama 1
minggu kemudian berkembang menjadi protonympha yang diikuti tahap
deutonympha dan dewasa. Tungau akan kawin, bertelur, dan siklus akan berulang.
c. Peranan
Parasit ini menimbulkan masalah pada telinga serta dapat menular melalui
kontak. Gejala yang ditimbulkan antara lain menggaruk telinga yang berlebihan,
iritasi, kehilangan keseimbangan, dan bau.
d. Pengendalian dan Pengobatan
Pengobatan pada anjing dan kucing dapat menggunakan ivermectin 0,20,4 mg/kg PO atau topical ivermectin 0,5 mg. Rambut dan kerak-kerak pada kulit
terlebih dahulu dibersihkan menggunakan keratolytic shampoo. Selamectin

67

diketahui efektif dalam melawan tungau Otodectes sedangkan pada anjing lebih
bagus digunakan ivermectin (Ballweber 2001).
Tungau pada sekam ayam
Tungau merupakan parasit eksternal yang sering ditemukan pada peternakan
skala kecil sehubungan dengan perbedaan tingkat manajemen dan pengamanan
biologik. Tungau pada ayam dapat ditemukan di seluruh dunia dan biasanya dapat
menimbulkan masalah pada daerah yang beriklim panas dan sedang. Tungau
tersebut dapat ditemukan pada ayam dan dapat di temukan pada kandang lama
yang mempunyai tempat bertengger. Tungau tersebut jarang ditemukan pada ayam
petelur, tetapi lebih sering ditemukan pada peternakan pembibitan ayam pedaging.
Tungau ayam dapat berlari dengan cepat pada kulit dan bulu. Tubuh tungau
terbagi atas 2 bagian utama, yaitu sefalo-thorax dan abdomen. Tungau ayam
merupakan insekta pengisap darah dan setelah mengisap darah, tungau tersebut
akan berwarna merah. Tungau ayam dapat hidup di dalam retakan atau celah
pertenggeran, dinding kandang, langit-langit kandang, dan juga lantai kandang
ayam.
Tungau ayam mengisap darah pada malam hari, sehingga jarang ditemukan
pada siang hari. Tungau tersebut dapat hidup selama 4-5 bulan pada kandang, dan
dapat bertahan selama 34 minggu tanpa makan. Tungau dapat juga menyerang
manusia dan invasi pada rumah. Tungau pada ayam kerap kali di temukan pada
kotoran ayam, di bawah kayu kandang panggung, celah dinding, lantai kandang
dan atap kandang.

Gambar 39 Tungau pada sekam ayam.

68

Tungau yang kami temukan pada sekam ayam dari peternakan ayam di daerah
petir belum bisa kami identifikasi, karena sulit dalam mengidentifikasikannya dan
perlu tahapan yang panjang dalam mengidentifikasikannya.
Damalinia ovis
Kelas

: Insecta

Ordo

: Phthiraptera

Subordo

: Ischocera

Famili

: Trichodectidae

Genus

: Damalinia (Clay 1970, Kim & Ludwig 1978)

a. Morfologi
Bentuk tubuh kutu adalah pipih dorsoventral dengan ukuran berkisar
antara 1-6 mm, terdiri atas kepala, thoraks, dan abdomen yang jelas terpisah.
Kepala dilengkapi dengan 3-5 ruas antena. Antena berbentuk filiform menonjol
keluar dan pada kutu jantan alat ini berfungsi sebagai penjepit.

Gambar 40 Damalinia ovis.


Keberadaan kutu ini normal pada domba. Investasi spesies ini dalam
jumlah yang banyak pada domba dapat mengakibatkan terjadinya penurunan
imunitas pada domba. Kutu ini juga dapat menjadi vektor penyakit yang dibawa
oleh Trypanosoma sp. sehingga perlu dilakukan terapi kesehatan bagi domba yang
terserang oleh Damilinia ovis ini.
Rhipicepalus sanguineus
a. Morfologi
Rhipicephalus sanguineus memiliki tubuh yang keras dengan perisai
(scutum) yang terbuat dari zat tanduk di bagian dorsal tubuhnya. Tubuh caplak
terdiri atas kepala yang dilengkapi dengan palpus (alat indra) dan bagian mulut

69

yang terdiri atas khelisera dan hipostom. Bagian thorax bersatu dengan bagian
abdomen sehingga tidak dapat dibedakan dengan jelas. Saat menghisap darah,
caplak akan menyayat kulit inangnya dengan menggunakan khelisera, kemudian
parasit ini akan menancapkan hipostomnya ke dalam kulit. Hipostom caplak
berbentuk seperti jangkar sehingga apabila telah masuk ke dalam kulit sulit untuk
dilepas secara paksa. Caplak otomatis akan melepaskan diri dari inangnya bila
sudah kenyang menghisap darah (Sigit & Hadi 2006).

Gambar 41 Morfologi caplak Rhipicephalus sanguineus.

b. Siklus Hidup
Rhipicephalus sanguineus memerlukan tiga inang (three-host tick) dalam
menempuh satu siklus hidupnya, masing-masing pada saat stadium larva, nimfa,
dan dewasa. Caplak dewasa setelah kawin akan menghisap darah sampai kenyang,
lalu jatuh ke tanah dan disinilah ia bertelur. Larva yang baru menetas segera akan
mencari inangnya dengan pertolongan benda-benda sekitarnya serta bantuan alat
olfaktoriusnya. Setelah mendapatkan inangnya, ia akan menghisap darah inang
hingga kenyang (enggorged) lalu akan jatuh ke tanah atau tetap tinggal pada tubuh
inang tersebut dan segera berganti kulit (moulting) menjadi nimfa. Nimfa
menghisap darah kembali, setelah kenyang akan jatuh ke tanah dan moulting
menjadi caplak dewasa. Satu siklus daur hidup berkisar antara 6 minggu sampai
tiga tahun. Caplak dewasa dapat bertelur sekitar 100 - 18.000 butir/caplak.

70

Gambar 42Siklus hidup caplak anjing Rhipicephalus sanguineus.

c. Peranan
Menurut Tilley dan Smith (2000), Rhipicephalus sanguineus dapat
menularkan Babesiosis, Ehrlichiosis dan Hepatozoonosis.Babesiosis disebabkan
oleh parasit protozoa Babesia sp. Protozoa ini akan menyerang sel darah merah
dan dapat menyebabkan endapan pada pembuluh darah kapiler dan destruksi pada
limpa. Ehrlichiosis disebakan oleh bakteriEhrlichia sp yang dapat menginfeksi sel
mononuclear dan platelet. Canine hepatozoonosis disebabkan oleh protozoa
Hepatozoon

canis

setelah

anjing

memakan

R.

sanguineous

yang

terinfeksi.Paralisis oleh caplak disebabkan oleh neurotoksin yang berpengaruh


pada sintesis asetilkolin dan liberasi pada pertemuan neuromuscular dari induk
semang.
Hewan rentan yang terinfeksi oleh gigitan langsung caplak maupun pakan
yang mengandung caplak akan memperlihatkan gejala klinis minimum tiga hari.
Ketika caplak menggigit anjing, caplak tersebut akan memasukkan parasit ke
dalam tubuh anjing tersebut. Parasit tersebut akan menempel pada membran
eritrosit dan endotel pembuluh darah. Anemia hemolitik dan shock hipotensif
merupakan sindrom klinis akibat infeksi.Anemia hemolitik merupakan hasil
langsung dari kerusakan eritrosit oleh parasit dan kedua pembuluh darah baik
intravaskular maupun ekstravaskular di perantarai oleh kekebalan oleh perusakan
dari sel darah merah. Infeksi dapat menghasilkan trombositopenia yaitu
mekanisme yang melibatkan perusakan yang di perantarai sistem kekebalan dan
karantina pada limpa. Pemeriksaan fisik memperlihatkan splenomegali,

71

lymphadenomegali, demam, kelesuan, muntah, hematuria, dan Ikterus. Shock


Hipotensif merupakan hasil dari pelepasan dan produksi vasoactive amina dan
sitokin yang menghasilkan vasodilatasi. Paling sering terjadi pada anakan anjing
dengan bentuk penyakit perakut (Ripberger 2000).
d. Pengendalian
Pengendalian Rhipicephalus sanguineus sulit untuk dilakukan dan
mungkin membutuhkan usaha yang professional dari operator pengontrol
serangga. Empat langkah yang dilakukan dalam proses kontrol caplak adalah
sanitasi, pengobatan dari anjing, pengobatan luar dan dalam. Kontrol dari
Rhipicephalus sanguineus membutuhkan ketekunan dari pemilik hewan
peliharaan.Infestasi dari caplak dapat meliputi tempat tinggal anjing, rumah, dan
halaman yang membutuhkan pengobatan bahan kimia secara simultan.
Pengobatan yang tidak selesai/tidak lengkap dapat membawa kepada infestasi dan
hasilnya akan menyebabkan penggunaan pestisida yang berlebihan. Insektisida
untuk mengendalikan hama ini harus dapat memberikan kemanjuran yang
beralasan. Tujuan utama ketika menerapkan suatu pestisida untuk mengendalikan
hama ini adalah untuk berkonsentrasi pada bidang-bidang yang sering dikunjungi
oleh anjing. Aplikasi di luar mungkin termasuk ruang di bawah rumah, kandang,
tempat tidur favorit di pekarangan dan / atau garasi.
Daerah yang disukai dalam ruangan adalah kain karpet dan perabotan.Jika
kain perlu disemprot, harus dilakukan pembacaan label pestisida untuk
kemungkinan tindakan pencegahan terjadinya noda oleh pestisida.Apabila furnitur
berlapis membutuhkan perawatan, pindahkan bantal dan semprot semua celah dan
jahitan.Perhatian juga harus diarahkan untuk tepi karpet, pinggiran pintu, dan
lantai / dinding retak dan celah-celah.Pengobatan di bagian luar dan dalam daerah
mungkin harus diulang tergantung pada tingkat keparahan dan aturan pemakaian
dari pestisida caplak.Pengobatan jangan dilakukan jika caplak tidak teramati pada
hewan peliharaan atau lingkungan sekitarnya.Perawatan terhadap hewan
peliharaan dapat dilakukan oleh pemilik atau dokter hewan. Berbagai produk
komersial yang tersedia disarankan untuk mandi atau dips (Michigan State
University 2006).

72

Anjingharus dijauhkan dari infestasi caplak dari padang rumput jika


memungkinkan. Komponen insektisidal topikal seperti karbamat (carbaryl),
organofosfat (chlorpyrinos, malathion atau diazinon) dan fipronil dapat digunakan
sebagai pembunuh caplak pada anjing. Caplak dapat disingkirkan dengan cara
manual pula, tetapi perawatan harus diperhatikan dalam memindahkan semua
bagian dari mulut caplak (Wall dan Shearer 2001).

73

SIMPULAN
Ektoparasit memiliki peran yang sangat penting dalam penularan penyakit
dan penurunan produksi pada hewan.Ektoparasit dapat menjadi vektor agen
penyakit seperti babesia, plasmodium dan anaplasma, juga virus, bakteri dan
cacing. Perlu dilakukan langkah pengendalian yang sesuai untuk dapat
menghindarkan hewan dari ektoparasit yang akan menyebabkan banyak kerugian.
Pengamatan adanya telur cacing dan ookista dalam tinja inang baik secara
kualitatif maupun kuantitatif merupakan teknik diagnosa utama dalam kasus
infeksi cacing dan protozoa parasitik.Metode MacMaster merupakan salah satu
teknik untuk menentukan derajat infeksi kecacingan pada hewan, yang dapat
meneguhkan diagnosa klinis meskipun hasil perhitungan tersebut tidak
sepenuhnya akurat.Secara umum, pengendalian kasus infeksi cacing dan protozoa
parasitik meliputi tiga hal, yaitu kekebalan dan nutrisi hewan, manajemen
pemeliharaan dan pemberian anthelmintika.
Pengendalian terpadu dan pencegahan infeksi endoparasit dan infestasi
ektoparsait sangat dibutuhkan untuk mengontrol dan menekan populasi
ektoparasit dan endoparasit sehingga tidak menimbulkan kerugian baik pada
hewan maupun pada manusia.

74

DAFTAR PUSTAKA
Ballweber LR. 2001. Veterinary Parasitology. USA. Butterworth Heinemann.
Beveridge I., Kummerow, E. L., Wilkinson, P., Copeman, D.B. 1981. An
investigation of biting midges in relationto their potensial as vector of
bovine onchocerciosisin North Quennsland. Journal of the Aust.
Entomological Society 20 (1): 39 - 45. Dalam Review of Applied
Entomohrgy 70 (1): 145. 1982.
Bolton, Barry. 2011. Species: Camponotus
description.do [ 9 April 2011].

atriceps.

www.antweb.org/

Clauss M, Wilkins T, Hartley A, Hatt JM. 2009. Diet composition, food intake,
body condition, and fecal consistency in captive Tapirs (Tapirus spp) in
UK collections. Zoo Biology Research Article. 27:1-13
[Encyclopaedia Britannica].2011. Plasmodium.. http://www.britannica.com/
EBchecked/topic/463621/Plasmodium [13 April 2011].
Hadi U.K. 2011. Bioekologi Berbagai Jenis Serangga Pengganggu pada Hewan
Ternak di Indonesia dan Pengendaliannya. http://upikke.staff.ipb.ac.id/
2011/03/07/serangga-pengganggu-peternakan-dan-pengendaliannya.
[1April 2011].
Hadi U.K. & F.X. Koesharto. 2006. Lalat. Di dalam: SH Singgih dan UK Hadi,
editor. Hama Pemukiman Indonesia. Bogor. Unit Kajian Pengendalian
Hama Pemukiman.
Hadi UK, Soviana S. 2010. Ektoparasit: Pengenalan, Identifikasi, dan
Pengendaliannya. Bogor. IPB Press.
Hadi UK, Sugiarto. 2011. Jenis-jenis semut hama pemukiman di Indonesia.
upikke.staff.ipb.ac.id/tag/ [1 April 2011].
Hansen J, Perry B. 1993. The Epidemiology, Diagnosis, and Control of Helminth
Parasites of Ruminants. Nairobi. The International Laboratory for
Research on Animal Diseases.
Hungerford T.G. 1969. Protozoan Disaese. In Disease of Poultry. London.
Idzar.

2010.
Koksidiosis.http://kembang-lintang-ps.blogspot.com/2010/05/
koksidiosis.html [3 April 2011]

Jacobson C, Bell K, Forshaw D, Besier B. 2009. Association between nematode


larvae and low worm egg count diarrhea in sheep in Western Australia.
Veterinary Parasitology. 165 (2009): 66-73.

75

Jennings
L,
Webb
J,
LeRoy
BE.
Avian
Malaria.
2006.http://www.vet.uga.edu/vpp/clerk/jennings/index.php
[13
April
2011].
Jones SC. 2004. Bed Bugs. Entomology Fact Sheet. 2105:44.
Kubota

M.
2003.
Dicamma
sp.
u.ac.jp/E/Taxo/F10501.html[8 April 2011].

http://ant.edb.miyakyo-

Kusumamihardja S. 1995. Parasit dan Parasitosis pada Hewan Ternak dan


Hewan Piaraan di Indonesia. Bogor. Pusat Antar Universitas Bioteknologi
IPB.
Ladbury GAF, Stuen A, Thomas R, Bown KJ, Woldehiwet Z, Granquist EG,
Bergrtom K, and Birtles RJ. 2008. Dynamic Transmission of Numerous
Anaplasma phagocytophilum Genotypes among Lambs in an Infected
Sheep Flock in an Area of Anaplasmosis Endemicity. J.Clinical Microb
46(5): 16861691.
Levine ND. 1985.Veterinary Protozoology. IOWA State University Press. Ames.
Levine ND. 1990. Buku Pelajaran Parasitologi Veteriner. Gatut Ashadi,
penerjemah; Wardiarto, editor. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Terjemahan dari: Textbook of Veterinary Parasitology.
[MAFF] Ministry of Agriculture, Fisheries and Food. 1986. Manual of Veterinary
Parasitological Laboratory Techniques. London: Her Majestys stationery
Office.
Marjuki MI. 2009. Daya Bunuh Beberapa Obat Nyamuk Bakar terhadap
Kematian Nyamuk Anopheles aconitus [Skripsi]. Surakarta. Universitas
Muhammadiah Surakarta.
Mawardi. 1986. Culicoides spp (Diptera: Ceratopogonidae) sebagai Vektor
Beberapa Penyakit pada Hewan. [skripsi]. Bogor. Institut Pertanian Bogor
.[Michigan State University]. 2006. Brown Dog Tick (Rhipicephalus sanguineus).
http://www.pestid.msu.edu/InsectsArthropods/BrownDogTickRhipicephal
ussanguineus/tabid/287/Default.aspx [5 April 2011].
Nijboer J, Becher F, Van der Kuilen J, Beynen AC. 2001. Chemical analysis and
consistency of faeces produced by captive monkeys (Franois langurs,
Trachypithecus franoisi) fed supplemental fibre. The Veterinary Quarterly.
23: 2 76-80.
Paulman A, McAllister M. 2005. Plasmodium gallinaceum: Clinical progession,
recovery, and resistance to disease in chicken infected via mosquito bite.
Am. J. Trop. Med. Hyg. 73 (6), pp. 1104-1107.

76

Retno F.D, Jahja J, Suryani T. 1998. Penyakit-penyakit Penting pada Ayam. Ed4. Bandung.
Ripberger K. 2000. Canine Babesiosis. http://www.addl.purdue.edu/newsletters/
1999/fall/cb.shtml [5 April 2011].
[Saint Frances Animal Center]. 2010. Intestinal Parasites of Dogs and Cats.
www.sfanimal.org [12 April 2011].
Setiabudi R, Mariana. 1995. Farmakologi dan Terapi. Ed-4. Gaya Baru. Jakarta.
Sigit SH, Hadi UK. 2006. Hama Permukiman Indonesia. Bogor. IPB Press.
Soulsby EJL. 1982. Helminths, Arthropouds and Protozoa of Domestical
Animals. Baillare Tindall. London.
Stuen S, Pol IVD, Bergstrom K, and Schouls LM. 2002. Identification of
Anaplasma phagocytophila (Formerly Ehrlichia phagocytophila) Variants
in Blood from Sheep in Norway. J.Clinical Microb 40 (9): 3192- 3197.
Suputa, Yamane S, Martono E, Hussain S, dan Arminnudin AT. 2007.
Odontoponera denticulata [Hymenoptera:Formicidae]: A Potential
Biological Control Agent For True Fruit Flies[Diptera:Tephritidae] In
Yogyakarta, Indonesia. Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Indonesia. 3:351-356
Schoenian S. 2011. Diarrhea (scours) in small ruminants. Small Ruminants Info
Sheet. www. Sheepandgoat.com. [3 April 2011]
Susanti DM. 2001. Infestasi Pinjal Ctenocephalides felis (Siphonaptera :
Pulicidae) pada Kucing di Bogor. [Skripsi]. Bogor. Institut Pertanian
Bogor.
Tabbu.C.R.2002. Penyakit ayam dan Penanggulangannya-volume 2. Penerbit
KANISIUS. Hal 97-99.
Tampubolon MP. 2004. Protozoologi. Bogor. Pusat Antar Universitas Ilmu HayatiIPB.
Taylor MA, Coop RL, Wall RL. 2007. Veterinary Parasitology. 3rd ed. UK:
Blackwell Publishing.
Tilley LP dan Smith FWK. 2000. The 5 Minutes Veterinary Consult Canine and
Feline. Maryland USA. Baltimore.
Walker B. 2007. Cattle Lice. Australia: NSW DPI.
Wall R dan Shearer D. 2001. Veterinary Ectoparasites : Biology, Pathology and
Control. London. Blackwell Science.