Anda di halaman 1dari 9

Investor punya banyak cara dalam mengembangkan modalnya pada industri pasar

modal. Artinya dalam investasi di pasar saham, investor tidak mesti harus terpaku
pada satu strategi saja. Ada kalanya, strategi yang satu dikombinasikan dengan
strategi lain yang lebih menguntungkan. Perubahan strategi investasi ini juga
terkadang tanpa rencana, sebab perubahan strategi itu sangat tergantung pada
kondisi pasar, dan tujuan investasi seorang investor.
Dengan strategi investasi yang sangat fleksibel dan sangat moderat, karena
tergantung pada situsasi dan kondisi. "Maka jadilah investasi di pasar modal
menjadi sangat menarik, mobile, dan menggairahkan," begitu kata banyak pelaku
pasar modal yang sudah menjadikan industri pasar modal sebagai ajang memburu
pendapatannya. Investasi di pasar modal dikatakan mobile (selalu bergerak), dan
tidak bersandar hanya pada satu strategi menyebabkan investasi di pasar modal ini
perlu pengamatan yang serius dan terus menerus.
Pengamatan yang serius lantaran potensi pendapatan yang bisa dibukukan dalam
investasi bursa saham adalah selain dividen juga capital gain. Dividen merupakan
bagian dari laba perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham, sedangkan
capital gain merupakan selisih harga jual dan harga beli yang positif dengan kata
lain "Menjual pada saat harga lebih tinggi dan membeli pada saat harga lebih
rendah", merupakan tujuan investor saham di pasar modal.
Pengamatan atau monitoring tidak hanya atas saham yang menjadi sasaran
investasi, tapi juga terhadap saham-saham lain, bahkan kondisi pasar serta
informasi yang terkait dengan investasi itu. Monitoring yang cukup serius dan terusmenerus itu perlu dilakukan agar investor selalu mendapat kesempatan pertama
dalam menerima informasi. Kecepatan menerima informasi ini, merupakan peluang
memperoleh pendapatan dan keuntungan di pasar modal. Sehingga dalam investasi
di pasar modal sedikitnya terdapat 8 (delapan) strategi yang paling sederhana, dan
hampir seluruh investor menerapkannya.
Ke delapan strategi yang biasa dilakukan investor itu antara lain:
1. Beli di Pasar Perdana, Jual Begitu Masuk di Pasar Sekunder
Strategi ini digunakan karena adanya keyakinan investor bahwa harga akan naik
begitu suatu saham dicatatkan di bursa efek. Hal ini dilandasi dengan asumsi
bahwa underwriter tidak akan membiarkan harga jatuh pada minggu pertama di
pasar sekunder. Dalam strategi membeli di pasar perdana dan menjual di pasar
sekunder ini banyak sudah contoh yang bisa diambil. Kendati anggapan bahwa
underwriter tidak membiarkan harga akan jatuh pada hari-hari pertama di pasar
sekunder, ada benarnya juga tapi dalam menerapkan strategi ini investor juga tetap
berpedoman pada harga saham yang akan dilepas dengan harga saham sejenis
yang sudah tercatat. Perbandingan harga ini perlu menjadi perhatian, karena bisa
saja harga saham IPO lebih rendah ketimbang saham yang sudah tercatat atau

sebaliknya. Untuk itu, investor perlu membandingkan harga dengan pendapatan


kedua saham tersebut yang akan dilepas dengan saham yang sudah tercatat.
Kendati tidak selamanya benar, tapi banyak pelaku pasar yang beranggapan bahwa
strategi membeli di perdana dan jual di sekunder ini cocok bila diterapkan pada
waktu pasar sedang bullish (harga-harga saham di pasar sekunder sedang naik).
2. Strategi Beli dan Simpan (Buy and Hold)
Strategi ini digunakan oleh investor karena berkeyakinan bahwa suatu perusahaan
akan berkembang selama jangka panjang, misalnya perusahaan yang produknya
sangat strategis. Umumnya strategi ini juga cocok digunakan pada saat harga
mencapai titik terendah atau umumnya pasar sedang bearish (harga-harga saham
sangat rendah).
3. Strategi Berpindah
Strategi ini digunakan oleh investor yang aktif mengikuti perkembangan pasar.
Tujuannya adalah memanfaatkan peluang kemungkinan naiknya harga saham lain
dengan harapan pemodal tersebut memperoleh capital gain dalam waktu singkat.
Dalam jangka panjang, strategi ini bertujuan mengubah jenis saham yang dimiliki,
dengan harapan saham lain lebih prospektif. Strategi ini cocok digunakan pada
saham-saham yang aktif diperdagangkan di bursa efek (likuid).
4. Strategi Mengurangi Kerugian (Cut Loss)
Strategi ini digunakan untuk mengurangi kerugian atas pembelian saham yaitu
dengan cara menjual saham yang sebelumnya dimiliki dan mengganti dengan
saham lain (berpindah), cara lainnya yaitu dengan membeli saham sejenis seperti
yang dipegang sebelumnya pada waktu harganya rendah dan melepaskannya
kembali pada waktu harganya naik. Sehingga kerugian pada saat membeli diwaktu
harga tinggi dapat dikurangi (cut loss).
5. Membeli Saham-saham Tidur
Strategi membeli saham-saham tidur maksudnya membeli saham-saham yang tidak
aktif, karena biasanya saham-saham yang tidak aktif sering luput dari perhatian
orang banyak, sehingga cenderung harganya murah. Tipe pemodal yang sabar
cocok membeli saham-saham yang tidak aktif tersebut, sebab pada umumnya
potensi keuntungan pada saham yang demikian ini akan nampak dalam jangka
waku yang lama.
6. Strategi Konsentrasi pada Industri
Investor yang memusatkan perhatiannya pada perkembangan industri tertentu,
karena lebih mengetahui kondisi, mekanisme kerja dari perusahaan yang berada
pada industri tersebut, tren industri dan sebagainya. Strategi investasi dengan cara
ini adalah memilih saham-saham yang terbaik pada industri tersebut.
7. Strategi Membeli Pasar

Seorang pemodal dikatakan melakukan strategi membeli pasar, apabila investor


secara relatif proporsional ke dalam saham-saham yang ada di bursa efek, misalnya
50 persen jenis saham yang tecatat di bursa efek. Strategi ini mungkin kurang tepat
bagi investor kecil, karena untuk melaksanakan strategi ini tentunya membutuhkan
dana yang besar.
8. Strategi Membeli Melalui Reksa dana
Strategi ini dilakukan dengan mempercayakan pengelolaan dana yang dimiliki oleh
investor kepada suatu lembaga yang disebut reksa dana. Reksa dana akan
melakukan penyebaran investasi untuk mencapai tingkat keuntungan tertentu dan
meminimumkan risiko.
Namun semua itu bukan menjadi satu patokan atau keharusan strategi yang
dilakukan oleh investor, karena semua kembali kepada karakter tingkat risiko yang
dimiliki oleh para investor.

Strategi Investasi Saham Ala Warren Buffet


User Rating:
Poor

/ 27
Best

Di artikel sebelumnya Anda sudah mengetahui bagaimana Warren Buffet berhasil menjadi orang
terkaya sedunia melalui investasi saham. Mungkin Anda tergerak mengikuti jejak sang investor
sejati. Sebenarnya cara yang dilakukan Warren Buffet tersebut sangat sederhana, tidak rumit tapi
membutuhkan mental dan kesabaran ekstra. Pertanyaannya, bagaimana cara ia melakukannya?
Berikut ini adalah beberapa strategi yang dapat Anda lakukan bila ingin mengikuti jejak sang
maestro Warren Buffet.
Intinya strategi investasi yang digunakan Warren Buffet sebenarnya sangat sederhana. Caranya
Anda membeli saham perusahaan yang Anda anggap memiliki prospek. Tidak peduli saham
itu nilainya turun, indeks anjlok, selama Anda yakin pada prospek perusahaan tersebut, saham itu
Anda kempit terus sampai tua, bahkan kalau perlu bisa menjadi warisan untuk anak cucu. Warren
Buffet cenderung mencari perusahaan yang bisa memberikan keuntungan di saat pasar saham
bullish atau bearish. Atau lebih Karena itu portofolio banyak
Setelah membeli saham, dan yakin pada prospek perusahaan
tersebut, Warren Buffet tidak tergesa menjual saham tersebut.
Ia menahannya sebagai investasi jangka panjang. Sebagai
contoh iaa membeli saham Coca-Cola dan tidak pernah
menjualnya, walau saham Coca-Cola sempat jatuh pada tahun
1998-1999, ia tetap melihat pada tren jangka panjang dan tetap
mempertahankan saham Coca-Cola hingga saat ini.
Dia tak ingin dipusingkan oleh fluktuasi saham yang tiap
hari terjadi di pasar saham. Warren Buffet fokus untuk
membeli saham perusahaan yang punya potensi untuk
berkembang, tetapi masih berharga murah untuk dibeli. Dengan
demikian, langkah investasi Buffet sangat berbeda dari para spekulan atau trader. Seorang
spekulan saham biasanya membeli saat harga rendah, berharap dan menunggu, lalu jual kembali
saat harga tinggi. Spekulan saham lebih fokus bermain untuk jangka pendek dan mendapatkan
keuntungan berupa selisih dari harga jual dikurangi harga beli.

Keputusan Buffet melakukan investasi didasarkan pada nilai fundamental perusahaan, dalam
arti dapur perusahaan itu masih mengepul dengan baik, tidak pada kenaikan harga saham yang
didongkrak alias digoreng. Warren Buffett tidak pusing dengan tabel, rumus grafis dan Analisis
Teknikal. Hal yang lebih dianalisanya adalah fundamental perusahaan tersebut. Buku favoritnya
ialah The Intelligent Investor karya Ben Graham, gurunya. Menurut Graham, berinvestasi
adalah berkenaan dengan bagaimana memahami gambaran besar, dan bukan terpaku pada detaildetail teknis. Warren Buffett memegang saham (melakukan investasi) dalam jangka panjang dan
tidak melakukan transaksi jual beli saham dalam jangka pendek.
Selain itu, Warren Buffett hanya mau berinvestasi pada perusahaan yang bisnis atau
produknya ia kenal dengan baik. Warren Buffet tidak pernah menggunakan prinsip membeli
saham tetapi membeli bisnis (buying a business not share). Dengan demikian mindsetnya
adalah investasi, bukan spekulasi. Trader menganggap saham sebagai barang dagangan,
sedangkan investor sejati menganggap saham sebagai bisnis. Karena prinsip itu pula Buffet tidak
pernah mau membeli saham Microsoft atau perusahaan dotcom. Saat terjadi eforia perusahaan
dotcom, Buffet tidak bergeming, sehingga ia pernah ditertawakan investor lain karena ia tidak
mau membeli saham dotcom seperti yang lainnya. Sekarang justru ia yang tertawa paling akhir
karena ternyata sebagian besar investasi di dotcom tersebut hangus. Ia selamat dari badai dotcom
awal tahun 2.000-an karena ia tidak mengenal bisnis dotcom dan oleh karenanya tidak
berinvestasi di sana.
Warren Buffet biasanya hanya membeli saham perusahaan yang memiliki keunggulan
tertentu (competitive advantage). Buffet cenderung menghindari perusahaan yang produknya
tidak bisa dibedakan dengan kompetitor lain. Karena itu portofolio Buffet terdiri saham-saham
yang produknya menancap kuat di benak konsumen seperti Coca Cola, Anheuser-Busch,
WellFargo dan Kraft Food. Alasan itu pulalah yang membuat Buffet menghindari saham-saham
komoditas, karena memang produk komoditas di mana-mana sama saja.
Terakhir, Warren Buffet berusaha mencari saham yang harganya terbilang murah
dibandingkan dengan potensinya. Buffet akan mencari saham yang undervalued dan berusaha
membeli di harga yang cukup terdiskon. Untuk memeriksa apakah saham berharga murah atau
mahal, investor harus menentukan nilai intrinsik perusahaan dengan menganalisis sejumlah
fundamental bisnis, termasuk pendapatan, pendapatan dan aset, termasuk nilai dari sebuah nama
merek.

Apabila Anda mengikuti perkembangan berita ekonomi terkini mengenai


Indonesia, mungkin sebagian dari Anda mulai bertanya apakah ekonomi
saat ini sedang lesu. Bagaimana pun juga, siklus bisnis mau pun siklus
investasi pasti terpengaruh oleh faktor risiko pasar. Namun, dampak
langsung mau pun tidak langsung akan berbeda-beda bagi setiap rumah
tangga, tergantung pada pilihan racikan pengelolaan asetnya. Seperti
apakah pengelolaan investasi di masa seperti sekarang ini? Berikut
tipsnya.

Secara umum, definisi ekonomi lesu adalah pertumbuhan ekonomi yang dibawah 5% dalam
rentang setahun. Hingga, kuartal I tahun 2015 atau bulan Maret lalu, ekonomi Indonesia ternyata
hanya bertumbuh sebesar 4.67% sejak kuartal I tahun sebelumnya. Untuk Indonesia, faktor
utama yang menyumbang angka tersebut adalah penyerapan anggaran pemerintah yang belum
maksimal, produksi pangan yang menurun akibat mundurnya periode tanam, serta pertumbuhan
Cina yang juga tidak tinggi.
Hal ini ternyata juga mengakibatkan gejolak dalam pasar modal yang diindikasikan oleh
turunnya Indeks Harga Saham Gabungan dari level 5000an diawal tahun 2015 menjadi sekarang
di kisaran 4000an. Untuk Anda yang memiliki saham, produk reksa dana campuran, dan reksa
dana saham, pasti merasakan dampak dalam nilai investasi. Terlebih, kurs nilai mata uang
Rupiah terhadap Dolar Amerika yang melemah hingga mencapai angka terendah sejak beberapa
tahun silam. Pastinya berdampak besar terhadap pencapaian tujuan finansial Anda.
Untuk menjaga agar alokasi investasi Anda tetap sehat dan sesuai dengan tujuan finansial, maka
ada beberapa hal yang dapat dilakukan. Pertama, pahami profil risiko dan profil aset investasi
Anda. Secara umum, profil risiko investor terbagi menjadi konservatif, moderat, dan agresif.
Setiap profil risiko memiliki alokasi pembagian aset-aset investasi yang ideal.
Sebagai contoh: profil konservatif sebaiknya menempatkan 60% di dana kas, 20% di dana
campuran, dan 20% di dana saham. Coba evaluasi seperti portofolio aset Anda sat ini. Dengan
adanya perubahan nilai investasi, maka bisa jadi alokasi aset Anda sudah bergeser dari nilai
ideal. Apabila terjadi pergeseran, maka Anda dapat memindahkan nilai aset dari alokasi yang
berlebih ke jenis aset yang nilainya kurang.
Kedua, tambahkan dana darurat. Di masa gejolak seperti ini, jangan bermain-main dengan
jumlah dana darurat Anda. Pastikan saldo dana darurat dalam bentuk kas sesuai dengan

kebutuhan ideal keluarga Anda. Semakin banyak jumlah anggota keluarga dan semakin banyak
aset Anda seperti rumah dan kendaraan, maka saldo dana darurat yang dibutuhkan juga semakin
besar.
Setiap keluarga minimal punya saldo dana darurat sebesar 3 kali pengeluaran rutin bulanan. Jadi,
apabila pengeluaran rutin adalah Rp. 30 juta, maka jumlah dana darurat sebaiknya Rp. 90 juta.
Saldo ini ditempatkan di tabungan.
Ketiga, hindari spekulasi dengan menggunakan dana keluarga. Investasi merupakan sebuah
proses untuk meningkatkan nilai aset yang umumnya baru tercapai dalam jangka waktu diatas 3
tahun. Apabila Anda ingin mendapatkan keuntungan berlipat ganda dalam waktu singkat, maka
hal ini termasuk berspekulasi. Bahaya spekulasi adalah risiko yang sangat tinggi terutama jika
Anda menggunakan dana keluarga seperti untuk kebutuhan pendidikan atau lainnya.
Keempat, membeli investasi berbasis saham dengan cara investasi berkala setiap bulan.
Alokasikan sejumlah dana dari penghasilan Anda untuk dibelikan investasi yang cukup agresif.
Berita baik dari turunnya IHSG adalah Anda berkesempatkan membeli reksa dana saham dengan
harga yang murah. Kembali lagi pastikan dana ini diambil dari penghasilan, dan baru akan
digunakan dalam 3 tahun kedepan atau lebih.
Demikianlah beberapa tips mengelola investasi disaat perekonomian yang sedang bergejolak.
Tetapkan apa tujuan finansial Anda, periksa profil risiko Anda sebagai investor, dan selalu
monitor perkembangan investasinya. Secara berkala, konsultasikan hasilnya dengan seorang
perencana keuangan agar dapat mendampingi Anda dan keluarga untuk mencapai berbagai
rencana masa depan. Live a Beautiful Life!

Strategi Investasi ; Strategi Pasif dan Strategi Aktif


Strategi investasi umumnya ada dua macam, yaitu strategi aktif (active strategy)
dan strategi pasif (passive strategy). Seperti yang dijelaskan oleh Tandelilin
(2001:199) ada dua strategi yang dapat dilakukan investor dalam pembentukan
portofolio, yaitu sebagai berikut. 1. Strategi pasif Merupakan tindakan investor yang
cenderung pasif dalam berinvestasi dalam saham dan hanya mendasarkan
pergerakan sahamnya pada pergerakan indeks pasar. Strategi pasif mendasarkan
diri pada asumsi bahwa (a) pasar modal tidak melakukan mispricing, dan (b)
meskipun terjadi mispricing, para pemodal berpendapat bahwa mereka tidak bisa
mengidentifikasikan dan memanfaatkannya. Tujuan dari strategi pasif ini adalah
memperoleh return portofolio sebesar return indeks pasar dengan menekankan
seminimal mungkin risiko dan biaya investasi yang harus dikeluarkan. Ada dua
macam strategi pasif yaitu sebagai berikut. a. Strategi beli dan simpan maksudnya
adalah investor melakukan pembelian sejumlah saham dan tetap memegangnya
untuk beberapa waktu tertentu. Tujuan dilakukannya strategi ini adalah untuk
menghindari biaya transaksi dan biaya tambahan lainnya yang biasanya terlalu
tinggi. b. Strategi mengikuti indeks merupakan strategi yang digambarkan sebagai
pembelian instrumen reksadana atau dana pensiun oleh investor. Dalam hal ini
investor berharap bahwa kinerja investasinya pada kumpulan saham dalam
instrumen reksadana sudah merupakan duplikasi dari kinerja indeks pasar. Dengan
kata lain investor berharap memperolah return yang sebanding dengan return
pasar. 2. Strategi aktif Merupakan tindakan investor secara aktif dalam melakukan
pemilihan dan jual beli saham, mencari informasi, mengikuti waktu dan pergerakan
harga saham serta berbagai mendapatkan return abnormal. Tujuan strategi aktif ini
adalah mendapatkan return portofolio saham yang melebihi return portofolio saham
yang diperoleh dari strategi pasif. Ada tiga strategi yang biasa dipakai investor
dalam menjalankan strategi aktif portofolio saham. a. Pemilihan saham maksudnya
adalah para investor secara aktif melakukan analisis pemilihan saham-saham
terbaik, yaitu saham yang memberikan hubungan tingkat return dan risiko yang
terbaik dibandingkan dengan alternative lainnya. Analisis ini mendasarkan pada
pendekatan analisis fundamental guna mengetahui prospek saham tersebut pada
masa datang. b. Rotasi sektor, maksudnya investor dapat melakukan strategi ini

dengan dua cara, yaitu sebagai berikut. (a) Melakukan investasi pada sahamsaham
yang bergerak pada sector tertentu untuk mengantisipasi perubahan siklis ekonomi
di kemudian hari. (b) Melakukan modifikasi atau perubahan terhadap bobot
portofolio saham-saham pada sektor industri yang berbeda-beda. (c) Strategi
momentum harga menyatakan bahwa pada waktuwaktu tertentu harga pasar
saham akan merefleksikan pergerakan earning ataupun pertumbuhan perusahaan.
Dalam hal ini investor akan mencari waktu yang tepat, pada saat perubahan harga
yang terjadi bisa memberikan tingkat keuntungan bagi investor melalui tindakan
menjual atau membeli saham. Cahyono (2002: 219) berpendapat bahwa dalam
dunia nyata tidak ada pasar yang efisien sempurna. Salah satu sebabnya adalah
karena adanya partisipasi pemodal ritel yang dalam berinvestasi sering melibatkan
emosi, terpengaruh suasana, dan lain-lain.
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke
Pinterest