Anda di halaman 1dari 22

taksonomi tumbuhan adalah ilmu yang mempelajari penelusuran, penyimpanan contoh,

pemerian, pengenalan (identifikasi), pengelompokan (klasifikasi), dan penamaan tumbuhan.


Ilmu ini merupakan cabang dari taksonomi.
Taksonomi tumbuhan (juga hewan) sering kali dikacaukan dengan sistematika tumbuhan dan
klasifikasi tumbuhan. Klasifikasi tumbuhan adalah bagian dari taksonomi tumbuhan.
Sistematika tumbuhan adalah ilmu yang berkaitan sangat erat dengan taksonomi tumbuhan.
Namun, sistematika tumbuhan lebih banyak mempelajari hubungan tumbuhan dengan proses
evolusinya. Dalam sistematika bantuan ilmu seperti filogeni dan kladistika banyak berperan.
Di sisi lain, taksonomi tumbuhan lebih banyak mempelajari aspek penanganan sampelsampel (spesimen) tumbuhan dan pengelompokan (klasifikasi) berdasarkan contoh-contoh
ini.
Ilmu taksonomi tumbuhan mengalami banyak perubahan cepat semenjak digunakannya
berbagai teknik biologi molekular dalam berbagai kajiannya. Pengelompokan spesies ke
dalam berbagai takson sering kali berubah-ubah tergantung dari sistem klasifikasinya.

Klasifikasi
1. Klasifikasi tumbuhan adalah pembentukan kelompok-kelompok dari seluruh
tumbuhan yang ada di bumi ini hingga dapat disusun takson-takson secara teratur
mengikuti suatu hierarki.
2. Sifat-sifat yang dijadikan dasar dalam mengadakan klasifikasi berbeda-beda
tergantung orang yang mengadakan klasifikasi dan tujuan yang ingin dicapai dengan
pengklasifikasian itu.
3. Takson yang terdapat pada tingkat takson (kategori) yang lebih rendah mempunyai
kesamaan sifat lebih banyak daripada takson yang terdapat pada tingkat takson
(kategori) di atasnya.
4. Perbedaan antara istilah takson dengan kategori yaitu istilah takson yang ditekankan
adalah pengertian unit atau kelompok yang mana pun, sedangkan istilah kategori yang
ditekankan adalah tingkat atau kedudukan golongan dalam suatu hierarki tertentu.
5. Dalam taksonomi tumbuhan istilah yang digunakan untuk menyebutkan suatu nama
takson sekaligus menunjukkan pula tingkat takson (kategori).
6. Ada tiga sistem klasifikasi dalam taksonomi tumbuhan yaitu sistem klasifikasi buatan,
sistem klasifikasi alam, dan sistem klasifikasi filogenetik.
7. Berdasarkan sejarah perkembangannya ketiga sistem klasifikasi tersebut dibagi
menjadi empat periode yaitu periode sistem habitus, periode sistem numerik, periode
sistem alam, dan periode sistem filogenetik.

Identifikasi

Identifikasi tumbuhan adalah menentukan namanya yang


benar dan tempatnya yang tepat dalam sistem klasifikasi.
1. Tumbuhan yang akan diidentifikasikan mungkin belum dikenal oleh dunia ilmu
pengetahuan (belum ada nama ilmiahnya), atau mungkin sudah dikenal oleh dunia
ilmu pengetahuan.
2. Penentuan nama baru dan penentuan tingkat-tingkat takson harus mengikuti aturan
yang ada dalam KITT.
3. Prosedur identifikasi tumbuhan yang untuk pertama kali akan diperkenalkan ke dunia
ilmiah memerlukan bekal ilmu pengetahuan yang mendalam tentang isi KITT.
4. Untuk identifikasi tumbuhan yang telah dikenal oleh dunia ilmu pengetahuan,
memerlukan sarana antara lain bantuan orang, spesimen herbarium, buku-buku flora
dan monografi, kunci identifikasi dan lembar identifikasi jenis.
5. Flora adalah suatu bentuk karya taksonomi tumbuhan yang memuat jenis-jenis
tumbuhan yang ditemukan dalam suatu wilayah tertentu.
6. Monografi adalah suatu bentuk karya taksonomi tumbuhan yang memuat jenis-jenis
tumbuhan yang tergolong dalam kategori tertentu. baik yang terbatas pada suatu
wilayah tertentu saja maupun yang terdapat di seluruh dunia.
7. Kunci identifikasi merupakan serentetan pertanyaan-pertanyaan yang jawabnya harus
ditemukan pada spesimen yang akan diidentifikasi.
8. Bila semua pertanyaan berturut-turut dalam kunci identifikasi ditemukan jawabnya,
berarti nama serta tempatnya dalam sistem klasifikasi tumbuhan yang akan
diidentifikasi dapat diketahui.
9. Lembar Identifikasi Jenis adalah sebuah gambar suatu jenis tumbuhan yang disertai
dengan nama klasifikasi jenis yang bersangkutan.
*

Klasifikasi mengandung dua pengertian yaitu proses klasifikasi dan produk dari proses
klasifikasi berupa system klasifikasi.
TUJUAN KLASIFIKASI
Klasifikasi ini mempunyai tujuan:
1. Untuk mencapai kemudahan
2. Efisiensi dalam mengingat (Economy of memory), klasifikasi bertujuan untuk
menginat sesedikit mungkin, tetapi dalam ingatan tersebut mengandung informasi
sebanyak-banyaknya

3. Penyimpan informasi yang dapat dipanggil kembali


4. Sebagai alat untuk memprediksi
5. Membantu dalam Identifikasi
6. Menunjukkan jauh dekatnya hubungan kekerabatan
TAKSONOMI NUMERIK
Salah satu cara pendekatan dalam klasifikasi tumbuhan adalah dengan menggunakan
taksonomi numerik. Istilah taksonomi numerik (numerical taxonomy) atau taxometrics
diciptakan oleh Sokal dan Sneath (1963). Taksonomi numerik muncul secara kebetulan
bersama-sama dengan pendekatan fenetik dalam klasifikasi tumbuhan. Oleh sebab itu muncul
pendapat bahwa kedua pendekatan ini sama, padahal tidak demikian. Sebab taksonomi
numerik tidak menghasilkan data baru, bukan pula sistem pendekatan baru, tetapi metode
baru dalam pengorganisasian data, dan biasanya dengan bantuan komputer, sehingga
taksonomi numerik bisa digunakan dalam menentukan hubungan kekerabatan dalam
pendekatan fenetik (Stace, 1980)
Tingkatan taksa terendah yang diteliti dalam taksonomi numerik dinamakan Operational
Taxonomic Units (OTUs). Matriks data yang diperlukan dalam metode fenetik merupakan
persilangan antara sifat ciri dengan setiap OTU. Agar dapat dilakukan analisis dengan
komputer, matriks data tersebut harus dalam bentuk numerik.
ANALISIS FENETIK
Tidak semua ahli taksonomi merasa puas dengan adanya pendekatan secara filogenetik.
Beberapa ahli seperti Sokal dan Sneath, memandang pendekatan ini terlalu subyektif. Sebagai
bukti mereka menyebutkan, ahli taksonomi yang berbeda membuat klasifikasi yang berbeda
untuk mahluk hidup yang sama. Faktor subyektifitas dari sistem filogenetik juga tampak
dalam pemilihan ciri-ciri taksonomi yang akan dibandingkan.
Usaha untuk menghindari atau setidak-tidaknya mengurangi sifat subyektifitas ini, khususnya
dalam mengelompokkan mahluk hidup ditempuh antara lain dengan : (1) diusahakan
menggunakan ciri-ciri taksonomi sebanyak-banyaknya; (2) deskripsi maupun cara
pengukuran dari ciri-ciri tersebut dibuat sejelas dan setepat mungkin; (3) membandingkan
ciri-ciri taksonomi setepat mungkin, yaitu secara kuantitatif (Rideng, 1989).
Pandangan tersebut telah melahirkan pendekatan fenetik. Fenetik didasarkan pada konsep
bahwa hubungan kekerabatan diantara mahluk hidup didasarkan atas jumlah derajat
persamaan yang ada.
Gagasan fenetik ini diperkenalkan oleh Adanson pada abad ke-18. Para peneliti seperti
Michener, Sokal, Sneath, Cain, dan Harrison mulai memperkenalkan metode komputer dasar
untuk menghitung derajat kesamaan dan untuk mengelompokkan taksa menggunakan metode
kuantitatif (Jones and Luchsinger, 1987).
Berbagai metode telah dikembangkan, misalnya metode numerik untuk mengukur derajat
persamaan diantara taksa yang ada. Untuk mempermudah pengolahan data dari metode

numerik ini diperlukan suatu perangkat lunak, perangkat lunak (program) yang biasa
digunakan adalah Systat versi 3.0 (Rahayu, 2002), NTSYSpc versi 2.0 (Rohlf,1998; GenglerNowak, 2002).
NTSYSpc Version 2.0
NTSYSpc merupakan program yang digunakan untuk mencari dan menampilkan suatu
struktur dalam data multivariate. Program ini pertama kali dibuat untuk digunakan pada
bidang ilmu biologi, khususnya pada bidang taksonomi numerik (NTSYS=Numerical
Taxonomy SYStem). Tetapi kemudian penggunaan program ini mulai digunakan untuk
morfometrik, ekologi, dan untuk beberapa disiplin ilmu alam, teknik, dan sosial.
Pada kajian biosistematik, terdapat dua pendekatan yang berbeda dalam klasifikasi, yaitu
pendekatan fenetik dan kladistik. Fenetik lebih menekankan pada pola deskriptif dari
keanekaragaman hayati dan mengklasifikasikan berdasarkan derajat kesamaannya yang
dihitung dari data multivariate. Sedangkan kladistik merupakan pendekatan klasifikasi
melalui sejarah evolusi dari organisme (Rohlf, 1998).
NTSYSpc version 2.0 dapat digunakan untuk menghitung penilaian-penilaian yang beragam
dari kesamaan (similarity) ataupun ketidaksamaan (dissimilarity) antar abjek yang diteliti
(OTUs, individu, spesimen, kuadrat, dan lain-lain) kemudian menyusunnya dalam suatu
kesatuan berdasarkan kesamaannya (cluster analysis), atau dalam suatu ruang dalam satu atau
lebih sumbu ordinat (ordination analysis / multidimensional scale analysis).
Analisis fenetik dengan program NTSYSpc version 2.0 ini dapat menghasilkan suatu
dendrogram yang menggambarkan sejauh mana hubungan kekerabatan antar objek yang
diteliti.
*

. Periode sistem numerik


Periode ini terjadi pada permulaan abad ke 18, yang ditandai dengan sifat sistem yang murni
artifisial, yang sengaja dibuat sebagai sarana pembantu dalam identifikas tumbuhan. Sistem
ini tidak menggunakan bentuk dan tekstur tumbuhan sebagai dasar utama pengklasifikasian.
Tetapi pengambilan kesimpulan mengenai kekerabatan antara tumbuhan.
Dalam periode ini tokoh yang paling menonjol adalah Karl Linne (Carolus Linneaus)
Dibawah bimbingan Dr. Rudbeck ia menerbitkan karyanya yang pertama kali mengenai
seksualitas tumbuhan. Setelah menjadi dosen ia menerbitkan karyanya yang berjudul Hortus
Uplandikus yang memuat nama-nama semua tumbuhan yang terdapat dikebunraya di Upsala,
yang susunannya mengikuti sistem de Tournefort. karena jumlah tumbuhan dikebun raya tadi
makin besr jumlahnya maka linneaus menerbitkaan Hortus Uplandikus edisi baru yang
disusun menurut ciptaannya sendiri yang dikenal sebagai Sistema Sexsuale atau sistem
seksual. Doktor Gronovius seorang dokter dan naturalis, begitu oleh Linneaus, dan Lawson
menawarkan kepada Linneaus untuk membiayai penerbitan naskahnya yaitu Sistema Naturae
yang memuat dasar-dasar pengklasifikasian tumbuhan hewan dan mineral. Selama tahun
1737 sewaktu dinegeri Belanda karya Linneaus yang diterbitkan berjudul Genera Plantarum
dan Flora Lavonica sambil menunggu pencetakan naskah-naskah itu Linneaus diberi

kesempatan oleh Clifford untuk berkunjung ke Inggris, dan sekembalinya dari Inggris selama
sembilan bulan ia menyiapkan naskah Hortus Cliffortianus yang berisi jenis-jenis tumbuhan
yang dipelihara dalam kebunnya Clifford selama tiga tahun di Belanda dari tahun 1737
sampai 1739 merupakan masa yang paling produktif bagi Linneaus. Kurang lebih ada 14
judul tulisannya terbit waktu itu, yang sebagian besar telah dipersiapkan ketika ia masih di
Swedia.
Setelah kembali lagi ke Swedia tidak lagi terbit karyanya yang berarti dari linneaus selain
spesies plantarum yang terbit 1 mei 1753. Pada tahun 1775 ia mengundurkan diri sebagai
guru besar dan tiga tahun kemudian meninggal dunia setelah menderita sakit selama kurang
lebih 2 tahun (10 januari 1778).
Sistem klasifikasi tumbuhan yang diciptakan oleh Linnaeus masih dikategorikan sebagai
sistem artivisial. Nama Sistema Sexsuale untuk sistem yang diciptakan sebenarnya tidak
begitu tepat karena pada dasarnya sistem ini tidak ditekankan pada masalah jenis kelamin,
tetapi pada kesamaan jumlah alat-alat kelamin seperti jumlah benangsari. Nama-nama
golongan tumbuhan yang diciptakan oleh linnaeus seperti monandria (berbenang sari
tunggal), diandria (berbenangsari dua), triandria berbenangsari tiga dan seterusnya. Itulah
sebabnya sistem klasifikasi tumbuhan ciptaan Linnaeus dikenal pula sebagai sistem numerik.
Ciptaan Linnaeus ini meupakan sistem yang dinilai revolusioner untuk masa itu, dan
memberikan pengaruh yang lebih besar dari pada sumbangan linnaeus yang lain,dan sistem
ini sengaja dirancang sebagai alat bantu dalam mengidentifikasi tumbuhan dan ia juga
dianggap sebagai pencipta sistem tatanama ganda yang ia terapkan dalam bukunya Species
plantarum yang diterbitkan pada tanggal 1 mei 1753 yang menjadi pangkal tolak berlakunya
tatanama tumbuhan yang diakui.
Sesungguhnya linnaeus dianggap tidak tepat bila ia sebagai pencipta tatanama ganda.
Sebelum linnaeus, sistem tatanama ganda telah dirintis oleh caspar bauhin, yang dalam tahun
1623 dalam bukunya pinax theatri botanici telah menerapkan sistem tatanama ganda pada
tumbuhan. Karena besar jasa-jasa yang diberikan oleh linnaeus bagi perkembangan
taksonomi umumnya dan taksonomi tumbuha n khususnya bagi dunia ilmu hayat linnaeus
mendapatkan gelar sebagai bapak taksonomi baik hewan maupun tumbuhan dan juga
mendapat pengakuan dari negara yang diberikan oleh raja swedia yang mengangkat linnaeus
ke jenjang bangsawan, sehingga nama karl linne diubah menjadi karl von linne. Linneaus
juga berperan penting dalam taksonomi tumbuhan yang membangkitkan minat dan semangat
siswa yang kemudian beberapa diantaranya menjadi tokoh seperti gurunya.
a. Peter Kalm ( 1716 1779)
Yaitu salah seorang murid linnaeus yang berkebangsaan swedia yaitu sebagai kolektor dan
penjelajah dengan ekspedisinya ke finlandia dan rusia.
b. F. Hasselquist ( 1722 1752 )
Yaitu salah satu murid favrite linnaeus yang selama 2 tahun mengadakan koleksi di timur
tengah. Ia mengkoleksi tumbuhan asli dari Palestina, Arab, Mesir, Suriah dan Smyrna.
c. P Forskal ( 1731 1760 )

Yaitu salah satu murid Linnaeus dari Finlandia yang pernah terpaksa berpakaian sebagai
petani untuk menghindari penganiayaan orang-orang badui ketika mengadakan ekspedisi dari
Denmark, dari koleksi Forskal inilah Linnaeus dapat mengetahui flora Mesir, terutama yag
ada disekiatar Kairo.
d. C.P. Thunberg ( 1743- 1828)
Yaitu murid Linnaeus yang telah menulis dua buku flora dari sejumlah besar karya karya
ilmiah lainnya. Ia pernah mengadakan koleksi didaerah tanjung harapan di Afrika Selatan dan
menemukan sekitar 300 jenis tumbuahan yang baru untuk ilmu pengetahuan.
e. J.A Murray ( 1740- 1791)
Yaitu salah seorang murid Linnaeus yang sangat pandai, yang kemudian menjadi guru besar
di Universitas Goningen, Jerman barat, penerbit karya Linnaeus system vegetabilum edisi ke
13,14,dan 15. Ia juga menulis berbagai publikasi dalam bidang tumbuhan.
f. J. Roemer ( 1763- 1819)
Yairu seorang guru besar di Zurich,Swis, yang bersama schules menerbitkan karya linnaeus
systema vegetbilum edisi 16.
g. CL.WILDENOW ( 1765- 1812)
Adalah guru besar dalam ilmu hayat di Universitas Berlin dan direktur kebun raya Berlin,
yang bertindak pula sebagai penyunting (editor) species plantarum edisi ke-IV yang ditulis
kembali dan diperluas.
h. J.Schultes (1773- 1831)
Yaitu guru besar di Wina dan di universitas lain, penulis flora austria dan bersama-sama
roemer menerbitkan karya Linnaeus systema vegetabilum edisi 16.
Setelah meninggalnya linnaeus pada tahun 1783, koleksi tersebut dibeli oleh J.E.Smith
(1758-1828) yang akhirnya dijual tiga kali lipat kepada himpunan Linnaeus d London
(linnean society of London) yang memiliki seluruh koleksi Linneaus dan menyimpannya
hingga sekarang.
3. Periode sistem klasifikasi yang didasarkan atas kesamman bentuk atau sistem
alam,dari kira-kira akhir abad ke-18 sampai pertengahan abad ke-19
Menjelang berakhirnya abad ke-18 terjadi perubahan-perubahan yang revolusioner dalam
pengklasifikasiaan tumbuhan. Sistem klasifikasi yang baru ini disebut sistem alam yaitu
golongan yang terbentuk merupakan unit-unit ynag wajar (natural) bila terdiri dari anggotaanggota itu,dan dengan demikian dapat tercermin pengertian manusia mengenai yang disebut
yang dikehendaki oleh alam. Secara harfiah istilah sistem alam untuk aliran baru dalam
klasifikasi ini tidak begitu tepat karena pada hakekatnya semua sistem klasifikasi adalah
sistem buatan. Untuk sitem klasifikasi yang digunakan dalam periode ini, digunakan nama
sistem alam (natural system) dengan maksud untuk memenuhi keinginan manusia akan
adanya penataan yang tepat yang lebih baik dari sistem-sistem sebelumnya.

Dalam periode ini tokoh-tokoh yang dikemukakan dalam periode ini adalah
a. M.Adanson ( 1727- 1806)
Yaitu seorang ahli tumbuhan berkebangsaan Perancis dan seorang anggota akademi ilmu
pengetahuan di Universitasa Sorbonne,Paris. Yaitu ia menolak semua sistem artifisial,
menggantikan dengan sistem alam, ia termasuk orang yang pertama-tama mengadakan
eksplorasi tumbuhandidaerah tropika yang dalam bukunya families des plantes ia telah
membedakan dan mendeskripsi unit unit pada waktu sekarang setar dengan yang kita kenal
sebgai bangsa (ordo) dan suku ( familia).
b. G.C. Oeders (1728- 1791)
Seorang ahi tumbuhan berkebangsaan denmark yang antara lain telah menulis flora Sleeswijk
Holstein dan Denmark.
c. J.R. de Lamarck (1744-1829)
Seorang ahli ilmu hayat berkebangsaan Perancis,yang bagi para ahli taksonomi tumbuhan
dikenal sebagai penulis flora francoise yang ditulis berupa kunci untuk pengidentifiasian
tumbuh-tumbuhan diperncis, dan Lamarck juga dikenal sebgai penulis fhilosophie zoologique
dan echele animale dan dianggap sebagai slaha seorang perintis lahirnya teori evolusi.
Teorinya dikenal dengan nama lamarckisme, yang menyatakan perubahan lingkungan yang
dapat mengubah struktur organisme, menimbulkan yang herediter sering menjadi bahan
ejekan dikalangan ahli ilmu hayat.
d. De Jussieu bersaudara Antoine de jussie ( 1686- 1758)
Benard de jussie (1699-1776), joseph de jussieu (1704-1779). Tiga saudara de jussie yang
merupakan putera-puteri seorang apoteker di Lyon. Perancis. Yang ketiga-tiganya kemudian
menjadi ahli taksonomi tumbuhan yang bernama Antoine dan Benard adalah murid Pierre
Magnol (1638-1715) yang menjadi guru besar dan direktur kebun raya di mompellier.
Perancis. Benard menyusun kembali klasifikasi menurut sistem ciptaannya sendiri,tetapi
banyak kemiripannya dengan sistem linnaeus yang ditetapkan dalam karyanya yang berjudul
fragmenta methodi naturalis dan sistem ray dalam bukunya methodue plantarum benard
membagi tumbuhan bangsa dalam tumbuhan biji tunggal dan tumbuhan biji belah, dan
diadakan pembagian lebih lanjut mengenai kedudukan bakal buah, ada atau tidaknya mahkota
bunga,dan ada tidaknya pelekatan daun-daun mahkota bunga.
e. Joseph (1709-1779)
Yang termuda dari ketiga De jussieu bersaudara ini tinggal bertahun-tahun di Amerika
Selatan untuk studi dan pembuatan koleksi.
f. All de Jussieu (1748-1836)
Telah mempublikasikan karyanya yang pertama yang memuat suatu sistem klasifikasi
tumbuhan yang baru. Saran klasifikasi tumbuhan dari De jussie adalah sebagai berikut:

i. Acotyledoneae terdiri atas satu kelas dengan 6 suku fungi, algae, hepaticae, musci, filices,
njades.
ii. Monocotyledoneae terdiri atas 3 kelas dengan 16 suku .
iii. Dicotyledoeae yang terbagi dalam
Monoclinae yang dibag lagi dalam 3 golongan
a. apetalae terdiri atas 3 kelas dengan 11 suku
b. monopetalae terdiri atas 4 kelas dengan 25 suku
c. polypetalae terdiri atas 3 kelas dengan 57 suku
Diclinae terdiri atas 1 kelas dengan 5 suku
All. de jussie menjadi guru besar yang dikenal sebagai DE CANDOLLE, nama ini
merupakan nama keluarga yang tiga generasi berturut-turut menghasilkan tokoh-tokok yang
sangat mashur dalam dunia ilmu tumbuhan, khususnya taksonomi. Mereka itu adalah :
a. Augustin Pyramus De Candolle (1778-1841)
Yang adalah murid R.L Desfontaines (1752-1833 yang bertahun-tahun menjabat Guru Besar
ilmu tumbuhan di Paris dan direktur Kebun Raya di sana, penulis Flora Atlantica dan
berbagai publikasi lainnya. DE CANDOLLE sendiri kemudian menjadi Guru Besar di
Montpellier (Prancis) dan akhirnya di Geneva (swiss). Ia menjadi sangat mashur sebagai
pemrakarsa dan penulis sepuluh jilid pertama sebuah karya monumental yang berjudul
Prodromus SystematisNatural Regni Vegetabilis, previsi edisi ke-III karya Lamarck Flora
Francoise, dan pencipta system klasifikasi tumbuhan disebut menurut namanya (system de
Candolle), yang banyak hal mirip sistemnya de Jussieu, tetapi jauh lebih luas. Ia juga
berpendapat, bahwa sifat-sifat anatomi dapat dijadikan dasar klasifikasi yang lebih kuat dari
pada sifat-aifat fisiologi. Garis besar system klasifikasi de Candolle adalah sebagai berikut :
I. Kelas Dicotyledoneae (exogenae)
1. Anak kelas thalamiflorae, yang terdiri atas 4 kohor dan 51 marga
2. Anak kelas Calicyflorae, yang terdiri atads 64 marga
3. Anak kelas Corolliflorae dengan 23 marga
4. Anak kelas Monochlamydeae dengan 20 bangsa
II. Kelas Monocotyledonea (Endogenae)
1. Anak kelas Phanerogamae dengan 21 marga
2. Anak kelas Cryptogamae dengan 5 bangsa
III. Kelas Acotyledonae (Cellulares)

1. Anak kelas Foliaceae, yang mencakup Musci dan Hepaticae.


2. Anak kelas Aphyllae, yang meliputi Lichenes, HIpoxyla, Fungi dan Algae.
b. Alphonso De Candolle (1806-1893)
Anak Augustin de Candolle yang menyelesaikan tugas ayahnya, sehingga Prodromus yang
tersisa itu ditulis oleh spesialis-spesialis dengan Alpohso de candolle sebagai penyuntingnya.
Ia sendiri menulis jilid pertama buku-buku Suites au Prodromus dan penyunting kelima jilid
buku-buku yang merupakan kelanjutan Prodromus yang diprakarsai ayahnya.
c. Casimir De Candolle (1838-1918)
Adalah anak Alfonso yang menulis berbagai monografi antara lain tentang Meliaceae dan
Piperaceae, dan bertindak sebagai editor untuk menyrlesaikan keempat jilid Suites au
Prodromus yang masih tersisa.
d. Robert Brown (1773-1858)
Adalah kolektor tumbuhan dan penulis publikasi yang penting. Sekalipun ia sendiri tidak
menciptakan suatu system klasifikasi, tetapi karya-karyanya mempunyai pengaruh yang besar
terhadap system-sistem klasifikasi yang diciptakankemudian. Ia telah menunjukan bahwa
Gymnospermae adalah golongan tumbuhan yang ditandai dengan adanya bakal biji yang
telanjang dan harus dipisahkan dari angiospermae. Ia juga orang pertana yang menjelaskan
morfologi bunga dan penyerbukan pada asclepiadeaceae dan Polygalaceae. Ia pun dikenal
sebagai penemu suatu fenomenon yang hingga sekarang kita kenal sebagai gerakan Brown
e. John Llindley (1799-1865)
Adalah Guru Besar ilmu Tumbuhan di London. Ia sangat tenar dengan ahli Anggerik. Ia
mengusulkan suatu system klasifikasi yang didasarkan atas aspek-aspek terbaik yang ia ambil
dari para pendahulunya. System Lindley merupakan system alam yang pertama yang secara
luas digunakan Inggris dan Amerika, antara lain juga merupakan system klasifikasi alam
yang paling komprehensif yang ditulis dalam bahasa inggris.
f. Brongniart (1801-1847)
Adalah Guru Besar ilmu Tumbuhan dan anggota Akademik Ilmu Pengetahuan di Paris dan
merupakan seorang ahli paleobotani dan taksonomi. Sebagai penulis sejumlah besar karyakarya dalam ilmu tumbuhan, ia antara lain mengusulkan suatu system klasifikasi tumbuhan
sebagai berikut :
I. Cryptogamae
1. Amphigenes (Algae, fungie, lichenes)
2. Aerogenes (Musci, Cryptogamae beberkas angkutan dan characeae)
II. {Phanerogamae)
1. Monocotyledonae

b. Perispermae
c. Aperispermae
2. Dicotyledonae
A. Angiospermae
a) Gamopetalae
b) Dialypetalae
B. Gymnospermae
Letak kelemahan system Brongniart ini
gymospermaedalam lingkungan Dicotyledonae

adalah

penempatan

angiospermae

dan

g. St. L. Endlicher (1804-1849)


Adalah Guru besar Ilmu Tumbuhan, Direktur Kebun Raya dan Museum Botani di Wina. Dari
sekian banyak publikasinya, ia tercatat sebagau salah seorang penganjur system alam yang
termuat dalam bukunya Genera Plantarum yang memuat 8835 marga yang 6235di antaranya
adalah dari tumbuhan berberkas angkutan. System klasifikasinya yang termuat dalam General
Plantarum itu terbit kira-kira pada masa yang bersamaan dengan terbitnya system bronkniart,
dan dianggap sebagai salah satu sumbangan yang besar dalam sejarah klasifikasi tumbuhan.
Endlicher mengklasifikasikan tumbuhsn sebagai berikut :
Region I Thallophyta
Sectio 1. Protophyta (Algaedan Lichenes)
SEctio 2. HYsterophita (fungi)
Regiopn II Cormophyta
SEctio 3. Acrobrya
Kohor 1. Acrybrya anophyta (Hepaticae dan Musci) Kohor 2. Acrybrya protophyta
(calamariae, felices,
hidropterides)
Kohor 3. Acrobrya Hysterophyta (Rhizantheae)
Sectio 4. Ampibrya (Monocotiledonae)
Sectio 5. Acramphibrya
Kohor 1. Gymnospermae
Kohor 2. Apetalae

Kohor 3. Gamepetalae
Kohor 4. Dialypetalae
h. G. Benmtham (1800-1884) dan J. D Hooker (1817-1911)
George Bentham pada mulanya adalah seorang amatir, tetapi setelah mencapai usia separuh
baya telah memberikan sepenuh perhatiannya kepada Ilmu taksonomi tumbuhan. Ia menjadi
ahli taksonomi yang sangat mashur, disamping itu juga ahli bahasa dan menguasai bahasa
latin dengan baik, dan penulis berbagai karya dalam bidang taksonomi tumbuhan, antara lain
Flora of Australia, hongkong, dan nomografi-monografi dunia untuknsejumlah suku seperti
Polygonaceae, labiatae, dll.SS
5. Periode Sistem Filogenetik dari Pertengahan abad ke 19 hingga sekarang
Teori evolusi, teori desendensd atau teori keturunan seperti yang diciptakan oleh darwin
merupakan suatru teori hingga sekarang oleh sebagian orang terutama tokoh agama masih
dianggap kontroversial dan tetap ditentang kendati ajaran itu tetap diterima dan cepat tersebar
luas dikalangan kaum ilmuan yang begitu fanatik terhadap teori ini sampai ada yang
menyatakan, bahwa evolusi bukannya teori lagi, tetapi adalah suatu aksioma yang tidak
perlu diragukan kebenarannya, dan oleh krenanya tidak perlu diperdebatkan lagi .
Sistem klasifikasi dalam periode ini berupaya untuk mengadakan penggolongan tumbuhan
yang sekaligus mencerminkan urutan - urutan golongan itu dalam sejarah perkembangan
filogenetiknya dan demikian juga menunjukan jauh dekatnya hubungan kekerabatan yang
satu dengan yang lain. Jadi dalam klasifikasi ini dasar yang digunakan adalah filogeni dan
dari sini lahirlah nama sistem filogenetik kenyataanya, bahwa kemudian muncul sistem
klasifikasi yang berbeda, membuktikan bahwa persepsi dan interpretasi para ahli biologi
mengenai yang disebut filogeni itu masih berbeda beda.
Contoh tokoh tokoh ahli taksonomi tumbuhan sebagai berikut :
a. Alexander Braun (1805 1877)
Merupakan seorang ahli tumbuhan yang dikenal sebagai pakar morfologi dan pengenal baik
Flora Eropa Tengah. Sebagai pelopor sistem filogenetik ia membedakan tumbuhan seperti
dibawah ini :
I. Tingkat Briophyta
1. Kelas Thallodae (Algae, Lichenes, Fungi)
2. Kelas Thallophyllodae (Chorinae, Muscinae)
II. Tingkat Cormophyta (Felices)
III. Tingkat Anthophyta
a. Bagian besar Gymnospermae
b. Bagian besar Angiospermae

1. Kelas Monocotyledonae
2. Kelas Dicotiledonae
1e. Apetalae
2e. Sympetalae
3e. Eleutheropetalae
b. A.W. Eichler (1839 1887)
Seorang ahli tumbuhan yang sangat termashur karena publikasinya melalui diagram
diagram bunga, dan editor Flora Braziliensis yang ditulis oleh von Martius (1794 1868),
yang waktu menjadi guru besar di Munich pernah mengambil Eichler sebagai asitennya.
Eichler juga pernah menjadi penulisbab tentang Coniferaedalam edisi pertama buku Die
Naturlichen Pllanzen familienyang diterbitkan oleh engler (1844 1930) dan K. Prantl.
Klasifikasi alam tumbuhan menurut Eichler adalah sebagai berikut :
A. Crytogamae
I. Afdeling Thallophyta
1. Kelas Algae
2. Kelas Fungi (sebagai kelompok demikian pula Lichenes)
II. Afdeling bryophyta
III. Afdeling Pterydophyta
B. Phanerogamae
I. Afdeling Gymnospermae
II. Afdeling Panerogamae
1. Kelas Monokotiledoneae
2. Kelas Dikotiledonae
c. Adolp Engler (1844-1930)
Merupakan ahli taksonomi tumbuhan yang berkebangsaan Jerman yang sangat termashur,
penulis atau editor sejumlah karya-karya dalam taksonomi yang sangat penting, antara lain
Die Naturlichen Pflanzenfamilien yang meliputi lebih dari 20 jilid dari bersama-sama dengan
K. Prantl. Sistem engler membagi alam tumbuhan dalam sejumlah Afdeling yang garis-garis
besarnya sebagai berikut :
I. Afdeling Schizophyta

II. Afdeling Phytosarcodyna


III. Afdeling Flagellatae
IV. Afdeling Diniflagellatae
V. Afdeling Bachilariophyta
VI. Afdeling Conjugate
VII. Afdeling Clorophyceae
VIII. Afdeling Charophyta
IX. Afdeling Phaeophyceae
X. Afdeling Rhodophyceae
XI. Afdeling Eumycetes
XII. Afdeling embryophyta asiphonogama
1. Sub Afdeling Bryophyita
2. Sub Afdeling Pteridophyta
XIII. Afdeling Embryophyta siphonogama
1. Sub Afdeling gymnospermae
2. Sub Afdeling Angiospermae
a. Kelas Monocotiledoneae
b. Kelas Dicotyledoneae
Salah satu penyebab mengapa engler diterima secara luas oleh ahli ahli tumbuhan ialah
karena engler dan Plantl dalam bukunya Die Naturlichen Pflanzenfamilien menerapkan
sitemnya untuk seluruh tumbuhan mulai dari Algae sampai kepada Spermatophyta. Engler
berpendapat bahwa Monocotiledoneae lebih primitif dari pada Dicotiledoneae, dan bahwa
Orchidaceae (anggrek) lebih maju dari pada Gramineae (rumput).
d. Charles E. Besseu (1845 1915)
Menjadi orang pertama yang menyajikan suatu sistem klasifikasi secara filogenetik. Ia tidak
dapat menrima hipotesi hipotesisnya Eichler dan Engler, dan sebagai ahli ilmu tumbuhan
sangat dipengaruhi masalah asalnya jenis dan teori evolusi seperti yang dikemukakan oleh
darwin dan wallace. Pada umunya sistem Bessey adalah seperti sistemnya Benthan dan
Hooker yang ditatakembali dengan menerapkan asas-asas evaluasi dengan mengubah istilah
cohor menjadi bangsa (ordo), orders menjadi suku (familia).
e. Richard Wettstein (1862 1831)

Salah seorang guru besar ilmu tumbuhan di Winadimana dalam sistem klasifikasinya
menggunakan istilah stamm untuk kategori tertinggi barangkali sering menggunakan kata
divisi. Abteilung untuk bagian stamm yang barangkali dapat dinamakan sekarang
dengan anak divisi. Selain itu dia juga masih menggunakan istilah unter abteilung yang
sekarang sukar dicari padananya.
f. Alfred B. Rendle (1865 1939
Ia terkenal bukan hanya studinya mengenai Gramineae, Oricidaceae, Najadaceae tetapi juga
karena kepemimpinanyabertalian dengan penyusuan peraturan-peraturan pemberian nama
secar internasional. Ia juga menulis Classification of Flowering Plants yang terdiri atas dua
jilid, yang memuat sistem kjlasifikasinya yang pada dasarnya mengikuti sistemnya Engler
dan Prantl. Sistem ciptaan Rendle lebih merupakan sistem filogenetik modern dalam arti
yang sesungguhnya. Seperti Engler dan Plantl, ia juga berpendapat bahwa Monocotiledoneae
adalah golongan paling primitif dibandingkan dengan Dicotiledoneae.
g. Karl C. Mets (1866 1944)
Metode penetuan jauh dekatnya hubungan kekerabatan antar tumbuhan yang dikembangkan
Metz dan dibantu oleh Ziengenpix ini timbul dari anggapan bahwa setiap jenis tumbuhan
mengandung protein yang pas bagi jenis itu dan timbul lain yang mempunyai hubungan
kekerabatan dengan jenis itu di anggap mempunyai protein yang sejenis yang dpat dibuktikan
melalui reaksi serologi atau teori serodinostik. Metode ini ternyata berkembang pesat dalam
fiorlogi dan lazim diterapkan dalam mengidentifiikasi virus. Penerpannya dalam duniaa
tumbuhan adlah sebagai berikut, mulai dari suatu jenis tumbuhan yang telah diketahui
identifikasinya diakstrasi protein yang dianggap karasteristik untuk jenis itu. Hsil ekstraksi itu
disuntikan sebagai antigen kelam darah marmot atau kelinci, yang dengan dimasukinya
ndengan benda asing itu dalam serum darahnya akan membentuk antibodi.
Jelas kiranya bahwa metode ini merupakan metode yang cukup rumit yang tidak dikuasai
oleh rata-ratanya ahli biologi, hingga aspek ini tidak begitu banyak oleh ahli-ahli taksonomi
tumbuhan yang tidak memiliki latarbelakang pendidikan kimia yang kuat. Namun demikian,
dikalangan ahli-ahli farmasi, melaui studi formakognosi, fitokima dan lain-lain, terutama
untuk menpatkan bahan-bahan kimia dengan tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai
pengobatan.
h. Hans Halliers (Johan Gottfried Hallier) (1868 1932)
Diantara sekian banyak publikasinya, termuat sistem filogenetik ciptaanya, yang masih
berdasarkan atas asas-asas filetik seperti yang dilakukan oleh Bessey, namun ia masih banyak
menggunakan hasil-hasil penelitian dalam paleobotani, anatomi, serologi, dan antogeni. Ia
menolak konsep Engler mengenai bunga yang masih dianggap primitif tetapi memilih tipe
strobiloid sebagai tipe bunga yang primitif. Penangananya pada Monocotiledoneae tidak
bgitu cermat terhadap yang ia lakukan pada Dicotiledoneae.
i. August A. Pulle (1878)
Ia menggolongkan tumbuhan berbiji dengan nama Spermatophyta, tetapi menolak konsep
engler yang membagi divisi itu menjadi dua anak divisi yaitu Monocotiledoneae dan
Dicotiledoneae.

j. Carl Skottberg (1880)


Sistem skottberg berbeda baik dengan pendapat Engler maupun Wattstein, btetapi menerima
baik bebrapa pendapat Bentham dan Bessei. Seperti ia tunjukan pada penetapan Amentiferae
setelah Roasales, dan berbeda pula dengan sistem Pulle dengan memepertahankanb
Primulales dalam Sympatalae.
k. John Hutchinson (1884 1972)
Sistem klasifikasi Hutchinson menujukan kaitan kaitan yang lebih dekat dengan sistemnya
Bentham dan Hooker serta sistemnya Bessey dari pada Engler. Walaupun sistem Hutchinson
merupkan sistem klasifikasi tumbuhan yang termasuk sistem filogenetik paling mutakhir dan
cukup terperinci tetapi hanya terbatas pada tumbuhan berbiji saja dan dari golongan ini hanya
sebagain yaitu angiospermae.
6. Sistem Klasifikasi Kontemporer
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat dalam abad ke-20 ini pasti akan
berpengaruh pula terhadap perkembangan ilmu taksonomi tumbuhan. Kecenderungan untuk
mengkuantitatifkan data penelitian dan penerapan matematika dalam pengolahan data yang
diperoleh telah menyusup pula ke dalam ilmu-ilmu sosial yang semula tak pernah atau belum
memanfaatkan matematika serta belum mempertimbangkan pula kemungkinankemungkinanyang dapat di capai dengan penerapan pendekatan kuantitatif matematik.
Perkembangan teknologi, khusus nya di bidang elektronika yang dalam abad nukluer maju
dengan pesat ini, telah pula menjamah bidang taksonomi tumbuhan, yang sejak beberapa
dasawarsa belakangan ini juga sudah di jalari penyakit penerapan metode penelitian
kuantitatif yang pengelohan datanya memanfaatkan jasa-jasa komputer pula. Kumputer telah
digunakan secara luas dalam pengembangan metode kuantitatif dalam klasifikasi tumbuhan,
yang melahirkan bidang baru dalam taksonomi tumbuhan yang dikenal sebagai taksonomi
numerik,taksometri atau taksonometri.
Pengolahan data secara elektronik (EDPElektronic Data Processing), juga sudah diterapkan
untuk berbagai prosedur dalam penilitian taksonomi antara lain dalam penyimpanan dan
pengambilan laporan-laporan atau informasi.
Taksonomi numerik didefinisikan sebagai metode evaluasi kuantitatif mengenai kesamaan
atau kemiripan sifat antar golongan organisme dan penataan golongan-golongan itu melalui
suatu analisisyang dikenal sebagaianalisis kelompok (cluster annalysis) kedalam katagori
takson yang lebih tinggi atas dasar kesamaan-kesamaan tersebut. Peranan komputer adalah
unutk mengerjakan perbandingan kuantitatif antara organisme mengenai sejumlah besar ciriciri secara simultan.
Taksonomi numerik didasarkan atas bukti-bukti fenetik, artinya didasarkan atas kemiripan
yang diperlihatkan objek studi yang diamati dan di catat, dan bukan atas dasar kemungkinankemungkinan perkembangan filogenetiknya. Kegiatan-kegiatan dalam taksonomi numerik
bersifat empirik oprasional, dan data serta kesimpulannya selalu dapat diuji kembali melalui
obsevarsi dan eksperimen. Langkah-langkah yang perlu diambil dalam melaksanakan
kegiatannya, meliputi berturut-turut :

1. Pemilihan objek studi, yang dapat berupa individu, galur, varietas, jenis, dst. Yang
penting diperhatikan ialah unit-unit yang dijadikan objek-objrk studi harus benar
mewakili golongan organisme yang sedang di garap.
2. Pemilihan ciri-ciri yang akan diberi angka (score). Jumlah ciri yang dipilih untuk
pemberian angka harus cukup banyak. Sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) ciri, yang
masinhg-masing diberi kode dan selanjutnya disusun dalam bentuk tabel atayu
matriks.
3. Penguksran kemiripan. Kemiripan ditentukan dengan membandingkan tiap ciri pada
masing unit taksonomi operasional. Banyaknya atau besanya kesamaan diberi angka
yang dinyatakan dalam %.
4. Analisis kelompok (cluster analysis). Matriks kemiripan kemudian didata kembali
sehingga unit-unit taksonomi operasional yang mempunyai kemiripam bersama yang
paling tinggi dapat dikumpulkan menjadi satu. Ini dapat dilakukan dengan berbagai
cara yang memungkinkan penentuan takson atau kelompok yang sekerabat.
Kelompok-kelompok itu disebut fenon dan ditata secara hirerki dalam suatu diagram
yang disebut dendogram.
5. Diskriminasi. Metode yang diterapkan dalam taksonometri itu dalah metode
morfologi komparatif yang secara konfesional telah lazim digunakan, dengan
perbedaan dalam taksonomi numerik dimanfaatkan bantuan peralatan yang canggih
tyaitu komputer dan alat yang digunakan untuk menghitung lainnya.
*
MEGA 5.05 adalah perangkat lunak bio informatika pertama saya telah digunakan dan saya
mengalami kesulitan membuka beberapa file zip untuk menganalisis dalam format FASTA.
Sejauh ini saya telah diberitahu bahwa saya harus (di Microsoft word) secara manual
mengkonversi file dari MEGA ke FASTA, kemudian copy dan paste di file keselarasan baru
selama tujuh lokus untuk setiap sampel saya menganalisa. Masalahnya adalah ada sekitar 560
file saya harus melakukan ini dengan. Jika seseorang memiliki cara yang lebih baik yang saya
dapat membawa beberapa file tanpa harus mengkonversi mereka dari MEGA ke FASTA
Format satu per satu ini akan menghemat banyak waktu. Terima kasih!
*
MEGA, Molecular Evolutionary Genetics Analysis, is a freely available tersedia software
for conducting melakukan statistical analysis of molecular evolution and for constructing
phylogenetic trees. The project for developing this software was initiated by the leadership of
Masatoshi Nei in his laboratory at the Pennsylvania State University in collaboration with his
graduate student Sudhir Kumar and postdoctoral fellow Koichiro Tamura.[1] Nei wrote a
monograph (pp. 130) outlining the scope of the software and presenting new statistical
methods that were included in MEGA. However, the entire set of computer programs was
written by Kumar and Tamura. Because the personal computers at that time did not have the
capability of sending the monograph and the software electronically, they were delivered by

postal mail. From the beginning, MEGA was intended to be an easy-to-use software and
include solid statistical methods only.
MEGA version 2 (MEGA2), which was coauthored by an additional investigator Ingrid
Jakobson, was released in 2001.[2] All the computer programs and the readme files of this
version could be sent electronically because of the advancement of computer technology.
Around this time, the leadership of the MEGA project was taken over by Kumar (now at
Arizona State University) and Tamura (now at Tokyo Metropolitan University). Despite this
humble start, MEGA1.[1] has been cited at least 2,493 times according to ISI. The monograph
Molecular Evolutionary Genetics Analysis was often used as a textbook for new ways of
studying molecular evolution.
MEGA has been updated and expanded several times (release history), and currently all these
versions are available from the MEGA home page (www.megasoftware.net).
Contents

1 Release History

2 Features

2.1 Sequence Alignment Construction

2.2 Data Handling

2.3 Genetic Code Table Section

2.4 Real-Time Caption Expert Engine

2.5 Integrated Text File Editor

2.6 Sequence Data Viewer

2.7 MCL-based Estimation of Nucleotide Substitution Patterns

2.8 Substitution Pattern Homogeneity Test

2.9 Distance Estimation Methods

2.10 Tests of Selection

2.11 Molecular Clock Test

2.12 Tree-Making Methods

2.13 Tree Explorers

3 External links

4 References

Release History
Major MEGA Versions[3]
Version

Release Date

1.0

1993

[1]

1.1

1994

[4]

2.0

2000

[2]

2.1

2001

[2]

3.0

2004

[5]

4.0

2006

[6]

4.1

2008

[6]

5.0

2011

[7]

5.1

Oct 2012

5.2

April 2013

6.0

December 2013

[7]

[7]

[8]

Features
Sequence Alignment Construction

Alignment Editor

Multiple Sequence Alignment

Sequencer (Trace) File Editor/Viewer

Integrated Web Browser and Sequence Fetching

Data Handling

Handling Ambiguous States (R,Y,T, etc.)

Extended MEGA Format to Save All Data Attributes

Importing Data From Other Formats (Clustal/Nexus/etc.)

Data Explorers

Visual Specification of Domains/Groups

Genetic Code Table Section

Add/Edit User Defined Tables

Computation of Statistical Attributes of a Code Table

Inclusion of All Known Code Tables

Real-Time Caption Expert Engine

Generate Captions for Distance Matrices, Phylogenies, Tests, Alignments.

Copy Captions to External Programs

Integrated Text File Editor

Columnar Block Selection/Editing

Line Numbers

Utilities to Format Sequences/Reverse Complement etc.

Sequence Data Viewer

Data Export

Highlighting

Statistical Quantities Estimation

MCL-based Estimation of Nucleotide Substitution Patterns

4x4 Rate Matrix

Transition/Transversion Rate Ratios (k1, k2)

Transition/Transversion Rate Bias (R)

Substitution Pattern Homogeneity Test

Composition Distance

Disparity Index

Monte-Carlo Test

Distance Estimation Methods

Nucleotide-by-Nucleotide

Synonymous/Nonsynonymous (Codon-by-Codon)

Protein Distance

Distance Calculations

Sequence Diversity Calculations

Variance Calculations

Tests of Selection

Large Sample Z-Test

Fishers Exact Test

Tajimas Test of Neutrality

Molecular Clock Test

Tajimas Relative Rate Test

Tree-Making Methods

Neighbor-Joining

Minimum Evolution Method

UPGMA

Maximum Parsimony

Bootstrap Test of Phylogeny

Confidence Probability Test

Distance Matrix Viewer

Tree Explorers

Phylogeny Display

Divergence Time Estimation

Tree Editing

Change Tree Size

Multiple Tree Display

External links

MEGA, a freely available software

MEGA website for Japanese users

MEGA: A biologist-centric software for evolutionary analysis of DNA and


protein sequences. (2008) Kumar S, Dudley J, Nei M & Tamura K. Briefings
in Bioinformatics Vol.9, pages 299-306 weblink.

References
1.
Kumar, S., K. Tamura, and M. Nei (1993) MEGA: Molecular Evolutionary
Genetics Analysis. Ver. 1.0, The Pennsylvania State University, University Park,
PA.
Kumar, S., K. Tamura, I. B. Jakobsen, and M. Nei (2001) MEGA2 : Molecular
Evolutionary Genetics Analysis. Ver. 2.0, Bioinformatics 17:1244-1245.
"MEGA Update History". MEGA: Molecular Evolutionary Genetics Analysis.
Retrieved 20 June 2013.
Kumar, S., K. Tamura, and M. Nei (1994) MEGA: Molecular Evolutionary
Genetics Analysis software for microcomputers. CABIOS 10:189-191.
Kumar, S., Tamura, K., and Nei, M. (2004) MEGA3: Molecular Evolutionary
Genetics Analysis. Brief. Bioinformatics 5:150-163.
Tamura, K., Dudley, J., Nei, M., Kumar, S. (2007) MEGA4 : Molecular
Evolutionary Genetics Analysis. Mol. Biol. Evol. 24(8):1596-1599.
Tamura, K., Peterson, D., Peterson, N., Stecher, G., Nei, M., Kumar, S.
(2011) MEGA5 : Molecular Evolutionary Genetics Analysis using Maximum
Likelihood, Evolutionary Distance, and Maximum Parsimony Methods. Mol. Biol.
Evol. 28:2731-2739.
Tamura, K., Stecher, G., Peterson, D., Filipski, A., Kumar, S. (2013) MEGA6:
Molecular Evolutionary Genetics Analysis Version 6.0. Mol. Biol. Evol. 30:27252729.

Kimball, W. John. 1987. Biologi Edisi kelima Jilid 2. Jakarta: Erlangga.


Mulyani, Asep. 2013. Panduan Praktikum Bothani Phanerogame. Cirebon: Pusat Laboratorium
IAIN
Sudarsono, dkk. 2005. Taksonomi Tumbuhan Tinggi. Malang: UM Press.
Tjitrosoepomo, Gembong. 2009. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: Gajah Mada University
Press.
Anonim. 2009. Angiospermae. http://dnabio71angiospermae.blogspot.com (diakses 10 April
2013).

Anonim. 2009. Plantae dan Animalia. http://educorolla6.blogspot.com/ plantae dan animalia


(diakses 10 April 2013).
*Kimbal, John. W. 1999. Biologi. Jakarta: Erlangga

Sudarsono, dkk. 2005. Taksonomi Tumbuhan Tinggi. Malang: UM Press


Tjirosoepomo, Gembong. 2009. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: UGM Press
Tjirosoepomo, Gembong. 2010. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). Yogyakarta:
UGM Press
*Rustaman (Rustamans file). 2007. Botani Phanerogamae. Universitas
Pendidikan Indonesia. Bandung : UPI Press.
Tjitrosoepomo, Gembong. 2004. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta).
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Sudarso, dkk. 2005. Taksonomi Tumbuhan Tinggi. Malang: Universitas Negeri
Malang

Campbell, Neil A, et al.2003.Biologi Jilid II.Jakarta: Erlangga


Sudarsono, dkk. 2005. Taksonomi Tumbuhan Tinggi. UM Press. Malang.
Tjitrosoepomo, gembong. 1985. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada
University Press : Yogyakarta
http://www.crayonpedia.org/mw/STRUKTUR_DAN_FUNGSI_BAGIAN_TUMBU
HAN_4.1_BUDI_WAHYONO

Anda mungkin juga menyukai