Anda di halaman 1dari 19

1.

DEFINISI

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, retak atau patahnya


tulang yang utuh, yang biasanya disebabkan oleh trauma/rudapaksa
atau tenaga fisik yang ditentukan jenis dan luasnya trauma.

Fraktur adalah pemecahan suatu bagian khususnya tulang, pecahan


atau ruptur pada tulang.

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai


jenis dan luasnya. (Smeltzer dan Bare,2001)

Fraktur femur adalah rusaknya kontinuitas tulang pangkal paha yang


disebabkan oleh trauma langsung, kelemahan otot, kondisi-kondisi
tertentu seperti degenerasi tulang atau osteoporosisi.

(Muttakin,

2005:98)
Anatomi Fisiologi Tulang Radius
Tulang membentuk rangka penunjang dan pelindung bagi tubuh
dan tempat untuk melekatnya otot-otot yang menggerakkan kerangka
tubuh. Komponen-komponen utama dari jaringan tulang adalah mineralmineral dan jaringan organik (kolagen dan proteoglikon). Kalsium dan
fosfat membentuk suatu kristal garam (hidroksida patit), yang tertimbun
pada matriks garam (hidroksia patit) yang tertmbun pada matriks kolagen
dan proteaglikan matriks organik tulang disebut juga sebagai suatu
osteoid. (Sylvia, A. Price, Patofisiologi, Buku II, Edisi 4, Penerbit EGC,
1995). Tulang tersusun atas sel, matriks protein dan deposit mineral. Selselnya terdiri atas tiga jenis dasar osteoblas, osteosit dan osteoklas.
Osteoblas berfungsi dalam pembentukan tulang dengan mensekresi
matriks tulang.
Osteosit adalah sel dewasa yang terlibat dalam pemeliharaan fungsi
tulang dan terletak dalam osteum (unit matriks tulang). Osteoklas adalah
sel multinuklear (berinti banyak) yang berperan dalam penghancuran,
resorbsi dan remodeling tulang.
Radius adalah tulang di sisi lateral lengan bawah merupakan
tulang pipa dengan sebuah batang dan dua ujung dan lebih pendek dari
tulang ulna. Ujung atas radius kecil dan memperlihatkan kepala

berbentuk kancing dengan permukaan dangkal yang bersendi dengan


kapitulum dari humerus. Sisi-sisi kepala radius bersendi dengan takik
radial dari ulna. Di bawah kepala terletak leher dan di bawah serta di
sebeelah medial dari leher ada tuberositas radii, yang dikaitkan pada
tendon dan insersi otot bisep.
Batang radius. Di sebelah atas batangnya lebih sempit dan lebih
bundar daripada di bawah dan melebar makin mendekati ujung bawah.
Batangnya melengkung ke sebelah luar dan terbagi dalam beberapa
permukaan, yang seperti pada ulna memberi kaitan kepada flexor dan
pronator yang letaknya dalam di sebelah anterior dan di sebelah
posterior memberi kaitan pada extensor dan supinator di sebelah dalam
lengan bawah dan tangan.
Ujung bawah agak berbentuk segiempat dan masuk dalam
formasi dua buah sendi. Persendian inferior dari ujung bawah radius
berbendi dengan ska foid dan tulang semilunar dalam formasi
persendian pergelangan tangan. Permukaan persendian di sebelah
medial dari yang bawah bersendi dengan kepala dari ulna dalam formasi
persendian radio-ulna inferior. Sebelah lateral dari ujung bawah
diperpanjang ke bawah menjadi prosesus stiloid radius. Fungsi dari
tulang pada lengan bawah atau tulaang radius adalah untuk pronasi dan
supinasi harus dipertahankan dengan menjaga posisi dan kesejajaran
anatomik yang baik

2. Klasifikasi
Penampikan fraktur dapat sangat bervariasi tetapi untuk alasan yang
praktis, dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu:
1. Berdasarkan sifat fraktur (luka yang ditimbulkan)

a. Faktur Tertutup (Closed), bila tidak terdapat hubungan antara


fragmen tulang dengan dunia luar, disebut juga fraktur bersih (karena
kulit masih utuh) tanpa komplikasi.
b. Fraktur Terbuka (Open/Compound), bila terdapat hubungan antara
hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya
perlukaan kulit.
2. Berdasarkan komplit atau ketidakklomplitan fraktur.
a. Fraktur Komplit, bila garis patah melalui seluruh penampang tulang
atau melalui kedua korteks tulang seperti terlihat pada foto.
b. Fraktru Inkomplit, bila garis patah tidak melalui seluruh penampang
tulang seperti:
1) Hair Line Fraktur (patah retidak rambut)
2) Buckle atau Torus Fraktur, bila terjadi lipatan dari satu korteks
dengan kompresi tulang spongiosa di bawahnya.
3) Green Stick Fraktur, mengenai satu korteks dengan angulasi
korteks lainnya yang terjadi pada tulang panjang.
3. Berdasarkan bentuk garis patah dan hubbungannya dengan mekanisme
trauma.
a. Fraktur Transversal: fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan
merupakan akibat trauma angulasi atau langsung.
b. Fraktur Oblik: fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut
terhadap sumbu tulang dan meruakan akibat trauma angulasijuga.
c. Fraktur Spiral: fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral yang
disebabkan trauma rotasi.
d. Fraktur Kompresi: fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi
yang mendorong tulang ke arah permukaan lain.
e. Fraktur Avulsi: fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan atau
traksi otot pada insersinya pada tulang.
4. Berdasarkan jumlah garis patah.
a. Fraktur Komunitif: fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan
saling berhubungan.
b. Fraktur Segmental: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi
tidak berhubungan.

c. Fraktur Multiple: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak

pada tulang yang sama.


5. Berdasarkan pergeseran fragmen tulang.
a. Fraktur Undisplaced (tidak bergeser): garis patah lengkap ttetapi

kedua fragmen tidak bergeser dan periosteum masih utuh.


b. Fraktur Displaced (bergeser): terjadi pergeseran fragmen tulang yang

juga disebut lokasi fragmen, terbagi atas:


1) Dislokasi ad longitudinam cum contractionum (pergeseran searah
sumbu dan overlapping).
2) Dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut).
3) Dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling
menjauh).
4) dislokasi latus cum contractiosnum (berjauahan dan memendek).
6. Berdasarkan posisi frakur
Sebatang tulang terbagi menjadi tiga bagian :
a. 1/3 proksimal
b. 1/3 medial
c. 1/3 distal
7. Fraktur Kelelahan: fraktur akibat tekanan yang berulang-ulang.
8. Fraktur Patologis: fraktur yang diakibatkan karena proses patologis
tulang.
3. Etiologi
Menurut Sachdeva (1996), penyebab fraktur dapat dibagi menjadi
tiga yaitu :
a. Cedera traumatik
Cedera traumatik pada tulang dapat disebabkan oleh :
1) Cedera langsung berarti pukulan langsung terhadap tulang
sehingga tulang pata secara spontan. Pemukulan biasanya
menyebabkan

fraktur

melintang

dan

kerusakan

pada

kulit

diatasnya.
2) Cedera tidak langsung berarti pukulan langsung berada jauh dari
lokasi benturan, misalnya jatuh dengan tangan berjulur dan
menyebabkan fraktur klavikula.

3) Fraktur yang disebabkan kontraksi keras yang mendadak dari otot


yang kuat.
b. Fraktur Patologik
1) Dalam hal ini kerusakan tulang akibat proses penyakit dimana
dengan trauma minor dapat mengakibatkan fraktur dapat juga
terjadi pada berbagai keadaan berikut :
a) Tumor tulang (jinak atau ganas) : pertumbuhan jaringan baru
yang tidak terkendali dan progresif.
b) Infeksi seperti osteomielitis : dapat terjadi sebagai akibat

infeksi akut atau dapat timbul sebagai salah satu proses yang
progresif, lambat dan sakit nyeri.
c) Rakhitis : suatu penyakit tulang yang disebabkan oleh
defisiensi Vitamin D yang mempengaruhi semua jaringan
skelet lain, biasanya disebabkan oleh defisiensi diet, tetapi
kadang-kadang dapat disebabkan kegagalan absorbsi Vitamin
D atau oleh karena asupan kalsium atau fosfat yang rendah.
c. Secara spontan : disebabkan oleh stress tulang yang terus menerus
misalnya pada penyakit polio dan orang yang bertugas dikemiliteran.
4. Faktor Resiko
Fraktur lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan
dengan umur dibawah 45 tahun dan sering berhubungan dengan olahraga, pekerjaan, atau luka yang disebabkan oleh kecelakaan kendaraan
bermotor. Sedangkan pada orang tua, wanita lebih sering mengalami
fraktur daripada laki-laki yang berhubungan dengan meningkatnya
insiden osteoporosis yang terkait dengan perubahan hormon pada
monopouse (Reeves, Roux, Lockhart, 2001).
faktor resiko lainnya adalah sebagai berikut :
a) Anak-anak
Biasanya anak-anak kurang berhati-hati dalam bertingkah laku spt:
bermain kejar-kejaran hingga terjatuh terpeleset.
b) Kekurangan ca dan vitamin
Kekurangan ca dan vit.d dapat menyebabkan mudahnya mengalami
fraktur

5. Patofisiologi
(TERLAMPIR)

6. Manifestasi Klinis
Tanda tanda umum :
1. Syok atau perdarahan.
2. Kerusakan yang berhubungan dengan otak, medula spinalis atau visera.

3. Penyebab predisposisi (misalnya penyakit paget)


Tanda tanda local :
1. Look : Pembengkakan, memar dan deformitas (penonjolan yang
abnormal, angulasi, rotasi, pemendekan) mungkin terlihat jelas, tetapi hal
yang penting adalah apakah kulit itu utuh; kalau kulit robek dan luka
memiliki hubungan dengan fraktur, cedera terbuka
2. Feel : Terdapat nyeri tekan setempat, tetapi perlu juga memeriksa bagian
distal dari fraktur untuk merasakan nadi dan untuk menguji sensasi.
Cedera pembuluh darah adalah keadaan darurat yang memerlukan
pembedahan
3. Movement : Krepitus dan gerakan abnormal dapat ditemukan, tetapi

lebih penting untuk menanyakan apakah pasien dapat menggerakan


sendi sendi dibagian distal cedera.
Manifestasi klinis lainnya adalah sebagai berikut : (Betz, 2009)
1. Nyeri, yang hilang dengan beristirahat.
2. Nyeri tekan.
3. Bengkak
4. Kerusakan fungsi, pincang
5. Gerakan terbatas
6. Ekimosis di sekitar lokasi
7. Krepitassi di sisi fraktur
8. Status neurovascular pada daerah distal dari tempat fraktur mengalami
penurunan
9. Atrofi distal

7. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan radiologis (rontgen), pada daerah yang dicurigai fraktur,
harus mengikuti aturan role of two, yang terdiri dari :
a. Mencakup dua gambaran yaitu anteroposterior (AP) dan lateral.
b. Memuat dua sendi antara fraktur yaitu bagian proximal dan distal.
c. Memuat dua extremitas (terutama pada anak-anak) baik yang cidera
maupun yang tidak terkena cidera (untuk membandingkan dengan
yang normal).
d. Dilakukan dua kali, yaitu sebelum tindakan dan sesudah tindakan.
2. Pemeriksaan laboratorium, meliputi:
a. Darah rutin,
b. Faktor pembekuan darah,
c. Golongan darah (terutama jika akan dilakukan tindakan operasi),
d. Urinalisa,
e. Kreatinin (trauma otot dapat meningkatkan beban kreatinin untuk
kliren ginjal).
1. Pemeriksaan arteriografi dilakukan jika dicurigai telah terjadi kerusakan
vaskuler akibat fraktur tersebut.
2. Pemeriksaan mikroorganisme kultur dan test sensitivitas: didapatkan
mikroorganisme penyebab infeksi.
3. Biopsi tulang dan otot: pada intinya pemeriksaan ini sama dengan
pemeriksaan diatas tapi lebih dindikasikan bila terjadi infeksi.
4. Elektromyografi: terdapat kerusakan konduksi saraf yang diakibatkan
fraktur.
5. Arthroscopy: didapatkan jaringan ikat yang rusak atau sobek karena
trauma yang berlebihan.
6. Indium Imaging: pada pemeriksaan ini didapatkan adanya infeksi pada
tulang.
7. MRI: menggambarkan semua kerusakan akibat fraktur. (Ignatavicius,
Donna D, 1995)
8. X-ray digunakan untuk :
a. Mendiagnosa patah tulang ataupun sambungan yang lepas.

b. Menunjukkan gambaran yang tepat dan stabilisasi dari fragmenfragmen tulang saat perawatan atau pemulihan suatu retakan.
c. Petunjuk untuk operasi orthopedic.
d. Mencari luka, infeksi, arthritis, pertumbuhan tulang yang tidak normal,
perubahan tulang dalam metabolism.
e. Membantu saat pendeteksian dan diagnosis kanker tulang.
f. Melihat objek asing disekitar tulang atau di dalam tulang.
9. Penatalaksanaan Medis
Ada 4 tahap penatalaksanaan untuk fraktur yakni sebagai berikut :
1. Rekognisis/Pengenalan
Riwayat kejadian harus jelas untuk mentukan diagnosa dan
tindakan selanjutnya.
2. Reduksi/Manipulasi/Reposisi
Upaya untuk memanipulasi fragmen tulang sehingga kembali
seperti semula secara optimun. Dapat juga diartikan Reduksi fraktur
(setting tulang) adalah mengembalikan fragmen tulang pada kesejajarannya dan rotasfanatomis (brunner, 2001).
Reduksi tertutup, traksi, atau reduksi terbuka dapat dilakukan
untuk mereduksi fraktur. Metode tertentu yang dipilih bergantung sifat
fraktur, namun prinsip yang mendasarinya tetap, sama. Biasanya dokter
melakukan reduksi fraktur sesegera mungkin untuk mencegah jaringan
lunak kehilaugan elastisitasnya akibat infiltrasi karena edema dan
perdarahan. Pada kebanyakan kasus, roduksi fraktur menjadi semakin
sulit bila cedera sudah mulai mengalami penyembuhan.
Sebelum

reduksi

dipersiapkan untuk

dan

imobilisasi

fraktur,

pasien

harus

menjalani prosedur; harus diperoleh izin untuk

melakukan prosedur, dan analgetika diberikan sesuai ketentuan.


Mungkin perlu dilakukan anastesia. Ekstremitas yang akan dimanipulasi
harus ditangani dengan lembut untuk mencegah kerusakan lebih lanjut
Reduksi tertutup.

Pada kebanyakan kasus, reduksi tertutup

dilakukan dengan mengembalikan fragmen tulang keposisinya (ujungujungnya saling berhubungan) dengan manipulasi dan traksi manual.

Ekstremitas

dipertahankan

dalam

posisi

yang

diinginkan,

sementara gips, biadi dan alat lain dipasang oleh dokter. Alat
immobilisasi akan menjaga reduksi dan menstabilkan ekstremitas untuk
penyembuhan tulang. Sinar-x harus dilakukan untuk mengetahui apakah
fragmen tulang telah dalam kesejajaran yang benar.
Traksi. Traksi dapat digunakan untuk mendapatkan efek reduksi
dan imoblisasi. Beratnya traksi disesuaikan dengan spasme otot yang
terjadi. Sinar-x digunakan untuk memantau reduksi fraktur dan
aproksimasi fragmen tulang. Ketika tulang sembuh, akan terlihat
pembentukan kalus pada sinar-x. Ketika kalus telah kuat dapat dipasang
gips atau bidai untuk melanjutkan imobilisasi.
Reduksi Terbuka. Pada fraktur tertentu memerlukan reduksi
terbuka. Dengan pendekatan bedah, fragmen tulang direduksi. Alat
fiksasi interna dalam bentuk pin, kawat, sekrup, plat paku, atau batangan
logam digunakan untuk mempertahankan fragmen tulang dalam
posisnya sampai penyembuhan tulang yang solid terjadi. Alat ini dapat
diletakkan di sisi tulang atau langsung ke rongga sumsum tulang, alat
tersebut menjaga aproksimasi dan fiksasi yang kuat bagi fragmen tulang.
3. Retensi/Immobilisasi
Upaya yang dilakukan untuk menahan fragmen tulang sehingga
kembali seperti semula secara optimun.
Imobilisasi fraktur. Setelah fraktur direduksi, fragmen tulang harus
diimobilisasi, atau dipertahankan dalam posisi kesejajaran yang benar
sampai terjadi penyatuan. Imobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi
eksterna atau interna. Metode fiksasi eksterna meliputi pembalutan, gips,
bidai, traksi kontinu, pin dan teknik gips, atau fiksator eksterna. Implan
logam dapat digunakan untuk fiksasi interna yang berperan sebagai bidai
interna untuk mengimobilisasi fraktur.
4. Rehabilitasi
Menghindari atropi dan kontraktur dengan fisioterapi. Status
neurovaskuler (mis. pengkajian peredaran darah, nyeri,perabaan,
gerakan) dipantau, dan ahli bedah ortopedi diberitahu segera bila ada
tanda

gangguan

neurovaskuler.

Kegelisahan,

ansietas

dan

ketidaknyamanan

dikontrol

meyakinkan,perubahan

dengan

posisi,

berbagai

strategi

pendekatan

peredaan

nyeri,

(mis.

termasuk

analgetika).
Latihan

isometrik

dan

setting

otot

diusahakan

untuk

meminimalkan atrofi disuse dan meningkatkan peredaran darah.


Partisipasi

dalam

aktivitas

hidup

sehari-hari

diusahakan

untuk

memperbaiki kemandirian fungsi dan harga-diri. Pengembalian bertahap


pada aktivitas semula diusahakan sesuai batasan terapeutik
Untuk penatalaksanaan pada traksi sebagai berikut:
Penyembuhan fraktur bertujuan mengembalikan fungsi tulang yang
patah dalam jangka waktu sesingkat mungkin
1. Metode Pemasangan traksi:
a. Traksi Manual
Tujuan : Perbaikan dislokasi, Mengurangi fraktur, Pada keadaan
Emergency. Dilakukan dengan menarik bagian tubuh.
b. Traksi Mekanik
Ada dua macam, yaitu :
1) Traksi Kulit
Dipasang pada dasar sistem skeletal untuk struktur yang lain,
misalnya: otot. Traksi kulit terbatas untuk 4 minggu dan beban < 5
kg. Untuk anak-anak waktu beban tersebut mencukupi untuk
dipakai sebagai fraksi definitif, bila tidak diteruskan dengan
pemasangan gips.
2) Traksi Skeletal
Merupakan traksi definitif pada orang dewasa yang merupakan
balanced traction. Dilakukan untuk menyempurnakan luka operasi
dengan kawat metal atau penjepit melalui tulang/jaringan metal.
Kegunaan pemasangan traksi adalah sebagai berikut:
1. Mengurangi nyeri akibat spasme otot
2. Memperbaiki dan mencegah deformitas
3. Immobilisasi
4. Difraksi penyakit (dengan penekanan untuk nyeri tulang sendi).
Mengencangkan pada perlekatannya.

Proses Penyembuhan Tulang


Kebanyakan patah tulang sembuh melalui osifikasi endokondial ketika tulang
mengalami cedera, fragmen tulang tidak hanya ditambal dengan jaringan parut,
namun tulang mengalami regenerasi sendiri. Ada beberapa tahapan dalam
penyembuhan tulang :
1. Inflamasi
Dengan adanya patah tulang, tulang mengalami respon yang sama
dengan bila ada cedera di lain tempat dalam tubuh. Terjadi perdarahan dalam
jaringan yang cedera dan terjadi pembentukan hematoma pada tempat patah
tulang. Ujung fragmen tulang mengalami devitalisasi karena terputusnya
pasokan darah. Tempat cedera kemudian akan diinvasi oleh makrofag (sel
darah putih besar), yang akan membersihkan daerah tersebut. Terjadi inflamasi,
pembengkakan dan nyeri. Tahap inflamasi berlangsung beberapa hari dan
hilang dengan berkurangnya pembengkakan dan nyeri.
2. Proliferasi Sel
Dalam sekitar 5 hari, hematoma akan mengalami organisasi. Terbentuk
benang-benang fibrin dalam jendalan darah, membentuk jaringan untuk
revaskularisasi dan invasi fibroblast dan osteoblast.
Fibroblast dan osteoblast (berkembang dan osteosit, sel endotel, sel
periosteum) akan menghasilkan kolagen dan proteoglikan sebagai matriks
kolagen pada patahan tulang.
3. Pembentukan kalus
Pertumbuhan jaringan berlanjut dan lingkaran tulang rawan tumbuh
mencapai sisi lain sampai celah sudah terhubungkan. Fragmen patahan tulang
digabungkan dengan jaringan fibrus, tulang rawan dan tulang serat imatur.
Bentuk kalus dan volume yang dibutuhkan untuk menghubungkan defek-secara
langsung berhubungan dengan jumlah kerusakan dan pergeseran tulang.
4. Osifikasi
Pembentukan kalus mulai mengalami penulangan dalam 2-3 minggu
patah tulang melalui proses penulangan endokondrial.
5. Remodeling

Tahap akhir perbaikan tulang meliputi pengambilan jaringan mati dan


reorganisasi tulang baru ke susunan struktural sebelumnya. Remodeling
memerlukan waktu berbulan-bulan sampai bertahun-tahun tergantung beratnya
modifikasi tulang yang dibutuhkan, fungsi tulang, dan pada kasus yang
melibatkan tulang kompak dan kanselus stres fungsional pada tulang.

10. Komplikasi
Komplikasi Awal
a. Kerusakan Arteri. Pecahnya arteri karena trauma dapat ditandai
dengan tidak adanya nadi, CRT menurun, sianosis pada bagian
distal, hematoma melebar, dan dingin pada ekstremitas yang
disebabkan oleh tindakan darurat splinting, perubahan posisi pada
yang sakit, tindakan reduksi, dan pembedahan.
b. Sindrom kompartemen. Merupakan komplikasi serius yang terjadi
karena terjebaknya otot, tulang saraf, dan pembuluh darah dalam
jaringan parut. Hal ini disebabkan oleh edema atau perdarahan yang
menekan otot, saraf, dan pembuluh darah, atau karena tekanan dari
luar seperti gips dan pembebatan yang terlalu kuat.
c. Fat Embolism Syndrome (FES). Adalah komplikasi serius yang sering
terjadi pada kasus fraktur tulang panjang. FES terjadi karena sel-sel
lemak yang dihasilkan bone marrow kuning masuk ke aliran darah
dan menyebabkan kadar oksigen dalam darah menjadi rendah.
Ditandai

dengan

gangguan

pernafasan,

tahikardi,

hipertensi,

tahipnea, dan demam.


d. Infeksi. Sistem pertahanan tubuh akan rusak bila ada trauma pada
jaringan. Pada trauma ortopedi, infeksi dimulai pada kulit (superficial)
dan masuk ke dalam. Hal ini biasanya terjadi pada kasus fraktur
terbuka, tetapi dapat juga karena penggunaan bahan lain dalam
pembedahan, seperti pin (ORIF & OREF) dan plat.
e. Nekrosis Avaskular. Terjadi karena aliran darah ke tulang rusak atau
terganggu sehingga menyebabkan nekosis tulang.
f. Syok. Terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya
permeabilitas kapiler sehingga menyebabkan oksigenasi menurun.

Komplikasi Lama
a. Delayed Union. Merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai
dengan waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. Hal ini
terjadi karena suplai darah ke tulang menurun.
b. Non-union. Adalah fraktur yang tidak sembuh antara 6-8 bulan dan
tidak didapatkan konsolidasi sehingga terdapat pseudoartrosis (sendi
palsu). Pseudoartrosis dapat terjadi tanpa infeksi, tetapi dapat juga
terjadi bersama sama infeksi.
c. Mal-union. Adalah keadaan ketika fraktur menyembuh pada saatnya,
tetapi terdapat deformitas yang berbentuk angulasi, varus/valgus,
rotasi, pemendekan, atau union secara menyilang, misalnya pada
fraktur tibia-fibula.

Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
2. Diagnosa keperawatan
a. Nyeri akut

b. Hambatan mobilitas fisik


c. Resiko disfungsi neurovascular perifer
No Analisa Data
1.

DS : klien tidak bisa


menggerakkan kaki
kanannya.
DO: TD: 130/80
mmHg
N: 110x/mnt

Etiologi
Fraktur

Masalah
Keperawatan
Nyeri akut

Cedera sel
Degranulasi sel mast
Pelepasan mediator kimia
nyeri

R: 22x/mnt
S: 37,5C
Skala nyeri 8,
hangat, kemerahan,
pulsasi pedis
110x/mnt
2.

DS : klien tidak bisa


menggerakkan kaki
kanannya.

Benturan pada tulang

DO: TD: 130/80


mmHg

Hilangnya fungsi pada


bagian yang cedera

N: 110x/mnt
R: 22x/mnt

Diskontinuitas tulang

Hambatan mobilitas
fisik

Immbolisasi
Hambatan mobilitas fisik

S: 37,5C
Femur dextra
tampak bengkak
pulsasi pedis
110x/mnt
3.

DS : klien tidak bisa


menggerakkan kaki
kanannya.
DO: TD: 130/80
mmHg

Fraktur
Reaksi peradangan
Edema

Resiko disfungsi
neurovascular
perifer

N: 110x/mnt

Penekanan pada jaringan


vaskuler

R: 22x/mnt

Penurunan aliran darah

S: 37,5C
Ujung jari kaki
tampak pucat, CRT
3 detik

Resiko disfungsi
neurovascular perifer

pulsasi pedis
110x/mnt

3. Intervensi
a. Nyeri akut
Tujuan: Klien mengatakan nyeri berkurang atau hilang dengan
menunjukkan tindakan santai, mampu berpartisipasi dalam
beraktivitas, tidur, istirahat dengan tepat, menunjukkan
penggunaan keterampilan relaksasi dan aktivitas trapeutik
sesuai indikasi untuk situasi individual
INTERVENSI KEPERAWATAN
RASIONAL
1. Pertahankan
imobilasasi Mengurangi nyeri dan mencegah
bagian yang sakit dengan malformasi.
tirah baring, gips, bebat dan
atau traksi
2. Tinggikan posisi ekstremitas Meningkatkan aliran balik vena,
yang terkena.

mengurangi edema/nyeri.

3. Lakukan dan awasi latihan Mempertahankan kekuatan otot


gerak pasif/aktif.

dan

meningkatkan

sirkulasi

vaskuler.
4. Lakukan

tindakan

meningkatkan

untuk Meningkatkan

sirkulasi

umum,

kenyamanan menurunakan area tekanan lokal

(masase, perubahan posisi)

dan kelelahan otot.

5. Ajarkan penggunaan teknik Mengalihkan perhatian terhadap


manajemen

nyeri

(latihan nyeri,

meningkatkan

napas dalam, imajinasi visual, terhadap


aktivitas dipersional)
6. Lakukan

nyeri

kontrol

yang

mungkin

berlangsung lama.

kompres

dingin Menurunkan

edema

dan

selama fase akut (24-48 jam mengurangi rasa nyeri.


pertama) sesuai keperluan.
7. Kolaborasi

pemberian Menurunkan

analgetik sesuai indikasi.

nyeri

mekanisme

melalui

penghambatan

rangsang nyeri baik secara sentral


maupun perifer.
8. Evaluasi keluhan nyeri (skala,
petunjuk
verval,

verbal

dan

perubahan

non
tanda-

Menilai perkembangan masalah


klien.

tanda vital)
b. Hambatan mobilitas fisik
Tujuan : Klien dapat meningkatkan/mempertahankan mobilitas pada
tingkat paling tinggi yang mungkin dapat mempertahankan
posisi fungsional meningkatkan kekuatan/fungsi yang sakit
dan mengkompensasi bagian tubuh menunjukkan tekhnik
yang memampukan melakukan aktivitas
INTERVENSI KEPERAWATAN
RASIONAL
1. Pertahankan
pelaksanaan Memfokuskan
perhatian,
aktivitas

rekreasi

terapeutik meningkatakan

(rnhdnddkdd,,dadio,
kunjungan

koran, diri/harga

rasa

diri,

kontrol

membantu

teman/keluarga) menurunkan isolasi sosial.

sesuai keadaan klien.


2. Bantu latihan rentang gerak Meningkatkan

sirkulasi

darah

pasif aktif pada ekstremitas muskuloskeletal,


yang sakit maupun yang sehat mempertahankan

tonus

otot,

sesuai keadaan klien.

mempertahakan

gerak

sendi,

mencegah kontraktur/atrofi dan


mencegah

reabsorbsi

kalsium

karena imobilisasi.
3. Berikan

papan

penyangga Mempertahankan

kaki,

posis

gulungan fungsional ekstremitas.

trokanter/tangan

sesuai

indikasi.
4. Bantu dan dorong perawatan Meningkatkan kemandirian klien
diri

(kebersihan/eliminasi) dalam

sesuai keadaan klien.

perawatan

diri

sesuai

kondisi keterbatasan klien.

5. Ubah posisi secara periodik Menurunkan insiden komplikasi


sesuai keadaan klien.

kulit dan pernapasan (dekubitus,


atelektasis, penumonia)
Mempertahankan

hidrasi

adekuat, men-cegah komplikasi


6. Dorong/pertahankan

asupan urinarius dan konstipasi.

cairan 2000-3000 ml/hari.


7. Berikan diet TKTP.

Kalori dan protein yang cukup


diperlukan
penyembuhan
pertahankan

untuk
dan
fungsi

proses
memfisiologis

tubuh.
8. Kolaborasi

pelaksanaan Kerjasama dengan fisioterapis

fisioterapi sesuai indikasi.

perlu untuk menyusun program


aktivitas fisik secara individual.

9. Evaluasi

kemampuan Menilai perkembangan masalah

mobilisasi klien dan program klien.


imobilisasi.

c. Resiko disfungsi nerovaskular perifer


Tujuan: Klien akan menunjukkan fungsi neurovaskuler baik dengan
kriteria akral hangat, tidak pucat dan syanosis, bisa bergerak
secara aktif
INTERVENSI KEPERAWATAN
RASIONAL
- Dorong klien untuk secara Meningkatkan sirkulasi darah dan
rutin

melakukan

latihan mencegah kekakuan sendi.

menggerakkan

jari/sendi

distal cedera.
- Hindarkan restriksi sirkulasi Mencegah
akibat

tekanan

stasis

bebat/spalk sebagai

yang terlalu ketat.

vena

petunjuk

dan

perlunya

penyesuaian

keketatan

bebat/spalk.
- Pertahankan
ekstremitas
kecuali

ada

letak
yang

tinggi Meningkatkan drainase vena dan


cedera menurunkan edema kecuali pada

kontraindikasi adanya keadaan hambatan aliran

adanya

sindroma arteri

kompartemen.
- Berikan

yang

menyebabkan

penurunan perfusi.

obat

antikoagulan Mungkin diberikan sebagai upaya

(warfarin) bila diperlukan.

profilaktik

untuk

menurunkan

trombus vena.
- Pantau kualitas nadi perifer, Mengevaluasi
aliran kapiler, warna kulit dan masalah
kehangatan

kulit

dan

perlunya

distal intervensi sesuai keadaan klien.

cedera, bandingkan dengan


sisi yang normal.

klien

perkembangan

REFERENSI
Betz, Cecily Lynn. 2009. Buku Saku Keperawatan Pediatri. Jakarta: EGC.
Brooker, Chris. 2008. Ensiklopedia keperawatan. Jakarta: EGC.
Doenges, Marilyn E. 1999. Rencana Asuhan Keperwatan.Ed.3. terjemahan.
Monica Ester dkk.1999. Jakarta: EGC
Herdman.Heather.T. 2009. Diagnosis Keperawatan NANDA 2009-2011.
Terjemahan Made Sumarwati dkk. Jakarta: EGC
Muscari, mary E. 2005. Panduan Belajar: Keperawatan pediatric. Jakarta: EGC.
Muttaqin, Arif. 2005. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien gangguan Sistem
Musculoskeletal. Jakarta: EGC.
Smeltzer C.S & Bare Brenda.(2003). Brunner & Suddarths Textbook of
Medical Surgical Nursing. 10th Edition. Philadelphia: Lippincott.
Tambayong, Jan. 2000. Patofisiologi untuk Keperawatan. Jakarta: EGC.
Sjamsuhidat, R. dan Wim de Jong. 1998. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC.
Wilkinson, Judith M. 2000. Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan
NIC&NOC.ed.7. Terjemahan Widyawati dkk. Jakarta: EGC.