Anda di halaman 1dari 220

Home

Dosen
Referensi
Artikel Terkait
Situs Terkait
Nilai
Download
Kontak Kami

BIU-1102 BIOLOGI SEL MOLEKULER


Entries RSS | Comments RSS
Search

Rancangan
Pembelajaran
Deskripsi Mata Kuliah

Kompetensi
Pembelajaran
Outcome Pembelajaran
Jadual Kegiatan
Tugas Terstruktur
Monitoring dan
Evaluasi
Pokok Bahasan
Kontrak Pembelajaran
Pendahuluan
Genom
Replikasi DNA
Mutasi dan Perbaikan
DNA
Transkripsi
Translasi
Regulasi Ekspresi Gen
Struktur dan Fungsi Sel
Pesinyalan Sel
Siklus Sel
Kloning Gen
PCR
Sekuensing DNA
Bioinformatika
Acara Praktikum
PCR
Isolasi DNA
Gel Elektroforesis DNA
Transformasi Sel
Analisis Restriksi DNA
Analisis Komputasi
DNA

Blog Stats
40,029 hits

Recent Comments
Hendro Pramonoon Hello world!
Mr WordPress onHello world!
3. Elektroforesis Gel Agarosa

LANDASAN TEORI
Elektroforesis DNA merupakan teknik untuk memisahkan sampel DNA berdasarkan atas ukuran (berat molekul)
dan struktur fisik molekulnya. Gel yang biasa digunakan antara lain agarosa. Elektroforesis gel agarosa dapat
dilakukan untuk memisahkan sampel DNA dengan ukuran dari beberapa ratus hingga 20.000 pasang basa (bp).
Molekul DNA bermuatan negatif sehingga di dalam medan listrik akan bermigrasi melalui matriks gel menuju
kutub positif (anode). Makin besar ukuran molekulnya, makin rendah laju migrasinya. Berat molekul suatu
fragmen DNA dapat diperkirakan dengan membandingkan laju migrasinya dengan laju migrasi fragmen-fragmen
molekul DNA standar (DNA marker) yang telah diketahui ukurannya. Visulisasi DNA selanjutnya dilakukan di
bawah paparan sinar ultraviolet setelah terlebih dahulu gel dalam pembuatannya ditambahkan larutan etidium
bromid. Cara lain untuk melihat visualisasi DNA adalah gel direndam di dalam larutan etidium bromid sebelum
dipaparkan di atas sinar ultraviolet.
TUJUAN
Melakukan elektroforesis DNA menggunakan teknik elektroforesis gel agarosa
BAHAN DAN ALAT
1.

DNA marker, misalnya DNA yang dipotong dengan HindIII

2.

Sampel DNA, misalnya :

3.

DNA kromosom bakteri,

4.

DNA plasmid hasil isolasi (uncut)

5.

DNA plasmid hasil restriksi (cut)

6.

Agarosa

7.

Larutan buffer TAE 50x (242 g tris-base; 57,1 g asam asetat glacial; 100 ml EDTA 0,5 M pH 8; dilarutkan
dalam akuades hingga 1000 ml)

8.

Akuades

9.

Gelas Ukur 1000 ml

10. Labu Erlenmeyer 50 ml


11. Tabung mikrosentrifuga
12. Sarung tangan
13. Seperangkat mikropipet beserta tipnya (Bio-Rad dan Axygen Scientific)
14. Kertas parafilm
15. seperangkat alat elektroforesis
16. Loading dye 6x (0,25% bromophenol blue; 0,25% xylene cyalol; 15% ficoll tipe 4000; EDTA 120 mM)
17. larutan Etidium Bromid (EtBr)
18. UV transluminator

19. Kaca mata UV


20. kamera digital
CARA KERJA
1.

Buat 250 ml larutan buffer TAE 1x dengan cara mencamnpurkan 5 ml TAE 50x ke dalam 245 ml
akuades.

2.

Buat gel agarosa 1% dengan cara menimbang agarosa 0,2 g untuk dilarutkan ke dalam bufer TAE 1x
hingga volume 20 ml. Larutan agarosa dididihkan hingga larut sempurna.

3.

Siapkan baki gel agarosa, lekatkan selotip di tiap ujung baki gel agarosa (pastikan bahwa selotip
melekat kuat dan tidak ada lubang pada masing-masing ujung baki)

4.

Pasang sisir elektroforesis di salah satu ujung baki gel agarosa dengan posisi hampir menyentuh dasar
baki

5.

Periksalah suhu larutan agarosa dengan cara menempelkan erlenmeyer ke tangan, jika suhunya sudah
turun hingga sekitar 50-60 0C, tambahkan 1 l etidium bromid (PERINGATAN KERAS!!, gunakan sarung
tangan karena bersifat karsinogenik).

6.

Larutan agarosa dihomogenkan sebentar, kemudian tuangkan larutan ke dalam baki gel agarosa,
biarkan hingga larutan berubah menjadi gel yang padat.

7.

ambil sisir dengan hati-hati, lepaskan selotip dari ujung-ujung baki.

8.

masukkan baki yang telah berisi gel agarosa ke dalam tangki elektroforesis yang telah diisi dengan
larutan bufer TAE 1x (pastikan bahwa gel terendam seluruhnya dalam TAE).

9.

siapkan sekitar 5 cm kertas parafilm di dekat tangki elektroforesis.

10. masukkan 10 l sampel DNA dan 2 l loading dye 6x ke dalam sumuran gel agarosa dengan cara
mencampurkan kedua bahan tersebut terlebih dahulu secara merata pada kertas parafilm
menggunakan mikropipet.
11. buatlah catatan mengenai nomor sumuran dan jenis sampel DNA yang dimasukkan.
12. hubungkan kabel dari sumber arus ke tangki elektroforesis (pastikan bahwa kabel yang tersambung ke
kutub negatif berada di dekat sumuran; jika tidak demikian, ubahlah posisi baki/gel ke arah sebaliknya).
13. nyalakan sumber arus, aturlah volatase dan waktu running hingga diperoleh angka 70 V dan 45 menit
dengan cara menekan tombol yang sesuai pada sumber arus.
14. jalankan elektroforesis (lakukan running) dengan cara menekan tombol run pada sumber arus.
15. elektroforesis akan berhenti apabila waktu yang ditetapkan sudah habis, yang ditandai oleh adanya
bunyi alarm. Matikan sumber arus dan angkatlah baki dari tangki elektroforesis.
16. keluarkan gel dan letakkan di atas UV transluminator (letakkan selubung kaca hitam di atas UV
transluminator).

17. nyalakan UV transluminator, amati pita-pita DNA yang tervisualisasi.


HASIL
Gambarlah pita-pita DNA hasil elektroforesis dengan nomor sumuran dan jenis sampelnya. Perkirakan ukuran
masing-masing fragmen/pita dengan membandingkannya dengan posisi migrasi pada DNA marker.

Leave a Reply

o
o
o
o
o

Meta
Register
Log in
Entries RSS
Comments RSS
Blog at WordPress.com.

Search

Blog at WordPress.com. The Digg 3 Column Theme.

Follow

Follow BIU-1102 Biologi Sel Molekuler


Get every new post delivered to your Inbox.
Sign me up

Build a website with WordPress.com

DIET SEHAT
PEDULI NUTRISI

Generasi Biologi

HOME
PROFIL
EBOOK BIOLOGI

Komunitas

Fans Page

Group

KATEGORI

anatomy (3)

Artikel (17)

Astrobiology (1)

Biodiversitas (5)

Biofisika (4)

Bioinformatika (3)

Biokimia (7)

Biologi Molekular (18)

Biologi SMA (29)

BioMath (2)

BioReligi (1)

BioSpiritual (2)

Bioteknologi (7)

Botani (7)

Connectome (3)

E-Book Biologi (99)

Ekspedisi (4)

Enzimology (3)

Evolusi (1)

filsafat (1)

Fisiologi Hewan (6)

Fisiologi Tumbuhan (10)

Forensik (2)

Genetika (9)

Global Warming (2)

Histologi (2)

Kesehatan (14)

Laboratorium (3)

Lingkungan (9)

Mikrobiologi (2)

Mikroteknik (7)

Neurosains (1)

Nutrisi (4)

Rekayasa Genetika (3)

Spesies Baru (5)

Virologi (5)

zoologi (14)

COPYRIGHT THIS BLOG

ELEKTROFORESIS
Jumat, Agustus 17, 2012 Biologi Molekular, Laboratorium 1 comment
Elektroforesis merupakan proses migrasi molekul bermuatan dalam medium yang dialiri arus listrik (Holme dan
Hazel, 1998). Westermeier (2005) menjelaskan bahwa prinsip dasar elektroforesis adalah molekul dan partikel
bermuatan akan bergerak ke arah elektrode yang memiliki muatan berlawanan di bawah pengaruh medan listrik.
Laju migrasi molekul bermuatan tersebut menuju elektrode yang bermuatan negatif disebut elektromobilitas.
Elektromobilitas suatu molekul dipengaruhi oleh beberapa faktor, sebagaimana yang dijabarkan oleh Switzer
(1999) bahwa semakin besar muatan molekul maka semakin besar pula elektromobilitasnya, nilai
elektromobilitas berbanding terbalik dengan besar ukuran molekul sehingga molekul dengan ukuran lebih besar
memiliki elektromobilitas yang lebih kecil bila dibandingkan dengan molekul yang berukuran lebih kecil. Selain
besar muatan dan ukuran molekul tersebut, topologi atau bentuk molekul turut berpengaruh pula terhadap
elektromobilitas suatu molekul. Elektroforesis DNA umumnya menggunakan metode elektroforesis gel agarosa
(Karp, 2008). Metode elektroforesis tersebut pada prinsipnya melibatkan fase stasioner yang berupa gel agarosa
dan fase gerak berupa buffer Tris-acetate EDTA (TAE) atau Tris-borat EDTA (TBE) (Switzer, 1999). TBE (Trisborat EDTA) 1X, Tris/Borat merupakan buffer yang umum digunakan sebagai buffer elektroforesis karena

memiliki kapasitas buffering yang tinggi pada titik isoelektriknya (Ausubel, et al., 2003). Borat bertindak sebagai
conducting ion sehingga dapat mempertahankan kesetimbangan ion H+ dan OH- yang dihasilkan oleh elektrode,
hal ini berhubungan dengan fungsi buffer dalam menjaga kesetimbangan pH saat migrasi fragmen DNA
berlangsung, perubahan pH dapat mendenaturasi struktur DNA sehingga merubah elektromobilitas DNA (Martin,
1996). Contoh alat eletroforesis berada pada Gambar 1.

Gambar 1. Alat elektroforesis.

Agarosa merupakan polisakarida turunan yang didapat dari alga merah (Miesfeld, 1999). Gel agarose dapat
digunakan untuk memisahkan DNA berukuran lebih dari 100 bp, sedangkan untuk memisahkan DNA dengan
ukran lebih pendek dapat digunakan gel poliakrilamid (Wilson dan John, 1994). Gel agarose merupakan fase
diam dalam pemisahan fragmen DNA, konsentrasi agarose yang digunakan dalam pemisahan fragmen DNA
sangat mempengaruhi mobilitas fragmen DNA, semakin besar konsentrasi agarose yang digunakan maka
semakin kecil pori-pori gel, dan semakin kecil konsentrasi agarose maka semakin besar pori-pori gel. Perangkat
dalam elektroforesis gel agarosa diantaranya terdiri dari power supply sebagai sumber arus listrik; cetakan gel;
sisir yang digunakan untuk membuat sumuran tempat peletakan DNA yang akan dielektroforesis. Pembuatan
sumuran ini dilakukan dengan meletakkan sisir pada gel sebelum gel memadat; tangki elektroforesis; dan
elektrode(Martin, 1996). Pemisahan fragmen DNA berdasarkan elektromobilitas berguna sebagai metode analitik
maupun preparatif, molekul DNA yang bermuatan negatif karena adanya gugus fosfat akan bergerak menuju
anode (elektrode bermuatan positif) saat dipisahkan dengan elektroforesis (Miesfeld, 1999). Fragmen DNA yang
memiliki ukuran molekul yang sama akan memiliki elektromobilitas yang sama dan menempuh jarak migrasi
yang sama pula (Gilbert, 2000). Proses running elektroforesis DNA sampel bersamaan dengan DNA yang telah
diketahui ukurannya (standard) dapat berguna dalam analisis besar ukuran DNA dalam sampel (Switzer, 1999)
(Gambar 2). Maloy et al. (1994) menjelaskan bahwa topologi DNA yang dipisahkan menentukan elektromobilitas
DNA. DNA yang mengalami supercoil akan bermigrasi lebih cepat karena strukturnya sangat kompak. DNA yang
akan dielektroforesis pada umumnya dicampur dengan loading dye yang berfungsi untuk memonitor mobilitas
elektroforesis, loading dye bermigrasi bersama molekul DNA selama proses running elektroforesis. bromphenol

blue dan xylenecyanol merupakan jenis loading dye yang umum digunakan dalam elektroforesis DNA,
bromphenol blue dapat bermigrasi bersama dengan molekul DNA berukuran 0,5 kb sedangkan xylenecyanol
dapat bermigrasi bersama molekul DNA berukuran 5 kb (Ausubel et al., 2003).

Gambar 2. Mobilitas molekul DNA dalam agar pada saat running.

Hasil elektroforesis dapat divisualisasi dengan menggunakan pewarna fluoresensi ethidium bromide (EtBr)
(Gilbert, 2000). Secara teknis, setelah proses running, gel direndam dalam larutan buffer TBE atau TAE yang
mengandung ethidium bromide, selanjutnya ethidium bromide akan berdifusi ke dalam gel dan berasosiasi
dengan DNA (Switzer, 1999). Ethidium bromide mampu berinterkalasi diantara pasang basa nukleotida pada
struktur double heliks (Gambar 3) dan saat gel hasil elektroforesis disinari dengan ultraviolet maka fragmenfragmen DNA yang telah terpisah tampak sebagai band-band berwarna oranye (Campbell dan Shawn, 2009).

Gambar 3. Interkalasi ethidium bromide dalam molekul DNA.

Artikel Terkait:
Laboratorium

Spektrofotometri

Isolasi DNA

Biologi Molekular

Mengenal Virus MERS

Menjaga Takdir Usia Melalui Telomer

Telomer: Rahasia Keabadian Sel Tubuh

Enzim Restriksi

Microarray: Biologi di Era Pascagenomik

Splicing: Regulasi Pemrosesan mRNA Pascatranskripsi

KARAKTERISTIK DNA

Marka Molekular

Notasi Genetik

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest


Posting Lebih BaruPosting LamaBeranda

1 comments:
Poskan Komentar

Langganan: Poskan Komentar (Atom)

SOCIAL PROFILES

Search

Popular
Tags
Blog Archives

Mutasi
Standar Kompetensi : menjelaskan peristiwa mutasi dan implikasinya dalam Salingtemas. A.
Pengertian Mutasi merupakan peru...

Pola-Pola Hereditas
Standar Kompetensi: menerapkan prinsip hereditas dalam mekanisme pewarisan sifat. A.
Pola Hereditas 1.
Pewaris...

Pola-

Keanekaragaman Hayati
Kompetensi Dasar:
mendeskripsikan konsep keanekaragaman gen, jenis, dan ekosistem
melalui kegiatan pengamatan;
...

Evolusi
Kompetensi Dasar:
menjelaskan teori, prinsip, dan mekanisme evolusi biologi;
mengkomunikasikan hasil studi evo...

Struktur dan Fungsi Protein


Protein adalah makromolekul yang paling banyak ditemukan di dalam sel makhluk hidup dan
merupakan 50 persen atau lebih dari berat kerin...

FOLLOW US ON FACEBOOK
FOLLOWERS

close
Copyright 2011 Generasi Biologi | Powered by Blogger
Design by FThemes | Blogger Theme by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Elegant Themes

[tutup]
Mari bergabung dengan komunitas Wikipedia bahasa Indonesia!

Percobaan Griffith
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa

Percobaan Griffith menemukan "prinsip transformasi" dalam bakteripneumococcus

Percobaan Griffith, dilakukan pada tahun 1928 oleh Frederick Griffith, adalah salah satu
percobaan pertama yang menunjukkan bahwa bakteri dapat memindahkan informasi genetik
melalui proses yang disebut transformasi [1][2]
Griffith menggunakan dua galur Pneumococcus (yang menginfeksi tikus), galur tipe III-S dan tipe
II-R. Galur III-S memiliki kapsul polisakarida yang membuatnya tahan terhadap sistem kekebalan
inangnya sehingga mengakibatkan kematian inang, sementara galur II-R tidak memiliki kapsul
pelindung tersebut dan dapat dikalahkan oleh sistem kekebalan tubuh inang.
Dalam eksperimen ini bakteri galur III-S dipanaskan hingga mati, dan sisa-sisanya ditambahkan
ke bakteri galur II-R. Meskipun tikus tidak akan mati bila terkena baik sisa-sisa bakteri galur III-S
(yang sudah mati) ataupun galur II-R secara terpisah, gabungan keduanya mengakibat kematian
tikus inang. Griffith berhasil mengisolasi baik galurpneumococcus II-R hidup maupun III-S hidup
dari darah tikus mati ini. Griffith menyimpulkan bahwa bakteri tipe II-R
telah tertransformasikan menjadi galur III-S oleh sebuah prinsip transformasi yang entah
bagaimana menjadi bagian bakteri galur III-S yang mati.
Kini kita mengetahui bahwa prinsip pentransformasi yang diamati oleh Griffith adalah DNAbakteri
galur III-S. Meskipun bakteri itu telah mati, DNA-nya bertahan dari proses pemanasan dan
diambil oleh bakteri galur II-R. DNA galur III-S mengandung gen yang membentuk kapsul
perlindungan. Dilengkapi dengan gen ini, bakteri galur II-R menjadi terlindung dari sistem
kekebalan inang dan dapat membunuhnya. Verifikasi DNA sebagai prinsip pentransformasi ini
dilakukan dalam percobaan oleh Avery, McLeod dan McCarty dan oleh Hershey dan Chase.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Genetika

Percobaan Avery-MacLeod-McCarty

Percobaan Hershey-Chase

Rujukan[sunting | sunting sumber]

^ Lorenz MG, Wackernagel W (1994). "Bacterial gene transfer by


natural genetic transformation in the environment". Microbiol.
Rev. 58 (3): 563602. PMID 7968924.

^ Downie AW (1972). "Pneumococcal transformation--a backward


view. Fourth Griffith Memorial Lecture". J. Gen. Microbiol. 73 (1):
111. PMID 4143929.

(Inggris)Avery, MacLeod, and McCarty (1944). "Studies on the

Chemical Nature of the Substance Inducing Transformation of


Pneumococcal Types: Induction of Transformation by a
Desoxyribonucleic Acid Fraction Isolated from Pneumococcus
Type III". Journal of Experimental Medicine 79 (1): 137
58.doi:10.1084/jem.79.2.137.
(Merujuk kepada percobaan awal oleh Griffith. Tersedia
pula artikel asli ((Inggris)) dan cetakan ulang)

(Inggris) Daniel Hartl and Elizabeth Jones (2005). Genetics:

Analysis of Genes and Genomes, 6th edition. Jones &


Bartlett. 854 halaman. ISBN 0-7637-1511-5.
Kategori:
Percobaan genetika

Mikrobiologi

Menu navigasi

Belum masuk log

Pembicaraan IP ini

Contributions

Buat akun baru

Masuk log

Baca
Sunting
Sunting sumber
Versi terdahulu
Lanjut

Halaman Utama

Halaman
Pembicaraan

Perubahan terbaru
Peristiwa terkini
Halaman baru
Halaman sembarang
Komunitas

Warung Kopi

Portal komunitas

Bantuan
Wikipedia

Tentang Wikipedia

Pancapilar

Kebijakan

Menyumbang

Hubungi kami

Bak pasir
Bagikan

Facebook

Twitter

Google+
Cetak/ekspor

Buat buku

Unduh versi PDF

Versi cetak
Perkakas

Pranala balik

Perubahan terkait

Halaman istimewa

Pranala permanen

Informasi halaman

Item di Wikidata

Kutip halaman ini


Bahasa lain

Catal

Deutsch

English

Esperanto

Espaol

Euskara

Suomi

Franais

Magyar

Italiano

Ripoarisch

Latina

Limburgs

Nederlands

Polski

Romn

Srpskohrvatski /
Simple English
/ srpski
Svenska
Tagalog

Sunting interwiki

Halaman ini terakhir diubah pada 5 April 2013, pukul 22.38.

Teks tersedia di bawah Lisensi Atribusi-BerbagiSerupa Creative Commons;


ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk
lebih jelasnya.

Kebijakan privasi

Tentang Wikipedia

Penyangkalan

Pengembang

Tampilan seluler

Annisa
Nuraisyah
All we learn as a Ners
JUMAT, 21 SEPTEMBER 2012

Analisis DNA

Pendahuluan
KINI dengan analisis dan teknologi deoxyribonucleic acid (DNA), kasuskasus yang sulit terungkap menjadi lebih mudah terungkap dan terpecahkan.
Seperti kita ketahui, DNA adalah bahan dasar yang membangun seluruh ciri
genetik seseorang. DNA terdapat pada setiap sel manusia, dan seluruh sel
memiliki DNA yang sama satu dengan yang lainnya. Misalnya, DNA yang ada
pada sel kulit sama dengan DNA yang terdapat pada sel darah maupun DNA
pada sel rambut dan lain sebagainya. Selain itu, DNA bersifat unik yakni setiap
DNA seseorang berbeda dengan DNA orang yang lain. Karena sifat inilah DNA
bisa dipakai sebagai penanda identitas individu, garis keturunan, dan etnis. DNA
terdapat pada darah, sel kulit, otot, sel-sel otak, tulang, gigi, rambut, saliva,
jantung, mukosa, urine, dan pada seluruh sel manusia.
Analisis DNA manusia bertujuan untuk mengarakterisasi DNA seseorang
untuk mengidentifikasi susunan DNA-nya. Barang bukti DNA dapat diambil dari
barang bukti biologis, baik dalam keadaan utuh maupun tidak utuh lagi. Hal ini
berbeda dengan analisis sidik jari yang mudah rusak atau hilang dan akurasinya
sangat bergantung pada keutuhannya. Tes DNA dapat dilakukan hanya dengan
barang bukti DNA yang jumlahnya sedikit. Hal ini karena digunakannya teknik
yang

disebut

Polymerase

Chain

Reaction

(PCR)

atau

reaksi

polimerasi

berantai. Analisa DNA banyak digunakan untuk karakterisasi sifat genetik pada

level molekuler yang secara langsung mencerminkan sifat genotip (materi


genetik) yang dimiliki oleh organisme tertentu. Analisis DNA ini terdiri dari tiga
tahap yaitu ekstraksi DNA, PCR, dan

elektroforesis.

Kegunaan Analisis DNA


Penemuan

DNA,

struktur

dan

bagaimana

ia

membawa

informasi

genetik memiliki efek mendalam pada pemahaman kita tentang pengembangan


tanaman

dan

hewan

danbagaimana

beberapa

penyakit

kemungkinan disembuhkan. Selain itu, penemuanini

disebabkan

dan

telah menyebabkan

revolusi dalam ilmu forensik. Sekarang

ini, profi l DNA berhasilmemungkinkan untuk mengaitkan sampel DNA


ke orang tertentu dengan tingkat kepastian yang tinggi, memberikan sesuatu
yang baru di bidang penegak hokum dan ilmu forensik.
Negara kita dengan tantangan penegakan hukum yang semakin tinggi,
juga menggunakan teknologi DNA untuk mendapatkan suatu kepastian secara
akurat, seperti dalam memastikan tersangka pelaku bom bunuh diri di Hotel J.W.
Marriott dan The Ritz-Carlton, yakni Dani Dwi Permana dan Nana Ichwan
Maulana. Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Mabes Polri tetap perlu mengambil
sampel darah dari keluarga orang tua pelaku untuk dilakukan pencocokan
(homologi) DNA, untuk mendapatkan kepastian secara ilmiah. Ke depan,
diperlukan membangun suatu database yang memuat profil-profil DNA manusia
Indonesia dari berbagai suku untuk mempermudah pihak kepolisian dalam
mengungkap kasus-kasus tindak kejahatan dan pelaku bom bunuh diri.
Dunia kedokteran telah berulang kali menggunakan DNA sebagai dasar
penyembuhan dan diagnosis penyakit. Baru-baru ini Dr Justin Hao, dari President
of the Asia Academy of Anti-Aging and Aesthetic Medicine Asia-Pacific,
menggunakan analisis DNA untuk mendiagnosis penurunan fungsi fisik dan
penuaan yang dialami pasiennya.

Metode Analisis DNA


DNA adalah suatu molekul primer yang keberadaannya selalu terkait dengan RNA
dan protein. Sedangkan dalam menganalisis DNA yang diperlukan adalah DNA dalam

bentuk murni (Stine, 1973). Karp (1984) menyatakan bahwa langkah pertama dalam
mengekstraksi DNA adalah menghancurkan sel dan mengisolasi asam nukleat. Dalam
ekstraksi DNA jenis sumber sel yang digunakan ada beberapa macam seperti hati, otot,
sirip, darah, dan sel hasil kultur. Sedangkan kondisi sumber sel meliputi sumber sel segar,
sumber sel terfikasasi dan sumber sel beku (Sambrook, 1989). Pada saat diisolasi, inti sel
biasanya tersuspensi dalam larutan garam buffer, yang kemudian ditambahkan dengan
sedikit larutan deterjen pekat seperti SDS (Sodium Doecyl Sulfat). Deterjen juga bertindak
sebagai penghambat semua aktivitas enzim nuklease yang ada selama proses ekatraksi.
Langkah yang kedua dalam ekstraksi adalah pemisahan DNA dari bahan-bahan kontaminan
seperti RNA dan protein, dimana untuk menghilangkan protein digunakan proteolitik
(Proteinase K) pada larutan DNA dan untuk menghilangkan kontaminan RNA digunakan
enzm RNase (ribonuklease) (Saunders & Parkes, 1999 dalam Octavera,2008),
4
serta pengendapan DNA dengan proses sentrifuse, dimana dalam proses sentrifuse
asam nuleat diendapkan dengan penambahan etanol dingn, dan pellet yang terbentuk
dilarutkan kemabila dengan buffer yang mengandung SDW (Steril Destillation Water) dan
pemanenan. Hasil ekstraksi DNA tersebut merupakan tahapan yang penting untuk prosedur
berikutnya, sehingga ekstraksi DNA harus dilaksanakan dengan baik dan bebas
kontaminansi (Sulandari dan Zein, 2003).
Dalam analisa DNA selanjutnya dilakukan PCR, Menurut Lisdiyanti (1997) prinsip
analisa PCR adalah reaksi memperbanyak DNA dengan memnafaatkan cara replikasi DNA
dengan bantuan enzim DNA polimerase dan perubahan sifat fisik DNA terhadap suhu.
Replikasi DNA terjadi jika DNA utas tunggal yang bertindak sebagai cetakan, dan ada energi
pembangun basa yaitu dNTP, maka enzim DNA polimerase akan mengatalisis pembuatan
DNA utas lain yang merupakan komplemen utas dari cetakan. Reaksi ini harus dimulai
dengan adanya primer atau pemula.
Dalam proses PCR dilakukan sejumlah siklus yang digunakan untuk mengamplifikasi
suatu sekuen DNA spesifik. Satu siklus terdiri dari tiga tahapan yaitu
denaturasi, annealing (hibridisasi), dan ekstensi (polimerasi). Denaturasi dilakukan pada
suhu 90-95C, pada tahap ini terjadi pemisahan utas ganda DNA menjadi dua utas tunggal
DNA yang menjadi cetrakan sebagai tempat penempelan primer dan tempat kerja DNA
polymerase (Sulandari dan Zein, 2003). Kemudian dilanjutkan dengan tahap annealing yaitu
tahap pelekatan primer pada masing-masing untaian pita DNA, dengan menggunakan suhu
sedang. Setelah itu pada tahap extention, enzim DNA polimerase akan bekerja
memperpanjang primer hingga terbentuk untaian pasangan basa pada sepanjang target
sekuens DNA. Ketiga tahap ini akan diulang kembali sampai 25-30 ulangan (Arnheim,
1990).

Selanjutnya tahap elektroforesis merupakan suatu proses migrasi dari fragmen DNA
di dalam gel yang direndam dalam larutan penyangga. Pada pratikum ini primer yang
digunakan adalah primer FBPA ( 5GAC AAC GGM TCY GGY 3), dan primer RBP 1 (5
TAG AAG GTG TGR TGC 3).
Metode elektroforesis ini dapat dikelompokkan menjadi tiga langkah pertama,
persiapan gel agarosa dengan konsentrasi agarose yang disesuaikan dengan ukuran DNA
fragmen yang akan dipisahkan. Kedua, DNA sampel dimasukkan ke dalam lubang
gel dan gel ditaruh di bak elektroforesis yang dialiri listrik dengan tegangan dan waktu
tertentu sehingga menghasilkan pemisahan yang baik. Pada tahap ketiga, gel direndam
dalam etidium bromida atau etidium bromida telah digunakan pada gel dan penyngga
elektroforesis. Hasil elektroforesis ini dapat dilihat langsung pada penyinaran dengan sinar
UV (Lewin, 1994). Perjalanan DNA ini dipengaruhi oleh arus listrik, The electric current gived
between two electrode causes DNA move from negative pole to positive pole (Permana,
2008). Metode Electroporesis / PolymeraseChain Reaction-Temperature Gradient Gel
Electrophoresis (PCR-TGGE) adalahsuatu metode analisis keragaman yang mendeteksi
adanya mutasi menggunakan gelyang memiliki perbedaan suhu (Jasik dan Reichert, 2006).
Denaturing Gradient Gel Electrophoresis (DGGE) merupakan salah satumetode yang dapat
membedakan adanya mutasi berdasarkan berat molekul fragmenDNA pada gel yang
memiliki perbedaan konsentrasi bahan untuk menyamakan beratmolekul (denaturing) (Liu et
al.,2008).

Kesimpulan
DNA merupakan suatu unit terkecil dari makhluk hidup yang merupakan
pembawa sifat keturunan. Analisa DNA banyak digunakan untuk karakterisasi
sifat genetik pada level molekuler yang secara langsung mencerminkan sifat
genotip (materi genetik) yang dimiliki oleh organisme tertentu. Analisis DNA ini
terdiri dari tiga tahap yaitu ekstraksi DNA, PCR, dan
atas dua utas

elektroforesis. DNA terdiri

benang polinukleotida yang saling berpilin membentuk heliks

ganda (double helix).Sekarang ini, profi l DNA berhasilmemungkinkan untuk


mengaitkan sampel DNA ke orang tertentu dengan tingkat kepastian yang tinggi,
memberikan sesuatu yang baru di bidang penegak hokum, ilmu forensic dan anti
penuaan.

Diposkan oleh Nisa di 05.28


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Tidak ada komentar:


Poskan Komentar

Posting Lebih BaruBeranda


Langganan: Poskan Komentar (Atom)
MENGENAI SAYA

Nisa
Lihat profil lengkapku
DEKAN FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN

H. Mamat Lukman, S.KM., S.Kp., M.Si.


STAFF PENGAJAR

Ibu Nur Oktaviani Hidayat

ARSIP BLOG

2012 (2)

Desember (1)

September (1)

Analisis DNA
getbox! Not seeing a widget? (More info)

Widget Animasi

Diberdayakan oleh Blogger.

a1-6075 weblog
A1-6075

Skip to content

Home
About

Dua Percobaan yang Mengarahkan Ahli


Biologi Molekuler Menyimpulkan bahwa
Gen Disusun DNA dan Keterbatasanketerbatasan Masing-masing
Percobaan Tersebut
Nama
NIM
Kelas
E-mail
Blog
Topik

: Ratna Maulida
: B1J006075
: A1
: ratn4_ni3_ya@yahoo.com
: https://ratn4profil3.wordpress.com/
: (A1-GM1)
RINGKASAN

Percobaan Frederick Griffith (1928)


Pada tahun 1928 Frederick Griffith menggunakan bakteri Stretococcus
pneumoniae dengan dua strain berbeda, strain tipe S (virulen) dan strain tipe R (avirulen).
Percobaan ini menunjukkan bahwa komponen bakteri virulen yang telah dipanasi dapat
mentransformasi bakteri yang bersifat avirulen menjadi bakteri virulen. Tetapi dari
percobaannya tersebut Griffith belum menemukan penyebab dari transformasi yang terjadi
terhadap bakteri avirulen yang berubah menjadi bakteri virulen.

Gambar 1 : (a) Mencit yang diinjeksi dengan menggunakan bakteri tipe R (nonvirulen) hidup,
(b) Mencit yang diinjeksi dengan bakteri tipe S (virulen) mati, (c) Mencit yang diinjeksi
dengan bakteri tipe S yang dipanaskan tetap hidup, (d) Mencit mati ketika diinjeksi dengan
bakteri tipe R yang ditambahkan dengan bakteri tipe S yang telah dipanaskan, bakteri tipe R

yang tadinya bersifat avirulen mengalami transformasi menjadi bakteri tipe S yang bersifat
virulen.
Sumber : https://filebox.vt.edu/users/mahogan2/Filebox%20Portfolio/Webquest%20for
%20DNA.htm akses 22 september 2008
Percobaan Griffith kemudian dilanjutkan oleh Oswald T. Avey dan rekannya Colin
M. Mac Leod dan Maclyn McCarty (1944) dari Universitas Colombia, New York. Pada
percobaan Avery dan kawan-kawan dilakukan dengan menambahkan ekstrak DNA dari srain
S yang telah mati kepada strain R yang ditumbuhkan pada medium baru. Pada medium
tersebut ditambahkan enzim protease, ribonuklease dan deoxyribonuklease. Pada medium
yang ditambahkan enzim protease dan ribonuklease, transformasi tetap terjadi strain R
berubah menjadi strain S. Pada medium yang ditambahkan enzim deoxyribonuklease, maka
transformasi tidak terjadi. Hal tersebut menunjukkan bahwa materi genetik yang
menyebabkan terjadinya transformasi adalah DNA. Tetapi percobaan tersebut tidak begitu
saja diterima, ada kelemahan dari percobaan tersebut. Hasil yang membuktikan bahwa materi
pentransformasi adalah DNA menjadi tidak sah karena ada dugaan pada saat percobaan
terjadi kontaminasi atau pencemaran dari enzim protease yang juga dapat mendegradasi
protein yang diujikan pada mencit.

Gambar 2 : Hal terpenting dari transformasi adalah DNA, Avery dan rekannya
menunjukkan bahwa transformasi tidak terpengaruh penambahan protease dan
ribonuklease, tetapi tidak aktif (tidak terjadi transformasi) karena ditambahkan
deoxyribonuklease.
Sumber : Gambar 1.3. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/bv.fcgi?rid=genomesakses 22
september 2008
Percobaan Alfred Hersey dan Martha Chase (1952)
Percobaan kedua dilakukan oleh Hersey dan Chase dengan mempelajari tentang
infeksi bakteriofag (virus yang menyerang bakteri). Percobaan ini menggunakan pelabelan
pada kapsul protein dan DNA dengan menggunakan isotop radioaktif phosphor ( P) pada
DNA dan isotop radioaktif sulfur ( S) pada kapsul protein. Bakteriofage (T2) yang telah
dilabeli diinfeksikan pada Escherichia coli dan proses dilanjutkan dengan melakukan
sentrifugasi. Tujuannya adalah untuk melepaskan material fage dari permukaan bakteri,
supaya komponennya tertinggal di dalam suspensi tersebut. Setelah dilakukan sentrifugasi,
Hersey dan Chase memeriksa dan menemukan di dalam bakteri terdapat 70 % komponen
radioisotop P dari DNA fage tetapi hanya 20 % dari material radioisotope S (fage protein).
Fage baru ini terdiri dari hampir setengah DNA dari fage yang asli, tetapi mengandung
protein kurang dari 1 %. Dengan kata lain lebih banyak ditemukan DNA fage dibanding
protein. Pada percobaan ini mendukung pandangan bahwa DNA adalah material genetik.
Keterbatasan dari percobaan ini adalah pada saat itu para ahli biologi menganggap bahwa
virus bukanlah suatu organisme dan beberapa genome fage terdiri dari RNA.
32

35

32

35

Gambar 3 : Bakteriofage dilabeli dengan isotop radioaktif sulfur ( S) untuk melabeli kapsul
protein dan isotop radioaktif phosphor ( P) untuk melabeli inti DNA. Pada
percobaan tersebut menunjukkan material genetik yang ditemukan di dalam
inang (bakteri Escherichia coli) adalah DNA bukan protein.
Sumber:
https://filebox.vt.edu/users/mahogan2/Filebox%20Portfolio/Webquest%20for%20DNA.htm
akses 22 september 2008
35

32

Daftar Pustaka
Brown, T.A (2002) DNA in Genomes, 2nd ed.,
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/bv.fcgi?rid=genomes.section.5234
akses 22 september 2008
Situs Terkait :
1.
https://filebox.vt.edu/users/mahogan2/Filebox%20Portfolio/Webquest%20for
%20DNA.htm
Posted
Ratna
ni3 on September 26, 2008 in Uncategorized.
About by
these
ads
Leave a comment

About Ratna ni3


just the way you are

View all posts by Ratna ni3

Leave a Reply

Post navigation
Previous Post

Search for:
Search

Categories

Uncategorized (2)

Create a free website or blog at WordPress.com. | The Selecta Theme.

Follow

Follow A1-6075 Weblog


Get every new post delivered to your Inbox.
Sign me up

Build a website with WordPress.com

DUNIA BIOLOGI LOMBOK

Selamat datang di DUNIA BIOLOGI LOMBOK dunia penuh inspirasi


GO

BERANDA

ya Allah jadikanlah aku orang yang mulia dihadapanmu dan jadikanlah aku orang yang sukses.
Translate this site to other languages

SEJARAH DNA

Minggu, 09 Oktober 2011 | MUHAMMAD HENDRA di 06.55 | Label: DNA

Sejarah DNA Penelitian


DNA pertama kali diisolasi oleh dokter Swiss Friedrich Miescher yang, pada 1869, menemukan substansi
mikroskopis dalam nanah perban bedah dibuang. Seperti tinggal di dalam inti sel, ia menyebutnya "nuklein".
Pada tahun 1919, Phoebus Levene mengidentifikasi unit dasar, gula dan fosfat nukleotida. Levene menyarankan
bahwa DNA terdiri dari serangkaian unit nukleotida dihubungkan bersama melalui gugus fosfat. Namun, berpikir
Levene rantai pendek dan basis diulang dalam urutan yang tetap. Pada tahun 1937 William Astbury
menghasilkan pola difraksi sinar-X pertama yang menunjukkan bahwa DNA memiliki struktur yang teratur.
Pada tahun 1928, Frederick Griffith menemukan bahwa ciri-ciri bentuk "halus" dari''''Pneumococcus dapat
ditransfer ke bentuk "kasar" dari bakteri yang sama dengan mencampur membunuh "halus" bakteri dengan
bentuk hidup "kasar". Sistem ini memberikan saran yang jelas pertama bahwa DNA membawa informasi genetik
yang Avery--MacLeod-McCarty percobaan-ketika Oswald Avery, Colin bersama dengan rekan kerja MacLeod
dan Maclyn McCarty, mengidentifikasi DNA sebagai prinsip transformasi pada tahun 1943. Peran DNA di
keturunan telah dikonfirmasi pada tahun 1952, ketika Alfred Hershey dan Martha Chase dalam eksperimen
Hershey-Chase menunjukkan bahwa DNA adalah materi genetik dari fag T2.
Pada tahun 1953 James D. Watson dan Francis Crick mengusulkan apa yang sekarang diterima sebagai model
yang benar pertama double-helix DNA dalam struktur Nature''''jurnal. diambil oleh Rosalind Franklin dan
Raymond Gosling Mei 1952, serta informasi bahwa basa DNA dipasangkan-juga diperoleh melalui komunikasi
pribadi dari Erwin Chargaff tahun-tahun sebelumnya. Aturan Chargaff memainkan peran yang sangat penting
dalam membangun konfigurasi double-helix untuk B-DNA serta A DNA.
Bukti eksperimental yang mendukung Watson dan Crick model yang diterbitkan dalam serangkaian lima artikel
dalam edisi yang sama Alam''''. Dari jumlah tersebut, kertas Franklin dan Gosling adalah publikasi pertama
mereka sendiri data X-ray difraksi dan metode analisis asli yang sebagian didukung model Watson dan Crick,
masalah ini juga berisi artikel tentang struktur DNA oleh Maurice Wilkins dan dua rekannya, yang analisis dan in
vivo''''B-DNA X-ray pola juga mendukung''kehadiran di''in vivo dari heliks ganda DNA konfigurasi seperti yang
diusulkan oleh Crick dan Watson double-helix model molekul DNA mereka di sebelumnya dua halaman''Alam''.

Pada tahun 1962, setelah kematian Franklin, Watson, Crick, dan Wilkins bersama-sama menerima Hadiah Nobel
dalam Fisiologi atau Kedokteran. Sayangnya, aturan Nobel waktu hanya diperbolehkan penerima hidup, tetapi
perdebatan sengit terus tentang siapa yang harus menerima kredit untuk penemuan itu.
Dalam presentasi yang berpengaruh pada tahun 1957, Crick ditata "Dogma Pusat" biologi molekuler, yang
meramalkan hubungan antara DNA, RNA, dan protein, dan diartikulasikan "hipotesis adaptor". Konfirmasi akhir
dari mekanisme replikasi yang tersirat oleh struktur heliks ganda diikuti pada tahun 1958 melalui percobaan
Meselson-Stahl. Pekerjaan lebih lanjut oleh Crick dan rekan kerja menunjukkan bahwa kode genetik didasarkan
pada non-overlapping kembar tiga pangkalan, yang disebut kodon, yang memungkinkan Har Gobind Khorana,
Robert Holley dan Marshall W. Nirenberg Warren untuk menguraikan kode genetik. Temuan ini mewakili
kelahiran biologi molekuler.

PERCOBAAN AVERYMACLEODMCCARTY
Percobaan AveryMacLeodMcCarty menunjukkan adanya bukti bahwa DNA dapat
mentrasformasi bakteri. AveryMacLeodMcCarty melanjutkan penelitian yang dilakukan oleh
Frederick Griffith sebelumnya.
Pada tahun 1928, Frederick Griffith, seorang petugas kesehatan berasal dari Inggris yang
mempelajari Streptococcus pneumoniae, suatu bakteri ysng menyebabkan penyakit pneumonia pada mamalia.
Percobaan Frederick Griffith adalah salah satu percobaan pertama yang menunjukkan bahwa bakteri dapat
memindahkan informasi genetik melalui proses yang disebut transformasi.
Griffith menggunakan dua galur Pneumococcus (yang menginfeksi tikus), galur tipe III-S dan tipe II-R.
Galur III-S memiliki kapsul polisakarida yang membuatnya tahan terhadap sistem kekebalan inangnya sehingga
mengakibatkan kematian inang, sementara galur II-R tidak memiliki kapsul pelindung tersebut dan dapat
dikalahkan oleh sistem kekebalan tubuh inang. Dalam eksperimen ini bakteri galur III-S dipanaskan hingga mati,
dan sisa-sisanya ditambahkan ke bakteri galur II-R. Meskipun tikus tidak akan mati bila terkena baik sisa-sisa
bakteri galur III-S (yang sudah mati) ataupun galur II-R secara terpisah, gabungan keduanya mengakibat
kematian tikus inang. Griffith berhasil mengisolasi baik galur pneumococcus II-R hidup maupun III-S hidup dari
darah tikus mati ini. Griffith menyimpulkan bahwa bakteri tipe II-R telah tertransformasikan
Prinsip pentransformasi yang diamati oleh Griffith adalah DNA bakteri galur III-S. Meskipun bakteri itu
telah mati, DNA-nya bertahan dari proses pemanasan dan diambil oleh bakteri galur II-R. DNA galur III-S
mengandung gen yang membentuk kapsul perlindungan. Dilengkapi dengan gen ini, bakteri galur II-R menjadi
terlindung dari sistem kekebalan inang dan dapat membunuhnya.
Penelitian Griffith tersebut menjadi titik awal bagi sebuah penelitian untuk mencari identitas substansi
pentransformasi yang dilakukan oleh ahli bakteriologi Amerika Oswald Avery. Ia memurnikan berbagai macam
zat kimia dari bakteri-bakteri patogenik yang telah dimatikan dengan panas, kemidian mencoba
mentransformasikan bakteri nonpatogenik hidup dengan setiap zat kimia. Hanya DNA yang mampu
melakukannya.

Pada percobaan Avery, MacLeod, dan McCarty mengkulturkan galur IIIS dalam jumlah volume yang
besar, kemudian mengendapkannya dengan sentrifugasi dan mensuspensikannya kembali menjadi volume yang
lebih kecil untuk memudahkan penanganan berikutnya. Sel-sel ini kemudian dimatikan dengan pemanasan.
Setelah dilakukan pencucian dan ekstraksi dengan detergen, sebagian filtrat yang dihasilkan digunakan untuk
transformasi dengan mencampurnya dengan sel hidup galur IIR. Ternyata filtrat ini masih mampu menginduksi

transformasi. Sebagian filtrat lagi dibuang proteinnya, dan sebagian lagi dibuang polisakaridanya, dan sebagian
lagi dibuang protein dan polisakaridanya. Filtrat-filtrat ini masih aktif menginduksi proses transformasi. Setelah
pembuangan protein dan polisakarida, filtrat ini dipresipitasikan dengan etanol dan didapatkan benang-benang
asam nukleat yang masih mempunyai kemampuan untuk menginduksi transformasi.

Untuk mengkonfirmasi hasil tersebut, filtrat dari sel IIIS yang telah dimatikan diperlakukan dengan
protease (suatu enzim yang dapat menghancurkan protein), dan RNase (suatu enzim yang dapat
menghancurkan molekul RNA) secara terpisah, kemudian dicampur dengan sel galur IIR. Pencampuran ini
masih menghasilkan bakteri galur IIIS, yang berarti bahwa protein dan RNA bukan merupakan bahan untuk
transformasi (transforming principle). Percobaan lainnya adalah dengan menambahkan DNase (suatu enzim
yang dapat menghancurkan enzim) pada filtrat dari sel IIIS. Filtrat yang telah dicampur dengan DNase ini
ternyata tidak mampu menghasilkan sel IIIS bila dicampur dengan sel IIR, yang berarti tidak mampu menginduksi
transformasi. Dari hasil percobaan ini, Avery, MacLeod, dan McCarty tidak ragu lagi untuk menyatakan bahwa
DNA adalah bahan utama untuk transformasi.

Bahan utama untuk transformasi berinteraksi dengan sel IIR yang menimbulkan berbagai reaksi
enzimatik yang berakhir dengan sintesis kapsul polisakarida tipe IIIS. Bila transformasi telah berlangsung, kapsul
polisakarida akan disintesis terus pada generasi berikutnya, dan bahan utama untuk transformasi digandakan
pada sel-sel anaknya. Oleh sebab itu transformasi merupakan proses yang mempengaruhi bahan genetik dan
dapat diwariskan ke generasi berikutnya.

Akhirnya pada tahun 1944, Avery dan koleganya Colin MacLeod dan Maclyn McCarty mengumumkan
bahwa agen pentransformasi tersebut adalah DNA. Oswald Avery, Colin MacLeod, dan Maclyn McCarty
membuktikan bahwa DNA adalah material yang diturunkan yang dipunyai hampir semua organisme.

Reak
si:

Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook

0 komentar:
Poskan Komentar
Posting Lebih BaruPosting LamaBeranda

Blogger news

LABEL

anatomi fisiologi

anfisman

artikel

biokimia

biologi sel

bioteknologi

botani tumbuhan

BSE BIOLOGI

dan bakteri

DNA

ekologi

ekosistem

fertilisasi

fisiologi

fisiologi tumbuhan

genetika

ingenhousz

kata-kata motivasi

kimdom fungi

laporan praktikun

MAKALAH

mikologi

mikrobiologi

OLAH RAGA

PEREDARAN DARAH

PERMAKLUMAN

sistem gerak

SISTEM HORMON

sistem reproduksi

taksonomi

tumor

VERTILISASI

virus

zologi

zoologi vertebrata

ARCHIVO DEL BLOG

Okt 09 (7)

Okt 10 (5)

Okt 15 (16)

Des 08 (6)

Des 10 (1)

Des 24 (17)

Mar 30 (1)

Apr 03 (1)

Apr 18 (2)

Apr 19 (1)

Mei 04 (1)

Mei 08 (1)

Mei 29 (9)

Jan 27 (2)

Apr 09 (7)

Apr 22 (1)

Apr 26 (3)

Mei 02 (1)

Nov 01 (1)

Nov 23 (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

DATA PENGUNJUNG

online counter

LINK WEB

soal olimpiade

snutzhorizon

hmps pendidikan biologi stkip hamzanwadi selong

biologi gonzaga

PHOTO KEGIATAN
PENGIKUT

ABOUT ME

MUHAMMAD HENDRA
SELONG, NUSA TENGGARA BARAT, Indonesia

Lihat profil lengkapku

LOKASI ANDA

POPULAR POSTS

ciri-ciri dan klasifikasi KINGDOm fungi


Jamur merupakan organisme uniseluler atau multiseluler , dengan dinding sel mengandung kitin , eukariotik ,
tidak berklorofil .Jamur m...

MAKALAH MIKROBA UDARA


MIKROBIOLOGI UDARA Flora mikroba di udara bersifat sementara dan beragam. Udara bukanlah suatu
medium tempat mikroorganisme tumbuh, ...

laporan praktikum tentang sel


BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Sel merupakan unit organisasi terkecil yang menjadi dasar kehidupan
dalam arti biologis. Semua fungs...

fisiologi tumbuhan
1.Akar Akar adalah bagian pokok di samping batang dan daun bagi tumbuhan yang tubuhnya telah merupakan
kormus. Akar yang ditumbuhkan dal...

anatomi fisiologi virus dan bakteri


Struktur Virus: o Terdiri atas materi genetik berupa DNA atau RNA o Materi genetik dilindungi oleh selubung
protein yang disebut dengan ...

MAKALAH TENTANG METAMORPOSIS


BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Makalah dengan judul metamorphosis dan kelainan
perkembangan pada manusia ini di susun sebagai ...

genetika
Genetika DNA sebagai basis molekuler dari ilmu pewarisan. Genetika (dipinjam dari bahasa Belanda : genetica ,
adaptasi dari bahasa Ingg...

SEJARAH DNA
Sejarah DNA Penelitian DNA pertama kali diisolasi oleh dokter Swiss Friedrich Miescher yang, pada 1869...

anatomi fisiologi hewan


Anatomi Dan Fisiologi Hewan

SIKLUS REPRODUKSi
Siklus reproduksi adalah perubahan siklus yang terjadi pada sistem reproduksi (ovarium, oviduk, uterus dan
vagina) hewan betina dewasa ...

2016 DUNIA BIOLOGI LOMBOK


Designed by WPart.org, Blogger templates by Blog and Web.

rahmah maulidah
KAMIS, 09 FEBRUARI 2012

genetika bakteri

BAB I
PEMBAHASAN
II. 1 Struktur DNA
Pada tahun 1953, Frances Crick dan James Watson menemukan model molekul
DNA sebagai suatu struktur heliks beruntai ganda, atau yang lebih dikenal dengan heliks
ganda Watson-Crick.
Informasi genetika disimpan sebagai suatu urutan basa pada DNA. Kebanyakan
molekul DNA adalah rantai ganda, dengan basa-basa komplementer (A-T; G-C)
berpasangan menggunakan ikatan hidrogen pada pusat molekul. Sifat komplementer dari
basa memungkinkan satu rantai (rantai cetakan, template) menyediakan informasi untuk
salinan atau ekpresi informasi pada suatu rantai yang lain (rantai penyandi).
Pasangan-pasangan basa tersusun dalam bagian pusat double helix DNA dan
menentukan informasi genetiknya. Setiap empat basa diikatkan pada phosphor-2deoxyribose membentuk suatu nukleotida. Setiap nukleotida dibentuk dari tiga bagian yaitu:
1) Sebuah senyawa cincin yang mengandung nitrogen, disebut basa nitrogen. Dapat berupa
purin atau pirimidin.
2) Sebuah gugusan gula yang memiliki lima karbon (gula pentosa), disebut deoksiribosa.
3) Sebuah molekul fosfat.
Bagian-bagian tersebut terhubungkan bersama-sama dalam urutan basa nitrogendeoksiribosa-fosfat.

Gambar 1. Double Helix DNA


Purin dan pirimidin yang membentuk nukleotida, masing-masing memiliki dua macam
basa :
1) Purin yaitu adenine dan guanine,
2) Pirimidin yaitu cytosine dan thymine.

Karena ada empat jenis basa, maka pada DNA dijumpai empat jenis nukleotida :

1) Deoksiadenosin-5-monofosfat (adenine + deoksiribosa + fosfat),


2) Deoksiguanosin-5-monofosfat (guanine + deoksiribosa + fosfat),
3) Deoksitidin-5-monofosfat (cytosine + deoksiribosa + fosfat),
4) Timidin-5-monofosfat (thymine + deoksiribosa + fosfat).
Keempat jenis nukleotida ini dihubungkan menjadi utasan polinukleotida DNA oleh
ikatan-ikatan fosfodiester, yaitu setiap gugusan fosfat menghubungkan atom karbon nomor
3 pada deoksiribosa sebuah nukleotida dengan atom karbon nomor 5 pada deoksiribosa
nukleotida berikutnya, dengan gugusan fosfat terletak di luar rantai. Hasilnya ialah suatu
rantai yang mengandung gugusan fosfat berselang-seling dengan gugusan deoksiribosa
dan basa-basanya yang mengandung nitrogen menonjol dari gugusan. Ikatan-ikatan
hidrogen menghubungkan basa dari satu rantai ke rantai yang lain. Muatan
negatifphosphodiester backbone dari DNA berhadapan dengan pelarut, dan muatan ini
tersusun sepanjang struktur linear dari molekul. Panjang molekul DNA pada umumnya
tersusun dalam ribuan pasang DNA ribuan pasang basa, atau kilobase pavis (kbp). Suatu
kromosom Eshericia

coli memiliki

4639

kbp.

Panjang

keseluruhan

kromosom E.coli diperkirakan I nm. Oleh karena keseluruhan dimensi sel bakteri
diperkirakan 1000 kali lebih kecil dari pada panjangnya tersebut sehingga terbentuk lipatan
yang melipat lagi atau supercoiling, menyusun struktur fisik dari molekul in vivo.
Presentase basa nitrogen

Kamir (yeast)
Mycrobacterium
tuberculosis
Manusia

Adenin

Sitosin

Guanin

Timin

32

18

18

32

16

34

34

16

131

19

19

131

Antara setiap pasangan Adenin-Timin terbentuk dua ikatan hidrogen (A=T),


sedangkan antara setiap pasangan Guanin-Sitosin terbentuk tiga ikatan hidrogen (GC).
Akibat dari pembentukan pasangan-pasangan tersebut ialah bahwa kedua utasan heliks
DNA bersifat anti-paralel, yang berarti bahwa setiap utas menuju arah yang berlawanan
sehingga yang satu diakhiri dengan gugusan hidroksil-3 bebas dan yang lain dengan
gugusan fosfat-5.
II. 2 Genetika Bakteri
Ada dua fenomena biologi pada konsep hereditas yaitu:

1. Hereditas yang bersifat stabil di mana generasi berikut yang terbentuk dari pembelahan satu
sel mempunyai sifat yang identik dengan induknya.
2. Variasi genetik yang mengakibatkan adanya perbedaan sifat generasi berikut dari sel
induknya akibat peristiwa genetik tertentu, misalnya mutasi.
Pada bakteri, unit herediternya disebut genom bakteri. Genom bakteri lazimnya
disebut sebagai gen saja. Gen bakteri biasanya terdapat dalam molekul DNA (asam
deoksirinukleat) tunggal, meskipun dikenal pula adanya materi genetik di luar kromosom
(ekstra kromosomal), yang di sebut plasmid, yang tersebar luas dalam populasi bakteri.
Meskipun bakteri bersifat haploid, transimisi gen dari satu generasi ke generasi berikutnya
berlangsung secara linier, sehingga pada setiap siklus pembelahan sel, sel anaknya
menerima satu set gen yang identik dengan sel induknya.
Kromosom bakteri yang terdiri dari DNA mempunyai berat lebih kurang 2-3% dari
berat kering satu sel. Dengan mikroskop elektron, DNA tampak sebagai benang-benang
fibriler yang menempati sebagian besar dari volume sel. Molekul DNA bila diekstraksi dari
sel bakteri biasanya mempunyai bentuk yang sirkuler, dengan panjang kira-kira 1 mm. DNA
ini mempunyai berat molekul yang tinggi karena terdiri dari heteropolimer dari
deoksiribonukleotida purin yaitu Adenin dan Guanin dan deoksiribonukleotida pirimidin yaitu
Sitosin dan Timin.
Watson dan Crick, dengan sinar X menemukan bahwa struktur DNA terdiri dari dua
rantai poliribonukleotida yang dihubungkan satu sama lain oleh ikatan hidrogen antara purin
di satu rantai dengan pirimidin di rantai lain, dalam keadaan antiparalel, dan disebut sebagai
struktur double helix. Ikatan hidrogen ini hanya dapat menghubungkan Adenin (6
aminopurin) dengan Timin (2,4 dioksi 5 metil pirimidin) dan antara Guanin (2 amino 6
oksipurin) dengan Sitosin (2 oksi 4 amino pirimidin). Singkatnya pasangan basa pada suatu
sekuens DNA adalah A-T dan S-G. Karena adanya sistem berpasangan demikian, maka
setiap rantai DNA dapat dijadikan cetakan/template untuk membangun rantai DNA yang
komplementer. Waktu terjadinya proses replikasi DNA dalam pembelahan sel, molekul DNA
dari sel anaknya terdiri dari satu rantai DNA yang komplememter tapi dibuat baru, dengan
kata lain, pemindahan materi genetik dari satu generasi ke generasi berikutnya adalah
dengan cara semikonservatif.
Fungsi primer DNA pada hakikatnya adalah sebagai sumber perbekalan informasi
genetik yang dimiliki oleh sel induk. Proses replikasi di kerjakan dengan amat lengkap
sehingga sel anaknya mendapatkan pula informasi genetik yang lengkap, sehingga terjadi
kesetabilan genetik dalam suatu populasi mikroorganisme. Satu benang kromosom
biasanya terdiri dari lima juta pasangan basa dan terbagi atas segmen atau sekuens asam
amino tertentu yang akan membentuk stuktur protein. Protein ini kemudian menjadi enzimenzim, komponen membran sel dan struktur sel yang lain yang secara keseluruhan
menentukan karakter dari sel itu.

Mekanisme yang menunjukan bahwa sekuen nukleotida di dalam gen menentukan


sekuens asam amino pada pembentukan protein adalah sebagai berikut:
1. Suatu enzim amino sel bakteri yang disebut enzim RNA polimerase membentuk satu rantai
oliribonukleotida (= messesnger RNA = mRNA) dari rantai DNA yang ada. Proses ini diseut
transkripsi. Jadi pada transkripsi DNA, terbentuk satu rantai RNA yang komplementer
dengan salah satu rantai double helix dari DNA.
2. Secara enzimatik asam amino akan teraktifasi dan ditransfer kepada transfer RNA (= tRNA
yang mempunyai daptor basa yang komplementer dengan basa mRNA di satu ujungnya dan
mempunyai asam amino spesifik di ujung lainnya tiga buah basa pada mRNA di sebut triplet
basa yang lazim disebut sebagai kodon untuk suatu asam amino.
3. mRNA dan tRNA bersama-sama menuju kepermukaan ribosom kuman, dan disinilah rantai
polipeptida terbentuk sampai seluruhkodon selesai dibaca menjadi menjadi suatu sekwen
asam amino yang membentuk protein tertentu. Proses ini disebut translasi.
II. 3 DNA Bakteri
Bakteri memiliki kekurangan unsur-unsur yang mengacu pada stuktur komplek yang
terlibat dalam pemisahan kromsom-kromosom eukariota menjadi nukleid anak yang
berbeda. Replikasi dari DNA bakteri dimulai pada satu titik dan bergerak ke semua arah.
Dalam prosesnya, dua pita lama DNA terpisah dan digunakan sebagai model untuk
mensistensiskan pita-pita baru (replikasi semikonservatif). Strukur dimana dua pita terpisah
dan sintesis baru terjadi disebut sebagai percabangan replikasi. Replikasi kromosom bakteri
sangat terkontrol, dan kromosom tiap sel yang tumbuh berkisar antara satu dan empat.
Beberapa plasmida bakteri bias memiliki sampai 30 tiruan dalam satu sel bakteri, dan
mutasi yang menyebabkan kontrol bebas dari relikasi plasmida bahkan bias menghasilkan
tiruan yang lebih banyak.
Replikasi pita DNA ganda sirkular dimulai pada locus ori dan membutuhkan interaksi
dengan beberapa protein. Dalam E coli, replikasi kromosom berakhir pada suatu tempat
yang disebut ter. Dua kromosom anak terpisah, atau terpecah sebelum pembagian sel,
sehingga tiap-tiap keturunan memiliki satu DNA anak. Hal ini dapat disempurnakan dengan
bantuan topoisomerase atau melakukan pengkombinasian. Proses serupa yang mengacu
pada replikasi DNA plasmida, kecuali pada beberpa kasus, replikasinya adalah tidak terarah.
Transposon

tidak

membawa

informasi

genetika

yang

dibutuhkan

untuk

memasangkan replikasi sendiri terhadap pembagian sel, sehingga perkembangbiakannya


tergantung pada penyatuan fisiknya dengan replika bakteri. Penyatuan ini dibantu oleh
kemampuan transposon untuk membentuk tiruannya sendiri, yang mungkin disisipkan
dalam replika yang sama atau mungkin disatukan pada replika lainnya. Spesifisitas dari
rangkaian pada bagian sisipan biasanya rendah, sehingga transposon kadang cenderung
menyisip dalam sistem acak. Sebagian besar plasmida ditransfer antar sel-sel bakteri, dan

penyisipan dari sebuah transposon ke dalam suatu plasmida bisa menyebabkan


penyebaran dalam sebuah populasi.
II. 4 Replikasi DNA
Sintesis perbanyakan bahan genetik seperti DNA, dilakukan melalui proses yang
disebut replikasi. Replikasi dapat dikatakan merupakan reaksi kimia yang mencirikan proses
kehidupan. Melalui suatu replikasi, senyawa kimia dapat membentuk dirinya untuk
menghasilkan senyawa baru yang mirip dengan dirinya. Replikasi hanya terjadi pada asam
nukleat, DNA atau RNA. Molekul asam nukleat yang mampu bereplikasi disebut replikon.
Tidak ditemukan senyawa lain yang sintesisnya dilakukan melalui replikasi.
Pada sel, replikasi DNA terjadi sebelum pembelahan sel. Prokariota terus-menerus
melakukan replikasi DNA. Pada eukariota, waktu terjadinya replikasi DNA sangatlah teratur,
yaitu pada fase S daur sel, sebelum mitosis atau meiosis I. Penggandaan tersebut
memanfaatkan enzim DNA polimerase yang membantu pembentukan ikatan antara
nukleotida-nukleotida penyusun polimer DNA. Proses replikasi DNA dapat pula dilakukan in
vitro dalam proses yang disebut reaksi berantai polimerase (PCR). Dengan demikian, setiap
sel yang melakukan mitosis akan dihasilkan 2 sel anak yang memilki DNA lengkap sama
persis dengan yang dimiliki induknya.
II. 4. 1 Biosintesis Nukleotida
Sebelum rantai polinukleotida DNA dapat disintesis oleh bakteri atau organisme lain,
harus tersedia sekumpulan nukleotida seluler. Pada bakteri tertentu, nukleotida harus
disuplai dalam medium dalam bentuk jadi. Pada bakteri lain dapat mensintesis nukleotida
dari nutrien yang sederhana, seperti glukosa, ammonium sulfat, dan mineral. Perubahan
nutrien sederhana menjadi nukleotida bagi sintesis DNA menyangkut sederetan reaksi yang
rumit, beberapa di antaranya membutuhkan energi berupa ATP. Salah satu dari reaksi-reaksi
ini ialah pembentukan bentuk teraktivasi nukleotida bagi sintesis rantai polinukleotida DNA
berutasan ganda:
Nukleotida + ATP kinase nukleotida-fosfat + ADP
Nukleotida-fosfat + ATP kinase nukleotida-difosfat + ADP
Energi dalam bentuk ATP disediakan. Pada setiap nukleotida teraktivasi terikat dua gugusan
fosfat yang berasal dari peruraian dua ATP.
Berdasarkan struktur DNA heliks ganda (double helix), timbul tiga hipotesis
mengenai pola replikasi DNA. Ketiga hipotesis tersebut adalah:
1. Semikonservatif

Menurut hipotesis replikasi secara semi-konsevatif, setiap utas DNA menjadi cetakan bagi
pembentukan utas baru, sehingga pada akhir proses replikasi akan ditemukan dua utas
ganda yang masing-masing mengandung satu utas baru dan satu utas lama.
2. Konservatif
Menurut hipotesis replikasi secara konservatif, rantai polinukleotida induk tidak berpisah dan
dua utas dari dua utas ganda DNA secara bersama-sama membentuk dua utas ganda baru,
sehingga akan dihasilkan dua utas ganda baru dan dua utas ganda lama.
3. Dispersif
Menurut hipotesis replikasi secara dispersif, rantai polinukleotida induk putus-putus
kemudian memisah dan akhirnya membentuk rangkaian baru yang terdiri dari campuran
antara potongan dari pasangan nukleotida lama dan potongan dari polinukleotida yang baru
disintesis.

Gambar. 2 Pola-pola Replikasi DNA


II. 4. 2 Regulasi Replikasi DNA
Kromosom suatu bakteri yang khas ialah sebuah molekul DNA berutasan-ganda,
yang mempunyai berat molekul kira-kira 2,5 x 10 9 Dalton (satu Dalton sama dengan massa
satu atom hidrogen). Jumlah pasangan basanya kurang lebih 4 x 10 6. Bila kromosom
tersebut ditarik secara linier dalam bentuk heliks-ganda, ukurannya akan mencapai kira-kira
1,25 mm, yaitu beberapa ratus kali lebih panjang daripada sel bakteri yang memilikinya.
a. Replikasi mensyaratkan situs awal
Syarat pertama agar suatu DNA dapat bereplikasi ialah bahwa pada DNA tersebut
terdapat situs awal replikasi. Hasil pengamatan terhadap kromosomE.coli memperlihatkan
bahwa replikasi selalu dimulai dari titik awal tertentu (Cairns, 1963). Situs awal replikasi
dikenal dengan istilah titik ori (singkatan dari origin of replication). Pada kromosom bakteri

diketahui hanya ada satu titik ori, sedangkan pada kromosom eukariot terbukti mempunyai
banyak titik ori.DNA yang tidak mempunyai titik ori tidak akan dapat bereplikasi.
b. Replikasi memerlukan untaian ganda
Persyaratan kedua untuk dapat berlangsungnya proses replikasi ialah bahwa asam
nukleat harus berada dalam bentuk untaian ganda. Hal ini telah diuraikan oleh Watson dan
Crick (1953), yaitu bahwa implikasi genetik dari heliks ganda ialah memungkinkan
pembentukan DNA baru secara swaproduksi (replikasi). Adanya dua untai polinukleotida
serta per pasangan antiparalel antara basa-basanya akan mendukung proses replikasi, yaitu
setiap untaian akan menjadi model bagi pembentukan untai pasangannya. Bukti bahwa
untai ganda menjadi syarat dalam replikasi dapat dilihat pada DNA virus yang sedang
bereplikasi. Virus mempunyai genom bervariasi, baik beruntai ganda maupun tunggal, tetapi
pada saat bereplikasi virus selalu berada dalam keadaan untai ganda.
c. Replikasi DNA mengikuti pola hipotesis semikonservatif
Untuk dapat terjadi proses replikasi seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, Watson
dan Crick mengajukan suatu usulan pola replikasi DNA yang disebut pola semikonservatif.
Pola konservatif mula-mula dibuktikan oleh Mathew Maselson dan Francis Stahl yang
bekerja dengan E.coli yang telah menggunakan teknik radio isotop, sentrifugasi, dan
spektrofotometer. Dengan pola semikonservatif ini akan terpenuhi dua hal. Pertama, fungsi
pewarisan dalam replikasi satu utasan DNA. Kedua, fungsi pemeliharaan sifat, yaitu struktur
DNA yang baru akan sama dengan struktur DNA sebelumnya.
d. Sintesis DNA mempunyai arah pertumbuhan 5 3
Molekul nukleotida dalam keadaan bebas akan terbentuk nukleotida tripospat. Dalam
proses sintesis DNA, dua nukleotida digabungkan satu dengan yang lainnya dengan cara
merangkaikan karbon gula kelima (C5) yang mengandung fosfat dari satu nukleotida kepada
karbon gula ketiga (C3) yang mengandung OH dari nukleotida lain dan membentuk ikatan
5-3 fosfodieter.
e. Replikasi berjalan secara bertahap
Dalam proses replikasi terjadi dua proses. Pertama, pelepasan heliks ganda menjadi
untai tunggal dan membentuk cabang replikasi. Kedua, sintesis rantai baru dengan
menggunakan untaian tunggal tersebut sebagai model. Pada situs awal replikasi, enzim
DNA polimerase akan memutus pilinan heliks ganda menjadi dua untaian tunggal. Dalam
proses ini akan terbentuk struktur huruf Y, titik persimpangannya disebut titik tumbuh.
Replikasi bergerak berurutan dari titik tumbuh, baik pada satu arah (replikasi satu arah) atau
dua arah (replikasi dua arah). Situs awal dan titik tumbuh terikat pada membran sel dan dari
sinilah kedua utasan diduplikasi. Masing-masing utasan mempunyai urutan basa pada
utasan-utasan DNA yang mula-mula.

f. Sintesis DNA bersifat tidak sinambung


Utasan-utasannya direplikasi dalam bentuk segmen-segmen kecil yang disebut
fragmen Okazaki, dengan arah 5 ke 3. Fragmen-fragmen ini kemudian digabungkan
menjadi satu oleh enzim DNA ligase.
Inisiasi (pengawalan) replikasi DNA membutuhkan suatu pancingan, yaitu sepotong
pendek RNA yang disintesis oleh RNA polimerase dan komplementer terhadap DNA.
Dengan adanya pemula ini, DNA polimerase dapat mulai mensintesis deoksiribonukleotida.
Sekali pancingan mengena, DNA polimerase lalu mencerna RNA tersebut dan
menggantikannya dengan DNA. Berpartisipasinya RNA sebagai pancing tampaknya
ekstensif karena setiap fragmen Okazaki juga mengandung sebagian RNA sebagai pancing.
II. 5 Perpindahan Gen
Perpindahan gen merupakan suatu kegiatan yang dilakukan bakteri dengan
mengirimkan informasi genetik (DNA) dari sel donor ke sel resipien. Kegiatan perpindahan
gen ini ada tiga yakni :
1.

Transformasi

2.

Konjugasi

3.

Transduksi

II. 5. 1 Transformasi
Transformasi pertama kali ditemukan oleh Frederick Griffith pada tahun 1928. Dia
mempelajari transformasi satu tipe Streptococcus pneumoniae menjadi tipe yang
berbeda. S. pneumoniae dibagi menjadi 100 tipe lain yang berbeda atas dasar perbedaan
kimia pada kapsulnya. Jadi, tipe 1 menghasilkan kapsul yang berbeda dengan tipe 2, dan
seterusnya.
Transformasi ialah proses pemindahan DNA bebas sel yang mengandung sejumlah
informasi genetik (DNA) dari satu sel ke sel lainnya. DNA tersebut diperoleh dari sel donor
melalui lisis sel alamiah atau dengan cara ekstraksi kimiawi. Begitu fragmen DNA dari sel
donor tertangkap oleh sel resipien, maka terjadilah rekombinasi.
Diposkan oleh rahmah maulidah muslimat di 15.35
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Tidak ada komentar:


Poskan Komentar
Posting Lebih BaruPosting LamaBeranda

Langganan: Poskan Komentar (Atom)


PENGIKUT
ARSIP BLOG

2012 (3)
Februari (3)

<!--[if !mso]>v\:* {behavior:url(#default#VML);}o\...

genetika bakteri

Kehidupan Mikroorganisme
MENGENAI SAYA
rahmah maulidah muslimat
Lihat profil lengkapku

Template Picture Window. Diberdayakan oleh Blogger.

Kamrianti Ramli
BERBAGI ILMU MENERIMA KRITIKAN

BERANDA
KAMRIANTI RAMLI

RSS

Arsip Tag: replikasi pada eukariotik

Replikasi Pada Eukariotik


09MEI

Rate This

1.

Model-Model Replikasi

Replikasi atau perbanyakan asam nukleat dilakukan dengan dua cara yaitu replikasi dan transkripsi.
Kedua proses tersebut digunakan satu utasan asam nukleat sebagai modelnya.Dalam proses
replikasi perbanyakan satu molekul asam nukleat dilakukan dengan menggunakan dirinya sebagai
model cetakan. Menurut pada ahli, ada tiga model replikasi DNA yaitu :
1.
2.

Model konservatif, Double helix parental tetap utuh, disampingnya dicetak molekul DNA baru
Model semikonservatif, Dua pita spiral dari double helix memisahkan diri, tiap pita tunggal
dari double helix parental ini berlaku sebagai cetakan (template) untuk membentuk pita
pasangan yang baru.
3.
Model dispersif, Kedua pita dari double helix parental putus dibeberapa tempat kemudian
dibentuk segmen-segmen DNA baru Selanjutnya potongan-potongan DNA parental dan DNA
baru bersambungan dan menghasilkan dua double helix baru.

Gambar 1 : Tiga model replikasi


Pada tahun 1958 Matthew Meselson dan Franklin Stahl berhasil menunjukkan secara empiris bahwa
replikasi DNA berlangsung dengan mekanisme secara semikonservatif. Meselson dan Stahl
melakukan eksperimen untuk mengetahui mekanisme replikasi DNA dengan menggunakan bakteri
Escherichia coli. Pertama kali, bakteri E.coli ditumbuhkan dalam medium yang mengandung nitrogen
berat yaitu isotop 15N selama beberapa generasi. Dengan cara demikian maka molekul DNA induk
mempunyai label berupa isotop berat sehingga molekulnya mempunyai densitas yang lebih tinggi
dibanding DNA normal. Sel-sel yang molekul DNA-nya sudah berlabel tersebut kemudian dipindahkan
ke medium baru yang mengandung isotop nitrogen yang ringan, yaitu 14N. Pada selang waktu
tertentu setelah dipindahkan ke medium baru, sampel sel dipanen dan DNA-nya diisolasi. DNA hasil
isolat tersebut kemudian disentrifugasi dengan ultrasentrifugasi gradien CsCl untuk menentukan
densitas molekul DNA-nya. Hasil pengukuran densitas DNA yang diisolasi pada generasi pertama,
semua DNA mempunyai densitas molekul hibrid, yaitu densitas yang dihasilkan oleh gabungan
molekul DNA yang mengandung 15N dan 14N. Sebelum dipindahkan ke medium yang mengandung 14N
( yaitu generasi ke 0), kedua untaian DNA induk mengandung isotop 15N. Pada generasi kedua,
densitas molekul DNA terdiri atas dua kelompok yaitu yang mempunyai densitas molekul hibrid dan
yang mempunyai densitas lebih rendah dibanding dengan densitas molekul hibrid. Kelompok kedua
tersebut terdiri atas molekul DNA yang kedua untaiannya mengandung isotop 14N.
Hasil eksperimen Meselson dan Stahl tersebut menunjukkan bahwa molekul DNA anakan terdiri atas
satu untai DNA induk dan satu untai DNA hasil sintesis baru sehingga sesuai dengan model replikasi
secara semikonservatif. Hasil eksperimen tersebut kemudian dikonfirmasi lagi dengan eksperimen
kedua. Dalam eksperimen ini, molekul DNA hibrid didenaturasi dengan pemanasan pada suhu 100 0C,
kemudian disentrifugasi dalam gradien CsCl. DNA yang sudah didenaturasi tersebut menghasilkan
dua pita DNA yang terdiri atas untai tunggal DNA yang mengandung 15N dan untai-tunggal DNA yang
mengandung 14N. Berdasarkan atas eksperimen dapat disimpulkan bahwa replikasi DNA berlangsung
secara semikonservatif.

Gambar 2: Semi konservatif (Masselson-Stahl)1958

Gambar 3: Percobaan Matthew Meselson dan Franklin


1.

Komponen-Komponen penting Dalam replikasi. Replikasi bahan genetik ditentukan oleh


beberapa komopen utama yaitu :DNA cetakan, yaitu molekul DNA atau RNA yang akan
direplikasi. Molekul deoksiribonukleotida, yaitu dATP, dTTP, dCTP, dan
dGTP.Deoksiribonukleotida terdiri atas tiga komponen yaitu:
1.
Basa purin atau pirimidin
2.
Gula 5- karbon (deoksiribosa)
3.
Gugus fosfat
4.
Enzim DNA polimerase, yaitu enzim utama yang mengkatalisis proses polimerase
nukleotida menjadi untaian DNA. Pada eukariotik terdapat lima macam DNA polimerase yaitu
DNA polimerase , DNA polimerase , DNA polimerase , DNA polimerase , dan DNA
polimerase .
5.
Enzim primase yaitu, enzim yang mengkatalisis sintesis primer untuk memulai
replikasi DNA.
6.
Enzim pembuka ikatan untaian DNA induk, yaitu enzim helikase dan enzim lain yang
membantu proses tersebut yaitu enzim girase
7.
Molekul protein yang menstabilkan untaian DNA yang sudah terbuka, yaitu protein
SSB (single strand binding protein)
8.
Enzim DNA ligase, yaitu suatu enzim yang berfungsi untuk meyambung fragmenfragmen DNA

9.
10.

Syarat-Syarat Terjadinya Replikasi


Titik awal replikasi

Proses replikasi selalu dimulai pada wilayah tertentu yaitu titik awal replikasi (ori). Molekul DNA yang
dapat bereplikasi atau mengandung titik ori disebut replikon , kromosom E.coli : Satu titik ori (Ori C),
Plasmid F : dua titik ori (Ori V, ori T), Kromosom Eukariot : Lebih dari satu titik ori, Kromosom
mitokondria : dua titik ori.
1. Utas ganda (double helix)
Untuk berlangsungnya proses replikasi diperlukan adanya asam nukleat berutas ganda (double helix).
Adanya dua utas polinukleotida serta perpasangan antiparalel antara basa-basanya, memungkinkan
satu utasan dari DNA tersebut menjadi model untuk utasan yang lainnya.
2. Sintesis DNA mempunyai arah pertumbuhan 5 ke 3
Proses sintesis DNA dua nukleotida digabungkan satu dengan lain dengan cara merangkaikan
karbon gula kelima (C5) yang mengandung fosfat dari satu nukleotida kepada karbon gula ketiga (C3)
yang mengandung OH dari nukleotida lain.
3. Replikasi berjalan secara bertahap
Proses replikasi berlangsung dua kejadian:
1.
2.

Penguraian helix ganda menjadi utasan tunggal


Sintesis rantai baru dengan menggunakan utasan tunggal tersebut sebagai model yang
sekaligus menjadikan helix ganda yang utuh.

Pada percabangan replikasi terdapat 2 cabang yang berbeda ujungnya yaitu :


Ujung 3 OH (cabang Leading)
Arah sintesis berjalan dari ujung menuju pangkal percabangan, maka sintesis berjalan secara kontinu
sejalan dengan proses penguraian pilinan heliks ganda. Pada replikasi DNA, untaian pengawal
(leading strand) ialah untaian DNA yang disintesis dengan arah 53 secara berkesinambungan.
Pada untaian ini, DNA polimerase mampu membentuk DNA menggunakan ujung 3-OH bebas dari
sebuah primer RNA dan sintesis DNA berlangsung secara berkesinambungan, searah dengan arah
pergerakan garpu replikasi.
Ujung 5 P (cabang Lagging)
Sintesis dimulai pada pangkal percabangan dan bergerak ke ujung cabang, maka setiap saat
pergerakan penguraian helix ganda akan muncul titik awal baru yang diikuti oleh sintesis dengan arah
ke bagian luar cabang
Pada utas lagging sintesis berjalan secara diskontinu, dan akan ditemukan fragmen, Fragmen
Okazaki (Reiji Okazaki, 1969)

Lagging strand ialah untaian DNA yang terletak pada sisi yang berseberangan dengan leading strand
pada garpu replikasi. Untaian ini disintesis dalam segmen-segmen yang disebut fragmen Okazaki.
Pada untaian ini, primase membentuk primer RNA. DNA polimerase dengan demikian dapat
menggunakan gugus OH 3 bebas pada primer RNA tersebut untuk mensintesis DNA dengan arah
53. Fragmen primer RNA tersebut lalu disingkirkan (misalnya dengan RNase H dan DNA
Polimerase I) dan deoksiribonukleotida baru ditambahkan untuk mengisi celah yang tadinya ditempati
oleh RNA. DNA ligase lalu menyambungkan fragmen-fragmen Okazaki tersebut sehingga sintesis
lagging strand menjadi lengkap.
Garpu replikasi
Garpu replikasi atau cabang replikasi (replication fork) ialah struktur yang terbentuk ketika DNA
bereplikasi. Garpu replikasi ini dibentuk akibat enzim helikase yang memutus ikatan-ikatan
hidrogen yang menyatukan kedua untaian DNA, membuat terbukanya untaian ganda tersebut
menjadi dua cabang yang masing-masing terdiri dari sebuah untaian tunggal DNA. Masing-masing
cabang tersebut menjadi cetakan untuk pembentukan dua untaian DNA baru berdasarkan urutan
nukleotida komplementernya. DNA polimerase membentuk untaian DNA baru dengan
memperpanjang oligonukleotida yang dibentuk oleh enzim primase dan disebut primer.
DNA polimerase membentuk untaian DNA baru dengan menambahkan nukleotidadalam hal ini,
deoksiribonukleotidake ujung 3-hidroksil bebas nukleotida rantai DNA yang sedang tumbuh.
Dengan kata lain, rantai DNA baru disintesis dari arah 53, sedangkan DNA polimerase bergerak
pada DNA induk dengan arah 35. Namun demikian, salah satu untaian DNA induk pada garpu
replikasi berorientasi 35, sementara untaian lainnya berorientasi 53, dan helikase bergerak
membuka untaian rangkap DNA dengan arah 53. Oleh karena itu, replikasi harus berlangsung
pada kedua arah berlawanan tersebut.

Dinamika pada garpu replikasi


Bukti-bukti yang ditemukan belakangan ini menunjukkan bahwa enzim dan protein yang terlibat dalam
replikasi DNA tetap berada pada garpu replikasi sementara DNA membentuk gelung untuk
mempertahankan pembentukan DNA ke dua arah. Hal ini merupakan akibat dari interaksi antara DNA
polimerase, sliding clamp, dan clamp loader.
Sliding clamp pada semua jenis makhluk hidup memiliki struktur serupa dan mampu berinteraksi
dengan berbagai DNA polimerase prosesif maupun non-prosesif yang ditemukan di sel. Selain itu,
sliding clamp berfungsi sebagai suatu faktor prosesivitas. Ujung-C sliding clamp membentuk
gelungan yang mampu berinteraksi dengan protein-protein lain yang terlibat dalam replikasi DNA
(seperti DNA polimerase dan clamp loader). Bagian dalam sliding clamp memungkinkan DNA
bergerak melaluinya. Sliding clamp tidak membentuk interaksi spesifik dengan DNA. Terdapat lubang
35A besar di tengah clamp ini. Lubang tersebut berukuran sesuai untuk dilalui DNA dan air
menempati tempat sisanya sehingga clamp dapat bergeser pada sepanjang DNA. Begitu polimerase
mencapai ujung templat atau mendeteksi DNA berutas ganda, sliding clamp mengalami perubahan
konformasi yang melepaskan DNA polimerase.

Clamp loader merupakan protein bersubunit banyak yang mampu menempel pada sliding clamp dan
DNA polimerase. Dengan hidrolisis ATP, clamp loader terlepas dari sliding clamp sehingga DNA
polimerase menempel pada sliding clamp. Sliding clamp hanya dapat berikatan pada polimerase
selama terjadinya sintesis utas tunggal DNA. Jika DNA rantai tunggal sudah habis, polimerase
mampu berikatan dengan subunit pada clamp loader dan bergerak ke posisi baru pada lagging
strand. Pada leading strand, DNA polimerase IIIbergabung dengan clamp loader dan berikatan
dengan sliding clamp.

Gambar 4. Replikasi dua arah (bidirectional replication)

Replikasi DNA Eukariota


Pada eukariota, replikasi DNA hanya terjadi pada fase S di dalam interfase. Untuk memasuki fase S
diperlukan regulasi oleh sistem protein kompleks yang disebut siklin dan kinase tergantung siklin atau
cyclin-dependent protein kinases (CDKs), yang berturut-turut akan diaktivasi oleh sinyal pertumbuhan
yang mencapai permukaan sel. Beberapa CDKs akan melakukan fosforilasi dan mengaktifkan
protein-protein yang diperlukan untuk inisiasi pada masing-masing ori.
Berhubung dengan kompleksitas struktur kromatin, garpu replikasi pada eukariota bergerak hanya
dengan kecepatan 50 pb tiap detik. Sebelum melakukan penyalinan, DNA harus dilepaskan
dari nukleosom pada garpu replikasi sehingga gerakan garpu replikasi akan diperlambat menjadi
sekitar 50 pb tiap detik. Dengan kecepatan seperti ini diperlukan waktu sekitar 30 hari untuk menyalin
molekul DNA kromosom pada kebanyakan mamalia.
Sederetan sekuens tandem yang terdiri atas 20 hingga 50 replikon mengalami inisiasi secara
serempak pada waktu tertentu selama fase S. Deretan yang mengalami inisasi paling awal
adalah eukromatin, sedangkan deretan yang agak lambat adalah heterokromatin.
Daerah sentromer dan telomer dari DNA bereplikasi paling lambat. Pola semacam ini mencerminkan
aksesibilitas struktur kromatin yang berbeda-beda terhadap faktor inisiasi.
Seperti halnya pada prokariota, satu atau beberapa DNA helikase dan Ssb yang disebut dengan
protein replikasi A atau replication protein A (RP-A) diperlukan untuk memisahkan kedua untai DNA.
Selanjutnya, tiga DNA polimerase yang berbeda terlibat dalam elongasi. Untai pengarah dan masingmasing fragmen untai tertinggal diinisiasi oleh RNA primer dengan bantuan aktivitas primase yang
merupakan bagian integral enzim DNA polimerase a. Enzim ini akan meneruskan elongasi replikasi
tetapi kemudian segera digantikan oleh DNA polimerase d pada untai pengarah dan DNA polimerase
e pada untai tertinggal. Baik DNA polimerase d maupun e mempunyai fungsi penyuntingan.
Kemampuan DNA polimerase d untuk menyintesis DNA yang panjang disebabkan oleh

adanya antigen perbanyakan nuklear sel atau proliferating cell nuclear antigen (PCNA), yang
fungsinya setara dengan subunit b holoenzim DNA polimerase III pada E. coli. Selain terjadi
penggandaan DNA, kandungan histon di dalam sel juga mengalami penggandaan selama fase S.
Mesin replikasi yang terdiri atas semua enzim dan DNA yang berkaitan dengan garpu replikasi akan
diimobilisasi di dalam matriks nuklear. Mesin-mesin tersebut dapat divisualisasikan menggunakan
mikroskop dengan melabeli DNA yang sedang bereplikasi. Pelabelan dilakukan menggunakan
analog timidin, yaitu bromodeoksiuridin (BUdR), dan visualisasi DNA yang dilabeli tersebut dilakukan
dengan imunofloresensi menggunakan antibodi yang mengenali BUdR.
Ujung kromosom linier tidak dapat direplikasi sepenuhnya karena tidak ada DNA yang dapat
menggantikan RNA primer yang dibuang dari ujung 5 untai tertinggal. Dengan demikian, informasi
genetik dapat hilang dari DNA. Untuk mengatasi hal ini, ujung kromosom eukariota (telomer)
mengandung beratus-ratus sekuens repetitif sederhana yang tidak berisi informasi genetik dengan
ujung 3 melampaui ujung 5. Enzim telomerase mengandung molekul RNA pendek, yang sebagian
sekuensnya komplementer dengan sekuens repetitif tersebut. RNA ini akan bertindak sebagai
cetakan (templat) bagi penambahan sekuens repetitif pada ujung 3. Hal yang menarik adalah bahwa
aktivitas telomerase mengalami penekanan di dalam sel-sel somatis pada organisme multiseluler,
yang lambat laun akan menyebabkan pemendekan kromosom pada tiap generasi sel. Ketika
pemendekan mencapai DNA yang membawa informasi genetik, sel-sel akan menjadi layu dan mati.
Fenomena ini diduga sangat penting di dalam proses penuaan sel. Selain itu, kemampuan
penggandaan yang tidak terkendali pada kebanyakan sel kanker juga berkaitan dengan reaktivasi
enzim telomerase.
Mekanisme Replikasi Pada eukariot
Proses replikasi genom pada eukariot dapat dibagi kedalam tahapan:
Pengenalan titik ORI (titik awal replikasi)
Titik awal replikasi dinamakan Ori C, dapat dikenali oleh enzim Dna A yang dihasilkan oleh gen dnaA
(pada E.coli) Terdapat berbagai jenis DnaA dan jenis Ori pada berbagai organisme, sehingga Satu
jenis DNA dari satu organisme belum tentu dapat bereplikasi pada organisme lain, karena tidak
cocok Ori dengan Dna A.
Penguraian pilinan heliks ganda
1.

Memutuskan ikatan hidrogen antara basa-basa dari utasan yang berpasangan, memisahkan
kedua utasan pada heliks ganda
2.
Mencegah utasan tunggal yang terbentuk berpasangan kembali membentuk heliks ganda
3.
Melindungi dari kerusakan akibat enzim nuklease yang banyak terdapat dalam sel.
4.
Semua pekerjaan ini dilakukan oleh enzim helikase, girase DNA, dan protein SSB (single
strand Binding protein)
Helikase merupakan Kelompok protein yang berfungsi menghilangkan ikatan hidrogen heliks ganda
dan memisahkan menjadi utas tunggal

Jenis-jenis helikase lain

Helikase I (hasil gen tra I pada plasmid F) berperan dalam replikasi plasmid

Helikase II, III.

Girase menghilangkan tegangan superheliks


Enzim ini merupakan topoisomerase tipe II berfungsi untuk menghilangkan tegangan pada
superheliks positif dengan cara membuka pilinan kearah negatif. Girase disusun oleh 2 jenis subunit
protein yaitu: Sub unit A oleh gen gyr A dan Sub unit B oleh gen gyr B
Protein SSB melindungi utas tunggal
Kelompok protein khusus menempel dan berasosiasi dengan DNA utas tunggal, melindungi DNA dari
serangan nuklease, yang dapat menghalangi transkripsi.Peran utamanya: Menstabilkan dan
melindungi utas tunggal yang terbentuk selama replikasi DNA, perbaikan DNA dan rekombinasi
Sintesis rantai polinukleotida baru
Proses penggabungan mononukleotida menjadi rantai, enzim yang berperan :

Polimerase RNA
Polimerase DNA
Ligase

Inisiasi Sintesis oleh polimerase RNA atau primase


Proses replikasi semua fragmen okazaki diawali oleh RNA primer. Selanjutnya polimerase DNA
memperpanjang rantai yang sudah ada. RNA primer dibentuk oleh primase (dihasilkan oleh gen dnaG
atau oleh polimerase RNA (hasil gen rpo).
Sintesis perpanjangan rantai oleh polimerase DNA
Bertanggung jawab atas proses sintesis DNA baru dengan cara membentuk ikatan fosfodiester yang
merangkaikan C ke 5 satu nukleotida terhadap C ke 3 dari nukleotida lain.
Penyambungan berbagai fragmen okazaki menjadi satu rantai polinukleotida utuh.
Enzim ligase yang berperan untuk menyambung dua ujung rantai polinukleotida menjadi rantai yang
lebih panjang.Ligase terdapat dimana-mana didalam sel dan bentuk berbeda-beda sesuai sumber
energi yang dimanfaatkan.

Gambar 5. Gelembung replikasi


Tulisan ini disusun oleh Eva Irawati

2 Komentar
Ditulis oleh kamriantiramli pada 9 Mei 2011 in Biomolekuler

Tag: eukariotik, gelembung transkripsi, replikasi pada eukariotik

kamriantiramli

Jumlah Pengunjung
o

743,697 hits

Indonesia Calendar
S

Des

10

11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31
Januari 2016

Kategori Tulisan
o

Akbid Madani Sinjai

o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o

ANTUM
Berita Terkini
Biokimia
Biomolekuler
Bioteknologi
KELAS 7
KELAS XI
KELAS XII
Kesehatan Kebidanan
Metodologi Ilmiah
Mikrobiologi
Pembelajaran
Problematika Pendidikan
Uncategorized

ZOOLOGI

Pos-pos Terakhir
o

Lisaku

o
o
o

Dalam hatiku
Acara Maulid Nabi Muhammad saw di Akbid Madani Sinjai
Hidup ini

Sedihlah Sebentar

Rating
Posts | Pages | Comments
All

| Today | This Week | This Month


o

Gen Makhluk Hidup dapat Diubahkah???


5/5 (3 votes)

Bagaimana Sel Melepaskan Energi yang Tersimpan?


5/5 (1 vote)
Transkripsi pada Prokaryotik
5/5 (1 vote)
Metode Penelitian dan Pengembangan (Research and Development/R&D)
5/5 (1 vote)

o
o
o

POPULASI DAN SAMPEL


5/5 (1 vote)

Cari Data
Search

Blog Guru
o

akhmadsudrajat

o
o

Mahmuddin
Pelangi Pendidikan

ujian nasional

Blogroll
o

Biologi Gonza

o
o
o
o
o
o
o

Discuss
Get Inspired
Get Polling
Get Support
Learn WordPress.com
Media Pembelajaran
WordPress Planet

WordPress.com News

Ikuti Blog melalui Email

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan
tentang pos baru melalui surat elektronik.
Bergabunglah dengan 2.061 pengikut lainnya

Ikuti

MY TWITTER
Error: Please make sure the Twitter account is public.

Top Posts & Halaman

Keterampilan Proses Sains

MACAM-MACAM MOTIVASI

Mutasi

SAINS KOMPAS
o

Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi
nanti.

Kamrianti Ramli
Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com. Tema Choco.

Ikuti

Ikuti Kamrianti Ramli


Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.
Bergabunglah dengan 2.061 pengikut lainnya
Daftarkan saya

Buat situs dengan WordPress.com

smpsma.com
Mari belajar bersama

Tentang

Kimia

Biologi

Sejarah

Fisika

Kesehatan

Bank Soal

Psikologi

Matematika

PKn
Menu...

Perbedaan Replikasi DNA Prokariotik


dan Eukariotik
September 7, 2015 | By tatang | Leave a response
Replikasi DNA terjadi selama fase S dari siklus sel. Ini adalah proses yang
kompleks tahapan yang membutuhkan lebih dari selusin enzim dan
protein. Reflikasi ini terjadi pada sel prokariotik dan eukariotik. Adapaun
perbedaan replikasi DNA prokariotik dan eukariotik dapat dilihat pada
tabel berikut:

N
o

Replikasi DNA prokariotik

Replikasi DNA eukariotik

Hal ini terjadi di dalam sitoplasma

Hal ini terjadi di dalam nukleus

Hanya ada satu asal replikasi per


molekul DNA

Asal replikasi banyak (lebih dari


1000) dalam setiap kromosom

eukariotik

Asal replikasi terbentuk sekitar


100-200 atau lebih nukleotida

Setiap asal replikasi terbentuk dari


sekitar 150 nukleotida

Replikasi DNA terjadi pada satu


titik di setiap molekul DNA
prokariotik

Replikasi DNA terjadi di beberapa


titik secara bersamaan di setiap
kromosom.

Hanya dua cabang replikasi


dibentuk di setiap kromosom
prokariotik replikasi, replikasi DNA
adalah dua arah

Sejumlah cabang replikasi


terbentuk secara bersamaan di
setiap DNA replikasi.

kromosom prokariotik memiliki


satu replikon
6
Satu replikasi gelembung
terbentuk selama replikasi DNA
7

Molekul DNA eukariotik memiliki


sejumlah besar replikon (50.000
dan di atas), tetapi replikasi tidak
terjadi secara bersamaan pada
semua replikon

Banyak gelembung replikasi


terbentuk dalam satu molekul DNA
bereplikasi.

Inisiasi replikasi DNA di prokariota


dilakukan oleh DnaA protein dan
DnaB

8. Inisiasi replikasi DNA dilakukan


oleh protein multisubunit

Enzim girase DNA diperlukan

Enzim girase DNA diperlukan

1
0

Okazaki fragmen besar, 1000-2000


nukleotida panjang.

Okazaki fragmen pendek, 100-200


nukleotida panjang.

1
1

Replikasi sangat cepat,


ditambahkan sekitar 2000
nukleotida per detik

Replikasi lambat, ditambahkan


sekitar 100 nukleotida per detik

Semoga penjelasan tentang perbedaan replikasi DNA prokariotik dan


eukariotik ini bisa bermanfaat.

Artikel menarik lainnya:

Apa yang dimaksud dengan sel

Jelaskan ciri-ciri sel hewan dan sel tumbuhan

Sebutkan pengertian jaringan meristem, pelindung dan parenkim

Sebutkan ciri mamalia dan contoh mamalia

Sebutkan ciri aves dan 3 subkelas aves

Sebutkan dua jenis ikan beserta contohnya

Sebutkan 5 kelas yang termasuk echinodermata

Sebutkan ciri annelida dan contoh annelida

Jelaskan ciri insecta dan ciri crustacea

Sebutkan ciri platyhelminthes dan contoh platyhelminthes

Posted in Biologi | Tags: Sel

Leave a Reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

Email *
Website
Comment

Post Comment

Search

Recent Posts

Apa yang dimaksud dengan sel

Jelaskan ciri-ciri sel hewan dan sel tumbuhan

Sebutkan pengertian jaringan meristem, pelindung dan parenkim

Sebutkan ciri mamalia dan contoh mamalia

Apa itu Amonia?

Sebutkan ciri aves dan 3 subkelas aves

Sebutkan dua jenis ikan beserta contohnya

Recent Comments

tatang on Macam-macam Bilangan Kuantum dan Contoh Soalnya

ismi kupadma asih on Macam-macam Bilangan Kuantum dan Contoh


Soalnya

Archives

October 2015

September 2015

August 2015

July 2015

June 2015

May 2015

April 2015

March 2015

February 2015

January 2015

December 2014

November 2014

October 2014
Copyright 2015 smpsma.com - Proudly powered by WordPress

umifatmawati
the young bioscientist
Skip to content

About

Search for:

Regulasi lac operon


March 25, 2010Biologi molekulerlac operon

Pengendalian ekspresi genetik merupakan aspek yang sangat penting


bagi jasad hidup, termasuk prokaryaot. Tanpa sistem pengendalian yang
efisien, sel akan kehilangan banyak energy yang justru merugikan jasad
hidup. Bakteri Escherichia colimerupakan salah satu contoh jasad hidup
prokaryot yang paling banyak dipelajari aspek fisiologi dan molekulernya.
Bakteri ini mempunyai lebih dari 3000 gen yang berbeda dan genomnya
telah dipetakan serta diketahui urutan basa nukleotidanya secara
lengkap.
Tidak semua di antara sekian banyak gen pada genom E. coli diaktifkan
pada saat yang bersamaan karena keadaan semacam ini justru akan
menguras energy selular yang akan memperlambat laju pertumbuhan sel.
Oleh karena itu, dalam system molecular jasad ini ada banyak sistem
pengendalian ekspresi genetik yang menentukan kapan gen tertentu
diaktifkan dan diekspresikan untuk menghasilkan suatu produk ekspresi.
Sebagai contoh, jika dalam medium pertumbuhan E. coliterdapat gula
sederhana, misalnya glukosa (monosakarida), maka sel tidak perlu
menjalankan sistem ekspresi gen-gen yang bertanggung jawab untuk
metabolisme gula yang lebih kompleks, missal laktosa (disakarida). Gengen yang bertanggung jawab dalam metabolisme laktosa baru akan
diaktifkan setelah malalui suatu sirkuit regulasi tertentu.
Dalam sel prokaryot, ada beberapa gen structural yang disekspresikan
secara bersam-sama dengan menggunakan satu promoter yang sama.

Kelompok gen semacam ini disebut sebagai operon. Gen-gen semacam ini
pada umumnya adalah gen-gen yang terlibat di dalam suatu rangkaian
reaksi metabolism yang sama, misalnya metabolism laktosa, arabinosa
dan lain-lain. Pengelompokan gen semacam ini di dalam suatu operon
membuat sel menjadi lebih efisien di dalam melakukan proses ekspresi
genetic. Sebaliknya di dalam jasad eukaryotic, sistem organisasi operon
semacam ini tidak ada karena setiap gen diatur oleh promoter tersendiri..
Secara umum dikenal dua sistem pengendalian ekspresi genetic yaitu
pengendalian positif dan pengendalian negative. Pengendalian (regulasi)
pada suatu gen atau operon melibatkan aktivitas gen regulator.
Pengendalian positif pada suatu operon artinya operon tersebut dapat
diaktifkan oleh produk ekspresireh gen regulator. Sebaliknya,
pengendalian negative berarti operon tersebut dinonaktifkan oleh produk
ekspresi gen regulator. Produk gen regulator ada dua macam yaitu
activator, yang berperan dalam pengendalian secara positif dan repressor
yang berperan dalam pengendalian secara negative. Pengikatan activator
atau repressor pada promoter ditentukan oleh keberadaan suatu molekul
efektor yang biasanya berupa molekul kecil, misalnya asam amino, gula,
atau metabolit serupa lainnya. Molekul efektor yang mengaktifkan
ekspresi suatu gen disebut inducer, sedangkan yang bersifat menekan
ekspresi suatu gen disebut repressor.
PENGENDALIAN OPERON LAKTOSA (LAC)
Sistem lac operon adalah sistem pengendalian ekspresi gen-gen yang
bertanggung jawab di dalam metabolism laktosa. Sistem tersebut pertama kali
ditemukan pada bakteri Escherichia coli oleh Francois Jacob dan Jaques Monod
pada akhir tahun 1950-an. Laktosa adalah disakarida yang tersusun atas glukosa
dan galaktosa. Jika bakteri E. coli ditumbuhkan dalam medium yang
mengandung sumber karbon glukosa dan laktosa secara bersama-sama makaE.
coli akan menunjukkan pola pertumbuhan yang spesifik. Setelah melalui fase
adaptasi,E.coli memasuki fase eksponensial yang ditandai dengan laju
pertumbuhan yang meningkat secara eksponensial, kemudian akan mencapai
fase stasioner. Setelah mencapai fase stasioner beberapa saat, kemudian
bakteri akan tumbuh lagi memasuki fase eksponensial kedua sampai akhirnya
mencapai fase stasioner akhir. Dalam fase pertumbuhan semacam ini ada dua
fase eksponensial. Pada fase eksponensial pertama, E. coli menggunakan

glukosa sebagai sumber karbon sampai akhirnya glukosa habis dan E.


coli mencapai fase stasioner yang pertama. Selanjutnya pada fase eksponensial
kedua E. coli menggunakan laktosa setelah glukosa benar-benar habis. Pada fase
stationer yang pertama sebenarnya yang terjadi adalah proses induksi sistem
operon laktosa yang akan digunakan untuk melakukan matabolisme laktosa.

Disakarida laktosa (gula susu) akan tersedia bagi E. coli apabila manusia
inangnya minum susu. Bakteri dapat menyerap laktosa dan memecahnya
untuk memperoleh energi atau menggunakannya sebagai sumber karbon
organik untuk mensintesis senyawa lain. Metabolism laktosa dimulai
dengan hidrolisis disakarida menjadi dua komponen monosakaridanya,
glukosa dan galaktosa. Enzim yang mengkatalis reaksi ini disebut galaktosidase. Hanya sedikit molekul enzim yang terdapat pada sel E.
coli yang selama ini tumbuh dalam keadaan tanpa laktosamisalnya di
usus seseorang yang tidak minum susu. Tetapi jika laktosa ditambahkan
pada medium nutrient bakteri tersebut, hanya dalam 15 menit jumlah
molekul -galaktosidase di dalam sel ini akan meningkat ribuan kali lipat.
Operon laktosa terdiri atas 3 gen structural utama yaitu gen lac Z
mengkode enzim -galaktosidase yang menghasilkan dua monosakarida
yaitu glukosa dan galaktosa, gen lac Y mengkode permease galaktosida,
yaitu enzim yang berperan dalam pengangkutan laktosa dari luar ke
dalam sel, dan gen lac A mengkode enzim transasetilase thiogalaktosida
yang perannya belum diketahui secara jelas. Ketiga gen struktural
tersebut dikendalikan ekspresinya oleh satu promoter yang sama dan
menghasilkan satu mRNA yang bersifat polisistronik. Selain ketiga gen
structural tersebut, juga terdapat gen regulator lac I yang mengkode
suatu protein repressor dan merupakan bagian sistem pengendalian
operon laktosa.

Gen untuk -galaktosidase merupakan bagian dari sebuah operon,


operon lac (lacuntuk metabolism laktosa), yang mencakup dua gen lain
yang mengkode protein yang berfungsi di dalam metabolisme laktosa.
Keseluruhan unit transkripsi ini berada di bawah perintah satu operator

dan satu promoter. Gen pengatur, lacl, terletak di luar operon, mengkode
protein repressor alosterik yang dapat mengubah operon lac ke
keadaan of dengan cara mengikatkan diri pada operator. Dalam keadaan
ini, suatu molekul kecil yang spesifik, disebut
induser, menginaktifkanrepresor. Untuk operon lac, indusernya adalah
alolaktosa, sebuah isomer dari laktosa yang terbentuk dalam jumlah kecil
dari laktosa yang masuk ke dalam sel.

Pada keadaan tidak ada laktosa (sehingga alolaktosa juga tidak ada),
repressor lac akan berada dalam konfigurasi aktifnya, dan gen-gen operon
lac akan berada dalam keadaan diam. Jika laktosa ditambahkan ke
medium nutrient sel tersebut, alolaktosa akan mengikatkan diri pada
repressor lac dan mengubah konformasinya, menghilangkan kemampuan
repressor untuk mengikatkan diri pada operator. Sekarang, karena
dituntut oleh kebutuhan, operon lac menghasilkan mRNA untuk enzimenzim jalur laktosa. Dalam konteks pengaturan gen, enzim-enzim ini
dipandang sebagai enzim indusibel, karena sintesisnya dipengaruhi oleh
sinyal kimiawi (alolaktosa, dalam kasus ini).

lac operon inducer

A. PENGATURAN GEN YANG BERSIFAT POSITIF


Agar enzim yang memecah laktosa dapat disintesis dalam jumlah layak,
tidak cukup dengan hanya adanya laktosa di dalam sel bakteri.
Persyaratan lainnya adalah pasokan gula glukosa sederhana harus
rendah. Apabila harus memilih antara substrat-substrat untuk glikolisis
dan jalur katabolic lain, E.Coli lebih senang menggunakan glukosa, gula
yang biasanya selalu ada di lingkungan.
Bagaimana sel E. coli mengetahui konsentrasi glukosa ini, dan bagaimana
informasi ini disampaikan ke genom? Sekali lagi, mekanisme tersebut
mengandalkan interaksi antara protein pengatur alosterik dengan suatu
molekul organic yang berukuran kecil. Molekul kecil itu adalah AMP siklik
(cAMP), yang berakumulasi bila glukosa tidak ada. Protein pengaturnya
adalah protein repressor cAMP (cAMP receptor protein atau CRP), dan
protein ini merupakan activator transkripsi. Ketika cAMP mengikatkan diri
ke lokasi alosterik pada CRP, protein akan berubah ke bentuk aktifnya,
dan dapat mengikatkan diri pada suatu tempat tertentu di sebelah
promoter lac. Penempelan CRP pada DNA ini membuat RNA polymerase
lebih mudah mengikatkan diri pada promoter di dekatnya dan memulai
proses transkripsi operon. Karena CRP merupakan protein pengatur yang
langsung menstimulasi ekspresi gen, mekanisme ini dapat disebut
sebagai pengaturan positif.
Jika jumlah dari glukosa di dalam sel meningkat, konsentrasi cAMP
menurun, dan CRP akan lepas dari operon lac. Oleh karena itu, operon lac
berada di bawah control ganda; control negative oleh repressor lac dan
kontrol positif oleh CRP. Kondisi repressor lac (dengan atau tanpa
alolaktosa) menentukan terjadi atau tidaknya transkripsi dari gen-gen
operon lac, kondisi CRP (dengan atau tanpa cAMP) mengontrol laju
transkripsi jika operonnya bebas dari repressor. Yang tampak adalah
operon seakan-akan memiliki saklar on-of dan kontrol volume keduaduanya sekaligus.

Jadi secara umum dapat dijelaskan bahwa pengikatan CAP-cAMP pada


promoter menyebabkan RNA polimerase dapat terikat pada promoter
membentuk kompleks promoter tertutup (clossed promoter complex)
yang selanjutnya akan menjadi kompleks promoter terbuka yang siap
melakukan transkripsi. Pengikatan RNA polimerase pada promoter
tersebut difasilitasi oleh CAP-cAMP melalui interaksi protein-protein,
pembengkokan DNA, atau keduanya.
Sumber:
Campbell & Reece. 2010. Biologi. Edisi ke 8. Jakarta: Erlangga
Thieman & Palladino.2004. Introduction to Biotechnology. San
Francisco: Benjamin Cummings
Yuwono, T. 2005. Biologi Molekular. Jakarta: Erlangga.

Post navigation
Potensi Kotoran Sapi

4 thoughts on Regulasi lac operon


1.

Pingback: Alexander

2.

Pingback: Alexander6

3.

Pingback: Alexander7

4.

Pingback: JEFFREY

Leave a Reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *
Comment

Name *
Email *
Website
Post Comment

Proudly powered by WordPress


Skip to toolbar

About WordPress

Log in

Register

Search

Ikuti Wikipedia bahasa Indonesia di

Facebook,

[tutup]
Twitter,

Instagram dan IRC #wikipedia-

idconnect

Operon lac
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa

Operon lac adalah operon yang dibutuhkan dalam transpor dan metabolisme
dari laktosa di E.coli dan berbagai macam bakteri enterik lainnya.[1] Operon lac terdiri dari gen
structural (lacZ, lacY, dan lazZ), situs operator , dan gen regulator yang terdiri
dari lacCRP, lacP , dan lacO yang merupakan situs pengikatan untuk reseptor protein
cAMP, RNA polimerase, dan represor laktosa[2].
Daftar isi
[sembunyikan]

1Gen struktural lac operon

2Situs regulator lac operon

2.1Regulasi lac operon tanpa inducer maupun substrat

2.2Regulasi lac operon dengan inducer IPTG

2.3Pengukuran aktivitas operon lac

2.4Pentingnya regulasi operon dalam bakteri

3Referensi

Gen struktural lac operon[sunting | sunting sumber]


Gen struktural dalam lac operon berfungsi untuk menyandikan protein untuk melakukan
fungsinya dalam sel. lacZ berperan sebagai gen yang mengkodekan protein galaktosidase, lacY berperan dalam mengkodekan protein laktosa permease,
sementara lacA berperan dalam mengkodekan protein galaktosida asetiltransferase[3]. Dalam
fungsinya untuk mengkataboli laktosa, laktosa permease yang berada
pada membran sitoplasma berfungsi untuk mentransport laktosa kedalam sel . Sementara galaktosidase yang berada pada permukaan membran sitoplasma berfungsi untuk
memecah laktosa menjadi glukosa dan galaktosa, dan galaktosida asetiltransferase berfungsi
untuk mengikat ikatan -D-galaktosida pada laktosa dengan asetil-CoA, sehingga diproduksi
CoA dan asetil--D-galaktosida yang sampai sekarang belum diketahui fungsi signifikannya
dalam katabolisme laktosa[4]. Gen struktural dalam lac operon ditranskripsi dalam
bentuk mRNA polisistronik yang akan ditranslasikan menjadi ketiga enzim tersebut[5]. Dengan
diproduksinya ketiga enzim tersebut secara bersamaan, maka regulasi produk gen akan menjadi
lebih efisien, karena tidak selamanya bakteri menggunakan laktosa sebagai sumber energinya,
dan hanya digunakan ketika terdapat laktosa dalam jumlah banyak, sehingga tidak
membuang biomassa sel hanya untuk mensintesa enzim-enzim tersebut. Transkripsi dimulai dari
sebuah promoter (Plac)[6].

Situs regulator lac operon[sunting | sunting sumber]

Situs regulator laktosa memiliki satu gen struktural (lacI) dan satu situs pengontrolan (lacP2),
dimana gen strukturalnya berperan untuk mengkodekan subunit tetramerrepresor laktosa,
sementara situs pengontrolan berperan sebagai situs pengikatan RNA polimerase[2]. Pada
keadaan tidak ada inducer, represor mengikat pada lacO secara sterik dan memblokir
pengikatan RNA polimerase ke lacP2 dan menghambat insiasi transkripsi dari operon laktosa.
[7]
Represor juga berperan dalam pemblokiran transkripsi operon regulator laktosa, beserta
dengan produksi dirinya sendiri atau disebut sebagai autorepresi[4].

Regulasi lac operon tanpa inducer maupun substrat[sunting | sunting sumber]

Produksi protein B-galatosidase yang berbanding dengan protein bakteri secara keseluruhan, terlihat
bahwa produksi akan meningkat ketika B-gal terdapat pada media, sementara ketika dihilangkan, B-gal
tidak akan diproduksi

Pada keadaan tidak ada laktosa ataupun inducer lainnya, represor tetap akan mengikat lacO dan
menghalangi terjadinya transkripsi karena pengikatan RNA polimerase diblokir pada situs lacP,
tetapi konsentrasi represor akan menurun karena terjadi protein turnover atau mengalami
degradasi dan dilusi oleh pertumbuhan dan pembelahan sel, sehingga lacO akan dilepas oleh
represor secara berkala, dan RNA polimerase dapat mengikat pada lacP dan menginiasasi
transkripsi[4]. Sintesa mRNA yang terjadi seperti ini dinamakan sebagai sneak
synthesis[3]. Translasi mRNA polisistronik yang terjadi akan menghasilkan ketiga enzim yang
menjadi stuktural dari lac operon dengan konsentrasi yang rendah[3]. Enzim pada konsentrasi
rendah ini dinamakan sebagai level basal dari enzim, sehingga sel tidak akan pernah kehilangan
enzim untuk katabolisme laktosa[6].

Regulasi lac operon dengan inducer IPTG[sunting | sunting sumber]


Ketika terdapat inducer, seperti isopropil--D-tiogalaktosida (IPTG) ditambahkan kedalam media
yang terdapat populasi bakteria pengkatabolit laktosa, operon laktosa akan aktif. Laju
pembentukan -galaktosidase, permease, dan transasetilase akan meningkat pesat sampai
pada keadaan jenuh atau maksimum selama kondisi lingkungan tidak berubah [8]. IPTG dapat
diambil oleh bakteri, akibat aktivitas permease yang terbentuk karena level basal dari enzim dan
akan tetap terkonsentrasi di membran plasma[9]. IPTG akan mengikat represor dan
mengalami perubahan konformasi, sehingga represor akan berada pada keadaaninaktifnya, dan
tidak dapat mengikat ke operator lagi, sehingga RNA polimerase akan dengan mudah mengikat
pada lacP dan menginisiasi transkripsi tanpa adanya represor[4]. Segera setelah RNA polimerase
menginisiasi transkripsi, RNA polimerase yang lain akan langsung mengikat ke promoter dan
memulai transkripsi lagi, sehingga akan terdapat banyak mRNA dari operon laktosa, tetapi
translasi yang terjadi tidak dapat dilakukan seperti halnya pada transkripsi [9]. Translasi yang
terjadi setelah mRNA pertama hanya akan dimulai ketika mRNA pertama selesal ditranslasi,
tetapi masing-masing mRNA dapat ditranslasi berulang, sekitar 40-50 kali sehingga konsentrasi
enzim yang terbentuk akan makin besar[9].

Pengukuran aktivitas operon lac[sunting | sunting sumber]

Reaksi ONPG dengan B-galaktosidase, menghasilkan galaktosa dan nitrofenol yang berwarna

Dalam percobaannya untuk mendeteksi aktivitas operon laktosa, biasanya


digunakan absorbansi cahaya untuk mengukur unit enzim yang terbentuk, seperti penambahan
senyawa tidak berwarna ortho-nitrophenol galaktosida (ONPG) yang berfungsi untuk mengukur
kadar -galaktosidase yang akan menghasilkan warna kuning seiring waktu dan aktivitas
enzimnya[10]. ONPG akan terpecah menjadi galaktosa dan nitrofenol yang berwarna kuning, tidak
seperti IPTG, ONPG bukanlah inducer [8]

Larutan bening (kiri) merupakan larutan kontrol, tidak ada gula sederhana, larutan kuning (kanan)
merupakan larutan gula sederhana yang diproduksi akibat pemecahan laktosa.

Pentingnya regulasi operon dalam bakteri[sunting | sunting sumber]


Jika biosintesa tidak diregulasi, maka sel akan dengan cepat terpenuhi dengan mRNA
dan enzim yang tidak berguna karena sintesa dari molekul-molekul ini membutuhkan
banyak energi, sementara energi yang dibutuhkan untuk membuat molekul tersebut lebih baik
dialokasikan untuk perbaikan selataupun reproduksi sel[1]. Selebihnya lagi, katabolisme
berlebihan akan membuat banyak produk katabolit untuk keluar dari sel dan
membutuhkan protein transport lebih banyak. Karena protein transport glukosa dan enzim
katabolitnya diproduksi pada kadar yang tinggi, akan sangat tidak berguna untuk menginduksi
operon untuk utilisasi gula lain, ketika terdapat glukosa sebagai sumber makanan. Karena
alasan-alasan ini, maka regulasi untuk mengatur kadar mRNA, dan enzim dibutuhkan [10]

Referensi[sunting | sunting sumber]


1.

^ a b (Inggris) Joung J, Ramm E, Pabo C (2000). "A bacterial twohybrid selection system for studying protein-DNA and proteinprotein interactions". Proc Natl Acad Sci USA 97 (13): 73827.

2.

^ a b (Inggris)Sristava, S. 2003. Understanding Bacteria. Norwell:


Springer

3.

^ a b c (Inggris)Russel P, Hertz P, Mcmillan B. 2011. Biology: The


Dynamic Science. Belmont:Cengage learning

4.

^ a b c d Hooper N, Hames D. 2000. Instant Notes in Biochemistry.


Oxford: Taylor & Francis

5.

^ Toole G, Toole S. 2004.Essential A2 Biology for OCR.


Cheltenhem: Nelson thrones

6.

^ a b (Inggris)Windelspecht, Michael. 2007. Genetics 101.


Westport: ABC-CLIO

7.

^ (Inggris) Kimball J. 2006. The Operon. [terhubung


berkala]. http://users.rcn.com/jkimball.ma.ultranet/BiologyPages/L/
LacOperon.html [23 Mar 2009].

8.

^ a b Smolke, Christina. 2010. The Metabolic Pathway Engineering


Handbook: Fundamentals. New York: CRC Press

9.

^ a b c Bolsover SR, Shephard EA, White HA, Hyams JS.


2011. Cell Biology: A Short Course. New Jersey: John Wiley &
sons

10. ^ a b Panno J. 2005. The Cell: Evolution of the First Organism.


New York: Infobase Publishing

Kategori:

Ekspresi gen

Genetika

Menu navigasi

Belum masuk log

Pembicaraan IP ini

Contributions

Buat akun baru

Masuk log

Baca
Sunting
Sunting sumber
Versi terdahulu
Lanjut

Halaman Utama

Perubahan terbaru

Peristiwa terkini

Halaman baru

Halaman sembarang
Komunitas

Warung Kopi

Portal komunitas

Bantuan
Wikipedia

Tentang Wikipedia

Pancapilar

Kebijakan

Halaman
Pembicaraan


Menyumbang

Hubungi kami

Bak pasir
Bagikan

Facebook

Twitter

Google+
Cetak/ekspor

Buat buku

Unduh versi PDF

Versi cetak
Perkakas

Pranala balik

Perubahan terkait

Halaman istimewa

Pranala permanen

Informasi halaman

Item di Wikidata

Kutip halaman ini


Bahasa lain

Catal

etina

Deutsch

English

Espaol

Euskara

Franais

Galego

Nederlands
Occitan
Polski
Portugus

Svenska

Sunting interwiki

Halaman ini terakhir diubah pada 25 April 2014, pukul 23.40.

Teks tersedia di bawah Lisensi Atribusi-BerbagiSerupa Creative Commons;


ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih
jelasnya.

Kebijakan privasi

Tentang Wikipedia

Penyangkalan

Pengembang

Tampilan seluler

Headlines News :
Ini Spesies Rusa Terkecil dan Langka di Dunia 7/13/2013

HOME

BIOLOGI

DOWNLOAD

HIBURAN

KESEHATAN

PENDIDIKAN

KAB. BINTAN

CATATANKU

Enter your em Enter

Topics :

Search ...

Home Download , Materi , News OPERON LAKTOSA (OPERON LAC) DAN OPERON TRYPTOPHAN
(OPERON TRP)

OPERON LAKTOSA (OPERON LAC) DAN OPERON


TRYPTOPHAN (OPERON TRP)
Written By agus setiawan on Kamis, 06 Desember 2012 | 07.39

Operon adalah sekelompok gen yang diapit secara bersamaan oleh


sepasang terminator dan promotor. Operon merupakan sekelompok gen yang
produk-produknya memiliki fungsi-fungsi yang berhubungan dan ditranskripsi
bersama-sama sebagai suatu kesatuan. Daerah operon merupakan daerah yang
berperan dalam regulasi ekspresi gen. Sistem regulasi yang pertama diketahui
adalah sistem regulasi operon laktosa pada bakteri E. coli oleh Yacob dan
Monod. E. coli mempunyai kekhasan dari prokariot yang lain. Regulasi yang
paling umum dilakukan oleh bakteri yaitu sistem operon lactosa (operon lac) dan
sistem operon tryptophan (operon trp)
Regulasi ekspresi gen banyak dimengerti melalui mekanisme yang
dipalajari pada bakteri. Sistem regulasi yang pertama dimengerti ialah sistem
regulasi operon laktosa pada bakteri E. coli oleh Jacob dan Monod. Regulasi ini
berperan dalam mengatur produksi enzim B-galaktosidase, ketika bakteri harus
memilih menggunakan laktosa atau glukosa sebagai sumber karbonnya.
Berikut ini akan dijelaskan dua sistem regulasi yang paling umum
dilakukan pada bakteri, yaitu sistem operon laktosa (operon lac) dan sistem
operon triptofan (operon trp). Pada operon lac ekspresi gen diatur pada tingkat
promoter, yaitu mengatur kontak kontak antara promoter dengan enzim
transkiptase (pengendali transkipsi). Pada operon yaitu triptofan sudah mencapai
kuantitas yang dibutuhkan .
Silahkan download filenya disini
3

Share this article :


Diposkan oleh agus setiawan di 07.39
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook
Label: Download, Materi, News

2 komentar:

1.
Laela28 Maret 2014 17.27
Terimakasih, sangat membantu..
Balas

2.
Wenci Lidia Bana 'eccii'26 Maret 2015 05.28
(y)
Balas
posting lebih baruposting lamaberanda

Tentang Ku
Tujuh hal yang akan menghancurkan kita; kekayaan tanpa kerja, pengetahuan tanpa kerja, bisnis tanpa
moralitas, ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan, ibadah tanpa pengorbanan, politik tanpa prinsip.

Entri Populer

Tempat Wisata di Pulau Bintan dan Pulau Batam yang Indah


Pulau Bintan dan Pulau Batam merupakan dua wilayah utama di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) yang
banyak dikunjungi oleh wisatawan. Kota ...

Nyeri Sendi (Gout)


SKENARIO Seorang laki-laki 45 tahun, datang di Poliklinik dengan jalan pincang, karena nyeri yang
hebat pada sendi ibu jari kaki kanan...


OPERON LAKTOSA (OPERON LAC) DAN OPERON TRYPTOPHAN (OPERON TRP)
Operon adalah sekelompok gen yang diapit secara bersamaan oleh sepasang terminator dan promotor.
Operon merupakan sekelompok gen yang...

Laporan Kuliah Lapangan Taksonomi Invertebrata


TEORI DASAR 1. PHYLUM PROTOZOA ( Latin : porus = pori, fer = membawa) atau spons atau hewan
berpori adalah sebuah f ilum untuk ...

Mengenal Adat-istiadat dan Tradisi Penduduk Pulau Bintan


Pulau Bintan adalah salah satu pulau yang terdapat dalam gugusan kepulauan Riau. Bintan merupakan
pulau terbesar di antara pulau-pula...

Recent Post

Pantai Trikora, Kemilau Wisata Pulau Bintan

Menilik Khasiat Ampuh Jus Lidah Buaya (Disebut lebih ampuh dari minuman isotonik)

Keindahan Objek Wisata Pulau Bintan

Wisata Selain Pantai yang Ada di Pulau Bintan

Alasan Mengapa Lalat Sulit Ditepuk

Kelelawar Tahan Penyakit, Mengapa?

Ini Spesies Rusa Terkecil dan Langka di Dunia

Pertama Kali, Ilmuwan Bisa Ciptakan Hati Manusia

Umur Manusia Berkurang 5,5 Tahun Gara-gara Polusi Udara

Dalam Sehari, Berapa Kilometer Darah Mengalir di Tubuh?

Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template


Copyright 2011. Catatan Sugasetya - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger

BERANDA
Search

About Biology
Up Date All About multi purpose Of Biology

HOME
BIOLOGI INDONESIA
DOWNLOADS
PARENT CATEGORY
FEATURED
HEALTH
UNCATEGORIZED

KONSEP DASAR OPERON


09.28

No comments

E. Coli menyintesis asam amino triptofan dari molekul prekursor dalam jalur multi langkah. Setiap reaksi dalam
jalur itu di katalisis oleh enzim spesifik, dan kelima gen yang mengodekan sub unit enzim enzim ini tergugus
bersama pada kromosom bakteri.
Kelima gen, yang bersama sama menyusun satu satuan transkripsi, memiliki promoter yang sama. Dengan
demikian transkripsi menghasilkan satu molekul mRNA yang panjangyang mengodekan kelima polipeptida yang
menyusun enzim enzim dalam jalur triptofan. Sel dapat mentranslasikan satu mRNA ini menjadi lima polipeptida
yang terpisah karena mRNA diselang selingi oleh kodon mulai dan kodon stop yang menandai di mana sekuens
pengode untuk setiap polipeptida diawali dan diakhiri. Keuntungan utama penggugusan gen dari fungsi yan
terkait menjadi satu unit transkripsi adalah bahwa satu saklar nyala mati dapat mengontrol keseluruhan gugus
dari gen gen yang fungsinya terkait. Dengan kata lain gen gen ini berada di bawah kontrol terkoordinasi.Ketika
sebuah sel E. Coli harus membuat triptofan untuk dirinya sendiri karena medium nutrien tidak mengandung asam
amino ini, semua enzim untuk jalur metabolik tersebut di sintesis secara bersamaan. Saklar tersebut merupakan
sebuah segmen DNA yang di sebut operator. Lokasi dan namanya sesuai dengan fungsinya, terletak dalam
promoter atau pada beberapa kasus di antara promoter dan gen gen pengode enzim, operator mengontrol akses
RNA polimerase ke gen gen pengode. Secara bersama sama operator, promoter, dan gen gen yang di kontrol
keseluruhan rentang DNA yang di butuhkan untuk produksi enzim jalur triptofan menyusun
sebuah operon. OPERON trp (trp singkatan dari triptofan) adalah salah satu dari sekian banyak operon yang
terdapat di dalam genom E. Coli. Apabila operator merupakan saklar untuk mengontrol transkripsi, bagaimana
cara kerja saklar ini? Operon trp sendiri otomatis menyala. Dengan kata lain, RNA polimerase dapat berikatan ke
promoter dan mentranskripsikan gen gen operon ini. Operon dapat di matikan oleh protein yang
disebut represor trp. Represor tersebut berikatan ke operator dan memblok pelekatan RNA poimerase ke
promoter, sehingga mencegah transkripsi gen. Protein represor spesifik untuk operator dari operon tertentu.
Misalnya, repreor yang mematikan operon trp melalui pengikatan ke operon trp tidak berpengaruh terhadap
operon operon lain dalam genom E. Coli.
Represor trp adalah produk gen peregulasi yang di sebut trpR, yang terletak agak jauh dari operon yang
dikontrolnya dan memiliki promoter sendiri. Gen peregulasi di ekspresikan terus menerus walaupun dengan laju
yang rendah, dan sejumlah kecil molekul trpR selau terdapat dalam sel sel E. Coli. Jika demikian, mengapa
operon trp tidak dimatikan secara permanen? Pertama, pengikatanrepresor ke operator bersifat dapat balik.
Operator bergonta ganti di antara dua kondisi, satu kondisi tanpa ikatan dengan represor, dan yang satu lagi
terikat dengan represor. Durasi relatif setiap kondisi berganung pada jumlah molekul represor aktif yang ada.
Kedua, represor trp seperti pada sebagian protein peregulasi, merupakan protein alosterik, dengan dua bentuk
alternatif , aktif atau inaktif. Represor trp di sintesis dalam bentuk inaktif dengan sedikit afinitas terhadap operator
trp. Hanya jika triptofan berikatan dengan represor trp pada sebuah situs alosterik protein represor berubah
bentuk menjadi aktif yang dapat melekat ke operator dan mematikan operon.
Fungsi triptofan dalam sistem ini adalah sebagai korepresor, molekul kecil yang bekerja sama dengan protein
represor untuk mematikan operon. Seiring akumulasi triptofan, sebagian molekul triptofan berasosiasi dengan
molekul represor trp dan menghentikan produksi enzim enzim jalur produksi triptofan. Jika kadar triptofan suatu
sel anjlok , transkripsi gen gen operon kembali berjalan. Ini adalah salah satu contoh bagaimana expresi gen
dapat menanggapi perubahan lingkungan internal dan external sel.
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook
Posting Lebih BaruPosting LamaBeranda

0 komentar :
Poskan Komentar

Langganan: Poskan Komentar ( Atom )

About Biology

TELOMER

TRANSPOSON

Sekuens Sekuens yang Terkait Dengan Unsur Transposabel

SOCIAL PROFILES

Popular
Tags
Blog Archives

Pengolahan Mint
DARI SELEMBAR DAUN MENJADI SETETES MINYAK Masyarakat umum lebih mengenalnya
sebagai tanaman mint, namun kalangan civit...


CIRI STEM SEL
Karakteristik stem cell Untuk dapat di golongkan sebagai stem cell, suatu sel harus memiliki sejumlah
karateristik...

NUTRASETIKAL
Nutrasetikal Terapi Komplemen untuk Kanker Sepanjang hidup, tubuh manusia mengalami enam
sampai sepuluh kali erupsi sel sel yang berpoten...

Aplikasi Praktis Teknologi DNA Memengaruhi Kehidupan Kita Dalam Berbagai Cara
Teknologi DNA muncul hampir setiap hari dalam berita. Topik yang di bahas paling sering adalah
aplikasi baru dan menjanjikan dalam bi...

KONSEP DASAR OPERON


E. Coli menyintesis asam amino triptofan dari molekul prekursor dalam jalur multi langkah. Setiap
reaksi dalam jalur itu d...

AGEN PENGINFEKSI SELAIN VIRUS


Meskipun sangat kecil dan sederhana, virus masih kalah sederhana dari 2 kelas patogen, yaitu viroid
an prion. Viroid adalah molekul RNA...

TOTAL TAYANGAN LAMAN

13393
ABOUT BIOLOGY. Diberdayakan oleh Blogger.

STATISTIK

Histats.com 2005-2012 Privacy Policy - Terms Of Use - Powered By Histats

FREE LINK EXCHANGE


MENGENAI SAYA

MUFLIH FUADI
L I H AT P R O F I L L E N G K A P K U

ARSIP BLOG

2013 ( 45 )

September ( 5 )

Juni ( 16 )

FEROMON

RNA BUKAN PENGODE MEMAINKAN PERANAN PENTING DALAM ...

PREDISPOSISI TURUNAN DAN FAKTOR FAKTOR LAIN yang T...

AGEN PENGINFEKSI SELAIN VIRUS

REGULASI STRUKTUR KROMATIN BERPENGARUH TERHADAP RE...

REGULASI EXPRESI GEN

APOPTOPSIS

REGULASI GEN NEGATIF

KONSEP DASAR OPERON

CIRI STEM SEL

AIR DAN KEHIDUPAN

POHON KEHIDUPAN

BIOLOGI SISTEM

PADA SETIAP TINGKAT DALAM JENJANG BIOLOGIS MUNCUL ...

EVOLUSI ADALAH TEMA INTI BIOLOGI

ESSENSI BIOLOGI
Mei ( 24 )

Copyright 2016 About Biology | Powered by Blogger


Design by FThemes | Blogger Theme by Lasantha - Premium Blogger Templates
NewBloggerThemes.com

Laporkan Penyalahgunaan

Jawaban

Jawaban Terbaik: 1. sense(pencetak) adalah Transkripsi pembentukan/sintesis RNA dari salah satu
rantai DNA
antisense(gen) adalah proses pemindahan informasi genetik dari DNA ke RNA
Mis. pencetak(sense) memiliki urutan basa G-A-G-A-C-T, dan yang berfungsi sebagai gen(antisense)
memiliki urutan basa komplemen C-T-C-T-G-A. Karena pencetaknya G-A-G-A-C-T, maka RNA hasil
cetakannya C-U-C-U-G-A. Jadi, RNA C-U-C-U-G-A merupakan hasil kopian dari DNA C-T-C-T-G-A
(gen), dan merupakan komplemen dari pencetak
2. kodon adalah mRNA(messenger RNA atau RNA duta/RNAd), bertugas untuk mengkodekan kode
genetik dari DNA untuk sintesis protein. Terdapat di anak inti.sel. Triplet kode genetik pada mRNA
antikodon adalaht RNA(transfer RNA atau RNAt), bertugas untuk mencocokkan triplet yang ada pada
mRNA dengan protein yang sesuai. Terdapat di sitoplasma. Triplet kode genetik pada tRNA
3. Translasi
dimana
. mRNA / RNAd yang sudah terbentuk keluar dari anak inti sel menuju rRNA.
. Disana mRNA masuk ke rRNA / RNAr diikuti oleh tRNA / RNAt.
. Ketika antikodon pada tRNA cocok dengan kodon mRNA kemudian rantai bergeser ke tengah.
. Kodon mRNA berikutnya dicocokkan dengan tRNA kemudian asam amino yang pertama . berikatan
dengan asam amino kedua. tRNA pertama keluar dari rRNA.
. Proses ini berlangsung hingga kodon stop, ribosom subunit besar dan kecil terpisah, mRNA dan
tRNA keluar dari ribosom
4. - fosfat (PO4)
- nitrogen.(A-T,G-S)
- gula pentosa pada atom karbon nomor 1, sedangkan atom C nomor 5 berikatan dengan gugus
fosfat.
5. a) Replikasi DNA berarti penggandaan. Ada 3 model replikasi DNA yaitu :
- Model konservatif. Model ini menyatakan bahwa 2 rantai DNA bereplikasi tanpa memisahkan rantairantainya.
- Model semi konservatif. Model ini menyatakan bahwa 2 rantai DNA berpisah kemudian bereplikasi.
- Model dispersi. Model ini menyatakan bahwa DNA terpecah menjadi potongan-potongan yang
kemudian bereplikasi
.
b) Transkripsi
- DNA membuka menjadi 2 rantai terpisah.
- Karena mRNA berantai tunggal, maka salah satu rantai DNA ditranskripsi (dicopy).
- Rantai yang ditranskripsi dinamakan DNA sense atau template dan kode genetik yang dikode
disebut kodogen.
- Sedangkan yang tidak ditranskripsi disebut DNA antisense/komplementer.

- RNA Polimerase membuka pilinan rantai DNA dan memasukkan nukleotida-nukleotida untuk
berpasangan dengan DNA sense sehingga terbentuklah rantai mRNA

Biologi

Fisika

Fisiologi

Geografi

Kesehatan

Kimia

Komputer

Teknologi

Pengertian dan proses Replikasi DNA


Home / Pengertian dan proses Replikasi DNA

Diperbaharui: 1 April, 2015


DNA adalah materi herediter di dalam sel dan dalam bentuk urutan kode dari
amina heterosiklik. Manusia memiliki biasanya 46 untai DNA, mereka dikenal
sebagai kromosom. Gen adalah daerah tertentu pada setiap kromosom yang
berisi informasi turun-temurun.
Replikasi DNA dimulai di lokasi tertentu yang dikenal sebagai asal replikasi.
Replikasi DNA merupakan proses semi-konservatif karena setiap sel anak
menerima satu untai DNA induk dan untai yang baru disintesis. DNA untai
orangtua bertindak sebagai template untuk sintesis untai komplementer
baru.

Pengertian Replikasi DNA


Replikasi DNA adalah proses di mana sebuah molekul DNA asli menghasilkan
dua salinan identik DNA. Replikasi DNA adalah proses biologis yang terjadi
pada semua organisme hidup. Replikasi DNA merupakan dasar untuk
pewarisan. DNA terbuat dari dua helai dan setiap helai sel induk bertindak
sebagai template untuk produksi untai komplementer. Proses ini dikenal
sebagai replikasi semi-konservatif DNA.

Proses DNA Replikasi


[ ]Mekanisme replikasi DNA terjadi dalam tiga langkah terkoordinasi yang
dikatalisasi secara enzimatis. Langkah-langkah replikasi DNA adalah sebagai
berikut:

Inisiasi:
Proses replikasi dimulai pada titik tertentu dari DNA yang dikenal sebagai
asal yang dikatalisis oleh protein inisiator. Urutan asal adalah A T. Di
lokasi situs asal protein inisiator membentuk kompleks pra-replikasi yang
membuka ritsleting DNA untai ganda.

proses replikasi dna

Elongasi:
Pemanjangan atau Elongasi molekul DNA adalah menambahkan sedikit asam
amino pada rantai protein yang sedang tumbuh. Sintesis leading strand
dimulai dengan dengan sintesis RNA primer dengan primase di lokasi asal.
Urutan nukleotida yang ditambahkan ke primer oleh enzim DNA polimerase III
arah 5 ke 3.

Garpu Replikasi
Replikasi garpu adalah struktur selama replikasi DNA. Garpu Replikasi
diciptakan oleh enzim helikase yang memutus ikatan hidrogen yang
memegang untai DNA bersama-sama. Helai ini berfungsi sebagai template
untuk leading strand dan lagging strand.

Terminasi:
Terminasi replikasi DNA selesai oleh protein terminasi.

Replikasi DNA semikonservatif

Replikasi molekul DNA yang terjadi dengan dua untai komplementer yang
dipisahkan oleh aksi enzim tertentu. Enzim ini membuka molekul dan
mengekspos basa nukleotida. Setiap untai molekul DNA tetap utuh dan
berfungsi sebagai template untuk sintesis untai komplementer. Modus
replikasi DNA adalah semi-konservatif di mana salah satu dari setengah
molekul DNA yang lama dan setengah lainnya yang baru.

Apa itu Leading Strand


Leading Strand adalah untai DNA berkembang yang disintesis dalam arah
yang sama dengan garpu replikasi. Enzim polimerase membaca template
Leading Strand dan hal itu menambah nukleotida untuk melengkapi untai
yang berkembang terus menerus.

Lagging Strand
Lagging Strand adalah untai DNA berkembang yang disintesis berlawanan
dengan arah garpu replikasi. Replikasi Lagging Strand lebih rumit daripada
Strand Leading. Lagging strand disintesis dalam segmen singkat dikenal
sebagai fragmen Okazaki. Dalam Lagging strand, template DNA memulai
sintesis RNA primer singkat. Primer RNA kemudian dihapus dan diganti
dengan fragmen DNA dan bergabung bersama oleh DNA ligase.

Enzim Replikasi DNA


Berikut ini adalah enzim dan protein yang mengambil bagian dalam
mekanisme replikasi DNA.

DNA girase enzim DNA girase ini membuat potongan dalam struktur
heliks ganda DNA dan memisahkan masing-masing pihak.

Helikase Enzim ini mengurai molekul DNA untai ganda.

Strand tunggal Binding Protein Ini adalah protein kecil yang mengikat
sementara untuk setiap sisi untai untuk menjaga mereka terpisah satu
sama lain.

DNA Polimerase kompleks Enzim ini berjalan ke untai DNA


menambahkan basa nukleotida ke setiap helai. Nukleotida ditambahkan
untuk melengkapi nukleotida yang terdapat pada untai yang ada.

DNA polimerase juga mengoreksi DNA baru.

DNA Ligase enzim DNA ligase menutup fragmen menjadi untai yang
kontinu.

DNA Polimerase

DNA polimerase adalah enzim yang melakukan segala bentuk replikasi DNA.
DNA

polimerase

tidak

memulai

proses

sintesis

untai

baru.

Mereka

memperpanjang untai DNA atau RNA yang ada yang dipasangkan dengan
untai cetakan. DNA Polimerase juga memainkan peran penting dalam prosesproses lain dalam sel seperti perbaikan DNA, rekombinasi genetik, transkripsi
terbalik dan lain-lain. Enzim ini juga digunakan di laboratorium biologi
molekuler di PCR, sekuensing DNA dan teknik kloning molekuler.
Sehubungan dengan replikasi DNA, DNA polimerase menambahkan basa
nukleotida pada satu untai tunggal membuatnya menjadi DNA untai ganda.
Enzim ini menambahkan nukleotida bebas di ujung untai 3 cetakan yang
menghasilkan formasi untai baru dalam arah 5-3. DNA polimerase bergerak
sepanjang untai template dalam arah 3-5 dan untai anak yang terbentuk
dalam arah 5-3. Hal ini menyebabkan pembentukan DNA antiparalel
beruntai ganda untuk satu sama lain.

Replikasi DNA prokariotik


Replikasi DNA dalam prokariota digambarkan sebagai berikut:

Proses replikasi DNA membutuhkan sejumlah besar protein dan enzim


yang memainkan peran penting selama proses tersebut.

Salah satu enzim yang paling penting dalam proses ini adalah DNA
polimerase, yang menambah urutan nukleotida ke rantai DNA yang
berkembang.

Pada prokariota, ada urutan nukleotida spesifik yang dikenal sebagai


asal replikasi yang merupakan titik inisiasi dari proses replikasi.

E.coli memiliki asal replikasi tunggal yang kaya dengan urutan A T.


Protein tertentu mengenali situs asal dan mengikat dengan itu.

Enzim helikase membuka DNA dengan memecah ikatan hidrogen.

DNA membentuk struktur berbentuk Y disebut garpu replikasi.

Untai tunggal yang mengikat protein melapisi untai DNA dekat garpu
replikasi yang mencegah DNA tidak berliku kembali.

Enzim DNA Polimerase menambahkan nukleotida hanya pada arah 53.

Leading stand yang melengkapi dari arah 3 ke 5 untai orangtua


disintesis terus menerus menuju garpu replikasi.

lagging strand yang melengkapi dalam arah 5 ke 3 untai orangtua


yang membutuhkan RNA primer untuk mensintesis nukleotida dalam
fragmen pendek yang dikenal sebagai fragmen Okazaki.

enzim DNA Polimerase I menggantikan primer RNA dengan nukleotida


DNA.

DNA ligase menutup celah antara fragmen Okazaki yang bergabung


dengan fragmen untuk membentuk molekul DNA tunggal.

Replikasi DNA eukariotik

Replikasi DNA pada eukariota adalah proses yang sangat rumit yang
melibatkan banyak enzim dan protein. Proses ini terjadi dalam 3 tahap
utama: inisiasi, elongasi dan terminasi.

Inisiasi
Dalam proses inisiasi ada urutan spesifik nukleotida disebut asal replikasi
yang merupakan situs untuk inisiasi replikasi. Protein tertentu mengikat ke
situs asal, enzim helikase membuka heliks DNA dan membentuk dua garpu
replikasi. Eukariota memiliki beberapa asal replikasi yang memungkinkan
replikasi secara simultan di beberapa tempat.

Elongasi
Selama

proses

perpanjangan

enzim

yang

disebut

DNA

polymerase

menambahkan nukleotida DNA pada ujung 3 template. Leading adalah Untai


yang disintesis dalam arah 5 - 3. Lagging strand, nukleotida baru dalam
bentuk nukleotida RNA kemplementer yang baru ditambahkan. Nukleotida
RNA kemudian diganti dengan nukleotida DNA. Leading strand yang
melengkapi ke untai DNA orangtua disintesis terus menerus menuju garpu
replikasi, karena DNA polimerase dapat mensintesis DNA dalam arah 5 ke 3.
Lagging strand disintesis dalam bentuk fragmen Okazaki. Fragmen ini
memerlukan primer RNA untuk memulai sintesis.

Terminasi
Selanjutnya dalam proses, primer RNA dihapus dan nukleotida RNA
digantikan oleh nukleotida DNA oleh polimerase DNA enzim. Celah antara
fragmen ditutup oleh enzim DNA ligase.
Mungkin juga tertarik dengan artikel berikut:

Pengertian Replikasi semikonservatif


Langkah-langkah replikasi DNA
Share This Post To: Facebook Twitter

Ciri-ciri dan Klasifikasi Amoeba


Apa itu Amoeba?

1 COMMENT ON PENGERTIAN DAN PROSES REPLIKASI DNA

1.

ermiwatiOctober 3, 2015Reply

tengkyu kaka

LEAVE A REPLY

Your email address will not be published. Required fields are marked *
Comment

Name *
Email *
Website

Post Comment

POPULAR POST

Pengertian Siklus hidrologi dan proses yang dilaluinya

Organ-organ pernapasan manusia dan fungsinya

Contoh Komponen Biotik dan Abiotik

Ciri-ciri Deuteromycota (jamur tidak sempurna)

Pengertian Energi Kinetik dan Contohnya

Pengertian Invertebrata, Ciri dan Contoh

Penjelasan peredaran darah besar dan kecil pada manusia

Jenis-jenis Termometer dan Fungsinya

Sifat-sifat Asam dan Basa

Ciri-ciri Jamur (Fungi)


Search

RECENT POSTS

Soal dan pembahasan tentang virus biologi

Simak 5 manfaat peta dalam kehidupan sehari-hari yang belum anda


ketahui

Pembabakan Zaman Prasejarah di Indonesia

Bagian akar dan fungsinya

Apakah fungsi hemoglobin

RECENT COMMENTS

kim tae hyung on Klasifikasi Tumbuhan Paku (Pteridophyta)

Lily Parlina Simatupang on Pengertian, Ciri, dan Sifat Belerang (Sulfur)

Nurul on Fungsi Sentrosom

Rachel aliza on Apakah fungsi pita suara pada manusia

azlina on Pengertian Hormon FSH (Hormon perangsang folikel)

About

Disclaimer

Privacy

Sitemap

Contact

Developed by Think Up Themes Ltd. Powered by Wordpress.

SAINS

SOSIAL

KESEHATAN

Home
Biologi
Genetika
DNA
Tahap Proses Replikasi DNA 7 Langkah
Diperbaharui: 13 December, 2015 Oleh: Sridianti

Tahap Proses Replikasi DNA 7


Langkah
Deoxyribonucleic acid / asam deoksiribonukleat atau DNA adalah molekul yang menarik yang
menyimpan dan meneruskan semua informasi yang diperlukan dari satu generasi ke generasi lain.
Butuh beberapa eksperimen menarik oleh Frederick Griffith, Avery, MacLeod, McCarty, Alfred
Hershey, Martha Chase dll, untuk menemukan bahwa DNA adalah materi herediter.
Dengan dasar ini, dan penelitian oleh beberapa ilmuwan seperti Rosalind Franklin, struktur molekul
ini akhirnya dipecahkan oleh James Watson dan Francis Crick.
Kode kimia Sederhana dari molekul DNA menimbulkan kompleksitas besar dari semua organisme
hidup. Tetapi bahkan lebih memikat adalah kemampuannya dalam mereplikasi diri dan

menghasilkan molekul lain yang serupa dengan dirinya sendiri. Diberikan di bawah ini adalah
penjelasan singkat dari struktur DNA serta langkah-langkah yang dilalui oleh molekul DNA untuk
membuat salinan dirinya dengan akurasi yang luar biasa.

Struktur DNA
Bahan bangunan DNA adalah molekul yang disebut nukleotida, yang terdiri dari gula deoksiribosa
(gula 5-karbon), sebuah basa nitrogen yang melekat pada gula, dan gugus fosfat. Ada empat jenis
molekul nukleotida tergantung pada jenis basa nitrogen terpasang. Keempat nukleotida (dan basa
nitrogen masing-masing) adalah:

Adenosine (Adenin)
Thymidine (Timin)
Guanosine (Guanin)
Cytidine (Sitosin)
Sitosin dan timin adalah pirimidin, sejenis molekul heterosiklik beranggota enam. Di sisi lain,
adenin dan guanin adalah purin, yang merupakan molekul dua cincin yang terdiri dari cincin
pirimidin dan cincin imidazol. Ini nukleotida dihubungkan melalui gugus fosfat dan gugus gula
untuk membentuk untai tunggal dari molekul DNA. Gugus fosfat satu nukleotida dan gugus
hidroksil dari nukleotida yang berdekatan terhubung melalui ikatan fosfodiester. gugus Gula dan
gugus fosfat membentuk tulang punggung masing-masing untai DNA. Setiap untai memiliki ujung
5 fosfat dan ujung 3 hidroksil.

Purin dan pirimidin


Helix ganda DNA terdiri dari dua untai komplementer yang berjalan anti-sejajar satu sama lain.
Satu untai berjalan di arah 5 3, sedangkan lainnya berjalan ke arah anti-paralel 3 5. Ini untai
melekat satu sama lain melalui ikatan hidrogen yang terjadi antara purin dan pirimidin dengan
untai yang berlawanan. Pasangan adenin dengan timin melalui ikatan ganda (A = T), sedangkan
pasangan guanin dengan sitosin melalui ikatan rangkap tiga (G C). DNA berputar pada jarak
tertentu karena sudut ikatan dari molekul tulang punggung DNA. Ini membentuk struktur heliks
bukannya tangga lurus. A = T dan G C pasangan basa membentuk anak tangga heliks ini.

Langkah-langkah dalam
Replikasi DNA

Proses replikasi DNA merupakan suatu masalah yang kompleks, dan melibatkan rangkaian protein
dan enzim yang secara kolektif merakit nukleotida dalam urutan yang telah ditentukan. Dalam
menanggapi isyarat molekul yang diterima selama pembelahan sel, molekul-molekul ini melakukan
replikasi DNA, dan mensintesis dua untai baru menggunakan helai yang ada sebagai template atau
cetakan. Masing-masing menghasilkan dua, molekul DNA yang identik terdiri dari satu untai baru
dan salah satu DNA lama. Oleh karena itu proses replikasi DNA disebut sebagai semi-konservatif.
Rangkaian peristiwa yang terjadi selama replikasi DNA prokariotik telah dijelaskan di bawah ini.
Inisiasi

Pelepasan untai DNA


Replikasi DNA dimulai pada lokasi spesifik disebut sebagai asal replikasi, yang memiliki urutan
tertentu yang bisa dikenali oleh protein yang disebut inisiator DnaA. Mereka mengikat molekul DNA
di tempat asal, sehingga mengendur untuk perakitan protein lain dan enzim penting untuk replikasi
DNA. Sebuah enzim yang disebut helikase direkrut ke lokasi untuk unwinding (proses
penguraian/seperti membuka resleting) heliks dalam alur tunggal.
Helikase melepaskan ikatan hidrogen antara pasangan basa, dengan cara yang tergantung energi.
Titik ini atau wilayah DNA yang sekarang dikenal sebagai garpu replikasi (Garpu replikasi atau
cabang replikasi adalah struktur yang terbentuk ketika DNA bereplikasi). Setelah heliks yang
terbuka, protein yang disebut untai tunggal mengikat protein (SSB) mengikat daerah terbuka dan
mencegah mereka untuk menempel kembali. Proses replikasi sehingga dimulai, dan garpu replikasi
dilanjutkan dalam dua arah yang berlawanan sepanjang molekul DNA.
Sintesis Primer

Sintesis DNA Primer


Sintesis baru, untai komplementer DNA menggunakan untai yang ada sebagai template yang
dibawa oleh enzim yang dikenal sebagai DNA polimerase. Selain replikasi mereka juga memainkan
peran penting dalam perbaikan DNA dan rekombinasi.
Namun, DNA polimerase tidak dapat memulai sintesis DNA secara independen, dan membutuhkan
3 gugus hidroksil untuk memulai penambahan nukleotida komplementer. Ini disediakan oleh enzim
yang disebut DNA primase yang merupakan jenis DNA dependent-RNA polimerase. Ini mensintesis
bentangan pendek RNA ke untai DNA yang ada. Ini segmen pendek disebut primer, dan terdiri dari
9-12 nukleotida. Hal ini memberikan DNA polimerase platform yang diperlukan untuk mulai
menyalin sebuah untai DNA. Setelah primer terbentuk pada kedua untai, DNA polimerase dapat
memperpanjang primer ini menjadi untai DNA baru.
Pembukaan resleting DNA dapat menyebabkan supercoiling (bentukan seperti spiral yang
mengganggu) di wilayah garpu berikutnya. Ini superkoil DNA dibuka oleh enzim khusus yang
disebut topoisomerase yang mengikat ke bentangan DNA depan garpu replikasi. Ini menciptakan
memotong pada untai DNA dalam rangka untuk meringankan supercoil tersebut.
Sintesis leading strand

Replikasi DNA untaian pengawal (leading strand)

DNA polimerase dapat menambahkan nukleotida baru hanya untuk ujung 3 dari untai yang ada,
dan karenanya dapat mensintesis DNA dalam arah 5 3 saja. Tapi untai DNA berjalan di arah
yang berlawanan, dan karenanya sintesis DNA pada satu untai dapat terjadi terus menerus. Hal ini
dikenal sebagai untaian pengawal (leading strand).
Di sini, DNA polimerase III (DNA pol III) mengenali 3 OH ujung RNA primer, dan menambahkan
nukleotida komplementer baru. Saat garpu replikasi berlangsung, nukleotida baru ditambahkan
secara terus menerus, sehingga menghasilkan untai baru.
Sintesis lagging Strand (untai tertinggal)
Pada untai berlawanan, DNA disintesis secara terputus dengan menghasilkan serangkaian fragmen
kecil dari DNA baru dalam arah 5 3. Fragmen ini disebut fragmen Okazaki, yang kemudian
bergabung untuk membentuk sebuah rantai terus menerus nukleotida. Untai ini dikenal
sebagailagging Strand (untai tertinggal) sejak proses sintesis DNA pada untai ini hasil pada
tingkat yang lebih rendah.

sintesis lagging Strand


Di sini, primase menambahkan primer di beberapa tempat sepanjang untai terbuka. DNA pol III
memperpanjang primer dengan menambahkan nukleotida baru, dan jatuh ketika bertemu fragmen
yang terbentuk sebelumnya. Dengan demikian, perlu untuk melepaskan untai DNA, lalu bergeser
lebih lanjut kebagian atas untuk memulai perluasan primer RNA lain. Sebuah penjepit geser
memegang DNA di tempatnya ketika bergerak melalui proses replikasi.
Penghapusan Primer
Meskipun untai DNA baru telah disintesis primer RNA hadir pada untai baru terbentuk harus
digantikan oleh DNA. Kegiatan ini dilakukan oleh enzim DNA polimerase I (DNA pol I). Ini khusus

menghilangkan primer RNA melalui 5 3 aktivitas eksonuklease nya, dan menggantikan mereka
dengan deoksiribonukleotida baru dengan 5 3 aktivitas polimerase DNA.

menghilangkan primer RNA


Ligasi
Setelah penghapusan primer selesai untai tertinggal masih mengandung celah antara fragmen
Okazaki berdekatan. Enzim ligase mengidentifikasi dan menyumbat celah tersebut dengan
menciptakan ikatan fosfodiester antara 5 fosfat dan 3 gugus hidroksil fragmen yang berdekatan.

Ligasi
Terminasi (pemutusan)
Replikasi ini terhenti di lokasi terminasi khusus yang terdiri dari urutan nukleotida yang unik.
Urutan ini diidentifikasi oleh protein khusus yang disebut tus yang mengikat ke situs tersebut,
sehingga secara fisik menghalangi jalur helikase. Ketika helikase bertemu protein tus itu jatuh
bersama dengan untai tunggal protein pengikat terdekat.

Pemutusan

Artikel lainnya:

Sistem Peredaran Darah pada Burung (Aves)

Hormon Jaringan adiposa dan fungsinya

Mekanisme pertukaran gas selama pernapasan

Pernapasan pada Hewan Invertebrata

Pengujian kandungan Zat Makanan

Pengertian Pencernaan anaerobik dan peran dalam kehidupan

Perbedaan jaringan dan organ

Perbedaan monyet dan gorila

Peranan Virus dalam Penelitian dan kedokteran

Ciri-ciri hewan Kijang

8 COMMENTS - ADD COMMENT


1.

MAHASISWA KIMIA YANG MALAS 28/11/2013

Tulisan Anda sangat membantu. Bahasanya juga tidak terlalu sulit


dimengerti. Juga isediakan gambar, jadi lebih mudah dimengerti.
Terimakasih atas bacaan yang penuh ilmu ini.
2.

STUNNING SERVICE 25/03/2014

1qPQqk Thanks-a-mundo for the article.Much thanks again. Really Great.


3.

BAYU ADI 18/09/2014

Nice Artikel
4.

DOOO 21/10/2014

membantu pr ku
5.

ADAM BRYANT 22/10/2014

thanks
6.

THILLETER 30/10/2014

Thanks for another magnificent post. Where else may just anybody get that
kind of info in such a perfect manner of writing? I have a presentation next
week, and Im at the look for such information.
7.

CLICK 28/09/2015

UCc6IH Your style is so unique in comparison to other folks I have read stuff
from. Thanks for posting when you ave got the opportunity, Guess I all just
book mark this page.

8.

BACKLINKS 16/10/2015

ANDmCa Im thankful for the blog. Awesome.

REPLY
Comment

Name

Email

Website

Submit

ARTIKEL BARU

Sistem Peredaran Darah pada Burung (Aves)


Aves adalah Kelas di Subphylum Vertebrata dari Filum

Karakteristik pranata agama dan fungsinya


Pranata agama diartikan sebagai suatu sistem keyakinan yang

Fungsi Pranata keluarga


Pranata keluarga pada umumnya dibentuk melalui proses perkawinan

Pengertian Koperasi konsumsi dan Koperasi produksi


Berdasarkan jenis usahanya, koperasi dapat dikelompokkan menjadi empat

Latar Belakang Terjadinya perang aceh


Pada 1871 diadakan Traktat London, di mana Belanda

POSTS TERKAIT

Mutasi kodon stop

Apa Itu bakteri Bacillus Laterosporus

Bagaimana Protein Dicerna dalam Tubuh Manusia

Pengertian Spesies endemik

Pengertian Sel prokariotik

Apa itu Membran mitokondria?

Ciri-ciri Borrelia burgdorferi

Perbedaan Fagosit dan limfosit

Ciri-ciri Pyrrophyta

Siklus hidup Jamur Lendir Myxomycota

KOMENTAR

muhd firdaus on Bagaimana Cara Amoeba Bergerak

rendii on Perbedaan Gejala Haid dan Kehamilan

DANIL VENGANCE on Pengertian Gejala sosial

Bedali on Struktur Tubuh Jamur

ahmad nuruddin on Tujuh Contoh Penyebab Trombosit Turun

Arya Abdi N on Penyebab Penyakit Pembuluh Darah

alia on Apa arti Sel Epitel dalam Urin

sz on Struktur Tubuh Jamur

martinsugiarta on 29 Fungsi Organ Tubuh Manusia bagian dalam

fajar on Trombosit : Pengertian dan Fungsi

About

Privasi

Disclaimer

Sitemap

Catatan Wane
MAU KOPI LUWAK RABUSTA ASLI DISINI RAJANYA

Home
DAFTAR ISI

Kesehatan

Saint

Berbagai Penyakit

Biologi Molekuler

Bisnis Online

Metode Penelitian

Wisata

Published by wane noor // // 4 komentar

Pengertian dan Proses Replikasi DNA


Advertisement
Pengertian

Replikasi

DNA

Replikasi adalah proses duplikasi DNA secara akurat. genom manusia pada satu sel
terdiri sekitar 3 milyar dan pada saat replikasi harus diduplikasi secara akurat (persis
tidak boleh ada yang salah). Replikasi adalah transmisi vertical (dari sel induk ke sel
anak supaya informasi genetik yang diturunkan sama dengan sel induk). Replikasi hanya

terjadi pada fase S (pada mamalia), Replikasi terjadi sebelum sel membelah dan selesai
sebelum fase M.

Salah satu sumber kesalahan DNA adalah pada kesalahan replikasi yang dipengaruhi
oleh berbagai factor, diantaranya karena kondisi lingkungan dan kesalahan replikasi
sendiri sehingga menyebabkan terjadinya mutasi. Supaya replikasi sel dari generasi ke
generasi tidak terjadi kesalahan maka perlu ada repair DNA. Selain karena kesalahan
replikasi, DNA juga sangat rentan terhadap bahan kimia, radiasi maupun panas (hal
yang dapat menyebabkan mutasi pada DNA pada saat replikasi).

Replikasi terjadi dengan proses semikonservatif karena semua DNA double helix. Hasil
replikasi DNA double strand. Kedua DNA parental strand bisa menjadi template yang
berfungsi sebagai cetakan untuk proses replikasi: Semikonservaative process. Primer
strand : Pada 3 dia akan melepaskan 2P dipakai sebagai energy untuk menempelkan,
tetapi pada 5 P tidak bisa dilepas karena ketiga P dibutuhkan sehigga tidak ada energy
sehingga tidak pernah terjadi sintesis dari 3-5, tetapi dari 5-3, jadi yang menambah
selalu

Perbedaan

ujung

Replikasi

DNA

3.

dan

Trankripsi DNA

Enzim yang berperan dalam proses transkripsi dan replikasi berbeda Pada proses
transkripsi, enzim yang berperan RNA polymerase. transkripsi DNA : terjadi pada saat
akan terjadi sintesis protein (ekspresi gen); yang dipakai cetakan hanya salah satu untai
DNA(3-5)
replikasi DNA : sebelum fase mitosis (fase S) dalam siklus sel; kedua untai induk dipakai
sebagai cetakan untuk di replikasi.

DNA polymerase
Pada proses replikasi DNA terdapat enzim sentral, yaitu DNA polymerase. Pada proses
replikasi, DNA polymerase hanya bisa menempel pada gugus OH (hidroksil) dimana

gugus OH hanya ada pada ujung 3 sedangkan ujung 5 adalah ujung fosfat. (ciri utama
DNA polymerase). Ciri kedua: DNA polymerase tidak bisa mensintesis/ menempelkan
DNA ke pasangan-nya kalau tidak ada primer (lokomotif). Sifat dari DNA polymerase dia
hanya bisa mensintesis DNA dari arah 5-3 sehingga pertumbuhan dari 5-3 karena
penambahan pada ujung 3, dimana pada ujung 3 ada ujung hidroksil.
Ciri lain DNA polymerase: membutuhkan primer, tidak bisa mensintesis DNA tanpa
adanya primer, primer yang dipakai adalah RNA (sekitar 4-5 basa dan dilanjutkan DNA).
DNA yang dibutuhkan adalah DNA primase untuk meletakkan RNA pada tempatnya. DNA
primase untuk mensintesis RNA sebagai lokomotif (4-5 basa). Bila lokomotif sudah jadi
maka akan di-take over oleh DNA polymerase, dan yang ditambahkan adalah DNA.

Pada Proses replikasi di butuhkan titik awal (replication origin) biasa di singkat ORI.
Contoh pada plasmid (prokariot), terdapat proses replikasi yang dimulai pada replication
origin dan mengembang sampai dihasilkan 2 plasmid yang sama persis. Tetapi pada
eukariot (mamalia) lebih kompleks tetapi tetap membutuhkan replication origin.

Pada mamalia ada beberapa replication origin (replication bubble) yang akan bergabung
satu sama lain. DNA harus terbuka dahulu baru bisa digandakan. Origin replication
disebut sebagai unique sequence yang merupakan pertanda sebagai tempat proses/titik
mulai terjadinya replikasi, dimana ada protein tertentu yang akan mengenali sequence.
Pada bakteri (prokariot) hanya butuh satu titik ORI (origin of replication) sedangkan
pada mamalia (eukariot) butuh beberapa ORI karena kalau hanya 1 ORI akan butuh
waktu 3 minggu untuk mereplikasi 3 milyard DNA. Sehingga pada mamalia ada 30.000
titik ORI yang bekerja secara bersamaan sehingga fase S untuk replikasi hanya butuh
beberapa jam saja.

Untuk replikasi perlu sequence tertentu yaitu yang disingkat (ACS) merupakan urutan
basa yang sangat terjaga karena urutan basa tersebut dikenali oleh protein Origin
Recognition Complex (ORC) sehingga bila ORC mengenali sequence maka replikasi dapat
dimulai. ORI lebih global sedangkan ACS sudah pada sequence (pada urutan basa
tertentu). Replikasi terjadi pada fase S sedangkan transkripsi bisa terjadi pada fase S
atau G1 dimana terjadi sintesis protein maka bisa terjadi transkripsi.

Saat awal akan di mulainya repliaksi, pada G1 akhir ORC mengenali sequence ACS,
kemudian ada molekul lain, juga helikase yang membentuk pre-replicative complex (preRC). selanjutnya pada fase S degradasi fosporilasi ORC, degradasi fosforilasi Cdc6 maka
terbentuk bubble replication. Helikase membuka pilinan, topoisomerase yang memotong
pada titik tertentu.
secara singkat dalam siklus sel : Pada fase G2/M sudah ada 2 copy. Pada fase G1
persiapan, S proses replikasi, G2/M sudah selesai

Proses replikasi DNA


Pertama adanya replication origin, kemudian pembukaan local DNA helix dan adanya
RNA primer synthesis. Replikasi:> ORC menempel pada ACS (ORI) :> sehingga pilinan
membuka dengan bantuan helikase. Helikase akan menempel untuk membuka pilinan
(helix). DNA double helix (bentuk terpilin). Untuk mereplikasi bila bentuknya terpilin
tidak akan pernah bisa sehingga perlu dibuka pilinannya. Bila membuka pilinan pada
salah satu ujung maka ujung yang lain akan semakin kuat pilinannya sehingga perlu
daerah tertentu yang dipotong untuk membuka pilinan tesebut yang dilakukan oleh
helikase. Perlu DNA primase untuk membuat RNA primer sintesis, karena DNA
polymerase tidak bisa mensintesis tanpa ada primer.

Kemudian terjadi proses replikasi. Karena arah DNA anti parallel maka perlu Leadingstrand dan lagging strand. Dari ORI didapatkan 2 replication fork.

Ada ORI dan helikase yang membuka pilinan terus sampai terbentuk replication bubble.

Proses replikasi yang di perlukan utama:


1. ORI
2. Helikase

3. Replication bubble

Selanjutnya perlu primase untuk membuka primary. Merah RNA, Biru DNA. Bubble
semakin besar, replikasi berlanjut dan 1 ORI akan membentuk 2 replication fork.

Replication fork pada plasmid


Terdapat 2 parental strand (run occusite direction) yang bersifat antiparalel: 5-3 dan 35. DNA polymerase hanya mensintesis/mempolimerasi dari arah 5-3. Satu strain bisa
secara kontinyu disintesis yaitu yang 5-3 (leading strain). Sementara yang 3-5 tidak
bisa dibentuk, tetapi tetap harus dibentuk dengan 5-3, sehingga perlu satu strain yang
terbentuk dari small discontinue peaces yang disebut sebagai lagging strain. Small
peaces disebut okazaki fragmen.

Pada leading strand karena arahnya sudah dari 5-3 maka tinggal menambah saja.
Sedangkan pasangannya (lagging strain) karena arahnya 3-5 maka hanya diam, tetapi
pada titik tertentu akan ditambahkan primase lagi dan akan mensintesis lagi dari arah
5-3 (okazaki fragmen: fragmen2 potongan kecil yang terjadi pada saat replikasi pada
lagging strain)-> Pada lagging strand arahnya dari 3-5

Okazaki fragment: fragment potongan kecil pada saat replikasi yang terjadi pada lagging
strand template. Yang terjadi pd Okazaki fragment (OF): kita punya RNA primer
sehingga di OF ada RNA-DNA hybrid. Tetapi RNA harus dibuang oleh RNase H. Setelah
itu untuk menggantikan RNA dibutuhkan polymerase delta (delta) yang bisa bersifat
exonuclease tetapi juga bisa bersifat endonuclease, yaitu mereplace atau menempatkan
dNTP. Pada saat RNA dibuang maka akan digantikan dengan DNA polymerase delta yang
baru sampai hilang sama sekali. Tetapi masih belum lengkap karena masih ada celah
sehingga perlu DNA ligase untuk menempelkan. Akhirnya diperoleh 2 strain yang sama
persis.

Protein yang dibutuhkan dalam replication fork yaitu:


- Helicase: fungsinya untuk membuka (unwinding) parental DNA

- Single-stranded DNA-binding protein: untuk menstabilisasi unwinding, untuk mencegah


DNA yang single-stranded agar tetap stabil (tidak double straded lagi).
- Topoisomerase: untuk memotong (breakage) pada tempat-tempat tertentu.

DNA Polimerase yang memiliki DNA single-strand binding protein monomer yang
bertugas untuk mencegah supaya DNA tidak hanya menempel dengan lawannya tetapi
juga bisa membentuk hairpins.
Karena sudah terbuka sehingga ada basa-basa tertentu yang saling berpasangan
sehingga terbentuk hairpins. Supaya tidak terbentuk hairpins maka didatangkan single
strand binding protein supaya tetap lurus dan tidak berbelok-belok.

Topoisomerase, cirinya memotong DNA pada tempat tertentu sehingga mudah untuk
memutar karena sudah dipotong. Tugasnya adalah memasangkan kembali DNA yang
terpotong.

Protein aksesori :
Brace protein, : Replication factor C (RFC), supaya DNA polimerasenya menempelnya
stabil (tidak mudah terlepas dari DNA template).
Sliding-clamps protein, supaya kedudukannya stabil dan tidak goyang2.

Proses pada leading dan lagging strand berlangsung secara bersamaan, tetapi proses
pada lagging bertahap. Ada DNA polimerase dan sliding clamps. Sintesis terjadi pada
leading strand terlebih dahulu. Pada tahap tertentu DNA primase akan ditambahkan
sehingga clamps-nya datang lagi. Setelah proses replikasi selesai maka RNA akan segera
dibuang digantikan dengan DNA yang baru.

Perangkat untuk replikasi: DNA polimerasi, brace, clamp, DNA helicase, single-strand
binding protein, primase, topoisomerase.

Setelah direplikasi ujung DNA harus ada telomere (ujung DNA). Bila tidak ada telomere
maka kromosom akan saling menempel sehingga kromosom tidak 46 tetapi dalam
bentuk gandeng2 (tidak diketahui).

Chromosome end:
Pada lagging strand, di akhir replikasi ujungnya akan dihilangkan, RNA juga akan
dihilangkan, sehingga hasil replikasi menjadi lebih pendek. Hal ini terjadi karena
menggunakan primer RNA untuk proses replikasi, dan RNA primer setelah replikasi harus
dibuang dan tidak bisa digantikan. Untuk mengatasinya maka diadakan telomerase yang
dibuat berkali-kali. (slide 76: TTGGGGTTGGGTTGGGG). Telomer dibuat oleh enzim
telomerase. Telomer: ujung yang merupakan non coding DNA sehingga kalau memendek
tidak akan menjadi masalah karena tidak mengkode apapun. Telomer diadakan untuk
mengantisipasi pada saat replikasi karena DNA akan memendek. EXTENDS 3 PRIMARY
GENE --> TELOMERE, dan enzim yang membuatnya : telomerase. Semua sel selain stem
sel tidak punya telomere. Pada saat sel replikasi maka akan selalu memendek. Sampai
pada suatu titik tertentu yang merupakan signal bagi sel untuk berhenti membelah.
Karena kemampuan sel untuk membelah dibatasi oleh panjangnya telomerase. Pada saat
telomere memendek sampai batas tertentu maka akan memberikan sinyal bagi sel untuk
berhenti membelah. Sedangkan pada stem sel yang memiliki telomerase, maka
kemampuan membelahnya tidak terbatas karena pada saat telomere habis maka
telomerase akan membentuk telomere baru. Hal ini yang dimanfaatkan oleh sel kanker
karena sel kanker memiliki telomerase sehingga sel kanker dapat terus membelah.
Manusia memiliki kemampuan replikasi sel yang terbatas karena keterbatasan telomere,
shg bila telomere habis sel akan berhenti membelah.

Berikut gambar Video proses Replikasi DNA

ARTIKEL YANG BERKAITAN


ologi Molekuler

Prinsip Kerja dari Ekstraksi DNA

Pengertian Major Histocompatibility Complex (MHC)

Peran dan Manfaat Besi di Dalam Tubuh

Belajar Tentang Elektroforesis

SIKLUS SEL

Pengertian Kromatografi dan Jenis Kromatografi

Zat Kimiawi Endothelins (ET) pada Sel Endotel

Sifat Dwilapis Lipid Pada Membran Sel

Metode ELISA ( Enzyme Linked Immune Sorbent Assay )

Epidemiologi Molekuler

Proses Sintesis RNA

Tumor Supressor Gen (TSG) p53

Materi Imunologi Dasar : Sel Limposit T dan Limposit B serta MHC

Publikasi Penelitian : Cytotoxicity of a-terpineol in HeLa cell line and its effects to
apoptosis and cell cycle by Rasuane Noor

Metode Penelitian dengan Cara Blot : Western blot, Eastern Blot, Northern Blot
dan Southern Blot

Pengertian Kromosom

Pengertian Virus Secara Umum

Mengenal Pengertian mikro-RNA (mRNA)

Struktur Sel dan Struktur Organisasi Pada Mahluk Hidup

Pengertian Sistem Imun pada Mukosa

Link untuk Mendapatkan Jurnal Biologi yang Gratis

Sentral Dogma Biologi, Pengertian Gen, DNA, RNA, Ekspresi gen / Gene
Expression serta Transkripsi DNA

Ringkasan Secara Umum Biologi Sel / Molekuler Biologi

Epidemiologi Molekuler

Macam macam sel kultur (cell Line) Kanker


int

Peran dan Manfaat Besi di Dalam Tubuh

SIKLUS SEL

Pengertian Kromatografi dan Jenis Kromatografi

Zat Kimiawi Endothelins (ET) pada Sel Endotel

Sifat Dwilapis Lipid Pada Membran Sel

Metode ELISA ( Enzyme Linked Immune Sorbent Assay )

Makanan Penyebab Gigi Kuning

Pengertian Apoptosis

Penentuan Kadar Besi Pada Serum

Tumor Supressor Gen (TSG) p53

Mengenal Lebih Dalam Penyakit Demam Berdarah dengue (DBD)

Penyakit Malaria dan Siklus Hidup Parasit Plasmodium

Solusi Jika Kita Tidak Minum Air Putih 2 Liter Sehari

Tata Nama Enzim

Klasifikasi Enzim

Kerja Enzim dan Fungsi Enzim Dalam Tubuh

Pengertian Enzim, Struktur enzim dan Karakeristik Enzim

Kelas Insecta ( Serangga)

Kelas Myriapoda (Kaki Serubu dan Kelabang)

Kelas Arachnida (Laba-laba)

Kelas Crustacea (Kelompok Udang)

Pengertian Asam Amino Esensial dan Asam Amino Non Esensial

Proses Pencernaan Makanan

Kelenjar Gonad

Kelenjar Pankreas

PLEASE HELP US SHARE THIS ARTICLE / silahkan berbagi di

Related Posts :

Kelenjar Gonad
03/11/2014 - 2 Comment

Kelenjar Pankreas
03/11/2014 - 0 Comment

Prinsip Kerja dari Ekstraksi DNA


03/04/2015 - 0 Comment

Pengertian Major Histocompatibility Complex (MHC)


20/02/2015 - 0 Comment

Peran dan Manfaat Besi di Dalam Tubuh


11/12/2014 - 0 Comment

Belajar Tentang Elektroforesis


09/12/2014 - 1 Comment

About the Author


I'm
Wane,
The
Blogger.
Berusaha berbagi apa yang bisa dibagikan dan teman-teman semua jangan lupa untuk
berkomentar, diskusi ataupun memberi ide. Follow Me on Twitter or On Facebook

4Awesome Comments!

apa fungsi dari DNA ligase, polimerase, dan helikase serta gambar!
istan
On November 21, 2011 at 3:24 PM

bagus sekali tulisannya :) keep up good work..


Anonymous
On October 15, 2012 at 4:12 PM

makasih refresinya....
Writed by Zulfarisyi kenedy
On December 2, 2012 at 5:02 PM

bagus karyanya...
Writed by Zulfarisyi kenedy
On December 2, 2012 at 5:03 PM

Leave Your Response


Silahkan Tinggalkan Komentar atau Pertanyaan Anda : JANGAN komentar yang tidak
berhubungan dengan materi dan JANGAN tinggalkan link web karena dianggap
spam. Blog ini dofollow sehingga anda akan mendapatkan Backlink gratis.

Link ke posting ini

Create a Link
Newer PostOlder PostHome

translate and Google Search

Diberdayakan oleh

Terjemahan

SILAHKAH CARI DISINI ISI BLOG INI

powered by

silahakan diShare
42

Catatan Wane (Berbagi Informasi)


PENGERTIAN DAN PROSES REPLIKASI DNA

Categories

Bahasa (11)
Biasiswa (3)
Biokimia (35)
Biologi Manusia (42)
Biologi Molekuler (43)
Biologi Perairan (2)
Bisnis Online (14)
Botani (20)
DAFTAR ISI BLOG (1)
Foto (55)
Humor (50)
Imonologi (7)
Informasi Umum (40)
Kanker (8)
Kata-Kata Bijak (20)
Kesehatan (123)
Kesehatan Seks (34)
Komputer dan Internet (24)
lirik lagu (4)
Makanan dan Kuliner (2)
Masjid Keren (2)
Metode Penelitian (26)
Mikrobiologi (27)
Musik Video dan film (39)
Novel / Cerita Pendek / Fiksi(9)
Orang Terkenal (15)
Pendidikan (23)
Penelitian (20)
Pengalaman (95)
Penyakit (43)
saint (106)
Sejarah Budaya (19)
Semua Tentang Cinta (17)
Spiritual (23)
Unik dan Aneh (27)
Wisata Hoby (70)
Zat Kimia (19)
Zoologi (12)

Artikel Terbaru

Publikasi Penelitian : STUDI KEANEKARAGAMAN KUPU-KUPU DI BANTARAN


SUNGAI BATANGHARI KOTA METRO SEBAGAI SUMBER BELAJAR BIOLOGI MATERI
KEANEKARAGAMAN - Jan 11
Pantai Laguna Teluk Kiluan, Lagoon Kab. Tanggamus Lampung - Dec 28
Soal Mata Kuliah Pengantar Mikrobiologi, Materi : Mikroba Tanah dan Air - Dec 22

Hari Libur Nasional Di Tahun 2016 : siap siap untuk Liburan - Dec 20
Latihan Soal Pengantar Mikrobiologi, Topik : Mikroba dan Makanan - Dec 20
Latihan Soal Pengantar Mikrobiologi, Topik : Virus - Dec 19
Latihan Soal Pengantar Mikrobiologi, Topik : Fungi / Jamur - Dec 19
Latihan Soal Pengantar Mikrobiologi, Topik : Bakteri - Dec 19
SILAHRAHMI KE SEKOLAH LUAR BIASA (SLB) WIYATA DARMA METRO LAMPUNG Dec 15

Cara Menghafal Surat surah di Dalam Kitab Suci Alqur'an - Dec 10


PENGETAHUAN UMUM UNTUK KITA - Nov 25
Efek Kurang Liburan - Nov 21
CARA UNTUK.MENGETAHUI JIN DI DIRI KITA - Nov 13
Cuma Kamu - Nov 13
4 hari di bulan Februari 2016 - Nov 12

My Blog List

Perjalanan Razone Wane

Pantai Sawmil Semaka Tanggamus

Berbagai Tumbuhan
Bunga Bangkai / Amorphophallus

Komentar terbaru

trending beritaAgen SBOBET - Agen JUDI - Agen Judi Online - Agen Bola - Age

Lowongan Kerja Gratis Jakartamereka sangat hebat sekali, walaupun sudah renta dan
sebagai


arif saifudinpunyaku dong

arif saifudinoh iya... kamu udah merasakan rasanya ngisep penis a?

arif saifudinhai anonymous km udah nikah ya,kok bahas barangnya cowok,pen

Iklan

paypal bisa digunakan untuk penarikan dan penagihan di internet dan bisa dicairkan ke

rekening tabungan bank kita.


SINI

Para Sahabat
Berteman di Facebook

SILAHKAN TINGGALKAN PESAN DI

Search

www.hypersmash.com/dreamhost/

Ads Powered
by:KumpulBlogger.com

LinkWithin

Copyright 2011 Catatan Wane (Berbagi Informasi). All Rights Reserved.Designed by 2leep. Thanks
to ps4 ,Best Online Banks ,Advisor Price

catatan biomedis

Beranda
Biologi Molekuler
Biologi Manusia
Immunobiologi
Senin, 07 November 2011

Pengertian Replikasi DNA (DNA Replication


Part I)

Replikasi
DNA
adalah
proses perbanyakan rantai double helix DNA dengan masing-masing untai DNA yang ada bertindak
sebagai cetakan (template) untuk untai komplementer yang baru. Replikasi sesuai proses
semikonservatif yaitu DNA untai ganda baru terdiri dari satu untai DNA hasil sintesis baru dan satu untai
DNA terdahulu. Dengan kata lain, tidaklah semuai untai disintesis tetapi hanya satu sedangkan yang
satu lagi berasal dari DNA terdahlu sekaligus sebagai template DNA baru.

Replikasi DNA terjadi sebelum sel membelah, pada fase S (sintesis) siklus sel mendahului mitosis
atau meiosis. Sebelum membahas tahapan replikasi sebaiknya mengenal dulu istilah dan protein
yang terlibat pada proses replikasi sel.

Replication fork adalah struktur yang terbentuk ketika DNA mengalami replikasi karena kerja
enzim helicase.
Leading
Strand adalah
untaian
DNA
yang
berkesinambungan oleh enzim DNA polymerase

disintesis

dengan

arah

5'3'

secara

Lagging Strand adalah untaian DNA yang terletak pada sisi yang berseberangan dengan leading
strand pada garpu replikasi. Untaian ini disintesis dalam segmen-segmen yang disebut Fragmen
Okazaki.
Fragmen Okazaki adalah DNA pendek yang terbentuk di lagging strand saat proses replikasi DNA.
Selanjutnya akan dihubungkan oleh enzim ligase sehingga untai menjadi DNA kontinyu.
Enzim Helicase adalah enzim yang berfungsi mengurai pilinan heliks dengan memotong ikatan
hydrogen antar basa untai ganda DNA sehingga terpisah menjadi 2 untai tunggal DNA.
Single Strand Binding Protein (SSBP) adalah protein yang berfungsi melindungi untai tunggal
DNA agar tidak bergabung kembali setelah dipisahkan oleh helicase (menstabilkan untai tunggal
DNA).
DNA Primase adalah enzim untuk sintesis RNA primer dalam mengawali pembentukan DNA baru
pada leading strand atau DNA fragmen Okazaki pada lagging strand oleh DNA Polimerase.
DNA Polimerase adalah enzim yang memanjangkan rantai DNA baru dengan cara membentuk
ikatan fosfodiester yang merangkaikan C 5 dari suatu nukleotida ke C 3 nukleotida yang lain.
Karena fungsinya memanjangkan dalam sintesis untai DNA, maka enzim ini memerlukan RNA primer
sebagai awalan.
Ligase adalah enzim yang berfungsi menyambungkan fragmen-fragmen DNA menjadi rantai yang
lebih panjang.

Diposkan oleh djjar di 07.33


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: biologi sel

Tidak ada komentar:


Poskan Komentar
Posting Lebih BaruPosting LamaBeranda
Langganan: Poskan Komentar (Atom)

Label

biologi sel (1)

Entri Populer


Pengertian Replikasi DNA (DNA Replication Part I)
Replikasi DNA adalah proses perbanyakan rantai double helix DNA dengan masing-masing untai DNA
yang ada bertindak sebagai cetakan (template...

Respirasi (Respiration Part 3)


TRANSPORT OKSIGEN Oksigen tidak mudah larut dalam air sehingga hanya sekitar 1.5% dari udara
nafas yang terlarut dalam plasma. Sebag...

Pengertian Siklus Sel (Cell Cycle I)


Siklus sel merupakan serangkaian kejadian dengan urutan tertentu berupa duplikasi kromosom sel dan
organel didalamnya yang mengarah ke pem...

Pengertian Komunikasi Antar Sel (Intercelullar Communication Part I)


Tubuh manusia terdiri dari bermilyar-milyar sel yang berbeda baik struktur maupun fungsinya. Mereka
harus bekerja sama dan berfungsi bers...

Tahap Replikasi DNA (DNA Replication Part II)


Tahapan Replikasi DNA adalah sebagai berikut 1. Pengenalan Origin of Replication (ORI) Titik awal
dimulainya replikasi disebut Origins of...

Total Tayangan Laman

52,760
Pengikut
Arsip Blog

2012 (8)

2011 (8)

November (8)

Urinaria (Urinary Part I)

Endokrinologi (Endocrinology Part I)

Tahap Replikasi DNA (DNA Replication Part II)

Pengertian Apoptosis (Apoptosis Part I)

Regulasi Siklus Sel (Cell Cycle Part II)

Pengertian Siklus Sel (Cell Cycle I)

Pengertian Replikasi DNA (DNA Replication Part I)

Pengertian Komunikasi Antar Sel (Intercelullar Com...

Mengenai Saya

Lihat profil lengkapku

ping2
HostGator promo code

ping ping
Pingates
Template Watermark. Diberdayakan oleh Blogger.

APA ITU OPERON?


Oktober 13, 2008 B26130_YUNI ASTUTI
Judul topik : Apa itu operon?
Jenis Topik : B2-AG8
Nama : Yuni Astuti
NIM : B1J006130
Kelas : B2
Email : unie_astymoet@yahoo.co.id
Blog : https://yuni4stut1.wordpress.com
RINGKASAN MATERI
Sekelompok gen yang berada dalam satu unit transkripsi diawali dengan promotor dan diakhiri dengan
terminator. Beberapa gen atau sekelompok gen yang berada dalam satu unit transkripsi tersebut dinamakan operon.
Jadioperon adalah suatu kelompok gen yang letaknya berdekatan dengan gen yang lain dalam satu unit transkripsi
yang di ekspresikan secara bersamaan. Semua gen di dalam suatu operon dinyatakan sebagai unit tunggal.
Operon adalah karakteristik dari genom prokariot. Satu karakteristik dari genom prokariot yang
digambarkan oleh E. coli adalah adanya operon. Pada prokariot (bakteri) telah ditemukan adanya beberapa
operon diantaranya adalahoperon laktosa dan operon triptofan. E. coli merupakan contoh prokariot (bakteri) yang
ditemukan adanya operon laktosa. Dimana operon yang pertama ditemukan oleh (Jacob dan Monod, 1961) yang berisi
tiga gen yaitu lacZ, lacY dan lacA. operon ini dilibatkan dalam perubahan laktosa gula disakarida ke monosakarida yaitu
menjadi glukosa dan galactose (Gambar 2.20A). Monosakarida adalah substrat yang digunakan sebagai energi pada
jalur glikolitik. Fungsi gen pada operon laktosa adalah untuk mengubah laktosa ke dalam bentuk energi yang dapat
digunakan oleh E. coli sebagai suatu sumber energi. Laktosa bukan suatu komponen yang umum bagi E.
coli sehingga enzim laktosa tidak dibuat oleh E. coli. Untuk membuat laktosa maka operon akan dinyalakan dan ketiga
gen akan diekspresikan bersama-sama yang akanmenghasilkan sintesis enzim laktosa. Ini merupakan contoh klasik
dari regulasi gen pada bakteri.
Terdapat hampir 600 operon di dalam genom E. Coli K12, masing-masing terdiri dari dua atau lebih gen dan
satu nomor yang sama didalam Bacillus subtilis. Dalam banyak kasus gen di dalam suatu operon terdapat hubungan
secara fungsional, mengkode satu set protein yang dilibatkan dalam aktivitas biokimiawi tunggal, seperti pemanfaatan
suatu gula sebagai sumber energi dari asam amino. Sebagai contoh adalah operon tryptophan pada E. coli yang akan
dijelaskan pada (Gambar 2.20B).
Ahli genetika mikroba tertarik dengan kesederhanaan dari system operon ini dimana suatu bakteri bisa
mengendalikan berbagai aktivitas biokimianya dengan pengaturan kelompok gen secara bersama-sama didalam
operon. Hal ini merupakan fungsi operon di dalam E. coli, Bacillus subtilis dan banyak lagi prokariot yang lain, tetapi
beberapa spesies menggambarkan secara langsung. Kedua-duanya archaeon Methanococcus jannaschii dan
bakteriAquifex aeolicus mempunyai operons, tetapi gen yang terdapat pada masing-masing individu jarang mempunyai
hubungan biokimiawi. Sebagai contoh salah satu operon genom A. aeolicus berisi enam gen yang dihubungkan,
kemudian gen ini mengkode untuk dua protein yang dilibatkan di dalam penggabungan DNA. Suatu enzim yang
digunakan di dalam sintesis protein yaitu suatu protein yang motilitas, satu enzim dilibatkan di dalam sintesis
nucleotida, dan sutu enzim untuk sintesis lipid (Deckert et al., 1998). Hal ini merupakan struktur operon yang khas pada

genome A. aeolicus dan M. jannaschiidimana kedua-duanya merupakan autrotof dan tidak sama dengan prokariot,
dimana A. aeolicus dan M. jannaschii dapat menyatukan campuran organik dari gas asam-arang (Deckert et al., 1998).
Berikut ini adalah gambaran dua operon Escherichia coli :
Gambar 2.20. Dua operons Escherichia coli.
Sumber: Figure 2.20A dan Figure 2.20B (Brown, 2002)
Keterangan Gambar
(A). Lactose operon terdiri dari tiga gen yaitu lacZ lacY dan lacA. lacZ dan lacY dipisahkan oleh 52 bp dan lacA oleh 64
bp.lacY untuk lactose permease yang mengangkut lactose ke dalam sel, dan lacZ dan lacA untuk enzim yang merobek
lactose ke dalam gula komponennya yaitu galaktosa dan glukosa.
(B). Tryptophan operon, yang terdiri dari lima gen yang mengkode lima gen. penyandi enzim-enzim yang berperan
dalam perubahan asam chorismic menjadi triptophan. Gen yang terdapat dalam tryptophan operon letaknya berdekatan
dibandingkan dengan lactose operon dimana trpE dan trpD tumpang-tindih dengan 1 bp, seperti halnya trpB dan trpA;
trpD dan trpC dipisahkan oleh 4 bp, dan trpC dan trpB oleh 12 bp.
GAMBAR STRUKTUR OPERON

Sumber www.emc.maricopa.edu//BioBookDiversity_2.html

Karakteristik organisme prokariotik adalah adanya operon. Operon


merupakan kumpulan gen yang lokasinya berdekatan antara satu dengan
yang lain pada suatu genom prokariotik, dimana hanya terdapat satu atau
dua nukleotida pada akhir suatu gen dan dapat dijadikan sebagai
penyambung pada gen berikutnya. Operon sangat berperan pada proses
ekspresi gen, dimana semua gen dalam satu operon diekspresikan
sebagai unit tunggal. Model yang dikenal sebagai operon ada dua unsur
yang mengatur ekspresi gen struktural penyandi enzim yaitu gen
regulator (repressor) dan operator yang letaknya berdekatan dengan gengen struktural yang diaturnya.
Salah satu contoh operon yang pertama kali ditemukan adalah
operon lac. Operon lac merupakan suatu kumpulan tiga gen
(lacZ,lacY, dan lacA) yang mengkode enzim yang terlibat pada
penggunaan laktosa oleh bakteri Eschericia coli, dimana Operon lac dapat
mempercepat ekspresi gen. LacY mengkode laktosa permease yang
mentransport laktosa ke dalam sel, sedangkan lacZ dan lacA berfungsi
mengkode enzim yang memisahkan laktosa menjadi glukosa dan
galaktosa. Ekspresi gen tidak dapat berjalan atau inaktif apabila tidak
terdapat operon yang menginduksinya. Hal ini didukung dengan adanya
laktosa yang mengaktivasinya sehingga gen dapat terekspresikan . Operon
mengkonversi disakarida berupa laktosa menjadi monosakarida berupa
glukosa dan galaktosa. Monosakarida hasil konversi ini merupakan
substrat untuk penghasil energi pada jalur glikolitik. Hal ini berarti bahwa
gen-gen pada operon lac adalah untuk mengkonversi laktosa ke dalam
bentuk yang dapat digunakan oleh bakteri E.coli sebagai sumber energi.
Laktosa bukan merupakan komponen umum bakteri E.coliyang
terdapat di alam, dimana operon tidak dapat diekspresikan dan
penggunaan enzim pada penggunaan laktosa tidak diproduksi oleh bakteri
tersebut. Laktosa yang telah tersedia dapat mengekspresikan (switch on)
operon. Hal ini mengakibatkan ketiga gen yang terdapat di dalam operon
lac dapat terekspresikan secara bersama dan hasilnya akan
mengkordinasi sintesis laktosa dengan penggunaan enzim.

Gambar 1: Peranan operon lac pada proses transkripsi, tanpa


adanya laktosa, maka repressor lac akan mengikat operator dan apabila
ada laktosa maka repressor akan bergerak, kemudian RNA polymerase
akan terikat pada promoter menyebabkan RNA telah ditranskripsi yang
kemudian akan berlangsung translasi dan terbentuk enzim laktase.
Bakteri E.coli dan Bacillus substilis memiliki operon yang berjumlah
sama dan mengandung dua atau lebih gen. Gen-gen dalam operon secara
fungsional saling berhubungan satu sama lain untuk mengkode sejumlah
protein yang terlibat aktivitas biokimia tunggal seperti pada penggunaan
gula sebagai sumber energi atau sintesis asam amino. Jenis operon yang
kedua yaitu operon tryptophan padaE.coli. Tryptophan operon adalah
contoh operon biosintesis yang ekspresinya diregulasi oleh sebuah
effector. Operon ini mengandung lima buah gen struktural yang
mengkode tiga enzim yang diperlukan untuk konversi asam chorismic
menjadi tryptophan, yaitu : antrhanilate syntetase (komponen I yang
dikode oleh trpE dan komponen II yang dikode oleh trpD), N-(5phosphoribosyl)-anthranilate
isomerase/Indole-3-glycerol
phosphate
synthase yang disandikan oleh trpC, Tryptophan synthase (-subunit
yang disandikan oleh trpBI dan -subunit yang disandikan oleh trpA).

Gambar 2: dua macam operon pada E.coli (A) Operon lac yang memiliki
tiga macam gen yaitu lacZ, lacY, dan lacA. (B) Operon Tryptophan yang
memiliki lima macam gen.
Sumber: Figure 2.2 (Brown, 2002).
Daftar Pustaka
Brown, T.A (2002) DNA in Genomes, 2nd ed.,

Karakteristik organisme prokariotik adalah adanya operon. Operon


merupakan kumpulan gen yang lokasinya berdekatan antara satu dengan
yang lain pada suatu genom prokariotik, dimana hanya terdapat satu atau
dua nukleotida pada akhir suatu gen dan dapat dijadikan sebagai
penyambung pada gen berikutnya. Operon sangat berperan pada proses
ekspresi gen, dimana semua gen dalam satu operon diekspresikan
sebagai unit tunggal. Model yang dikenal sebagai operon ada dua unsur
yang mengatur ekspresi gen struktural penyandi enzim yaitu gen
regulator (repressor) dan operator yang letaknya berdekatan dengan gengen struktural yang diaturnya.
Salah satu contoh operon yang pertama kali ditemukan adalah
operon lac. Operon lac merupakan suatu kumpulan tiga gen
(lacZ,lacY, dan lacA) yang mengkode enzim yang terlibat pada
penggunaan laktosa oleh bakteri Eschericia coli, dimana Operon lac dapat
mempercepat ekspresi gen. LacY mengkode laktosa permease yang
mentransport laktosa ke dalam sel, sedangkan lacZ dan lacA berfungsi
mengkode enzim yang memisahkan laktosa menjadi glukosa dan
galaktosa. Ekspresi gen tidak dapat berjalan atau inaktif apabila tidak
terdapat operon yang menginduksinya. Hal ini didukung dengan adanya
laktosa yang mengaktivasinya sehingga gen dapat terekspresikan . Operon
mengkonversi disakarida berupa laktosa menjadi monosakarida berupa
glukosa dan galaktosa. Monosakarida hasil konversi ini merupakan
substrat untuk penghasil energi pada jalur glikolitik. Hal ini berarti bahwa
gen-gen pada operon lac adalah untuk mengkonversi laktosa ke dalam
bentuk yang dapat digunakan oleh bakteri E.coli sebagai sumber energi.
Laktosa bukan merupakan komponen umum bakteri E.coliyang
terdapat di alam, dimana operon tidak dapat diekspresikan dan
penggunaan enzim pada penggunaan laktosa tidak diproduksi oleh bakteri
tersebut. Laktosa yang telah tersedia dapat mengekspresikan (switch on)
operon. Hal ini mengakibatkan ketiga gen yang terdapat di dalam operon
lac dapat terekspresikan secara bersama dan hasilnya akan
mengkordinasi sintesis laktosa dengan penggunaan enzim.

Gambar 1: Peranan operon lac pada proses transkripsi, tanpa


adanya laktosa, maka repressor lac akan mengikat operator dan apabila
ada laktosa maka repressor akan bergerak, kemudian RNA polymerase
akan terikat pada promoter menyebabkan RNA telah ditranskripsi yang
kemudian akan berlangsung translasi dan terbentuk enzim laktase.
Bakteri E.coli dan Bacillus substilis memiliki operon yang berjumlah
sama dan mengandung dua atau lebih gen. Gen-gen dalam operon secara
fungsional saling berhubungan satu sama lain untuk mengkode sejumlah
protein yang terlibat aktivitas biokimia tunggal seperti pada penggunaan
gula sebagai sumber energi atau sintesis asam amino. Jenis operon yang
kedua yaitu operon tryptophan padaE.coli. Tryptophan operon adalah
contoh operon biosintesis yang ekspresinya diregulasi oleh sebuah
effector. Operon ini mengandung lima buah gen struktural yang
mengkode tiga enzim yang diperlukan untuk konversi asam chorismic
menjadi tryptophan, yaitu : antrhanilate syntetase (komponen I yang
dikode oleh trpE dan komponen II yang dikode oleh trpD), N-(5phosphoribosyl)-anthranilate
isomerase/Indole-3-glycerol
phosphate
synthase yang disandikan oleh trpC, Tryptophan synthase (-subunit
yang disandikan oleh trpBI dan -subunit yang disandikan oleh trpA).

Gambar 2: dua macam operon pada E.coli (A) Operon lac yang memiliki
tiga macam gen yaitu lacZ, lacY, dan lacA. (B) Operon Tryptophan yang
memiliki lima macam gen.
Sumber: Figure 2.2 (Brown, 2002).
Daftar Pustaka
Brown, T.A (2002) DNA in Genomes, 2nd ed.,

Transformasi
Dalam transformasi, genotipe dan kemungkinan fenotipe dari sel prokariotik diubah melalui
pengambilan DNA asing dari lingkungan. Misalnya, bakteri dari galur Streptococcus pneumoniae
yang tak berbahaya dapat ditransformasi menjadi sel-sel penyebab pneumonia jika mereka
ditempatkan dalam medium yang mengandung sel-sel yang mati dan pecah dari galur patogenik.
Transformasi ini terjadi ketika sebuah sel nonpatogenik yang hidup mengambil sepotong DNA yang
membawa alel bagi patogenisitas. Alel asing itu kemudian digabungkan ke dalam kromosom sel,
menggantikan alel nonpatogenik yang telah ada sebelumnya--pertukaran segmen-segmen DNA
homolog. Sel tersebut sekarang merupakan rekombinan; Kromosomnya mengandung DNA dari
dua sel yang berbeda.
Selama bertahun-tahun setelah transformasi ditemukan dalam kultur laboratorium, kebanyakan
ahli biologi berfikir bahwa proses itu terlalu jarang dan acak untuk memainkan peran yang penting
dalam populasi bakteri di alam. Namun para peneliti kemudian mempelajari bahwa banyak bakteri
memiliki protein permukaan sel yang mengenali DNA dari spesies-spesies yang berkerabat dekat
dan mentranspor DNA tersebut ke dalam sel. Begitu ada di dalam sel, DNA asing dapat
digabungkan ke dalam genom melalui pertukaran DNA homolog.
Transduksi
Dalam transduksi, bakteriofag (disebut juga fag, virus yang menginfeksi bakteri) membawa gengen bakteri dari satu sel inang ke sel inang yang lainnya; transduksi adalah salah satu jenis
transfer gen horizontal, sebagian besar fag, transduksi dihasilkan dari peluang yang terjadi selama
siklus reproduktif fag. Virus yang membawa DNA bakteri mungkin tidak mampu bereproduksi
karena tidak mungkin memiliki materi genetiknya sendiri. Akan tetapi, virus mungkin mampu
melekat ke bakteri lain sebagai resipien dan menyuntikkan potongan DNA bakteri yang dibutuhkan
dari sel pertama. Beberapa dari DNA ini dapat menggantikan wilayah homolog dari kromosom sel
resipien melalui rekombinasi DNA. Pada kasus semacam itu, kromosom sel resipien menjadi
rekombinasi dari DNA yang berasal dari dua sel; rekombinasi genetik telah terjadi.
Konjugasi
Pada proses yang disebut konjugasi, materi genetik ditransfer di antara dua sel bakteri (dari
spesies yang sama atau berbeda) yang tersambung secara temporer. Transfer DNA adalah proses

searah; Satu sel mendonasikan DNA, dan sel yang lain menerimanya. Donor menggunakan pilus
seks untuk melekat ke resipien. Setelah melekat ke sel resipien, setiap pilus seks memendek,
menarik kedua sel mendekat, mirip kait penarik. 'Jembatan perkawinan' temporer kemudian
terbentuk di antara kedua sel menyediakan jalan bagi transfer DNA.
Pada kebanyakan kasus, kemampuan untuk membentuk piluks seks dan mendonasikan DNA
selama konjugasi dihasilkan dari kehadiran potongan DAN tertent yang disebut faktor F (singkatan
fertilitas). Fakotr F terdiri dari sekitar 25 gen, kebanyakan diperulakan untuk produksi pilus seks.
Faktor F bisa terdapat sebagai plasmid atau segmen DNA di dalam kromosom bakteri.
Sumber:

Kodon awal atau start kodon merupakan kodon pertama yang diterjemahkan pada saat translasi atau
disebut juga kodon inisiasi (AUG yang menyandikan metionin). Selain kodon inisiasi, untuk memulai
translasi diperlukan juga sekuen atau situs yang disebut Shine-Dalgarno untuk pengenalan oleh
ribosom yang juga dibantu oleh faktor inisiasi (berupa tiga jenis protein).
Kodon akhir atau stop kodon merupakan salah satu dari tiga kodon, yaitu UAG, UAA atau UGA.
Kodon akhir disebut juga kodon terminal yang tidak menyandikan asam amino. Kodon akhir
menyebabkan proses translasi berakhir dengan bantuan faktor pelepasan untuk melepas ribosom.

Kodon stop juga dikenal sebagai kodon nonsense atau kodon terminasi. Yap, kali ini mari kita
membahas tentang kodon stop, anda belum tau apa itu kodon stop? atau anda sudah tau tapi
masih kurang yakin dengan pemahaman anda? Semoga artikel tentang kodon stop dibawah ini
dapat membantu anda.

Kodon adalah jenis yang sangat spesifik dari kode genetik. Kodon membawa seperangkat
aturan tertentu dengan bantuan yang informasi diproses dan dikodekan untuk membentuk materi
genetik. Bahan ini berada di urutan DNA atau mRNA, dari mana ia diterjemahkan ke dalam
molekul protein. Molekul protein yang terdiri dari asam amino, yang ditetapkan dalam urutan
tertentu. Setiap kali ada perubahan dalam struktur kodon, maka informasi yang disampaikan
rusak, menyebabkan pembentukan molekul protein yang rusak. Oleh karena itu, struktur setiap
kodon sangat spesifik sehingga dapat membantu melakukan fungsi tertentu. Diberikan di bawah
ini adalah rincian mengenai kodon stop, juga dikenal sebagai kodon omong kosong.

Apa yang dimaksud dengan Kodon Stop?


Sebelum kita melanjutkan untuk mengetahui tentang apa yang berhenti atau omong kosong
kodon, kita perlu memahami apa kodon. Kodon hanyalah molekul kode genetik yang terdiri dari
tiga basis. Dalam molekul DNA, bisa ada kombinasi yang berbeda dari tiga dari empat basa.
Keempat basa adalah adenin, sitosin, guanin dan timin. Kodon terdiri dari tiga basis dan kode
untuk asam amino tunggal tertentu, yang dikodekan dalam tRNA organisme.

Sebuah kodon stop atau omong kosong kodon adalah sebuah triplet nukleotida dalam RNA yang
bertanggung jawab atas penghentian proses penerjemahan. Kebanyakan kodon di messenger
RNA sesuai dengan penambahan asam amino tertentu ke rantai protein tumbuh dalam urutan
tertentu. Omong kosong kodon sebenarnya mengakhiri proses pembentukan protein, dengan

menghentikan masuknya setiap asam amino dalam rantai protein. Dengan demikian, fungsi
kodon start adalah kebalikan seperti yang dari kodon stop. Pembentukan rantai asam amino
berhenti pada titik ini, dengan demikian, kemungkinan membuat kesalahan selama
pembentukan protein turun jauh.

Struktur Kodon Stop


Dalam kode genetik standar, ada tiga jenis kodon stop, yang, TAA (timin - adenin - adenin), TAG
(timin - adenin - guanin) dan TGA (timin - guanin - adenine). Ada banyak kepentingan yang
melekat pada setiap kodon stop. Ketika kodon ini mengalami transkripsi DNA, mereka berubah
menjadi UAA (urasil - adenin - adenin), UAG (urasil - adenin - guanin) dan UGA (urasil - guanin adenine). Jadi, ini adalah kodon berhenti yang ditemukan dalam molekul RNA.

Posisi stop kodon tidak tetap, sebagai panjang dari molekul protein dan dengan demikian,
panjang rantai dan jumlah asam amino yang ditetapkan bervariasi. Dengan demikian, kodon
berhenti di DNA dan RNA keduanya dapat ditemukan di berbagai interval dalam panjang rantai.
Kodon stop dengan mudah dapat diidentifikasi ketika molekul DNA sequencing dan dengan
demikian, dapat digunakan untuk mengidentifikasi lokasi tertentu dalam kode genetik yang
secara khusus sesuai dengan jenis tertentu protein.

Hentikan kodon mutasi bukanlah fenomena baru. Mutasi titik bisa terjadi pada setiap lokasi
sepanjang DNA, dan karenanya, mereka dapat mempengaruhi kodon omong kosong juga.
Kodon dapat ditranskripsi benar atau asam nukleat dalam kodon yang mungkin berubah. Hal ini
dapat menyebabkan masalah ketika ribosom mRNA untuk membangun rantai asam amino.
Dalam sel, ini dapat menyebabkan mutasi acak yang dapat menyebabkan rusak atau bahkan
kematian sel.

Ini adalah semua tentang kodon berhenti atau kodon nonsense. Ini adalah faktor penting dalam
memotong pendek proses dan panjang rantai protein. Dengan demikian, mereka membantu
mencegah sintesis protein dari terjadi tanpa henti dan dari beres, yang lain dapat menyebabkan
konsekuensi yang mengerikan.

Fitri Amelia

Skip to content

Home
Materi Kuliah
Tentang Penulis

Enzim Restriksi, Enzim Ligase, dan Gel Elektroforesis


Enzim Restriksi Endonuklease II
Secara alami, bakteri menghasilkan enzim restriksi yang dapat menghancurkan DNA
fage yang menginfeksinya (yang masuk ke dalam sel bakteri). Berdasarkan
penemuan tersebut, sampai saat ini sudah banyak jenis enzim restriksi yang telah
ditemukan dan diisolasi dari berbagai spesies bakteri. Nama setiap enzim restriksi
diawali dengan minimal tiga huruf yang menyatakan nama bakteri yang
menghasilkan enzim tersebut.
Setiap enzim restriksi mengenal sekuens dan situs pemotongan yang khas.
Proses pemotongan dapat dilihat pada link berikut: (.on going process.)
Enzim Ligase
penjelasan (.on going process.)
Prinsip mekanisme enzim ligase dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gel Elektroforesis (.on going process.)


Media Pembelajaran:
1. Gel elektroforesis
2. Kurata Ayu: Enzim ligase
3. Rikha D: Enzim Restriksi
Loading...

Leave a Reply

Fitri Amelia

Buat Lencana Anda

Search

Tulisan

Kategori

Aplikom
Artikel
Beasiswa
Lowongan Kerja
Pengumuman
Puisi
Tugas Kuliah
Uncategorized

Link terkait

Pentingnya air bagi otak


ASA
Puisi Hati: Apa yang salah?
Memperbaiki flash disk penuh tapi tidak ada file / Fix your usb full but empty
NILAI TUGAS DAN LATIHAN GABUNGAN

Lowongan Kerja 0

9 10

Aug
4

11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31

January 2016
Statistika
28,906 hits

Meta
Register
Log in
Entries RSS
Comments RSS
WordPress.com

STATISTIK

Fitri Amelia
The Twenty Ten Theme. Blog at WordPress.com.

Follow

Follow Fitri Amelia


Get every new post delivered to your Inbox.
Sign me up

Build a website with WordPress.com

Plasmid dan Penggunaannya dalam Rekayasa Genetika


A. Pengertian Plasmid Sebagai Vektor dalam Rekayasa Genetika

Vektor merupakan molekul DNA yang membawa suatu DNA asing kedalam sel
inang, dengan harapan sifat yang ada pada DNA asing tersebut dapat terekspresi dalam
sel inang. Salah satu vektor yang bisa digunakan untuk membawa molekul DNA asing
masuk dalam sel inang adalah plasmid. Plasmid digunakan untuk melakukan rekayasa
pada berbagai organisme yang tidak bisa diperoleh secara alami. Rekayasa ini dilakukan
pada tingkat genetik sehingga disebut sebagai rekayasa genetika.

Plasmid adalah molekul DNA sirkuler (lingkaran tertutup) yang berantai ganda
dan dapat bereplikasi sendiri di luar kromosom dan tidak mengandung gen-gen esensial.
Plasmid terdapat secara alami maupun sudah mengalami modifikasi yang disesuaikan
dengan keperluan manipulasi genetik. Plasmid terdapat pada organisme prokariot
maupun eukariot. Plasmid inilah yang berfungsi sebagai pembawa sifat rekombinan
pada organisme yang akan direkayasa. Plasmid memilki ciri-ciri antara lain :
a.

berbentuk lingkaran tertutup dan untaiannya ganda (double stranded)

b.

dapat melakukan replikasi sendiri di luar kromosom inti

c.

terdapat di luar kromosom

d.

secara genetik dapat ditransfer secara stabil

Agar dapat digunakan sebagai vektor, plasmid harus memiliki syarat-syarat


diantaranya sebagai berikut :
1.

ukurannya relatif kecil dibanding dengan pori dinding sel inangnya

2. mempunyai sekurang-kurangnya 2 gen marker yang dapat menandai masuk tidaknya


plasmid ke dalam sel inang
3. mempunyai tempat pengenalan restriksi sekurang-kurangnya di dalam salah satu marker
yang dapat digunakan sebagai tempat penyisipan fragmen DNA asing
4.

memiliki titik awal replikasi sehingga dapat melakukan replikasi dalam sel inang
Menurut tujuan penggunaannya, plasmid dibedakan menjadi 2 yaitu :

1.

plasmid untuk kloning prokariot, sebagai contoh adalah plasmid pUC 19 dan pBR 322

2.

plasmid yang digunakan untuk kloning eukariot yang digunakan adalah plasmid Ti

Gambar plasmid pBR 322 dengan tempat pengenalan pemotongan DNAnya


dapat dilihat pada gambar1.

Gambar 1. Plasmid pBR 322

Gambar plasmid pUC 19 dan tempat pengenalan pemotongan DNAnya dapat


dilihat pada gambar2.

Gambar 2. Plasmid pUC 19

B. Kegunaan Plasmid
Plasmid digunakan sebagai vektor dalam rekayasa genetika. Dalam hal ini
plasmid digunakan untuk membawa suatu rangkaian fragmen DNA asing masuk dalam
sel inang dengan harapan plasmid rekombinan itu mengalami replikasi dan
mengekspresikan sifat baru pada DNA asing tersebut, sehingga sifat yang diinginkan
dapat diperoleh dari plasmid rekombinan tersebut.

C. Proses penggunaan plasmid di dalam rekayasa genetika


Penggunaan plasmid untuk rekayasa genetika harus disesuaikan kebutuhannya
sebab ada berbagai macam plasmid yang digunakan. Proses penggunaan plasmid dalam
rekayasa genetika melalui langkah-langkah sebagai berikut :
1. penentuan terlebih dahulu jenis plasmid yang hendak digunakan sebab ada beberapa
jenis plasmid seperti pBR 322 dan pUC19 yang bisa digunakan untuk prokariot dan
plasmid Ti yang bisa digunakan untuk organisme eukariot
2. bila plasmid telah ditentukan maka selanjutnya adalah menentukan tempat pengenalan
enzim restriksi (pemotongan) yang hendak digunakan sebagai tempat penyisipan DNA
asing dan marker untuk menandai masuk tidaknya plasmid pada sel inang
3. apabila telah diketahui tempat pengenalan restriksi dan markernya maka langkah
selanjutnya adalah menyiapkan enzim restriksi sebagai pemotong plasmid. Enzim yang
digunakan untuk memotong plasmid harus sama dengan pemotong DNA asing sehingga
nanti keduanya bisa bersatu misal : EcoR1
4. langkah selanjutnya adalah plasmid dipotong dengan enzim restriksi yang sesuai pada
daerah potongannya
5. plasmid siap disambungkan dengan DNA asing yang memiliki sifat tertentu, yang telah
dipotong juga dengan enzim restriksi yang sama dengan pemotong plasmid

D. Enzim restriksi sebagai pemotong plasmid


Untuk memotong plasmid digunakan enzim restriksi. Enzim restriksi adalah
enzim yang digunakan untuk memotong DNA secara spesifik. Enzim restriksi disebut
sebagai gunting biologi. Enzim ini diisolasi dari bakteri. Restriksi yang digunakan untuk
memotong plasmid harus sama dengan pemotong DNA asing agar urutan basanya bisa
sesuai sehingga antara plasmid dan DNA asing yang disisipkan bisa bersatu. Prinsip
kerja enzim restriksi adalah:

1.

Enzim restriksi yang digunakan adalah enzim endonuklease restriksi. Enzim pemotong
ini mengenali DNA pada situs kusus dan memotong pada situs tersebut

2.

Situs pengenalan enzim restriksi adalah daerah yang simetri dengan poliandrom,
artinya bila kedua utas DNA tersebut masing-masing dibaca dengan arah yang sama
akan memberikan urutan yang sama pula nukleotidanya

3.

Pemotongan enzim restriksi akan menghasilkan potongan yaitu ujung kohesif (sticky
end) dan ujung rata (blunt end).

Perbedaan antara hasil pemotongan yang berupa sticky end dan blunt end dapat
dilihat pada tabel 1. berikut ini.

Berbagai contoh restriksi enzim yang mengenali pada situs pemotongan tertentu
pada DNA dapat dilihat pada tabel 2.

Proses pemotongan DNA digambarkan pada gambar 3. berikut ini

Gambar 3. Pemotongan enzim restriksi pada DNA

E. Enzim Ligase sebagai penyembung plasmid dengan DNA asing


Enzim ligase adalah enzim yang berfungsi untuk menyambung dua ujung
potongan DNA. Enzim ligase yang sering digunakan adalah DNA ligase dari E. Coli dan
DNA ligase dari Fage T4. Prinsip kerja enzim ligase sebagai berikut:
1. Enzim ligase menyambung dua ujung DNA yang semulanya terpotong
2. penyambungan dilakukan dengan cara menyambung 2 ujung DNA melalui ikatan
kovalen antara ujung 3OH dari utas satu dengan ujung 5P dari utas yang lain
3.

enggunaan ligasi DNA ini mengkatalis ikatan fosfodiester antara kedua ujung DNA
sehingga kedua fragmen DNA yang berupa potongan bisa bersatu menjadi satu.

Gambar struktur enzim ligase dapat dilihat pada gambar 4 berikut ini :

Gambar 4. Struktur enzim ligase

Proses penyambungan DNA ligasi pada daerah pemotongan digambarkan pada


gambar 5.

Gambar 5. Penyambungan DNA ligase pada potongan DNA

F. Pemotongan dan penyambungan plasmid dan DNA asing sehingga


dihasilkan Plasmid Rekombinan
Untuk menciptakan plasmid rekombinan yang mengandung sifat DNA asing
tertentu yang dilakukan adalah dengan menyambung DNA asing tersebut dengan
plasmid yang ada. Plasmid rekombinan terbentuk sebagai sambungan antara plasmid
dengan DNA asing, sehingga plasmid tersebut mengandung sifat tertentu yang telah
disesuaikan dengan kebutuhan. Secara sederhana prosedur untuk menciptakan plasmid
rekombinan dapat dilakukan sebagai berikut:
1.

menyiapkan bakteri yang mengandung DNA asing dengan sifat tertentu

2.

menyiapkan plasmid yang akan digunakan sebagai vektor

3.

pemotongan DNA asing dengan sifat yang dibutuhkan dengan enzim restriksi semisal
dari E. coli

4.

pemotongan plasmid yang akan digunakan sebagai vektor dengan enzim restriksi yang
sama yaitu E. Coli

5. hasil potongan DNA dengan sifat tertentu disambungkan pada plasmid dngan
menggunakan enzim penyambung yaitu DNA ligase. DNA ligase akan mengikat ujung
3OH dengan ujung 5P dan membentuk ikatan fosfodiester sehingga plasmid dan DNA
asing dengan sifat tertentu bisa bersatu
6. terbentuklah plasmid rekombinan yang membawa DNA asing dengan sifat tertentu
tersebut. Plasmid ini siap ditransfer ke dalam sel inang untuk memperoleh organisme
transgenik

Gambar proses terbentuknya Plasmid rekombinan sebagai hasil penyambungan


plasmid dengan DNA asing dengan sifat tertentu dapat dilihat pada gambar 6 berikut
ini.

Gambar 6. Penyambungan Plasmid dengan DNA asing

G. Plasmid Ti
Sel-sel tumbuhan tidak mengandung plasmid alami yang dapat digunakan
sebagai vektor kloning, akan tetapi ada suatu bakteri yaituAgrobacterium
tumefaciens yang dapat membawa plasmid berukuran 200 kb dan disebut dengan
plasmid Ti (Tumor inducing atau penyebab tumor). BakteriAgrobacterium
tumefaciens dapat menginfeksi tanaman dikotil seperti tomat dan tembakau serta
tanaman monokotil khususnya padi. Ketika infeksi berlangsung bagian tertentu plasmid
Ti yang disebut dengan T-DNA, akan terintegrasi ke dalam DNA kromosom tanaman

menyebabkan pertumbuhan sel-sel yang tak terkendali, akibatnya akan terbentuk


tumor.

Plasmid Ti rekombinan dengan suatu gen target yang disisipkan pada daerah TDNA dapat mengintegrasikan gen tersebut ke dalam DNA tanaman. Gen target ini
selanjutnya akan diekspresikan dengan menggunakan sistem DNA tanaman. Dalam
prakteknya ukuran plasmid yang begitu besar sangat sulit untuk dimanipulasi. Namun
ternyata apabila bagian T-DNA dipisahkan dari bagian-bagian lain plasmid Ti, integrasi
DNA tanaman masih dapat terjadi asalkan T-DNA dan bagian lainnya tersebut masih
berada dalam satu selAgrobacterium tumefaciens. Dengan demikian, manipulasi atau
penyisipan fragmen DNA asing hanya dilakukan pada T-DNA dengan cara seperti halnya
yang dilakukan pada plasmid E. Coli. Selanjutnya plsmid T-DNA rekombinan yang
dihasilkan ditransformasikan ke dalam sel Agrobacterium tumefaciensyang membawa
plamid Ti tanpa bagian T-DNA. Perbaikan prosedur berikutnya adalah pembuangan
gen-gen pembentuk tumor yang terdapat pada T-DNA.

Gambar. Plasmid Ti

Pemanfaatan plasmid Ti dalam rekombinan tumbuhan sudah banyak


dimanfaatkan seperti plasmid Ti Agrobacterium tumefaciens yang digunakan untuk
pembuatan tanaman kapas Bt yang tahan terhadap hama ulat. Ulat yang memakan
tanaman akan mengalami kematian. Pemanfaatan plamid ini juga untuk meningkatkan
produksi tanaman. Misalkan saja tanaman yang mengandung protein tertentu setelah
direkayasa dengan menggunakan plasmid rekombinan ini. Sehingga pada saat makan
tanaman ini sudah mengandung protein tertentu.

Gambar. Rekayasa tanaman dengan menggunakan Plasmid Ti


Dari gambar di atas dapat dijelaskan bahwa penggunaan plasmid Ti dilakukan
dengan cara menyambung plasmid dengan DNA asing. Pemotongan DNA dilakukan
dengan menggunakan enzim restriksi kemudian masing-masing potongan
dilekatkan dengan ligasi DNA terbentuklah plasmid rekombinan. Sebagai hasilnya
plasmid rekombinan dimasukan dalam nukleus tanaman melalui fusi protoplasma
dan plasmid rekombinan akan berfusi dengan inti tanaman. Protopalasma
selanjutnya dikulturkan dalam media kultur jaringan kemudian setelah terbentuk
tanaman, setelah itu tanaman ditumbuhkan pada habitatnya. Tanaman yang
dihasilkan akan memiliki sifat tertentu sesuai dengan sifat DNA asing yang
digunakan. Sehingga apabila kita memakan tanaman tersebut berarti telah
mengkonsumsi protein tertentu. Sifat inilah yang mulai dikembangkan pada
tanaman.

[tutup]
Mari bergabung dengan komunitas Wikipedia bahasa Indonesia!

DNA ligase
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa

DNA ligase merupakan enzim yang mengkatalisis pembentukan ikatan fosfodiester antara ujung
5-fosfat dan 3-hidroksil pada DNA yang mengalami nick.[1] Nick pada DNA dapat terjadi pada
saat replikasi DNA, rekombinasi dan kerusakan.[1] Secara biologis, DNA ligase diperlukan untuk
menggabungkan fragmen Okazaki saat proses replikasi, menyambung potongan-potongan DNA
yang baru disintesis, serta berperan dalam proses reparasi DNA. [2] Oleh karena pentingnya
peranan DNA ligase, sekarang ini telah dikembangkan obat antibakterial yang menginhibisi DNA
ligase.[3] Dengan diinhibisinya DNA ligase, diharapkan kromosom menjadi terdegradasi
dansel akan mati.[3] DNA ligase merupakan enzim yang sangat berguna baik di dalam sel,
maupun di luar sel.[4] Untuk penggunaan di luar sel, penggabungan denganenzim restriksi telah
membuat terobosan baru di bidang teknologi DNA rekombinan.[4] Enzim restriksi diibaratkan
seperti gunting yang memungkinkan kita untuk memotong DNA di tempat yang spesifik.
[4]
Kemudian DNA ligase berperan sebagai lem yang menyambung DNA yang telah terpotong
sehingga menjadi DNA yang fungsional.[4]
Daftar isi
[sembunyikan]

1Jenis-Jenis DNA Ligase


o

1.1T4 DNA Ligase

1.2T7 DNA Ligase

2Mekanisme DNA Ligase

3Referensi

Jenis-Jenis DNA Ligase[sunting | sunting sumber]


DNA ligase dapat digolongkan menjadi 2 jenis berdasarkan kofaktor yang diperlukan,
yaitu NAD+ atau ATP.[1] DNA ligase NAD+-dependent ditemukan hanya di bakteri.[1] Sementara
itu, DNA ligase ATP-dependent ditemukan di bakteriofage, eubacteria, archaea, dan virus.
[1]
Walaupun kedua jenis enzim ini memerlukan kofaktor yang berbeda, keduanya memiliki
mekanisme katalitik yang sama.[2] DNA ligase ATP-dependent yang umum adalah T4 DNA ligase
dan T7 DNA ligase.[2]

T4 DNA Ligase[sunting | sunting sumber]


T4 DNA ligase berasal dari T4 bakteriofage.[5] Enzim ini akan meligasi fragmen DNA yang
menggantung, memiliki ujung kohesif maupun ujung tumpul.[5] Untuk meligasi fragmen DNA yang
memiliki ujung tumpul, diperlukan konsentrasi enzim yang lebih besar.[5] Proses ligasi DNA T4
memerlukan larutan penyangga yang mengandung ATP dengan konsentrasi 0.25-1 mM.
[5]
Proses ini dapat berlangsung pada kisaran suhu yang luas, namun untuk beberapa kasus,
proses ligasi dilakukan pada suhu tertentu.[5] Seperti pada saat menginginkan efisiensi yang
tinggi dalam ligasi (contohnya membuat pustaka genom) suhu yang disarankan adalah 16 C.
[5]
Sementara itu, jika ligasi bertujuan untuk subcloning, ligasi dapat dilakukan pada suhu 4 C
semalaman, atau pada suhu ruang selama 30 menit hingga beberapa jam. [5]

T7 DNA Ligase[sunting | sunting sumber]

T7 DNA ligase merupakan DNA ligase dengan ukuran terkecil, yaitu sebesar 41 kDa.[2] DNA
ligase ini berasal dari bakteriofage T7, mempunyai struktur yang terdiri dari dua domain dengan
sisi aktif ATP yang terbentuk oleh ujung-N domain yang lebih besar.[2]

Mekanisme DNA Ligase[sunting | sunting sumber]

Mekanisme DNA Ligase

Mekanisme DNA ligase dimulai dari hidrolisis kofaktor, yaitu NAD+ atau ATP.[1] Peristiwa ini
menghasilkan kompleks enzim-adenylate AMP yang berikatan kovalen dengan grup -amino
residu lysin pada sisi aktif dengan melepaskan pyrofosfat inorganik (PPi), jika kofaktor berupa
ATP; atau nicotinamide mononucleotide (NMN), jika kofaktor berupa NAD +.[1] Kemudian sebagian
AMP akan berpindah dari sisi aktif lysin ke ujung bebas 5-fosfat yang berada padanick utas
DNA. Pada akhirnya, iktan fosfodiester akan terbentuk antara ujung 3-OH yang berada di ujung
nick dengan 5-fosfat dan melepaskan AMP dan enzim adenylate. [1]

Referensi[sunting | sunting sumber]


1.

^ a b c d e f g h Gul S et al. 2004. Staphylococcus aureus DNA ligase:


characterization of its kinetics of catalysis and development of a
high-throughput screening compatible chemiluminescent
hybridization protection assay. Biochem J 383(3): 551-9.

2.

^ a b c d e http://www.biochem.ucl.ac.uk/bsm/xtal/teach/repl/ligase.ht
ml

3.

^ a b Miesel L, Kravec CV, Ma S, McMonagle P, Palermo R. 2002.


A High Throughput Assay of Bacterial DNA Ligase for Antibacterial
Drug Discovery. Abstr Intersci Conf Antimicrob Agents Chemother
Intersci Conf Antimicrob Agents Chemother 42: 27-30.

4.

^ a b c d Goodsell DS. 2004. DNA ligase. [terhubung


berkala]. http://www.pdb.org/pdb/static.do?
p=education_discussion/molecule_of_the_month/pdb55_1.html [2
Apr 2010].

5.

^ a b c d e f g Bowen RA, Austgen L, Rouge M. 2002. DNA ligation.


[terhubung
berkala]. http://arbl.cvmbs.colostate.edu/hbooks/genetics/biotech/e
nzymes/ligation.html [2 Apr 2010].

[tampilkan]

Enzim
Kategori:

Enzim

Menu navigasi

Belum masuk log

Pembicaraan IP ini

Contributions

Buat akun baru

Masuk log

Baca
Sunting
Sunting sumber
Versi terdahulu
Lanjut

Halaman Utama

Perubahan terbaru

Peristiwa terkini

Halaman baru

Halaman sembarang
Komunitas

Warung Kopi

Portal komunitas

Bantuan
Wikipedia

Tentang Wikipedia

Pancapilar

Kebijakan

Menyumbang

Hubungi kami

Bak pasir
Bagikan

Facebook

Twitter

Google+
Cetak/ekspor

Buat buku

Halaman
Pembicaraan


Unduh versi PDF

Versi cetak
Perkakas

Pranala balik

Perubahan terkait

Halaman istimewa

Pranala permanen

Informasi halaman

Item di Wikidata

Kutip halaman ini


Bahasa lain

Catal

etina

Deutsch

English

Espaol

Franais

Galego

Italiano

Nederlands

Polski

Portugus

Srpskohrvatski /

Slovenina

/ srpski

Svenska

Trke

Sunting interwiki

Halaman ini terakhir diubah pada 6 April 2013, pukul 12.21.

Teks tersedia di bawah Lisensi Atribusi-BerbagiSerupa Creative Commons;


ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih
jelasnya.

Kebijakan privasi

Tentang Wikipedia

Penyangkalan

Pengembang

Tampilan seluler

Ikuti Wikipedia bahasa Indonesia di

[tutup]
Twitter,

Facebook,

Instagram dan IRC #wikipedia-

idconnect

Enzim restriksi
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa

Enzim restriksi atau endonuklease restriksi adalah enzim yang memotong molekul DNA.
[1]
Enzim ini memotong DNA pada rangka gula-fosfat tanpa merusak basa.[1]Setiap enzim
mempunyai sekuens pengenalan yang unik pada utas DNA, biasanya sepanjang 4-6 pasang
basa.[2]
Daftar isi
[sembunyikan]

1Sejarah

2Sekuens pengenal enzim restriksi

3Perkiraan Pemotongan
o

3.16-cutters

3.28-cutters

3.34-cutters

4Penamaan Enzim Restriksi

5Jenis-jenis enzim restriksi


o

5.1Enzim restriksi tipe I

5.2Enzim restriksi tipe II

5.3Enzim restriksi tipe III

6Keadaan Restriksi

7Hasil Pemotongan Enzim Restriksi


o

7.1Ujung menggantung 5

7.2Ujung menggantung 3

7.3Ujung tumpul

8Menghentikan Proses Digesti

9Contoh Enzim Restriksi

10Referensi

Sejarah[sunting | sunting sumber]


Pada akhir 1960-an, ilmuwan Stewart Linn dan Werner Arber mengisolasi dua contoh enzim
yang berperan dalam menghambat pertumbuhan bakteriofag yang menyerang E. coli.[3] Salah
satu enzim bekerja memetilasi DNA, sedangkan enzim yang satunya bekerja memotong DNA
yang tidak termetilasi pada beberapa lokasi di sepanjang molekul DNA. [3] Enzim yang pertama
disebut metilase (methylase), sedangkan enzim yang satunya disebut nuklease restriksi
(restriction nuclease).[3]Kemudian pada tahun 1968, H.O. Smith, K.W. Wilcox, dan T.J. Kelley,
yang bekerja di Johns Hopkins University, mengisolasi dan mengkarakterisasi
Tabel 1 Contoh enzim restriksi beserta sekuen pengenalannya
Enzim
BamHI
NotI
Sau3AI

Sekuen Pengenalan
GGATCC
CCTAGG
GCGGCCGC
CGCCGGCG
GATC
CTAG

SacI

GAGCTC
CTCGAG

Sst I

GAGCTC
CTCGAG

HinfI

GANTC
CTNAG

XhoII

PuGATCPy
PyCTAGPu

enzim nukleaserestriksi pertama.[3] Enzim ini berasal dari bakteri Haemophilus influenzae, dan
diberi nama HindII.[3] Enzim ini selalu memotong molekul DNA pada sekuen spesifik dengan
panjang situs pengenalan enam pasang basa.[3]
check in http://facebook.com/vods.ska

Sekuens pengenal enzim restriksi[sunting | sunting sumber]


Sekuen pengenalan atau sering disebut juga situs pengenalan merupakan sekuen DNA yang
menjadi tempat menempelnya enzim restriksi dan melakukan pemotongan pada sekuen
tersebut.[4] Panjang sekuen pengenalan enzim restriksi berbeda-beda, seperti enzim EcoRI,
SacI, dan SstI mempunyai sekuen pengenalan sepanjang 6 pasang basa, sedangkan NotI 8
pasang basa, dan Sau3AI hanya 4 pasang basa. [4] Kebanyakan dari enzim restriksi
bersifat palindromik (palindromic) yang berarti sekuen pengenalan sama jika dibaca dari 5 3
baik utas atas maupun utas bawah.[4] Contohnya adalah HindIII dengan situs pengenalan 5AAGCTT-3 (utas atas)/3-TTCGAA-5 (utas bawah).[4]
Enzim restriksi yang berbeda, dapat mempunyai situs pengenalan yang sama, contohnya: SacI
dan SstI.[5] Ezim yang mempunyai situs pengenalan yang sama disebut dengan
istilah isoschizomers.[5] Dalam beberapa kasus, isoschizomers juga memotong DNA pada tempat
yang sama, namun beberapa tidak demikian.[5]
Situs pengenalan pada enzim restriksi dapat pasti atau ambigu.[5] Seperti contohnya pada
BamHI, enzim ini sudah pasti memotong pada sekuen GGATCC.[5] Sementara itu, situs
pengenalan HinfI adalah GANTC.[5] N dalam situs pemotongan HinfI berarti dapat diganti

oleh basa apa saja, inilah yang dimaksud dengan situs ambigu[5]. Contoh lainnya situs ambigu
adalah XhoII.[5] Enzim ini mempunyai situs pemotongan PuGATCPy.[5] Pu merupakan singkatan
dari purin (basa A atau G), sedangkan Py merupakan singkatan dari pirimidin (pyrimidine) (basa
T atau C).[5] Jadi XhoII dapat mengenali dan memotong sekuen AGATCT, AGATCC, GGATCT
dan GGATCC.[5]
Situs pengenalan satu enzim, dapat mengandung situs pengenalan enzim lainnya [5] Situs
pengenalan BamHI mengandung situs pengenalan Sau3AI.[5] Oleh karena itu, semua sekuen
pemotongan BamHI akan dipotong oleh Sau3AI, tapi tidak sebaliknya. [5]

Perkiraan Pemotongan[sunting | sunting sumber]


Panjang dari sekuen pengenalan memengaruhi seringnya enzim restriksi memotong DNA dalam
ukuran tertentu.[6] Misalnya pada enzim yang memiliki panjang 4 basa, enzim ini diperkirakan
akan memotong setiap 256 nukleotida.[6] Perhitungan tersebut diperoleh dengan mengasumsikan
setiap basa mempunyai kemungkinan yang sama untuk muncul, yaitu sebesar 1/4 (kemungkinan
muncul 1 dari 4 basa).[6] Jadi jika sekuen pengenalan mempunyai panjang 6 basa, maka
perhitungannya menjadi: (1/4)6 = 1/4096.[6] Perhitungan ini hanya sebagai perkiraan, pada
kenyataannya belum tentu demikian.[6] Beberapa sekuen bisa jadi lebih sering atau lebih jarang
ditemui dalam suatu organisme.[6] Seperti pada mamalia, sekuen CG sangat jarang ditemui
sehingga enzim HpaII yang mempunyai sekuen pengenalan CCGG akan lebih jarang memotong
pada DNA mamalia.[6]
Enzim restriksi yang mempunyai sekuen pengenalan yang pendek akan menghasilkan banyak
potongan DNA; sedangkan jika mempunyai sekuen pengenalan yang panjang, akan dihasilkan
potongan DNA yang lebih sedikit.[6] Baik enzim yang mempunyai sekuen pemotongan pendek
maupun panjang, mempunyai fungsi masing-masing dalam rekayasa genetika.[6]
Beberapa enzim sering yang digunakan dalam laboratorium dibagi menjadi tiga berdasarkan
perkiraan pemotongan:[6]

6-cutters[sunting | sunting sumber]


Ezim restriksi yang tergolong dalam 6-cutters memiliki situs pemotongan yang spesifik pada 6
nukleotida.[6] Ezim ini cocok digunakan untuk pekerjaan kloning sehari-hari karena enzim ini
lumayan sering memotong satu atau dua situs pada plasmid, namun jarang memotong bagian
penting seperti titik asal replikasi (origin of replication) atau gen resisten ampisilin.[6] Contoh
enzim 6-cutters adalah HindIII (A AGCTT) yang memotong genome bakteriofage lambda (48
kbp) pada 7 situs.[6]

8-cutters[sunting | sunting sumber]


Enzim restriksi ini mempunyai situs pengenalan sepanjang 8 nukleotida; cocok digunakan untuk
membentuk kromosom menjadi potongan-potongan yang spesifik dalam ukuran yang besar.
[6]
Sebagai contoh: PacI (enzim 8-cutters) memotong-motong kromosom E. coli menjadi 20
bagian, sedangkan BamHI (enzim 6-cutters) memotong sekitar 300 bagian.[6] Jika langsung
menggunakan enzim 6-cutters, maka fragmen yang dihasilkan terlalu kecil dan banyak.[6] Untuk
itu digunakan enzim 8-cutters terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan menggunakan
enzim 6-cutters.[6]

4-cutters[sunting | sunting sumber]


Enzim restriksi ini cocok untuk percobaan yang menginginkan pemotongan pada beberapa situs
yang potensial.[6] Contohnya: jika ingin mengumpulkan fragmen DNA secara acak, dan pada
potongan tersebut terdapat gen yang diinginkan; dapat dilakukan digestsi parsial (partial
digestion) menggunakan enzim 4-cutters.[6]

Penamaan Enzim Restriksi[sunting | sunting sumber]


Pada dasarnya, penamaan enzim restriksi diambil dari nama bakteri yang menghasilkan enzim
tersebut. Seperti contohnya enzim EcoRI yang memiliki pola: [1]

Kependekan

Kepanjangan

Deskripsi

Escherichia

genus

co

coli

species

RY13

strain

Urutan penemuan

Urutan enzim yang ditemukan pada bakteri

Jenis-jenis enzim restriksi[sunting | sunting sumber]


Enzim restriksi secara tradisional dibagi menjadi 3 tipe berdasarkan komposisi subunit, posisi
pemotongan, spesifisitas sekuens dan kofaktor yang diperlukan:[7]

Enzim restriksi tipe I[sunting | sunting sumber]


Enzim restriksi ini kompleks dengan multisubunit, memotong DNA secara acak dan jauh dari
sekuens pengenalannya.[7] Pada awalnya enzim ini dikira langka; tapi setelah analisis sekuens
genom, enzim ini ternyata umum.[7] Enzim restriksi tipe I ini memiliki pengaruh besar
dalam biokimia, namun mempunyai nilai ekonomis yang rendah karena tidak dapat
menghasilkan potongan fragmen DNA yang diinginkan sehingga tidak diproduksi.[7]

Enzim restriksi tipe II[sunting | sunting sumber]


Enzim ini memotong DNA dekat atau pada situs pengenalan. [7] Enzim ini menghasilkan fragmenfragmen sesuai dengan yang diinginkan sehingga biasa digunakan untuk analisis DNA
dan kloning gen.[7] Enzim tipe II yang umum digunakan adalah HhaI, HindIII, EcoRI, dan NotI;
dan enzim-enzim tersebut tersedia secara komersil. [7]Enzim ini tergolong kecil dengan subunit
yang memiliki 200-350 asam amino dan memerlukan Mg2+ sebagi kofaktor.[7] Selanjutnya enzim
jenis tipe II yang umum, biasanya digolongkan sebagai tipe IIs, adalah FokI dan AlwI. [8] Enzim ini
memotong di luar situs pengenalan, berukuran sedang, 400-650 asam amino, dan memiliki
2domain khusus.[8] Domain pertama untuk berikatan dengan DNA, sedangkan domain yang
satunya untuk memotong DNA.[8]

Enzim restriksi tipe III[sunting | sunting sumber]


Enzim restriksi tipe II ini merupakan enzim restriksi yang tidak digunakan dalam laboratorium.
[8]
Hal ini dikarenakan enzim ini memotong di luar situs pengenalan dan membutuhkan dua
sekuen dengan orientasi berlawanan pada DNA yang sama untuk menyelesaikan pemotongan
sehingga enzim ini jarang menghasilkan potongan sempurna. [8]

Keadaan Restriksi[sunting | sunting sumber]


Enzim restriksi pada umumnya bekerja pada pH 7,4; suhu 37 C; dan memerlukan bermacammacam kekuatan ionik, tergantung dari jenis enzimnya.[8] Akan tetapi, beberapa enzim
memerlukan optimasi khusus agar proses restriksi berjalan dengan baik. [8] Dalam larutan stok,
enzim restriksi biasanya dikemas bersama dengan 10Xlarutan penyangga reaksi yang telah
dioptimasi.[8] Buffer reaksi dapat digolongkan menjadi empat jenis berdasarkan kekuatan ioniknya:[8]

1. 0 mM NaCl = low salt buffer (L)


2. 50 mM NaCl = medium salt buffer (M)
3. 100 mM NaCl = hi salt buffer (H)
4. 150 mM NaCl = very high salt buffer (VH)
Ketika melakukan digesti dengan 2 atau lebih enzim restriksi yang berbeda buffer reaksinya,
perlu dilihat rujukan tabel aktivitas enzim tersebut pada buffer reaksi tertentu. [8] Misalnya: reaksi
digesti dilakukan dengan menggunakan EcoRI (garam tinggi) dan HpaII (garam rendah, KCl).
[8]
Setelah dilihat pada tabel, kedua enzim aktif pada keadaan garam sedang.[8] Oleh karena itu,
digunakan buffer reaksi dengan konsentrasi KCl sedang.[8] Buffer reaksi yang digunakan adalah
KCl karena HpaII memerlukan KCl, bukan NaCl; sedangkan EcoRI dapat menggunakan kedua
garam tersebut.[8] Kondisi optimal ketika melakukan proses digesti sangat penting. [8]Karena jika
kondisi optimal tidak tercapai, enzim akan memotong secara tidak normal. [8] Contohnya: EcoRI
pada buffer reaksi dengan konsentrasi garam rendah tidak hanya memotong pada situs
pengenalan normal G AAATTC, namun akan juga memotong situs pengenalan AATT. Aktifitas
seperti ini dinamakan star activity.[8]

Hasil Pemotongan Enzim Restriksi[sunting | sunting sumber]


Enzim restriksi yang biasa digunakan dalam laboratorium biologi molekuler memotong molekul
DNA pada situs pengenalan dan menghasilkan salah satu dari ketiga jenis pola hasil
pemotongan.[5] Ketiga pola hasil pemotongan enzim restriksi sebagai berikut:[5]

Ujung menggantung 5[sunting | sunting sumber]


Enzim restriksi memotong secara asimetris pada situs pemotongan, menghasilkan hasil
pemotongan memanjang pada ujung 5.[5] Contoh enzim yang menghasilkan ujung menggantung
5 adalah BamHI

Ujung menggantung 3[sunting | sunting sumber]


Enzim restriksi ini juga memotong secara asimetris pada situs pengenalan, namun menghasilkan
hasil pemotongan memanjang pada ujung 3.[5] Contoh enzim yang menghasilkan pola seperti ini
adalah KpnI

Ujung tumpul[sunting | sunting sumber]


Enzim ini memotong secara simetris antara kedua utas DNA sehingga menghasilkan ujung
tumpul.[5] Contoh enzim yang menghasilkan pola seperti ini adalah SmaI

Pola ujung menggantung, baik yang 3 ataupun 5, sering disebut juga dengan ujung
lengket (sticky ends) atau ujung kohesif (cohesive ends).[5] Pola seperti ini lebih mudah
menempel (annealing) dengan pasangan DNA nya karena adanya ikatan basa antara ujungujung yang menggantung.[5]

Menghentikan Proses Digesti[sunting | sunting sumber]


Setelah proses inkubasi selesai, reaksi digesti enzim dapat dihentikan dengan
menambahkan EDTA.[8] Penambahan EDTA akan mengkelat ion logam; dalam reaksi ini ion
logam yang dikelat adalah Mg2+.[8] Untuk beberapa tipe enzim lainnya, inaktivasi dapat dihentikan
dengan cara pemanasan; menggunakan pendenaturasi protein, contohnya fenol atau kloroform;
atau memisahkan enzim dari DNA menggunakan kolom kromatografi.[8]

Contoh Enzim Restriksi[sunting | sunting sumber]


Enzim restriksi yang umum digunakan berasal dari tipe II, berikut contohnya: [9]
Subtype

Orthodox

Contoh

EcoRI

Situs Pengenalan

G AATTC

CTTAA G

EcoRV

BglI

Type IIS

FokI

Type IIE

NaeI

Type IIF

NgoMIV

Type IIT

Bpu10I

BslI

Type IIG

Eco57I

Type IIB

BcgI

BplI

Type IIM

DpnI

GAT ATC
CTA TAG

GCCNNNN NGGC
CGGN NNNNCCG

GGATGN9 NNNN
CCTACN9NNNN

GCG CGC
CGC GCG

G CCGGC
CGGCC G

CC TNAGC
GCANT CG

CCNNNNN NNGG
GGNN NNNNNCC

CTGAAGN14NN
GACTTCN14 NN

NN N10CGATN6TGCN10NN
NNN10GCTN6ACGN10 NN

NN4 N8GAGN5CTCN8N4N
NN4N8CTCN5GAGN8 N4N

Gm^A TC

CT

m^

AG

^nukleotida yang termetilasi

Referensi[sunting | sunting sumber]


1.

^ a b c http://www.bio-medicine.org/biologydefinition/Restriction_enzyme/#External_links

2.

^ Philips T. 2010. Restriction Enzymes Explained. [terhubung


berkala]. http://biotech.about.com/od/proteinengineering/a/restricte
nz.htm [3 Apr 2010].

3.

^ a b c d e f Peters P. 2010. Restriction Enzymes. [terhubung


berkala]. http://www.accessexcellence.org/AE/AEC/CC/restriction.
php [4 Apr 2010].

4.

^ a b c d Pray LA. 2008. Restriction Enzymes. [terhubung


berkala]. http://www.nature.com/scitable/topicpage/RestrictionEnzymes-545 [7 Apr 2010].

5.

^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u Bowen RA, Austgen L, Rouge M.


2002. Biology and Activity of Restriction Endonucleases.
[terhubung
berkala].http://www.vivo.colostate.edu/hbooks/genetics/biotech/en
zymes/renzymes.html [5 Apr 2010].

6.

^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s Metzenberg S. 2002. Restriction


Endonucleases. [terhubung
berkala]. http://escience.ws/b572/L5/L5.htm [12 Apr 2010].

7.

^ a b c d e f g h Sasnauskas G, Connolly BA, Halford SE, Siksnys V.


2007. Site-specific DNA transesterification catalyzed by a
restriction enzyme Proc Natl Acad Sci USA 104(7): 2115-20.

8.

^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t Rinehart CA. 2005. Restriction


enzymes and Ligases. [terhubung
berkala]. http://bioweb.wku.edu/courses/Biol350/RestrictionEnz3/R
eview.html[3 Apr 2010].

9.

^ Pingoud A, Jeltsch A. 2001. Structure and function of type II


restriction endonucleases. Nucleic Acids Res 29(18): 3705-27

Kategori:

Genetika molekular

Enzim

Menu navigasi

Belum masuk log

Pembicaraan IP ini

Contributions

Buat akun baru

Masuk log

Baca
Sunting
Sunting sumber
Versi terdahulu
Lanjut

Halaman Utama

Perubahan terbaru

Peristiwa terkini

Halaman baru

Halaman sembarang
Komunitas

Warung Kopi

Portal komunitas

Bantuan
Wikipedia

Tentang Wikipedia

Pancapilar

Kebijakan

Menyumbang

Hubungi kami

Bak pasir
Bagikan

Facebook

Twitter

Google+
Cetak/ekspor

Buat buku

Unduh versi PDF

Versi cetak
Perkakas

Pranala balik

Perubahan terkait

Halaman istimewa

Pranala permanen

Informasi halaman

Item di Wikidata

Kutip halaman ini


Bahasa lain

Bosanski

Catal

etina

Dansk

Deutsch

English

Esperanto

Espaol

Halaman
Pembicaraan

Eesti
Euskara

Suomi
Franais
Galego

Magyar
Italiano

Basa Jawa

Nederlands

Norsk bokml

Polski

Portugus

Srpskohrvatski /

Simple English

Slovenina

Slovenina

/ srpski

Svenska

Trke

Ting Vit

Sunting interwiki

Halaman ini terakhir diubah pada 22 Oktober 2015, pukul 20.21.

Teks tersedia di bawah Lisensi Atribusi-BerbagiSerupa Creative Commons;


ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih
jelasnya.

Kebijakan privasi

Tentang Wikipedia

Penyangkalan

Pengembang

Tampilan seluler

Fungsi.web.id

Biologi
Fisika
Geograf
Kimia
Sejarah
Teknologi

Perbedaan ribosa dan deoksiribosa


Diperbaharui pada : 27 September, 2015

Secara ringkas, ribosa dan deoksiribosa adalah gula sederhana yang


merupakan

bagian

dari

asam

nukleat

yang

merupakan

salah

satu

makromolekul penting hadir di semua organisme hidup. Sama seperti protein


dan karbohidrat, asam nukleat juga penting bagi kelangsungan hidup semua
organisme hidup.
Ribosa dan deoksiribosa keduanya adalah bentuk gula sederhana atau
monosakarida yang ditemukan pada organisme hidup. Mereka adalah penting
secara biologis karena mereka membantu untuk membentuk cetak biru dari
organisme yang kemudian diteruskan dari generasi ke generasi. Setiap
perubahan dalam cetak biru dalam satu generasi spesies diwujudkan
berikutnya dalam bentuk perubahan fisik atau evolusi. Tapi ribosa dan
deoksiribosa memiliki beberapa perbedaan halus namun penting.

Gula Ribosa
Ini adalah gula pentosa yang memiliki lima atom karbon dan sepuluh atom
hidrogen. Rumus molekul adalah C5H10O5. Hal ini juga dikenal sebagai
aldopentosa karena memiliki gugus aldehida yang melekat pada ujung rantai
dalam bentuk terbuka. Gula ribosa adalah monosakarida biasa di mana satu
atom oksigen melekat pada setiap atom karbon dalam rantai. Pada atom
karbon kedua, bukan hidrogen, gugus hidroksil terpasang. Gugus-gugus
hidroksil pada atom karbon kedua, ketiga dan kelima bebas sehingga tiga
atom fosfat dapat menempel. Ribonukleosida dibentuk oleh kombinasi dari
gula ribosa dan basa nitrogen menjadi ribonukleotida, ketika sebuah atom
fosfat akan melekat padanya. Basa dapat berupa purin atau piramidin yang
sebenarnya jenis asam amino. Asam amino adalah bahan penyusun

bangunan untuk protein. Ribonukleotida atau asam ribonukleat (RNA)


memiliki tiga pusat kiral dan delapan stereoisomer. Gula ribosa ditemukan
dalam RNA organisme hidup. RNA merupakan molekul beruntai tunggal. RNA
atau asam ribonukleat adalah molekul yang bertanggung jawab untuk coding
dan decoding informasi genetik. Dalam bahasa yang sederhana membantu
untuk menyalin dan mengungkapkan cetak biru organisme dan juga
membantu dalam transfer informasi genetik untuk keturunan tersebut.
Mereka juga membantu dalam sintesis protein.

Gula deoksiribosa
Deoksiribosa juga merupakan bentuk gula pentosa tetapi dengan kurang satu
atom oksigen. Rumus kimia gula deoksiribosa adalah C 5H10O4. Ini juga
merupakan gula aldopentosa karena memiliki gugus aldehida yang melekat
padanya. Modifikasi ini membantu enzim hadir dalam tubuh makhluk hidup
untuk membedakan antara asam ribonukleat dan asam deoksiribonukleat.
Bentuk gula deoksiribosa adalah sedemikian rupa sehingga empat dari lima
atom karbon bersama dengan atom oksigen membentuk cincin beranggota
lima. Atom karbon yang tersisa melekat dua atom hidrogen dan terletak di
luar cincin. Gugus-gugus hidroksil pada atom karbon ketiga dan kelima bebas
untuk melekatkan atom fosfat. Akibatnya hanya dua atom fosfat dapat
menempel gula deoksiribosa. Deoksiribosa ditambah basa protein yang dapat
berupa purin atau bentuk piramidin deoksiribonukleosida. Ketika atom fosfat
melekat pada deoksiribonukleosida membentuk asam deoksiribonukleat atau
DNA. DNA adalah rumah penyimpanan informasi genetik dalam semua
organisme hidup. Setiap organisme memiliki DNA yang berbeda yang
bertanggung

jawab

untuk

fitur

karakteristik

spesies

atau

organisme.

Perubahan molekul DNA membawa perubahan dalam genetik dari organisme.


DNA adalah struktur heliks ganda terdiri dari nukleotida yang melekat dalam
bentuk spiral. Nukleotida terdiri dari basa nitrogen, gula pentosa dan fosfat.
Susunan basa nitrogen membentuk kode genetik untuk organisme itu.

Secara ringkas, ribosa dan deoksiribosa adalah gula sederhana yang


merupakan

bagian

dari

asam

nukleat

yang

merupakan

salah

satu

makromolekul penting hadir di semua organisme hidup. Sama seperti protein


dan karbohidrat, asam nukleat juga penting bagi kelangsungan hidup semua
organisme hidup.

Pengertian Deoksiribosa
17 February 2015 alistigna Biologi No comments

Deoksiribosa adalah sebuah struktur cincin gula pentosa berasal dari ribosa. Deoksiribosa (2deoksiribosa) adalah gula yang ditemukan dalam DNA.

Gula yang ditemukan pada asam nukleat adalah gula pentosa; gula pentosa memiliki lima atom
karbon. Kombinasi basa dan gula disebut nukleosida. Ribosa, ditemukan pada RNA, adalah gula
normal, dengan satu atom oksigen melekat pada setiap atom karbon.
Deoksiribosa, ditemukan dalam DNA, adalah gula yang dimodifikasi, kurang satu atom oksigen
(maka namanya deoksi). Perbedaan dari satu atom oksigen penting bagi enzim yang
mengenali DNA dan RNA, karena memungkinkan dua molekul ini akan mudah dibedakan dalam
organisme.

annisaretno

Entries (RSS)

Comments (RSS)

Home
About
tugas penkom
Elusi

restriksi

Posted by: annisaretno15 on: April 20, 2011

In: genmol

Leave a Comment

Nama : Annisa Retno F.


Asisten :
NRP : G34080114
Rian Pratiwi (G34070045)
Tanggal : 21 Maret 2011
Lida P.
(G34070062)
Lab Bio-4
Yulita F.
(G34062968)
PEMOTONGAN DNA DENGAN ENZIM RESTRIKSI
Pendahuluan
Teknologi DNA rekombinan merupakan suatu teknologi yang dapat diterapkan sebagai pendekatan
dalam mengatasi masalah mengenai pemurnian protein dan materi lainnya dari suatu organisme
dalam jumlah besar. Salah satu teknik yang digunakan dalam teknologi DNA rekombinan adalah
pemotongan DNA dengan melibatkan beberapa enzim, diantaranya DNA polimerase, ligase, enzim
yang memodifikasi ujung akhir nukleotida dan nuklease. Enzim restriksi adalah enzim yang
bekerja untuk memotong fragmen DNA pada posisi di antara atau di luar sekuen yang
dikenalinya tersebut pada situs spesifik (Muladno 2002).
Enzim restriksi memotong DNA double strands dengan memutus ikatan kovalen di antara
phosphat dari satu deoksiribonukleotida degan gula dari deoksiribonukleotida yang
berbatasan dengannya. Terdapat dua tipe hasil pemotongan, ujung rata (blunt end) dan
ujung kohesif (sticky end). Salah satu contoh enzim retriksi adalah Enzim EcoRI yang telah
diisolasi pertama kali oleh Herbert Boyer pada tahun 1969 dari bakteri Escherichia coli.
Enzim EcoR1memotong DNA pada bagian yang urutan basanya adalah GAATTC ( sekuens pengenal
bagi EcoRI adalah GAATTC ). Didalam sekuens pengenal tersebut, Enzim EcoRI memotongnya
tidak pada sembarang situs tetapi hanya memotong pada bagian atau situs anara G dan A (Jusuf
2001).
Tujuan
Mengetahui dan melakukan pemotongan DNA dengan enzim restriksi.
Metode
Restriksi dilakukan dengan menggunakan komposisi yaitu DNA 4 l, enzimEcoR1 0,5 l, 2 l 10x
buffer EcoR1, serta ddH2O 13,5 l, sehingga larutan sampel yang diperoleh adalah 20 l di
dalam masingmasing tabung. Kemudian larutan diinkubasi pada suhu 370C selama semalam
dan dielektroforesis pada gel agarosa.
Hasil percobaan
Gambar hasil elektroforesis pada gel agarosa
Pembahasan

Enzim restriksi yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu EcoR1. EnzimEcoR1 memotong DNA
pada bagian yang urutan basanya adalah GAATTC dan hanya memotong pada bagian atau situs
anara G dan A (Jusuf 2001). Terdapat beberapa faktor kunci yang harus diperhatikan untuk
melakukan pemotongan dengan enzim restriksi (enzyme digestion). Di antaranya adalah jumlah
DNA, enzim, dan buffer yang benar dalam volume reaksi total yang sesuai. Satu unit enzim
restriksi akan memotong 1 ug DNA secara sempurna dalam 50 ul reaksi selama 1 jam. Enzim
restriksi merupakan enzim yang tidak stabil. Oleh karena itu, sebaiknya disimpan pada suhu -20C
untuk sebagian besar enzim (Gaffar 2007).
Untuk membuat konstruksi plasmid rekombinan yang baru, biasanya disiapkan vektor (plasmid)
dan insert. Agar insert dapat masuk dan menyisip ke dalam vektor pada posisi dan orientasi yang
benar, maka perlu dilakukan pemotongan dengan enzim restriksi. Enzim restriksi bisa
menghasilkan dua macam potongan, yaitu ujung tumpul (blunt end) dan kohesif (sticky end).
Ujung potongan yang kohesif sangat menguntungkan karena pasangan insert dan vekor akan
dapat diligasi jika dipotong dengan enzim restriksi yang sama. Pada umumnya vektor berukuran
lebih besar daripada insert (Stansfield et al. 2003).
Pada praktikum menggunakan beberapa larutan seperti buffer 10x dan ddH 2O. Larutan tersebut
memiliki fungsi masing-masing. Penambahan ddH2O adalah untuk pemurnian dan proses vakum.
Sedangkan fungsi buffer untuk mempertahankan pH pada nilai tertentu agar DNA tidak
terdegradasi dengan penambahan bahan lainnya (Muladno 2002).
Vektor berada di atas dan insert berada di bawah vektor. Hal ini karena ukuran vektor yang lebih
besar dibandingkan insert yang menyebabkan pergerakan pada elektroforesis lebih lambat.
Sedangkan ukuran insert lebih kecil yang menyebabkan pergerakan pada elektroforesis lebih
cepat. Hasil percobaan menunjukkan bahwa terlihat pita-pita DNA ketika dielektroforesis. Semua
sumur terlihat pendaran pita-pita DNA vektor dan insert.
Simpulan
Pemotongan fragmen DNA dengan enzim restriksi EcoR1 telah berhasil dilakukan. Hal ini dapat
dilihat dari terbentuknya pendaran pita-pita DNA vektor dan insert di semua sumur. Vektor berada
di atas insert karena ukuran vektor yang lebih besar dibandingkan ukuran insert yang lebih kecil.
Daftar pustaka
Gaffar S. 2007. Buku Ajar Bioteknologi Molekul. Bandung: Universitas Padjajaran.
Jusuf M. 2001. Genetika I Struktur dan Ekspresi Gen. Bogor: Sagung Seto.
Muladno. 2002. Seputar Teknologi Rekayasa Genetika. Bogor: Pustaka Wirausaha Muda.
Stansfield WD, Colome JS, Cano RJ. 2003. Theory and Problems of Molecular and Cell Biology. New
York: McGraw-Hill Companies.
About these ads
Loading...
Related

ElusiIn "genmol"
laporan genmolIn "genmol"
ISOLASI PLASMID DAN ELEKTROFORESIS PADA GEL AGAROSEIn "genmol"

Leave a Reply

annisaretnofitriani

calendar

April 2011
M

Mar

May
1

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

26

27

28

29

30

categories

genmol
iling
lirik lagu
penkom
Uncategorized

Blogroll

Brenda Kristi
DEPARTEMEN BIOLOGI
facebook
Fania Rahmanawati
Himabio IPB
IPB
kulon ilkom
twitter
Create a free website or blog at WordPress.com.
The Albeo Theme.

Follow

Follow annisaretno
Get every new post delivered to your Inbox.

Sign me up

Build a website with WordPress.com

puspalarasati
real action for a better world

Home
About
JUN

PEMOTONGAN DNA DENGAN


ENZIM RETRIKSI
Posted on June 9, 2011 by puspalarasati

Standard
Pendahuluan

Enzim restriksi adalah enzim yang bekerja untuk memotong fragmen DNA pada situs spesifik (Sunatmo 2009).
Sekuen pengenalan atau situs pengenalan merupakan sekuen DNA yang menjadi tempat menempelnya enzim
restriksi dan melakukan pemotongan pada sekuen tersebut (Pray 2008). Setiap enzim
mempunyai sekuens pengenalan yang unik pada utas DNA, biasanya sepanjang 4-6 pasang basa (Philips 2010).
Situs pengenalan bersifat palindrome, merupakan daerah yang memiliki urutan basa yang sama dengan utas
pasangannya jika dibaca dari arah yang sama yaitu 5 3 (Suharsono & Widyastuti 2006).
Enzim restriksi memotong DNA double strands dengan memutus ikatan kovalen di antara fospat dari satu
deoksiribonukleotida dengan gula dari deoksiribonukleotida yang berbatasan dengannya. Terdapat dua tipe hasil
pemotongan, ujung rata (blunt end) dan ujung kohesif (sticky end). Ujung rata (blunt end) dihasilkan ketika dua
utas molekul dipotong pada posisi yang sama, bagian akhirnya rata dan tidak ada nukleotida yang tidak
berpasangan. Ujung kohesif (sticky end) dihasilkan ketika setiap molekul DNA dipotong pada posisi yang tidak
sama sehingga salah satu utas (5 atau 3) menggantung dengan beberapa nukleotida. Akhiran single
strand yang tidak rata ini dapat berpasangan secara spontan dengan basa pasangannya sehingga
disebut sticky (mudah lengket) atau kohesif (Suharsono dan Widyastuti, 2006).
Enzim restriksi memiliki tiga tipe, tipe I memotong DNA secara acak dan jauh dari sekuens pengenalannya, tipe II
memotong DNA dekat atau pada situs pengenalan, enzim tipe II yang umum digunakan adalah HhaI, HindIII,
EcoRI, dan NotI (Sasnauskas G et al. 2007). Tipe III tidak digunakan dalam laboratorium. Hal ini dikarenakan
enzim ini memotong di luar situs pengenalan dan membutuhkan dua sekuen dengan orientasi berlawanan pada
DNA yang sama untuk menyelesaikan pemotongan sehingga enzim ini jarang menghasilkan potongan sempurna
(Rinehart 2005). Enzim restriksi EcoRI mendeskripsikan bakteri Escherichia coli strain RY13 dan Urutan I enzim
yang ditemukan pada bakteri ini. Enzim ini termasuk subtipe ortodoks, yang memotong pada situs pengenalan
urutan heksanukleotida 5- GAATTC-3 (Pingoud & Jeltsch 2001).

Tujuan
Mengetahui dan melakukan pemotongan DNA dengan enzim restriksi.

Metode
Restriksi dilakukan dengan menggunakan sampel dengan komposisi 4 l DNA plasmid, 2 l buffer 10x, 0.5 l
enzim EcoRI dan 13,5 l ddH2O, sehingga larutan sampel yang diperoleh adalah 20 l di dalam masingmasing
tabung. Kemudian, larutan diinkubasi pada suhu 370C selama satu malam, kemudian di elektroforesis 30 menit
dalam gel agarosa dan difoto serta dianalisis.

Pembahasan

Enzim restriksi yang digunakan pada percobaan ini adalah EcoRI. Enzim EcoRI memotong DNA pada bagian
yang urutan basanya adalah GAATTC. Di dalam sekuens pengenal tersebut, enzim EcoRI memotongnya tidak
pada sembarang situs tetapi hanya memotong pada bagian atau situs antara G dan A. Sebagai akibatnya,
potongan-potongan atau fragmen-fragmen DNA utas ganda yang dihasilkan akan memiliki ujung berutas tunggal
(Pingoud & Jeltsch 2001).
Visualisasi hasil pemotongan DNA restriksi terdapat vektor dan fragmen DNA. Vektor biasanya berukuran lebih
besar karena vektor biasanya berbentuk Nicked open circular yang merupakan DNA dengan satu untai yang
terpotong. Sedangkan fragmen atau insert kemungkinan DNAnya berbentuk linear yang merupakan DNA dengan
ujung bebas dan kedua untai yang telah terpotong (Brown 1991). Bentuk DNA inilah yang menyebabkan
kecepatan DNA plasmid menjadi berbeda-beda. Semakin kecil ukuran DNA maka semakin cepat terjadinya
migrasi. Hal ini yang menyebabkan DNA vektor berada di atas dan DNA insert atau fragmen berada di bawah.
Hasil foto elektroforesis pemotongan DNA terlihat berhasil seluruhnya karena terbentuk dua bagian antara vektor
dan insert yang berbeda letaknya dalam gel agarosa, walaupun ketajaman gambar tidak terlalu jelas. Perbedaan
tebal tipisnya fragmen DNA baik vektor atau insert dipengaruhi dari jumlah molekul DNA yang terisolasi, semakin
banyak maka akan semakin terlihat jelas berpendarnya, begitupula sebaliknya.
Enzim restriksi pada umumnya bekerja pada pH 7.4, suhu 370C dan memerlukan bermacam-macam
kekuatan ionik, tergantung dari jenis enzimnya. Beberapa enzim memerlukan optimasi khusus agar proses
restriksi berjalan dengan baik, biasanya dikemas bersama dengan 10x larutan penyangga reaksi yang telah
dioptimasi. EcoRI memiliki kandungan garam tinggi namun aktif pada keadaan garam sedang sehingga
digunakan larutan penyangga KCl dan NaCl. Kondisi optimal ketika melakukan proses digesti sangat
penting. Karena jika kondisi optimal tidak tercapai, enzim akan memotong secara tidak normal (Rinehart 2005).

Simpulan

Pemotongan DNA berhasil dilakukan dengan bantuan enzim EcoRI, sehingga terbentuk dua bagian, vektor dan
insert. Semakin kecil ukuran DNA maka semakin cepat terjadinya migrasi. Hal ini yang menyebabkan DNA vektor
berada di atas dan DNA insert atau fragmen berada di bawah karena vektor berukuran lebih besar daripada
insert.
About these ads

DIET SEHAT
PEDULI NUTRISI

Generasi Biologi

HOME
PROFIL
EBOOK BIOLOGI

Komunitas

Fans Page

Group

KATEGORI

anatomy (3)

Artikel (17)

Astrobiology (1)

Biodiversitas (5)

Biofisika (4)

Bioinformatika (3)

Biokimia (7)

Biologi Molekular (18)

Biologi SMA (29)

BioMath (2)

BioReligi (1)

BioSpiritual (2)

Bioteknologi (7)

Botani (7)

Connectome (3)

E-Book Biologi (99)

Ekspedisi (4)

Enzimology (3)

Evolusi (1)

filsafat (1)

Fisiologi Hewan (6)

Fisiologi Tumbuhan (10)

Forensik (2)

Genetika (9)

Global Warming (2)

Histologi (2)

Kesehatan (14)

Laboratorium (3)

Lingkungan (9)

Mikrobiologi (2)

Mikroteknik (7)

Neurosains (1)

Nutrisi (4)

Rekayasa Genetika (3)

Spesies Baru (5)

Virologi (5)

zoologi (14)

COPYRIGHT THIS BLOG

ENZIM RESTRIKSI
Rabu, September 12, 2012 Biokimia, Biologi Molekular, Enzimology, Genetika 1 comment

Asam nukleat baik DNA maupun RNA mampu dipotong dengan


menggunakan suatu enzim yaitu nuklease. Enzim nuklease yang mampu
memotong RNA disebut ribonuklease atau Rnase, sementara enzim yang
mampu memotong DNA disebut deoksiribonuklease atau Dnase. Beberapa
nuklease hanya memotong urutan asam nukleat yang single strand dan apa pula
yang mampu memotong asam nukleat yang double strand. Nuklease ada dua
macam
yakni eksonuklease yang
mampu
memotong
molekul
asam
nukleat single strand atau beberapa oligonukleotida pendek yang hanya
mengenali salah satu ujung asam nukleat, yaitu ujung 5 atau ujung 3;
sementara endonuklease mampu memotong asam nukleat di dareah tengah
daru sekuens asam nukleat yang mampu mengenali daerah spesifik pada urutan
asam nukleat (Clark, 2010; Howe, 2007; Murray et al., 2009).

Salah tujuan untuk memperoleh suatu daerah DNA dalam suatu genom
adalah untuk melakukan perbanyakan (kloning). Untuk memperoleh suatu urutan
DNA tersebut maka dilakukan pemotongan genom DNA menjadi fragmenfragmen dengan menggunakan enzim tertentu yang mampu memotong ikatan
fosfodiaeter pada untaian DNA tersebut yakni berupaenzim restriksi. Enzim
restriksi yang diproduksi oleh bakteri dinamakan endonuklease yang secara
tipikal mampu mengenali 4 8 bp urutan nukleotida yang spesifik. Urutan
nukleotida yang spesifik tersebut dinamakanrestriction sites yang secara umum
merupakan sekuens palindromic (run back) yang pendek dengan pola urutan
sekuens yang sama ketika dibaca pada arah 5 3 (Howe, 2007; Lodish et al.,
2003; Ream et al., 2003). Pada Gambar1 ditunjukkan enzim EcoRI yang mampu
mengenali enam urutan nukleotida spesifik yang kemudian dipotong menjadi
dua. Sementara beberapa contoh enzim restriksi dengan daerah spesifikny
disajikan pada Tabel 1.

Gambar 1. Suatu double strand dari DNA yang dipotong oleh enzim
restriksi EcoRI (Lodge et al., 2007).

Tabel 1. Beberapa contoh


(Lehninger et al., 2000).

endonuklease

dengan

daerah

spesifiknya

Enzim restriksi endonuklease dibagi menjadi tiga tipe dengan karakteristik


yang berbeda-beda dan disajikan dalam Tabel 2.

Tabel 2. Karakteristik dari masing-masing tipe endonuklease (Howe, 2007;


Reece, 2004).

Adapun cara kerja enzim endonuklease tersebut berbeda-beda. Enzim


endonuklease tipe II telah diketahui strukturalnya yang sisi katalitiknya tersusun
atas 5 macam protein sekunder dalam bentuk -sheet yang diapit oleh 2 protein
sekunder dalam bentuk -heliks (Gambar 2). Enzim restriksi endonuklease
tersebut dapat melakukan scanning pada untain molekul DNA jika tidak
menemukan restriction sites yang spesifik. Peristiwa tersebut dinamakan
mekanisme sliding. Mekanisme sliding tersebut melibatkan pergerakan di
sepanjang lekukan DNA. Namun enzim restriksi endonuklease tersebut akan
mengubah konformasinya ketika mengenali daerah restriction sites yang
spesifik. Ketika sudah mengenali daerah spesifik, maka enzim tersebut akan
memotong dua ikatan gula deoksiribosa dengan fosfat daridouble helix DNA
yang berbeda dan menghasilkan gugus 3 hidroksil (OH) dan gugus 5 fosfat
(PO4-). Selanjutnya DNA tersebut menjadi fragmen-fragmen yang sesuai dengan
daerah pemotongannya. Enzim endonuklease tidak selamanya memotong DNA
menjadi fragmen yang ujungnya simetris (blunt ends), namun ada juga yang
ujungnya asimetris (sticky ends) (Gambar 3). Pola potongan simetris atau
tidaknya tergantung kinerja enzim endonuklease seperti yang tertera pada Tabel
1(Allison, 2007; Reece, 2004).

Gambar 2. Struktur enzim restriksi BamHI yang mengikat DNA. Enzim tersebut
mengenali double strand dari DNA dengan sekuens spesifik 5-GGATCC-3, yang
selanjutnya memecah ikatan fosfodiester antara dua residu G. Hasilnya adalah
berupa dua fragmen yang ujungnya sticky ends. Pada gambar tersebut warna
hijau dan biru menunjukkan subunit protein dimer yang identik (Reece, 2007).

Gambar 3. Contoh pola pemotongan enzim restriksi endonuklease. Enzim


tersebut menghidrolisis ikatan fosfodiester yang menghasilkan formasi 5
PO4 dan 3OH yang bagian terminalnya berbentuk asimetris atau sticky
ends (BamHI) dan bentuk simetris atau blunt ends (SmaI) (Allison, 2007).

Enzim BamHI ini memiliki kofaktor berupa ion Mg 2+, sehingga dalam
prosedur protokol restriksi suatu sekuens DNA terkadang diberi MgCl. Kation
bivalen Mg2+ dari MgCl tersebut berfungsi dalam proses pemotongan plasmid
yang dibutuhkan untuk meningkatkan aktivitas enzim restriksi (Ausubel, 2003;
Reece, 2004). Adapun kinerja enzim BamHI tersebut mampu memotong ikatan
fosfodiester pada urutan DNA pada sisi:
5 GG-A-T-C-C 3
3 C-C-T-A-GG 5
Enzim restriksi tersebut mampu mengenali urutan nukleotida yang sama
(G-G), sehingga BamHI disebut juga sebagai isoschizomer. Hasil potongan oleh
enzim BamHI berupa formasi 5PO4 dan 3OH yang bagian terminalnya
berbentuk asimetris atau sticky ends. (Ausubel, 2003; Becker et al., 1996).
Enzim BamHI bekerja dengan cara melakukan scanning sekuens nonspesifik di sepanjang DNA dengan cara meluncur (sliding), setelah itu ketika
enzim tersebut menemukan sekuens spesifik berupa 5 G-G-A-T-C-C 3 maka akan
berupa konformasinyan dan sisi katatiliknya bekerja untuk memotong ikatan
fosfodiester antara nukleotida G menjadi fragmen yang terpisah (Allison, 2007).

Karir Lampung Network

KarirLampung.com

LokerPalembang.com

PintarBiologi.com

Facebook

Twitter

Google Plus

Linkedin

Pinterest

YouTube

RSS

Pintar Biologi
Belajar Biologi | Belajar Sains

Home
About Us
Contact Us
Privacy Policy
Sitemap

Beranda Biologi SMA Genetics Mutasi Mutasi; Pengertian, Jenis dan


Contohnya

Mutasi; Pengertian, Jenis dan Contohnya


TUESDAY, NOVEMBER 25, 2014
Bagikan :
Advertisement
Advertisements

PintarBiologi.com - Mutasi; Pengertian, Jenis dan Contohnya -

Pengertian
Mutasi adalah perubahan materi genetik (gen atau kromosom) suatu sel yang
diwariskan kepada keturunannya. Mutasi dapat disebabkan oleh kesalahan replikasi
materi genetika selama pembelahan sel oleh radiasi, bahan kimia (mutagen), atau
virus, atau dapat terjadi selama proses meiosis. Terdapat dua jenis mutasi, yaitu

1. Mutasi gen (Point mutation)


Mutasi gen ialah perubahan kimiawi pada satu atau beberapa pasangan basa dalam
satu gen tunggal yang menyebabkan perubahan sifat individu tanpa perubahan
jumlah dan susunan kromosomnya. Mutasi gen dapat terjadi melalui berbagai cara,
diantaranya :
Penggantian/substitusi pasangan basa; terjadi karena penggantian satu nukleotida
dengan pasangannya di dalam untaian DNA komplementer dengan pasangan
nukleotida lain. Contoh; anemia bulan sabit.

Gambar 1. Mutasi yang terjadi karena adanya penggantian basa Timin oleh adenine
sehingga terjadi penggantian satu tempat yaitu asam amino glutamat digantikan
oleh valin. Mutasi ini menyebabkan hemoglobin bulan sabit (Sumber: Campbell I).
Insersi dan delesi; Insersi merupakan penyisipan atau penambahan satu atau lebih
nukleotida ke dalam rantai polinukleotida. Delesi adalah pengurangan satu atau
lebih pasangan nukleotida pada suatu gen saat replikasi DNA.

2. Mutasi Kromosom
Mutasi kromosom adalah perubahan yang terjadi pada kromosom yang disertai
dengan perubahan struktur dan jumlah kromosom. Mutasi kromosom dibedakan ke
dalam dua jenis, yaitu :
a). Perubahan struktur kromosom (aberasi kromosom). Mutasi ini
menyebabkan kerusakan (aberasi) pada bentuk kromosom, diantaranya:
1. Translokasi adalah pemindahan sebagian dari segmen kromosom ke kromosom
lainnya yang bukan kromosom homolognya
2. Duplikasi terjadi karena adanya segmen kromosom yang mengakibatkan jumlah
segmen kromosom lebih banyak dari kromosom aslinya. Berikut ini contoh duplikasi.
3. Delesi adalah mutasi yang terjadi karena sebagian segmen kromosom lenyap
sehingga kromosom kekurangan segmen.
4. Inversi adalah mutasi yang terjadi karena selama meiosis kromosom terpilin dan
terjadinya kiasma, sehingga terjadi perubahan letak/kedudukan gen-gen.

Advertisement

b). Perubahan Jumlah Kromosom


Mutasi yang terjadi ditandai dengan perubahan jumlah kromosom individual atau
dalam jumlah perangkat kromosom. Euploid terjadi karena adanya penambahan
atau pengurangan perangkat kromosom (genom). Contoh: haploid, diploid, triploid,
tetraploid, poliploid dll. Aneuploid terjadi karena adanya perubahan salah satu
kromosom dari genom individu Contoh; monosomik, Nullisomik Trisomik dan
Tetrasomik

Mutasi Alami dan Mutasi Buatan


1. Mutasi alam atau mutasi spontan biasanya terjadi karena kesalahan pemasangan
basa pada waktu proses replikasi, perbaikan, atau rekombinasi DNA sehingga
mengarah pada terjadinya substitusi, insersi atau delesi pasangan basa. Selain itu
mutasi secara alami dapat terjadi karena radiasi radioaktif alam, sinar kosmis dan
sinar ultraviolet.
2. Mutasi buatan, yaitu mutasi yang ditimbulkan akibat campur tangan manusia
(telah direncancanakan). Dengan memperlakukan sel menggunakan zat-zat kimia,
sinar-X, sinar gamma, sinar alfa, dan beberapa jenis radiasi hasil sampingan tenaga
nuklir

Implikasi Mutasi Alami dan Buatan


1. Sindrom Down, terjadi ketidaknormalan pada kromosom autosom, sindrom ini
terjadi karena adanya tiga kromosom pada kromosom no.21 (trisomi). ciri-ciri
sindrom ini
- Kariotipe 47 XX atau 47XY.
- IQ rendah ( 40)
- Mata sipit, gigi keci-kecil dan jarang, liur selalu menetes, daya tahan terhadap
penyakit menurun
- Mongolism, bertelapak tebal seperti telapak kera.
2. Sindrom Klinefelter, terjadi ketidaknormalan pada kromosom seks dan
biasanya diderita oleh laki-laki. Ciri-cirinya :
- mempunyai kelebihan kromosom seks-X, sehingga kariotipenya 47 XXY.
- Lelaki dengan testis kecil, gagal menghasilkan sperma.
- Rambut dada tidak tumbuh.
- Suara dan dada seperti wanita, memiliki tangan dan kaki yang panjang.
3. Sindrom Turner, terjadi ketidaknormalan pada kromosom seks yaitu adanya
pengurangan satu kromosom seks dan biasanya diderita oleh wanita. Ciri-cirinya :
- Hanya mempunyai satu kromosom seks, dengan kariotipenya 45X0.
- Perempuan mandul, bentuk kaki X, dada dan ovarium tidak berkembang.
- Tidak mengalami haid.
- Ukuran tubuh kecil, IQ rendah.
Selain merugikan beberapa mutasi dapat berguna bagi manusia, diantaranya :
a. Mutasi pada mikroorganisme dapat meningkatkan hasil antibiotika, misalnya
mutan Penicillium penghasil antibiotik penisilin.
b. Meningkatkan hasil panen produksi pangan dengan membuat hasil panen poliploid
dengan mutasi induksi.
c. Mutasi melalui radiasi menggunakan radioisotop dapat digunakan untuk
memeriksa proses biologi, misalnya transfer elektron pada fotosintesis.

Shinta D Kurnia
welcome to my blog , hope it could be useful for you .. ^_^
Friday, June 15, 2012

kloning dalam pembuatan insulin

APLIKASI KLONING GEN DALAM PROSES PEMBUATAN INSULIN


A. Pengertian Kloning
Kloning sebenarnya memiliki arti yang sangat penting untuk menghasilkan
organisme baru yang unggul. Kemajuan kloning pada tumbuhan dan hewan
disambut baik oleh umat manusia. Tetapi pada saat kloning berkembang dan
mulai menuju kloning terhadap manusia, mulai muncul berbagai pendapat dan
perdebatan yang terjadi dikalangan ilmuan, politisi, masyarakat, dan tokoh
agama. Ada yang mendukung dan ada pula yang menolak adanya kloning pada
manusia. Berbagai kalangan yang mendukung beralasan keberhasilan kloning
gen pada manusia dapat menghasilkan sel, jaringan, dan organ yang dapat
digunakan untuk mengobati berbagai penyakit, seperti diabetes dan leukimia.
Kloning

adalah

suatu

teknik

reproduksi

secara

aseksual

yang

menggunakan sel tubuh (sel somatis) makhluk hidup. Kloning didasarkan pada
konsep bahwa sel makhluk hidup bersifat totipotensi, yaitu kemampuan setiap
sel yang darimana saja sel tersebut diambil apabila diletakkan dilingkungan yang
sesuai akan tumbuh menjadi individu baru yang sempurna. Kloning berasal dari
bahasa Yunani Kuno, yaitu Clone yang artinya ranting atau cangkokan.
Istilah Clone atau klona pertama kali diusulkan pada tahun 1903 oleh Herbert
Webber.
Seperti telah dijelaskan diatas, kloning adalah tindakan menggandakan
atau mendapatkan keturunan tanpa fertilisasi, berasal dari induk yang sama,
mempunyai susunan (jumlah dan gen) yang sama dan kemungkinan besar
mempunyai fenotip yang sama. Berdasarkan pengertian diatas, terdapat
beberapa jenis kloning yang dikenal, antara lain :

1.

Kloning DNA Rekombinan


Kloning ini merupakan pemindahan sebagian rantai DNA yang diinginkan dari
suatu organisme pada satu element replikasi genetik. Salah satu contohnya
adalah penyisipan DNA dalam plasmid bakteri untuk mengklon satu gen.

2.

Kloning Reproduktif
Merupakan suatu teknologi yang biasa digunakan untuk menghasilkan hewan
yang sama, contohnya Dolly dengan suatu proses yang disebut dengan SCNT
(Somatic Cell Nuclear Transfer).

3.

Kloning Terapeutik
Kloning Terapeutik adalah suatu proses kloning gen yang digunakan untuk
memproduksi embrio manusia sebagai bahan penelitian. Tujuan utama dari
proses ini adalah bukan untuk menciptakan manusia baru, akan tetapi untuk
mendapatkan

sel

batang

yang

dapat

digunakan

untuk

mempelajari

perkembangan manusia dan penyembuhan penyakit.

Kemajuan di bidang bioteknologi yang lain diantaranya adalah sintesis


insulin

dengan

bantuan

bakteri

yang

biasa

terdapat

di

usus

besar,

namanyaEscherichia coli. Teknologi dasar proses ini disebut denganteknologi


plasmid.
Insulin adalah hormon yang mengubah glukosa menjadi glikogen, dan
berfungsi mengatur kadar gula darah bersama hormon glukagon. Kekurangan
insulin karena cacat genetik pada pankreas, menyebabkan seseorang menderita
diabetes melitus (kencing manis) yang berdampak sangat luas terhadap
kesehatan, mulai kebutaan hingga impotensi.
Sebelum ditemukan teknik sintesis insulin, hormon ini hanya bisa
diperoleh dari ekstraksi pankreas babi atau sapi, dan sangat sedikit insulin bisa
diperoleh. Setelah ditemukan teknik sintesis insulin di bidang bioteknologi inilah,
harga insulin bisa ditekan dengan sangat drastis sehingga bisa membantu para
penderita diabetes melitus.

Langkah-langkah kloning gen dalam proses pembuatan insulin :

1.

Pada proses pembuatan insulin ini, langkah pertama adalah mengisolasi


plasmid dari E. coli. Plasmid adalah salah satu bahan genetik bakteri yang
berupa untaian DNA berbentuk lingkaran kecil. Selain plasmid, bakteri juga
memiliki kromosom. Keunikan plasmid ini adalah: ia bisa keluar-masuk tubuh
bakteri, dan bahkan sering dipertukarkan antar bakteri.

2.

Pada langkah kedua ini plasmid yang telah diisolir dipotong pada segmen
tertentu menggunakan enzim restriksi endonuklease. Sementara itu DNA yang di
isolasi dari sel pankreas dipotong pada suatu segmen untuk mengambil segmen
pengkode insulin. Pemotongan dilakukan dengan enzim yang sama.

3.

DNA kode insulin tersebut disambungkan pada plasmid menggunakan bantuan


enzim DNA ligase. Hasilnya adalah kombinasi DNA kode insulin dengan plasmid
bakteri yang disebut DNA rekombinan.

4.

DNA rekombinan yang terbentuk disisipkan kembali ke sel bakteri.

5.

Bila bakteri E. coli berbiak, maka akan dihasilkan koloni bakteri yang memiliki
DNA rekombinan.

Gambar. Langkah-langkah kloning gen dalam proses


pembuatan insulin

Gambar. Metode produksi insulin dengan menggunakan plasmid bakteri

Metode produksi insulin dengan menggunakan plasmid bakteri :


1.

Diperlukan adanya bakteri Escherichia coliyang akan dipakai plasmidnya


(bagian DNA yang mampu memperbanyak diri)

2.

Diperlukan adanya gen manusia penghasil insulin. Gen ini akan dipotong oleh
enzim restriksi (pemotong)

3.

Potongan gen penghasil insulin akan disambungkan ke plasmid DNAEscherichia


coli, dengan bantuan enzim ligase (penyambung)

4.

Hasil penyambungan ini akan ditanamkan ke dalam sel bakteri Escherichia coli

5.

Bakteri dibiakkan dalam medium khusus. Karena bakteri telah memiliki gen
penghasil insulin, maka akan meproduksi hormon insulin

Pondok Ilmu

HABITAT ORANG-ORANG PENGEMBANG ILMU

Search this

home
about me
teknik sterilisasi komersial dalam industri pangan
PEMANFAATAN FERMENTASI PADA BAKTERI MENGGUNAKAN LIMBAH KOTORAN
ORGANISME UNTUK MENGHASILKAN ALTERNATIF BAHAN BAKAR MASA DEPAN
PEMANFAATAN RHIZOBIUM SP GUNA MENYUBURKAN TANAH UNTUK MENINGKATKAN
KUALITAS PERTANIAN DI INDONESIA

28NOV

Rekayasa Genetika Bakteri Bacillus thuringiensis


dalam Perakitan Tanaman Transgenik Tahan Hama
Posted November 28, 2011 by aguskrisno in Uncategorized. Leave a Comment

Rekayasa genetika adalah proses mengidentifikasi dan mengisolasi DNA dari suatu sel hidup atau
mati dan memasukkannya dalam sel hidup lainnya. Rekayasa genetika merupakan suatu cara
memanipulasikan gen untuk menghasilkan makhluk hidup baru dengan sifat yang diinginkan.
Rekayasa genetika disebut juga pencangkokan gen atau rekombinasi DNA. Dalam rekayasa genetika
digunakan DNA untuk menggabungkan sifat makhluk hidup. Hal itu karena DNA dari setiap makhluk
hidup mempunyai struktur yang sama, sehingga dapat direkombinasikan. Selanjutnya DNA tersebut
akan mengatur sifat-sifat makhluk hidup secara turun-temurun.
Rekayasa genetika menjadi kenyataan sejak tahun 1973 ketika dikembangkan teknik untuk
mengisolasi dan menggabungkan potongan-potongan DNA yang tidak sama sehingga menghasilkan
molekul DNA rekombinan yang aktif. Molekul yang telah direkayasa ini dapat dimasukkan kedalam
sel bakteri.
Rekayasa Genetika pada mikroba bertujuan untuk meningkatkan efektivitas kerja mikroba tersebut
(misalnya mikroba untuk fermentasi, pengikat nitrogen udara, meningkatkan kesuburan tanah,
mempercepat proses kompos dan pembuatan makanan ternak, mikroba prebiotik untuk makanan
olahan), dan untuk menghasilkan bahan obat-obatan, tanaman transgenic tahan hama dan
kosmetika, serta Pembuatan insulin manusia dari bakteri ( Sel pancreas yang mempu mensekresi
Insulin digunting , potongan DNA itu disisipkan ke dalam Plasmid bakteri ) DNA rekombinan yang
terbentuk menyatu dengan Plasmid diinjeksikan lagi ke vektor, jika hidup segera di kembangbiaakan.
Prosedur rekayasa genetika dengan menggunakan mikroorganisme adalah sebagai berikut.

1.

Pemurnian DNA/Isolasi gen dengan menghancurkan atau melisiskan semua sel yang
mengandung gen yang ditargetkan, kemudian dipisahkan dengan sentrifuge pada kecepatan
tinggi dan ditambahkan bahan kimia sehingga didapatkan DNA murni. Ada tiga macam sumber
DNA yang dapat diisolasi, yaitu sebagai berikut.
2.
DNA dapat berasal dari total genom organisme yang diinginkan
3.
DNA yang dibuat dari mRNA yang diisolasi dari jaringan tertentu. DNA ini dapat dibuat dari
mRNA dengan menggunakan enzim reserve transcriptase.
4.
DNA dibuat secara invitro dari nukleotida dan enzim polimerase DNA.
1.
Pemecahan DNA : molekul DNA yang besar dipecah dengan menggunakan
gelombang ultrasonic, maka akan dijumpai fragmen random. Dengan menggunakan enzim
khusus bagi fragmen DNA seperti endonuklease restriksi akan diperoleh DNA
intermolekuler dan intramolekuler atau hanya akan didapatkan urutan fragmen DNA
dengan urutan tertentu. Supaya lebih stabil dikaitkan dengan enzim yang disebut T-4 DNA
ligase. Contoh endonuklease restriksi adalah Hind II, Bam H1 dan Eco RI.
2.
Pemindahan gen/transfer DNA pada sel vector yang sesuai:transfer DNA ke bakteri
yang hidup (cloning vector : plasmid, bakteriofage atau kosmid) dapat dengan cara, DNA
asing dipaksakan berintegrasi dengan kromosom menjadi genom. Atau dengan cara gen
asing dapat dikembangkan menjadi suatu bagian yang outonom molekul DNA yang sedang
berkembang. Molekul DNA disebut sebagai vector. Penyambungan ini menggunakan
enzim ligase.
3.
Memasukkan DNA rekombinan/kimera DNA ke dalam sel inang. Sel inang yang
dipakai harus seaman mungkin dan tidak bersifat patologis. Cara memasukkan DNA
rekombinan kedalam sel inang dapat dilakukan dengan cara transformasi, transfeksi, DNA
packaging dan micro injection.
4.
Identifikasi/penapisan dan seleksi DNA yang baru diperoleh dari cirri klon
rekombinan. Untuk menyeleksi DNA baru hasil rekombinan agar sesuai dengan yang
diinginkan dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu cara genetic, hibridasi asam nukleat
dan immunokimia.
Bacillus thuringiensis

Bacillus thuringiensis (Bt) adalah bakteri gram


positif yang berbentuk batang, aerobik dan membentuk spora. Banyak strain dari bakteri ini yang
menghasilkan protein yang beracun bagi serangga. Sejak diketahuinya potensi dari protein Kristal /
cry Bt sebagai agen pengendali serangga, berbagai isolatBt dengan berbagai jenis protein kristal yang
dikandungnya telah teridentifikasi. Sampai saat ini telah diidentifikasi protein kristal yang beracun
terhadap larva dari berbagai ordo serangga yang menjadi hama pada tanaman pangan dan
hortikultura. Kebanyakan dari protein kristal tersebut lebih ramah lingkungan karena mempunyai
target yang spesifik sehingga tidak mematikan serangga bukan sasaran dan mudah terurai sehingga
tidak menumpuk dan mencemari lingkungan.
Kristal protein yang bersifat insektisidal ini sering disebut dengan -endotoksin. Kristal ini
sebenarnya hanya merupakan pro-toksin yang jika larut dalam usus serangga akan berubah menjadi
polipeptida yang lebih pendek (27149 kd) serta mempunyai sifat insektisidal. Pada umumnya kristal
Bt di alam bersifat protoksin, karena ada-nya aktivitas proteolisis dalam system pencernaan serangga
dapat mengubah Bt-protoksin menjadi polipeptida yang lebih pendek dan bersifat toksin. Toksin yang
telah aktif berinteraksi dengan sel-sel epithelium di midgut serangga. Bukti-bukti telah menunjukkan
bahwa toksin Bt ini menyebabkan terbentuknya pori-pori (lubang yang sangat kecil) di sel membrane
di saluran pencernaan dan mengganggu keseimbangan osmotik dari sel-sel tersebut. Karena

keseimbangan osmotik terganggu, sel menjadi bengkak dan pecah dan menyebabkan matinya
serangga.Seperti dalam al-quran Allah telah menjelaskan dalam surat An Nahl ayat 13







Artinya : Dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan
berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda(kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran.
Allah telah menciptakan berbagai macam makhluk hidup di bumi ini mulai dari yang bisa dilihat
dengan mata sampai yang kasat mata. Itu merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah. Misalnya saja
bakteri Bacillus thuringiensis yang merupakan makhluk hidup mikroskopis yang diciptakan oleh
Allah yang tidak hanya memberikan dampak negative yaitu menghasilkan racun bagi serangga tetapi
juga memberikan dampak positif yaitu kita dapat mempelajarinya dalam rekayasa genetika.
Tanaman Transgenik
Tanaman transgenik adalah tanaman yang telah disisipi atau memiliki gen asing dari spesiestanaman
yang berbeda atau makhluk hidup lainnya. Penggabungan gen asing ini bertujuan untuk
mendapatkan tanaman dengan sifat-sifat yang diinginkan, misalnya pembuatan tanaman yang tahan
suhu tinggi, suhu rendah, kekeringan, resisten terhadap organisme pengganggu tanaman, serta
kuantitas dan kualitas yang lebih tinggi dari tanaman alami. Sebagian besar rekayasa atau modifikasi
sifat tanaman dilakukan untuk mengatasi kebutuhan pangan penduduk dunia yang semakin
meningkat dan juga permasalahan kekurangan gizi manusia sehingga pembuatan tanaman transgenik
juga menjadi bagian dari pemuliaan tanaman.
Beberapa contoh tanaman transgenik yang dikembangkan di dunia tertera pada tabel dibawah ini

Jenis
Sifat yang telah
Modifikasi
Tanaman
dimodifikasi
Padi
Mengandung
Gen dari tumbuhannarsis, jagung,
provitamin A (beta
danbakteri Erwiniadisisipkan pada
karoten) dalam jumlah kromosom padi
dalam jumlah tinggi

Jagung, Tahan (resisten)


kapas,
terhadap hama.
kentang

Gen toksin Bt dari bakteriBacillus


thuringiensisditransfer ke dalam
tanaman.

Tembaka Tahan terhadap cuaca


u
dingin.

Gen untuk mengatur pertahanan pada


cuaca dingin dari tanamanArabidopsis
thalianaatau dari sianobakteri(Anacyctis
nidulans) dimasukkan ke tembakau.

Tomat

Gen khusus yang


disebutantisenescens ditransfer ke dalam
tomat untuk
menghambat enzimpoligalakturonase(en
zim yang mempercepat kerusakan

Proses pelunakan tomat


diperlambat sehingga
tomat dapat disimpan
lebih lama dan tidak
cepat busuk

Foto

dinding sel tomat). Selain menggunakan


gen dari bakteri E. coli, tomat transgenik
juga dibuat dengan memodifikasi gen
yang telah dimiliknya secara alami.

Kedelai Mengandung asam


Gen resisten herbisida dari
oleat tinggi dan tahan bakteri Agrobacterium galur CP4
terhadap herbisidaglifos dimasukkan ke kedelai dan juga
at. Dengan demikian, digunakan teknologi molekular untuk
ketika disemprot
meningkatkan pembentukan asam oleat.
denganherbisida tersebu
t, hanya gulma di sekitar
kedelai yang akan mati.
Ubi jalar Tahan terhadap penyakit Gen dari selubung virus tertentu
tanaman yang
ditransfer ke dalam ubi jalar dan dibantu
disebabkan virus
dengan teknologiperedaman gen.

Pepaya

Resisten terhadap virus Gen yang menyandikan selubung virus


tertentu,
PRSV ditransfer ke dalam
contohnyaPapaya
tanaman pepaya
ringspot virus(PRSV).

Melon

Buah tidak cepat busuk. Gen baru dari bakteriofag T3 diambil


untuk mengurangi pembentukan
hormonetilen (hormon yang berperan
dalam pematangan buah) dimelon.

Perakitan Tanaman Transgenik Tahan Hama dengan Menggunakan Gen dariBacillus


thuringiensis

Perakitan tanaman transgenic tahan hama


merupakan salah satu bidang yang mendapat perhatian besar dalam perbaikan tanaman. Perakitan
tanaman transgenik tahan hama umumnya mempergunakan gen dari Bacillus thuringiensis (Bt).
Dalam program perakitan tanaman transgenik diperlukan kerja sama antar peneliti dari berbagai
disiplin ilmu, seperti disiplin ilmu serangga (entomologi), kultur jaringan, biologi molekuler, dan
pemuliaan tanaman. Keterkaitan disiplin ilmu ini dalam perakitan tanaman transgenic tahan hama
sangat erat. Peran masing-masing disiplin ilmu dalam perakitan tanaman transgenik tahan hama
diuraikan berikut ini.
1. Entomologi
a. Penentuan jenis hama target dan gen tahan yang akan digunakan
Sebelum tanaman transgenik dirakit, perlu dilakukan penentuan prioritas jenis atau spesies hama
yang akan dikendalikan dengan tanaman transgenik yang akan dirakit. Untuk keperluan ini
umumnya akan dicari hama yang tidak mempunyai sumber gen tahan dari spesies tanaman inangnya,
misalnya hama penggerek batang padi, penggerek batang jagung, hama kepik, dan hama pengisap
polong. Setelah itu ditentukan kandidat gen tahan yang akan dipakai, misalnya Bt-toksin, proteinase
inhibitor (PI) atau gen tahan lainnya (Bahagiawati 2000). Jika pilihan jatuh pada Bt-toksin,
kemudian ditentukan gen Bt atau gen cry yang akan digunakan. Sampai saat ini paling sedikit telah
dikenal enam golongan gen cry dan masing-masing gen mempunyai hama target tertentu. Untuk PI
harus ditentukan kelas PI yang akan digunakan. PI yang digunakan untuk pengendalian hama terdiri
atas tiga kelas, yaitu serine PI, cysteine PI, dan aspartyl PI. Baik Bt-toksin maupun PI dapat
menghambat pertumbuhan serangga dengan mengganggu proses pencernaannya. Untuk mengetahui
insektisida protein yang mempunyai potensi untuk menghambat pertumbuhan hama target dapat
dilakukan percobaan in vitro atau in vivo. Beberapa penelitian in vitro (dalam tabung uji) telah
dilakukan untuk mengetahui pengaruh produk dari suatu gen tahan terhadap enzim-enzim yang
terdapat dalam sistem pencernaan suatu jenis serangga. Penelitian dilakukan dengan mengekstraksi
saluran pencernaan serangga untuk mengisolasi enzim enzimnya. Dari penelitian ini dapat diketahui
jenis enzim pencernaan yang dominan pada spesies hama tersebut dan insektisida protein yang dapat
dipakai untuk menghambat aktivitas pencernaan hama. Penelitian in vivo dapat dilakukan dengan
membuat makanan buatan atau menyemprot tanaman atau bagian tanaman dengan gen produk
(protein) dari kandidat gen, dilanjutkan dengan infestasi serangga target dan pengamatan
pertumbuhan serangga. Dari penelitian ini dapat diketahui potensi insektisida protein dalam
menghambat pertumbuhan serangga, serta dosis yang dibutuhkan untuk dapat membunuh serangga
hama dimaksud.
b. Konfirmasi ketahanan tanaman transgenik tahan hama target
Setelah ditentukan kandidat gen yang akan digunakan dalam proses transformasi, pekerjaan
selanjutnya dapat diserahkan ke disiplin ilmu lain seperti kultur jaringan dan biologi molekuler.
Peran ahli serangga (entomolog) diperlukan kembali apabila tim transformasi telah mendapatkan
tanaman putative transformant. Ahli serangga diperlukan untuk menentukan kemampuan gen yang
terekspresi pada tanaman transgenic dalam menahan perkembangan hama target. Pada kasus-kasus
tertentu, meskipun transgen (gen yang diintroduksi ke tanaman) telah terekspresi pada level yang
tinggi pada tanaman transgenik, namun keberadaannya belum mampu menghambat pertumbuhan
hama target. Setelah dilakukan pengujian di laboratorium dan rumah kaca, penelitian dilanjutkan di
lapangan (uji terbatas pada daerah terisolasi) untuk mengetahui penampilan tanaman transgenik di
lapangan. Pengaruh tanaman transgenic terhadap hama target dan nontarget terutama musuh
alaminya juga harus diketahui untuk memenuhi persyaratan sebelum tanaman transgenik dilepas,

dan juga sebagai bahan dalam perakitan paket pengendalian hama terpadu (PHT) tanaman
transgenik yang akan dilepas tersebut.
c. Perakitan teknologi PHT tanaman transgenic
Peran entomolog selanjutnya diperlukan dalam menentukan paket sistem bercocok tanam tanaman
transgenik tahan hama. Entomolog diharapkan dapat memberikan informasi mengenai cara
memantau hama yang dapat dilakukan oleh petani. Pemantauan ini penting untuk menentukan perlu
atau tidaknya petani menyemprot pestisida untuk mengendalikan hama pada pertanaman tersebut.
Monitoring juga perlu dilakukan pada musuh alami hama yang terdapat pada ekosistem pertanaman
tanaman transgenik itu. Sebagai contoh, sistem paket penanaman kentang transgenik yang
mengandung gen cry 3A telah diajukan oleh Fieldman dan Stone (1997).
2. Kultur Jaringan
Kultur jaringan merupakan disiplin ilmu yang sangat menentukan keberhasilan proses transformasi.
Kultur jaringan merupakan gabungan antara ilmu dan seni dalam menumbuhkan sel tanaman,
jaringan atau organ tanaman dari pohon induk pada media buatan. Kultur jaringan tanaman terbagi
dalam
dua
kelompok
besar,
yaitu
kultur unorganized
tissue dan
kultur organized
tissue. Kultur unorganized tissue terdiri atas beberapa sistem kultur, seperti kultur kalus, kultur
suspensi, kultur protoplas, dan kultur anther, sedangkan kultur organized tissue terdiri atas kultur
meristem, shoottip, node culture, kultur embrio dan root culture. Dalam perakitan tanaman
transgenik, ahli kultur jaringan diperlukan dalam penyediaan sel atau jaringan target, transformasi
dan seleksi, serta regenerasi sel atau jaringan transgenik.
a. Penyediaan sel atau jaringan target
Jika jenis tanaman yang akan ditransformasi telah ditetapkan, langkah berikutnya adalah
menentukan bagian tanaman yang akan digunakan sebagai eksplan serta media untuk induksi kalus
regenerasi atau organogenesis. Jenis media akan menentukan keberhasilan kultur jaringan dan
transformasi. Media ini biasanya terdiri atas vitamin, hormon, asam amino, dan sumber energi dalam
bentuk sukrosa, dan untuk media padat diperlukan agar atau gelating agent lainnya. Media yang
digunakan dalam pembentukan kalus atau undifferentiated tissues berbeda dengan media untuk
pembentukan organ. Hal ini bergantung pada komposisi hormon tumbuh auksin dan sitokinin. Untuk
tanaman padi, jaringan yang sangat responsif dan merupakan sumber sel yang sangat baik untuk
mendapatkan tanaman transgenik padi adalah sel kalus dari embrio. Penggunaan selsel kalus yang
sedang tumbuh aktif memperbanyak diri (actively growing embryogenic calli) dapat menjamin
efisiensi transformasi yang tinggi.
b. Transformasi dan seleksi
Beberapa teknik transformasi yang dikenal adalah elektroforesis, gene-gun, dan dengan
mempergunakan bakteri Agrobakterium.
Sel atau jaringan yang telah tertransformasi dipisahkan dari jaringan yang tidak tertransformasi
untuk menghindarkan terjadinya jaringan yang dichotume. Di samping itu, sel yang tidak
tertransformasi akan tumbuh lebih baik dari sel-sel yang tertransformasi sehingga harus dibuang.
Seleksi dilakukan dengan beberapa kali subkultur sehingga diyakini bahwa jaringan atau sel yang
hidup atau lolos dari seleksi (diseleksi dengan media yang berisi herbisida atau antibiotik)
bukanescape. Jenis agen atau bahan yang digunakan untuk seleksi tergantung pada gen seleksi yang
digunakan. Gen seleksi ini dapat berupa antibiotic seperti neomycin phosphotransferase (NPT II)
yang menyebabkan resistensi terhadap antibiotik kanamisin, atau gen bar yang menyebabkan
resistensi terhadap herbisida seperti basta (PPT) dan bialafos. Di samping selectable
marker,transformasi juga dilakukan dengan menyertakan gen reporter (reporter genes). Ada
beberapareporter genes yang dipakai untuk transformasi, antara lain GUS ((-glucoridase), LUC
(luciferase), dan antosianin.
c. Regenerasi sel atau jaringan transgenic
Jika transformasi dilakukan dengan embriogenesis maka ahli kultur jaringan dituntut untuk dapat
meregenerasikan sel atau jaringan yang sudah tertransformasi itu menjadi plantlet. Pada komoditas
tertentu, regenerasi sel atau jaringan transgenik menjadi plantlet sulit dilakukan sehingga diperlukan
kejelian mata untuk melihat jaringan yang embriogenik. Jaringan embriogenik yang telah
tertransformasi ditumbuhkan pada media regenerasi untuk mendapatkan plantlet yang normal
bentuknya.
3. Biologi Molekuler Tanaman
Disiplin ilmu biologi molekuler sangat diperlukan dalam perakitan tanaman transgenik, terutama
dalam bidang penelitian berikut ini.
1.
Konstruksi dan rekonstruksi plasmid atau vektor. Konstruksi plasmid atau vektor harus cocok
untuk proses transformasi. Konstruksi diperlukan untuk mendapatkan ekspresi transgen yang
tinggi atau optimum. Beberapa komponen dalam plasmid atau vector yang dapat ditukar sesuai
dengan kebutuhan adalah promoter, gen reporter, gen seleksi, dan gen yang akan diintroduksi

itu sendiri. Melalui perakitan ini diharapkan gen yang diintroduksi dapat terekspresi secara
maksimum pada jaringan tanaman.
2.
Konfirmasi keberadaan transgen serta kestabilannya. Konfirmasi keberadaan dan integrasi
transgen dapat dilakukan dengan polymerase chain reaction (PCR) dan Southern-blot. PCR
hanya dapat menginformasikan ada atau tidaknya sekuen transgen sesuai dengan primer yang
dipakai. PCR merupakan cara yang popular digunakan karena dapat menganalisissecara cepat
sampel yang banyak jumlahnya. Meskipun demikian, PCR mempunyai beberapa
kelemahan. Sampel yang positif PCR hanya menunjukkan adanya sekuen yang homolog dengan
primer dan berada pada jarak yang memungkinkan dihasilkannya produk PCR. Namun, hasil
PCR tidak dapat member informasi tentang asal DNA yang teramplifikasi, apakah dari
kontaminan atau dari sampel yang diinginkan. Hasil PCR juga tidak dapat menunjukkan
apakah template tersebut sudah terintegrasi ke dalam genom tanaman atau belum. Penelitian
menunjukkan bahwa hanya 85% dari total tanaman transgenic yang positif PCR juga positif
mengandung DNA dan protein yang dimaksudkan. Untuk mengetahui apakah seluruh basa yang
ada dalam transgen terintegrasi dalam genom tanaman perlu dilakukan Southern-blot.
Southern blot juga dapat menginformasikan jumlah copy gen yang terintegrasi dan pengaturan
kembali pada transgen setelah terintegrasi dalam genom tanaman.
3.
Konfirmasi ekspresi dari gen yang diintroduksi serta kestabilannya. Setelah diketahui ada gen
yang diintroduksi pada tanaman, perlu dilakukan analisis untuk mengetahui apakah gen
tersebut dapat terekspresi pada tanaman target. Analisis dapat dilakukan dengan dotblot(ELISA) maupun Western-blot. Keberadaan suatu transgen pada tanaman belum
menunjukkan bahwa gen tersebut dapat terekspresi. Untuk mengekspresikan dirinya, gen
memerlukan seperangkat sistem untuk memulai proses ekspresi tersebut. Gen atau DNA di
dalam nukleus harus dapat ditranskrip menjadi mRNA. Selanjutnya mRNA ini harus dapat
keluar dari nukleus ke sitoplasma yang kemudian mengadakan proses translasi untuk
menghasilkan protein sesuai dengan template DNA-nya. Dalam proses ekspresi ini banyak hal
yang dapat terjadi sehingga gen tidak dapat menghasilkan protein yang dimaksud. Hal ini
dikenal dengan istilah gene silencing, suatu kasus di mana ditemukan keberadaan sekuen DNA
transgen dalam tanaman transgenic tetapi gen tersebut tidak dapat membentuk protein yang
diinginkan. Beberapa faktor yang diduga menjadi penyebabnya adalah terjadinya metilasi DNA
dan co-suppressing dari sekuen yang homolog Setelah gen yang diintroduksi dapat terintegrasi
dan terekspresi, selanjutnya proses ini memerlukan disiplin ilmu serangga dan pemuliaan
tanaman untuk memastikan gen yang terekpresi pada tanaman transgenik dapat berfungsi
sebagai insektisida dalam pengendalian hama tertentu serta untuk mengetahui kestabilan
transgen.
4. Pemuliaan Tanaman
Sebelum transformasi tanaman dimulai, perlu ditentukan varietas (genotipe)tanaman yang akan
digunakan sebagai target sel atau jaringan untuk ditransformasi. Hal ini disebabkan tidak semua
varietas responsif terhadap kultur jaringan. Setelah transgen dipastikan terkandung dalam tanaman
transgenik, selanjutnya ditentukan apakah transgen tersebut diturunkan pada keturunannya
mengikuti rasio Mendelian. Dalam upaya perbaikan tanaman transgenic perlu dilakukan penyilangan
antara tanaman transgenik dan galur elit untuk mendapatkan tanaman transgenik tahanhama yang
mempunyai sifat agronomi yang diinginkan pula. Untuk maksud tersebut dapat digunakan teknik
molekuler guna menyeleksi keturunan dari tanaman transgenik, seperti seleksi restriction fragment
length polymorphism (RFLP), dan random amplifiedpolymorphic DNA-PCR (RAPD-PCR). Melalui
pemuliaan diharapkan dapat diperoleh tanaman transgenik yang mampu bersaing dengan tanaman
nontransgenik, antara lain dalam potensi hasil tinggi yang dapat dicapai oleh petani.
Cara Perakitan Tanaman Transgenik Tahan Hama

1.

Menentukan prioritas jenis atau spesies hama yang akan dikendalikan dengan tanaman
transgenik yang akan dirakit. Untuk keperluan ini umumnya akan dicari hama yang tidak
mempunyai sumber gen tahan dari spesies tanaman inangnya, misalnya hama penggerek batang
padi, penggerek batang jagung, hama kepik, dan hama pengisap polong. Setelah itu ditentukan
kandidat gen tahan yang akan dipakai, misalnya Bt-toksin, proteinase inhibitor (PI)
2.
Setelah gen yang diinginkan didapat maka dilakukan perbanyakan gen yang disebut dengan
istilah kloning gen. Pada tahapan kloning gen, DNA yang mengkode protein cry akan
dimasukkan ke dalam vektor kloning (agen pembawa DNA), contohnya plasmid Bacillus
thuringiensi. Kemudian, vektor kloning akan dimasukkan ke dalam bakteri sehingga DNA
tersebut dapat diperbanyak seiring dengan perkembangbiakan bakteri.
3.
Apabila gen yang diinginkan telah diperbanyak dalam jumlah yang cukup maka akan
dilakukan transfer gen tersebut ke dalam sel tumbuhan yang berasal dari bagian tertentu, salah
satunya adalah bagian daun. Transfer gen ini dapat dilakukan dengan beberapa metode, yaitu
metode senjata gen, metode transformasi DNA yang diperantarai bakteriAgrobacterium
tumefaciens, dan elektroporasi (metode transfer DNA dengan bantuan listrik). Berikut adalah
penjelasan tentang beberapa metode transfer gen.

Metode senjata gen atau penembakan mikro-proyektil. Metode ini sering digunakan
pada spesies jagung dan padi. Untuk melakukannya, digunakan senjata yang dapat
menembakkan mikro-proyektil berkecepatan tinggi ke dalam sel tanaman. Mikro-proyektil
tersebut akan mengantarkan DNA untuk masuk ke dalam sel tanaman. Penggunaan senjata
gen memberikan hasil yang bersih dan aman, meskipun ada kemungkinan terjadi kerusakan sel
selama penembakan berlangsung.

Metode transformasi yang diperantarai oleh Agrobacterium tumefaciens.


BakteriAgrobacterium tumefaciens dapat menginfeksi tanaman secara alami karena
memilikiplasmid
Ti,
suatu
vektor
(pembawa
DNA)
untuk
menyisipkan
gen asing.Di dalam plasmid Titerdapat gen yang menyandikan sifat virulensi untuk
menyebabkan penyakit tanamantertentu. Gen asing yang ingin dimasukkan ke dalam tanaman
dapat disisipkan di dalamplasmid Ti. Selanjutnya, A. tumefaciens secara langsung dapat
memindahkan gen pada plasmid tersebut ke dalam genom (DNA) tanaman. Setelah DNA asing
menyatu denganDNA tanaman maka sifat-sifat yang diinginkan dapat diekspresikan tumbuhan.

Metode elektroporasi.Pada metode elektroporasi ini, sel tanaman yang akan menerima
gen asing harus mengalami pelepasan dinding sel hingga menjadi protoplas (sel yang
kehilangan dinding sel). Selanjutnya sel diberi kejutan listrik dengan voltase tinggi untuk
membuka pori-pori membran sel tanaman sehingga DNA asing dapat masuk ke dalam sel dan
bersatu (terintegrasi) dengan DNA kromosom tanaman. Kemudian, dilakukan proses
pengembalian dinding sel tanaman.
4. Setelah proses transfer DNA selesai, dilakukan seleksi sel daun untuk mendapatkan sel yang
berhasil disisipi gen asing. Hasil seleksi ditumbuhkan menjadi kalus (sekumpulan sel yang belum
terdiferensiasi) hingga nantinya terbentuk akar dan tunasApabila telah terbentuk tanaman muda
(plantlet), maka dapat dilakukan pemindahan ke tanah dan sifat baru tanaman dapat diamati.

Dampak Positif dari Tanaman Transgenik


1.
Rekayasa transgenik dapat menghasilkan prodik lebih banyak dari sumber yang lebih sedikit.
2.
Rekayasa tanaman dapat hidup dalam kondisi lingkungan ekstrem akan memperluas daerah
pertanian dan mengurangi bahaya kelaparan.
3.
Makanan dapat direkayasa supaya lebih lezat dan menyehatkan.
Dampak Negative dari Tanaman Transgenik
A. Aspek social
1. Aspek ekonomi
Berbagai komoditas pertanian hasil rekayasa genetika telah memberikan ancaman persaingan serius
terhadap komoditas serupa yang dihasilkan secara konvensional. Penggunaan tebu transgenik
mampu menghasilkan gula dengan derajad kemanisan jauh lebih tinggi daripada gula dari tebu atau
bit biasa
B. Aspek kesehatan
1. Potensi toksisitas bahan pangan
Dengan terjadinya transfer genetik di dalam tubuh organisme transgenik akan muncul bahan kimia
baru yang berpotensi menimbulkan pengaruh toksisitas pada bahan pangan. Sebagai contoh, transfer
gen tertentu dari ikan ke dalam tomat, yang tidak pernah berlangsung secara alami, berpotensi
menimbulkan risiko toksisitas yang membahayakan kesehatan.
2. Potensi menimbulkan penyakit/gangguan kesehatan
WHO pada tahun 1996 menyatakan bahwa munculnya berbagai jenis bahan kimia baru, baik yang
terdapat di dalam organisme transgenik maupun produknya, berpotensi menimbulkan penyakit baru
atau pun menjadi faktor pemicu bagi penyakit lain. Sebagai contoh, gen aad yang terdapat di dalam
kapas transgenik dapat berpindah ke bakteri penyebab kencing nanah (GO), Neisseria gonorrhoeae.
C. Aspek lingkungan
1. Potensi erosi plasma nutfah
Penggunaan tembakau transgenik telah memupus kebanggaan Indonesia akan tembakau Deli yang
telah ditanam sejak tahun 1864. Tidak hanya plasma nutfah tanaman, plasma nutfah hewan pun
mengalami ancaman erosi serupa. Sebagai contoh, dikembangkannya tanaman transgenik yang
mempunyai gen dengan efek pestisida, misalnya jagung Bt, ternyata dapat menyebabkan kematian
larva spesies kupu-kupu raja (Danaus plexippus) sehingga dikhawatirkan akan menimbulkan
gangguan keseimbangan ekosistem akibat musnahnya plasma nutfah kupu-kupu tersebut.
2. Potensi pergeseran gen
Daun tanaman tomat transgenik yang resisten terhadap serangga Lepidoptera setelah 10 tahun
ternyata mempunyai akar yang dapat mematikan mikroorganisme dan organisme tanah, misalnya
cacing tanah.
3. Potensi pergeseran ekologi
Organisme transgenik dapat pula mengalami pergeseran ekologi. Organisme yang pada mulanya tidak
tahan terhadap suhu tinggi, asam atau garam, serta tidak dapat memecah selulosa atau lignin, setelah
direkayasa berubah menjadi tahan terhadap faktor-faktor lingkungan tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Amirhusin, Bahagiawati.2004. Perakitan Tanaman Transgenik Tahan Hama. Bogor:Jurnal Litbang
Pertanian
Amirhusin, Bahagiawati.2004. Penggunaan Bacillus thuringiensis sebagai Bioinsektisida. Bogor :
Buletin AgroBio
Waluyo, Lud.2005.Mikrobiologi umum. Malang:UMM press
Anonymous.2011. Dampak Positif dan Negatif Tanaman Transgenik.http://id.shvoong.com/exactsciences/bioengineering-and-biotechnology/2143781-dampak-positif-dan-negatiftanaman/#ixzz1dD7q3pKU. Diakses tanggal 8 Nopember 2011
Anonymous.2008.Bacillus thuringiensis.

January 13, 2016 10:30:29 PM

Search
Search the site...

Beranda

Info

Kontak

HEADLINES

08:00 AM - Perangkat Pembelajaran 2015

2:12 PM - Tafsir Tarbawi Surat Al Baqarah Ayat 30 31

1:22 PM - Evolusi Menurut Islam

3:33 PM - Info Awal PPDB SMAIT NUR HIDAYAH 2016

1:33 PM - Download Kisi-kisi UAS Biologi Kelas XI Tahun 2015

Home

Bioteknologi Materi Bio X Materi Bio XII Monera

Agrobacterium Tumefaciens
Posted by: Sultan Budi Lenggono Posted date: 9:22 AM / comment : 0

Agrobacterium tumefaciens adalah bakteri patogen pada tanaman yang banyak


digunakan untuk memasukkan gen asing ke dalam sel tanaman untuk menghasilkan
suatu tanaman transgenik. Secara alami, A. tumefaciens dapat menginfeksi tanaman
dikotiledon melalui bagian tanaman yang terluka sehingga menyebabkan tumor
mahkota empedu (crown gall tumor).
Bakteri yang tergolong ke dalam gram negatif ini memiliki sebuah plasmid besar
yang disebut plasmid-Ti yang berisi gen penyandi faktor virulensi penyebab infeksi
bakteri ini pada tanaman. Untuk memulai pembentukan tumor, A. tumefaciens harus
menempel terlebih dahulu pada permukaan sel inang dengan memanfaatkan
polisakarida asam yang akan digunakan untuk mengkoloniasi/menguasai sel

tanaman. Selain tanaman dikotiledon, tanaman monokotiledon seperti jagung,


gandum, dan tebutelah digunakan untuk memasukkan sel asing ke dalam genom
tanaman. Agrobacterium tumefaciens adalah bakteri patogen pada tanaman yang
banyak digunakan untuk memasukkan gen asing ke dalam sel tanaman untuk
menghasilkan suatu tanaman transgenik.

Sebagian besar genus Agrobacterium menyebabkan tumor pada tanaman dikotil.


Species Agrobacterium tergolong bakteri gram negatif yang tergolong bakteri aerob
dan mampu hidup baik sebagai saprofit maupun parasit. Agrobacterium berbentuk
batang, berukuran 0,6 1,0 m sampai 1,5 3,0 m, dalam bentuk tunggal atau
berpasangan. Agrobacterium merupakan bakteri yang mudah bergerak (motile) dan
memiliki 1-6 flagela peritrichous serta merupakan bakteri tak berspora. Suhu optimal
pertumbuhan bakteri ini adalah 25-28C. Kumpulan bakteri ini biasanya berbentuk
cembung, bulat, lembut, dan tak berpigmen. Agrobacterium diisolasi dari tanaman
yang terinfeksi Crown Gall. Tumor Crown Gall adalah jaringan tanaman yang
pertumbuhannya tidak terdiferensiasi akibat adanya interaksi antara tanamantanaman yang rentan dengan strain virulen Agrobacterium tumefaciens.

Agrobacterium dan Peranannya dalam Transfer Gen


Transformasi gen adalah proses dimana DNA asing dimasukkan kedalam sel
tanaman, dimana para pemulian tanaman dapat memasukkan gen asing kedalam sel
atau jaringan tanaman, baik secara langsung maupun tak langsung tanpa merujuk
kepada tingkat hubungan genetik atau kompatibelilitas suatu jenis. Teknologi
pemindahan gen atau transfer gen dapat dibedakan menjadi dua, yaitu langsung
dan tidak langsung. Contoh transfer gen secara langsung adalah perlakuan pada
protoplas tanaman dengan eletroporasi atau dengan polyethyleneglycol (PEG),
penembakan eksplan gen dengan gene gun atau di vortex dengan karbit silikon.
Teknik pemindahan gen secara tak langsung dilakukan dengan bantuan bakteri
Agrobacterium. Dari banyak teknik transfer gen yang berkembang, teknik melalui
media vektorA. tumefaciens paling sering digunakan untuk metransformasi
tanaman, terutama tanaman kelompok dikotil. Bakteri ini mampu mentransfer gen
kedalam genom tanaman melalui eksplan baik yang berupa potongan daun (leaf disc
) atau bagain lain dari jaringan tanaman yang mempunyai potensi beregenerasi
tinggi.(Adis.2010.)
Gen yang ditransfer terletak pada plasmid Ti (tumor inducing ). Segmen spesifik DNA
plasmid Ti disebut T-DNA (transfer DNA ) yang berpindah dari bakteri ke inti sel
tanaman dan berintegrasi kedalam genom tanamn. Karena A. tumefaciens
merupakan patogen tanaman maka Agrobacterium sebagai vektor yang digunakan
untuk transformasi tanaman adalah bakteri dari jenis plasmid Ti yang dilucuti
virulensinya (disarmed), sehingga sel tanaman yang ditransformasi oleh
Agrobacterium dan yang mampu beregenerasi akan membentuk suatu tanaman
sehat hasil rekayasa genetik. Teknik transformasi melalui media vektor
Agrobacterium pada tanaman dikotil telah berhasil dengan baik tetapi sebaliknya
tidak umum digunakan pada tanaman monokotil. Namun beberapa peneliti telah
melaporkan bahwa beberapa strain Agrobacterium berhasil metransformasi tanaman

monokotil seperti jagung dan padi.


Proses Transformasi Gen oleh Agrobacterium tumefaciens
Dasar dari transformasi genetik oleh Agrobacterium adalah transfer dan integrasi TDNA ke dalam genom di dalam inti sel tanaman. T-DNA adalah suatu bagian pada
tumor inducing (Ti) plasmid yang terdapat di dalam sel Agrobacterium. Ti-plasmid
berukuran sekitar 200-800 kbp dan T-region (T-DNA)nya sendiri berukuran sekitar
10% nya (10-30 kbp). T-region ini dibatasi oleh dua sekuen pembatas (border) yaitu
right border dan left border yang mengapit T-region. Bagian lain dari Ti-plasmid yang
tidak kalah pentingnya adalah vir-region yang mengandung sejumlah gen-gen
virulen (virA, virB, virC, virD, virE, virF,virG dan virH) yang berfungsi didalam proses
transfer T-DNA ke dalam sel tanaman.
Proses transformasi dimulai dengan melekatnya Agrobacterium pada sel tanaman.
Kejadian awal ini dimediasi oleh gen-gen yang berlokasi pada kromosom bakteri (gen
chvA, chvB dan att). Langkah berikutnya adalah terinduksinya gen-gen pada virregion oleh suatu signal yang spesifik didalam sel bakteri sehingga dihasilkan produk
dari expresi gen-gen virulen untuk memproses T-DNA dan mentransfernya dari
dalam sel bakteri. Prosesing dan transfer T-DNA dimediasi oleh berbagai protein
yang dikode pembentukannya oleh gen-gen virulen. Prosesing T-DNA dimulai dari
suatu kejadian memproduksi T-DNA untai tunggal yang disebut T-strand yang
ditransfer ke dalam sel tanaman. Kejadian ini dimediasi oleh produk dari genvirD1
dan virD2 yang berfungsi memotong T-DNA di bagian left border dan right border.
Salah satu produk yaitu molekul VirD2 tetap melekat secara kovalen pada 5 end dari
T-strand dan membentuk apa yang disebut T-complex yang masih setengah jadi.
Pembentukan T-complex ini dilaporkan berfungsi untuk menjaga T-DNA dalam
perjalanannya menuju inti sel tanaman inang. Tahap akhir dari transformasi genetik
oleh Agrobacterium adalah integrasi T-DNA ke dalam genom sel tanaman inang.

Transfer T-DNA oleh A. Tumefaciens kedalam sel tanaman.


Agrobacterium tumefaciens adalah bakteri tanah yang dapat menyebabkan penyakit
tumor pada beberapa tanaman. Bakteri menginfeksi melalui bagian yang luka pada
batang tanaman dan mengakibatkan tumor pada daerah sekitar akar dan batang
tanaman. Penyebab pembentukan tumor bukan berasal dari bakteri itu sendiri tetapi
dari plasmid yang dikenal dengan plasmid Ti. Ukuran DNA plasmid Ti cukup besar,
berkisar antara 140-235 kb (1 kb = 1000 pasang basa). Selama menginfeksi,
sebagian kecil dari DNA plasmid Ti (15-30 kb), disebut T-DNA, ditransfer kedalam inti
sel tanaman dan tersisipi kedalam DNA inti sel tanaman. Dari sini T-DNA sudah
terintegrasi dan stabil terpelihara dalam genom sel.
T-DNA membawa gen yang bertangung jawab terhadap pembentukan tumor dan
sintesa asam amino yang dikenal sebagai opine. Gen-gen yang bertanggungjawab
untuk transfer T-DNA juga terdapat dalam plasmid Ti yang disebut gen-gen virulen
(gen vir). Infeksi Agrobakterium memerlukan jaringan tanaman yang luka karena gen
vir dapat terinduksi oleh senyawa fenolik yang dilepaskan ole sel-sel tanaman yang
terluka.

Daerah ini merupakan potongan DNA berukuran relatif pendek berisi urutan 25
pasang basa yang berulang. Setiap potongan DNA yang tersisipi diantara kedua
batas T-DNA akan ditransfer dan diintegrasikan kedalam genom tanaman. Oleh
karena itu plasmid Ti merupakan vektor yang sangat cocok untuk mengintroduksi
gen-gen asing ke dalam sel tanaman.

SIMPULAN
Agrobacterium tumefaciens adalah bakteri patogen pada tanaman yang banyak
digunakan untuk memasukkan gen asing ke dalam sel tanaman untuk menghasilkan
suatu tanaman transgenik. Secara alami, A. tumefaciens dapat menginfeksi tanaman
dikotiledon melalui bagian tanaman yang terluka sehingga menyebabkan tumor
mahkota empedu (crown gall tumor).
Metode transformasi yang diperantarai oleh Agrobacterium tumefaciens. Bakteri
Agrobacterium tumefaciens dapat menginfeksi tanaman secara alami karena
memiliki plasmid Ti, suatu vektor (pembawa DNA) untuk menyisipkan gen asing. Di
dalam plasmid Ti terdapat gen yang menyandikan sifat virulensi untuk menyebabkan
penyakit tanaman tertentu. Gen asing yang ingin dimasukkan ke dalam tanaman
dapat disisipkan di dalam plasmid Ti. Selanjutnya, A. tumefaciens secara langsung
dapat memindahkan gen pada plasmid tersebut ke dalam genom (DNA) tanaman.
Setelah DNA asing menyatu dengan DNA tanaman maka sifat-sifat yang diinginkan
dapat diekspresikan tumbuhan.
Di era transformasi genetik sekarang ini, peran Agrobacterium sangat besar dalam
menghasilkan tanaman yang dimodifikasi untuk mendapatkan sifat yang diinginkan.
Peran Agrobacterium dalam hal ini ialah sebagai pembawa gen (DNA) yang
diinginkan. Agrobacterium tumefaciens merupakan bakteri aerob obligat gram
negatif yang hidup alami di tanah. Bakteri ini banyak menyebabkan penyakit crown
gall (tumor) pada tanaman dikotil. Kemampuannya dalam menyebabkan penyakit ini
berhubungan dengan gen penginduksi tumor yang ada pada plasmid (Ti) yang
dijumpai dalam bakteri tersebut. Dalam sel tumor yang terbentuk terkandung enzimenzim yang tidak tampak pada tanaman normal, karena enzim tersebut hanya
dihasilkan oleh sel Agrobacterium. Enzim-enzim tersebut menghasilkan suatu
senyawa gula spesifik yang dinamakan opin. Senyawa opin ini merupakan makanan
bagi Agrobacterium itu sendiri.

Ikuti Wikipedia bahasa Indonesia di

[tutup]
Twitter,

Facebook,

Instagram dan IRC #wikipedia-

idconnect

Tanaman transgenik
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Dengarkan artikel (info/dl)

MENU
0:00

Berkas suara ini dibuat dari revisi tanggal 2011-08-09, dan tidak termasuk suntingan terbaru ke artikel. (Bantuan suara)

Lebih banyak artikel

Tanaman transgenik adalah tanaman yang telah disisipi atau memiliki gen asing
dari spesies tanaman yang berbeda ataumakhluk hidup lainnya.[1][2] Penggabungan gen asing ini
bertujuan untuk mendapatkan tanaman dengan sifat-sifat yang diinginkan, [1] misalnya pembuatan
tanaman yang tahan suhu tinggi, suhu rendah, kekeringan, resisten terhadap organisme
pengganggu tanaman, serta kuantitas dan kualitas yang lebih tinggi dari tanaman alami.
[1]
Sebagian besar rekayasa atau modifikasi sifat tanaman dilakukan untuk mengatasi
kebutuhan pangan penduduk dunia yang semakin meningkat dan juga permasalahan
kekurangan gizi manusia[3] sehingga pembuatan tanaman transgenik juga menjadi bagian
dari pemuliaan tanaman. Hadirnya tanaman transgenik menimbulkan kontroversi masyarakat
dunia karena sebagian masyarakat khawatir apabila tanaman tersebut akan mengganggu
keseimbangan lingkungan (ekologi), membahayakan kesehatan manusia, dan memengaruhi
perekonomian global.[4][5]
Daftar isi
[sembunyikan]

1Sejarah

2Pembuatan tanaman transgenik

3Contoh-contoh

4Aplikasi tanaman transgenik


o

4.1Aplikasi yang telah dikembangkan

4.2Aplikasi yang sedang dikembangkan

5Kontroversi
o

5.1Pengaruh pada kesehatan manusia

5.2Pengaruh pada lingkungan (ekologis)

5.3Pengaruh etika dan agama

5.4Pengaruh terhadap ekonomi global

6Tanaman transgenik di Indonesia

7Deteksi tanaman transgenik

8Referensi

9Lihat pula

10Pranala luar

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Daun kacang non-transgenik (atas) dan transgenik yang tahan serangan hama (bawah).

Seleksi genetik untuk pemuliaan tanaman (perbaikan kualitas/sifat tanaman) telah dilakukan
sejak tahun 8000 SM ketika praktik pertanian dimulai di Mesopotamia.[6] Secara konvensional,
pemuliaan tanaman dilakukan dengan memanfaatkan proses seleksidan persilangan tanaman.
[7]
Kedua proses tersebut memakan waktu yang cukup lama dan hasil yang didapat tidak
menentu karena bergantung dari mutasi alamiah secara acak.[7] Contoh hasil pemuliaan
tanaman konvensional adalah durian montong yang memiliki perbedaan sifat dengan tetuanya,
yaitu durian liar.[3] Hal ini dikarenakan manusia telah menyilangkan atau mengawinkan durian liar
dengan varietas lain untuk mendapatkan durian dengan sifat unggul seperti durian montong. [3]

Sejarah penemuan tanaman transgenik dimulai pada tahun 1977 ketika bakteri Agrobacterium
tumefaciens diketahui dapat mentransfer DNA atau gen yang dimilikinya ke dalam tanaman.
[6]
Pada tahun 1983, tanaman transgenik pertama, yaitu bunga matahari yang disisipi gen
dari buncis (Phaseolus vulgaris) telah berhasil dikembangkan oleh manusia.[6][8] Sejak saat itu,
pengembangan tanaman transgenik untuk kebutuhan komersial dan peningkatan tanaman terus
dilakukan manusia.[9] Tanaman transgenik pertama yang berhasil diproduksi dan dipasarkan
adalah jagung dan kedelai.[9] Keduanya diluncurkan pertama kali diAmerika Serikat pada tahun
1996.[9] Pada tahun 2004, lebih dari 80 juta hektare tanah pertanian di dunia telah ditanami
dengan tanaman transgenik dan 56% kedelai di dunia merupakan kedelai transgenik. [7]

Pembuatan tanaman transgenik[sunting | sunting sumber]


Untuk membuat suatu tanaman transgenik, pertama-tama dilakukan identifikasi atau pencarian
gen yang akan menghasilkan sifat tertentu (sifat yang diinginkan). [2] Gen yang diinginkan dapat
diambil dari tanaman lain, hewan, cendawan, atau bakteri.[10] Setelah gen yang diinginkan
didapat maka dilakukan perbanyakan gen yang disebut dengan istilah kloning gen.[11] Pada
tahapan kloninggen, DNA asing akan dimasukkan ke dalam vektor kloning (agen pembawa
DNA), contohnya plasmid (DNA yang digunakan untuk transfer gen).[12] Kemudian, vektor kloning
akan dimasukkan ke dalam bakteri sehingga DNA dapat diperbanyak seiring dengan
perkembangbiakan bakteri tersebut.[12] Apabila gen yang diinginkan telah diperbanyak dalam
jumlah yang cukup maka akan dilakukan transfer gen asing tersebut ke dalam sel tumbuhan
yang berasal dari bagian tertentu, salah satunya adalah bagian daun. [11] Transfer gen ini dapat
dilakukan dengan beberapa metode, yaitu metodesenjata gen, metode transformasi DNA yang
diperantarai bakteri Agrobacterium tumefaciens, dan elektroporasi (metode transfer DNA dengan
bantuan listrik).[11][13]

Metode senjata gen atau penembakan mikro-proyektil.


[11]
Metode ini sering digunakan pada spesies jagung dan padi.
[11]
Untuk melakukannya, digunakan senjata yang dapat
menembakkan mikro-proyektil berkecepatan tinggi ke dalam sel
tanaman.[11] Mikro-proyektil tersebut akan mengantarkan DNA
untuk masuk ke dalam sel tanaman.[11] Penggunaan senjata
gen memberikan hasil yang bersih dan aman, meskipun ada
kemungkinan terjadi kerusakan sel selama penembakan
berlangsung.[11]

Metode transformasi yang diperantarai oleh Agrobacterium


tumefaciens.[14] Bakteri Agrobacterium tumefaciens dapat
menginfeksi tanaman secara alami karena memiliki plasmid Ti,
suatu vektor (pembawa DNA) untuk menyisipkan gen asing.
[14]
Di dalam plasmid Ti terdapat gen yang menyandikan sifat
virulensi untuk menyebabkan penyakit tanaman tertentu.[14] Gen
asing yang ingin dimasukkan ke dalam tanaman dapat
disisipkan di dalam plasmid Ti.[14] Selanjutnya, A.
tumefaciens secara langsung dapat memindahkan gen pada
plasmid tersebut ke dalam genom (DNA) tanaman.[14] Setelah
DNA asing menyatu dengan DNAtanaman maka sifat-sifat yang
diinginkan dapat diekspresikan tumbuhan.[14]

Metode elektroporasi.[13] Pada metode elektroporasi ini, sel


tanaman yang akan menerima gen asing harus mengalami
pelepasan dinding sel hingga menjadiprotoplas (sel yang
kehilangan dinding sel).[13] Selanjutnya sel diberi kejutan listrik
dengan voltase tinggi untuk membuka pori-pori membran sel
tanaman sehinggaDNA asing dapat masuk ke dalam sel dan
bersatu (terintegrasi) dengan DNA kromosom tanaman.

[13]

Kemudian, dilakukan proses pengembalian dinding sel


tanaman.[13]
Setelah proses transfer DNA selesai, dilakukan seleksi sel daun untuk mendapatkan sel yang
berhasil disisipi gen asing.[9] Hasil seleksi ditumbuhkan menjadi kalus(sekumpulan sel yang
belum terdiferensiasi) hingga nantinya terbentuk akar dan tunas.[9] Apabila telah terbentuk
tanaman muda (plantlet), maka dapat dilakukan pemindahan ke tanah dan sifat baru tanaman
dapat diamati.[9]

Contoh-contoh[sunting | sunting sumber]


Beberapa contoh tanaman transgenik yang dikembangkan di dunia tertera pada tabel di bawah
ini.
Jenis
tanaman

Sifat yang telah dimodifikasi

Modifikasi

Padi

Mengandung provitamin A (betakarotena) dalam jumlah tinggi.[15]

Gen dari tumbuhan narsis, jagung,


dan bakteri Erwinia disisipkan pada
kromosom padi.[15]

Jagung,
kapas,
kentang

Tahan (resisten) terhadap hama.[16]

Gen toksin Bt dari bakteri Bacillus


thuringiensis ditransfer ke dalam
tanaman.[15][16]

Tahan terhadap cuaca dingin.[15]

Gen untuk mengatur pertahanan pada


cuaca dingin dari tanamanArabidopsis
thaliana atau
dari sianobakteri (Anacyctis nidulans)
dimasukkan ke tembakau.[15]

Proses pelunakan tomat


diperlambat sehingga tomat dapat
disimpan lebih lama dan tidak
cepat busuk.[17]

Gen khusus yang


disebut antisenescens ditransfer ke
dalam tomat untuk
menghambat enzim poligalakturonase
(enzim yang mempercepat kerusakan
dinding sel tomat).[16] Selain
menggunakan gen dari bakteri E. coli,
tomat transgenik juga dibuat dengan
memodifikasi gen yang telah
dimiliknya secara alami.[17]

Tembak
au

Tomat

Foto

Kedelai

Mengandung asam oleat tinggi


dan tahan
terhadapherbisida glifosat.[15][18] D
engan demikian, ketika disemprot
dengan herbisida tersebut,
hanya gulma di sekitar kedelai
yang akan mati.

Gen resisten herbisida dari


bakteri Agrobacterium galur CP4
dimasukkan ke kedelai dan juga
digunakan teknologi molekular untuk
meningkatkan pembentukan asam
oleat.[15][18]

Ubi jalar

Tahan terhadap penyakit tanaman


yang disebabkanvirus.[19]

Gen dari selubung virus tertentu


ditransfer ke dalam ubi jalar dan
dibantu dengan teknologi peredaman
gen.[19]

Kanola

Menghasilkan minyak kanola yan


g mengandung asam laurat tinggi
sehingga lebih menguntungkan
untuk kesehatan dan secara
ekonomi.[20] Selain itu, kanola
transgenik yang disisipi gen
penyandi vitamin E juga telah
ditemukan.[16]

Gen FatB dari Umbellularia


californica ditransfer ke dalam
tanaman kanola untuk meningkatkan
kandungan asam laurat.[20]

Pepaya

Resisten terhadap virus tertentu,


contohnya Papaya ringspot
virus (PRSV).[21]

Gen yang menyandikan selubung


virus PRSV ditransfer ke dalam
tanamanpepaya.[21]

Melon

Bit gula

Buah tidak cepat busuk.

[22]

Tahan terhadap
herbisida glifosat dan glufosinat.
[23]

Prem
(plum)

Gandum

Gen baru dari bakteriofag T3 diambil


untuk mengurangi pembentukan
hormon etilen (hormon yang berperan
dalam pematangan buah) di melon.[22]

Gen dari bakteri Agrobacterium galur


CP4 dan cendawan Streptomyces
viridochromogenes ditransfer ke
dalam tanaman bit gula.[23]

Resisten terhadap infeksi virus


cacar prem (plum pox virus).[24]

Gen selubung virus cacar prem


ditransfer ke tanaman prem.[24]

Resisten terhadap
penyakit hawar yang
disebabkancendawan Fusarium.

Gen penyandi enzim kitinase


(pemecah dinding sel cendawan)
dari jelai(barley) ditransfer ke
tanaman gandum.[25]

[25]

Aplikasi tanaman transgenik[sunting | sunting sumber]


Aplikasi yang telah dikembangkan[sunting | sunting sumber]

Beberapa tanaman transgenik telah diaplikasikan untuk menghasilkan tiga macam sifat unggul,
yaitu tahan hama, tahan herbisida, dan buah yang dihasilkan tidak mudah busuk.[26][27] Tanaman
jagung dan kapas transgenik dengan sifat tahan hama telah diproduksi secara massal dan
dipasarkan di dunia.[27] Gen asing yang banyak digunakan untuk sifat resistensi hama ini adalah
gen penyandi toksin Bt dari bakteri Bacillus thuringiensis.[26] Sejak tahun 1996, Monsanto, salah
satu perusahaan multinasional di bidang bioteknologi, telah menjual benih kapas transgenik
dengan merek dagang "Bollgard".[28] Selain itu, tanaman kedelai dan kanolatahan herbisida juga
telah dijual ke berbagai negara, termasuk Indonesia, dengan merek "Roundup Ready".[29]
Tanaman tomat transgenik dengan sifat pematangan buah diperlambat pernah diproduksi
oleh Calgene pada tahun 1994 dan dipasarkan di Amerika Serikat dengan merek "Flavr Savr".
[30]
Biasanya, tanaman tomat alami dipanen dalam keadaan masih hijau dan belum matang
kemudian disemprot dengan gas etilen untuk membuat buah matang dan berwarna merah.
[30]
Namun, rasa tomat yang dihasilkan umumnya kurang terasa.[30] Tujuan pembuatan tomat
transgenik tersebut adalah untuk memperpanjang masa simpan dan menghindari pembusukan
buah selama transportasi dari lahan penanaman ke tempat penjualan.[31] Namun, penjualan Flavr
Savr ditarik dalam waktu kurang dari setahun karena alasan kesehatan dan penjualannya
mengalami kerugian.[30] Produk tersebut tidak banyak terjual karena harganya dua kali lipat dari
tomat biasa namun rasa yang dihasilkan sama.[30]

Aplikasi yang sedang dikembangkan[sunting | sunting sumber]


Dalam tahap penelitian, tanaman transgenik sedang diaplikasikan untuk menghasilkan senyawa
yang bermanfaat bagi kesehatan manusia, seperti vitamin A danvaksin.
[26]
Untuk produksi vaksin yang dapat dimakan (edible vaccine), contoh tanaman yang sedang
dikembangkan adalah pisang, kentang, dan tomat.[32] Salah satu tanaman transgenik yang sudah
diteliti sejak tahun 1980 untuk mengurangi jumlah penderita defisiensi (kekurangan) vitamin
A adalah padi emas.[33] Aplikasi lain yang sedang dikembangkan adalah penggunaan tanaman
untuk membersihkan polusi tanah dari senyawa beracun (seperti arsen) dan logam
berat (contohnya merkuri).[34]Gen asing dari bakteri ditransfer ke
dalam tembakau dan Arabidopsis sehingga kedua tanaman tersebut dapat
menarik merkuri dalam tanah dan mengubahnya menjadi senyawa yang mudah menguap serta
tidak berbahaya.[34]
Tanaman Arabidopsis juga dikembangkan untuk memproduksi poli(3-hidroksibutirat) atau PHB,
suatu bahan pembentuk plastik yang mudah diurai (biodegradable).[35]Sebagian besar plastik
yang ada dibuat dari sumber daya yang tidak dapat diperbaharui, salah satunya adalah minyak
bumi.[26] Untuk mengurangi penggunaan sumber daya tersebut, digunakan PHB yang dihasilkan
oleh bakteri, seperti Alcaligenes eutrophus.[35] Empat pen pembentuk PHB dari bakteri tersebut
telah ditransfer ke Arabidopsis sehingga tanaman tersebut dapat menghasilkan PHB.
[26]
Penelitian tentang PHB dari tumbuhan masih dalam tahap pengembangan sebelum
diproduksi massal.[35]

Kontroversi[sunting | sunting sumber]

Kampanye penolakan jagung Bt di Kenya, Afrika.

Perkembangan tanaman transgenik dapat diterima dengan baik oleh Amerika


Serikat, Argentina, Cina, danKanada.[36] Namun, banyak negara Eropa yang menolak tanaman
transgenik karena kekhawatiran terhadap potensi gangguan kesehatan konsumen dan
kerusakan lingkungan.[36]

Pengaruh pada kesehatan manusia[sunting | sunting sumber]


Sikap kontra terhadap produk tanaman transgenik umumnya berasal dari organisasi nonpemerintah/LSM, sepertiGreenpeace dan Friends of the Earth Internasional.[37] Dari segi
kesehatan, tanaman ini dianggap dapat menjadialergen (senyawa yang menimbulkan alergi)
baru bagi manusia.[5] Untuk menanggapi hal tersebut, para peneliti menyatakan bahwa sebelum
suatu tanaman transgenik diproduksi secara massal, akan melakukan berbagai pengujian
potensi alergi dan toksisitas untuk menjamin agar produk tanaman tersebut aman untuk
dikonsumsi.[4]Apabila berpotensi menyebabkan alergi, maka tanaman transgenik tersebut tidak
akan dikembangkan lebih lanjut.[38] Kekhawatiran lain yang timbul di masyarakat adalah
kemungkinan gen asing pada tanaman transgenik dapat berpindah ke tubuh manusia apabila
dikonsumsi.[38] Pendapat tersebut dinilai berlebihan oleh para ilmuwan karena makanan yang
berasal dari tanaman transgenik akan terurai menjadi unsur-unsur yang dapat diserap tubuh
sehingga tidak akan ada gen aktif.[38] Untuk memberikan kebebasan kepada masyarakat dalam
memilih produk transgenik atau produk alami, berbagai negara, khususnya negara-negara
Eropa, telah melakukan pemberian label terhadap produk transgenik. [39][40] Pelabelan tersebut
juga bertujuan untuk memberikan informasi kepada konsumen sebelum mengonsumsi hasil
tanaman transgenik.[39] Dan dapat menimbulkan tumor, hasil ini telah di tes oleh seorang
ilmuwan terhadap tikus yang diberi makan jagung transgenik selama beberapa waktu mengalami
tumor di ginjal dan hatinya.[41] Namun penelitian yang dilakukan Gilles-ric Sralini ini memiliki
kontroversi.[42]

Pengaruh pada lingkungan (ekologis)[sunting | sunting sumber]

Peta penerimaan produk transgenik di dunia.

Penolakan terhadap budidaya tanaman transgenik muncul karena dianggap berpotensi


mengganggu keseimbangan ekosistem. Salah satunya adalah
terbentuknya hama atau gulmasuper (yang lebih kuat atau resisten) di lingkungan.
[5]
Kekhawatiran ini terlihat jelas pada perdebatan mengenai jagung Bt yang memiliki racun Bt
untuk membunuh hama lepidoptera berupangengat dan kupu-kupu tertentu.[43] Ada kemungkinan
hama yang ingin dibunuh dapat beradaptasi dengan tanaman tersebut dan menjadi hama yang
lebih tahan atau resisten terhadap racun Bt.[5]Selain itu, kupu-kupu Monarch, yang bukan
merupakan hama jagung, ikut terkena dampak berupa peningkatan kematian akibat memakan
daun tumbuhan perdu (Asclepias) yang terkena serbuk saridari jagung Bt.[4] Penelitian mengenai
kupu-kupu Monarch tersebut dapat disanggah oleh studi lainnya yang menyatakan bahwa kupukupu tersebut mati karena habitatnya dirusak dan hal ini tidak berhubungan sama sekali dengan
jagung Bt.[3] Di sisi lain, penggunaan tanaman transgenik seperti jagung Bt telah menurunkan
penggunaan pestisida secara signifikan sehingga mengurangi pencemaran kimia ke lingkungan.
[4]
Selain itu, petani juga merasakan dampak ekonomis dengan penghematan biaya pembelian
pestisida.[4]

Kontroversi lain yang berkaitan dengan isu ekologi adalah timbulnya perpindahan gen secara
tidak terkendali dari tanaman transgenik ke tanaman lain di alam melaluipenyerbukan (polinasi).
[38]
Serbuk sari dari tanaman transgenik dapat terbawa angin dan hewan hingga menyerbuki
tanaman lain.[38] Akibatnya, dapat terbentuk tumbuhan baru dengan sifat yang tidak diharapkan
dan berpotensi merugikan lingkungan.[38] Sebagai tindakan pencegahan, beberapa tanaman
yang disisipi gen untuk mempercepat pertumbuhan dan reproduksi tanaman,
seperti: alfalfa (Medicago sativa), kanola, bunga matahari, dan padi, disarankan untuk
dibudidayakan pada daerah tertutup (terisolasi) atau dibatasi dengan daerah penghalang. [4][5] Hal
itu dilakukan untuk menekan perpindahan serbuk sari ke tanaman lain, terlebih gulma.[4]Apabila
gulma memiliki gen tersebut maka pertumbuhannya akan semakin tidak terkendali dan dengan
cepat dapat merusak berbagai daerah pertanian di sekitarnya.[4]Hingga sekarang belum terdapat
petunjuk bahwa transfer horizontal ini telah menyebabkan munculnya "gulma super", meskipun
telah diketahui terjadi transfer horizontal.

Pengaruh etika dan agama[sunting | sunting sumber]

Demo menentang jagung transgenik di Perancis pada tahun 2004.

Dari segi etika, pihak yang kontra dengan tanaman transgenik menganggap bahwa rekayasa
atau manipulasi genetik tanaman merupakan tindakan yang tidak menghormati penciptaan
Tuhan.[44] Perubahan sifat tanaman dengan penambahan gen asing juga dianggap sebagai
tindakan "bermain sebagai Tuhan" karena mengubah makhluk yang telah diciptakan-Nya.
[45]
Pemikiran teologisKatolik memandang bahwa manipulasi atau rekayasa genetik merupakan
suatu kemungkinan yang disediakan oleh Tuhan karena tanaman diberikan kepada manusia
untuk dipelihara dan dimanfaatkan.[44] Dalam sudut pandang agama tersebut, modifikasi genetika
tanaman tidak berlawanan dengan ajaran Gereja Katolik, namun kelestarian alam juga harus
diperhatikan karena merupakan tanggung jawab manusia. [46] Dalam menanggapi isu tentang
tanaman transgenik, Dewan Yuriprudensi Islam dan Badan Sertifikasi Makanan Islam di Amerika
(IFANCA) menyatakan bahwa makanan dari tanaman transgenik yang ada telah dikembangkan
bersifat halal dan dapat dikonsumsi oleh umat Islam.[47] Untuk tanaman yang disisipi gen dari
binatang haram, produk tanaman transgenik tersebut akan disebut Masbuh, yang berarti masih
diragukan (belum diketahui) status halal atau haramnya. [47] Sertifikasi makanan yang telah
dikeluarkan oleh IFANCA juga diakui dan diterima oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), Majelis
Ulama Islam Singapura (MUIS), Liga Muslim Dunia, Arab Saudi, dan pemerintah Malaysia.[47]
Pihak yang mendukung tanaman transgenik menganggap bahwa transfer gen dari suatu
makhluk hidup ke makhluk lainnya merupakan hal yang alamiah dan biasa terjadi di alam sejak
pertama kali berlangsungnya kehidupan.[3] Mereka juga berargumen bahwa persilangan berbagai
jenis padi yang dilakukan untuk mendapatkan padi dengan sifat unggul telah dilakukan para
petani sejak dahulu.[3] Perkawinan berbagai varietas padi tanpa disadari telah mencampur gengen yang ada di tanaman tersebut.[3] Para ilmuwan hanya mempercepat proses transfer gen
tersebut secara sengaja dan sistematis.[3]

Pengaruh terhadap ekonomi global[sunting | sunting sumber]


Riset dan pengembangan tanaman transgenik membutuhkan biaya yang besar dan umumnya
dilakukan oleh perusahaan-perusahaan swasta maupun pemerintah dinegara maju.[5] Untuk
mengembalikan biaya investasi perusahaan dan melindungi produk hasil investasinya, tanaman
transgenik yang telah diproduksi akan dipatenkan. [48] Di dalam salah satu laporan kerja Komisi
Eropa, disebutkan bahwa pemberlakuan paten pada produk transgenik dapat mengakibatkan
petani kehilangan kemampuan memproduksi benih secara mandiri dan harus membeli
pada produsen dari negara maju.[49] Ketergantungan para petani terhadap produsen juga
semakin meningkat dengan ditemukannya teknologi "gen bunuh diri".[5] Sebagian tanaman
transgenik disisipi "gen bunuh diri" yang menyebabkan tanaman hanya bisa ditanam satu kali
dan biji keturunan selanjutnya bersifat mandul (tidak dapat berkembang biak). [48] Hal ini akan
menyebabkan terjadinya arus modal dari negara berkembang ke negara maju untuk pembelian
bibit transgenik setiap kali akan melakukan penanaman.[5] Para petani di negara-negara dunia
ketiga khawatir bila harga benih akan menjadi mahal karena pemberlakuan paten dan
mekanisme "gen bunuh diri" yang dilakukan oleh produsen benih.[48] Jika petani tersebut tidak
mampu membeli benih transgenik maka kesenjangan ekonomi antara negara penghasil
tanaman transgenik dan negara berkembang sebagai konsumen akan semakin melebar.[5] Salah
satu usaha mencegah terjadinya kesenjangan tersebut pernah dilakukan oleh Yayasan
Rockefeller.[48] Yayasan yang berpusat di Amerika Serikattersebut telah menjual benih transgenik
dengan harga yang lebih murah kepada negara-negara miskin. [48]
Di beberapa negara bagian Brasil, pelarangan tanaman transgenik telah mengakibatkan
terjadinya penyelundupan benih transgenik oleh para petani di negara tersebut. [48][50] Mereka
takut akan menderita kerugian ekonomi apabila tidak mampu bersaing di pasar global dengan
negara pengekspor serealia lainnya.[48]

Tanaman transgenik di Indonesia[sunting | sunting sumber]

Pertanian di Indonesia belum menghasilkan tanaman transgenik sendiri.

Pada tahun 1999, Indonesia pernah melakukan uji coba penanaman kapas transgenik
di Sulawesi Selatan.[51] Uji coba itu dilakukan oleh PT Monagro Kimia dengan memanfaatkan
benih kapas transgenik Bt dari Monsanto.[51] Hal itu mendatangkan banyak protes dari
berbagai LSM sehingga pada bulan September 2000, areal kebun kapas transgenik seluas
10.000 ha gagal dibuka.[51] Pada tahun yang sama, kampanye penerimaan kapas transgenik
diluncurkan dengan melibatkan petani kapas dan ahli dalam dan luar negeri.[51] Kasus tersebut
berlangsung dengan pelik hingga pada Desember 2003, pemerintah Indonesia menghentikan
komersialisasi kapas transgenik.[51] Suatu studi kelayakan finansial terhadap kapas transgenik
sempat dilakukan pada tahun 2001 di tiga kabupaten di Sulawesi Selatan,
yaitu Bulukumba,Bantaeng, dan Gowa.[52] Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa budidaya
kapas transgenik lebih menguntungkan secarafinansial dibandingkan kapas nontransgenik.[52]
Pada tahun 2007, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Badan Litbang) telah
menargetkan Indonesia untuk memiliki padi dan jagung transgenik pada tahun 2010 sehingga
tidak perlu lagi melakukan impor beras dan jagung.[53]Menurut Dr. Ir. Sutrisno, Kepala Balai Besar
Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BB-Biogen),Indonesia telah

melakukan penelitian di bidang rekayasa genetika tanaman yang seimbang bila dibandingkan
dengan negara-negara ASEAN lainnya.[53] Namun, dalam hal komersialisasi produk transgenik
tersebut, Indonesia dinilai agak tertinggal.[53] Melalui BB-Biogen, berbagai riset tanaman
transgenik yang meliputi padi, kedelai,pepaya, kentang, ubi jalar, dan tomat, masih terus
dilakukan oleh Indonesia.[53][54] Pada tahun 2010, sebanyak 50% dari kedelai impor yang
digunakan di Indonesia merupakan produk transgenik yang di antaranya didatangkan
dari Amerika Serikat.[55][56] Hal ini menyebabkan sebagian besar produk olahan kedelai,
seperi tahu,tempe, dan susu kedelai telah terbuat dari tanaman transgenik.[56]
Untuk mengatur keamanan pangan dan hayati produk rekayasa genetika seperti tanaman
transgenik, Menteri Pertanian, Menteri Kehutanan dan Perkebunan, Menteri Kesehatan,
dan Menteri Negara Pangan dan Hortikultura telah mengeluarkan keputusan bersama pada
tahun 1999.[16] Keputusan tentang "Keamanan Hayati dan Keamanan Pangan Produk Pertanian
Hasil Rekayasa Genetika Tanaman" No.998.I/Kpts/OT.210/9/99; 790.a/Kptrs-IX/1999;
1145A/MENKES/SKB/IX/199; 015A/Nmeneg PHOR/09/1999 tersebut mengatur dan mengawasi
keamanan hayati dan pangan. Di dalamnya juga diatur pemanfaatan produk tanaman transgenik
agar tidak merugikan, mengganggu, dan membahayakan kesehatan manusia, keanekaragaman
hayati, dan lingkungan.[16]

Strip untuk mendeteksi jagung transgenik.

Mesin untuk reaksi berantai polimerase (PCR).

Deteksi tanaman transgenik[sunting | sunting sumber]


Untuk mendeteksi dan membedakan tanaman transgenik dengan tanaman alamiah lainnya,
telah dikembangkan beberapa teknik dan perangkat uji.[57] Salah satu uji kualitatif yang cepat dan
sederhana adalah strip aliran-lateral (semacam tongkat ukur).[58] Benih tanaman yang akan diuji
dihancurkan terlebih dahulu kemudian strip tersebut dicelupkan ke dalamnya. [57] Apabila dalam
waktu 5-10 menit muncul dua garis pada strip maka sampel tersebut positif merupakan tanaman
transgenik, sedangkan bila hanya satu pita yang didapat maka hasil yang diperoleh adalah
negatif.[57][58] Teknik ini berdasarkan pada deteksi keberadaan protein atau antibodi spesifik dari
tanaman transgenik.[57]
Uji lain yang dapat digunakan untuk mendeteksi tanaman transgenik adalah reaksi berantai
polimerase(PCR) dan ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay).[57] Uji PCR merupakan
salah satu metode diagnostik molekular yang mendeteksi DNA atau gen pada tanaman
transgenik secara langsung.[57]Sementara itu, ELISA dan strip aliran-lateral merupakan metode
imunodiagnostik (metode diagnostik menggunakan prinsip reaksi antigen-antibodi) yang
mendeteksiprotein hasil ekspresi gen pada tanaman transgenik.[57]

Home
info penyakit
gaya hidup dan tips
obat
alkes
entertaiment
movie
MARET 09, 2011

Amoxicillin

Amoxicillin adalah zat pembunuh kuman golongan antibiotik penisilin, bekerja melawan
bakteri di dalam tubuh Anda,Amoxicillin digunakan untuk mengobati beraneka jenis
infeksi/peradangan disebabkan oleh bakteri, seperti infeksi peradangan telinga, infeksi
kandung kecing, radang paru paru, kencing nanah, dan infeksi yang disebabkan oleh E.coli
atau salmonella .

Amoxicillin juga kadang-kadang digunakan bersama-sama dengan clarithromycin zat


pembunuh kuman yang disebut lain (Biaxin) untuk borok-borok perut disebabkan oleh
Helicobacter pylori infeksi/peradangan. Kombinasi ini kadang-kadang digunakan dengan
lansoprazole reduktor perut yang disebut asam (Prevacid).
Jangan menggunakan antibiotik ini jika anda adalah alergi amoxicillin atau zat
pembunuh kuman penisilin lain manapun, seperti ampisilin (Omnipen, Principen),
carbenicillin (Geocillin), dicloxacillin (Dycill, Dynapen), oxacillin (Bactocill), penisilin (BeepenVK, Ledercillin VK, Pen-V, Pen-Vee K, Pfizerpen, V-Cillin K, Veetids), dan yang lain.
Sebelum menggunakan amoxicillin, sampaikan kepada dokter jika anda alergi

sefalosporin-sefalosporin seperti Ceclor, Ceftin, Duricef, Keflex, dan yang lain. sampaikan
kepada dokter jika anda mempunyai sakit asma, penyakit hati atau ginjal, suatu kekacauan
pendarahan atau pembekuan darah, penyakit akibat radang ( juga disebut mono), atau
setiap jenis dari alergi.

Amoxicillin dapat membuat pil kontrasepsi kurang efektif, Sebelum minum amoxicillin,
katakan kepada dokter jika anda menggunakan pil kontrasepsi, berapa lamanya dari waktu
yang ditentukan oleh dokter Amoxicillin tidak akan bekerja pada suatu infeksi/peradangan
karena virus seperti selesma atau influensa. Jangan memberi pengobatan ini kepada orang
lain, sekali pun mereka mempunyai gejala-gejala yang sama anda kerjakan.
Pengobatan-pengobatan antibiotik dapat menyebabkan diare, yang bisa menjadi suatu
tanda dari suatu infeksi/peradangan yang baru. Jika anda mempunyai diare yang
encer/berair atau dengan darah di dalamnya, segera hubungi dokter. Jangan menggunakan
sembarang untuk menghentikan diare kecuali jika dokter sudah mengatakan kepada anda.
Perhatian
Sebelum menggunakan amoxicillin
Jangan menggunakan pengobatan ini jika anda alergi amoxicillin atau kepada zat
pembunuh kuman penisilin lain manapun, seperti:
ampisilin (Omnipen, Principen);
carbenicillin (Geocillin);
dicloxacillin (Dycill, Dynapen);
oxacillin (Bactocill); atau
penisilin (Beepen-VK, Ledercillin VK, Pen-V, Pen-Vee K, Pfizerpen, V-Cillin K, Veetids, dan
yang lain).
Sebelum menggunakan amoxicillin, katakan kepada dokter jika anda alergi antibiotik
(terutama sefalosporin-sefalosporin seperti Ceclor, Ceftin, Duricef, Keflex, dan yang lain),
atau jika anda mempunyai:
*sakit asma;
*penyakit hati;

*penyakit ginjal;
*gangguan pendarahan atau pembekuan darah;
*penyakit akibat radang ( juga disebut mono);
*Riwayat diare yang disebabkan oleh antibiotik; atau
*Riwayat tentang segala jenis dari alergi.
GENERIK
Amoksisilin.
MERK DAGANG
Penmox, Intermoxyl, Ospamox, Amoxsan, Hufanoxyl, Yusimox
INDIKASI
Infeksi saluran nafas, saluran kemih & kelamin, kulit & jaringan lunak yang disebabkan oleh
bakteri Gram positif & Gram negatif yang rentan terhadap Amoksisilin.
KONTRA INDIKASI
# Hipersensitifitas terhadap Penisilin.
# Infeksi mononukleosis.
CARA KERJA OBAT :
Amoxicillin adalah senyawa Penisilina semisintetik dengan aktivitas antibakteri
spektrum luas yang bersifat bakterisid, efektif terhadap sebagian besar bakteri
gram positip dan beberapa gram negatip yang patogen. Bakteri patogen yang
sensitif terhadap Amoxicillin antara lain : Staphylococci, Streptococci,
Enterococci, S. pneumoniae, N. gonorrhoeae, H influenzas, E. coli, dan P.
mirabiiis. Amoxicillin kurang efefktif terhadap species Shigella dan bakteri
penghasil beta laktamase.
PERHATIAN
# Hipersensitif terhadap Sefalosporin.
# Kerusakan ginjal.
# Leukemia limfatik.
# Superinfeksi.
- Penggunaan dosis tinggi dalam jangka lama dapat menimbulkan super infeksi (biasanya
disebabkan Enterobacter, Pseudomonas, S. aureus, Candida) terutama pada saluran gastro
intestinal.
- Pemakaian pada wanita hamil belum diketahui keamanannya dengan pasti.
- Hati - hati pemberian pada wanita menyusui daparmenyebabkan sensitifitas pada bayi.
- Pada kasus gonorhea : hati-hati penggunaan pada anak-anak karena probenecid dikontraindikasikan untuk anak-anak dibawah 2 tahun.
- Pengobatan dengan Amoxicillin dan jangka waktu yang lama harus disertai dengan
pemeriksaan terhadap fungsi ginjal, hati dan daraa
Interaksi obat :
- Probenesid memperpanjang waktu paruh Amoksisilin dalam plasma.
- Allopurinol memicu timbulnya kemerahan pada kulit.

- Mengurangi efektifitas kontrasepsi per oral.


EFEK SAMPING
Reaksi hipersensitifitas, gangguan pada saluran pencernaan.
KEMASAN
Kapsul 500 mg, kapsul 250 mg, Sirup kering.

DOSIS
# Dewasa : 250-500 mg tiap 8 jam.
# Anak-anak : 20 mg/kg berat badan/hari dalam dosis terbagi yang diberikan tiap 8 jam.
Pada infeksi berat dosis dapat digandakan.
# Gonore akut : 2-3 gram sebagai dosis tunggal.
CARA PENYIMPANAN
Untuk menjaga khasiat obat ini, maka harus pula diperhatikan cara penyimpanannya.
Amoxicillin sebaiknya disimpan dalam suhu kamar yaitu antara 20 sampai 25 derajat
Celcius. Untuk sirop kering yang telah dicampur dengan air sebaiknya tidak digunakan lagi
setelah 14 hari atau 2 minggu.

Home
Biologi
Bioteknologi
Apa Pengertian Hewan transgenik
Diperbaharui: 14 December, 2015 Oleh: Novi Indriani

Apa Pengertian Hewan transgenik


Hewan transgenik adalah organisme yang telah dimodifikasi yang merupakan hewan genetik.
Mereka telah dengan cara tertentu terjadinya perubahan materi genetik, untuk sejumlah alasan.
Dalam beberapa kasus hewan transgenik dapat dirancang hanya untuk secara visual menarikuntuk mempelajari, untuk menghasilkan lebih banyak daging, atau untuk melakukan tugas
tertentu yang lebih baik. Hewan transgenik memiliki DNA mereka diubah khusus dengan memiliki
DNA hewan lain dimasukkan ke dalam kode mereka sendiri, berbeda dengan hewan cisgenic, yang
memiliki DNA mereka diubah dengan cara lain.
Jenis paling sederhana dari hewan transgenik adalah mereka yang memiliki materi genetik
dimasukkan ke dalam kode mereka sendiri untuk tujuan penelitian. Salah satu contoh penting dari
hal ini adalah suntikan bahan dari spesies tertentu ubur-ubur ke makhluk lain. Bahan ini
bertanggung jawab untuk protein fluorescent, GFP, yang kemudian memungkinkan peneliti untuk
melacak protein GFP dengan menandai pada hewan itu telah dimasukkan ke dalam.

Kartika.xyz

Edukasi

Komputer

Kumpulan Soal

Kesehatan
o
o
o

Pengertian dan Contoh Hewan


transgenik

Home / Biologi Kelas x /

Pengertian dan Contoh Hewan transgenik

Pengertian dan Contoh Hewan transgenik

Hewan transgenik adalah hewan yang satu atau lebih gen telah diperkenalkan ke
dalam sel nonreproductive nya. Para hewan transgenik pertama diproduksi pada
tahun 1983 ketika gen untuk hormon pertumbuhan manusia diperkenalkan ke
tikus.
Hewan transgenik dapat digunakan untuk menghasilkan produk berharga.
Misalnya,

babi

transgenik

telah

diproduksi

dengan

kemampuan

untuk

mensintesis hemoglobin manusia untuk digunakan sebagai pengganti darah.


Juga, sapi transgenik telah dibesarkan dengan kemampuan untuk menghasilkan
manusia laktoferin, suatu protein susu-bangunan besi dan agen antibakteri yang
potensial. Seekor domba transgenik dapat mensintesis protein yang membantu
pasien emfisema bernafas lega, dan kambing transgenik telah dikembangkan
untuk menghasilkan protein yang dibutuhkan oleh pasien cystic fibrosis.

Pengertian dan Contoh Hewan transgenik

Tujuan dari transgenik ini adalah untuk mendapatkan sifat yang diinginkan dan
peningkatan produksi. Meskipun banyak potensi dan manfaat yang dapat diambil
dari hewan transgenik, akan tetapi proses yang dilibatkan dalam pengembangan
hewan transgenik di laboratorium berpotensi atau memiliki dampak yang buruk
terhadap masa depan hewan yang dilibatkan. Proses yang terjadi dalam
pengembangan galur transgenik baik di laboratorium maupun di hewan ternak
secara potensial memiliki dampak utama terhadap hewan yang diamati. Area
tertentu dimana masalah dapat terjadi adalah pada proses eksperimental yang
berhubungan dengan produksi in vitro dan transfer embrio serta selama
gestasi

dan

kelahiran

hewan

yang

dimanipulasi.

Pada

hewan

ternak,

dibandingkan dengan IB, prosedur yang digunakan sebelum dan sesudah


mikroinjeksi

(contohnya

kultur in

vitro dan

transfer

embrio)

mungkin

memperpanjang gestasi, meningkatkan bobot lahir dan menyebabkan insiden


kesulitan lahir dan kehilangan perinatal yang lebih tinggi.
Salah satu contoh penerapan transgenik adalah

transgenik ikan salmon

(Oncorhynchus nerka) . Salmon jantan memiliki panjang total tubuh 84 cm,


sedangkan panjang total tubuh betina umumnya sekitar 71 cm. Berat maksimal
sekitar 7.710 gram. Usia maksimal sekitar 8 tahun. Ikan ini termasuk ikan pelagis,
hidup secara anadromus. Habitat di air tawar, muara, dan air laut, dengan
kedalaman

antara

0-250

meter.

Temperatur optimal

yang

baik

untuk

pertumbuhan ikan salmon adalah 25 C. Sirip punggung lunak berjumlah 11-16


o

buah. Sirip anus lunak berjumlah 13-18, sedangkan jumlah tulang punggung
sekitar 56-67 buah
Keunggulan ikan hasil rekayasa ini antara lain pertumbuhan cepat, tahan
terhadap serangan penyakit, dan tahan terhadap lingkungan yang cukup ekstrem.
Namun,
apabila ikan ini masuk ke wilayah perairan alami, maka mereka dap
at menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem. Sebagai contoh, ketika ikan
salmon
transgenik memasuki wilayah perairan alami, salmon hasil rekayasa ini
lebih menarik pasangan dibandingkan salmon yang hidup di habitat asli.
Ketika terjadi pemijahan antar salmon transgenik dan salmon alami, maka dapat
menyebabkan sifat (sifat transgen) untuk menyebar cepat melalui populasi liar
tersebut. Mereka juga menemukan bahwa karena keturunan mereka tidak
hidup lama, akhirnya populasi asli tersebut akan terhilangkan