Anda di halaman 1dari 5

LI I.

MENJELASKAN DAAN MEMAHAMI SIRKULASI KAPILER


LO 1.1 Susunan sirkulasi kapiler
Kapiler merupakan pembuluh darah yang halus dan berdinding sangat
tipis, yang berfungsi
sebagai
jembatan diantara arteri (membawa darah dari jantung) dan vena
(membawa darah kembali ke jantung). Kapiler memungkinkan oksigen dan
zat makanan berpindah dari darah ke dalam jaringan dan memungkinkan
hasil metabolisme berpindah dari jaringan ke dalam darah. Dari kapiler,
darah mengalir ke dalam venula lalu ke dalam vena, yang akan membawa
darah kembali ke jantung.
(ILMU FISIOLOGI, 2011)
L0 1.2 Mekanisme aliran cairan tubuh dari sisi arteri ke venula
Arteri-> arteriol-> metarteriol-> venula
Arteriol bercabang menjadi pembuluh yang lebih kecil berdinding otot,
yang kadang-kadang disebut metarteriol, dan pembuluh ini selanjutnya
mengalirkan darahnya ke kapiler. Di beberapa jaringan vascular yang telah
dipelajari secara rinci, metarteriol langsung terhubung dengan venula
melalui pembuluh transit berkapiler.
(FISIOLOGI

KEDOKTERAN

GANONG)
LI II MENJELASKAN DAN MEMAHAMI ASPEK BIOKIMIA DAN FISIOLOGI
KELEBIHAN CAIRAN DALAM TUBUH
LO 2.1 Faktor yang mempengaruhi metabolisme air
Faktor-faktor yang berpengaruh pada keseimbangan cairan dan
elektrolit tubuh
antara lain :
-umur
Kebutuhan intake cairan bervariasi tergantung dari usia, karena usia
akan berpengaruh pada luas permukaan tubuh, metabolisme, dan
berat badan. Infant dan anak-anak lebih mudah mengalami gangguan
keseimbangan cairan dibanding usia dewasa. Pada usia lanjut sering
terjadi gangguan keseimbangan cairan dikarenakan gangguan fungsi
ginjal atau jantung.
-iklim:

Orang yang tinggal di daerah yang panas (suhu tinggi) dan


kelembaban udaranya rendah memiliki peningkatan kehilangan cairan
tubuh dan elektrolit melalui keringat. Sedangkan seseorang yang
beraktifitas di lingkungan yang panas dapat kehilangan cairan sampai
dengan 5 L per hari.
-diet: diet seseorang berpengaruh terhadap intake cairan dan elktrolit.
Ketika intake nutrisi tidak adekuat maka tubuh akan membakar protein
dan lemak sehingga akan serum albumin dan cadangan protein akan
menurun padahal keduanya sangat diperlukan dalam proses
keseimbangan cairan sehingga hal ini akan menyebabkan edema.
-keadaan stress : stress dapat meningkatkan metabolisme sel, glukosa
darah, dan pemecahan glykogen otot. Mrekanisme ini dapat
meningkatkan natrium dan retensi air sehingga bila berkepanjangan
dapat meningkatkan volume darah.
-keadaan sakit : kondisi sakit sangat berpengaruh terhadap kondisi
keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh misalnya :
- Trauma seperti luka bakar akan meningkatkan kehilangan air melalui
IWL.
- Penyakit ginjal dan kardiovaskuler sangat mempengaruhi proses
regulator
keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh
- Pasien dengan penurunan tingkat kesadaran akan mengalami
gangguan pemenuhan intake
cairan karena kehilangan kemampuan untuk memenuhinya secara
mandiri.
(Scribd, 2011)
LO 2.2 Penyebab kelebihan cairan
Overhidrasi adalah dimana tubuh manusia mengalami kelebihan cairan
dalam tubuh, banyaknya cairan yang masuk lebih banyak daripada cairan
yang dikeluarkan. Kelebihan cairan dalam tubuh menyebabkan konsentrasi
natrium dalam aliran darah menjadi kecil, minum air dalam jumlah yang
sangat banyak biasanya tidak menyebabkan overhidrasi jika kelenjar
hipofisa, ginjal dan jantung berfungsi dengan normal.
(detik.health, 2011)

LO 2.3 Tenaga aliran darah dari tekanan hidrostatik, koloid osmotic, protein
darah, dan cairan interstitial
Tekanan hidrostatik cairan interstisium adalah tekanan cairan yang
bekerja dibagian
luar dinding kapiler oleh cairan interstisium, tekanan ini mendorong cai
ran masuk ke dalam kapiler.
Tekanan osmotik koloid plasma / tekanan onkotik adalah gaya yang
disebabkan olehdispersi koloid protein protein plasma, tekanan ini ini
mendorong pergerakan cairan kedalamkapiler. Tekanan koloid plasma
rata rata adalah 25 mmHg.
Tekanan cairan interstitial
Meningkatnya tekanan cairan interstitial membuat terjadinya peningka
tankecepatan aliran limfe sehingga membawa keluar kelebihan volume
cairaninterstitial dan kelebihan protein terakumulasi dalam ruang
interstitial.
LO 2.4 Gangguan keseimbangan dari aliran darah di kapiler darah, vena,
dan limfe
1.
Penurunan konsentrasi protein plasma, menyebabkan penurun
tekanan osmotik koloid plasma.
Penurunan tekanan ke arah dalam yang utama ini menyebabkan filtrasi
cairan berlebihan keluar dari pembuluh sementara jumlah cairan yang
direabsorpsi kurang dari normal. Dengan demikian terdapat cairan
tambahanyang tertinggal di ruang interstisium.
Edema yang disebabkan oleh penurunan konsentrasi protein plasma
dapat terjadi melalui beberapa cara : pengeluaran berlebihan protein
plasma di urin akibat penyakit ginjal; penurunan sintesis protein
plasma akibat penyakit hati (hati mensintesis hampir semua protein
plasma); makanan yang kurang mengandung protein; atau
pengeluaran protein akibat luka bakar yang luas.

2.

Peningkatan permeabilitas dinding kapiler,

Memungkinkan lebih banyak (dari biasanya) protein plasma keluar dari


kapiler ke cairan interstisium di sekitarnya, sebagai contoh, melalui

pelebaran pori-pori kapiler yang dicetuskan oleh histamin pada cedera


jaringan atau reaksi alergi.
Terjadi penurunan tekanan osmotik koloid plasma yang menurunkan
tekanan osmotik koloid cairan interstisium yang disebabkan oleh
kelebihan protein di cairan interstisium meningkatkan tekanan ke arah
luar. Ketidakseimbangan ini ikut berperan menimbulkan edema lokal
yang berkaitan dengan cedera (misalnya lepuh) dan respons alergi
(misalnya biduran).

3.

Peningkatan tekanan vena,

Misalnya ketika darah terbendung di vena, akan disertai peningkatan


tekanan darah kapiler, karena kapiler mengalirkan isinya ke dalam
vena. Peningkatan tekanan ke arah luar dinding kapiler ini terutama
berperan pada edema yang terjadi pada gagal jantung kongestif.
Edema regional juga dpat terjadi karena restriksi lokal aliran balik
vena.
Salah satu contoh adalah pembengkakan di tungkai dan kaki yang
sering terjadi pada masa kehamilan. Uterus yang membesar menekan
vena-vena besar yang mengalirkan darah dari ekstremitas bawah pada
saat vena-vena tersebut masuk ke rongga abdomen. Pembendungan
darah di vena ini menyebabkan peningkatan tekanan darah di kapiler
tungkai dan kaki yang mendorong terjadinya edema regional di
ekstremitas bawah.

4.

Penyumbatan pembuluh limfe,

Menimbulkan edema karena kelebihan cairan yang difiltrasi keluar


tertahan di cairan interstisium dan tidak dapat dikembalikan ke darah
melalui sistem limfe. Akumulasi protein di cairan interstisium
memperberat masalah melalui efek osmotiknya. Penyumbatan limfe
lokal dapat terjadi, sebagai contoh, di lengan wanita yang saluransaluran drainase limfenya dari lengan tersumbat akibat pengangkatan
kelenjar limfe selama pembedahan untuk kanker payudara.
Penyumbatan limfe yang lebih meluas terjadi padafilariasis, suatu
penyakit parasitik yang ditularkan melalui nyamuk yang terutama

dijumpai di daerah-daerah tropis. Pada penyakit ini, cacing-cacing


filaria kecil mirip benang menginfeksi pembuluh limfe sehingga terjadi
gangguan aliran limfe. Bagian tubuh yang terkena, terutama skrotum
dan ekstremitas, mengalami edema hebat. Kelainan ini sering disebut
sebagai elefantiasis karena ekstremitas yang membengkak tampak
seperti kaki gajah.