Anda di halaman 1dari 8

Analisis Kadar Lemak Total dengan Metode Ekstraksi Soxhlet

Pada Komoditi Serealia dan Legum


Anisah Alviah, Eulis Saftitri, Hamidah Nur, Irsan Luthfan, Nuri Purwanti,
dan Siti Nurmilah
Program Studi Pendidikan Teknologi Agroindustri
Universitas Pendidikan indonesia

Abstract
The purpose of this study was to determine the levels of fat contained in
food. the sample used is green bean, candlenut, peanut, soybean, and
coconut, with method used is soxhlet method. This methode is done by
the extracttion of the sample with soluble hexane and then the extraction
of the fat saved on the boiling glass. The fat on the boiling glass was
evaporated on rotary ovaporation for got the pure extraction of fat.
Testing was perfomed using two samples (duplicate) with the different
results from the first sample with the others. Then the result of the sample
was came from the average of the sample count.

Abstrak
Serealia dan legum merupakan salah satu komoditi bahan pangan yang
dikonsumsi dengan jumlah besar per harinya oleh manusia. Kandungan
gizi dalam komoditi tersebut juga cukup untuk menunjang kebutuhan
tubuh dalam proses metabolisme. Salah satu kandungan yang dinilai
menjadi penentu flavor dan tekstur dari serealia dan legum adalah lemak.
Lemak hampir banyak terkandung dalam bahan pangan, terutama bahan
pangan hewani. Fungsi dan manfaat lemak yang penting bagi tubuh,
membuat beberapa produsen pangan meningkatkan mutu produknya
dengan fortifikasi lemak esensial. Kandungan lemak total dalam suatu
bahan maupun produk pangan pun terkadang menjadi acuan konsumen
untuk memilih dan menggunakan produk tersebut. Beberapa macam
komoditi serealia dan legum yang diuji kadar lemak totalnya adalah,
kacang hijau, kemiri, kacang tanah, kacang kedelai dan kelapa. Dari hasil

uji kadar lemak total dengan metode ekstraksi soxhlet didapat hasil
perhitungan sebagai berikut : kacang hijau 3,47%, kemiri 57,47 %,
kacang tanah 50,93 %, kacang kedelai 17,57 %, dan kelapa 73 %.

Pendahuluan
Lipida adalah golongan senyawa organik yang sangat heterogen yang
menyusun jaringan tumbuhan dan hewan. Lipida merupakan golongan
senyawa organik kedua yangmenjadi sumber makanan, merupakan kirakira 40% dari makanan yang dimakan setiaphari. Lipida mempunyai sifat
umum sebagai berikut:
1. lidak larut dalam air.
2. larut dalam pelarut organik seperti benzena, eter, aseton, kloroform,
dankarbontetraklorida.
3. mengandung unsur-unsur karbon, hidrogen, dan oksigen, kadangkadangjuga mengandung nitrogen dan fosfor.
4. bila dihidrolisis akan menghasilkan asam lemak
5. berperan pada metabolisme tumbuhan dan hewan. lidak larut dalam
air
6. larut dalam pelarut organik seperti benzena, eter, aseton, kloroform,
dan karbontetraklorida.
7. mengandung unsur-unsur karbon, hidrogen, dan oksigen, kadangkadangjuga mengandung nitrogen dan fosfor
8. bila dihidrolisis akan menghasilkan asam lemak
9. berperan pada metabolisme tumbuhan dan hewan.
Berbeda dengan karbohidrat dan protein, lipida bukan suatu polimer, tidak
mempunyai satuan yang berulang. Pembagian yang didasarkan atas hasil
hidrolisisnya,lipida digolongkan menjadi lipida sederhana, lipida majemuk,
dan sterol. Minyak dan lemak termasuk dalam golongan lipida sederhana.
Lemak dan minyak terdiri dari trigliserida campuran, yang merupakan
ester darigliserol dan asam lemak rantai panjang. Trigliserida jika
dihidrolisis akan menghasilkan 3 molekul asam lemak rantai panjang dan
1 molekul gliserol. Lipida majemuk jika dihidrolisis akan menghasilkan

gliserol , asam lemak dan zatlain. Secara umum lipida komplekss


dikelompokkan menjadi dua, yaitu fosfolipida danglikolipida. Fosfolipida
adalah suatu lipida yang jika dihidrolisis akan menghasilkan asam lemak,
gliserol, asam fosfat serta senyawa nitrogen. Contoh senyawa yang
termasuk dalam golongan ini adalah lesitin dan sephalin.
Lemak biasanya dinyatakan sebagai komponen yang larut dalam pelarut
organik (seperti eter,heksan atau kloroform), tapi tidak larut dalam air.
Senyawa yang termasuk golongan ini meliputi triasilgliserol, diasilgliserol,
monoasilgliserol, asam lemak bebas, fosfolipid, sterol,karotenoid dan
vitamin A dan D. Fraksi lemak sendiri mengandung campuran kompleks
dariberbagai jenis molekul. Namun triasilgliserol merupakan komponen
utama sebagian besar makanan, jumlahnya berkisar 90-99% dari total
lemak yang ada, kondisi makanan saat sampel diambil. Preparasi sampel
pada analisis lemak tergantung padajenis makanan yang dianalisis
(contoh daging, susu, kue dan krim), sifat komponen lemak(seperti
volatilitas, peluang oksidasi, kondisi fisik) dan jenis prosedur analisis yang
di gunakan (seperti ekstraksi solven, ekstraksi non-solven, instrumentasi).
Untuk menentukan prosedur preparasi sampel, perlu diketahui struktur
fisik dan lokasi lemak penting dalam makanan. Umumnya preparasi
sampel harus ilakukan dalam lingkungan yang meminimalkan perubahan
spesifik terhadap lemak. Jika oksidasi menjadi masalah, penting untuk
melakukan preparasi sampel dalam atmosfer nitrogen, temperatur
rendah, minim cahaya atau dengan penambahan antioksidan. Bila
kandungan lemak padat atau struktur kristal penting, perludilakukan
kontrol suhu dan penanganan sampel secara khusus.
Penentuan kadar minyak atau lemak suatu bahan dapat dilakukan dengan
alatekstraktor Soxhlet. Ekstraksi dengan alat Soxhlet merupakan cara
ekstraksi yang efisien,karena pelarut yang digunakan dapat diperoleh
kembali. Dalam penentuan kadar minyak atau lemak, bahan yang diuji
harus cukup kering, karena jika masih basah selain memperlambat proses
ekstraksi, air dapat turun ke dalam labu dan akan mempengaruhi dalam
perhitungan (Ketaren, 1986:36). Minyak nabati terdapat dalam buahbuahan, kacang-kacangan, biji-bijian, akar tanaman, dan sayur-sayuran.

Terutama dalam kacang-kacangan dan biji-bijian, lemak cukup banyak


terkandung disana, hal ini dilihat dari sifat fisik bahan pangan tersebut
yang umumnya berminyak jika disentuh atau digenggam.

Metodologi
Alat :
Labu soxhlet, destilator, labu didih, neraca analitik, oven, desikator, kertas
saring, heating mantel,rotary evaporator.
Bahan :
Kacang hijau, kemiri, kacang tanah, kedelai, kelapa, n-hexane
Prosedur Kerja :
1. bersihkan labu yang akan digunakan
2. keringkan dalam oven bersuhu 105oC selama 1 jam
3. dinginkan dalam desikator selama 15 menitdan timbang dengan
neraca analitik
4. timbang sampel sebanyak 5 gram
5. sampel dibungkus dengan kertas saring
6. sampel dimasukan ke dalam soxhlet
7. refluks selama 5 jam atau 8-9 x siklusdengan pelarut n-hexane
8. hexane yang mengandung lemak diuapkan dengan rotary
evaporator
9. labu dikeringkan dalam oven selama 1 jam dan timbang kembali
Perhitungan :
X 100%

Keterangan:

a= berat labu kosong


b= berat sample
c= berat akhir

Hasil dan Pembahasan


Hasil

No

Nama Sampel

Kadar lemak total (%)

Kacang Hijau

2,25

Kemiri

57,47

Kacang Tanah

50,93

Kacang Kedelai

17,57

Kelapa

73

Pembahasan
Sebelum memulai praktikum analisa kadar lemak dengan metode Soxhlet
ini langkah pertama yang dilakukan adalah pengeringan labu yang akan
digunakan sebagai penampung hasil dari ekstraksi lemak. Tujuan dari
pengeringan labu ini adalah untuk menghilangkan kadar air yang melekat
pada labu agar ketika ditimbang hasilnya tidak akan rancu. Sampel yang
digunakan pada praktikum kali ini adalah kacang hijau, kemiri, kacang
tanah, kacang kedelai dan kelapa. Untuklangkahawalsebelumpengukuran,
sampleharusdihaluskanterlebihdahulu denganmenggunakan mortar dan
pastel.Penghalusandilakukan agar sample dapat dimasukkan kedalam
alat dan juga dapat diekstraksi dengan lebih mudah.Sample yang telah
halus selanjutnya akan di timbang pada timbangan analitik sebanyak
kurang lebih 5 gram lalu dibungkus dengan kertas saring yang disumbat
dengan kapas dibagian atas dan bawahnya atau disebut sebagai
selongsong yang bertujuan agar sample tidak berhamburan dan tidak ikut
terlarut di dalam pelarut,kemudian dimasukkan kedalam Soxhletyang
disambungkan dengan labu dan ditempatkan pada alat pemanas listrik
serta kondensor. Alat pendingin disambungkan dengan Soxhlet. Air untuk
pendingin di jalankan dan alat ekstraksi lemak mulai dipanaskan .
Pelarut yang digunakan adalah pelarut heksan. Pelarut heksana bersifat
non polar sehingga bisa melarutkan lemak dan heksan juga bersifat inert
sehingga tidak ikut bereaksi, dan sering digunakan
sebagai pelarut organik lalu dipanaskan dengan suhu 60C.Ketika pelarut

di didihkan, uapnya naik melewati Soxhlet menuju ke pipa pendingin. Air


dingin yang di alirkan melewati bagian luar kondensor mengembunkan
uap pelarut sehingga kembali ke fasecair, kemudian menetes ke pelarut
melarutkan lemak dalam selongsong, larutan sari ini terkumpul dalam
selongsong dan bila volumenya telah mencukupi, sari akan dialirkan lewat
sifon menuju labu. Proses dari pengembunan hingga pengaliran disebut
sebagai refluks. Proses ekstraksilemakkasardilakukanselama kurang lebih
6 jam sebanyak 6-8 siklus. Setelah proses ekstraksi selesai, pelarut dan
lemak di pisahkan melalui proses penyulingan dan dikeringkan (Darmasih
1997).
Setelah selesai diekstraksi, hasil ekstraksi lemak di uapkan dengan alat
rotary evaporator. Hal ini bertujuan untuk memisahkan ekstrak lemak
dengan pelarut heksan dan untuk mendapatkan ekstraksi murni lemak.
Setelah didapatkan lemak murni bebas heksan lalu labu di oven lemak
hasil ekstraksi benar-benar murni karena dikhawatirkan masih ada latutan
heksan yang masih ikut terlarut dengan hasil ekstraksi lemak. Setelah
labu di oven lalu dimasukkan ke dalam desikator untuk ditimbang agar
mendapatkan hasil akhir dengan perhitungan sebagai berikut:
X 100%
Keterangan:

a= berat labu kosong

b= berat sample
c= berat akhir
Dari hasil praktikum ini, hasil rata-rata dari kecang hijau adalah 2,25%
dan standar DKBM adalah 1,2%. Kemiri 54,47% dan standar DKBM adalah
63%. Kacang tanah 50,98% dan standar DKBM adalah 42,7%. Kacang
kedelai 17,57% dan standar DKBM adalah 16,7%. Kelapa 73% dan standar
DKBM adalah 34,7%.
Hasil yang didapatkan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor. Diantaranya
karena proses pengovenan yang belum optimal sehingga kandungan
lemak di dalam labu belum benar-benar murni dan masih tercampur
dengan pelarut heksan. Selain itu juga, selama penimbangan diduga
adanya kandungan uap air dari udara yang ikut tertimbang sehingga

mengakibatkan kerancuan pada hasil sample. Seperti yang terlihat pada


sample kelapa, hasil perhitungan yang didapat jauh berbeda dengan
standar DKBM.

Kesimpulan
Analisa kadar lemak yang dilakukan merupakan analisa kadar lemak total,
dimana jumlah kadar yang diperoleh merupakan jumlah total seluruh jenis
lemak dari sampel bahan yang diuji. Hal ini perlu untuk diketahui sebagai
informasi nilai gizi bahan pangan tersebut. Selain itu, perlunya suatu
bahan pangan diuji kadar lemak totalnya adalah karena berpengaruh
terhadap aspek kualitas bahan pangan saat diolah.

Daftar Pustaka
Anwar, Chairil, dkk. (1996). Pengantar Praktikum Kimia Organik. Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, DIKTI.
http://avliyaajan22.blogspot.com/2011/05/blog-post.html diakses pada 3
November 2015
http://fikapuspita.blogspot.co.id/2014/09/laporan-praktikum-analisispangan-lemak.html diakses pada 3 November 2015
Ketaren, S. (1986). Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan.
Jakarta: UI
Press.
Sudarmadji, Slamet, Suhardi, Bambang Haryono. (1989). Analisa Bahan
Pangan
dan Pertanian. Yogyakarta: PAU Pangan dan Gizi UGM.

http://tuinxbie.blogspot.co.id/2012/09/analisis-kadar-lemak-metodeekstraksi.html diakses pada 3 November 2015

Anda mungkin juga menyukai