Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Negara Arab Saudi merupakan salah satu negara di Dunia Islam yang cukup

strategis, terutama karena di negara tersebut terdapat Baitullah di Makkah yang


menjadi pusat ibadah haji kaum Muslim seluruh dunia. Apalagi perjalanan Islam
tidak bisa dilepaskan dari wilayah Arab Saudi. Sebab, di sanalah Rasulullah saw.
lahir dan Islam bermula hingga menjadi peradaban besar dunia. Arab Saudi juga
sering menjadi rujukan dalam dunia pendidikan Islam karena di negara tersebut
terdapat beberapa universitas seperti King Abdul Aziz di Jeddah dan Ummul Qura
di Makkah yang menjadi tempat belajar banyak pelajar Islam dari seluruh dunia.
Pemerintah Saudi bermula dari bagian tengah semenanjung (jazirah) Arab
yakni pada tahun 1750 ketika Muhammad bin Saud bersama dengan Muhammad
bin Abdul Wahhab bekerja sama untuk memurnikan agama Islam yang kemudian
dilanjutkan oleh Abdul Aziz Al Saud atau Abdul Aziz Ibnu Suud dengan
menyatukan seluruh wilayah Hijaz yang dulu dikuasai oleh Syarif Husain dengan
Najd. Pada tahun 1902 Abdul Aziz menguasai Riyadh dari penguasa Al-Rashid,
kemudian Al-Ahsa kemudian wilayah nejed antara tahun 1913-1926. Pada tanggal
8 Januari 1926, Abdul Aziz menjadi penguasa wilayah Najd. Dengan
menandatangani perjanjian di Jeddah pada tanggal 20 Mei 1927 Arab Saudi
menyatakan kemerdekaannya. Pada tahun 1936 wilayah itu diresmikan sebagai
Kerajaan Arab Saudi.
Wahabisme dan keluarga Kerajaan Saudi telah menjadi satu kesatuan yang
tak terpisahkan sejak kelahiran keduanya. Wahabisme-lah yang telah menciptakan
kerajaan Saudi, dan sebaliknya keluarga Saud membalas jasa itu dengan
menyebarkan paham Wahabi ke seluruh penjuru dunia. One could not have
existed without the other Sesuatu tidak dapat terwujud tanpa bantuan sesuatu
yang lainnya.

B.
1.
2.
3.
4.
C.

Rumusan Masalah
Sejarah Kerajaan Saudi Arabian
Lahirnya Kerajaan Arab Saudi (Al-Mamlakah Al-Arabiyah As-Saudiyah)
Perkembangan Islam pada Masa Dinasti Saud
Keadaan Sosial Bangsa Arab pada Masa Berdirinya Dinasti Saud
Tujuan

Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah :


1.
2.
3.

Untuk memenuhi tugas sekolah


Untuk lebih memahami Kerajaan Arab Saudi
Media pembelajaran dalam pembuatan makalah

BAB II
PEMBAHASAN

A.

Sejarah Kerajaan Saudi Arabian


Terbentuknya kerajaan Arab Saudi tidak terlepas dari kemunduran yang

dialami oleh Daulah Utsmaniyah di Turki, bangkitnya paham Wahabiyah di


daerah Makkah, Madinah dan Basrah, serta campur tangan penjajah dari Eropa
seperti Inggris dan Prancis. Seperti kerajaan-kerajaan lain sebelumnya, kerajaan
Arab Saudi pun mengalami pasang-surut antara masa-masa kejayaan dan
kehancuran. Pada umumnya, sejarah kerajaan Arab Saudi dibagi menjadi tiga
periode: dinasti pertama pada tahun 1744-1818, dinasti kedua antara tahun 18241892, dan dinasti ketiga yang dimulai pada tahun 1932 sampai sekarang.
Pada awalnya, keluarga ini hanya sebuah keluarga yang menguasai daerah
kecil sebagaimana keluarga-keluarga lainnya di jazirah Arab. Sejarah Keluarga
Saud berawal pada tahun 1727, ketika Muhammad bin Saud menjadi hakim di
Diriyah dan memutuskan untuk bersekutu dengan Muhammad ibn Abdul Wahab
pada tahun 1744. Sejak saat itu, keluarga Saud menjadi pendukung utama
gerakan wahabi dan ikut menyebarkan ajaran yang dibawanya. Gerakan Wahabi
ini pada mulanya telah tersebar di daerah Uyainah, tetapi kemudian tidak
mendapat dukungan dari pemerintah setempat.
Persekutuan Saudiyah Wahabiyah ini menjadi suatu kekuatan baru di
dunia Arab, baik dari segi politik maupun dari segi spritual. Ajaran Wahabi
berkembang dan menjadi ideologi pemersatu kesukuan yang bersifat keagamaan
di wilayah kekuasaan Ibn Saud. Dengan semangat memurnikan kembali ajaran
Islam, mereka berusaha untuk melawan suku-suku disekitarnya sekaligus
menyebarkan ajaran Wahabi. Di lain sisi, daerah kekuasaan Ibn Saud semakin
meluas.
Pada masa kepemimpinan Abdul Aziz bin Muhammad ibn Saud (1765
1803), dinasti Saud berhasil merebut Riyadh yang merupakan ibukota Nejd pada
tahun 1773, kemudian meluas daerah pedalaman Arabia. Beberapa tahin
kemudian Dinasti Saud berhasil menguasai Oman, Yaman, Pedalaman Suriah,
teluk Arab, hingga Karbala pada tahun 1801, di tahun berikutnya mereka berhasil
menguasai Thaif. Pendudukan ini kemudian berlanjut pada masa pemerintahan
Saud Ibn Abdul Aziz Ibn Muhammad Ibn Saud (18031814), pasukannya berhasil

memasuki Makkah (1803) dan Madinah (1804) dan memaksa penguasa Hijaz
pada saat itu tunduk pada pemerintahan Saudiyah.
Perkembangan Daulah Bani Saudiyah yg begitu pesat ini, menjadikanya
sebagai sebuah ancaman tersendiri bagi kekuatan Daulah Bani Utsmaniyah di
Turki. Oleh karena itu, pada tahun 1811 pemerintah Utsmaniyah mengirim
Muhammad Ali Pasya untuk merebut kembali daerah Hijaz. Usaha Muhammad
Ali ini diteruskan oleh anaknya Ibrahim Pasya hingga akhirnya dapat menguasai
kota Diriyah tahun 1818. Setelah menguasai kota, pemimpin dinasti Saud pada
saat itu, Abdullah bin Saud ditangkap dan dieksekusi di Ibukota Utsmaniyah.
Peristiwa ini menandai runtuhnya kekuatan keluarga Saud periode pertama.
Dinasti Saud yang kedua dimulai sejak Turki ibn Abdillah berkuasa di
Riyadh pada tahun 1824.[7] Ia berusaha mengembalikan kejayaan Saudiyah, dan
berhasil menguasai Arid, Kharj, Hotah, Mahmal, Sudayr dan Aflaj. Pada masa ini
Turki ibn Abdillah tidak saja harus berhadapan dengan pasukan Utsmaniyah dan
pasukan Mesir, tetapi Ia juga harus meredam pemberontakan yang dilakukan oleh
Mishari yang merupakan sepupunya sendiri. Perang saudara seperti ini terus
berlanjut hingga generasi ketiga, sepeninggal Saud yang wafat pada tahun 1875.
Dua saudaranya, Abdurrahman dan Abdullah saling berebut untuk menjadi orang
nomor satu di dinasti Saudiyah. Oleh karena perang saudara yang berlarut-larut
ini, akhirnya pada tahun 1891, dinasti Saudiyah berakhir ditandai dengan
terusirnya Abdurrahman ke Kuwait oleh bekas bupatinya sendiri, Muhammad ibn
Rashid.
Pada tahun 1902, Abdul Aziz yang merupakan anak dari Abdurrahman berhasil
membunuh pemimpin Bani Rashid dan menduduki Riyadh. Peristiwa ini
merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Arab Saudi seperti yang kita ketahui
sekarang ini.

B. Lahirnya Kerajaan Arab Saudi (Al-Mamlakah Al-Arabiyah AsSaudiyah)

Kerajaan Arab Saudi modern seperti yang kita kenal seperti pada saat ini
merupakan sebuah kerajaan bani Saudiyah yang dirintis oleh Abdul Aziz AsSaud atau yang lebih dikenal dengan Ibn Saud setelah Ia menaklukan Riyadh.
Ibnu Saud merupakan seorang pemimpin kharismatik, pemberani, terhormat,
bahkan dikenal dengan kekejamannya pada saat-saat tertentu. Pada awal-awal
masa pemerintahannya di Riyadh, Ia menghadapi serangan dari bani Rashid yang
dibantu oleh pasukan Ottoman Turki. Tetapi dengan bantuan Inggris dan Kuwait,
pada tahun 1904 Ibnu Saud berhasil memenangkan pertempuran tersebut dan
memaksa Ottoman untuk menarik pasukan mereka.
Ibnu Saud juga berhasil merengkuh dukungan dari suku Badui dengan
mendirikan sebuah organisasi yang disebut dengan Al-Ikhwan. Melalui organisasi
ini Ia mengajak para masyarakat Badui yang memeluk paham Wahabi untuk
tinggal menetap dan memberikan mereka bantuan berupa tanah, sandang-pangan,
dan lain sebagainya. Ibnu Saud mulai menghilangkan hukum-hukum adat yang
berlaku dan menggantinya dengan hukum Islam, Ia mulai berusaha menata
kehidupan kaum Badui yang semula suka berpindah-pindah tempat. Oleh karena
itu, Ibnu Saud kemudian mendapat dukungan penuh dari kelompok Al-Ikhwan
ini, serta dapat memukul mundur pasukan Ottoman dari Hufuf pada tahun 1913.
Pada masa-masa menjelang perang dunia pertama, Ibnu Saud lebih memilih
bekerja sama dengan Inggris. Sehingga pada than 1915 ia mengadakan perjanjian
dengan pemerintahan Inggris yang dengannya diakuinya eksistensi dan
kemerdekaan negara Saudi. Hal ini dilakukan Inggris karena mereka menilai masa
depan Ibnu Saud akan jauh lebih baik dari pada penguasa Hijaz, Husain bin Ali.
Setelah berakhirnya perang dunia pertama, Ibnu Saud kembali memperluas
wilayah kekuasaannya dan mempersatukan jazirah Arabia dibawah kerajaannya.
Pada tahun 1920 Ia memulai ekspansi ke Hail dan berhasil menghapus kekuasaan
dinasti Rasyidiyah. Setahun kemudian Ia memplokamirkan diri sebagai penguasa
Nejd. Tahun 1922 Ibnu Saud meluncurkan serangan ke Hijaz, Ia berhasil
membuat penguasa Hijaz ketakutan dan memasuki kota Makkah tanpa perlawanan
pada tahun 1924.

Pada tahun 1927 Inggris kemudian mengadakan perjanjian dengan Ibnu


Saud dan mengakui kemerdekaan dari wilayah kekuasaan Saudiyah pada saat
itu. Tetapi ini justru menyebabkan perpecahan antara Ikhwan dan pemerintahan
Ibnu Saud. Hal ini didasari oleh dibangunnya pos penjagaan oleh Irak didekat
perbatasan Saudi. Kelompok Ikhwan yang tidak setuju dengan hal tersebut
menyerang pos tersebut, serangan ini menyebabkan terjadinya konflik dengan
Inggris. Di lain pihak, Ibnu Saud menginginkan penyelesaian masalah tersebut
secara diplomatis, yang mana sangat bertentangan dengan keinginan kaum AlIkhwan. Hal ini mengakibatkan pemberontakan kelompok Al-Ikhwan terhadap
pemerintahan Ibnu Saud. Pada Januari 1930, Ibnu Saud berhasil meredam
pemberontakan ini dan mengubah pola pengajaran diwilayah kekuasaan kerajaan
Saudiyah.
Setelah pemberontakan Al-Ikhwan, pemberontakan-pemberontakan kembali
terjadi untuk meruntuhkan rezim Ibnu Saud. Untuk menjaga stabilitas di wilayah
kekuasaannya, Ibnu Saud kemudian menumpas semua kelompok pemberontak
dan melarang segala bentuk gerakan politik yang sebelumnya diperbolehkan.[13]
Pada tahun 1932 Ia berhasil memplokamirkan penggabungan Hijaz dan Najd,
hingga puncaknya Ibnu Saud memplokamirkan berdirinya Kerajaan Arab Saudi
pada tanggal 23 September 1932.
C.

Perkembangan Islam pada Masa Dinasti Saud


Pada hakikatnya, Islam telah tersebar di jazirah Arab sejak diangkatnya

Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul. Jazirah Arab meupakan tempat Islam
mulai tumbuh dan berkembang sejak beliau Hijrah dari Makkah ke Madinah, serta
diteruskan oleh para Khulafaur Rasyidin. Pusat pemerintahan Islam terbesar
kemudian berpindah ke Damaskus pada masa Daulah Bani Umayyah, ke Baghdad
pada masa Daulah Abbasiyah, bahkan beralih ke Turki pada masa Daulah
Utsmaniyah. Jazirah Arab kemudian kembali bergeliat pada masa-masa
kehancuran Utsmaniyah hingga menjadi sebuah kerajaan besar dibawah pimpinan
Ibnu Saud.
Tidak dapat dipungkiri bahwa kejayaan Dinasti Saud sangan dibantu dengan
gerakan paham Wahabiyah yang dibawa oleh Muhammad Ibnu Abdul Wahab.

Bahkan dapat dikatakan Kerajaan Saudiyah tidak dapat berkembang pesat apabila
tidak diiringi dengan misi untuk menyebarkan paham ini. Seperti yang telah
dijelaskan diatas, paham ini menjadi ideologi pemersatu bangsa Arab dan
mendorong semangat untuk memperluas wilayah cakupun penganutnya sekaligus
wilayah kekuasaan Dinasti Saudi.
Salah satu faktor berkembangnya paham Wahabi di Jazirah Arab ini karena
ketertinggalan mereka dalam masalah Agama. Hal ini disadari oleh para ulamaulama yang belajar di Damaskus kemudian kembali ke Nejd, mereka menilai para
masyarakat muslim di Jazirah Arab sangat tertinggal diantaranya dengan
banyaknya jumlah kaum muslimin yang buta huruf dan berkehidupan
mengembara seperti pada masa Jahiliyah. Oleh karena itu, Muhammad Ibnu
Abdul Wahab kemudian berusaha untuk mengajarkan ilmu pengetahuan baru dan
membawa beberapa perubahan-perubahan yang masih sangat awam bagi
masyarakat Arab.
Hal ini mendapat dukungan penuh dari Muhammad bin Saud dan bersama
mereka berusaha membangun peradaban dan dinasti baru di Jazirah Arab. Mereka
kemudian mulai berusaha mengembalikan nilai-nilai suci Islam dengan
menghancurkan berhala-berhala yang mulai berkembang, menghancurkan
bangunan-bangunan yang disucikan diatas kuburan, dan salah satu perubahan
yang dapat dirasakan sampai sekarang adalah menyatukan pelaksanaan shalat di
Hijaz. Telah menjadi tradisi, shalat jamaah dilakukan empat kali dalam setiap
shalat berdasarkan empat madzhab yang berkembang saat itu, hal ini kemudian
dihapuskan oleh Saud.
Di samping itu, ternyata perluasan wilayah oleh dinasti Saud juga
memperoleh dukungan dari ajaran Wahabi tentang Jihad. Muhammad Ibnu Abdul
Wahab menilai jihad perlu dilakukan untuk tiga hal; pertama ketika bertemu
dengan pasukan kafir, kedua ketika pasukan kafir mendekati wilayah kaum
muslimin, dan ketiga ketika jihad dirasa oleh Imam ataupun pemimpin perlu
dilakukan. Hal ini tentu sangat mendukung dinasti Saud untuk memperluas
wilayah kekuasaannya, disamping itu pula membantu Wahab untuk memperluas
paham dan ajaran yang dibawanya.

Setelah kemunduran yang dialami oleh dinasti Saud yang pertama, penyebaran
ajaran Wahabi seakan ikut terhenti. Hal ini didasari karena wilayah jazirah Arab
kembali dikuasai oleh Daulah Utsmaniyah, dan dengan bantuan Irak mereka
berusaha untuk membendung gerakan Wahabi. Kerja sama ini pun tidak lepas dari
kepentingan politik Turki dan Irak untuk melawan ekspansi Rusia.
Pada masa awal pembentukan Kerajaan Arab Saudi Modern, Ibnu Saud
pun berusaha merangkul para ulama dan pengikut Wahabi. Telah dijelaskan diatas
bahwa Ibnu Saud membangun sebuah organisasi Al-Ikhwan dan memberi
suntikan bantuan untuk membiayai kehidupan mereka. Kebijakan ini berhasil
menarik simpati dan dukungan kaum Wahabi pada Ibnu saud. Ia kemudian mulai
memerangi gerakan anti-Wahabi dan menggantikan ulama-ulama lokal dengan
para syekh Wahabi. Sebaliknya Wahabi mengeluarkan fatwa-fatwa yang
menguntungkan Ibnu Saud, diantarnya fatwa mati terhadap Ibnu Umar karena
menentang pemerintah dan ingin meruntuhkan pemimpin yang sah.
Dapat kita simpulkan bahwa paham Wahabi yang diajarkan oleh
Muhammad Ibn Abdul Wahab merupakan salah satu faktor pendorong kemajuan
Dinasti Saud. Sebaliknya, dinasti Saud merupakan salah satu pelopor
penyebaran ajaran Wahabi di jazirah Arab. Dua kekuatan ini bersatu dan saling
melengkapi satu sama lain sehingga membentuk suatu kekuatan besar di Asia
Timur Tengah.
D.

Keadaan Sosial Bangsa Arab pada Masa Berdirinya Dinasti Saud


Dalam sejarah Islam dan dalam stuktur esensialnya, orang-orang Arab

menempati posisi khusus. Nabi Muhammad saw adalah orang Arab, dakwah
pertamanya kepada orang Arab, Islam pun maju dan berkembang berkat bangsa
Arab. Bahasa Arab menjadi merupakan bahasa ibadah, teologi, dan hukum. Di
mata Islam tidak mengenal perbedaan antara bangsa Arab dan bangsa lainnya,
tetapi pada kenyataannya rasa perbedaan etnis tetap bertahan baik dalam budaya,
sastra, maupun perebutan kekuasaan. Bangsa Arab dikenal mempunyai
kebanggaan dan fanatisme yang tinggi terhadap darah keturunan mereka.
Pada perkembangan selanjutnya, pusat umat Islam berpindah dari jazirah
Arab. Pada masa dinasti Umayah, Muawiyah bin Abi Sofyan memindahkan pusat

dinastinya ke Damaskus Syiria. Pada masa dinasti Abbasiyah, Abdullah AsSaffah memindahkan pusat peradaban Islam ke kota Baghdad, Iran, Dinasti besar
Islam selanjutnya, dinasti Utsmaniyah berada di daerah Turki. Perpindahan
kekuasaan dan pusat kebudayaan ini semakin menjauh dari jazirah Arab yang
merupakan pusat dakwah Islam pertama oleh Rasulullah saw.
Kekuasaan

memang

terus

berpindah

kepada

kelompok-kelompok

Ashabiyah, baik itu Persia maupun Turki. Namun hal ini tidak serta-merta
menghapus kekuatan bangsa Arab, bahasa Arab tetap mempertahankan posisi
khususnya sebagai bahasa kebudayaan dan bahasa agama. Dengan demikian
melalui sarana-sarana tersebut orang-orang Arab masih memainkan suatu peran
dalam kehidupan publik komunitas Islam.
Ketika

dinasti

Utsmaniyah

mulai

mengalami

kemunduran,

terjadi

pergeseran keseimbangan kekuasaan di dalam umat antara bangsa Turki dan


bangsa Arab. Orang-orang Arab dianggap dapat menyelematkan Islam dari
keruntuhan. Hal ini didasari oleh posisi sentral semenanjung Arab di kalangan
umat muslim, disamping itu karena posisi bahasa Arab dalam pemikiran Islam,
bangsa Arab pada waktu itu juga dianggap relatif bebas dari korupsi modern dan
orang-orang Badui bersih dari keruntuhan moral dan kepasifan despotisme.
Pada akhir abad ke-19, perasaan nasionalisme dikalangan umat muslim
mulai berbentuk sekuler. Majalah Bustani Al-Jinan membuat seruan khusus
terhadap perasaan lokal seraya menyerukan kesatuan di dalam wathan
Utsmaniyah, tetapi hal ini diiringi dengan seruan kesatuan nasionalisme (bilad)
Suriah. Keadaan pada masa ini harapan mengenai kesatuan Utsmaniy sangat
tinggi, tetapi kobaran perasaan nasionalis masih terfokus pada unit teritorial yang
lebih kecil, terbagi-bagi baik secara geografis maupun keturunan.
Pengelompokan-pengelompokan akibat perasaan nasionalis (Bilad/Bustan)
ini terus berkembang hingga menimbulkan pemberontakan kepada dinasti
Utsmaniyah. Sejumlah besar umat muslim menginginkan suatu negara Arab
merdeka dibawah seorang raja Arab, tetapi sebagian umat muslim yang
merupakan pengikut partai Desentralisasi menginginkan untuk mendirikan negara
Suriah merdeka. Gerakan-gerakan ini memperoleh dukungan dari negara-negara
eropa, baik Inggris maupun Prancis.

Memasuki abad ke-20, raja Faishal berusaha keras untuk mempertahankan


dukungan Inggris dengan bersikap akomodatif terhadap Prancis dan orang-orang
Yahudi. Pada tahun 1920 Ia mendeklarasikan diri sebagai raja Suriah dan sebagai
wakil dari orang-orang Muslim, Kristen, maupun Yahudi. Keputusan-keputusan
ini tidak disetujui oleh Inggris dan Prancis.hal ini memicu ketegangan diantara
kedua belah pihak yang berakibat didudukinya Suriah oleh Prancis. Pendudukan
ini berdampak pada masa depan negara-negara di kawasan jazirah Arab. Suriah
dan Irak ditempatkan dibawah mandat Inggris dan Prancis, sementara Hijaz
menerima kemerdekaannya. Hal inilah yang semakin menguatkan keberadaan
dinasti Saud di kawasan jazirah Arab.
E.

Geografi

Peta Arab Saudi


Negara

: Arab Saudi

Ibu kota

: Riyadh

Luas wilayah

: 2.240.000 km2

Bentuk pemerintahan : Kerajaan


Jumlah penduduk

: 25.100.430 jiwa

Lagu kebangsaan

: "As-Salam, Al-Malaky, As-Saudi"

Bahasa

: Arab

Agama

: Islam

Mata uang

: Real

a.

Bentuk Pemerintahan Negara Arab Saudi


Bentuk pemerintahan Negara Arab yaitu kerajaan berkostitusi dengan

kepala Negara raja dan kepalal pemerintahan perdana menteri. Negara Arab Saudi
beribu kota Riyadh. Raja memegang fungsi legislatif, eksekutif, dan yudikatif.
Raja juga mempunyai hak istimewa untuk membentuk dan membubarkan dewan
menteri. Calon anggota dewan menteri harus bersumpah setia kepada raja sebelum
diangkat. Kendati dewan menteri sebenarnya bertanggung jawab atas masalah
pemerintahan, Badan ini juga menjadi badan legislatif.

10

b.

Letak, Batas, Dan Luas Arab Saudi

Letak Astronomis
Secara astronomis Negara Arab Saudi Terletak diantar 15 o LU 32o LU dan
antara 34o BT 57o BT
Letak Geografis
Negara Arab Saudi berada di kawasan Asia Barat, tepatnya di Semenanjung Arab.
Batas-batas Negara
a. Sebelah timur

: berbatasan dengan Teluk Persia dan Uni Emirat Arab.

b. Sebelah Barat

: berbatasan dengan Laut Merahdan Teluk Aqaba.

c.Sebelah utara

: berbatasan dengan Yordania,Irak, dan Kuwait.

d. Sebelah selatan

: berbatasan dengan Oman dan Yaman.

Luas

: Luas negara Kenya adalah 2.240.000 km2.

Dibandingkan dengan luas negara Indonesia yang luasnya 1.906.240 km2. Berarti
luas negara Arab lebih luas dibandingkan dengan luas negara Indonesia.

11

BAB III
PENUTUP
A.

Kesimpulan
Arab Saudi terkenal sebagai Negara kelahiran Nabi Muhammad SAW serta

tumbuh dan berkembangnya agama Islam, sehingga pada benderanya terdapat dua
kalimat syahadat yang berarti "Tidak ada tuhan (yang pantas) untuk disembah
melainkan Allah dan Nabi Muhammad adalah utusannya".
Arab Saudi menggunakan sistem Kerajaan atau Monarki. Hukum yang
digunakan adalah hukum Syariat Islam dengan berdasar pada pengamalan ajaran
Islam berdasarkan pemahaman sahabat Nabi terhadap Al Qur'an dan Hadits atau
dengan kata lain pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Memiliki hubungan
intemasional dengan negara negara lain baik negara negara Arab, negara-negara
anggota Organisasi Konfrensi Islam, maupun negara negara lain.
B.

Saran
Dalam pembuatan makalah ini mungkin masih terdapat beberapa kesalahan

baik dari isi dan cara penulisan. Untuk itu kami sebagai penulis mohon maaf
apabila pembaca tidak merasa puas dengan hasil yang kami sajikan, dan kritik
beserta saran juga kami harapkan agar dapat menambah wawasan untuk
memperbaiki penulisan makalah kami

12

DAFTAR ISI
Ar-Rasyid, Madawi. A History of Saudi Arabia. London: Cambridge University
Press.
Commins, David. The Wahabi Mission in Saudi Arabia. London: I.B. Tauris,
2006.
Hourani, Albert. Pemikiran Liberal di Dunia Arab. terj. Suparno dkk. Bandung:
Penerbit Mizan, 2004
Moolen, Van der. Al-Malik Ibn Saud wal Jazirah al-Arabiyah an-Nahidhah.
Riyadh: Daarah al-Malik Abdul Aziz, 1999.
Wynbrant, James. A Brief History of Saudi Arabia. New York: Library of
Congress Cataloging-in-Publication Data, 2004.
Yatim, Badri. Sejarah Sosial Keagamaan Tanah Suci. Ciputat: PT Logos Wacana
Ilmu, 1999.

13