Anda di halaman 1dari 5

Tugas Psikologi Abnormal

Nama: Mokhamad Arif Saifullah


NIM: 1407134

1. Definisi Psikologi Abnormal


Menurut Nevid (2003) Psikologi Abnormal (Abnormal Psychology) merupakan
salah satu cabang ilmu psikologi yang berupaya untuk memahami pola perilaku abnormal
dan cara menolong orang-orang yang mengalaminya.
Dalam memandang definisi abnormalitas ini, terdapat banyak pendekatan
sehingga pengertian abnormalitas yang mengacu pada prinsip-prinsip pendekatan tersebut
juga banyak. Pendekatan-pendekatan yang dimaksud antara lain (Coleman dkk., 1972;
1980, Hoeksema,2004):
Pendekatan kenisbian cultural (cultural relativism) mendefinisikan abnormal

berdasarkan pemahaman norma suatu budaya sebagai standar perilaku normal.


Berdasarkan kriteria ketidakbiasaan (unusualness) yang sering juga disebut
sebagai pendekatan statistic , mengemukakan perilaku abnormal sebagai
penyimpangan dari rata-rata artinya perilaku tersebut jarang atau tidak sering

terjadi.
Pendekatan penyimpangan sosial. Orang yang berperilaku dan bersikap sosial

berbeda dengan yang lainnya digolongkan sebagai orang yang abnormal.


Pendekatan distress atau discomfort. Seseorang dikatakan abnormal kalau
secara personal ia merasakan dirinya berada dalam situasi penuh tekanan baik

karena sumber stress dari lingkungan ataupun diri sendiri.


Pendekatan maladaptif. Artinya abnormalitas adalah tidak dapat berperilaku

sesuai tuntunan lingkungan maupun tuntunan dirinya.


Selanjutnya untuk menjelaskan apakah suatu perilaku adalah abnormal atau tidak,
Nevid (2003) memberikan sejumlah kriteria umum yang hamper sama dengan pendapat
sebelumnya yang digunakan untuk menentukan abnormalitas diantaranya:

Perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial atau melanggar norma
sosial
Abnormalitas dalam hal ini sangat dipengaruhi oleh norma sosial. Setiap
masyarakat memiliki norma-norma (standar) yang menentukan jenis perilaku

yang dapat diterima dalam beragam konteks tertentu. Perilaku yang dianggap
normal dari suatu budaya mungkin akan dipandang sebagai abnormal dalam
budaya lainnya. Contoh, di USA free sex dianggap sebagai fenomena yang
normal sedangkan di Indonesia hal tersebut dianggap sebuah perilaku
abnormal.
Implikasi dari mendasarkan definisi perilaku abnormal pada norma sosial
adalah bahwa norma-norma tersebut merefleksikan standar yang relative,

bukan kebeneran yang universal.


Persepsi atau interpretasi yang salah terhadap realitas
Biasanya dalam budaya kita, seseorang yang dikatakan abnormal,
misalnya apabila ada suatu individu yang melihat ataupun mendengar sesuatu
yang tidak ada objeknya akan dianggap sebagai halusinasi. Halusinasi
merupakan persepsi yang muncul tanpa adanya stimulus eksternal karena
rancu dengan realitas yang ada.

Orang orang tersebut berada dalam stress personal yang signifikan


Seseorang dapat dikatakan abnormal apabila berada dalam kondisi stress
personal yang diakibatkan oleh gangguan emosi, seperti kecemasan,
ketakutan, atau depresi di dalam situasi tertentu dapat dikatakan abnormal.
Ster personal yang signifikan di sini maksudnya ketika perasaan tersebut
menjadi berkelanjutan atau bertahan bahkan lama setelah sumbernya sudah
tidak ada aatau perasaan itu sangat intens sehingga merusak kemampuan

individu untuk berfungsi kembali.


Perilaku maladaptif
Merupakan perilaku yang membatasi kemampuan kita untuk berfungsi
dalam peran yang diharapkan atau untuk beradaptasi dengan lingkungan kita.
Contoh, agoraphobia yang ditandai dengan rasa takut yang sangat kuat ketika
berada dalam area publik dapat disebut abnormal dengan alasan bahwa
perilaku tersebut tidak umum dan juga maladaptif karena merusak
kemampuan individu untuk menyelasaikan pekerjaan dan mengemban

tanggung jawab keluarga.


Perilaku berbahaya.
Perilaku yang menimbulkan bahaya bagi orang itu sendiri atau orang lain
dapat dikatakan abnormal.

2. Pendekatan pendekatan terhadap psikologi abnormal


Merujuk pada Nevid (2003) terdapat berbagai pendekatan historis dan pendekatan
kontemporer dalam memahami psikologi abnormal.
a. Pendekatan historis tentang perilaku abnormal
- Model Demonologi
Merupakan model yang menjelaskan perilaku abnormal dalam
kaitannya terhadap supranatural atau hal-hal gaib. Misalnya orang Yunani
Kuno percaya bahwa ketika dewa marah, mereka dapat menciptakan
bencana alam untuk mendatangkan malapetaka pada orang orang yang
-

angkuh.
Awal mula model medis
Tidak semua orang Yunani kuno meyakini model demonologi. Asal
muasal dari penjelasan naturalistic atas perilaku abnormal diperkenalkan
oleh Hippocrates (460-377 SM) dan dikembangkan oleh dokter yang
bernama Galen (130 200 M).
Hippocrates menyatakan bahwa perilaku abnormal disebabkan
karena adanya ketidakseimbangan cairan vital di dalam tubuh (lendir,
cairan empedu hitam, darah, cairan empedu kuning). Teori ini mengawali
perkembangan model medis yang modern, pandangan bahwa perilaku
abnormal merupakan hasil dari proses biologis yang mendasarinya.
Contoh, orang yang tidak bertenaga atau lambat diyakini memiliki
kelebihan lender (phlegm). Berlebihnya cairan empedu hitam diyakini
menyebabkan

depresi,

atau

melankolia.

Terlalu

banyak

darah

menimbulkan disposisi sanguinis, diantaranya ceria,percaya diri, dan


optimis. Kelebihan cairan empedu kuning membuat orang-orang menjadi
-

muram dan koleris, yaitu cepat marah.


Zaman pertengahan (476 1450 M) Akhir Abad ke-17
Setelah kepergian Galen, keyakinan terhadap supranatural,
terutama doktrin tentang penguasaan oleh roh jahat meningkat
pengaruhnya. Artinya dalam hal ini dijelaskan bahwa perilaku abnormal
merupakan suatu tanda kerasukan oleh roh jahat atau iblis. Keyakinan ini
dibubuhkan ke dalam ajaran Gereja Katolik Roma yang menjadi
pemersatu di Eropa Barat.

Pandangan ini terus menetap pada masyarakat Eropa hingga


berakhir di abad ke-17, masyarakat secara luas mulai berpaling pada nalar
dan ilmu pengetahuan sebagai cara untuk menjelaskan fenomena alam dan
perilaku manusia.
b. Pendekatan Kontemporer
Abad ke-18 dan 19 menjadi saksi perkembangan yang cepat dalam beberapa
bidang ilmu, salah satunya ilmu kedokteran. Penemuan-penemuan ilmiah
mengungkapkan penyebab mikrobiologis dari beberapa jenis penyakit dan
menghasilkan langkah-langkah preventif. Model-model perilaku abnormal
juga

mulai

bermunculan,

meliputi

perspektif

biologis,

psikologis,

sosiokultural, dan biopsikososial.


- Perspektif Biologis
Dalam pendekatan ini menekankan peran faktor biologis terutama
sistem sistem saraf yang terlibat dalam menjelaskan perilaku abnormal
dan penerapan penanganan yang berbasis biologis dalam menangani
-

gangguan psikologis.
Perspektif Psikologis
Pendekatan ini menekankan akar psikologis dari perilaku abnormal dan
beberapa model-model pemahaman perilaku abnormal.
Model Psikodinamika
Pendekatan ini memberikan tekanan pada peranan dorongan-dorongan
dasar yang bersifat naluriah dan tidak disadari yang terdapat pada
manusia pada umumnya, seperti dorongan seks sebagai penyebab
utama terjadinya perilaku. Tingkah laku abnormal dilihat sebagai hasil
dari perkembangan yang salah atau penggunaan defense mechanism

yang berlebihan ketika individu menanganggulangi kecemasan.


Model Behavioristik
Model ini menekankan pada perilaku yang overt atau terbuka, serta
objektif. Tingkah laku ini dilihat sebagai upaya organisme untuk
menyesuaikan diri dengan stimulus. Abnormalitas dilihat sebagai
adaptasi yang tidak efektif atau menyimpang sebagai hasil belajar atau
kegagalan untuk mempelajari kemampuan apa yang dibutuhkannya,
atau dapat dikatakan salah dalam mempelajari suatu yang baik atau
berhasil mempelajari hal-hal yang tidak benar.

Model Humanistik
Model ini menekankan pada kecenderungan-kecenderungan alamiah
manusia dalam hal pengarahan diri yang bertanggung jawab dan
kepuasan diri. Dalam pendekatan humanistic juga terdapat asumsi
bahwa pada dasarnya manusia mampu mencapai apa yang ingin ia
capai melalui proses yang disebut aktualisasi diri. Abnormalitas dilihat
sebagai kegagalan untuk mengembangkan humanitas (potensi-potensi

baik manusia) seseorang secara penuh.


Model Kognitif
Pendekatan kognitif berpendapat bahwa kognisi ialah pikiran dan
keyakinan yang membentuk perilaku kita maupun emosi yang kita
alami. Suatu tingkah abnormal bisa dilihat ketika seorang individu

tidak dapat menggunakan kognitifnya dengan benar.


Perpektif Sosiokultural
Dalam pendekatan ini lebih mengikutsertakan penyakit-penyakit
sosial dalam masyarakat, termasuk kemiskinan, rasisme, dan lain
sebagainya dalam memahami pola-pola perilaku abnormal.

Sumber:
Nevid, J.S dkk. (2003). Abnormal Psychology in a Changing World (terjemahan). Jakarta: PT
Gelora Aksara Pratama.
Wiramihardja, S.A. (2007). Pengantar Psikologi Abnormal. Bandung: PT Refika Aditama.